Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PROYEK ANATOMI DAN FISOLOGI HEWAN (BI2103)

Pengaruh Dosis Pendedahan Ekstrak Mint (Mentha piperita) sebagai


Agen Anti Obesitas terhadap Parameter Pencernaan Mencit (Mus
musculus) Swiss-Webster

Tanggal Praktikum : 18 September 2019


Tanggal Pengumpulan : 1 Oktober 2019

disusun oleh :
Nandya Dwi Artameutia Sudarmadji
10618002
Kelompok 11

Asisten :
Harfi Maulana (10616064)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG
BANDUNG
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Obesitas merupakan suatu keadaan dimana terjadi penumpukan berlebih
di dalam tubuh. Obesitas menjadi salah satu faktor resiko munculnya
berbagai penyakit degenerative seperti penyakit jantung yang beresiko
menyebabkan kematian. Permasalahan obesitas adalah masalah utama
yang dihadapi di zama modern ini terutama di negara-negara maju dan
berkembang. Dengan semakin maju teknologi serta makin berkembannya
perekonomian, membawa dampak yang sangat luas bagi segit positif
maupun segi negatif. Dari satu sisi manusia sangat merasa terbantud
dengan kemajuan tejnologi, namun tanpa sadar hal itu akan sangat
merugikan karena kemudahan itu dapat menurunkan aktivitas yang
berpengaruh terhadap penurunan aktivitas fisik seseorang sehingga
membuat seseorang menjadi malas untuk melakukan aktivitas fisik
(Thomsen dan Nordestgaard 2015).
Daun mint adalah tanaman yang digunakan secara luas oleh orang
banyak. Daun mint memiliki beberapa peran dalam dunia farmakologis
serta kosmetik karena kemampuannya untuk menghasilkan senyawa
terpenoid dan menghasilkan minyak yang kaya akan mentol dan
flavodnoid. Daun mint mengandung senyawa antipasmodik yang berguna
untuk mengatasi kejang pada saluran cerna, mengandung senyawa
antimutagenik , mengandung senyawa antiflatulen yang berguna unutuk
memecah gelembung dalam lambung sehingga berguna untuk mengatasi
perut kembung, serta mengandung antiemetic untuk megatasi rasa mual.
Kandungan diatas dapat meningkatkan metabolism, serta terutama
kandungan falavonoid dalam daun mint berperan sebagai antioksidan yang
dapat menurunkan kadar trigiliserida dan kolesterol dalam darah (Barbalho
et al., 2011).
Kandang metabolisme adalah alat yang disusun untuk mengatur jumlah
makanan dan minuman yang telah dikonsumsi dan koleksi feses serta urin
dalam 24 jam. Prinsip kerja kanag metabolism adalah pada bagian
dalamnya terdapat bilik transparan berbentuk jala sebagai tempat pijakan
mencit, pada bagian luarnya terdapat tempat makan serta tempat minum,
serta pada bagian bawahnya terdapat bilik untuk koleksi feses serta urin
dengan saluran yang berbeda sehingga feses dan urin akan terpisah dan
memudahkan pengukurannya, sehingga perlu digunakan kandang
metabolism untuk mengukur parameter pencernaan (Susilowati et al.,
2016).
Penelitian ini penting untuk dilakukan agar kita dapat mengetahui
bagaimana peranan daun mint sebagai objek penurun berat badan dan
mengetahui bagaimana mekanisme kerja dari daun mint.

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Menentukan pengaruh dosis pendedahan ekstrak mint (Mentha piperita)
terhadap parameter pencernaan mencit (Mus musculus) Swiss-Webster.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Hewan mamalia memiliki sistem pencernaan yang meliputi organ


