Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN ILMU ANESTESI,

PERAWATAN INTENSIF DAN MANAJEMEN NYERI MEI 2019


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO

STATUS ANESTESI

OLEH :
Ainun Mardiah Dwi Putri Burhanuddin
K1A1 12 111

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BIDANG ILMU ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : Ainun Mardiah Dwi Putri Burhanuddin


NIM : K1A1 12 111
Judul Refarat : Kombinasi Obat Bupivakain 5% dan lidokain 2% pada
blok saraf

Telah menyelesaikan tugas refarat Tramadol Penggunaan Obat Anastesi


Bupivacaine Pada Geriatric dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu
Anastesi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo.

Kendari, Mei 2019


Mengetahui,
Pembimbing

(dr. Ahmad Safari Samud,M.Kes., Sp.An)

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan Rahmat dan Karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Referat yang berjudul “Kombinasi Obat Bupivakain 0,5% dan Lidokain 2%

pada Anestesi Blok Saraf” guna memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian

Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo

Kendari.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan referat ini masih jauh

dari kesempurnaan oleh karena itu saran-saran dari semua pihak yang sifatnya

membangun untuk meningkatkan mutu penulisan ini sangat diharapkan.

Pada kesempatan ini penulis tidak lupa menghaturkan rasa terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada Pembimbing atas semua waktu, tenaga dan pikiran

yang telah diberikannya dalam membimbing, mengarahkan, memberi saran

maupun kritik sehingga hasil referat ini menjadi lebih baik.

Akhirnya penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak

yang telah membantu untuk kesempurnaan hasil penulisan referat ini dan semoga

dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Kendari Mei 2019

Penulis

3
DAFTAR ISI

SAMPUL ............................................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... ii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................... . iii
A. Pendahuluan ............................................................................................... 1
B. Bupivacaine .............................................................................................. 3
a. Defenisi .......................................................................................... 3
b. Dosis penggunanan ........................................................................ 4
c. Mekanisme kerja bupivacaine ....................................................... 5
d. Onset dan Durasi ........................................................................... 5
e. Efek Samping ................................................................................ 6
f. Kontraindikasi ............................................................................... 9
C. Lidokain .................................................................................................... 9
a. Defenisi ......................................................................................... 9
b. Dosis Penggunaan ........................................................................ 11
c. Mekanisme kerja lidocaine .......................................................... 11
d. Efek samping ............................................................................... 11
D. Kombinasi Bupivacaine 0,5% dan Lidokain 2% .................................... 13
DAFTAR PUSTAKA

4
KOMBINASI BUPIVAKAIN 0,5% DENGAN LIDOKAIN 2%
TERHADAP ANESTESI BLOK SARAF
Ainun Mardiah Dwi Putri Burhanuddin, Ahmad Safari Samud

A. Pendahuluan

Anestesi adalah pemberian obat untuk menghilangkan kesadaran secara

sementara dan biasanya ada kaitannya dengan pembedahan. Secara garis besar

anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum dan anestesi regional.

Anestesi umum adalah keadaan tidak sadar tanpa nyeri yang bersifat sementara

akibat pemberian obat-obatan serta menghilangkan rasa sakit seluruh tubuh secara

sentral. Sedangkan anestesi regional adalah anestesi pada sebagian tubuh, keadaan

bebas nyeri sebagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran

Anestesi regional memiliki berbagai macam teknik penggunaan salah

satu teknik yang dapat diandalkan adalah melalui tulang belakang atau

anestesi spinal. Anestesi spinal adalah pemberian obat antestetik lokal ke dalam

ruang subarachnoid. Anestesi spinal diindikasikan terutama untuk bedah

ekstremitas inferior, bedah panggul, tindakan sekitar rektum dan perineum, bedah

obstetri dan ginekologi, bedah urologi, bedah abdomen bawah dan operasi

ortopedi ekstremitas inferior.

Obat anestesi lokal menyebabkan blockade konduksi impuls saraf yang

bersifat reversible pada jalur saraf sentral maupun perifer setelah dilakukan

anestesi regional. Penggunaan obat anestesi lokal yang tepat akan menyebabkan

impuls saraf autonom, sensorik, dan motoric terhambat sehingga menghasilkan

blockade sistem saraf pada daerah saraf yang terpapar. Penggunaan teknik

anestesi lokal juga harus memperhitungkan dosis obat anestesi local yang

5
digunakan supaya tidak terjadi toksisitas sistemik dan mengetahui karakteristik

obat seperti awitan, lama kerja, derajat blokade, dan volume yang dibutuhkan.

