Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala

limpahan rahmat, kemudahan, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan Laporan Imuno-Serologi II yang berjudul “Pemeriksaan HIV”

dapat diselesaikan.Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa

masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.

Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari

pembaca agar dapat memperbaiki laporan ini.

Akhir kata penulis berharap semoga Laporan ini dapat bermanfaat untuk

masyarakan maupun inpirasi terhadap pembaca.

Gorontalo, September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 2
1.3 Tujuan Praktikum ............................................................................. 2
1.4 Manfaat Praktikum ........................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3


2.1 Pengertian Virus ............................................................................... 3
2.2 HIV (Human Imunodeficiency Virus) ............................................. 3
2.3 Penularan HIV .................................................................................. 5
2.4 Proses Masuknya HIV Kedalam Tubuh ........................................... 5
2.5 Strategi Pemilihan Metode Pemeriksaan Anti HIV ......................... 6
2.5.1 Pemeriksaan Anti-HIV Strategi I .......................................... 7
2.5.2 Pemeriksaan Anti-HIV Strategi II .......................................... 7
2.5.3 Pemeriksaan Anti-HIV Strategi III ........................................ 8

BAB III METODE PRAKTIKUM ................................................................. 10


3.1 Waktu dan Tempat ........................................................................... 10
3.2 Tujuan............................................................................................... 10
3.3 Metode .............................................................................................. 10
3.4 Prinsip Kerja ..................................................................................... 10
3.5 Pra Analitik ...................................................................................... 10
3.6 Analitik ............................................................................................. 10
3.7 Pasca Analitik ................................................................................... 11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 13


4.1 Hasil ................................................................................................. 13
4.2 Pembahasan ...................................................................................... 13

BAB V PENUTUP ............................................................................................ 16


5.1 Kesimpulan....................................................................................... 16
5.2 Penutup ............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Hasil pemeriksaan HIV ................................................................... 13s

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini perkembangan dan kemajuan yang pesat dalam segala macam

bidang teknologi khususnya imunologi dan serologi dikembangkan untuk

menerangkan dan menegakkan diagnose berbagai macam penyakit. Salah

satunya adalah pemeriksaan virus HIV untuk mendiagnosa AIDS. (Agnes,Sri

Harti,dkk.2014).

AIDS adalah suatu keadaan akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh

secara bertahap disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai HIV (Human

Imunodeficiency Virus). Infeksi HIV bisa terjadi bila virus tersebut atau sel-

sel yang terinfeksi virus masuk kedalam aliran darah. Berdasarkan

pemeriksaan laboratorium, penderita yang telah terinfeksi HIV akan terinfeksi

lebih lanjut dengan bakteri, virus, atau protozoa yang menyebabkan

multiplikasi AIDS virus pada penderita tersebut. (Agnes,Sri Harti,dkk.2014).

AIDS merupakan hasil infeksi yang berbahaya oleh virus yang disebut

HIV. Belum ada cara penyembuhan yang sempurna atau vaksin yang

memadai untuk perlindungan terhadap AIDS, tapi berbagai cara pengobatan

sedang dalam proses percobaan. Cara terbaik untuk melawan wabah ini

adalah dengan mencegah penularan dan penyebaran virusnya. Jalur utama

dari penyebaran atau penularan HIV adalah hubungan seksual dan diketahui

terjadi lewat kontak dengan transfusi darah, atau benda yang terkontaminasi

dengan virus HIV. Jumlah penduduk yang menderita AIDS semakin

1
meningkat dan sebagian besar penduduk yang telah terinfeksi HIV tidak

menunjukkan gejala apapun. (Agnes,Sri Harti,dkk.2014).

Adapun cara pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi

antibodi yang spesifik terhadap HIV yakni dengan metode

imunokromatografi menggunakan rapid test. Adanya infeksi HIV dapat

dideteksi secara kualitatif dengan metode imunokromatografi rapid test

sebagai skrining test untuk membantu mendiagnosa AIDS. (Agnes,Sri

Harti,dkk.2014).

