Anda di halaman 1dari 40

Definisi Urolithiasis

Urolithiasis merupakan penyakit batu saluran kemih sedangkan nefrolithiasis merujuk


pada penyakit batu ginjal. Urolithiasis merujuk pada adanya batu dalam sistem perkemihan.
Batu atau kalkuli dibentuk didalam saluran kemih mulai dari ginjal ke kandung kemih oleh
kristalisasi dari substansi ekskresi didalam urin (Nursalam 2006).
Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, kalkuli (batu ginjal)
pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran
perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus
mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam
pelvis ginjal. Adanya batu/kalkuli di traktus urinarius terbentuk ketika konsentrasi substansi
tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat dan asam urat mengalami peningkatan
(Smith’s 2007)

Gambar 2.4 Batu Sistem Perkemihan


(Smith’s and Campbell 2011)

Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium oksalat atau kalsium
fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthin, dan sistin, silikat, dan
senyawa lainnya. Data mengenai kandungan/komposisi zat yang terdapat pada batu sangat
penting untuk usaha pencegahan terhadap timbulnya batu residif.
Menurut Purnomo (2011) Klasifikasi batu berdasarkan bahan pembentuknya antara
lain:
1) Batu non infeksi
(1) Batu kalsium
Batu jenis ini paling banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70-80% dari seluruh
batu saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium
fosfat, atau campuran kedua unsur tersebut. Faktor terjadinya batu kalsium yaitu
5H, yaitu:
a. Hiperkalsiuria terjadi akibat absorbsi kalsium oleh usus yang berlebihan
(absorbtif), reabsorbsi kalsium oleh ginjal yang berlebihan,
hiperparatiroidisme, kelebihan vitamin D, atau metastasis tulang.
b. Hiperoksaluria diakibatkan oleh kelebihan konsumsi makanan kaya oksalat,
sindrom usus pendek, dan kelainan metabolisme bawaan sehingga terjadi
kenaikan ekstensi oksalat diatas normal;
c. Hiperurikosuria merupakan suatu peningkatan asam urat air kemih yang
dapat memacu pembentukan batu kalsium;
d. Hipositraturia merupakan penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal
dalam air kemih, khususnya sitrat merupakan mekanisme lain timbulnya batu
ginjal; dan
e. Hipomagnesuria.
(2) Batu asam urat (batu purin)
Prosentase 5-10% batu saluran kemih adalah batu asam urat. 75-80% dari
batu asam urat terdiri atas asam urat murni dan sisanya merupakan campuran
kalsium oksalat. Batu asam urat berkaitan dengan pH urin yang rendah (misalnya
diare kronis) dan hiperurikosuria (misalnya pirai, status mieloproliferatif). Dapat
terjadi pada dehidrasi yang berat meskipun kadar asam urat normal.
(3) Batu xanthin
Batu xanthin ini biasanya terjadi akibat gangguan metabolisme dalam tubuh
seperti defisiensi enzim xanthin oksidase yang mengkatalisis hipoxanthin menjadi
xanthin kemudian menjadi asam urat dan kemudian mengristal menjadi batu.
(4) Batu sistin
Batu sistin terjadi karena kelainan metabolisme sistin dalam absorbsi sistin di
mukosa usus.
2) Batu infeksi (batu struvit atau batu magnesium ammonium fosfat)
Sering disebut juga sebagai batu akibat infeksi saluran kemih yang disebabkan
karena bakteri pengurai urea (Proteus) atau urea splitter yang menghasilkan urease dan
merubah urin menjadi basa melalui proses hidrolisis urea menjadi amonia yang
menjadi penyebab terjadinya batu struvit tersebut. Jika batu struvit mengisi seluruh
sistem collecting ginjal, yang menghasilkan batu staghorn.
3) Batu jenis lain (drug stone)
Batu yang terbentuk karena obat-obatan tertentu seperti indinavir yang
menimbulkan pengendapan karbonat pada ginjal sehingga sering disebut batu karbonat
apatit.

Sedangkan klasifikasi batu berdasarkan lokasinya, antara lain:


1) Batu ginjal dan batu ureter
Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada di kaliks infudibulum,
pelvis ginjal, bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal. Batu yang mengisi
pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa
sehingga disebut staghorn stone. Kelainan atau obstruksi pada sistem pelvikalis ginjal
akan mempermudah timbulnya batu saluran kemih. Selain itu, batu yang tidak terlalu
besar didorong oleh peristaltik otot-otot pada sistem pelvikalis dan turun ke ureter
menjadi batu ureter (Purnomo 2011).
2) Batu kandung kemih atau batu buli-buli
Batu kandung kemih sering terjadi pada klien yang mengalami gangguan miksi
atau terdapat benda asing di buli-buli. Gangguan miksi terjadi pada klien dengan
hiperplasia prostat, striktur uretra, divertikal buli-buli atau buli-buli neurogenik. Selain
itu, batu kandung kemih juga bisa disebabkan oleh batu ginjal atau batu ureter yang
turun ke kandung kemih. Jika penyebabnya infeksi, maka biasanya komposisi batu
kandung kemih ini terdiri atas asam urat atau struvit.
3) Batu uretra
Batu uretra primer sangat jarang terjadi. Pada batu uretra biasanya terjadi karena
batu ginjal, ureter dan kandung kemih yang turun ke uretra. Keluhan yang biasa di
sampaikan klien adalah miksi tiba-tiba berhenti sehingga terjadi retensi urin yang
mungkin sebelumnya didahului nyeri pinggang.
Etiologi dan Faktor Risiko Urolithiasis
Menurut Baughman and Hackley (2000) urolithiasis paling sering disebabkan oleh
peningkatan konsentrasi material pembentuk batu dalam urin, baik akibat peningkatan
ekskresi atau pun penurunan volume urin. Sering terjadi pada klien dengan stasis urin
(misalnya obstruksi saluran keluar buli) dan atau infeksi yang kronis.
Etiologi urolithiasis belum diketahui secara pasti namun peneliti banyak mengatakan
bahwa pembentukan batu saluran kemih disebabkan oleh hal-hal di bawah ini:
1. Peningkatan pH urin (misalnya batu kalsium karbonat) atau penurunan pH urin (misalnya
batu asam urat).
2. Konsentrasi bahan-bahan pembentuk batu yang tinggi di dalam darah dan urin serta
kebiasaan makan atau obat tertentu juga dapat merangsang pembentukan batu.
3. Segala sesuatu yang menghambat aliran urin dan statis urin di bagian mana saja di saluran
kemih meningkatkan kemunginan pembentukan batu.
4. Obesitas dan kelebihan berat badan meningkatkan risiko batu ginjal akibat peningkatan
ekskresi kalsium,, oksalat, dan asam urat yang berlebihan (Corwin 2009).

Faktor predisposisi yang utama adalah Infeksi Saluran Kemih (ISK). Infeksi ini akan
meningkatkan terbentuknya zat organik. Zat ini dikelilingi mineral yang mengendap.
Pengendapan ini akan mengakibatkan alkanitas urin dan mengakibatkan pengendapan
kalsium fosfat dan magnesium ammonium fosfat (Mary & Yakobus 2009).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor tersebut
antara lain:
1. Faktor intrinsik
1) Usia
Insiden urolithiasis paling sering ditemukan pada usia 30-50 tahun, karena penurunan
fungsi tubuh.
2) Jenis kelamin
Insiden urolithiasis 3 kali lebih banyak dialami oleh laki-laki dibanding wanita, karena
laki-laki memiliki enzim sistin yang rendah. Selain itu, secara anatomi laki-laki
memiliki uretra yang lebih panjang sehingga berisiko menimbulkan pengendapan urin
di bagian uretra dan menyebabkan adanya residu urin yang kemudian bisa mengristal.
3) Genetik
Terkait dengan enzim sistin, untuk wanita memiliki enzim ini lebih tinggi, pada laki-
laki rendah sehingga laki-laki berisiko besar mengalami urolithiasis.
4) Herediter
Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya seperti pada kasus anomali anatomi
sistem saluran kemih.
5) Hormonal
Berhubungan dengan parathyroid hormon (PTH) dan kalsitonin. Pada keadaan
hiperparatirodisme akan mengakibatkan terjadinya keadaan hiperkalsemia dan
hiperkalsiuria. PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang sehingga
meningkatkan sirkulasi darah (kalsium serum meningkat) yang mengakibatkan
kalsium di urin juga meningkat.
6) Kelainan metabolik
Kekurangan cairan (dehidrasi) seperti karena luka bakar. Gangguan metabolisme juga
dapat menyebabkan penyakit ini seperti pada hiperparatiroidisme, hiperurisemia,
hiperkalsiuria. Hiperkalsemia (kalsium serum tinggi) dan hiperkalsiuria (kalsium urin
tinggi).
7) Infeksi
ISK yang disebabkan karena pemakaian celana yang ketat dan higene yang kurang,
serta pada wanita memiliki uretra yang pendek yang mudah terkontaminasi oleh
bakteri sehingga pada kondisi ini wanita rentan terkena infeksi saluran kemih yang
memicu terjadinya batu saluran kemih.

