Anda di halaman 1dari 70

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Rumah sakit sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan mempuyai

tujuan untuk melakukan upaya penyembuhan pasien dengan waktu yang

singkat. Salah satu upaya yang mendukung tujuan tersebut adalah dengan

melakukan kegiatan pelayanan gizi yang bermutu terutama dalam

menyediakan makanan baik kualitas maupun kuantitas sehingga dapat

mencukupi kebutuhan pasien terhadap gizi seimbang. Beberapa faktor

penyebab kurang gizi pada pasien yang dirawat diantaranya adalah asupan zat

gizi yang kurang karena kondisi pasien yang dirawat, nafsu makan, faktor

ekonomi, depresi (faktor stres), kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan

lama dirawat yang dapat menimbulkan kebosanan dengan makanan yang

disajikan(1).

Sisa makanan merupakan indikator penting dalam pelaksanaan

penyelenggaraan makanan sekaligus untuk mengetahui asupan makanan

pasien. Pengukuran sisa makanan pasien merupakan determinan yang efektif

terhadap level penerimaan makanan pasien. Alasan terjadinya sisa makanan

di rumah sakit antara lain ukuran porsi, nafsu makan, makanan tidak sesuai

dengan selera yang diharapkan(2).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 150 rumah sakit di

Amerika tahun 2012 terhadap sisa makanan pasien di ruang rawat selama 6

hari, secara total 38% dari makanan yang disediakan oleh dapur rumah sakit

tersisa(3). Penelitian pasien rawat inap di Brazil menemukan lebih dari 50%
2

limbah rumah sakit berasal dari limbah makanan dari bangsal perawatan(4).

Lima Penelitian pada 11 rumah sakit di Inggris selama periode 3 hari

berturut-turut terhadap makanan pagi, siang dan makanan malam, ditemukan

proporsi pasien yang menyisakan makanannya sebesar 55,8%. Adanya sisa

makanan ini mengakibatkan ketidakcukupan asupan gizi pada pasien dan

menimbulkan kerugian keuangan yang besar(5).

Penelitian yang dilakukan diberbagai rumah sakit Indonesia

menunjukkan rata-rata sisa makanan sangat bervariasi antara 17%-67%.

Penelitian di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung didapatkan sisa makanan

lunak sebesar 31,2% sedangkan di RSP Sardjito Yogyakarta dijumpai rata-

rata sisa makanan pagi sebesar 23,41%, di kota Palu sisa makanan di rumah

sakit jiwa Madani pada waktu makan siang yaitu nasi sebesar 24,48%.

Pelayanan gizi di Instalasi Gizi RSUP Sangla Denpasar dengan rata-rata sisa

makanan pasien 14,79%. Berdasarkan Kepmekes no.129/Menkes/SK/II/2008

tentang standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit (SPM), sisa makanan yang

tidak termakan oleh pasien maksimal 20%(6).

Penelitian yang dilakukan oleh Ofei, K, T mengemukakan bahwa jika

pemenuhan makanan pasien selama perawatan tidak terpenuhi, maka akan

mempengaruhi status gizi pasien selama perawatan(7). Hal ini diperkuat pula

oleh penjelasan yang terdapat dalam pedoman pelayanan gizi rumah sakit

(PGRS) yang diterbitkan oleh Kemenkes RI yang menyatakan apabila sisa

makanan pasien kurang dari standar yang telah ditetapkan yang artinya

apabila sisa makanan pasien lebih dari 20%, maka pemenuhan kebutuhan gizi
3

pasien selama perawatan tidak terpenuhi dan akan menyebabkan perubahan

status gizi serta dapat pula menghambat proses penyembuhan penyakit yang

dialami(2).

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan As-sibityah

mengatakan bahwa ada hubungan antara cita rasa makanan dengan sisa

makanan yaitu sebesar 75,7% responden mengatakan rasa makanan enak, dan

24,3% responden mengatakan tidak enak, rasa makanan enak menyebabkan

sisa makanan mejadi lebih sedikit tersisa(8). Hasil penelitian yang dilakukan

Romokoy juga mengatakan bahwa sebagian besar responden memilih

makanan dari luar rumah sakit yaitu sebesar 52,2% dan makanan bukan dari

luar rumah sakit 47,8%(9). Nuraini menemukan ada hubungan antara suhu

makanan dengan sisa makanan(10).

Penelitian yang dilakukan Ambarwati mengatakan bahwa ada

hubungan antara ketepatan waktu penyajian dan rasa makanan dengan sisa

makanan di RSU PKU Muhammadiyah Bantul(11). Ariefuddin juga

menemukan ada hubungan antara porsi makanan dengan sisa makanan di

RSUD Gunung Jati Cirebon(12). Data hubungan makanan pokok dengan

lama hari rawat tersebut dapat diketahui responden dengan sisa makanan

pokok >20% dengan lama rawat > 5 hari lebih banyak yaitu 8 orang

dibandingkan dengan responden yang memiliki sisa makanan pokok ≤ 20 %

dengan lama rawat > 5 hari sebanyak 3 orang, dari data tersebut ada

kecenderungan bahwa semakin banyak sisa makanan pokok responden

semakin panjang lama hari rawatnya(13).


4

Sisa makanan yang banyak dapat menimbulkan masalah, yaitu

terjadinya “Hospital Malnutrition”. Tingginya sisa makanan dipengaruhi

berbagai faktor yaitu internal, eksternal dan faktor lain, salah satunya adalah

faktor rasa makanan dan waktu penyajian makanan(14).

Berdasarkan hasil berbagai penelitian yang dilakukan di Negara maju

maupun Negara berkembang, ditemukan angka prevalensi malnutrisi di

rumah sakit cukup tinggi. Di Belanda, prevalensi malnutrisi sebanyak 23,8%,

di Perancis sebanyak 28%, sedangkan di Inggris prevalensinya sekitar 19%-

65%. Kemudian prevalensi malnutrisi di rumah sakit di Asia tercatat sebesar

16%-78%. Sedangkan di Indonesia dari beberapa studi mengatakan bahwa

20%-60% pasien rawat inap rumah sakit umum dalam kondisi malnutrisi saat

masuk perawatan dan sekitar 69% pasien dari pasien tersebut status gizinya

cenderung mengalami penurunan selama proses perawatan(15).

Pelayanan gizi yang tepat dengan diet yang adekuat di rumah sakit

juga dapat membantu pasien untuk pulih dan meningkatkan kualitas hidup

pasien(16).

Tabel 1.1 Data pasien dan jumlah sisa makanan Rumah Sakit Umum Daerah
Kota Kendari
Tahun Jumlah pasien Jumlah pasien yang menyisakan Jumlah sisa
sisa makanan makanan
2015 8.613 a. 5.038 25 %
b. 2.056 50 %
c. 623 75 %
d. 916 100 %
2016 8.053 a. 4.963 25 %
b. 1.751 50 %
c. 568 75 %
d. 771 100 %
2017 12.500 a. 12.090 50 %
b. 410 75 %
Sumber: RSUD Kota Kendari (17)
5

Berdasarkan tabel 1.1 di atas, dari tahun 2015-2016 terjadi penurunan

jumlah pasien yang menyisakan sisa makanan sebesar 25%, 50%, 75% dan

100%. Begitu pula dengan jumlah pasien tahun 2015 dari 8.613 jumlah pasien

menurun pada tahun 2016 yaitu 8.053 pasien. Sedangkan untuk tahun 2017

jumlah pasien kembali meningkat yaitu sebanyak 21.500 pasien, dan untuk

jumlah sisa makanan juga meningkat.

Ada beberapa penyebab terjadinya sisa makanan yaitu porsi makanan,

besar porsi makanan adalah banyaknya makanan yang disajikan dan bisa

berbeda dari individu satu dengan yang lainnya karena kebutuhan dan

kebiasaan makan(18). Namun, besar porsi yang disajikan di RSUD Kota

Kendari memiliki standar yang sama dari semua jenis diet.

Rasa merupakan salah satu sifat dari makanan, minuman dan bumbu

yang dapat didefinisikan kumpulan hasil presepsi dari stimulasi indera yang

digabungkan dengan stimulasi pencernaan berupa kesan yang diterima dari

suatu produk yang ada di mulut(19). Rasa makanan menjadi salah satu aspek

penilaian yang sulit dinilai secara akurat karena memiliki sifat subyektif,

sehingga penilaian tersebut berdasarkan dengan selera pasien yang

mengkonsumsinya(19).

Ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien adalah ketepatan

penyediaan makanan, pada pasien sesuai dengan jadwal yang telah

ditentukan. Lama rawat dapat menyebabkan timbulnya rasa bosan pada

pasien, karena pasien mengonsumsi makanan yang sama terus menerus.

Mengosnsumsi makanan dari luar rumah sakit akan berpengaruh pada


6

terjadinya sisa makanan, rasa lapar yang tidak cepat teratasi akan

menyebabkan pasien memilih makanan dari luar rumah sakit.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul hubungan pelayanan gizi dengan sisa

makanan pada pasien rawat inap di RSUD. Kota Kendari pada tahun

2019.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti menetapkan rumusan

masalah sebagai berikut :

1. Apakah ada hubungan porsi makanan dengan sisa makanan pasien rawat

inap di RSUD Kota Kendari?

2. Apakah ada hubungan rasa makanan dengan sisa makanan pasien rawat

inap di RSUD Kota Kendari?

3. Apakah ada hubungan waktu penyajian makanan dengan sisa makanan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari?

4. Apakah ada hubungan lama rawat inap deengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari?

5. Apakah ada hubungan kebiasaan mengonsumsi makanan dari luar rumah

sakit dengan sisa makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya sisa makanan

pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari


7

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui hubungan porsi makan dengan sisa makan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari

b. Untuk mengetahui hubungan rasa makanan dengan sisa makan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari

c. Untuk mengetahui hubungan waktu penyajian makanan dengan sisa

makan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari

d. Untuk mengetahui hubungan lama rawat inap dengan sisa makan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari

e. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan mengonsumsi makanan dari

luar rumah sakit dengan sisa makan pasien rawat inap di RSUD Kota

Kendari

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pada petugas

kesehatan terutama pada bidang gizi dalam penyelenggaraan makanan

pada pasien rawat inap di institusi kesehatan yang berhubungan dengan

pemenuhan gizi pasien yang sedang menjalani perawatan, sehingga

kebutuhan gizi pasien dapat terenuhi.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui jika kesesuaian

penyelengaraan makanan pada pasien rawat inap dapat meningkatkan

jumlah intake makanan pasien yang dirawat sehingga memenuhi persen


8

sisa makanan yang telah terstandarisasi yang artinya kebutuhan gizi

pasien selama perawatan dapat terpenuhi dengaan melihat hasil dari sisa

makanan pasien yang ada di RSUD Kota Kendari.


