Anda di halaman 1dari 57

Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

BAB I PENDAHULUAN

A. Deskripsi
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran dan upaya
untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohaniah
tenaga kerja (laboran/analis) pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil
karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur. Secara keilmuan K3
merupakan ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Seirama dengan derap langkah pembangunan negara ini dan ditunjang dengan
IPTEK yang semakin berkembang dengan pesat, maka kita akan memajukan
industri/instansi yang memiliki laboratorium yang maju dan mandiri dalam rangka
mewujudkan era globalisasi yang modern. Dalam keadaan yang demikian maka
penggunaan alat-alat laboratorium, instalasi-instalasi modern serta bahan
berbahaya mungkin makin meningkat.

Masalah tersebut di atas akan sangat mempengaruhi dan mendorong


peningkatan jumlah maupun tingkat keseriusan kecelakaan kerja, penyakit akibat
kerja dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu keselamatan dan kesehatan
kerja yang merupakan salah satu bagian dari perlindungan tenaga kerja atau
laboran perlu dikembangkan dan ditingkatkan, mengingat keselamatan dan
kesehatan kerja bertujuan agar :
• Setiap tenaga kerja/laboran dan orang lainnya yang berada di laboratorium
mendapat perlindungan atas keselamatannya.
• Setiap bahan kimia atau peralatan dapat dipakai, dipergunakan secara aman
dan efisien.
• Proses pengujian berjalan lancar.

Kondisi tersebut di atas dapat dicapai antara lain bila kecelakaan termasuk
kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan
ditanggulangi. Oleh karena itu setiap usaha kesehatan dan keselamatan kerja
tidak lain adalah usaha pencegahan dan penanggulangan dan kecelakaan di
tempat kerja.

VEDCA – Pengujian Mutu 1


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja haruslah ditujukan untuk


mengenal dan menemukan sebab-sebabnya, bukan gejala-gejalanya untuk
kemudian sedapat mungkin menghilangkan atau mengeliminirnya. Untuk itu
semua pihak yang terlibat dalam bekerja di laboratorium diharapkan dapat
mengerti dan memahami serta menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja
(K3) di tempat masing-masing.

B. Kompetensi Dasar
1. Mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk
menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
2. Menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan
aman.
3. Merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.
4. Mengikuti prosedur pengendalian bahaya untuk memperkecil dampak
terhadap lingkungan.

VEDCA – Pengujian Mutu 2


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

BAB II PEMBELAJARAN

Tujuan Akhir Pembelajaran/Terminal Performance Objectivi (TPO)


Modul ini disusun sebagai materi pengantar K3 ( Kesehatan dan Keselamatan
Kerja) agar peserta diklat mempunyai kompetensi tentang pengetahuan K3 dan
penerapannya di Laboratorium.

Kompetensi Dasar
Mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga
lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
.
A. Tujuan Antara/ Enabling Objective (EO)
Peserta diklat mampu mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang
ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.

B. Materi Menjaga Lingkungan Kerja yang Aman


Laboratorium adalah suatu tempat dimana siswa, mahasiswa, dosen, peneliti
dsb, melakukan percobaan. Percobaan yang dilakukan menggunakan
berbagai bahan kimia, peralatan gelas dan instrumentasi khusus yang dapat
menyebabkan terjadinya kecelakaan seperti kebakaran, peledakan,
keracunan dan iritasi bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat.
Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan kerja, ini
dapat membuat orang tersebut cedera, dan bahkan bagi orang disekitarnya.
Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti bahan mudah terbakar,
eksplosif, reaktif, korosif dan toksik serta penggunaan teknik percobaan
dengan suhu atau tekanan tinggi juga merupakan penyebab keadaan
yang tidak aman.
Hampir semua kecelakaan mempunyai penyebab, tetapi sifat para pekerja
laboratorium yang suka meremehkan bahaya, lalai, bekerja dengan tergesa-
gesa, malas memakai alat pelindung diri atau tidak dapat memprediksi akan
adanya bahaya, merupakan penyebab utama dari kecelakaan. Di bawah ini
adalah identifikasi dari beberapa penyebab kecelakaan yang dapat
dimanfaatkan untuk usaha keselamatan laboratorium. Tentu masih banyak
penyebab-penyebab lain, tetapi 10 (sepuluh) point di bawah ini cukup penting

VEDCA – Pengujian Mutu 3


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

untuk mengatasi masalah atau menghindari sebagian besar kecelakaan


dalam laboratorium.

1. Kekurangan dalam Alat Pelindung Diri


- Tidak memakai pakaian kerja (jas laboratorium atau apron) dan
tidak memakai sepatu sehingga tumpahan bahan kimia akan
menyebabkan cedera kulit. Memakai pakaian kerja (jas
laboratorium atau apron) dan tidak memakai sepatu sehingga
tumpahan bahan kimia akan menyebabkan cedera kulit.
- Tidak memakai kaca mata atau goggles, sehingga semprotan
bahan kimia atau pecahan kaca dapat melukai mata.
- Tidak memakai pelindung muka (face shield) dalam menangani
reaktor yang eksplosif, sehingga dapat mencederai muka atau
mata.
- Tidak memakai sarung tangan yang tepat untuk menangani
bahan yang panas atau toksik dan korosif.
- Tidak menggunakan respirator yang tepat untuk menangani
cemaran atau kontaminasi udara oleh debu, gas beracun atau
toksik. Atau memakai respirator debu (kain kasa) dalam kondisi
udara tercemar dengan gas atau uap beracun atau korosif.
2. Kekurangan dalam Ventilasi
- Pompa hisap untuk almari asam yang tidak cukup kuat untuk
menghisap udara atau terjadi kerusakan motor penghisap udara
karena korosif.
- Terjadi kebocoran almari asam atau pipa pembuangan gas yang
tidak sampai atas gedung, sehingga cemaran kembali dalam ruang
laboratorium.
- Jendela laboratorium tidak memadai untuk mengencerkan udara
yang terkontaminasi berat.
- Penggunaan almari asam untuk menyimpan bahan-bahan beracun
dan korosif yang menambah cemaran serta mengurangi kemam-
puan almari asam menghisap kontaminasi.
- Tidak dilakukan pengukuran tingkat kontaminasi dalam
laboratorium.

VEDCA – Pengujian Mutu 4


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

3. Masalah Kebersihan
- Tempat istirahat, merokok, makan dan minum dalam laboratorium,
dapat menimbulkan bahaya kebakaran atau kesehatan.
- Makanan dan minuman di simpan dalam almari pendingin beserta
bahan-bahan kimia atau reagen.
- Menggunakan alat-alat laboratorium seperti Erlenmeyer atau
beaker glass untuk memasak air atau makanan.
- Memipet larutan asam / basa atau zat racun dengan memakai
mulut, tidak memakai pipet karet.
- Pekerja tidak cepat mencuci tangan atau muka bila terkena bahan
kimia.
- Pekerja tidak membiasakan membersihkan meja atau lantai atau
pakaian bila terkena tumpahan bahan
4. Bahaya Listrik
- Beban listrik terlalu besar untuk satu "stop contact" sehingga dapat
menimbulkan pemanasan yang dapat membakar kulit kabel.
- Sistim kabling yang tidak memenuhi persyaratan standar
- "Grounding" yang tidak sempurna sehingga meninggalkan listrik
dalam peralatan yang masih cukup berbahaya.
- Kesalahan menyambungkan peralatan pada sumber listrik yang
jauh lebih tinggi dari voltase yang seharusnya.
- Adanya tikus-tikus yang mengerat kabel sehingga dapat
menimbulkan hubungan pendek atau kebakaran.
5. Kurangnya Pengetahuan Tentang Bahan Berbahaya
- Memanaskan pelarut mudah terbakar dengan bunsen atau teklu
(Bunsen kecil) yang dapat menimbulkan flash back clan kebakaran.
- Kontak antara pelarut organik dengan logam panas seperti hotplate
dan oven.
- Membiarkan proses pengelasan dalam laboratorium, dimana
terdapat banyak pelarut organik yang sedang ditangani, juga dapat
terjadi flash back.
- Pemanasan senyawa-senyawa yang eksplosif.
- Distilasi pelarut organik yang mengandung peroksida hasil
autooksidasi.

VEDCA – Pengujian Mutu 5


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

- Salah ukur yang terlalu banyak untuk bahan oksidator seperti asam
perklorat atau hydrogen peroksida.
- Membuang bahan reaktif atau wadahnya ke dalam air yang
menimbulkan ledakan dan kebakaran.
- Membiarkan kontak antara bahan korosif atau beracun dengan kulit,
dan bahan tersebut masuk ke dalam tubuh lewat kulit.
- Membuka wadah bahan reaktif seperti amonia, asam nitrat atau
asam sulfat tidak sesuai prosedur.
6. Masalah Penggudangan Bahan Kimia
- Bahan kimia disimpan bertumpuk-tumpuk tanpa memperhatikan
sifat inkompatibilitas.
- Penyimpanan bahan-bahan mudah terbakar dalam wadah yang
tidak sesuai, tidak aman dan mengalami kebocoran atau korosi.
- Membiarkan orang merokok dalam gudang.
- Botol atau wadah bahan tanpa label yang jelas atau labelnya
hilang.
- Wadah bahan kimia korosif yang mengalami korosi dan kebocoran
tanpa terawasi dengan baik.
- Silinder gas disimpan tidak tegak berdiri atau tanpa ikatan.
- Mengangkat silinder gas dengan cara diputar - putar atau diguling -
gulingkan.
- Pintu keluar (exit door) terkunci dan gang-gang tertutup oleh bahan.
- Udara dalam gudang terlalu lembab karena ventilasi tidak memadai.
- Wadah bahan reaktif terbuka dan berinteraksi dengan air atau uap
air.
- Membawa gas cair seperti NZ atau COz padat dalam lift penumpang.
- Menggunakan almari pendingin yang bukan "explosion-proof" untuk
menyimpan pelarut-pelarut organik mudah menguap.
- Memesan dan menyimpan bahan berbahaya terlalu banyak atau
melebihi kebutuhan.
7. Informasi dan Komunikasi
- Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet =
MSDS) tidak tersedia atau tidak dibaca sebelum menangani bahan.

VEDCA – Pengujian Mutu 6


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

- Prosedur percobaan-percobaan berbahaya tidak dituliskan atau tidak


didokumentasikan sehingga tidak semua pekerja dapat melak-
sanakan percobaan dengan aman.
- Kesalahan membaca prosedur terutama pada percobaan-percobaan
yang menggunakan bahan reaktif seperti peroksida.
- Bekerja sendiri dalam laboratorium sehingga sulit mencari
pertolongan bila terjadi kecelakaan.
- Pekerja tidak memperoleh informasi yang cukup tentang percobaan-
percobaan berbahaya dari supervisor.
8. Prosedur dan Peralatan Keadaan Darurat
- Alat pemadam api tidak tersedia atau tidak dicheck sehingga ketika
terjadi kebakaran tidak berfungsi dengan baik.
- Pekerja laboratorium tidak dilatih dalam penggunaan alat pemadam
api.
- Pintu penyelamat tidak tersedia atau tertutup sehingga pekerja tidak
dapat menyelamatkan diri ketika terjadi kebakaran, eksplosi atau
kebocoran gas beracun.
- Shower penyelamat (safety shower) atau pancuran pencuci mata
(eyewash-fountain) tidak tersedia atau bila tersedia tidak ditest
kelayakannya secara periodik.
- Prosedur keadaan darurat tidak didokumentasikan dan tidak pula
dilakukan latihan keadaan darurat termasuk cara evakuasi.
- Pekerja tidak atau belum diajarkan cara-cara pertolongan pertama
pada kecelakaan (P-3K).
- Tidak ada koordinator atau penanggung jawab bila terjadi keadaan
darurat.
9. Tanggung Jawab Pekerja yang Rendah
- Suka meremehkan bahaya karena belum pernah terjadi kecelakaan.
- Bekerja dengan tergesa-gesa atau tidak mengikuti prosedur operasi
standar.
- Pekerja kurang hati-hati dalam bekerja atau mereka bekerja
sembarangan (Horse play).
- Kurang jeli dalam mengidentifikasi bahaya dan mengendalikan
bahaya untuk mencegah kecelakaan.

VEDCA – Pengujian Mutu 7


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

10. Tanggung Jawab Manajemen yang Rendah


- Kebersihan buruk, tumpahan bahan tidak segera ditangani dengan
baik.
- Analisa kecelakaan dilakukan sebagai formalitas, tetapi tidak
digunakan untuk mencegah kecelakaan yang akan datang.
- Inspeksi dan audit keselamatan lebih bersifat formal, kurang follow
up yang konstruktif.
- Kebijaksanaan K-3 hanya dalam kertas tetapi kurang
operasional.
- Tidak ada manual K-3, higiene, rencana K-3 dsb, atau dokumentasi.
- Manajemen kurang menunjukkan interest pada K-3, ditandai dengan
kurangnya training pada pegawai, serta tiadanya poster-poster K-3.

