Anda di halaman 1dari 48

Kasus Psikoanalisis di Kehidupan Sehari-

hari

Saya akan memberi contoh kasus yang berhubungan dengan psikoanalisis di kehidupan
sehari-hari saya dirumah.

Jika dilihat dari sistem ID


contoh : Adik saya seorang perempuan berumur 8 tahun masih duduk di kelas 3 SD, jika
sedang dirumah dia selalu ingin membeli jajanan di luar rumah seperti baso, es cendol,
balon dan lainnya. Karena adik saya gendut dan mudah sakit maka oleh ibu saya dibatasi
jajanannya. Tetapi namanya juga anak kecil pasti jika ada sesuatu yang diinginkannya
pasti akan berusaha mendapatkannya apapun cara yang akan digunakan, mungkin dengan
menangis atau bahkan melempar barang karena kesal.

Jika dilihat dari sistem EGO


contoh : dilihat dari contoh kasus id , kita bisa sambungkan dengan contoh menurut ego.
Ketika adik saya lapar maka akan bertindak dan berfikir bagaimana rasa lapar itu hilang
dengan membeli jajanan diluar. Pemikiran adik saya untuk menghilangkan rasa laparnya
itu menunjukan sikap ego karena ia bergerak berdasarkan prinsip realitas dan
menyesuaikan diri dengan realita.

Jika dilihat dari sistem SUPER EGO


contoh : kita sambungkan lagi dengan kasus-kasus diatas. Ibu saya telah mengontrol adik
saya dengan melarang tidak boleh membeli jajanan diluar rumah, tetapi apabila super ego
telah terbentuk, maka control dari dirinya sendiri akan keluar dengan memaksa ibu untuk
mengijinkannya membeli jajanan diluar rumah.
Perspektif psikoanalisis memberikan cara baru untuk memandang beberapa contoh semua
tindakan kita yang memiliki suatu penyebab. Tetapi penyebab itu lebih sering merupakan
tindakan bawah sadar kita. contohnya jika kita masuk ke tempat yang gelap, seram dan
dingin maka secara tidak langsung alam bawah sadar kita terbentuk dengan timbulnya
rasa takut dan merinding.

sekian contoh kasus yang dapat saya berikan , semoga dengan kasus ini teman-teman
dapat bisa mengontrol diri untuk membentuk pribadi yang sehat yah

About these ads

Contoh Kasus Konseli yang


Berpandangan pada Psikoanalisis
Supri (bukan nama sebenarnya) adalah seorang siswa SMA. Pada
tahun ajaran ini akan mengadakan pemilihan ketua OSIS. Di
sekolah supri adalah siswa yang pandai, kreatif, dan tekun.
Dalam pergaulannya pun ia selalu disukai oleh teman-temannya.
Dalam kesempatan ini teman-temannya mencalonkan Supri
untuk maju sebagai ketua OSIS yang baru. Dalam hati, Supri
sendiri sebenarnya berminat untuk mencalonkan diri, kareana
ia memang siswa aktivis yang selalu ambil bagian dalam
organisasi. Dan kesempatan ini adalah kesempatan yg ia tunggu-
tunggu untuk menjadi ketua sebuah organisasi sekolah.Akan
tetapi, Supri menolak dukungan teman-temannya karena ia
merasa minder, tidak pantas, tidak cocok seandainya ia menjadi
ketua OSIS. Ketakutan ini muncul karena baginya menjadi
ketua OSIS berarti ia akan banyak berbicara dihadapan orang-
orang, dan akan menjadi penanggung jawab dari segala hal
kegiatan yang diadakan. Hal inilah yang menyebabkan Supri
mengurungkan niatnya.

Ketakutan Supri muncul ketika ia harus bicara di hadapan banyak


orang karena ia pernah mempunyai masa lalu. Pada waktu kelas
III SD ia terpeleset ketika berjalan di atas panggung dalam
pentas drama di sekolah. Teman-temannya menertawakan dan
bersorak-sorak mengejeknya. Ketika kelas IV SD, Supri
mewakili sekolah dalam lomba menyanyi. Supri salah
mengucapkan syair lagu sehingga para peserta tertawa, bahkan
guru-guru pendamping peserta pun ikut tertawa. Pada waktu
kelas IV Supri menjabat sebagai ketua darmawisata, namun
program yang direncanakan berjalan mengecewakan. Guru dan
teman-teman kelasnya menyalahkan Supri. Ia benar-benar
merasa tidak berguna karena segala hal yang ia kerjakan selalu
salah, ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak dapat
melakukan apapun dengan benar.

Hal-hal dari masa lalunya itu selalu membebani dirinya dan


membuatnya merasa takut (trauma) apabila berada di situasi
yang sama seperti masa lalunya. Bahkan akhir-akhir ini Supri
merasa gelisah, takut, dan sulit tidur, karena teman-temannya
mencalonkan dirinya sebagai ketua OSIS tahun ini. Dia takut
hal yang dari masalalunya akan terulang. Karena situasi ini,
Supri pun datang menemui konselor sekolah.
Teori Psikoanalisa, Terapi, dan Contoh Kasus
Disusun Oleh :

Ahmada selfia : 18511103


Fajar Maulana : 12511635
Keren Hellery : 13511933
Hadi Rachmatullah : 13511133

Sejarah Terbentuknya Teori Psikoanalisa

Salah satu aliran utama dalam sejarah psikologi adalah teori psikoanalitik Sigmund
Freud. Psikoanalisis adalh sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat
manusia, dan metode psikoterapi. Secara historis psikoanalisis adalah aliran pertama dari
tiga aliran utama psikologi. Yang kedua behaviorisme, sedangkan yang ketiga adalah
psikologi eksistensial – humanistik.

Menurut Corey (2005:13), sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori-teori


dan praktek psikoanalitik mencakup :

1. Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat
manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia.

2. Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar.

3. Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap
kepribadian dimasa dewasa.

4. Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami


cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan
mengandalkan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan
kecemasan.

5. Pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari


ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-
transferensi.

Menurut pendangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem atau aspek,
yaitu: Id (Das Es), Ego (Das Ich), dan Super Ego (Das Ueber Ich).

Id (Das Es)

Menurut Suryabrata (2005:125) aspek ini adalah aspek biologis dan


merupakan sistem yang original di dalam kepribadian. Dari aspek inilah kedua aspek
yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya, oleh
karena itu Das Es itu merupakan dunia batin atau subyektif manusia, dan tidak
mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif. Das Es berisikan hal-hal yang
dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk insting-insting. Das Es merupakan
“reservoir” energi psikis yang menggerakkan Das Ich dan Das Ueber Ich.

Dengan diatur oleh asas kesenangan yang diarahkan pada pengurangan


tegangan, penghindaran kesakitan, dan perolehan kesenangan, Id bersifat tidak logis,
amoral, dan didorong oleh satu kepentingan: memuaskan kebutuhan-kebutuhan naluriah
sesuai dengan asas kesenangan. Id tidak pernah matang dan selalu menjadi anak manja
dari kepribadian, tidak berpikir, dan hanya menginginkan atau bertindak serta Id
bertindak dengan tidak sadar (Corey, 2005:14).

Ego (Das Ich)

Menurut Suryabrata (2005:126) aspek ini adalah aspek psikologis daripada


kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik
dengan dunia kenyataan (realita). Orang yang lapar mesti perlu makan untuk
menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya. Ini berarti bahwa organisme harus
dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan.
Disinilah letak perbedaan yang pokok antara Das Es (Id) dan Das Ich (Ego), yaitu kalau
Das Es itu hanya mengenal dunia subyektif (dunia batin), maka Das Ich dapat
membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di dunia luar
(dunia obyektif, dunia realitas).

Superego (Das Ueber Ich)

Menurut Suryabrata (2005:127) aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil


dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua
kepada anak-anaknya, yang dimasukkan (diajarkan) dengan berbagai perintah dan
larangan. Das Ueber Ich lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan, karena itu
Das Ueber Ich dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian.

Superego berfungsi menghambat impuls-impuls Id. Kemudian, sebagai internalisasi


standar-standar orang tua dan masyarakat, superego berkaitan dengan imbalan-imbalan
dan hukuman-hukuman. Imbalan-imbalannya adalah perasaan bangga dan mencintai diri,
sedangkan hukuman-hukumannya adalah perasaan-perasaan berdosa dan rendah diri
(Corey, 2005: 15)

Mekanisme Pertahanan Ego

Di bawah tekanan kecemasan yang berlebihan, ego kadang-kadang terpaksa


menempuh cara-cara ekstrem untuk menghilangkan tekanan. Cara-cara itu disebut
dengan mekanisme pertahanan.

Penyangkalan
Penyangkalan adalah pertahanan melawan kecemasan dengan “ menutup mata “
terhadap keberadaan kenyataan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek
kenyataan yang membangkitkan kecemasan. Kecemasan atas kematian orang yang
dicintai, misalnya sering dimanifestasikan oleh fakta penyangkalan terhadap kematian.

