Anda di halaman 1dari 76

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK BERAS

MERAH (Oryza nivara) SECARA


SPEKTROFOTOMETRI UV

SUHARIANI LA SUDA
N111 09 264

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK
BERAS MERAH (Oryza nivara) SECARA
SPEKTROFOTOMETRI UV

SKRIPSI

untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi


syarat-syarat untuk mencapai gelar sarjana

SUHARIANI LA SUDA
N111 09 264

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
PERSETUJUAN

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK BERAS MERAH (Oryza


(
nivara)) SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

SUHARIANI LA SUDA

N111 09 264

Disetujui oleh:

Pembimbing Utama Pembimbing Pertama

Dra.
a. Christiana Lethe, M.Si.,Apt Dra. Hj. Aisyah Fatmawaty,
Fatmawaty M.Si., Apt
NIP.19481002 198203 2 001 NIP.19541117 198301 2 001

Pada tanggal, 29 Juli 2013

iii
PENGESAHAN
UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK BERAS MERAH (Oryza
(
nivara)) SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV

Oleh :
SUHARIANI LA SUDA
N111 09 264

Dipertahankan Dihadapan Panitia Penguji Skripsi


Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin
Pada tanggal : 29 Juli 2013

Panitia Penguji Skripsi :

1. Prof.Dr. Hj. Asnah Marzuki, MSi., Apt. ( Ketua ) : ..........................

2. Yusnita Rifai, S.Si., M.Pharm.,Ph.D.,


M. Apt. (Sekretaris) : ..........................

3. Dra.
a. Christiana Lethe, M.Si., Apt.
Apt ( Ex officio) : ..........................

4. Dra. Hj.Aisyah Fatmawaty, M.Si., Apt. ( Ex officio ) : ..........................

5. Nur Indayanti, S.Si.,M.Si (Anggota) : ..........................

Mengetahui :

Dekan Fakultas Farmasi


Universitas Hasanuddin

Prof. Dr. Elly Wahyudin, DEA, Apt.


NIP. 19560114 198601 2 001

iv
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini adalah
karya saya sendiri, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar
pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan saya ini
tidak benar, maka skripsi dan gelar yang diperoleh, batal demi
hukum.

Makassar, Juli 2013

Penyusun

Suhariani La Suda

v
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Subhanahu wata’ala

karena atas nikmat, berkat dan kuasa-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan tugas akhir ini sebagai persyaratan untuk

menyelesaikan studi di Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini

banyak rintangan dan hambatan yang dihadapi, namun dengan doa

dan bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh

karena itu, perkenankanlah penulis mengungkapkan rasa terima

kasih dan penghargaan yang tulus kepada ayahanda La Suda dan

ibunda Wa Sahija Ana yang telah banyak melakukan pengorbanan,

memberikan motivasi dan dukungan, dan melalui do’a beliau kepada

Allah, sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah di Fakultas

Farmasi. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada kakak

Suhartina Lasuda dan Suharianti Lasuda yang telah memberikan

dukungan dan semangat.

Ucapkan terima kasih kepada Dra. Christiana Lethe, M.Si., Apt. selaku

pembimbing utama dan Dra.Hj.Aisyah Fatmawaty, M.Si.,Apt yang

telah meluangkan waktu selama ini untuk memberi petunjuk,

membagi ilmu dan menyumbangkan ide-ide dalam membimbing

penulis selama melakukan penelitian hingga terselesainya skripsi ini.

Pada kesempataan kali ini pula, penulis menyampaikan terima

kasih kepada:

vi
1. Ibu Prof. Dr. Elly Wahyudin, DEA, Apt. selaku Dekan Fakultas

Farmasi Universitas Hasanuddin.

2. Prof. Dr. Gemini Alam, M.Si, Apt. selaku Wakil Dekan I, Prof. Dr.

Rer-nat. Hj. Marianti A. Manggau, Apt. selaku Wakil Dekan II, dan

Drs.Abd. Muzakkir Rewa, M.Si., Apt. selaku Wakil Dekan III.

3. Dr.Hj. Sartini, M.Si.,Apt selaku penasehat akademik yang telah

memberikan nasehat dan bimbingan kepada penulis.

4. Prof.Dr. Hj. Asnah Marzuki, MSi., Apt., Yusnita Rifai, S.Si.,

M.Pharm.,Ph.D., Apt., Nur Indayanti, S.Si.,M.Si, selaku penguji

penulis

5. Seluruh dosen dan staf Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

atas bantuannya dalam penyelesaiaan skripsi ini

6. Teman-teman Ginkgo 09, khususnya Sitti Inayyah Arista, Sallmia,

Iin Fitriana Pakata, Asmira Azisa Nur, Merliana Mansyur, Cahyani

Purnasari, Syahriany Syahrir, Nurul Jummah, Hafla, Sri Hartini

Sam, Sri Hidayanti, Habibah, Ayu Asyhari.

7. Kepada Seniorku yang telah memberikan banyak ilmu dan

manfaat Kak Fadliah Djarir 06, Kak Agustina 07, Kak Asiah 07,

dan Kak Diena 07.

8. Kepada Juniorku yang telah memberikan semangat dan dukungan

Umi Mu’minati 11, Ayun 11, Ciu 11, Anggi 11, Ade 11, Anni 11,

Riskah 11, Ika 12, Farwaratih 12.

vii
9. Ibu Adri dan Kak Dewi selaku Laboran Laboratorium Kimia

Farmasi serta Kak Arti Laboran Laboratorium Farmakognosi

Fitokimia Universitas Hasanuddin

10. Semua pihak yang tidak sempat disebutkan namanya atas

bantuan dan kerjasamanya kepada penulis selama penelitian dan

menjalani penelitian.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.

Maka dari itu saran dan kritik membangun sangat penulis harapkan

guna tambahan wawasan agar dalam pengerjaan penelitian

selanjutnya dapat lebih baik.

Akhirnya semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang farmasi.

Makassar, Juli 2013

Suhariani La Suda

viii
ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian untuk memanfaatkan ekstrak Beras Merah


(Oryza nivara) sebagai tabir surya. Ekstrak yang diteliti adalah ekstrak
etanol 96%. Untuk mengetahui aktivitas ekstrak tersebut dilakukan uji
aktivitas secara in vitro dengan cara mengukur absorbansi atau
transmitansi larutannya pada tingkat konsentrasi tertentu pada
rentang panjang gelombang 292,5-372,5 nm. Selanjutnya evaluasi
dilakukan dengan menghitung persentase transmisi eritema dan
pigmentasi. Berdasarkan hasil perhitungan persentase eritema dan
pigmentasi, konsentrasi 100 bpj ekstrak etanol beras merah dapat
memberikan perlindungan kulit dari radiasi UV dengan persen
transmisi eritema 0,6681 dan persentase transmisi pigmentasi 0,7001
sehingga dikategorikan sebagai sunblock. Peningkatan konsentrasi
ekstrak disertai dengan peningkatan efek penyerapan sinar UV yang
ditandai dengan semakin kecilnya nilai persen eritema maupun
pigmentasi.

ix
ABSTRACT

Research has been done to utilize extract Red Rice (Oryza nivara) as
a sunscreen. Extracts studied is 96% ethanol extract. To determine
the activity the extracts tested in vitro activity by measuring the
absorbance or transmittance of the solution at a certain concentration
level in the wavelength range from 292.5 to 372.5 nm. Furthermore
evaluation is done by calculating the percentage of transmission of
erythema and pigmentation. Based on the calculation of the
percentage of erythema and pigmentation, a concentration of 100
ppm of ethanol extract of brown rice can provide protection to the skin
from UV radiation erythema transmission 0.6681 percent and 0.7001
percent transmission pigmentation that is categorized as a sunblock.
Increased concentrations of the extract is accompanied by an
increase in UV absorption effects are characterized by the amount of
value per cent erythema and pigmentation.

x
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................. iii

LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................iv

LEMBAR PERNYATAAN ................................................................... v

UCAPAN TERIMA KASIH .................................................................vi

ABSTRACT........................................................................................ix

ABSTRAK .......................................................................................... x

DAFTAR ISI .......................................................................................xi

DAFTAR TABEL .............................................................................. xiii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................xv

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 4

II.1 Uraian Bahan Alam...................................................................... 4

II.1.1 Klasifikasi Tanaman.................................................................. 4

II.1.2 Morfologi Tanaman ................................................................... 4

II.1.3 Kandungan Kimia ..................................................................... 6

II.2 Uraian Kulit .................................................................................. 7

II.3 Tabir Surya ................................................................................ 10

II.3.1 Radiasi dan Efek Ultraviolet .................................................... 10

II.3.2 Perlindungan Terhadap Radiasi UV ....................................... 13

II.3.3 Sifat-Sifat Senyawa Tabir Surya ............................................. 16

xi
II.3.4 Evaluasi Kuantitatif Tabir Surya .............................................. 17

II.4 Uraian Spektrofotometri UV-Vis ................................................. 20

II.4.1 Pengertian Spektrofotometri ................................................... 20

II.4.2 Spektrofotometri UV-Vis ......................................................... 20

II.5 Ekstraksi .................................................................................... 21

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN ............................................ 22

III.1 Alat dan Bahan yang Digunakan .............................................. 23

III.2 Metode Kerja ............................................................................ 23

III.2.1 Proses Ekstraksi .................................................................... 23

III.2.2 Uji Aktivitas Tabir Surya ......................................................... 23

III.3 Analisis Data ............................................................................. 23

III.4 Identifikasi Golongan Senyawa Aktif ......................................... 24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 25

IV.1 Hasil Penelitian......................................................................... 25

IV.2 Pembahasan ............................................................................ 25

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................ 30

V.1 Kesimpulan................................................................................ 30

V.2 Saran ......................................................................................... 30

DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 31

LAMPIRAN ...................................................................................... 34

xii
DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

1. Tipe kulit berdasarkan respon kulit terhadap paparan sinar


Surya..................................................................................... 10

2. Klasifikasi produk suntan berdasarkan %eritema dan


pigmentasi............................................................................ 15

3. Total energi eritema dari sinar matahari, interval 5 nm...... 17

4. Total energi pigmentasi dari sinar matahari, interval 5 nm. 18

5. Nilai persentase eritema dan pigmentasi............................. 25

6. Hasil uji identifikasi golongan senyawa dengan pereaksi


spesifik.................................................................................. 25

xiii
DAFTAR GAMBAR

GAMBAR Halaman

1. Struktur gabah ............................................................................ 5

xiv
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN Halaman

1. Skema kerja .................................................................................. 35

2. Kurva serapan ekstrak beras merah (Oryza nivara) ..................... 38

3. Kurva Hubungan antara %Te & %Tp terhadap konsentrasi(bpj) ... 39

4. Nilai Faktor efektivitas/fluks eritema dan pigmentasi pada panjang

gelombang tertentu........................................................................ 40

5. Data nilai serapan (A) Ekstrak beras merah (Oryza nivara) pada

panjang gelombang (λ) 292,5-337,5 nm dengan Spektrofometer UV-

Vis ................................................................................................. 41

6. Data nilai Transmitan (T) Ekstrak beras merah (Oryza nivara) pada

panjang gelombang (λ) 292,5-337,5 nm dengan Spektrofometer UV-

Vis ................................................................................................. 42

7. Perhitungan persentase transmisi eritema dan pigmentasi ........... 43

8. Gambar beras merah dan Ekstrak beras merah............................ 62

9. Gambar identifikasi golongan senyawa ......................................... 63

xv
BAB I

PENDAHULUAN

Kulit adalah organ tubuh terluar dan terbesar oleh karena itu paling

cenderung secara langsung terpapar sinar matahari. Tahun belakangan

ini, akibat dari radiasi ultraviolet dihubungkan dengan penyakit dan

kelainan pada pertumbuhan. Ketika kulit terpapar radiasi ultraviolet dalam

waktu yang lama, hal tersebut dapat meningkatkan radikal bebas. Radikal

bebas dapat memacu terjadinya kanker kulit (1,2). Respon biologi pada

kulit akibat paparan radiasi UV antara lain yaitu eritema, edema, penipisan

lapisan dermis dan epidermis, tanning, imunosupresan, kerusakan DNA,

photoaging (efek penuaan kulit oleh cahaya), fotodermatosis akut dan

kronik dan melanogenesis. Sehingga dibutuhkan perlindungan dari radiasi

UV (3).