C. Tugas – Tugas
a. Penguasaan konsep
1. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang membersihkan dan
membebaskan area kerja dari gangguan.
2. Jelaskan jenis-jenis jenis bahaya di area kerja yang anda kenal!
3. Jelaskan penerapan standar kesehatan pribadi di tempat kerja!
4. Jelaskan bagaimana cara mengendalikan titik-titik bahaya diarea
kerja?
b. Mengenal fakta
• Melakukan observasi. Peserta melakukan observasi dikoordinir oleh
widyaiswara, kegiatan observasi ke laboratorium pengujian dalam
mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk
menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
• Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat yang berbeda.
• Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana laboratorium
pengujian mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang
ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
• Dari hasil observasi ini selanjutnya merumuskan kegiatan apa yang
dilakukan laboratorium pengujian dan mampu memberikan konstribusi
secara positif tetapi belum ada pada konsep dasar, mengidentifikasi
apa yang ada pada konsep dasar tapi belum dilakukan oleh
laboratorium pengujian dan bila dilakukan akan mampu memberikan

VEDCA – Pengujian Mutu 8


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

konstribusi dalam meningkatkan kemampuan analisis. Saran apa


yang bisa diberikan untuk memperbaiki kegiatan persiapan peralatan,
bahan dan contoh.
• Kegiatan mengenal fakta ini dapat dilakukan sekaligus untuk
subkompetensi/kompetensi dasar Menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman, menyimpan,
mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman,
merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif, mengikuti
prosedur pengendalian bahaya untuk memperkecil dampak terhadap
lingkungan.
c. Merefleksikan.
Setelah peserta diklat melakukan penguasaan konsep dan mengenal
fakta, selanjutnya peserta melakukan refleksi bagaimana mengikuti
kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga
lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
d. Melakukan analisis dan sintesis
• Analisis daya dukung. Peserta diklat melakukan kegiatan analisis
terhadap daya dukung yang tersedia di tempat praktik untuk
mengetahui kesesuaian dalam kegiatan mengikuti kegiatan dan
instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan
kerja/ laboratorium yang aman. Kegiatan ini dilakukan berkelompok.
• Sintesis. Peserta diklat melakukan kegiatan sintesis terhadap hasil
refleksi mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang
ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
dan hasil analisis terhadap tingkat kesesuaian daya dukung. Apabila
terdapat ketidaksesuaian terhadap daya dukung, peserta diklat
melakukan rekonstruksi/modifikasi terhadap hasil refleksi dalam
kegiatan Mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang
ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
Kegiatan rekonstruksi ini tetap memperhatikan parameter persyaratan
yang diperlukan.
e. Menyusun dan melaksanakan rencana kerja
• Peserta diklat secara berkelompok menyusun/membuat alternatif-
alternatif rencana mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada,
yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang

VEDCA – Pengujian Mutu 9


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

aman., rencana kerja/proposal memuat metode mengikuti kegiatan


dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga
lingkungan kerja/ laboratorium yang aman. yang akan dilaksanakan,
kriteria keberhasilan, waktu pencapaian dan jadwal kegiatan serta
pembagian tugas kelompok.
• Pengambilan keputusan/menetapkan rencana kerja.
Secara berkelompok peserta diklat mengambil
keputusan/menetapkan alternatif rencana mengikuti kegiatan dan
instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan
kerja/ laboratorium yang aman. yang akan dilaksanakan dengan
memperhatikan daya dukung dan persyaratan teknis dalam mengikuti
kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga
lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.. Apabila ada kesulitan
peserta dapat mendiskusikan dengan fasilitator.
• Penetapan peran masing-masing individu dalam kelompok.
Kelompok menyusun pembagian tugas dan menentukan peran setiap
anggota kelompok.
• Melaksanakan rencana kerja, peserta diklat melakukan kegiatan
mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk
menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman., mengacu pada
rencana kerja memperagakan pengetahuan dan pemahaman tentang
manajemen mutu di laboratorium yang telah disepakati.
• Proses pengamatan dan pencatatan, peserta diklat melakuka
pengamatan dan pencatatan data kegiatan mengikuti kegiatan dan
instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan
kerja/ laboratorium yang aman. Lembar pengamatan disiapkan
peserta diklat setelah mendapat persetujuan fasilitator.
• Evaluasi dan diskusi terhadap hasil kegiatan.
Peserta diklat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan
kegiatan dan pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam
perencanaan.
• Peserta diklat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan
pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam perencanaan.

VEDCA – Pengujian Mutu 10


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Peserta diklat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan


hasilnya dibandingkan dengan rancangan kerja dan konsep-konsep
yang telah dirumuskan sebelumnya.
• Proses penyusunan kesimpulan dan memberikan umpan balik.
Peserta secara berkelompok menyusun umpan balik/rekomendasi
terhadap metode mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada,
yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang
aman. untuk mendapatkan hasil yang optimal. Perumusan umpan
balik ini juga harus mempertimbangkan dasar teori, fakta dan kondisi
hasil kerja.

D.Tes Formatif
1. Sebutkan faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab bahaya/ kecelakaan
didalam laboratorium !
2. Sebutkan contoh bahwa faktor kebersihan menjadi
pengganggu/penyebab bahaya didalam laboratorium !
3. Jelaskan bagaimana cara-cara pengamanan minimum yang dapat
dilakukan seorang pekerja/ laboran dalam rangka menjaga lingkungan
kerja (laboratorium) agar selalu dalam keadaan aman !

E. Daftar evidence of learning yang harus dikumpulkan


• Hasil perumusan penguasaan konsep dan tugas-tugas diskusi, presentasi
dan hasil perumusan tentang mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang
ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang
aman.
• Hasil observasi mengenai fakta di laboratorium pengujian tentang
Mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang ditujukan untuk
menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
• Hasil refleksi tentang persiapan mengikuti kegiatan dan instruksi kerja
yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium
yang aman.
• Hasil analisis mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang
ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.

VEDCA – Pengujian Mutu 11


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Hasil sintesis tentang persiapan mengikuti kegiatan dan instruksi kerja


yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium
yang aman.
• Hasil penyusunan rencana kegiatan (berupa rencana kerja/proposal
implementasi) tentang persiapan mengikuti kegiatan dan instruksi kerja
yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium
yang aman.
• Hasil pengamatan/recording tentang mengikuti kegiatan dan instruksi
kerja yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/
laboratorium yang aman.
• Hasil evaluasi ketercapaian tentang mengikuti kegiatan dan instruksi kerja
yang ada, yang ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium
yang aman.
• Kesimpulan dan rekomendasi/umpan balik tentang memperagakan
pengetahuan dan pemahaman manajemen mutu di laboratorium.

Kompetensi Dasar :
Menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman.

A. Tujuan Antara/Enabling Objective (EO)


Setelah mempelajari kompetensi ini peserta diklat mampu menyimpan,
mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman.

B. Materi :
1. Identifikasi Bahan Kimia
Identifikasi bahan kimia merupakan suatu cara untuk mempelajari karakteristik
bahan tersebut dengan mengamati label bahan kimia kemudian bentuk, warna,
bau, danan sifatnya. Identifikasi bahan kimia dilakukan berkaitan dengan
penanganan, penyimpanan, dan penggunaan bahan tersebut lebih lanjut,
sehingga risiko bahaya dapat dicegah dan dihindari, serta dalam penggunaannya
lebih efisien.

1.1. Identifikasi Label Bahan Kimia


Cara mudah mengidentifikasi suatu bahan kimia dapat dilakukan dengan
cara mempelajari informasi yang tertera pada label kemasan. Informasi

VEDCA – Pengujian Mutu 12


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

yang diperoleh biasanya berupa : nama bahan kimia (kadang-kadang


disertai rumus kimia dan bahan aktifnya), kandungan / komposisi, cara
penggunaan, sifat, dan cara penyimpanan. Akan tetapi seringkali beberapa
bahan kimia pada labelnya tidak tercantum informasi lengkap. Kadang
hanya tercantum nama dan kode produksi bahan kimia. saja. Sedikitnya
informasi yang tertera pada label kemasan biasanya dengan pertimbangan
bahwa informasi-informasi yang lain ticlak penting untuk ditonjolkan dan
tidak menimbulkan dampak bahaya bila ternyata salah dalam penggunaan.
Untuk lebih memperjelas identifikasi bahan kimia dengan cara membaca
informasi yang tertera pada labelnya, berikut ini ditampilkan contoh salah
satu label bahan kimia laboratorium.
Informasi-informasi yang dapat diperoleh pada label bahan kimia yaitu
a. Nama bahan kimia
Nama bahan kimia disertai rumus kimia pada label berada di bagian
tengah. Nama sebagai identitas penting dan pada contoh label tertulis
natrium hidroksida dengan rumus kimia NaOH. Tulisan "pro analysis" di
atas tulisan nama memberikan informasi kualitas bahan kimia yang
bersangkutan mempunyai kemurnian yang tinggi, dan untuk kemurnian
yang lebih rendah biasa dikenal dengan istilah "teknis". Informasi yang
tertera pada label bahan kimia dengan kualitas "teknis" tidak selengkap
kualitas "pro analysis (p.a.)". Biasanya hanya informasi nama bahan kimia
yang bersangkutan.
b. Kemurnian bahan kimia
Kemurnian bahan kimia pada label tertera dengan tulisan "pro analysis".
Istilah ini diberikan untuk reagensia analitik, karena memiliki kemurnian
yang sangat tinggi (> 99%).
Identitas kemurnian seringkali tidak hanya dijumpai dengan tulisan "pro
analysis" (p.a.), akan tetapi sering ditampilkan dengan tulisan Analar (AR)
atau Guaranteed Reagent for Analysis Work (GR) atau American Chemical
Society (ACS). Istilah-istilah kemurnian tersebut memiliki tingkat kemurnian
relatif sama. Tingkat kemurnian bahan kimia yang tertinggi biasa dikenal
dengan istilah Aristar atau Suprapur. Istilah ini menunjukkan bahwa reagen
tersebut ultra murni. Salah satu contoh bahan kimia dengan tingkat
kemurnian ini adalah asam cuka glasial ARISTAR. Pereaksi ini jarang
dipakai untuk keperluan di sekolah, karena harganya yang mahal.

VEDCA – Pengujian Mutu 13


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Label bahan kimia yang tidak tercantum spesifikasi rinci biasa dikenal
dengan istilah "teknis". Komposisinyapun sangat bervariasi, dan reagen ini
cukup memadai bagi keperluan pendidikan atau untuk industri. Pereaksi
yang mempunyai tingkat kemurnian antara p.a. dan teknis dengan kadar
minimum 99% dikenal dengan istilah "Kristalin Murni" atau "Pure", misalnya
Kalium Nitrat yang memiliki kadar KNO3 99%. Selain senyawa utama yang
terkandung dalam bahan kimia, pada label juga tertulis kandungan unsur
dan atau senyawa lain yang jumlahnya sangat kecil.
c. Simbol / tanda bahaya
Simbol-simbol yang ditampilkan pada label menunjukkan sifat bahaya dari
bahan kimia bersangkutan. Penjelasan lebih detail tentang berbagai
macam simbol bahaya dibahas pada bahasan berikutnya. Penjelasan
tentang simbol tertulis dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jerman,
Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Denmark, Spanyol, dan Portugis.
Penulisan dalam berbagai bahasa dimaksudkan agar siapa saja yang
menggunakan bahan kimia tersebut bisa memahami peringatan yang
tertulis pada label, sehingga resiko bahaya dapat dicegah sekecil mungkin.
d. Tindakan keamanan / keselamatan
Informasi tindakan keselamatan juga dapat diperoleh pada label bahan
kimia yang biasanya juga tertulis dalam berbagai bahasa.
e. Kode R / S
Kode R (Hazard Warning for Dangerous Chemicals) merupakan peringatan
bahaya untuk bahan kimia berbahaya. Sedangkan S (Safety Precautions
for Dangerous Chemicals) menunjukkan tindakan pencegahan atau saran
penyimpanan untuk bahan-bahan kimia berbahaya. Keterangan lebih detail
tentang arti kode R dan S ditampilkan pada bahasan berikutnya.

1. 2. Informasi Simbol Bahan Kimia


Karakteristik bahan kimia terutama sifatnya dapat dipelajari melalui simbol-
simbol atau penjelasan-penjelasan yang tercantum pada label kemasan
bahan kimia. Simbol-simbol tertentu menggambarkan tingkatan bahaya
bahan kimia yang bersangkutan, simbol tengkorak misalnya,
menggambarkan risiko bahaya toksik, bahkan dapat menyebabkan
kematian apabila salah dalam penanganan.

