Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Islam memiliki karakteristik global, yang mana bisa diterima
dalam setiap ruang dan waktu. Namun, saat ia memasuki berbagai
kawasan wilayah, karakteristik globalnya seolah-olah hilang melebur
ke dalam berbagai kekuatan lokal yang dimasukinya. Satu
kecendrungan dimana biasa Islam mengadaptasi terhadap kepentingan
mereka. Khususnya dikawasan Nusantara, dimana disana identik
dengan budaya melayu, budaya Melayu yang ada di Nusantara
menjadikan Agama Islam disana berkarakter Islam melayu. Islam dan
masyarakat tradisional Melayu pada dasarnya adalah bentuk Islam
pribumi, yang dianut sebagai prinsip-prinsip akidah dengan ajaran-
ajaran ritualnya yang bersifat wajib. Islamisasi orang-orang Melayu,
seperti itu juga yang dialami oleh orang-orang ditempat lain, tidak
pernah berlangsung secara sekaligus, akan tetapi melalui proses yang
berjalan secara bertahap-tahap.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan-rumusan masalah yang akan dibahas dalam
makalah adalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana proses penyebaran islam di kawasan melayu ?
2. Apa saja teori-teori yang digunakan dalam proses penyebaran
islam di kawasan melayu ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan yang akan dibahas dalam makalah
adalah, sebagai berikut:
1. Mengetahui proses penyebaran islam di kawasan melayu.
2. Mengetahui teori-teori yang digunakan dalam proses
penyebaran islam di kawasan melayu.

1
2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kedatangan Islam Di Kawasan Melayu


Islam datang dikawasan Melayu diperkirakan pada sekitar abad
ke-7 M. Kemudian mengalami perkembangan secara intensif dan
mengislamisasi masyarakat secara optimal yang diperkirakan terjadi
pada abad ke-13 M. Awal kedatangannya diduga akibat hubungan
dagang antara pedagang-pedagang Arab dari Timur Tengah (seperti
Mesir, Yaman, atau Teluk Persia) atau dari daerah sekitar India
(seperti Gujarat, Malabar, dan Bangladesh) dengan kerajaan-kerajaan
di Nusantara, semacam Sriwijaya di Sumatra atau dengan di Maja
Pahit di Jawa. Perkembangan mereka pada abad ke-13 sampai awal
abad ke-15 ditandai dengan banyaknya pemukiman muslim baik di
Sumatra seperti di Malaka, Aceh, maupun di Jawa seperti di pesisir-
pesisir pantai, Tuban, Gresik, Demak, dan sebagainya.
Pusat-pusat kekuatan ekonomi masyarakat Islam secara tidak
langsung terlembagakan dalam bentuk kota-kota dagang atau
munculnya para saudagar muslim, baik di Malaka, Aceh, maupun
pesisir-pesisir pulau jawa. Saudagar-saudagar Arab, kelompok-
kelompok sufi, dan para mubaligh dari teluk persia, Oman maupun
dari Gujarat-Persia tersebut atau dari berbagai tempat lain dari Timur
Tengah terus berakumulasi dengan kekuatan lokal, hingga
terbentuknya komunitas politik, yakni kesultanan pada abad ke-16.
Dari sana para saudagar mendapat perlingdungan dan semangat lebih
untuk meneruskan langkah-langkah ekonomi dan dakwahnya untuk
menembus wilayah-wilayah Timur lainnya, seperti daerah-daerah
Jawa, serta daerah Maluku, seperti Ambon, Ternate, Tidore, dan
seterusnya, termasuk Kalimantan, pulau-pulau Sulu dan Filipina.
Pengaruh persia terhadap kebudayaan Melayu juga sangat terasa
pada pemikiran-pemikiran seni dan bahasa. Banyak pola-pola kata dan
bahasa yang di adopsi dari pola-pola Persia, dimana huruf akhiran
3