Radiasi sinar ultraviolet (UV) dari matahari dibagi atas UVA (UVA1

340-400 nm dan UVA2 320-340 nm), UVB (290-320 nm) dan UVC (270-

290 nm). UVC di saring oleh ozon pada lapisan stratosfer, sehingga hanya

UVA dan UVB yang dapat mencapai permukaan bumi. UVA lebih mudah

untuk berpenetrasi ke dalam lapisan kulit terdalam dibandingkan dengan

UVB (3).

Meskipun secara ilmiah kulit manusia sudah memiliki sistem

perlindungan terhadap sinar matahari yang merugikan, tetapi tidak cukup

efektif terhadap kontak radiasi, sehingga diperlukan perlindungan

tambahan, baik secara fisis maupun memakai kosmetika tabir surya (4).

1
2

Tabir surya mengandung senyawa kimia yang dapat mengabsorpsi dan

memantulkan sinar UV (5).

Tabir surya diklasifikan menjadi dua yaitu tabir surya fisika dan tabir

surya kimia. Tabir surya kimia yaitu benzopenon, metil atranilat,

butilmetoksidibenzoilmetan (avobenzon), asam tetraaftaldin dikamfer

sulfonat, PABA dan derivatnya, sinamat, salisilat, derivat kamfer,

oktorilen, dan adam fenilbenzimidazol sulfonat. Tabir surya fisik misalnya

zink oksida, titanium oksida, kaolin, talk, mika, metal oksida (6).

Tabir surya harus mempunyai sifat karakteristik fungsi yaitu dapat

menyerap eritema, tidak fotolabil dalam menyerap radiasi eritema, dan

non toksik, sedangkan sifat karakteristik estetiknya yaitu tidak larut dalam

keringat, dan tidak menyebabkan iritasi dan alergi (7,8). Namun dalam

perkembangannya tabir surya yang beredar di pasaran ternyata

memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi kulit, seperti iritasi

yang berlanjut ke arah infeksi. Salah satu alternatif untuk pencegahan ini

adalah menyediakan produk dari bahan-bahan alami yang memiliki

khasiat tidak kalah dengan bahan yang tersedia di pasaran (7).

Salah satu komoditas yang diduga dapat berkhasiat sebagai tabir

surya adalah beras merah. Ekstrak beras merah telah diteliti memiliki

kandungan kimia yaitu antosianin, karbohidrat, protein, lemak, asam

fenolat,tanin dan alkaloid (9). Selain itu, ekstrak beras merah mempunyai

aktivitas memberikan perlindungan UV dengan melibatkan pernyerapan

UV atau mengatasi oksigen yang reaktif (10).


3

Aktivitas tabir surya dapat diukur secara in vitro dengan

Spektrofotometer UV-Vis. Pengukuran cara in vitro dapat dilakukan antara

lain dengan mengukur nilai serapan cuplikan pada daerah panjang

gelombang ultraviolet. Kemudian dihitung nilai persentase transmitasi

eritema dan presentasi transmisi pigmentasi (11).

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang timbul adalah

apakah ekstrak beras merah dapat aktif sebagai tabir surya. Untuk itu

dilakukan penelitian untuk mengetahui tabir surya secara in vitro

menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan menghitung

persentase transmisi eritema dan persentase pigmentasi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uraian Bahan Alam

II.1.1 Klasifikasi Tanaman (12)

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisio : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Subkelas : Commelinidae

Ordo : Poales

Famili : Poaceae

Genus : Oryza

Species : Oryza nivara

II.1.2 Morfologi Tanaman

Gabah adalah butir padi yang telah rontok dari malainya. Butir

gabah terdiri dari satu bagian yang dapat dimakan disebut “Caryopsis”

dan satu bagian lagi yang merupakan struktur kulit yang disebut sekam.

Bagian sekam adalah 18 sampai 28 persen dari bobot gabah. Bagian butir

beras terdiri dari lapisan pericarp, testa atau tegmen, lapisan aleuron,

endosperm dan embrio. Struktur gabah dapat dilihat pada Gambar 1.

4
5

Berdasarkan bentuk selnya, pericarp dibedakan menjadi tiga

lapisan yaitu epicarp, mesocarp dan lapisan melintang (cross layer).

Pericarp dengan tebal dinding sel 2 µm banyak mengandung butir-butir

protein dan lemak. Di bagian bawah pericarp terletak lapisan testa yang

banyak mengandung lemak. Lapisan aleuron yang terdiri dari sel-sel

parenkim merupakan pembungkus endosperm dan lembaga yang kaya

protein, lemak dan vitamin. Bagian endosperm terdiri dari sel parenkim

yang terdiri dari granula pati dan matrik protein. Tebal lapisan dinding sel

endosperm adalah 0.25 µm. Dinding sel pericarp, aleuron dan endosperm

beras bereaksi positif dengan pewarna protein, hemiselulosa dan

selulosa. Lapisan pembungkus endosperm dinamakan kulit ari. Testa dan

lapisan aleuron disebut lapisan dalam, sedangkan pericarp disebut lapisan

luar. Warna kulit ari ini dari putih sampai kehitam-hitaman (9).

Gambar 1. Struktur Gabah


6

II.1.3 Kandungan Kimia

Beras merah merupakan beras dengan warna merah dikarenakan

aleuronnya mengandung gen yang diduga memproduksi senyawa

antosianin atau senyawa lain sehingga menyebabkan adanya warna

merah atau ungu. Kadar karbohidrat tetap memiliki komposisi terbesar,

protein dan lemak merupakan komposisi kedua dan ketiga terbesar pada

beras. Karbohidrat utama dalam beras adalah pati dan hanya sebagian

kecil pentosan, selulosa, hemiselulosa dan gula. Pati berkisar antara 85-

90% dari berat kering beras. Protein beras terdiri dari 5% fraksi albumin,

10% globulin, 5% prolamin, dan 80% glutein. Kandungan lemak berkisar

antara 0.3-0.6 % pada beras kering giling dan 2.4-3.9% pada beras pecah

kulit (9).

Beras merah diduga memiliki beberapa keunggulan. Salah satu

keunggulan itu adalah adanya senyawa fenolik yang banyak terdapat

pada beras merah. Senyawa fenolik memiliki spektrum atau jenis yang

sangat banyak, mulai dari senyawa fenolik sederhana hingga yang

senyawa komplek yang berikatan dengan gugus glukosa sebagai glikon.

Salah satu kelompok senyawa fenolik yang memiliki manfaat sebagai

antioksidan adalah kelompok senyawa flavonoid. Kelompok senyawa ini

dibagi menjadi beberapa golongan diantaranya flavone, flavon-3-ol,

flavonone, flavan-3-ol dan antocyanidin (9).

Kelompok senyawa flavonoid seperti antosianin (bentuk glikon dari

antosianidin) merupakan salah satu kelompok bahan alam pada


7

tumbuhan yang berperan sebagai antioksidan, antimikroba, fotoreseptor,

visual attractors, feeding repellant, antialergi, antiviral dan anti inflamatory.

Senyawa inilah yang diduga bertanggung jawab sebagai zat yang

memberikan warna pada beras merah. Beras merah kaya akan metabolit

sekunder terutama asam fenolat dan quinoline alkaloid, dan juga

mengandung tokol (tokoferol dan tokotrienol). Beragamnya senyawa atau

kelompok senyawa hasil metabolit sekunder diyakini memiliki berbagai

macam fungsi yang menguntungkan bagi kesehatan diantaranya efek

psikologis, pertahanan terhadap sitotoksisitas, aktivitas antineurogeneratif,

inhibisi glikogen phosporilase dan aktivitas antioksidatif (9).

II.2 Uraian Kulit

Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan tubuh dan

memiliki fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan

dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah

mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus

menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang sudah mati), respirasi

dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat, dan

pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar

ultraviolet matahari, sebagai peraba dan perasa, serta pertahanan

terhadap tekanan dan infeksi dari luar. Selain itu, kulit merupakan suatu

kelenjar hipokrin yang besar (13).

Kulit dibagi mejadi 3 lapisan besar yaitu (13,14):


8

1. Lapisan epidermis atau kutikula

Epidermis dari sudut kosmetik merupakan kulit yang menarik

karena kosmetik dipakai pada epidermis itu. Lapisan epidermis dibentuk

oleh 5 lapisan sel yaitu, stratum korneum (lapisan tanduk), stratum lusium,

stratum granulosum, stratum spinosum, stratum basal (germinativum).

Stratum korneum merupakan lapisan tanduk yang terdiri dari sel-sel

kulit mati. Daerah paling tebal adalah telapak tangan dan kaki (sekitar 0,4-

0,6 mm) tetapi paling tipis pada daerah muka. Lapisan ini sebagian besar

terdiri atas keratin, jenis protein yang tidak larut dalam air, dan sangat

resisten terhadap bahan-bahan kimia. Hal ini berkaitan dengan fungsi

kulit untuk melindungi tubuh dari pengaruh luar. Permukaan stratum

korneum dilapisi oleh suatu lapisan pelindung lembab tipis yang bersifat

asam disebut Mantel Asam Kulit dengan tingkat keasaman yang

umumnya berkisar antara 4,5-6,5.