Obat anestesi local mencegah transmisi impuls saraf (blokade konduksi)

dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif

pada membrane saraf. Gerbang natrium sendiri adalah reseptor spesifik molekul

obat anestesi local. Penyumbaatn gerbang ion yang terbuka dengan molekul obat

anestesi local berkontribusi sedikit sampai hampir keseluruhan dalam inhibisi

permeabilitas natrium. Kegagalan permeabilitas gerbang ion natrium untuk

meningkatkan perlambatan kecepatan depolarisasi seperti ambang batas potensial

tidak tercapai sehingga potensial aksi tidak disebarkan. Obat anestesi local tidak

mengubah potensial istirahat transmembran atau ambang batas potensial. Lokal

anestesi juga memblok kanal kalsium dan potasium dan reseptor Nmethyl-D-

aspartat (NMDA) dengan derajat yang berbeda-beda. Beberapa golongan obat

lain, seperti antidepresan trisiklik (amytriptiline), meperidine, anestesi inhalasi,

dan ketamin juga memiliki efek memblok kanal sodium. Tidak semua serat saraf

dipengaruhi sama oleh obat anestesi lokal. Sensitivitas terhadap blokade

ditentukan dari diameter aksonal, derajat mielinisasi, dan berbagai faktor anatomi

dan fisiologi lain. Diameter yang kecil dan banyaknya mielin meningkatkan

sensitivitas terhadap anestesi lokal. Dengan demikian, sensitivitas saraf spinalis

terhadap anestesi lokal: autonom > sensorik > motoric.

Penyebaran anestesik lokal pada teknik pendekatan parasakral dapat

menghasilkan blokade pada cabang-cabang saraf pleksus sakralis yang

berdekatan, seperti saraf gluteal superior dan inferior, saraf pudendal, saraf

6
splanknik, pleksus hipogastrik inferior, dan juga saraf obturator. Teknik

pendekatan parasakral mudah dilakukan dan dipelajari dibanding dengan teknik

konvensional dengan pendekatan gluteal Labat-Winnie. Kelebihan pendekatan

parasakral adalah penggunaan penanda anatomis yang lebih sederhana, yaitu

dengan berpanduan pada garis lurus yang ditarik dari titik puncak spina iliaka

posterior superior (SIPS) menuju titik terbawah tuberositas iskiadikus (TI).

Lokasi saraf dapat diidentifikasi berdasar atas respons motorik yang timbul akibat

arus listrik yang diberikan alat stimulasi saraf.

Pusat mekanisme kerjanya terletak di membran sel (Seperti juga alkohol dan

barbital) anastesi lokal menghambat penerusaan impuls dengan jalan menurunkan

permeabilitas membran sel saraf ion natrium yang perlu bagi fungsi saraf

yang layak (Hal ini disebabkan adanya persaingan dengan ion-ion kalsium yang

berada berdekatan dengan saluran-saluran natrium di membran sel saraf pada

waktu bersamaan, akibat turunnya laju depolarisasi ambang kepekaan terhadap

rangsangan listrik lambat laun meningkat, sehingga akhirnya terjadi kehilangan

rasa setempat secara Reversible.2

Ada dua golongan besar obat local anestesi, yaitu golongan ESTER dan

golongan AMIDE, Salah satu golongan AMIDE yaitu Bupivacaine. Bupivakain

adalah anestetik lokal golongan amida yang dapat digunakan untuk anestesi

regional karena membrikan lama kerja yang panjang. Bupivakain memiliki ikatan

protein yang tinggi dan nilai pKa sebesar 8,1 sehingga mempunyai lama kerja

yang panjang, namun memiliki waktu awitan yang lambat. Bupivakain

merupakan salah satu anestetik lokal pilihan pada pembedahan ekstremitas bawah

7
karena memberikan lama kerja yang panjang dengan kemampuan blokade sensorik

yang baik. Hal ini disebabkan oleh grup butil di atas nitrogen tersier sehingga

bupivakain memiliki lama kerja yang cukup panjang.

Lidokain adalah amina tersier yang merupakan turunan amida dari asam

dimetilaminoasetat. Reaksi alergi terhadap kelompok amida anestesi lokal sangat

jarang terjadi dan sebagian besar reaksi merugikan dihasilkan dari toksisitas

sistemik. Dosis maksimum lignocaine biasa adalah subjek perdebatan.