VEDCA – Pengujian Mutu 14


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Pengenalan simbol-simbol pada bahan kimia agar diperoleh informasi


tentang sifatnya sangat penting dilakukan berkaitan dengan penanganan,
transportasi, dan penyimpanannya. Berikut ini beberapa penjelasan tentang
simbol atau label yang biasa tertera pada kemasan bahan kimia seperti
pada tabel 1.
Tabel 1. Simbol Bahan Kimia
SIMBOL KETERANGAN
Bahaya : Eksplosif pada kondisi tertentu
Keamanan : Hindari benturan, gesekan, loncatan api, dan
panas
Bahaya : Oksidator dapat membakar bahan lain, penyebab
timbulnya api atau penyebab sulitnya
Keamanan : pemadaman api
Hindari panas serta bahan mudah terbakar dan
reduktor
Bahaya : Mudah terbakar, meliputi :
1. Zat terbakar langsung
Keamanan : Hindari campuran dengan udara
2. Gas amat berbahaya
Keamanan : Hindari campuran dengan udara dan hindari
sumber api
3. Zat sensitif terhadap air, yakni zat yang
membentuk gas mudah terbakar bila kena air
Keamanan : ataupun api
4. Cairan mudah terbakar, titik bakar 210C
Jauhkan dari sumber api dan loncatan bungan
api
Bahaya : Toksik; berbahaya bagi kesehatan bila terhisap,
tertelan atau kontak dengan kulit dan dapat
mematikan
Keamanan : Hindari kontak atau masuk ke dalam tubuh,
segera berobat ke dokter bila kemungkinan
keracunan
Bahaya : Menimbulkan kerusakan kecil pada tubuh
Keamanan : Hindari kontak dengan tubuh atau hindari

VEDCA – Pengujian Mutu 15


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

menghirup, segera berobat bila terkena bahan

Bahaya : Korosif atau merusak jaringan tubuh manusia


Keamanan : Hindari terhirup pernafasan, kontak dengan kulit
dan mata

Bahaya : Iritasi terhadap kulit, mata, dan alat pernafasan


Keamanan : Hindari terhirup pernafasan, kontak dengan kulit
dan mata

1.3. Informasi Kode R dan S


Kode R yang identik dengan tanda bahaya (Hazard Warning for Dangerous
Chemicals) dan S (Safety Precautions for Dangerous Chemicals) sering
tertera pada label-label bahan kimia laboratorium. Sedangkan bahan-bahan
kimia kategori rumah tangga biasanya tidak disertai kode-kode tersebut
pada kemasannya. Dalam pencantumannya, kode R biasanya diikuti
dengan angka di belakangnya. R1 misalnya, mempunyai arti bahan kimia
yang bersangkutan dapat meledak di tempat leering / panas. Sedangkan
R12 identik dengan sifat sangat mullah terbakar. Penomoran kode R ini
biasanya sampai nomor 43. Seringkali dijumpai kode R tercantum dalam
bentuk kombinasinya, misalnya R1/2 artinya sifat yang dikandung oleh
bahan kimia yang bersangkutan adalah R1 dan R2 yaitu dapat meledak di
tempat leering / panas dan bila terkena benturan, gesekan, dan api.
Bahkan sering puia dijumpai pencantuman kode 8113. Hal ini.
menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut mempunyai sifat dari R1 sampai
R13. Keterangan selengkapnya tentang kode R disajikan pada tabel 2.

VEDCA – Pengujian Mutu 16


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Tabel 2. Kode R (Hazard Warning) untuk Bahan-bahan Kimia


Berbahaya
Kode Kode
Keterangan Keterangan
R R
R1 Dapat meledak di tempat kering / R22 Berbahaya terhadap kesehatan bila
panas tertelan
R2 Meledak bila kena benturan, R23 Meracuni bila dihirup
gesekan, api
R3 Mudah meledak bila kena benturan, R24 Meracuni / beracun bila kena kulit
gesekan, api (meracuni kulit)
R4 Sangat sensitif dan mudah meledak R25 Meracuni bila ditelan
R5 Meledak bila kena panas R26 Sangat meracuni bila dihirup
R6 Meledak jika kelebihan udara dan R27 Sangat meracuni kulit
kekurangan udara
R7 Dapat menyebabkan kebakaran R28 Sangat meracuni bila ditelan
R8 Menimbulkan api jika kontak dengan R29 Dapat mengembang / membentuk gas
bahan yang mudah terbakar racun bila kontak dengan air
R9 Resiko ledakan bila dicampur R30 Kemungkinan bisa mengakibatkan
dengan bahan yang mudah terbakar kebakaran bila digunakan
R10 Mudah terbakar R31 Membentuk gas racun bila dicampur
dengan asam
R11 Agak mudah terbakar R32 Membentuk gas sangat beracun bila
kontak
dengan asam
R12 Sangat mudah terbakar R33 Resiko bila ditimbun
R13 Mencair, sangat mudah terbakar R34 Menyebabkan korosi dan luka bakar
R14 Memberi reaksi keras terhadap air R35 Menyebabkan korosi keras
R15 Jika beraksi dengan air membentuk R36 Iritasi terhadap mata
gas yang mudah terbakar
R16 Meledak bila dicampur dengan R37 Iritasi terhadap organ pernapasan
bahan yang mudah terbakar

VEDCA – Pengujian Mutu 17


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

R17 Terbakar langsung di udara R38 Iritasi terhadap kulit


R18 Dapat meledak dan terbakar R39 Resiko serius / cacat tetap
(tergantung
pemakaian)
R19 Dapat membentuk peroksida yang R40 Resiko serius cepat sekali
mudah meledak
R20 Merusak pare-pare bila terhirup/ R41 Sensitif bila dihirup
tertelan
(berbahaya terhadap kesehatan bila
terhirup)
R21 Melukai kulit / berbahaya terhadap R42 Sensitif / peka terhadap kulit
kulit

Selain kode R, juga sering dijumpai kode lain dengan inisial S pada label
bahan kimia. Kode S menunjukkan informasi tindakan keselamatan /
keamanan. S2 misalnya, bahan kimia tersebut harus dijauhkan dari
jangkauan anak-anak. Seperti halnya kode R, kode S juga sering dijumpai
tampil kombinasi. Contohnya S3/7/9 artinya tindakan untuk keselamatan
bahan kimia tersebut meliputi S3, S7, dan S9 yaitu kemasan dijaga dalam
kondisi tertutup rapat dan disimpan di tempat dingin dengan ventilasi
ruangan yang balk. Keterangan detail tentang arti kode S selengkapnya
dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Kode S (Safety Precautions) untuk Bahan-bahan Kimia


Berbahaya
Kode S Keterangan Kode Keterangan
S
S1 Simpan di tempat terkunci S14 Jauhkan dari bahan kimia yang
bertentangan
S2 Jauhkan dari jangkauan anak-anak S15 Lindungi dari panas
S3 Simpan di tempat yang sejuk S11 6 Jauhkan dari sumber api, jangan
merokok
S4 Jauhkan dari ruang / kamar tempat S17 Jauhkan dari bahan-bahan yang
tinggal mudah terbakar
S5 Jauhkan dari cairan S18 Buka kemasan dengan hati-hati

VEDCA – Pengujian Mutu 18


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

S6 Jauhkan dari gas S20 Jangan makan dan minum di saat kerja
S7 Simpan di tempat tertutup rapat S42 Pakai sarung Jangan respirator ketika
melakukan sesuatu yang
menghasilkan gas / uap berbahaya
S8 Simpan di wadah / tempat yang S43 Gunakan pemadam kebakaran
kering
S9 Simpan di tempat yang berventilasi S44 Mintalah nasehat dokter apabila Anda
cukup balk merasa ragu
S10 Hindarkan dari uap air S45 Panggil dokter bila terjadi kecelakaan
atau biia
Anda merasa tidak sehat
S11 Cegah udara masuk
S12 Jangan tutup rapat
S13 Jauhkan dari makanan dan
minuman

1.4. Bahan-bahan Kimia "Incompatible"


Seperti diuraikan sebelumnya, ada bahan-bahan kimia yang tidak boleh
dicampur dalam penyimpanannya seperti asam dengan bahan yang
beracun, bahan mudah terbakar dengan oksidator, dan sebagainya. Bahan-
bahan demikian disebut "incompatible" dan harus disimpan secara terpisah.
Zat pada kolom A bila kontak dengan zat kolom B akan menghasilkan
racun (kolom C).
Tabel 4. Bahan- Bahan Kimia "Incompatible" dan Menghasilkan Racun
Bila Dicampur
Senyawa Berbahaya yang Timbul
Kolom A Kolom B
bila Dicampur (kolom C)
Sianida Asam Asam sianida
Hipoklorit Asam Klor dan asam hipoklorit
Nitrat Asam sulfat Nitrogen dioksida
Asam nitrat Tembaga, logam berat Nitrogen dioksida
Nitrit Asam Asam nitrogen oksida
Asida Asam Hidrogen asida
Senyawa arsenik Reduktor Arsin

VEDCA – Pengujian Mutu 19


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Sulfida Asam Hidrogen sulfida

Bahan-bahan kimia "incompatible" berikut, bila bersentuhan (kontak)


dengan bahan kimia lain akan menghasilkan reaksi yang hebat, kebakaran
atau ledakan.
Tabel 5. Bahan-bahan Reaktif yang Bila Bercampur Menimbulkan
Reaksi Hebat, Kebakaran dan atau Ledakan
Bahan Kimia Hindarkan kontak dengan
Amonium Nitrat Asam klorat, nitrat, debu organik, peluru organik
mudahterbakar, dan bubuk logam.
Asam asetat Asam kromat, asam nitrat, perklorat dan peroksida
Karbon aktif Oksidator (klorat, perklorat, hipoklorit)
Asam kromat Asam asetat, gliserin, alkohol, dan bahan kimia mudah
terbakar.
Cairan mudah terbakar Amonium nitrat, asam kromat, hidrogen peroksida, dan
asam nitrat
Hidrokarbon (butana, Fluor, klor, asam kromat, dan peroksida
benzena, benzin, terpentin)
Kalium klorat / perklorat Asam sulfat dan asam lainnya
Kalium permanganat Gliserin, etilen glikol, asam sulfat

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah lamanya waktu


penyimpanan untuk zat-zat tertentu. Eter, paraffin cair, dan alefin
membentuk peroksida karena kontak dengan udara dan cahaya. Semakin
lama disimpan semakin besar jumlah peroksida. Isopropileter, etil eter,
diOKsan, dan tetrahidro furan adalah zat-zat yang sering menimbulkan
bahaya akibat terbentuknya peroksida dalam penyimpanan. Zat sejenis
eter, tak boleh disimpan melebihi satu tahun, kecuali ditambah "inhibitor".
Eter yang telah terbuka, harus dihabiskan selama enam bulan, atau
sebelum dipakai, dites lebih dahulu kadar peroksidanya dan bila positif,
peroksida tersebut dipisahkan atau dihilangkan secara kimia. Selain
persyaratan penyimpanan seperti yang tertera pada tabel 4, kaidah-kaidah
berikut perlu diperhatikan :

VEDCA – Pengujian Mutu 20


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Simpanlah botol-botol yang berisi bahan kimia pada rak atau lemari yang
disediakan khusus untuk itu. Botol-botol besar disimpan pada bagian
bawah tempat penyimpanan.
• Jangan menyimpan botol yang berisi zat yang berbahaya atau korosif
(terutama cairan) di tempat yang lebih tinggi dari bahu orang dewasa.
• Jangan mengisi botol-botol sampai penuh
• Jangan menggunakan tutup dari kaca untuk botol yang berisi larutan
basa, karena lama kelamaan tutup itu akan melekat pada botolnya dan
susah dibuka.
• Semua wadah yang berisi bahan kimia harus diberi label yang
menyatakan nama bahan itu. Khusus untuk wadah yang berisi larutan
harus pula dinyatakan konsentrasi, dan tanggal pembuatan larutan. Bila
mungkin hendaknya dituliskan pula bahaya apa yang dapat
ditimbulkannya. Agar label ini tahan lama hendaknya dilapisi dengan lilin
cair.
• Untuk memudahkan pencarian clan menjaga keamanan, penyimpanan
bahan kimia hendaknya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
cairan / larutan dan kelompok zat padat dan masing-masing kelompok
dibagi lagi menjadi kelompok asam, basa, garam, inclikator atau pereaksi
khusus serta senyawa organik. Biasanya botol-botol berisi garam, padat
atau larutan, disusun menurut abjad nama radikal logamnya.
• Fosforus kuning harus disimpan (direndam bersama wadahnya) dalam air
• Natrium, kalium dan litium harus disimpan dalam kerosin (minyak tanah)
• Rak-rak penyimpanan harus kuat
• Ruang penyimpanan bahan kimia hendaknya dilengkapi dengan ventilasi
yang memadai.
• Bahan-bahan kimia yang sangat beracun dan berbahaya hendaknya
dibeli dalam jumlah kecil, dan tanggal pembeliannya dicatat. Demikian
pula bagi bahan kimia yang mudah rusak bila disimpan.
• Saat membeli bromin sebaiknya dibungkus dalam amplop / wadah kertas
dan diperkirakan dapat habis dalam satu percobaan.
• Semua persediaan bahan kimia secara teratur diteliti, jika ada label yang
rusak harus segera diganti. Jika ada zat yang rusak, zat itu harus
disingkirkan / dibuang dengan,hati-hati.

