Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Vol. 1, No. 1 Tahun 2018 | Hal. 1-8


e-ISSN: 2614-0039

Pendidikan Pancasila ditinjau dari perspektif filsafat (aksiologi)


Sunarni Yassa a,1*
a
Program Studi PPKn, Universitas Cokroaminoto Palopo, Sulawesi Selatan
1
sunarniyassa@gmail.com
*
korespondensi penulis

ABSTRAK
Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia
Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Pendidikan itu harus sejalan dengan tujuan pendidikan
nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia
yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia (ideologi) dan menjadi pedoman hidup, jiwa
dan keperibadian bangsa Indonesia. Pancasila terkandung di dalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis,
mendasar, rasional, sistematis dan komprehensif, sehingga sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai. Oleh karena itu,
Pancasila memberikan dasar-dasar yang bersifat fundamental dan universal bagi manusia baik dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bila dijabarkan dalam kehidupan yang nyata pada masyarakat, bangsa
maupun negara maka nilai tersebut dijabarkan dalam suatu norma-norma yang jelas, yaitu norma moral dan norma
hukum atau sistem perundangan yang berlaku di Indonesia. Dalam pemikiran filsafat aksiologi yang mengacu pada
persoalan nilai, baik dalam konteks estetika, moral maupun agama, mengkaji dan menggali hakikat nilai itu. Maka
melalui pendididkan Pancasila peserta didik diharapkan mampu memahami, menganalisis nilai-nilai Pancasila sebagai
sumber acuan dalam menyusun etika kehidupan berbangsa bagi seluruh rakyat Indonesia dalam mencapai cita-cita dan
tujuan nasionalnya, dan menjawab masalah yang dihadapi secara berkesinambungan.
Kata kunci: pendidikan, Pancasila, filsafat aksiologi

ABSTRACT
Education aims at developing the ability and improving the quality of human’s life and dignity in order to actualize the national
objective. Education should be in line with national education objectives that are to educate nation’s life and develop Indonesian’ human
wholly as faitful and pious man, has virtuous character, knowledge and skills, physical and spiritual health, steady and independent
personality, also responsibility toward society and nationality. Pancasila is Indonesian ideology and becomes way of life, soul, and
personality of Indonesian. Pancasila contains critical, basic, rational, systematic, and comprehensive thoughts, so this thought system
is a value. Thus, Pancasila gives fundamental dan universal bases for human in social, national, governmental life. When verified in
real life at society, nation, or government, the value is enlightened in obvious norms, namely morality norm and law norm or law
system applied in Indonesia. Axiology philosophycal thought which refers to norms’ issue in the context of aesthetic, morality, and
religion studies and explores the nature of that values. Then, through civic education, learners are expected to be able to comprehend,
analyze the values of Pancasila as a reference in establishing national life ethics for all Indonesian citizens in achieving national desire
and objective also answering problems faced simultaneously.
Keywords: education, Pancasila, axiology philosophy
Copyright ©2018Universitas Ahmad Dahlan, All Right Reserved

PENDAHULUAN sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam


mendirikan sebuah negara yang berdaulat, terlepas
Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada dari belenggu penjajah bangsa Barat. Masa penja-
18 Agustus 1945 bersamaan dengan disahkannya jahan Barat sebagai tonggak sejarah perjuangan
UUD 1945 sebagai dasar negara Indonesia. bangsa Indonesia dalam mencapai cita-citanya,
Pancasila selain sebagai ideologi negara, juga sebab pada zaman penjajahan ini menyebabkan apa
berfungsi sebagai way of life atau sebagai pandangan yang telah dimiliki bangsa Indonesia pada zaman
hidup bangsa Indonesia, jiwa bangsa Indonesia, Sriwijaya (abad VII-XII M) dan Majapahit (abad
kepribadian bangsa Indonesia, sumber dari segala XIII-XVI M) menjadi hilang. Kedaulatan negara
sumber hukum/tertib hukum, perjanjian luhur hilang, persatuan dihancurkan, kemakmuran le-
bangsa Indonesia pada waktu mendirikan negara, nyap, wilayah diinjak-injak penjajah. Kedua zaman
cita-cita dan tujuan bangsa, dan sebagai falsafah ini merupakan tonggak sejarah bangsa Indonesia,
hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia. karena telah memenuhi syarat sebagai bangsa yang
Perumusan Pancasila melalui proses yang mempunyai negara. Pada zaman itu bangsa
sangat panjang, dan sangat erat kaitannya dengan

http://journal.uad.ac.id/index.php/citizenship
Sunarni Yassa, Pendidikan Pancasila ditinjau dari perspektif filsafat (aksiologi)

