Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL Halaman


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
SK DIREKTUR
BAB I PENDAHULUAN
BAB II GAMBARAN UMUM RS
BAB III VISI, MISI, FALSAFAH, NILAI DAN TUJUAN RS
BAB IV STRUKTUR ORGANISASI RS
BAB V STRUKTUR ORGANISASI UNIT KERJA
BAB VI URAIAN JABATAN
BAB VII TATA HUBUNGAN KERJA
BAB VIII POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI PERSONIL
BAB IX KEGIATAN ORIENTASI
BAB X PERTEMUAN/RAPAT
BAB XI PELAPORAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang unik dan kompleks yang difungsikan
untuk menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum. Semakin
luaspelayanan kesehatan dan fungsi rumah sakit tersebut, maka akan semakin
kompleks peralatan dan fasilitas yang dibutuhkan. Kerumitan tersebut menyebabkan
rumah sakit mempunyai potensi bahaya yang sangat besar, tidak hanya bagi pasien, tenaga
medis dantenaga non medis, tetapi juga pengunjung rumah sakit. Berdirinya sebuah rumah
sakit dilengkapi dengan bermacam-macam peralatan yang memerlukan perawatan atau
pemeliharaan sedemikian rupa untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja, mencegah
kebakaran dan persiapan penanggulangan bencana. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
diterapkan di lingkungan kerja yang mana didalamnya terdapat berbagai aspek yang saling
mengikat seperti aspek manusia, alat, mesin, lingkungan dan bahaya kerja. Begitu banyak
aspek yang ada dapat menimbulkan berbagai ganguan kesehatan yang nantinya dapat
berujung menjadi Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan berpotensi untuk terjadinya Kecelakaan
Akibat Kerja (KAK), karena hal tersebut perlu dilakukanya kegiatan promotif, preventif dan
manajemen resiko demi menciptakan lingkungan kerja yang aman baik bagi karyawan,
pasien, pengunjung maupun aspek lingkungan lainya.
Organisasi Komite Keselamatan dan Keseharan Kerja (K3) berperan menyediakan
fasilitas yang aman, fungsional dan suportif bagi pasien, keluarganya, staf dan pengunjung.
Untuk mencapai tujuan ini, fasilitas fisik, medis, peralatan lainnya, dan sumber daya manusia
harus dikelola secara efektif. Secara khusus manajemen harus berusaha untuk :
1. Manajemen bahaya dan resiko.
2. Mencegah kecelakaan dan cedera.
3. Memelihara kondisi yang aman.
Menyadari kompleksitas permasalahan K3 ini, untuk mengatur masalah terkait
keselamatan dan kesehatan kerja, pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan
perundangan di Indonesia telah menetapkan berbagai macam peraturan maupun
perundangan terkait dengan permasalahan K3 ini, diantaranya dalam Undang-Undang
Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan
dan Keselamatan kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya
tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau
mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Disamping itu pemerintah juga terus
memperhatikan dan mengatur masalah K3 ini melalui beberapa dokumen negara lainnya
seperti : Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang tertuang dalam
SK MENKES nomor 432/Menkes/SK/IV/2007 dan juga Standart Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di Rumah Sakit yang tertuang dalam Kepmenkes RI
nomor1087/Menkes/VIII/2010 yang diharapkan dapat menjadi dasar hukum pelaksanaan K3.
Rumah Sakit Umum Mitra Paramedika sebagai tempat pelayanan kesehatan dengan
karakter tempat kerja yang unik bagi karyawannya juga menerapkan upaya–upaya yang
mendukung terciptanya Sistem Manajemen Keselematan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di
RS. Selain itu, agar penyelenggaraan K3 RS lebih efisien, efektif dan terpadu, maka direktur
RS memandang perlu di buatnya suatu pedoman manajemen K3 di RSU Mitra
Paramedika yang di dalam nya melibatkan pengelola dan seluruh karyawan RSU Mitra
Paramedika untuk mendukung tercapainya kondisi kerja yang sehat dan selamat. Standart
K3 RSU Mitra Paramedika ini dibuat dengan mengacu pada berbagai macam sumber baik itu
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1087/Menkes/VIII/2010,Pedoman Manajemen K3 RS
No.66 Tahun 2016, dan juga sumber–sumber lain yang diharapkan dapat terapkan di seluruh
Rumah Sakit sebagai bagian dalam pengelolaan Rumah Sakit

B. Tujuan
Melakukan pengawasan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program manajemen
risiko fasilitas dan lingkungan.