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara pemeriksaan HIV menggunakan rapid test metode

Immunokromatografi?

2. Apa saja faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan HIV?

1.3 Tujuan Praktikum

1. Untuk mengetahui bagaimana cara pemeriksaan HIV menggunakan rapid

test metode Immunokromatografi

2. Untuk mengetahui apa saja faktor yang dapat mempengaruhi hasil

pemeriksaan dari HIV.

1.4 Manfaat Praktikum

1. Agar mahasiswa mengetahui cara pemeriksaan HIVmenggunakan rapid

test metode Immunokromatografi

2. Agar mahasiswa dapat mengetahui apa saja faktor yang dapat

mempengaruhi hasil pemeriksaan HIV.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Virus

Virus berasal dari bahasa Yunani venom yang berarti racun. Virus

merupakan suatu partikel yang masih diperdebatkan statusnya apakah ia

termasuk makhluk hidup atau benda mati. Virus dianggap benda mati karena

ia dapat dikristalka, sedangkan virus dikatakan benda hidup, karena virus

dapat memperbanyak diri (replikasi) dalam tubuh inang.

Secara umum virus merupakan partikel tersusun atas elemen genetik

yang mengandung salah satu asam nukleat yaitu asam deoksiribonukleat

(DNA) atau asam ribonukleat (RNA) yang dapat berada dalam dua kondisi

yang berbeda, yaitu secara intraseluler dalam tubuh inang dan ekstrseluler

diluar tubuh inang. Partikel virus secara keseluruhan ketika berada di luar

inang yang terdiri dari asam nukleat yang dikelilingi oleh protein dikenal

dengan nama virion. Virion tidak melakukan aktivitas biosinteis dan

reproduksi. Pada saat virion memasuki sel inang, baru kemudian akan terjadi

proses reproduksi. Virus ketika memasuki sel inang akan mengambil alih

aktivitas inang untuk menghasilkan komponen-komponen pembentuk virus.

3
2.2 HIV (Human Immunodeficiency Virus)

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang

sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV

menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas mencegah

infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk Limfosit yang disebut ‘sel T-4’ atau

‘sel T-penolong’ (T-helper) atau disebut juga ‘sel CD-4’.

Virus HIV merupakan virus RNA yang terdiri dari HIV 1 dan HIV 2.

Infeksi HIV 1 lebih banyak ditemukan daripada HIV 2. Dilaporkan bahwa

80% penderita HIV disebabkan oleh Virus HIV 1. Virus ini menggunakan

limfosit CD4 sebagai tempat replikasinya. Sehingga jumlah limfosit CD4

menjadi salah satu parameter dalam pemberian terapi maupun pemantauan

penyakit.

Infeksi HIV dapat ditularkan melalui 3 cara utama yaitu hubungan

seksual, paparan produk darah yang terinfeksi virus HIV dan penularan

selama masa perinatal termasuk pada saat menyusui. Jenis penularan mana

yang mudah terjadi pada suatu kelompok masyarakat sangat dipengaruhi oleh

faktor sosial, kultural dan lingkungan yang sangat berbeda antar beberapa

negara. Namun hampir disemua negara, penularan melalui hubungan seksual

merupakan proses penularan yang paling banyak terjadi.

Tingginya kasus HIV dan mudahnya penyebaran kasus ini,

membutuhkan adanya upaya-upaya pencegahan. Beberapa hal yang telah

dilakukan adalah melalui kegiatan surveilans, skrining darah donor dan

penemuan kasus HIV secara aktif. Kegiatan tersebut membutuhkan peran

laboratorium yang besar karena penderita HIV sering sekali dalam kondisi

4
sehat. Dalam hal ini, parameter yang diperlukan adalah pemeriksaan anti

HIV.