“th” yang selalu dibaca tegas seperti pada kata


masyaraka(t), makluma(t), khiyana(t), dan sebagainya. Sementara
dalam pola bahasa Arab akhiran “t” selalu dibaca mati dan diganti
dengan akhiran “h” ; khiyanah, ma’lumah, dan sebagainya.Istilah-
istilah lain seperti cilla (duduk bersila), bazar (pasar) dan sebagainya,
termasuk pada pola dan wujud seni sastra Melayu yang hampir
separuhnya terpengaruh oleh Persia.
Mengenai teori kedatangan Islam di Melayu terdapat banyak
pendapat dan masing-masing pendapat diikuti dengan bukti-buktinya.
Memang banyak hal yang dipermasalahkan apabila membicarakan
apabila membicarakan tentang kedatangan Islam. Meskipun demikian,
maka teori kedatangan Islam meliputi tiga hal pokok yakni dari mana
asal kedatangan Islam waktu kedatangan Islam dan siapa yang
membawa Islam itu sendiri. Namun, terlepas dari teori tersebut yang
jelas Islam pada awalnya bertapak di kota-kota pelabuhan seperti
Samudra Pasai, Aceh, Malaka, Riau, dan kota-kota pelabuhan lainnya.
Hal ini disebabkan karena Kepulauan Melayu memang berada di
persimpangan jalan laut bagi para pedagang yang akan melakukan
perjalanan perniagaan. Misalnya pedagang Arab, Persia, India, dan
China dengan dua arah bolak balik. Oleh sebab itu secara umum
dikatakan bahwa Islam disebarkan oleh para pedagang muslim yang
melakukan perdagangan ke berbagai wilayah.
Sebelum Islam datang ke tanah Melayu, orang-orang Melayu
adalah penganut annimisme, hinduisme, dan budhisme. Namun
demikian, sejak kedatangannya Islam secara berangsur-angsur mulai
meyakini dan diterima sebagai agama baru oleh masyarakat Melayu
Nusantara. Proses islamisasi di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari
peranan kerajaan Islam. Berawal ketika Raja setempat memeluk
Islam, selanjutnya diikuti para pembesar istana, kaum bangsawan dan
kemudian rakyat jelata. Dalam perkembangan selanjutnya, kesultanan
memainkan peranan penting tidak hanya dalam pemapanan kesultanan
sebagai institusi politik Muslim, pembentukan dan pengembangan
4

institusi-institusi Muslim lainnya, seperti pendidikan dan hukum


(peradilan agama) tetapi juga dalam peningkatan syiar dan dakwah
Islam.

B. Teori-Teori Penyebaran Islam Di Kawasan Melayu


Situasi dan kondisi seperti ini memaksa para pakar untuk
memunculkan teori-teori dalam kaitannya dengan Preses Islamisasi
dan perkembangan Islam di Indonesia. Paling tidak, ada empat teori
yang dimunculkan, yaitu teori India, teori Arab, teori Persia dan
terakhir teori China.

1. Teori Arab
Pendapat ini menyatakan bahwa Islam datang langsung
dari Arab atau lebih tepatnya dari Hadramaut. Karena jika
dilihat secara nyata jauh ke belakang sebenarnya telah terjadi
hubungan antara penduduk nusantara dengan bangsa Arab
sebelum kelahiran Islam. Dalam satu catatan “-shih” telah
ditemui pada tahun 650 M / 30 H. Perkampungan tersebut
dihuni oleh orang-orang Arab yang datang ke Sumatera pada
abad ke-7 M. Selain itu pula, bahwa pada abad 7 M yakni
sekitar tahun 632 M berangkatlah satu ekspedisi yang terdiri dari
beberapa orang saudagar Arab dan beberapa orang mubaligh
Islam berlayar ke negeri Cina dan tinggal di pelabuhan Aceh
yaitu di Lamuri (Ellya, 2013). Kemudian dikatakan pula bahwa
pada tahun 82 H atau tahun 717 M berlayar pula 33 buah kapal
Arab-Persia yang diketuai oleh Zahid ke Tiangkok dan singgah
pula di Aceh, Kedah, Suam, Brunei dan lain-lain. Kepentingan
mereka adalah untuk berdagang dan menyebarkan Islam.
selanjutnya T. W. Arnold dalam bukunya “The Preaching Of
Islam” menyebutkan pada 674 M telah ada koloni Arab di
Pantai Barat Sumatra dan ada dari pembesar Arab itu yang
menjadi kepala koloni disana, yaitu sekitar 676 M.
5