C. Ruang Lingkup
1. Mengawasi semua aspek program manajemen risiko.
2. Mengawasi pelaksanaan program secara konsisten dan berkesinambungan.
3. Melakukan edukasi staf.
4. Melakukan pengujian/testing dan pemantauan program.
5. Secara berkala menilai ulang dan merevisi program manajemen risiko fasilitas dan
lingkungan.
6. Menyerahkan laporan tahunan kepada direktur rumah sakit.
7. Mengorganisasikan dan mengelola laporan kejadian/insiden, melakukan analisa dan
upaya perbaikan.
BAB II
GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT

A. Sejarah Berdirinya RSU Mitra Paramedika


RSU Mitra Paramedika merupakan sebuah Rumah Sakit Swasta yang bernaung di
bawah Badan Hukum Yayasan Mitra Paramedika. Rumah Sakit ini terletak di Jl. Raya
Ngemplak Kemasan Widodomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta. Lokasi tersebut
sangat stategis untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan
penanganan medis dengan segera.
Sejarah Singkat
1. Pada tanggal 6 Maret 2002 di mulai pembukaan BP/RB, dengan pelayanan saat itu
meliputi:
a. Pelayanan UGD yang didukung oleh Bidan dan Dokter Jaga 24 jam
b. Poliklinik Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Spesialis Kandungan
c. Laboratorium klinik sederhana, dan rawat inap.
2. Melihat perkembangan BP/RB yang cukup cepat maka mulai tahun 2003-2005
merubah diri menjadi RSKBIA, selain pelayanan di atas juga melayani Poliklinik
Anak, Bedah (Operasi), THT, dan Gigi.
3. Sehubungan tuntutan dari masyarakat untuk pelayanan yang lebih lengkap maka
RSKBIA berubah menjadi RSU Mitra Paramedika. Dan mendapatkan ijin
penyelenggaraan sementara menjadi RSU Mitra Paramedika dari tanggal 09
September 2006 s/d 09 Maret 2007. Jenis pelayanannya meliputi UGD 24 jam,
Poliklinik : Umum, Bedah, Penyakit Dalam, Anak, Kandungan, THT, dan Gigi,
pelayanan Laboratorium sederhana, dan siap melayani operasi 24 jam. Untuk
melengkapi syarat perijinan sebagai RSU, berikutnya maka Yayasan membangun
Gedung Baru disebelah barat.
4. Pada tanggal 02 April 2007 mulai dioperasionalkan gedung baru sebelah barat sebagai
sentral pelayanan rawat jalan dan kamar operasi. Pelayanan juga sudah dilengkapi
dengan alat rontgen.
5. Pada tanggal 28 September 2007 mendapatkan ijin tetap sebagai RSU. Kemudian
semakin memantapkan pelayanan dengan melengkapi jenis-jenis pemeriksaan seperti
penambahan pelayanan spesialis saraf, spesialis bedah tulang, pelayanan fisioterapi
dengan SWD (Shock Wave Diathermi), penambahan alat laboratorium
spektrofotometer dan haematologi automatic serta pelayanan homecare.
6. Pada tanggal 1 Juni 2011 mulai dioperasionalkan gedung baru sebelah timur dan
selatan untuk menunjang pelayanan rawat inap. Gedung sebelah timur dan selatan ini
menjadi gedung sentral pelayanan untuk rawat inap. Dan juga telah dilakukan
penataan untuk gizi dan laundry di ruangan yang terpisah dengan tempat
memasak/dapur.
BAB III
VISI, MISI, MOTTO DAN LOGO
RSU MITRA PARAMEDIKA

A. Visi
Menjadikan Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan yang profesional dan
paripurna, dengan penuh kasih sayang kepada pasien dan keluarganya serta lebih
mengutamakan keselamatan pasien.
B. Misi
1. Menjadi Rumah Sakit yang terdepan sebagai mitra keluarga menuju sehat jasmani
dan rohani
2. Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekitar secara terpadu,
holistic dan profesional dengan biaya terjangkau.
3. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama masyarakat Ngemplak dan
sekitarnya.
4. Bersama seluruh karyawan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga
tercapai kepuasan pelanggan sekaligus meningkatkan kesejahteraan karyawan
secara adil dan merata sesuai dengan kemampuan.
C. Motto
Pendamping di waktu sakit, Sahabat di waktu sehat
D. Logo

