Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

DOKUMENTASI KEPERAWATAN

DOMAIN DAN TOKSONOMI NANDA DAN STANDAR DIAGNOSIS


KEPERAWATAN INDONESIA(SDKI)

DI SUSUN OLEH :
AKMAL HIDAYAT 20186113004
MAYLAN AZIMAH 20186121028
NISA ULFA 20186123033
WAFIQ AZIZAH 20186123051

POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK


JURUSAN KEPERAWATAN SINGKAWANG
PRODI D-III KEPERAWATAN
TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang bejudul “DOMAIN DAN
TOKSONOMI NANDA DAN STANDAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN INDONESIA(SDKI)”.
Penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah DOKUMENTASI
KEPERAWATAN . Kami berharap dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya
dalam bidang medis. Serta dapat mengetahui tentang bagaimana membuat makalah yang baik
dan benar.

Menyadari banyaknya kekurangan dalam menyusun makalah ini. Karna itu, kami sangat
mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca untuk melengkapi kekurangan dan
kesalahan dari makalah ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu proses
penyusunan makalah ini.

SINGKAWANG,5 SEPTEMBER 2019

PENULIS
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Standar diagnosis keperawatan Indonesia merupakan salah satu standar yang
dibutuhkan dalam penyelenggaraan praktik keperawatan di Indonesia. Seiring dengan
perkembangan dan kemajuan teknologi, dunia keperawatan Indonesia turut berkembang dan
bersentuhan dengan perkembangan keperawatan secara global, secara spesifik, dalam
penentuan diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan yang digunakan dalam praktik
keperawatan selama ini mengacu pada standar-standar diagnosis internasional yang telah baku,
namun masih belum di bakukan di indinesia sehingga diagnosis keperawatan yang digunakan
dalam institusi-institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan jasa pelayanan keperawatan di
Indonesia beragam dan memerlukan penyesuaian untuk dipergunakan dalam lingkup Indonesia
dengan beragam budaya, kepercayaan, dan agama yang luar biasa

B. Rumusan masalah
A. Bagaimana isi Domain dan toksonomi nanda?
B. Bagaimana isi standar diagnosis keperawatan Indonesia?

C. Tujuan

A. Untuk memahami bagaimana isi Domain dan toksonomi nanda


B. Untuk memahami bagaimana isi standar diagnosis keperawatan Indonesia
Bab 2
Isi

TINJAUAN TEORI

A. Konsep teori nanda


1. Pengertian
Nanda merupakan buku gambaran proses asuhan keperawatan yang bermula dari
diagnose medis dan dilanjutkan dengan penjabaran dan keterangan yang memiliki konsep
seperti definisi, etiologi manifestasi klinis, diagnose yang lazim muncul, discharge planning
dan juga disertai dengan pathway atau perjalanan penyakit dari asal muasalnya sampai
muncul diagnose keperawatan sehingga dapat memberikan masukan awal kepada para
mahasiswa atau para praktisi kesehatan lainya dan menjadikan mereka dapat berfikir lebih
kritis dan berjuang mencapai asuhan keperawatan yang maksimal dan professional.
Sebenarnya NANDA adalah Singkatan dari North American Nursing Diagnosis
Association (Asosiasi Diagnosa Keperawatan Amerika Utara). Meskipun singkatan NANDA
lebih memaknakan sebuah organisasi, namun jangan terlihat tersurat, lebih menyimaknya
secara tersirat.
NANDA secara internasional memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuan dan
pemahaman keperawatan dalam membangun, menjabarkan, dan mengklasifikasi aspek
keperawatan. Secara esensial NANDA mengembangkan, menjabarkan dan menyebarluaskan
informasi Taksonomi Diagnosa Keperawatan yang secara umum digunakan oleh perawat
profesional.
Taksonomi ini merupakan konsep kerangka kerja dalam menentukan sebuah diagnosa
keperawatan. Konsep dari diagnosa keperawatan sendiri adalah upaya keberhasilan
pendekatan klinis keperawatan dan diagnosa keperawatan secara internasional dianggap
penting dalam pendekatan sistem dan rencana keperawatan klien/pasien (Barnum, 1994)
NANDA nomenklatur diagnosa keperawatan lebih melambangkan pengambilan
keputusan tindakan klinis keperawatan tentang masalah kesehatan yang aktual atau
potensial. Diagnosa Keperawatan NANDA menjelaskan tentang reaksi pasien terhadap
penyakit atau trauma yang dapat diperbandingkan dengan kode ICD-9-CM(International
Code of Diseases)/ diagnosa medis kedokteran, yang lebih menjelaskan penyakit atau
trauma secara medis. NANDA saat ini berisi 167 diagnosa keperawatan yang telah
disepakati dan terbagi dalam 9 domain (ranah). Setiap diagnosa terdiri dari label/judul,
definisi, karakteristik umum dan khusus masing-masing definisi, dan faktor yang terkait.

