Anda di halaman 1dari 7

Shalat berjamaah adalah shalat yang dilaksanakan secara bersama-sama, paling tidak oleh dua orang,

yakni imam (yang memimpin) dan makmum (yang mengikuti), dan selebihnya tidak dibatasi oleh jumlah.

Hukum shalat berjamaah adalah sunah muakad (sunah yang sangat dianjurkan) kecuali shalat jumat yang
pelaksanaannya berjamaah adalah fardhu. Shalat yang disunahkan agar dilakukan secara berjamaah
ialah:

1. Shalat fardhu lima waktu

2. Shalat dua hari raya. (Idul Fitri dan Idul Adha)

3. Shalat tarawih dan witir di bulan Ramadhan.

4. Shalat meminta hujan

5. Shalat khusufain (gerhana matahari dan bulan).

6. Shalat Jenazah.

Shalat berjamaah lebih utama dilaksanakan di masjid atau di musola. Namun, bisa juga dilaksanakan di
rumah atau kantor. Bagi para suami dilarang menghalangi istri dan anak perempuan untuk berjamaah di
masjid.

Adapun beberapa syarat-syarat shalat berjamaah diantarannya sebagai berikut

1. Makmum menyengaja (niat) untuk mengikuti imam.

2. Makmum hendaknya mengikuti imam dalam segala pekerjaan shalat.

3. Sebelum shalat berjamaah dimulai hendaknya imam menganjurkan agar barisan dirapatkan dan
diluruskan.

4. Makmum mengetahui segala gerak-gerik perbuatan imam.

5. Antara imam dan makmum berada pada satu tempat, dimana makmum dapat mengetahui pergantian
gerak-gerik imam yang terkait dengan shalat, baik dengan suara, atau melihat pergerakan makmum yang
lain. Masjid bertingkat terhitung satu tempat selama ada tangga atau lubang yang menghubungkan
imam dan makmum.

6. Jangan mendahului imam dalam takbir dan jangan mendahului atau melambatkan diri sampai melibihi
dua rukun utama shalat.

7. Tempat berdiri makmum jangan melibihi tempat berdiri imam.

8. Susunan barisan makmum adalah : Laki-laki dewasa berada tepat di belakang imam, disusul dengan
shaf remaja dan laki-laki, kemudian baru shaf perempuan. Jika masjid berlantai lebih dari satu, maka shaf
laki-laki sebaiknya sati ruang dengan imam (lantai satu), sedangkan shaf perempuan di lantai lain.
9. Barisan shaf hendaknya di rapatkan, tidak ada kerengganngan, tetapi jangan terlalu sempit sehingga
membuat gerakan shalat menjadi sulit. ukuran rapat tersebut bukan berdasarkan kerapatan kaki-kaki
antar makmum namun mengacu pada kerapatan tubuh (bahu) anatar makmum. adapun lebar kaki
mengikuti lebar tubuh para makmum.

10. Imam jangan sampai mengikuti atau terpengaruh oleh makmum.

11. Shalat makmum harus bersesuaian dengan shalat imam, baik jenis atau peraturannya, misalnya
sama-sama mengerjakan shalat Zuhur, mengqasar, atau menjamak shalat, dan sebagainnya.

12. Makmum hendaknya memperhatikan dengan tenang bacaan imam.

13. Perempuan tidak boleh menjadi imam bagi kaum laki-laki,

14. Seorang imam berurutan dipiih berdasarkan: a) banyaknya hafalan Al-Qur'an dan yang suarannya
lebih baik; b) paling mengetahui suna-sunah

Rasulullah; c) diutamakan yang lebih tua usia; d) warga kampun orang setempat lebih berhak menjadi
imam dibandingkan seorang musafir, begitu pula seorang tuan rumah lebih utama menjadi imam
dibandingkan dari tamunya.

Janganlah dijadikan imam seorang yang diketahui batal shalatnya, dan yang diketahui sebagai ahli
berbuat dosa.

Seorang imam bukanlah orang yang dibenci oleh kebanyakan makmum dengan alasan keagamaan.

Selesai shalat berjamaah hendaknya imam menghadap ke arah makmum atau ke arah kanan saat
berzikir, maka tidak mengapa imam menghadap kiblat kembali.

1. Laki-laki Makmum kepada laki-laki

2. Perempuan Makmum kepada Laki-laki.

3. Permpuan Makmum kepada Perempuan.

4. Waria Makmum kepada Laki-laki

5. Perempuan Makmum kepada Waria.

Makmum Masbuq adalah makmum yang sudah ketinggalan dari shalat imamnya, tidak sempat membaca
surat Al-Fatihah beserta imam pada rakaat pertama.

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh makmum masbuq adalah sebagai berikut :

1. Jika makmum masbuq bertakbir ketika imam belum melakukan rukuk, hendaknya ia membaca surat
Al-Fatihah bila imam sudah rukuk maka hendaknya ia langsung rukuk mengikuti imam.
2. Jika seorng makmu masbuq mendapati imam sudah melakukan rukuk hendaknya ia ikut rukuk
walaupun tidak sempat membaca surat Al-Fatihah,

3. Jika menjadi masbuq mengikuti imam sudah rukuk, maka ia harus mengulangi rakaat itu nanti
dikarenakan rakaat yang ia lakukan itu tidak sempurna dan tidak termasuk hitungan satu rakaat

4. Jika mamkum mabuq mendapati imam sudah melakukan tasyahud akhir, maka ia harus langsung
melakukan tasyahud akhir tersebut. Namun tasyahud tersebut tidak termasuk satu bilangan rakaat.