mulut, kerongkongan, esophagus, lambung, usus halus, usus besar, dan
anus. Mulut berfungsi untuk pencernaan secara mekanik dan kimiawi
dimana terdapat gigi yang berfungsi untuk memperkecil ukuran makanan
serta terdapat enzim amlase yang berguna memecah polipeptida menjadi
dipeptide. Selanjutnya ada kerongkongan yang merupakan organ yang
berdungsi sebagai saluran makanan untuk menuju ke lambung. Di
kerongkongan, makanan akan bergerak menuju lambung dengan bantuan
gerakan peristaltik, gerakan ini terdiri atas fase kontraksi dan relaksasi.
Lalu ada lambung yang berfungsi sebagai organ pencernaan yang bekerja
secara kimiawi, dimana terdapat enzim-enzim yang berguna untuk
memecah makanan, enzim tersebut merupakan pepsin, renin, dan asam
klorida. Enzim pepsin akan memecah molekul protein menjadi peptide,
enzim renin mencrena protein susu menjadi kasein, serta asam klorida yang
berfungsi untuk membunuh kuman yang terbawa bersama makanan
(Siswanto, 2017).
Selanjutnya makanan akan dibawa ke usus halus, dimana usus halus ini
terdiri atas tiga bagian yaitu duodenum (usus duabelas jari), jejunum (usus
kosong, dan ileum (usus penyerapan). Duodenum memiliki fungsi untuk
mencerna makanan secara kimiawi menggunakan enzim yang sebagian
berasal dari pancreas seperti enzim amilase yang berguna memecah
disakarida menjadi monosakarida, lipase yang memecah lemak mejadu
asam lemak dan gliserol, serta tripsin mengubah dipeptide menjadi asam
amino. Bagian usus yang lain adalah jejunum atau yang biasa disebut
dengan usus kosong, penyerapan nutrisi atau asimilasi makanan dilakukan
disini hampir 90%. Selanjutnya ada ileum atau usus penyerapan, ileum
berfungsi untuk menyerap nutrisi makanan yang belum terserap pada
proses sebelumnya. Proses pencernaan makanan akan dilanjutkan menuju
anus untuk di ekskresikan (Nurcahyo, 2005).
Daun mint adalah tanaman yang digunakan secara luas oleh orang
banyak. Daun mint memiliki beberapa peran dalam dunia farmakologis
serta kosmetik karena kemampuannya untuk menghasilkan senyawa
terpenoid dan menghasilkan minyak yang kaya akan mentol dan flavonoid.
Mint mengandung senyawa antipasmodik untuk mengatasi kejang pada
saluran cerna, mengandung senyawa antimutagenik, mengandung senyawa
antiflatulen untuk memecag gelembung gas yang ada di perut sehingga
meredakan perut kembung, serta mengandung antiemetic untuk mengatasi
gejala mual. Senyawa-senyawa diatas yang terkandung pada daun mint
memiliki kecenderungan untuk meningkatkan metabolisme dengan
meningkatkan suhu tubuh, yang selanjutnya mengarah pada pembakaran
kalori ekstra daripada yang biasa dilakukan oleh tubuh (Barbalho et al.,
2011).
Kandang metabolisme adalah alat yang disusun untuk mengatur jumlah
makanan dan minuman yang telah dikonsumsi dan koleksi feses serta urin
dalam 24 jam. Prinsip kerja kanag metabolism adalah pada bagian
dalamnya terdapat bilik transparan berbentuk jala sebagai tempat pijakan
mencit, pada bagian luarnya terdapat tempat makan serta tempat minum,
serta pada bagian bawahnya terdapat bilik untuk koleksi feses serta urin
dengan saluran yang berbeda sehingga feses dan urin akan terpisah dan
memudahkan pengukurannya (Susilowati et al., 2016).
Untuk menentukan sutu dosis aman untuk suatu organisme, terdapat
metode untuk menguji dosis tersebut. Yaitu Lethal Dose (LD50) dan Lethal
Concentration (LC50). Lethal dose adalah banyaknya substansi yang
dicerna hingga menyebabkan 50% sampel populasi mati. Lethal dose
dibentuk dalam satuan mg/kg (milligram zat per massa tubuh). Sedangkan
Lethal concentration adalah banyaknya substansi yang terkonsentrasi pada
suatu fasa (gas atau cair) yang dapat membunuh 50% dari suatu populasi
(Stacy, 2004).
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Gambar 1. Rancangan percobaan pengaruh dosis pendedahan ekstrak mint (Mentha piperita)
terhadap parameter pencernaan mencit (Mus musculus)

Tabel diatas adalah rancangan penelitian tentang pengaruh dosis


pendedahan ekstrak mint (Mentha piperita) terhadap parameter
pencernaan mencit (Mus musculus). Pada kali ini, penelitian dibagi
menjadi tiga kelompok besar, dimana kelompok A mendedah mencit
dengan akuades, kelompok B mendedah mencit menggunakan ekstrak
daun minta yang berkonsentrasi rendah, dan kelompok C yang mendedah
mencit menggunakan ekstrak daun mint dengan konsentrasi yang cukup
pekat. Pendedahan dan pengukuran parameter dilakukan setiap hari
selama 7 hari. Hal ini dilakukan untuk melihat perbedaan dari
pertumbuhan mencit yang diberi perlakuan berbeda tiap kelompok,
sehingga kita dapat mengetahui pengaruh dari ekstrak daun mint pada
tubuh mencit.