Represi

Represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan
kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketaksadaran, atau
bisa menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan.

Proyeksi

Proyeksi adalah mengalamatkan sifat sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego
kepada orang lain. Seorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang tidak disukai dan ia
tidak bisa menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri. Jadi, proyeksi, seorang akan
mengutuk orang lain karena “kejahatannya” dan menyangkal memiliki dorongan
jahat seperti itu. Untuk menghindari kesakitan karena mengakui bahwa di dalam dirinya
terdapat dorongan yang dianggap jahat, ia memisahkan diri dari kenyataan ini.

Formasi reaksi (pembentukan)

Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak
sadar. Jika perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang
menampilkan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang
bisa menimbulkan ancaman itu. Contohnya, seorang ibu yang memiliki perasaan menolak
terhadap anaknya, karena adanya perasaan berdosa, ia menampilkan tingkah laku yang
sangat berlawanan, yakni terlalu melindungi atau “terlalu mencintai” anaknya.
Orang yang menunjukkan sikap menyenangkan yang berlebihan atau terlalu baik boleh
jadi berusaha menutupi kebencian dan perasaan-perasaan negatifnya.

Fiksasi

Fiksasi maksudnya adalah menjadi “terpaku” pada tahap-tahap perkembangan yang


lebih awal karena mengambil langkah ke tahap selanjutnya bisa menimbulkan
kecemasan. Anak yang terlalu bergantung menunjukkan pertahanan berupa fiksasi.

Regresi

Regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutan-
tuntutannya tidak terlalu besar. Contohnya seorang anak yang takut sekolah
memperlihatkan tingkah laku infantil seperti menangis, mengisap ibu jari, bersembunyi,
dan menggantungkan diri pada guru. Atau, ketika adiknya lahir, seorang anak kembali
menunjukkan bentuk-bentuk tingkah laku yang kurang matang.

Rasionalisasi

Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang ”baik” guna menghindarkan


ego dari cedera; memalasukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi
tidak begitu menyakitkan. Orang yang tidak memperoleh kedudukanyang sesungguhnya
diinginkannya. Atau, seorang pemuda yang ditinggalkan kekasihnya, guna
menyembuhkan ego-nya yang terluka ia menghibur diri bahwa si gadis tidak berharga
dan bahwa dirinya memang akan menendangnya.

Sublimasi
Sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial
lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya. Contohnya dorongan dorongan agresif
yang ada pada seseorang disalurkan ke dalam aktivitas bersaing di bidang olahraga
sehingga dia menemukan jalan bagi pengungkapan perasaan agresifnya, dan sebagai
tambahan dia bisa memperoleh imbalan apabila berprestasi dibidang olahraga itu.

Displacement

Displacement adalah mengarahkan energi kepada objek atau orang lain apabila objek asal
atau orang yang sesungguhnya, tidak bisa dijangkau. Seseorang anak yang ingin
menendang orang tuanya kemudian menendang adiknya, atau jika adiknya tidak ada,
menendang kucing.

Tapi, Pertahanan yang pokok adalah represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi, dan
regresi (Supratiknya, 1993: 86).

Tujuan-tujuan Terapeutik

Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual


dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik
difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak.
Pengalaman-pengalaman masa lampau di rekonstruksi, dibahas, dianalisis, dan
ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan
dimensi afektif dari upaya menjadikan ketaksadaran diketahui. Pemahaman dan
pengertian intelektual memiliki arti penting tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan
yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi (Corey, 2005: 38).

Fungsi dan Peran Terapis


Karakteristik psikoanalisis adalah terapis atau analis membiarkan dirinya anonim serta
hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya
kepada analis. Proyeksi-proyeksi klien yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan dan
dianalisis. Analis terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai
kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal, dalam
menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku
yang impulsif dan irasional. Fungsi utama analis adalah mengajarkan arti proses-proses
ini kepada klien sehingga klien mampu memperoleh pemahaman terhadap masalah-
masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara berubah (Corey,
2005: 38-39).

Hubungan antara Terapis dan Klien

Hubungan klien dengan analis dikonseptualkan dalam proses transferensi yang menjadi
inti pendekatan psikoanalitik. Transferensi mendorong klien untuk mengalamakan pada
analis “urusan yang tak selesai”, yang terdapat dalam hubungan klien di masa
lampau dengan orang yang berpengaruh. Proses pemberian treatment mencakup
rekonstruksi klien dan menghidupkan kembali pengalaman- pengalaman masa
lampaunya. Transferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konfik-konflik
masa dininya yang menyagkut cinta, seksual, kebencian, kecemasan, dan dendamnya,
membawa konflik-konflik itu ke saat sekarang, mengalaminya kembali, dan
menyangkutkannya pada analis.

Jika terapi diinginkan memiliki pengaruh menyembuhkan, maka hubungan transferensi


harus digarap. Proses penggarapan melibatkan eksplorasi oleh klien atas kesejajaran-
kesejajaran antara pengalaman masa lampau dan pengalaman masa kininya. Kloien
memiliki banyak kesempatan untuk melihat cara-cara dirinya mengejawatahkan konflik-
konflik inti dan pertahan-pertahanan intinya dalam kehidupan sehari-hari. Karena
dimensi utama dari proses penggarapan itu adalah hubungan transferensi, yang
membutuhkan waktu untuk membangunnya serta membutuhkan tambahan waktu untuk
memahami dan melarutkannya, maka penggarapannya memerlukan jangka waktu yang
panjang bagi keseluruhan proses terapeutik.

Jika analis mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras yang berasal dari
konflik-konfliknya sendiri, maka akan terjadi kontratransferensi. Kontratransferensi ini
bisa terdiri dari perasaan tidak suka atau keterikatan dan keterlibatan yang berlebihan.
Kontratransferensi dapat mengganggu kemajuan terapi karena reaksi-reaksi dan masalah-
masalah klien. Analis diharapkan agar relatif objektif dalam menerima kemarahan, cinta,
bujukan, kritik, dan peraaan-perasaan lainnya yang kuat dari klien.sebagian besar
program latihan psikoanalitik mewajibkan calon analis untuk menjalani analis yang
intensif sebagai klien. Analis dianggap telah berkembang mencapai taraf dimana konflik-
konflik utamanya sendiri terselesaikan, dan karena dia mampu memisahkan kebutuhan-
kebutuhan dan masalah-masalahnya sendiri dari situasi terapi. Jika analis tidak mampu
mengatasi kontratransferensi, maka dianjurkan agar kembali menjalankan analis pribadi.

Sebagai hasil hubungan hasil terapeutik, khususnya penggarapan situasi transferensi,


klien memperoleh pemahaman terhadap psikodinamika-psikodinamika tak sadarnya.
Kesadaran dan pemahaman atas bahan yang direpresi merupakan landasan bagi proses
pertumbuhan analitik. Klien mampu memahami asosiasi antara pengalaman-pengalaman
masa lampaunya dengan kehidupan sekarang. Pendekatan psikoanalitik berasumsi bahwa
kesadaran diri ini bisa secara otomatis mengarah pada perubahan kondisi klien.

Penerapan Teknik-Teknik dan Prosedur-Prosedur Terapeutik

Lima teknik dasar terapi psikoanalitik adalah: asosiasi bebas, penafsiran, analisis mimpi
atas resistensi, dan analisis atas transferensi.

1) Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman
masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di
masa lampau yang dikenal dengan sebutan katarsis. Selama proses asosiasi bebas
berlangsung, tugas analis adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung di dalam
ketaksadaran. Penghalangan-penghalangan atau pengacauan-pengacauan oleh klien
terhadap asosiasi-asosiasi merupakan isyarat bagi adanya bahan yang membangkitkan
kecemasan. Analis menafsirkan bahan itu dan menyampaikannya kepada klien,
membimbing klien ke arah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang
mendasarinya, yang tidak disadari oleh klien.

2) Penafsiran

Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas,


mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan transferensi-transferensi. Prosedurnya terdiri atas
tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien
makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas,
resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran-
penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan
mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Dengan perkataan lain,
analis harus bisa menafsirkan bahan yang belum terlihat oleh klien, tetapi yang oleh klien
bisa diterima dan diwujudkan sebagai miliknya.

3) Analisis Mimpi

Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang
tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang
tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan istimewa menuju
ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan,
dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari diungkap.
Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas
motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tak disadari. Karena begitu
mengancam dan menyakitkan, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang
merupakan isi laten ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima,
yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi is laten
mimpi ke dalam isi manifes yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi. Tugas
analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-
simbol yang terdapat pada isi manifes mimpi, selama jam analitik, analis bisa meminta
klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian guna
menyingkap makna-makna yang terselubung.

4) Analisis dan Penafsiran Resistensi

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien
mengemukakan bahan yang tak disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika
tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak
bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien sadar atas dorongan-dorongan dan
perasaan-perasaan depresi itu. Resistensi ditunjukkan untuk mencegah bahan yang
mengancam memasuki ke kesadaran, analis harus menunjukannya, dan klien harus
menghadapinya jika dia mengharapkan bisa menangani konflik-konflik secara realistis.