Teori Arab ini sangat banyak menampilkan bukti-bukti


tentang keberadaan orang Arab di Wilayah Melayu, baik
sebelum Islam maupun sesudah Islam. Selain itu, dapat juga
dilihat bahwa sistem aksara Arab-Melayu yang ada di nusantara
merupakan saduran dari aksara Arab atau aksara Timur Tengah.
Hal ini menandakan telah terjadinya interaksi yang dalam antara
kedua wilayah itu.
Dalam Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan Syeikh
Ismail dengan kapal dari Mekkah ke Pasai, djan lalu ia
mengislamkan Merah Silu –penguasa setempat– yang kemudian
diberi gelar Sultan Malik al-Saleh. Demikian juga informasi
yang diberikan dalam sejarah Melayu (1952), Parameswara -
penguasa melaka– juga di Islamkan oleh Sayyid Abdul Aziz,
seorang Arab dari Jeddah. Setelah masuk Islam ia diberi gelar
Sultan Muhammad Syah. Historiografi lainnya, Hikayat
Mahawangsa meriwayatkan bahwa Syeikh Abdullah al-Yamani
datang dari Makkah ke Nusantara dan mengislamkan penguasa
setempat, Phra Ong Mahawangsa (Merong Mahawangsa) dan
para mentrinya, serta sekalian penduduk Kedah. Setelah masuk
Islam ia bergelar Sultan Muzaffar Syah. Sementara itu, sebuah
historiografi dari Aceh (1982) menerangkan bahwa nenek
moyang Sultan Aceh berasal dari Arab yang bernama Syekh
Jamal al-‘Alam, yang dikirim Sultan Utsmani untuk
mengislamkan penduduk Aceh. Riwayat Aceh lainnya
menyatakan bahwa Islam diperkenalkan di Aceh oleh seorang
Arab yang bernama Syekh Abdulah ‘Arif sekitar tahun 506 H /
1111 M.
Sejumlah ahli Indonesia dan Malaysia mendukung teori
Arab ini. Dalam beberapa kali seminar yang digelar tentang
Kedatangan Islam ke Indonesia yang diadakan pada tahu 1963
dan 1978, disimpulkan bahwa Islam yang datang ke Indonesua
langsung dari Arab, bukan dari India. Islam datang pertama kali
6

ke Indonesia pada abad pertama Hijriah atau abad ke- 7 Masehi,


bukan abad ke- 12 atau ke- 13 Masehi (A.Hasjmy, 1993).
Uka Tjandrasasmita, pakar Sejarah dan Arkeolog Islam,
berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7
atau ke-8 Masehi. Pada abad-abad ini, dimungkinkan orang-
orang Islam dari Arab, Persia dan India sudah banyak yang
berhubungan dengan orang-orang di Asia Tenggara dan Asia
Timur (Tjandrasasmita, 2000). Kemajuan perhubungan dan
pelayaran pada abad-abad tersebut sangat mungkin sebagai
akibat persaingan di antara kerajaan-kerajaan besar ketika itu,
yakni kerajaan Bani Umayyah di Asia Barat, kerajaan Sriwijaya
di Asia Tenggara, dan kekuasaan China di bawah dinasti T’ang
di Asia Timur (Fadlohourani, 1951).
Dalam seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia
tahun 1962, Hamka menyebutkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia langsung dari Arab, bukan melalui india bukan pada
abad 11 akan tetapi Islam masuk pada abad pertama Hijrah atau
abad ke-7 Masehi. Pendukung teori Arab lainnya adalah Syed
Muhammad Naquib al-Attas, seorang pakar Kesusasteraan
Melayu dari University Kebangsaan Malaysia kelahiran
Indonesia. Dia mengatakan bahwa bukti paling penting yang
dapat dipelajari ketika mendiskusikan kedatangan Islam di
kepulauan Melayu-Indonesia adalah karakteristik internal Islam
itu sendiri di kawasan ini. Dia menggagas suatu hal yang disebut
sebagai teori umum Islamisai Kepulauan Melayu-Indonesia
yang umumnya didasarkan pada sejarah literatur Islam Melayu
dan sejarah pandangan dunia (worldview) Melayu-Indonesia,
sebagaimana yang dapat dilihat melalui perubahan konsep dan
istilah kunci dalam literatur Melayu (historiografi tradisional
lokal) pada abad ke-10 sampai ke-11 Hijriyah, atau abad ke-16
sampai abad ke-17 Masehi (Azra, 2002).
7