3.2. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini terdapat pada tabel
berikut:
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan.
Alat Bahan
Kandang metabolisme Sarung tangan
Timbangan digital Mencit (Mus musculus)
Syringe Akuades
Jarum gavage Sabun cuci/deterjen
Oven Alumunium foil
Wadah penampung feses Zat yang didedahkan
Gelas penampung urin
Gelas kimia

3.3. Pemeliharaan Mencit


Pertama, dilakukan pengambilan data terhadap mencit, mencit
ditimbang dan dimasukan ke dalam kandang untuk proses aklimatisasi.
Lalu dilakukan pendedahan melakukan oral gavage, dilakukan setiap hari
sesuai jadwal (jarum gavage dipasang di syringe, kemudian zat
dimasukkan ke alat gavage). Kemudian alat gavage dimasukkan ke dalam
kerongkongan, dan diinjeksi zatnya. Dicuci alat gavage menggunakan air
keran, air sabun, dan akuades setelah digunakan. Dilakukan pengambilan
data setiap hari selama satu minggu di kandang mencit, dilakukan di pagi
dan sore hari. Pengambilan data meliputi penimbangan massa setiap hari,
penimbangan feses setiap hari dimana wadah feses sudah diketahui
beratnya (berat feses basah dicatat lalu feses dibungkus dengan aluminium
foil kemudian dimasukkan ke dalam oven), selanjutnya ada pengovenan
feses yang dilakukan setiap dua hari dimana feses selama 2 hari akan di
oven selama 24 jam dan setelah feses kering lalu ditimbang kembali, lalu
ada penimbangan urin yang dilakukan setiap dua hari sekali, penimbangan
pakan yang tersisa, pemberian pakan yang dilakukan setiap hari (berat
pakan 10% dari berat mencit pada hari tersebut), dan pemberian minum
setiap hari secara ad libitum atau pemberian minum secara berlebih. Dan
kemudian mencit selesai didedah pencernaannya.
BAB 4
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian


Berikut adalah beberapa grafik yang menampilkan hasil penelitian:
Tabel 2. Terdapat pada lampiran.
Gambar 2. Grafik rata-rata laju konsumsi mencit yang didedahkan akuades, ekstrak
mint 140 mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.

3.00

2.50
Laju Konsumsi (g/hari)

2.00

1.50

1.00

0.50

0.00
aquades mint 140 mg/kg mint 700 mg/kg
Perlakuan
Tabel 3. Terdapat pada lampiran.
Gambar 3. Grafik rata-rata laju pertumbuhan mencit yang didedahkan akuades,
ekstrak mint 140 mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.

0
Laju Pertumbuhan (g/hari)

-1

-2

-3

-4

-5
aquades mint 140 mg/kg mint 700 mg/kg
Perlakuan

Tabel 4. Terdapat pada lampiran.


Gambar 4. Grafik rata-rata laju pertumbuhan relatif mencit yang didedahkan
akuades, ekstrak mint 140 mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB (2)

4.00
2.00
Laju Pertumbuhan Relatif (%)

0.00
-2.00
-4.00
-6.00
-8.00
-10.00
-12.00
-14.00
-16.00
Aquades Ekstrak Mint 140 mg/kg Ekstrak Mint 700 mg/kg
Perlakuan
Tabel 5. Terdapat pada lampiran.

Gambar 5. Grafik rata-rata efisiensi pakan mencit yang didedahkan akuades, ekstrak
mint 140 mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB (2)

50

0
1 2 3
-50
Efisiensi Pakan (%)

-100

-150

-200

-250

-300
Perlakuan

Tabel 6. Terdapat pada lampiran.


Gambar 6. Grafik rata-rata efisiensi pencernaan mencit yang didedahkan akuades,
ekstrak mint 140 mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.