Indonesia telah mengalami kehidupan yang gemah manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujud-
ripah loh jinawih, tata tentram, kerta raharja. kan tujuan nasional.
Unsur-unsur yang terdapat dalam Pancasila, Dengan demikian, pendidikan itu harus
yakni ketuhanan, kemanusian, persatuan, tata sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yakni
pemerintahan atas dasar musyawarah, keadilan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengem-
sosial telah ada sebagai asas-asas yang menjiwai bangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu ma-
bangsa Indonesia yang dihayati serta dilaksanakan nusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan
pada waktu itu, namun belum dirumuskan secara Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, me-
kongkrit. Dokumen secara tertulis ini terdapat miliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan
dalam karya Mpu Prapanca, Nagarakartagama. jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan
Kemudian Mpu Tantular melukiskan kehidupan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dua agama, yakni Hindu dan Budha secara dan kebangsaan.
berdampingan sebagai bukti toleransi bangsa
Pendidikan merupakan upaya untuk mem-
Indonesia pada zaman itu dalam kitabnya Sutasoma
bangun sumber daya manusia yang memerlukan
(Darmodiharjo, 1991, hal. 17).
wawasan luas, karena pendidikan merupakan salah
Setiap bangsa dan negara yang ingin berdiri satu unsur penunjang dalam kehidupan manusia
kokoh kuat, tidak mudah terombang-ambing oleh sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha
kerasnya persoalan hidup berbangsa dan bernegara, Esa untuk mengolah anugerah indah yang diberi-
sudah barang tentu perlu memiliki dasar negara dan kan kepada manusia berupa akal. Salah satu hal
ideologi negara yang kokoh dan kuat pula. Tanpa untuk mengaplikasikannya adalah setiap makhluk
itu, maka bangsa dan negara akan rapuh. Karena (manusia) memiliki hak yang sama untuk men-
itu, mempelajari Pancasila lebih dalam dapat me- dapatkan pendidikan yang berorientasi pada wajib
munculkan kesadaran diri sebagai bangsa yang belajar selama 9 tahun. Pendidikan nasional meru-
memiliki jati diri. Kesadaran ini harus diwujudkan pakan salah satu faktor penting dalam upaya
dalam pergaulan hidup sehari-hari untuk me- meningkatkan kualitas sumber daya manusia
nunjukkan identitas bangsa yang lebih bermartabat sebagai sarana untuk mendapatkan kehidupan yang
dan berbudaya tinggi. layak dan mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai
dengan yang termaktub dalam UUD Negara
Nilai-nilai Pancasila sebagai sumber acuan Republik Indonesia Tahun 1945, dan tujuan UU
dalam menyusun etika kehidupan berbangsa bagi No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
seluruh rakyat Indonesia dalam mencapai cita-cita Nasional, yakni menciptakan insan yang religius,
dan tujuan nasionalnya, maka paradigma pem- berilmu, berakhlak mulia, dan terampil.
bangunan nasional harus berlandaskan Pancasila.
Kerangka pikir, sumber nilai, orientasi dasar, sum- Secara etimologis, istilah Pancasila berasal
ber asas serta arah dan tujuan dari suatu per- dari bahasa Sansekerta (India) bahasa kasta
kembangan perubahan serta proses dalam suatu Brahmana, sedang bahasa rakyat biasa adalah
bidang tertentu, maka tidak boleh bertentangan bahasa Prakerta. Menurut Muhammad Yamin
dengan nilai-nilai Pancasila. Sebagai paradigma (Kaelan, 2002), secara leksikal “Pancasila”
pembangunan, berarti bahwa Pancasila merupakan memiliki dua macam arti: “panca” (lima), “syila”
sumber nilai, dasar, arah dan tujuan dari proses (batu sendi, alas, dasar). “Syiila” (peraturan tingkah
pembangunan. Untuk itu segala aspek dalam laku yang baik, yang penting).
pembangunan nasional harus mendasarkan pada
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia
hakikat nilai-nilai sila-sila Pancasila dalam me-
(ideologi) dan menjadi pedoman hidup (way of life),
wujudkan peningkatan harkat dan martabat ma-
jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia (Kaelan,
nusia secara konsisten berdasarkan pada nilai-nilai
2002, hal. 1). Oleh karena itu, melalui pendididkan
hakikat kodrat manusia.
Pancasila, peserta didik diharapkan mampu mema-
PEMBAHASAN hami, menganalisis, dan menjawab masalah yang
dihadapi secara berkesinambungan dan konsisten
Pendidikan, Pancasila, dan aksiologi: Tinjauan dengan cita-cita dan tujuan nasional dalam
konsepsional Pembukaan UUD 1945. Sehingga dengan demi-
kian, Pendidikan Pancasila bertujuan untuk meng-
Pendidikan adalah usaha sadar untuk hasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, mendukung
bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi persatuan bangsa, mengutamakan kepentingan
peranannya di masa mendatang. Pendidikan ber- bersama, dan berupaya mewujudkan keadilan
fungsi untuk mengembangkan kemampuan serta sosial dalam masyarakat.
meningkatkan mutu kehidupan dan martabat