2. Sejarah dibuat
Pada awal tahun 1970-an, perawat dan pendidik di amerika serikat menemukan fakta
bahwa perawat secara mandiri mendiagnosis dan mengatasi “sesuatu” yang berhubungan
dengan pasien dan keluarganya, yang berbeda caranya dengan diagnosis medis. Kesadaran
besar mereka membuka pintu pada taksonomi diagnosis keperawatan, dan berdirinya
organisasi professional yang sekarang dikenal sebagai NANDA internasional (NANDA-1).
sama dengan kebiasaan diagnosis medis untuk dokter, perawat harus memiliki “sesuatu”
untuk mendokumentasikan lingkup praktik holistic untuk membantu peserta didik
mendapatkan pengetahuan unik mereka, dan untuk memampukan perawat mengumpulkan
dan menganalisis data untuk meningkatkan disiplin keperawatan. Lebih dari 40 tahun
berlalu, dan gagasan tentang “diagnosis keperawatan” telah menginspirasi dan mendorong
para perawat mencari praktik mandiri berdasarkan pengetahuan propesional.
Awalnya, perawat yang tinggal diluar amerika utara mungkin sebagai pengguna akhir
dari taksonomi NANDA-1. Sekarang, perkembangan dan perbaikan taksonomi sudah sangat
besar berdasarkan upaya global. Faktanya, kami menerima lebih banyak pengajuan
diagnosis baru dan proposal untuk revisi dari Negara-negara diluar amerikautara dari pada
didalam Negara sendiri selama siklus penerbitanya. Lebih dari iti, organisasi telah menjadi
makin internasional, anggota-anggota dari amerika , eropa, dan asia secara aktif berparti
sipasi di dalam komite, memimpin komite sebagai ketua, dan mengola organisasi sebagai
direktur didewan. Siapa yang dapat membayangkan bahwa seseorang yang tidak berbahasa
inggris dari suatu Negara asia yang kecil dan menjadi presiden NANDA-1 pada tahun 2016.
Dalam versi tahun 2018-2020, edisi kesebelas, taksonomi memberi 224 diagnosis,
dengan tambahan 17 diagnosis. Setiap diagnosis keperawatan telah menjadi produk dari
salah satu atau lebih dari banyak voluntir NANDA-1, dan kebanyakan memiliki dasar bukti
terdefinisi,. Setiap diagnosis baru telah diperdebatkan dan di perbaiki oleh anggota
diagnosis development committee (DDC), sebelum akhirnya dimasukan ke anggota NANDA-
1 untuk mendapatkan suara persetujuan. Persetujuan dari para anggota tidak berarti
diagnosis tersebut “selesai” atau “siap digunakan” diseluruh Negara atau area praktik dan
regulasi keperawatan bervariasi dari satu Negara ke Negara lain. Harapan kami bahwa
publikasi diagnosis baru ini akan memudahkan study validasi selanjutnya diwilayah lain di
dunia ini, untuk mendapatkan level pembuktian yang lebih tinggi.Dimulai dari edisi ini kami
memiliki tiga mitra penerbitan utama . kami telah bermitra langsung dengan grupoA untuk
penerjemahan bahasa portugis, dan igaku-shoin untuk sebagian besar pasar asia. Sisa
wilayah lainya termasuk versi asli bahasa inggris, akan dikelola oleh tim dari thieme medical
publishes, inc. kami sangat gembira dengan kemtraan ini dan kemungkinan bahwa
pengaturan baik ini membawa asosiasi kami serta kesediaan terminology kami keseluruh
dunia.