100
90
80
70
Efisiensi Pencernaan (%)

60
50
40
30
20
10
0
aquades mint 140 mg/kg mint 700 mg/kg
Perlakuan
Tabel 7. Terdapat pada lampiran.
Gambar 7. Grafik rata-rata efisiensi absorpsi mencit yang didedahkan akuades,
ekstrak mint 140 mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB

200

100
Efisiensi Absorpsi (%)

0
aquades mint 140 mg/kg mint 700 mg/kg
-100

-200

-300

-400

-500
Perlakuan
Berikut adalah Tabel Pengamatan Preparat.

Gambar 8. Rectum Gambar 9. Rectum


(Komarek et al., 2000)

Gambar 10. Lambung Gambar 11. Lambung


(Rather, 1978)

Gambar 12. Esofagus


Gambar 13. Esofagus
(Rather, 1978)
Gambar 14. Kolon
Gambar 15. Kolon
(Rather, 1978)

Gambar 16. Duodenum


Gambar 17. Duodenum
(Rather, 1978)
4.2. Pembahasan
Aklimatisasi adalah suatu upaya adaptasi dari suatu organisme terhadap
suatulingkugan baru yang akan dimasukinya. Hal ini didasarkan pada
kemampuan organisme untuk dapat mengatur morfologi, perilaku, dan jalur
metabolism di dalam tubuhnya untuk menyesuaikan dengan dengan
lingkungannya. Beberapa kondisi yang pada umunya disesuaikan adalah
suhu lingkungan dan kadar oksigen. Proses penyesuaian ini berlangsung
dalam waktu yang cukup bervariasi tergantung dari jauhnya perbedaan
kondisi antara lingkungan baru yang akan dihadapi (Rittner, 2005).
Kandang metabolism adalah alat yang telah disusun untuk mengatur
jumlah makanan dan minuman yang telah dikonsumsi dan koleksi feses
serta urin dalam 24 jam. Prinsip kerja kandang metabolism adalah pada
bagian dalamya terdapat bilik transparan berbentuk jala sebagai tempat
pijakan mencit, pada bagian luarnya terdapat tempat makan dan minum,
serta pada bagian bawahnya terdapat bilik untuk koleksi urin dan feses
dengan saluran yang berbeda sehingga feses dan urin akan terpisah dan
memudahkan pengukurannya (Susilowati et al., 2016).
Metode tiap injeksi memiliki keuntungann dan kelemahannya sendiri,
berikut metode-metode injeksi. Oral gavage adalah metode dimana satu
cairan atau obat diinjeksi lewat mulut, targertnya adalah saluran pencernaan
atau lambung. Karena metode ini diberikan langsungpada target, maka akan
meminimalisirresiko tercampurnya zat yang akan diberikan. Namun
metode inilebih sulit dilakukan karena handling harus dilakukan dengan
teliti dan resiko terjadinya komplikasi cukup tinggi terutama apabila
dilakukan brulang-ulang (Harkness et al., 2010).
Injeksi subkutan dilakukan dengan menginjeksi pada bagian bawah
kulit. Injeksi ini memiliki tingkat absorpsi yang baik terutama obat-obatan
dengan bio-availabilitas rendah, memliki tingkat reaksi yang cepat dan
berurasi elbih lama. Namun, injeksi subkutan sulit dalam memprediksi
penyerapan obat dan injeksi ini dapat menimbulkan rasa sakit serta memar
(Harkness et al., 2010).
Injeksi intravena (IV) adlah metode dimana pemberian obat
diinjeksikan langsung ke aliran darah. Karena hal tersebut, IV menjadi
metode yang paling cepat diantara metode yang lainnya. Keuntungan dari
injeksi ini adalah bisa langsung di distribusi ke seluruh tubuh. Kekurangan
dari injeksi ini adalah dapat mengakibatkan infeksi karena IV langsung
menuju aliran darah tanpa melalui rute system imun, serta efek yang
dirasakan apabila terjadi kesalahan pada injeksi ini akan langsung terasa
(Bachenheimer, 2011).
Injeksi intramuskular adalah penyuntikkan yang dilakukan ke dalam
jaringan otot, biasanya dilakukan pada otot yang tidak terlalu banyak
terdapat saraf dan pembuluh darah, misalnya pada otot lengan dan pantat.
Kelebihan injeksi intramuscular adalah efeknya timbul lebih cepat dan
teratur. Sedangkan kekurangannya adalah dosis yang diberikan harus
diukur secara teliti dan pemberian harus dilakukan oleh tenaga ahli karena
