Anda di halaman 1dari 3

JURNAL SAINS POMITS Vol. 1, No.

1, (2013) 1-3 1

Stabilitas Sifat Fisik dan Fasa Komposit Pasir


Silika–MgO Akibat Siklus Termal
M. Yusuf Hakim Widianto, Suminar Pratapa
Jurusan Fisika, Fakultas IPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: suminar.pratapa@gmail.com
Abstrak— Makalah ini mendeskripsikan karakteristik
kestabilan sifat fisis dan fasa komposit pasir silika-MgO.
Stabilitas fasa komposit dilacak melalui hasil analisis fraksi berat II. METODE
fasa kristalin dalam sampel berdasarkan data XRD setelah
perlakuan siklus termal. Sifat fisis sampel berupa densitas A. Tahap Telaah
memiliki nilai yang relatif stabil mulai dari siklus termal pertama Sintesis dilakukan dengan penambah serbuk MgO dengan
hingga siklus ke sembilan. Pencampuran pasir silika dan MgO variasi fraksi berat 0% dan 10%, serta PVA (Polivinil
dengan ragam variasi fraksi berat memiliki kestabilan fasa yang
Alkohol) sebesar 3% dengan pasir silika. Campuran tersebut
tidak berubah ketika melalui proses siklus termal. Hasil analisis
data XRD menunjukkan bahwa pada temperatur sinter 1150°C diaduk menggunakan mortar selama 30 menit agar homogen.
teridentifikasi kuarsa, kristobalit, periklas, forsterit, klinoenstatit Proses pemeletan dilakukan dengan memasukkan campuran ke
dan wollastonit. Fasa tersebut cenderung tidak mengalami dalam pencetak (die) dengan diameter 13 mm dan dikompaksi
perubahan ketika telah melewati siklus termal berulang hingga dengan beban 6000 kg. Proses sinter dilakukan dengan suhu
sembilan kali. 1150C untuk semua variasi. Untuk uji kestabilan, siklus
termal dilakukan pada suhu 800C. Proses pertama merupakan
Kata Kunci— komposit pasir silika-MgO, siklus termal,
densitas, stabilitas fasa. pemanasan awal yang dilakukan dengan kecepatan kenaikan
suhu sebesar 3C/menit dengan waktu penahanan 1 jam serta
menggunakan penurunan suhu 3C/menit kemudian di tahan
I. PENDAHULUAN
pada suhu 100C selama 4 jam. Setelah itu dilakukan proses

P asir silika memiliki kandungan kuarsa (quartz) yang


dominan. Baru-baru ini telah ditemukan pasir alam dengan
kandungan kuarsa yang sangat tinggi di daerah Bancar,
siklus termal dengan menambah kecepatan kenaikan suhu
sebesar 25C/menit dengan waktu penahanan selama 1 jam
dan penurunan suhu sebesar 3C/menit hingga suhu 100C dan
Tuban [1][2]. Kuarsa memiliki sifat dengan nilai koefisien
ditahan selama 4 jam. Proses siklus termal ini dilakukan 3 kali
ekspansi termal 11,210-6 C-1, titik leleh hingga 1998K,
berturut-turut (Gambar 1).
densitas sebesar 2,65 g/cm3 [3]. Silika memiliki bentuk
polimorf yakni kuarsa, kristobalit, dan tridimit. Pasir kuarsa
banyak ditemukan di sepanjang pesisir pantai di Indonesia,
khususnya di sekitar pantai Madura, Situbondo, Tuban, dan
lain-lain.
Sementara itu, magnesium Oksida (MgO) memiliki
karekteristik nilai koefisiensi termal 13,510-6/C dengan
densitasnya sebesar 3,78 g/cm3 [3][4]. Penambahan MgO pada
pasir silika diharapkan menimbulkan fasa baru dan berpeluang
sebagai komposit yang digunakan pada suhu tinggi. Komposit
yang digunakan pada suhu tinggi harus memiliki ketangguhan
terhadap perlakuan siklus termal. Diharapkan komposit
tersebut memiliki kestabilan sifat fisis dan fasa pada suhu
tinggi selama proses siklus termal yang berulang dalam jangka
waktu tertentu.
Dalam penelitian ini dikaji kestabilan fisis dan fasa
komposit keramik pasir silika dan MgO menurut siklus termal Gambar 1. Proses perlakuan siklus termal.
dengan jangka waktu lama. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui sifat fisis komposit terhadap siklus termal dan Pengujian fisis dilakukan dengan menguji densitas pelet.
kestabilan fasa terhadap siklus termal berulang. Sehingga Pengukuran densitas dilakukan selama terjadi silkus termal.
dapat digunakan untuk mengestimasi sifat-sifat yang dimiliki
Pengujian fasa dilakukan dengan alat X-Ray Diffractometer
komposit tersebut sesuai dengan persyaratan sifat-sifat
dengan radiasi CuKα dan rentang sudut 10–55 dengan step
material untuk aplikasi suhu tinggi, misalnya sebagai
komponen seal fuel cell. size 0,04 untuk mengetahui kandungan fasa yang terbentuk
JURNAL SAINS POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-3 2