2. Teori India
Teori kedatangan Islam ke Nusantara dibawa oleh
pedagang-pedangang dari India telah dipelopori oleh orientalis
seperti Snouck Horgronje dan Brain Harrison. Pendapat bahwa
Islam di Indonesia berasal dari Anak Benua India juga
dikemukakan oleh J.P. Moquette yang berkesimpulan bahwa
tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat, India. Pendapat
ini didasarkan pada pengamatan Moquette terhadap bentuk batu
nisan di Pasai yang bertanggal 17 Dzulhijjah 831 H (27
September 1428) mirip dengan batu nisan yang ada dimakam
Maulana Malik Ibrahim di Gresik Jawa Timur bahkan sama pula
bentuknya dengan batu nisan yang terdapat di Cambay, Gujarat.
Kesimpulan Moquette tersebut dibantah oleh S.Q. Fatimi
yang sama-sama mengikuti “teori batu nisan”. Menurut Fatimi,
batu nisan Malik al-Shaleh di Pasai berbeda jauh dengan batu
nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lainnya di
Nusantara. Fatimi berpendapat bahwa bentuk dan gaya batu
nisan itu justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal
(kini Bangladesh). Ini didukung oleh batu nisan yang terdapat di
makam Siti Fatimah binti Maimun (berangka tahun 475 H /
1082 M) yang ditemukan di Leran, Jawa Timur. Karenanya,
Fatimi menyimpulkan bahwa semua batu nisan itu pasti diimpor
dari Bengal. Inilah yang menjadi alasan Fatimi bahwa asal-usul
Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia berasal dari Bengal
(Azra, 2002).
Tampaknya, teori Gujarat dari Moquette terlalu kuat untuk
digoyang oleh teori Bengal dari Fatimi. Beberapa sarjana lain,
seperti R.A. Kern, R.O Winstedt, G.H. Bousquet, B.H.M.
Vlekke, J. Gonda, B.J.O. Schrieke, dan D.G.E. Hall mendukung
pendapat Moquette. Teori Gujarat sebagai tempat asal Islam di
Nusantara dipandang mempunyai kelemahan oleh Marisson.
Alasannya, meskipun batu-batu nisan tersebut berasal dari
8

Gujarat atau Bengal, bukan berarti Islam berasal dari sana.


Dikatakannya, ketika Islamisasi Samudra-Pasai yang raja
pertamanya wafat 698 H / 1297 M, Gujarat masih merupakan
sebuah kerajaan bercorak Hindu. Baru pada satu tahun
berikutnya, Cambay, Gujarat ditaklukkan oleh kekuasaan
Muslim. Ini artinya, jika Islam di Indonesia disebarkan oleh
orang-orang Gujarat pastilah Islam telah menjadi agama yang
mapan sebelum tahun 698 H / 1297 M. Atas dasar tersebut,
Marisson menyimpulkan bahwa Islam di Indonesia bukan
berasal dar Gujarat, tetapi dibawa para pendakwah muslim dari
Pantai Coromandel pada akhir abad ke-13 (Marrison, 1995).
Pandangan Marisson tersebut mendukung pendapat yang
dipegang oleh Thomas W. Arnold, yang mengatakan bahwa
Islam dibawa ke Nusantara antara lain berasal dari Coromandel
dan Malabar. Teori ini didasarkan pada argumen adanya
persamaan mazhab fiqih di kedua wilayah terebut. Mazhab
Syafi’i yang mayoritas diikuti oleh mayoritas Muslim di
Nusantara merupakan mazhab yang dominan di wilayah
Coromandel dan Malabar. Menurut Arnold, para pedagang
Muslim dari Coromandel dan Malabar mempunyai peranan
penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara.
Kehadiran sejumlah besar pedagang ini di pelabuhan-pelabuhan
Indonesia tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan
agama Islam kepada penduduk setempat (Azra, 2002).