bila obat diberikan secara parenteral (menyuntikkan ke jaringan tubuh)
maka sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya seperti kerusakan
jaringan dan otot (Bachenheimer, 2011).
Injeksi intraperitoneal adalah metode dengan menginjeksikan suatu zat
ke rongga peritoneal atau abdomennya. Metode ini banyak digunakan pada
rodent, tapi untuk mamalia yang lebih besar dan juga manusia, metode ini
jarang digunakan. Metode ini tidak repot dalam menentukan posisi untuk
melakukan injeksi dan dapat memasukkan zat dengan volume yang lebih
besar dari metode yang lainnya, namun metode ini memiliki tingkat
absorpsi yang lambat (Turner, 2011).
Penelitian ini menggunakan akuades, ekstrak mint konsentras tinggi
(140mg/kg BB), dan ekstrak daun mint konsentrasi rendah (700mg/kg BB)
adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari pemberian ekstrak daun
mint segabai agen penurun berat badan, digunakan 3 perlakuan yang
berbeda agar kita dapat mengetahui hasil dari perbedaan perlakuan tersebut
secara langsung. Dan kita dapat mengetahui dosis mint yang efektif sebagai
agen penurun berat badan.
Dari hasil penelitian, dan setelah mengolah data, didapatkan sesuai
grafik bahwa mint berpengaruh terhadap parameter pencernaan, yaitu
menurunkan laju konsumsi mencit dan menurunkan pertumbuhan mencit.
Hal ini sesuai dengan literatur karena menurut literatur, mint dapat
meningkatkan metabolism dalam tubuh. Begitu pula dengan laju konsumsi
sama dengan jumlah pakan mencit, karena ketika nafsu makan rendah,
maka laju konsumsi pakan juga rendah, dan sebaliknya. Sehingga dapat
ditarik kesimpulan pula bahwa ekstrak daun mint memiliki sifat sebagai zat
penurun berat badan tubuh, karena setelh mencit didedah menggunakan
ekstrak mencit, berat badannya semakin menurun yang dipengaruhi oleh
senyawa-senyawa yang terdapat pada ekstrak daun mint (Barbalho et al.,
2011).
Dosis efektif pemberian mint untuk zat pengatur tubuh sebesar 140
mg/kg BB karena dengen dosis tersebut dapat signifikan untuk pengatur
berat badan terutama menurunkan berat badan pada mencit, dan hal tersebut
tidak menyebabkan kematian sehingga masih aman untuk dilaksanakan.
Mekanisme kerja daun mint sebagai penurun berat badan yaitu daun
mint menghasilkan senyawa terpenoid dan menghasilkan minyak yang
kaya akan mentol dan flavonoid. Mint mengandung senyawa antipasmodik
untuk mengatasi kejang pada saluran cerna, mengandung senyawa
antimutagenik, mengandung senyawa antiflatulen untuk memecah
gelembung gas yang ada di perut sehingga meredakan perut kembung, serta
mengandung antiemetic untuk mengatasi gejala mual. Senyawa-senyawa
diatas yang terkandung pada daun mint memiliki kecenderungan untuk
meningkatkan metabolisme dengan meningkatkan suhu tubuh, yang
selanjutnya mengarah pada pembakaran kalori ekstra daripada yang biasa
dilakukan oleh tubuh (Barbalho et al., 2011).
Salahsatu dari ketiga mencit kami mengalami kematian, hal ini
dikarenakan esofagusnya tertusuk yang disebabkan oleh faktor manusia,
yaitu pendedahan yang tidak dilakukan secara baik dan benar dan terlalu
memaksakan jarum gavage untuk masuk, sehingga akhirnya esofagusnya
tertusuk sehingga menyebabkan mencit kami mati.
Gambar 17 adalah gambar dari mencit kami yang mati setelah
dilakukan pembedahan yang terdapat pada lampiran.
BAB 5
KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari praktikum adalah sebagai berikut:


1. Dibandingkan dengan pemberian aquades, dan pemberian ekstrak mint 700
mg/kg BB, pemberian ekstrak mint 140 mg/kg BB adalah dosis yang
efisien untuk penurunan berat badan karena menghasilkan data percobaan
yang lebih baik disbanding ekstrak mint 700 ml/kg BB memberikan hasil
yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA

Bachenheimer, Bonnie S. 2011 Manual for Pharmacy Technicians: American Society


of Health System Pharmacist Doctors.
Barbalho, Sandra M., Machado, Flavia M. V. F., Oshiwa, M., Breu, M., Guiger, Ellen
L.,Tomazela, P., Goulart, Ricardo A., 2011. Investigation of The Effects of
Peppermint on The Biochemical and Anthropometric Profile of University
Students.
Harkness, J. E., Turner, P. V., Vanderwoude, S. 2011. Harkness amd Wagne’s
Biology and Medicine of Rabbits and Rodents. New York: John Willey and
Sons.
Komarek V., Gembardt, C., Krinke, A., Mahrous, Talaat A., Schaetti, P. 2000.
Synopsis of The Organ Anatomy. Hannover: Academic Press.
Nurcahyo, Heru. 2005. Sistem Pencernaan Makanan. Jurnal Dosen Biologi. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNY.
Rather. 1978. The Genesis of Cancer: A Study in the History of Ideas. Baltimore: Johns
Hopkins University Press.
Rittner D, B. R. A. 2005. Encyclopedia od Chemistry. Facts on File: USA.
Siswanto. 2017. Pencernaan. Jurnal Fisiologi Veteriner, Universitas Udayana. Bali.
Stacy, Angelica. 2004. Living by Chemistry, General Chemistry: Toxins Chemical
Reaction and Stoichiometry. California: Key Curriculum Press.
Susilowati, Lestari, S. R., Wulandari, N., Gofur, A. 2016. Petunjuk Praktikum
Fisiologi Hewan dan Manusia. Jurnal UM, Malang.
Thomsen, M. dan Nordestgaard, B. G. 2015. Myocardial Infarction and Ischemic
Heart Disease in Overweight and Obesity With and Without Metabolic
Syndrome. Medical Association. 174, 15-22.
Turner, Patricia V. 2011. Administration of Substances to Labiratory Animals:
Routes of Administrator and Factors to Consider. 600-613.
LAMPIRAN

Berikut adalah data mentah untuk perhitungan dalam laporan diatas.


Tabel 2. Laju konsumsi mencit yang didedahkan akuades, ekstrak mint 140 mg/kg
BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.
A1 2.37 2.25 2.26 2.34 2.28 2.53
2.37 2.25 2.26
2.37 2.25 2.26 2.34 2.28 2.53
A2 2.12 2.00
2.12 2.00
2.12
B1 2.58 2.34 2.05 1.37 0.70
2.58 2.34 2.05 1.37 0.70 0.50
2.58 2.34 2.05 1.37
B2 1.80 3.19
1.80 3.19 1.04 0.09 0.95 1.77
1.80 3.19 1.04 0.09 0.95 1.77
C1 2.70 1.90 2.37 2.20 1.90
2.70 1.90 2.37 2.20 1.90
2.70 1.90 2.37 2.20 1.90
C3 2.33 1.97 1.89 1.93 2.02
2.33 1.97 1.89 1.93 2.02
2.33 1.97 1.89 1.93 2.02
Tabel 3. Laju pertumbuhan mencit yang didedahkan akuades, ekstrak mint 140
mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.

