Anda di halaman 1dari 38

R O M

(Range of Motion)
A. Pendahuluan
1. Ruang lingkup
Range of motion merupakan pemenuhan kebutuhan dasar klien
yaitu dalam hal mobilisasi. Seorang pasien yang tidak mampu
melakukan mobilisasi dapat terjadi gangguan sirkulasi dalam tubuh
ataupun kontraktur. Perawat mempunyai peran dalam hal membantu
memenuhi kebutuhan mobilisasi hingga memandirikan pasien
sehingga setelah sehat pasien dapat beraktivas seperti sedia kala.
2. Tujuan
Umum
Setelah tindakan pembelajaran mahasiswa dapat mempraktekkan
ketrampilan ROM
Khusus
Setelah kegiatan pembelajaran mahasiswa dapat mempraktekkan
pada sendi-sendi tubuh:
a. Fleksi
b. Ekstensi
c. Abduksi
d. Adduksi
e. Rotasi
f. Pronasi
g. Supinasi
h. Inversi
i. Eversi
3. Aktivitas Pembelajaran
No. Isi Yang terlibat Waktu
1. Pembukaan :
- Persiapan alat - Mahasiswa 20’
- berdoa - Instruktur dan 3’
- Pretes mahasiswa 10’
- Tujuan pembelajaran - Mahasiswa 2’
- Instruktur
2. Kegiatan inti
- Penjelasan teori - Instruktur 10’
- Role play - Instruktur 10’
ketrampilan - Mahasiswa 80’
- Sesi praktik oleh
masing-masing - Mahasiswa 15’
mahasiswa - Instruktur dan 15’
- Umpan balik dari mahasiswa
mahasiswa
- Diskusi
3. Penutup
- Post test - mahasiswa 10’
- Kesimpulan kegiatan - instruktur 2’
- Berdoa - instruktur dan 3’
mahasiswa

B. Teori
1. Pengertian
ROM adalah sejumlah pergerakan yang mungkin dilakukan oleh
bagian-bagian tubuh, yaitu sagital, frontal, dan transverse.
Sagital : suatu garis yang membagi dari sebelah kanan
dan kiri
Frontal : suatu garis yang membelah dari sisi satu ke sisi
lain dari suatu bagian, antara depan dan
belakang
Transverse : suatu garis yang membagi 2 bagian antara
bagian atas dan bawah
2. Tujuan ROM
a. Melatih pergerakan agar dapat mempertahankan fungsi
otot/sendi
b. Melatih pergerakan untuk pemulihan fungsi otot/sendi akibat
sakit, cedera, maupun penurunan fungsi

3. Macam
Ada dua macam latihan ROM yaitu :
a. ROM aktif yaitu pasien menggunakan ototnya untuk
melakukan gerakan secara mandiri
b. ROM pasif yaitu ROM yang dilakukan dengan bantuan orang
lain. ROM pasif ini dilakukan karena pasien belum mampu
menggerakkan anggota badan secara mandiri

4. Indikasi
a. Anjuran dokter.
b. Mengalami problem gerak.

 Kelumpuhan/kelemahan separuh tubuh akibat serangan


stroke.
 Kelumpuhan/kelemahan otot-otot wajah, lengan/tangan
atau tungkai/kaki.
 Kekakuan sendi akibat patah tulang, rematik atau
kelumpuhan.

c. Nyeri otot, persendian atau tulang, nyeri pinggang, tenggkuk,


lutut, bahu, dll.
d. Penyakit saluran pernafasan yang berkepanjangan, batuk dan
pilek kronis, asma, bronchitis, sinusitis.
e. Gangguan tumbuh kembang pada bayi/anak.
f. Cacat bawaan (cacat lahir) : torticollis (leher miring),
kelumpuhan lengan/tangan, telapak kaki miring (club foot).
g. Vertigo.
h. Gangguan sensibilitas kulit: kesemutan, baal/kebal, nyeri sentuh,
nyeri tekan.
i. Persiapan dan sesudah tindakan bedah.
j. Kelemahan fisik akibat tirah baring yang lama.