2. Faktor ekstrinsik
1) Geografis
Beberapa daerah menunjukkan insiden urolithiasis yang lebih tinggi dari pada daerah
lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu). Contoh: Gresik,
Lamongan, Tuban, Situbondo, Madura (Pamekasan adalah yang paling tinggi).
Dimana daerah tersebut masih menggunakan air tanah yang mana terdapat kandungan
kapur (tinggi kalsium). Hal ini dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
2) Diet makanan dan asupan air
Diet tinggi purin (jeroan, bebek, emping), oksalat (susu, sayuran berwarna putih),
fosfat (kacang-kacangan, daging, susu dan olahan), dan kalsium mempermudah
terjadinya batu saluran kemih. Selain makanan asupan air yang dikonsumsi juga bisa
menjadi faktor risiko terjadinya urolithiasis jika seseorang kekurangan intake air dalam
tubuh (dehidrasi).
3) Pekerjaan
Urolithiasis banyak dialami oleh orang yang pekerjaannya banyak duduk atau aktifitas
fisik kurang (sedentary life) serta keinginan BAK yang ditahan dalam kondisi
dehidrasi.
4) Iklim/cuaca
Iklim yang terlalu ekstrim, dimana suhu lingkungan terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Temperatur yang tinggi akan meningkatkan keringat dan meningkatkan konsentrasi air
kemih. Sedangkan pada daerah yang bersuhu dingin akan menyebabkan pemasukan
cairan yang kurang (dehidrasi) sehingga konsentrasi air kencing juga akan menjadi
pekat. Konsentrasi air kemih yang meningkat akan meningkatkan pembentukan kristal
air kemih.

Manifestasi Klinis Urolithiasis


Menurut Baughman dan Hackley (2000) Manifestasi dari kondisi ini bergantung pada
obstruksi, infeksi, edema. Gejala-gejala berkisar dari ringan sampai sangat nyeri dan rasa tak
nyaman.
1. Batu pada pelvis renalis
1) Nyeri ketok pada region sudut kostovertebral (CVA)
2) Hematuria dan piuria
3) Nyeri menjalar kearah anterior dan kebawah ke arah kandung kemih pada wanita dan
kearah testis pada laki-laki
2. Kolik renalis
1) Nyeri akut, nyeri tekan halus pada area kostovertebral
2) Mual, muntah, diare
3) Dapat terjadi rasa tak nyaman pada abdomen
3. Kolik ureteral ( batu yang tersangkut pada ureter)
1) Nyeri akut, sangat sakit, kolik, seperti gelombang yang menjalar kearah paha ke
genitalia
2) Sering ingin berkemih, tapi hanya sedikit urin yang keluar; biasanya mengandung
darah
4. Batu yang tersangkut pada buli-buli
1) Gejala iritasi berkaitan dengan infeksi saluran perkemihan dan hematuria
2) Retensi urine, jika batu menyumbat leher kandung kemih
3) Kemungkinan sepsis jika terdapat infeksi bersamaan dengan batu
Terdapat juga gejala-gejala sebagai berikut:
1. Gejala iritatif
1) Sering berkemih tapi sedikit-sedikit (frekuensi urin sedikit)
2) Disuria (nyeri berkemih)
2. Gejala obstruktif
1) Nyeri kolik
2) Hematuria akibat rupturnya mukosa saluran kemih
3) Retensi urin
4) Hesistensi (anyang-anyangan)

