Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


PENERAPAN LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (LKPD) BERBASIS
DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA
SISWA KELAS VII MTS MUJAHIDIN MOJOKERTO

Oleh :
EVI YULIANTI, S.Pd
NIM. 193129715648
PPG DALAM JABATAN 2019

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak
perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai
usaha pembaharuan dalam pendidikan. Salah satu wujud perubahan tersebut
adalah pengembangan Kurikulum 2013 yang merupakan langkah lanjutan
Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun
2004 dan KTSP 2006.
Kurikulum 2013 lebih menekankan pada peran aktif siswa dalam proses
pembelajaran dengan mengeksplorasi semua sumber belajar yang ada. Tugas
paling utama guru tidak lagi menjadi sumber belajar utama bagi peserta didik
(siswa), namun tugas guru kini lebih pada motivator bagi peserta didik agar
menemukan kembali semangat dan rasa ingin tahu yang dimilikinya sehingga
peserta didik akan mengeksplorasi semua sumber belajar yang ada di sekitarnya
IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang menekankan pada
pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa,
memahami, dan menggunakan alam sekitar secara ilmiah. Untuk membangkitkan
motivasi siswa dalam belajar, penggunaan sumber belajar yang mendukung
sangat diperlukan. Salah satunya adalah penggunaan Lembar Kegiatan Peserta
Didik.
Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar
rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan belajar .
Sehingga nilai rata-rata mata pelajaran IPA sangat rendah dengan ketuntasan
50%. Hal ini disebabkan karena Lembar Kerja Peserta Didik yang digunakan oleh
guru hanya berisi rangkuman materi dan latihan soal yang mudah dijawab oleh
siswa. Selain itu, metode pembelajaran ceramah tanpa menggunakan alat juga
menyebabkan siswa kurang termotivasi, mudah merasa bosan dan berakhir
dengan prestasi belajar yang menurun.
Salah satu materi IPA yang menunjukkan prestasi belajar siswa rendah
adalah materi tentang konsep tekanan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari yang diajarkan pada kelas VIII-B. Sebagian besar LKPD yang digunakan
pada materi bab tersebut hanya berisi pengertian tekanan, rumus tekanan dan
contoh soal yang terus diulang-ulang. Tidak ada proses penemuan konsep dan
sangat minim pembahasan tentang penerapan tekanan dalam kehidupan sehari-
hari. Lebih dari 50% peserta didik yang motivasi belajarnya rendah cenderung
tidak tertarik untuk mengerjakan dan mendengarkan penjelasan guru. Untuk itu
dibutuhkan suatu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan
membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan belajar menemukan
konsep IPA.
Berdasarkan uraian di atas penulis mencoba menerapkan salah satu model
pembelajaran, yaitu model pembelajaran penemuan (discovery) yang tersaji
dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk meningkatkan prestasi
belajar IPA. Penulis memilih metode pembelaja.an ini mengkondisikan siswa
untuk terbiasa menemukan, mencari, mendikusikan sesuatu yang berkaitan
dengan pengajaran. (Siadari, 2001: 4). Dalam penerapannya, LKPD berbasis
model pembelajaran penemuan (discovery) menuntut siswa lebih aktif dalam
menemukan suatu konsep sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing.
Dari latar belakang tersebut di atas maka penulis dalam penelitian ini
mengambil judul "Penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis
Discovery Learning untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas VIII-
B MTs Mujahidin Mojokerto”.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah penerapan LKPD berbasis discovery learning terhadap prestasi
belajar IPA siswa kelas VII MTs Mujahidin Mojokerto Tahun pelajaran
2019/2020?
2. Bagaimanakah penerapan LKPD berbasis discovery learning terhadap aktivitas
belajar IPA siswa kelas VII MTs Mujahidin Mojokerto Tahun pelajaran
2019/2020?

1.3. Tujuan Penelitian


1. Mendeskripsikan penerapan LKPD berbasis discovery learning untuk
meningkatkan prestasi belajar IPA siswa siswa kelas VII MTs Mujahidin
Mojokerto Tahun pelajaran 2019/2020.
2. Mendeskripsikan penerapan LKPD berbasis discovery learning untuk
meningkatkan aktivitas belajar IPA siswa siswa kelas VII MTs Mujahidin
Mojokerto Tahun pelajaran 2019/2020.

1.4. Manfaat Penelitian


 Bagi Guru
Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan
materi IPA.
 Bagi Siswa
Meningkatkan motivasi dan prestasi pada mata pelajaran IPA
 Bagi Sekolah
Memberikan masukan bagi sekolah sebagai pedoman untuk mengambil
kebijakan di sekolah tersebut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Prestasi Belajar Siswa


Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar.
Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik
menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang
dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah.
Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai
(dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan,
hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta
perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang
dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah
siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat
diketahui dengan mengadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan
untuk rnengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang
diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana
keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapat diartikan bahwa prestasi
belajar IPA adalah nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan secara
langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses
belajar mengajar IPA.