VEDCA – Pengujian Mutu 21


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

2. Menangani (menyimpan, mengumpulkan dan membuang) Bahan-Bahan


Berbahaya dengan Aman
2.1. Persyaratan Penyimpanan Bahan Kimia
Kaidah lain yang cukup penting juga untuk diketahui adalah persyaratan
penyimpanan. Bahanbahan kimia tertentu membutuhkan persyaratan
penyimpanan yang tertentu pula. Ilustrasi ekstrim dapat dicontohkan
bahwa bahan kimia yang mempunyai sifat mudah meledak seperti
Trinitrotoluen (TNT) yang dalam penyimpanannya harus dijauhkan dari
panas dan api, dihindarkan dari gesekan atau tumbukan mekanis serta
disimpan di ruangan dingin clan berventilasi. Jika kondisi penyimpanan
yang dipersyaratkan tidak terpenuhi, maka resiko meledak mudah
terjadi. Beberapa syarat penyimpanan bahan kimia secara singkat
dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Syarat Penyimpanan beberapa Bahan Kimia

No Jenis Contoh Syarat Penyimpanan Catatan

1. Bahan kimia Sianida, • Ruangan dingin dan berventilasi


beracun arsenida, • Jauh dari bahaya kebakaran
dan fosfor • Dipisahkan dari bahan-bahan
yang mungkin bereaksi
• Disediakan alat pelindung diri,
pakaian keria, masker,dan sarung
tangan
2. Bahan kimia Asam-asam, • Ruangan dingin dan berventilasi
korosif anhidrida asam, • Wadah tertutup dan terikat
dan alkali • Dipisahkan dari zat-zat beracun
3. Bahan kimia Benzena, • Suhu dingin dan berventilasi
mudah aseton, • Jauhkan dari sumber api atau
terbakar eter, heksan panas, terutama loncatan api listrik
dan dan bara rokok
sebagainya • Tersedia alat pemadam kebakaran

VEDCA – Pengujian Mutu 22


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

4. Bahan kimia Amonium nitrat, • Ruangan clingin dan berventilasi


mudah nitrogliserin, • Jauhkan dari panas dan api
meledak trinitrotoluen • Hindarkan dari gesekan atau
(TNT) tumbukan mekanis
S. Bahan kimia Perklorat, • Suhu ruangan dingin dan Pernadam
oksidator permanganat, berventilasi kebakaran
peroksida • Jauhkan dari sumber api dan kurang berguna
organik panas, termasuk loncatan api listrik karena zat
dan bara rokok oksidator dapat
• Jauhkan dari bahan-bahan cairan menghasilkan
mudah terbakar atau reduktor oksigen sendiri
6. Bahan kimia Natrium, • Suhu ruangan dingin, kering, dan
reaktif hidrida, berventilasi
terhadap karbit, nitrida • Jauh dari sumber nyala api atau
air dan panas
sebagainya • Bangunan kedap air
• Disediakan pemadam kebakaran
tanpa air (CO2, halon, dry powder)
7. Bahan kimia Natrium, • Ruangan dingin dan berventilasi Kebanyakan zat-
reaktif hidrida, • Jauhkan dari sumber api, panas, zat tersebut
terhadap Sianida dan asam ditambah dengan
asam • Ruangan penyimpanan perlu di asam
desain agar tidak memungkinkan menghasilkan
terbentuk kantong-kantong gas
hidrogen yang mudah
• Disediakan alat pelindung seperti terbakar atau
kacamata dan pakaian kerja beracun

8. Bahan kimia Gas N2, • Disimpan dalam keadaan tegak


berupa gas asetilen, H2 dan berdiri dan terikat
berlekanan C12 • Ruangan dingin dan tidak terkena
langsung sinar matahari
• Jauh dari api dan panas
• Jauh dari bahan korosif yang dapat
merusak kran

VEDCA – Pengujian Mutu 23


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

2.2. Penyimpanan Bahan Kimia


Beragamnya karakteristik bahan kimia dengan berbagai resiko bahaya
yang dikandungnya, menuntut cara penanganan dan penyimpanan yang
spesifik. Beberapa hal yang sudah dibahas pada bab terdahulu seperti
informasi yang tertera pada label bahan kimia, pengenalan simbol / tanda
bahaya, kode-kode R dan S, perlu benar-benar dipahami untuk dijadikan
dasar pertimbangan dalam penyimpanan bahan kimia. Beberapa informasi
juga sangat dibutuhkan berkaitan dengan penyimpanan seperti faktor-faktor
yang mempengaruhi bahan kimia selama penyimpanan, persyaratan
penyimpanan, dan sarana penyimpanan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bahan Kimia selama penyimpanan
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan berkaitan dengan
penyimpanan bahan kimia. Beberapa bahan kimia dapat mengalami
perubahan sifat atau bahkan menimbulkan bahaya apabila tidak tepat
dalam penyimpanan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kondisi
tersebut meliputi : temperatur, kelembaban, interaksi dengan wadah, dan
interaksi antar bahan.
a. Temperatur
Terjadinya kenaikan suhu dalam ruang penyimpanan memacu terjadinya
reaksi, mempercepat reaksi bahkan dapat menyebabkan terjadinya
perubahan kimia. Kondisi ini dapat mengubah karakteristik bahan kimia.
Resiko berbahayapun dapat terjadi sebagai akibat kenaikan suhu di dalam
ruang penyimpanan. Dengan gambaran tersebut di atas, kontrol suhu
ruang penyimpanan dan menyimpan bahan kimia sesuai dengan
temperatur yang dipersyaratkan sangat penting diperhatikan. Di dalam
ruang penyimpanan, sebaiknya dilengkapi dengan alat pengukur suhu
(termometer). Ada beberapa jenis termometer yang dapat mengukur
temperatur ruangan. Termometer yang biasa digunakan untuk mengukur
suhu ruangan yaitu temperatur minimum dan maksimum.
b. Kelembaban
Kelembaban dapat diartikan sebagai perbandingan tekanan uap air di
udara terhadap tekanan uap air jenuh pada suhu dan tekanan udara
tertentu. Kelembaban dapat juga diartikan sebagai banyaknya uap air di
udara. Kelembaban biasanya dinyatakan dalam "persen Relatif Humidity (%

VEDCA – Pengujian Mutu 24


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

RH/ persentase kelembaban relatif )". Angka kelembaban relatif berkisar


antara 0-100%. Angka kelembaban relatif 0% berarti udara sangat keying
atau tidak mengandung uap air. Sedangkan RH 1000/o berarti udara jenuh
dengan uap air, dimana akan terjadi titik-titik air (pengembunan).
Faktor kelembaban sangat penting diperhatikan, karena berhubungan erat
dengan pengaruhnya terhadap zat-zat higroskopis. Bahan kimia
higroskopis sangat mudah menyerap uap air dari udara, juga dapat terjadi
reaksi hidrasi eksotermis yang akan menimbulkan pemanasan ruangan.
Kontrol terhadap kelembaban ruang penyimpanan penting dilakukan untuk
mencegah kerugian-kerugian yang tidak diinginkan. Ada beberapa alat
pengukur kelembaban yang dapat digunakan seperti higrometer,
termohigrometer atau termometer bola basah dan bola kering.
c. Interaksi dengan Wadah
Bahan kimia tertentu dapat berinteraksi dengan kemasan / wadah sehingga
dapat merusak wadah sampai akhirnya menyebabkan kebocoran.
Kebocoran bahan kimia terutama yang berbahaya dapat menimbulkan
kecelakaan seperti ledakan, kebakaran, dan melukai tubuh. Contohnya
wadah yang terbuat dari bahan besi / logam, sebaiknya tidak digunakan
untuk menyimpan bahan kimia yang bersifat korosif (asam trikhloro asetat,
asam asetat, asam klorida) karena akan terjadi peristiwa karatan / korosi
sehingga akan merusak wadah.
d. Interaksi antar Bahan Kimia
Selama penyimpanan, bahan kimia dapat berinteraksi dengan bahan kimia
lain. Interaksi tersebut selain dapat mengubah karakteristik bahan kimia
yang bersangkutan juga dapat menimbulkan bahaya yang tidak diinginkan.
Contohnya interaksi antara bahan kimia yang bersifat oksidator dengan
bahan kimia yang mudah terbakar dapat menimbulkan terjadinya
kebakaran, sehingga dalam penyimpanannya harus terpisah.

C. Tugas- tugas
1. Penguasaan konsep
• Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang membersihkan dan
membebaskan area kerja dari gangguan.
• Jelaskan jenis-jenis bahaya di area kerja yang anda kenal!
• Jelaskan penerapan standar kesehatan pribadi di tempat kerja!

VEDCA – Pengujian Mutu 25


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Jelaskan bagaimana cara mengendalikan titik-titik bahaya diarea


kerja?
.
3. Mengenal fakta
• Melakukan observasi. Peserta melakukan observasi dikoordinir oleh
widyaiswara, kegiatan observasi ke laboratorium pengujian dalam
menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya
dengan aman.
• Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat yang berbeda.
• Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana laboratorium
pengujian mengikuti menyimpan, mengumpulkan dan membuang
bahan berbahaya dengan aman. Dari hasil observasi ini selanjutnya
merumuskan kegiatan apa yang dilakukan laboratorium pengujian
dan mampu memberikan konstribusi secara positif tetapi belum ada
pada konsep dasar, mengidentifikasi apa yang ada pada konsep
dasar tapi belum dilakukan oleh laboratorium pengujian dan bila
dilakukan akan mampu memberikan konstribusi dalam meningkatkan
kemampuan penerapan K3. Saran apa yang bisa diberikan untuk
memperbaiki kegiatan menyimpan, mengumpulkan dan membuang
bahan berbahaya dengan aman.
• Kegiatan mengenal fakta ini dapat dilakukan sekaligus untuk sub
kompetensi/kompetensi dasar menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman, menyimpan,
mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman,
merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif, mengikuti
prosedur pengendalian bahaya untuk memperkecil dampak terhadap
lingkungan.
c. Merefleksikan.
Setelah peserta diklat melakukan penguasaan konsep dan mengenal
fakta, selanjutnya peserta melakukan refleksi bagaimana menyimpan,
mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman
d. Melakukan analisis dan sintesis
• Analisis daya dukung. Peserta diklat melakukan kegiatan analisis
terhadap daya dukung yang tersedia di tempat praktik untuk
mengetahui kesesuaian dalam kegiatan menyimpan, mengumpulkan

VEDCA – Pengujian Mutu 26


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

dan membuang bahan berbahaya dengan aman. Kegiatan ini


dilakukan berkelompok.
• Sintesis. Peserta diklat melakukan kegiatan sintesis terhadap hasil
refleksi mengikuti kegiatan dan instruksi kerja yang ada, yang
ditujukan untuk menjaga lingkungan kerja/ laboratorium yang aman.
dan hasil analisis terhadap tingkat kesesuaian daya dukung. Apabila
terdapat ketidaksesuaian terhadap daya dukung, peserta diklat
melakukan rekonstruksi/modifikasi terhadap hasil refleksi dalam
kegiatan menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan
berbahaya dengan aman. Kegiatan rekonstruksi ini tetap
memperhatikan parameter persyaratan yang diperlukan.
e. Menyusun dan melaksanakan rencana kerja
• Peserta diklat secara berkelompok menyusun/membuat alternatif-
alternatif rencana mengikuti menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman, rencana kerja/proposal
memuat metode mengikuti menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman, kriteria keberhasilan,
waktu pencapaian dan jadwal kegiatan serta pembagian tugas
kelompok.
• Pengambilan keputusan/menetapkan rencana kerja.
Secara berkelompok peserta diklat mengambil
keputusan/menetapkan alternatif rencana menyimpan,
mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman.
yang akan dilaksanakan dengan memperhatikan daya dukung dan
persyaratan teknis dalam menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman. Apabila ada kesulitan
peserta dapat mendiskusikan dengan fasilitator.
• Penetapan peran masing-masing individu dalam kelompok.
Kelompok menyusun pembagian tugas dan menentukan peran
setiap anggota kelompok.
• Melaksanakan rencana kerja, peserta diklat melakukan menyimpan,
mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman,
mengacu pada rencana kerja menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman yang telah disepakati.

VEDCA – Pengujian Mutu 27


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Proses pengamatan dan pencatatan, peserta diklat melakuka


pengamatan dan pencatatan data kegiatan mengikuti kegiatan
menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya
dengan aman. Lembar pengamatan disiapkan peserta diklat setelah
mendapat persetujuan fasilitator.
• Evaluasi dan diskusi terhadap hasil kegiatan.
Peserta diklat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan
kegiatan dan pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam
perencanaan.
• Peserta diklat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan
pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
• Peserta diklat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan
hasilnya dibandingkan dengan rancangan kerja dan konsep-konsep
yang telah dirumuskan sebelumnya.
• Proses penyusunan kesimpulan dan memberikan umpan balik.
Peserta secara berkelompok menyusun umpan balik/rekomendasi
terhadap metode menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan
berbahaya dengan aman untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Perumusan umpan balik ini juga harus mempertimbangkan dasar
teori, fakta dan kondisi hasil kerja.

