Anda di halaman 1dari 29

EFEKTIVITAS COPING STRESS MENGHADAPI

ANSIETAS PADA MENTOR 2018 FON UPH

Nama kelompok :

1. Nana Desiana Tesalonika (01501170335)


2. Rosellaayu Pratama Oron (01501170404)
3. Satria Try Sandi (01501170402)
4. Veronika Natalia (01501170206)
5. Viktor Suanto (01501170125)

Fakultas Keperawatan

Universitas Pelita Harapan

2019

i
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur atas kasih karunia Tuhan yang telah memberikan kami
kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
makalah ini dengan baik.
Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan yang maha esa atas
kebaikannya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas Bahasa indonesia.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya
kepada Dosen Bahasa Indonesia kami yang telah membimbing dalam menulis
makalah ini.
Tangerang, 16 Juli 2019

Penulis

ii
ABSTRAK

Latar Belakang: Banyaknya tugas dan tanggungjawab yang menumpuk


merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya ansietas yang berat, bahkan
menyebabkan kepanikan. Seperti pada mentor, mereka memiliki tanggungjawab
individu namun harus bertanggungjawab juga terhadap para menteenya. Untuk
dapat mengimbangi tugas dan tanggungjawab itu, setiap mentor perlu mental
yang sehat. Mentor perlu pengetahuan yang menyeluruh terhadap ansietas dan
bagaimana mengatasinya dengan coping efektif Metode: Penulis menggunakan
metode penelitian survei. Survei adalah pemeriksaan atau penelitian secara
komprehensif. Survei yang dilakukan dalam melakukan penelitian biasanya
dilakukan dengan menyebarka kuesioner kepada 20 orang mentor 2018 FoN
Universitas Pelita Harapan, dengan tujuan untuk mengetahui, menerangkan atau
menjelaskan: apa itu mentor, tanggungjawab mentor, dan bagaimana tingkat
kecemasan mentor dalam persiapan penyambutan para mentee. Tingkat
kecemasan diukur dengan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating
Scale (HARS).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan
yang paling banyak yaitu kecemasan ringan(75%). Sedangkan mentor 2018
mengalami kecemasan ringan(25%). Kesimpulan: Tingkat kecemasan yang
dialami oleh mentor 2018 dalam menghadapi MaBa 2019 adalah berada di
tingkat ansietas ringan. Ansietas ringan merupakan yang ansietas yang dapat
meningkatkan kewaspadaan, memotivasi belajar, dan menghasilkan pertumbuhan
serta kreativitas sehingga kelompok kami hanya menyarankan koping Emotional
Focused coping Problem focused coping sebagai coping tambahan untuk
mempertahankan kondisi yang sudah baik.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
ABSTRAK .................................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... IV-V
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1-2
1.2. Rumusan Masalah ......................................................................... 2-3
1.3. Tujuan ........................................................................................... 3
1.4. Manfaat Karya Ilmiah ................................................................... 3
2. LANDASAN TEORI
2.1. Definisi .......................................................................................... 4
2.2. Tingkat-tingkat Ansietas ............................................................... 4-5
2.3. Ciri-ciri dan Gejala Ansietas ......................................................... 5-6
2.4. Teori Mentor ................................................................................. 7-8
2.4.1 Definisi................................................................................... 7-8
2.4.2 Fungsi Mentor ........................................................................ 8
2.4.3 Tugas Mentor ......................................................................... 8
2.5. Teori Coping ................................................................................. 9
2.5.1 Definisi................................................................................... 9
2.5.2 Jenis-jenis coping................................................................... 10-11
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Populasi dan Sampel Penelitian. .................................................... 12
3.1.1. Populasi penelitian ................................................................ 12
3.1.2. Sampel Penelitian ................................................................. 12
3.2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian .................................. 12
3.2.1. Waktu Pelaksanaan Penelitian .............................................. 12
3.2.2. Tempat Pelaksanaan Penelitian ............................................ 12
3.3. Variabel Penelitian dan Definisi operasional Variabel ................. 13
3.3.1 Identifikasi Variabel .............................................................. 13
3.3.1 Definisi operasional Variabel ................................................ 13-14
3.4. Metode Penelitian dan Alat Pengumpulan Data ........................... 15