2.2. Lembar Kerja Peserta Didik


Lembar Kegiatan Peserta Didik adalah lembaran-lembaran berisi tugas
yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk
atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tugas tersebut haruslah
jelas kompetensi dasar yang akan dicapai (Depdiknas, 2004). Lembar Kerja
Siswa (LKPD) merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan
oleh guru sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. LKPD yang disusun
dapat dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan situasi
kegiatan pembelajaran yang akan dihadapi (Rohaeti, 2009). Dari penjelasan
tersebut dapat kita pahami bahwa LKPD merupakan suatu bahan ajar cetak
berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk
pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh siswa yang mengacu
pada kompetensi dasar yang harus dicapai.
Lembar Kegiatan Peserta Didik berbasis discovery learning adalah LKPD
yang dapat melatih siswa untuk menemukan konsep. Menurut Syah dalam
Kemendikbud (2013: 5), proses pembelajaran yang menerapkan kaidah-kaidah
model pembelajaran discovey setidaknya mencakup enam pengalaman belajar
pokok yaitu (1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan ), (2) Problem
Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah), (3) Data Collection (Pengumpulan
Data), (4) Data Processing (Pengolahan Data), (5) Verification (Pembuktian) dan
(6) Generalization (Menarik Simpulan/Generalisasi)
1. Tujuan dan Manfaat LKPD
Menurut Depdiknas (2004), tujuan pengadaan bahan ajar berupa LKPD
bertujuan untuk memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran,
memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri, belajar
memahami untuk melaksanakan tugas tertulis, dan memberikan tantangan
kepada guru untuk menyiapkan bahan ajar secara cermat.
Lembar Kegiatan Peserta Didik akan memberikan manfaat bagi guru
dan siswa. Guru akan memiliki bahan ajar yang siap digunakan, sedangkan
siswa akan mendapatkan pengalaman belajar mandiri dan belajar memahami
tugas tertulis yang tertuang dalam LKPD.
2. Pembuatan LKPD
Menurut Depdiknas (2004) dalam membuat Lembar Kegiatan Peserta Didik
dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Analisis kurikulum
Analisis kurikulum dimaksudkan untuk menentukan kompetensi mana
yang memerlukan bahan ajar LKPD. Analisis dilakukan dengan cara
mempelajari kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pokok,
pengalaman belajar, dan indikator ketercapaian hasil belajarnya.
b. Menyusun peta kebutuhan LKPD
Peta kebutuhan LKPD sangat diperlukan guna mengetahui jumlah LKPD
yang harus ditulis dan sekuensi atau urutan LKPD-nya juga dapat dilihat.
Sekuen LKPD ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas
penulisan. Diawali dengan analisis kurikulum dan analisis sumber belajar.
c. Menentukan judul LKPD
Judul LKPD ditentukan atas dasar kompetensi-kompetensi dasar atau
materi-materi pokok yang terdapat dalam kurikulum. Penentuan judul
akan menjadi lebih mudah apabila pengalaman belajar siswa diuraikan
terlebih dahulu.
d. Penulisan LKPD
Langkah-langkah penulisan LKPD adalah sebagai berikut:
1) Perumusan Kompetensi Dasar yang harus dikuasai
Rumusan kompetensi dasar pada suatu LKPD langsung diturunkan dari
buku pedoman khusus pengembangan silabus.
2) Menentukan alat penilaian
Penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja siswa. Oleh
karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi,
penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensi, maka alat
penilaian yang cocok adalah menggunakan pendekatan Penilaian
Acuan Patokan (PAP). Dengan demikian guru dapat menilainya
melalui proses dan hasil kerjanya.
3) Penyusunan materi
Materi LKPD sangat tergantung pada kompetensi dasar yang akan
dicapai. Materi LKPD dapat berupa informasi pendukung, yaitu
gambaran umum atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari.
Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah,
internet, jurnal hasil penelitian.
4) Struktur LKPD
Struktur LKPD secara umum adalah sebagai berikut: a) judul, b)
petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru), c) kompetensi yang akan
dicapai, d) informasi pendukung, e) tugas-tugas dan langkah-langkah
kerja, dan f) penilaian.
3. Syarat penyusunan LKPD
Menurut Widjajanti (2008), dalam menyusun LKPD harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut:
a. Syarat didaktik
1) mengajak siswa aktif dalam proses pembelajaran
2) memberi penekanan pada proses untuk menemukan konsep
3) memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan siswa
sesuai dengan ciri KTSP
4) dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional,
moral, dan estetika pada diri siswa
5) pengalaman belajar ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi.
b. Syarat konstruksi
Syarat-syarat konstruksi ialah syarat-syarat yang berkenaan dengan
penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosakata, tingkat kesukaran, dan
kejelasan, yang pada hakekatnya harus tepat guna dalam arti dapat
dimengerti oleh pihak pengguna, yaitu anak didik. Syarat-syarat konstruksi
tersebut yaitu :
1) menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak.
2) menggunakan struktur kalimat yang jelas.
Hal-hal yang perlu diperhatikan agar kalimat menjadi jelas maksudnya,
yaitu :
1) hindarkan kalimat kompleks
2) hindarkan “kata-kata tak jelas” misalnya “mungkin”, “kira-kira”
3) hindarkan kalimat negatif, apalagi kalimat negatif ganda
4) menggunakan kalimat positif lebih jelas daripada kalimat negatif
5) memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan
anak. Apalagi konsep yang hendak dituju merupakan sesuatu yang
kompleks,dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana
dulu
6) hindarkan pertanyaan yang terlalu terbuka. Pertanyaan dianjurkan
merupakan isian atau jawaban yang didapat dari hasil pengolahan
informasi,bukan mengambil dari perbendaharaan pengetahuan yang tak
terbatas
7) tidak mengacu pada buku sumber yang di luar kemampuan keterbacaan
siswa
8) menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaan pada
siswa untuk menulis maupun menggambarkan pada LKPD.
Memberikan bingkai dimana anak harus menuliskan jawaban atau
menggambar sesuai dengan yang diperintahkan. Hal ini dapat juga
memudahkan guru untuk memeriksa hasil kerja siswa
9) menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek. Kalimat yang
panjang tidak menjamin kejelasan instruksi atau isi. Namun kalimat
yang terlalu pendek juga dapat mengundang pertanyaan
10) gunakan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata. Gambar lebih dekat
pada sifat konkrit sedangkan kata-kata lebih dekat pada sifat “formal”
atau abstrak sehingga lebih sukar ditangkap oleh anak
11) dapat digunakan oleh anak-anak, baik yang lamban maupun yang cepat
12) memiliki tujuan yang jelas serta bermanfaat sebagai sumber motivasi
13) mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya. Misalnya,
kelas, mata pelajaran, topik, nama atau nama-nama anggota kelompok,
tanggal dan sebagainya
c. Syarat teknis
1) Tulisan : Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin
atau romawi, menggunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik,
bukan huruf biasa yang diberi garis bawah, menggunakan kalimat
pendek, tidak boleh lebih dari 10 kata dalam satu baris, menggunakan
bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan jawaban siswa,
mengusahakan agar perbandingan besarnya huruf dengan besarnya
gambar serasi
2) Gambar
Gambar yang baik untuk LKPD adalah gambar yang dapat
menyampaikan pesan/isi dari gambar tersebut secara efektif kepada
pengguna LKPD.
3) Penampilan
Penampilan sangat penting dalam LKPD. Anak pertama-tama akan
tertarik pada penampilan bukan pada isinya.