D. Tes Formatif
1. Informasi apa saja yang secara umum terdapat dalam label/ kemasan
bahan kimia ?
2. Sebutkan simbol-simbol bahan kimia yang biasanya terdapat dalam
kemasan bahan kimia !
3. Apa yang dimaksud dengan kode R dan kode S pada label/ kemasan
bahan kimia ! berikan contohnya !
4. Apa yang dimaksud dengan bahan kimia incompatible ? berikan
contohnya !
5. Bagaimana syarat penyimpanan bahan kimia yang mempunyai sifat :
a. Beracun
b. Mudah terbakar
c. Korosif
d. Mudah meledak

VEDCA – Pengujian Mutu 28


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

6. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi bahan kimia selama


penyimpanan
E. Daftar evidence of learning yang harus dikumpulkan
• Hasil perumusan penguasaan konsep dan tugas-tugas diskusi, presentasi
dan hasil perumusan tentang menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman.
• Hasil observasi mengenai fakta di laboratorium pengujian tentang
menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan
aman.
• Hasil refleksi tentang persiapan menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman.
• Hasil analisis menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan
berbahaya dengan aman.
• Hasil sintesis tentang menyimpan, mengumpulkan dan membuang bahan
berbahaya dengan aman.
• Hasil penyusunan rencana kegiatan (berupa rencana kerja/proposal
implementasi) tentang menyimpan, mengumpulkan dan membuang
bahan berbahaya dengan aman.
• Hasil pengamatan/recording tentang menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman.
• Hasil evaluasi ketercapaian tentang menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman.
• Kesimpulan dan rekomendasi/umpan balik tentang menyimpan,
mengumpulkan dan membuang bahan berbahaya dengan aman.

Kompetensi Dasar :
Merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.

A. Tujuan Antara
Setelah mempelajari kompetensi ini peserta diklat mampu :
Mencegah, merespon dan menanggulangi terjadinya kecelakaan dan
keadaan darurat didalam laoboratorium.

VEDCA – Pengujian Mutu 29


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

B. Materi : Pencegahan dan Penanggulangan Kecelakaan dan Keadaan


Darurat di Laboratorium
Beberapa hal yang dapat kita gunakan sebagai pedoman untuk pencegahan
dan penanggulangan keadaan darurat adalah sebagai berikut :

1. Menggunakan Akal Sehat


Hampir semua kewaspadaan atau kehati-hatian kerja di laboratorium
(yang dimaksudkan untuk keselamatan kerja), pada kenyataannya tidak
lebih dari penggunaan akal sehat. Perlu diingat, laboratorium bukanlah
tempat untuk bemain. Beberapa hal yang harus diperhatikan dan
dilakukan selama bekerja di laboratorium, yang didasarkan pada akal
sehat tersebut, adalah:
• Jangan bekerja sendirian di dalam laboratorium.
• Jangan melakukan eksperimen yang diluar ketentuan.
• Jangan membaui (mencium), menghirup, atau merasakan bahan-
bahan kimia, (dan jangan pula rnemipetnya dengan menggunakan
mulut).
• Bersihkan setiap bahan kimia yang tercecer. Gunakan air yang cukup
untuk menghilangkan/membersihkan ceceran asam atau basa.
Netralkan setiap ceceran asam atau basa dengan sodium bikarbonat
(NaHC03) atau larutan asam asetat encer secara berulang-ulang.
• Jangan menempatkan bahan kimia berbahaya dalam tempat sampah,
petugas sampah dapat terluka atau sakit. Sebagai gantinya, buang di
tempat yang dirancang khusus sebagai tempat buangan bahan kimia.
• Kenakan pakaian kerja yang sesuai. Pakaian dari bahan katun, baju
berlengan pendek serta memakai jas laboratorium yang terbuat dari
katun ataupun penutup badan bagian depan dari karet adalah ideal.
Jangan mengenakan pakaian yang bagus. Cipratan bahan kimia
sering menimbulkan lubang-lubang kecil, noda atau bau yang tidak
sedap.
• Baju berlengan panjang beresiko mengenai/menyenggol
wadah/tabung gelas di meja kerja dan terkena api.
• Rambut panjang sebaiknya diikat kebelakang.
• Selalu kenakan sepatu, karena sering terjadi adanya pecahan gelas di
lantai laboratorium. Sandal tidaklah cukup aman, karena tidak
melindungi kaki dari cipratan bahan kimia.

VEDCA – Pengujian Mutu 30


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Seringlah mencuci tangan, dan selalu mencuci tangan sebelurn


meninggalkan laboratorium, meski hanya untuk ke kamar kecil.
• Tidak boleh merokok di dalam laboratorium, karena sangat berisiko
menimbulkan kebakaran.
• Jangan letakkan makanan dan minuman di dalam laboratorium,
karena beresiko terkontaminasi oleh bahan kimia.
• Pada saat awal kerja di suatu laboratorium, kenalilah lebih dulu
lingkungan yang ada. Dimana tempat pemadam api, kran air, tempat
obat-obatan (PPPK), dan hal-hal lain yang berkaitan dengan
keselamatan kerja.
2. Kacamata Pengaman
Cipratan bahan kimia ke mata dapat menyebabkan kebutaan, karenanya
perlu sekali mengenakan kacamata pengaman. Kacamata tersebut harus
selalu dikenakan, meski kita hanya mencatat sesuatu dalam buku catatan
laboratorium atau kita mencuci peralatan. Kita bisa saja menjadi korban
kekeliruan kerja dari orang lain yang sedang bekerja di dalam
laboratorium yang sama, sehingga terjadi cipratan bahan kimia ke mata
kita.
Lensa kontak sebaiknya tidak dikenakan, meski dilindungi dengan
kacamata pengaman. Hal ini dikarenakan lensa kontak tidak dapat segera
dilepas bila mata terkena bahan kimia. Orang yang akan memberi
pertolongan pertama dengan cara mencuci mata Anda, sangat mungkin
tidak menyadari bahwa Anda memakai lensa kontak. Selain itu lensa
kontak jenis "soft" dapat menyerap uap yang berbahaya. Bila lensa
kontak sangat diperlukan atau tidak dapat ditinggalkan, maka kenakan
kacamata pengaman dengan baik dan rapat. Juga sampaikan kepada
petugas laboratorium atau teman kerja lainnya bahwa Anda mengenakan
lensa kontak.
3. Bahan Kimia di Mata
Jika ada bahan kimia masuk ke mata, maka segeralah mata Anda
dibilas/dicuci dengan air mengalir (cukup kuat/deras) selama 15 menit.
Jangan coba-coba untuk menetralkan asam atau basa di mata. Secara
alamiah, kelopak mata akan segera menutup bila ada benda asing masuk
kedalam mata, karena itu harus dijaga agar kelopak mata tetap terbuka
sefama mata dibilas dengan air. Bila tidak ada fasilitas kran air khusus

VEDCA – Pengujian Mutu 31


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

pencuci mata, sebagai gantinya dapat menggunakan selang karet yang


dihubungkan kepada kran air. Jangan membiarkan tidak segera terbilas
air, bila mata Anda kemasukan bahan kimia! Waktu sangat penting.
Semakin cepat bahan kimia tercuci dan terbuang, semakin sedikit
kemungkinan terjadi kerusakan pada mata Anda.
Setelah mata Anda tercuci, perawatan atau tindakan secara medis sangat
dianjurkan. Untuk bahan kimia yang korosif, seperti Natrium Hidroksida
(NaOH), tindakan secara medis sangat penting!

4. Asam dan Basa


Untuk menghindari terciprat oleh asam, selalu lakukan pengenceran
dengan cara menuang asam ke dalam air (bukan sebaliknya, menuang
atau menambahkan air ke dalam asam). Asam sulfat (H2SO4) pekat
selalu ditambahkan/dituang ke dalam air dingin (sudah didinginkan di
almari es) atau air dengan pecahan es batu. Ini dikarenakan timbulnya
panas selama pencampuran. Jangan membuang asam ke saluran
pembuangan tanpa diencerkan dan atau menetralkan lebih dulu.
Demikian juga untuk basa kuat, larutkan dan encerkan lebih dulu sebelum
dibuang. Bila Anda terciprat/terkena asam atau basa kuat di kulit, cucilah
dengan dengan air dalam jumlah yang banyak (seperti dijelasKan dalam
sub-bab A.5). Asam khlorida (HCI) pekat dan asam asetat glasial
(CH3COOH) adalah bahan yang berbahaya, uapnya sangat iritatif. Kedua
asam (yang pekat) ini hanya boleh digunakan di ruang asam.
Natrium hidroksida ("lye", NaOH) adalah soda api. Dalam bentuk padat
(biasanya dalam bentuk pelet) bersifat mudah mencair (higroskopis),
sehingga pelet tersebut -akan membentuk suatu cairan pekat yang
berbahaya. Karena itu, NaOH pelet harus ditangani secara hati-hati.
Pecahan kecil pelet harus diambil (menggunakan kaus tangan plastik
atau menggunakan sesobek kertas) dan cuci dengan sejumlah air.
Amonia cair (amonium hidroksida, NH4OH) akan rnembebaskan uap
amonia (NH3), karenanya bila menggunakan bahan ini lakukan di ruang
asam.
5. Luka karena Bahan Kimia
Cipratan semua jenis bahan kimia (baik yang larut atau tidak larut dengan
air) pada kulit harus segera dicuci dengan sabun dan air mengalir.
Aktivitas bahan aktif dari sabun dan gerakan mekanis pada saat mencuci

VEDCA – Pengujian Mutu 32


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

akan menghilangkan hampir semua jenis bahan, meskipun bahan tidak


larut air. Jika bahan kimia berupa asam atau basa keras/kuat, cuci bagian
kulit yang terkena bahan kimia tersebut dengan air dingin dengan jumlah
air yang banyak. Asam kuat jika mengenai kulit akan menyebabkan
sengatan yang amat menyakitkan. Basa kuat biasanya tidak akan
menyebabkan rasa sakit, namun akan menyebabkan rusaknya jaringan
kulit. Harus selalu dicuci dengan baik bila selesai menggunakan basa
kuat.
Bila cipratan bahan kimia mengenai badan dalam luasan yang cukup
besar, segera bersihkan dengan menggunakan air mengalir (shower).
Jika bahan kimia tersebut bersifat korosif atau dapat meresap kedalam
kulit, pakaian yang terkena segera dilepas, sehingga kulit yang terkena
bisa segera dicuci.
6. Luka Bakar
Luka bakar ringan terkena labu, tabung, atau alat lain sejenis yang panas
dapat dikatakan hal yang jarang terjadi di Iaboratorium.Tindakan yang
perlu dilakukan bila hal itu terjadi adalah dengan merendamnya dalam air
dingin selama kurang lebih 5 - 10 menit. Larutan (lotion) penghilang rasa
sakit dapat digunakan setelahnya. Untuk mencegah luka bakar ringan
semacam itu, siapkan sepasang kaos tangan katun di lemari atari laci
kerja Anda di laboratorium, agar siap dikenakan bila Anda harus
menangani labu, tabung, atau alat lain sejenis yang panas.
Bila ada seseorang yang terluka bakar serius, seperti karena pakaiannya
terbakar, biasanya ia akan terguncang (shock). Ia sebaiknya direbahkan
(ditidurkan) di lantai dan jaga agar badannya tetap hangat dengan
menggunakan selimut atau penutup lainnya. Kemudian segera panggil
ambulan, dokter atau dibawa ke rumah sakit. Jangan cuci atau diberi
salep apapun pada luka bakar yang serius, kecuali untuk memadamkan
api atau menghilangkan bahan kimia berbahaya yang mengenainya.
Kompres dingin pada area yang terbakar dapat membantu
menghilangkan panas.
7. Tergores atau Teriris
Luka kecil karena tergores/tersayat pecahan alat gelas sering terjadi di
laboratorium. Luka tersebut segera diguyur dengan air dingin mengalir
hingga bersih, guna menghilangkan semua bahan kimia atau pecahan gelas

VEDCA – Pengujian Mutu 33


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

yang mungkin menempel. Plester atau perban yang kuat dapat digunakan
membantu menghentikan pendarahan.

Luka tergores/tersayat atau teriris yang cukup besar dan menyebabkan


pendarahan berat merupakan hal yang serius. Bila teriihat terguncang
(shock), orang yang terluka sebaiknya direbahkan (ditidurkan) di lantai
dan jaga agar badannya tetap hangat dengan menggunakan selimut atau
penutup lainnya. Plester atau perban (bisa menggunakan serbet/lap alat
yang bersih) di atas bagian yang terluka, selain itu, bagian yang terluka
sebaiknya ditinggikan letaknya. Segera panggil ambulan, dokter atau
dibawa ke rumah sakit.
8. Menghirup Bahan Beracun
Seseorang yang menghirup bahan/uap beracun atau yang menyebabkan
iritasi, segera dibawa ke udara segar dan bersih. Jika nafasnya terhenti,
segera lakukan pernafasan buatan dan segera panggil ambulan, dokter atau
dibawa ke rumah sakit.