Keberadaan virus HIV dalam tubuh manusia hanya dapat diketahui

melalui pemeriksaan laboratorium pada sampel cairan tubuh seperti darah,

plasma dan lainnya. Individu dengan HIV di dalam tubuhnya tidak

menampakkan gejala kecuali apabila individu tersebut masuk dalam fase

AIDS. Ada tidaknya virus HIV berdampak pada pemberian terapi anti

retroviral (ARV). Dalam hal ini pemeriksaan laboratorium memegang

peranan yang sangat penting dalam program pengendalian HIV.

2.3 Penularan HIV

Penularan HIV akibat melalui cairan tubuh yang mengandung virus

HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun

heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi komponen

darah dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya (Riry F. Ersha,

2018)

2.4 Proses Masuknya HIV kedalam tubuh

Virus HIV masuk ke dalam tubuh manusia melalui perantara darah, semen

dan sekret vagina. Human Immunodeficiency Virus tergolong retrovirus yang

mempunyai materi genetik RNA yang mampu menginfeksi limfosit CD4

(Cluster Differential Four), dengan melakukan perubahan sesuai dengan DNA

inangnya. Virus HIV cenderung menyerang jenis sel tertentu, yaitu sel-sel

yang mempunyai antigen CD4 terutama limfosit T4 yang memegang peranan

penting dalam mengatur dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Virus

juga dapat menginfeksi sel monosit makrofag, sel Langerhans pada kulit, sel

5
dendrit folikuler pada kelenjar limfe, makrofag pada alveoli paru, sel retina,

sel serviks uteri dan sel-sel mikroglia otak. Virus yang masuk kedalam

limfosit T4 selanjutnya mengadakan replikasi sehingga menjadibanyak dan

akhirnya menghancurkan sel limfosit itu sendiri ((Riry F. Ersha, 2018).

2.5Strategi Pemilihan Metode Pemeriksaan Anti HIV

Ketepatan pemeriksaan anti HIV dengan suatu metode ditentukan oleh

karakteristik seperti sensitivitas, spesifisitas dan nilai prediksi. Selain itu,

pemilihan reagen untuk pemeriksaan anti HIV diatur dalam SK Menkes no

241/Menkes/SK/IV/2006. Menurut SK Menkes tersebut dalam pemilihan

reagen anti HIV harus diperhatikan bahwa reagen tersebut sudah terdaftar di

Kemenkes, sudah dievaluasi oleh Laboratorium Rujukan Nasional RSCM,

metoda pemeriksaan adalah EIA dan Rapid Test dan memenuhi sensitivitas

dan spesifisitas tertentu sesuai dengan tujuan pemeriksaan.

Sensitivitas menggambarkan kemampuan akurasi sebuah tes sehingga

ditemukan hasil positif benar. Metode pemeriksaan dengan sensitivitas tinggi

akan memberikan hasil negatif palsu yang kecil. Hal ini sangat dibutuhkan

pada pelayanan darah untuk skrining donor darah.

Spesifitas menggambarkan kemampuan ketepatan suatu metode

pemeriksaan sehingga didapatkan hasil negatif benar. Suatu metode

pemeriksaan dengan spesifisitas tinggi akan memberikan hasil positif palsu

yang kecil dimana kondisi ini dibutuhkan pada penegakan diagnosis infeksi

HIV.

6
Dasar pemilihan reagen anti HIV didasarkan pada strategi pemeriksaan

dan yang bersifat serial. Strategi pemeriksaan merupakan pendekatan

pemeriksaan untuk memenuhi kebutuhan khusus seperti keamanan darah,

surveilans dan diagnosis. Strategi ini harus bersifat serial yang berarti sampel

darah diperiksa dengan reagen pertama dan hasil reagen pertama menentukan

apakah dilakukan pemeriksaan 1 dengan reagen kedua atau tidak.

Pemilihan metode pemeriksaan anti HIV sesuai tujuan pemeriksaan,

dengan syarat sebagai berikut:

1. Untuk tujuan penyaring dan produk darah serta transplantasi digunakan

strategi I.