2
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Secara etimologis istilah “filsafat” berasal dari Jika seseorang berupaya memberikan jawaban
bahasa Yunani “philein” yang artinya cinta, dan atas persoalan-persoalan pengetahuan pengetahu-
“sophos” artinya hikmah atau kebijaksanaan atau an, baik hakikat, kriteria, validitas, sumber-sumber,
wisdom. Jadi secara harfiah istilah filsafat prosedur maupun klasifikasi dan jenis-jenis ilmu,
mengandung makna cinta kebijaknaan. maka dalam hal ini telaah filsafat berada dalam
wilayah kajian epistemologi. Sedang jika yang
Pengertian filsafat secara luas menurut Harold menjadi fokus telaah menyangkut problem nilai
Titus (Jalaluddin, 2012, hal. 2) adalah sebagai atau mencari nilai-nilai yang diperlukan dan
berikut: dikehendaki manusia sebagai dasar pijakan dan
1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan pegangan dalam hidup dan kehidupannya, maka
kepercayaan terhadap kehidupan dan alam kajiannya berada dalam lingkup aksiologi, yang
yang biasanya diterima secara kritis mencakup tentang nilai kebenaran, nilai kebaikan,
2. Filsafat ialah suatu proses kritik atau dan nilai keindahan. Dengan menggunakan dua
pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap pendekatan berdasarkan objek kajiannya yaitu,
yang sangat kita junjung tinggi pertama ialah filsafat teoritis yang menekankan
3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan pada problem konseptual secara universal, dan
gambaran keseluruhan kedua ialah filsafat teoritis yang problem peneka-
4. Filsafat adalah analisis logis dari bahasan nannya menyangkut tentang tata kehidupan serta
dan penjelasan tentang arti konsep perilaku manusia.
5. Filsafat adalah sekumpulan problema- Filsafat teorites adalah pendekatan filsafat
problema yang langsung mendapat perha- yang ditujukan pada persoalan-persoalan yang
tian manusia dan dicarikan jawabannya umum, baik tentang hakikat maupun pengetahuan.
oleh ahli filsafat. Misalnya pada bidang ontologi, kosmogoni, antro-
Senada dengan pendapat Harold Titus di atas, pologi, epistemologi, logika, teologi, dan lain
Barnadib (2002) menjelaskan bahwa filsafat sebagai sebagainya. Kemudian filsafat praktis adalah pen-
pandangan yang menyeluruh dan sistematis. dekatan filsafat yang ditujukan untuk menemukan
Menyeluruh karena filsafat bukan hanya penge- kewajiban-kewajiban, kebutuhan-kebutuhan, dan
tahuan, melainkan juga suatu pandangan yang keinginan-keinginan humanitas, misalnya etika,
dapat menembus sampai di balik pengetahuan itu sosiologi, filsafat sejarah, estetika, psikologi, psiko-
sendiri. Dengan pandangan yang lebih terbuka ini, logi agama, filsafat politik, dan lain-lain.
hubungan dan pertalian antara semua unsur yang Kajian ini lebih fokus pada satu objek yakni
mengarahkan perhatian dan kedalaman mengenai menyangkut tentang nilai-nilai yang baik dan buruk
kebajikan dimungkinkan untuk dapat ditemukan. (aksiologi), atau pendidikan yang menguji dan
Sistematis, karena filsafat menggunakan berpikir mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam
secara sadar, teliti, dan teratur sesuai dengan kehidupan manusia, kemudian nilai-nilai tersebut
hukum-hukum yang ada. Sehingga menurut Harun ditanamkan dalam kepribadian anak.
Nasution (Barnadib, 2002) dapat dikatakan bahwa
filsafat berpikir menurut tata tertib (logika), bebas Pancasila sebagai sumber nilai
(tidak terikat pada tradisi, dogma, serta agama) dan
dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke Pancasila terkandung di dalamnya suatu
dasar-dasar persoala. pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar,
rasional, sistematis dan komprehensif, sehingga
Berdasarkan objek kajiannya, filsafat dibagi sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai. Oleh
dalam tiga bidang permasalahan; metafisika, epis- karena itu, Pancasila memberikan dasar-dasar yang
temologi, dan aksiologi. Atau dengan kata lain, bersifat fundamental dan universal bagi manusia
objek kajiannya adalah Tuhan, alam dan manusia. baik dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan
Pemikiran filsafat dalam bidang aksiologi mengacu bernegara. Bila dijabarkan dalam kehidupan yang
pada persoalan nilai, baik dalam konteks estetika, nyata pada masyarakat, bangsa maupun negara
moral maupun agama. Dengan mengkaji dan maka nilai tersebut dijabarkan dalam suatu norma-
menggali hakikat nilai, apakah nilai itu absolut atau norma yang jelas, yaitu norma moral dan norma
relatif, bagaimana menentukan nilai, serta apakah hukum atau sistem perundangan yang berlaku di
sumber nilai itu. Sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai
akhir dari filsafat metafisika dan epistimologi ialah untuk menunjuk kata benda abstrak “keberharga-
terwujudnya tingkah laku dan perbuatan-perbuatan an” atau “kebaikan”, dan kata kerja yang artinya
manusia yang mengandung nilai. Atau dengan kata suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai
lain, apabila telaah filsafat hanya untuk mencari atau melakukan penilaian.
pemecahan masalah hakikat dan kebenaran dalam
suatu realitas yang ada, maka kajiannya termasuk Notonagoro (Kaelan, 2002) membagi nilai
dalam filsafat metafisik. menjadi tiga, yaitu: 1) nilai material; segala sesuatu