3.4.1. Metode Penelitian ................................................................ 15


3.4.2. Alat Pengumpulan Data ........................................................ 15

iv
3.5. Metode Analisis Data .................................................................... 15
3.6. Uji Validitas .................................................................................. 15
4. PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian ...................................... 16
4.2. Karakteristik responden ................................................................ 16
4.2.1 Karaterisitik responden berdasarkan usia .............................. 16
4.3. Pembahasan................................................................................... 17
5. PENUTUP
5.1. Kesimpulan ................................................................................... 18
5.2. Saran ............................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Gangguan kecemasan adalah salah satu gangguan mental yang umum dengan
prevalensi seumur hidup yaitu 16%-29% (Katz, et al., 2013). Dilaporkan bahwa
perkiraan gangguan kecemasan pada dewasa muda di Amerika adalah sekitar
18,1% atau sekitar 42 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan, seperti
gangguan panik, gangguan obsesiv-kompulsif, gangguan stres pasca trauma,
gangguan kecemasan umum dan fobia (Duckworth, 2013)
Di Indonesia prevalensi terkait gangguan kecemasan menurut hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 6%
untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta penduduk di Indonesia mengalami
gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala kecemasan
dan depresi (Depkes, 2014).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami stres baik
selama periode sebelum ujian maupun saat berlangsungnya ujian. Kecemasan
mempengaruhi hasil belajar mahasiswa, karena cenderung menghasilkan
kebingungan dan distori persepsi. Distorsi tersebut dapat mengganggu belajar
dengan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian, daya ingat dan
kemampuan menghubungkan satu hal dengan yang lain. Dalam hal ini yang
menjadi stresor utama ialah tekanan akademis dan ujian itu sendiri. Hal itu dapat
menyebabkan kecemasan pada mahasiswa dan disebut sebagai kecemasan
akademis (Hashmat. Et al., 2014).
Menurut Lazarus (Safaria & Saputra, 2009), coping merupakan strategi untuk
memanajemen tingkah laku kepada pemecahan masalah yang paling sederhana
dan realistis, berfungsi untuk membebaskan diri dari masalah yang nyata maupun
tidak nyata, dan coping merupakan semua usaha secara kognitif dan perilaku
untuk mengatasi, mengurangi, dan tahan terhadap tuntutan (distress demands).
Tuntutan-tuntutan ini bisa bersifat internal maupun eksternal. Kedua stres tersebut

1
bertujuan untuk mengubah hubungan antara diri individu dengan lingkungannya
agar menghasilkan dampak yang lebih baik dan berusaha untuk meredakan atau
menghilangkan beban emosional yang dirasakan. Apabila mekanisme koping ini
berhasil, maka individu dapat beradaptasi dan tidak menimbulkan gangguan
kesehatan, tetapi bila mekanisme koping gagal maka individu tersebut gagal
beradaptasi dan akan timbul gangguan kesehatan baik berupa fisik, psikologis
maupun perilaku (Keliath, 2010).
Banyaknya tugas dan tanggungjawab yang menumpuk merupakan salah satu
faktor pemicu terjadinya ansietas yang berat, bahkan menyebabkan kepanikan.
Seperti pada mentor, mereka memiliki tanggungjawab individu namun harus
bertanggungjawab juga terhadap para menteenya. Untuk dapat mengimbangi
tugas dan tanggungjawab itu, setiap mentor perlu mental yang sehat. Mentor perlu
pengetahuan yang menyeluruh terhadap ansietas dan bagaimana mengatasinya
dengan coping efektif.
Berdasarkan data yang penulis peroleh bahwa ansietas merupakan suatu
ganggaun mental yang sering terjadi bahkan dapat menyebabkan kepanikan.
Penulis tertarik untuk mengetahui penerapan coping stress mentor terhadap
ansietas yang mereka hadapi. Melalui tugas ini penulis ingin membantu mentor
mencari tahu coping strees yang efektif untuk mengatasi ansietas yang mereka
alami.

2
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang menjadi kajian dalam penelitian adalah: Bagaimana
tingkat ansietas mentor 2018 dengan persiapan kedatangan Mahasiswa/i baru
Fakultas Keperawatan UPH?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis merumuskan beberapa
pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimana tingkat ansietas mentor 2018 menghadapi persiapan
kedatangan mahasiswa baru?
2. Apa saja jenis-jenis coping stress yang dibutuhkan untuk mengatasi
ansietas pada mentor 2018 ?
1.3 Tujuan
Tujuan Khusus Penelitian:
1.Untuk mengetahui tingkat ansietas mentor 2018.
2.Untuk mengetahui jenis-jenis coping stress mentor 2018 untuk
mengatasi ansietas
1.4 Manfaat Karya Ilmiah
Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah sebagai berikut:
1. Melatih untuk mengambangkan keterampilan penulis dalam menyusun
karya ilmiah yang baik dan benar.
2. Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan penulis tentang ansietas dan
coping stress.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi
Gangguan kecemasan termasuk konstelasi gangguan di mana kecemasan dan
gejala yang terkait tidak rasional atau dialami pada tingkat keparahan itu merusak
fungsi. Ciri khasnya adalah kecemasan dan penghindaran. (Stuart, 2016)
Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respon otonom (sumber tidak diketahui oleh individu) sehingga individu akan
meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi (NANDA, 2015). Ansietas
adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan
tidak berdaya dan respons emosional terhadap penilaian sesuatu. Gangguan
ansietas adalah masalah psikiatri yang paling sering terjadi di Amerika Serikat
(Stuart, 2013).
Ansietas adalah tentang pemeliharaan diri. Hal terjadi sebagai akibat dari
ancaman terhadap kepribadian seseorang, harga diri, atau identitas. Ansietas
adalah hasil dari ancaman terhadap sesuatu yang merupakan pusat kepribadian
seseorang dan penting bagi keberadaan dan keamanaan seseorang. Ansietas dapat
dihubungkan dengan rasa takut akan hukuman, ketidaksetujuan, penarikan cinta,
gangguan hubungan, isolasi, atau kehilngan fungsi tubuh. Budaya terkait dengan
ansietas, karena budaya dapat mempengaruhi nilai-nilai yang diangggap paling
penting (Westermeyer et al, 2010).