3. Kelebihan
a. Penerapan diagnosa cukup lengkap
b. Bukunya sangat menarik
c. Di lengkapi oleh gambar
d. metode yang digunakan sangat umum untuk menentukan dan mengmbangkan diagnosa
keperawatan
4. Kekurangan
a. Bahasanya sulit di mengerti bagi para pemula.
b. Hanya berfokus pada penerapan diagnosa.
c. Tidak membahas penyakit secara keseluruhan.
d. Terlalu banyak revisi sehingga buku menjadi itu itu saja
e. Membuat pembaca merasa lebih cepat bosan
5. Pengaplikasian dengan contoh kasus
a. Diagnosis Keperawatan Aktual
Diagnosis keperawatan aktual (NANDA) adalah diagnosis yang menyajikan
keadaan klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang
diidentifikasi. Diagnosis keperawatan mempunyai empat komponen : label, definisi,
batasan karakteristik, dan faktor yang berhubungan. Diagnosa keperawatan aktual
menyajikan keadaan yang secara klinis telah divalidasi melalui batasan karakteristik
mayor yang dapat diidentifikasi. Tipe dari diagnosa keperawatan ini mempunyai empat
komponen yaitu label, definisi, batasan karakteristik, dan faktor-faktor yang
berhubungan (Craven & Hirnle, 2000; Carpenito, 1997).
Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan karakteristik. Definisi
menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnosa. Batasan karakteristik
adalah karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif.
Batasan ini juga mengacu pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada
diagnosis keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor. Faktor yang
berhubungan merupakan etiologi atau faktor penunjang. Faktor ini dapat
mempengaruhi perubahan status kesehatan. Faktor yang berhubungan terdiri dari
empat komponen : patofisiologi, tindakan yang berhubungan, situasional, dan
maturasional.
Contoh 1: diagnosis keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
penurunan transport oksigen, sekunder terhadap tirah baring lama, ditandai dengan
nafas pendek, frekuensi nafas 30 x/mnt, nadi 62/mnt-lemah, pucat, sianosis.
Contoh 2: Nyeri kepala akut (Problem) berhubungan dengan peningkatan tekanan dan
iritasi vaskuler serebral (Etiologi) ditandai oleh, mengeluh nyeri kepala, sulit beristirahat,
skala nyeri: 8, wajah tampak menahan nyeri, klien gelisah, keadaan umum lemah,
adanya luka robek akibat trauma pada kepala bagian atas, nadi: 90 X/ m
(Sign/Simptom).
b. Diagnosis Keperawatan Resiko
Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga
atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau
kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama. Atau diagnosis keperawatan
resiko adalah keputusan klinis bahwa individu, keluarga dan masyarakat sangat rentan
untuk mengalami masalah bila tidak diantisipasi oleh tenaga keperawatan, dibanding
yang lain pada situasi yang sama atau hampir sama (Craven & Hirnle, 2000; Carpenito,
1997).
Validasi untuk menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko yang
memperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau kelompok
dan tidak menggunakan batasan karakteristik. Penulisan rumusan diagnosis ini adalag :
PE (problem & etiologi).
Contoh 1: Resiko penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
tentang resiko penularan TB Paru, ditandai dengan keluarga klien sering menanyakan
penyakit klien itu apa dan tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko
penularan (membiarkan klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan hidung).
Contoh 2: Risiko infeksi (Problem) berhubungan dengan adanya luka trauma jaringan
(Etiologi)