Resistensi-resistensi bukanlah hanya sesuatu yang harus diatasi. Karena merupakan


perwujudan dari pendekatan-pendekatan defensif klien yang biasa dalam kehidupan
sehari-harinya, resistensi-resistensi harus dilihat sebagai alat bertahan terhadap
kecemasan, tetapi menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih
memuaskan.

5) Analisis dan Penafsiran Transferensi


Transferensi mengejawantahkan dirinya dalam proses terapeutik ketika “urusan
yang tak selesai” di masa lampau klien dengan orang-orang yang berpengaruh
menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang dan bereaksi terhadap analis sebagaimana
dia bereaksi terhadap ibu atau ayahnya. Analisis transferensi adalah teknik yang utama
dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa
lampaunya dalam terapi. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien
mampu menembus: konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga
sekarang dan yang menghambat pertumbungan emosionalnya. Singkatnya efek-efek
psikopatologis dari hubungan masadini yang tidak diinginkan, dihambat oleh
penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik
dengan analis.

Contoh kasus :

Contoh kasus 1

klien pernah mengalami trauma diperkosa oleh pamannya sehingga sangat membenci
pamannya dan berusaha melupakannya. Terapis mencoba menggali informasi dengan
membuat klien mengingatnya sehingga memancing emosi klien maka klien diberikan
katarsis (pelampiasan) yaitu sebuah ruangan dimana klien dapat mengekspresikan
kemarahannya seperti berteriak sekeras-kerasnya didalam ruangan katarsis atau meninju
boneka.
Ini merupakan contoh kasus dari asosiasi bebas dimana klien dibiarkan untuk
memunculkan ketidaksadarannya. Hal ini juga berkaitan dengan proses katarsis.

Anonim. (2009). PSIKOTERAPI.


(http://psychologygroups.blogspot.com/2009/03/psikoterapi.html). (Diakses tanggal 21
Mei 2014).

Contoh kasus 2
Kasus yang kedua adalah tentang fobia. Semua penanganan psikoanalisis terhadap fobia
berupaya mengungkap konflik-konflik yang ditekan yang diasumsikan mendasari
ketakutan ekstrem dan karakteristik penghindaran dalam gangguan ini. Karena fobia
dianggap sebagai simtom dari konflik-konflik yang ada di baliknya, fobia biasanya tidak
secara langsung ditangani. Memang, upaya langsung untuk mengurangi penghindaran
fobik dikontraindikasikan karena fobia diasumsikan melindungi orang yang bersangkutan
dari berbagai konflik yang ditekan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi.

Dalam berbagai kombinasi analis menggunakan berbagai teknik yang dikembangkan


dalam tradisi psikoanalisis untuk membantu mengangkat represi. Dalam asosiasi bebas
analis mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang disebutkan pasien terkait dengan
setiap rujukan mengenai fobia. Analis juga berupaya menemukan berbagai petunjuk
terhadap penyebab fobia yang ditekan dalam isi mimpi yang tampak jelas. Apa yang
diyakini analis mengenai penyebab yang ditekan tersebut tergantung pada teori
psikoanalisis tertentu yang dianutnya. Seorang analis ortodoks akan mencari konflik-
konflik yang berkaitan dengan seks arau agresi, sedangkan analis yang menganut teori
interpersonal dari Arieti akan mendorong pasien untuk mempelajari generalisasi
ketakutannya terhadap orang lain.

Anonim. (2011). Fobia. (http://phobia-disorder.blogspot.com/p/prevensi.html). (Diakses


tanggal 21 Mei 2014).

Contoh kasus 3

Saya memiliki teman dekat dimana dari kecil dia adalah anak yang penakut akan hal-hal
gaib. Sehingga, semasa kecil dia selalu takut untuk menonton film seram. Ditambah lagi
mendengar cerita seram dari orang-orang terdekatnya. Namun hal itu tetap dia lakukan.
Sampai-sampai dia pernah terbawa mimpi akibat menonton film seram yang
menyebabkan dia ngompol karena rasa takut yang dia rasakan. Disamping itu, dia juga
termasuk anak yang sangat aktif dalam melakukan suatu aktivitas. Setiap pulang sekolah
dia bermain bersama teman-teman. Namun, hal itu membuat ayahnya marah. Karena
setiap pulang sekolah dia suka bermain, yang seharusnya tidur siang. Sehingga keniginan
untuk bermain sering tertunda. Jika ayahnya tidak dirumah dia suka bermain. Begitu pula
sebaliknya, jika beliau ada dirumah pastinya dia tidak boleh keluar dan disuruh tidur
siang. Itu adalah kasus yang teman saya alami dari umur 6- 10 tahun. Sehingga, pada
tahun-tahun tersebut perkembangan kepribadian teman saya mengalami gangguan yang
menyebabkan dirinya berperilaku sama pada tahun sebelumnya (terjadi regresi).

pembahasan :
Kasus yang teman saya alami adalah mengompol sewaktu berusia 6-10 tahun akibat rasa
takut akan hal-hal gaib dan tertundanya melakukan aktivitas yang aktif seperti bermain
hingga terbawa mimpi. Kasus tersebut saya hubungkan dengan teori psikanalisis oleh
Sigmund Freud khususnya mengenai analisis mimpi. Freuds bekerja sangat dipengaruhi
orang-orang ahli analisis mimpi. Bukunya The Interpretation of Dream (Die
Traumdeutung) pertama kali diterbitkan tahun 1899. Di sini, ia menjelaskan bahwa
mimpi sering dikaitkan dengan keinginan-pemenuhan.

Dia menjelaskan bahwa analisis mimpi perlu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi
pada pemimpi dalam kehidupan nyata. Terutama untuk peristiwa yang terjadi pada hari
sebelumnya. Sebagian besar mencerminkan interpretasi mimpinya ketakutan, keinginan
dan emosi yang ada dalam pikiran bawah sadar kita. Bahkan mimpi negatif dapat
ditafsirkan sebagai peristiwa yang pemimpi berharap tidak akan terjadi. Hal ini terjadi
pada teman saya, karena setiap menonton dan mendengar hal-hal yang gaib membuat
dirinya ketakutan hingga terbawa ke dalam mimpi dan mengompol yang tidak dia harap
akan terjadi.

Definisi Mimpi Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan
tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari
keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Jika Freud
seringkali mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam
mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis
yang salah, selip bicara (keprucut), maupun lelucon.

Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan
terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner Lindzaey, 1998)
bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar berusaha memenuhi hasrat dan
menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran tentang tujuan yang
diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita untuk mengungkapkan kekesalan,
keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya kepada obyek-obyek yang menjadi
sumber rasa marah, maka muncullah dalam keinginan itu dalam bentuk mimpi.
(tertundanya pemenuhan keinginan teman saya untuk bermain bersama teman-teman).

Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan
pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi
keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi
yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk
mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat,
ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang.
Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil diungkap, maka untuk
penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Intan. (2009). Analisis Mimpi. (http://intanpsikologi.wordpress.com/2009/12/10/analisis-


mimpi-sigmund-freud/). (Diakses tanggal 21 Mei 2014).

Contoh kasus 4
Klien seorang perempuan, 26 tahun dengan gangguan skizofrenia paranoid dan diterapi
menggunakan pendekatan psikoanalisis dan teknik yang digunakan adalah teknik asosiasi
bebas.

Pada sesi I ini terapis dan klien membangun komunikasi yang nyaman dan membangun
kepercayaan. Setelah terbentuknya rasa kepercayaan dan dukungan yang lebih besar,
terapis mulai mendorong klien untuk mengkaji berbagai hubungan Interpersonalnya.
Kemudian klien diminta untuk mengungkapkan apa saja (pikiran dan perasaan) yang
terlintas dalam pikirannya saat itu tanpa ada hal-hal yang disensor (moment catarsis).
Dan terapis membantu klien untuk menganalisa mengenai hal-hal yang dikatarsiskan.
Setelah itu terapis membantu dan membimbing klien untuk bisa insigth. Setelah itu terus
menerus menginterpretasikan dan mengidentifikasikan masalah klien. Kemudian
berusaha mengajak klien merealisasikan hal-hal yang didapat dari insigth.
Pada sesi II yaitu teknik asosiasi bebas. Pada sesi ini Klien diminta untuk
mengungkapkan apa saja (pikiran dan perasaan) yang terlintas dalam pikirannya saat ini
tanpa ada hal yang disensor (katarsis). Terapi membantu klien menganalisa mengenai hal-
hal yang dikatarsiskan, kemudian terapis membimbing klien untuk insight, dengan terus-
menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien dan mkemudian mengajak
klien merealisasikan hal yang didapatkan dari insight.

