Anda di halaman 1dari 191
PROFIL KESEHATAN KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2016 DINAS KESEHATAN KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2017
PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN ACEH SELATAN
TAHUN 2016
DINAS KESEHATAN KABUPATEN ACEH SELATAN
TAHUN 2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan

karunia-Nya yang telah memberi kesempatan dan kemampuan sehingga kami

dapat menyelesaikan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2017

dengan baik.

Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan 2017 (data

tahun 2016) ini, dapat digunakan untuk memantau, mengevaluasi indikator status

kesehatan masyarakat dan sebagai salah satu acuan untuk perencanaan,

pelaksanaan dan pengambilan keputusan serta dapat dijadikan masukan untuk

penyusunan program pembangunan kesehatan di Kabupaten Aceh Selatan,

dengan kualitas dan validitas data yang memadai.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan Profil

Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2017 ini. Untuk itu kami

mengharapkan masukan dan saran untuk perbaikan, sehingga penyusunan profil

yang akan datang akan lebih baik lagi.

Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan ini disampaikan dengan

harapan semoga bermanfaat bagi kita semua dan ucapan terima kasih kami

sampaikan kepada berbagai pihak yang telah mendukung penyusunan buku ini.

Tapaktuan,

Maret 2017

KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN ACEH SELATAN

MARDALETA, SE, M.Kes Pembina Utama Muda IV/c NIP. 19660619 198812 1 001

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR TABEL

iii

DAFTAR GRAFIK

iv

BAB I

PENDAHULUAN

1

BAB II GAMBARAN UMUM

7

 

A. KEADAAN GEOGRAFIS

7

B. KEADAAN PENDUDUK

9

C. KEADAAN EKONOMI

12

D. TINGKAT PENDIDIKAN

13

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

15

 

A. ANGKA KEMATIAN (MORTALITAS)

15

B. ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)

18

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

33

 

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

33

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN

54

C. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT

58

D. PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN

59

E.

STATUS GIZI MASYARAKAT

60

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

64

A. SARANA KESEHATAN

64

 

B. TENAGA KESEHATAN

71

C. PEMBIAYAAN KESEHATAN

73

BAB

VI PENUTUP

 

75

A. KESIMPULAN

75

 

B. SARAN

76

LAMPIRAN

ii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Perbandingan Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan

Tabel 2.2

Jumlah Penduduk Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2013-2016

Tabel 3.1

Sepuluh Besar Penyakit Semua Golongan Umur Di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Tabel 3.2

Kasus Diare Yang Ditangani Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Tabel 3.3

Penemuan Kasus Baru Kusta Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Tabel 3.4

Angka Kesakitan Filariasis per 100.000 Penduduk Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Tabel 5.1

Jumlah Puskesmas Pembantu (Pustu) per Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Tabel 5.2

Jumlah Tenaga Kesehatan dan Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 Penduduk Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Tabel 5.3

Anggaran Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

iii

DAFTAR GRAFIK

Grafik 2.1

Piramida Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2015

Garifk 2.2

Kepadatan Penduduk per-Km 2 di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 2.3

Rasio Beban Tanggungan di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

Grafik 2.4

Persentase Tingkat Pendidikan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 3.1

Angka Kematian Bayi (AKB) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 3.2

Angka Kematian Anak Balita (AKABA) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 3.3

Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011

2016

Grafik 3.4

Penemuan Kasus Baru TB BTA+ Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 3.5

Angka Penemuan Suspek Kasus TB Paru per Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 3.6

Angka Penemuan Kasus Pneumonia Ditemukan dan Ditangani Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 3.7

Angka Penemuan Kasus Baru Kusta (NCDR) per 100.000 Penduduk Kabupaten Aceh Selatan 2011 2016

Grafik 3.8

Kasus AFP (Non Polio) Usia < 15 Tahun Kabupaten Aceh Selatan 2011

2016

Grafik 3.9

Jumlah Penyakit Campak per Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun

2016

Grafik 3.10

Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 3.11

Incidence Rate per 100.000 Penduduk Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 3.12

Beberapa Kecamatan Yang Terdapat Kasus Malaria Positif Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 3.13

Pengukuran Tekanan Darah Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

iv

Grafik 3.14

Pemeriksaan Obesitas Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.1

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.2

Cakupan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 4.3

Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.4

Jumlah Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 4.5

Cakupan Pelayanan Kunjungan Neonatus Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

Grafik 4.6

Cakupan Pelayanan Kunjungan Bayi Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011

2016

Grafik 4.7

Cakupan Pelayanan Anak Balita Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.8

Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.9

Cakupan Pemberian Vitamin A pada Balita (12-59 Bulan) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 4.10

Cakupan Pelayanan Ibu Nifas Mendapat Vit A Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.11

Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 4.12

Persentase Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.13

Cakupan kasus balita gizi buruk yang mendapat perawatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 4.14

Jumlah Desa yang Mencapai UCI Per Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.15

Cakupan Imunisasi Bayi Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 4.16

Jumlah Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR < 2500 gram)

Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 2016

Grafik 4.17

Jumlah Balita Berat Badan Di Bawah Garis Merah (BGM) Menurut Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2015

v

Grafik 5.1

Jumlah Puskesmas Menurut Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun

2016

Grafik 5.2

Persentase Strata Posyandu Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 5.3

Jumlah Strata Posyandu Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Grafik 5.4

Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

vi

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah. Pembangunan kesehatan merupakan hal yang penting dan tidak boleh diabaikan oleh setiap bangsa dan negara, dimana kesehatan itu sendiri merupakan suatu hal yang dapat menunjang perkembangan suatu bangsa karena sumber daya manusia sangat berpengaruh dan memiliki peranan yang penting terhadap perkembangan suatu bangsa dan negara, dan untuk dapat memiliki pembangunan kesehatan yang baik, harus diiringi kerja sama dari masyarakat dan pemerintah. Keberhasilan pembangunan suatu daerah, salah satunya dapat dilihat dari pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana untuk mencapai IPM tersebut, salah satu komponen utama yang mempengaruhinya yaitu indikator status kesehatan selain pendidikan dan pendapatan per kapita. Dengan demikian pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya utama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang pada gilirannya mendukung percepatan pembangunan nasional. Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kabupaten Aceh Selatan mempunyai tugas untuk membantu Kepala Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang kesehatan dalam rangka mewujudkan Visi Bupati Kabupaten Aceh Selatan yaitu “ Membangun Kembali Kebesaran Aceh Selatan Dengan Terwujudnya Masyarakat Yang Islami, Sehat, Cerdas, Makmur, Damai dan Bermartabat” dan Misi Kabupaten Aceh Selatan sebagai

berikut :

1. Mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas pengamalan agama menuju pelaksanaan Syariat Islam secara kaffah

2. Memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih

3. Memperkuat ekonomi kerakyatan dengan memaksimalkan peran dunia usaha dan lembaga keuangan, sehingga saling berkontribusi dan mendukung pembangunan ekonomi Aceh Selatan serta memproduktifkan pengelolaan lahan untuk pengembangan usaha sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan

4. Mendukung aktivitas kaum perempuan di gampong-gampong, baik di bidang agama maupun aktivitas dalam menjalin kebersamaan dan perlindungan terhadap ibu dan anak

5. Mendorong peningkatan peran generasi muda sebagai kekuatan pembangunan gampong serta menghidupkan berbagai aktivitas olahraga dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga

6. Memperbaiki jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan dengan peningkatan fasilitas sarana dan prasarana kesehatan dan peningkatan kualitas serta kuantitas tenaga medis dan tenaga pendukungnya, baik pelayanan dasar maupun lanjutan

7. Membangkitkan kembali kebudayaan Aceh dengan berupaya menggali dan melestarikan adat istiadat dan budaya Aceh

8. Meningkatkan kualitas SDM melalui peningkatan aksesibilitas dan mutu

pendidikan

9. Membangun dan memperluas infrastruktur (jalan, jembatan, irigasi, listrik, telekomunikasi dan air bersih

10. Menata Kota Tapaktuan sehingga sebagai Ibukota Kabupaten Aceh Selatan menjadi lebih baik dan dapat menjadi Kota Tujuan Wisata yang menyenangkan, bersih, berperadaban, taat aturan, sadar hukum dan toleran. Dalam mendukung Visi, Misi dan Isu Strategis Bupati Kabupaten Aceh

Selatan tersebut Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan menetapkan Visi “Aceh Selatan Sehat yang Islami dan Berkeadilan” dengan misi 1. Meningkatkan kinerja Pelayanan Kesehatan; 2. Meningkatkan fasilitas dan sarana prasarana

3. Penguatan Administrasi, Kebijakan Publik, Manajemen,

Kesehatan;

Kepemimpinan dan Pengelolaan Keuangan; 4. Meningkatkan proporsi UKM dari UKP; 5. Meningkatkan Swadaya dan Partisipasi Masyarakat; 6. Penanganan Pengaduan.; 7. Membangun Program One Village One Provider; 8. Penguatan Sistem Informasi Kesehatan; 9. Pelayanan Yang Prima Kepada Masyarakat Pada Bidang Kesehatan. Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal di bidang kesehatan di Kabupaten adalah Profil Kesehatan Kabupaten. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Profil Kesehatan Kabupaten ini pada intinya berisi berbagai data/informasi yang menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten. Sedangkan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan masih mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagaimana ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008, yaitu : (1) Indikator derajat kesehatan yang terdiri atas indikator-indikator untuk Mortalitas, Morbiditas dan Status Gizi; (2) Indikator-indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup, akses dan mutu pelayanan kesehatan; serta (3) Indikator-indikator untuk Pelayanan Kesehatan, Sumber Daya Kesehatan, Manajemen Kesehatan, dan Kontribusi Sektor Terkait.

Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Aceh Selatan tentu harus selaras dan mengacu kepada Prioritas Pembangunan Kementerian Kesehatan yakni Meningkatnya Status Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Meningkatnya Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular, Meningkatnya Pemerataan dan Mutu Pelayanan Kesehatan dan Meningkatnya Perlindungan Finansial, Ketersediaan, Penyebaran dan Mutu Obat Serta Sumber Daya Kesehatan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi khususnya di Kabupaten Aceh Selatan, disusunlah buku Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2017 (Data Tahun 2016) ini. Pada profil kesehatan ini disampaikan gambaran dan situasi kesehatan, gambaran umum tentang derajat kesehatan dan lingkungan, situasi upaya kesehatan, dan situasi sumber daya kesehatan.

Begitu strategisnya kedudukan Profil Kesehatan, maka penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan perlu dicermati dan sedapat mungkin sebagai acuan dikompilasi menjadi Profil Kesehatan Provinsi dan selanjutnya menjadi Profil Kesehatan Indonesia serta dapat dikomparasikan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mendukung sistem manajemen kesehatan yang lebih baik dalam rangka pencapaian Visi Dinas Kesehatan yaitu “Membangun Kembali Kebesaran Aceh Selatan Dengan Terwujudnya Masyarakat Yang Islami Dan Sehat”.

B. TUJUAN

1. Umum

Profil kesehatan Kabupaten Aceh Selatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran kesehatan yang menyeluruh di Kabupaten Aceh Selatan dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen secara berhasil guna dan berdaya guna

2. Khusus

a. Diperolehnya data/informasi pembangunan kesehatan di lingkungan Kabupaten Aceh Selatan.

b. Diperolehnya data/informasi status kesehatan masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan yang meliputi: angka kematian, angka kesakitan dan keadaan gizi masyarakat.

c. Untuk meningkatkan kualitas data/informasi Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan dalam mendukung Perencanaan, Pelaksanaan dan hasil evaluasi pelaksanaan.

d. Untuk memperoleh kesepakatan data/informasi Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan yang valid, dapat dipercaya dan penyajian informasi yang sesuai dengan kebutuhan.

e. Menentukan prioritas pelayanan kesehatan pada tahun 2016, dan sekaligus menentukan prioritas pelayanan kesehatan yang akan dicapai di tahun 2017.

C.

SUMBER DATA Data untuk penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ini diperoleh dari :

1. Catatan Kegiatan Puskesmas baik kegiatan dalam bidang maupun luar bidang.

2. Catatan kegiatan Rumah Sakit yang berada di wilayah Kabupaten Aceh Selatan.

3. Kegiatan yang dilaksanakan langsung oleh Dinas Kesehatan yang berada di bawah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan

4. Dokumen Dinas Kependudukan Catatan Sipil, Badan Pusat Statistik, Keluarga Berencana, Dinas Pendidikan dan instansi terkait lainnya.

D. MANFAAT Dengan disusunnya Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan diharapkan dapat digunakan di dalam lingkungan Dinas Kesehatan atau pimpinan administrasi kesehatan lain, maupun berbagai pihak yang membutuhkan. Penggunaan data/informasi terutama dalam rangka tinjauan/revisi tahunan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan, sebagai alat evaluasi program tahunan yang telah dilaksanakan serta untuk menyusun rencana tahunan kesehatan tahun berikutnya. Manfaat lain adalah memberikan umpan balik/gambaran kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas, RSUD maupun pelayanan kesehatan lainnya yang ada di Kabupaten Aceh Selatan.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk lebih terperinci sistematika penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ini terbagi atas 6 bab yang terdiri dari :

: PENDAHULUAN Berisi uraian singkat tentang latar belakang tentang maksud dan tujuan penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 ini. Di samping itu juga diuraikan secara singkat tentang isi dan sistematika penyusunan.

BAB I

BAB II

: GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten. Selain uraian tentang letak geografis, administratif dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan meliputi kependudukan, ekonomi, dan pendidikan.

BAB III

: SITUASI DERAJAT KESEHATAN Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan, dan angka status gizi masyarakat.

BAB IV

: SITUASI UPAYA KESEHATAN Berisi tentang segala upaya kesehatan yang telah dilakukan selama tahun 2016 dengan mengemukakan indikator seperti cakupan pelayanan kesehatan, akses dan mutu pelayanan kesehatan dan perilaku hidup sehat.

BAB V

: SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN Berisi tentang segala sumber daya yang dimiliki dikemukakan berupa indikator tersedianya fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan biaya kesehatan.

BAB VI

: KESIMPULAN DAN SARAN Berisi tentang kesimpulan dari uraian-uraian di atas dan tidak menutup kemungkinan mengharapkan saran dan masukan yang sifatnya membangun demi sempurnanya penyusunan dan penulisan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 ini. Bab ini juga mencatat keberhasilan-keberhasilan program yang telah dilaksanakan di Tahun 2016 serta mengemukakan hal- hal yang dianggap masing kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Lampiran

Pada lampiran ini berisi tabel resume/angka pencapaian pembangunan kesehatan Kabupaten Aceh Selatan dan 81 tabel data kesehatan dan yang terkait kesehatan.