selama proses sinter. Hasil dari data XRD ini dianalisis dengan membuktikan bahwa fasa yang timbul pada awal sinter adalah
menggunakan software Match!2 untuk analisis kualitatif dan tetap.
software Rietica untuk analisis kuantitatif. Beberapa langkah
yang bisa dilakukan dalam prose analisis Rietveld adalah
melakukan identifikasi fasa, yaitu untuk mengetahui fasa-fasa
yang terkandung dalam material. Penyusunan format data,
yaitu menyusun format data terukur dengan perangkat data
yang akan digunakan, membuat model untuk meterial yang
dianalisis, data diambil dari data base sesuai dengan nomor
ICSD dan melakukan refinement (penghalusan) yang bertujuan
untuk mendapatkan kecocokan antara pola difraksi terukur
dengan pola difraksi terhitung. Dimana data ICSD atau COD
yang digunakan untuk model SiO2 (kuarsa) adalah ICSD
nomor 79634, untuk MgO (periklas) dari ICSD nomor 64928,
untuk MgO (brusit) dari ICSD nomor 28275, untuk model
Mg2SiO4 (forsterit) dari COD nomor 9000322, untuk model
MgSiO3 (enstatit) dari COD nomor 9006340, untuk model
MgSiO3 (klinoenstatit) dari AMCSD nomor 0007357, untuk Gambar 2. Pola difraksi sinar-X (radiasi CuKα) komposit
model CaSiO3 (wollastonit) dari AMCSD nomor 0000098 dari tersinter 1150C dan telah melewati proses siklus termal
data AMCSD 0015327 dan untuk model SiO2 (kristobalit) dari sembilan kali dengan variasi komposisi MgO.
AMCSD nomor 0001629. Penamaan sampel adalah sebagai .
berikut PSM0 untuk sampel campuran pasir silika dengan Tabel 1. Densitas dan Fraksi Berat Sampel Pada Siklus
fraksi berat MgO 0% dan PSM1 untuk sampel campuran pasir Termal ke-0 dan ke-9
silika dengan fraksi berat MgO 10%. Sedangkan penambahan Sampel D (gr/cm3) * ^
Fraksi Berat Relatif (%)
SiO2 SiO2 CaSiO3 Mg2SiO4 MgSiO3 MgO
huruf C merupakan indikasi siklus termal dan nomor SB0QC0 2,65(4) 61,3(2) 31,7(1) 7,0(7) - - -
menandakan bahwa sampel telah mencapai selama proses SBM1QC0 2,66(3) 60,3(2) 1,6(1) 0,70(3) 3,0(5) 33,2(2) 1,30(3)
SB0QC9 2,56(4) 64,6(2) 30,3(1) 5,1(7) - - -
siklus termal. Sehingga sampel dengan siklus termal ke-0 SBM1QC9 2,79(4) 59.4(2) 1,7(2) 0,30(3) 3,5(6) 33,8(2) 1,30(3)
diberinama PSM0 dan PSM1 sedangkan untuk sampel yang Keterangan : *SiO2 = Kuarsa, ^SiO2 = kristobalit
telah melewati siklus termal sembilan kali diberi nama
PSM0C9 dan PSM1C9. Dari hasil data XRD tersebut yang diolah menggunakan
perangkat lunak Rietica sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel
1. Dalam pengolahan ini menggunakan metode penghalusan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Rietveld. Tabel 1 menunjukkan prosentase fraksi berat pada
Pola difraksi sinar-X sampel-sampel dengan perlakuan setiap sampel akibat proses siklus termal. Pada sampel
proses awal sinter suhu 1150C dan siklus termal sembilan kali SB0QC0 kuarsa mendominasi dengan prosentase fraksi berat
dengan suhu 800C ditunjukkan pada Gambar 2. Fasa yang 61,3(2)%. Kuarsa ini tidak mengalami perubahan yang
terbentuk pada sampel PSM0C0 adalah kuarsa (SiO2), siknifikan hingga siklus termal sembilan kali. Kuarsa,
kristobalit (SiO2) dan wollastonit (CaSiO3), sedangkan pada kristobalit dan wollastonit juga tetap muncul pada sampel
sampel PSM1C0 ditemukan tambahan fasa baru, yaitu PSM1C0, tetapi terjadi perubahan fraksi berat seiring
klinoesntatit (MgSiO3), forsterit (Mg2SiO4) dan periklas munculnya klinoenstatit, forsterit dan periklas. Dengan adanya
(MgO). Kuarsa tampak mendominasi dengan tiga puncak penambahan MgO dapat mereduksi kristobalit dan kuarsa.
tertinggi di 2  20,8; 26,6; 50,1, sedangkan kristobalit Munculnya fasa campuran yang terjadi pada pasir silika-MgO
muncul pada 2  22 dan wollastonit pada 2  30. Dengan ini dikarenakan terjadi reaksi padatan sehingga membentuk
adanya penambahan fasa baru yang muncul pada sampel fasa-fasa baru seperti forsterit dan klinoenstatit (Pers 1 dan
PSM1C0, yaitu klinoenstatit, forsterit dan periklas maka 2)[5]. Klinoenstatit dapat muncul ketika disinter pada suhu
terdapat puncak-puncak utama fasa tersebut. Pada klinoenstatit ~1050C. Adanya MgO sisa maka terjadi kontak dengan
puncak utama muncul pada 2  32,3 dan 35,8, sedangkan klinoenstatit dan terbentuk fasa forsterit. Hal ini dapat dilihat
forsterit muncul pada 2  22,9. Periklas muncul sebagai fasa bahwa fasa forsterit memiliki unsur Mg yang lebih banyak dari
minor dengan intensitas sebesar 107,1. Pada kedua sampel pada klinoenstatit.
yang telah melalui proses siklus termal sembilan kali memiliki SiO2(s) + MgO(s)  MgSiO3(s) (1)
kesamaan fasa yang muncul serta tidak mengalami perubahan MgSiO3(s) + MgO(s) Mg2SiO4(s) (2)
intensitas fasa dan posisinya. Ketinggian intensitas juga
mengalami kecenderungan tetap hingga siklus termal Sembilan Pada Gambar 1. menunjukkan bahwa fasa tidak mengalami
kali sehingga dibutuhkan analisis kuantitatif untuk perubahan, mengindikasikan bahwa tidak ada transformasi dan
difusi yang terjadi selama proses siklus termal pada kedua
JURNAL SAINS POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-3 3