9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Rumah Sakit

1. Rumah Sakit

a. Definsi Rumah Sakit

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

yang meyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan serta gawat

darurat (20). Setiap rumah sakit wajib mendapatkan penetapan kelas

dari Menteri. Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan,

Rumah Sakit Umum diklasifikasikan menjadi beberapa kelas yaitu

Rumah Sakit Umum Kelas A, B, C, dan D. Klasifikasi Rumah Sakit

Umum dapat ditetapkan berdasarkan: Pelayanan, Sumber Daya

Manusia, Peralatan, Sarana dan Prasarana, Administrasi dan

Manajemen(21).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 rumah sakit adalah institusi

pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap,

rawat jalan, dan gawat darurat(20).

Menurut World Health Organization rumah sakit adalah

bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan

fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif),


10

penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif)

kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan baik

tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik(22).

b. Tujuan Rumah Sakit

Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan untuk :

1) Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan

kesehatan.

2) Memberikan perlindungan terhadap lingkungan rumah sakit dan

keselamatan sumber daya manusia di rumah sakit.

3) Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan

rumah sakit.

4) Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber

daya manusia rumah sakit dan rumah sakit(2).

c. Fungsi Rumah Sakit

1) Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemeliharaan

kesehatan sesuai dengan standart pelayanan rumah sakit.

2) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui

pelayanan kesehatan yang paripurna.

3) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia

dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian

pelayanan kesehatan.

4) Penyelenggaraan peneltian dan pengembangan serta penapisan

teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan


11

kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang

kesehatan(2).

2. Tujuan Umum Tentang Pelayanan Gizi

a. Definisi Pelayanan Gizi

Pelayanan gizi dirumah sakit adalah pelayanan yang diberikan

dan disesuaikan dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis,

status gizi dan status metabolisme tubuh. Keadaan gizi pasien sangat

berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses

perjalanan Penyakit dapat berpengaruh dengan keadaan gizi pasien.

Sering terjadi kondisi pasien yang semakin buruk karena tidak

tercukupinya kebutuhan zat gizi untuk perbaikan organ tubuh. Fungsi

organ yang terganggu akan lebih memburuk dengan adanya penyakit

dan kekurangan gizi(2).

b. Definisi Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS)

PGRS adalah salah satu dari 20 pelayanan wajib Rumah Sakit

sesuai keputusan menteri kesehatan Nomor

1333/Menkes/Sk/XII/1999. PGRS adalah kegiatan pelayanan gizi di

Rumah Sakit untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, baik rawat

inap maupun rawat rawat jalan. Pelayanan gizi juga ditujukan untuk

kepentingan metabolisme tubuh, dalam rangka upaya preventif,

kuratif, rehabilitatif maupun promotif(2). Pelayanan gizi adalah

pelayanan yang membantu masyarakat dalam keadaan sehat atau sakit

untuk memperoleh makanan yang sesuai guna mencapai status gizi


12

yang optimal yang diberikan bagi pasien rawat inap dan rawat

jalan(2).

Pelayanan gizi rumah sakit merupakan bagian yang sangat

vital dari sistem pelayanan paripurna terhadap pasien di rumah sakit.

Pelayanan gizi diberikan agar pasien mencapai kondisi yang optimal

dalam memenuhi kebutuhan gizi ataupun mengoreksi kelainan

metabolism(23).

c. Tujuan Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Tujuan PGRS yang diterbitkan oleh Kemenkes RI adalah

sebagai berikut:

1) Penegakan diagnosis gangguan gizi dan metabolisme zat gizi

berdasarkan anamnesis, antropometri, gejala klinis dan biokimia

tubuh.

2) Penyelenggaraan pengkajian dietetik dan pola makan berdasarkan

anamnesis diet dan pola makan.

3) Penentuan kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan pasien.

4) Penentuan bentuk pembelian bahan makanan, pemilihan jumlah

bahan makanan pemberian serta cara pengolahan bahan makanan.

5) Penyelenggaraan evaluasi terhadap preskripsi diet yang diberikan

sesuai dengan kebutuhan dan keadaan pasien.

6) Penyelenggaraan penelitian aplikasi dibidang gizi dan dietetik


13

7) Penciptaan standar diet khusus sesuai perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi yang dapat membantu penyembuhan

penyakit.

8) Penyelenggaraan penyuluhan dan konseling tentang pentingnya

diet pada pasien dan keluarganya(2).

Instalasi gizi merupakan organ fungsional dalam jajaran

direktorat penunjang dan pendidikan dengan kegiatan pokok:

Penyelenggaraan makanan, Asuhan gizi rawat inap, Asuhan gizi rawat

jalan dan Penelitian pengembangan gizi terapan(24). Untuk lebih

jelasnya diuraikan sebagai berikut:

1) Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit

Makanan yang bermutu diberikan dalam upaya

mempercepat proses penyembuhan, mempertahankan, dan

meningkatkan status gizi pasien. Makanan yang bermutu dapat

dihasilkan melalui kegiatan penyelenggaraan makanan rumah

sakit(25). Penyelenggaraan makanan adalah rangkaian kegiatan

mulai dari perencanaan menu hingga pendistribusian menu hingga

pendistribusian makanan kepada konsumen, termasuk kegiatan

pencatatan, pelaporan, dan evaluasi yang bertujuan untuk mencapai

status kesehatan yang optimal melalui pemberian makanan yang

tepat(26).

Tujuan dilaksanakannya penyelenggaraan makanan di

rumah sakit untuk menyediakan makanan yang kualitasnya baik


14

dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan serta pelayanan yang

layak dan memadai bagi konsumen yang membutuhkannya(27).

Sasaran penyelenggaraan makanan di rumah sakit adalah

konsumen atau pasien maupun karyawan. Sesuai dengan kondisi

rumah sakit dapat juga dilakukan penyelenggaraan bagi

pengunjung (pasien rawat jalan atau keluarga pasien). Dalam

penyelenggaraan makanan rumah sakit, standar masukan (input)

meliputi biaya, tenaga, sarana dan prasarana, metode, peralatan.

Sedangkan standar proses meliputi penyusunan anggaran belanja

bahan makanan setahun, perencanaan menu, perencanaan

kebutuhan bahan makanan harian dan bulanan,

pengadaan/pembelian, penerimaan dan penyimpanan bahan

makanan, persiapan bahan makanan, pengolahan makanan dan

pendistribusian makanan. Sedangkan standar keluaran (output)

adalah mutu makanan dan kepuasan konsumen. manajemen

penyelenggaraan makanan berfungsi sebagai sistem dengan tujuan

untuk menghasilkan makanan yang berkualitas baik(27).

2) Asuhan Gizi Rawat Inap

Kegiatan pelayanan gizi di ruang rawat inap merupakan

rangkaian kegiatan yang dimulai dari perencanaan penyusunan diit

pasien hingga pelaksanaan evaluasinya di ruang perawatan.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pengadaan atau


15

penyedian makanan dari instalasi gizi, yang berkaitan dengan

penyembuhan pasien(2).

3) Asuhan Gizi Rawat Jalan

Pelayanan gizi rawat jalan adalah serangkaian proses

kegiatan asuhan gizi yang berkesinambungan dimulai dari

asesment/pengkajian, pemberian diagnosis, intervensi gizi dan

monitoring evaluasi kepada klien/pasien di rawat jalan. Asuhan gizi

rawat jalan pada umumnya disebut kegiatan konseling gizi dan

dietetik atau edukasi/ penyuluhan gizi(1).

4) Penelitian dan Pengembangan Gizi Terapan

Penelitian dan pengembangan gizi terapan dilakukan

untuk meningkatkan kemampuan guna menghadapi tantangan dan

masalah gizi terapan yang kompleks. Ciri suatu penelitian adalah

proses yang berjalan terus menerus dan selalu mencari, sehingga

hasilnya selalu mutakhir(2).

Tujuan penelitian dan pengembangan gizi terapan adalah

untuk mencapai kualitas pelayanan gizi rumah sakit secara berdaya

guna dan berhasil guna dibidang pelayanan gizi, penyelenggaraan

makanan rumah sakit, penyuluhan, konsultasi, konseling dan

rujukan gizi sesuai kemampuan institusi. Hasil penelitian dan

pengembangan gizi terapan berguna sebagai bahan masukan bagi

perencanaan kegiatan, evaluasi, pengembangan teori, tatalaksana

atau standar pelayanan gizi rumah sakit(2).


16

d. Mutu Pelayanan Makanan

Mutu pelayanan makanan adalah kinerja yang menunjuk pada

tingkat kesempurnaan pelayanan makanan, yang disatu pihak dapat

menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat

kepuasan rata-rata penduduk, serta pihak lain, tata penyelenggaraanya

sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan.

Dimensi Mutu adalah suatu pandangan dalam menentukan penilaian

terhadap jenis dan mutu pelayanan dilihat dari akses, efektivitas,

efisiensi, keselamatan dan keamanan, kenyamanan, kesinambungan

pelayanan, kompetensi teknis dan hubungan antara manusia

berdasarkan standar WHO(2).

e. Diet Rumah Sakit

Diet merupakan mengkonsumsi makanan dan memilih

makanan dengan memperhatikan komposisi makanan agar seimbang

dan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Diet dilakukan untuk mengatur

agar konsumsi makanan yang diasup oleh seseorang tidak berlebihan,

tepat, dan seimbang(28). Pedoman diet yang terdapat di rumah sakit

akan memberikan rekomendasi yang lebih spesifik mengenai cara

makan yang bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan atau

mempertahankan status nutrisi pasien tetapi juga mencegah

permasalahan lain seperti diare akibat intoleransi terhadap jelas

makanan tertetu. Tujuan selanjutnya adalah untuk meningkatkan atau

mempertahankan daya tahan tubuh dalam menghadapi


17

penyakit/cedera khususnya infeksi, dan membantu kesembuhan pasien

dari penyakit/cedera dengan memperbaiki jaringan rusak serta

memulihkan keadaan seimbang dalam lingkungan internal tubuh yang

sehat(29).

f. Waktu Makan

Waktu makan yang baik berdasarkan beberapa artikel yaitu,

menyatakan jika waktu sarapan yang baik adalah pukul 07:00 – 08:00

dan jangan sarapan lewat dari pukul 10:00 karena dapat menyebabkan

rasa lapar yang lebih berat sehingga dapat mengganggu kesehatan dan

mengakibatkan gula darah melonjak naik, sedangkan, untuk makan

siang dumulai pada pukul 12:00 – 14:00, dan berhenti sebelum pukul

16:00. Jarak ideal dari sarapan kemakan siang adalah 4 jam. Dan

untuk makan malam dapat dimulai dari pukul 18:00 – 21:00, dan

jangan makan setelah pukul 21:00(30).

