Anda di halaman 1dari 3

Perang Vietnam Melawan Amerika

Setelah pasukan komunis Ho Chi Minh mengambil alih kekuasaan di utara, konflik
bersenjata antara tentara utara dan selatan yang dibantu Prancis berlanjut sampai pertempuran yang
menentukan di Dien Bien Phu pada Mei 1954 berakhir dengan kemenangan bagi pasukan Viet
Minh utara. Kekalahan Prancis pada pertempuran itu sekaligus menandai berakhirnya
pemerintahan kolonial Prancis di Indo-Cina yang telah berlangsung hampir satu abad.

Perjanjian berikutnya ditandatangani pada Juli 1954 pada konferensi Jenewa yang
memisahkan Vietnam di sepanjang garis lintang yang dikenal sebagai Paralel ke-17 (17 derajat
lintang utara) yang didemiliterisasi, di mana Vietnam harus mundur. Pemilihan umum “bebas”
akan diadakan di Korea Utara dan Selatan pada Juli 1956 untuk menyatukan kembali Vietnam di
bawah Ho Chi Minh atau Bao Dai. Meskipun sudah mendapatkan kemenangan, Ho Chi Minh
setuju dengan Kesepakatan Jenewa, tunduk pada tekanan dari Cina dan Soviet. Bagaimanapun,
dengan pemilihan unifikasi yang akan datang, penentuan nasib sendiri oleh Vietnam sudah ada di
depan mata.

Selama konferensi Jenewa, Amerika Serikat menekan Bao Dai untuk menunjuk seorang
Katolik anti-komunis bernama Ngo Dinh Diem sebagai Perdana Menteri. Diem tidak punya niat
menindaklanjuti pemilihan unifikasi. Dia secara terbuka menyatakan dia tidak percaya bahwa
pemilihan "bebas" dapat diadakan di Korea Utara tanpa hambatan oleh propaganda dan terorisme.
Hal itu bisa saja benar, tetapi juga jelas bahwa jika pemilihan yang benar-benar "bebas" diadakan
di Vietnam Selatan dengan Bao Dai dalam pemungutan suara melawan Ho, komunis akan menang
(Presiden Eisenhower meramalkan bahwa Ho akan menang dengan 80 persen suara) ). Sebaliknya,
Diem mulai mengambil alih pemerintahan. Pada April 1955 Diem mengkonsolidasikan kekuasaan,
menggunakan suap dan kekerasan untuk mengendalikan polisi dan militer. Dia menghapus
Pengawal Kekaisaran Bao Dai, merebut daerah kekuasaannya, dan mengambil Dewan Keluarga
Kerajaan Bao Dai dari kekuasaannya. Selama krisis kepemimpinan ini, Bao Dai tinggal di Riviera
Prancis. Pada 16 Juli, Diem secara terbuka mengumumkan bahwa dia tidak akan mengadakan
pemilihan unifikasi yang disyaratkan oleh Kesepakatan Jenewa. Amerika Serikat, yang telah hadir
pada negosiasi Jenewa tetapi belum menandatanganinya, mendukungnya. Sebaliknya, Diem
mengusulkan pemilihan antara dia dan Bao Dai. Melalui penipuan yang meluas (dia memenangkan
98% suara) Diem menjadi Presiden negara baru, Republik Vietnam (Vietnam Selatan). Bao Dai
turun tahta sekali lagi dan tetap di pengasingan di Prancis selama sisa hidupnya. Republik
Demokratik Vietnam (Vietnam Utara), yang telah mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun
1945, juga tidak mengadakan pemilihan "bebas" dan berlanjut sebagai negara komunis. Untuk
mencegah teori domino menjadi kenyataan, Amerika Serikat menjadi mitra utama Vietnam
Selatan. Pada 1 November 1955, hanya beberapa hari setelah pemilihan di Vietnam Selatan,
Amerika Serikat mendirikan MAAG Vietnam (Military Assistance Advisory Group) untuk
melatih militer Vietnam Selatan.

Dengan pelatihan dan peralatan dari militer Amerika, pasukan keamanan Diem menindak
para simpatisan Viet Minh di selatan. Ia menyebut mereka dengan sebutan Viet Cong (atau
Komunis Vietnam) dan menangkap sekitar 100.000 orang. Banyak di antaranya disiksa dan
dieksekusi secara brutal.

Pada tahun 1957, Viet Cong dan lawan-lawan lain rezim Diem yang represif mulai
melawan dan menyerang pejabat pemerintah dan tokoh penting Vietnam Selatan. Dua tahun
berikutnya tepatnya pada tahun 1959 mereka mulai terlibat baku tembak dengan tentara Vietnam
Selatan.