2.2 Tingkat-tingkat Ansietas

Kecemasan (Anxiety) memiliki tingkatan Gail W. Stuart (2006: 144)


mengemukakan tingkat ansietas,
diantaranya.
1. Ansietas ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari,
ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan

3
meningkatkan lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi
belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.
2. Ansietas sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang
persepsi individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak
perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area
jika diarahkan untuk melakukannya.
3. Ansietas berat
Sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus
pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain.
Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut
memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
4. Tingkat panik
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Hal yang rinci
terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali,
individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu
walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian
dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya
kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional.

2.3 Ciri-ciri dan Gejala Ansietas

Menurut Jeffrey S. Nevid, dkk (2005: 164) ada beberapa ciri-ciri kecemasan,

yaitu.

1. Ciri-ciri fisik dari kecemasan, diantaranya: 1) kegelisahan, kegugupan,

2) tangan atau anggota tubuh yang bergetar atau gemetar, 3) sensasi dari

pita ketat yang mengikat di sekitar dahi, 4) kekencangan pada pori-pori

kulit perut atau dada, 5) banyak berkeringat, 6) telapak tangan yang

4
berkeringat, 7) pening atau pingsan, 8) mulut atau kerongkongan terasa

kering, 9) sulit berbicara, 10) sulit bernafas, 11) bernafas pendek, 12)

jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang, 13) suara yang

bergetar, 14) jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin, 15) pusing,

16) merasa lemas atau mati rasa, 17) sulit menelan, 18) kerongkongan

merasa tersekat, 19) leher atau punggung terasa kaku, 20) sensasi seperti

tercekik atau tertahan, 21) tangan yang dingin dan lembab, 22) terdapat

gangguan sakit perut atau mual, 23) panas dingin, 24) sering buang air

kecil, 25) wajah terasa memerah, 26) diare, dan 27) merasa sensitif atau

“mudah marah”

2. Ciri-ciri behavioral dari kecemasan, diantaranya: 1) perilaku

menghindar, 2) perilaku melekat dan dependen, dan 3) perilaku terguncang

3. Ciri-ciri kognitif dari kecemasan, diantaranya: 1) khawatir tentang

sesuatu, 2) perasaan terganggu akan ketakutan atau aprehensi terhadap

sesuatu yang terjadi di masa depan, 3) keyakinan bahwa sesuatu yang

mengerikan akan segera terjadi, tanpa ada penjelasan yang jelas, 4)

terpaku pada sensasi ketubuhan, 5) sangat waspada terhadap sensasi

ketubuhan, 6) merasa terancam oleh orang atau peristiwa yang normalnya

hanya sedikit atau tidak mendapat perhatian, 7) ketakutan akan kehilangan

kontrol, 8) ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, 9)

berpikir bahwa dunia mengalami keruntuhan, 10) berpikir bahwa

semuanya tidak lagi bisa dikendalikan, 11) berpikir bahwa semuanya

terasa sangat membingungkan tanpa bisa diatasi, 12) khawatir terhadap

5
hal-hal yang sepele, 13) berpikir tentang hal mengganggu yang sama

secara berulang-ulang, 14) berpikir bahwa harus bisa kabur dari

keramaian, kalau tidak pasti akan pingsan, 15) pikiran terasa bercampur

aduk atau kebingungan, 16) tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran

terganggu, 17) berpikir akan segera mati, meskipun dokter tidak

menemukan sesuatu yang salah secara medis, 18) khawatir akan ditinggal

sendirian, dan 19) sulit berkonsentrasi atau memfokuskan pikiran.

Dadang Hawari (2006: 65-66) mengemukakan gejala kecemasan diantaranya.


1. Cemas, khawatir, tidak tenang, ragu dan bimbang
2. Memandang masa depan dengan rasa was-was (khawatir)
3. Kurang percaya diri, gugup apabila tampil di muka umum (demam
panggung)
4. Sering merasa tidak bersalah, menyalahkan orang lain
5. Tidak mudah mengalah, suka ngotot
6. Gerakan sering serba salah, tidak tenang bila duduk, gelisah
7. Sering mengeluh ini dan itu (keluhan-keluhan somatik), khawatir
berlebihan terhadap penyakit.
8. Mudah tersinggung, suka membesar-besarkan masalah yang kecil
9. (dramatisasi).
10. Dalam mengambil keputusan sering diliputi rasa bimbang dan ragu.
11. Bila mengemukakan sesuatu atau bertanya seringkali diulang-ulang.
12. Kalau sedang emosi sering kali bertindak histeris.