Pemeriksaan Diagnostik Urolithiasis


Menurut Umamy (2007) Pemeriksaan diagnostik yang bisa dilakukan untuk
mengetahui adanya batu ureter (urolithiasis) adalah sebagai berikut:
1. Uji Laboratorium
1) Analisa urin (Urinanalisis)
Analisa ini digunakan untuk menemukan faktor risiko pembentukan batu selain
itu juga dapat menunjukkan hasil secara umum terkait dengan hal-hal berikut ini:
(1) Tes urin lengkap
Warna urin mungkin kuning, coklat gelap, berdarah; secara umum menunjukkan
SDM, SDP, kristal (sistin, asam urat, kalsium oksalat), serpihan, mineral, bakteri,
pus; pH mungkin asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) atau alkalin
(meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat) (Borley
2006).
Pemeriksaan ini dikenal dengan pemeriksaan urin rutin dan lengkap yaitu suatu
pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urin yang meliputi
pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan
pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan
pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit. Warna
urin, adanya eritrosit, bakteri yang ada di dalam urin
(2) Kultur urin
Pemeriksaan ini dilakukan dengan indikasi kecurigaan pada klien dengan adanya
ISK karena berguna untuk mendeteksi adanya infeksi sekunder ataupun infeksi
saluran kemih (ISK) akibat adanya pertumbuhan kuman pemecah vena seperti
(Stapilococus aureus, Proteus, Klebsiela, Pseudomonas).
(3) Tes urin 24 jam
Pengumpulan urin 24 jam ini dilakukan saat klien di rumah pada lingkungan yang
normal. Hal ini berguna untuk mengetahui kadar pH urin, kreatinin, asam urat,
kalsium, fosfat, oksalat atau sistin yang mungkin meningkat. Kadar normal pH
urin adalah 4,6-6,8. Jika pH asam maka akan meningkatkan sistin dan batu asam
urat. Sedangkan, apabila pH alkali maka dapat meningkatkan magnesium, fosfat
amonium (batu kalsium fosfat). Kadar BUN normalnya mencapai 5-20 mg/dl,
pada pemeriksaan tujuannya untuk melihat kemampuan ginjal dalam ekskresi sisa
yang bernitrogen. BUN menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration
Rate (GFR). Hal yang mempengaruhi perubahan kadar BUN adalah diet tinggi
protein serta darah dalam saluran pencernaan yang mengalami katabolisme
(cedera dan infeksi). Sedangkan untuk Kreatinin Serum memiliki tujuan yang
sama dengan pemeriksaan BUN. Kadar normal laki-laki adalah 0,85-15 mg/dl
sedangkan perempuan 0,70-1,25 mg/dl. Jika pada serum tinggi dan atau urin
rendah maka dapat dikatakan sebagai keabnormalitasan sekunder terhadap
tingginya batu obstruktif pada ginjal yang dapat menyebabkan terjadinya iskemia/
nekrosis.
(4) Kadar klorida, bikarbonat serum, serta hormon paratiroid
Peningkatan kadar klorida dan penurunan kadar bikarbonat menunjukkan
terjadinya asidosis tubulus ginjal. Selain itu, kadar hormon paratiroid (PTH) juga
mungkin meningkat jika terdapat gagal ginjal. (PTH merangsang reabsorpsi
kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urin).
2) Tes darah lengkap (DL)
Leukosit kemungkinan dapat meningkat, hal ini disebabkan adanya infeksi/septikemia,
namun berbeda dengan eritrosit yang biasanya dalam kadar normal. Sedangkan Hb/Ht
menjadi abnormal bila klien mengalami dehidrasi berat atau polisitemia (mendorong
presipitasi pemadatan) atau anemia (pendarahan, disfungsi/ gagal ginjal). Periksa juga
kadar protein plasma darah serta laju endap darah.
3) Analisa batu
Analisa ini digunakan untuk pemeriksaan adanya batu pada saluran perkemihan
dengan menggunakan pemeriksaan mikroskopik sendimen urin. Pemeriksaan ini juga
disebut dengan tes mikroskopik urin, dimana survei ini berguna untuk menunjukkan
adanya sel dan benda berbentuk partikel lainnya seperti bakteri, virus maupun bukan
karena infeksi (perdarahan, gagal ginjal). Pemeriksaan ini juga dapat dipakai untuk
mengetahui ada atau tidaknya leukosituria, hematuria dan kristal-kristal pembentuk
batu seperti yang dijelaskan di bawah ini:
(1) Kalsium oksalat
Kalsium ini dapat dijumpai pada klien yang sehat. Terjadi pada urin dari setiap
pH terutama jika pH asam. Kristal berbentuk amplop atau halter, ukuran bervariasi
dan tidak berwarna ini dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan
tertentu (seperti asparagus, kubis, dll) serta ketika keracunan ethylene glycol. Jika
kristal Ca-oxallate ini berjumlah 1-5 (Positif 1) per LPL masih dinyatakan normal,
tetapi jika lebih dari 5 (Positif 2 atau 3) sudah dinyatakan abnormal.
(2) Triple fosfat
Seperti halnya Ca-oxallate, triple fosfat juga dijumpai pada klien yang sehat.
Kristal ini dapat ditemukan pada pH netral ke basa. Kristal berbentuk prisma
empat persegi panjang (seperti tutup peti mati) dan kadang-kadang berbentuk
daun atau bintang ini dapat muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu seperti
buah-buahan. Infeksi saluran kemih dengan bakteri penghasil urease (Proteus
vulgaris) dapat mendukung pembentukan kristal ini dengan meningkatkan pH dan
amonia bebas.
(3) Asam urat
Kristal ini berbentuk belah ketupat atau jarum yang menyerupai bunga mawar
serta berwarna kuning kecoklatan. Kristal ini memberikan nilai klinis pada
metabolisme zat sampah atau sisa metabolisme normal. Namun, jumlahnya
tergantung dari beberapa hal seperti: jenis makanan, jumlah makanan, kecepatan
metabolisme, dan konsentrasi urin.
(4) Sistin (Cystine)
Kristal berbentuk heksagonal dan tipis ini muncul akibat dari cacat genetik
atau penyakit hati yang parah. Dapat dijumpai pada cystinuria dan
homocystinuria. Terbentuk pada pH asam dan ketika konsentrasinya > 300 mg.
Kristal ini sering membingungkan dengan kristal asam urat. Sistin Crystalluria
merupakan indikasi cystinuria, diaman merupakan kelainan metabolisme bawaan
yang melibatkan reabsorbsi tubulus ginjal tertentu termasuk asam amino sistin.
(5) Leusin dan tirosin
Merupakan kristal asam amino yang sering muncul bersama-sama dalam
penyakit hepar kronis. Leusin muncul dengan berminyak bola dengan radial dan
konsentris striations, sedangkan tirosin tampak sebagai jarum yang tersusun
sebagai berkas dan berwarna kuning. Kristal ini sangat jarang terlihat pada
pemeriksaan mikroskopis sendimen urin. Kristal ini dapat diamati pada beberapa
penyakit keturunan seperti tyrosinosis dan Maple Syrup.
(6) Kristal kolesterol
Kristal ini tampak regular atau iregular, transparan, seperti pelat tipis empat
persegi panjang. Penyebabnya tidak jelas, namun hal ini diduga memiliki makna
klinis seperti oval fat bodies. Kristal ini sangat jarang dan biasanya disertai
proteinuria.
(7) Kristal lain
Kristal lain yang dapat ditemukan pada pemeriksaan mikroskopik sendimen
urin, misalnnya adalah:
a. Kristal dalam urin asam
a) Natrium urat: tidak berwarna, berbentuk batang irregular tumpul,
berkumpul membentuk roset.
b) Amorf urat: berwarna kuning atau coklat, terlihat sebagai butiran dan
berkumpul.
b. Kristal dalam urin alkali
a) Amonium urat (biurat): berwarna kuning-coklat, berbentuk bulat irregular
berduri atau bertanduk.
b) Ca-fosfat: tidak berwarna, berbentuk batang panjang, berkumpul
membentuk roset.
c) Amorf fosfat: tidak berwarna, berbentuk butiran-butiran dan berkumpul.
d) Ca-karbonat: tidak berwarna, berbentuk bulat kecil dan halter.
c. Kristal akibat sekresi obat dalam urin
a) Kristal sulfadiazin
Kristal ini terbentuk akibat konsumsi obat sulfadiazine yang biasanya
digunakan untuk obat antibakteri. Obat ini terdapat sulfa yang sukar larut
dalam urin dan sangat asam sehingga dapat menimbulkan kristaluria dan
komplikasi ginjal lainnya. Tindakan pencegahannya yaitu klien dianjurkan
minum banyak air putih (≥ 1200 ml/hari) atau diberikan sediaan alkalis (Na-
Bikarbonat untuk menaikkan pH urin).
b) Kristal sulfonamida
Kristal ini terjadi akibat konsumsi obat sulfonamida yang digunakan
secara sistemik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada
manusia. Kristal ini dapat terjadi karena tidak dikombinasikan dengan Na-
Bikarbonat (natrium sitrat) sehingga tidak dalam suasana alkalis yang
mengakibatkan sulfa-sulfa akan menghambur dalam saluran kemih secara
bebas.
2. Tes Radiologi
1) Foto polos abdomen (BOF, KUB)
Radiologi ini dapat dipakai untuk menunjukkan adanya kalkuli dan atau
perubahan anatomik pada area ginjal maupun sepanjang ureter. Plain-film radiografi
dari ginjal, ureter, dan kandung kemih (KUB) hanya dapat mendokumentasikan
ukuran dan lokasi batu kemih radiopak pada batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat,
karena memiliki kandungan kalsium mereka paling mudah dideteksi oleh radiografi.
Pemeriksaan ini digunakan untuk menunjukkan adanya kalkuli dan/atau
perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter.
Pertimbangan keperawatan dalam pemeriksaan ini adalah menganjurkan klien
untuk dilakukan Lavement dengan dulcolax sebagai persiapan pemeriksaan.
Selain itu, pemeriksaan ini berperan untuk menilai kandung kemih dan ginjal,
dimana ditentukan dari:
(1) Distribusi udara di dalam usus rata atau tidak.
(2) Bentuk ginjal.
(3) Bayangan batu : dimana dilihat radiopak, radiolusent.
(4) Garis M. Psoas simetris. Jika tidak simetris harus dilakukan transplantasi ginjal.

Gambar 2.5 Gambaran Plain Foto (Foto Polos Abdomen / BOF, KUB)
(Tanagho dan McAninch, 1976)

2) IVP (Intra Vena Pielografi) / IVU (Intravenous Urography)


Memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdomen atau
panggul. Tes ini juga dapat menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi
ureter) dan garis bentuk kalkuli. Saat ini, IVU/IVP memiliki peran yang terbatas dalam
manajemen. IVU/IVP menyediakan informasi yang berguna mengenai ukuran batu,
lokasi, dan radiodensity. Anatomi Calyceal, derajat obstruksi, serta unit ginjal
kontralateral juga dapat dinilai dengan akurasi. IVU/IVP tersedia secara luas, dan
interpretasinya baik standar. Selain itu, IVU/IVP memungkinkan untuk kalkuli saluran
kemih dapat dengan mudah dibedakan dari radiografi non-urologi.
Keakuratan IVU/IVP dapat dimaksimalkan dengan persiapan usus yang tepat, dan
efek ginjal merugikan dari media kontras dapat diminimalkan dengan memastikan
bahwa klien terhidrasi dengan baik. Langkah-langkah persiapan membutuhkan waktu
dan sering tidak dapat dicapai ketika kondisi klien dalam situasi darurat. Dibandingkan
dengan ultrasonografi abdomen dan KUB radiografi, IVU/IVP memiliki sensitifitas
yang lebih besar (64-87%) dan spesifisitas (92-94%) untuk mendeteksi batu ginjal.
Kontras diperlukan untuk melakukan IVU/IVP. Efek nefrotoksik kontras
didokumentasikan dengan baik dari literatur IVU dan dibahas secara singkat untuk
memudahkan pembaca tentang kesepakatan klinis dengan situasi di mana penggunaan
kontras masih di pertanyaan.
Indikasi pemeriksaan ini yaitu pada klien dengan:
(1) Hematuria
(2) ISK yang berulang
(3) Batu saluran kemih
(4) Anomali anatomi sistem urinari
(5) Nyeri pinggang yang tidak bisa diterangkan penyebabnya
(6) Nyeri kolik ginjal
(7) Dicurigai terdapat tumor yang mengganggu fungsi saluran kencing-ginjal, ureter,
kandung kemih, dan atau uretra

Kontraindikasi pemeriksaan ini adalah:


(1) Kadar kreatinin >1,5
(2) Alergi terhadap kontras (Aziz 2008).
Pertimbangan keperawatan dalam pemeriksaan ini adalah menyarankan kepada
klien agar melakukan puasa selama 6-8 jam agar pemeriksaan berjalan dengan lancar,
selain itu juga dilakukan lavage. Syarat-syarat pemeriksaan ini adalah klien tidak
memiliki alergi kontras dan fungsi ginjal baik.
Gambar 2.6 Hasil pemeriksaan dengan IVU/IVP
(Tanagho dan McAninch, 1976)
3) Sistoureteroskopi
Visualisasi langsung kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu dan atau
efek obstruksi (Borley 2006).
4) CT-scan
Pemindaian CT-scan akan menghasilkan gambar yang lebih jelas tentang ukuran
dan lokasi batu. Pemeriksaan ini dipakai untuk mengidentifikasi kalkuli dan masa lain;
ginjal, ureter, dan distensi kandung kemih. Sangat akurat mendiagnosa ureteral kalkuli,
sensitifitas sangat tinggi untuk mengidentifikasi obstruksi. Selain itu, CT-scan juga
sebagai Gold Standart dari pemeriksaan trauma urinari. Mengidentifikasi atau
menggambarkan kalkuli dan massa lain; ginjal, ureter, dan distensi kandung kemih
(Borley 2006).
Indikasi:
(1) Obstruksi saluran kemih
(2) BSK (Batu saluran kemih)
(3) Trauma urinari
(4) Kalkuli ureter
(5) Distensi bladder

Gambar 2.7 Gambaran CT-scan


(Tanagho dan McAninch, 1976)
5) Ultrasound ginjal (USG)
Ultrasonografi Doppler berwarna transabdomen untuk mendeteksi hilangnya
“daya pancaran” ureter ke dalam kandung kemih juga dianjurkan sebagai pemeriksaan
diagnostik pada klien dengan suspek urolithiasis (Leveno 2009).
USG ginjal digunakan untuk menunjukkan perubahan obstruksi, lokasi batu.
Namun Saat ini, USG memiliki penggunaan yang terbatas dalam diagnosis urolithiasis
dan stone of lower urinary. Ultrasonografi adalah teknik yang dapat membaca dengan
cepat yang memiliki sensitivitas tinggi dalam mendeteksi batu ginjal. Penggunaan rutin
USG paten pada klien yang mengalami kolik ginjal akut terbatas. Menariknya, jika batu
ureter divisualisasikan oleh USG, temuan ini dapat diandalkan dengan spesifisitas
dilaporkan 97%.
Meskipun peran untuk diagnostis terbatas, USG dapat memainkan peran penting
untuk manajemen dan tindak lanjut untuk klien dengan urolithiasis. USG sangat sensitif
terhadap hidronefrosis yang mungkin merupakan manifestasi dari obstruksi saluran
kemih. Selain itu, ultrasonografi abdomen adalah modalitas penggambaran pilihan
untuk evaluasi nyeri ginekologi, yang lebih umum daripada urolithiasis pada wanita usia
subur. Klien dalam kelompok usia anak serta klien dengan riwayat batu nooradio calculi
(asam urat) juga dapat dikelola radiografi dengan USG (Pearl dan Nakada, 2009).

Indikasi:
(1) Suspek urolithiasis
(2) Kolik ginjal
(3) Batu ginjal
(4) Hidronefrosis
(5) Obstruksi saluran kemih
(6) Batu asam urat
(7) Nyeri ginekologi
Gambar 2.8 Gambaran USG Doppler
(Tanagho dan McAninch, 2008)

6) Sistoskopi
Sistoskopi adalah prosedur pemeriksaan dengan menyisipkan sebuah tabung kecil
fleksibel melalui uretra, yang memuat sebuah lensa dan sistem pencahayaan yang
membantu dokter untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih untuk
mengetahui kelainan dalam kandung kemih dan saluran kemih bawah.
Dengan prosedur ini, batu ginjal dapat diambil dari ureter, kandung kemih atau
uretra, dan biopsi jaringan dapat dilakukan. Retrograde pielografi adalah pemasukan zat
kontras melalui kateter ke dalam ureter dan pelvis ginjal, yang dapat dilakukan selama
sistoskopi. Dan berguna untuk mengetahui kerusakan dari serabut-serabut otot pada
kandung kemih (Chang 2009). Indikasi pemeriksaan ini yaitu klien dengan kelainan
anomali bladder, saluran kemih, dan batu ginjal.
7) Uroflowmetry dan Urodinamik
Berguna untuk mengukur kecepatan pengeluaran urin, tekanan bladder dan
tekanan abdominal. Serta untuk mendeteksi pancaran kencing sehingga dapat
mengetahui ada tidaknya kelainan pada saluran kencing bawah, seperti adanya kelainan
prostat (BPH) maupun kelainan striktur uretra. Interpretasi yang bisa dilakukan yaitu
dengan cara melihat nilai kecepatan pengeluaran urin (minimal 100 cc urin) sebagai
berikut:
(1) 0 – 10 ml/s : Obstruksi
(2) 10-15 ml/s : Border line
(3) >15 ml/s : Normal
Gambar 2.9 Mekanisme Uriflowmetry

Indikasi:
(1) BPH (Benign Prostatic Hyperplasia)
(2) Striktur uretra
(3) Kelainan saluran kencing bagian bawah

Urodinamik yaitu dengan dua kali tes uroflowmetry dengan volume urin <100cc.

Gambar 2.10 Mekanisme Urodinamik


8) Magnetic Resonance Urography (MRU)
Magnetic resonance urography (MRU) memiliki peran minimal dalam diagnosis
dan manajemen urolithiasis. MRU memberikan alternatif untuk NCCT dalam
pengaturan klinis tertentu, termasuk klien anak-anak dan ibu hamil. MRU memberikan
gambaran yang luar biasa dari saluran kemih dan telah terbukti memiliki akurasi
diagnosis batu dari 92,8%. Peran sekarang dari MRU masih berkembang dan belum
dianggap sebagai standar perawatan (Pearl dan Nakada, 2009).
Indikasi:
(1) Hidronefrosis
(2) Batu saluran kemih (BSK)
(3) Obstruksi saluran kemih
(4) Striktur uretra
9) Renogram
Pemeriksaan yang dikhususkan untuk klien yang terkena staghorn stone. Berguna
untuk menilai fungsi ginjal (Umamy 2007).
Penatalaksanaan Urolithiasis
Tujuan utama penatalaksanaan ini adalah untuk menghilangkan batu, mencegah
kerusakan nefron, dan mengendalikan infeksi, serta mengurangi obstruksi yang terjadi.
Ada beberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada batu saluran empedu
diantaranya:
1. Terapi konservatif
1) Terapi diet
Terapi diet ini terdiri dari terapi nutrisi dan terapi cairan. Terapi nutrisi berperan
penting dalam mencegah batu renal. Masukan cairan yang adekuat serta menghindari
makanan tertentu dalam diet juga dapat mencegah pembentukan batu. Setiap klien
yang memiliki riwayat batu renal harus minum paling sedikit 8 gelas air (+ 2-3 liter)
dalam sehari untuk mempertahankan urin encer, kecuali dikontraindikasikan. Natrium
selulosa fosfat telah diteliti lebih efektif dalam mencegah batu kalsium.
Adapun makanan yang harus dihindari atau dibatasi antara lain:
(1) Makanan kaya vitamin D meningkatkan reabsorbasi kalsium;
(2) Garam meja dan makanan tinggi natrium, karena Na+ bersaing dengan Ca2+ dalam
reabsorbasinya diginjal.
(3) Makanan yang banyak mengandung purin penyebab asam urat adalah JAS
BUKET (Jerohan, Alkohol, Sarden, Burung dara, Unggas, Kaldu, Emping, dan
Tape), maupun BENJOL (Bebek, Emping, Nangka, Jerohan, Otak, dan Lemak).

Menurut Brunner And Suddarth (2002) Daftar makanan dan minuman yang
harus dihindari adalah sebagai berikut:
1) Produk susu : Semua jenis keju, susu dan produk susu lainnya, krim asam.
2) Daging, ikan.
3) Sayuran : Lobak, bayam, buncis, seledri, kedelai.
4) Buah : Kismis, semua jenis beri, anggur.
5) Roti : Roti murni, gandum, catmeal, beras merah, jagung giling,
sereal.
6) Minuman : Teh, coklat, minuman berkarbonat, bir, semua
minuman yang dibuat dari susu atau produk susu.