3. Teori Persia
Selain teori India dan teori Arab, ada lagi teori Persia.
Teori Persia ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke
Nusantara ini berasal dari Persia, bukan dari India dan Arab.
Teori ini didasarkan pada beberapa unsur kebudayaan Persia,
khususnya Syi’ah yang ada dalam kebudayaan Islam di
Nusantara. Di antara pendukung teori ini adalah P.A. Hoesein
9

Djajadiningrat. Dia mendasarkan analisisnya pada pengaruh


sufisme Persia terhadap beberapa ajaran mistik Islam (sufisme)
Indonesia. Ajaran manunggaling kawula gusti Syeikh Siti Jenar
merupakan pengaruh dari ajaran wahdat al-wujud al-Hallaj dari
Persia (Djajadiningrat, 1986). Ini merupakan alasan pertama
dari teori ini.
Alasan kedua, penggunaan istilah bahasa Persia dalam
sistem mengeja huruf Arab, terutama untuk tanda-tanda bunyi
harakat dalam pengajaran Al-Qur’an. Jabar (Arab-fathah) untuk
mengahasilkan bunyi “a” (Arab: kasrah) untuk menghasilkan
bunyi “i” dan “e”; serta pes (Arab: dhammah) untuk
menghasilkan bunyi “u” atau “o”. Dengan demikian, pada awal
pelajaran membaca Al-Qur’an, para santri harus menghafal
alifjabar “a”, alifjer “i” dan alif pes “u”/”o”. Cara pengajaran
seperti ini, pada masa sekarang masih dipraktekkan di beberapa
pesantren dan lembaga pengajian Al-Qur’an di pedalaman
Banten (Montana, 1945). Juga, huruf sin tanda gigi merupakan
pengaruh Persia yang membedakan dengan huruf sin dari Arab
yang bergigi (Suryanegara, 1998).
Alasan Ketiga, peringatan Asyura atau 10 Muharram
sebagai salah satu hari yang diperingati oleh kaum Syi’ah, yakni
hari wafatnya Husain bin Abi Thalib di Padang Karbala. Di
Jawa dan juga di Aceh, peringatan ini ditandai dengan
pembuatan bubur Asyura. Di Minangkabau dan Aceh, bulan
Muharram disebut dengan bulan Hasan-Husain. Di Sumatera
Tengah sebelah barat, ada upacara Tabut, yaitu mengarak
”keranda Husain” untuk dilemparkan ke dalam sungai atau
perairan lainnya. Keranda tersebut disebut dengan Tabut yan
berasal dari bahasa Arab (Suryanegara, 1998).
10

4. Teori China
Terdapat juga teori yang mengatakan bahwa Islam di bawa
ke Nusantara melalui Negara China karena Islam telah sampai
ke China pada zaman pemerintahan Dinasti Tang sekitar tahun
659 M. Pendapat ini didukung oleh Emanuel Godinho De
Evedia yang digunakan oleh Othman dalam tulisannya yang
mengatakan bahwa Islam datang ke Nusantara dari China
melalui Kanton dan Hainan pada abad ke-9 M dengan bukti
ditemukannya batu bersurat di Kuala Berang Telengganu yang
terletak di Pantai Timur Tanah Melayu.
Banyaknya unsur kebudayaan China dalam beberapa
unsur kebudayaan Islam di Indonesia perlu mempertimbangkan
peran orang-orang China dalam Islamisasi di Nusantara,
karenanya “teori China” dalam Islamisasi tidak bisa diabaikan.
H.J. de Graaf, misalnya, telah menyunting beberapa literature
Jawa klasik yang memperlihatkan peranan orang-orang China
dalam pengembangan Islam di Indonesia (H.J. de Graaf, 1998).
Dalam tulisan-tulisan tersebut, disebutkan bahwa tokoh-tokoh
besar semacam Sunan Ampel (Raden Rahmat / Bong Swi Hoo)
dan Raja Demak (Raden Fatah / Jin Bun) merupakan orang-
orang keturunan China.
Selain itu, teori ini didukung oleh fakta di mana telah
terjadi kegiatan perdagangan antara orang-orang Islam dari Asia
barat (Arab-Persia) sejak abad ke-3 H (abad ke-9 M) atau lebih
awal yaitu abad pertama kali hijrah (abad ke-7). Menurut Syafi
Abu Bakar dalam penelitiannya mengatakan bahwa “terdapat
lebih kurang 200.000 pedagang-pedagang di pelabuhan Katon
yang sebagian besarnya adalah pedagang-pedagang Islam”.
Mengenai teori China ini sebenarnya masih lemah karena secara
area atau lokasi, negeri China berada di sebelah utara dan untuk
sampai ke China harus melalui Selat Malaka terlebih dahulu.
Jika orang-orang Arab berdagang ke China mestinya akan
11

singgah terlebih dahulu di Nusantara sebelum Sampai ke China


karena Nusantara berada di tengah-tengah pelayaran
perdagangan yang terkenal dengan nama selat Malaka. Oleh
karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa Islam telah ada di
Nusantara sebelum ke China.