Arti logo:
1. Bendera bertuliskan “Rumah Sakit Umum” serta ”Mitra Paramedika”
melambangkan identitas instansi
2. Palang : melambangkan institusi kesehatan
3. Ibu dan anak : melambangkan kasih sayang
4. Bola dunia : melambangkan dunia tempat kita hidup bersama
5. Padi dan kapas : melambangkan kesejahteraan
6. Bisturi (pisau operasi) : melambangkan bahwa kami siap melaksanakan operasi
kapan pun (siap operasi 24 jam sehari)
7. Warna keseluruhan adalah hijau : melambangkan warna kesembuhan.
BAB IV
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT
BAB V
STRUKTUR ORGANISASI UNIT KERJA

Bagan struktur

Tugas Komite K3RS :


1. Mengembangkan kebijakan, prosedur, regulasi internal K3RS, pedoman, petunjuk teknis,
petunjuk pelaksanaan dan Standar Prosedur Operasional (SPO) K3RS untuk
mengendalikan risiko.
2. Menyusun program K3RS.
3. Menyusun rekomendasi untuk bahan pertimbangan pimpinan Rumah Sakit yang
berkaitan dengan K3RS.
4. Memantau pelaksanaan K3RS.
5. Mengolah data dan informasi yang berhubungan dengan K3RS.
6. Memelihara dan mendistribusikan informasi terbaru mengenai kebijakan, prosedur,
regulasi internal K3RS, pedoman, petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaan dan (SPO)
K3RS yang telah ditetapkan.
7. Mengadakan pertemuan secara teratur dan hasilnya di sebarluaskan di seluruh unit kerja
Rumah Sakit.
8. Membantu Kepala atau Direktur Rumah Sakit dalam penyelenggaraan SMK3 Rumah
Sakit, promosi K3RS, pelatihan dan penelitian K3RS di Rumah Sakit.
9. Pengawasan pelaksanaan program K3RS.
10. Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian peralatan baru, pembangunan gedung dan
proses.
11. Koordinasi dengan wakil unit-unit kerja Rumah Sakit yang menjadi anggota
organisasi/unit yang bertanggung jawab di bidang K3RS.
12. Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif.
13. Melaporkan kegiatan yang berkaitan dengan K3RS secara teratur kepada pimpinan
Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan yang ada di Rumah Sakit.
14. Menjadi investigator dalam kejadian PAK dan KAK, yang dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB VI
URAIAN JABATAN

Komite K3RS memiliki mekanisme kerja dan tugas fungsi sebagai berikut:
1. Ketua Komite bertanggungjawab kepada pimpinan tertinggi RS.
2. Komite memiliki beberapa sub komite sesuai dengan kebutuhan program K3RS.
3. Tugas Komite adalah memberikan rekomendasi mengenai kebijakan K3RS atau masalah
K3RS kepada pimpinan Rumah Sakit dan menilai pelaksanaan K3RS
.
BAB VII
TATA HUBUNGAN KERJA

1. Kebijakan dan tujuan K3RS ditetapkan oleh pimpinan tertinggi Rumah Sakit dan
dituangkan secara resmi dan tertulis.
2. Kebijakan tersebut harus jelas dan mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh SDM
Rumah Sakit baik manajemen, karyawan, kontraktor, pemasok dan pasien, pengunjung,
pengantar pasien, tamu serta pihak lain yang terkait dengan tata cara yang tepat.
3. Pelaksanaan K3RS memerlukan organisasi yang dapat menyelenggarakan program K3RS
secara menyeluruh yang berbentuk Sistem Manajemen Keselamatn dan Kesehatan Kerja
(SMK3) dan berada di bawah pimpinan Rumah Sakit yang dapat menentukan kebijakan
Rumah Sakit.
4. Ketua Komite bertanggungjawab kepada pimpinan tertinggi Rumah Sakit.
BAB VIII
POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI PERSONIL

A. Pola Ketenagaan
Komite K3RS:
1. Komite bertanggung jawab kepada pimpinan tertinggi Rumah Sakit.
2. Anggota terdiri dari semua jajaran Direksi dan/atau kepala/perwakilan setiap unit
kerja, (Instalasi/Bagian/Staf Medik Fungsional).
3. Sekretaris merupakan petugas kesehatan yang ditunjuk oleh pimpinan untuk
bertanggung jawab dan melaksanakan tugas secara purna waktu dalam mengelola
K3RS, mulai dari persiapan sampai koordinasi dengan anggota Komite.