5. Kontraindikasi ROM/ kondisi yang tidak diperbolehkan


melakukan ROM
a. Penyakit jantung
b.Gangguan pernafasan

6. Manfaat ROM
a. Untuk Sistem Kardiovaskuler
 Meningkatkan Cardiac Output/Volume darah yang
dipompakan oleh jantung ke seluruh tubuh
 Meningkatkan kontraksi jantung dalam memompa darah
b. Untuk Sistem Pernafasan
 Meningkatkan kedalaman pernafasan
 Meningkatkan ventilasi alveolus/pertukaran oksigen dan
karbondioksida
c. Untuk Sistem Metabolik
 Meningkatkan basal metabolik
 Meningkatkan penggunaan glukosa dan asam lemak
d. Untuk Sistem Muskuloskeletal
 Meningkatkan kekuatan otot
 Meningkatkan latihan otot
e. Untuk Fisikososial
Melatih toleransi terhadap stress

7. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan ROM


a. Idealnya latihan ini dilakukan sehari sekali
b. Lakukan masing-masing gerakan sebanyak 10 kali hitungan,
latihan dilakukan dalam waktu 30 menit
c. Mulai latihan secara perlahan, dan lakukan latihan secara
bertahap
d. Usahakan sampai mencapai gerakan penuh, tetapi jangan
memaksakan gerakan
e. Jaga supaya tungkai, lengan, dan anggota badan dapat
menyokong seluruh gerakan badan
f. Hentikan latihan apabila pasien merasa nyeri
g. Lakukan secara hati-hati dengan melihat respon pasien

Average ROMs (Adapted from Luttgens & Hamilton, 1997)

Source Source Source


Joint/Segment Movement Source 1*
2* 3* 4*
Fleksi 140 145 145 145
Elbow
Hyperextensi 0 0 0 0-10
Pronasi 80 90 90 80
Forearm
Supinasi 80 85 90 90
Extensi
60 70 70 50
(Dorsifleksi)
Fleksi (Palmar
Wrist 60 90 - 60
fleksi)
Radial Deviasi 20 20 20 20
Ulnar Deviasi 30 30 35 30
Fleksi 180 170 130 180
Hyperextensi 50 30 80 60
Shoulder
Abduksi 180 170 180 180
Adduksi 50 - - -

Shoulder Internal Rotasi 90 90 70 60-90


w/ Abducted External Rotasi 90 90 70 90
Arm Horizontal
- - - 135
Abduksi
Horizontal
- - - 45
Adduksi
Fleksi 100 120 125 120
Hyperextensi 30 10 10 30
Hip
Abduksi 40 45 45 45
Adduksi 20 - 10 0-25
Internal Rotasi 40 35 45 40-45
Extended Hip
External Rotasi 50 45 45 45
Knee Fleksi 150 120 140 130
Plantar fleksi 20 45 45 50
Ankle
Dorsifleksi 30 15 20 20
Fleksi 60 - - 40
Hyperextensi 75 - - 40
Cervical Spine
Lateral Fleksi 45 - - 45
Rotasi 80 - - 50
Fleksi 45-50 - - 45