Lidokain telah digunakan dengan aman dan efektif untuk hampir setiap

jenis prosedur yang membutuhkan anestesi lokal. Ini memiliki onset aksi yang

cepat dan efektif selama 30-60 menit dalam bentuknya yang polos (atau hingga 90

menit ketika digunakan dengan vasokonstriktor), dan ketika dikombinasikan

dengan kontrol nyeri bupivacaine, itu berlangsung beberapa jam. Obat anestesi

lokal lidokain memiliki mekanisme kerja yang menghambat transmisi impuls

saraf (blokade konduksi) dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui

gerbang ion natrium selektif pada membrane saraf sehingga ambang batas

potensial tidak tercapai sehingga potensial aksi tidak disebarkan (rasa sakit

hilang), anestesi lokal juga memblok kanal kalsium dan potasium dan reseptor

Nmethyl-D-aspartat (NMDA). Lidokain juga dapat mengakibatkan terjadinya

reaksi alergi dan juga dapat mengakibatkan beberapa gangguan pada system

metabolisme tubuh.

8
B. Bupivacaine

a. Definisi

Bupivacaine adalah obat yang digunakan sebagai anestesi lokal

Bupivacaine memblok impuls saraf yang mengirimkan signal ke otak.

Bupivacaine adalah anestesi lokal yang diindikasikan pada caudal, epidural,

dan spinal anestesi yang banyak digunakan secara klinis untuk menangani

nyeri akut dan kronis, Selain memblokir Na Channel. Bupivacaine

mempengaruhi aktivitas banyak saluran lain, termasuk reseptor NMDA.5,6

Bupivacaine berikatan dengan reseptor spesifik yang terdapat pada kanan

natrium sehingga menghambat influx natrium ke dalam sel saraf sehingga

mencegah timbulnya depolarisasi. Difusi bupivacaine lebih cepat pada serabut

saraf tipis tidak bermielin atau sedikit mengandung myelin daripada serabut

saraf yang lebih tebal atau bermielin.

b. Dosis dan penggunaan

Bentuk sediaan: 0,25%, 0,5%, 0,75% injeksi.5

Dewasa (> 18 tahun): MARCAINE (bupivacaine hidroklorida), MARCAINE

SPINAL (bupivacaine hidroklorida) dan MARCAINE E (bupivacaine

hidroklorida dengan epinefrin) diindikasikan untuk anestesi lokal dan regional

dan analgesia dengan prosedur berikut:7

 Prosedur infiltrasi local

 Blok saraf perifer

 Blok retrobulbar

 Blok Caudal, epidural, dan subarachnoid (spinal)

9
Prosedur standar untuk infiltrasi lokal, blok saraf minor dan mayor, blok

retrobulbar atau blok epidural harus diamati.

Anestesi lokal

 Dosis dewasa: 0,25% dengan dosis pemberian: 175 mg maksimum

 Dosis Pediatric: Anak-anak < 12 tahun: tidak dianjurkan, Anak-anak > 12

tahun: 0,25% diberikan secara lokal: 175 mg maksimum

Blok Caudal

 Dosis dewasa: 15-30 ml 0,25% atau 0,5%

 Dosis Pediatric: Anak-anak < 12 tahun: tidak dianjurkan, Anak-anak >12

tahun: 15-30 ml 0,25% atau 0,5%.

Blok Caudal Lain dari blok epidural

 Dosis dewasa :10-20 ml 0,25% atau 0,5%; diberikan dalam 3-5 ml secara

bertahap memungkinkan waktu yang cukup untuk mendeteksi manifestasi

toxic yang diberikan secara intravena atau intratekal (IT).