2.3. Model Pembelajaran Discovery Learning


Model pembelajaran discovery learning pertama kali diperkenalkan oleh
Jerome Bruner yang menekankan bahwa pembelajaran harus mampu mendorong
peserta didik untuk mempelajari apa yang telah dimiliki (Rifa’I & Anni, 2011:
233). Menurut pandangan Bruner dalam Markaban (2008: 10) belajar dengan
penemuan adalah belajar untuk menemukan, di mana seorang siswa dihadapkan
dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat
mencari jalan pemecahan. Pembelajaran discovery learning memberikan
kesempatan kepada siswa untuk ikut serta secara aktif dalam membangun
pengetahuan yang akan mereka peroleh. Keikutsertaan siswa mengarahkan
pembelajaran pada proses pembelajaran yang bersifat student-centered, aktif,
menyenangkan, dan memungkinkan terjadinya informasi antar-siswa, antara
siswa dengan guru, dan antara siswa dengan lingkungan. Model pembelajaran
discovery learning berlandaskan pada teori-teori belajar konstruktivis
(Anyafulude, 2013: 2). Menurut pandangan kostruktivisme, belajar adalah proses
aktif siswa dalam mengonstruksi arti, wacana, dialog, dan pengalaman fisik
dimana di dalamnya terjadi proses asimilasi dan menghubungkan pengalaman
atau informasi yang sudah dipelajari (Rifa’i & Anni, 2011: 199).
Dalam pembelajaran discovery learning siswa tidak diberikan konsep
dalam bentuk finalnya, melainkan siswa diajak untuk ikut serta dalam
menemukan konsep tersebut. Siswa membangun pengetahuan berdasarkan
informasi baru dan kumpulan data yang mereka gunakan dalam sebuah
pembelajaran penyelidikan (De Jong & Joolingen, 1998: 193). Keikutsertaan
menemukan konsep dalam pembelajaran memberikan kesan yang lebih
mendalam kepada siswa sehingga informasi disimpan lebih lama dalam memori
para siswa. Proses menemukan sendiri konsep yang dipelajari juga memberikan
motivasi kepada siswa untuk melakukan penemuan-penemuan lain sehingga
minat belajarnya semakin meningkat.
Menurut Syah dalam Kemendikbud (2013: 5), prosedur yang harus
dilaksanakan dalam proses pembelajaran disvovery learning adalah: (1)
Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan ) Kegiatan pertama yang harus
dilakukan adalah memberikan permasalahan yang menimbulkan rasa ingin tahu
siswa untuk melakukan penyelidikan yang lebih mengenai permasalahan tersebut.
Selain itu, siswa juga dapat diberikan kegiatan berupa jelajah pustaka, 11
praktikum, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan
pemecahan masalah. (2) Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Langkah selanjutnya adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengidentifikasi masalah-masalah yang ditemukan pada kegiatan awal.
Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis
permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam
membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.
Masalah yang telah ditemukan kemudian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
atau hipotesis. (3) Data Collection (Pengumpulan Data) Hipotesis yang telah
dikemukakan, dibuktikan kebenarannya melalui kegiatan eksplorasi yang
dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. Pembuktian dilakukan dengan
mengumpulkan data maupun informasi yang relevan melalui pengamatan,
wawancara, eksperimen, jelajah pustaka, maupun kegiatan-kegiatan lain yang
mendukung dalam kegiatan membuktikan hipotesis. (4) Data Processing
(Pengolahan Data) Data-data yang telah diperoleh selanjutnya diolah menjadi
suatu informasi yang runtut, jelas, dan bermakna. Pengolahan data dapat
dilakukan dengan berbagai cara, seperti diacak, diklasifikasikan, maupun dihitung
dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. 12 (5)
Verification (Pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara
cermat untuk membuktikan kebenaran hipotesis awal yang telah dikemukakan.
Pembuktian didasarkan pada hasil pengolahan data yang telah dilakukan pada
tahap sebelumnya. (6) Generalization (Menarik Simpulan/Generalisasi) Tahap
generalisasi atau penarikan simpulan adalah proses menarik sebuah simpulan
yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau
masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi. Setelah penarikan
simpulan, siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan
pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang
luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan
dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

2.4. Konsep Tekanan dan Penerapannya


TEKANAN ZAT PADAT
Tekanan merupakan gaya yang bekerja pada suatu bidang tiap satuan luas
bidang tekan tersebut. Satuan internasional (SI) tekanan adalah pascal
(Pa). Tekanan berbanding lurus dengan gaya tekan dan berbanding terbalik
dengan luas bidang tekan. Secara matematis, besaran tekanan dapat dituliskan
dalam persamaan sebagai berikut.
Keterangan :
p= tekanan (N/m2)
F= gaya tekan (N)
A= luas bidang (m2)
Luas bidang yang dimaksud pada rumus diatas adalah luas permukaan
suatu benda yang bersentuhan langsung dengan permukaan benda lain yang
ditekan. Contoh pada paku, maka luas permukaan yang dimaksud adalah pada
bagian ujung yang lancip.
Contoh tekanan zat padat dalam kehidupan sehari-hari :
1. Pada saat melewati jalan berlumpur kita lebih memilih menggunakan sepatu
dengan alas yang lebih lebar daripada yang lancip untuk menghindari
terperosok dalam lumpur karena tekanan sepatu lancip lebih besar daripada
tekanan sepatu dengan alas lebar.
2. Bebek lebih mudah berjalan di lumpur daripada ayam karena bebek memiliki
selaput pada jari-jari kakinya untuk memperluas bidang tekan. Semakin besar
luas permukaannya semakin kecil pula tekanan yang dihasilkan. Pada kaki
bebek yang (berselaput) memiliki luas permukaan besar memudahkan bebek
saat berjalan di atas lumpur karena tekanan yang dihasilkan dari kaki bebek
yaitu tekanan yg kecil sehingga bebek tidak terperosok kedalam lumpur.
3. Pada waktu memotong sayuran dengan menggunakan pisau tajam lebih mudah
dibandingkan menggunakan pisau tumpul. Hal ini disebabkan luas bidang
tekan pisau tajam lebih kecil dibandingkan luas bidang tekan pisau tumpul.
Akibatnya, pisau tajam akan memberikan tekanan yang lebih besar
dibandingkan tekanan yang diberikan oleh pisau tumpul sehingga pisau tajam
lebih mudah untukmemotong sayuran.