Lumbar-thoracic Hyperextensi 25 - - 20-35


Spine Lateral Fleksi 25 - - 30
Rotasi 30 - - 45

Latihan Rentang gerak


Bagian Rentang/ Otot-otot
Tipe gerakan
tubuh derajat utama
Fleksi :
Sternokleido
Mengegrakkan dagu 45
mastoid
menempel ke dada
Ekstensi :
mengembalikan kepala 45 Trapezius
ke posisi tegak
Hiperekstensi :
menekuk kepala ke
Leher, 10 Trapezius
belakang sejauh
spina
mungkin
servikal
Fleksi lateral :
memiringkan kepala Sternokleido
40 - 45
sejauh mungkin ke arah mastoid
setiap bahu
Rotasi : memutar
Sternokleido
kepala sejauh mungkn
180 mastoid,
dengan gerakan
Trapezius
sirkuler
Korakobrakh
Fleksi : menaikkan
ialis, bisep
lengan dari posisi di
brakii,
samping tubuh ke 180
deltoid,
depan ke posisi di atas
pektoralis
kepala
mayor
Bahu
Ekstensi : Latissimus
mengembalikan lengan dorsi, teres
180
ke posisi di samping mayor, trisep
tubuh brakii
Hiperekstensi : Latissimus
45 - 60
menggerakkan lengan dorsi, teres
ke belakang tubuh, siku mayor,
tetap lurus deltoid
Abduksi : menaikkan
lengan ke posisi Deltoid,
samping di atas kepala 180 supraspinatu
dengan telapak tangan s
jauh dari kepala
Adduksi : menurunkan
lengan ke samping dan Pektoralis
320
menyilang tubuh mayor
sejauh mungkin
Rotasi dalam : dengan Pektoralis
siku fleksi, memutar mayor,
bahu dengan latissimus
menggerakkan lengan 90 dorsi, teres
sampai ibu jari mayor,
menghadap ke dalam subskapulari
danke belakang s
Rotasi luar : dengan
Infraspinatus
siku fleksi,
, teres
menggerakkan lengan 90
mayor,
sampai ibu jari ke atas
deltoid
dan samping kepala
Deltoid,
Sirkumduksi : korakobrakia
menggerakkan lengan lis,
360
dengan lingkaran latissimus
penuh dorsi, teres
mayor
Fleksi : menekuk siku Bisep brakii,
sehingga lengan bawah brakialis,
Siku 150
bergerak ke depan brakioradiali
sendi bahu dan tangan s
sejajar bahu
Ekstensi : meluruskan
siku dengan 150 Trisep brakii
menurunkan tangan
Supinasi : memutar
lengan bawah dan
Supinator,
tangan sehingga 70-90
bisep brakii
telapak tangan
Legan
menghadap ke atas
bawah
Pronasi : memutar Pronator
lengan bawah sehingga teres,
70-90
telapa tangan pronator
menghadap ke bawah quadratus
Fleksi : menggerakkan Fleksor
telapak tangan ke sisi karpi ulnaris,
80-90
bagian dalam lengan fleksor karpi
bawah radialis
Ekstensor
karpi ulnaris,
Ekstensi :
ekstensor
menggerakkan jari-jari
karpi
sehingga jari-jari
80-90 radialis,
tangan dan lengan
Pergelanga brevis,
bawah berada dalam
n tangan ekstensor
arah yang sama
karpi radialis
longus
Ekstensor
Hiperekstensi : karpi radialis
membawa permukaan brevis,
tangan dorsal ke 89-90 ekstensor
belakang sejauh karpi radialis
mungkin longus,
ekstensor
karpi ulnaris
Fleksor
karpi
radialis,
Abduksi /fleksi radial
ekstensor
: menekuk pergelangan
Sampai 30 karpi radialis
tangan miring(medial)
brevis,
ke ibu jari
ekstensor
karpi radialis
longus
Adduksi : fleksi ulnar Fleksor
: menekuk pergelangan karpi ulnaris,
30-50
tangan miring / lateral ekstensor
ke arah lima jari karpi ulnaris
Lumbrikales
, interosseus
Fleksi : membuat
90 volaris,
genggaman
interosseus
dorsalis
Ekstensi : meluruska Ekstensor
90
jari-jari tangan digiti quinti
Propius,
ekstensor
Jari-jari Hiperekstensi :
digitorum
tangan menggerakkan jari-jari
30-60 kommunis,
tangan ke belakang
ekstensor
sejauh mungkin
indicis
proprius
Abduksi :
merenggangkan jari Interosseus
30
tangan yang satu dorsalis
dengan yang lain
Adduksi : merapatkan 30 Interosseus
kembali jari-jari tangan volaris
Fleksi : menggerakkan
Fleksor
ibu jari menyilang
90 pollisis
permukaan telapak
brevis
tangan
Ekstensor
Ekstensi : pollisis
menggerakkan ibu jari longus,
90
lurus menjauh dari ekstensor
tangan pollisis
brevis
Abduksi : menjauhkan
ibu jari ke samping Abductor
Ibu jari (biasa dilakukan ketika 30 poliissis
jari-jari tangan berada brevis
abduksi dan adduksi)
Adduktor
pollissis
Adduksi :
obliqus,
menggerakkan ibu jari 30
adduktor
ke depan tangan
pollisis
transversus
Oposisi : Opponeus
menyentuhkan ibu jari pollisis,
30
ke setiap jari tangan opponeus
pada tangan yang sama digiti minimi
Psoas
Fleksi : menggerakkan mayor,
tungkai ke depan dan 90-120 iliakus,
Pinggul atas iliopsoas,
sartorius
Ekstensi : Gluteus
90-120
menggerakkan kembali maksimus,
ke samping tungkai semitendinos
yang lain us,
semimembra
nosus
Gluteus
maksimus
Hiperekstensi :
semitendoso
menggerakkan tungkai 30-50
sus,
ke belakang tubuh
semimembra
nosus
Abduksi : Gluteus
menggerakkan tungkai medius,
30-50
ke samping menjauhi gluteus
tubuh minimus
Adduktor
Adduksi :
longus,
menggerakkan tungkai
adduktor
kembali ke posisi 30-50
brevis,
medial dan melebihi
adduktor
jika mngkin
magnus
Gluteus
Rotasi dalam : medius,
memutar kaki dan gluteus
90
tungkai ke arah tungkai minimus,
lain tensor
fasciae latae
Obturatorius
Rotasi luar : memutar
internus,
kaki dan tungkai 90
obturatirous
menjauhi tungkai lain
eksternus
Sirkumduksi : Psoas
menggerakkan tungkai mayor,
melingkar gluteus
maksimus,
gluteus
medius,
adduktor
magnus
Bisep
femoris,
Fleksi : menggerakkan semitendono
tumit ke arah belakang 120-130 sus,
paha semimembra
nosus,
sartorius
Lutut Rektus
femoris,
vastus
Ekstensi :
lateralis,
mengembalikan 120-130
vastus
tungkai ke lantai
medialis,
vastus
intermedius
Dorsofleksi :
menggerakkan kaki Tibialis
20-30
sehingga jari-jari kaki anterior
Mata menekuk ke atas
kaki/tumit Plantar fleksi :
menggerakkan kaki Gastroknem
45-50
sehingga jari-jari kaki us, soleus
menekuk ke bawah
Inversi : memutar Tibialis
telapak kaki ke anterior,
10/<
Kaki samping dalam tibialis
(medial) posterior
Eversi : memutar 10/< Peroneus
talapak kaki ke longus,
samping luar (lateral) peroneus
brevis
Fleksor
digitorum,
Fleksi : lumbrikalis
Jari kaki melengkungkan jari- 30-60 pedis,
jari kaki ke bawah fleksor
hallusis
brevis
Ekstensor
digitorum
longus,
ekstensor
Ekstensi : meluruskan
30-60 digitorum
jari-jari kaki
brevis,
ekstensor
halluisi
longus
Abduksi : Abduktor
merenggangkan jari- hallusis,
15/<
jari kaki satu dengan interoseus
yang lain dorsalis
Adduktor
Adduksi : merapatkan hallusis,
15/<
kembali bersama-sama interosseus
plantaris
C. Proses Keperawatan