6
2.4 Teori Mentor

2.4.1 Definisi

Mentor merupakan seseorang yang akan membantu para mentee


untuk dapat mencapai tujuan mereka didalam akademik, karir, atau
bahkan kehidupan pribadi para menteenya. Mentor akan membantu para
mentee untuk menunjukan bahwa mereka memiliki talenta yang tidak
mereka perhatikan dalam kehidupannya sehingga nantinya mentor akan
menstimulusi ide-ide yang bisa dicapai.(University of Washington, 2019)
2.4.2 Fungsi Mentor
Sebagai seorang mentor harus menawarkan hal-hal berikut:
a. Informasi : Mentor membagikan pengetahuan, pengalaman, dan
kebijaksanaan mereka.
b. Kontak : Mentor memberikan peluang berharga dengan
memfasilitasi kontak akademik, karier, dan pribadi.
c. Tantangan : Mentor merangsang rasa ingin tahu dan membangun
kepercayaan diri dengan menghadirkan ide-ide baru, peluang, dan
tantangan.
d. Mendukung : Mentor mendorong pertumbuhan dan pencapaian
dengan menyediakan lingkungan yang terbuka dan mendukung.
e. Nasihat : Mentor membimbing anak didik dalam mencapai tujuan
akademik, karier, dan pribadi.
f. Panutan : Dengan berbagi kisah prestasi dengan anak didik, mentor
dapat menjadi panutan.
2.4.3 Tugas Mentor
a. Membangun hubungan positif dengan mentee. Ini bisa melibatkan
membangun kepercayaan dan rasa hormat dengan mentee, dan
mempertahankannya secara teratur interaksi dan dukungan yang
konsisten.
b. Membantu mente mengembangkan keterampilan akademik dan
kehidupan. Ini dapat melibatkan bekerja dengan mentee untuk

7
menetapkan dan mencapai pendidikan, dan tujuan karier, dan
membantu membangun keterampilan manajemen waktu, studi, dan
komunikasi.
c. Membantu mentee terhubung dengan sumber daya kampus. Ini
bisa termasuk membantu mentee mengenal pusat karier, pusat
keterampilan kuantitatif, perpustakaan, layanan konseling, dan
sumber daya lainnya di kampus.
d. Mentor menjadi sumber dukungan dan bimbingan. Salah satu, jika
bukan hal terpenting yang dapat Anda lakukan sebagai mentor
adalah berada di sana untuk mentee. Ini terdengar cukup sederhana,
tetapi dapat mencakup sejumlah hal. Bersiap adalah kuncinya.
e. Mendorong mentee untuk merancang rencana aksi yang mereka
miliki menetapkan dan mendorong mereka untuk menetapkan
sasaran SMART, sasaran yang spesifik, terukur, dapat dicapai dan
realistis untuk mentee.

2.5 Teori Coping

2.5.1 Definisi

Koping berasal dari kata copingyang bermakna harafiah


pengatasan atau penanggulangan (to cope with = mengatasi,
menanggulangi). Namun karena istilah copingmerupakan istilah yang
sudah jamak dalam psikologi serta memiliki makna yang kaya, maka
penggunaan istilah tersebut dipertahankan dan langsung diserap ke
dalam bahasa Indonesia untuk membantu memahami bahwa coping
(koping) tidak sesederhana makna harafiahnya saja. Koping sering
disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Koping juga sering
dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah (problemsolving)
(Siswanto, 2007: 60).
Menurut Lazarus dan Folkman (Farid Mashudi, 2012: 221), coping
adalah proses mengelola atau mengatasi tuntutan baik internal maupun

8
eksternal yang dianggap sebagai beban dari luar kemampuan diri individu
tersebut. Folkman dan Lazarus (Yustie Ida Rahmawati, 2011: 31)
mendefinisikan strategi coping sebagai upaya secara kognitif dan
behavioral untuk mengatur tuntutan eksternal dan atau internal yang
spesifik yang dinilai sebagai beban melebihi kemampuan individu. Weiten
dan Lloyd (Farid Mashudi, 2012: 221) juga mengemukakan bahwa
copingmerupakan upaya atau usaha untuk mengelola, mengatasi dan
mengurangi ancaman karena stres yang dialami.
2.5.2 Jenis-jenis coping
Adapun jenis-jenis coping yang ditemukan oleh Folkman dan Lazarus (Safaria
dan Saputra, 2009) yaitu:
a. Emotional focused coping adalah suatu usaha untuk mengontrol respons
emosional terhadap situasi yang sangat menekan.
1. Seeking social emotional support. Mencoba untuk memperoleh dukungan
secara emosional maupun sosial dari orang lain.
2. Distancing. Mengeluarkan upaya kognitif untuk melepaskan diri dari
masalah atau membuat sebuah harapan positif.
3. Escape avoidance. Menghayal mengenai situasi atau melakukan tindakan
untuk menghibur diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Individu
memainkan fantasi dan
4. berandai-andai untuk tidak memikirkan masalah atau tidur.
5. Sel control Mencoba untuk mengatur perasaan diri sendiri dalam bertindak
untuk menyelesaikan masalah.
6. Accepting responsibility. Menerima masalah yang dihadapi sambil
memikirkan jalan keluar permasalahan.
7. Positive reapprasial. Membuat suatu arti positif dari situasi dalam
perkembangan pribadi dengan sifat religius.
b. Problem focused coping adalah usaha untuk mengurangi stressor
dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang baru
untuk mengubah situasi, keadaan, atau pokok permasalahan. Individu akan