Sumber:

Corey, Gerald. (2005). Teori dan Praktek KONSELING & PSIKOTERAPI. Bandung: PT
Refika Aditama.

Hall, Calvin., & Gardner Lindzey. (1993). Teori-Teori Psikodinamik (klinis),


(Penerjemah: A. Supratiknya). Yogyakarta: Kanisius.

Selvera, Nidya Rizky. (2013). Teknik asosiasi bebas dan psikoedukasi untuk mengenali
gejala penderita skizofrenia paranoid. Jurnal Procedia Studi Kasus dan Intervensi
Psikologi Volume 1.
Suryabrata, S. (2005). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Teori perkembangan kognitif


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Teori Perkembangan Kognitif,

dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980.
Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan
dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti
kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi
logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas
munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang
mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang
memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini
digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang
menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan
kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif
kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk
pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang
digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang
berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

 Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)


 Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
 Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
 Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Daftar isi
 1 Periode sensorimotor
 2 Tahapan praoperasional
 3 Tahapan operasional konkrit
 4 Tahapan operasional formal
 5 Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
 6 Proses perkembangan
 7 Isu dalam perkembangan kognitif[1]
o 7.1 Tahapan perkembangan
o 7.2 Natur dan nurtur
o 7.3 Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan
 8 Sudut pandang lain
 9 Referensi
 10 Bacaan lebih lanjut
 11 Referensi

Periode sensorimotor

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk
mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan
tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget
berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman
spatial penting dalam enam sub-tahapan:

1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan
berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat
bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai
sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan
dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan
sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek
sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari
sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai
delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru
untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan
awal kreativitas.

Tahapan praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan
permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang
secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam
teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek.
Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai.
Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan
gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk
melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek
menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya
berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul


antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan
keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-
kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan
logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat
memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain.
Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring
pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak
memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang
tidak hidup pun memiliki perasaan.

Tahapan operasional konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai
duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-
proses penting selama tahapan ini adalah:

Pengurutan—kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri


lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya
dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda


menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa
serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut.
Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua
benda hidup dan berperasaan)

Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan


untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh, anak tidak akan lagi menganggap bahwa
cangkir yang pendek tapi lebar memiliki isi lebih sedikit dibanding cangkir yang tinggi
tapi ramping.

Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah,


kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan
bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah


tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda
tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak,
mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas
itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut


pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai
contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak,
lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci,
setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan
mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau
anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

Tahapan operasional formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori
Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus
berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk
berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi
yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti
logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih,
namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini
muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai
masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan
psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai
perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir
sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Informasi umum mengenai tahapan-tahapan

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

 Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya
selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang
mundur.
 Universal (tidak terkait budaya)
 Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri
seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
 Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
 Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari
tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
 Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir,
bukan hanya perbedaan kuantitatif

Proses perkembangan

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan


berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori
pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga
menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam
memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema
mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut.
Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru
didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang
sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis
binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung
kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna
kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan
perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan
jenis burung yang baru ini.

Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada.
Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman
atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada
sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label
"burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau


penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang
sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali.
Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung
sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada
skema burung si anak.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan
berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses
penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan
equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan
pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang
tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan


dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

Isu dalam perkembangan kognitif[1]

Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi
secara umum.

Tahapan perkembangan
 Perbedaan kualitatif dan kuantitatif

Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan berdasarkan perbedaan


kualitas atau kuantitas kognisi.

 Kontinuitas dan diskontinuitas

Kontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses


yang berkelanjutan atau proses terputus pada tiap tahapannya.

 Homogenitas dari fungsi kognisi


Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap individu

Natur dan nurtur

Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat
empirisme. Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir
telah dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa
kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.

Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan

Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan, namun
terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan
dengan usia 15 tahun.

Sudut pandang lain

Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan
perkembangan kognitif.

 Teori perkembangan kognitif neurosains [2]

Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas


otak dan perilaku. Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan
perkembangan kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai
pertanyaan mengenai umat manusia yaitu


1. Apakah hubungan antara pemikiran dan tubuh, khususnya antara otak
secara fisik dan mental proses
2. Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari struktur
biologis yang teratur

 Teori Konstruksi pemikiran-sosial

Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari
perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya
akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak.
Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky
menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-
tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello

 Teori Theory of Mind (TOM)


Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema
mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya
adalah Andrew N. Meltzoff

Referensi
 Bjorklund, D.F. (2000) Children's Thinking: Developmental Function and
individual differences. 3rd ed. Bellmont, CA : Wadsworth
 Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth
Publishers.
 Johnson, M.H. (2005). Developmental cognitive neuroscience. 2nd ed. Oxford :
Blacwell publishing
 Piaget, J. (1954). "The construction of reality in the child". New York: Basic
Books.
 Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques
Voneche Gruber, New York: Basic Books.
 Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child
Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.
 Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
 Piaget, J. (2000). "Commentary on Vygotsky". New Ideas in Psychology, 18, 241–
259.
 Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
 Seifer, Calvin "Educational Psychology"

Teori kognitif
1. 1. MAKSUD TEORI KOGNITIF IMPLIKASI TEORI KOGNITIF DALAM
PEMBELAJARAN KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI
PEMBELAJARAN KOGNITIF
2. 2. TEORI BELAJAR KOGNITIF ? Proses internal manusia Interaksi Proses
mental Pengalaman dan Pengetahuan Berkesinambung an
3. 3. • • • Pendekatan kognitif menekankan pada proses mental. Informasi yang
diterima, diproses melalui pemilihan, perbandingan dan penyatuan dengan
informasi lain yang ada dalam ingatan. Penyatuan informasi ini kemudian akan
diubah dan disusun kembali. Otak kita akan memproses secara aktif informasi
yang diterima dan menukar informasi kepada bentuk atau kategori baru.
4. 4. Tahap Perkembangan dalam Teori Belajar Kognitif  Enaktif Dalam tahap ini
pelajar akan memahami lingkungan sekitar melalui pengetahuan motorik. 
Ikonik Dalam tahap ini pelajar memahami lingkungan sekitar melalui visualisasi
verbal/gambar-gambar  Simbolik Dalam tahap ini pelajar memahami
lingkungan sekitar melalui simbol-simbol bahasa
5. 5. Teori Pembelajaran Pengolahan Informasi
6. 6. PRINSIP TEORI BELAJAR KOGNITIF Teori ini banyak digunakan dalam
dunia pendidikan    Seseorang yang belajar akan lebih mampu mengingat dan
memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logik
tertentu Penyusunan prosuder pengajaran harus dari sederhana ke kompleks
Proses pembelajaran dengan memahami akan jauh lebih baik daripada dengan
hanya menghafal
7. 7. MENURUT PARA AHLI Teori GESTALT Max Wertheimer Konfigurasi,
Struktur, Pemetaan Insight/aha
8. 8. o Teori ini meletakkan konsep pada insight . o pengamatan atau pemahaman
mendadak dalam suatu situasi permasalahan (sering diungkapkan dengan
pernyataan “aha” ) . o teori gestalt berpendapat bahawa seseorang memperoleh
pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara
menyeluruh. o menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana
difahami. sehingga lebih mudah
9. 9. JOHN DEWEY Beliau mengemukakan bahawa pembelajaran bergantung pada
pengalaman dan minat pelajar sendiri dan topik dalam kurikulum seharusnya
saling berkaitan. Pelajar harus bersifat aktif dan berpusat pada pelajar Student
Centered Learning
10. 10. JEAN PIAGET Fikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau
skemata (jamak yang dikenali sebagai struktur kognitif. Dengan menggunakan
skema itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga
terben skema yang baru, iaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Cognitive-
Developmental Asimilasi Akomodasi Equilibrium Proses Pembelajaran
11. 11. JEROME BRUNNER Discovery Learning Teori ini menyatakan bahawa cara
terbaik bagi seseorang untuk mula belajar konsep dan prinsip dalam diri mereka
adalah dengan mengkonstruk konsep dan prinsip yang akan dipelajarinya.
12. 12. LEV VYGOTSKY SCAFFOLDING Proses pembelajaran bagi kanak-kanak
lebih baik dilakukan dengan berinteraksi dalam lingkungan sosialnya.
Pengetahuan dalam pembelajaran akan lebih mudah diperoleh dalam konteks
sosial budaya seseorang. Pembelajaran berdasarkan scaffolding iaitu memberikan
strategi yang tepat untuk penyelesaian sesuatu masalah.
13. 13. 1. Memberi kesempatan kepada pelajar untuk mengemukakan idea. 2.
Memberi kesempatan kepada pelajar untuk berfikir tentang pengalamannya. 3.
Memberi kesempatan kepada pelajar untuk mencuba perkara baru 4. Memberi
pengalaman yang berhubungan dengan tujuan pelajar 5. Mendorong pelajar untuk
memikirkan perubahan untuk mencapai matlamat mereka. 6. Mencipta
lingkungan yang kondusif.
14. 14. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI BELAJAR KOGNITIF a.
Kelebihan Teori Belajar Kognitif  Dapat meningkatkan kemampuan pelajar
untuk menyelesaikan masalah (problem solving)  b. Dapat meningkatkan
motivasi Kekurangan Teori Belajar Kognitif  Tidak dapat diukur melalui
seorang pelajar sahaja , maksudnya kemampuan pelajar harus diperhatikan secara
menyeluruh.