5. Teori Eropa
Teori yang menyatakan bahwa Islam itu datang dari eropa
secara mutlak berpegang pada apa yang disebutkan oleh
pengembara Italia Marcopolo bahwa masuknya islam ke Asia
Tenggara adalah pada abad ke tiga belas Masehi di sebelah utara
pulau sumatera. Dalam hal ini mereka membatasi pendapat
hanya pada perjalanan Marcopolo ke daerah tersebut yang
terjadi pada tahun 1292 M dengan pendapatnya sebagaimana
yang tertulis di dalam Ensiklopedia dunia islam sebagai berikut:
“sesungguhnya semua penduduk negeri ini adalah
penyembah berhala kecuali di kerajaan kecil perlak yang
terletak di timur laut Sumatera dimana penduduk kotanya
adalah orang-orang islam. sedangkan penduduk yang tinggal di
bukit-bukit mereka semuanya adalah penyembah berhala atau
orang-orang biadab yang memakan daging manusia,”
Selanjutnya, dikatakan pula bahwa karena penamaan ini
sebelum kedatangan Marcopolo, maka hal ini menimbulkan
tanda tanya. Mungkin saja daerah samara bukan samudra itu
sendiri. Tetapi jika benar demikian, maka Marcopolo salah
ketika mengatakan kota itu bukan kota islam, karena
sesungguhnya di sana terdapat beberapa batu tertulis dan
merupakan pemerintahan islam pertama di samudra. Sultan
Malaka yaitu Malik al-Shaleh berada di sana tahun 696 H (1297
M). Dengan demikian itulah masa pertama yang jelas tentang
adanya masyarakat islam yang pertama di Nusantara.
12

6. Teori Muslim
Ada beberapa pendapat sejarawan Arab dan Muslim
tentang masuknya islam di Asia Tenggara. Misalnya
Muhammad Dhiya Syahab dan Abdullah bin Nuh mengatakan
bahwa banyak buku-buku sejarah dari Barat dan orang-orang
yang mengikutinya yang mengira bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke 13 M, tetapi saya berkeyakinan bahwa
masuknya Islam ke Asia Tenggara jauh sebelum masa yang
diduga oleh orang-orang asing itu dan para pengikut mereka.
Kemudian pendapat Syarif Alwi bin Thohir Al-Haddad
salah seorang Mufti Kesultanan Johor Malaysia mengatakan
bahwa pendapat-pendapat para sejarawan tentang masuknya
Islam ke Asia Tenggara adalah tidak tepat. Terutama pendapat
sejarawan Eropa yang menetapkan masuknya Islam ke Jawa
pada tahun 800 H - 1300 H, di Sumatera dan Malaysia pada
abad ke 7 Hijriah. Kenyataan yang benar bertentangan dengan
apa yang mereka katakan. Karena sesungguhnya Islam telah
mempunyai raja-raja di Sumatera pada abad ke enam bahkan ke
lima hijriah.
Kemudian ahli sejarah dan mufti ini mengatakan bahwa
telah terjadi kesalahan tentang masuknya Islam ke Sumatera,
negeri-negeri melayu, kepulauan sulu dan Mindanao. Islam telah
masuk ke daerah-daerah tersebut sebelum waktu yang
disebutkan oleh orang-orang Eropa. Bukti-bukti telah
menunjukkan hal tersebut. Demikian juga yang terjadi tentang
masuknya Islam ke Jawa dan China. Rahasia (kunci) kesalahan
ini sebagaimana dikatakan adalah, bahwasanya orang-orang
Jawa tidak mempunyai penggalan tahunan yang tepat sebelum
masuknya islam dan sesungguhnya hal itu terjadi jauh setelah itu
dan di masukkan pada kejadian-kejadian dalam sejarah.
Keterangan-keterangan di atas ditambah lagi dengan apa
yang disebutkan oleh sejarah-sejarah Sulu dan Mindanao,
13