9. Menghindari Kebakaran
Pada umumnya, kebakaran dilaboratorium dapat dicegah dengan
menggunakan akal sehat. Sebelum menyalakan korek api atau
membakar sesuatu, periksa lokasi sekitarnya ada tidaknya pelarut (solven
atau bahan lain yang mudah terbakar. Uap pelarut memiliki bobot lebih
besar daripada udara, sehingga dapat menjalar dan berada dipermukaan
meja, saluran, lubang-lubang, atau cekungan disekitarnya. Pucuk korek
api yang panas misal setelah dinyalakan) atau benda lain yang panas
sebaiknya tidak diletakkan atau dibuang di keranjang sampah, karena
beberapa pelarut memiliki titik nyala yang sangat rendah. Sebaliknya,
jangan letakkan pelarut (atau kertas saring yang telah terendam pelarut)
di keranjang sampah. Beberapa uap pelarut yang memiliki bobot besar
dapat tetap tinggal disitu selama beberapa hari.
Bila menggunakan pelarut yang mudah terbakar, semua nyala api di
sekitarnya sebaiknya dimatikan lebih dulu. Botol wadah pelarut sebaiknya
selalu dalam keadaan tertutup bila nyata-nyata tidak sedang digunakan.
Pelarut mudah terbakar sebaiknya tidak dipanaskan (untuk pemisahan
dari suatu campuran) selain di ruang asam (fume hood). Kertas saring
yang telah terendam pelarut sebaiknya diletakkan di ruang asam agar

VEDCA – Pengujian Mutu 34


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

kering, sebelum dibuang ke tempat sampah. Cipratan pelarut jangan


dibiarkan menguap begitu saja, sebaiknya semua nyala api segera
dimatikan dan pelarut segera dibersihkan dengan kertas tisu, yang
kemudian letakkan di ruang asam agar mengering.
Pelarut jangan dibuang di saluran pembuangan air. Pelarut yang sangat
mudah terbakar jangan dibuang di bak pembuangan air, demikian pula
untuk pelarut lain dalam jumlah besar. Pelarut yang larut air dan dalam
jumlah kecil atau pelarut yang tidak begitu berbahaya (misal ethanol)
dapat dibuang dan diguyur dengan air di bak pembuangan air.
Pelarut lain, sebaiknya dibuang dengan cara dimasukkan kedalam wadah
khusus untuk pembuangan.
10. Memadamkan Api
Bila terjadi kebakaran kecil, beritahu orang-orang di sekitar Anda untuk
secara meninggalkan tempat/atau keluar ruangan, dan beritahu/lapor
instruktor atau penanggung jawab laboratorium. Api yang menyala dalam
labu atau beaker dapat dipadamkan dengan cara menutup labu atau
beaker tersebut dengan gelas piala atau beaker yang lebih besar.
(Upayakan untuk tidak menjatuhkan labu yang terbakar - hal ini akan
memercikkan cairan yang terbakar dan pecahan gelas ke sekitarnya).
Semua yang membara di sekitar api harus dipadamkan, semua wadah
yang berisi bahan mudah terbakar harus dipindahkan ke tempat yang
aman guna menghindari penyebaran api.

Pada saat terjadi kebakaran, laboratorium harus segera terbebas dari


orang. Pada saat meminta orang keluar, akan lebih baik mengatakannya
dengan keras "Tinggalkan ruangan!", daripada meneriakkan "
Kebakaran!" dengan suara yang panik. Bila kita mendengar seruan
seperti itu, jangan berdiri dan berputar-putar untuk mencari tahu ada apa.
Hentikan pekerjaan Anda, apapun yang Anda kerjakan, dan keluar segera
melalui pintu keluar yang terdekat.
Banyak pelarut organik mengambang di permukaan air, karenanya,
sangat dimungkinkan air justru akan menyebarkan api. Beberapa bahan,
seperti logam sodium, akan meledak bila kontak dengan air. Karena
alasan ini, sebaiknya air jangan digunakan sebagai pemadam api didalam
laboratorium. Sebagai gantinya, gunakan karbondioksida (COZ) atau
bubuk pemadam api.

VEDCA – Pengujian Mutu 35


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Bila pemadam api (fire extinguisher) diperlukan, hal terbaik yang perlu
dilakukan adalah mengosongkan laboratorium dan beri kesempatan
instruktor laboratorium untuk memadamkan api menggunakan pemadam
api tersebut. Meski begitu, Anda sebaiknya mempelajari dan mengenali
lokasi, klasifikasi, dan cara pengoperasian pemadam api pada saat hari
pertama Anda belajar/bekerja di laboratorium. Temukan kedudukan kawat
penyegel (yang menandakan bahwa pemadam api masih penuh), dan
juga kunci pembuka bila kita akan menggunakan pemadam api tersebut.
Pada saat digunakan, pemadam api biasanya akan menyemprotkan isinya
dengan keras. Untuk menghindari menghempas bahan atau cairan mudah
terbakar dan memecah gelas di sekitar ruangan, arahkan semprotan ke
dasar/dudukan atau sisi-sisi barang yang terbakar. Tidak secara langsung
menyemprot apinya. Sekali pemadam api digunakan, maka ia perlu diisi
kembali - sebelum dapat digunakan kembali. Karena itu setiap selesai
menggunakan pemadam api, harus segera melapor kepada instruktor atau
penanggung jawab laboratorium.

11. Memadamkan Api yang Membakar Pakaian


Jika pakaian Anda terbakar, jalan (jangan lari) ke kran air terdekat, jika
tersedia kran air. Bila tidak ada kran air, rebahlah ke lantai, kemudian
bergulung-gulunglah untuk mematikan api, sambil meminta pertolongan
orang lain.
Pakaian yang terbakar dapat dipadamkan dengan cara
mengenakan/memakai 'selimut api' (fire blanket), kemudian menggulung -
gulung. Gerakan mengulung-gulung sangat penting, karena api masih
dapat tetap menyala di bawah selimut api. Lap basah juga dapat
digunakan sebagai pemadam api. Bila orang yang memakai pakaian
terbakar tersebut mengalami luka bakar, maka segeralah ia diperlakukan
sebagaimana orang yang mengalami shock (jaga agar tetap hangat dan
tenang)
12. Menangani Pelarut
Pelarut organik 'memberi' bahaya ganda, dapat menyebabkan terbakar
dan dapat menyebabkan keracunan (keduanya dalam jangka pendek dan
kumulatif). Diethyl ether (CH3CH2OCH2CH3) dan petroleum ether

VEDCA – Pengujian Mutu 36


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

(campuran alkana) keduanya sangat mudah menguap (memiliki titik didih


yang rendah) dan sangat mudah terbakar. Kedua pelarut ini jangan
digunakan di tempat yang sekitarnya ada api, dan sebaiknya dididihkan
hanya di ruang asam. Karbon disulfida (CS2), yang sekarang relatif
jarang digunakan di laboratorium, memiliki bahaya yang unik. Titik
bakarnya kurang dari 100°C (titik didih air), karenanya bahan tersebut
dapat terbakar bila ia kontak dengan uap dalam pipa uap. Benzene
(C6H6) adalah bahan mudah terbakar dan juga sangat beracun. Bahan ini
dapat terserap melalui kulit, dan terkena bahan ini dalam jangka panjang
dapat menyebabkan sakit kanker. Benzene sebaiknya digunakan sebagai
pelarut hanya apabila benar-benar dibutuhkan. Bila menggunakan harus
benar-benar hati-hati, hindari terhirup, terciprat ke kulit, atau api.
Hampir semua hidrokarbon halogen, seperti karbon tetrakhlorida (CCl4)
dan khloroform (CHCI3), adalah beracun, beberapa diataranya
karsinogenik. Hidrokarbon halogen cenderung terakumulasi dalam
jaringan lemak. Dalam dosis kecil yang berulang-ulang, bahan tersebut
dapat secara kronis meracuni dan merusak hati dan ginjal. Bila
menggunakan karbon tetrakhlorida dan khloroform, sebaiknya dilakukan
di ruang asam. Pelarut dichloromethane (methylene chloride, CH2CI2),
meskipun terkategori sebagai narkotika, namun tidak beracun sekuat
karbon tetrakhlorida dan khloroform.
Karena bahaya yang dimiliki oleh semua pelarut organik, maka kepada
bahan tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati. Uap pelarut organik
jangan sampai terhirup, kemudian pelarutnya itu sendiri jangan mengenai
kulit. Cucilah segera semua percikan pelarut yang mengenai kulit
menggunakan sabun dan air. Jaga agar tutup wadah (botol) tertutup
rapat. Peringatan untuk menghindari api harus selaiu diperhatikan.

C. Tugas- tugas
1. Penguasaan konsep
1. Pada saat awal kerja di suatu laboratorium, kenalilah lebih dulu
lingkungan yang ada. Dimana tempat pemadam api, kran air, tempat
obat-obatan (PPPK), dan hal-hal lain yang berkaitan dengan
keselamatan kerja. Jika Anda tidak mempedulikan terhadap hal=hal
tersebut dampak apa yang kemungkinan akan terjadi.

VEDCA – Pengujian Mutu 37


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

2. Apabila Anda sedang bekerja di Laboratorium tiba-tiba terjadi


kecelakaan, misal kebakaran. Apa yang pertama kali anda lakukan
untuk penanggulangan kecelakaan tersebut !

2. Mengenal fakta
• Melakukan observasi. Peserta melakukan observasi dikoordinir oleh
widyaiswara, kegiatan observasi ke laboratorium pengujian dalam
Mencegah, merespon dan menanggulangi terjadinya kecelakaan dan
keadaan darurat didalam laboratorium.
• Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat yang berbeda.
• Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana laboratorium
pengujian mencegah, merespon dan menanggulangi terjadinya
kecelakaan dan keadaan darurat didalam laoboratorium.
• Dari hasil observasi ini selanjutnya merumuskan kegiatan apa yang
dilakukan laboratorium pengujian dan mampu memberikan konstribusi
secara positif tetapi belum ada pada konsep dasar, mengidentifikasi
apa yang ada pada konsep dasar tapi belum dilakukan oleh
laboratorium pengujian dan bila dilakukan akan mampu memberikan
konstribusi dalam meningkatkan kemampuan penerapan K3. Saran
apa yang bisa diberikan untuk memperbaiki kegiatan Mencegah,
merespon dan menanggulangi terjadinya kecelakaan dan keadaan
darurat didalam laoboratorium.
• Kegiatan mengenal fakta ini dapat dilakukan sekaligus untuk sub
kompetensi/kompetensi dasar, menyimpan, mengumpulkan dan
membuang bahan berbahaya dengan aman, merespon kecelakaan
dan keadaan darurat secara efektif, mengikuti prosedur pengendalian
bahaya untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan.

3. Merefleksikan.
Setelah peserta diklat melakukan penguasaan konsep dan mengenal
fakta, selanjutnya peserta melakukan refleksi bagaimana merespon
kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.

VEDCA – Pengujian Mutu 38


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

4. Melakukan analisis dan sintesis


• Analisis daya dukung. Peserta diklat melakukan kegiatan analisis
terhadap daya dukung yang tersedia di tempat praktik untuk
mengetahui kesesuaian dalam kegiatan merespon kecelakaan dan
keadaan darurat secara efektif. Kegiatan ini dilakukan berkelompok.
• Sintesis. Peserta diklat melakukan kegiatan sintesis terhadap hasil
refleksi merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif dan
hasil analisis terhadap tingkat kesesuaian daya dukung. Apabila
terdapat ketidaksesuaian terhadap daya dukung, peserta diklat
melakukan rekonstruksi/modifikasi terhadap hasil refleksi dalam
kegiatan merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.
Kegiatan rekonstruksi ini tetap memperhatikan parameter persyaratan
yang diperlukan.

5. Menyusun dan melaksanakan rencana kerja


• Peserta diklat secara berkelompok menyusun/membuat alternatif-
alternatif rencana merespon kecelakaan dan keadaan darurat
secara efektif, rencana kerja/proposal memuat metode merespon
kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif., kriteria
keberhasilan, waktu pencapaian dan jadwal kegiatan serta
pembagian tugas kelompok.
• Pengambilan keputusan/menetapkan rencana kerja.
• Secara berkelompok peserta diklat mengambil
keputusan/menetapkan alternatif rencana merespon kecelakaan
dan keadaan darurat secara efektif yang akan dilaksanakan
dengan memperhatikan daya dukung dan persyaratan teknis
merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.. Apabila
ada kesulitan peserta dapat mendiskusikan dengan fasilitator.
• Penetapan peran masing-masing individu dalam kelompok.
Kelompok menyusun pembagian tugas dan menentukan peran
setiap anggota kelompok.
• Melaksanakan rencana kerja, peserta diklat merespon kecelakaan
dan keadaan darurat secara efektif mengacu pada rencana kerja
merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.
• yang telah disepakati.

VEDCA – Pengujian Mutu 39


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Proses pengamatan dan pencatatan, peserta diklat melakuka


pengamatan dan pencatatan data kegiatan merespon kecelakaan
dan keadaan darurat secara efektif. Lembar pengamatan disiapkan
peserta diklat setelah mendapat persetujuan fasilitator.
• Evaluasi dan diskusi terhadap hasil kegiatan.
Peserta diklat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan
kegiatan dan pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam
perencanaan.
• Peserta diklat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan
hasilnya dibandingkan dengan rancangan kerja dan konsep-konsep
yang telah dirumuskan sebelumnya.
• Proses penyusunan kesimpulan dan memberikan umpan balik.
Peserta secara berkelompok menyusun umpan balik/rekomendasi
terhadap metode merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara
efektif untuk mendapatkan hasil yang optimal. Perumusan umpan
balik ini juga harus mempertimbangkan dasar teori, fakta dan kondisi
hasil kerja.