pengkajian
1. Kaji adanya nyeri sebelum melakukan latihan
2. Kaji kemampuan pasien untuk melakukan ROM. Inspeksi adanya
kemerahan pada sendi, palpasi adanya nyeri, bengkak dan deformitas

Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut
2. Hambatan mobilitas fisik
3. Hambatan mobilitas di tempat tidur
4. Intoleransi aktivtas

Tujuan keperwatan
1. Meminimalkan kontraktur maupun atrophy
2. Meningkatkan kekuatan otot
3. Mempertahankan mobilitas sendi

Implementasi
Implementasi ada 2 yaitu ROM aktif, dilakukan sendiri oleh
pasien dengan panduan perawat dan ROM pasif yaitu ROM
yang dibantu oleh perawat

Evaluasi
1. Tidak ada kontraktur
2. Kekuatan otot meningkat
3. Tidak ada nyeri sendi
KETRAMPILAN ROM (RANGE OF MOTION)

Nilai
No Aspek yang dinilai
0 1 2
A Tahap preinteraksi

1 Mengumpulkan data tentang klien


2 Mengesplorasi perasaan, fantasi dan
ketakutan diri
3 Menyiapkan alat yang diperlukan

4 Cuci Tangan
B Tahap orientasi
5 Memberikan salam
6 Memperkenalkan nama perawat
7 Menanyakan panggilan kesukaan klien
8 Menjelaskan kegiatan ROM yang akan
dilakukan
9 Menjelaskan tujuan/alasan dilakukannya ROM
10 Menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan kegiatan
11 Menjelaskan kerahasiaan
C Tahap Kerja
12 Memberikan kesempatan pada klien untuk
bertanya sebelum melakukan kegiatan
13 Menanyakan keluhan utama saat itu
14 Memberikan privasi
15 Memakai sarung tangan
16 Menentukan area tindakan dan peran pasien
selama tindakan
17 Mengatur hal-hal yang bisa menghalangi
tindakan.
18 Menganjurkan pasien untuk berbaring dalam
posisi yang nyaman ( bila mungkin sambil
duduk/ berdiri)
Melakukan latihan dengan cara-cara
sebagai berikut:
a. Leher
19 1. Fleksi (45)
20 2. Ekstensi (45)
21 3. Hiperekstensi (10)
22 4. Lateral fleksi (40-45)
23 5. Rotasi (180)
b. Bahu
24 1. Fleksi (180)
25 2. Ekstensi ( 180)
26 3. Hiperekstensi (45-60)
27 4. Abduksi ('80)
28 5. Adduksi (320)
29 6. Internal rotasi (90)
30 7. Eksternal rotasi (90)
31 8. Circumduksi (360)
c. Siku
32 1. Fleksi (150)
33 2. Ekstensi (150)
d. Telapak tangan
34 1. Supinasi (70-90)
35 2. Pronasi (70-90)
e. Pergelangan
36 1. Fleksi (80-90)
37 2. Ekstensi (80-90)
38 3. Hiperkstensi ( 80-90)
39 4. Adduksi (30)
f. Jari-jemari
40 1. Fleksi (90)
41 2. Ekstensi (90)
42 3. Hiperektensi (30-60)
43 4. Abduksi (30)
44 5. Adduksi (30)