2) Terapi farmakologi
(1) Antispasmodik
Propantelin dapat digunakan untuk mengatasi spasme ureter.
(2) Antibiotik
Pemberian antibiotik dilakukan apabila terdapat infeksi saluran kemih atau
pada pengangkatan batu untuk mencegah infeksi sekunder. Setelah dikeluarkan,
batu ginjal dapat dianalisis dan obat tertentu dapat diresepkan untuk mencegah
atau menghambat pembentukan batu berikutnya. Urin yang asam harus dibuat
basa dengan preparat sitrat (Chang 2009).
(3) Analgesik
Opioid (injeksi morfin sulfat, petidin hidroklorida) atau obat AINS
(NSAID’s) seperti ketorolak dan naproxen dapat diberikan tergantung pada
intensitas nyeri.
3) Terapi kimiawi
(1) Mempertahankan pH urin agar tidak terjadi kristalisasi batu
a. NaCO3- : Membuat urin lebih alkali pada asam
b. Asam askorbat : Membuat urin lebih asam pada alkali pencetus
(2) Mengurangi ekskresi dari substansi pembentuk batu
a. Diuretik (tiazid) : Menurunkan eksresi kalsium ke dalam urin dan
menurunkan kadar parathormon. Efek samping
gangguan metabolik, dermatitis, purpura.
b. Alupurinol (zyloprim): Mengatasi batu asam dengan menurunkan
kadar asam urat plasma dan ekskresi asam
urat ke dalam urin. Efek samping mual,
diare, vertigo, mengantuk, sakit kepala.
4) Herbal
Jus kulit manggis dan daun sirsak penghancur batu ginjal paling ampuh tanpa
menimbulkan efek samping. Daun sirsak berfungsi sebagai diuretik alami penghambat
terjadinya pembentukan batu yang baru dan penghancur batu yang telah terbentuk
dengan sangat efektif. Selain itu juga sebagai antioksidan yang sangat tinggi berguna
untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta dapat mencegah infeksi dan melancarkan
peredaran darah sehingga urin (hasil buangan akhir lebih sempurna). Serta banyak lagi
kandungan daun sirsak seperti acetogenin, annocatin, annocatalin, annohexocin.
annonacin, annomuricin, anomourine, anonol, caclourine, gentisic acid,
gigantetronin, linoleid acid, muricapentosin yang sangat baik untuk penderita batu
ginjal.
Selain daun sirsak, khasiat kulit manggis tidak kalah pentingnya. Kulit manggis
mengandung suatu senyawa xanthone, yaitu zat antioksidan yang dapat melawan
radikal bebas. Senyawa ini baik untuk mengikis endapan di dalam tubuh seperti batu
ginjal, leburan batu ginjal akan terbuang bersama aliran urin.
2. Terapi non invasif
1) Pelarutan Batu
Jenis batu yang dapat dilarutkan adalah jenis batu asam urat. Batu ini hanya
terjadi pada keadaan pH air kemih yang asam (pH 6,2) sehingga hanya dengan
pemberian Natrium Bikarbonat (NaCO3-) disertai dengan makanan alkalis maka batu
akan larut bersama urin. Namun, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa
dengan pemberian NaCO3- bersamaan Allopurinol akan memberikan hasil yang baik
dengan menurunkan kadar asam urat air kemih.
Batu struvit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah pembesarannya bila
diberikan pengobatan dengan pengasaman kemih dan pemberian antiurease. Bila
terdapat kuman, harus segera ditindaklanjuti. Akan tetapi, infeksi pada urolithiasis
sukar dihilangkan karena kuman ini berada di dalam batu yang tidak pernah dapat
dicapai oleh antibiotik. Solutin G merupakan obat yang dapat diberikan langsung ke
batu di kandung kemih. Selain Solutin G. juga dipakai obat Hemiasidrin untuk batu di
ginjal dengan cara irigasi, tetapi hasilnya kurang memuaskan kecuali untuk batu sisa
pasca bedah yang dapat diberikan melalui nefrostomi yang terpasang. Kemungkinan
penyulit dengan pengobatan seperti ini adalah intoksikasi atau infeksi yang lebih berat
(Sjamsuhidajat 2004).
2) Penghancuran batu (Litotripsi)
Batu kandung kemih dapat dipecahkan dengan memakai litotriptor secara
mekanis melalui sistoskopi atau dengan memakai gelombang elektrohidrolik atau
ultrasonik. Sedangkan untuk batu ureter, digunakan ureteroskopi dan batu dapat
dihancurkan memakai gelombang ultrasonik, elektrohidrolik, atau sinar laser. Beda
halnya dengan batu ginjal yang menggunakan litotripsi dilakukan dengan bantuan
nefroskopi perkutan untuk membawa transduser melalui sonde ke batu yang ada di
ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi perkutan.
Terapi yang sering dipakai pada kasus ini adalah Extracorporeal Shock Wave
Lithotripsy (ESWL). Extracorporeal Shockwave Lithotripsy (ESWL) adalah prosedur
dimana batu ginjal dan ureter dihancurkan menjadi fragmen-fragmen kecil dengan
menggunakan gelombang kejut. Terapi non-invasif ini membuat klien terbebas dari
batu tanpa pembedahan ataupun endoskopi. ESWL merupakan alat pemecah batu
ginjal dengan menggunakan gelombang kejut antara 15-22 kilowatt. Meskipun hampir
semua jenis dan ukuran batu ginjal dapat dipecahkan oleh ESWL, namun masih perlu
ditinjau efektifitas dan efisiensi dari alat ini. ESWL hanya sesuai untuk
menghancurkan batu ginjal dengan ukuran kurang dari 3 cm serta terletak di ginjal
atau saluran kemih antara ginjal dan kandung kemih (kecuali yang terhalang oleh
tulang panggul). Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jenis batu apakah bisa
dipecahkan oleh ESWL atau tidak. Batu yang keras (misalnya kalsium oksalat
monohidrat) sulit pecah dan perlu beberapa kali tindakan.
Menurut Sjamsuhidajat (2004) Terdapat 3 teknik yang digunakan untuk
membangkitkan gelombang kejut, yaitu:
1) Elektrohidrolik
Teknik ini paling sering digunakan untuk membangkitkan gelombang kejut.
Pengisian arus listrik voltase tinggi terjadi melintasi sebuah elektroda spark-
gap yang terletak dalam kontainer berisi air. Pengisian ini
menghasilkan gelembung uap, yang membesar dan kemudian pecah,
membangkitkan gelombang energi bertekanan tinggi.
2) Pizoelektrik
Pada teknik ini, ratusan sampai ribuan keramik atau kristal pizo dirangsang
dengan denyut listrik energi tinggi. Ini menyebabkan vibrasi atau perpindahan cepat
dari kristal sehingga menghasilkan gelombang kejut.
3) Elektromagnetik
Aliran listrik di alirkan ke koil elektromagnet pada silinder berisi air.
Lapangan magnetik menyebabkan membran metalik di dekatnya bergetar sehingga
menyebabkan pergerakan cepat dari membran yang menghasilkan gelombang
kejut.

Indikasi ESWL:
1. Ukuran batu antara 1-3 cm atau 5-10 mm dengan gejala yang mengganggu.
2. Lokasi batu di kaliks ginjal atau ureter distal
3. Tidak adanya obstruksi ginjal distal dari batu
4. Kondisi kesehatan klien memenuhi syarat (lihat kontraindikasi ESWL)
5. Ukuran batunya tidak >10mm
6. Terfiksir di saluran kemih

Kontraindikasi ESWL:
1. Kontraindikasi Absolut
Adanya ISK akut, gangguan perdarahan yang tidak terkoreksi, kehamilan, sepsis
serta obstruksi batu distal.
2. Kontraindikasi Relatif
Kontra indikasi relatif untuk terapi ESWL adalah:
1) Status mental, meliputi kemampuan untuk bekerja sama dan mengerti
prosedur.
2) Berat badan >300 lb (150 kg) tidak memungkinkan gelombang kejut
mencapai batu, karena jarak antara F1 dan F2 melebihi spesifikasi lithotriptor.
Pada klien seperti ini sebaiknya dilakukan simulasi lithotriptor terlebih
dahulu
3) Klien dengan deformitas spinal atau orthopedik, ginjal ektopik dan atau
malformasi ginjal (meliputi ginjal tapal kuda) mungkin mengalami kesulitan
dalam pengaturan posisi yang sesuai untuk ESWL. Selain itu, abnormalitas
drainase intrarenal dapat menghambat pengeluaran fragmen yang dihasilkan
oleh ESWL
4) Masalah paru dan jantung yang sudah ada sebelumnya dan dapat diatasi
dengan anestesi.
5) Klien dengan pacemaker aman diterapi dengan ESWL, tetapi dengan
perhatian dan pertimbangan khusus.
6) Klien dengan riwayat hipertensi, karena telah ditemukan peningkatan
insidens hematom perirenal pasca terapi.
7) Klien dengan gangguan gastrointestinal, karena dapat mengalami eksaserbasi
pasca terapi walaupun jarang terjadi.