3
Sunarni Yassa, Pendidikan Pancasila ditinjau dari perspektif filsafat (aksiologi)

yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia, 2) pemaknaan nilai-nilai budaya dan sesuatu itu
nilai vital; segala sesuatu yangg berguna bagi manu- dipandang bernilai apabila dipersepsi sebagai
sia untuk dapat mengadakan aktivitas, 3) nilai sesuatu yang diinginkan. Makanan, uang, rumah,
kerohanian; segala sesuatu yang berkaitan kebu- memiliki nilai karena memiliki persepsi sebagai
tuhan rohani. Sedangkan Baier (Mulyana, 2004:8) sesuatu yang baik dan keinginan untuk memper-
nilai sering kali dirumuskan dalam konsep yang olehnya memiliki mempengaruhi sikap dan tingkah
berbeda-beda, hal tersebut disebabkan oleh sudut laku seseorang. Namun tidak hanya materi yang
pandangnya yang berbeda-beda pula. Contohnya memiliki nilai, gagasan dan konsep juga dapat men-
seorang sosiolog mendefinisikan nilai sebagai suatu jadi nilai, seperti: kejujuran, kebenaran dan keadi-
keinginan, kebutuhan, dan kesenangan seseorang lan. Kejujuran misalnya, akan menjadi sebuah nilai
sampai pada sanksi dan tekanan dari masyarakat. bagi seseorang apabila ia memiliki komitmen yang
Seorang psikolog akan menafsirkan nilai sebagai dalam terhadap nilai itu yang tercermin dalam pola
suatu kecenderungan perilaku yang berawal dari pikir, tingkah laku dan sikap.
gejala-gejala psikologis, seperti hasrat, motif, sikap,
kebutuhan dan keyakinan yang dimiliki secara Klasifikasi dan makna nilai sila-sila Pancasila
individual sampai pada tahap wujud tingkah Dalam teori nilai yang digagasnya, Spranger
lakunya yang unik. Sementara itu, seorang (Mulyana, 2004, hal. 32) menjelaskan ada enam
antropolog melihat nilai sebagai “harga “yang orientasi nilai yang sering dijadikan rujukan oleh
melekat pada pola budaya masyarakat seperti manusia dalam kehidupannya. Dalam pemuncu-
dalam bahasa, adat kebiasaan, keyakinan, hukum lannya, enam nilai tersebut cenderung menampil-
dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dikem- kan sosok yang khas terhadap pribadi seseorang.
bangkan manusia. Perbedaan pandangan mereka Nilai pertama adalah nilai teoretik. Nilai ini me-
dalam memahami nilai telah berimplikasi pada libatkan pertimbangan logis dan rasional dalam
perumusan definisi nilai. Berikut ini dikemukakan memikirkan dan membuktikan kebenaran sesuatu.
beberapa definisi nilai yang masing-masing Nilai teoretik memiliki kadar benar-salah menurut
memiliki tekanan yang berbeda. pertimbangan akal. Oleh karena itu nilai erat
Allport (Mulyana, 2004, hal. 9) mendefinisi- dengan konsep, aksioma, dalil, prinsip, teori dan
kan nilai sebagai sebuah keyakinan yang membuat generalisasi yang diperoleh dari sejumlah dan
seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Sebagai pembuktian ilmiah. Komunitas manusia yang ter-
seorang ahli psikologi kepribadian, Allport menya- tarik pada nilai ini adalah para filosof dan ilmuwan.
takan bahwa nilai terjadi pada wilayah psikologis Nilai kedua adalah nilai ekonomis yang terkait
yang disebut keyakinan. Keyakinan merupakan dengan pertimbangan nilai yang berkadar untung-
wilayah psikologis tertinggi dari wilayah lainnya rugi. Objek yang ditimbangnya adalah “harga” dari
seperti hasrat, motif, sikap, keinginan dan kebutu- suatu barang atau jasa. Karena itu, nilai ini lebih
han. Oleh karenanya, keputusan benar-salah, baik- mengutamakan kegunaan sesuatu bagi kehidupan
buruk, indah-tidak indah pada wilayah ini merupa- manusia. Oleh karena pertimbangan nilai ini relatif
kan hasil dari sebuah rentetan proses psikologis pragmatis, Spranger melihat bahwa dalam kehidup-
yang kemudian mengarahkan individu pada tinda- an manusia seringkali terjadi konflik antara kebutu-
kan dan perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihan- han nilai ekonomis ini dengan nilai lainnya.
nya. Kupperman (Mulyana, 2004, hal. 9) menafsir- Kelompok manusia yang tertarik nilai ini adalah
kan nilai sebagai patokan normatif yang mempe- para pengusaha dan ekonomi.
ngaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di
antara cara-cara tindakan alternatif. Ia memberi Nilai ketiga adalah nilai estetik yang me-
penekanan pada norma sebagai faktor eksternal nempatkan nilai tertingginya pada bentuk dan
yang mempengaruhi perilaku manusia. Sebagai se- keharmonisan. Apabila nilai ini ditilik dari subyek
orang sosiolog, Kupperman memandang norma yang memiliknya, maka akan muncul kesan indah-
sebagai salah satu bagian terpenting dari kehidupan tidak indah. Nilai estetik berbeda dengan nilai
sosial. Oleh karena itu, salah satu bagian terpenting teoretik. Nilai estetik lebih mengandalkan pada
dalam proses pertimbangan nilai (value judgement) hasil penilaian pribadi seseorang yang bersifat
adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku di subyektif, sedangkan nilai teroretik lebih melibat-
masyarakat. Sedangkan Kluckhohn (Brameld, kan penilaian obyektif yang diambil dari kesim-
1957) mendefinisikan nilai sebagai konsepsi (ter- pulan atas sejumlah fakta kehidupan. Nilai estetik
sirat atau tersurat, yang sifatnya membedakan banyak dimiliki oleh para seniman seperti musisi,
individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang di- pelukis, atau perancang model.
inginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap Nilai keempat adalah nilai sosial. Nilai ter-
cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan. tinggi dari nilai ini adalah kasih sayang di antara
Menurut Brameld (1957), pandangan Kulchohn manusia. Karena itu kadar nilai ini bergerak pada
tersebut memiliki banyak implikasi terhadap rentang kehidupan yang individualistik dengan