Teori behaviorisme
1. 1. TEORI BEHAVIORISME(IVAN PAVLOV,WATSONS, B.F SKINNER,
THORDIKE)NAMA AHLI KUMPULAN :1) MUHAMMAD SHADZWAN BIN
MOHD ADNAN2) CHING HUEY YI3) NOR SHAHIDA BINTI SARONI
2. 2. JENIS TEORI BEHAVIORISMEPELAZIMAN KLASIK PELAZIMAN
OPERANIVAN PAVLOV THORNDIKE WATSON SKINNER
3. 3. No Tokoh Pandangan Eksperimen1. Ivan Petrovich Pavlov, dengan teori
“Classical Conditioning”. Teori ini Eksperimennya adalah seekor Pavlov
mengatakan bahwa proses belajar itu terjadi melalui gerakan- anjing dan manusia.
Dalam (1849-1936) gerakan refleks bersyarat, atau dapat dikatakan bahawa
refleks eksperimen tersebut dia bersyarat itu sebenarnya adalah merupakan suatu
reaksi menyimpulkan bahawa setiap sebagai hasil belajar. individu boleh berubah
tergantung stimulus yang diberikan.2. Edward Lee Thorndike, yang terkenal
dengan teori “Connectionisme” yang Eksperimennya adalah seekor Thorndike
menyatakan bahawa: belajar merupakan proses pembentukan kucing. Melalui
eksperimen (1874-1949) hubungan-hubungan antara stimulus dan respons. Teori
ini juga tersebut dia menghasilan teori sering disebut sebagai” Trial” dan “Error
Learning”. “ trial dan error”.3. Burrhus Frederic Belajar adalah suatu proses yang
memerlukan adanya suatu Eksperimennya adalah seekor Skinner reward
(penghargaan) dan reinforcement (peneguhan). Kerana tikus dan burung merpati.
Dari (1904-1990) melalui proses itulah perilaku individu dikendalikan menurut
hasil tersebut dia menjelaskan apa yang diinginkan. Skinner berpendapat bahawa
dalam bahawa unsur terpenting belajar yang paling penting adalah adanya
reinforcement atau dalam belajar adalah penguatan. Dan teori ini biasa disebut
sebagai teori “operant penguatan dan penguatan conditioning” . boleh bersifat
positif atau negatif.
4. 4. 1) KLASIK IVAN PAVLOV HUKUM proses asas pembelajaran ialah
pembentukan perkaitanRangsangan Gerak Balas Agen persekitaran Tingkah laku
yang timbul yang timbulkan akibat rangsangan Gerak balas
5. 5. Sebelum Proses pelaziman Selepas pelaziman pelaziman Rangsangan tak
Eksperimen : Rangsangan tak terlazimterlazim (Makanan) 1.Bunyi loceng
(makanan) 2.Tunggu sementara Gerak balas tak 3.Diberikan makanan terlazim
4.Proses berulang-ulang Gerak balas tak terlazim (perembesan) (perembesan)
TETAPI DANRangsangan neutral Rangsangan Terlazim (bunyi loceng) (bunyi
loceng) Tiada gerak balas Gerak balas terlazim(tiada perembesan) (perembesan)
6. 6. PERALATAN EKSPERIMENT PAVLOV anjing melihat bekas dengan
makanan anjing mengeluarkan air liurKesimpulan :anjing tersebut telah belajar
mengaitkan bekas makanan yang dilihat dengan makananyang akan diberikan
kelak.Hipotesis :sesuatu organisme boleh diajar bertindak dengan pemberian
sesuaturangsangan.
7. 7. KESIMPULAN KAJIAN PAVLOVTINGKAHLAKU KESIMPULAN
Penguasaan atau bagaimana organismaPENGUASAAN mempelajari sesuatu
gerak balas atau respon baru (Acquisition) berlaku berperingkat-peringkat. Lebih
kerap organisma itu mencuba, lebih kukuh penguasaan
berkenaan.GENERALISASI Sesuatu organisma itu dapat membuat
generalisasi(Generalisation) dan akan diikuti dengan gerak balas Organisma dapat
membezakan antara rangsangan DISKRIMINASI yang dikemukakan dan
memilih untuk bergerak(Discrimination) balas kepada sesuatu rangsangan tetapi
tidak kepada rangsangan yang lainPENGHAPUSAN Sekiranya sesuatu
rangsangan terlazim tidak (Extinction) diikuti dengan rangsangan tak terlazim,
lama kelamaan organism itu tidak akan bergerak balas
8. 8. 2) KLASIK WATSONPrinsip kekerapan Prinsip Pembelajaran yang
dikemukakan oleh WatsonPrinsip tempoh kebaruan HUKUM
9. 9. Teori pelaziman Klasik Watson Mengikut Watson, tingkahlaku manusia ialah
sesuatu refleks terlazim. Watson berpendapat, gerakan refleks yang mudah
berlaku secara semulajadi dan tidak perlu dipelajari. Manusia mempelajari gerak
balas untuk menyesuaikan diri mereka dalam situasi- situasi baru.
10. 10. PERALATAN EKSPERIMENT WATSONTikus putih Tidak takut Bunyi yang
kuatTikus putih dilazimkan TakutTikus putih Takut
11. 11. Bagi Watson, emosi manusia boleh dilazimkan.
12. 12. 3) OPERAN THORNDIKE HUKUMTiga hukum Thorndike iaitu : 1) Hukum
Kesediaan (HK), 2) Hukum Latihan (HL) 3) Hukum Kesan (HK)
13. 13. HUKUM PEMBELAJARAN THORNDIKE HUKUM KESEDIAAN
HUKUM LATIHAN HUKUM KESAN Kesediaan dari segi Latihan yang
diulang- Kesan yang psikomotor, efektif, ulang untuk tingkatkan
menyeronokkankognitif sebelum boleh kemahiran meningkatkan pertalian belajar
antara ransangan dan gerak balas.
14. 14. PERALATAN EKSPERIMENT THORNDIKE Makanan di kucing cuba
Pelbagai strategi **terpijakluar sangkar keluar selak pintuKkesimpulan : Kucing
tersebut akan melakukan kaedah cuba jaya sekiranya ia dikurung semula ke dalam
Dapat keluar sangkar itu
15. 15. Hukum pembelajaran Mengikut Thorndike Hukum Kesediaan Hukum latihan
Hukum kesan ( low of readiness ) ( low of exercise ) ( low of effect )•Persiapan
individu •Semakin banyak latihan •Rangsangan dan gerakuntuk memulakan yang
dijalankan, semakin balas bertambah kukuhsesuatu aktiviti kukuh ikatan (asosiasi
jika individu mendapatpembelajaran. gerak balas) dengan kesan yang
memuaskan•Menekankan ganjaran rangsangan yang selepas gerak balashanya
berkesan jika berkenaan. dihasilkan.pelajar ada
kesangupanmenerimanya•Kesediaan dari segikognitif, psikomotor,efektif
16. 16. 4) OPERAN SKINNER HUKUM SKINNER Perlakuan harusdiperhatikan
dalam jangka masa yang panjang dan Kajian : Skinner membentuk perlakuan Box
yang kompleks daripada perlakuan yang mudah.
17. 17. Tingkah Laku Kesan/Akibat Tingkahlaku Masa Hadapan Pelajar Guru
kemukakan Pelajar kemukakan lebih banyak memujisoalan dengan soalan yang
baik. pelajar baik
18. 18. Kesan/Akibat Tingkah laku MasaTingkah Laku Hadapan Pelajar tidak Guru
menegur menyiapkan pelajar Pelajar akan menyiapkan tugasan tugasan tepat yang
seterusnya tepatpada waktunya pada waktunya