2. Untuk tujuan surveilans digunakan strategi II

3. Untuk tujuan diagnosis digunakan strategi III

2.5.1 Pemeriksaan anti-HIVstrategi I

Strategi ini dilakukan pada kegiatan pengambilan darah serta

transplantasi. Pemeriksaan dilakukan dengan satu reagen saja yang

memiliki nilai sensitivitas > 99% dan spesifisitas > 99%. Apabila hasil

pemeriksaan dengan reagen tersebut positif, maka dianggap sebagai hasil

yang reaktif, sehingga produk darah atau organ transplantasi tersebut

tidak boleh dipakai.Tetapi bila hasilnya negatif, maka dinyatakan sebagai

nonreaktif sehingga produk darah tersebut bisa dipakai.

2.5.2 Pemeriksaan anti-HIVStrategi II

Untuk tujuan surveilans digunakan strategi II yaitu dengan

menggunakan dua reagen dengan syarat reagen pertama memiliki nilai

sensitivitas > 99% sedangkan reagen kedua mempunyai nilai spesifisitas

7
> 98%. Pemeriksaan diawali dengan menggunakan reagen pertama.

Apabila hasil positif, maka dilanjutkan dengan reagen ke dua. Namun,

apabila hasil pemeriksaan reagen pertama adalah negatif, maka tidak

perlu dilanjutkan dengan reagen kedua dan sampel dinyatakan sebagai

sampel non reaktif. Apabila hasil pemeriksaan reagen kedua adalah

positif, maka disimpulkan bahwa sampel tersebut reaktif.

Apabila pemeriksaan dengan reagen kedua hasilnya negatif, maka

perlu dilakukan pemeriksaan ulang dengan kedua reagen. Hasil

pemeriksaan ulang kedua reagen semuanya positif, maka hasil

pemeriksaan adalah reaktif. Namun bila salah satu hasilnya adalah

negatif, maka dinyatakan sebagai indeterminate (hasil tidak dapat

ditentukan).

2.5.3 Pemeriksaan anti-HIVStrategi III

Untuk tujuan diagnosis digunakan strategi III dengan menggunakan

3 macam reagen berbeda. Reagen pertama mempunyai sensitivitas

sebesar > 99%, reagen kedua memiliki spesifisitas > 98% dan reagen

ketiga mempunyai spesifisitas > 99%. Pemeriksaan diawali dengan

reagen pertama. Apabila hasil positif maka dilanjutkan dengan reagen

kedua. Hasil positif reagen kedua kemudian dilanjutkan dengan

pemeriksaan reagen ketiga. Apabila reagen ketiga hasilnya positif, maka

disimpulkan bahwa pemeriksaan anti HIV adalah reaktif. Sedangkan

apabila pemeriksaan dengan reagen pertama adalah non reaktif, maka

tidak perlu dilanjutkan dengan reagen kedua dan ketiga.

8
Hasil negatif pada reagen kedua mengharuskan dilakukannya

pengulangan baik pada pemeriksaan reagen pertama maupun kedua. Dari

hasil pemeriksaan ulangan tersebut, bila keduanya menunjukkan hasil

positif atau salah satunya tetap negatif, maka dilanjutkan dengan reagen

ke 3. Namun bila hasil pengulangan pemeriksaan menunjukkan hasil

negatif, maka dinyatakan sebagai non reaktif. Hasil pemeriksaan ketiga

reagen menunjukkan salah satunya adalah negatif, maka dinyatakan

hasilnya belum dapat ditentukan (indeterminate) jika pemeriksaan

dilakukan pada individu dengan risiko tinggi dan diperlukan pemeriksaan

konfirmasi yaitu Western Blot. Sedangkan jika pemeriksaan dilakukan

pada individu dengan risiko rendah, maka dilaporkan sebagai hasil yang

nonreaktif.

9
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Immuno-Serologi II yang berjudul “Pemeriksaan HIV”

dilaksanakan pada hari Senin, 16 September 2019 bertempat di Laboatrium

Kimia STIKES Bina Mandiri Gorontalo.