4
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

yang altruistik. Sikap yang tidak berpraduga jelek mengurangi maknanya, semakin tinggi nilainya;
terhadap orang lain, sosiabilitas, keramahan, serta semakin tidak tergantung pada nilai-nilai lain,
perasaan simpati dan empati merupakan kunci semakin tinggi esensinya; semakin membahagia-
keberhasilan dalam meraih nilai sosial. Nilai sosial kan, semakin tinggi fungsinya.
ini banyak dijadikan pegangan hidup bagi orang
Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh
yang senang bergaul, suka berderma, dan cinta
bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mengamalkan
sesama manusia.
Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa
Nilai kelima adalah nilai politik. Nilai ter- Indonesia. Masing-masing sila Pancasila memiliki
tinggi dalam nilai ini adalah kekuasaan. Karena itu, makna tersendiri. Arti dan makna Sila Ketuhanan
kadar nilainya akan bergerak dari intensitas Yang Maha Esa adalah sebagai berikut:
pengaruh yang rendah sampai pengaruh yang tinggi
1. Mengandung arti pengakuan adanya kausa
(otoriter). Kekuatan merupakan faktor penting
prima (sebab pertama) yaitu Tuhan Yang
yang berpengaruh pada diri seseorang. Sebaliknya,
Maha Esa
kelemahan adalah bukti dari seseorang kurang
2. Menjamin penduduk untuk memeluk
tertarik pada nilai ini. Dilihat dari kadar ke-
agama masing-masing dan beribadah me-
pemilikannya nilai politik memang menjadi tujuan
nurut agamanya.
utama orang-orang tertentu seperti para politisi dan
3. Tidak memaksa warga negara untuk
penguasa.
beragama.
Nilai keenam adalah nilai agama. Secara ha- 4. Menjamin berkembang dan tumbuh subur-
kiki sebenarnya nilai ini merupakan nilai yang nya kehidupan beragama.
memiliki dasar kebenaran yang paling kuat di- 5. Bertoleransi dalam beragama, dalam hal
bandingkan dengan nilai-nilai sebelumnya. Nilai ini ini toleransi ditekankan dalam beribadah
bersumber dari kebenaran tertinggi yang datangnya menurut agamanya masing-masing.
dari Tuhan. Nilai tertinggi yang harus dicapai 6. Negara memberi fasilitator bagi tumbuh
adalah kesatuan (unity). Kesatuan berarti adanya kembangnya agama dan iman warga nega-
keselarasan semua unsur kehidupan, antara ke- ra dan mediator ketika terjadi konflik
hendak manusia dengan kehendak Tuhan, antara agama.
ucapan dengan tindakan, antara i’tikad dengan
Arti dan makna sila Kemanusiaan yang adil
perbuatan. Spranger melihat bahwa pada sisi nilai
dan beradab adalah:
inilah kesatuan filsafat hidup dapat dicapai. Di
antara kelompok manusia yang memiliki orientasi 1. Menempatkan manusia sesuai dengan
kuat terhadap nilai ini adalah para nabi, imam, atau hakikatnya sebagai makhluk Tuhan
orang-orang sholeh. 2. Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai
hak segala bangsa.
Menurut Scheler (Wahana, 2008), nilai dalam
3. Mewujudkan keadilan dan peradaban
kenyataannya ada yang lebih tinggi dan ada juga
yang tidak lemah.
yang lebih rendah jika dibandingkan dengan yang
lainnya. Oleh karena itu, nilai menurut Scheler Arti dan makna Sila Persatuan Indonesia:
(Mulyana, 2004, hal. 38) memiliki hierarki yang
1. Nasionalisme.
dapat dikelompokkan ke dalam empat tingkatan,
2. Cinta bangsa dan tanah air.
yaitu nilai kenikmatan, nilai kehidupan, nilai
3. Menggalang persatuan dan kesatuan Indo-
kejiwaan, dan nilai kerohanian. Pada nilai kenik-
nesia.
matan, terdapat sederet nilai yang menyenangkan
4. Menghilangkan penonjolan kekuatan atau
atau sebaliknya yang kemudian orang merasa
kekuasaan, keturunan dan perbedaan
bahagia atau menderita. Pada nilai kehidupan,
warna kulit.
terdapat nilai-nilai yang penting bagi kehidupan,
5. Menumbuhkan rasa senasib dan sepenang-
misalnya kesehatan, kesegaran badan, kesejahtera-
gungan.
an umum dan lain-lain. Pada nilai kejiwaan ter-
dapat nilai kejiwaan yang sama sekali tidak Arti dan makna sila Kerakyatan yang dipim-
bergantung pada keadaan jasmani atau lingkungan, pin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusya-
yaitu keindahan, kebenaran dan pengetahuan waratan/perwakilan:
murni yang dicapai melalui filsafat. Terakhir, pada
nilai kerohanian terdapat nilai yang suci maupun 1. Hakikat sila ini adalah demokrasi
tidak suci. Nilai-nilai ini terutama lahir dari 2. Permusyawaratan, artinya mengusahakan
ketuhanan sebagai nilai tertinggi. Hierarki nilai putusan bersama secara bulat, baru
tersebut ditetapkan Scheler dengan menggunakan sesudah itu diadakan tindakan bersama.
empat kriteria, yaitu: semakin lama semakin tinggi 3. Dalam melaksanakan keputusan diperlu-
tingkatannya; semakin dapat dibagikan tanpa kan kejujuran bersama.