TEKANAN ZAT CAIR


Tekanan zat cair atau tekanan hidrostatis merupakan tekanan yang
berhubungan dengan kedalaman atau ketinggian zat cair dan massa jenis zat cair.
Semakin dalam posisi dan massa jenis zat cair, maka tekanan hidrostatisnya juga
semakin besar. Secara matematis, besaran tekanan hidrostatis dapat dituliskan
dalam persamaan sebagai berikut.

ph = ρ . g . h Keterangan :
ph = tekanan hidrostatis (Nm-2 atau Pa)
ρ = massa jenis zat cair (kgm-3)
g = percepatan gravitasi (ms-2)
h = kedalaman atau ketinggian dari permukaan zat cair
(m)
Contoh tekanan hidrostatis dalam kehidupan sehari-hari :
1. Pada saat kamu menyelam di laut, semakin dalam kamu menyelam maka
kamu akan merasa gaya yang menekan ke tubuhmu semakin besar. Semakin
dalam, berat air yang mendorong kita semakin banyak, akibatnya gaya yang
diberikan semakin besar sehingga tekanan di dalam air bertambah sesuai
kedalamannya. Selain kedalaman, jenis zat cair juga mempengaruhi tekanan
hidrostatis. Semakin besar masa jenis suatu zat cair, semakin besar pula
tekanan pada kedalaman tertentu.
2. Pembuatan bendungan
Mengapa tukang bangunan membuat dinding bendungan bagian bwawah
lebih tebal dari bagian atas ? sesuai konsep tekanan hidrostatis bahwa
semakin dalam maka tekanan akan semakin besar. Dinding bendungan
bagian bawah dibuat lebih tebal dari bagian atas agar bendungan tidak jebol
karena tekanan zat cair terbesar berada pada dasar permukaan zat cair.
3. Pemasangan infus
Sebelum infus dipasang biasanya dilakukan pengukuran tekanan darah
pasien. Hal ini dilakukan karena pemasangan infus harus memperhatikan
tekanan darah pasien. Dimana tekanan infus harus lebih tinggi dari tekanan
darah pasien agar cairan infusmengalir ke dalam tubuh pasien. Jika tekanan
darah pasien lebih besar dari tekanan cairan infus maka yang terjadi darah
pasien akan mengalir melalui selang infus menuju kantong infus.

HUKUM PASCAL
Hukum Pascal menyatakan bahwa tekanan yang diberikan pada zat cair di
ruang tertutup akan diteruskan ke segala arah dengan sama rata. Gejala alam ini
sering digunakan dalam teknologi untuk mengangkat mobil di bengkel atau
pompa hidrolik untuk memompa suatu bahan tertentu. Ketika pengisap kecil
didorong maka pengisap tersebut diberikan gaya sebesar F1 terhadap luas bidang
A1, akibatnya timbul tekanan sebesar p1. Menurut hukum Pascal, tekanan ini
akan diteruskan ke segala arah dengan sama rata sehingga tekanan akan
diteruskan ke pengisap besar dengan sama besar. Dengan demikian, pada
pengisap yang besar pun terjadi tekanan yang besarnya sama dengan p1. Tekanan
ini menimbulkan gaya pada luas bidang tekan pengisap kedua (A2) sebesar F2
Secara matematis, besaran tekanan dapat dituliskan dalam persamaan
sebagai berikut.
Keterangan :
F1 = gaya pada penampang 1 (newton)
F2 = gaya pada penampang 2 (newton)
A1 = luas penampang 1 (m2)
A2 = luas penampang 2 (m2)
Contoh penerapan hukum pascal dalam kehidupan sehari-hari :
1. Dongkrak Hidrolik. Pernahkah kamu melihat orang mengganti ban mobil?
Bagian badan mobil yang akan diganti bannya harus diganjal supaya badan mobil
tidak miring. Untuk melakukan itu, digunakan dongkrak hidrolik.
Gambar disamping memperlihatkan skema dongkrak
hidrolik yang terdiri atas dua bejana yang berhubungan
terbuat dari bahan yang kuat misalnya besipenghisap
kecil dan penghisap besar minyak pengisi
bejana.Adapun cara kerja dongkrak hidrolik tersebut
adalah sebagai berikut. Ketika sebuah gaya F1 diberikan
melalui tuas dongkrak untuk menekan penghisap
kecil A1, tekanan ini akan diteruskan oleh minyak ke
segala arah. Oleh karena dinding bejana terbuat dari
bahan yang kuat, gaya ini tidak cukup untuk mengubah
bentuk bejana. Satu-satunya jalan, tekanan ini diteruskan
oleh minyak ke penghisap besar A2. Tekanan ini sama
dengan tekanan yang diterima pengisap besar A2. (Ingat
Hukum Pascal)
2. Rem Hidrolik
Tak terbayangkan jika sistem rem pada
mobil tidak menggunakan Hukum
Pascal. Pengendara mobil akan
memerlukan tenaga besar untuk
menghentikan laju mobilnya. Akan
tetapi, dengan menerapkan Hukum Pascal pada sistem rem mobil, pengemudi
hanya perlu memberikan gaya kecil untuk mengurangi laju kendaraannya. Gaya
ini berupa injakan kaki pada pedal rem.
3. Mesin Hidrolik Pengangkat Mobil

Pada kinerja hidrolik cuci mobil terdapat alat yang bernama valve dimana
valve yang dihungkan dengan pipa angin utama yang dibuka maka dengan
cepat angin akan mengalir ke tabung hidrolik, lalu tekanan angin tersebut akan
langusng berinteraksi dengan oli yang terdapat dalam tabung hidrolik mobil,
karena adanya interaksi antara angina dan oli yang di dalam hidrolik tersebut
maka piston dari dalam tabung akan secara perlahan keluar dari tabung hidrolik
tersebut , supaya piston mampu terdorong ke atas untuk mengangkat beban
mobil.