A. Pengertian Belajar Menurut Behaviorisme


Menurut teori behaviorisme, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat
dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan
bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku
dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya.[1]
Misalnya, seorang guru mengajari siswanya membaca, dalam proses pembelajaran guru
dan siswa benar-benar dalam situasi belajar yang diinginkan, walaupun pada akhirnya
hasil yang dicapai belum maksimal. Namun, jika terjadi perubahan terhadap siswa yang
awalnya tidak bisa membaca menjadi membaca tetapi masih terbata-bata, maka
perubahan inilah yang dimaksud dengan belajar. Contoh lain misalnya, anak belum dapat
berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunyapun sudah
mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan
perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat
menunjukkan prilaku sebagai hasil belajar.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus
dan keluaran atau output yang berupa respons. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa
saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman
kerja atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah
reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. [2]
Dalam teori ini tingkah laku dalam belajar akan berubah apabila ada stimulus dan
respons. Stimulus dapat berupa perlakuan yang diberikan kepada siswa, sedangkan
respons berupa tingkah laku yang terjadi pada siswa.[3]
Menurut teori behaviorisme, apa yang terjadi diantara stimulus dan respons dianggap
tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati hanyalah stimulus dan respons. Oleh karena itu, apa saja yang diberikan
guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat
diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan
suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavior adalah faktor pengutan
(reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon bila
pengutan ditambahkan maka respon semakin kuat. Begitu juga bila pengutan dikurangi
responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru,
ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan
tugas tersebut merupakan penguat positif (positive reinforcement) dalam brlajar. Bila
tugas-tugas dikurangi dan pengurangan itu justru meningkatkan aktifitas belajarnya,
maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam
belajar. Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan atau
dikurangi untuk memungkinkan terjadinya respon.[4]

B. Tokoh-tokoh Behaviorisme
Tokoh aliran behaviorisme diantaranya adalah Ivan Petrovich Pavlov, Thorndike,
Waston, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skiner.
1. Ivan Petrovich Pavlov
Ivan Petrovich Pavlo atau lebih dikenal dengan nama singkat Pavlov, adalah seorang
lulusan sekolah kependetaan dan melanjutkan belajar ilmu kedokteran di Militery
Medical Acadeny, St. Petersburg. Pada tahun 1879, ia mendapatkan gelar ahli ilmu
pengetahuan alam.[5]
Akhir tahun 1800-an, Ivan Pavlov, ahli fisika Rusia, mempelopori munculnya proses
kondisioning responden (respondent conditioning) atau kondisioning klasik (clasical
conditionig), karena itu disebut kondisioning Ivan Pavlov. Dari penelitian bersama
kolegnya, Ivan Pavlov mendapat Nobel.
Ivan Pavlov melakukan eksperimen terhadap anjing, Pavlov melihat selama
penelitian ada perubahan dalam waktu dan rata-rata keluarnya air liur pada anjing
(salivation). Pavlov mengamati, jika daging diletakkan dekat mulut anjing yang lapar,
anjing akan mengeluarkan air liur. Hal ini terjadi karena daging telah menyebabkan
rangsangan pada anjing, sehingga secara otomatis ia mengeluarkan air liur. Walau pun
tanpa latihan atau dikondisikan sebelumnya, anjing pasti akan mengeluarkan air liur jika
dihadapkan pada daging. Dalm percobaan ini, daging disebut dengan stimulus yang tidak
dikondisikan (unconditionied stimulus). Dan karena salvia itu terjadi secara otomatis
pada saat daging diletakkan di dekat anjing tanpa latihan atau pengkondisian, maka
keluarnya salvia pada anjing tersebut dinamakan sebagai respon yang tidak dikondisikan
(unresponse conditioning).
Kalau daging dapat menimbulkan salvia pada anjing tanpa latihan atau pengalaman
sebelumnya, maka stimulus lain, seperti bel, tidak dapat menghasilkan selvia. Karena
stimulus tersebut tidak menghasilkan respon, maka stimulus (bel) tersebut disebut dengan
stimulus netral (neutral stimulus). Menurut eksperimen Palvo, jika stimulus netral (bel)
dipasngkan dengan daging dan dilakukan secara berulang, maka stimulus netral akan
berubah menjadi stimulus yang dikondisikan (conditioning stimulus) dan memiliki
kekuatan yang sama untuk mengarahkan respon anjing seperti ketika ia melihat daging.
Oleh karena itu, bunyi bel sendiri akan dapat menyebabkan anjing akan mengeluarkan
selvia. Proses ini dinamakan classical conditioning.[6]
Bila ditelusuri, Pavlov yang pada saat ini meneliti anjingnya sendiri, melihat bahwa
bubuk daging membuat seekor anjing mengeluarkan air liur. Maka yang dilakukan pavlvo
adalah sebelum memberikan bubuk daging itu ada membunyikan bel terlebih dahulu.
Setelah dilakukan beberapa kali pengulangan, maka anjing itu akan mengeluarkan air
liurnya setelah mendengar bel berbunyi, meski tidak diberikan daging lagi.
Dari percobaan yang dilakukan oleh Pavlov, dapat disimpulkan bahwa:
- Anjing belajar dari kebiasaan.
- Dengan pengulangan bunyi bel sehingga mengeluarkan air liur.
- Bunyi bel merupakan stimulus yang akhirnya akan menghasilkan respon bersyarat.
- Bunyi bel yang pada mulanya netral tetapi setelah disertai mediasi berupa bubuk daging,
lama-kelamaan berubah menjadi daya yang mampu membangkitkan respon.
Berdasarkan hasil eksperimen itu Pavlov menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya
juga dapat diterapkan pada manusia untuk belajar. Impilkasi hasil eksperimen tersebut
pada belajar manusia adalah:[7]
- Belajar adalah membentuk asosiasi antara stimulus respon secara selektif.
- Proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat.
- Prinsip belajar pada dasarnya merupakan untaian stimulus-respon.
- Menyangkal adanya kemampuan bawaan.
- Adanya clasical conditioning.
Eksperimen Pavlov tersebut kemudian dikembangkan oleh pengikutnya yaitu BF.
Skinner (1933) dan hasilnya dipublikasikan dengan judul Behavior Organism. Prinsip-
prinsip kondisioning klasik ini dapat diterapkan di dalam kelas. Woolfolk dalam
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2007), menyatakan sebagai berikut:
1. Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar,
misalnya menekankan kepada kerja sama, dan kompitisi antar kelompok individu.
Membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan dengan menciptakan ruang baca
yang nyaman dan enak serta menarik dan lain sebagainya.
2. Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan
atau menekan, misalnya: mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa lain
cara memahami materi pelajaran, membuat tahap jangka pendek untuk mencapai tujuan
jangka panjang, misalnya dengan memberikan tes harian, mingguan, agar siswa dapat
menyimpan apa yang dipelajari dengan baik.
3. Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi
sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasikan secara tepat. Misalnya,
meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian masuk sekolah yang lebih tinggi
tingkatannya atau perguruan tiggi, bahwa tes tersebut sama dengan tes-tes akademik
lainnya yang pernah mereka lakukan.

2. Edward LeeThorndike
Edward Lee Thorndike adalah seorang pendidik dan sekaligus psikolog
berkebangsaan Amerika. Edward awalnya melakukan penelitian tentang prilaku binatang
sebelum tertarik pada psikologi manusia.[8] dan pertama kali mengadakan eksperimen
hubungan stimulus dan respon dengan hewan kucing melalui prosedur yang sistematis.
Ekseperimennya yaitu:
a. Kucing yang lapar dimasukkan ke dalam kotak kerangkeng (puzzle box) yang dilengkapi
pembuka bila disentuh.
b. Di luar diletakkan daging. Kucing dalam kerangkang bergerak kesana kemari mencari
jalan keluar, tetapi gagal. Kucing terus melakukan usaha dan gagal, keadaan ini
berlangsung terus-menerus.
c. Tak lama kemudian kucing tanpa sengaja menekan tombol sehingga tanpa sengaja pintu
kotak kerangkeng terbuka dan kucing dapat memakan daging di depannya.
Percobaan Thorndike tersebut diulang-ulang dan pola gerakan kucing sama saja
namun makin lama kucing dapat membuka pintunya. Gerakan usahanya makin sedikit
dan efisien. Pada kucing tadi terlihat ada kemajuan-kemajuan tingkah lakunya. Dan
akhirnya kucing dimasukkan dalam box terus dpat menyentuh tombol pembuka (sekali
usaha, sekali terbuka), hingga pintu terbuka.
Thorndike menyatakan bahwa prilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang
ada di lingkungan sehingga menimbulkan respon secara refleks. Stimulus yang terjadi
setelah sebuah prilaku terjadi akan mempengaruhi prilaku selanjutnya. Dari eksperimen
ini Thorndike telah mengembangkan hukum Law Effect. Ini berarti jika sebuah tindakan
diikuti oleh sebuah perubahan yang memuskan dalam lingkungan, maka kemungkinan
tindakan itu akan diulang kembali akan semakin meningkat. Sebaliknya jika sebuah
tindakan diikuti oleh perubahan yang tidak memuaskan, maka tindakan itu menurun atau
tidak dilakukan sama sekali. Dengan kata lain, konsekuen-konsekuen dari prilaku
sesorang akan memainkan peran penting bagi terjadinya prilaku-prilaku yang akan
datang.[9]
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon.
Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti
pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan
respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat
berupa pikiran, perasaan, atau gerakan dan tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka
menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat brwujud
kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau yang tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat
diamati. [10]