5
Sunarni Yassa, Pendidikan Pancasila ditinjau dari perspektif filsafat (aksiologi)

Arti dan makna sila Keadilan sosial bagi keyakinan sehingga jelas adanya perbedaan antara
seluruh rakyat Indonesia: manusia dan hewan. Sila Persatuan Indonesia
terkandung nilai-nilai persatuan antara lain; 1) per-
1. Kemakmuran yang merata bagi seluruh
satuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia,
rakyat dalam arti dinamis dan meningkat.
2) Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas ber-
2. Seluruh kekayaan alam dan sebagainya
bagai suku yang mendiami wilayah Indonesia
dipergunakan bagi kebahagiaan bersama
sehingga persatuan sangat perlu untuk menyatu-
menurut potensi masing-masing.
kannya atau pengakuan terhadap “Bhinneka
3. Melindungi yang lemah agar kelompok
Tunggal Ika”.
warga masyarakat dapat bekerja sesuai
dengan bidangnya. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakil-
Dalam hubungannya dengan filsafat, nilai
an terkandung nilai kerakyatan antara lain: 1) ke-
merupakan salah satu hasil pemikiran filsafat yang
daulatan negara adalah ditangan rakyat, 2) pimpi-
pemikirannya dianggap sebagai hasil maksimal
nan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang
yang paling benar. Dalam bidang operasional nilai-
dilandasi akal sehat, 3) warga negara dan warga
nilai ini dijabarkan dalm bentuk kaidah/norma/
masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan,
ukuran (normatif), sehingga merupakan suatu
hak, kewajiban yang sama, 4) musyawarah untuk
perintah atau larangan.
mufakat.
Adapun nialai-nilai yang terkandung di dalam
Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indo-
sila-sila Pancasila sebagaimana diuraikan Kaelan
nesia terkandung nilai sosial antara lain: 1) perwu-
(Kaelan, 2002) adalah sebagai berikut: Sila
judan keadilan social dalm kehidupan sosial atau
Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai
kemasyarakatan meliputi seluruh rakyat Indonesia,
religius yaitu; 1) keyakinan terhadap adanya Tuhan
2) keadilan dalam kehidupan sosial meliputi bi-
Yang Maha Esa dengan sifat-sifat-Nya yang maha
dang-bidang ideology, politik, ekonomi, sosial ke-
sempurna, maha kasih, maha kuasa, maha adil,
budayaan dan pertahanan keamanan nasional, 3)
maha bijaksana, dan lain-lain sifat yang suci, 2)
cita-cita masyarakat adail makmur, material,dan
ketaqwaan adanya Tuhan Yang Maha Esa
spiritual yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia,
menjalankan semua perintahnya dan menjauhi
4) keseimbangan antara hak dan kewajiban dan
segala larangannya. Sila Ketuhanan Yang Maha
menghormati hak orang lain, cinta akan kemajuan
Esa sebagai sumber ajaran moral dasar (basic
dan pembangunan.
morality). Apabila ditelaah secara mendalam
terhadap definisi filsafat hidup atau weltanschauung, Hubungan Filsafat, Pendidikan, dan Pancasila
jelaslah bahwa sesungguhnya di dalam kerangka
pengertian filsafat hidup telah dipermasalahkan Manusia merupakan subjek dan sekaligus
pula apa yang disebut dengan ajaran nilai (doctrine sebagai objek pendidikan, karena itu manusia me-
of value). Salah satu obyek yang dibahas dalam miliki sikap untuk dididik dan siap untuk mendidik.
filsafat hidup adalah menyangkut persoalan moral Akan tetapi, sukses tidaknya usaha tersebut ter-
dalam arti moral dasar. Menurut Muhammad gantung pada jelas tidaknya tujuan. Oleh karena
Rasjidi (Kaelan, 2002) yang dimaksud moral dasar itu, tujuan pendidikan harus berlandaskan pada
ialah suatu aturan yang mendasar, yang kita filsafat hidup bangsa, yaitu Pancasila sebagai pokok
rasakan tidak mungkin dapat menyangkalnya, Oleh dalam pendidikan, melalui usaha-usaha pendidikan
karena itu ia dapat dijadikan pedoman kita dalam baik dalam keluarga, masyarakat, sekolah, maupun
keadaan yang berbeda-beda. Notonagoro (Kaelan, di perguruan tinggi.
2002) menyatakan bahwa hakikat filsafat Pancasila Filsafat pendidikan adalah nilai-nilai dan
itu merupakan bentuk pemadatan atau kristalisasi keyakinan-keyakinan fisafat yang menjiwai, men-
dari keyakinan hidup beragama bangsa Indonesia dasari dan memberikan identitas (karakteristik)
serta adat istiadat dan kebudayaan bangsa. suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan
Sehingga jika dianalisa maka ‘moral dasar’ yang adalah jiwa, roh dan kepribadian sistem pendidikan
terkandung dalam Filsafat Pancasila menyatakan nasional, sehingga sistem pendidikan nasional
bahwa ‘dengan singkat haruslah dikatakan’ bahwa idealnya dijiwai didasari dan mencerminkan
ketuhanan adalah dasar dan tujuan dari seluruh identitas Pancasila, citra dan karsa bangsa
kesusilaan. Tanpa ketuhanan tidak mungkin ada Indonesia sebagaimana yang yang tercantum
kesusilaan yang berkembang batul-betul. dalam Pembukaan UUD 1945, sebagai perwujudan
Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab jiwa dan nilai Pancasila.
terkandung nilai-nilai kemanusiaan yaitu; 1) penga- Secara praktis pendidikan tidak dapat
kuan adanya martabat manusi, 2) perlakuan yang dipisahkan dengan nilai-nilai, terutama yang me-
adil terhadap sesama manuasia, 3) pengertian yang liputi kualitas kecerdasan, nilai ilmiah, nilai moral,
beradab yang memiliki daya cipta, rasa karsa, dan dan nilai agama yang kesemuanya tersimpul dalam