Stratum lusidum berada tepat di bawah stratum korneum dan

dianggap sebagai lapisan yang berada di antara lapisan korneum dan

lapisan granuler yang mengandung eleidin, lapisan ini mengontrol keluar

masuknya air melalui kulit. Lapisan ini jelas tampak pada telapak tangan

dan kaki. Antara stratum lisidium dan stratum granulosum terdapat lapisan

keratin tipis yang disebut rein’s barier yang tidak bisa ditembus

(impermiable).

Stratum granulosum atau lapisan granuler mengandung

keratohialin. Ketebalan lapisan ini bervariasi, lapisan yang paling tebal


9

pada telapak tangan dan kaki. Lapisan ini tersusun oleh sel-sel keratinosit

yang berbentuk poligonal, berbutir kasar, berbintil mengkerut.

Stratum spinosum merupakan dasar epidermis, berproduksi

dengan mitosis. Stratum basal terdiri dari sel-sel berbentuk kubus yang

tersusun vertikal pada perbatasan dermo epidermal dan berbasis seperti

pagar. Lapisan ini terdiri dari 2 jenis sel yaitu sel berbentuk kolumnur dan

sel membentuk melanin (melanosit); sel ini mengandung butir pigmen

(melanosomes). Sel-sel melanosit, yaitu sel-sel yang tidak mengalami

keratinisasi dan fungsinya hanya membentuk pigmen melanin dan

memberikannya kepada sel-sel keratinosit melalui dendrit-dendritnya.

2. Lapisan Dermis

Lapisan ini adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal

daripada epidemis, terbentuk oleh jaringan elastis dan fibrosa dengan

elemen seluler, kelenjar rambut sebagai adneksa kulit, terdiri atas;

a. Pars papilare yaitu bagian yang menonjol ke epidermis berisi ujung

serabut saraf dan pembuluh darah.

b. Pers retikulare yaitu bagian dibawahnya yang menonjol ke arah

subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya

serabut kolagen, elastin dan retikulin.

3. Lapisan Subkutis

Lapisan ini merupakan kelanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan

ikat longgar berisi sel-sel lemak. Lapisan ini berfungsi sebagai cadangan
10

makanan. Dilapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah

dan getah bening.

II.3 Tabir Surya

II.3.1 Radiasi dan Efek Ultraviolet

Radiasi sinar matahari memberikan spektrum pada berbagai

panjang gelombang. Energi sinar matahari yang mencapai kulit, 40% sinar

tampak (400-800 nm), 50% panas atau radiasi IR (800-2500 nm), dan

10% adalah UV A (320-400 nm) dan UV B (280-320 nm) (15).

Penurunan jumlah ozon dalam stratosfir terlihat pengaruhnya

dalam jangka waktu pendek, yaitu meningkatnya radiasi UV, khususnya

pada panjang gelombang terpendek UV B dan UV C (16).

Berdasarkan respon kulit terhadap sinar surya berenergi dosis

eritema minimal (DEM), kulit manusia dapat dibedakan atas 6 jenis kulit

mulai dari tipe I yag sangat sensitif terhadap paparan sinar surya sampai

pada tipe VI yang tidak sensitif sehingga kulit yang terpapar tidak pernah

eritema tetapi sangat mudah menimbulkan pigmentasi (tabel 1) (17).

Tabel 1. Tipe Kulit berdasarkan respon kulit terhadap paparan sinar surya
Tipe Warna Kulit Sensitifitas Riwayat
Kulit Konstitutif terhadap Sinar UV Eritema/Pigmentasi
Mudah eritema, tidak
I Putih Sangat sensitif
pernah pigmentasi
Mudah eritema,
II Putih Sangat sensitif
pigmentasi minimal
Eritema sedang,
III Putih Sensitif
pigmentasi sedang
Eritema minimal, mudah
IV Coklat muda Sensitif sedang mengalami pigmentasi
dan pigmentasi sedang
11

V Coklat Sensitif minimal Jarang eritema, coklat tua


Coklat tua atau Tidak pernah terbakar,
VI Tidak sensitif
hitam coklat tua atau hitam

1. Eritema

Paparan sinar UV B pada binatang menimbulkan eritema yang

berlangsung dalam dua tahap; eritema cepat selama beberapa detik dan

eritema lambat yang mencapai puncaknya dalam beberapa menit sampai

beberapa jam. Pada manusia, respon eritema cepat biasanya hanya

terjadi pada orang yang mempunyai kulit tipe I dan II, tetapi respon

eritema lambat dapat terjadi pada setiap orang yang terpapar sinar UV B

(14). Pada orang berkulit tipe II dan IV respon ini mulai tampak setelah 3-

12 jam dan mencapai puncaknya 20-24 jam setelah paparan UV B yang

ditandai dengan eritema, diikuti juga dengan gatal dan nyeri pada daerah

yang terpapar sinar surya (18). Pada orang berkulit terang paparan energi

sinar UV B sebesar 20-27 mJ/cm2 akan menimbulkan eritema yang

dikenal sebagai DEM (19).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinar UV A dapat

menyebabkan respon eritema, tetapi kurang efektif dan hanya sinar UV B

yang sangat efektif menyebabkan eritema dan menstimulasi pigmentasi

kulit (20). Sinar UV A membutuhkan 600-1000 kali dosis yang dibutuhkan

sinar UV B. Pada siang hari intensitas sinar UV A sepuluh kali sinar UV B

(21). Sinar UV dosis tinggi menimbulkan respon eritema yang lebih cepat

dan mungkin menetap selama beberapa minggu pada orang berkulit

terang dan berusia lanjut (22,23).


12

Pigmentasi

Peningkatan pigmen melanin setelah paparan sinar UV terjadi

dalam dua tahap; tipe cepat dan tipe lambat. Pigmentasi cepat (immediate

pigmentation) merupakan pigmentasi akibat oksidasi melanin pada saat

paparan sinar UV A, dan segera menghilang bila paparan dihentikan.

Respon ini tampak jelas pada orang berkulit gelap. Respon pigmentasi

lambat (delayed pigmentation) terjadi secara bertahap, 48-72 jam setelah

terpapar sinar UV B akibat pembentukan melanin baru dan mencapai

puncaknya setelah 5-7 hari (18) dan menghilang setelah beberapa minggu

(24). Mekanisme melanogenesis setelah paparan sinar UV terdiri dari

aktivasi tirosinase oleh kerusakan DNA dan pemulihan DNA sebagai

signal bagi peningkatan melanogenesis (22).

Sinar UV menyebabkan peningkatan jumlah granula melanin yang

tersebar di seluruh keratinosit epidermis, dan berfungsi memantulkan dan

mengabsorpsi sinar UV. Bila granula ini berkurang, sejumlah energi sinar

UV akan mencapai permukaan kulit tersebut dapat terjadi proses

degenerasi dan fotokarsinogenesis (25).

II.3.2 Perlindungan Terhadap Radiasi UV

Secara alami, kulit sudah berusaha melindungi dirinya beserta

organ-organ di bawahnya dari bahaya sinar UV matahari, antara lain

dengan membentuk butir-butir pigmen kulit (melanin) yang sedikit banyak

memantulkan kembali sinar matahari. Jika kulit terpapar sinar matahari,

maka timbul dua tipe reaksi melanin (13):


13

a. Penambahan melanin dengan cepat ke permukaan kulit

b. Pembentukan tambahan melanin baru.

Secara lazim, ada dua cara perlindungan kulit (13):

a. Perlindungan secara fisik, misalnya memakai payung, topi lebar, serta

pemakaian bahan-bahan kimia yang melindungi kulit dengan jalan

memantulkan sinar yang mengenai kulit, misalnya titanium dioksida,

zink oksida, kaolin, kalsium karbonat, megnesium karbonat, talk,

silisium dioksida dan bahan-bahan lainnya sejenis yang sering

dimasukkan dalam dasar bedak (foundation) atau bedak.

b. Perlindungan secara kimiawi dengan memakai bahan kimia. Ada dua

kelompok bahan kimia lain:

• Bahan yang ,menimbukan dan mempercepat proses penggelapan

kulit (tanning), misalnya dioxy acetone dan 8-methoxy psoralen,

yang dikonsumsi 2 jam sebelum berjemur. Bahan ini

mempercepat pembentukan pigmen melanin di permukaan kulit.

• Bahan yang menyerap UV B tetapi meneruskan UV A dalam kulit,

misalnya Para Amino Benzoic Acid (PABA) dan derivatnya,

Cinnamate, Anthranilates, Benzophenon, Digallolyl trioleat, dan

petrolatum veteriner merah. Tapi perlu diingat bahwa PABA dan

sejumlah bahan tersebut photosentizer, yaitu jika terkena sinar

matahari terik seperti halnya di negara tropis Indonesia dapat

menimbulkan berbagai rekasi negatif pada kulit, seperti

photoallergy, phototoxic, disamping pencoklatan kulit (tanning)


14

yang tidak disukai oleh orang Asia yang menyukai kulit yang

berwarna putih.

Tabir surya adalah sediaan yang mengandung senyawa kimia

aktif yang dapat menyerap, menghamburkan, atau memantulkan sinar

surya yang mengenai kulit, sehingga dapat digunakan untuk melindungi

fungsi dan struktur kulit manusia dari kerusakan akibat sinar surya (26).

Bahan-bahan kimia tabir surya dapat diklasifikasikan berdasarkan

tipe perlindungan yang diberikan baik sebagai penghalang fisik atau

penyerap kimia (13).

a. Penghalang Fisik

Bahan kimia tabir surya ini memantulkan atau menghamburkan radiasi

UV. Contoh penghalang fisik terutama titanium dioksida (TiO2), Seng

oksida (ZnO), dan petrolatum merah. Tabir surya ini menahan rentang

cahaya paling luas termasuk sinar UV, sinar tampak, dan sinar

inframerah.

b. Penghalang Kimia

Bahan penyerap kimia mengabsorpsi/menyerap radiasi UV yang

berbahaya. Bahan-bahan kimia ini terbagi atas dua bergantung pada

tipe radiasi yang dilindungi:

• Penyerapan UV A adalah bahan-bahan yang cenderung

menyerap radiasi dalam daerah 320-360 nm dari spektrum

(benzopenon, antranilat, dan dibenzol metana)


15

• Penyerap UV B, adalah bahan-bahan kimia yang menyerap

radiasi dalam daerah 290-320 nm dari spektrum UV (turunan

PABA, salisilat, dan turunan kamfer)

Adapun syarat bagi bahan aktif untuk preparat tabir surya yaitu (13):

a. Efektif menyerap radiasi UV B tanpa perubahan kimiawi, karena jika

tidak demikian akan mengurangi efisiensi, bahkan menjadi toksik atau

menimbulkan iritasi.

b. Meneruskan UV A untuk mendapatkan tanning (kulit kaukasia/Eropa)

c. Stabil, yaitu tahan keringat dan tidak menguap

d. Mempunyai daya larut yang cukup untuk mempermudah formulasinya

e. Tidak berbau atau boleh berbau ringan

f. Tidak toksik, tidak mengiritasi, dan tidak menyebabkan sensitisasi

Berikut ini klasifikasi produk suntan berdasarkan persentase

transimisi ultraviolet (14):

Tabel 2. Klasifikasi produk suntan berdasarkan % eritema dan pigmentasi


Kategori produk Range eritema (%) Range pigmentasi (%)
Total blok <1,0 3-40
Perlindungan ekstra 1-6 42-86
Suntan reguler 6-12 45-86
Tanning cepat 10-18 45-86

II.3.3 Sifat-sifat Senyawa Tabir Surya

Ketika energi foton menumbuk molekul senyawa, energi akan

diserap jika molekul dapat berada dalam dua keadaan. Perbedaan level

antara dua struktur molekul harus dihubungkan terhadap perubahan


16

elektronik yang diijinkan dan berhubungan juga dengan energi foton yang

diserap.