bahwasannya Makhdum datang ke daerah-daerah tersebut


sebagai da’i pada tahun 1380 M yaitu tahun 782 hijriah
bertepatan dengan 1308 tahun Jawa. Maka, antara masuknya
Makhdum Isha ke Jawa dan tahun ini terdapat perbedaan yang
tak kurang dari 47 tahun.
Selain itu, Dr. Muhammad Zaitun mengatakan bahwa
walaupun para sejarahwan menyebutkan masuknya islam ke
Malaysia pada abad ke enam hijriah (abad ke 12 M), pendapat
yang lebih kuat adalah islam telah masuk kesana jauh sebelum
itu (Helmiati, 2007). Mungkin tahun yang disebutkan oleh
mereka hanya menjelaskan catatan-catatan sejarah seperti yang
tertulis di prasasti yang sampai kepadanya sesudah pemerintah
wilayah-wilayah tersebut memeluk agama islam dan terbentuk
kesultanan-kesultanan islam di daerah tersebut. Di Malaysia,
wilayah kedah adalah wilayah yang paling cepat memeluk
islam.

7. Teori Benggali (Bangladesh)


Teori yang menyatakan bahwa Islam itu datang dari
Benggali (kini Bangladesh) yang diajukan oleh Fatimi. Fatimi
beragumentasi bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai
adalah orang benggali atau keturunan mereka (Azra, 2002).
Selain itu Fatimi menjelaskan bahwa Islam muncul pertama kali
di Semenanjung Malaya adalah dari arah pantai timur, bukan
dari barat (Malaka), pada abad ke 11 M, melalui Kanton,
Phanrang, sementara elemen-elemen prasasti yang ditemukan di
Terengganu juga lebih mirip dengan prasasti yang ditemukan di
Leran.
Teori Gujarat dan Bengali sebagai tempat asal Islam di
Nusantara mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Ini
dimunculkan oleh (Marrison, 1995), Ia menjelaskan meski batu-
batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di
14

Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau Bengali, itu tidak
berarti Islam juga datang dari sana. Menurut Marrison, pada
masa Islamisasi Samudera Pasai yang raja pertamanya wafat
tahun 698 H / 1297 M, Gujarat masih merupakan kerajaan
Hindu. Barulah setahun kemudian (699 H / 1298 M) Cambay,
Gujarat ditahlukkan kekuasaan Muslim. Selanjutnya dinyatakan,
meski laskar Muslim beberapa kali menyerang Gujarat (masing-
masing 415 H / 1024 M, 574 H / 1178 M, 595 H / 1197 M) raja
hindu disana mampu mempertahankan kekuasaannya hingga
tahun 698 H / 1297 M. Berdasarkan hal tersebut, Marrison
mengemukakan bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari
Gujarat, melainkan dibawa para Muslim dari Pasai Coromandel
pada akhir abad ke-13.
15

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Islam datang dikawasan Melayu diperkirakan pada sekitar abad
ke-7. Kemudian mengalami perkembangan secara intensif dan
mengislamisasi masyarakat secara optimal yang diperkirakan terjadi
pada abad ke-13 M. Awal kedatangannya diduga akibat hubungan
dagang antara pedagang-pedagang Arab dari Timur Tengah dari
daerah sekitar India dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Sebelum Islam datang ke tanah Melayu, orang-orang Melayu
adalah penganut annimisme, hinduisme, dan budhisme. Namun
demikian, sejak kedatangannya Islam secara berangsur-angsur mulai
meyakini dan diterima sebagai agama baru oleh masyarakat Melayu
Nusantara. Proses islamisasi di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari
peranan kerajaan Islam. Berawal ketika Raja setempat memeluk
Islam, selanjutnya diikuti para pembesar istana, kaum bangsawan dan
kemudian rakyat jelata.

B. Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan. Masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam
penulisan makalah ini, baik yang kami sengaja maupun yang tidak
kami sengaja. Maka dari itu sangat kami harapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga dengan berbagai kekurangan yang ada ini tidak mengurangi
nilai-nilai dan manfaat dari mempelajari sejarah islam dan peradaban
melayu.