Waktu makan yang ditetapkan RSUD. Kota Kendari ialah

untuk sarapan pagi dimulai pukul 06:00 – 07:00 WITA, makan siang

dimulai pukul 12:00 - 13:00 WITA, dan makan malam dimulai pukul

18:00 – 19:00(17).

3. Tinjauan Umum Tentang Sisa Makanan

a. Definisi Sisa Makanan

Sisa makanan adalah jumlah makanan yang tidak termakan

oleh pasien. Makanan disajikan berdasarkan kelas perawatan, jenis

makan dan waktu makan. Sisa makanan dikatakan banyak atau tinggi
18

jika ≥ 20 %. Sisa makanan dapat terjadi akibat faktor internal dan

faktor eksternal pasien. Faktor internal pasien mencakup keadaan

klinis dan patologis pasien seperti perubahan nafsu makan, perubahan

indra pengecap, gangguan menelan (disfagia), stress dan lamanya

dirawat(31).

Sisa makanan adalah jumlah makanan yang tidak habis

dikonsumsi setelah makan disajikan. Ada banyaknya sisa makanan

pasien di rumah sakit yang menunjukan belum optimalnya kualitas

penyelenggaraan makanan dirumah sakit. Hal ini disebabkan sisa

makanan pasien dapat menjadi suatu indikator dari keberhasilan

penyelenggaraan makanan di rumah sakit(32). Sisa makanan

merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan di suatu

rumah sakit.

Malnutrisi pada pasien erat kaitannya dengan kejadian sisa

makanan di rumah sakit, jika hal tersebut dalam jangka panjang tidak

diperhatikan akan berdampak pada status gizi pasien yang semakin

menurun(33). Pada pasien rawat inap RS Prof. Dr. R.D. Karidou

Manado sisa makanan lauk nabati dan lauk hewani masih tergolong

banyak yaitu lebih dari 80%. Oleh karena itu, asupan energi pasien

hanya didominasi oleh asupan lemak dan karbohidrat, sedangkan

sumbangan energi dari protein tergolong masih rendah karena

pemenuhan protein kurang dari 80%(34).


19

b. Indikator Sisa Makanan

Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, ditetapkan bahwa

indikator standar pelayanan gizi tentang standar sisa makanan yang

termasuk kategori yang menyisakan makanan dalam kategori banyak

yaitu > 20%, dan kategori sisa makanan sedikit yaitu < 20 %(32).

Jumlah sisa makanan dan perkembangan keadaan gizi pasien rawat

inap menjadi indikator keberhasilan pelayanan gizi di rumah sakit.

Sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien dapat

menggambarkan efektivitas dan efisiensi pelayanan instalasi gizi.

indikator sisa makanan rumah sakit yang tidak termakan oleh pasien

adalah ≤ 20% sesuai dengan Kepmenkes No. 129/ Menkes/ SK/

II/2008 mengenai Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Asupan

gizi pasien yang tidak adekuat dapat dilihat melalui adanya sisa

makanan. lamanya masa perawatan pasien di rumah sakit dan

peningkatan biaya yang dikeluarkan menjadi dampak dari pasien yang

mengalami malnutrisi(15).

Sisa makanan yang merupakan bagian dari makanan yang

tidak habis dimakan atau tidak dimakan oleh pasien terdiri dari nasi,

lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah(1). Beberapa penelitian di

rumah sakit menunjukkan masih tingginya sisa makanan pasien.

Sebagai contoh hasil penelitian Sulaeman di Rumah Sakit Cibabat

Cimahi menunjukkan persentase sisa makanan untuk nasi 27,4%, lauk

hewani 24%, lauk nabati 35,3% dan sayur 30,8%.


20

Masih tingginya persentase sisa makanan berdampak bagi

instalasi gizi seperti tidak berjalannya terapi diit pasien dan adanya

biaya yang terbuang pada sisa makanan yang berakibat pada anggaran

gizi kurang efisien sehingga berpengaruh terhadap anggaran

persediaan bahan makanan, sedangkan bagi pasien berakibat pada

proses penyembuhan yang lambat dan lama rawat inap lebih

panjang(1).

c. Faktor yang Mempengaruhi Sisa Makanan

Sisa makanan terjadi karena makanan yang disajikan tidak

habis dikonsumsi. Faktor yang mempengaruhi terjadinya sisa

makanan dapat berupa faktor yang berasal dalam diri pasien (Factor

Internal), faktor dari luar pasien (Factor Eksternal) serta faktor lain

yang mendukung(35).

1) Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari pasien yang meliputi :

a) Keadaan Fsikis

Faktor psikologis merupakan rasa tidak senang, rasa

takut karena sakit dan ketidakbebasan karena penyakitnya

sehingga menimbulkan rasa putus asa. Manifestasi rasa putus

asa tersebut sering berupa hilangnya nafsu makan sehingga

penderita tersebut tidak dapat menghabiskan makanan yang

disajikan.
21

b) Kebiasaan Makan

Kebiasaan makan pasien dapat mempengaruhi pasien

dalam menghabiskan makanan yang disajikan. Bila kebiasaan

makan sesuai dengan makanan yang disajikan baik dalam

susunan menu maupun besar porsi, maka pasien cenderung

dapat menghabiskan makanan yang disajikan. Sebaliknya bila

tidak sesuai dengan kebiasaan makan pasien, maka akan

dibutuhkan waktu untuk penyesuaian.

c) Kebosanan

Rasa bosan biasanya timbul bila pasien mengkonsumsi

makanan yang kurang bervariasi sehingga sudah hafal dengan

jenis makanan yang disajikan. Rasa bosan juga dapat timbul

bila suasana lingkungan pada waktu makan tidak berubah.

Untuk mengurangi rasa bosan tersebut selain meningkatkan

variasi menu juga perlu adanya perubahan suasana lingkungan

pada waktu makan.

2) Faktor eksternal yang mempengaruhi terjadinya sisa makanan

meliputi :

a) Penampilan Makanan

Penampilan makanan terdiri dari warna makanan,

tekstur makanan, dan besar porsi. Warna makanan betapapun

lezatnya makanan, apabila penampilannya tidak menarik

waktu disajikan, maka akan mengakibatkan napsu makanan


22

pasien akan hilang. Warna makanan memegang peranan utama

dalam penampilan makanan. Warna makanan tidak hanya

membantu dalam menentukan kualitas makanan, tetapi dapat

juga memberitahu banyak hal. Warna biasanya merupakan

tanda makanan kemasakan atau kerusakan.

Selain warna makanan, konsistensi makanan adalah

salah satu bagian yang menentukan cita rasa makanan karena

mempengaruhi sesitivitas rasa makanan. Selain mempengaruhi

sensitivias rasa makanan, konsistensi makanan juga

memberikan dampak pada penampilan makanan. Porsi

makanan adalah banyaknya makanan yang disajikan sesuai

kebutuhan setiap individu berbeda sesuai dengan kebiasaan

makanan. Porsi yang terlalu besar atau kecil akan

mempengaruhi penampilan makanan.

b) Rasa Makanan

Rasa makanan terdiri dari aroma, tekstur. Aroma

makanan adalah aroma yang disebarkan oleh makanan yang

mempunyai daya tarik yang sangat kuat dan mampu

merangsang indera penciuman sehingga mampu

membangkitkan selera. Aroma yang dikeluarkan oleh makanan

berbeda-beda. Demikian pula cara memasak makanan yang

berbeda akan memberikan aroma yang berbeda pula.


23

Aroma yang disebarkan oleh makanan merupakan

daya tarik yang sangat kuat dan mampu merangsang indera

penciuman sehingga membangkitkan selera. Tekstur makanan

adalah derajat kekerasan, kepadatan atau kekentalan. Cair,

kenyal, dan keras merupakan karakteristik dari konsistensi.

c) Makan dari luar RS

Makanan yang dimakan oleh pasien yang berasal dari

luar RS akan berpengaruh terhadap terjadinya sisa makanan.

Rasa lapar yang tidak segera diatasi pada pasien yang sedang

dalam masa perawatan, timbulnya rasa bosan karena

mengonsumsi makanan yang kurang bervariasi menyebabkan

pasien mencari makanan tanbahan dari luar RS, sehingga

kemungkinan besar makan yang disajikan kepada pasien tidak

dihabiskan.

Adanya makanan dari luar rumah sakit yang dimakan

oleh pasien disebabkan oleh budaya membawa oleh-oleh

ketika membesuk ke pasien, di rumah sakit serta tidak adanya

manajemen yang jelas untuk mengendalikan diet terapi di

rumah sakit seperti larangan mambawa makanan atau

minuman tertentu pada pasien yang belum tentu sama dengan

nilai gizi yang dikandung oleh makanan yang disajikan dari

rumah sakit itu sendiri(35).


24

d) Jadwal/waktu Penyajian Makanan

Waktu makanan adalah waktu dimana orang lazim makan

setiap sehari. Manusia secara alamiah akan merasa lapar stelah 3-4

jam makan, baik dalam bentuk makanan ringan atau berat.

Makanan di rumah sakit harus tepat waktu, tepat diet dan tepat

jumlah. Selain itu, waktu pembagian yang tepat dengan jam makan

pasien serta jarak waktu yang sesuai dengan waktu makan pagi,

siang dan malam hari dapat mempengaruhi habis tidaknya

makanan yang disajikan.

Bila jadwal pemberian makan tidak sesuai maka makanan

yang sudah siap akan mengalami waktu penungguan sehingga pada

saat makan akan disajikan ke pasien makanan menjadi tidak

menarik karena mengalami perubahn dalam suhu makanan.

3) Faktor Lain

Faktor lain yang dapat menyebabkan sisa makanan antara

lain penampilan alat makan, sikap petugas pengantar makanan.

Cara penyajian merupakan faktor yang perlu mendapat perhatian

dalam mempertahankan penampilan dari makanan yang disajikan.