 Prosedur bedah yang membutuhkan tingkat tinggi relaksasi otot dan efek

berkepanjangan: 10-20 mL 0,75%; tidak untuk digunakan dalam kasus-

kasus obstetric

 Dosis Pediatric: 12 tahun: 10-20 ml 0,25% atau 0,5%; 3-5 ml bertahap

memungkinkan waktu yang cukup untuk mendeteksi manifestasi yang

diberikan secara intravena atau IT

Peripheral Nerve Block

 Dosis dewasa: 5 ml 0,25-0,5%; 400 mg / hari maksimum

 Dosis Pediatric: 12 tahun: 5 ml 0,25-0,5%; 400 mg / hari maksimum

10
Simpatik saraf Blok

 Dosis dewasa: 20-50 ml 0,25%

 Dosis Pediatric: 12 tahun: 20-50 ml 0,25%

Retrotubular Anestesi

 Dosis dewasa: 2-4 ml 0,75%

 Dosis Pediatric:12 tahun: 20-50 ml 0,25%

spinal Anestesi

 Dosis dewasa: 0,75% bupivacaine di 8,25% dextrose

c. Mekanisme kerja bupivacaine

Bupivacaine menstabilisasi membran neuronal dan mencegah generisasi

dan konduksi impuls saraf, dengan cara demikian menghasilkan aksi anastesi

lokal. Sama seperti lokal anastesi lainnya, bupivacaine menyebabkan blockade

bolak balik dari propagasi saraf sepanjang fiber saraf dengan mencegah

masuknya ion natrium melalui membrane sel dari saraf fiber. Kanal ion

natrium dari membrane saraf dipertimbangkan sebagai molekul reseptor untuk

lokal anastesi.7

d. Onset dan durasi Obat

Onset dari obat ini bekerja cepat, dan anastesi bertahan lama. Durasi aksi

obat dari suatu obat lokal anastesi tergantung terhadap beberapa faktor

diantaranya, tempat injeksi, rute pemberian obat, konsentrasi dan volume. 7

e. Efek Samping

Bupivacaine mempunyai ikatan dengan protein tinggi dan kelarutan

dalam lemak yang tinggi menyebabkan tingginya durasi dan potensi

11
kardiotoksisitasnya.5 Pada konsentrasi tinggi obat anestesi local akan

menghambat respirasi mitokondria pada sel yang mempunyai metabolisme

cepat, sehingga akan menurunkan pembentukan ATP, efek ini tergantung

pada lipofilisitas obat anestasi local, dan bupivacaine mempunyai lipofilisitas

yang tinggi, hal inilah yang menyebabkan kardiotoksisitasnya tinggi. 5

Ikatan bupivacaine pada chanel Na pada sistem konduksi jantung 100%

lebih lama dibandingkan dengan lidokain, hal ini karena bupivacaine bersifat

fast-in, slow-out terhadap chanel Na sedangkan lidokain bersifat fast-in, fast-

out. Hal ini menyebabkan bupivacaine 9 kali lebih kardiotoksik dibandingkan

lidokain.

Pada saat bupivacaine masuk ke sistemik, bupivacaine akan berikatan

dengan protein. Tetapi bila tempat pengikatan protein sudah jenuh terikat

dengan bupivacaine, penambahan dosis bupivacaine secara cepat akan

menimbulkan toksisitas. Sehingga toksisitas bupivacaine sering muncul

sebagai neurotoksisitas stimulaneus (kejang) terlebih dahulu sebelum

akhirnya muncul kardiotoksisitas. Kardiotoksisitas yang muncul berupa

fibrilasi ventrikel dan high-grade conduction block. Resusitasi sangat sulit

untuk berhasil (sekitar 70% mortalitas, separuh dari yang selamat dengan

disabilitas jangka panjang). 5

Efek samping pada kardiovaskuler dapat berupa efek toksik konsentrasi

bupivacaine plasma yang tinggi, sehingga menyebabkan efek pada jantung,

berupa hipotensi kerena relaksasi otot polos arteriol dan depresi langsung

pada miokard, sehingga menurunkan resistensi vaskuler sistemik dan cardiac

12
output.5

 Kecemasan, gelisah

 Penglihatan kabur

 Kesulitan bernapas

 Pusing, mengantuk

 Irama jantung tidak teratur (palpitasi)

 Mual, muntah

 Kejang (konvulsi)

 Ruam kulit, gatal-gatal (gatal-gatal)

 Pembengkakan pada wajah atau mulut

 Tremor

f. Kontraindikasi

MARCAINE (bupivacaine hydrochloride), MARCAINE SPINAL

(bupivacaine hydrochloride) dan MARCAINE E (bupivacaine hidroklorida

dengan epinefrin) dikontraindikasikan:7

 Pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap bupivacaine, atau agen

anestesi local jenis amida, atau komponen lain dari injeksi bupivacaine.

 Untuk anestesi regional (Blok Bier) karena kebocoran bupivacaine yang

tidak disengaja melewati tourniquet dapat menyebabkan reaksi toksik

sistemik. Dapat terjadi Cardiac arrest dan kematian

 Pada anestesi blok paracervical obstetri. Penggunaan anestesi lokal lainnya

dalam teknik ini dapat mengakibatkan bradikardia janin dan kematian.