B. Konsep Teori Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia


1. Pengertian Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia merupakan salah satu standar yang
dibutuhkan dalam penyelenggaraan Praktik Keperawatan di Indonesia. Seiring dengan
perkembangan dan kemajuan teknologi, dunia keperawatan Indonesia turut berkembang
dan bersentuhan dengan perkembangan keperawatan secara global,secara spesifik, dalam
penentuan Diagnosis Keperawatan.
Diagnosis Keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respon klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial.
Diagnosis Keperawatan yang digunakan dalam praktik keperawatan selama
mengacu pada standar-standar diagnosis internasional yang telah baku,namun masih
belum dibakukan di Indonesia sehingga diagnosis keperawatan yang digunakan dalam
institusi-institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan jasa pelayanan untuk
dipergunakan dalam lingkup Indonesia dengan keberagaman budaya,kepercayaan dan
agama yang luar biasa.
2. Tujuan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
1). Dapat membantu perawat dalam melakukan proses diagnostic
2). Memudahkan komunikasi intraprofesional.
3).mengukur beban kerja keperawatan
3. Sejarah dibuatnya buku Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.

4. Kelebihan
a. Buku ini mempunyai bahasa yang mudah di pahami bagi para pemula
b. buku ini dapat meningkatkan otonomi perawat
c. buku ini dapat memperluas area penelitian keperawatan
5. Kekurangan
a. Tidak ada gambar
b. Membuat pembaca lebih cepat bosan
c. Penyakitnya kurang lengkap
6. Pengaplikasian dengan contoh kasus

a. Diagnosis Aktual
Diagnosis ini menggambarkan respon klien terhadap kondisi kesehatan atau proses
kehidupan yang menyebabkan klien mengalami masalah kesehatan.Tanda atau gejala
mayor dan minor dapat ditemukan dan divalidasi pada klien secara langsung.
Contoh
Kasus : seorang wanita berumur 18 tahun datang ke klinik anggrek dengan keluhan
batuk yang di sertai sulit bernafas.pasien mengalami penurunan berat badan dan
susah tidur ketika malam hari karena kesulitan bernafas.
Dx : bersihan jalan napas tidak efektif burhubungan dg tertahannya secret pulmonal
yang tebal ditandai dengan batuk dengan kesulitan
2. Diagnosis Resiko

Diagnosis ini menggambarkan respon klien terhadap kondisi kesehatan atau proses
kehidupannya yang dapat menyebabkan klien beresiko mengalami masalah
kesehatan.Dalam penegakan diagnosis ini, tidak akan ditemukan tanda/gejala mayor
ataupun minor pada klien, namun klien akan memiliki faktor resiko terkait masalah
kesehatan yang mungkin akan dialaminya dikemudian hari

Contoh :

Kasus : Tn A berusia 8 tahun di rawat di ruang anggrek selama 3 hari dengan kondisi
terlihat sangat lemas. Tn A mengeluh lelah akibat diare nya , tanda-tanda vital
tekanan darah 90/60 mmHg.HR=100/MENIT dan RR=35/menit.

dx : resiko alergi dibuktikan dengan kondisi penurunan imunitas

3. Diagnosis Promosi Kesehatan

Diagnosis ini menggambarkan adanya keinginan dan motivasi klien untuk


meningkatkan kondisi kesehatannya ke tingkat yang lebih baik atau optimal.

Contoh kasus : tuan B datang ke klinik anggrek dengan kondisi mata merah dan
keluhan urin nya tidak normal.

Diagnosis :

Kesiapan peningkatan eliminasi urin dibuktikan dengan pasien mengatakan ingin


meningkatkan eliminasi urin, jumlah dan karakteristik urin normal.

Beri Nilai