sampel. Tiga fasa dominan pada sampel PSM1C9 yakni memberikan perubahan sifat fisis dan kandungan fasa yang
kuarsa, klinoenstatit dan forsterit memiliki tingkat kestabilan berarti. Dengan kata lain, stabilitas sifat fisis dan fasa komposit
hingga suhu tinggi, sehingga sangat sulit untuk berdifusi pasir silika-MgO akibat siklus termal yang dihasilkan dalam
membentuk fasa baru. Sama halnya dengan sampel PSM0C9 penelitian ini dapat dikatakan baik.
yang tidak mengalami perubahan fasa. Kuarsa, klinoenstatit,
dan forsterit merupakan fasa-fasa yang memiliki kestabilan
DAFTAR PUSTAKA
pada suhu tinggi. Setelah melewati proses siklus termal pun
[1] G. Aristia, Analisis Komposisi Fasa Komposit Pasir Silika dan MgO.
tidak ada fasa baru yang muncul. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2013.
Pengujian densitas dilakukan pada penelitian ini dengan [2] Widodo, “Sintesis dan Karakterisasi Nanosilika Pasir Bancar dengan
tujuan untuk mengetahui pengaruh siklus termal terhadap Metode Alkali Fusion Menggunakan Kalium Hidroksida (KOH),” Its
Libr., vol. 0, no. 0, Apr. 2011.
fenomena fisis yang terjadi pada sampel. Pada analisis densitas
[3] R. B. Heimann, “Superconducting Ceramics,” in Classic and Advanced
dilakukan dengan mengacu metode Archimedes berdasarkan Ceramics, Wiley-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, 2010, pp. 319–346.
Australian Standard AS 1774.5. Data densitas sampel [4] M. K. Mahapatra and K. Lu, “Glass-based seals for solid oxide fuel and
ditunjukkan dalam Tabel 1. Analisis sifat fisis densitas electrolyzer cells – A review,” Mater. Sci. Eng. R Reports, vol. 67, no.
5–6, pp. 65–85, Feb. 2010.
dilakukan hingga siklus termal sembilan kali pada setiap [5] F. Tavangarian and R. Emadi, “Synthesis of nanocrystalline forsterite
sampel memiliki densitas yang relatif tetap pada semua (Mg2SiO4) powder by combined mechanical activation and thermal
sampel. Densitas suatu bahan dapat dipergunakan untuk treatment,” Mater. Res. Bull., vol. 45, no. 4, pp. 388–391, Apr. 2010.
mengetahui besarnya porositas yang terjadi sehingga dapat
dipergunakan untuk mengetahui kondisi bahan yang memiliki
sifat fisis optimal. Densitas ini timbul karena setiap fasa
memiliki bentuk struktur kristal masing-masing dan memiliki
celah antar ikatan kristal pada butir (grain) yang timbul.
Densitas ini berperan dalam pembentukan porus yang terjadi
pada saat sinter, dengan adanya penambahan MgO
menyebabkan semakin padat komposit tersebut. Semakin
padatnya sampel, maka semakin baik digunakan sebagai
material penyegel, karena dengan semakin meningkatnya
densitas maka sangat sulit suatu material tertentu untuk
menembus luasan sampel. Ketika mengalami siklus termal
berulang hingga sembilan kali densitas mengalami perubahan
yang cukup siknifikan. Pada sampel PSM0C0, densitas
mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya kuarsa
dan menurunnya wollastonit. Ini disebabkan karena nilai
densitas dari kuarsa sebesar 2,65 g/cm3 dan wollastonit sebesar
2,84 g/cm3. Berbeda dengan sampel ditambah fraksi berat
MgO yang membentuk forsterit dan klinoenstatit. Semakin
banyak forsterit dan klinoenstatit mengakibatkan semakin
besar nilai densitasnya. Hal ini, dikarenakan forsterit memiliki
densitas yang tinggi yakni 3,27 g/cm3 dan klinoenstatit
berkisar 2,5 g/cm3. Sehingga sangat menguntungkan jika
dicampur dengan MgO karena, densitas dari periklas sendiri
sangat besar yakni 3,78 g/cm3. Kristobalit yang muncul bisa
menimbulkan retakan (crack) pada sampel ini karena
kristobalit merupakan polimorf dari kuasra yang mengalami
deformasi akibat pemanasan dan diketahui bahwa densitas dari
kristobali sangat kecil yakni 2,27 g/cm3 sehingga
menyebabkan semakin bertambahnya kristobalit maka semakin
kecil densitasnya.

IV. KESIMPULAN
Penelitian ini berhasil mengkonfirmasi pembentukan kuarsa,
kristobalit, forsterit, klinoenstatit, periklas dan wollastonit
pada suhu sinter 1150C pada komposit keramik pasir silica-
MgO. Perilaku siklus termal yang diberikan pada komposit
pasir silika dengan dan tanpa tambahan MgO tidak