 Pada syok berat dan di blok jantung dan ketika ada inflamasi dan / atau

13
sepsis di dekat lokasi dari injeksi yang diusulkan.

 Penggunaan anestesi regional intravena

 Efek Penyalahgunaan Narkoba

C. Lidokain 2%

a. Definisi

Obat anestesi lokal secara umum dibagi menjadi dua golongan

berdasarkan struktur kimianya, yaitu golongan ester dan amida. Lidokain

merupakan anestesi lokal golongan amida yang ditemukan oleh Lofgren

pada tahun 1943. Lidokain menimbulkan hambatan hantaran yang lebih

cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang

ditimbulkan oleh prokain. Tidak seperti prokain, lidokain lebih efektif

digunakan secara topikal dan merupakan obat anti disritmik jantung

dengan efektifitas yang tinggi. Untuk alasan ini, lidokain merupakan

standar pembanding semua obat anestesi local yang lain. Tiap mL

mengandung: 2 – (Dietilamino) – N – (2,6 – dimetil fenil) asetamida

hidroklorida.

Lidokain mudah diserap dari tempat suntikan, dan dapat melewati

sawar darah otak. Sekitar 70% (55-95%) lidokain dalam plasma terikat

protein, hampir semuanya dengan alfa 1 – acid glycoprotein. Distribusi

berlangsung cepat, volume distribusi adalah 1 liter per kilogram; volume

ini menurun pada pasien gagal jantung. Tidak ada lidokain yang diekskresi

secara utuh dalam urin.Jalur metabolik utama lidokain di dalam hepar

(retikulum endoplasma), mengalami dealkilasi oleh enzim oksidase fungsi

14
ganda (mixed function oxidases) membentuk monoetilglisin xilidid dan

glisin xilidid, yang kemudian dimetabolisme lebih lanjut menjadi

monoetilglisin dan xilidid. Kedua metabolit monoetilglisin xilidid maupun

glisin xilidid ternyata masih memiliki efek anestetik lokal.

b. Mekanisme kerja Lidokain

Penjalaran rangsang elektrik pada serabut saraf dikenal sebagai

potensial aksi. Potensial aksi merupakan peningkatan lokal dari muatan

positif atau depolarisasi yang terjadi pada membran sel akibat masuknya

ion natrium melalui kanal natrium secara cepat dan mengakibatkan

penurunan muatan elektrokimia pada membran sel. Perubahan tersebut

akan mengakibatkan rangsangan pada saraf dapat menjalar hingga pusat

saraf yang lebih tinggi. Anestesi lokal lidokain bekerja dengan

menghalangi transmisi dari hantaran saraf melalui hambatan pada kanal

natrium. Ikatan lidokain dengan kanal natrium intraseluler akan

menghambat ion natrium untuk masuk ke dalam sel dan menghalangi

terjadinya aksi potensial membran saraf. Mekanisme tersebut memberikan

efek anestesi dan analgesik dengan menghambat transmisi sensasi nyeri

pada serabut saraf.

c. Dosis dan Penggunaan

Dosis lidokain untuk intravena berkisar 1 hingga 1.5 mg/kgBB untuk

mencegah respon hemodinamik dan jalan nafas pada instrumentasi trakea.

Onset yang diperlukan untuk lidokain agar dapat bekerja dengan baik

antara 60-90 detik dengan durasi kerja 60 – 120 menit sebagai anestesi

15
lokal. Dosis lidokain untuk infiltrasi dan blok perifer atau sentral dapat

diberikan sebesar 4 mg/KgBB hingga 7 mg/KgBB dengan tambahan

epinephrine.

d. Efek Samping

Reaksi yang tidak diinginkan yang serius jarang dijumpai, tetapi dapat

terjadi akibat dosis lebih relatif atau mutlak (toksisitas sistemik) dan reaksi

alergi.

Dosis relatif lebih

Dapat terjadi bila lidokain secara tidak sengaja ke dalam arteri yang

menuju otak. Hal ini dapat terjadi pada saat memblok saraf pada daerah

leher atau bila arteri kecil pada setengah tubuh bagian atas tertusuk dan

lidokain mencapai otak akibat injeksi retrograd. Pada kasus ini dapat

timbul gejala-gejala sistem saraf pusat, mungkin juga kejang pada dosis

yang diperkirakan tidak berbahaya.