g. Ibu jari
45 1. Fleksi (90)
46 2. Ekstensi (90)
47 3. Abduksi (30)
48 4. Adduksi (30)
49 5. Oposisi
h. Pinggul
50 1. Fleksi (90)
51 2. Ekstensi (90)
52 3. Hiperekstensi (30-50)
53 4. Abduksi (30)
54 5. Adduksi (30)
55 6. Internal rotasi (90)
56 7. Internal rotasi (90)
57 8. Eksternal rotasi (90)
58 9. Srikumduksi
i. Lutut
59 1. Fleksi (120-130)
60 2. Ekstensi (120-130)
j. Pergelangan kaki
61 1. Dorsal fleksi (20-30)
62 2. Platar fleksi (45-50)
63 3. Eversi (5)
64 4. Inversi (5)
k. Kaki dan jari kaki
65 1. Fleksi (35-60)
66 2. Ekstensi (35-60)
67 3. Abduksi (0-15)
68 4. Adduksi 0-15
i. Pinggang
69 1. Fleksi (70-90) 1. Fleksi (70-90)
70 2. Ekstensi (70-90)
71 3. Hiperekstensi (20-30)
72 4. Fleksi Lateral (35)
73 5. Rotasi (30-45)
D Tahap terminasi
74 Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan
setelah di lakukan ROM
75 Menyimpulkan hasil kegiatan
76 Memberikan reinforcement positif
77 Melakukan kontrak (waktu, topik/kegiatan
selanjutnya dan tempat)
78 Mengakhiri kegiatan dengan cara yang
baik/berpamitan
E Dokumentasi
Total
AMBULASI

A. Pengantar
1. Ruang lingkup
Ketrampilan ambulasi merupakan bagian dari kebutuhan dasar
manusia khususnya pada kebutuhan aktivitas. Seorang perawat
hendaknya dapat melatih ambulasi klien agar tubuh tidak terjadi
kontraktur setelah sakit. Ketrampilan ini meliputi ketrampilan
memindahkan pasien dari tempat tidur ke tempat lain misalnya kursi
ataupun brankard dan sebaliknya.
2. Tujuan
a. Umum
Setelah kegiatan pembelajaran mahasiswa diharapkan dapat
melakukan ambulasi pada pasien
b. Khusus
Setelah kegiatan pembelajaran mahasiswa dapat :
1) Memahami dan mendemonstrasikan cara memindahkan
pasien dari tempat tidur ke brankard
2) Memahami dan mendemonstrasikan cara memindahkan
pasien dari tempat tidur ke kursi roda
3) Memahami dan mendemostrasikan cara penggunaan cruck,
cane dan walker

3. Aktivitas Pembelajaran
No. Isi Yang terlibat Waktu
1. Pembukaan :
- Persiapan alat - Mahasiswa 20’
- berdoa - Instruktur dan 3’
- Pretes mahasiswa 10’
- Tujuan pembelajaran - Mahasiswa 2’
- Instruktur
2. Kegiatan inti
- Penjelasan teori - Instruktur 10’
- Role play ketrampilan - Instruktur 10’
- Sesi praktik oleh - Mahasiswa 80’
masing-masing
mahasiswa - Mahasiswa 15’
- Umpan balik dari - Instruktur dan 15’
mahasiswa mahasiswa
- Diskusi
3. Penutup
- Post test - mahasiswa 10’
- Kesimpulan kegiatan - instruktur 2’
- berdoa - instruktur dan 3’
mahasiswa