B. Kualifikasi personil
Pelaksanaan rencana K3RS harus didukung oleh sumber daya manusia di
bidang K3RS. Sumber daya manusia di bidang K3RS merupakan suatu komponen
penting pada pelaksanaan K3RS karena sumber daya manusia menjadi pelaksana dalam
aktivitas manajerial dan operasional pelaksanaan K3RS. Oleh karena itu sumber daya
manusia K3RS menjadi faktor penting agar pelaksanaan K3RS dapat berjalan secara
efisien, efektif dan berkesinambungan. Adapun sumber daya K3RS meliputi:
1. Tenaga S2 di bidang keselamatan dan Kesehatan Kerja, atau S2 bidang kesehatan
yang telah mendapatkan pelatihan tambahan tentang K3RS atau jabatan fungsional
pembimbing Kesehatan Kerja.
2. Tenaga dokter spesialis okupasi atau dokter Kesehatan Kerja atau dokter umum
yang terlatih Kesehatan Kerja dan diagnosis penyakit akibat kerja.
3. Tenaga kesehatan masyarakat S1 jurusan/peminatan keselamatan dan Kesehatan
Kerja atau tenaga kesehatan lain yang terlatih K3RS atau jabatan fungsional
pembimbing Kesehatan Kerja.
4. Tenaga S1 bidang lainnya yang terlatih keselamatan dan Kesehatan Kerja
konstruksi, keselamatan dan Kesehatan Kerja radiasi, dan keselamatan dan
Kesehatan Kerja kelistrikan, dan lain-lain.
5. Tenaga DIII/DIV jurusan/peminatan keselamatan dan Kesehatan Kerja atau tenaga
kesehatan lain yang terlatih K3RS atau jabatan fungsional pembimbing Kesehatan
Kerja.
BAB IX
KEGIATAN ORIENTASI

Pimpinan Rumah Sakit termasuk jajaran manajemen bertanggung jawab untuk mengetahui
ketentuan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku untuk fasilitas
Rumah Sakit. Adapun komitmen Rumah Sakit dalam melaksanakan K3RS diwujudkan dalam
bentuk:
1. Penetapan Kebijakan dan Tujuan dari Program K3RS Secara Tertulis
2. Kebijakan dan tujuan K3RS ditetapkan oleh pimpinan tertinggi Rumah Sakit dan
dituangkan secara resmi dan tertulis.
3. Kebijakan tersebut harus jelas dan mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh SDM
Rumah Sakit baik manajemen, karyawan, kontraktor, pemasok dan pasien, pengunjung,
pengantar pasien, tamu serta pihak lain yang terkait dengan tata cara yang tepat.
4. Selain itu semuanya bertanggung jawab mendukung dan menerapkan kebijakan
pelaksanaan K3RS tersebut, serta prosedur-prosedur yang berlaku di Rumah Sakit selama
berada di lingkungan Rumah Sakit.
5. Kebijakan K3RS harus disosialisasikan dengan berbagai upaya pada saat rapat pimpinan,
rapat koordinasi, rapat lainnya, spanduk, banner, poster, audiovisual, dan lain-lain.
BAB X
PERTEMUAN/RAPAT
1. Rapat rutin
Waktu : Senin minggu ke IV
Jam : 13.00 – selesai
Tempat : Ruang Pertemuan
Pimpinan : Ketua komite K3/ Sekretaris Komite K3
Peserta : Seluruh anggota Komite K3
materi :
- Penyampaian kebijakan
- Pembahasan program komite K3
- Pemaparan hasil pemantauan K3 rumah sakit
2. Rapat Insidentil
Waktu : Sewaktu-waktu
Jam : Jam kerja
Tempat : Ruang Pertemuan
3. Pimpinan : Ketua Komite K3/ Sekretaris Komite K3
4. Peserta : Seluruh anggota Komite K3
5. Materi : Pembahasan kasus jika ada kejadian insidentil
BAB XI
PELAPORAN

A. Laporan Harian
Laporan harian berupa:
1. formulir Cek list audit yang dilakukan oleh monite K3(audit manajemen risiko.
PCRA)
2. Laporan kejadian K3

B. Laporan Bulanan
1. Rekap laporan harian.
2. Laporan kegiatan komite K3.
3. Rekap laporan kejadian.

C. Laporan Tahunan
Laporan dianalisa tiap 3 bulan sekali dan dilakukan rencana perbaikan.