Penyajian makanan berkaitan dengan peralatan yang digunakan,

serta sikap petugas yang menyajikan makanan termasuk kebersihan

peralatan makan maupun kebersihan petugas yang menyajikan

makanan(35).
25

d. Ruang Lingkup Peneliti

1) Porsi Makanan

Besar porsi makanan adalah banyaknya makanan yang

disajikan dan bisa berbeda dari individu satu dengan yang lainnya

karena kebutuhan dan kebiasaan makan(18). Kebiasaan jumlah

porsi makanan sampel 69,7% berukuran sedang, 6% sampel

memiliki kebiasaan makan dengan porsi besar dan 12,1% sampel

memiliki kebiasaan makan dengan porsi kecil. Jumlah porsi yang

sesuai akan meningkatkan daya tarik seseorang untuk menyantap

makanan(36).

Penelitian Anwar, dkk menyatakan beberapa faktor yang

mempengaruhi besarnya sisa makanan yaitu porsi terlalu banyak,

rasa kurang enak, kenyang, nafsu makan menurun(37).

Berdasarkan penelitian Iftitah mengatakan adanya hubungan

antara porsi makanan dengan sisa makanan(38). Penelitian serupa

yang dilakukan oleh Sari yaitu berdasarkan analisis statistik nilai

OR=4,6 artinya responden yang berpendapat konsistensi makanan

tidak sesuai mempunyai peluang menyisakan makanan 4,6 kali

dibandingkan dengan responden yang berpendapat sesuai(39).

2) Rasa Makanan

Rasa merupakan salah satu sifat dari makanan, minuman

dan bumbu yang dapat didefinisikan kumpulan hasil presepsi dari

stimulasi indera yang digabungkan dengan stimulasi pencernaan


26

berupa kesan yang diterima dari suatu produk yang ada di mulut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh bagian penelitian dan

pengembangan gizi di RSUP H. Adam Malik Medan sebanyak

52,3% pasien tidak menghabiskan menu makanan dan 53,1%

pasien menyatakan rasa tidak enak pada menu makanan yang

disajikan oleh instalasi gizi(40).

Menurut Liber et al, cita rasa dapat meningkatkan selera

makan pasien yang berdampak pada peningkatan konsumsi

makanan pada pasien dan akan mempengaruhi terjadinya sisa

makanan(41).

3) Waktu Penyajian

Ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien

adalah ketepatan penyediaan makanan, pada pasien sesuai dengan

jadwal yang telah ditentukan. penelitian Nareswara menyatakan

bahwa penampilan makanan merupakan salah satu faktor

terjadinya sisa makanan karena bentuk makanan, cara penyajian

makanan, hingga ketepatan waktu menghidangkan masih kurang

memuaskan dan kurang tepat(42).

4) Lama Rawat Inap

Data hubungan makanan pokok dengan lama hari rawat

tersebut dapat diketahui responden dengan sisa makanan pokok

>20% dengan lama rawat > 5 hari lebih banyak yaitu 8 orang

dibandingkan dengan responden yang memiliki sisa makanan


27

pokok ≤ 20 % dengan lama rawat > 5 hari sebanyak 3 orang, dari

data tersebut ada kecenderungan bahwa semakin banyak sisa

makanan pokok responden semakin panjang lama hari

rawatnya(43).

5) Makanan dari Luar Rumah Sakit

Pada penelitian yang pernah dilakukan di RSUD Kota

Semarang ditemukan sebesar 28,03% sisa makanan pada pasien

kelas III. Faktor yang menyebabkan sisa makanan yaitu konsumsi

makanan dari luar rumah sakit dan mutu makanan yang masih

kurang(44).

e. Cara penentuan sisa makanan

Penilaian asupan makanan pasien menurut Kemenkes RI,

yaitu dilakukan persentase makanan yang dapat dihabiskan dari satu

atau lebih waktu makan, dengan skor maksimal 80%. Studi sisa

makanan dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan

meliputi(2).

1) Menentukan pasien/menu yang akan diaudit

2) Pasien tidak boleh diberitahukan sebelum diaudit

3) Setelah pasien makan, alat yang digunakan diamati/diaudit

4) Amati dan catat estimasi sisa makanan dengan kategori:

a) Penuh (tidak dimakan)

b) 3/4 p (sisa makanan 3/4 porsi)

c) 1/2 p (sisa makanan 1/2 porsi)


28

d) 1/4 p (sisa makanan 1/4 porsi)

e) 0 (makan tidak tersisa)

5) Setelah diamati hitung skor dengan kategori:

a) Penuh dikalikan 0

b) 3/4 dikalikan 1

c) 1/2 dikalikan 2

d) 1/4 dikalikan 3

e) 0 dikalikan 4

total nilai
6) Formula= jumlah jenis menu x 4 x 100%(2).

Selain cara dari Kemkes RI, juga terdapat dua cara dalam

menentukan sisa makanan yaitu:(2).

1) Penimbangan Sisa Makanan

Menurut Komalawati, dkk., data sia makanan dapat diperoleh

dengan cara menimbang makanan yang tidak dihabiskan dengan cara

menimbang makanan yang tidak dihabiskan oleh pasien, kemudian

dirata-ratakan menurut jenis makanan. Persentase sisa makanan

dihitung dengan cara mambandingkan sisa makanan dengan standar

porsi makanan rumah sakit kali 100% dengan rumus:(13).

Ʃ makanan yang tersisa (gr) x 100%


Ʃ standar porsi makanan rumah sakit
29

2) Cara Taksiran Visual

Menurut Comstock, cara taksiran visual yaitu dengan

menggunakan skala pengukuran yang dikembangkan oleh Comstock

dengan menggunakan skala 6 poin, dengan kriteria sebagai berikut:

a) Skala 0 : dikonsumsi seluruhnya oleh pasien (habis dimakan)

b) Skala 1 : tersisa ¼ porsi

c) Skala 2 : tersisa ½ porsi

d) Skala 3 : tersisa ¾ porsi

e) Skala 4 : hanya dikonsumsi sedikit

f) Skala 5 : utuh

Tabel 1.2 Pengukuran skala Comstock

Keterangan :

0 = jika habis dimakan

1 = jika sisa ¼
30

2 = jika sisa ½

3 = jika sisa ¾

4 = jika dikonsumsi sedikit (± 1 sdm)

5 = jika utuh (tidak dikonsumsi sama sekali)

Setelah itu dikonversikan ke dalam persentase (%)

Skala 0 = 0%

Skala 1 = 25%

Skala 2 = 50%

Skala 3 = 75%

Skala 4 = 95%

Skala 5 = 100%(45).

B. Kerangka Teori

Berdasarkan landasan teori dimana rumah sakit merupakan institusi

pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan gizi yang terdiri dari

penyelenggaraan makanan, asupan gizi rawat inap, asupan gizi rawat jalan

serta penelitian dan pengembangan gizi terapan. Dimana jika salah satu

pelayan gizi tersebut tidak terpenuhi dapat menyebabkan adanya sisa

makanan. Sisa makanan dapat di pengaruhi beberapa faktor yaitu: faktor

internal yang terdiri dari psikologi dan kebiasaan makanan(1).

Faktor psikologi merupakan rasa takut karena sakit dan

ketidakbebasan karena penyakitnya sehingga menimbulkan rasa putus asa,

dan faktor kebiasaan makan dapat mempengaruhi pasien dalam

menghabiskan mkanan yang disajikan. faktor eksternal yang terdiri dari


31

penampilan makanan, rasa makanan, kebosanan, dan makanan dari luar

rumah sakit. Penampilan makanan pada rumah sakit sangat penting untuk

merangsang saraf melalui indra penglihatan sehingga mampu meningkatkan

selera makan pasien, begitupula untuk rasa makanan yang dipengaruhi oleh

indra pencium dan indra pengecap untuk meningkatkan selera makanan

pasien, kebosanan biasanya timbul bila pasien mengonsumsi makanan yang

tidak bervariasi sehingga pasien tidak berselera(34).

Adanya makanan luar rumah sakit yang dimakan oleh pasien

disebabkan oleh budaya membawah oleh-oleh ketika membesuk pasien. Serta

faktor lainnya yang terdiri atas cara penyajian, sikap petugas pengantar

makanan, kebersihan peralatan makanan dan kebersihan petugas yang

menyajikan makanan.

Berikut adalah gambar kerangka teori berdasarkan tinjauan pustaka

dapat dilihat pada gambar 2.1.


32

Rumah Sakit Pelayanan gizi di RS

Faktor internal :
A. Pelayanan gizi :
1. Psikologi
1. Penyelenggaraan
2. Kebiasaan makan
makanan
Faktor eksternal :
a. Besar porsi
1. Penampilan makanan
b. Standar resep
2. Rasa makanan
c. Siklus menu
3. Kebosanan
d. Variasi menu
4. Makanan dari luar RS
2. Asuhan gizi rawat inap
5. Jadwal penyajian makanan
3. Asuhan gizi rawat jalan
6. Lama rawat inap
4. Penelitian dan
Faktor lain :
pengembangan gizi
1. Cara penyajian
terapan
2. Sikap petugas pengantar
B. Mutu pelayanan makanan
makanan
C. Diet rumah sakit
3. Kebersihan peralatan
D. Waktu makan(1)
makan
4. Kebersihan petugas yang
Sisa Makanan
menyajikan makanan(1).
- Penimbangan sisa
makanan
- Visual Comstock

Gambar 2.1 Kerangka teori


33

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

A. Kerangka Konsep

Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan pelayanan gizi

dengan sisa mkanan pada pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari pada

tahun 2019. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu

variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen dalam

penelitian ini adalah sisa makanan dan untuk variabel independen yaitu

pelayanan gizi. Adapun kerangka konsep dari penelitian ini digambarkan

sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Pelayanan Gizi Rumah Sakit


- Porsi makanan
- Rasa makanan
Sisa makanan
- Waktu penyajian makananan
- Lama trawat inap
- Kebiasaan mengonsumsi makanan dari
luar rumah sakit
-

Keterangan : : Dependen
: Independen
: Hubungan
Gambar 3.2 Kerangka konsep penelitian
34

