Anda di halaman 1dari 3

Larangan-larangan dalam Ibadah Haji

Jamaah haji dilarang melakukan beberapa hal ketika ia memasuki ihram. Apa yang
seharusnya boleh dilakukan di luar ihram menjadi haram selama jamaah haji dalam
keadaan ihram. Jamaah haji yang melanggar larangan tersebut kan terkena sanksi
yang berkaitan dengan ibadah hajinya.

Syekh Abu Syuja dalam Taqrib menyebut sepuluh hal yang menjadi larangan
sepanjang seseorang menunaikan ibadah haji di tanah suci. Semua larangan ini
memiliki konsekuensi bila dilanggar oleh jamaah haji yang bersangkutan.

‫وترجيل الشعر وحلقه فصل ويحرم على المحرم عشرة أشياء لبس المخيط وتغطية الرأس من الرجل والوجه من المرأة‬
‫وتقليم األظفار والطيب وقتل الصيد وعقد النكاح والوطء والمباشرة بشهوة‬

Artinya, “Pasal. Jamaah haji yang sedang ihram haram melakukan sepuluh hal:
mengenakan pakaian berjahit, menutup kepala bagi laki-laki, menutup wajah bagi
perempuan, mengurai rambut, mencukur rambut, memotong kuku, mengenakan
wewangian, membunuh binatang buruan, melangsungkan akad nikah, dan
berhubungan badan. Demikian juga dengan bermesraan dengan syahwat.”

Namun demikian, pandangan Abu Syuja diberi catatan oleh para ulama Syafiiyah
sesudahnya. KH Afifuddin Muhajir mendokumentasikan catatan verifikasi para ulama
Syafiiyah tersebut. Menurutnya, sebagian larangan haji yang disampaikan Syekh
Abu Syuja masuk ke dalam makruh, bukan larangan haji.

‫ـ (وترجيل) أي تسريح (الشعر) وهذا ضعيف والمعتمد أنه مكروه‬

Artinya, “)Mengurai( melepas )rambut(. Pendapat ini lemah. Pendapat yang


muktamad menyatakan bahwa hokum mengurai rambut adalah makruh bagi jamaah
haji yang sedang ihram,” )Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib,
[Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 92).
Sedangkan Syekh Nawawi Banten menerangkan kelonggaran perihal larangan
potong kuku dan rambut atau bulu yang keberadaannya cukup “mengganggu”. Ia
menerangkan bahwa potong kuku atau potong sedikit rambut yang menghalangi
mata dibolehkan tanpa konsekuensi sanksi.

‫تقليم األظفار أي إزالتها من يد أو رجل بتقليم أو غيره إال إذا انكسر بعض ظفر المحرم وتأذى به فله إزالة والخامس‬
‫المنكسر فقط) وال فدية عليه وكذلك إذا طلع الشعر في العين وتأذى به فله إزالته‬

Artinya, “)Kelima memotong kuku. Maksudnya, menghilangkan kuku tangan dan


kuku kaki dengan cara memotong atau cara lainnya. Tetapi , jika sebagian kuku
jamaah haji yang sedang ihram tersebut terbelah dan ia menjadi sakit (terganggu)
karenanya, maka ia boleh memotongnya) dan tidak perlu membayar fidyah.
Demikian halnya dengan kemunculan rambut atau bulu di mata, dan ia menjadi
terganggu karenanya, maka ia boleh mengguntingnya,” )Lihat Syekh M Nawawi
Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], cetakan
pertama, halaman 125).

Meskipun terdapat pengecualian, secara umum semua larangan ini mengandung


konsekuensi. Pelanggaran terhadap larangan ini secara umum mengharuskan
jamaah haji untuk membayar fidyah baik berupa kambing, puasa, atau sanksi
lainnya.

Pelanggaran terberat adalah hubungan seksual yang berdampak pada kerusakan


ibadah haji seorang jamaah di tahun tersebut dengan kewajiban meneruskan
rangkaian ibadah hajinya hingga selesai, dan kewajiban mengqadhanya pada tahun
selanjutnya.

‫وفي جميع ذلك الفدية إال عقد النكاح فإنه ال ينعقد وال يفسده إال الوطء في الفرج وال يخرج منه بالفساد في فاسده‬

Artinya, “Semua larangan itu (jika dilanggar) terdapat sanksi fidyah kecuali akad
nikah, maka nikahnya tidak sah. Tidak ada yang merusak haji kecuali larangan
hubungan badan melalui kemaluan. Jamaah haji yang melakukan hubungan badan
tidak boleh keluar dari rangkaian ibadah haji karena telah rusak ibadahnya (tetapi
menyelesaikannya hingga selesai).

Jadi larangan-larangan haji menurut pendapat ulama Syafi’iyah yang muktamad


adalah sebagai berikut:
1. Mengenakan pakaian berjahit
2. Menutup kepala bagi laki-laki,
3. Menutup wajah bagi perempuan
4. Mencukur rambut atau bulu,
5. Memotong kuku,
6. Mengenakan wewangian,
7. Membunuh binatang buruan,
8. Melangsungkan akad nikah,
9. Berhubungan badan.
10.Bermesraan dengan syahwat. Wallahu a‘lam.