3.2 Tujuan

Adapun tujuan dari dilakukan pemeriksaan ini yaitu untuk mendeteksi

adanya infeksi HIV dalam tubuh.

3.3 Metode

Metode yang digunakan pada pemeriksaan kali ini yaitu

immunokromatografi.

3.4 Prinsip

Serum diteteskaan pada batalan sampel, kemudian antigen yang ada dalam

serum akanberaks dengan anibody yang ada pada rapid test sehingga

menmbentuk imunokompleks. Senyawa kompleks tersebut bergerak

bersamaan dengan serum sehingga menghasilkan garis berwarna merah.

3.5 Pra Analitik

10
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu

centrifuge, tabung reaksi, pipet, dispo 3 ml, rak tabung, rapid test HIV, buffer

HIV.

3.6 Analitik

3.6.1 Persiapan Sampel

1. Siapkan alat yang akan digunakan untuk pengambilan sampel

2. Melakukan komunikasi dengan pasien yang akan dilakukan

pengambilan sampel dan menjelaskan tindakan yang akan

dilakukan

3. Memasang torniquit ada lengan pasien, kemudian lakukan palpasi

4. Melakukan desinfeksi pada lengan yang akan dilakukan penusukan

5. Kuatkan jarum suntik dan pompa sebelum digunakan

6. Lakukan penusukan pada vena dengan lubang jarum menghadap

keatas

7. Tarik pompa dispo setelah darah muncul diujung tabung dispo

hingga full

8. Tarik jarum keluar dengan kapas menutupi bekas penusukan

9. Pidahkan darah kedalam tabung reaksi, kemudian centrifuge

dengan kecepatan 3500 rpm selama 10 menit

10. Tunggu hingga serum terpisah dari plasma

3.6.2 Pemeriksaan HIV

1. Siapkan serum dan rapid test HIV

2. Pipet serum sebanyak satu tetes pada bantalan sampel

3. Tambahkan buffer HIV sebanyak satu tetes

11
4. Tunggu 2-3 menit, catat hasil

3.7 Pasca Analitik

Pada tahap ini yaitu melakukan pembacaan hasil dan pelaporan hasil.

Adapun rujukan pelapoan hasil yaitu sebagai berikut :

Reaktif : terdapat 2 garis merah yaitu pada garis control dan pada garis tes

Non Reaktif : hanya terdapat 1 garis pada garis control sedangkan pada

garis test tidak terbentuk garis

12
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dari Pemeriksaan HIV Menggunakan Rapid Test, dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Gambar Metode Hasil Keterangan

Hanya terdapat
Immunokromatografi Negatif (-) 1 garis merah

pada line control

Tabel 4.1.1 Hasil Pemeriksaan HIV

4.2 Pembahasan

Human Immunodeficiency Virusadalah virus yang terdiri dari serotipe

HIV-1 dan HIV-2yang dapat menyerang sistem kekebalan dari tubuh manusia

yaitu sel darah putih (Sel-T) yang berfungsi untuk mencegah terjadinya suatu

infeksi dan pada akhirnya menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh

secara bertahap yang sering dikenal dengan AIDS (Acquired

Immunodeficiency Syndrome).

13
Pada praktikum kali ini dalam pemeriksaan HIV Rapid Strip Test

menggunakan metode immunokromatografi dengan prinsip adanya reaksi

antara antibodi spesifik HIV dalam serum atau plasma pasien yang melewati

membran yang telah dilapisi dengan antigen HIV-1 rekombinan yang

menangkap antigen yang terikat pada area test ‘T1’ dan antigen HIV-2

rekombinan yang menangkap antigen yang terikat pada area ‘T2’ dan akan

menghasilkan garis warna selanjutnya campuran tadi naik ke area kontrol ‘C’

dimana di area ini terdapat antibodi poliklonal yang tidak spesifik dan akan

berikatan dengan campuran tadi dan menimbulkan garis warna. Pada area

kontol akan selalu positif sebagai kontrol prosedur, hal ini menunjukkan

bahwa jumlah sampel yang digunakan cukup dan membran pada alat telah

berfungsi dengan baik.