B. Teori
1. Definisi
Ambulasi merupakan kegiatan cara berjalan
2. Tujuan
Mekanika tubuh yang benar dapat mengurangi kepenatan dan
ketegangan serta mencegah cedera yang serius dan memungkinkan
perawat untuk menggerakkan,mengangkat dan memindahkan pasien
dengan aman dan juga melindungi perawat dari cedera system
musculoskeletal.
3. Alat yang dibutuhkan
Alat yang dibutuhkan antara lain cane, walker, crutch, brankard, dan
kursi roda.
a. Cane
Cane digunakan oleh seseorang yang memerlukan bantuan
keseimbangan atau seseorang yang mampu menahan berat badan namun
salah satu kaki lebih lemah daripada yang lain. Semua cane mempunyai
karet pada bagian bawah untuk mencegah terpeleset. Cane memerlukan
salah satu ekstremitas untuk menopang berat badan. Penggunaan cane pada
tangan berlawanan arah dengan kaki yang defisit. Perawat perlu
mendukung pasien untuk menggunakan gaya berjalan normal dan berjalan
dengan pelan sehingga cane mudah digunakan.

b. Walker
Walker adalah suatu alat yang sangat ringan, mudah dipindahkan,
setinggi pinggang, terbuat dari pipa logam. Walker mempunyai empat
penyangga dan kaki yang kokoh. Klien memegang pemegang tangan pada
bagian atas, melangkah, memindahkan walker lebih lanjut, dan melangkah
lagi. Walker memperbaiki keseimbangan dengan meningkatkan area dasar
penunjang berat badan dan meningkatkan keseimbangan
lateral. Walker mempunyai beberapa kelemahan yaitu sulit digunakan bila
melewati pintu dan tempat yang sempit, mengurangi ayunan lengan dan
terjadi abnormal fleksi punggung ketika berjalan. Secara
umum, walker tidak dapat digunakan di tangga.

c. crutch
Mempunyai garis permukaan yang seperti bantalan pada bagian
atas, dimana berada tepat di bawah aksila. Pegangan tangan berbentuk
batang yang dipegang setinggi telapak tangan untuk menyokong tubuh.
Panjang pendeknya crutch bisa disesuaikan dengan aksila
pasien. Crutch harus diukur panjang yang sesuai dan klien harus
diajarkan menggunakan crutch mereka dengan aman, untuk mencapai
kestabilan gaya berjalan, naik dan turun tangga serta bangkit dari
duduk. Kruk memperluas area dasar, dengan demikian juga
meningkatkan keseimbangan. Berbeda dengan cane, crutch dapat
menunjang seluruh berat badan. Jenis kruk ini dapat mentransfer
sampai 80% berat badan.

C. PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian
1. Kaji tanda vital meliputi tekanan darah, nadi respirasi
2. Kaji adanya nyeri
3. Kaji kemampuan otot
4. Kaji kemampuan berjalan
5. Kaji kondisi yang dapat berefek ketika dilakukan latihan ambulasi
Diagnosa
1. Hambatan mobilitas fisik
2. Hambatan berjalan
3. Intoleransi aktivitas
4. Kelelahan

Tujuan
Tujuan yang diharapkan antara lain :
1. Pasien dapat meningkatkan kekuatan otot
2. Pasien dapat melakukan ambulasi dengan aman tanpa terjatuh
3. Meminimalkan komplikasi akibat imobilisasi
4. Pasien dapat meningkatkan kemandirian
PROSEDUR AMBULASI

A. mengatur posisi duduk di atas tempat tidur dan di tepi tempat


tidur
No ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
A. Tahap Preinteraksi
1. Lakukan verifikasi order yang ada untuk
pemeriksaan
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat-alat : sarung tangan (k/p)
4. Eksplorasi perasaan
B Tahap Orientasi
1. beri salam, panggil klien dengan panggilan
yang disenangi
2. perkenalkan nama perawat
3. Jelaskan prosedur, tujuan, dan waktu
tindakan pada klien atau keluarga
4. jelaskan tentang kerahasiaan
C. Tahap Kerja
1. berikan kesempatan pada klien untuk
bertanya sebelum melakukan kegiatan
2. Menanyakan keluhan utama saat ini
3. Posisikan tempat tidur agak rendah dan
posisi mendatar
Memantau pasien duduk di atas bed
4. Perawat berdiri di tepi bed klien tepat di sisi
pantal klien menghadap ke arah kepala bed.
Lebarkan kaki salah satu di depan untuk
menumpu berat tubuh
5. Minta klien untuk merangkul leher perawat
6. Letakkan salah satu tangan pada di bawah
bahu klien
7. Letakkan tangan yang lain di atas
permukaan tempat tidur, gunakan untuk
mendorong pada saat mengangkat pasien
8. Cek nadi setelah pasien duduk, tanyakan
keluhan
Membantu pasien duduk di tepi bed
9. Posisikan klien duduk di atas bed
10. Letakkan salah satu tangan di bahu klien
11. Letakkan tangan yang lain di bawah kedua
paha dekat dengan lutut
12. Angkat paha klien perlahan
13. Putar kaki klien ke arah perawat samapai
kedua kaki menjuntai di bed
14. Cek nadi setelah aktivitas, tanyakan
keluhan.
D Tahap Terminasi
1. Menanyakan pada pasien apa yang
dirasakan setelah dilakukan kegiatan
2. Menyimpul hasil prosedur yang dilakukan
3. Melakukan kontrak untuk tindakan
selanjutnya
4. Berikan reinforcement sesuai dengan
kemampuan klien
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara memberi
salam pamitan