BAB II GAMBARAN UMUM

Gambaran umum wilayah Kabupaten Aceh Selatan merupakan sebuah data dasar yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan perencanaan pembangunan kesehatan yang evidence based, sehingga perencanaan program maupun kegiatan bidang kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi faktual di wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Gambaran umum ini menguraikan tentang letak geografis, administratif dan beberapa informasi umum lainnya. Selain itu juga mengulas beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misalnya kependudukan, ekonomi dan sosial budaya. Adapun gambaran umum secara lengkap adalah sebagai berikut :

A. KEADAAN GEOGRAFIS Secara geografis Kab. Aceh Selatan salah satu Kab. di Propinsi Aceh Yang terletak di wilayah pantai Barat – Selatan dengan ibukota Kabupaten adalah Tapaktuan. Luas wilayah Kabupaten Aceh Selatan adalah 4.005,1 Km2 atau 417.658 Ha, yang meliputi daratan utama di Pesisir Barat – Selatan Provinsi Aceh. Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:50.000 wilayah daratan Kabupaten Aceh Selatan secara geografis terletak pada 02 o 23’24” – 03 o 44’24” Lintang Utara dan 96 o 57’36” – 97 o 56’24” Bujur Timur, dengan batas batas wilayah sebagai berikut :

7
7

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Ka bupaten Aceh Tenggara, Sebelah Selatan berbata san dengan Samudera Hindia Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kota Subulussalam dan Kabu paten Aceh Singkil

Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Sebelah Barat :

Berbatasan dengan Kabu

paten Aceh Barat Daya

Berdasarkan UU RI Nomor 4 tahun 2002 tanggal 10 April tahun 2002 mengenai pemekaran Kabupaten Aceh Selatan menjadi 3 (tiga) Kabupaten yaitu : Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Singkil dan Aceh Selatan (Sebagai Kabupaten Induk), adapun perincian luas wilayah di masing-masing Kecamatan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 Perbandingan Luas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan

No

Kecamatan

Jumlah

Jumlah

Luas Wilayah

%

Mukim

Desa

Km 2

1

Trumon

3

12

440,67

11,00

2

Trumon Timur

1

8

432,85

10,81

3

Trumon Tengah

1

10

325,07

8,12

4

Bakongan

2

7

78,33

1,96

5

Bakongan Timur

1

7

128,09

3,20

6

Kota Bahagia

2

10

196,32

4,90

7

Kluet Selatan

3

17

152,11

3,80

8

Kluet Timur

2

9

263,27

6,57

9

Kluet Utara

3

21

146,57

3,66

10

Pasie Raja

2

21

567,29

14,16

11

Kluet Tengah

1

13

284,73

7,11

12

Tapaktuan

2

16

92,68

2,31

13

Samadua

4

28

96,70

2,41

14

Sawang

4

15

182,67

4,56

15

Meukek

4

23

408,39

10,20

16

Labuhan Haji

3

16

43,74

1,09

17

Labuhan Haji Timur

2

12

85,38

2,13

18

Labuhan Haji Barat

3

15

80,25

2,00

Jumlah

43

260

4005,11

100

Sumber : BPS Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2014

Kabupaten Aceh Selatan secara administrasi Pemerintahan terbagi atas 18 (delapan belas) Wilayah Kecamatan, 43 mukim dan 260 desa atau gampong. Kondisi topografi, wilayah Kabupaten Aceh Selatan sangat bervariasi, meliputi daratan rendah, bergelombang, berbukit, hingga pegunungan dengan tingkat kemiringan sangat curam/terjal 25% sampai 40%. Sebaran kemiringan lahan tersebut terdiri dari :

a. Kemiringan lahan 0-8% pada umumnya memiliki relief permukaan landai dengan luas 139.085,48 Ha (33,30%). Kawasan ini sangat ideal untuk dipergunakan sebagan pengembangan pertanian, namun sebagaian besar telah ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Margasatwa Singkil/Trumon.

b. Kemiringan 8-15% seluas 14.171,3 Ha (3,39%), sangat ideal untuk lokasi pengembangan perkotaan dan kegiatan budidaya jangka pendek.

c. Kemiringan 15-25% seluar 39.395,17 Ha (9,43%), cocok sebagai lokasi pengembangan budidaya perkebunan atau tanaman tahunan.

d. Kemiringan 25-40% tersebar di setiap Kecamatan dengan luas 157.698,83 Ha (37,76%), wilayah perbukitan tersebar hampir di semua kecamatan.

e. Kemiringan > 40%, bentuk permukaannya yang curam bervariasi terjal, umumnya dijumpai sebagai kerucut dan puncak vulkan, lahan mudah longsor dan jika kawasan kawasan ini tidak punya potensi dapat digunakan sebagai kawasan lindung.

B. KEADAAN PENDUDUK Situasi kependudukan dapat dilihat dari berbagai indikator antara lain tingkat pertumbuhan, angka kelahiran kasar, tingkat fertilitas, kepadatan dan distribusi menurut umur. Gambaran secara umum keadaan demografi penduduk Kabuapten Aceh Selatan adalah sebagai berikut :

1. Komposisi Penduduk Berdasarkan data hasil proyeksi Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Selatan, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 sebesar 228.604 jiwa dengan rincian jumlah penduduk laki-laki sebesar 112.487 jiwa dan penduduk perempuan sebesar 116.116 jiwa, dengan jumlah rumah tangga 51.866. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk

tahun 2015 yaitu 224.897 jiwa, maka terjadi pertambahan jumlah penduduk Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 1.193 jiwa. Distribusi penduduk terbesar adalah pada kelompok umur 5-9 tahun yaitu 24.102 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi penduduk lebih banyak pada usia kanak-kanak. Rasio jenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan sebesar 96,87%. Adapun distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur adalah sebagai berikut :

Grafik 2.1 Piramida Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Aceh Selatan Tahun
Grafik 2.1
Piramida Penduduk Menurut Kelompok Umur dan
Jenis Kelamin di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016
75+
1.888
1.389
70
- 74
1.885
1.431
65
- 69
2.552
2.125
60
- 64
3.216
3.082
55
- 59
4.437
4.111
50
- 54
5.721
5.388
45
- 49
7.028
6.821
40
- 44
8.456
8.089
Perempuan
35
- 39
9.331
8.720
Laki-laki
30
- 34
9.981
8.563
25
- 29
9.574
9.073
20
- 24
8.707
8.218
15
- 19
9.759
10.116
10
- 14
11.118
11.968
5
- 9
11.802
12.300
0
- 4
10.661
11.093
15.000
10.000
5.000
0
5.000
10.000
15.000

Sumber : Data Sekunder BPS Kabupaten Aceh Selatan Yang Diolah

2. Kepadatan Penduduk Beradasarkan hasil sasaran penduduk dari BPS Kabupaten terjadi peningkatan jumlah penduduk pada tahun 2016 jumlah penduduk Aceh Selatan berjumlah 228.604 jiwa dengan kepadatan penduduk 57/km 2 dibandingkan tahun 2015 yang berjumlah 224.897 jiwa dengan kepadatan penduduk 56.15/km 2 . Adapun data secara lengkap mengenai kondisi kepadatan penduduk tahun 2011 s/d 2016 adalah sebagai berikut :

Grafik 2.2 Kepadatan Penduduk Per-Km 2 di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 58 57 57
Grafik 2.2
Kepadatan Penduduk Per-Km 2
di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016
58
57
57
56,15
56
55
54
53,21
53
52
52
52
52
51
50
49
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Sumber : Data Sekunder BPS Kabupaten Aceh Selatan Yang Diolah

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada setiap tahunnya terjadi kenaikan angka kepadatan penduduk di Kabupaten Aceh Selatan, hal ini seiring dengan perubahan jumlah penduduk di tiap Kecamatan. Perubahan dapat terjadi dikarenakan banyak hal, diantaranya dapat disebabkan oleh perpindahan penduduk, selain itu perubahan kepadatan penduduk juga dapat disebabkan angka kematian dan jumlah kelahiran di wilayah tersebut. Sedangkan jumlah rumah tangga sebanyak 51.866 rumah tangga dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 4.41 jiwa untuk setiap rumah tangga. Jumlah rumah tangga terbanyak terdapat di Kecamatan Kluet Utara berjumlah 5.684 rumah tangga dan terendah di Kecamatan Trumon berjumlah 1.099 rumah tangga, data kependudukan ini dapat dilihat pada lampiran tabel 1.

3. Rasio Beban Tanggungan Rasio beban tanggungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia tidak produktif (umur dibawah 15 tahun dan umur diatas 65 tahun) dengan jumlah penduduk usia produktif. Rasio ini menggambarkan beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif. Berikut ini gambaran rasio beban tanggungan di Kabupaten Aceh Selatan mulai tahun 2011 s/d 2016, sebagai berikut:

Grafik 2.3 Rasio Beban Tanggungan di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016 55,75 56
Grafik 2.3
Rasio Beban Tanggungan di Kabupaten Aceh Selatan
Tahun 2011 - 2016
55,75
56
54,81
55
54
54
54
53
53
53
52
51
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Sumber : Data Sekunder BPS Kabupaten Aceh Selatan Yang Diolah

Dari data diatas dapat diketahui bahwa beban tanggungan di Kabupaten Aceh Selatan masih cukup besar, jumlah penduduk usia tidak produktif hampir setengah jumlah penduduk usia produktif, walaupun terjadi penurunan dibandingkan tahun 2012. Beban tanggungan yang tinggi merupakan faktor penghambat pembangunan ekonomi suatu negara, karena sebagian pendapatan yang diperoleh oleh golongan yang produktif terpaksa dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang tidak produktif, maka semakin tinggi usia tidak produktif semakin tinggi beban tanggungan bagi usia produktif.

4. Rasio Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per100 penduduk perempuan. Berdasarkan penghitungan angka proyeksi penduduk tahun 2016 berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun

2010 oleh Badan Pusat Statistik, berjumlah 228.603 jiwa terdiri dari 112.487

jiwa penduduk laki-laki dan 116.116 jiwa penduduk perempuan, dengan rasio jenis kelamin 96,87%. Data mengenai rasio jenis kelamin dapat dilihat pada lampiran tabel 2.

C. KEADAAN EKONOMI Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Selatan laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah mengalami peningkatan

signifikan sejak lebih 3,5 tahun terakhir mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Kabupaten Aceh Selatan satu-satunya daerah di Pantai Barat Selatan Aceh yang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahun 2013 mencapai 5,3 persen, melampaui Provinsi Aceh yang hanya 4,4 persen. Tahun

2014 pertumbuhan ekonomi Aceh Selatan mencapai 4,6 persen, sementara

pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh 4,13 persen. Tahun 2015 yang merupakan tahun berat bagi ekonomi regional dan nasional karena kenaikan harga minyak dan nilai tukar rupiah yang tertekan, tapi perekonomian Aceh Selatan masih mampu tumbuh berada pada angka 4,25 persen, berimbang dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata Aceh. meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut juga berdampak terhadap penurunan angka kemiskinan di Aceh Selatan, angka kemiskinan Aceh Selatan

tahun 2013 sebesar 13,24 persen, berada di bawah rata-rata kemiskinan Provinsi Aceh yang mencapai 17,11 persen. Kondisi tersebut, didukung dengan capaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh Selatan pada tahun

2015 berdasarkan data BPS Aceh mencapai Rp3,5 triliun. Angka tersebut

menempatkan Aceh Selatan masih terdepan dalam pencapaian PDRB di Pantai Barat Selatan Aceh.

D. TINGKAT PENDIDIKAN Menurut data Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016, jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki ijazah SD berjumlah 3.709 orang, memiliki ijazah SD/MI berjumlah 17.198 orang, memiliki ijazah SMP/ MTS berjumlah 14.337 orang, memiliki ijazah SMA/MA berjumlah 38.223 orang, memilik ijazah SMK berjumlah 1.563 orang, memiliki ijazah Diploma I/Diploma II berjumlah 11.310 orang, memiliki ijazah Akademi/Diploma III berjumlah 5.070 orang, memiliki ijazah Universitas/Diploma IV berjumlah 14.869 orang, dan memiliki ijazah S2/S3 (Master/Doktor) berjumlah 49 orang, jika dibandingkan dengan tahun 2015 terjadi kenaikan signifikan yang memiliki ijazah untuk tingkat pendidikan SMA/MA keatas, ini menandakan bahwa maysarakat Kabupaten Aceh Selatan sudah sadar akan pentingnya pendidikan sebagai salah satu indikator keberhasilan pendidikan di Kabupaten Aceh Selatan serta diharapkan semakin tingginya tingkat pendidikan selaras dengan

pentingnya pemahaman pola hidup bersih baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Selama tahun 2016 tingkat melek huruf pada penduduk umur 10 tahun ke atas di Aceh Selatan sudah tinggi, yaitu 99,14%. Angka melek huruf Aceh Selatan ini diatas rata-rata angka melek huruf tingkat Provinsi Aceh tahun 2014 yang mencapai 97,42% sedangkan angka melek huruf Indonesia mencapai

90%.

Bila dilihat berdasarkan tingkat pendidikan persentase yang berpendidikan SD/MI (16,17%), berpendidikan SMP/MTs (13,48%), berpendidikan SMA/MA (35,93%), berpendidikan SMK (1,47%), berpendidikan DI/DII (10,63%), berpendidikan Akademi/DIII (4,77%), berpendidikan Universitas (13,98%), berpendidikan S2/S3 (0,05%). Sebagai Gambaran dapat dilihat pada grafik dibawah ini. (Lihat lampiran tabel. 3)

Grafik 2.4 Persentase Tingkat Pendidikan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Persentase Tingkat Pendidikan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 14

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan.Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi. Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi. Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan faktor lainnya.

A. ANGKA KEMATIAN (MORTALITAS) Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-penyakit penyebab kematian utama yangterjadi pada tahun 2016 akan diuraikan dibawah ini.Beberapaindikator angka kematian, adalah :

1. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Aceh Selatan dari tahun 2010 sampai tahun 2016 cenderung fluktuatif, pada tahun 2015 berjumlah 33 orang dan di tahun 2016naik berjumlah 44 orang, penyebab kematian terbanyak disebabkan asfiksia , BBLR dan penyakit lain (kelainan bawaan, bronchitis, kejang demam, atresia ani, invaginasi, penyakit infeksi). (Lihat lampiran tabel. 5)

Grafik 3.1 Jumlah Kematian Bayi Berdasarkan Penyakit Di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

13 14 12 10 7 7 7 7 8 6 4 2 2 0 BBLR
13
14
12
10
7
7
7
7
8
6
4
2
2
0
BBLR
ASFEKSIA
KELAINAN
DEMAM
INFEKSI
SEBAB
BAWAAN
LAIN

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari seluruh puskesmas, selama tahun 2016 terjadi 44kasus kematian bayi, dengan jumlah kelahiran hidup sebesar3.706, maka jika dikonversikan akan diperoleh AKBAceh Selatan sebesar 12 per1.000 kelahiran hidup.(Lihat Lampiran Tabel. 5)

Grafik 3.2 Angka Kematian Bayi (AKB) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011- 2016

44 50 44 43 41 40 33 30 23 20 10 0 2011 2012 2013
44
50
44
43
41
40
33
30
23
20
10
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

2. Angka Kematian Anak Balita AngkaKematianAnak Balita adalahjumlah anak yang meninggal sebelumusia5tahun,dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup.

Kematian anak balita menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi,penyakit menular dan kecelakan.Dari laporan rutin pada tahun2016 di Kabupaten Aceh Selatan terjadi5 kematian anak balitadenganAngka Kematian Anak Balita terlaporkan 1 per 1.000 Kelahiran Hidup. Penyebab kematian disebabkan Demam kejang 2 orang, Hidrocephalus 1 orang, kecelakaan 1 orang dan kelainan jantung congenital 1 orang. (Lihat Lampiran Tabel. 5)

Grafik 3.3 Angka Kematian Anak Balita Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

6 5 5 4 4 4 4 3 2 2 1 1 0 2011 2012
6
5
5
4
4
4
4
3
2
2
1
1
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

3. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) masih merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan di suatu wilayah. Kematian ibu yang maksud adalah karena kehamilannya, persalinannya dan masa nifas bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan terjatuh, dan lain- lain.

Berbagai upaya telah diupayakan guna menurunkan angka kematian ibu bersalin ini baik fasilitasi dari segi manajemen program KIA maupun system pencatatan dan pelaporan, peningkatan klinis keterampilan petugas di lapangan serta keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan program KIA.

Berdasarkan hasil data Laporan Kematian di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016, sebesar135 (5 kematian) per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2015 yang mencapai 52 (2 kematian) per 100.000kelahiran hidup. Kasus kematian ibu terjadi 4 (empat) kasus pada rentang usia 20-34 tahun yaitu di Kecamatan samadua, Tapaktuan, Kluet Tengah, Bakongan Timur dan pada rentang usia ≥ 35 tahun di Kecamatan Kluet Timur sebanyak 1 (satu) kasus.Penyebab kematian disebabkan Retensio Placenta, Eklampsia, Mioma uteri dan Partus Tidak Maju (PTM). (Lihat tampilan tabel. 6)

Grafik 3.4 Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011- 2016

12 10 10 8 6 5 6 4 2 2 2 1 0 2011 2012
12
10
10
8
6
5
6
4
2
2
2
1
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Kasus kematian ibu tahun 2016 terjadi di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) dan Puskesmas Poned ( 2 puskesmas Poned),dimana Puskesmas Poned tersebut masih belum sesuai standar.

B. ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)

Angka kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari masyarakat (Community Based Data) dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan dalam hal ini bersumber dari puskesmas maupun sarana pelayanan kesehatan (Facility Based Data) yang diperoleh melalui system pencatatan dan pelaporan. Angka kesakitan Kabupaten Aceh Selatan dari tahun ke tahun dapat diketahui diantaranya dari 10 (sepuluh) penyakit terbanyak pada kunjungan rawat jalan, didominasi penyakit saluran pernapasan, penyakit sistem peredaran

darah/sirkulasi dan sistem saraf. Berikut gambaran 10 (sepuluh) besar penyakit semua golongan umur di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Sepuluh Besar Penyakit Semua Golongan Umur Di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

No

Jenis Penyakit

Jumlah

1

Common Cold

13088

2

Ispa

11466

3

Alergi

6452

4

Peny. Pada lambung (gastritis)

4460

5

Hipertensi

4046

6

Reumatik Arteritis

3916

7

Cephalgia

3054

8

Peny. Pada sistem otot & jar. Pengikat

2804

9

Diare

2264

10

Diabetes Mellitus

2232

Sementara untuk kondisi penyakit menular, berikut ini akan diuraikan situasi beberapa penyakit menular yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk penyakit menular yang dapat dicegah agar tidak menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

1. Tuberkulosis (TB) Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobakterium tuberkulosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.Tuberculosis paru merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian bawah yang menyerang jaringan paru atau atau parenkim paru oleh basil mycobakterium tuberculosis Jumlah kasus baru tuberkulosis per 100.000 penduduk Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebanyak 246 kasus atau 107,61 per 100.000 penduduk, angka ini mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun

2015 sebanyak 150 kasus, disebabkan petugas yang melakukan pelacakan lebih aktif ke desa- desa, tingginya kesadaran masyarakat untuk berobat ke puskesmas dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Penemuan kasus baru tuberkulosis tertinggi adalah di Kecamatan Kluet Selatansebanyak 22 kasus, Kecamatan Pasie Raja wilayah Puskesmas Ladang Tuha sebanyak 16 kasus, sedangkan wilayahTrumon Tengah dan Trumon Timur sebanyak 4 kasus.(Lihat Lampiran Tabel. 7)

Grafik 3.5 Penemuan Kasus Baru TB BTA+ Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016 300
Grafik 3.5
Penemuan Kasus Baru TB BTA+
Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016
300
246
250
200
177
150
138
150
128
91
100
50
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Selama tahun 2016 dilaporkan juga sebanyak 1.403 penderita klinis (suspect) di Kabupaten Aceh Selatan, tertinggi di Kecamatan Kota Bahagia sebanyak 210 kasus terendah di Kecamatan Trumon Timur sebanyak 10 kasus, dari 1.403kasusdimana diantaranya 246 kasus penderita dengan BTA+, tertinggi di Kecamatan Kluet Selatan wilayah Puskesmas Kluet Selatan sebanyak 22 kasus,sedangkan di Kecamatan Pasie Raja Wilayah Puskesmas Ujung Padang Rasian sebanyak 4 kasus penemuan suspek BTA+.(Lihat Lampiran Tabel. 8)

Grafik 3.6 Angka Penemuan Suspek Kasus TB Paru per Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2015
Grafik 3.6
Angka Penemuan Suspek Kasus TB Paru per Kecamatan
Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2015
250
210
200
177
170
140
150
106
90
85
100
75
70
64
47
42
50
24
36 27
14
16
10
0

Pada tahun 2016 ditemukan kasus TB anak pada umur 0-14 tahun sebanyak 4 kasus di Kecamatan Pasie Raja Wilayah Kerja Puskesmas Ladang Tuha.Angka kesembuhan dan angka keberhasilan pengobatan (Success Rate/SR)sebesar 100%. Dengan demikian tidak ditemukan jumlah kematian selama pengobatan. (Lihat Lampiran Tabel. 9)

2. Pneumonia Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli).Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur.Pneumonia jugadapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia.Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalahkesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi). Di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 diperkiraan jumlah penderita sebesar 2.007 berdasarkan 10% dari jumlah balita. Data persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2016adalah sebanyak38 kasus(1,89%), terjadi kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2015 sebanyak 2 kasus, ada paradigma baru untuk penegakan diagnose di puskesmas kalau dulu menunggu hasil uji laboraturium dari Rumh Sakit sedangkan sekarang diagnosa cukup dilakukan secara klinis di

Puskesmas sehingga terjadi peningkatan kasus pneumoni. Tahun 2016, terbanyak ditemukan di Puskesmas Kluet Timur dengan 15 Kasus dan Puskesmas Ujung Padang Rasian7 kasus akan tetapi semua bisa tertangani. (Lihat Lampiran Tabel. 10)

Grafik 3.7 Angka Penemuan Kasus PneumoniaDitemukan dan Ditangani Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016
Grafik 3.7
Angka Penemuan Kasus PneumoniaDitemukan dan Ditangani
Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016
40
38
35
30
25
20
14
15
11
10
5
0
0
2
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Berdasarkan Mulholland K, 1999 menyebutkan faktor resiko terjadinya pneumonia anak-balita yaitu :

1. Kemiskinan yang luas Kemiskinan yang luas berdampak besar dan menyebabkan derajat kesehatan rendah dan status sosial-ekologi menjadi buruk.

2. Derajat kesehatan rendah Akibat derajat kesehatan yang rendah maka penyakit infeksi kronis mudah duitemukan. Tingginya kelahiran dengan berat lahir rendah, tidak ada atau tidakmemberikannya ASI dan imunisasi yang tidak adekuat memperburuk derajatkesehatan

3. Status sosial-ekologi buruk Status sosial-ekologi yang tidak baik ditandai dengan buruknya lingkungan, daerah pemukiman kumuh dan padat, polusi dalam ruangan akibat penggunaan biomass, dan polusi udara luar ruangan yang

ditambah lagi dengan tingkat pendidikan yang kurang memadai serta adanya adat kebiasaan, kepercayaan lokal yang salah.

4. Pembiayaan kesehatan sangat kecil

Di negara berpenghasilan rendah pembiayaan kesehatan sangat kurang.

Pembiayaan kesehatan yang tidak cukup menyebabkan fasilitas kesehatan seperti infrastruktur kesehatan untuk diagnostik dan terapeutik

tidak adekuat dan tidak memadai, tenaga kesehatan yang terampil terbatas, ditambah lagi dengan akses ke fasilitas kesehatan sangat kurang.

5. Proporsi populasi sangat kurang

Di Negara berkembang yang umumnya berpenghasilan rendah proposi

populasi anak 37%, di negara berpenghasilan menengah 27% dan di negara berpenghasilan tinggi hanya 18% dari total jumlah penduduk. Besarnya proporsi populasi anak akan menambah tekanan pada pengendalian dan pencegahan pneumonia terutama pada aspek pembiayaan.

3. HIV/AIDS dan Kematian Karena AIDS HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksivirus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuhsehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagaiHIV positif.Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counselling, and Testing (VCT), serosurvey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP).

Rata – rata setiap tahun ada kasus yang dilaporkan bukan penemuan karena terkendala ketentuan kecuali skrining pada ibu hamil, dari hasil skrining ibu hamil tersebut ditemukan 1 orang positif HIV.Sampai dengan bulan Desember 2016, jumlah kasus HIV yang dilaporkan adalah 1 orang dan pada kasus AIDS sebanyak 2 orang yang ditemukan. Dari jumlah tersebut ada 1 orang yang meninggal akibat AIDS. Dari segi kelompok umur,

kasus HIV dan AIDS didominasi kelompok umur seksual aktif. Pada kasus

HIVusia 25 -49 tahun, sedangkan pada kasus AIDS usia 25 -49 tahun. (Lihat

Lampiran Tabel. 11)

Salah satu cara untuk mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS adalah

melakukan penapisan darahdonor di transfusi darahuntuk mengamankan

darah donor terbebas dari penyakit seperti hepatitis C, sifilis, Malaria, DBD

termasuk juga bebas dari virus HIV.

Di unit transfusi darah Rumah Sakit Umum Daerah pada tahun 2016

dari 1.454 pendonor yang diskrining terhadap HIV terdapat 3 orang yang

positif HIV, namuntidak disebutkan tempat asal penderita.(Lihat Lampiran

Tabel. 12)

4. Diare

Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan

konsistensifeses selain dari frekuensi buang air besar.Seseorang dikatakan

menderita diarebila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar

tiga kali atau lebih,atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam

waktu 24 jam.

Target penemuan kasus Diare pada tahu 2016 berjumlah 6.172

kasus, yang dapat ditangani hanya sebanyak 6.181 kasus atau 270 per 1.000

penduduk.Jika dilihat pada tabel dibawah ini selama 6 tahun terakhir jumlah

yang ditangani peningkatan dan berkurang di tahun 2016, itu artinya bahwa

kasus diare dari tahun ke tahun masih menjadi masalah kesehatan

masyarakat.(Lihat Lampiran Tabel. 13)

Tabel 3.2 Kasus Diare Yang Ditangani Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 – 2016

Diare

No

Tahun

Target

Penemuan

Ditangani

1

2011

8.830

1.443

2

2012

8.745

4.872

3

2013

4.560

4.552

4

2014

4.496

3.600

5 2015

9.243

5.961

6 2016

6.172

6.181

Tingginya kesadaran masyarakat untuk berobat ke puskesmas dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Kesehatan sanitasi lingkungan yang masih rendah dan personal hygiene yang masih rendah menyebabkan tingginya angka penderita diare. Upayapencegahan dan penanggulangan kasus diare dengan cara memberikanpenyuluhan akan pentingnya mencuci tangan memakai sabun sebelum makan dansesudah buah air besar dan kecil, kebiasaan membuang air besar sembarngan dan masih mengkonsumsi air mentah Ternyata hal kecil ini mempunyai daya ungkit yang sangat besar.Karena memangpenyakitdiare ini sangat erat hubungannyadengan perilaku masyarakat tentang bagaimanacara hidup sehat dan bersih.

5.Hepatitis

Hepatitis (plural: hepatitides) adalah peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau obat ataupun agen penyebab infeksi. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut "hepatitis akut", hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut "hepatitis kronis”. Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama kelima satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan. Dalam hal mendiagnosa hepatitis yang berada di fasilitas pelayanan kesehatan dalam Kabupaten Aceh Selatan belum bisa diterapkan di Puskesmas, disebabkan keterbatasan bahan dan alat serta belum mempunyai definisi operasional, juga belum tersedianya petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan termasuk mekanisme pelaporannya dalam mendiagnosa hepatitis.

6. Kusta

Kusta merupakan penyakit lama yang diharapkan dapat dieliminasi

pada tahun 2000. Secara nasional, kondisi tersebut telah tercapai, namun

untuk Kabupaten Aceh Selatan eliminasi ini belum bisa tercapai meskipun

masih ada waktu sampai 2019 untuk Aceh. Pada Tahun 2016 New Case

Detection Rate (NCDR) di Kabupaten Aceh Selatan menjadi 15,31 per

100.000 penduduk.Bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya keadaan ini

ada kecenderungan meningkat. Peningkatan ini menunjukan bahwa

pelacakan yang dilakukan oleh petugas lapangan ada kecenderungan

lebih intensif. Dengan pelacakan kasus yang lebih baik maka kasus yang

ditemukan akan semakin banyak dan semakin banyak pula kasus yang

terobati, dengan harapan pada tahun-tahun berikutnya prevalensi kusta akan

menurun sampai dengan bisanya terjadi eliminasi.

Pada tahun 2016 di Kabupaten Aceh Selatan ditemukan penderita

baru kusta sebanyak 35 orang, ditemukan kasus pada anak usia 0-14 tahun

sebanyak 7 orang dan terdapat4 penderita yang mengalami kecacatan

tingkat 2. Angka penderita kusta selesai berobat/ RFT PB sebesar 75% atau

sebanyak 3 orang, sedangkan RFTMB sebesar 19% atau sebanyak 6 orang.

Tabel 3.3 Penemuan Kasus Baru Kusta Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 – 2016

   

Jumlah Kasus

 

Angka Prevalensi Per

   

No

Tahun

PB

MB

Total

10.000

Penduduk

1

2011

6

33

39

1,9

2

2012

3

18

21

1,0

3

2013

8

28

36

1,7

4

2014

11

28

40

1,9

5

2015

4

29

33

1,5

6

2016

4

31

35

1,5

Grafik 3.8 Angka Penemuan Kasus BaruKusta (NCDR)per 100.000 Penduduk Kabupaten Aceh Selatan 2011– 2016 20
Grafik 3.8
Angka Penemuan Kasus BaruKusta (NCDR)per 100.000 Penduduk
Kabupaten Aceh Selatan 2011– 2016
20
18,57
18
16,89
15,31
16
14
14,67
12
10,16
10
8
6
4
2,42
2
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

7. Frambusia Frambusia disebabkan oleh bakteri bernama Treponema Pallidum, dimana kulit mengalami infeksi akibat bakteri tersebut. Penyakit ini dapat dikategorikan sebagai penyakit menular, penularannya sangat cepat hanya dengan kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit orang lain.Penyakit ini sering diderita pada anak berusia dibawah 15 tahun. Di Aceh Selatan terakhir ditemukan penderita Frambusia Tahun 2005 sebanyak 1 kasus di kecamatan Kota Bahagia. Walaupun demikian tetap dilakukan skrining melalui school survey untuk menjaring penderita baru, di tahun 2016 ini tidak ditemukan masyarakat penderita frambusia.

8. Surveilans a. Penemuan dan Penanganan Penyakit Acute Flaccid Paralysis(AFP) AFP rate adalah jumlah kasus AFP non Polio yang ditemukan diantara 100.000 penduduk berusia < 15 tahun di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak, adalah sebagai berikut :

1. Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal.

2.

Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan, sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam.

3. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus.

4. Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya.

5. Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan.

Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak.Berdasarkan data jumlah penduduk Aceh Selatan tahun 2016yang berusia <15 tahun, terdapat 1kasus AFP (Non Polio) di Kecamatan Pasie Raja wilayah kerja Puskesmas Ladang Tuha. (Lihat lampiran tabel. 18)

Grafik 3.9 Kasus AFP (Non Polio) Usia< 15 Tahun Kabupaten Aceh Selatan 2011– 2016 2,5
Grafik 3.9
Kasus AFP (Non Polio) Usia< 15 Tahun
Kabupaten Aceh Selatan 2011– 2016
2,5
2
2
2
1,5
1
1
0,5
0
0
0
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

b. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio, Pertusis, Tetanus NonNeonatorum, Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri dan Hepatitis B. PD3I merupakan penyakait yang diharapkan dapat diberantas/ ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi.

Pada tahun 2016terdapat 21 kasusPertusisyang dilaporkan yang terjadi di Kecamatan Pasie Raja Wilayah Kerja Puskesmas Ladang Tuha dan ditemukan kasus Campak 12 kasus sedangkanuntuk Penyakit Polio, Tetanus NonNeonatorum, Tetanus Neonatorum,Difteri dan Hepatitis B tidak ditemukan kasus. (Lihat Lampiran Tabel. 19 dan 20)

Grafik 3.10 Jumlah Penyakit Campak per Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Trumon Timur Trumon Tengah Trumon Bakongan Timur Kuta Bahagia Bakongan Kluet Selatan Kluet Timur Kluet
Trumon Timur
Trumon Tengah
Trumon
Bakongan Timur
Kuta Bahagia
Bakongan
Kluet Selatan
Kluet Timur
Kluet Tengah
Kluert Utara
Pasie Raja
Tapaktuan
Samadua
Sawang
Meukek
Labuhan haji Timur
labuhan Haji
Labuhan Haji Barat
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
4
6
0
2
0
0
0
0
0
1
2
3
4
5
6
7

c. Surveilans Terpadu Tujuan surveilans terpadu adalah diperolehnya informasi epidemiologi penyakit tertentu dan terdistribusinya informasi tersebut kepada program terkait serta unit surveilans lain serta terkumpulnya data kesakitan, data laboratorium, data KLB penyakit di Puskesmas dan Rumah Sakit, sebagai sumber data surveilans. Di Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan, dimana semua kegiatan surveillans menular maupun tidak menular dilakukan secara terpadu satu pintu dengan melibatkan penanggungjawab program dengan leadingsektor Kasie Surveilance dan Imunisasi

9. Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit ini tidak hanya sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) tetapi juga menimbulkan dampak buruk sosial dan ekomomi. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan keluarga, kematian anggota keluarga, dan berkurangnya usia harapan hidup.