Pada bulan Desember 1960, banyak musuh Diem di Vietnam Selatan — baik komunis
maupun nonkomunis — membentuk Front Pembebasan Nasional (NLF) untuk mengorganisasi
perlawanan terhadap rezim itu. Meskipun NLF mengklaim sebagai otonom dan bahwa sebagian
besar anggotanya bukan komunis, banyak orang di Washington menganggap organisasi itu adalah
boneka Hanoi, Vietnam Utara.

Pada bulan Januari 1961, Presiden John F. Keneddy mengkonfirmasi janji Amerika Serikat
untuk mempertahankan kebebasan dunia. Dalam kenyataannya, kebebasan dunia yang diinginkan
Amerika adalah kebebasan dari paham komunis yang notabene cukup ditakutkan oleh Amerika
Serikat. Sehingga pada bulan Oktober, Keneddy meningkatkan asisten militer kepada Diem dan
memasukkan lebih banyak pasukan militer di Vietnam Selatan yang awalnya hanya berjumlah 900
orang, sudah berjumlah 3.205 orang pada bulan Desember 1961.

Pada tahun berikutnya, tepatnya pada bulan Februari 1962, berlangsung penurunan 12 ribu
pasukan militer ke lapangan tersebut bertujuan untuk membantu penyukseskan Program Desa
Strategis. Program ini adalah sebuah program yang dicanangkan oleh pemerintah Amerika Serikat
dalam rangka meningkatkan kapabilitas para petani di Vietnam Selatan, yang ketika itu berasaskan
demokrasi, dalam menangkal serangan-serangan yang dilancarkan oleh Vietnam Utara, yang
berideologikan sosialis komunis. Dalam pelaksanaan program ini, Amerika Serikat mensubsidi
bantuan dana dan fasilitas persenjataan bagi 16 ribu desa di kawasan Vietnam Selatan. Dana dan
fasilitas tersebut, selain digunakan latihan pertahanan diri, juga dilakukan untuk membentuk
benteng pertahanan wilayah.

Sementara itu kebijakan Diem di kota-kota lebih disukai umat Katolik daripada umat
Buddha (mayoritas di Vietnam), yang semakin mengasingkan rakyat Vietnam Selatan. Akhirnya,
Diem mulai menganiaya umat Buddha. Pada 8 Mei 1963 di Kota Hue, sembilan umat Buddha
yang tidak bersenjata dengan damai memprotes larangan bendera Buddha ditembak dan dibunuh
oleh pasukan keamanan Diem. Diem menolak untuk memberikan konsesi kepada mayoritas
Buddhis atau bertanggung jawab atas kematian tersebut. Di musim panas dan musim gugur,
beberapa biksu Buddha bunuh diri dengan bakar diri sebagai protes atas rezim Diem.

Pada November 1963, Ngo Dihn Diem dan saudaranya, Ngo Dihn Nhu, dibunuh oleh
perintah pemerintah Amerika Serikat karena melakukan kudeta terhadap Amerika Serikat. Kudeta
ini disebabkan pihak Amerika Serikat yang memberhentikan bantuannya karena sikap keotoriteran
pada masa pemerintahan Diem.

Jenderal William Westmoreland menggantikan Jenderal Harkin sebagai komandan untuk


kekuatan militer Amerika Serikat di Vietnam dan pada Desember 1963 mendatangkan sebanyak
16.300 pasukan militer. Juli 1964, kapal patroli Vietnam Utara dituduh menyerang kapal perusak
milik Amerika Serikat, Maddox (kapal Amerika Serikat), yang berada di Teluk Tonkin. Belum
sempat dibuktikan kebenarannya, pihak militer Amerika Serikat melakukan serangan pertama
kepada Vietnam Utara sebagai balas dendam. Aksi tersebut dilakukan dengan mengebom wilayah
Vietnam Utara. Tidak hanya itu, langkah tersebut dilanjutkan dengan pengesahan Resolusi Teluk
Tonkin. Adapun isi dari resolusi tersebut adalah pemberian izin bagi Presiden AS, Lyndon Baines
Johnson, untuk mengeluarkan kebijakan apapun berkaitan dengan upaya pencegahan tindakan
agresi lanjutan, yang mungkin dilakukan oleh pihak Vietnam Utara. Dan dengan keluarnya
resolusi itu, pesawat AS memulai serangan bom reguler, dengan nama sandi Operasi Rolling
Thunder, pada tahun berikutnya.