E Dokumentasi

B. memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi roda


No ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
A. Tahap Preinteraksi
1. Lakukan verifikasi order yang ada untuk
pemeriksaan
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat-alat : kursi roda, selimut
4. Eksplorasi perasaan
B Tahap Orientasi
1. beri salam, panggil klien dengan panggilan
yang disenangi
2. perkenalkan nama perawat
3. Jelaskan prosedur, tujuan, dan waktu
tindakan pada klien atau keluarga
4. jelaskan tentang kerahasiaan
C. Tahap Kerja
1. berikan kesempatan pada klien untuk
bertanya sebelum melakukan kegiatan
2. Menanyakan keluhan utama saat ini
3. Posisikan tempat tidur agak rendah
4. Letakkan kursi roda di depan kepala atau
kaki tempat tidur, ingat kunci korsi roda
5. Jauhkan selang (jika memakai) agar tidak
menyulitkan dalam memindahkan
6. Bantu klien pada posisi duduk di pinggir
bed
7. Letakkan kaki perawat di tepi bed di depan
klien, kaki yang kuat berada di belakang
kaki yang lemah, lebarkan kaki.
8. Letakkan tangan klien di kedua bahu
perawat sehingga klien, letakkan tangan
perawat di punggung klien
9. Bantu klien berdiri dan bergerak menuju
kursi roda
10. Bantu klien duduk, dengan meletakkan
kedua tangan pasien di lengan kursi atau
tetap di bahu perawat
11. Anjurkan klien duduk pada posisi aman dan
nyaman
12. Turunkan tatakan kaki dan letakkan kedua
kaki klien di atasnya
13. Selimuti pasien sesuai keperluan
D Tahap Terminasi
1. Menanyakan pada pasien apa yang
dirasakan setelah dilakukan kegiatan
2. Menyimpul hasil prosedur yang dilakukan
3. Melakukan kontrak untuk tindakan
selanjutnya
4. Berikan reinforcement sesuai dengan
kemampuan klien
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara memberi
salam pamitan

E Dokumentasi

C. memindahkan pasien dari tempat tidur ke brankard


No ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
A. Tahap Preinteraksi
1. Lakukan verifikasi order yang ada untuk
pemeriksaan
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat-alat : brankard, selimut
4. Eksplorasi perasaan
B Tahap Orientasi
1. beri salam, panggil klien dengan panggilan
yang disenangi
2. perkenalkan nama perawat
3. Jelaskan prosedur, tujuan, dan waktu
tindakan pada klien atau keluarga
4. jelaskan tentang kerahasiaan
C. Tahap Kerja
1. posisikan pasien supinasi
2. atur tinggi brankard sesuai dengan tempat
tidur, kunci semua roda brankard
3. letakkan kedua tangan klien menyilang di
atas dada
4. rencanakan perawat yang paling kuat
mengangkat bagian tengah, paling tinggi di
bagian kepala dan paling pendek di bagian
kaki
5. perawat yang berada di bagian tengah
merupakan perawat yang memberikan aba-
aba.
6. Dengan memberikan aba-aba perawat
serentak mengangkat klien serentak
7. Atur posisi klien senyaman mungkin
D Tahap Terminasi
1. Menanyakan pada pasien apa yang
dirasakan setelah dilakukan kegiatan
2. Menyimpul hasil prosedur yang dilakukan
3. Melakukan kontrak untuk tindakan
selanjutnya
4. Berikan reinforcement sesuai dengan
kemampuan klien
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara memberi
salam pamitan
E Dokumentasi