Perkembangan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dari tahun

2011 sampai dengan Tahun 2016 terjadi fluktuatif, ada kecenderungan

menurun dari 136 kasus di tahun 2011, kemudian menurun menjadi 25 kasus di tahun 2013 akan tetapi meningkat kembali tahun 2014 dan tahun

2016 meningkat sebanyak 197 kasus dibanding tahun 2015 sebanyak 113

kasus, namun tidak terjadi korban jiwa, seperti terlihat pada grafik di bawah

ini.

Grafik 3.11 Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Kabupaten Aceh Selatan Tahun2011 – 2016 250
Grafik 3.11
Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)
Kabupaten Aceh Selatan Tahun2011 – 2016
250
197
200
136
150
113
100
71
63
50
25
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Pada tahun 2016kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Tapaktuan Wilayah Kerja Puskesmas Tapaktuan dengan54kasus, Kecamatan Sawang40 kasus dan Kecamatan Samadua33kasus. (Lihat lampiran tabel. 21). Peningkatan kasus disebabkan oleh rendahnya kesadaran dalam pemberantasan sarang nyamuk melalui 3 M plus.

Selama6 tahun terakhir ini, ternyata Angka Kesakitan (Incidence Rate) DBD di Aceh Selatan mengalami fluktuasi yang tajam pada tahun

2012 sebesar 65,7/100.000 penduduk dan tahun 2016sebesar 86,2/100.000

penduduk.

Grafik 3.12 Incidence Rate per 100.000 Penduduk Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011- 2016 100 86,2
Grafik 3.12
Incidence Rate per 100.000 Penduduk
Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011- 2016
100
86,2
80
65,7
60
50,2
33,8
40
30,5
11,7
20
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Meningkatnya jumlah penderita DBD pada Tahun 2014 antara lain disebabkan perubahan iklim. Curah hujan yang tinggi dengan

intensitas yang tidak merata mengakibatkan perkembangbiakan nyamuk menjadi lebih banyak. Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah meluasnya DBD antara lain :

a. Adanya Pemantau jentik anak sekolah di tiap sekolah.

b. Melakukan fogging sekali dalam setahun di tempat umum dan ke setiap rumah ke wilyahah yang terindikasi akan mengakibatkan wabah pada

waktu sebelum musim masa penularan.

c. Membagikan bubuk abate di tiap KK yang mempunyai penampungan/bak air yang tidak memungkinkan bisa dikuras satu minggu sekali.

10. Chikungunya Penyakit cikungunya disebabkan oleh nyamuk Aedes Agepty, secara klinis penderitanya hampir sama dengan DBD, dapat diketahui melalui uji IGG/IGM dan penurunan jumlah trombosit. Penanggulangan

untuk penderita cikungunya sama dengan DBD. Pada tahun 2016 ini di Kabupaten Aceh Selatan tidak terdapat kasus chikungunya. 11. P2B2 (Rabies) Rabies atau umumnya dikenal sebagai penyakit anjing gila adalah penyakit serius yang menyerang otak dan sistem saraf.Penyakit ini digolongkan sebagai penyakit mematikan yang harus ditangani dengan cepat.

Rabies adalah penyakit yang ditularkan dari hewan (anjing, kucing dan kera) ke manusia, disebabkan oleh virus melalui gigitan.Pada tahun 2016 di Kabupaten Aceh Selatan yang ada hanya kasus GHPR (gigitan hewan penular rabies) tetapi tidak disertai dengan Rabies.

12. Kesakitan dan Kematian Akibat Malaria Kabupaten Aceh Selatan masih merupakan daerah endemis malaria. Di beberapa kecamatan kasus malaria masih menjadi penyakit utama yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kasus malaria tahun 2016 terdapat 2.371 suspekterkena malaria, malaria posistif 59(2,49%) kasus. Kasus terbanyak dilaporkan oleh Kecamatan Meukek Wilayah Kerja Puskesmas Drien Jalo (20kasus), , dari 24 Puskesmasyang ada hanya 15 Puskesmas yang wilayah kerjanya terbebas dari kasus Malaria.Angka Kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2016 tidak ada.Grafik dibawah ini menampilkan dibeberapa Kecamatan yang dilaporkan terdapat kasus malaria positif.(Lihat Lampiran Tabel. 22)

Grafik 3.13 Beberapa Kecamatan Yang Terdapat Kasus Malaria Positif Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Kluet Tengah Kluert Utara Pasie Raja Samadua Sawang Meukek labuhan Haji Timur Labuhan Haji 1
Kluet Tengah
Kluert Utara
Pasie Raja
Samadua
Sawang
Meukek
labuhan Haji Timur
Labuhan Haji
1
11
5
1
3
37
1
1
0
10
20
30
40

13. Filariasis(Penyakit Kaki Gajah)

Penyakit Filariasis adalah penyakit menular kronis yang disebabkan

cacing filarial yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening serta

merusak system limfe. Penyakitfilariasis menimbulkan pembengkakan

tangan, kaki, granula dan scrotum. Menyebabkankecacatan seumur hidup

serta dampak sosial bagi penderita dan keluarganya.

Jumlah kasus Filariasis di Kabupaten Aceh Selatan dari tahun ke

tahunmengalami fluktuatif.Jumlah kasus Filariasis pada tahun 2016

sebanyak 46 kasus (20 per 100.000 penduduk), bila dibandingkan dengan

tahun 2015terjadi kenaikan yaitu 38 kasus (17 per 100.000

penduduk).Terjadi peningkatan kasus disebabkan karena aktifnya petugas

untuk menjaring kasus baru.Melihat dari jumlah kasus dapat dikatagorikan

endemis oleh karena itu pemerintah upaya pencegahan dan memutus rantai

penularan melalui program BELKAGA selama 5 tahun dari tahun 2016 -

2020(Lihat Lampiran Tabel. 23)

Tabel 3.4 Angka Kesakitan Filariasis per 100.000 Penduduk Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 – 2016

   

Jumlah

Angka Kesakitan per 100.000 Penduduk

No

Tahun

Kasus

1

2011

0

0

2

2012

0

0

3

2013

37

17

4

2014

32

15

5

2015

38

17

6

2016

46

20

14. Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular (PTM) adalah merupakn penyakit yang

bukan disebabkan oleh kuman atau virus penyakit dan tidak ditularkan

kepada orang lain.Penyakit tidak menular biasnya terjadi karena faktor

keturunan dan gaya hidup yang tidak sehat, meskipun dekat atau kontak

body dengan si penderita tetapi tidak akan tertular penyakit tersebut. Macam-macan Penyakit tidak menular yang dimaksud diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Hipertensi/Tekanan Darah Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada duakali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatanyang memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol dan jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi semua pihak, baik dokter dari berbagai bidang peminatan hipertensi, pemerintah, swasta maupun masyarakat diperlukan, agar hipertensi dapat dikendalikan. Dari hasil pengukuran tekanan darah di Puskesmas dan Posbindu dalam Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 pada 10.237 jiwa yang berumur ≥ 18 tahun diketahui 2.209 jiwa (21,58%) mengalami hipertensi/tekanan darah tinggi.

Grafik 3.14 Pengukuran Tekanan Darah Menurut Jenis Kelamin

di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

8776 9000 8000 7000 6000 5000 Laki-laki 4000 Perempuan 3000 1694 1461 2000 515 1000
8776
9000
8000
7000
6000
5000
Laki-laki
4000
Perempuan
3000
1694
1461
2000
515
1000
0
Jumlah yang diukur
Hipertensi

Penjaringan penderita hipertensi lebih aktif dilakukan melalui posbindu, untuk menurunkan angka kesakitan hipertensi dan penemuan kasus baru perlu penguatan kembali posbindu di masing – masing desa.

b. Obesitas Overweight dan Obesitas adalah suatu kondisi kronik yang sangat erat hubungannya dengan peningkatan resiko sejumlah penyakit Degeneratif, dari hasil pemeriksaan obesitas di Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 pada 985 jiwa yang berumur ≥ 15 tahun diketahui 168 jiwa (17,06%) mengalami obesitas.

Grafik 3.15 Pemeriksaan Obesitas Menurut Jenis Kelamin

di Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

700 645 600 500 340 400 Laki-laki 300 200 156 Perempuan 100 12 0 Jumlah
700
645
600
500
340
400
Laki-laki
300
200
156 Perempuan
100
12
0
Jumlah yang
Jumlah yang Obesitas
diperiksa

c. IVA Positif dan Tumor/ Benjolan pada Payudara Perempuan 30-50 Tahun

Menemukan penyakit lebih awal melalui deteksi dini, selain memperbesar peluang kesembuhan penderitanya, juga merupakan upaya yang lebih murah. Terdapat banyak hal yang dapat mempengaruhi rendahnya capaian deteksi dini kanker leher rahim dan payudara. Mulai dari masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kanker, ketakutan para wanita terhadap pemeriksaan, belum adanya program deteksi dini massal yang terorganisasi secaramaksimal, serta faktor sosial kultur di masyarakat, seperti mitos ataupun kepercayaan terhadap pengobatan tradisional yang belum terbukti secara ilmiah. Dari hasil pemeriksaan leher rahim dan payudara di Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 pada 975 perempuan usia 30-50 tahun terdapat IVA Positif berjumlah 5 orang dan tumor/benjolan pada payudara berjumlah 52 orang. Dari data diatas menunjukkan rendahnya kepedulian masyarakat akan kesehatan reproduksi seperti masih enggan untuk melakukan pemeriksaan IVA, benjolan payudara hal ini dapat berpengaruh capaian tahun 2016. Disamping itu belum maksimalnya penyuluhan petugas kesehatan tentang bahaya dan manfaat deteksi dini dari pemeriksaan IVA dan benjolan payudara.

d. Diabetes mellitus Diabetes Mellitus atau dengan istilah penyakit kencing manis merupakan penyakit dimana kadar gula dalam darah meningkat, hal ini disebabkan oleh adanya gangguan pada fungsi insulin. Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyumbang penyebab kematian utama untuk penyakit tidak menular. Di Kabupaten Aceh Selatan Diabetes Mellitus menduduki urutan ke sepuluh dari sepuluh besar penyakit terbanyak . (Tabel 3.1)

15. Desa/Kelurahan Yang Terkena KLB dan Ditangani <24 jam Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Pada tahun 2016 telah terjadi 2 jenis KLB di KabupatenAceh Selatan yakni diare (47 penderita), campak

(8penderita).

16. Wabah Bencana Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dan pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.Selama tahun 2016 di Kabupaten Aceh Selatan tidak terjadi wabah bencana.

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilakukan upaya pelayanan kesehatan yang melibatkan masyarakat sebagai individu dan masyarakat sebagai bagian dari kelompok atau komunitas. Upaya kesehatan mencakup upaya-upaya pelayanan kesehatan, promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan danpenyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, penanggulangan bencana dan sebagainya. Upaya kesehatan di Kabupaten Aceh Selatan tergambar dalam uraian di bawah ini :

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan kesehatan dasar yang cepat, tepat dan efektif diharapkan dapat mengatasi sebagian masalah kesehatan masyarakat. Pada uraian berikut dijelaskan jenis pelayanan kesehatan dasar yangdiselenggarakandi sarana pelayanan kesehatan. 1. Pelayanan Kesehatan Ibu

a. Pelayanan Antenatal (Antenatal Care/ANC) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai standar (10 T) dan terpadu, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat melalui cakupan K1 dan K4.

Cakupan K1 merupakan cakupan ibu hamil yang pertama kali

mendapat pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan pada masa

kehamilan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

CakupanK4adalah Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan

antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi

pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada

triwulanpertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan

ketiga umur kehamilan.Pelayanan yang mencakup minimal : (1) Timbang

badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur tekanan darah, (3) Nilai status gizi

(ukur lingan lengan atas), (4) Ukur tinggi fundus uteri, (5) Tentukan

presentasi janin & denyut jantung janin(DJJ), (6) Skrining status

imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus Toksoid),(7) Pemberian tablet

besi (90 tablet selama kehamilan), (8) Test laboratorium sederhana (Hb,

Protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria,

TBC),(9) Tata laksana kasus, (10) temu wicara (pemberian komunikasi

interpersonal dan konseling.

Cakupan K1 untuk Kabupaten Aceh Selatan selama tahun 2016

adalahsebesar 83,0%, dimana cakupan tertinggi (100%) dilaporkan oleh

Puskesmas Meukek, sedangkancakupan terendah dilaporkan oleh

Puskesmas Samadua sebesar65,5%.

Grafik 4.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

120,0 100,0 80,0 60,0 40,0 20,0 0,0 Lh Uj. La Ka Du La Bla ok
120,0
100,0
80,0
60,0
40,0
20,0
0,0
Lh
Uj.
La
Ka
Du
La
Bla
ok
La
Pa
Ma
Klu
Klu
Bu
Kr
bu
Pe
Dri
Sa
Ta
Klu
mp
Ku
ria
Ba
Se
da
ng
Me
Sa
Be
da
da
ng
et
et
kit
Tru
ue
ha
ulu
en
ma
pa
et
on
ala
n
ko
ub
ng
kej
uk
wa
ng
ng
ng
ga
Ti
Sel
Ga
mo
ng
n
ma
Jal
du
ktu
Ut
g
Ba'
Ka
ng
ad
Ri
ere
ek
ng
ku
Tu
Ra
ma
mu
ata
de
n
Lu
Haj
t
o
a
an
ara
Pa
u
wa
an
eh
mb
n
an
ha
sia
t
r
n
ng
as
i
ya
n
a
g
n
K1
76,
83,
80,
100
74,
82,
65,
70,
79,
97,
79,
85,
80,
92,
94,
99,
96,
86,
92,
73,
89,
80,
97,
87,
K4 72, 70, 65, 100 63, 80, 62, 57, 79, 100 75, 70, 73, 75, 96, 91, 90, 68, 85, 63, 83, 69, 93, 93,
Persentase

Cakupan K4 selama tahun 2016 sebesar 76,0% untuk target yang dicapai 74% dengan demikian target tercapai, dimana cakupan tertinggi (100%) terdapat di Puskesmas Meukek dan Puskesmas Ladang Tuha. Sedangkan cakupan terendah di Puskesmas Tapaktuan sebesar 57,2%, karena ibu hamil banyak yang berasal dari luar daerah sehingga saat K4 dan persalinan ditempat asalnya.(Lihat Lampiran tabel. 29)

b. Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah cakupan ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dikarenakan Tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinanan sehingga keselamatan Ibu dan bayi lebih terjamin, apabila terdapat kelainan dapat diketahui dan segera ditolong atau dirujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit, Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman, bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya. Tahun 2016 persalinan ditolong Tenaga Kesehatan di Kabupaten Aceh Selatan sebesar 78,9% belum mencapai target yaitu 90%,Cakupan tertinggi di wilayah Kecamatan Trumon Timur dan Kecamatan Meukek sebesar 95% dan terendah di wilayah Kecamatan Tapaktuan sebesar

57,4%.