HUKUM ARCHIMEDES
Hukum Archimedes adalah hukum yang menyatakan bahwa setiap benda
yang tercelup baik keseluruhan maupun sebagian dalam fluida, maka benda
tersebut akan menerima dorongan gaya ke atas (atau gaya apung). Besarnya gaya
apung yang diterima, nilainya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh
benda tersebut (berat = massa benda x percepatan gravitasi) dan memiliki arah
gaya yang bertolak belakang (arah gaya berat kebawah, arah gaya apung ke atas)..
Secara matematis, dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut.
FA = wf
wf = pf Vg
Keterangan:
FA = gaya apung (N)
Wf = berat benda dalam air
p = massa jenis zat cair (kg/m3)
v = volume zat cair yang didesak atau volume benda yang tercelup (m3)
Contoh penerapan hukum pascal dalam kehidupan sehari-hari :
1. Hukum Archimedes diterapkan pada kapal selam. Kapal selam merupakan
kapal yang dapat mengubah-ubah massa jenisnya agar dapat menyelam,
melayang dan mengapung di permukaan air. Untuk mengubah massa
jenisnya, kapal selam menambahkan massa atau mengurangi massanya
dengan cara memasukkan air atau mengeluarkan air. Agar dapat menyelam,
kapal selam memasukkan air sehingga massa kapal bertambah besar, begitu
pula sebaliknya jika kapal selam ingin kembali muncul ke permukaan.
2. Paradoks tentang peristiwa benda terapung, melayang dan tenggelam
Bila benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka ada 3 kemungkinan yang
terjadi yaitu tenggelam, melayang, dan terapung.
a. Benda Tenggelam
Benda disebut tenggelam dalam zat cair apabila posisi
benda selalu terletak pada dasar tempat zat cair berada.

Pada benda tenggelam terdapat tiga gaya yaitu :


W = gaya berat benda
Fa = gaya archimedes
N = gaya normal bidang
Dalam keadaan seimbang maka W = N + Fa sehingga :
W > Fa
m . g > ρZC . Vb . g
ρb . Vb . g > ρZC . Vb . g
ρb > ρzc
ρb = massa jenis benda
ρZC = massa jenis zat cair
b. Benda Melayang
Benda melayang dalam zat cair apabila posisi benda di bawah
permukaan zat cair dan di atas dasar tempat zat cair berada.
Pada benda melayang terdapat dua gaya yaitu: Fa dan W.
Dalam keadaan seimbang maka :

W = Fa
ρb . Vb . g = ρZC . Vb . g
ρb = ρzc
c. Benda Terapung
Benda terapung dalam zat cair apabila posisi benda
sebagian muncul dipermukaan zat cair dan sebagian
terbenam dalam zat cair.
Pada benda terapung terdapat dua gaya yaitu :Fa dan W.
Dalam keadaan seimbang maka :
W = Fa
ρb . Vb . g = ρZC . V2 . g
ρb . Vb = ρZC . V2
karena Vb > V2 maka : ρb < ρZC

HUKUM PASCAL
Untuk menghitung tekanan zat gas pada ketinggian tertentu digunakan
persamaan sebagai berikut ini :
h= (76 cmHg- Pbar) x100 m
Pgas = (Pbar ± h) cmHg
Dimana :
Pgas adalah tekanan gas
Pbar adalah tekanan pada barometer
h adalah ketinggian tempat (m)
Tekanan zat gas dalam ruang terbuka dipakai barometer, Sedangkan tekanan gas
dalam ruang tertutup dapat diukur dengan manometer. Manometer dibedakan
menjadi dua jenis yakni manometer raksa dan manometer logam.
2.4 Kerangka Berpikir

Kenyataan Masalah

1. Kurikulum 2013 menekankan 1. Kegiatan pembelajaran pada materi


pembelajaran berpusat pada siswa tekanan berlangsung kurang optimal
2. LKPD sebagai penunjang kegiatan karena pengalaman langsung yang
pembelajaran diharapkan lebih didapatkan siswa kurang
mengacu pada ketarampilan proses. 2. Cakupan materi tekanan yang luas
3. LKPD berbasis discovery learning dan berisi banyak rumus matematis
dapat melatihkan keterampilan menyulitkan siswa dalam
ilmiah siswa. Model pembelajaran memahami konsep.
discovery diyakini lebih efektif 3. Penggunaan LKPD selama ini
hasilnya dibandingkan dengan dalam penyampaiannya kurang
pembelajaran tradisional. mengutamakan proses belajar.
4. LKPD berbasis discovery learning
yang melatihkan keterampilan
penemuan konsep siswa belum
pernah diterapkan.