9
cenderung menggunakan strategi ini apabila dirinya yakin akan dapat
mengubah situasi, Smet (Safaria & Saputra, 2009).
1. Seeking informational support. Mencoba memperoleh informasi dari orang
lain seperti dokter, psikolog, atau guru.
2. Confrontive coping. Melakukan penyelesaian masalah secara konkret.
3. Planful problem solving. Menganalisis setiap situasi yang menimbulkan
masalah serta berusaha mencari solusi secara langsung terhadap masalah
yang dihadapi.

10
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel Penelitian.

3.1.1. Populasi penelitian

Dalam penyusunan makalah ini, kami membatasi ruang lingkup populasi


masyarakat. Populasi dalam ruang lingkup lebih terbatas yang digunakan
dalam proses penelitian ini adalah mahasiswa-mahasiswi mentor 2018
Universitas Pelita Harapan.

3.1.2. Sampel Penelitian

Sampel.Dalam penyusunan makalah ini, kami menggunakan sampel


penelitian dalam batas populasi penelitian yaitu mahasiswa-mahasiswi
Universitas Pelita Harapan. Sampel penelitian yang dipakai adalah
Mentor-mentor 2018 Universitas Pelita Harapan yang berjumlah 20 orang
terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang wanita.

3.2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian

3.2.1. Waktu Pelaksanaan Penelitian

Kami mengadakan penelitian yang dilaksanakan pada hari Rabu,


11 Juli 2019 sampai dengan Jumat, 14Juli 2019.

3.2.2. Tempat Pelaksanaan Penelitian.

Kami mengadakan penelitian yang dilaksanakan di lingkungan


sekitar Universitas Pelita Harapan.

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi operasional Variabel

11
3.3.1 Identifikasi Variabel

Identifikasi variabel merupakan bagian penelitian dengan cara


menetukan variabel-variabel yang ada dalam penelitian (Hidayat, 2007).
Variabel penelitian ini yaitu:

Variable dependent (variabel terikat)

Variable dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang


menjadi akibat karena adanya variable independent (Sugiyono, 2011).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah “kecemasan mentor 2018
dalam menghadapi mahasiswa baru 2019”

3.3.2 Definisi operasional Variabel

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang


diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut, sehingga memungkinkan
peneliti untuk melakukan observasi atau pengkuran secara cermat terhadap
suatu objek atau fenomena. Pada definisi operasional dirumuskan untuk
kepentingan akurasi, komunikasi, dan replikasi (Nursalam, 2013).

12
Tabel 3.1 Definisi operasional variabel

Variabel Definisi Skala


Parameter Alat Ukur Skor
Penelitian operasional Data

Variabel Suatu perasaan Jumlah jawaban yang Kuesioner Interval Skor 0 – 56


terikat : ketakutan atau diisi pada kuesioner oleh kecemasan untuk
Kecemasan kekhawatiran pasien menggunakan skala HARS keperluan
yang tidak jelas pengukuran skala HARS deskriptif di
pada mentor 1. Perasaan cemas kategorikan
2018 dalam 2. Ketegangan sebagai
menghadapi 3. Ketakutan berikut :
mahasiswa baru 4. Gangguan tidur
2019 5. Gangguan Skor <6 tidak
kecerdasan ada
6. Perasaan depresi kecemasan
7. Gejala rematik (otot- 6-14
otot) kecemasan
8. Gejala sensorik ringan
9. Gejala 15-27
kardiovaskular kecemasan
10. Gejala pernafasan sedang
11. Gejala >27
gastrointestinal kecemasan
12. Gejala urogenitalia berat
13. Gejala vegetatif
14. Tingkah laku saat
wawancara

13
3.4. Metode Penelitian dan Alat Pengumpulan Data

3.4.1. Metode Penelitian

Penulis menggunakan metode penelitian survei. Survei adalah pemeriksaan


atau penelitian secara komprehensif. Survei yang dilakukan dalam melakukan
penelitian biasanya dilakukan dengan menyebarka kuesioner, dengan tujuan untuk
mengetahui, menerangkan atau menjelaskan: apa itu mentor, tanggungjawab mentor,
dan bagaimana tingkat kecemasan mentor dalam persiapan penyambutan para mentee.