Grafik 4.2 Cakupan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

120 98,8 88 100 81,5 78,9 72,67 69,6 80 60 40 20 0 2011 2012
120
98,8
88
100
81,5
78,9
72,67
69,6
80
60
40
20
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Penurunan persentase dari grafik tersebut diatas disebabkan oleh masih adanya desa yang tidak mempunyai bidan desa yang memberikan pelayanan selama 24 jam.

c. Pelayanan Nifas Pelayanan nifas sesuai standar adalah pelayanan kepada ibu nifassedikitnya 3 kali, (kunjungan nifas ke-1) pada 6 jam pasca persalinan sampai dengan 3 hari, kunjungan nifas ke-2 hari ke-4 sampai dengan hari ke 28 setelah persalinan, kunjungan nifas ke-3 hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 setelah persalinan termasuk pemberian vitamin A sejumlah 2kali serta persiapan dan/atau pemasangan KB pasca persalinan.

Grafik 4.3 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu NifasMenurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Ladang Rimba Trumon Seubadeh Bukit Gadeng Bakongan Kluet Selatan Durian Kawan Kluet Timur Manggamat Kuala
Ladang Rimba
Trumon
Seubadeh
Bukit Gadeng
Bakongan
Kluet Selatan
Durian Kawan
Kluet Timur
Manggamat
Kuala Ba'u
Kampong Paya
Kluet Utara
Uj. Padang Rasian
Ladang Tuha
Lhok Bengkuang
Tapaktuan
Samadua
Sawang
Drien Jalo
Meukek
Peulumat
Labuhan Haji
Blangkejeren
97,8
69,7
92,7
75,7
86,8
74,5
92,9
85,7
78,5
64,2
84,9
67,6
78,2
93,6
75,9
55,1
66,5
82,9
64,3
99,4
79,1
81,7
77
0
20
40
60
80
100
120

Cakupan pelayanan ibu nifas di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 mencapai 77,9%. Angka cakupan tersebut menurun dibanding tahun 2015 yang mencapai 80,9%. Cakupan pelayanan ibu nifas tertinggi dicapai Puskesmas Meukek mencapai 99,4%, terendah di Puskesmas Tapaktuan mencapai 57,4%. Penurunan persentase tersebut diatas disebabkan oleh masih adanya desa yang tidak mempunyai bidan desa yang memberikan pelayanan selama 24 jam.

d. Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Yangdimaksud dengan komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil,ibu bersalin, ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. Sedangkan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu hamil, bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes,Puskesmas, PuskesmasPONED, Rumah bersalin, RSIA/RSB, RSU,RSUPONEK).

Grafik 4.4 JumlahKomplikasi Kebidanan Yang Ditangani Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Krueng Luas Ladang Rimba Trumon Seubadeh Bukit Gadeng Bakongan Kluet Selatan Durian Kawan Kluet Timur
Krueng Luas
Ladang Rimba
Trumon
Seubadeh
Bukit Gadeng
Bakongan
Kluet Selatan
Durian Kawan
Kluet Timur
Manggamat
Kuala Ba'u
Kampong Paya
Kluet Utara
Uj. Padang Rasian
Ladang Tuha
Lhok Bengkuang
Tapaktuan
Samadua
Sawang
Drien Jalo
Meukek
Peulumat
Labuhan Haji
Blangkejeren
26
12
20
25
1
23
57
19
21
13
32
14
43
15
35
54
45
60
50
36
34
42
58
50
0
10
20
30
40
50
60
70

Jumlah penanganan komplikasi kebidanan di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebanyak 785 (79,71%) yang ditangani dari target 80% , menurun dibandingkan tahun 2015 sebanyak 890 (90,03%). Jumlah tertinggi di Puskesmas Samadua sebanyak 60 orang, terendah di Puskesmas Bukit Gadeng sebanyak 1 orang.(Lihat Lampiran tabel. 33) Angka capaian 2016 adalah data riil yang didapat untuk penanganan komplikasi kebidanan sedangkan target adalah dari angka estimasi.

e. Bidan Koordinator Bidan Koordinator (Bikor) adalahbidan di Puskesmas atau di Dinas Kabupatenyang karena kemampuannya mendapat tanggung

jawab membina bidan di wilayah kerjanya baik secara perorangan maupun kelompok Kegiatan yang dilakukan supervisi mengenai BPM (Bidan Praktek Mandiri), kinerja bidan desa di Kabupaten Aceh Selatan sudah mulai dilaksanakan selama tahun 2016, telah melakukan pembinaan kelayakan fasilitas yang digunakan BPM dalam melakukan pelayanan kebidanan. Selama tahun 2016 BPM di Kabupaten Aceh Selatan yang telah mempunyai izin sebanyak 31 unit dari 42 unit yang ada, yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 20 unit BPM. Pembinaan kinerja layanan bidan desa di Kabupaten Aceh Selatan seperti etika, layanan terhadap masyarakat. Sedangkan jumlah bidan desa di Kabupaten Aceh Selatan selama tahun 2016 sebanyak 138 orang, yang sudah dibina sebanyak 119 orang.

2. Pelayanan Kesehatan Anak

a. Kunjungan Neonatus Dalam upaya mengurangi resiko pada neonatus karena kondisi bayi kurang dari 1 bulan sangat rentan, maka perlu adanya pelayanan neonatus. Yang dimaksud pelayanan kesehatan neonatal dasar meliputi IMD (inisiasi menyusu dini), ASI Ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberianvitaminK1injeksibilatidakdiberikan pada saatl ahir, pemberianimunisasi hepatitis B-0 bila tidak diberikan pada saat lahir,dan manajemen terpadu bayi muda. Dilakukan sesuai standar sedikitnya 3 kali, pada 6-24 jam setelah lahir, pada 3-7 hari dan pada 28 hari setelah lahir yang dilakukan di fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah. Cakupan kunjungan neonatus 1 (KN1) di Kabupaten Aceh Selatan pada tahun 2016 mencapai 97,3% sedangkan cakupan kunjungan neonatus Lengkap (KNlengkap) mencapai 93,3%. Cakupan KN lengkap tertinggi rata-rata dari 24 Puskesmas terdapat 21Puskesmas cakupan KN Lengkapnya sudah lebih dari 80% meningkat dibandingkan tahun 2015 yang hanya 16 Puskesmas, namun masih ada Puskesmas

yang cakupannya kurang dari 50% yaitu Puskesmas Bukit Gadeng. (Lihat Lampiran Tabel. 38)

Grafik 4.5 Cakupan Pelayanan Kunjungan Neonatus Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

250 90,6 93,3 87,7 200 77,3 79,3 81,4 150 100 97,2 97,3 77,5 80,2 100
250
90,6
93,3
87,7
200
77,3
79,3
81,4
150
100
97,2
97,3
77,5
80,2
100
59,7
50
0
2011
2012
KN 2013 1
2016
KN 2014 Lengkap 2015

b. Pelayanan Kesehatan Bayi Yang dimaksud dengan Pelayanan Kesehatan Bayi adalah kunjungan bayi umur 29 hari sampai dengan 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah, posyandu, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas. pelayanan kesehatan pada bayi minimal 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari-2 bulan, 1 kali pada umur 3-5 bulan, 1 kali pada umur 6-8 bulan, dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Pelayanan Kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, Polio 1-4, Campak), pemantauan pertumbuhan, Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), pemberian vitamin A pada bayi umur 6-11 bulan, penyuluhan pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI (MP ASI).

Grafik 4.6 Cakupan Pelayanan Kunjungan Bayi Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

91,6 93 100 72,8 71,3 65,6 54,6 50 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016
91,6
93
100
72,8
71,3
65,6
54,6
50
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Cakupan pelayanan bayi di Kabupaten Aceh Selatan pada tahun 2016 mencapai 93,0% terjadi peningkatan jika dibandingkan tahun 2015yang mencapai 65,6%. Cakupan pelayanan bayi pada tahun 2016sudah terlayani di semua Puskesmas di atas 50%. Pentingnya pemberian pelayanan kesehatan pada bayi diharapkan dapat menekan laju Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Aceh Selatan, serta untuk memantau tumbuh kembang bayi sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan bayi. Berikut ini gambaran cakupan kunjungan bayi selama 6 tahun terakhir.Adapun grafik cakupan Kunjungan bayi 6 tahun terahir dapat terlihat pada grafik di atas.(Lihat Lampiran Tabel. 40)

c. Pelayanan Anak Balita Balita adalah anak berumur dibawah 5 tahun atau umur 12-59 bulan. Tidak hanya bayi yang harus mendapatkan perhatian kesehatannya tetapi balita juga perlu mendapatkan perhatian baik gizi maupun kesehatannya, karena balita adalah generasi penerus bangsa yang harus sehat, cerdas dan kuat, pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita sakit dan balita sehat. Jumlah balita di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebanyak 17.786 jiwa, yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 13.298 jiwa (74,8%). Puskesmas yang cakupannya sudah mencapai 90% adalah Puskesmas Drien Jalo, Sawang, Kuala Ba’u, Manggamat. Sedangkan cakupan terendah dibawah 50%adalah Puskesmas Lhok Bengkuang dan Bakongan.(Lihat Lampiran Tabel. 46)

Grafik 4.7 Cakupan Pelayanan Anak Balita Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Krueng Luas Ladang Rimba Trumon Seubadeh Bukit Gadeng Bakongan Kluet Selatan Durian Kawan Kluet Timur
Krueng Luas
Ladang Rimba
Trumon
Seubadeh
Bukit Gadeng
Bakongan
Kluet Selatan
Durian Kawan
Kluet Timur
Manggamat
Kuala Ba'u
Kampong Paya
Kluet Utara
Uj. Padang Rasian
Ladang Tuha
Lhok Bengkuang
Tapaktuan
Samadua
Sawang
Drien Jalo
Meukek
Peulumat
Labuhan Haji
Blangkejeren
63,5
85,2
82,7
83,9
66,1
24,8
65,6
89,4
70,5
91,8
92,2
69,3
62,3
85,9
89,6
33
61,5
79,8
98,9
92,7
89,6
80,7
61,1
83,2
0
20
40
60
80
100
120

Diharapkan untuk kedepannya ada peningkatan jumlah anak balita yang mendapatkan pelayanan, tidak hanyamengembangkan inovasidari sisi petugas akan tetapi juga meningkatkan peran aktif masyarakat untuk peduli terhadap tumbuh kembang anak balitanya.

d. Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat Yang dimaksud dengan cakupan penjaringan siswa SD dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 SD Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama tenaga kesehatan terlatih (guru dan dokter kecil) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Kegiatan ini merupakan kegiatan Promosi Kesehatan yang wajib dilakukan setiap Tahun oleh Puskesmas yang bertujuan untuk mengukur status kesehatan para siswa, meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah, serta merupakan upaya membentuk sekolah sehat. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenagakesehatan/guru UKS/kader kesehatan sekolah tahun 2016 sebesar 90,1%dari 4.165siswa, cakupan ini menurun bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2015 sebesar 99,3% dari 3.904 karena saat melakukan penjaringan ada siswa yang tidak hadir, penjaringan dilakukan sekali dalam satu tahun.(Lihat Lampiran Tabel. 49).

3. Perkesmas Perawatan kesehatan masyarakat(Perkesmas) merupakan pelayanan perawatan professional yang merupakan perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan konsep keperawatan yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penakanan pada kelompok resiko. Dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal dilakukan melalui peningkatan kesehatan (promotif) danpencegahan penyakit (preventif) disemua tingkat pencegahan dengan menjamin keterjangkauan palyanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkann klien sebagai mitra kerja dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan. Program Perkesmas di Kabupaten Aceh Selatan baru dilaksanakan pada tahun 2016 dengan dilakukan pengorganisasian (koordinir), di tahun 2016 ini jumlah kunjungan yang mendapat asuhan keperawatan sebanyak 267.586 jiwa.

4. Rujukan Suatu system jaringan fasilitas layanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggungjawab secara timbal balik atas masalah yang timbul baik secara vertical maupun horizontal kepelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah.Jumlah kunjungan rujukan pada tahun 2016 di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 26.656 jiwa, baik rujukan rawat jalan maupun rawat inap.

5. Kesehatan Tradisional Merupakan pengobatan dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (UU No. 36 Tahun 2009) Pelayanan kesehatan tradisional merupakan kegiatan yang sudah lama ada namun berjalan tersendiri berdasarkan PP No. 103 Tahun 2014, pelayanan kesehatan tradisional dilakukan dengan tujuan membangun sistem yankestrad yang bersinergi dengan yankes konvensional. Untuk tahun 2016 di dalam wilayah Kabupaten Aceh Selatan, kegiatan yankestrad yang dilakukan baru meliputi pendataan jumlah penyehat tradisional sebanyak 183 orang yang semuanya belum terdaftar.

6. Pelayanan Gizi

a. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Cakupan Bayi mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan bayi 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis 100 µA 1 kali per tahun di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pemberian vitamin A dilaksanakan pada bulan Februari dan Agustus. Vitamin A ini diberikan secara gratis dan dapat diperoleh di seluruh sarana fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), polindes/poskesdes, balai pengobatan, praktek dokter/bidan swasta), posyandu, sekolah Taman Kanak-kanak, Pos PAUD termasuk kelompok bermain, tempat penitipan anak, dan sebagainya.

Grafik 4.8 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Krueng Luas Ladang Rimba Trumon Seubadeh Bukit Gadeng Bakongan Kluet Selatan Durian Kawan Kluet Timur
Krueng Luas
Ladang Rimba
Trumon
Seubadeh
Bukit Gadeng
Bakongan
Kluet Selatan
Durian Kawan
Kluet Timur
Manggamat
Kuala Ba'u
Kampong Paya
Kluet Utara
Uj. Padang Rasian
Ladang Tuha
Lhok Bengkuang
Tapaktuan
Samadua
Sawang
Drien Jalo
Meukek
Peulumat
Labuhan Haji
Blangkejeren
185
104
118
124
153
89
274
75
92
183
143
116
160
70
200
225
159
219
258
182
181
141
203
334
0
50
100
150
200
250
300
350
400

Berdasarkan

data

yang

yang diperoleh

Cakupan

pemberian

vitamin A pada bayi di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebanyak 3.961 (99,82%) dari jumlah bayi usia 6-11 bulan berjumlah 3.968, terdapat peningkatan dibandingkan tahun 2015 sebanyak 1.920 bayi (42,71%). (Lihat Lampiran Tabel. 44)

b. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A adalah anak umur 12–59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi. Cakupan anak balita umur 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi 200µA 2 kali per tahun di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.Pemberian vitamin A dilaksanakan pada bulan Februari dan Agustus.

Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit infeksi, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak. Cakupan pemberian kapsul Vitamin A pada Anak Balita (12-59 Bulan) tahun 2016 sebesar 96,95%, mengalami peningkatan dibanding tahun 2015 sebesar 93,13%.(Lihat Lampiran Tabel. 44)

Grafik 4.9 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Balita (12-59 Bulan) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

120 96,95 93,66 93,35 93,13 100 80 61,10 60 40 20 9,23 0 2011 2012
120
96,95
93,66
93,35
93,13
100
80
61,10
60
40
20
9,23
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

c. Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Pelayanan nifas sesuai standar adalah Pelayanan kepada ibu nifas sesuai standar sedikitnya 3 kali, kunjungan nifas ke-1 pada 6 jam setelah persalinan sampai dengan 3 hari, kunjungan nifas ke-2 hari ke 4 sampai dengan hari ke 28 setelah persalinan, kunjungan nifas ke-3 hari ke 29 sampai dengan hari ke 42 setelah persalinan. Pentingnya mendapatkan Vitamin A tidak hanya untuk bayi/balita, tetapi Vitamin A juga sangat bermanfaat untuk dikonsumsi oleh ibu pada masa nifas sebanyak 2 kali (2 kapsul vit. A merah). Vitamin A perlu dikonsumsi oleh ibu nifas (0-42 hari setelah bersalin). Apabila pada ibu

nifas beresiko kekurangan vitamin A maka hal ini akan berpengaruh pada bayinya, bayi juga akan beresiko kekurangan vitamin A. Ibu menyusui membutuhkan vitamin A yang tinggi yang bermanfaat untuk memproduksi ASI (Air Susu Ibu). Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A tahun 2016 sebesar 78,9%, meningkat dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 78,36%.Cakupan terendah <60% berada di Puskesmas Tapaktuan yaitu 57,4%. (Lihat Lampiran Tabel. 29)

Grafik 4.10 Cakupan Pelayanan Ibu NifasMendapat Vit A Menurut Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Krueng Luas Ladang Rimba Trumon Seubadeh Bukit Gadeng Bakongan Kluet Selatan Durian Kawan Kluet Timur
Krueng Luas
Ladang Rimba
Trumon
Seubadeh
Bukit Gadeng
Bakongan
Kluet Selatan
Durian Kawan
Kluet Timur
Manggamat
Kuala Ba'u
Kampong Paya
Kluet Utara
Uj. Padang Rasian
Ladang Tuha
Lhok Bengkuang
Tapaktuan
Samadua
Sawang
Drien Jalo
Meukek
Peulumat
Labuhan Haji
Blangkejeren
94,2
97,8
80,3
93,5
77,9
86,8
71,8
93,9
90,5
78,5
64,2
84,9
68
79,3
90,2
75,9
57,4
66,5
84,5
76,9
99,4
79,1
82,1
77
0
20
40
60
80
100
120

d. Persentase Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Fe Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup, yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (Serum Iron = SI) dan transferin menurun, kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity/TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta di tempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali. Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi, antara lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorbsi diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa penyembuhan dari penyakit. Pemberian Fe1 adalah Ibu hamil yang mendapat minimal 30 tablet Fe(suplemen zat besi) pada trimester pertama kehamilan. Pemberian Fe3 adalah Ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe (suplemen zat besi) pada trimester 3. Cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe1 di Kabupaten Aceh Selatan pada tahun 2016 sebesar 3.979 (80,81%) mengalami penurunandibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 4.548 (92,01%), Capaian rendah karena saat trimester pertama tidak semua ibu hamil mendapatkan Fe1 dikarenakan hiperemis dan untuk Fe3 disebabkan ibu hamil takut mengkonsumsi terlalu banyak sampai 90 tablet, salah satu efek samping dari konsumsi Fe BAB keras, Cakupan tertinggi dicapai Puskesmas Meukek sebesar 100% dan cakupan terendah di Puskesmas Samadua sebesar 65,55%. Cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe3 tahun 2016 sebesar 3.651 (74,15%) mengalami penurunan bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2015 sebesar 4.130 (83,55%). Cakupan tertinggi dicapai Puskesmas Ladang Tuha sebesar 100%, terendah di Puskesmas Tapaktuan sebesar 146 (52,52%). (Lihat Lampiran Tabel. 32)

Grafik 4.11 Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016

200 85,45 83,55 180 74,96 74,15 160 62,71 140 61,32 120 89,88 92,01 100 80,81
200
85,45
83,55
180
74,96
74,15
160
62,71
140
61,32
120
89,88
92,01
100
80,81
77,8
72,86
80
63,04
60
Fe3
40
Fe1
20
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

e. Persentase Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah bayi hanya diberikan ASI saja sampai usia 6 bulan tanpa diberi tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, bahkan air putih sekalipun. Selain tambahan cairan, bayi juga tidak diberikan makanan padat lain, seperti: pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, tim dan lain-lain. Pada masa pertumbuhan berikutnya bayi yang tidak diberi ASI ternyata memiliki memiliki daya tahan tubuh yang rendah, IQ rendah dan bisa meningkatkan angka kematian bayi. Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2016di Kabupaten Aceh Selatan menunjukkan pemberian ASI eksklusif sekitar 56,9%, ada kenaikan dibandingkan tahun 2015sebesar 38,3%. Cakupan tertinggi adalah Puskesmas Kluet Timur, Durian Kawan dan Krueng Luas sebesar 100%. Sedangkan yang terendah ada pada Puskesmas Bakongan, Seubadeh dan Trumon sebesar 0%. (Lihat Lampiran Tabel. 39)

Grafik 4.12 Persentase Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016
Grafik 4.12
Persentase Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif
Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 - 2016
60
56,9
46,19
50
38,3
40
26,7
30
18,1
20
13,1
10
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

f. Jumlah Balita Ditimbang Penimbangan merupakan salah satu kegiatan utama program perbaikkan gizi yang menitik beratkan pada pencegahan dan peningkatan keadaan gizi anak.Penimbangan terhadap bayi dan balita yang merupakan upaya masyarakat memantau pertumbuhan dan perkembangannya. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tersebut digambarkan dalam perbandingan jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita seluruhnya (S). Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam penimbangan, maka semakin banyak pula data yang dapat menggambarkan status gizi balita. Banyak hal yang dapat mempengaruhi tingkat pencapaian partisipasi masyarakat dalam penimbangan, antara lain tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gizi, faktor ekonomi dan sosial budaya. Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di posyandu tahun 2016 sebesar 87,3% terdapat kenaikan dibandingkan dengan capaian tahun 2015yang sebesar 85,6%. Capaian jumlah balita ditimbang tertinggi >90% terdapat di10 (sepuluh) Puskesmas yaitu : Puskesmas Blang Kejeren, Labuhan Haji, Peulumat, Meukek, Sawang, Samadua,

Lhok Bengkuang, Ujung Padang Rasian, Kuala Ba’u, Kluet Selatan, dan terendah di Puskesmas Kluet Utara sebesar 66,3%.(Lihat Lampiran Tabel. 47)

7. Pelayanan Keluarga Berencana Pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi dan/atau pasangan usia subur yang menggunakan kembali salah cara/alat kontrasepsi, termasuk pasca keguguran, sesudah melahirkan atau pasca istirahat. Metode suntik dan pil masih menunjukkan persentase terbanyak. Yang menjadi prioritas sasaran program pelayanan KB adalah wanita usia suburdan pasangannya (PUS) dikarenakan wanita usia subur memiliki peran penting terjadinya kehamilan sehingga memiliki peluang lebih tinggi untuk melahirkan. Pada tahun 2016 jumlah peserta KB Baru di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 4.762 (13,1%) dari jumlah PUS (Pasangan Usia Subur) sebanyak 36.281, terjadi peningkatan dibanding tahun 2015sebanyak 3.773 (10,6%) dari jumlah PUS sebanyak 35.712. Dari jumlah peserta KB baru sebanyak 4.762 yang menjadi peserta KB aktif sebanyak 26.943. (Lihat Lampiran Tabel. 36)

8. Pelayanan Imunisasi

a. Persentase Desa yang Mencapai UCI (Universal Child Immunization) Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indikator cakupan Hepatitis B/HB 0, BCG, Polio 1 – 4,DPT1 – 3, dan Campak dengan cakupan minimal 80% dari jumlah sasaran bayi di desa.Target desa UCI pada tahun 2016 sebesar 86%. Pencapaian UCI tahun 2016di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak240 desa (92,3%) dari 260 desa yang ada. Wilayah Puskesmas yang sudah mencapai Desa UCI 100% yaitu PuskesmasBlangkejeren,Labuhan Haji, Peulumat, Drien Jalo, Samadua, Tapaktuan, Lhok Bengkuang, Kluet Utara, Kampong Paya, Kuala Ba’u, Durian Kawan, Bukit Gadeng, Seubadeh dan Ladang Rimba. Data tahun

2016ini mengalami peningkatan dari tahun 2015 sebanyak 214 desa UCIatau (82,3%).(Lihat Lampiran Tabel. 41)

Grafik 4.14 Jumlah Desa yang Mencapai UCIPer Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 30 28
Grafik 4.14
Jumlah Desa yang Mencapai UCIPer Kecamatan
Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016
30
28
25
20
16
15
15
13
12
13
11
10
10
9
10
8
8
8
8
7
6
4
4
5
-
Sebagai
salah
satu
upaya
untuk
memperbaiki
capaian

UCI

adalah dengan melakukan DOFU (Drop out follow up), sweeping,

penyuluhan dan monitoring pada tiap desa/kelurahan.

b. Cakupan Imunisasi Bayi Imunisasi dasar pada bayi yang wajib diberikan yakni Imunisasi Hepatitis B diberikan pada bayi usia 0-7 hari, Imunisasi BCG diberikan pada bayi usia 0-11 bulan, Imunisasi Polio diberikan pada bayi usia 0-11 bulan dengan interval minimal 1 bulan, Imunisasi DPT-HB/DPT-HB-Hib diberikan pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal 1 bulan, Imunisasi Campak diberikan pada bayi usia 9-11 bulan. Sedangkan Imunisasi dasar lengkap Bayi yang telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap meliputi satu dosis imunisasi Hepatitis B, satu dosis imunisasi BCG, tiga dosis imunisasi DPT- HB/DPT-HB-Hib, empat dosis imunisasi polio, dan satu dosis imunisasi campak.

Pada tahun 2016 di Kabupaten Aceh Selatan cakupan imunisasi bayi lengkap baru mencapai 83,82%, dari 5 (lima) jenis imunisasi dasar yakni Hepatitis B, BCG, DPT-HB3/DPT-HB-Hib3, Polio, Campak. Imunisasi BCG yang memiliki cakupan paling tinggi yaitu 92,09%. (Lihat

Lampiran Tabel. 42&43)

Grafik 4.15 Cakupan Imunisasi Bayi Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

96,00 94,00 92,00 90,00 88,00 86,00 84,00 82,00 80,00 78,00 Hepatitis BCG DPT- Polio Campak
96,00
94,00
92,00
90,00
88,00
86,00
84,00
82,00
80,00
78,00
Hepatitis
BCG
DPT-
Polio
Campak
B
HB3/DPT-
HB-Hib3
Imunisasi
92,50
95,18
85,06
83,97
86,87

Selain imunisasi yang disebutkan diatas juga ada imunisasi tambahan atau booster pada batita yang berumur 1,5 tahun diberikan satu kali suntikan DPT-HB-Hib disuntikkan secara IM di lengan dan satu kali suntikan campak pada usia 24 bulan disuntikkan secara subcutan di lengan sebelah kiri.

c. WUS (Wanita Usia Subur)Mendapat Imunisasi TT Imunisasi TT WUS yakni Pemberian imunisasi TT pada wanita usia subur (hamil dan tidak hamil usia 15-39 tahun) sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) yang berguna bagi kekebalan seumur hidup.Imunisasi TT (Tetanus Toksoid)ibu hamil merupakan bagian dari pelayanan antenatal dengan tujuan mencegah terjadinya tetanus neonatorum.

Berdasarkan Permenkes RI No. 42 Tahun 2013, jika seorang anak pada waktu bayi sudah mendapaat imunisasi dasar lengkap dan mendapat BIAS disekolah dianggap anak tersebut sudah lengkap status T nya (sudah T5). Selama tahun 2016cakupan imunisasi TT-1sebesar 11,6%, TT-2 sebesar 8,9%,TT-3 sebesar 7,7%, TT-4 sebesar 6,7% dan TT-5 sebesar 10,5%.Dikarenakan kurangnya penyuluhan tentang pentingnya imunisasi TT pada WUS, belum dilakukan pendataan dan skrining, penyuntikan hanya dilakukan yang datang ke puskesmas saja seperti ibu hamil dan

catin.(Lihat Lampiran Tabel. 31)

9. Pelayanan Kesehatan Gigi

a. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif, sebelum gigi tetap betul-betul rusak dan harus dicabut. Pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien. Jumlah tumpatan gigi tetap tahun 2016 di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 157 orang sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 1.990 orang, jumlah tersebut dibanding tahun 2015 meningkat untuk Jumlah tumpatan gigi tetap hanya sebanyak 32orang sementara jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 213 orang.(Lihat Lampiran Tabel. 50)

b. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari pelayanankesehatan secara keseluruhan dan tidak dapat diabaikan terutama pada tingkat sekolah dasar diantaranya adalah UpayaKesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang merupakan upaya promotif

danpreventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah.Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan muridyang perlu perawatan gigi, kemudian melakukan perawatan pada murid yangmemerlukan. Untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak SD dan setingkat tahun 2016di Kabupaten Aceh Selatan dari data Bidang Kesmas diketahui dari seluruh murid yang berjumlah 24.703 siswa dari 235 SD/MI di Kabupaten Aceh Selatan yang mendapat pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 6.427 (26,0%). (Lihat Lampiran Tabel. 51)

c. Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD) Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan melalui posyandu, posbindu dan posyandu lansia berusaha memberikan pemeriksaan kesehatan gigi dasar dengan menyelenggarakan Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD). Dalam hal pelaksanaan UKGMD tersebut sering terkendala keterbatasan alat dan kurangnya tenaga gigi di Puskesmas (dokter gigi dan perawat gigi) untuk dokter gigi berjumlah 7 orang dan jumlah perawat gigi sebanyak 17 orang. Untuk wilayah Kabupaten Aceh Selatan, pelaksanaan UKGMD belum dapat berjalan optimal dan menyeluruh. Selain itu pula, masyarakat lebih memilih langsung pergi ke Puskesmas, Rumah Sakit atau dokter gigi apabila merasa mengalami keluhan masalah kesehatan gigi daripada berkonsultasi terlebih dahulu dengan kader di posyandu.

10. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Kegiatan upaya kesehatan usia lanjut ditingkat puskesmas secara khusus ialah penyuluhan, deteksi dan diagnosa dini usia lanjut, diagnosa kelainan usia lanjut, proteksi dan tindakan khusus pada usia lanjut dan pemulihan. Pelayanan kesehatan usia lanjut yaitu pelayanan penduduk usia 60 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan

standar oleh tenaga kesehatan, baik di Puskesmas maupun di posyandu lansia. Sedangkan secara umum dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya yang terkait. Cakupan yang mendapat pelayanan kesehatan usia lanjut di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebesar 81,23% dari jumlah usia lanjut yang berumur 60 tahun keatas sebanyak 13.196. (Lihat Lampiran Tabel. 52)

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN

1. Jaminan Kesehatan Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai upaya kesehatan, salah satunya adalah dengan mengembangkan suatu upaya kesehatan melalui program jaminan kesehatan. Sedangkan untuk masyarakat miskin, pemerintah menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS. Jumlah Perserta Jaminan Kesehatan pada tahun 2016 adalah 265.952 peserta dengan rincian menurut jenis jaminan adalah sebagai berikut : JKN 265.952 peserta, PBI APBN 91.637 peserta, PBI APBD 144.257 peserta, PPU 30.058peserta. (Lihat Lampiran tabel. 53). Dimana semua biaya pemeliharaan kesehatan untuk masyarakat miskin ini semua ditanggung oleh pemerintah. Di tahun 2016 inipengajuan klaim dilakukan secara kolektif oleh Dinas Kesehatan yang semulanya pengajuan klaim dilakukan oleh masing-masing Puskesmas, sehingga tidak terjadi lagi keterlambatan klaim dan dana kapitasi langsung bisa digunakan untuk operasional pelayanan di Puskesmas.

2. Jaminan Persalinan (Jampersal) Jampersal digunakan untuk mendekatkan akses dan mencegah terjadinya keterlambatan penanganan pada ibu hamil, ibu bersalin, nifas dan bayi baru lahir terutama di daerah sulit akses ke fasilitas kesehatan melalui penyediaan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK).

Operasional Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) berupa biaya sewa Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) selama 1 tahun serta belanja langganan daya seperti biaya listrik dan air. Rumah Tunggu Kelahiran sendiri, merupakan bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) berupa tempat (rumah/bangunan tersendiri) yang dapat digunakan untuk tempat tinggal sementara bagi ibu hamil yang akan melahirkan hingga nifas, termasuk bayi yang dilahirkannya serta pendampingnya (suami/keluarga/ kader kesehatan). Adapun kriteria Rumah Tunggu Kelahiran yang disyaratkan diantaranya lokasi harus berdekatan dengan Puskesmas yang mampu melakukan pertolongan persalinan atau Rumah Sakit Umum Daerah/Pusat, setidaknya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 10 menit. Kemudian rumah milik penduduk yang masih ditinggali pemiliknya serta mempunyai ruangan tidur, dapur, kamar mandi, jamban, air bersih dan ventilasi serta sumber penerangan (listrik). Tahun 2016 jumlah Rumah Tunggu Kelahiran di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 26 rumah yang berada di 17 Puskesmas, yaitu :

Puskesmas Krueng Luas, Ladang Rimba, Bakongan, Kluet Timur, Kampung Paya, Durian Kawan, Manggamat, Kluet Selatan, Kluet Utara, Ujung Padang Rasian, Ladang Tuha, Tapaktuan, Meukek, Drien Jalo, Labuhan Haji, Kuala Ba’u dan Trumon.