D. Tes Formatif
1. Bagaimana cara pencegahan/ penanggulangan kecelakaan dan keadaan
darurat yang paling efektif yang dapat dilakukan sebelum memulai suatu
pekerjaan didalam laboratorium ?
2. Jelaskan bagaimana cara penanggulangan kecelakaan:
a. Luka bakar
• Tergores/ teriris
• Menghirup bahan kimia beracun
3. Jelaskan bagaimana cara memadamkan api jika terjadi kebakaran
didalam laboratorium !

E.Daftar evidence of learning yang harus dikumpulkan


• Hasil perumusan penguasaan konsep dan tugas-tugas diskusi, presentasi
dan hasil perumusan tentang merespon kecelakaan dan keadaan darurat
secara efektif.
• Hasil observasi mengenai fakta di laboratorium pengujian tentang
merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.

VEDCA – Pengujian Mutu 40


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

• Hasil refleksi tentang persiapan merespon kecelakaan dan keadaan


darurat secara efektif.
• Hasil analisis merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara efektif.
• Hasil sintesis tentang merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara
efektif.
• Hasil penyusunan rencana kegiatan (berupa rencana kerja/proposal
implementasi) tentang merespon kecelakaan dan keadaan darurat secara
efektif..
• Hasil pengamatan/recording tentang merespon kecelakaan dan keadaan
darurat secara efektif..
• Hasil evaluasi ketercapaian tentang merespon kecelakaan dan keadaan
darurat secara efektif.
• Kesimpulan dan rekomendasi/umpan balik tentang merespon kecelakaan
dan keadaan darurat secara efektif.

Kompetensi Dasar :
Mengikuti prosedur pengendalian bahaya untuk memperkecil dampak
terhadap lingkungan

A. Tujuan Antara
Setelah mempelajari kompetensi ini peserta diklat mampu :
Mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan
sesuai dengan prosedur.

B. Materi : Pengendalian Bahaya untuk Memperkecil Dampak Terhadap


Lingkungan

Setelah dilakukan kegiatan-kegiatan laboratorium biasanya terdapat bahan kimia


sisa berbentuk cair, padat, dan pasta yang perlu dibuang. Jika bahan yang
dibuang mengandung asam atau basa yang dapat merusak, maka hendaknya
diencerkan atau dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang. pipa-pipa
pembuangan hendaknya dibuat dari bahan yang anti korosi dan tahan terhadap
pelarut-pelarut organik. Bahan buangan padat berupa endapan yang dihasilkan
dari suatu reaksi dan kertas-kertas saring tidak boleh dibuang di dalam saluran
pembuangan zat cair karena dapat menyumbat pipa pembuangan. Bak

VEDCA – Pengujian Mutu 41


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

pembuangan sisa bahan kimia merupakan sarana penting untuk pembuangan


bahan kimia ke luar lingkungan laboratorium, sebagaimana almari asam.
Ditinjau dari aspek lingkungan, pembuangan bahan kimia beracun akan sangat
berbahaya bagi masyarakat sekeliling dan lingkungannya, oleh karena itu air
buangan laboratorium hendaknya dialirkan ke tempat penampungan khusus,
jangan dialirkan ke saluran umum seperti sungai atau selokan dekat sumber air
dan danau. Hal ini perlu diperhatikan mengingat kebanyakan laboratorium
berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat, yang memanfaatkan air sungai
untuk mencuci, mandi dan kegiatan pertanian. Bekas botol reagen jangan
dibuang, sebaiknya dibersihkan dan digunakan ulang, atau dikumpulkan untuk
diberikan kepada pemulung, atau dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
atau ditimbun dalam tempat khusus yang jauh dari sumber air. Pelarut-pelarut
organik seperti benzena dan kloroform tidak boleh dibuang langsung, melainkan
dikumpulkan dan diproses terlebih dahulu. Konsultasi mengenai penanganan
sisa bahan kimia dapat dilakukan dengan menghubungi Badan Pengendali
Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda.).

1. Macam-macam Cara Pembuangan Bahan Kimia dari Laboratorium


Cara pembuangan bahan kimia sisa bergantung dari jenis bahan kimia itu
sendiri. Cara pembuangan bahan kimia tersebut meliputi: penetraian dan
pengendapan, pembakaran dalam insenerator dan penimbunan /
pengumpulan di tempat khusus.
a. Penetralan dan pengendapan
Bahan kimia yang bersifat asam atau basa, sebelum dibuang sebaiknya
dinetralkan terlebih dahulu. Sisa-sisa asam sulfat (H9SO4), asam klorida
(HCI), dan asam nitrat (HNO3) dapat dinetralkan dengan air kapur dan
dilakukan pengecekan pH-nya dengan menggunakan kertas pH. Sisa
bahan kimia yang bersifat basa seperti NaOH dan amonia dinetralkan
dengan asam asetat atau asam karbonat. Setelah netral, bahan kimia
dapat dibuang dalam bak pembuangan yang dihubungkan dengan septik
tank. Bahan kimia sisa yang mengandung zatzat logam berat yang
beracun seperti Pb, Hg, As dan Cd dilakukan pengendapan terlebih
dahulu sebelum dibuang.
Endapan yang terkumpul kemudian dibakar di dalarn insenerator atau
dibawa ke tempat pengolahan limbah berbahaya dan beracun (B3).

VEDCA – Pengujian Mutu 42


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Sedangkan cairan bagian atas dinetralkan terlebih dulu sebelum dibuang


ke bak pembuangan atau wastafel yang dihubungkan dengan septik tank.
b. Pembakaran dalam insenerator
Untuk zat-zat yang toksik atau zat-zat yang apabila dibakar di tempat
terbuka dapat menghasilkan zat-zat toksik, maka pembakaran akan lebih
aman apabila dilakukan di dalam insenerator. Peralatan tersebut secara
otomatis dapat membakar pada suhu ± 1000°C sehingga terjadi
pembakaran sempurna dan dilengkapi dengan penyaring (filter) gas.
c. Penimbunan pengumpulan di tempat tertentu
Zat-zat buangan padat yang reaktif atau beracun dapat ditimbun di dalam
tanah dengan perlindungan tertentu. Perlindungan dimaksudkan agar zat-
zat beracun tidak merembes ke dalam sumur atau mata air, dan zat-zat
eksplosif tidak menimbulkan bahaya ketika dilakukan pengolahan tanah di
masa datang. Tempat penimbunan harus jauh dari sumber air (sumur,
sungai, danau), terhindar dari sinar matahari, dan dibuat dari beton
supaya tidak terjadi perembesan serta diberi tanda bahaya yang jelas.

2. Prosedur Pembuangan Beberapa Bahan Kimia di Laboratorium


Pemusnahan bahan kimia dalam jumlah banyak memerlukan cara
penanganan tersendiri. Saat menangani pembuangan atau pemusnahan
bahan kimia perlu memakai alat pelindung seperti sarong tangan, masker,
pakaian laboratorium, clan pelindung mata. Berikut ini diuraikan cara
pembuangan atau pemusnahan bahan kimia tertentu seperti pada tabel 7.
Sebelum dibuang sisa bahan kimia di industri / perusahaan diperlakukan
terlebih dahulu. Umumnya sisa bahan kimia bercampur dengan limbah
lainnya, oleh karena itu perlakuan yang diberikan disesuaikan dengan limbah
lainnya tersebut. Diantara perlakuan yang diberikan adalah netralisasi,
koagulasi, presipitasi, dan pengendapan. Contoh perlakuan koagulasi,
presipitasi, dan pertukaran ion untuk bahan kimia Cu; reduksi, presipitasi,
pertukaran ion dan elektro kimia untuk bahan kimia chromium; presipitasi dan
pertukaran ion untuk bahan kimia phosphor dan seng.
Fosfat terlarut direduksi dengan bahan pengendap ferisulfat, beberapa
calsium, magnisium, dan silica dapat dihilangkan dengan CaOH, beberapa
logam berat seperti cadmium, chromium, coper, nikel, dan perak dapat
dihilangkan dengan kapur (lime). Sisa-sisa klor dapat diambil dengan

VEDCA – Pengujian Mutu 43


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

menggunakan karbon aktif dan beberapa jenis sulfur seperti asam sulfida,
sulfit, sulfat, thiosulfat, sulfurdioksida dapat dilakukan pengendapan dan
oksidasi. Sisa-sisa klor dapat diambil dengan menggunakan karbon aktif dan
beberapa jenis sulfur seperti asam sulfida, sulfit, sulfat, thiosulfat,
sulfurdioksida dapat dilakukan pengendapan dan oksidasi.

No Jenis Contoh Prosedur Pembuangan


1. Asam Asam klorida, asam Tambahkan pada asam sejumlah besar campuran NaOH
anorganik fluoarida, asam nitrat, dan Ca(OH)2 supaya netral. Buang campuran tersebut ke
asam fosfat dan dalam tempat pembuangan dengan air kran dalam
asam sulfat keadaan sedang mengalir.
2. Basa Anhidrat, kalsium Tuangkan dalam bak dan encerkan dengan air serta
alkali dan hidroksida, natrium netralkan. Buang ke saluran pembuangan air biasa
amonia hidroksida
3. Bahan Amonium dikromat, Tambah jumlah larutan pereduksi (hipo, bisulfit, atau
kimia dan amonium ferosulfat yang ditambah H2SO4).Biarkan reaksi selesai
oksidator perklorat, dan netralkan dengan NaOH atau HCI bergantung pH-
nya. Buang dengan banyak air.
4. Bahan Natrium bisulfit, Reduktor gas (seperti S02): Alirkan ke dalam larutan
kimia natrium nitrit, natrium NaOH atau larutan kalsium hipoklorit. Reduktor padat:
reduktor sulfit, dan belerang Campur dengan NaOH (1:1), tambah air sampai
oksida membentuk slurry. Tambahkan kalsium hipoklorit dan air
serta biarkan seiama 2 jam. Netralkan sebelum dibuang
5. Sianida Sianida dan nitrat Sianida: tambahkan bahan ke dalam larutan basa dan
dan kalsium hipoklorit berlebih. Biarkan 24 jam dan buang ke
nitrat dalam pembuangan air. Nitrat: tambahkan ke dalam
NaOH-alkohol untuk membentuk sianat, setelah 1 jam,
uapkan alkohol. Tambah ke dalamresidu sianat sejumlah
larutan basa kalsium hipoklorit berlebih. Setelah 24 jam
buang pada bak pembuangan.
6. Asam Asam asetat, asam Bahan berupa cair atau padat dilarutkan ke dalam pelarut
organik benzoat, asam nitrat, organik yang mudah terbakar. Bakar dalam insenerator
dan asam formiat,
7. Halida Asetil bromide, asetil Campurkan dengan NaHCO3 dalam wadah gelas atau
asam klorida, dan benzoil plastik dan tambahkan air dalam jumlah banyak sambil

VEDCA – Pengujian Mutu 44


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

organik klorida diaduk. Buang ke dalam bak air diikuti dengan banyak air.
8. Alhehida Asetaldehida, Serap ke dalam absorbent, bakar secara terbuka atau
akrolein, dan dalam insenerator. Larutkan dalam aseton atau benzena,
benzaldehida, bakar dalam
insenerator.
9. Halida Aldrin, klordan, (1). Tuangkan ke dalam NaHCO3 atau campuran pasir
organik dieldrin, dan lindane dengan NaOH (90:10) aduk merata dan pinclahkan ke
dan dalam insenerator. (2). Larutkan ke dalam pelarut organik
senyawan mudah terbakar (aseton, benzena).
ya
10. Asam Asam benzena (1) Tuangkan ke dalam NaHCO3 berlebih. Campur dan
organik sulfonat, asam tambahkan air. Biarkan 24 jam setelah itu secara
tersubstitu kloroasetat, asam perlahan-lahan buang bersama sejumlah air, atau (2)
si trikloroasetat, dan Tuangkan ke dalam absorbent, Tutup dengan sisa kayu
asam fluoroasetat atau kertas, siram dengan alkohol bekas dan bakar, atau
(3) Larutkan dalam pelarut mudah terbakar atau sisa
alkohol. Bakar dalam insenerator.
11. Amin Dinitroanilin, endrin, (1) Dibakar langsung dalam insenerator dengan scrubber,
aromatik metil isosianat, dan atau (2) Campur dengan pelarut mudah terbakar (alkohol,
terhalogen nitrobenzene benzena) dan bakar dalam insenerator
asi
dan
senyawa
nitro
12 Senyawa Anilin, benzidine, dan Larutkan dalam pelarut mudah terbakar (alkohol, benzena)
amin piridine dan bakar dalam insenerator
aromatik
13. Fosfat Malation, metil 1) Bakar langsung ke dalam insenerator setelah
organik paration, paration, dicampurkan dengan pasir dan dibasahi dengan pelarut
dan dan tributilposfat organik yang mudah terbakar. (2) Campur dengan kertas
senyawa bekas can bakar dalam insenerator dengan scrubber
sejenis alkali.
14 Eter Anisole, etil eter, dan Larutkan dalam alkohol lebih tinggi (butil alkohol) benzena
metil eter atau petroleum eter. Bakar dalam insenerator
15. Hidrokarb Antrasena, benzena, Campurkan bahan berupa cairan dengan pelarut yang

VEDCA – Pengujian Mutu 45


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

on, toluene, dan metil lebih mudah terbakar. Dan bakar dalam insenerator.
alkohol akrilat Bahan berupa padatan dibakar bersama kertas dalam
dan insenerator. Atau bahan padat dilarutkan dalam pelarut
ester mudah terbakar dan dibakar dalam insenerator
Tabel 7. Prosedur Pembuangan beberapa Jenis Bahan Kimia

3. Sarana Pembuangan Sisa Bahan Kimia


Sarana pembuangan sisa bahan kimia cair di laboratorium dirancang secara
khusus. Sarana pembuangan tersebut terdiri dari tempat pencucian, saluran
pembuangan berupa pipa anti korosi dan pelarut organik, bak beton untuk
pengendapan berjumlah minimal dua dan tempat resapan. Sarana
pembuangan ini berbeda dengan sarana pembuangan umum yang dirancang
seperti sarana pencucian biasa yang hanya terdiri dari: tempat pencucian,
saluran atau pipa pembuangan, dan bak resapan. Karena kebanyakan
limbah cair mengandung sisa bahan kimia, maka sarana pembuangan yang
ada di laboratorium kimia dirancang secara khusus. Saluran atau pipa harus
anti korosi dan bahan terhadap pelarut organik sehingga digunakan jenis
paralon tertentu. Bak pengendapan minimal dua, karena jika pengendapan
pada bak pertama belum sempurna maka dilanjutkan pengendapan pada bak
kedua. Bak pengendapan ini harus berdinding beton supaya tidak terjadi
peresapan bahan-bahan kimia yang berbahaya ke dalam tanah. Sarana
pembuangan bahan kimia sisa lainnya adalah insenerator. Alat ini digunakan
untuk pembakaran sempurna karena dapat mencapai 1000°C dan dilengkapi
dengan filter penyaringan.