3.4.2. Alat Pengumpulan Data

.Penilaian menggunakan alat-alat bantu untuk memperoleh data yang


dibutuhkan. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini pada variabel kecemasan
adalah lembar kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Kuesioner ini sudah
dianggap baku dengan menilai 14 item.

3.5 Metode Analisis Data

Dari hasil lembar kuisioner tersebut, penulis akan mengumpulkan jawaban-jawaban yang
didapat dari lembar kuisioner, kemudian akan dianalisis dengan cara membandingkan
jawaban-jawaban tersebut. Metode analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif
dan kualitatif. Penulis menggunakan metode kuantitatif untuk menghitung jumlah persentase
dan kualitatif untuk mendeskripsikan hasil persentase ini.

3.6 Uji Validitas

Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dapat
mengungkapkan data dari variabel yang diteliti setelah penelitian ini dilakukan uji validitas
yang tepat (Arikunto, 2010). Penguji validitas pada penelitian ini tidak dilakukan karena
menggunakan kuesioner kecemasan yang sudah baku. Untuk mengukur tingkat kecemasan
menggunakan kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) dan juga telah dibuktikan
oleh Rahmy (2013) validitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran kecemasan pada
penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran
kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliable.

15
BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan dipaparkan hasil pembagian kuisioner dari“EFFECTIVITAS
COPING STRESS MENGHADAPI ANSIETAS PADA MENTOR 2018 FON UPH” pada
tanggal 11 Juli – 15 juli 2017 dengan jumlah sampel dari penelitian ini sejumlah 20 orang
mentor dengan 10 orang Laki-Laki dan 10 orang Perempuan
4.1 Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian
Universitas Pelita Harapan merupakan suatu tingkat perguruan tinggi yang terletak di
Tangerang,Banten jalan Boulexard jendral sudirman samping RS siloam,Universitas Pelita
Harapan memberikan sebuah fasilitas tinggal di dalam asrama untuk mahasiswa yang
menerima Beasiswa dengan ini kami melakukan penelitian di asrama membagikan kuisioner
kepada mentor 2019
4.2 Karakteristik responden
4.1 Karaterisitik responden berdasarkan usia

No. Resp
Inisial Umur

1 VSS 18
2 DIN 18
3 SRS 19
4 PC 19
5 LM 19
6 D 18
7 KS 19
8 DT 19
9 JA 18
10 DZ 18
11 RS 18
12 EA 18
13 PK 20
14 HL 19
15 MK 18
16 EE 20
17 CS 19
18 AK 18
19 KI 18
20 JJ 18

Dari hasil pembagian kuisioner kami menyimpulkan umur dari responden berkisar 18 tahun
yang paling muda adalah berumur 18 tahun sedangkan yang paling adalah 20 tahun

16
4.3 Pembahasan

Tabel 4.2 Hasil Penelitian

TABEL TINGKAT ANSIETAS MENJELANG KEDATANGAN MABA 2019 DI


UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

Pertanyaan
No. Skore Keterangan
Inisial
Resp
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 VSS 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1 0 8 Cemas Ringan
2 DIN 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 8 Cemas Ringan
3 SRS 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 8 Cemas Ringan
4 PC 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 9 Cemas Ringan
5 LM 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 13 Cemas Ringan
6 D 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1 8 Cemas Ringan
7 KS 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Tidak Cemas
8 DT 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 7 Cemas Ringan
9 JA 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 11 Cemas Ringan
10 DZ 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 3 Tidak Cemas
11 RS 1 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 6 Tidak cemas
12 EA 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 9 Cemas Ringan
13 PK 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 4 Tidak Cemas
14 HL 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 8 Cemas Ringan
15 MK 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Tidak Cemas
16 EE 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 10 Cemas Ringan
17 CS 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 9 Cemas Ringan
18 AK 2 0 3 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 10 Cemas Ringan
19 KI 2 2 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 11 Cemas Ringan
20 JJ 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 7 Cemas Ringan

Dari hasil pembagian kuisioner penelitian mendapatkan bahwa terjadi tingkat


“kecemasan ringan” terhadap mentor 2018 dalam menghadapi MaBa 2019 dengan skore
paling rendah adalah 2 skore yang paling tinggi adalah 13 yang dimana kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari,ansietas ini menyebabkan
individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. Ansietas ini dapat
memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

17
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan Hasil penelitian yang telah dilakukan serta diuraikan pembahasan yang
di paparkan di bab sebelumnya maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa:
Tingkat kecemasan yang dialami oleh mentor 2018 dalam menghadapi MaBa 2019
adalah berada di tingkat ansietas ringan. Ansietas ringan merupakan yang ansietas yang
dapat meningkatkan kewaspadaan, memotivasi belajar, dan menghasilkan pertumbuhan serta
kreativitas sehingga kelompok kami hanya menyarankan koping Emotional Focused coping
Problem focused coping sebagai coping tambahan untuk mempertahankan kondisi yang
sudah baik.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dilakukan serta diuraikan pembahasan
yang di paparkan maka peneliti ingin meyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1) institusi Universitas Pelita Harapan
Diharapkan karya ilmiah ini sebagai dasar, sumber dan bahan pemikiran untuk
perkembangan penelitian selanjutnya, sehingga mahasiswa akan mampu mengetahui tingkat
kecemasan mentor yang akan datang
2) Bagi peneliti selanjutnya
Hasil ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar dan pembanding untuk penelitian
selanjutnya dalam melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan tingkat kecemasan
mentor dalam menghadapi MaBa 2018.