Keterlibatan energi dalam range eritema yang sempit, berkaitan

dengan energi resonansi elektronik dari berbagai senyawa aromatik,

heterosiklik dan senyawa organik alifatik konjugasi. Ini adalah tipe struktur

kimia dalam transisi elektronik yang memerlukan energi berkaitan dengan

sangat tertutupnya energi foton dalam range eritema.

Keterlibatan elektronik yang disebabkan oleh penyerapan energi

foton elektromagnet menghasilkan eksitasi komponen, yaitu senyawa

berada pada tingkat energi yang lebih tinggi daripada struktur mula-mula.

Struktur tereksitasi ini sering tidak stabil dan perlahan-lahan melepaskan

energi yang diserap, kembali ke struktur dan tingkat energi mula-mula.

Energi yang dilepaskan dengan laju lambat menghasilkan pergeseran

energi ke panjang gelombang yang lebih panjang dan energi yang

dikeluarkan berada pada range tampak atau infra merah, berupa

fluoresensi atau panas.

Disamping kelayakan struktur elektronik pada penetapan panjang

gelombang absorpsivitas maksimum dalam range eitema, keberhasilan

bahan pelindung harus juga mempunyai pemenggalan cukup tajam

terhadap UV sehingga dapat mentransmisikan panjang gelombang di atas

range eritema (15).


17

II.3.4 Evaluasi Kuantitatif Tabir Surya

Aktivitas tabir surya dianalisa dengan mengukur serapan pada

panjang gelombang 292,5 nm sampai 372,5 nm dengan interval 5 nm.

Kurva serapan dikalikan mewakili 1 g/L/cm, kemudian nilai serapan diubah

menjadi transmitansi menggunakan tabel konversi atau dapat dibaca

langsung pada alat (27).

Tahap berikutnya tiap transmitansi dikalikan dengan nilai erythemal

effectiveness factor (Fe). Total energi yang ditransmisikan diakumulatif

dan ditotalkan sebagai Energi eritema yang ditransmisikan (ΣT x Fe). Nilai

ini dibagi dengan total Incident Erithemal Energy (Σ Fe) (lihat tabel 3),

untuk memberikan persentase dari radiasi yang ditransmisikan

sebenarnya (%T). Persamaan untuk persentase untuk persentase radiasi

eritema.

Σ T x Fe
Persamaan 1. % T Eritema= Σ Fe
...........(1)

Tabel 3. Total energi eritema dari sinar matahari, interval 5 nm (14)


Panjang gelombang Energi eritema (Fe) setara
‘mid band’ (nm) dengan 296,7 (µW/cm2)
292,5 1,1390
297,5 6,5100
302,5 10,000
307,5 3,5770
312,5 0,9730
317,5 0,567
322,5 0,4550
327,5 0,2890
332,5 0,1290
337,5 0,0456
Total 23,685 µW/cm2
18

Untuk menghitung energi pigmentasi yang ditransmisikan,

langkahnya sama dengan cara memplotkan kurva eritema di atas,

meskipun ada daerah border di tengan ultraviolet dekat (320 nm dan

337,5 nm), pita radiasi ini menyebabkan efek eritemal yang sama dengan

efek pigmentasi sehingga daerah ini harus dievaluasi pengaruhnya pada

kulit manusia. Dengan kata lain, sewaktu menghitung total energi eritema

yang ditransmisikan, keempat pita 5 nm itu memiliki nilai ganda (memberi

konstribusi pada efek eritema dan pigmentasi) dan dihitung sebagai efek

total eritema(30). Demikian juga sewaktu menghitung total radiasi

pigmentasi, bagian 20 nm yang kurva serapan dihitung untuk

kontribusinya pada kurva (lihat tabel 4) (14).

Tabel 4. Total energi pigmentasi dari sinar matahari, interval 5 nm (14)


Panjang gelombang Energi pigmentasi setara dengan
‘mid band’ (nm) 296,7 (µW/cm2)
292,5 1,1050
297,5 6,7200
302,5 10,0000
307,5 2,0075
312,5 1,3460
317,5 1,1250
322,5 1,0790
327,5 1,0200
332,5 0,9360
337,5 0,7980
342,5 0,6690
347,5 0,5700
352,5 0,4880
357,5 0,4560
362,5 0,3560
367,5 0,3100
372,5 0,2600
Total 29,2635 µW/cm2
19

Persamaan untuk persentase radiasi pigmentasi:

Σ T x Fp
Persamaan 2 . % T Eritema= ...........(2)
Σ Fp

II.4 Uraian Spektrofotometri UV-Vis

II.4.1 Pengertian Spektrofotometri

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri

dari spektrofotometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar

spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat

pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi.

Jadi, spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif

jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan satu

cabang analisis instrumental yang membahas tentang interaksi atom atau

molekul dengan radiasi elektromagnetik (REM).

Prinsip khusus pada spektrofotometri UV-Vis berdasarkan

penyerapan sinar tampak oleh suatu larutan senyawa berwarna, di mana

hanya larutan senyawa berwarna, di mana hanya larutan senyawa

berwarna yang dapat ditentukan dengan metode ini. Senyawa tidak

berwarna dapat dibuat berwarna dengan mereaksikan dengan perekasi

yang menghasilkan senyawa berwarna. Oleh karena itu, metode

spektrofotometri UV-Vis dikenal sebagi metode kalorimetri (28).

II.4.2 Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometer UV-Visibel merupakan teknik spektroskopik yang

memakai sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet dekat (190-360 nm)


20

dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen

spektrofotometer. Distribusi elektron di dalam suatu senyawa organik

secara umum yang dikenal sebagai orbital elektron pi (π), sigma (α) dan

elektron tidak berpasangan (n). Apabila pada molekul dikenakan radiasi

elektromagnetik makan akan terjadi eksitasi elektron ke tingkat yang lebih

tinggi yang dikenal sebagai orbital elektron anti bonding (29).

Penerapan spektrofotometer UV-Vis pada senyawa organik

didasarkan pada transisi n-π* ataupun π-π*. Transisi ini terjadi dalam

daerah spektrum sekitar 200 ke 700 nm yang digunakan dalam

eksperimen dan karenanya memerlukan gugus kromofor dalam molekul

itu. Kromofor merupakan gugus tak jenuh kovalen yang dapat menyerap

radiasi dalam daerah-daerah UV dan Visibel, pada senyawa organik

dikenal pula gugus auksokrom yaitu gugus jenuh yang terikat pada

kromofor. Terikatnya gugus auksokrom pada kromofor dapat mengubah

panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum (30).

II.5 Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat

larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut

cair.

Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi

dilakukan dengan merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.

Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga
21

sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya

perubahan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang

diluar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut

berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar

sel dan di dalam sel.

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara

pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah

diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan

penyariannya kurang sempurna.

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan

mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani.

Menggunakan pelarut sesuai, kemudian semua atau hampir semua

pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan

sedemikian hingga memenuhi baku yang ditetapkan (31).


BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

III.1 Alat dan Bahan yang Digunakan

Alat-alat yang digunakan adalah batang pengaduk, cawan porselin,

gelas erlenmeyer, gelas piala, gelas ukur, labu tentukur, pipet volume,

Spektrofotometer UV-Vis, tabung reaksi, dan timbangan analitik.

Bahan-bahan yang digunakan adalah asam asetat anhidrat, beras

merah, etanol 96%, etanol p.a 96%, HCl pekat, H2SO4 pekat, pereaksi

FeCl3 1%, dan serbuk Mg.

III.2 Metode Kerja

III.2.1 Proses Ekstraksi

Beras merah 200 gram dihaluskan dengan kemudian dilakukan

proses ekstraksi dengan metode maserasi dengan penambahan 250 ml

etanol 96%. Setelah itu direndam selama 1x24 jam, kemudian disaring

dan pelarut diuapkan.

III.2.2 Uji Aktivitas Tabir Surya

Sampel ekstrak beras merah 50 mg ditambahkan etanol p.a pada

labu tentukur hingga 50 ml diperoleh konsentrasi 1000 bpj (larutan stok).

Kemudian dari larutan tersebut dipipet 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, dan 5 ml,

masing-masing dicukupkan volumenya dengan etanol p.a pada labu

tentukur hingga 10 ml, diperoleh 5 konsentrasi yaitu 100 bpj, 200 bpj, 300

bpj, 400 bpj, 500 bpj. Masing-masing konsentrasi diukur serapannya

22
23

dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang

292,5-372,5 nm dengan perubahan setiap kali pengamatan 5 nm.

III.3 Analisis Data

Hasil pengukuran diperoleh nilai serapan (A), maka dapat dilakukan

perhitungan transmisi (T) dengan menggunakan rumus:

A = - log T

Persamaan untuk persentase eritema:

Σ T x Fe
% T Eritema
Σ Fe

T = nilai transmisi

Fe = faktor efektivitas eritema

Persamaan untuk persentase pigmentasi:

Σ T x Fp
% T Pigmentasi =
Σ Fp

T = nilai transmisi

Fp = faktor efektivitas pigmentasi

III.4 Identifikasi Golongan Senyawa Aktif

1. Alkaloid

Ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian

ditambahkan pereaksi Mayer. Adanya alkaloid ditunjukkan dengan

terbentuk endapan putih.


24

Pereaksi Mayer dibuat dengan melarutkan 1 gram KI dalam 20 ml

aquades hingga semuanya larut lalu dimasukkan 0,2271 gram HgCl2

ke dalam larutan KI tersebut, diaduk hingga larut.

2. Antosianin

Ekstrak kental dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian

ditambah HCl 0,1 N. Adanya antosianin ditunjukkan dengan terbentuk

warna merah.

3. Flavanoid

Ekstrak kental dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian

ditambah larutan HCl pekat dan serbuk Mg. Adanya flavanoid

ditunjukkan dengan terbentuk warna kuning, oranye, merah.

4. Tanin

Ekstrak kental dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian

ditambah pereaksi FeCl3 1%. Adanya tanin ditunjukkan dengan

terbentuk warna hijau kehitaman.