B. Definisi Oprasional dan Kriteria Objektif


Berikut adalah definisi oprasional dan kriteria objektif :
Tabel 1.2 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Variabel Definisi oprasional Kriteria Alat ukur Skala
penelitian objektif
pengukuran
Persen sisa Persen sisa makanan 1. Sedikit : bila Form sisa Ordinal
makanan adalah jumlah sisa makanan
makanan yang tidak <25% makanan
dimakan oleh pasien 2. Banyak : bila
dari yang disajikan sisa makanan
rumah sakit menurut >25% (2).
jenis makanannya 2.
Porsi makanan Besar volume yang 1. Kurang jika Kuesioner Nominal
disajikan untuk pasien
pasien menjawab
sedikit
2. Baik jika
pasien
menjawab
cukup(17)
Rasa makanan Tanggapan 1. Kurang jika Kuesioner Nominal
responden terhadap pasien
makanan yang menjawab
disajikan tidak
memuaskan
2. Cukup jika
pasien
menjawab
memuaskan
(17)
Waktu Ketepatan waktu 1. Tidak tepat Kuesioner Nominal
penyajian adalah kesesuaian apabila
makanan terhadap waktu waktu
makanan di sajikan penyajian
berdasarkan tidak sesuai
peraturan yang telah dengan
di tetapkan oleh waktu yang
rumah sakit di tentukan.
2. tepat apabila
waktu
penyajian
sesuai dengan
waktu yang di
tentukan(17)
Lama rawat Lama hari rawat 1. Lama: jika Kuesioner Nominal
inap pasien dikategorikan lama pasien
hari rawat panjang dirawat
35

Variabel Definisi oprasional Kriteria Alat ukur Skala


penelitian objektif
pengukuran
bila dirawat > 5 hari selama > 5
dan lama hari rawat hari
pendek bila 2. Cepat: jika
responden dirawat ≤ pasien
5 hari dirawat < 5
hari(38).
Konsumsi Pasien 1. Pernah: jika Kuesioner Nominal
makanan dari mengonsumsi skor <1 kali
luar rumah makanan yang 2. Tidak
sakit bukan disajikan pernah: jika
oleh rumah sakit skor > 1
kali(46).
Sumber : (2)(17)(38)(46).
C. Hipotesis Penelitian

1. Porsi Makanan

Ha : Ada hubungan antara porsi makanan dengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari

Ho : Tidak ada hubungan antara porsi makanan dengan sisa makanan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari

2. Rasa Makanan

Ha : Ada hubungan antara rasa makanan dengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari

Ho : Tidak ada hubungan antara rasa makanan dengan sisa makanan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari.

3. Waktu Penyajian Makanan

Ha : Ada hubungan antara waktu penyajian makanan dengan sisa

makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari

Ho : Tidak ada hubungan antara waktu penyajian makanan dengan sisa

makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari


36

4. Lama Rawat Inap

Ha : Ada hubungan antara lama rawat inap dengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari.

Ho : Tidak ada hubungan antara lama rawat inap dengan sisa makanan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari.

5. Kebiasaan Mengonsumsi Makanan dari Luar Rumah Sakit

Ha : Ada hubungan antara kebiasaan makan dengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari.

Ho : Tidak ada hubungan antara kebiasaan makan dengan sisa makanan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari.


37

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan

rancangan Cross Sectional Study yaitu penelitian yang dilakukan pada waktu

dan tempat secara bersamaan(47). Penelitian ini hendak menganalisis

hubungan antara variabel dependen dan variabel independen.

Populasi

Sampel

Faktor resiko (+) Faktor resiko (-)

Efek (+) Efek (-) Efek (+) Efek (-)

Gambar 1.3 Bagan Rancangan Cross Sectional Study

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di gedung Lavender pada ruang

perawatan kelas III Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari.


38

2. Waktu penelitian

Waktu penelitian ini dari pembuatan proposal sampai penyusunan

Karya Tulis Ilmiah dimulai dari Bulan Maret–Juli 2019. Pengambilan data

dilakukan Bulan 24 Juni-8 juli 2019.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat inap di

gedung Lavender ruang perawatan kelas III RSUD Kota Kendari tahun

2019 sebanyak 206 pasien.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian adalah sebagian pasien rawat inap di

gedung Lavender ruang perawatan kelas III Rumah Sakit Umum Daerah

Kota Kendari tahun 2019. Semua responden yang diambil telah

memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sehingga dapat dimasukkan dalam

penelitian. Kriteria inklusi penelitian ini adalah bersedia mengikuti

penelitian, pasien bisa berkomunikasi dengan baik, pasien diberikan

makanan dengan diit biasa.

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan

Accidental sampling. yaitu tehnik pengambilan sampel dengan mengambil

responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia(48).


39

D. Pengumpulan Data

Jenis atau cara pengumpulan data dari penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari pasien yang

meliputi :

a. Identitas pasien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan dan

pekerjaan.

b. Porsi makanan, rasa makanan, waktu penyajian makanan, lama rawat

inap dan kebiasaan mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit

dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan alat bantu berupa

kuesioner.

c. Sisa makanan dikumpulkan dengan cara mengukur sisa makanan

pasien rawat inap yang diukur menggunakan taksiran visual dengan

skala Comstock 6 poin (persen sisa makanan) setiap selesai makan

pagi, siang dan sore selama satu minggu penelitian.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung.

Data sekunder dalam penelitian ini berupa gambaran umum rumah sakit

dan instalasi gizi seperti letak wilayah, ketenagaan, sarana dan prasarana

dan juga data awal sisa makanan pasien terolah di RSUD. Kota Kendari.
40

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini adalah alat yang digunakan saat penelitian

yakni :

1. Kuesioner

Kuesioner adalah untuk mengetahui pendapat pasien tentang porsi

makanan, rasa makanan, waktu penyajian, lama rawat inap dan

kebiasaan mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit.

2. Form sisa makanan

Form sisa makanan adalah alat untuk mengukur sisa makanan. Hasil

pengukuran untuk mengetahui hubungan antara variabel menggunakan

Program Software Produck Statistic Solution SPSS tipe 16 dengan uji

statistik yang digunakan Chi-Square α = 0,05.

F. Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak

komputer. Adapun tahapan pengolahan data yang akan dilakukan adalah :

a. Pengkodean (Coding) adalah mengklasifikasikan jawaban dari para

responden kedalam kategori berdasarkan kode yang diberikan. Hal ini

dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengolahan data.

b. Pengeditan (Editing) adalah memeriksa kembali semua data yang

terkumpul untuk mengetahui kelengkapan, kesalahan dan tidak

konsisten dalam pengisian.


41

c. Proses (Processing) adalah memasukan data yang sudah terkumpul dan

siap untuk diolah dengan menggunakan analisis deskriptif maupun

analis statistic

d. Pembersihan (Cleaning) data adalah melakukan pembersihan dan

pengecekan kembali data masuk. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk

mengetahui apakah ada kesalahan ketika memasukan data.

e. Tabulasi (Tabulating) adalah membuat tabel yang berisikan data yang telah

diberi kode sesuai dengan analisis yang dibutuhkan(49).

2. Analisa Data

a. Uji Validitas

Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan pada bulan

Juni 2019 dengan jumlah responden 10 orang yang memiliki kemiripan

dengan responden penelitian sebenarnya. Perhitungan uji validitas dan

reliabilitas akan diolah secara manual dengan perhitungan rumus dan

menggunakan nilai signifikansi p < 0,05 (49). Uji validitas pada

penelitian ini menggunakan “Pearson Product Moment” dengan rumus

sebagai berikut : Rumus Pearson Product Moment(50).

rxy = NΣXY - (ΣX) (ΣY)

√{NΣX2 - ( ΣX2) } {NΣY2 – (ΣY)2 }

Keterangan :

rxy = koefisien korelasi

N = jumlah responden uji coba

X = skor tiap item


42

Y = skor seluruh item responden uji coba

Apabila angka korelasi (r-hitung) antara skor item (X) dengan

skor total (Y) lebih besar dari r-tabel, maka item dinyatakan valid. Nilai

r tabel untuk sampel 15 sebesar 0.982

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hasil

pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau

lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur

yang sama pula. Kriteria suatu instrument penelitian dikatakan reabel

apabila koefisien reliabilitas (r > 0,6)(49). Tehnik pengukuran

reliabilitas tergantung dari skala yang digunakan, untuk skala 1-3, 1-5

dan 1-7 maka digunakan tehnik Alpha Cronbach yang digunakan untuk

menentukan apakah instrument penelitian dikatakan reabel apabila

reliabilitas (r> 0,6), rumus uji reliabilitas yaitu(51):

Keterangan :

r11 = Reliabilitas yang dicari

n = jumlah item pertanyaan yang di uji

Σɗt2 = jumlah varians skor tiap-tiap item

ɗt2 = vrian total


43

Kriteria uji reliabilitas: jika r-hitung > tabel, maka butir

instrument dikatakan reliabel. Berikut ini adalah hasil uji reliabilitas.

Nilai r tabel untuk sampel 15 sebesar 0,620.

c. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian

dan digunakan untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi dan

persentase dari variabel bebas dan variabel terikat. Analisa ini digunakan

untuk mengetahui hubungan pelayanan gizi dengan sisa makanan dengan

cara menghitung hasil dari pengisian kuesioner yang telah terkumpul dari

para responden. Setelah data terkumpul, peneliti akan mengolah data

dalam bentuk persentase dan data akan disajikan dalam bentuk tabel (51).

d. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk

mengetahui hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat

dengan menggunakan uji statistik Chi-Square dan Eksa Fisher

menggunakan perangkat lunak Komputer. Untuk interprestasi data yaitu

p value dibandingkan dengan α, pada taraf signifikan 95 % atau 0,05.

1) Pengambilan keputusan p ≤ α (0,05) maka Ho ditolak dan Ha

diterima yang berarti ada hubungan antara variabel yang diteliti.

2) Pengambilan p > α (0,05) maka Ho gagal diterima dan Ha ditolak

yang berarti tidak ada hubungan antara variabel yang diteliti(52).


44

G. Etika Penelitian

Etika penelitian menurut Kemenkes RI, meliputi:

1. Prinsip menghormati harkat martabat manusia (respect for persons)

Prinsip ini merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat

manusia sebagai pribadi yang memiliki kebebasan berkehendak atau

memilih dan sekaligus bertanggung jawab secara pribadi terhadap

keputusannya sendiri.

2. Prinsip berbuat baik (beneficence) dan tidak merugikan (non-maleficence)

Prinsip berbuat baik menyangkut kewajiban membantu orang lain

dengan mengupayakan manfaat maksimal dengan kerugian minimal.

Prinsip tidak merugikan menyatakan bahwa jika orang tidak dapat

melakukan hal-hal yang bermanfaat, maka minimal tidak merugikan orang

lain.