6
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

tujuan pendidikan, yakni membina kepribadian Pancasila hanya akan menjadi rangkaian kata-kata
ideal (Jalaluddin, 2012, hal. 136). Tujuan pendi- indah dan rumusan yang beku dan mati serta tidak
dikan baik pada isinya maupun rumusannya, tidak mempunyai arti bagi kehidupan bangsa Indonesia.
akan mungkin dapat ditetapkan tanpa pengertian
Manusia sebagai individu, sebagai masya-
dan pengetahuan yang tepat tentang nilai-nilai.
rakat, sebagai bangsa dan negara, hidup dalam
Sistem pendidikan bertumpu dan dijiwai oleh ruang sosial budaya. Aktivitas untuk mewariskan
suatu keyakinan, pandangan hidup dan filosofis dan mengembangkan sosial budaya itu terutama
tertentu. Pemikiran inilah yang mendasari akan melalui pendidikan. Untuk menjamin supaya pen-
pentingnya filsafat pendidikan Pancasila yang didikan itu benar dan prosesnya efektif, dibutuhkan
merupakan tuntutan nasional. Oleh karena filsafat landasan-landasan filosofis dan ilmiah sebagai asas
Pancasila merupakan satu kesatuan bulat dan utuh, normatif dan pedoman pelaksanaan pembinaan.
atau kesatuan organik yang berlandaskan pada Dengan demikian, kedua asas tersebut tidak dapat
Pancasila. Filsafat menjadikan manusia ber- dipisahkan. Sebab, pendidikan merupakan usaha
kembang dan mempunyai pandangan hidup yang membina dan mewariskan kebudayaan, me-
menyeluruh dan sistematis. Pandangan itu kemu- ngemban suatu kewajiban yang luas dan menentu-
dian dituangkan dalam sistem pendidikan, untuk kan prestasi suatu bangsa bahkan tingkat sosio
mengarahkan tujuan pendidikan. Penuangan pemi- budaya mereka (Budimansyah, 2011, hal. 37).
kiran ini dalam bentuk Kurikulum. Melalui kuriku-
Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa, oleh
lum, sistem pengajaran dapat terarah, selain dapat
karena nilai-nilai dasar dalam sosio budaya
mempermudah para pendidik dalam menyusun
Indonesia hidup dan berkembang sejak awal per-
pengajaran yang akan diberikan kepada peserta
adabannya, yang meliputi: 1) kesadaran keberaga-
didik.
maan, 2) kekeluargaan, 3) musyawarah mufakat
Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan dalam menetapkan kehendak bersama, 4) kesa-
bahwa hubungan filsafat, pendidikan, dan Panca- daran gotong royong, dan tolong menolong, serta
sila, dimana filsafat adalah berfikir secara men- 5) tenggang rasa.
dalam dan sungguh-sungguh untuk mencari ke-
Keadaan masyarakat dapat diukur melalui
benaran sesuatu, sedangkan pendidikan adalah
melalui pendidikan. Sehingga kerusakan pada
suatu usaha yang dilaksanakan secara sadar melalui
semua aspek dalam masyarakat tidak dapat
pemikiran yang mendalam berdasarkan filsafat.
diperbaiki dengan cara apa pun kecuali dengan
Lalu jika dihubungkan fungsi Pancasila dengan
pendidikan menurut Plato (Jalaluddin, 2012, hal.
sistem pendidikan ditinjau filsafat aksiologi, maka
137)
dapat dijabarkan bahwa Pancasila adalah pedoman
hidup bangsa Indonesia yang mengandung tentang Nilai dan implikasi aksiologi terbentuk atas
nilai-nilai sebagai acuan dalam menjalani hidup dasar pertimbangan-pertimbangan cipta, rasa, karsa
dan kehidupan. dan keyakinan seseorang atau kelompok masya-
rakat atau Bangsa. Norma kaidah adalah petunjuk