Dosis lebih mutlak (toksisitas sistemik)

Toksisitas sistemik obat anestetik lokal adalah kelebihan konsentrasi obat

dalam plasma. Penjelasan konsentrasi obat anestetik lokal dalam plasma

adalah kecepatan obat masuk ke dalam sirkulasi relatif terhadap

redistribusinya ke sisi jaringan yang tidak aktif dan bersihan oleh

metabolisme. Kejadian infeksi langsung intravaskular yang tidak disengaja

selama tindakan anestesi blok saraf perifer atau anestesi epidural

merupakan mekanisme yang paling umum untuk menyebabkan kelebihan

16
konsentrasi obat anestesi lokal dalam plasma. Jarang, kelebihan

konsentrasi dihasilkan dari absorbsi dari tempat injeksinya.

Sistem kardiovaskular

Injeksi intravena yang sangat cepat dapat menimbulkan konsentrasi yang

tinggi pada pembuluh-pembuluh koroner yang mengakibatkan depresi

langsung pada miokard, mungkin diikuti oleh henti jantung. Efek pada

sirkulasi dapat timbul sebagai gejala satu-satunya, bahkan sebelum timbul

efek pada susunan saraf pusat yakni relaksasi otot polos vaskuler arteriol.

Sebagai hasil terjadi hipotensi berat yang menggambarkan penurunan

tahanan vaskuler sistemik dan laju jantung. Perlu untuk dicatat bahwa blok

saraf pusat dapat menimbulkan blok simpatis dengan hipotensi dan

mungkin bradikardi.Sebagian toksisitas jantung yang diakibatkan oleh

tingginya konsentrasi plasma lidokain dapat terjadi karena obat ini juga

menghambat saluran Na jantung. Pada konsentrasi rendah, efek pada

saluran Na ini mungkin memperbesar sifat antidisritmi jantung, tetapi jika

konsentrasi plasma berlebihan, saluran Na jantung cukup dihambat

sehingga konduksi dan automatisitas didepresi dan merugikan. Kelebihan

konsentrasi plasma lidokain dapat memperlambat konduksi impuls jantung

yang ditunjukkan dengan pemanjangan interval P-R dan kompleks QRS

pada elektrokardiogram. Efek pada saluran ion kalsium dan kalium juga

dapat memperbesar toksisitas jantung.

Cara mengatasi reaksi toksik

17
Reaksi serius harus segera diobati dengan gejala yang predominan

meliputi ventilasi paru dengan oksigen, sebab hipoksemia arterial dan

asidosis metabolik terjadi dalam hitungan detik. Kejang umum diatasi

dengan oksigen dan pernafasan buatan. Hiperventilasi paru secara aktif

mengurangi efek toksik yang mana dapat menurunkan penghantaran obat

anestesi lokal ke otak, dan secara teoritis tindakan ini dapat membersihkan

secara lambat obat anestesi lokal dari otak. Barbiturat kerja singkat atau

diazepam sebaiknya. diberikan intravena dalam dosis kecil dan bila perlu

dapat diulang. Pilihan lain adalah pelemas otot dan pernafasan buatan.

Depresi pada sirkulasi dapat diatasi dengan oksigenasi, merendahkan

posisi kepala, vasokonstriktor dan plasma ekspander. Henti jantung diatasi

dengan pijat jantung.

Pencegahan :

1. Pilihlah konsentrasi dan dosis efektif yang terkecil.

2. Berhati-hatilah dengan konsentrasi untuk setiap teknik anestesi, dan

untuk adrenalin.

3. Menyuntik perlahan-lahan dengan aspirasi berulang kali.

Reaksi alergi

Reaksi hipersensitivitas murni terhadap agent anestesi lokal—yang bukan

intoksikasi sistemik karena konsentrasi plasma yang berlebihan—

merupakan hal yang jarang. Ester memiliki kecenderungan menginduksi

reaksi alergi karena adanya derivat ester yaitu asam paminobenzoic, yang

merupakan suatu alergen. Sediaan komersial multidosis dari amida

18
biasanya mengandung methylparaben, yang memiliki struktur kimia mirip

dengan PABA.

Reaksi alergi terhadap lidokain adalah sangat jarang, meskipun obat ini

sering digunakan. Diperkirakan bahwa kurang dari 1% semua reaksi

merugikan disebabkan oleh karena mekanisme alergi. Malahan sangat

besar respon merugikan yang sering dihubungkan dengan reaksi alergi

ternyata manifestasi kelebihan konsentrasi lidokain dalam plasma.