5. Triterpen / Steroid

Ekstrak kental dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian

ditambahkan asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat. Adanya

triterpen ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah sampai ungu

sedangkan adanya steroid ditunjukkan dengan terbentuk warna biru.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Penelitian

Penelitian uji aktivitas tabir surya secara in vitro ekstrak beras

merah (Oryza nivara) dengan metode maserasi menggunakan pelarut

etanol.

Berdasarkan penelitian yang diakukan memberikan hasil

perhitungan persentase eritema dan persentase pigmentasi.

Tabel 5. Nilai persentase eritema dan persentase pigmentasi


Konsentrasi (bpj) %Te %Tp Kategori
100 0,6681 0,7001 Sunblock
200 0,6532 0,6831 Sunblock
300 0,5342 0,5669 Sunblock
400 0,4253 0,4582 Sunblock
500 0,3685 0,4044 Sunblock

Tabel 6. Hasil uji identifikasi golongan senyawa dengan pereaksi spesifik


Golongan Senyawa Hasil
Alkaloid Negatif (-)
Antosianin Positif (+)
Flavonoid Positif (+)
Triterpen Positif (+)
Tanin Positif (+)

IV.2 Pembahasan

Senyawa berpotensi tabir surya sebagian besar merupakan

senyawa organik yang memiliki gugus-gugus kromofor yang mampu

menyerap sinar UV. Kemampuan ini disebabkan terjadinya transisi

elektronik dalam molekul tabir surya dimana energi transisi tersebut

setara dengan energi sinar UV (32).

25
26

Senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak beras

merah yaitu golongan flavonoid, terpenoid, tanin, dan antosianin (9).

Telah diteliti bahwa tanin adalah senyawa yang bermanfaat

sebagai tabir surya. Tanin terkondensasi memiliki aktivitas sebagai

antioksidan dan dapat melindungi kulit dari kerusakan yang ditimbulkan

radiasi ultraviolet (33).

Antosianin merupakan pigmen larut air secara alami terdapat pada

berbagai jenis tumbuhan. Warna pada beras merah terbentuk dari pigmen

antosianin yang tidak hanya terdapat pada perikarp dan tegmen, tetapi

juga disetiap bagian gabah, bahkan pada kelopak daun. Antosianin

berperan sebagai tabir surya yang melindungi sel dari kerusakan dengan

menyerap cahaya ultraviolet. Selain itu antosianin memeliki manfaat

antioksidan dengan berperan sebagai donor elektron atau transfer atom

hidrogen pada radikal bebas. Antosianin dapat memberikan perlindungan

UV atau mengatasi oksigen yang reaktif (35).

Penelitian ini dimulai dengan mengekstraksi beras merah (Oryza

nivara) dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Proses maserasi

menghasilkan sampel ekstrak kental yang berwarna kecoklatan.

Berdasarkan hasil ekstrasi 200 gram Oryza nivara diperoleh ekstrak

sebanyak 96 mg (rendamen 48%).

Penentuan transmisi eritema dan pigmentasi dapat dilakukan

secara in vitro dan in vivo. Namun dalam penelitian ini hanya dilakukan
27

pengujian secara in vitro yang bertujuan untuk memperoleh data awal

terhadap aktivitas tabir surya dari ekstrak Oryza nivara.

Pada penelitian ini dilakukan pengukuran serapan menggunakan

alat Spektrofotometri UV-Vis pada konsentrasi 100 bpj, 200 bpj, 300 bpj,

400 bpj, dan 500 bpj. Berdasarkan hasil perhitungan nilai %Te dan %Tp

pada konsentrasi 100 bpj adalah 0,6681 dan 0,7001, pada konsentrasi

200 bpj adalah 0,6532 dan 0,6831, pada konsentrasi 300 bpj adalah

0,5342 dan 0,5669 , konsentrasi 400 bpj adalah 0,4253 dan 0,4582, dan

konsentrasi 500 bpj adalah 0,3685 dan 0,4044.

Sesuai dengan hasil tersebut dapat disimpulkan nilai %Te dan

%Tp ekstrak etanol Oryza nivara <1%, sehingga dapat dikategorikan

sebagai sunblock total. Sunblock adalah produk yang melindungi kulit

dengan cara merefelksikan sinar ultra violet. Dengan demikian secara

teoritis ekstrak etanol Oryza nivara pada konsentrasi 100 bpj sedah dapat

memberikan perlindungan terhadap radiasi sinar UV pada kulit. Meskipun

demikian kurang efektif dalam pembuatan sediaan karena dibutuhkan

konsentrasi yang cukup besar. Sehingga untuk menghasilkan sediaan

tabir surya yang efektif ekstrak beras merah merah (Oryza nivara) dapat

dikombinasikan dengan bahan alam lain yang memiliki aktivitas tabir

surya.

Identifikasi golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak

etanol Oryza nivara yaitu memberikan hasil positif golongan senyawa

antosianin, flavonoid, tanin, dan steroid. Pada uji alkaloid memberikan


28

hasil negatif karena saat diteteskan pereaksi Mayer tidak terdapat

endapan putih.

Pada hasil uji antosianin memberikan hasil positif yaitu warna

merah setelah ditetesi HCl 0,1 N. Salah satu faktor yang mempengaruhi

warna dari antosianin adalah pH. Sifat asam akan menyebabkan warna

antosianin menjadi merah (36).

Pada uji flavonoid dilakukan dengan cara penambahan HCl pekat

dan serbuk Mg. Penambahan HCl pekat digunakan untuk menghidrolisis

flavonoid menjadi aglikonnya, yaitu dengan menghidrolisis O-glikosil.

Glikosil akan tergantikan oleh H+ dari asam karena sifatnya yang

elektrofilik. Serbuk Mg menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna

merah atau jingga.

Pada uji tanin dilakukan dengan cara penambahan FeCl3 1% dan

memberikan hasil positif warna hijau kehitaman. Terjadinya pembentukan

warna hijau karena terbentuknya senyawa kompleks antara logam Fe dan

tanin. Senyawa kompleks terbentuk karena adanya ikatan kovalen

koordinasi antara ion atau logam dengan atom non logam.

Pada uji triterpen dilakukan dengan cara penambahan asam asetat

anhidrat dan H2SO4 pekat. Fungsi dari asam asetat anhidrat adalah untuk

mengekstraksi kolestrol, mengendapkan protein, dan menjamin media

bebas air. Sedangkan penambahan asam sulfat pekat juga untuk

membentuk kompleks warna.


29

Pada uji alkaloid tidak memberikan hasil positif, tetapi dari literatur

beras merah memiliki kandungan senyawa alkaloid. Hal ini mungkin

disebabkan oleh kadar alkaloid yang rendah dan atau bahan pereaksi

Mayer yang kurang baik. Hasil positif alkaloid setelah penambahan

pereaksi Mayer ditandai dengan terbentuknya endapan putih. Diperkitan

endapan tersebut kompleks kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi

Mayer, larutan merkurium (II) klorida ditambah kalium iodida akan

bereaksi membentuk endapan merah merkurium (II) iodida. Jika kalium

iodida yang ditambahkan berlebih maka akan terbentuk kalium

tetraiodomerkurat (II). Alkaloid mengandung atom nitrogen pada alkaloid

untuk bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium tetraiodomerkurat (II)

membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa nilai

persentase transmisi eritema dan pigmentasi dari ekstrak Oryza nivara

<1% sehingga dikategorikan sebagai sunblock yaitu substansi kimia yang

dapat menyerap hampir semua radiasi UV A dan UV B.

V.2 Saran

Disarankan untuk dilakukan usaha formulasi sediaan dengan

kombinasi bahan alam lainnya yang juga memiliki aktivitas tabir surya, uji

Sun Protection Factor (SPF), serta uji efektivitas secara in vivo.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Afag F and Mukhtar H. Effects of solar radiation on cutaneous


detoxification pathways. J Photochem Photobiol B 63,2001. pp. 61–9.

2. Goihman-Yahr M. Skin aging and photoaging: an outlook. Clin


Dermatol 14, 1996.pp.153-160.

3. Walters,Henneth A. Dermatologic, Cosmeceutic, and Cosmetic


Development. New York. Informa Healthcare,Inc. 2008.

4. Warsito,Prasetyo A; Soebiantoro. Uji efektivitas Pemanfaatan


Beberapa Minyak Atsiri sebagai Tabir Surya, Jurnal Universitas
Brawijaya,1998.Vol.7 No.1.April.19-24

5. Saroh,N. Isolasi Senyawa Berkarakter Tabir Surya dari Ekstrak


Rumput Laut Gracilaria sp.Skripsi Sarjana
S1,Kimia,FMIPA,Universitas Dipenogoro,1998.

6. Draelos,Zoe. Thaman,Lauren. Cosmetic Formulation of Skin Care


Product. New York. Taylor and Francis Group. 2006. pp.136

7. Cioca,G. Sunscreen containing plant extracts, US 5552135. 1996

8. Harry,R G. Modern Cosmetology,Vol.1. Revissed by J.B.


Wilkinson,Chemical Publishing,Co.Inc. New York. 1962. pp.204-205

9. Adzkiya, M.A.Z. Kajian Potensi Antioksidan Beras Merah dan


Pemanfaatannya Pada Minuman Beras Kencur. Institut Pertanian
Bogor. 2011

10. Soeratri,W. T.Purwanti. Pengaruh Penambahan Asam Glikolat


Terhadap Efektivitas Sediaan Tabir Surya Kombinasi Anti UV-A dan
anti UV-B Dalam Basis Gel. 2004. Majalah Farmasi Airlangga Vol.4
No.3

11. Cumpelik,B.S. Analytical Proceddure and Evaluation of


Sunscreen,J.society Cosmetik Chemistry.1972. 334-345

12. Suardi D. Potensi beras merah untuk peningkatan mutu pangan.


Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Indonesian
Agricultural Research and Development Journal 24(3). 2005. hal 93-
100.
13. Lowe NJ. Dan Shaath NA. Sunscreen: development, evaluation, and
regulatory aspects. Marcel Dekker, Inc. New York. 1990.pp.215

31
32

14. Balsam MS & Segarin E. Cosmetic science and technology. 2nd Ed.
Wilwy Interscience. London.1972. pp. 198

15. Saroh, N. Isolasi Senyawa Berkarakter Tabir Surya dari Ekstrak


Rumput Laut Gracillaria sp. Skripsi Sarjana S1, Kimia, FMIPA,
Universitas Dipenogoro. 1998

16. Atmadja, W.S; Kadi,A; Sulistijo; Satari, R. Pengenalan-pengenalan


Jenis Rumput Laut Indonesia, Puslitbang Oseanologi LIPI, Jakarta.
1966

17. Howe,J. Dudley, H.W. Richard, D.B. Mass Spectrometry, Principles


and Application, Second Edition. Mc. Graw Hill. NW, 1981

18. Pathak, Ma & Faanselow Dl. Photobiology of melanin pigmentation:


dose.response of skin to sunlight and its contents. J Am Acad
Dermatol. 1983. Pp.724-33