Persiapan sebelum ESWL:


1. Harus melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium baik darah maupun urin
untuk melihat fungsi ginjal, jenis batu, dan kesiapan fisik klien
2. Pemeriksaan yang paling penting adalah rontgen atau USG untuk menentukan
lokasi batu dan kemungkinan jenisnya.
3. Berikan analgesik untuk untuk sedatif ringan
4. Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi dan puasa minimal 4 jam sebelumnya.

Tindakan pasca ESWL:


1) Evaluasi pemecahan dapat diketahui langsung (real time) baik dengan x ray dan
atau USG
2) Hidrasi yang baik untuk memperlancar keluarnya batu yaitu minimal 2 liter air
sehari.
3) Berikan Health Education mengenai keadaan nyeri saat post tindakan karena
pecahan batu keluar spontan bersama urin terkadang sedikit tidak nyaman waktu
kencing.
4) Jika dianjurkan untuk analisa maka pecahan batu dikumpulkan untuk dianalisa
dalam melihat komposisi batu dengan cara disaring untuk mencegah relaps.

3. URS (Ureter Resection Cytoscopy/ Ureterorenoskopi)


Ureteroskopi adalah pengembangan dari sistoskopi dan berangsur-angsur menjadi
bentuk teknik utama untuk diagnosis dan terapi kelainan di dalam ureter atau bahkan
dengan ureterorenoskop fleksibel dapat dicapai semua kaliks dalam ginjal.
Ureteronoskopi (URS) atau ureteropieloskopi adalah tindakan endoskopi ureter sampai
pelvis renalis dengan menggunakan alat ureteroskop atau ureterorenoskop, dan digunakan
untuk tujuan diagnostik dan intervensi terapetik. Sebenarnya URS merupakan
pengembangan dari teknik sistoskopi. Alat URS dapat dimasukkan secara retrograde
lewat orifisium ureter atau secara antegrade melalui trek nefrotomi.
URS adalah alat pemecah batu saluran kemih yang menggunakan power ultrasonik
atau pneumatik. URS merupakan tindakan invasif secara minimal. Geratan yang
digunakan high frequency sehingga hanya akan merusak batu namun aman bagi jaringan
lunak. URS ini berguna untuk pemeriksaan batu yang letaknya di saluran kemih bagian
bawah ureter dan kandung kemih. Cara penggunaan alat ini dimasukkan melalui penis.
Pada prosedur URS suatu endoskopi semi rigid atau fleksibel dimasukkan ke dalam
ureter bagian lewat buli-buli di bawah anastesi umum atau regional. Dengan ureteroskop
yang flaksibel dapat mencapai batu dalam kaliks ginjal dan dapat dapat diambil atau
dihancurkan dengan semua elektrohidroulik atau laser.
Indikasi URS yaitu besar batu > 4mm sampai 15mm.
4. Metode endurologi
Bidang endourologi menggabungkan keterampilan ahli radiologi dan urologi untuk
mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Nefrostomi perkutan dilakukan dan
nefroskopi dimasukkan ke traktus perkutan yang sudah dilebarkan ke dalam parenkim
renal. Batu dapat diangkat dengan forceps atau jaring, tergantung dari ukurannya.
5. Pengangkatan batu dengan pembedahan terbuka
Jika lokasi batu di dalam ginjal, pembedahan dapat dilakukan dengan nefrolitotomi,
atau nefrektomi jika ginjal tidak berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Pembedahan
yang sering dilakukan dengan laparoskopi. Pembedahan jenis ini digunakan untuk
mengambil batu saluran kemih. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter
diantaranya bedah terbuka:
1) Pielolitotomi atau nefrolitotomi : mengambil batu di saluran ginjal
2) Ureterolitotomi : mengambil batu di ureter.
3) Vesikolitotomi : mengambil batu di vesica urinaria
4) Ureterolitotomi : mengambil batu di uretra.
Komplikasi Urolithiasis
Komplikasi yang mungkin munncul akibat dari urolithiasis, antara lain:
1. Kerusakan tubular dan iskemik partial (Suharyanto dan Madjid, 2009)
2. Hidronefrosis
3. Terbentuknya abses
4. Pyelonefrosis
5. Terbentuknya fistula urinarius
6. Perforasi ureter
7. Urosepsis yang bisa disebabkan oleh obstruksi
8. Adanya obstruksi total selama 48 jam dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang
irreversibel
9. Gangguan fungsi ginjal

Pencegahan Batu yang Berulang


Sebagai seorang perawat kita harus memberikan Health Education kepada klien untuk
mencegah terjadinya pembentukan batu yang berulang yaitu dengan memberikan HE
tentang:
1. Asupan minum yang cukup
2. Menghindari kebiasaan menahan kencing
Pada batu yang disebabkan karena kalsium oksalat maupun kalsium fosfat atau batu
purin (Batu asam urat) maka kita harus menjelaskan mengenai jenis-jenis makanan yang
harus dihindari terutama jenis makanan yang banyak mengandung purin seperti
JASBUKET (Jerohan, Alkohol, Sarden, Burung dara, Unggas, Kaldu, Emping, dan Tape)
ataupun BENJOL (Bebek, Emping, Nangka, Jerohan, Otak, Lemak).
Patofisiologi WOC
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN UROLITHIASIS
(ASKEP TEORI)