3. Prinsip keadilan (justice)

Prinsip etik keadilan mengacu pada kewajiban untuk

memperlakukan setiap orang sama dengan moral yang benar dan layak

dalam memperoleh haknya. Prinsi etik keadilan terutama menyangkut

keadilan distributif yang mempersyaratkan pembagian seimbang dalam hal

beban dan manfaat yang diperoleh subjek dari keikutsertaan dalam

penelitian.
45

4. Persetujuan Menjadi Responden Informed Consent

Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang memenuhi

kriteria inklusi, bila responden menolak, peneliti tidak memaksa dan tetap

menghormati hak-hak responden(53).

H. Alur Penelitian

Adapun alur penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3 berikut:

Penetapan masalah

Pengambilan data awal di RSUD. Kota


Kendari

Penulisan proposal

Ujian proposal

Uji validitas dan Reabilitas

Penelitian lapangan

Pengolahan dan analisa data

Hasil dan pembahasan

Simpulan dan saran

Gambar 4.3 Alur penelitian


46

I. Jadwal Penelitian

Tabel 1.4. Jadwal penelitian

No Kegiatan Waktu penelitian


Maret April Mei Juni Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan
a. Studi pendahuluan
b. Penyusunan
proposal
c. Konsultasi
pembimbing
d. Seminar proposal
e. Perbaikan proposal
2 Pelaksanaan
penelitian
a. Konsultasi
pembimbing
b. Seminar hasil
c. Ujian skripsi
47

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Berdirinya RSUD Kota Kendari

RSUD Kota Kendari awalnya terletak di kota Kendari, tepatnya di

Kelurahan Kandai Kecamatan Kendari dengan luas lahan 3.527 M2 dan

luas bangunan 1.800 M2. RSUD Kota Kendari merupakan bangunan atau

gedung peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang didirikan pada tahun

1927 dan telah mengalami beberapa kali perubahan antara lain :

a. Dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1927

b. Dilakukan rehabilitasi oleh Pemerintah Jepang pada tahun 1942-1945

c. Menjadi Rumah Sakit Tentara pada tahun 1945-1960

d. Menjadi RSU Kabupaten Kendari pada tahun 1960-1989

e. Menjadi Puskesmas Gunung Jati pada tahun 1989-2001

f. Menjadi RSU Kota Kendari pada tahun 2001 berdasarkan Perda Kota

Kendari No.17 tahun 2001

g. Diresmikan penggunaannya sebagai RSUD Abunawas Kota Kendari

oleh Bapak Walikota Kendari pada tanggal 23 januari 2003

h. Pada Tahun 2008, oleh pemerintah Kota Kendari telah membebaskan

lahan seluas 13.000 ha untuk relokasi Rumah Sakit, yang dibangun

secara bertahap dengan menggunakan dana APBD, TP dan DAK.

i. Pada tanggal 9 Desember 2011 Rumah Sakit Umum Daerah

Abunawas Kota Kendari resmi menempati Gedung baru yang terletak


48

di Jl. Brigjen Z.A Sugianto No: 39 Kel. Kambu Kec. Kambu Kota

Kendari.

j. Terakreditasi oleh TIM Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), No.

SERT 139/1/2012 lulus tingkat dasar dengan 5 pelayanan

(Administrasi dan Manajemen, Rekam Medik, Pelayanan

Keperawatan, Pelayanan Medik dan IGD).

k. Berdasarkan SK Walikota Kendari No. 16 tahun 2015 tanggal 13 Mei

2015 dikembalikan namanya menjadi RSUD Kota Kendari sesuai

PERDA Kota Kendari No. 17 tahun 2001.

2. Dasar Penyelanggaraan

a. Berdasarkan SK Walikota Kendari no 16 tahun 2015 tanggal 13 mei

2015 namanya menjadi RSUD Kota Kendari sesuai PERDA Kota

Kendari No 17 tahun 2001.

b. Ijin operasional tetap Rumah Sakit dari Walikota Kendari No

56/IZN/2016/001 berlaku dari 13 januari 2016 sampai dengan 13

januari 2021.

c. Penetapan kelas Rumah Sakit menjadi RS Kelas C dari Kementerian

Kesehatan RI No. HK 0305/1/1857/12 tanggal 3 oktober 2012

d. Akreditasi Rumah Sakit No. KARS SERT 412/V/2017 dengan

predikat Lulus Tingkat Perdana Bintang Satu


49

3. Sarana Gedung

RSUD Kota Kendari saat ini memiliki saran gedung sebagai

berikut :

a. Gedung Anthurium (Kantor)

b. Gedung Bougenville (Poliklinik)

c. Gedung IGD

d. Gedung Matahari (Radiologi)

e. Gedung Anyelir (Kamar Operasi)

f. Gedung Asoka (ICCU)

g. Gedung Dahlia (ICU)

h. Gedung Teratai (Obgyn - Ponek)

i. Gedung Lavender (Rawat Inap penyakit dalam)

j. Gedung Mawar (Rawat Inap Anak)

k. Gedung Melati (Rawat Inap Bedah)

l. Gedung Tulip (Rawat Inap Saraf dan THT)

m. Gedung Anggrek (Rawat Inap Kls I dan Kls II)

n. Gedung Sakura (Rawat Inap VIP)

o. Gedung Instalasi Gizi

p. Gedung Loundry

q. Gedung Laboratorium

r. Gedung Kamar Jenazah

s. Gedung Apotek
50

t. Gedung PMCC (Private Medical Care Center) 3 lantai di lengkapi

dengan:

1) Ruang Poli terpadu 18 unit

2) Ruang Unit gawat darurat 1 unit

3) Ruang laboratorium 1 unit

4) Ruang apotek 1 unit

5) Ruang Rawat inap VIP, VVIP, Eksekutif 25 unit

6) Dilengkapi dengan fasilitas lift menuju lantai 2 dan 3

Dalam menunjang pelaksanaan kegiatan RSUD Kota Kendari di

lengkapi dengan 4 unit mobil ambulance, 1 buah mobil direktur, 10 buah

mobil operasional dokter spesialis dan 10 buah sepeda motor.

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik responden

Karakteristik responden yang diteliti meliputi usia dan jenis

kelamin seluruh pasien rawat inap di ruang perawatan Lavender RSUD

Kota Kendari.
51

a. Umur
Distribusi responden berdasarkan umur dapat dilihat pada

tabel 5.1 berikut:

Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan umur di RSUD Kota


Kendari
Umur Mean + (SD)
Umur responden 47,1 + 16.216
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Tabel 5.1 menunjukkan untuk rata-rata umur responden nilai

mean 47,1 tahun dengan standar deviasi 16.216.

b. Jenis kelamin

Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dapat di lihat

pada tabel 5.2 berikut:

Tabel 5.2 Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di


RSUD Kota Kendari

Jenis kelamin n %
Laki-laki 25 42,4
Perempuan 34 57,6
Total 59 100,0
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Tabel 5.2 menunjukkan dari total 59, responden yang berjenis

kelamin laki-laki sebanyak 25 orang (42.4%) dan yang berjenis

kelamin perempuan sebanyak 34 orang (57,6%).


52

c. Pendidikan

Distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat

pada tabel 5.3 berikut:

Tabel 5.3 Distribusi responden berdasarkan pendidikan di RSUD


Kota Kendari
Pendidikan n %
SD 23 39,0
SMP 13 22,0
SMA 11 18,6
S1/S2 12 20,3
Total 59 100,0
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Tabel 5.3 dapat diketahui bahwa pendidikan terakhir

responden pada jenjang SD adalah yang paling banyak yaitu 23 orang

(39,0%), dan pendidikan terakhir responden yang paling sedikit pada

jenjang SMA yaitu 11 orang (18,6%).

d. Pekerjaan

Distribusi responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat

pada tabel 5.4 berikut:

Tabel 5.4 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di RSUD


Kota Kendari.
Pekerjaan n %
Petani 12 20,3
Nelayan 3 5,1
Swasta/PNS 21 35,6
IRT 23 39,0
Total 59 100,0
Sumber : Data terolah, 2019

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa pekerjaan responden yang

paling banyak adalah ibu rumah tangga (IRT) yaitu sebanyak 23 orang

(39,0%), dan pekerjaan responden sebagai nelayan yang paling sedikit

yaitu 3 orang (5,1%).


53

2. Analisis Univariat

a. Sisa makanan

Distribusi sisa makanan pasien di Rumah Sakit Umum

Daerah Kota Kendari

Tabel 5.5 Distribusi frekuensi sisa makanan pasien rawat inap di


RSUD Kota Kendari
Sisa makanan n %
Sedikit 39 66,1
Banyak 20 33,9
Total 59 100
Sumber : Data primer terolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5.5 di atas dari 59 sampel sisa makanan

sedikit yaitu 39 orang (66,1%) sedangkan sisa makanan banyak yaitu

20 orang (33,9%).

b. Porsi makanan

Distribusi porsi makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit

Umum Daerah Kota Kendari

Tabel 5.6 Distribusi frekuensi porsi makanan pasien rawat inap


di RSUD Kota kendari
Porsi makanan n %
Banyak 13 22
Cukup 46 78
Total 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Berdasarkan tabel 5.6 di atas dari 59 responden porsi

makanan dengan kategori banyak yaitu 13 orang (22%) dan porsi

makanan dengan kategori cukup yaitu 46 orang (78%).


54

c. Rasa makanan

Distribusi rasa makanan pasien rawat inap di Rumah sakit

Umum Daerah Kota Kendari

Tabel 5.7 Distribusi frekuensi rasa makanan pasien rawat inap di


RSUD Kota Kendari
Rasa makanan n %
Tidak memuaskan 7 11,9
Memuaskan 52 88,1
Total 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Berdasarkan tabel 5.7 di atas dari 59 responden rasa makanan

dengan kategori tidak memuaskan sebanyak 7 orang (11,9%) dan

responden dengan kategori memuaskan sebanyak 52 orang (88,1%).

d. Waktu penyajian makanan

Distribusi waktu penyajian pasien rawat inap di Rumah Sakit

Umum Daerah Kota Kendari

Tabel 5.8 Distribusi frekuensi waktu penyajian makanan pasien


Rawat Inap di RSUD Kota Kendari
Waktu penyajian n %
makanan
Tepat 55 93,2
Tidak tepat 4 6,8
Total 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Berdasarkan tabel 5.8 di atas dari 59 responden waktu

penyajian dengan kategori cepat sebanyak 55 orang (93,2%) dan

responden engan kategori tidak tepat sebanayak 4 orang (6,8%).