D. Kombinasi Bupivacaine 0,5% dan Lidokain 2%

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andi Pawana dkk (2018) dijelaskan

bahwa perbandingan waktu awitan blockade sensorik dan motoric pada

kombinasi bupivacaine 0,5% dan lidokain 2% terhadap bupivacaine 0,5%

Uji Mann-Whitney menunjukkan waktu awitan blokade sensorik dan

motorik pada kelompok kombinasi bupivakain 0,5% dan lidokain 2% lebih

19
cepat secara bermakna dibanding dengan bupivakain 0,5%. Berdasarkan

hasil uji statistik menggunakan Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa

lama kerja blokade sensorik dan motorik antara kelompok kombinasi

bupivakain 0,5% dan lidokain 2% lebih singkat secara bermakna

dibanding dengan bupivakain 0,5%. Penelitian ini membandingkan antara

waktu awitan blokade mempergunakan bupivakain 0,5% dibanding

dengan kombinasi bupivakain 0,5% dan lidokain 2% pada blokade

femoralis dan skiatik, didapatkan waktu awitan blockade sensorik dan

motorik 28±12 menit pada kelompok bupivakain 0,5%. Sementara pada

kelompok kombinasi bupivakain 0,5% dan lidokain 2% waktu awitan

blokade sensorik dan motorik 16±9 menit. Hasil tersebut serupa dengan

penelitian Cuvillon dkk. yaitu waktu awitan blokade lebih cepat pada

kelompok kombinasi bupivakain dan lidokain.

Penelitian ini juga membandingkan waktu awitan blokade antara

pemakaian bupivakain 0,5% dibanding dengan kombinasi bupivakain

0,5% dan lidokain 2% pada teknik blockade infraklavikular. Didapatkan

waktu awitan blokade sensorik dan motorik 9,7±1,8 menit pada kelompok

bupivakain 0,5%. Sementara, pada kelompok kombinasi bupivakain 0,5%

dan lidokain 2% dengan waktu awitan blockade sensorik dan motorik

adalah 4±1,3 menit. Hasil tersebut serupa dengan penelitian Ozmen dkk.,

yaitu waktu awitan blokade lebih cepat pada kelompok kombinasi

bupivakain dan lidokain. Hal ini terjadi karena perbedaan pKa larutan

bupivakain dengan larutan kombinasi bupivakain dan lidokain. Nilai pKa

20
larutan kombinasi bupivakain dan lidokain lebih mendekati pH fisiologis

sehingga konsentrasi basa yang tidak terkonjugasi lebih tinggi dan

menyebabkan waktu awitan lebih cepat dibanding dengan kelompok

bupivakain.

Penelitian lain yang membandingkan lama kerja blokade

menggunakan bupivakain 0,5% dibandingkan dengan kombinasi

bupivakain 0,5% dan lidokain 2% pada blokade femoralis dan skiatik,

didapatkan lama kerja blockade sensorik 22 jam dan motorik 18 jam pada

kelompok bupivakain 0,5%. Sementara, pada kelompok kombinasi

bupivakain 0,5% dan lidokain 2% waktu awitan blokade sensorik dan

motorik 12 jam. Hasil tersebut serupa dengan penelitian Cuvillon dkk

yaitu waktu awitan blokade lebih cepat pada kelompok kombinasi

bupivakain dan lidokain.

21
Penelitian yang dilakukan di International Hospital Kampala

Uganda memperhatikan penggunaan Kombinasi Lidokain dan bupivakain

pada Sirkumsisi orang dewasa. Pada penelitian tersebut menilai berapa

lama Nyeri pasca operasi selama 30-60 menit p

asca operasi. Mereka menetapkan untuk menilai efektivitas dua campuran

LiB dalam pengontrolan penyakit selama dan setelah SMC. Mereka

menemukan bahwa campuran LiB 3: 3: 4 menggunakan lebih sedikit dari

setiap anestesi lokal bila dibandingkan dengan praktik saat ini di Uganda.

Campuran LiB yang saat ini direkomendasikan dan umum digunakan

terdiri dari 10 cc lignokain 1% (100 mg) dan 10 cc 0,25% (25 mg)

bupivacaine . Campuran LiB 3: 3: 4 dalam hal ini studi menggunakan

anestesi 40-70% lebih sedikit dari yang direkomendasikan oleh produsen.

Itu efektif dalam pengendalian rasa sakit selama dan segera setelah SMC

dan berpotensi menghemat penggunaan bupivacaine dan lignocaine.