1.1 Pengkajian
Menurut Darsini (2011) Nursing care pada klien dengan urolithiasis adalah sebagai
berikut:
1. Anamnesa
1) Data demografi
Terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, diagnosa medis,
agama, suku bangsa klien dan keluarga penanggung jawabnya.
2) Riwayat kesehatan
(1) Keluhan utama
Keluhan dari klien bergantung pada posisi atau letak batu, ukuran batu, dan
penyulit yang ada. Nyeri akibat adanya peningkatan tekanan hidrostatik di daerah
abdomen bagian bawah yakni berawal dari area renal meluas secara anterior dan
pada wanita ke bawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati
testis. Nyeri yang dirasakan bisa berupa nyeri kolik atupun non kolik. Nyeri kolik
hilang timbul akibat spasme otot polos ureter karena peningkatan aktivitas untuk
mengeluarkan batu. Sedangkan nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul
ureter karena hidronefrosis atau infeksi pada ureter. Apabila urolithiasis disertai
dengan adanya infeksi maka demam juga akan dikeluhkan. Keluhan kencing
seperti disuria, retensi urin atau gangguan miksi lainnya dikeluhkan klien saat
pertama datang ke tenaga kesehatan.
(2) Riwayat penyakit sekarang
Klien awalnya mengeluhkan perubahan gangguan eliminasi urin yang dialami
(oliguria, disuria, hematuria). Biasanya seiring berjalannya waktu dan tingkat
keparahan penyakit maka nyeri mulai dirasakan dan nyeri ini bersifat progresif.
Respon dari nyeri itu sendiri yakni munculnya gangguan gastrointestinal, seperti
keluhan anoreksia, mual, dan muntah yang menimbulkan manfestasi penurunan
asupan nutrisi umum. Mengkaji berapa lama dan berapa kali keluhan tersebut
dirasakan, apa yang dilakukan, kapan keluhan tersebut muncul adalah penting
untuk mengetahui riwayat perjalanan penyakit.
(3) Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat batu ginjal sebelumnya, riwayat mengalami gangguan haluaran
urin sebelumnya, riwayat ISK, riwayat hiperkalsemia ataupun hiperkalsiuria,
riwayat hiperparatiroidisme, riwayat penyakit kanker (berhubungan dengan
adanya malignansi), dan riwayat hipertensi yang bisa menjadi faktor penyulit pada
kasus urolithiasis, penderita osteoporosis yang menggunakan obat dengan kadar
kalsium yang tinggi.
(4) Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pernah menderita urolithiasis, adanya riwayat ISK, riwayat hipertensi,
riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, gout, riwayat penyakit usus
halus, riwayat bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme.
3) Riwayat penggunaan obat
Adanya riwayat pengunaan obat-obatan tinggi kalsium, antibiotik, opioda,
antihipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan
kalsium dan vitamin.
2. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala dan leher: Kepala normal dan bentuk simetris, tidak ada pembesaran kelenjar
tiroid, tidak ada keterbatasan gerak leher. Klien mengatakan dapat bergerak dengan
baik pada bagian kepala dan leher tanpa ada keterbatasan gerak.
2) Mata: Mata normal, tidak menggunakan alat bantu penglihatan, respon klien dalam
melihat cahaya normal.
3) Hidung: Hidung normal, jalan nafas efektif, tidak menggunakan pernapasan cuping
hidung, tidak ada kelainan bentuk hidung, tidak keluar sekret atau pus dari dalam
hidung, tidak ada obstruksi jalan nafas.
4) Telinga: Fungsi pendengaran kien baik, tidak adanya gangguan mendengar, tidak
ditemukan adanya kelainan bentuk dan kelainan lain. Klien tidak menggunakan alat
bantu pendengaran.
5) Mulut dan gigi: mukosa bibir kering atau lembab, tidak ada peradangan pada mulut,
mulut dan lidah bersih.
6) Dada
(1) Inspeksi: Dada klien simetris.
(2) Palpasi: Dada klien simetris tidak ditemukan adanya bennjolan.
(3) Perkusi: Tidak ditemukan adanya penumpukan sekret, cairan atau darah di daerah
paru.
(4) Auskultasi: Suara napas normal, dan terdengar suara jantung.
7) Abdomen
(1) Inspeksi: Warna kulit, turgor kulit baik.
(2) Auskultasi: Peristaltik usus 12x/menit
(3) Palpasi: Adanya nyeri tekan pada abdomen kiri bawah
(4) Perkusi: -
8) Genetalia: Hasil pengkajian keadaan umum dan fungsi genetalia tidak ditemukan
adanya keluhan atau kelainan bentuk anatomi.
9) Pola aktifitas: Perkejaan yang dilakukan monoton, perkerjaan dimana klien terpajan
pada lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/imobilisasi sehubungan
dengan kondisi sebelumnya (contoh penyakit tak sembuh, cedera medulla spinalis).
10) Pola sirkulasi: Adanya peningkatan TD/nadi (nyeri, anseitas, gagal ginjal). Kulit
hangat dan kemerahan, pucat.
11) Pola eliminasi: Riwayat adanya ISK Kronis atau obstruksi sebelumnya (kalkulus).
Terjadi penurunan haluaran urin yang ditandai dengan adanya rasa seperti terbakar,
oliguria, hematuria, piuria, perubahan pola berkemih.
12) Pola intake makanan dan cairan: Klien mual dan muntah, nyeri tekan pada abdomen.
Diet rendah purin, kalsium oksalat, dan fosfat. Ketidakcukupan pemasukan cairan,
tidak minum air dengan cukup yang ditandai dengan distensi abdomen, penurunan
suara bising usus.
13) Nyeri: Terjadi secara akut atau bisa juga terjadi nyeri kronik. Lokasi nyeri tergantung
pada lokasi batu, contoh pada panggul di region sudut kostovetebral (CVA) dan dapat
menyebar ke seluruh punggung, abdomen, dan turun ke lipat paha serta genitalia. Nyeri
dangkal konstan menunjukan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal. Nyeri dapat
digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain yang
ditandai dengan prilaku distraksi, terjadi demam dan menggigil.
Pemeriksaan fisik dengan metode ROS:
1. B1 (breathing)
Pola napas cepat dan dalam pada kussmaul menunjukkan adanya asidosis metabolik. Jika
memberat, edema paru bisa ditemukan menjadi penyakit paru uremik (edema paru
nonkardiogenik). Ronkhi terdengar karena beban volume berlebihan pada paru sebagai akibat
dari retensi natrium dan air. Klien sering mengalami infeksi karena imunosupresi pada gagal
ginjal terminal.
2. B2 (blood)
Gagal ginjal kronik bisa memicu gagal jantung kongestif. Sedangkan gagal ginjal terminal
dapat menimbulkan manifestasi anemia karena eritopoiesis. Keadaan hidrasi klien penting
diperiksa pada semua klien dengan masalah kesehatan yang berhubungan dengan sistem
perkemihan.
3. B3 (brain)
Periksa adanya anemia dan ikterus (jarang ditemukan) sebagai akibat dari retensi nitrogen yang
menyebabkan hemolisis. Fetor uremikum (bau amoniak hasil pemecahan urea di dalam saliva).
Stomatitis dan ulkus dapat dijumpai karena ada penurunan aliran saliva sehingga memunculkan
risiko infeksi. Pada sistem persarafan sendiri, pada klien kronis berat adalah somnolen sampai
koma karena retensi nitrogen atau toksik.
4. B4 (bladder)
a. Inspeksi
a) Amati pembesaran pada daerah pinggang dan abdomen yang mungkin terlihat karena
adanya hidronefrosis.
b) Pemeriksaan eliminasi urin
Perubahan yang terjadi biasanya adalah perubahan pancaran miksi akibat dari obstruksi
pada saluran kemih atau kelainan neurologis atau pascatrauma pada saluran kemih.
c) Pemeriksaan genitalia eksterna
Mencakup genitalia eksternal dan cincin. Melalui inspeksi, perhatikan adanya kelainan
pada penis dan uretra, misalnya mikropenis, makropenis, hipospadia, kordae, epispadia,
stenosis pada meatus eksterna, fimosis/parafimosis, fistel uretrokutan, ulkus, tumor, dan
keganasan penis.
d) Maturitas seksual
Mengkaji kematangan seksual klien, dari ukuran dan bentuk penis dan testis, warm dan
tekstur kulit skrotum dengan karakternya, dan distribusi rambut pubis. Inspeksi juga kulit
yang menutup genitalia untuk kutu,ruam, ekskoriasi, ataupun lesi.
e) Penis
Inspeksi struktur penis, termasuk batang, korona, prepusium, glans, dan meatus uretra
untuk mengkaji adanya lesi. Vena dorsalis harus terlihat saat inspeksi. Lakukan palpasi
untuk mengkaji adanya nyeri ataupun kondisi abnormal.
f) Skrotum
Inspeksi bentuk, ukuran dan kesimetrisan juga adanya lesi dan edema.
b. Auskultasi
Kaji adanya bruit renal dan paling terdengar tepat di atas umbilikus sekitar 2cm dari sisi
kanan atau sisi kiri garis tengah.
c. Perkusi
Memberikan ketokan pada sudut kostovertebra (CVA). Pada klien dengan pielonefritis, batu
ginjal pada pelvis, dan batu ureter akan terasa nyeri.
d. Palpasi
Ginjal teraba unilateral Ginjal teraba bilateral
Hipernefroma (kasrsinoma sel ginjal) Karsinoma sel ginjal bilateral
Hidronefrosis atau pionefrosis
Hidronefrosis atau pionefrosis
bilateral
Ginjal polikistik (dengan pembesaran
Ginjal polikistik
yang asimetris)
Ginjal kanan normal/ginjal soliter Sindrom nefrotik, nefropati diabetika

Pemeriksaan kandung kemih dengan palpasi dan perkusi kandung kemih dilakukan
untuk menentukan batasnya dan adanya nyeri tekan pada area suprasimfisis. Perhatikan
adanya benjolam atau masa atau jaringan parut di suprasimfisis. Masa yang teraba mungkin
merupakan kandung kemih yang penuh sebagai akibat dari retensi urin yang dialami.
5. B5 (bowel)
Stomatitis dan bau amonia pada klien dengan masalah ginjal dapat menimbulkan anoreksia
yang berpotensi pada penurunan pemenuhan nutrisi tubuh. Selain itu, ulkus mukosa mulut
dan lambung dapat memperberat anoreksia lebih lagi. Kaji adanya asites di abdomen akibat
berkumpulnya cairan karena sindrom nefrotik sebab hipoalbuminemia.
6. B6 (bone)
Kulit dapat kekuningan akibat gagal ginjal kronis atau abu-abu sampai merah tua akibat
desposisi zat besi pada klien yang melakukan transfusi darah multipel. Sedangan kuku klien
biasanya ada leukonikia karena hipoalbumin, yang ditandai dengan proteinuria berat (>3,5
gr/24jam), kadar albumin serum rendah (<30 g/l) dan edema karena kerusakan pada
glomerulus. Edema ekstremitas (pitting edema) juga mungkin ditemui.