3. Burrhus Frederic Skinner


Skinner dilahirkan pada 20 Mei 1904 di Susquehanna Pennylvania, Amerika Serikat.
Masa kanak-kanaknya dilalui dengan kehidupan yang penuh dengan kehangatan namun,
cukup ketat dan disiplin.meraih sarjana muda di Hamilton Colladge, New York, dalam
bidang sastra Inggris. Pada tahun 1928, Skinner mulai memasuki kuliah psikologi di
Universitas Harvard dengan mengkhususkan diri pada bidang tingkah laku hewan dan
meraih doktor pada tahun 1931.
Dari tahun 1931 hingga1936, Skinner bekerja di Harvard. Penelitian yang
dilakukannya difokuskan pada penelitian menegenai sistem syaraf hewan. Pada tahun
1936 sampai 1945, Skinner meneliti karirnya sebagai tenaga pengajar pada universitas
Mingoesta. Dalam karirnya Skinner menunjukkan produktivitasnya yang tinggi sehingga
ia dikukuhkan sebagai pemimpin Brhaviorisme yang terkemuka di Amerika Serikat.[11]
Skinner merupakan seorang tokoh behavioris yang meyakini bahwa perilaku
individu dikontrol melalui proses operant conditioning dimana seseorang dapat
mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana
dalam lingkungan yang relatif besar.
Menagement kelas menurut skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi
perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku
yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat.
Operant Conditioningadalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau
negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau
menghilang sesuai dengan keinginan.
Teori belajar behaviorisme ini telah lama dianut oleh para guru dan pendidik, namun
dari semua pendukuung teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya
terhadap perkembangan teori belajar Behaviorisme. Program-program pembelajaran
seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program
pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta
mementingkan faktor-faktor penguat merupakan program-program pembelajaran yang
menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh skinner.[12]
Menurut skinner – berdasarkan percobaanya terhadap tikus dan burung merpati –
unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah penguatan yang
terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan
( penguatan positif dan penguatan negatif).
Bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Sedangkan
bentuk penguatan negatif adalah antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan,
memberikan tugas tambahan, atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Skinner tidak sependapat pada asumsi yang dikemukakan Guthrie bahwa hukuman
memegang peranan penting dalam proses pelajar. Hal tersebut dikarenakan menurut
skinner :
1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa
terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
3. Hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia
terbebas dari hukuman.
4 Hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih
buruk dari pada kesalahan pertama yang diperbuatnya.[13]
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat
negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman
harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang akan muncul berbeda dengan respon
yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar
respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seseorang siswa perlu dihukum
karena melakukan kesalahan. Jika siswa tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka
hukumannya harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu yang tidak mengenakkan siswa
(sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan
ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahnnya, maka inilah yang disebut
penganut negatif. Lawan dari penganut negatif adalah penguat positif (positive
reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah
bahwa penguat positif itu ditambah, sedangkan penganut negatif adalah dikurangi untuk
memperkuat respon.[14]

4. Edwin Ray Guthrie


Edwin Ray Guthrie adalah seorang penemu teori kontinguiti yaitu gabungan
stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung
akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan
stimulus respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena
gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon
lain yang dapat terjadi. Penguatan hanya sekedar melindungi hasil belajar yang baru agar
tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru.
Teori guthrie ini mengatakan bahwa hubungan stimulus dan respon bersifat
sementara, oleh karenanya dalam kegiatan belajar, peserta didik perlu sesering mungkin
diberi stimulus agar hubungan stumulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap.
Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam
proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah
tingkah laku seseorang.[15]
Salah asatu eksperimen Guthrie untuk mendukung teori kontiguitas adalah
percobaannya terhadap kucing yang dimasukkan ke dalam kotak puzle. Kemudian kucing
tersebut berusaha keluar. Kotak dilengkapai dengan alat yang bila disentuh dapat
membuka kotak puzle tersebut. Selain itu, kotak tersebut juga dilengkapi dengan alat
yang dapat merekam gerakan-gerakan kucing di dalam kotak. Alat tersebut menunjukkan
bahwa kucing telah belajar mengulang gerakan-gerakan sama yang diasosiasikan dengan
gerakan-gerakan sebelumnya ketika dia dapat keluar dari kotak tersebut. Dari hasil
eksperimen tersebut, muncul beberapa prinsip dalam teori kontiguitas, yaitu:
- Agar terjadi pembiasaan, maka organisme selalu merespon atau melakukan sesuatau
- Pada saat belajar melibatkan pembiasaan terhadap gerakan-gerakan tertentu, oleh karena
itu intruksi yang diberikan harus spesifik.
- Keterbukaan terhadap berbagai stimulus yang ada merupakan keinginan untuk
menghasilkan respon secara umum.
- Respon terakhir dalam belajar harus benar ketika itu menjadi sesuatu yang akan
diasosiasikan.
- Asosiasi akan menjadi lebih kuat karena ada pengulangan.[16]
-
5. Jhon Broadus Waston
Waston adalah seorang tokoh aliran behaviorisme yang datang setelah Thorndike.
Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus
dan respo yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel)
dan dapat diukur. Dengan kata lain, walupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan
mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut
sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-
perubahan mental dalam benak siswa itu penting. Namun semua itu tidak dapat
menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.[17]
Waston adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar
disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi
pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan diukur. Asumsinya
bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat diramalkan perubahan-
perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindakan belajar. Para
tokoh aliran behaviorisme cenderung untuk tidak memperhatikan hal-hal yang tidak dapat
diukur dan tidak dapat diamati, seperti perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika
belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal itu penting.[18]
6. Clark Hull
Hull berpendirian bahwa tinkah laku itu berfungsi menjaga agar oranisasi tetap
bertahan hidup. Konsep sentral dalam teorinya berkisar pada kebutuhan biologis dan
pemuas kebutuhan, hal yang penting bagi kelangsungan hidup. Oleh Hull, kebutuhan
ddikonsepkan sebagai dorongan (drive) seperti lapar, haus, tidur, hilangnya rasa nyeri,
dan sebagainya. Stimulus yang disebut stimulus dorongan dikaitkan dengan dorongan
primer dan karena itu mendorong timbulnya tigkah laku. Sebagai contoh, stimulus yang
dikaitkan dengan rasa nyeri, seperti bunyi alat pengebor gigi, dapat menimbulkan rasa
takut, dan takut itu mendorong timbulnya tingkah laku.[19]
Teori Hull ini, memiliki beberapa prinsip, yaitu
 Dorongan merupakan hal yang penting agar terjadi respon (siswa harus memiliki
keinginan untuk belajar).
 Stimulus dan respon harus dapat diketahui oleh organisme agar pembiasaan dapat terjadi
(siswa harus mempunyai perhatian).
 Respon harus dibuat agar terjadi pembiasaan (siswa harus aktif).
 Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat melalui kebutuhan (belajar harus
dapat memenuhi keinginan siswa).[20]
Secara ringkas teori behaviorisme yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat
disempulkan bahwa:
1. Belajar adalah perubahan tingkah laku
2. Tingkah laku tersebut harus dapat diamati
3. Mengikuti pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output
yang berupa respon.
4. Fungsi mind atau fikiran adalah untuk menciplak struktur pengetahuan yang sudah ada
melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilah.
5. Pembiasaan dan latihan menjadi esensial dalam belajar.
6. Apa yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena
tidak dapat diamati.
7. Yang dapat diamati hanyalah stimulus respon.
8. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahauan dikatagorikan
sebagai kegagalan yang perlu dihukum
9. Aplikasi teori ini menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang
sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis atau tes. Penyajian materi pelajaran
mengikuti urutan dari bagian-bagian keseluruhan. Pembelajaran dan evalusi menekan
pada hasil, dan evaluasi menuntut jawaban yang benar. Jawaban yang benar
menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan belajaranya.[21]
10. Proses belajar sangat bergantung kepada faktor yang berada di luar dirinya, sehingga ia
memerlukan stimulus dari pengajarnya.
11. Hasil belajar banyak ditentukan oleh proses peniruan, pengulanagn dan pengutan
(reinforcement).
12. Belajar harus melalui tahap-tahap tertentu, sedikit demi sedikit, yang mudah mendahului
yang lebih sulit.[22]
C. Kelebihan dan Kekurangan dalam Teori Pembelajaran Behaviorisme
Kelebihan, kekurangan dan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
Sesuai dengan teori ini, guru dapat menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah
siap sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh
oleh guru. Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi intruksi singkat yang diikuti
contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun
secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan
pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat
diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan
digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
a. Kelebihan
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke teori behaviourisme terdapat beberapa
kelebihan di antaranya :
1. Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
2. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang
menbutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan,
spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya.
3. Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika
menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan.
4. Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi
peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka meniru dan senang
dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.[23]
b. kekurangan.
1. Memandang belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal belajar adalah
kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalu
gejalanya.
2. Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti mesin atau
robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang bersifat kognitif,
sehingga, dengan kemampuan ini, manusia mampu menolak kebiasaan yang tidak sesuai
dengan dirinya.
3. Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan hewan sangat sulit diterima,
mengingat ada perbedaan yang cukup mencolok antara hewan dan manusia.[24]