KESIMPULAN tingkah laku yang harus dilakukan dan tidak boleh
Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang dalam kehidupan sehari-hari dengan disertai sanksi.
merupakan fungsi utamanya dan dari segi materi- Sanksi adalah ancaman atau akibat yang diterima
nya digali dari pandangan hidup dan kepribadian apabila norma (kaidah) tidak dilakukan. Dari
bangsa. Pancasila adalah dasar negara bangsa hubungan nilai,norma dan sanksi ini timbulah
Indonesia yang mempunyai fungi dalam hidup dan macam-macam norma dan saksinya antara lain: 1)
kehidupan bangsa dan negara Indonesia tidak saja Norma agama dengan sanksi agama, 2) Norma
sebagai negara RI, tetapi juga alat pemersatu kesusilaan dengan sanksi rasa susila, 3) Norma
bangsa, jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian sopan santun, dengan sanksi sosial dari masya-
bangsa Indonesia, pandangan bangsa Indonesia rakat, 4) Norma hukum, dengan sanksi hukum dari
dan sumber dari segala sumber hukum, serta pemerintah.
sumber pengetahuan. Pancasila juga merupakan Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenaran-
kebudayaan mengajarkan tentang hidup manusia nya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu
akan mencapai puncak kebahagiaan jika dapat mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharus-
dikembangkan keselarasan dan keseimbangan, baik an bagi bangsa Indonesia. Sikap positif dalam
dalam hidup manusia sebagai pribadi, sebagai mengamalkan nilai-nilai Pancasila: 1) menghorma-
makhluk sosial dalam mengejar hubungan dengan ti anggota keluarga, 2) menghormati orang yang
masyarakat, alam, Tuhannya maupun dalam lebih tua, 3) membiasakan hidup hemat, 4) tidak
mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan membeda-bedakan teman, membiasakan musya-
rohaniah. Oleh karena itu, perlu memahami, warah untuk mufakat, 5) menjalankan ibadah
menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam sesuai dengan agama masing-masing, 6) membantu
kehidupan sehari-hari. Tanpa upaya tersebut,

7
Sunarni Yassa, Pendidikan Pancasila ditinjau dari perspektif filsafat (aksiologi)

orang lain yang kesusahan sesuai dengan kemam-


puan sendiri.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-
hari. Untuk menerapkan sila-sila Pancasila,
diperlukan pemikiran yang sungguh-sungguh
tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila itu dapat
dilaksanakan. Dalam hal ini pendidikanlah yang
mempunyai peran utama.
DAFTAR PUSTAKA
Barnadib, I. (2002). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta:
AdiCita.
Brameld, T. (1957). Cultural foundation of education:
An interdisciplinary exploration. New York:
Harper.
Budimansyah, D. (2011). Aktualisasi nilai-nilai
Pancasila dalam membangun karakter warga
negara. Bandung: Widya Aksara Press.
Darmodiharjo, D. (1991). Santiaji Pancasila:
Tinjauan filosofis, historis dan yuridis-
konstitusional. Surabaya: Usaha Nasional.
Jalaluddin. (2012). Filsafat pendidikan. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
Kaelan. (2002). Filsafat Pancasila: Pandangan hidup
bangsa Indonesia. Yogyakarta: Paradigma.
Mulyana, R. (2004). Mengartikulasikan pendidikan
nilai. Bandung: Alfabeta.
Wahana, P. (2008). Nilai etika aksiologis Max Scheler.
Yogyakarta: Kanisius.