Lama kerja blokade sensorik dan motorik didapatkan waktu yang

lebih singkat pada kelompok kombinasi bupivakain dan lidokain

22
dikarenakan dosis bupivakain pada kelompok kombinasi tersebut lebih

kecil dibandingkan dengan kelompok bupivakain sehingga waktu untuk

mengeliminasi anestetik lokal dari saraf dan jaringan sekitar lebih cepat

pada kelompok kombinasi bupivakain dan lidokain. Penggunaan epinefrin

1:200.000 pada larutan kombinasi bupivakain dan lidokain pada

penelitian ini ditujukan menghindari efek toksik anestetik lokal yang aditif

apabila terjadi penggabungan antara sesama obat anestetik lokal. Pada

larutan kombinasi bupivakain dan lidokain apabila dihitung maka akan

tercapai dosis toksik pada larutan kombinasi tersebut, oleh karena itu

epinefrin diberikan untuk meningkatkan ambang batas toksik lidokain dari

4,5 mg/kgBB menjadi 7 mg/kgBB sehingga masih berada di rentang yang

aman. Pada kelompok bupivakain tidak diberikan epinefrin karena dosis

yang digunakan tidak mencapai dosis toksik. Epinefrin juga dapat

berpengaruh pada lama kerja anestetik local karena efek vasokontriksi

pembuluh darah sehingga mengakibatkan obat anestetik local kontak

lebih lama dengan jaringan saraf dan penyerapan ke dalam darah akan

semakin lambat sehingga proses eliminasi juga akan lebih lama. Namun,

meskipun epinefrin dapat memperpanjang lama kerja anestetik lokal,

efeknya lebih efektif terlihat pada penggunaan dengan anestetik lokal kerja

sedang seperti lidokain dibanding dengan obat anestetik lokal kerja

panjang seperti bupivakain.

Hasil penelitian lain di Amerika didapatkan bahwa penggunaan

tambahan epinefrin pada bupivakain untuk anestesi epidural terhadap

23
anjing tidak berpengaruh terhadap lama kerja. Berdasarkan hasil tersebut

dapat disimpulkan bahwa penambahan epinefrin pada kelompok

bupivakain dan lidokain tidak menyebabkan bias pada hasil penelitian ini.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa lama kerja blokade sensorik dan

motorik lebih singkat secara bermakna pada kelompok kombinasi

bupivakain 0,5% dan lidokain 2% dibanding dengan kelompok bupivakain

0,5% yang artinya bahwa tidak terlihat efek pemanjangan lama kerja

akibat penggunaan epinefrin pada larutan kombinasi.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Amrizal CI, Yadi DF, Kadarsah RK . 2017 . Perbandingan Pemberian 20 mL


dengan 30mL Bupivakain 0,5% terhadap Mula Kerja dan Lama
Kerja Blokade Saraf Iskhiadicus Pendekatan Parasakral
Menggunakan Alat Stimulasi Saraf pada Operasi Ekstremitas
Bawah. Bandung : Departemen Anestesi dan Terapi Intensif RS
Dr. Hasan Sadikin Bandung
2. Kirkland, Québec. Local Anastesi. Product Monograph – Marcaine Marcaine
Spinal, Marcaine.2017
3. Veering, Bernadette. Regional anaesthesia in the elderly. Europeansosiaty of
anesthesiology.2011
4. John P, Cunha. Bupivacain. Medical and Pharmacy. Update in 2019
5. Galukande M, Hodges S, Duffy K, et all. 2016. Clinical Study The Use of
Lidocaine and Bupivacaine Mix in Adult Safe Male Circumcision :
Less Is More. Uganda : Departement of Surgery International
Hospital Kampala Uganda
6. Lizzaraga I, Janovyak E, Beths T. 2013. Comparing Lidocaine, Bupivacaine
and a lidocaine-bupivacaine mixture as a metacarpal block in
sheep. Departement of Pathobiology Ross University School of
Veterinary Medicine.
7. Yin Q, Li J, Zheng Q, et all. 2017. The quaternary lidocaine derivative QX-
314 in combination with bupivacaine for long-lasting nerve block:
Efficacy, toxicity and the optimal formulation in rats. China :
Laboratory of Anesthesia and Critical Care Medicine.
8. Darmaditha IM. 2015. Mekanisme Kerja Anestesi Lokal (Lidokain). Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana Bali.
9. Mishra A, Mahajan M, Bande C, et all. 2018. Is amalgamated lingo-
bupivacaine an answer to complicated minor oral surgical
anesthesia? A randomized split-mouth double-blind clinical trial.
Departement of Plastic Surgery Germany.

25