D. Penggunaan cane
No ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
A. Tahap Preinteraksi
1. Lakukan verifikasi order yang ada untuk
pemeriksaan
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat-alat : cane
4. Eksplorasi perasaan
B Tahap Orientasi
1. beri salam, panggil klien dengan panggilan
yang disenangi
2. perkenalkan nama perawat
3. Jelaskan prosedur, tujuan, dan waktu
tindakan pada klien atau keluarga
5. jelaskan tentang kerahasiaan
C. Tahap Kerja
1. Minta klien untuk memegang tongkat pada
sisi tubuh berlawanan dengan kaki yang
lemah.
2. Atur posisi tongkat 15 cm ke arah samping
dan 15 cm di depan kaki, sehingga siku
agak fleksi
3. Jika klien memerlukan sanggaan maksimal,
instruksikan klien untuk bergerak sebagai
berikut
a. Gerakkan tongkat ke depan sekitar 30 cm
atau semampu klien
b. Gerakkan kaki yang lemah, sementara
berat kaki bertumpu pada kaki yang kuat
c. Gerakkan tungkai yang kuat sehingga
berada di depan tongkat dan tungkai
lemah
4. Jika klien sudah lebih kuat dan
membutuhkan sedikit sanggaan,
instruksikan klien sebagai berikut
a. Gerakkan tongkat dan tungkai yang
lemah ke depan secara bersamaan, berat
tubuh menumpu pada kaki yang kuat
b. Gerakkan tungkai yang kuat ke depan
sementara berat badan menumpu pada
kaki yang lemah dan tongkat

2. Pastikan keamanan klien. Berjalanlah di


samping klien pada sisi kaki yang lemah
D Tahap Terminasi
1. Menanyakan pada pasien apa yang
dirasakan setelah dilakukan kegiatan
2. Menyimpul hasil prosedur yang dilakukan
3. Melakukan kontrak untuk tindakan
selanjutnya
4. Berikan reinforcement sesuai dengan
kemampuan klien
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara memberi
salam pamitan
E Dokumentasi

E. Penggunaan kruk
No ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
A. Tahap Preinteraksi
1. Lakukan verifikasi order yang ada untuk
pemeriksaan
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat-alat : kruk
4. Eksplorasi perasaan
B Tahap Orientasi
1. beri salam, panggil klien dengan panggilan
yang disenangi
2. perkenalkan nama perawat
3. Jelaskan prosedur, tujuan, dan waktu tindakan
pada klien atau keluarga
4. jelaskan tentang kerahasiaan
C. Tahap Kerja
1. Pastikan panjang kruk sudah tepat
2. Bantu klien mengambil posisi segitiga
a. Minta klien berdiri dan meletakkan kedua
ujung kruk 15 cm di depan kaki dan 15 cm
ke samping luar
b. Pastikan kedua jarak kaki klien agak
berjauhan.
c. Postur tubuh klien tegak.

Anjurkan Anjurkan klien berjalan sesuai gambar


3. Perawat berdiri di belakang klien pada sisi
kaki yang lemah
D Tahap Terminasi
1. Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan
setelah dilakukan kegiatan
2. Menyimpul hasil prosedur yang dilakukan
3. Melakukan kontrak untuk tindakan
selanjutnya
4. Berikan reinforcement sesuai dengan
kemampuan klien
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara memberi
salam pamitan
E Dokumentasi

F. Penggunaan Walker

No ASPEK YANG DINILAI NILAI


0 1 2
A. Tahap Preinteraksi
1. Lakukan verifikasi order yang ada untuk
pemeriksaan
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat-alat : walker
4. Eksplorasi perasaan
B Tahap Orientasi
1. beri salam, panggil klien dengan panggilan
yang disenangi
2. perkenalkan nama perawat
3. Jelaskan prosedur, tujuan, dan waktu tindakan
pada klien atau keluarga
4. jelaskan tentang kerahasiaan
C. Tahap Kerja
1. anjurkan pasien duduk di kursi atau bed,
persilahkan menggunakan alas kaki jika
menginginkan
2. letakkan walker di depan kursi pasien
3. anjurkan pasien berdiri dengan tangan
menumpu pada walker, perawat berdiri di
salah satu sisi pasien
4. anjurkan pasien memindahkan walker 6-8
inchi ke depan, kemudian diikuti kaki pasien.
Lakukan sesuai jarak yang ditentukan. Amati
perubahan tanda vital, keluhan pusing. Jika
ada keluhan hentikan tindakan

5. bawa kembali pasien ke bed/ kursi


6. cuci tangan
D Tahap Terminasi
1. Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan
setelah dilakukan kegiatan
2. Menyimpul hasil prosedur yang dilakukan
3. Melakukan kontrak untuk tindakan
selanjutnya
4. Berikan reinforcement sesuai dengan
kemampuan klien
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara memberi
salam pamitan
E Dokumentasi