Adapu hal-hal yang membolehkan seseorang tidak melakukan shalat berjamaah adalah sebagai berikut:

1. Karena hujan yang menyusahkan untuk pergi ke masjid atau tempat shalat berjamaah.

2. Karena badai atau angin kencang.

3. Kondisi sakit yang membuat susah berjalan ke tempat shalat berjamaah.

4. Karena lapar dan haus, sementara hidangan sudah tersedia. Demikian juga bagi mereka yang sangat
ingin buang air besar atau kecil.

5. Karena baru memakan makanan yang sangat berbau, yang baunya sangat sukar dihilangkan, seperti
bawang, petai, dan sebagainya (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Adanya sesuatu yang membawa masyaqat (kesuliatan) untuk menjalankan shalat berjamaah. Namun
jika masih bisa dirumah, hendaklah tetap melaksanakan shalat berjamaah di rumah.

Semakin sering melaksanakan shalat berjamaah dikerjakan maka semakin baik, dan semakin besar pula
pahalaya.

Seorang makmum yang tertinggal (makmum masbuq) selama imam belum memberi salam maka ia tetap
mendapatkan kebaikan dan keutamaan shalat berjamaah.

Imam hendaklah meringankan shalat, kecuali jika makmum sepakat serta senang jika shalat
dipanjangkan pelaksanaannya.

Sumber: buku KH. Muhammad Sholikin dengan judul " Panduan Shalat"

Tata Cara Shalat Berjamaah

Tata Cara Shalat Berjamaah Berdasarkan ketetapan dan ketertiban salat berjamaah sudah saatnya rekan
semua membaca artikel ini yang mengnai tatacara sholat berjamaah, disini saya akan menerangkan
tentang peraktek salat wajib berjamaah adalah sebagai berikut. 1} Salat berjamaah diawali dengan azan
dan iqomah, tetapi jika waktunya sangat tidak memumkinkan, cukup dengan iqomqh saja. 2} Barisan
shalat (saf) di belakang imam di isi dengan jamaah laki-laki, sementara untuk jemaah perempuan berada
di belakangnya. 3} Di dalam melaksanakan salat berjamaah seorang imam membaca bacaan shalat ada
yang nyaring (jahar) dan ada yang di lirihkan (sir). Bacaan yang dinyaringkan adalah : [a] Bacaan
takbiratul ihram, takbir intiqal, taslim dan salam. [b] Bacaan al-fatihah dan ayat-ayat al-qur'an pada dua
rakaat pertama sholat magrib, isya dan subuh begitu juga dengan shalat jum'at, gerhana,istsqa, 'idain
(dua hari raya), tarawih dan witir.

Bacaan amin bagi imam dan makmum setelah imam selsai membaca al-fatihah yang di nyaringkan. 4}
Makmum harus mengerti gerakan imam dan tidak boleh mendahului gerakan imam. Setelah salam imam
membaca zikir dan do'a bersama sama dengan makmum atau membacanya sendiri-sendiri.

Advertisement

Perbandingan pahala antara Shalat sendirian dengan shalat bejamaah, yaitu satu berbanding dua puluh
tujuh derajat. Hal ini karena salat berjamaah memiliki keutamaan, yaitu: Menjalin silaturahmi antar
sesama. Mengajarkan hidup disiplin, saling mencinti dan menghargai. Menjaga persatuan, kesatuan dan
kebersamaan. Menahan dari kemauan sendiri (egois). Mengajarkan kepatuhan seorang muslim kepada
pinpinannya.

Sikap kecintaan kepada salat berjamaah dapat diwujudkan melalui perilaku berikut. Ketika masuk waktu
shalat segera masuk masjid dan mengumandangkan atau mendengarkan azan. Ketika mendengar azan
segera menuju masjid. Mengajak teman-temannya untuk salat berjamaah. Suka menjalin tali silaturahmi
antar seksama di masjid. Senang mendatangi majlis taklim untuk menuntut ilmu agama. Tidak suka
membeda-bedakan setatus sosial seseorang, karena kedudukanya sama di hadapan Allah Swt. Taat
kepada pinpinan selama tidak melakukan kesalahan, dan apabila apabila pinpinan salah kita wajib
mengingatkan kejalan yang benar, termasuk termasuk taat kepada orangtua dan guru. Menjaga
persatuan dan kesatuan.

Bacalah cerita berikut ini !

Lupa salat berjamaah. Ada seorang ulama besar bernama Ubaidillah al-qawariri. Ia adalah ahli hadis dan
guru perawi hadis terkenal Bukhari dan Muslim.

Selepas sholat magrib, ada tamu berkunjung kermahnya. Iapun menerima tamunya tersebut dengan
penuh hormat. Saking hormatnya kepada tamu, iapun harus tertinggal salat isya. Setelah tamunya
pulang, ia segera pergi ke masjid. Ternyata, di masjid sudah tidak ada jamaah. Akhirya ia mengjak orang-
orang di sekitarnya untuk melaksanakan salat isya berjamaah. Akan tetapi, seluruh masyarakat di sekitar
masjid sudah melaksanakan salat isya berjamaah di masjid. Dengan hati resah, ia mnyesal telah
kehilangan kesempatan mendapatkan pahala 27 derajat. Untuk menebus kelalaian dan menentramkan
hatinya, Ubaidillah melakukan salat isya sebanyak 27 kali. Usai salat, ia pun beranjak tidur.

terimakasih, mudah-mudahan bermanfaat bagi anda rekan semua dan semoga kita senantiasa berada di
dalam lindungan Allah Swt. Amin