18
REFERENSI

Cicilia, 2013. Gangguan Kecemasan. Dalam : Sinopsis Psikiatri. Jilid ll. Jakarta;
Binarupa Aksara: 2010 Hal 19.

Dadang, Hawari. 2001. Manajemen Stress, Cemas, dan Depresi. Jakarta : FKUI

Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan: Apliaksi dalam Praktik Keperawatan

Profesional (3rd ed.). Jakarta: Salemba Medika

Killam, L. A., & Heerschap, C. (2012). Challenges to student learning in the clinical

setting: A qualitative descriptive

Killam, L. A., & Heerschap, C. (2012). Challenges to student learning in the clinical

setting: A qualitative descriptive study, 33(6), 684–691. Retrieved 15 Juli 2019 jam 16.05. From
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii.

McDowell, I., Newell, C., & McDowell, I. (2006). Mengukur kesehatan: panduan untuk menilai
skala dan kuesioner (Vol. 268). New York: Oxford University Press

Vaccarino, AL, Evans, KR, Sills, TL, & Kalali, AH (2008). Gejala kecemasan dalam depresi:
penilaian kinerja item Hamilton Anxiety Rating Scale pada pasien dengan depresi. Depresi &
Kecemasan

(Mentor Guidelines, 2019)Source: https://www.washington.edu/doit/sample-mentor-guidelines

19
Penjelasan Penelitian
Syalom, kami dari kelompok bahasa indonesia yang terdiri dari 5 orang yaitu Nana
desiana,Rosellaayu,Satria TrySandy,Veronika Natalia,dan Viktor Suanto bermaksud
mengadakan penelitian untuk mengetahui “Tingkat Ansietas Mentor 2018 Dengan Persiapan
Kedatangan Mahasiswa Baru di Fakultas Keperawatan UPH” responden terdiri dari mentor
angkatan 2018 yang sednang menjalani masa menjadi mentor, peneliti akan menjamin
kerahasiaan dari Responden yang bersedia mengisi kuisioner berikut

Lembar Kuisioner Kecemasan Hamilton Anxiety Rating


Scale(HARS)
Inisial :
Umur :
Angkatan :
Jenis kelamin :
A.berikan tanda (x) jika setuju akan pilihan jawaban yang di tentukan(pilihan boleh lebih dari satu)
1.Apa yang kamu rasakan saat menjelang kedatangan MaBa 2019, terdiri atas:

 Firasat buruk saat menjelang kedatangan MaBa 2019


• Takut akan pikiran sendiri saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Mudah tersingung saat menjelang kedatangan MaBa 2019
2.Ketegangan seperti apa yang kamu rasakan saat menjelang kedatangan MaBa 2019,
terdiri atas :
• Merasa tegang saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Lesu saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Tidak dapat istirahat dengan tenang saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Mudah terkejut saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Gemetar saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Gelisah saat menjelang kedatangan MaBa 2019
3.Ketakutan seperti apa yang kamu rasakan saat menjelang kedatangan MaBa 2019,
terdiri atas :
• Takut saat berada disuatu ruangan gelap saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Takut ditinggal sendiri saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Takut pada orang asing saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Takut pada ada binatang besar saat menjelang kedatangan MaBa
2019
• Takut pada keramaian lalu lintas saat menjelang kedatangan MaBa
2019
• Takut pada kerumunan orang banyak saat menjelang kedatangan MaBa 2019
20
4.Apakah kamu merasakan gangguan tidur saat menjelang kedatangan MaBa 2019,
terdiri atas :
• Takut saat berada disuatu ruangan gelap saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Takut ditinggal sendiri saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Takut pada orang asing saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Takut pada ada binatang besar saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Takut pada keramaian lalu lintas saat menjelang kedatangan MaBa
2019
• Takut pada kerumunan orang banyak saat menjelang kedatangan MaBa 2019