3. Cakupan Rawat Jalan dan Rawat Inap Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Cakupan kunjungan rawat jalan ini meliputi kunjungan rawat jalan di Puskesmas, kunjungan rawat jalan di Rumah Sakit, dan kunjungan rawat jalan di sarana pelayanan kesehatan lain. Cakupan kunjungan rawat jalan di Kabupaten Aceh Selatan pada tahun 2016sebanyak428.902 kunjungan. Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Cakupan kunjungan rawat inap ini meliputi

kunjungan rawat inap di Puskesmas, kunjungan rawat inap di Rumah Sakit, dan kunjungan rawat inap di sarana pelayanan kesehatan lain. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebanyak9.495 kunjungan. (Lihat Lampiran tabel. 54)

4. JumlahKunjungan Gangguan Jiwa Gangguan jiwa adalah gangguan pada satu atau lebih fungsi jiwa, terjadi pada gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stres dann penderitaan bagi penderita dan keluarganya. Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, status sosial dan ekonomi. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa adalah jumlah kunjungan gangguan jiwa baru di sarana pelayanan kesehatan swasta dan pemerintah di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Jumlah gangguan jiwa di sarana kesehatan di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebesar 7.919 kunjungan, meninggal sebanyak 3 orang karena sakit komplikasi, dan satu orang menceburkan diri ke sungai. Jumlah yang dipasung sebanyak 6 orang, pasien mandiri sebanyak 465, pasien tergantung/bantuan sebanyak 536 orang. (Lihat Lampiran Tabel. 54)

5. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat derajat kesehatan masyarakat, baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi

a. GDR ( Gross Death Rate ) GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1.000 pasien keluar, dari 1 Rumah Sakit yang ada didapat angka rata-rata GDR sebesar 16,6%. Angka GDR harus seminimal mungkin karena menandakan tingkat kematian di rumah sakit.

b. NDR ( Net Death Rate ) NDR adalah angka kematian ≥ 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap

1.000 pasien keluar. Dari 1 Rumah Sakit yang ada didapat angka rata- rata sebesar 1,1%.

c. BOR ( Bed Occupancy Rate ) BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan Gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Dari 1 Rumah Sakit yang ada didapat angka rata-rata sebesar 70,4%, ini berarti berada di atas angka ideal yaitu 60-85%.

d. BTO (Bed Turn Over) BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Dari 1 Rumah Sakit yang ada didapat angka 64 kali pemakaian, ini berarti berada diatas angka ideal yaitu idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.

e. TOI (Turn Over Interval ) TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati, dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan Gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur (Depkes, 2005). Dari 1 Rumah Sakit yang ada didapat angka rata-rata TOI sebesar 1,7 hari, ini berarti TOI berada diangka ideal yaitu 1-3 hari.

f. ALOS (Average Length Of Stay) ALOS adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan Gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan Gambaran mutu pelayanan. Apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan lebih lanjut (Depkes, 2005).

Dari 1 Rumah Sakit yang ada didapat angka rata-rata ALOS sebesar 3,03 hari, ini berarti berada di bawah angka ideal yaitu 6-9 hari.

C. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT 1. Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Banyakpenyakit yang muncul juga disebabkan karena perilaku yang

mutlak

diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu,

upayapromosi kesehatan harusterus dilakukan agar masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat. Penerapan perilakuhidup bersih dan sehat harus dimulai dari unit terkecil masyarakat yaitu rumah tangga. Pembinaan PHBS di rumah tangga dilakukan untuk mewujudkan Rumah Tangga Sehat. Rumah Tangga Sehat adalah rumah tangga yang memenuhi 7 indikator PHBS dan 3 indikator Gaya Hidup Sehat sebagai berikut :

a. Tujuh Indikator PHBS di Rumah Tangga :

tidak sehat.Perubahan perilaku tidak mudahuntuk dilakukan, namun

1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan

2. Bayi diberi ASI eksklusi

3. Penimbangan bayi dan balita

4. Mencuci tangan dengan air dan sabun

5. Menggunakan air bersih

6. Menggunakan jamban sehat

7. Rumah bebas jentik

b. Tiga Indikator Gaya Hidup Sehat

1. Makan buah dan sayur setiap hari

2. Melakukan aktivitas fisik setiap hari

3. Tidak merokok dalam rumah

Berdasarkan data hasil pengkajian ber-PHBS yang dilaporkan tahun 2016dari 51.866 rumah tangga, jumlah dipantau 11.598 (22,4%), jumlah ber- PHBS berjumlah 4.021 (34,7%). Apabila dibandingkan dengan tahun 2015 terjadi peningkatan, pada tahun 2015dari 51.870rumah tangga yang ada,

dipantau 1.472 rumah tangga, rumah tangga ber-PHBS 675.(Lihat Lampiran tabel. 57)

2. Kesehatan Olah Raga Kesehatan olah raga diperlukan untuk tercapainya derajat kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat yang optimal dengan melakukan olah raga atau latihan fisik secara baik, benar, terukur dan teratur serta berkesinambungan sebagi modal penting dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja sumberdaya manusia. Dalam Kabupaten Aceh Selatan di tahun 2016 untuk program Kesehatan Olah Raga (Kesor)terdapat 2 (dua) kegiatan pokok yaitu :

Kelompok olah raga yang dibina dan pelayanan kesehatan olah raga, adapun tentang kelompok olah raga yang dibina terdata kelompok olah raga masyarakat sebanyak 309 kelompok, pemeriksaan kesehatan kelompok olah raga sebanyak 20 kelompok olah raga, penyuluhan kesehatan olah raga sebanyak 15 kelompok olah raga. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan olah raga tercatat mengenai konsultasi kesehatan olah raga sebanyak 9 orang, pengukuran tingkat kebugaran jasmani sebanyak 12 orang.

3. Kesehatan Kerja Upaya untuk meningkatkan dan pemeliharaan derajat kesehatan, fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja disemua jenis pekerjaan. Pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan, dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologis dan psikologisnya (WHO/ILO, 1995). Dalam Kabupaten Aceh Selatan di tahun 2016 pekerja yang sakit dilayani sebanyak 27601 orang, kasus penyakit umum pada pekerja sebanyak 28245 orang, kasus diduga penyakit akibat kerja pada pekerja sebanyak 11254, kasus penyakit akibat kerja pada pekerja sebanyak 8247 dan kasus kecelakaan akibat kerja pada pekerja sebanyak 750 orang.

D. PELAYANAN KESEHATAN LINGKUNGAN Lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan, disamping perilaku dan pelayanan kesehatan. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui84 pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan perlu adanya alat pemeriksaan kebisingan dan pencahayaan. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: 1. Air dan sanitasi dasar, 2.Penyehatan pangan dan TTU, 3.Penyehatan tanah, udara dan kawasan, 4.Pengamanan limbah dan radiasi

1. Rumah Sehat Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah sementara, sarana pembuangan air limbah/SPAL, ventilasi minimal 15% dari luas lantai rumah , kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang harus kedap air. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko penularan berbagai jenispenyakit khususnya penyakit berbasis lingkungan seperti Demam BerdarahDengue, Malaria, Diare, Penyakit kulit, Kecacingan, Mata, Kusta, TBC, ISPA dan lain - lain. Pada Tahun 2016 persentase rumah sehat yg dihuni masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan sebesar 24,76%, terjadi penurunan dibandingkan tahun 2015 sebesar 26,85%, disebabkan perubahan perilaku yang buruk.(Lihat Lampiran Tabel. 58)

2. Persentase Keluarga Menurut Sumber Air Minum Yang Digunakan Jumlah keluarga yang diperiksa sumber air minumnya tahun 2016 di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak112.260(49,11%) dari228.604 penduduk dan yang telah menggunakan sumber air minum sumur gali terlindung berjumlah 50.193, Sumur gali dengan pompa berjumlah 11.489, sumur bor dengan pompa berjumlah 7.389, terminal air berjumlah 8.642, Mata air

terlindung berjumlah 19.984, Penampungan air hujan berjumlah 96, Perpipaan (PDAM,BPSPAM) berjumlah 14.467.Untuk justifikasi keakuratan data perlu pengadaan alat pemerikasaan air lengkap.(Lihat Lampiran tabel.

59)

3. Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi jamban, tempat sampah dan pengelolaan air limbah.Tahun 2016Jumlah KK yang telah memiliki jamban sehat 90.566 (39,62%). (Lihat Lampiran tabel. 61) Dalam upaya peningkatan kondisi penyehatan lingkungan dan sanitasi dasar, maka di Kabupaten Aceh Selatan dilaksanakan Kegiatan

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang terdiri dari lima (5) pilar, yaitu :

1. Peningkatan Akses Jamban

2. Cuci tangan pakai sabun

3. Pengolahan air minum dan makanan skala rumah tangga

4. Pengolahan limbah skala rumah tangga

5. Pengolahan sampah skala rumah tangga

4. Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM)Sehat Padatahun 2016 dari 401 tempat-tempat umum (TTU) yang tersebar di sarana pendidikan, sarana kesehatan dan hotel di Kabupaten Aceh Selatan yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2016 berjumlah 211 buah TTU. Sedangkan dari jumlah TPM 1.025 buah, dengan perincian TPM memenuhi syarat higiene sanitasi yaitu jasa boga 27, rumah makan/restoran 87, Depot air minum 88, dan makanan jajanan 273. Untuk kevalitan data perlu pengadaan alat pemeriksaan makanan (test contamination food)(Lihat Lampiran Tabel. 63 dan 64).

E. STATUS GIZI MASYARAKAT Berbagai upaya perbaikan gizi telah dilakukan di Kabupaten Aceh Selatan dalam upaya menanggulangi masalah gizi kurang tersebut, sedangkan untuk masalah gizi lebih, masih dilakukan secara individu. 1. Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR < 2500 gram) Berat Badan Lahir Rendah (<2.500 gram) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Kasus BBLR dengan IUGR umumnya disebabkan karena status gizi ibu hamil yang rendah. merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian bayi. Kasus BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR premature (usia kandungan < 37 minggu) dan BBLR itrauterina growth retardation (IURG)

Grafik 4.16 Jumlah Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR < 2500 gram) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 – 2016

120 100 97 80 60 40 26 19 15 20 12 8 0 2011 2012
120
100
97
80
60
40
26
19
15
20
12
8
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

Bayi dengan BBLR di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebanyak 97 bayi dari 3.706 kelahiran hidup atau sebesar 2,6%. Terjadi kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2014 sebanyak 15 bayi dari 3.845 kelahiran hidup, ini disebabkan ibu hamil nikah di usia dini, pendidikan ibu hamil . status ekonomi dan disebabkan juga perbedaan system pelaporan tahun sebelumnya.

2. Balita Berat Badan Di Bawah Garis Merah (BGM) Balita berat badan di bawah garis merah (BGM) adalah balita yang ditimbang berat badannya berada pada garis merah atau dibawah garis merah.Berat badan di bawah garis merah adalah pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus sehingga harus dirujuk ke puskesmas / rumah sakit.

Grafik 4.17 Jumlah Balita Berat Badan Di Bawah Garis Merah (BGM) Menurut Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

160 140 140 123 120 98 100 89 82 82 70 80 66 57 56
160
140
140
123
120
98
100
89
82
82
70
80
66
57
56
53
55
60
47
59
45
39
37
33
40
20
-
Labuhan Haji Barat
Labuhan Haji
Labuhan haji Timur
Meukek
Sawang
Samadua
Tapaktuan
Pasie Raja
Kluert Utara
Kluet Tengah
Kluet Timur
Kluet Selatan
Bakongan
Kuta Bahagia
Bakongan Timur
Trumon
Trumon Tengah
Trumon Timur

Persentase balita BGM Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 sebesar 1.231 orang (7,2%) dari jumlah balita yang ditimbang sebesar 17.211. Persentase balita BGM tertinggi terjadi di Kecamatan Samaduasebanyak 82 orang. (Lihat Lampiran Tabel. 47)

3. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Kejadian gizi buruk perlu dideteksi secara dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang Balita di Posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak lanjuti dengan rencana tindak yang jelas, sehingga penanggulangan gizi buruk memberikan hasil yang optimal.

Kasus balita gizi buruk yakni balita dengan status gizi berdasarkan indeks berat badan (BB) menurut panjang badan (BB/PB) atau berat badan (BB) menurut tinggi badan (BB/TB) dengan Z-score <-3 SD (sangat kurus) dan/atau terdapat tanda-tanda klinis gizi buruk lainnya (marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwasiorkor). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus gizi buruk, maka segera dilakukan dirujuk ke Puskesmas atau rumah Sakit jika ternyata dapat penyakit penyerta dan tidak dapat ditangani di puskesmas segera dirujuk ke rumah sakit Pada Tahun 2016 ditemukan Balita Gizi Buruk serta mendapat perawatan sebanyak 21 Balita, terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2015 sebanyak 15 Balita Gizi Buruk adanya peningkatan karena adanya Dana Non Fisik atau BOK untuk puskesmas maka petugas lebih aktif dalam melakukan penjaringan anak gizi buruk. Perbandingan jumlah gizi buruk balita selama 6 tahun terakhir dari tahun 2011 – 2016.(Lihat Lampiran Tabel. 48)

Grafik 4.13 Cakupan Kasus Balita Gizi Buruk Yang Mendapat Perawatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2011 – 2016

38 40 35 30 24 25 21 20 15 15 8 7 10 5 0
38
40
35
30
24
25
21
20
15
15
8
7
10
5
0
2011
2012
2013
2014
2015
2016

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

A. SARANA KESEHATAN Sarana kesehatan terkait erat dengan pelaksanaanpelayanan kesehatan. Untukmenunjang kelancaran kegiatan bidangkesehatan diperlukan sarana dan prasaranakesehatan yang memadai, meliputi Rumah Sakit, Puskesmas dan Sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM).

1. Rumah Sakit Indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan saranarumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan, yang biasanya diukur dengan jumlah Rumah Sakit dan tempat tidurnya sertarasionya terhadap jumlah penduduk. Kategori Rumah Sakit yang dimaksudadalah 1)Rumah Sakit Pemerintah yang terdiri dari Rumah Sakit vertikal (milik Kementerian Kesehatan RI), RSUD milik Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Rumah Sakit milik TNI/Polri. 2) Rumah Sakit Swasta dan 3) Rumah SakitKhusus seperti Rumah Sakit Ibu dan Anak Serta Rumah Bersalin. Rumah Sakit yang ada di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 1 (satu) buah, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Yuliddin Away ber-type kelas Cyang bisa melayani pelayanan rujukan dari Puskesmas dan Jaminan Kesehatan akan tetapi Kabupaten Aceh Selatan belum memiliki Rumah Sakit Swasta dan Rumah Sakit Khusus.

2. Puskesmas Tahun 2016 Kabupaten Aceh Selatan memiliki 24 Puskesmas, 17 Puskesmas rawat inap (Puskesmas Trumon, Ladang Rimba, Krueng Luas, Bakongan, Bukit Gadeng, Kluet Selatan, Kluet Timur, Kluet Utara, Ladang Tuha, Manggamat, Sawang, Meukek, Drien Jalo, Labuhan Haji dan Blang

Kejeren), 7 Puskesmas non rawat inap dan Puskesmas mampu PONED (Pelayanan Obstetri-Neonatal Emergensi Dasar)sebanyak 2unit (Puskesmas Kluet Selatan dan Puskesmas Labuhan Haji).