19/09/19 20/09/2019 21/09/19 22/09/2019 23/09/2019 24/09/2019


1 -1.35 -1.06 0.65 -0.85
A1 -2.88 -3.72
-0.44 0.54 -1.13 -0.26 0.24
-1.3 -1.05
1.9 -1.07 0.57 -1.84 -0.01
A2
-5.28 -1.39 -0.44 -1.98
-3.02 -0.38 -1.31 1.76 -2.98 -1.05
B1 -6.8 -0.43 0.85
-6.88
-4.75 -0.27 -1.03 -0.16 -0.94 -0.23
B2 -4.47 0.59 -2.05 -1.69 -1.44 -0.84
-1.34 -0.88 0.05 -0.43 -0.85
-1.05 0.92 -0.56 -0.25 1.13
C1 1.38 -0.78 -1.25 -0.07 -1.92
-0.37 -0.45 -1.09 -0.03 -0.25
0.22 0.17 -0.3 0.2 0.12
C3 -0.79 -1.08 -0.29 -0.81 -0.13
Tabel 4. Laju pertumbuhan relatif mencit yang didedahkan akuades, ekstrak mint
140 mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.
1 -17.68 3.48 -4.54 -3.74 2.38 -3.04
Perlakuan 2 -8.65 -12.23
A1 3 -16.26 -1.61 2.01 -4.12 -0.99 0.92
1 -16.46 -4.92 -4.18
Perlakuan 2 7.36 -3.86 2.14 -6.76 -0.04
A2 3
1 -16.89 -5.35 -1.79 -8.20
Perlakuan 2 -11.19 -1.59 -5.56 7.90 -12.40 -4.99
B1 3 -21.55 -1.74 3.50
1 -20.72
Perlakuan 2 -15.04 -1.01 -3.88 -0.63 -3.70 -0.94
B2 3 -14.33 2.21 -7.50 -6.69 -6.11 -3.79
1 -4.76 -3.28 0.19 -1.66 -3.33
Perlakuan 2 -4.06 3.71 -2.18 -0.99 4.54
C1 3 4.89 -2.64 -4.34 -0.25 -6.98
1 -1.40 -1.73 -4.26 -0.12 -1.02
Perlakuan 2 0.88 0.67 -1.18 0.80 0.47
C2 3 -2.94 -4.15 -1.16 -3.28 -0.54
Tabel 5. Efisiensi pakan mencit yang didedahkan akuades, ekstrak mint 140 mg/kg
BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.
1 -260.70 44.48 -59.65 -45.32 28.52 -33.61
Perlakuan 2 -121.69 -165.46
A1 3 -223.94 -19.57 23.86 -48.31 -11.41 9.49
1 -245.28 -88.64 -127.02
Perlakuan 2 129.55 -129.44 28.50 -115.00 -0.46
A2 3
1 -204.92 -59.40 -21.46 -144.88
Perlakuan 2 -117.21 -16.24 -63.90 128.78 -425.71 -210.00
B1 3 -263.91 -18.38 41.46
1 -381.87
Perlakuan 2 -263.64 -8.45 -98.61 -176.80 -98.95 -12.97
B2 3 -248.10 18.47 -196.27 -151.58 -47.35
1 -70.53 -37.18 2.27 -22.63 -16.35
Perlakuan 2 -55.26 38.87 -25.45 -13.16 21.73
C1 3 -32.96 -56.82 -3.68 -36.92
1 -18.74 -57.77 -1.55 -12.37
Perlakuan 2 11.14 -15.90 10.34 5.94
C2 3 -40.01 -15.37 -41.90 -6.43
Tabel 6. Efisiensi pencernaan mencit yang didedahkan akuades, ekstrak mint 140
mg/kg BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.
50.77 -14.81 59.59 25.21 40.79 25.49
50.77 -14.81 59.59
A1 50.77 -14.81 59.59 25.21 40.79 25.49
57.70 64.63 39.76 63.25
57.70 64.63 39.76 63.25 81.25 70.37
A2 57.70
36.69 77.21 57.40 73.24 85.71
36.69 77.21 57.40 73.24 85.71
B1 36.69 77.21 57.40 73.24
29.81 84.54
29.81 84.54 -5.77 71.05 79.94
B2 29.81 84.54 -5.77 71.05 79.94
18.52 39.65 68.92 66.67 77.54 96.60
18.52 39.65 68.92 66.67 77.54 96.60
C1 18.52 39.65 68.92 66.67 77.54 96.60
72.68 50.59 76.19 64.77 72.28
72.68 50.59 76.19 64.77 72.28
C3 72.68 50.59 76.19 64.77 72.28
Tabel 7. Efisiensi absorpsi mencit yang didedahkan akuades, ekstrak mint 140 mg/kg
BB, dan ekstrak mint 700 mg/kg BB.

19/09/201 20/09/201 21/09/201 22/09/201 23/09/201 24/09/201


9 9 9 9 9 9
-512.74 -300.00 -100.25 -179.66 69.89 -131.78
-239.34
A1 -440.44 132.00 40.10 -191.53 -27.96 37.21
-425.07 -136.84 -318.18
-653.95 200.00 -324.24 45.06 -141.54 -0.66
A2
-76.94 -37.39 -197.34
-319.01 -21.03 -111.33 175.42 214.29
B1 -23.80 72.24

-10.01 37.21 -139.26 -16.25


B2 21.88 -213.33 -59.36
-53.88 3.41 -29.19 -16.92
56.33 -38.18 -16.97 22.50
C1 -47.76 -85.23 -4.75 -38.22
-37.12 48.39 -75.69 -2.40 -17.12
22.07 -18.28 -20.83 16.00 8.22
C3 -79.26 116.13 -20.14 -64.80 -8.90

Gambar 17. Pembedahan mencit yang mati.