Pada pemeriksaan HIV Rapid Strip Test dilakukan secara kualitatif dimana

sebelum itu sampel dan reagen dikondisikan pada suhu ruang sebelum

digunakan agar nantinya dapat terjadi reaksi antara antibodi dalam serum atau

plasma dengan antigen pada Strip Test dengan sempurna serta agar hasil yang

didapat lebih dapat diandalkan. Dengan menggunakan mikropipet, diambil

10μL sampel serum atau plasma atau 20 μL whole blood lalu diteteskan

kedalam sumur sampel kemudian ditambahkan 4 tetes buffer. Didiamkan

selama 10-15 menit dan dibaca hasil kemudian interpretasikan hasil pengujian

setelah 15 menit.

Banyak hal yang perlu diperhtikan pada saat prkatikum khususnya untuk

praktikan diharuskan untuk menggunakan APD yang lengkap, baik dan benar

berhubung sampel pemeriksaan yang dilakukan bersifat infeksius maka dari

14
itu APD sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Selain

itu HIV Strip Test harus disimpan pada suhu 1-300C dan diletakkan pada

tempat yang kering tidak direkomendasikan disimpan pada freezer agar

komponen- komponen yang ada di dalam HIV Strip Test tersebut tidak rusak

sehingga tidak mendapatkan hasil yang salah (tidak sesuai). Prosedur yang

dilakukan haruslah sesuai agar dapat memberikan hasil yang tepat, pemipetan

sampel atau buffer yang kurang dapat menyebabkan tidak munculnya hasil

dikarenakan reaksi yang terjadi tidak sempurna. Dan juga pada saat

pengambilan serum atau plasma perlu diperhatikan penggunakan tip yang

berbeda untuk setiap sampel hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi

silang antara sampel satu dengan lainnya yang dapat menyebabkan hasil yang

salah. HIV Strip Test ini tidak boleh digunakan jika sudah kadarluasa karena

dapat mempengaruhi hasil dan juga dapat mendapatkan hasil yang invalid

akibat komponen strip test yang rusak.

15
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pemeriksaan HIV dengan metode imunokromatografi menggunakan

rapid test. Prinsip kerja pemeriksaan HIV yaitu serum diteteskan pada

bantalan sampel, kemudian antigen yang ada pada serum akan bereaksi

dengan antibody yang ada pada strip sehingga akan membentuk ikantan

imunokompleks yang akan bergerak dan menghasilkan garis warna pada strip

pemeriksaan.

5.2 Saran

Adapaun saran yaitu pada saat melakukan pemeriksaan diharuskan untuk

mengecek tanggal kadarluarsa dari rapid test tersebut.

16
DAFTAR PUSTAKA

Agnes Sri Harti dkk 2014, Pemeriksaan Hiv 1 Dan 2 Metode Imunokromatografi
Rapid Test Sebagai Screening Test Deteksi Aids. Jurnal KesMaDaSka
Januari 2014.

Maartens G, Celum C, Lewin SR. HIV infection : epidemiology, pathogenesis,


treatment, and prevention. The Lancet. 2014;384:258-271.

Riry Febrina Ersha, 2018. Human Immunodeficiency Virus – Acquired


Immunodeficiency Syndrome dengan Sarkoma Kaposi.Jurnal Kesehatan
Andalas. 2018; 7(Supplement 3)

Siti Wahyuningsih, dkk. 2017. Implementasi Kebijakan Pencegahan Dan


Penanggulangan Human Immunodeficiency/Aquired Immune Deficiency
Syndrome (Hiv/Aids) Di Kota Surakarta.Jurnal Pasca Sarjana Hukum
UNS Volume V Nomor 2 Juli-Desember 2017.

Woro Umi Ratih 2014, Jurnal Strategi Pemeriksaan Laboratorium Anti-HIV Vol.9
No.2 November 2014.

17