Grafik 5.1 Jumlah Puskesmas Menurut Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2015

Trumon Timur Trumon Tengah Trumon Bakongan Timur Kuta Bahagia Bakongan Kluet Selatan Kluet Timur Kluet
Trumon Timur
Trumon Tengah
Trumon
Bakongan Timur
Kuta Bahagia
Bakongan
Kluet Selatan
Kluet Timur
Kluet Tengah
Kluert Utara
Pasie Raja
Tapaktuan
Samadua
Sawang
Meukek
Labuhan haji Timur
labuhan Haji
Labuhan Haji Barat
1
1
1
1
1
1
1
2
1
3
2
2
1
1
2
1
1
1
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5

Untuk membantu Puskesmas memperluas jangkauan pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya sampai ke ruang lingkup wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi, maka perlu dibantu oleh Puskesmas Pembantu (Pustu) dimana adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu yang disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang tersedia. Jumlah Puskesmas Pembantu (pustu)yang ada di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 53 yang tersebar di 260 desa. Berikut daftar jumlah Puskesmas Pembantu (PUSTU) yang ada, menurut Kecamatan.

Tabel5.1

Jumlah Puskesmas Pembantu (Pustu)per Kecamatan Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2015

   

Jumlah

No

Kecamatan

Pustu

1

Labuhan Haji Barat

4

2

Labuhan Haji

0

3

Labuhan Haji Timur

3

4

Meukek

5

5

Sawang

5

6

Samadua

4

7

Tapaktuan

3

8

Pasie Raja

5

9

Kluet Utara

4

10

Kluet Tengah

1

11

Kluet Timur

2

12

Kluet Selatan

4

13

Bakongan

0

14

Kuta Bahagia

3

15

Bakongan Timur

1

16

Trumon

3

17

Trumon Tengah

2

18

Trumon Timur

4

Jumlah

53

2.1 Akreditasi Puskesmas Pengertian akreditasi Puskesmas adalah proses penilaian eksternal oleh Akreditasi dan/atau Perwakilan di Provinsi terhadap puskesmas untuk menilai apakah system manajemen mutu dan system penyelenggaraan pelayanan dan upaya pokok sesuai dengan standar yang ditetapkan, akreditasi juga sebagai salah satu syarat kerja sama dengan BPJS di tahun 2019. Tujuan umum akreditasi Puskesmas adalah meningkatkan mutu layanan Puskesmas. Sedangkan tujuan khususnya antara lain:

1.

Memacu Puskesmas untuk memenuhi standar yang ditetapkan.

2. Menetapkan strata akreditasi puskesmas yang telah memenuhi standar yang ditentukan.

3. Memberikan jaminan kepada petugas puskesmas bahwa pelayanan yang diberikan telah memenuhi standar yang ditetapkan.

4. Memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa pelayanan yang diberikan oleh puskesmas telah sesuai standar.

5. Terbinanya puskesmas dalam rangka memperbaiki sistem pelayanan, mutu dan kinerja.

Di tahun 2016 Puskesmas dalam Kabupaten Aceh Selatan yang sudah ter-akreditasi berjumlah 3 (tiga) Puskesmas, yaitu : Puskesmas Lhok Bengkuang, Krueng Luas dan Blang Kejerendengan tingkat akreditasi Dasar. Di tahun 2017 direncanakan 3 (tiga) Puskesmas kembali akan di Akreditasi, yaitu : Meukek, Kluet Selatan dan Durian Kawan.

2.2 Manajemen Puskesmas Meningkatkan kinerja Puskesmas dan menunjang mutu Puskesmas, diperlukan sebuah manajemen untuk mengelola semua kegiatan yang berlangsung di Puskesmas secara baik. Manajemen Puskesmas ini digunakan untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakatyang sesuai dengan asas penyelengaraan puskesmas perlu ditunjang dengan manajemen Puskesmas yang baik. Ada 3 (tiga) fungsi manajemen Puskesmas yang dikenal yakni Perencanaan, Pelaksanaan dan pengendalian. Dimana ketiga fungsi tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan. Seluruh Puskesmas dalam Kabupaten Aceh Selatan telah melaksanakan pelatihan manajemen puskesmas yang dimana dalam pelatihan tersebut

diwakili oleh Kepala Puskesmas dan Kepala TU, diadakan baik oleh Dinas Provinsi maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan.

3. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepadamasyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya Kesehatan BersumberdayaMasyarakat (UKBM) diantaranya adalah Posyandu (Pos PelayananTerpadu), Desa Siaga, POD (Pos Obat Desa), Polindes/Poskesdes, Poskestren, dan sebagainya. Total UKBM tahun 2016 adalah 320 buah Posyandu, 72 buah Polindes/Poskesdes,Posbindu 210 buah.

4. Posyandu Menurut Strata Posyandu minimal memiliki 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya, Posyandu dikelompokkan ke dalam 4 strata yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Berdasarkan banyaknya,tahun 2016keseluruhan Posyandu di Kabupaten Aceh Selatan berjumlah 320 Posyandu dengan rincian sebagai berikut: Posyandu Pratama tidak ada, Posyandu Madya berjumlah 242 terbanyak di Kecamatan Sawang sebanyak 21 Posyandu Madya, Posyandu Purnama berjumlah 78 terbanyak di Kecamatan Labuhan Haji Barat dan Kecamatan Samadua sebanyak 14 Posyandu Purnama, tidak ada Posyandu Strata Mandiri. Persentase Strata Posyandu di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016 adalah sebesar 0% Posyandu Pratama, sebesar 75,63% Posyandu Madya, sebesar 24,38% Posyandu Purnama.(Lihat Lampiran Tabel. 69)

Grafik 5.2 Persentase Strata Posyandu Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

Madya 75,63 80 60 40 Purnama 24,38 Pratama 20 0 Mandiri 0 0 Pratama Madya
Madya
75,63
80
60
40
Purnama
24,38
Pratama
20
0
Mandiri
0
0
Pratama
Madya
Purnama
Mandiri

Grafik 5.3 Jumlah Strata Posyandu Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016

242 250 200 150 100 78 50 0 0 0 Pratama Madya Purnama Mandiri
242
250
200
150
100
78
50
0
0
0
Pratama
Madya
Purnama
Mandiri

5. Kinerja Pelayanan Kinerja Pelayanan adalah suatu kegiatan yang memerlukan prosedur, proses dari layanan atau tugas dalam meningkatkan kinerja pelayanan atau prestasi kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja, yaitu faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation).

Beberapa tolak ukur dalam dimensi kualitas pelayanan, antara lain :

a. Kemampuan tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan tepat dan segera,

b. Keinginan tenaga kesehatan untuk membantu pasien dan memberikan pelayanan dengan tanggap.

c. Kemampuan, kesopanan dan kejujuran yang dimiliki tenaga kesehatan.

d. Kemudahan tenaga kesehatan dalam melakukan hubungan, komunikasi dan memahami kebutuhan pasien.

e. Sarana prasarana yang memadai.

Agar kinerja pelayanan di puskesmas terus meningkat dan berkelanjutan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan di 2016 telah membentuk penanggung jawab / koordinator kinerja layanan untuk membina, membimbing, mengawasi dan mengevaluasi kinerja layanan di Puskesmas dalam melayani pasien sehingga pasien mendapatkan pelayanan yang maksimal dan bermutu. Adapun penjab / koordinator kinerja layanan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing adalah sebagai berikut :

1. Penanggung Jawab Resepsionis, Mengawasi dan mengevaluasi kinerja bahagian resepsionis di puskesmas yang bertugas sebagai mediator

antara pasien dengan dokter , menyambut tamu/pasien yang mengharuskan selalu bersikap ramah, sopan,santun terhadap dokter, staf dan pasien yang datang serta mampu berkomunikasi secara efektif. Alur Pelayanan :

- Senyum

- Sapa

- Salam

- Menanyakan tujuan dan mengarahkan

2. Penanggung Jawab Loket Kartu, Mengawasi dan mengevaluasi kinerja

kegiatan pelayanan diruang kartu, dimana merupakan tempat untuk memberi pelayanan kartu berobat kepada pasien dan masyarakat. Alur Pelayanan :

- Pasien datang

- Mendaftar diloket pendaftaran

- Melengkapi persyaratan administrasi

- Pasien dipersilahkan antri diruang tunggu

3. Penanggung Jawab Unit Gawat Darurat, mengawasi dan mengevaluasi

kepada masyarakat yang menderita

serta pelayanan jasa

kinerja pelayanan gawat darurat

penyakit

akut

atau

mengalami

kecelakaan

kesehatan berupa penanganan kasus kegawatdaruratan.

Alur Pelayanan :

- Pasien Datang

- Anamnesa

- Melakukan Vital Sign dan pemeriksaan fisik

- Petugas menyampaikan hasil pemeriksaan

- Pasien/ keluarga menandatangi informed consent

- Petugas melakukan tindakan medis

- Dokumentasi

- Pasien dirawat, dirujuk atau dipulangkan.

4. Penanggung Jawab Koordinator Poli, mengkoordinasikan dan memastikan ke empat poli berjalan dengan baik dan sesuai dengan SOP dan masing-masing poli melakukan alur pelayanan, yaitu mengkoordinir poli umum, poli gigi, poli KIA, dan poli sanitasi.

5. Penanggung Jawab Poli umum, mengawasi dan mengevaluasi kinerja di Poli Umum dimana merupakan tempat pelayanan yang melakukan penanganan dan perawatan medis terhadap pasien di Puskesmas. Alur Pelayanan :

- Memanggil nama pasien

- Pasien dipersilahkan duduk

- Anamnesa atau pemeriksaan fisik

- Penetapan diagnosa oleh dokter

- Melakukan pemeriksaan penunjang jika diperlukan

- Berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter pasien bisa dirujuk ke RS, dirawat inap atau dipulangkan

6. Penanggung Jawab Poli Gigi, mengawasi dan mengevaluasi kinerja pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi, mulutdan konsultasi kesehatan gigi, mulut. Alur Pelayanan :

- Memanggil nama pasien

- Pasien dipersilahkan duduk

- Anamnesa

- Pemeriksaan

- Penegakan diagnosa

- Pemberian resep

- Pasien diarahkan ke apotek

- Pasien pulang

7. Penanggung

mengawasi dan

mengevaluasi kinerja poli KIA sebagai bagian pelayanan kesehatan

terkait dengan ibu dan anak (meliputi PUS, WUS ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, bayi, dan anak balita).

Jawab

Kooordinator

Poli

KIA,

MTBS, melayani dan mengawasi bayi dan balita yang sakit

KIA Ibu, melayani pemeriksan ANC dan PNC

Bersalin,melayani ibu yang akan menjalani proses persalinan

Keluarga Berencana (KB), melayani pemberian alat kontrasepsi

Imunisasi, melayani pelayanan imunisasi meliputi hepatitis, BCG,

DPT, polio , campak, DT,dan TT Gizi, melayani pasien dalam mengenali masalah dan status gizi Alur Pelayanan :

-

Memanggil pasien

-

Mempersilahkan duduk

-

Anamnesa dan pemeriksaan fisik

-

Pemeriksaan ANC dan PNC

-

Berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter pasien bisa dirujuk, dirawat inap atau dipulangkan

8. Penanggug Jawab Poli Sanitasi, mengawasi dan mengevaluasi kinerja di klinik sanitasi yang bertugas mengintregasikan pelayanan kesehatan promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang berisko tinggi masalh penyakit yang berbasis lingkungan. Alur Pelayanan :

- Pasien mendaftar diruang pendaftaran

- Petugas mencatat/mengisi kartu status

- Petugas mendaftarkan pasien tersebut ke poli umum

- Melakukan pemeriksaan

- Pasien selanjutnya menuju ruang klinik kesehatan lingkungan untuk mendapatkan konseling

- Petugas mempersiapkan bahan atau daftar pertanyaan sesuai dengan penyakit

- Hasil konseling dicatat, selanjutnya memberikan lembaran saran untuk tindak lanjut konseling kepada pasien

- Pasien mengisi formulir tindak lanjut tersebut dan menandatanginya

- Menyimpulkan hasil konseling penyakit atau kejadian kesakitan akibat faktor resiko lingkungan dan membuat janji inspeksi kesehatan lingkungan

- Pasien mengambil obat

- Pasien pulang

9. Penanggung Jawab Laboratorium, mengawasi dan mengevaluasi melaksanakan pelayanan laboratorium sesuai SOP, SPM, tata kerja dan kebijakan yang telah ditetapkan. Alur Pelayanan :

- Pasien datang ke laboratorium

- Melakukan pemeriksaan sesuai dengan blangko pemeriksaan yang diberikan dokter

- Pasien membawa hasil pemeriksaan ke poli

10. Penanggung Jawab Farmasi, mengawasi dan mengevaluasi kinerja pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai serta memeriksa resep dan keabsahan resep agar tidak terjadi kesalahan resep obat. Alur Pelayanan :

- Pasien datang ke apotik

- Pasien dilengkapi dengan resep

- Pasien menerima sediaan obat beserta informasi penggunaan obat

11. Penanggung Jawab Ruang Perawatan, mengawasi dan mengevaluasi kinerja dalam hal merencanakan, menyelenggarakan, mengawasi serta mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan di ruang rawat inap. Alur Pelayanan :

- Pasien masuk ruang rawat

- Perawat melengkapi rekam medik pasien

- Memperbaiki atau memasang infus pasien

- Anamnesa ulang

- Melakukan vital sign dan konsultasi dokter

- Berdasarkan konsultasi dokter pasien dapat dirujuk ke RS, dirawat inap atau dipulangkan. 12. Penanggung Jawab TU, mengawasi dan mengevaluasi kinerja kegiatan pelayanan administrasi yang meliputi urusan umum, kepegawaian dan ketatalaksanaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Alur Pelayanan :

- Pasien masuk ruang TU

- Pasien datang dengan membawa rekom dari poli

- Pasien pulang dengan membawa surat rujukan

13. Penanggung

mengawasi dan

mengevaluasikinerjapramu kantor yang bertugas melakukan pengawasan dan bertanggung jawab melayani kebutuhan kantor serta menjaga kebersihan kantor dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas kedinasan. Alur Pelayanan :

Jawab

Pramu

Kantor,

- Petugas datang

- Mengecek semua kelengkapan alat - alat kantor

- Memantau kebersihan kantor dan lingkungan kantor

- Menyiapkan segala sesuatu kebutuhan saat rapat

- Mengecek ulang kembali kelengkapan kantor jika staf sudah pulang,

14. Penanggung Jawab Keuangan, mengawasi dan mengevaluasi kinerja bagian keuangan di Puskesmas yang bertugas mencatat arus

penerimaan dan pengeluaran keuangan, membuat laporan keuangan serta mendokumentasikan rincian keuangan yang meliputi BOK, JKN dan Gaji Alur Pelayanan :

- Puskesmas ajukanpencairan

- Dinkes mencairkan

- Puskesmas bayarkan

15. Penanggung Jawab Cleaning Service, mengawasi dan mengevaluasi

kinerja cleaning service di Puskesmas yang bertugas memberikan pelayanan kebersihan, kerapian, dan hygenisasi dari sebuah

gedung/banguan baik dalam ataupun luar gedung sehingga tercipta suasana yang nyaman, tenang sesuai yang diharapkan. Alur Pelayanan :

- Mempersiapan kelengkapan APD

- Membersihkan seluruh ruangan dan lingkungan puskesmas

16. Penanggung Jawab Barang, mengawasi dan mengevaluasikinerjabagian barang yang bertugas mencatat seluruh barang milik daerah yang berada di masing-masing SPKD yang berasal dari APBD, maupun perolehan lain yang sah kedalam Kartu Inventaris Barang (KIB), Kartu Inventaris Ruangan (KIR), Buku Inventaris (BI) dan Buku Induk Inventaris (BII), sesuai kodefikasi dan penggolongan barang milik daerah Alur Pelayanan :

- Serah terima barang

- Inventaris

- Simpan

17.