C. Tugas-tugas
1. Penguasaan konsep
Limbah cair dan padat dari aktivitas laboratorium harus dikendalikan agar
dampak pencemaran terhadap lingkungan dapat
ditekan/dikurangi.Bagaimana cara mengendalikannya agar konsep
tersebut dapat tercapai atau terpenuhi.

2. Mengenal fakta
Melakukan observasi. Peserta melakukan observasi dikoordinir oleh
widyaiswara, kegiatan observasi ke laboratorium pengujian dalam

VEDCA – Pengujian Mutu 46


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan


sesuai dengan prosedur.
• Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat yang berbeda.
Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana laboratorium
pengujian mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak
terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur. Dari hasil observasi ini
selanjutnya merumuskan kegiatan apa yang dilakukan laboratorium
pengujian dan mampu memberikan konstribusi secara positif tetapi
belum ada pada konsep dasar, mengidentifikasi apa yang ada pada
konsep dasar tapi belum dilakukan oleh laboratorium pengujian dan
bila dilakukan akan mampu memberikan konstribusi dalam
meningkatkan kemampuan penerapan K3. Saran apa yang bisa
diberikan untuk memperbaiki kegiatan Mengendalikan bahaya untuk
memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.
• Kegiatan mengenal fakta ini dapat dilakukan sekaligus untuk sub
kompetensi/kompetensi dasar, mengikuti prosedur pengendalian
bahaya untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan.

3. Merefleksikan.
Setelah peserta diklat melakukan penguasaan konsep dan mengenal
fakta, selanjutnya peserta melakukan refleksi bagaimana mengendalikan
bahaya untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan
prosedur
.
4. Melakukan analisis dan sintesis
Analisis daya dukung. Peserta diklat melakukan kegiatan analisis
terhadap daya dukung yang tersedia di tempat praktik untuk mengetahui
kesesuaian dalam kegiatan mengendalikan bahaya untuk memperkecil
dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur. Kegiatan ini
dilakukan berkelompok.
Sintesis. Peserta diklat melakukan kegiatan sintesis terhadap hasil
refleksi mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak terhadap
lingkungan sesuai dengan prosedur dan hasil analisis terhadap tingkat
kesesuaian daya dukung. Apabila terdapat ketidaksesuaian terhadap
daya dukung, peserta diklat melakukan rekonstruksi/modifikasi terhadap

VEDCA – Pengujian Mutu 47


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

hasil refleksi dalam kegiatan mengendalikan bahaya untuk memperkecil


dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur. Kegiatan
rekonstruksi ini tetap memperhatikan parameter persyaratan yang
diperlukan.

5. Menyusun dan melaksanakan rencana kerja


Peserta diklat secara berkelompok menyusun/membuat alternatif-
alternatif rencana Mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak
terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur, rencana kerja/proposal
memuat metode mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak
terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur, kriteria keberhasilan, waktu
pencapaian dan jadwal kegiatan serta pembagian tugas kelompok.
• Pengambilan keputusan/menetapkan rencana kerja.
Secara berkelompok peserta diklat mengambil
keputusan/menetapkan alternatif rencana mengendalikan bahaya
untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan
prosedur yang akan dilaksanakan dengan memperhatikan daya
dukung dan persyaratan teknis mengendalikan bahaya untuk
memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.
Apabila ada kesulitan peserta dapat mendiskusikan dengan
fasilitator.
• Penetapan peran masing-masing individu dalam kelompok.
Kelompok menyusun pembagian tugas dan menentukan peran
setiap anggota kelompok.
• Melaksanakan rencana kerja, peserta diklat merespon kecelakaan
dan keadaan darurat secara efektif mengacu pada rencana kerja
mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak terhadap
lingkungan sesuai dengan prosedur.
• Proses pengamatan dan pencatatan, peserta diklat melakuka
pengamatan dan pencatatan data kegiatan mengendalikan bahaya
untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan
prosedur. Lembar pengamatan disiapkan peserta diklat setelah
mendapat persetujuan fasilitator.
• Evaluasi dan diskusi terhadap hasil kegiatan.

VEDCA – Pengujian Mutu 48


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

Peserta diklat melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan


kegiatan dan pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam
perencanaan.
• Peserta diklat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan
hasilnya dibandingkan dengan rancangan kerja dan konsep-konsep
yang telah dirumuskan sebelumnya.
• Proses penyusunan kesimpulan dan memberikan umpan balik.
Peserta secara berkelompok menyusun umpan balik/rekomendasi
terhadap metode mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak
terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur untuk mendapatkan
hasil yang optimal. Perumusan umpan balik ini juga harus
mempertimbangkan dasar teori, fakta dan kondisi hasil kerja.

D. Tes Formatif
1. Jelaskan bagaimana prosedur membuang limbah cair/padat bahan kimia
agar tidak membahayakan masyarakat dan lingkungan !
2. Sebutkan macam-macam cara pembuangan bahan kimia di laboratorium
!
3. Bagaimana prosedur pembuangan bahan kimia jenis :
a. Asam an organik
b. Asam organik tersubtitusi
c. Eter

E.Daftar evidence of learning yang harus dikumpulkan


a.Hasil perumusan penguasaan konsep dan tugas-tugas diskusi, presentasi
dan hasil perumusan tentang mengendalikan bahaya untuk memperkecil
dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.
b.Hasil observasi mengenai fakta di laboratorium pengujian tentang
mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan
sesuai dengan prosedur.
c.Hasil refleksi tentang persiapan mengendalikan bahaya untuk memperkecil
dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.
d.Hasil analisis mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak terhadap
lingkungan sesuai dengan prosedur.

VEDCA – Pengujian Mutu 49


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

e.Hasil sintesis tentang mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak


terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur
f.Hasil penyusunan rencana kegiatan (berupa rencana kerja/proposal
implementasi) tentang Mengendalikan bahaya untuk memperkecil dampak
terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.
g.Hasil pengamatan/recording tentang mengendalikan bahaya untuk
memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.
h.Hasil evaluasi ketercapaian tentang mengendalikan bahaya untuk
memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.
i.Kesimpulan dan rekomendasi/umpan balik tentang mengendalikan bahaya
untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan sesuai dengan prosedur.

VEDCA – Pengujian Mutu 50


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

BAB III EVALUASI

Bagian ini berisi evaluasi akhir belajar siswa atau peserta diklat setelah
menyelesaikan satu modul. Adapun jenis evaluasi yang diberikan terdiri dari :

A. Evaluasi Tertulis

B. Evaluasi Observasi Performansi

Tujuan evaluasi adalah untuk mengukur dan menetapkan pencapaian tujuan


sesuai kompetensi/sub kompetensi akhir belajar siswa atau peserta diklat.
Penilaian meliputi aspek penguasaan pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skill) dan sikap dan telah sesuai yang dipersyaratkan dalam kriteria unjuk kerja.

Instrumen yang dikembangkan telah sesuai dengan karakteristik atau aspek


yang dinilai yaitu berupa pertanyaan, pernyataan dan format penilaian yang
dibutuhkan. Kunci jawaban dibuat untuk dijadikan patokan dalam penilaian yang
telah dilengkapi dengan kriteria penilaian setiap item tes.

A. Lembar Penilaian Observasi Performansi

Nama Peserta :
No. Induk :
Program Keahlian : Pengendalian Mutu
Nama Jenis Pekerjaan :

Pedoman Penilaian
Sub. Kriteria Keberhasilan Hasil
No Kompetensi/ Ya Tidak
Kriteria Kinerja
1. Mengikuti 1.1. Seluruh
kegiatan dan daerah kerja dibersihkan dan dibebaskan dari
instruksi kerja gangguan
yang ada, yang 1.2. Setiap
ditujukan untuk situasi kerja yang berbahaya dikenali dan
menjaga dilaporkan
lingkungan 1.3. Standar

VEDCA – Pengujian Mutu 51


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

kerja yang kesehatan pribadi di tempat kerja dipelihara


aman sepanjang waktu
1.4. Titik-titik
yang dapat menghentikan seluruh layanan
terhadap daerah kerja dikenali dan akses
dipelihara agar tetap jelas
2. Menyimpan, 2.1. Semua bahan-bahan yang potensial
mengumpulkan berbahaya disimpan dengan aman
dan membuang 2.2. Limbah berbahaya dikumpulkan, disortir dan
dengan aman dibuang sesuai prosedur tempat kerja
semua bahan 2.3. Manual prosedur kerja yang ada diikuti untuk
berbahaya penanganan bahan berbahaya
3. Merespon 3.1. Latihan untuk menghadapi kebakaran,
semua kejadian kecelakaan, dan prosedur evaluasi keadaan
kecelakaan dan darurat didemonstrasikan atau dijelaskan
keadaan dengan mendetail
darurat secara 3.2. Prosedur pertolongan pertama dalam
efektif keadaan darurat pada tempat kerja diikuti.
3.3. Semua kecelakaan atau keamanan/ kejadian
dilingkungan sekitar dilaporkan dan direkam
seperti yang diinginkan
4. Mengikuti 4.1. Jenis dan beratnya ancaman terhadap
prosedur lingkungan yang ditimbulkan oleh bahan dan
pengendalian proses yang digunakan dikenali
bahaya untuk 4.2. Pembuangan limbah secara minimum
memperkecil digunakan
dampaknya 4.3. Prosedur-prosedur tempat kerja untuk
terhadap pembuangan limbah diikuti
lingkungan 4.4.Emisi yang tidak normal dilaporkan ke personil
yang relevan
4.5.Tempat tumpahan bahan kimia dan prosedur
penggunaannya (SOP) diterapkan

VEDCA – Pengujian Mutu 52


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

BAB IV PENUTUP

Setelah peserta diklat menyelesaikan semua kompetensi dasar dan dinyatakan


berkometen oleh fasilitator, selanjutnya peserta diklat akan dilakukan sertifikasi
kompetensi. Proses sertifikasi akan dilakukan melalui uji kompetensi yang
dilakukan oleh eksternal evaluator, dalam hal ini P4TK Pertanian akan
menyediakan assessor dari industri yang relevan untuk melakukan proses
sertifikasi.

Peserta yang dinyatakan berhasil akan diberikan sertifikat oleh industri yang
melakukan uji kompetensi sesuai dengan jumlah kompetensi yang dinyatakan
berkompeten.

VEDCA – Pengujian Mutu 53


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999, Selamatkan Lingkungan Hidup oleh Kita untuk Kita, Penasehat
Jica untuk Bapedal, Jakarta.

Sahirman dkk, 2000, Penanganan Bahan Kimia, Materi Kejuruan terintegrasi


Lingkungan Hidup, Edisi pertama, PPPG Pertanian, Cianjur

Moedjadi dkk, 1985, Petunjuk Pengelolaan Laboratorium Kimia untuk SMA,


Depdikbud.

Soemanto Imam Khasani, 2005, Penyebab Kecelakaan dalam laboratorium,


warta Kimia Analitik, LIPI, Bandung.

Satrijo Widodo, 2002, Teknik Laboratorium, Modul Pelatihan PPPG Pertanian,


Cianjur.

VEDCA – Pengujian Mutu 54


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

VEDCA – Pengujian Mutu 55


Modul Peserta Kompetensi Kesehatan dan Keamanan Kerja

VEDCA – Pengujian Mutu 56


1