5. Apakah kamu merasakan gangguan perhatian saat menjelang kedatangan MaBa 2019,
terdiri atas :
• Sulit berkonsentrasi saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Sering bingung saat menjelang kedatangan MaBa 2019
6. Perasaan apa yang kamu rasakan saat menjelang kedatangan MaBa 2019, terdiri atas:
• Kehilangan minat pada kegiatan sehari-hari saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Sedih saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Bangun dini hari saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Berkurangnya kesukaan pada hobi saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Perasaan berubah-ubah sepanjang hari saat menjelang kedatangan MaBa 2019
7.Keluhan fisik apa yang Kamu rasakan saat menjelang kedatangan MaBa 2019, terdiri atas :
• Nyeri otot saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Kaku saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Kedutan otot saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Gigi meretak saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Suara tidak stabil saat menjelang kedatangan MaBa 2019

8.Apakah kamu merasakan gejala hal tersebut saat menjelang kedatangan MaBa 2019, terdiri atas :
• Telinga berdengung saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Penglihatan kabur saat menjelang MaBa kedatangan 2019
• Muka merah dan pucat saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Merasa lemah saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Perasaan ditusuk-tusuk saat menjelang kedatangan MaBa 2019
9.Apa yang kamu rasakan di area sekitar dada saat menjelang kedatangan MaBa 2019, terdiri atas :
• Merasa denyut nadi cepat saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Merasa berdebar-debar saat menjelang kedatangan 2019
• Nyeri dada saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Rasa lemah seperti mau pingsan saat menjelang kedatangan
10.Apakah kamu merasakan gejala pernapasan saat menjelang kedatangan MaBa 2019, terdiri atas :
• Rasa tertekan di dada saat menjelang kedatangan MaBa 2019 perasaan tercekik saat
menjelang kedatangan MaBa 2019
• Merasa napas pendek/sesak saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Sering menarik napas panjang saat menjelang kedatangan MaBa 2019
21
11.Apakah kamu merasakan gejala pencernaan saat menjelang kedatangan MaBa 2019,
terdiri atas :
• Merasa sulit menelan saat menjelang kedatangan MaBa 2019 Merasa mual muntah saat
menjelang kedatangan MaBa 2019
• Berat badan menurun saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Konstipasi/sulit buang air besar saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Nyeri lambung sebelum/sesudah makan saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Perut terasa penuh/kembung saat menjelang kedatangan MaBa 2019
12.Apakah kamu merasakan gejala pada saluran kemih saat menjelang kedatangan MaBa 2019,
terdiri atas :
• Sering kencing saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Menstruasi yang tidak teratur atau darah haid sedikit saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Frigiditas/gangguan seksual saat menjelang kedatangan MaBa 2019
13.Apakah kamu merasakan hal tersebut saat menjelang kedatangan MaBa 2019, terdiri atas :
• Mulut kering saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Muka kering saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Mudah berkeringat saat menjelang penyambutan MaBa 2019
• Pusing/sakit kepala saat menjelang kedatangan MaBa 2019
• Bulu roma berdiri saat menjelang kedatangan MaBa 2019
14.Perilaku mentor saat wawancara :

• Gelisah saat wawancara


• Tidak tenang saat wawancara
• Mengerutkan dahi muka tegang saat wawancara
• Tonus/ketegangan otot meningkat saat wawancara
• Napas pendek dan cepat saat wawancara
• Muka merah saat wawancara

22
HASIL TINGKAT ANSIETAS MENJELANG KEDATANGAN MABA 2019 DI UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
Pada tanggal 11-15 juli 2019
Jenis Pertanyaa
n Skore Keterangan
No. Inisial Kelami
Resp Umur n Angkat
an
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 VS 18 L 2018 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1 0 8 Cemas
S Ringan
2 DI 18 L 2018 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 8 Cemas
N Ringan
3 SR 19 P 2018 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 8 Cemas
S Ringan
4 19 P 2018 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 9 Cemas
PC Ringan
5 LM 19 P 2018 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 13 Cemas
Ringan
6 D 18 P 2018 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1 8 Cemas
Ringan
7 KS 19 L 2018 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Tidak
Cemas
8 DT 19 L 2018 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 7 Cemas
Ringan
9 JA 18 L 2018 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 11 Cemas
Ringan
10 DZ 18 L 2018 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 3 Tidak
Cemas
11 RS 18 P 2018 1 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 6 Tidak cemas
12 EA 18 P 2018 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 9 Cemas
Ringan
13 PK 20 L 2018 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 4 Tidak
Cemas
14 HL 19 P 2018 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 8 Cemas
Ringan
15 M 18 P 2018 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Tidak
K Cemas
16 EE 20 P 2018 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 10 Cemas
Ringan
17 CS 19 P 2018 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 9 Cemas
Ringan
18 AK 18 L 2018 2 0 3 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 10 Cemas
Ringan
19 KI 18 L 2018 2 2 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 11 Cemas
Ringan
20 JJ 18 L 2018 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 7 Cemas
Ringan

Keterangan :
Kode : 1 = tidak ada kecemasan Skore <6 = tidak ada kecemasan
2 = kecemasan ringan 6-14 = cemas ringan
3 = kecemasan sedang 15-27 = cemas sedang
4 = kecemasan berat >27 = cemas berat