55

e. Lama rawat inap

Distrubsi lama rawat inap pasien di Rumah sakit Umum

Daerah Kota Kendari

Tabel 5.9 Distribusi frekuensi lama rawat inap di RSUD Kota


Kendari
Lama rawat inap n %
Cepat 54 91,5
Lama 5 8,5
Total 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Berdasarkan tabel 5.9 di atas dari 59 responden lama rawat

inap dengan kategori cepat sebanyak 54 orang (91,5%) dan responden

dengan kategori lama sebanyak 5 orang (8,5%).

f. Makanan dari luar rumah sakit

Distribusi makanan dari luar rumah sakit di Rumah Sakit

Umum Daerah Kota Kendari

Tabel 5.10 Distribusi frekuensi makanan dari luar rumah sakit di


RSUD Kota Kendari
Makanan dari luar n %
ruamh sakit
Ya 35 59,3
Tidak 24 40,7
Total 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Berdasarkan tabel 5.10 di atas dari 59 responden, makanan

dari luar rumah sakit dengan kategori ya sebanyak 35 orang (59,3%)

dan responden dengan kategori tidak sebanyak 24 orang (40,7%).


56

3. Analisis Bivariat

a. Hubungan porsi makanan dengan sisa makanan pasien rawat inap di

RSUD. Kota Kendari

Tabel 5.11 Hasil Analisis Uji Exact Fisher Porsi Makanan dengan
Sisa Makanan Pasien Rawat Inap di RSUD Kota
Kendari.

Sisa makanan Total


Porsi makanan p value
Sedikit Banyak n %
n % n %
Banyak 5 38,5 8 61,5 13 100
Cukup 34 73,9 12 26,1 46 100 0,024
Total 39 66,1 20 33,9 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Tabel 5.11 menunjukkan dari 13 orang yang porsi makannya

banyak, terdapat 8 orang (61,5%) sisa makanannya banyak dan 5

orang (38,5%) sisa makannya sedikit. Selanjutnya dari 46 orang yang

porsi makannya cukup, terdapat 34 orang (73,9%) sisa makannya

sedikit dan 12 orang (26,1%) sisa makannya banyak.

Hasil uji Exact Fisher diperoleh nilai p value 0,024 < ɑ (0,05)

maka Ha diterima sehingga ada hubungan porsi makanan dengan sisa

makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari.


57

b. Hubungan rasa makanan dengan sisa makanan pasien rawat inap di

RSUD. Kota Kendari

Tabel 5.12 Hasil Analisis Uji Exsct Fisher Rasa Makanan dengan
Sisa Makanan Pasien Rawat Inap di RSUD Kota
Kendari
Sisa makanan Total p
Rasa makanan value
Sedikit Banyak n %
n % n %
Memuaskan 38 73,1 14 26,9 52 100
Tidak memuaskan 1 14,3 6 85,7 7 100 0,005
Total 39 66,1 20 33,9 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019
Tabel 5.12 menunjukkan dari 52 orang dengan kategori rasa

makannya memuaskan terdapat 14 orang (26,9%) sisa makannya

banyak dan 38 orang (73,1%) sisa makannya sedikit. Selanjutnya dari

7 orang dengan kategori rasa makannya tidak memuaskan terdapat 6

orang (85,7%) sisa makannya banyak dan 1 orang (14,3%) sisa

makannya sedikit.

Hasil uji Exsact Fisher diperoleh nilai p value 0,005 < ɑ

(0,05) maka Ha diterima sehingga ada hubungan rasa makanan dengan

sisa makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari.


58

c. Hubungan waktu penyajian makanan dengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD. Kota Kendari

Tabel 5.13 Hasil analisis uji Exsact Fisher waktu penyajian


makanan dengan sisa makanan pasien rawat inap di
RSUD Kota kendari

Waktu Sisa makanan Total p value


penyajian Sedikit Banyak n %
makanan
n % n %
Tepat 38 69,1 17 30,9 55 100
Tidak tepat 1 25,0 3 75,0 4 100 0,108
Total 39 66,1 20 33,9 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019
Tabel 5.13 menunjukkan dari 55 orang dengan kategori

waktu penyajian tepat, terdapat 17 orang (30,9%) sisa makanannya

banyak dan 38 orang (69,1%) sisa makanannya sedikit. Selanjutnya

dari 4 orang dengan kategori waktu penyajiannya tidak tepat, terdapat

3 orang (75,0%) sisa makanannya banyak dan 1 orang (25%) sisa

makanannya sedikit.

Hasil uji Exact Fisher diperoleh nilai p value 0,108 > ɑ (0,05)

maka Ha tidak diterima sehingga tidak ada hubungan waktu penyajian

dengan sisa makanan pasien rawat inap di RSUD. Kota Kendari.


59

d. Hubungan lama rawat inap dengan sisa makanan pasien rawat inap di

RSUD.Kota Kendari

Tabel5.14 Hasil Analisis Uji Exact Fisher Lama Rawat Inap


dengan Sisa Makanan Pasien Rawat Inap di RSUD
Kota Kendari

Lama rawat Sisa makanan Total p value


inap Sedikit Banyak n %
n % n %
Cepat 35 64,8 19 35,2 54 100
Lama 4 80,0 1 20,0 5 100 0,653
Total 39 66,1 20 33,9 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019
Berdasarkan tabel 5.14 menunjukkan bahwa dari 54 orang

yang kategori lama rawat inapnya cepat, terdapat 19 orang (35,2%)

sisa makanannya banyak dan 35 orang (64,8%) sisa makananya

sedikit. Selanjutnya dari 5 orang yang kategori lama rawat inapnya

lama, terdapat 1 orang (20,0%) sisa makanannya banyak dan 4 orang

(80,0%) sisa makanannya sedikit.

Hasil uji Exact Fisher diperoleh nilai p value 0,653 > ɑ (0,05)

maka Ha tidak diterima sehingga tidak ada hubungan lama rawat inap

dengan sisa makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari.


60

e. Hubungan makanan dari luar rumah sakit dengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD. Kota Kendari

Tabel 5.15 Hasil Analisis Uji Chi-square Makanan dari Luar


Rumah Sakit dengan Sisa Makanan di RSUD Kota
Kendari

Makanan dari Sisa makanan Total p value


luar rumah sakit
Sedikit Banyak n %
n % n %
Ya 29 82,9 6 17,1 35 100
Tidak 10 41,7 14 58,3 24 100 0,001
Total 39 66,1 20 33,9 59 100
Sumber : Data Primer Terolah, 2019

Berdasarkan tabel 5.15 menunjukkan bahwa 35 orang dengan

kategori ya, terdapat 6 orang (17,1%) yang sisa makanannya banyak

dan 29 orang (82,9%) yang sisa makanannya sedikit. Selanjutnya dari

24 orang dengan kategori tidak, terdapat 14 orang (58,3%) yang sisa

makanannya banyak dan 10 orang (41,7%) yang sisa makanannya

sedikit.

Hasil uji chi-square diperoleh nilai p value 0,001 < ɑ (0,05)

maka Ha diterima sehingga ada hubungan makanan dari luar rumah

sakit dengan sisa makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari.
61

C. Pembahasan

1. Hubungan Porsi Makanan dengan Sisa Makanan Pasien Rawat Inap

di RSUD. Kota Kendari

Berdasarkan hasil penelitian ada hubungan porsi makanan

dengan sisa makanan pasien di RSUD Kota Kendari. Penelitian ini serupa

dengan yang dilakukan Sari yaitu berdasarkan analisis statistik nilai

OR=4,6 yang artinya responden yang mengatakan porsi makanan banyak

memiliki peluang untuk menyisahkan makanan 4,6 kali dibandingkan

dengan responden yang mengatakan cukup(39).

Penelitian menunjukkan sebagian responden menyatakan porsi

makanan dengan kategori banyak sebesar 61,5% sisa makanan banyak, ini

sejalan dengan Hartatik yang menyatakan bahwa jika porsi makanan

banyak maka akan meninggalkan sisa makanan yang banyak. Meskipun

responden menyatakan porsi makanan banyak, namun ada responden

yang memiliki sisa makanan sedikit yaitu sebesar 38,5% hal ini terjadi

karena responden memiliki nafsu makan yang cukup besar. Selanjutnya

responden yang menyatakan porsi makanan cukup, memiliki sisa

makanan banyak sebesar 26,1% dalam hal ini responden tidak menyukai

dengan rasa makanan yang ada di RSUD Kota Kendari dan sisa makanan

dengan kategori cukup sebesar 73,9%.

Berdasarkan analisis bivariat meskipun pasien mengatakan

porsi makanan banyak tetapi masih ada pasien yang memiliki sisa

makanan sedikit, dalam hal ini pasien mengatakan meskipun porsi


62

makanannya banyak tetapi tetap menghabiskan karena ingin sembuh.

Kemudian untuk porsi makanan dengan kategori cukup masih ada pasien

yang memiliki sisa makanan banyak ini terjadi karena pasien

mengonsumsi juga makanan yang dibawakan oleh keluarganya sehingga

tidak menghabiskan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.

Adapun jika dikaitkan dengan karakteristik responden,

kelompok jenis kelamin yang paling banyak menyatakan porsi makanan

dengan kategori banyak adalah perempuan sebesar 29,4% dan untuk laki-

laki sebesar 12,0% sedangkan untuk porsi makanan dengan kategori

cukup jenis kelamin laki-laki adalah yang paling banyak yaitu sebesar

88,0% dan perempun sebesar 70,6%.

Hal ini disebabkan perbedaan kebutuhan energi antara

perempuan dan laki-laki, dimana kalori basal perempuan lebih rendah

sekitar 5-10% dari kebutuhan basal laki-laki. Perbedaan ini terlihat pada

susunan tubuh, aktivitas dimana laki-laki lebih banyak menggunakan

kerja otot daripada perempuan(44).

2. Hubungan Rasa Makanan dengan Sisa Makanan Pasien Rawat Inap

di RSUD. Kota Kendari

Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan nilai p value 0,005 <

ɑ (0,05) sehingga ada hubungan antara rasa makanan dengan sisa

makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari. Peryataan ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartini dkk, yang mengatakan


63

bahwa rasa makanan ada hubungan dengan sisa makanan dengan p value

0,003(15).

Hasil pada penelitian ini responden yang menilai rasa makanan

memuaskan sebesar 73,1% sisa makanan sedikit dan 26,9% sisa makanan

banyak. Selanjutnya responden yang menilai rasa makanan tidak

memuaskan sebesar 14,3% sisa makanan sedikit dan 85,7% sisa makanan

banyak. Pada variabel rasa makanan meskipun pasien mengatakan

memuaskan namun masih ada pasien yang memiliki sisa makanan yang

banyak hal ini terjadi karena responden memiliki nafsu makan yang

kurang karena penyakit yang diderita pasien sehingga tidak menghabiskan

makanan yang telah disediakan. Selanjutnya meskipun pasien mengatakan

rasa makanan tidak memuaskan tetapi masih ada pasien yang memiliki

sisa makanan sedikit, pasien mengatakan jika tetap menghabiskannya

karena lapar.