19. Pathak, Ma & Faanselow Dl. Preventive treatment of sunburm,


dermatoheliosis and skin cancer with sunprotective agents. In:
Fitzpetrick TB, Elisen AZ, Wolff K,et all. Dermatology in general
medicine. 4th Edition. McGraw Hill Inc, New York. 1993. Pp. 1689-
1715

20. Pathak, MA. Sunscreens :topical and systemic approaches for


protection of human skin against harmful effect of solar radiationI. J
Am Acad Dermatol. 1983. Pp. 724-33

21. Lowe NJ& Friedlander J. Sunscreen:rationale for use to reduce


photodemage and phototoxicity.in: Lowe, N.J.Shaath, N.A.,
Pathak,M.A, eds. Sunscreen development, evaluation, and regulatory
espects. 2nd Edition. Marcel Dekker. New York. 1997.pp.35-8

22. Kochevar,IE, Pathak,MA. Parrish JA. Photophysic, Photochemistry


and Photobiology. In: Fitzprick,T.B., Elisen,A.Z., Wolff, K.et all. Edition
Dermatology in General Medicine, 4th Edition. McGraw-Hill Inc. New
York. 1993. Pp.1926-55

23. Hiil D. Efficacy of sunscreen in protection againts skin cancer. Lancet.


1999. Pp.699-700

24. Diffey,BL. Human exposure to ultraviolet radiation. In: Hawk, J.L.M.


Edition Photodermatology. London. 1999.pp. 5-21
33

25. Bell,WF. Cutenous photobiology.Oxford: University Press.1985. pp.6-8

26. Hansersenfeld RE & Gilchrest BA. The cumulative effect of ultraviolet


radiation on the skin photoaging. London. 1999. pp. 69-88

27. Cumpelik, B.S. Analytical Procedure and Evaluation of Sunscreen, J.


Society Cosmetic Chemistry. 1972. pp.333-345

28. Roth H & Gottfried B. Analisis farmasi. UGM Press. Yogyakarta. 2008.
Hal.367

29. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Farmakope


Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta. 1979. hal.772

30. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Farmakope


Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta. 1995. hal.1061

31. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Sediaan


Galenik. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 1986.
hal.1,12

32. Tahir,Iqmal. Analisis Spektra Transisi Elektronik Senyawa Tabir Surya


MAA’S-GLY pada Konfigurasi Dimer dan Konfigurasi Solut-Etanol.
FMIPA UGM. Yogyakarta. 2007

33. Brandt,S. 2000. Development of New quality Charateristic and


Resulting Optimization of Sunscreens”. Skin Care Forum,23

34. Prior R L. 2003. Fruits and Vegetables in The Prevention of Celullar


Oxidative Demage. Am J Clin Nutr 78: 570-578

35. Tisnadjaja,Djadjat. Irawan,Herman. Bustanussalam. Pengkajian


Aktivitas Antioksidan dari Beras Merah Hasil Fermentasi (Angkak).
Pusat Peleitian Bioteknologi-LIPI. Bogor. 2012

36. Satyatam, D.I. Pengaruh Kopigmentasi Terhadap Stabilitas Warna


Antosianin Buah Duwet (Syzygium cumini). Fakultas Pertanian
IPB.Bogor.2010
LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja Penelitian

1. Ekstrasi Beras merah (Oryza nivara)


Beras merah

Dihaluska
n
Ekstrak
si
Diekstraksi dengan etanol 96%.
Direndam selama 1x24 jam
Disaring dan diuapkan

Ekstrak

Uji Identifikasi
senyawa

Uji aktivitas tabir


surya
2. Uji Identifikasi Senyawa
a. Uji Alkaloid
Ekstrak

Ditambah pereaksi
mayer

Positif alkaloid
(endapan putih)

34
35

b. Uji Antosianin

Ekstrak

Ditambah HCl 0,1 N

Positif antosianin
(merah)

c. Uji Flavanoid

Ekstrak

Ditambah HCl pekat


dan serbuk Mg

Positif flavanoid
(oranye-merah)

d. Uji Steroid

Ekstrak etanol

Ditambah asam asetat anhidrat dan


H2SO4 pekat

Positif triterpen (merah-


ungu) dan positif steroid
(biru)

e. Uji Tanin

Ekstrak etanol

Ditambah FeCl3

Positif tanin (hijau


kehiataman)
36

3. Uji Aktivitas Tabir Surya

Ekstrak etanol 50 mg

Ditambahkan etanol p.a 50 ml

Larutan stok (1000 bpj)

Dipipet 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, dan 5


ml. Masing-masing dicukupkan
volumenya dengan etanol p.a hingga
10 ml
Larutan sampel 100 bpj, 200 bpj, 300
bpj, 400 bpj dan 500 bpj

Diukur pada spektrofotometri


UV-Vis pada panjang
gelombang 292.5-372.5 nm
dengan interval 5 nm
Serapan

Analisis
Data
37

Lampiran 2. Kurva Serapan Ekstrak Beras Merah (Oryza


(Oryza nivara)
nivara

Lampiran 3. Kurva Hubungan antara %Te dan %Tp terhadap


konsentrasi (bpj)

0,8 0,7001 0,6831


0,7
0,5669
0,6 0,668
0,6681 0,6532 0,4582
Transmisi (%)

0,5 0,4044
0,5342
0,4
0,4253
0,3 0,368
0,3685
0,2
0,1
0
100 200 300 400 500
Konsentrasi (bpj)

%Te %Tp
38

Lampiran 4. Nilai Faktor efektivitas/fluks eritema dan pigmentasi


pada panjang gelombang tertentu

λ(nm) Energi eritema (Fe) setara Energi pigmentasi(Fp) setara


dengan 296,7 (µW/cm2) dengan 296,7 (µW/cm2)
292,5 1,1390 1,1050

297,5 6,5100 6,7200

302,5 10,000 10,0000

307,5 3,5770 2,0075

312,5 0,9730 1,3460

317,5 0,567 1,1250

322,5 0,4550 1,0790

327,5 0,2890 1,0200

332,5 0,1290 0,9360

337,5 0,0456 0,7980

342,5 0,6690

347,5 0,5700

352,5 0,4880

357,5 0,4560

362,5 0,3560

367,5 0,3100

372,5 0,2600

Total 23,685 29,2635


39

Lampiran 5. Data serapan (A) Ekstrak beras merah (Oryza nivara)


pada panjang gelombang (λ) 292,5-337,5 nm dengan Spektrofometer
UV-Vis

λ (nm) Serapan (A)


100 bpj 200 bpj 300 bpj 400 bpj 500 bpj
292,5 0,20176 0,22714 0,33566 0,44750 0,52249
297,5 0,19342 0,19331 0,28502 0,38453 0,44809
302,5 0,18148 0,18191 0,26741 0,36433 0,42426
307,5 0,15846 0,17623 0,25829 0,35617 0,41626
312,5 0,13049 0,17417 0,2552 0,35638 0,41990
317,5 0,11738 0,17578 0,25641 0,36122 0,42986
322,5 0,11196 0,17616 0,25606 0,36242 0,43456
327,5 0,10719 0,17147 0,24868 0,35311 0,42463
332,5 0,10147 0,16022 0,23163 0,33095 0,39732
337,5 0,09486 0,14285 0,20522 0,29699 0,35390
342,5 0,08767 0,12099 0,17262 0,25402 0,29787
347,5 0,08047 0,09673 0,13687 0,20644 0,23562
352,5 0,07364 0,07334 0,10244 0,16061 0,17585
357,5 0,06790 0,05398 0,07389 0,12208 0,12579
362,5 0,06285 0,03919 0,05213 0,09316 0,08864
367,5 0,05876 0,02884 0,03691 0,07255 0,06277
372,5 0,05571 0,02217 0,02724 0,05955 0,04669
40

Lampiran 6 Nilai Transmitan (T) Ekstrak beras merah (Oryza nivara)


pada panjang gelombang (λ) 292,5-337,5 nm dengan Spektrofometer
UV-Vis
Transmitan (T)
λ (nm)
100 bpj 200 bpj 300 bpj 400 bpj 500 bpj
292,5 0,62841 0,59273 0,46168 0,35686 0,30027
297,5 0,64059 0,64075 0,51878 0,41254 0,35638
302,5 0,65845 0,65779 0,54024 0,43219 0,37648
307,5 0,69429 0,66645 0,55171 0,44038 0,38348
312,5 0,74047 0,66962 0,55565 0,44017 0,38028
317,5 0,76317 0,66656 0,55410 0,43529 0,37166
322,5 0,77275 0,67380 0,55455 0,43409 0,36765
327,5 0,78129 0,69148 0,56405 0,44350 0,37616
332,5 0,79164 0,71970 0,58664 0,46671 0,40057
337,5 0,80379 0,75685 0,62342 0,50467 0,44269
342,5 0,81720 0,80033 0,67202 0,55716 0,50365
347,5 0,83086 0,84462 0,72968 0,62167 0,58127
352,5 0,84403 0,88312 0,78988 0,69086 0,66704
357,5 0,85526 0,91371 0,84355 0,75495 0,74853
362,5 0,86527 0,93575 0,88689 0,80694 0,81538
367,5 0,87345 0,95023 0,91852 0,84616 0,86543
372,5 0,87961 0,95023 0,93920 0,87187 0,89807
41

Lampiran 7. Perhitungan Persentase Transmisi Eritema dan


Pigmentasi

a. Persentase Transmisi Eritema

• Rumus : Te = T x Fe

Keterangan:

Te : transmisi eritema

T : transmitan

Fe : faktor efektivitas eritema / fluks eritema yang nilainya pada


panjang gelombang tertentu (lampiran_ )
• Rumus : Ee = Σ (T x Fe)

Keterangan:

Ee : banyaknya fluks eritema yang diteruskan oleh tabir surya

• Rumus : %Te = Σ Ee/ Fe = Σ (T x Fe)/ Σ Fe

b. Persentase Transmisi Pigmentasi

• Rumus : Tp = T x Fp

Keterangan:

Tp : transmisi pigmentasi

T : transmitan

Fp : faktor efektivitas pigmentasi / fluks pigmentasi yang nilainya

pada panjang gelombang tertentu (lampiran_ )

• Rumus : Ee = Σ (T x Fe)

Keterangan:

Ee : banyaknya fluks pigmentasi yang diteruskan oleh tabir surya

• Rumus : %Tp = Σ Ep/ Fp = Σ (T x Fp)/ Σ Fp


42

Konsentrasi 100 bpj

a. Dik : λ = 292,5 nm

T = 0,62841

Te = T x Fe = 0,62841 x 1,1390 = 0,7158

Tp = T x Fp = 0,62841 x 1,1050 = 0,6944

b. Dik : λ = 297,5 nm

T = 0,64059

Te = T x Fe = 0,64059 x 6,5100 = 4,170

Tp = T x Fp = 0,64059 x 6,7200 = 4,3048

c. Dik : λ = 302,5 nm

T = 0,65845

Te = T x Fe = 0,65845 x 10,000 = 6,5845

Tp = T x Fp = 0,65845 x 10,000 = 6,5845

d. Dik : λ = 307,5 nm

T = 0,69429

Te = T x Fe = 0,69429 x 3,5770 = 2,4835

Tp = T x Fp = 0,69429 x 2,0075 = 1,3938

e. Dik : λ = 312,5 nm

T = 0,74047

Te = T x Fe = 0,74047 x 0,9730 = 0,7205

Tp = T x Fp = 0,74047 x 1,3460 = 0,9967

f. Dik : λ = 317,5 nm

T = 0,76317
43

Te = T x Fe = 0,76317 x 0,567 = 0,4327

Tp = T x Fp = 0,76317 x 1,1250 = 0,8586

g. Dik : λ = 322,5 nm

T = 0,77275

Te = T x Fe = 0,77275 x 0,4550 = 0,3516

Tp = T x Fp = 0,77275 x 1,0790 = 0,8338

h. Dik : λ = 327,5 nm

T = 0,78129

Te = T x Fe = 0,78129 x 0,2890 = 0,2258

Tp = T x Fp = 0,78129 x 1,0200 = 0,7969

i. Dik : λ = 332,5 nm

T = 0,79164

Te = T x Fe = 0,79164 x 0,1290 = 0,1021

Tp = T x Fp = 0,79164 x 0,9360 = 0,7410

j. Dik : λ = 337,5 nm

T = 0,80379

Te = T x Fe = 0,80379 x 0,0456 = 0,0367

Tp = T x Fp = 0,80379 x 0,7980 = 0,6414

k. Dik : λ = 342,5 nm

T = 0,81720

Tp = T x Fp = 0,81720 x 0,6690 = 0,5467

l. Dik : λ = 347,5 nm

T = 0,83086
44

Tp = T x Fp = 0,83086 x 0,5700 = 0,4736

m. Dik : λ = 352,5 nm

T = 0,84403

Tp = T x Fp = 0,84403 x 0,4880 = 0,4119

n. Dik : λ = 357,5 nm

T = 0,85526

Tp = T x Fp = 0,85526 x 0,4560 = 0,3900

o. Dik : λ = 362,5 nm

T = 0,86527

Tp = T x Fp = 0,86527 x 0,3560 = 0,3080

p. Dik : λ = 367,5 nm

T = 0,87345

Tp = T x Fp = 0,87345 x 0,3100 = 0,2708

q. Dik : λ = 372,5 nm

T = 0,87961

Tp = T x Fp = 0,87961 x 0,2600 = 0,2287

Ee = Σ (TxFe)

= 0,7158 + 4,170 + 6,5845 + 2,4835 + 0,7205 + 0,4327 + 0,3516 +


0,2258 + 0,1021+0,0367

= 15,8233

ΣFe = 1,1390 + 6,5100 + 10,000 + 3,5770 + 0,9730 + 0,567 + 0,4550 +


0,2890 + 0,1290 + 0,0456

= 23,6846
45

% Te = Σ Ee/ Fe

= 15,8233 / 23,6846

= 0,6681

Ep = Σ (TxFp)

= 0,6944 + 4,3048 + 6,5845 + 1,3938 + 0,9967 + 0,8586 + 0,8338 +


0,7969 + 0,7410 + 0,6414 + 0,5467 + 0,4736 + 0,4119 + 0,3900 +
0,3080 + 0,2708 + 0,2287

= 20,4754

ΣFp = 1,1050 + 6,7200 + 10,000 + 2,0075 + 1,3460 + 1,1250 + 1,0790 +


1,0200 + 0,9360 + 0,7980 + 0,6690 + 0,5700 + 0,4880 + 0,4560 +
0,3560 + 0,3100 + 0,2600

= 29,2455

% Tp = Σ Ep/ Fp

= 20,4754 / 29,2455

= 0,7001

Konsentrasi 200 bpj

a. Dik : λ = 292,5 nm

T = 0,59273

Te = T x Fe = 0,59273 x 1,1390 = 0,6751

Tp = T x Fp = 0,59273 x 1,1050 = 0,6550

b. Dik : λ = 297,5 nm

T =0,64075

Te = T x Fe = 0,64075 x 6,5100 = 4,1713

Tp = T x Fp = 0,64075 x 6,7200 = 4,3059

c. Dik : λ = 302,5 nm
46

T = 0,65779

Te = T x Fe = 0,65779 x 10,000 = 6,5779

Tp = T x Fp = 0,65779 x 10,000 = 6,5779

d. Dik : λ = 307,5 nm

T = 0,66645

Te = T x Fe = 0,66645 x 3,5770 = 2,3839

Tp = T x Fp = 0,66645 x 2,0075 = 1,3379

e. Dik : λ = 312,5 nm

T = 0,66962

Te = T x Fe = 0,66962 x 0,9730 = 0,6515

Tp = T x Fp = 0,66962 x 1,3460 = 0,9013

f. Dik : λ = 317,5 nm

T = 0,66656

Te = T x Fe = 0,66656 x 0,567 = 0,3779

Tp = T x Fp = 0,66656 x 1,1250 = 0,7499

g. Dik : λ = 322,5 nm

T = 0,67380

Te = T x Fe = 0,67380 x 0,4550 = 0,3066

Tp = T x Fp = 0,67380 x 1,0790 = 0,7270

h. Dik : λ = 327,5 nm

T = 0,69148

Te = T x Fe = 0,69148 x 0,2890 = 0,1998

Tp = T x Fp = 0,69148 x 1,0200 = 0,7053


47

i. Dik : λ = 332,5 nm

T = 0,71970

Te = T x Fe = 0,71970 x 0,1290 = 0,0928

Tp = T x Fp = 0,71970 x 0,9360 = 0,6736

j. Dik : λ = 337,5 nm

T = 0,75685

Te = T x Fe = 0,75685 x 0,0456 = 0,0345

Tp = T x Fp = 0,75685 x 0,7980 = 0,6040

k. Dik : λ = 342,5 nm

T = 0,80033

Tp = T x Fp = 0,80033 x 0,6690 = 0,5354

l. Dik : λ = 347,5 nm

T = 0,84462

Tp = T x Fp = 0,84462 x 0,5700 = 0,4814

m. Dik : λ = 352,5 nm

T = 0,88312

Tp = T x Fp = 0,88312 x 0,4880 = 0,4310

n. Dik : λ = 357,5 nm

T = 0,91371

Tp = T x Fp = 0,91371 x 0,4560 = 0,4167

o. Dik : λ = 362,5 nm

T = 0,93575

Tp = T x Fp = 0,93575 x 0,3560 = 0,3331


48

p. Dik : λ = 367,5 nm

T = 0,95023

Tp = T x Fp = 0,95023 x 0,3100 = 0,2946

q. Dik : λ = 372,5 nm

T = 0,95023

Tp = T x Fp = 0,95023 x 0,2600 = 0,2471

Ee = Σ (TxFe)

= 0,6751 + 4,1713 + 6,5779 + 2,3839 + 0,6515 + 0,3779 + 0,3066 +


0,1998 + 0,0928 + 0,0345

= 15,4715

ΣFe = 1,1390 + 6,5100 + 10,000 + 3,5770 + 0,9730 + 0,567 + 0,4550 +


0,2890 + 0,1290 + 0,0456

= 23,6846

% Te = Σ Ee/ Fe

= 15,4715 / 23,6846

= 0,6532

Ep = Σ (TxFp)

= 0,6550 + 4,3059 + 6,5779 + 1,3379 + 0,9013 + 0,7499 + 0,7270 +


0,7053 + 0,6736 + 0,6040 + 0,5354 + 0,4814 + 0,4310 + 0,4167 +
0,3331 + 0,2946 + 0,2471

= 19,9770

ΣFp = 1,1050 + 6,7200 + 10,000 + 2,0075 + 1,3460 + 1,1250 + 1,0790 +


1,0200 + 0,9360 + 0,7980 + 0,6690 + 0,5700 + 0,4880 + 0,4560 +
0,3560 + 0,3100 + 0,2600

= 29,2455
49

% Tp = Σ Ep/ Fp

= 19,9770 / 29,2455

= 0,6831

Konsentrasi 300 bpj

a. Dik : λ = 292,5 nm

T = 0,46168

Te = T x Fe = 0,46168 x 1,1390 = 0,5259

Tp = T x Fp = 0,46168 x 1,1050 = 0,5102

b. Dik : λ = 297,5 nm

T = 0,51878

Te = T x Fe = 0,51878 x 6,5100 = 3,3772

Tp = T x Fp = 0,51878 x 6,7200 = 3,4862

c. Dik : λ = 302,5 nm

T = 0,54024

Te = T x Fe = 0,54024 x 10,000 = 5,4024

Tp = T x Fp = 0,54024 x 10,000 = 5,4024

d. Dik : λ = 307,5 nm

T = 0,55171

Te = T x Fe = 0,55171 x 3,5770 = 1,9735

Tp = T x Fp = 0,55171 x 2,0075 = 1,1076

e. Dik : λ = 312,5 nm

T = 0,55565

Te = T x Fe = 0,55565 x 0,9730 = 0,5406


50

Tp = T x Fp = 0,55565 x 1,3460 = 0,7479

f. Dik : λ = 317,5 nm

T = 0,55410

Te = T x Fe = 0,55410 x 0,567 = 0,3142

Tp = T x Fp = 0,55410 x 1,1250 = 0,6234

g. Dik : λ = 322,5 nm

T = 0,55455

Te = T x Fe = 0,55455 x 0,4550 = 0,2523

Tp = T x Fp = 0,55455 x 1,0790 = 0,5984

h. Dik : λ = 327,5 nm

T = 0,56405

Te = T x Fe = 0,56405 x 0,2890 = 0,1630

Tp = T x Fp = 0,56405 x 1,0200 = 0,5753

i. Dik : λ = 332,5 nm

T = 0,58664

Te = T x Fe = 0,58664 x 0,1290 = 0,0757

Tp = T x Fp = 0,58664 x 0,9360 = 0,5491

j. Dik : λ = 337,5 nm

T = 0,62342

Te = T x Fe = 0,62342 x 0,0456 = 0,0284

Tp = T x Fp = 0,62342 x 0,7980 = 0,4975

k. Dik : λ = 342,5 nm

T = 0,67202
51

Tp = T x Fp = 0,67202 x 0,6690 = 0,4496

l. Dik : λ = 347,5 nm

T = 0,72968

Tp = T x Fp = 0,72968 x 0,5700 = 0,4159

m. Dik : λ = 352,5 nm

T = 0,78988

Tp = T x Fp = 0,78988 x 0,4880 = 0,3855

n. Dik : λ = 357,5 nm

T = 0,84355

Tp = T x Fp = 0,84355 x 0,4560 = 0,3847

o. Dik : λ = 362,5 nm

T = 0,88689

Tp = T x Fp = 0,88689 x 0,3560 = 0,3157

p. Dik : λ = 367,5 nm

T = 0,91852

Tp = T x Fp = 0,91852 x 0,3100 = 0,2847

q. Dik : λ = 372,5 nm

T = 0,93920

Tp = T x Fp = 0,93920 x 0,2600 = 0,2442

Ee = Σ (TxFe)