Teori
Lembar Kegiatan Peserta Didik berbasis discovery learning adalah LKPD
yang dapat melatih siswa untuk menemukan konsep. Menurut Syah dalam
Kemendikbud (2013: 5), proses pembelajaran yang menerapkan kaidah-
kaidah model pembelajaran discovey setidaknya mencakup enam
pengalaman belajar pokok yaitu (1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian
Rangsangan ), (2) Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah), (3)
Data Collection (Pengumpulan Data), (4) Data Processing (Pengolahan
Data), (5) Verification (Pembuktian) dan (6) Generalization (Menarik
Simpulan/Generalisasi)

Solusi
Penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Discovery
Learning untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas VIII-B MTs
Mujahidin Mojokerto.

Harapan
Peningkatan hasil belajar peseta didik yang dapat diukur dari ketuntasan
belajar peserta didik sebelum dan sesudah penerapan LKPD berbasis
discovery learning
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya
sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru,
sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat

3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan pada semester 2 tahun pelajaran 2019/2020.
Direncanakan PTK ini akan dimulai pada bulan Januari 2020 sampai bulan
Februari 2020, dengan rincian kegiatan mulai dari perencanaan sampai dengan
pelaksanakan tindakan. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di ruang kelas
VIII-B MTs Mujahidin Mojokerto, yang beralamatkan di Jl. Masjid Tiban Nurukl
Huda, Daleman, Japan, Sooko, Mojokerto.

3.3. Subjek Penelitian


Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VIII-B yang berjumlah 20
siswa. Jumlah tersebut terdiri dari 7 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. PTK
ini dilakukan oleh guru dan dibantu oleh peneliti.

3.4. Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi
lembar kegiatan peserta didik, lembar penilaian kognitif produk, lembar penilaian
afektif dan psikomotor, serta lembar evaluasi.
a. Lembar Kerja Peserta Didik
Lembar Kerja Peserta Didik ini berisi tentang tahapan proses pembelajaran
berbasis discovery learning pada materi tekanan dan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keaktifan
siswa selama kegiatan berlangsung.
b. Lembar penilaian kognitif produk
Lembar penilaian kognitif produk bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
tingkat pemahaman siswa dan penguasaan konep siswa terhadap materi yang
telah dijelaskan.
c. Lembar penilaian afektif dan psikomotor
Lembar penilaian afektif bertujuan untuk mengetahui perilaku berkarakter dan
keterampilan social siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan lembar
penilaian psikomotor bertujuan untuk mengetahui apakah langkah-langkah
yang dilakukan selama proses pembelajaran sudah sesuai.
d. Lembar evaluasi
Lembar evaluasi yang berisi soal-soal evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui
peningkatan prestasi belajar siswa terhadap materi pembelajaran yang
disajikan setelah adanya tindakan refleksi pembelajaran.

3.5. Teknik Pengumpulan Data


a. Observasi
Observasi yang digunakan adalah observasi yang bersifat sistematis, yaitu
observasi yang dilakukan pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai
instrumen pengamat.
b. Tes
Tes yang digunakan adalah post tes. Post tes diberikan pada saat siswa setelah
diberi tindakan refleksi pembelajaran berupa lembar evaluasi.

3.6. Teknik Analisis Data


a. Analisis Data Lembar Observasi
Data yang diperoleh dengan menggunakan angket pasca penelitian
untuk siswa dan hasilnya akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif yaitu
dengan menggunakan persentase. Persentase dari data lembar observasi
diperoleh berdasarkan perhitungan skor pada tabel berikut:
Tabel 1.2 Kriteria Kelancaran Proses Belajar Mengajar Setelah Penerapan
LKPD Berbasis Discovery Learning Berdasarkan Lembar Observasi Siswa
yang Diisi Oleh Pengamat
Kriteria Nilai/Skor
Sangat Baik (SB) 4-5
Baik (B) 3
Tidak Baik (TB) 2
Sangat Tidak Baik (STB) 1

b. Analisis Data Tes Hasil Belajar


Data hasil belajar diperoleh dari pos tes berupa lembar evaluasi yang
diberikan pada akhir pembelajaran. Post test diberikan pada saat siswa telah
diberi tindakan refleksi pembelajaran. Data nilai post test yang diperoleh
dianalisis dengan rumus:

Skor yang dicapai siswa

Nilai siswa = skor maksimum x 100

Ketuntasan belajar kelas diperoleh dengan rumus:

Ketuntasan belajar kelas = Jumlah siswa tuntas

Jumlah siswa x 100 %

3.7. Rencana Penelitian Per Siklus


Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan menggunakan model
pembelajaran discovery. Penelitian ini menggunakan 2 RPP dengan 2 siklus.
Siklus I menggunakan 1 RPP pada sub-materi tekanan zat padat. Siklus 2
menggunakan 1 RPP pada sub-materi tekanan zat cair. Pelaksanaan penelitian
mengikuti siklus rancangan penelitian tindakan kelas yaitu: Rencana – Tindakan
– Observasi – Refleksi.
a. Siklus I
 Perencanaan tindakan
- Menyusun jadwal penelitian
- Menentukan observer dan melaporkan kepada kepala sekolah
- Menyiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan
bahan ajar berupa buku siswa
- Menyiapkan lembar kerja peserta didik
- Menyiapkan lembar penilaian kognitif berupa lembar evaluasi
- Menyiapkan lembar penilaian afektif dan psikomotor
 Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh guru. Dalam
pelaksanaannya, mengacu pada RPP yang telah dirancang sesuai dengan
sintaks model pembelajaran discovery :
Fase 1: Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan )
Fase 2: Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Fase 3: Data Collection (Pengumpulan Data)
Fase 4: Data Processing (Pengolahan Data)
Fase 5 : Verification (Pembuktian)
Fase 6 : Generalization (Menarik Simpulan/Generalisasi)
 Pengamatan: pengamatan (observasi) dalam penelitian ini dilakukan
bersamaan dengan pembelajaran. Dalam hal ini pengamat (siswa) bertugas
mengamati dan mengisi lembar observasi berupa LKPD yang telah
dirancang sesuai petunjuk. Sedangkan guru dan observer mengamati
perilaku siswa. Observer mencatat kelemahan dan kekuatan guru serta
mengamati pengelolaan tindakan dalam pembelajaran menggunakan model
pembelajaran discovery.
 Refleksi: dari hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran didapatkan
informasi tentang kelebihan dan kekurangan pelaksanaan tindakan
pembelajaran yang dilakukan. Hasil refleksi ini dijadikan pedoman oleh
guru dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan dari pelaksanaan tindakan
1 yang akan dilaksanakan pada pelaksanaan tindakan 2.

b. Siklus II
 Rencana tindakan
- Menyusun jadwal penelitian
- Menentukan observer dan melaporkan kepada kepala sekolah
- Menyiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan
bahan ajar berupa buku siswa
- Merancang strategi belajar berupa langkah-langkah penemuan konsep
- Menyiapkan lembar kerja siswa
- Menyiapkan lembar penilaian kognitif berupa soal-soal evaluasi
- Menyiapkan lembar penilaian afektif dan psikomotor
 Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh guru. Dalam
pelaksanaannya, mengacu pada RPP yang telah dirancang sesuai dengan
sintaks model pembelajaran discovery :
Fase 1: Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan )
Fase 2: Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Fase 3: Data Collection (Pengumpulan Data)
Fase 4: Data Processing (Pengolahan Data)
Fase 5 : Verification (Pembuktian)
Fase 6 : Generalization (Menarik Simpulan/Generalisasi)
 Pengamatan: pengamatan (observasi) dalam penelitian ini dilakukan
bersamaan dengan pembelajaran. Dalam hal ini pengamat bertugas
mengamati dan mengisi lembar observasi yang telah dirancang sesuai
petunjuk.
 Refleksi: dari hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran didapatkan
informasi bahwa pelaksanaan tindakan pembelajaran yang dilakukan oleh
guru sudah berjalan dengan baik dan hasil belajar siswa meningkat dengan
ketuntasan minimal 80%. Dengan tercapainya tujuan penelitian tindakan
kelas tersebut maka dapat dikatakan berhasil dan tidak perlu dilanjutkan
ke siklus berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Anyafulude, J. C. (2013). Effects of Problem-Based and Discovery-Based Instructional


Strategies on Students’ Academic Achievement in Chemistry. Journal of Educational
and Social Research. 3(6), 105-111.
Depdiknas. 2004. Pedoman Penyusunan LKS dan Skenario Pembelajaran SMA. Jakarta:
Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan
Menengah Umum.
Ferdiyanti, S. 2013. Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa Berorientasi Guided Discovery
pada Materi Pteridophyta Kelas X SMA. Skripsi tidak dipublikasikan. Surabaya:
Unesa
Rifa’i, Ahmad & Catharina Anni. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri
Semarang.
Rohaeti, E., Widjajanti, E., Padmaningrum, R.T. 2009. Pengembangan Lembar Kerja Siswa
(LKS) Mata Pelajaran Sains Kimia untuk SMP. Jurnal Inovasi Pendidikan. (Online),
Jilid 10, Nomor 1, Mei 2009, halaman 1-11. (http://www.staff.uny.ac.id, diakses
pada tanggal 13 Maret 2014)
Poerwodarminto. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Bina Aksarra