1.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut b.d peningkatan frekuensi dorongan dan gesekan pada saluran kemih
2. Retensi urin b.d obstruksi saluran kemih
3. Risiko infeksi b.d prosedur invasif (Sistoskopi atau penggunaan kateter)

3.3 Intervensi

Diagnosa
No NOC NIC
Keperawatan
1. Nyeri akut b.d Tujuan: MANAJEMEN NYERI
peningkatan Setelah dilakukan perawatan (KONTROL NYERI)
frekuensi 2x24 jam klien melaporkan 1. Kaji nyeri secara
dorongan nyeri berkurang atau hilang. komprehensif meliputi lokasi,
gesekan pada karakteristik, onset, frekuensi,
saluran kemih Kriteria hasil: kualitas, intensitas atau
1. Nyeri terkontrol yang beratnya nyeri dan faktor
dilihat dari indikator: presipitasi
1) Klien menuliskan gejala 2. Observasi ekspresi klien
nyeri berkurang (skala 1- secara non verbal agar
5) mengetahui tingkat nyeri
2) Klien dapat menjelaskan 3. Kolaborasi pemberian
faktor penyebab nyeri analgesik sesuai advis dokter
3) Klien dapat mengetahui dan monitoring respon klien
intervensi yang 4. Kaji pengetahuan dan
dilakukan untuk perasaan klien mengenai
mengurangi nyeri nyerinya
(farmaka dan non 5. Kaji dampak nyeri terhadap
farmaka) kualitas hidup klien (ADL)
4) Klien melaporkan 6. Ajak klien untuk mengkaji
perubahan gejala nyeri faktor yang dapat
yang terkontrol pada tim memperburuk nyeri
medis 7. Kontrol faktor lingkungan
5) Klien mengetahui onset yang dapat mempengaruhi
nyeri ketidaknyamanan klien
2. Level nyeri 8. Ajarkan teknik
1) Laporan nyeri nonfarmakologi (relaksasi,
2) Durasi nyeri terapi musik, distraksi, terapi
3) Ekspresi wajah klien aktifitas, masase)
4) Tidak terjadi diaporesis
3. TTV dalam batas normal
(TD: 120/80 mmHg, Nadi:
16-20x/menit)
4)
2. Retensi urin b.d Tujuan: 1. Urinary Retention Care
obstruksi Setelah dilakukan tindakan 1) Monitor intake dan output
saluran kemih keperawatan 3x24 jam retensi 2) Monitor penggunaan obat
urin klien dapat teratasi. antikolinergik
3) Monitor derajat distensi
Kriteria Hasil: bladder
1. Kandung kemih kosong
secara penuh
2. Tidak ada residu urin >100- 4) Instruksikan pada klien dan
200 cc keluarga untuk mencatat
3. Intake cairan dalam rentang output urine
normal 5) Sediakan privasi untuk
4. Bebas dari ISK eliminasi
5. Tidak ada spasme bladder 6) Stimulasi refleks bladder
6. Balance cairan seimbang dengan kompres dingin
7. Level nyeri pada abdomen.
1) Laporan nyeri 7) Kateterisaai jika perlu
2) Durasi nyeri 8) Monitor tanda dan gejala
3) Ekspresi wajah klien ISK (panas, hematuria,
4) Tidak terjadi diaporesis perubahan bau dan
8. Eliminasi urin optimal konsistensi urine)
dilihat dari indikator: 2. Monitoring kadar albumin,
1) Pola berkemih protein total
2) Jumlah urin 3. Lakukan perawatan perineal
3) Warna urin dan perawatan selang kateter
4) Intake cairan 4. Dorong klien untuk berkemih
5) Kejernihan urin tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba
6) Bau urin dirasakan.
5. Ajarkan serta demonstrasikan
kepada klien dan anggota
keluarga tentang teknik
berkemih yang akan
digunakan di rumah. Sehingga
klien dan keluarga mampu
melakukannya dengan
mandiri.
6. Kolaborasikan obat diuretik
3. Risiko infeksi Tujuan: KONTROL INFEKSI
b.d prosedur 1. Pertahankan teknik aseptif
invasif Setelah dilakukan tindakan 2. Cuci tangan setiap sebelum
(Sistoskopi atau keperawatan selama 1x24 jam dan sesudah tindakan
penggunaan infeksi pada klien dapat keperawatan
kateter) terkontrol 3. Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung
Faktor-faktor Kriteria Hasil: 4. Gunakan kateter intermiten
risiko : 1. Klien bebas dari tanda dan untuk menurunkan infeksi
1. Prosedur gejala infeksi (tumor, dolor, kandung kemih
Invasif rubor, kolor, fungsio laesa) 5. Tingkatkan intake nutrisi
2. Inadekuat 2. Menunjukkan kemampuan 6. Dorong klien untuk memenuhi
pertahanan untuk mencegah timbulnya intake cairan
sekunder infeksi 7. Berikan terapi antibiotik
(penurunan Hb, 3. Jumlah leukosit dalam
Leukopenia, batas normal (4000 PROTEKSI TERHADAP
penekanan 10.000/mm3) INFEKSI
respon 4. Status imunitas baik dilihat 1. Monitoring tanda dan gejala
inflamasi) dari indikator: infeksi sistemik dan lokal
1) Suhu tubuh
c) 2. Inspeksi kulit dan membran
2) Fungsi respirasi mukosa terhadap kemerahan,
3) Fungsi gastrointestinal panas, drainase
4) Fungsi genitourinaria 3. Monitoring adanya luka
5) Integritas kulit 4. Batasi pengunjung bila perlu
6) Integritas mukosa 5. Dorong klien untuk istirahat
6. Ajarkan klien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
7. Kaji suhu badan pada klien
neutropenia setiap 4 jam
8. Laporkan kecurigaan infeksi
3.4 Evaluasi
Diagnosa 1
1. Kontrol nyeri
Tingkat Kontrol nyeri

Indikator Target Tidak bisa Kadang- Selalu


No. Jarang Sering
(Kriteria Hasil) menjelaskan kadang

1 2 3 4 5

1. Klien menuliskan gejala 5


1 2 3 4
nyeri berkurang
2. Klien dapat
menjelaskan faktor 1 2 3 4 5

penyebab nyeri
3. Klien dapat mengetahui
intervensi yang
dilakukan untuk 5
1 2 3 4
mengurangi nyeri
(farmaka dan non
farmaka)
4. Klien melaporkan
perubahan gejala nyeri 5
1 2 3 4
yang terkontrol pada
tim medis
5. Klien mengetahui onset 5
1 2 3 4
nyeri
2. Level nyeri berkurang
Tingkatan Nyeri

Indikator Target None


No. Severe Substantional Moderate Mild
(Kriteria Hasil)
1 2 3 4 5

1. Laporan nyeri 1 2 3 4 5

2. Durasi nyeri 1 2 3 4 5

3. Ekspresi wajah klien 1 2 3 4 5

4. Tidak terjadi diaporesis 1 2 3 4 5

Diagnosa 2
1. Level nyeri berkurang
Tingkatan Nyeri

Indikator Target None


No. Severe Substantional Moderate Mild
(Kriteria Hasil)
1 2 3 4 5

1. Laporan nyeri 1 2 3 4 5

2. Durasi nyeri 1 2 3 4 5

3. Ekspresi wajah klien 1 2 3 4 5

4. Tidak terjadi diaporesis 1 2 3 4 5


2. Eliminasi urin optimal
Tingkat Eliminasi
Indikator
Not
Target Severe Substantional Moderate Mild
No Compromise
(Kriteria compromised compromised Compromised compromised d
Hasil)
1 2 3 4 5

1. Pola 5
1 2 3 4
berkemih
2. Jumlah 5
1 2 3 4
urin
3. Warna 5
1 2 3 4
urin
4. Intake 5
1 2 3 4
cairan
5. Kejerniha 5
1 2 3 4
n urin
6. Bau urin 1 2 3 4 5

Diagnosa 3
Status imunitas
Tingkat Status Imunitas
Indikator
Not
Target Severe Substantional Moderate Mild
No Compromise
(Kriteria compromised compromised Compromised compromised d
Hasil)
1 2 3 4 5

1. Suhu 5
1 2 3 4
tubuh
2. Fungsi 5
1 2 3 4
respirasi
3. Fungsi GI 1 2 3 4 5

4. Fungsi 5
1 2 3 4
GU
5. Integritas 5
1 2 3 4
kult
6. Integritas 5
1 2 3 4
kulit