= 0,5259 + 3,3772 + 5,4024 + 1,9735 + 0,5406 + 0,3142 + 0,2523 +


0,1630 + 0,0757 + 0,0284
= 12,653
52

ΣFe = 1,1390 + 6,5100 + 10,000 + 3,5770 + 0,9730 + 0,567 + 0,4550 +


0,2890 + 0,1290 + 0,0456

= 23,6846

% Te = Σ Ee/ Fe

= 12,653 / 23,6846

= 0,5342

Ep = Σ (TxFp)

= 0,5102 + 3,4862 + 5,4024 + 1,1076 + 0,7479 + 0,6234 + 0,5984 +


0,5753 + 0,5491 + 0,4975 + 0,4496 + 0,4159 + 0,3855 + 0,3847 +
0,3157 + 0,2847 + 0,2442

= 16,5781

ΣFp = 1,1050 + 6,7200 + 10,000 + 2,0075 + 1,3460 + 1,1250 + 1,0790 +


1,0200 + 0,9360 + 0,7980 + 0,6690 + 0,5700 + 0,4880 + 0,4560 +
0,3560 + 0,3100 + 0,2600

= 29,2455

% Tp = Σ Ep/ Fp

= 16,5781 / 29,2455

= 0,5669

Konsentrasi 400 bpj

a. Dik : λ = 292,5 nm

T = 0,35686

Te = T x Fe = 0,35686 x 1,1390 = 0,4065

Tp = T x Fp = 0,35686 x 1,1050 = 0,3943

b. Dik : λ = 297,5 nm

T = 0,41254

Te = T x Fe = 0,41254 x 6,5100 = 2,6857


53

Tp = T x Fp = 0,41254 x 6,7200 = 2,7723

c. Dik : λ = 302,5 nm

T = 0,43219

Te = T x Fe = 0,43219 x 10,000 = 4,3219

Tp = T x Fp = 0,43219 x 10,000 = 4,3219

d. Dik : λ = 307,5 nm

T = 0,44038

Te = T x Fe = 0,44038 x 3,5770 = 1,5753

Tp = T x Fp = 0,44038 x 2,0075 = 0,8841

e. Dik : λ = 312,5 nm

T = 0,44017

Te = T x Fe = 0,44017 x 0,9730 = 0,4283

Tp = T x Fp = 0,44017 x 1,3460 = 0,5925

f. Dik : λ = 317,5 nm

T = 0,43529

Te = T x Fe = 0,43529 x 0,567 = 0,2468

Tp = T x Fp = 0,43529 x 1,1250 = 0,4897

g. Dik : λ = 322,5 nm

T = 0,43409

Te = T x Fe = 0,43409 x 0,4550 = 0,1975

Tp = T x Fp = 0,43409 x 1,0790 = 0,4684

h. Dik : λ = 327,5 nm

T = 0,44350
54

Te = T x Fe = 0,44350 x 0,2890 = 0,1282

Tp = T x Fp = 0,44350 x 1,0200 = 0,4524

i. Dik : λ = 332,5 nm

T = 0,46671

Te = T x Fe = 0,46671 x 0,1290 = 0,0602

Tp = T x Fp = 0,46671 x 0,9360 = 0,4369

j. Dik : λ = 337,5 nm

T = 0,50467

Te = T x Fe = 0,50467 x 0,0456 = 0,0230

Tp = T x Fp = 0,50467 x 0,7980 = 0,4027

k. Dik : λ = 342,5 nm

T = 0,55716

Tp = T x Fp = 0,55716 x 0,6690 = 0,3727

l. Dik : λ = 347,5 nm

T = 0,62167

Tp = T x Fp = 0,62167 x 0,5700 = 0,3544

m. Dik : λ = 352,5 nm

T = 0,69086

Tp = T x Fp = 0,69086 x 0,4880 = 0,3371

n. Dik : λ = 357,5 nm

T = 0,75495

Tp = T x Fp = 0,75495 x 0,4560 = 0,3443

o. Dik : λ = 362,5 nm
55

T = 0,80694

Tp = T x Fp = 0,80694 x 0,3560 = 0,2873

p. Dik : λ = 367,5 nm

T = 0,84616

Tp = T x Fp = 0,84616 x 0,3100 = 0,2623

q. Dik : λ = 372,5 nm

T = 0,87187

Tp = T x Fp = 0,87187 x 0,2600 = 0,2267

Ee = Σ (TxFe)

= 0,4065 + 2,6857 + 4,3219 + 1,5753 + 0,4283 + 0,2468 + 0,1975 +


0,1282 + 0,0602 + 0,0230

= 10,0732

ΣFe = 1,1390 + 6,5100 + 10,000 + 3,5770 + 0,9730 + 0,567 + 0,4550 +


0,2890 + 0,1290 + 0,0456

= 23,6846

% Te = Σ Ee/ Fe

= 10,0732 / 23,6846

= 0,4253

Ep = Σ (TxFp)

= 0,3943 + 2,7723 + 4,3219 + 0,8841 + 0,5925 + 0,4897 + 0,4684 +


0,4524 + 0,4369 + 0,4027 + 0,3727 + 0,3544 + 0,3371 + 0,3443 +
0,2873 + 0,2623 + 0,2267

= 13,3998
56

ΣFp = 1,1050 + 6,7200 + 10,000 + 2,0075 + 1,3460 + 1,1250 + 1,0790 +


1,0200 + 0,9360 + 0,7980 + 0,6690 + 0,5700 + 0,4880 + 0,4560 +
0,3560 + 0,3100 + 0,2600

= 29,2455

% Tp = Σ Ep/ Fp

= 13,3998 / 29,2455

= 0,4582

Konsentrasi 500 bpj

a. Dik : λ = 292,5 nm

T = 0,30027

Te = T x Fe = 0,30027 x 1,1390 = 0,3420

Tp = T x Fp = 0,30027 x 1,1050 = 0,3318

b. Dik : λ = 297,5 nm

T = 0,35638

Te = T x Fe = 0,35638 x 6,5100 = 2,3200

Tp = T x Fp = 0,35638 x 6,7200 = 2,3949

c. Dik : λ = 302,5 nm

T = 0,37648

Te = T x Fe = 0,37648 x 10,000 = 3,7648

Tp = T x Fp = 0,37648 x 10,000 = 3,7648

d. Dik : λ = 307,5 nm

T = 0,38348

Te = T x Fe = 0,38348 x 3,5770 = 1,3717

Tp = T x Fp = 0,38348 x 2,0075 = 0,7698


57

e. Dik : λ = 312,5 nm

T = 0,38028

Te = T x Fe = 0,38028 x 0,9730 = 0,3700

Tp = T x Fp = 0,38028 x 1,3460 = 0,5119

f. Dik : λ = 317,5 nm

T = 0,37166

Te = T x Fe = 0,37166 x 0,567 = 0,2107

Tp = T x Fp = 0,37166 x 1,1250 = 0,4181

g. Dik : λ = 322,5 nm

T = 0,36765

Te = T x Fe = 0,36765 x 0,4550 = 0,1673

Tp = T x Fp = 0,36765 x 1,0790 = 0,3967

h. Dik : λ = 327,5 nm

T = 0,37616

Te = T x Fe = 0,37616 x 0,2890 = 0,1087

Tp = T x Fp = 0,37616 x 1,0200 = 0,3837

i. Dik : λ = 332,5 nm

T = 0,40057

Te = T x Fe = 0,40057 x 0,1290 = 0,0517

Tp = T x Fp = 0,40057 x 0,9360 = 0,3749

j. Dik : λ = 337,5 nm

T = 0,44269

Te = T x Fe = 0,44269 x 0,0456 = 0,0202


58

Tp = T x Fp = 0,44269 x 0,7980 = 0,3533

k. Dik : λ = 342,5 nm

T = 0,50365

Tp = T x Fp = 0,50365 x 0,6690 = 0,3369

l. Dik : λ = 347,5 nm

T = 0,58127

Tp = T x Fp = 0,58127 x 0,5700 = 0,3313

m. Dik : λ = 352,5 nm

T = 0,66704

Tp = T x Fp = 0,66704 x 0,4880 = 0,3255

n. Dik : λ = 357,5 nm

T = 0,74853

Tp = T x Fp = 0,74853 x 0,4560 = 0,3413

o. Dik : λ = 362,5 nm

T = 0,81538

Tp = T x Fp = 0,81538 x 0,3560 = 0,2903

p. Dik : λ = 367,5 nm

T = 0,86543

Tp = T x Fp = 0,86543 x 0,3100 = 0,2683

q. Dik : λ = 372,5 nm

T = 0,89807

Tp = T x Fp = 0,89807 x 0,2600 = 0,2335


59

Ee = Σ (TxFe)

= 0,3420 + 2,3200 + 3,7648 + 1,3717 + 0,3700 + 0,2107 + 0,1673 +


0,1087 + 0,0517 + 0,0202

= 8,7271

ΣFe = 1,1390 + 6,5100 + 10,000 + 3,5770 + 0,9730 + 0,567 + 0,4550 +


0,2890 + 0,1290 + 0,0456

= 23,6846

% Te = Σ Ee/ Fe

= 8,7271 / 23,6846

= 0,3685

Ep = Σ (TxFp)

= 0,3318 + 2,3949 + 3,7648 + 0,7698 + 0,5119 + 0,4181 + 0,3967 +


0,3837 + 0,3749 + 0,3533 + 0,3369 + 0,3313 + 0,3255 + 0,3413 +
0,2903 + 0,2683 + 0,2335

= 11,8270

ΣFp = 1,1050 + 6,7200 + 10,000 + 2,0075 + 1,3460 + 1,1250 + 1,0790 +


1,0200 + 0,9360 + 0,7980 + 0,6690 + 0,5700 + 0,4880 + 0,4560 +
0,3560 + 0,3100 + 0,2600

= 29,2455

% Tp = Σ Ep/ Fp

= 11,8270 / 29,2455

= 0,4044
60

Lampiran 5. Gambar Beras Merah dan Ekstrak Beras Merah


61

Lampiran 9.. Gambar Identifikasi Golongan Senyawa

Uji Alkaloid Uji Antosianin Uji Flavanoid

Uji Tanin Uji triterpen