Responden yang menyatakan rasa makanan memuaskan terbanyak

terdapat pada kelompok umur 16-30 tahun sebesar 88,9%, dan yang

paling sedikit ada pada kelompok umur 30-41 tahun sebesar 81,8%

meskipun responden menjawab rasa makanan memuaskan tetapi

responden mengatakan tidak memiliki nafsu makan untuk mengonsumsi

makanan yang disiapkan oleh pihak rumah sakit, hal ini terjadi karena

pada saat sakit mulai terjadi penurunan kemampuan dalam merasakan cita

rasa makanan sehingga mempengaruhi rendahnya asupan makan

seseorang dan menimbulkan makanan yang tersisa.


64

Berdasarkan tabel 5.12 menunjukkan bahwa semakin baik

penilaian responden terhadap rasa makanan maka semakin sedikit sisa

makanannya. Hal ini sejalan dengan penelitian di RSUD Sanglah

Denpasar bahwa pasien dengan sisa makanan sedikit cenderung menilai

rasa makanan rumah sakit dalam kategori memuaskan begitupula

sebaliknya pasien dengan sisa makanan banyak cenderung menilai rasa

makanan tidak memuaskan dalam hal ini rasa makanan merupakan aspek

penilaian makanan yang sulit dinilai secara akurat karena bersifat sangat

subyektif, sehingga penilaian rasa makanan tergantung selera pasien yang

mengkonsumsinya, jika makanan yang ada di RSUD Kota Kendari sesuai

dengan selera pasien maka akan meninggalkan sisa makanan sedikit

begitupula sebaliknya(54).

3. Hubungan Waktu Penyajian Makanan dengan Sisa Makanan Pasien

Rawat Inap di RSUD Kota Kendari

Hasil dalam penelitian ini diperoleh nilai p value 0,108 > ɑ

(0,05) sehingga tidak ada hubungan antara waktu penyajian makanan

dengan sisa makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari. Hasil

penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Silano

dkk, yang mengatakan bahwa ada hubungan antara waktu penyajian

makanan dengan sisa makanan dengan P=0,037(55). Hal ini karena di

RSUD Kota Kendari hampir seluruh pasien mengatakan jika waktu

penyajian sudah tepat dibandingkan di RSUP Sanglah Denpasar.


65

Berdasarkan hasil penelitian, responden dengan kategori tepat

sebesar 69,1% sisa makanan sedikit, dan 30,9% sisa makanan banyak.

Selanjutnya responden dalam kategori tidak tepat sebesar 25,0% sisa

makanan sedikit dan 75,0% sisa makanan banyak. Berdasarkan analisis

bivariat meskipun pasien mengatakan waktu penyajian makanan tepat

waktu tetapi masih ada pasien yang memiliki sisa makanan banyak, hal

ini terjadi karena pasien tidak terbiasa dengan makanan yang disiapkan

oleh pihak rumah sakit selanjutnya pasien yang mengatakan waktu

penyajian tidak tepat memiliki sisa makanan yang sedikit dalam hal ini

pasien tetap menghabiskan makanannya meskipun waktu penyajiannya

tidak tepat waktu selain itu pasien juga tidak mengonsumsi makanan

selain makanan yang ada di RSUD Kota Kendari.

Ada sebagian responden yang mengatakan jika waktu penyajian

tidak tepat karena responden mendapatkan makanan lebih cepat dari

jadwal yang telah ditentukan. Hal ini terjadi karena letak dapur dengan

bangsal berjarak < 15 meter, sehingga proses distribusi makanan

berlangsung cepat.

4. Hubungan Lama Rawat Inap dengan Sisa Makanan Pasien Rawat

Inap di RSUD Kota Kendari

Hasil dalam penelitian ini diperoleh nilai p value 0,653 > ɑ (0,05)

sehingga tidak ada hubungan antara lama rawat inap dengan sisa makanan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari. Penelitian ini sejalan dengan

Wirasamadi, dkk yang dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar yang


66

menyatakan jika tidak ada hubungan antara lamanya waktu perawatan

pasien dengan persen sisa makanan(58).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa responden

dengan kategori cepat sebesar 64,8% sisa makanan sedikit dan 32,2% sisa

makanan banyak, hal ini terjadi karena responden belum terbiasa dengan

rasa makanan yang ada di rumah sakit tersebut. Sedangkan untuk lama

rawat inap dalam kategori lama sebesar 80% sisa makanan sedikit dan

20,0% sisa makanan banyak, hal ini tidak sesuai dengan Fatimah, dkk

yang mengatakan bahwa subjek yang memiliki lama perawatan yang lebih

lama akan menyisakan makanan lebih banyak dari pada subjek yang

perawatannya tidak lama(56). Begitupula penelitian yang dilakukan oleh

Iswanto dkk, yang mengatakan ada kecenderungan bahwa semakin

banyak sisa makanan pokok responden semakin panjang lama hari

rawatnya(43).

Berdasarkan analisis uji bivariat terdapat pasien dengan lama

perawatan cepat memiliki sisa makanan banyak dalam hal ini pasien tidak

terbiasa dengan makanan yanga di siapkan oleh pihak rumah sakit begitu

pula pada pasien dengan masa perwatannya lama menyisakan makanan

karena bosan dengan makanan yang disiapkan oleh pihak rumah sakit.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan karakteristik responden jenis kelamin

laki-laki adalah responden yang memiliki masa perawatan yang paling

cepat yaitu sebesar 96,0% dan untuk perempuan sebesar 82,2% sedangkan

untuk lama perawatanya laki-laki sebesar 4,0% dan perempuan sebesar


67

11,8% dalam proses perawatan responden berjenis kelamin laki-laki

dominan lebih bersemangat dan mau menaati segala program pelayanan

keperawatan di rumah sakit umum daerah kota kendri dibandingkan

dengan responden berjenis kelamin perempuan hal ini dikarenakan

responden perempuan cenderung lebih kritis dalam penilaian

makanan(57).

5. Hubungan Makanan dari Luar Rumah Sakit dengan Sisa Makanan

Pasien Rawat Inap di RSUD Kota Kendari.

Hasil uji chi-square diperoleh nilai p value 0,001 < ɑ (0,05)

sehingga ada hubungan antara makanan dari luar rumah sakit dengan sisa

makanan pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari. Hal ini sejalan

dengan penelitian yang dilakukan Putri yang mengatakan bahwa ada

hubungan antara makanan dari luar rumah sakit dengan sisa makanan

dengan nilai p value 0,001(32).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa responden

yang mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit sebesar 82,9% sisa

makanan sedikit dan 17,1% sisa makanan banyak. Dalam hal ini pasien

mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit karena rasa makanan rumah

sakit sangat hambar untuk pasien tersebut. Hal ini terkait juga dengan

umur responden yang lebih dari 50 tahun dimana indra pengecap sudah

mulai menurun. Selanjutnya responden dengan kategori tidak

mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit sebesar 41,7% sisa makanan

sedikit dan 58,3% sisa makanan banyak. Responden tidak mengonsumsi


68

makanan dari luar rumah sakit karena responden tersebut sudah paham

akan kebutuhannya saat sakit dimana dalam karakteristik responden pada

kelompok pendidikan rata-rata SMA dan SI.

Responden yang mengatakan mengonsumsi makanan dari luar

rumah sakit karena tidak terbiasa dengan makanan yang disediakan oleh

pihak rumah sakit. Untuk kelompok jenis kelamin yang lebih banyak

mengosumsi makanan dari luar rumah sakit adalah perempuan sebesar

64,7% sedangkan laki-laki sebesar 52,0% makanan yang sering

dikonsumsi dari luar adalah kue kering dan bakso. Dan untuk kelompok

pendidikan dan pekerjan hanya dipengaruhi oleh kebiasaan makan

responden.

D. Keterbatasan penelitian

Penelitian ini tidak lepas dari keterbatasan saat mulai menyusun

sampai hasil akhir, keterbatasannya yaitu:

1. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pedekatan cross

sectional, sehingga masih perlu dilakukan penelitian secara kualitatif agar

diperoleh hasil penelitian yang lebih mendalam mengenai alasan pasien

tidak menghabiskan makanan.

2. Beberapa pasien kurang antusias dalam pengisian kuesioner dan

wawancara.

3. Tidak semua responden memberikan komentar/alasan untuk setiap skor

yang diberikan sehingga sulit untuk menkaji lebih dalam.


69

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan,

maka dapat ditarik kesimpulan penelitian sebagai berikut:

1. Ada hubungan antara porsi makanan dengan sisa makanan pasien rawat

inap di RSUD Kota Kendari yaitu p value 0,024 < ɑ 0,05.

2. Ada hubungan antara rasa makanan dengan sisa makanan pasien di RSUD

Kota Kendari yaitu p value 0,005 < ɑ 0,05.

3. Tidak ada hubungan antara waktu penyajian makanan dengan sisa

makanan pasien rawat inap di RSUD Kota kendari yaitu p value 0,108 > ɑ

0,05.

4. Tidak ada hubungan antara lama rawat inap dengan sisa makanan pasien

rawat inap di RSUD Kota Kendari yaitu p value 0,653 > ɑ 0,05

5. Ada hubungan antara makanan dari luar rumah sakit dengan sisa makanan

pasien rawat inap di RSUD Kota Kendari yaitu p value 0,002 < ɑ 0,05.

B. Saran

1. Bagi Rumah Sakit

a. Sebaiknya dipertegas untuk peraturan yang membawa makanan dari

luar rumah sakit.

b. Sebaiknya dilakukan pemorsian makanan sesuai dengan kebutuhan

pasien.
70

c. Diperlukan kerjasama antar seluruh profesi dan ahli gizi untuk

mendukung dan memberikan motivasi kepada pasien.

2. Bagi pasien rumah sakit

a. Agar tidak mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit dan tidak

menyisakan makanan sehingga mempercepat proses penyembuhan

penyakit.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Penelitian lanjut dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang

mempengaruhi sisa makanan seperti penyakit yang diderita pasien,

kondisi lingkungan sekitar, motivasi pasien dan dukungan keluarga

b. Penelitian dengan bentuk yang berbeda misalnya makanan saring.