D. Penerapan Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran Bahasa Arab


Para pakar Psikologi belajar bahasa penganut faham Behaviorisme berpendapat
bahwa belajar bahasa berlangsung dalam lima tahap, yaitu:
a. Trial and error
b. Mengingat-ingat
c. Menirukan
d. Mengasosiasikan
e. Menganalogikan
Dari kelima langkah tersebut dapat disimpulkan bahwa berbahasa pada dasarnya
merupakan proses pembentukan kebiasaan.[25]
Dalam teori ini Behaviorisme, segala tingkah laku manusia menjadi suatu prilaku
berbahsa yang menjadi manifestasi stimulus dan respon yang dilakukan terus-menerus
menjadi suatu kebiasaan. Berdasarkan teori ini, pembelajaran bahasa dilakukan dengan
mendahulukan pengenalan keterampilan mendengar dan berbicara daripada keterampilan
lainnya, pemberian latihan-latihan dan penggunaan bahasa secara aktif dan terus
menerus, penciptaan lingkungan berbahasa yang kondusif, penggunaan media
pembelajaran yang memungkinkan siswa mendengar dan berinteraksi dengan penutur
asli, pembiasaan motivasi sehingga berbahsa asing menjadi sebuah prilaku kebiasaan.[26]
Ada beberapa kegiatan pembelajaran bahasa Arab yang dapat dikembangkan
berdasarkan teori ini, diantara yang penting adalah:
a. Pengenalan ketrampilan mendengar dan berbicara sebagai awal dalam pembelajaran
sebelum ketrampilan membaca dan menulis.
b. Latihan dan penggunaan bahasa secara aaktif dan terus menerus agar pembelajar
memiliki ketrampilan berbahasa dan berbentuk kebiasaan menggunakan bahasa.
c. Penciptaan lingkungan berbahsa yang kondusif agar mendukung proses pembiasaan
berbahasa secara efektif.
d. Penggunaan media pembelajaran yang memungkinkan pembelajar mendebgar dan
berinteraksi dengan penutur asli.
e. Memotivasi guru bahasa untuk tampil berbahsa secara baik dan benar, sehingga dapat
menjadi teladan yang baik bagi para siswanya dalam berbahasa.[27]
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi dan menentukan keberhasilan dalam
proses pembelajaran bahasa arab adalah lingkungan (bi’ah, einvironment), tak terkecuali
lingkungan berbahasa. Dan tujuan penciptaan lingkungan berbahasa Arab, tak lain
adalah:
1. Untuk membiasakan dalam memanfaatkan bahasa Arab secara komunikatif, melalui
praktek percakapan (muhadatsah), diskusi (munaqasyah), seminar (nadwah), ceramah
dan berekpresi melalui tulisan (ta’bir dan tahriry)
2. Memberikan penguatan (reinforcement) pemerolehan baha yang sudah dipelajari di
kelas.
3. Menumbuhkan kreativitas dan aktivitas berbahasa Arab yang terpadu antara teori dan
praktik dalam suasana informal yang santai dan menyenangkan.

BAB III
PENUTUP
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun
dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap
perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti
Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran
lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-
faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori
belajar yang dikemukakan Skiner.
Karakteristik teori behaviorisme terhadap pembelajaran bahasa diantaranya adalah:
penyajian materi lebih banyak dengan hiwar, lebih banyak melakukan peniruan dan
menghafal idiom-idiom, menyajikan satu kalimat dalam satu situasi, tidak menyajikan
strukstur nahwu secara terpisah, dan lebih baik dengan sistem deduktif, lebih menitik
beratkan pada ujaran, lebih banyak menggunakan bahasa dalam komunikasi dan banyak
menggunakan lab bahasa, memberikan reward bagi respon positif, mensuport untuk
berbahasa, perhatian lebih pada bahasa bukan isi bahasa.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi dan menentukan keberhasilan proses
pembelajaran bahasa adalah lingkungan (bi'ah, environment), tak terkecuali lingkungan
berbahasa. Dan tujuan penciptaan lingkungan berbahasa Arab , tidak lain adalah (1) untuk
membiasakan dan membiasakan dalam memanfaatkan bahasa Arab secara komunikatif,
melalui praktik percakapan (muhadatsah), diskusi (munaqasyah), seminar (nadwah),
ceramah dan berekspresi melalui tulisan (ta'bir tahriry); (2) memberikan penguatan
(reinforcement) pemerolehan bahasa yang sudah dipelajari di kelas; dan (3)
menumbuhkan kreativitas dan aktivitas berbahasa Arab yang terpadu anatara teori dan
praktik dalam suasana informal yang santai dan menyenangkan.

TEORI PEMBELAJARAN HUMANISME


2.0 TEORI PEMBELAJARAN HUMANISME

2.1 Pengenalan

Mengikut pandangan ahli psikologi humanis, fitrah manusia pada dasarnya adalah mulia
dan baik. Setiap individu akan berkembang secara semulajadi sekiranya persekitaran
mereka adalah sesuai. Oleh itu, guru harus mengikut keperluan pelajar, membantu
mereka mempelajari ilmu pengetahuan yang mereka suka dan dianggap bermakna.
Prinsip tersebut dapat dikuatkan lagi dengan setiap individu bertindak atas persekitaran
masing-masing dan bebas untuk membuat pilihan dan keputusan dalam usaha
membentuk dunia peribadi dan pembelajaran.

Kajian ahli psikologi humanis menyatakan bahawa pembelajaran manusia bergantung


kepada emosi dan perasaan masing-masing. Selain itu, pendekatan humanis terhadap
pendidikan menekankan keunikan setiap individu dengan menyatakan pandangan,
pengalaman dan pendekatan terhadap pembelajaran setiap individu adalah berbeza.
Secara keseluruhannya, pendekatan humanis memperkatakan mengenai pendekatan
berpusatkan pelajar.

Pendekatan Humanistik menekankan perasaan seseorang itu terhadap pengalaman


pembelajaran. Fokus ditumpukan kepada seseorang pelajar dan memberi peluang untuk
penglibatan individu secara mendalam. .Pembelajaran adalah melalui pengalaman.di
mana pelajar digalak untuk bertindak sendiri untuk menemui sesuatu. Pendekatan ini
mementingkan pelajar sebagai individu yang berpotensi dan menitikberatkan
pembangunan sosial dan emosi individu. Secara semula jadi setiap individu ingin belajar
dan menimba ilmu. Maka, murid-murid hendaklah mempunyai kawalan kendiri ke atas
apa yang hendak mereka pelajari. Keberkesanan pembelajaran akan dicapai apabila
pelajar mengambil inisiatif sendiri dan melibatkan diri sepenuh dalam aktiviti pengajaran
dan pembelajaran.

Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. proses
belajar dianggap berhasil jika murid memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Dalam proses belajar setap murid harus berusaha agar lambat laun mereka mampu
mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Lima objektif asas pendidikan daripada
pandangan humanistik (Gagne dan Berliner, 1991) ialah :

i. Memupuk pembelajaran arah kendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

ii. Mengembangkan keupayaan bertanggungjawab ke atas pembelajaran dan perkara yang


dipelajari.

iii. Mengembangkan kreativiti dan pemikiran bercapah.

iv. Mencungkil dan mengembangkan daya ingin tahu serta penerokaan.

v. Mengembangkan kecenderungan aspek seni dan emosi.

2.2 Prinsip-Prinsip Pendekatan Humanisme

Gagne dan Berliner (1991) merangkumkan prinsip-prinsip pendekatan humanistik seperti


berikut:

i. Pelajar akan mudah belajar perkara yang ingin dipelajari dan perkara yang ingin
diketahui oleh mereka.

ii. Mengetahui cara belajar adalah lebih penting daripada memiliki banyak pengetahuan.
iii. Penilaian kendiri hasil kerja pelajar merupakan penilaian yang lebih bermakna, namun
pelajar perli mencapai tahap pencapaian yang ditetapkan.

iv. Perasaan adalah sama penting dengan fakta.

v. Pelajar belajar lebih baik dalam persekitaran yang tidak mengancam seperti selamat
secara fizikal, emosional, psikologikal serta nyaman.

Menurut Choong Lean Keow, Carl Rogers menyatakan bahawa beliau percaya bahawa
setiap individu mempunyai keinginan semulajadi untuk belajar. Dengan kata lain setiap
individu mempunyai kecenderungan dan hasrat sendiri untuk mencapai kesempurnaan
dirinya.Mereka masing-masing mempunyai keinginan yang akan mendorong mereka ke
arah mencapai kesempurnaan dan kecemerlangan diri. Oleh itu, pengalaman yang dialami
dan ilmu pengetahuan yang diperolehi daripada persekitaran mereka akan membolehkan
individu masing-masing membentuk konsep kendiri, sama ada positif ataupun negatif
adalah bergantung kepada ciri unsur pengaruh persekitaran tersebut.

Rogers juga menyatakan bahawa pembelajaran yang bersifat signifikan hanya akan
berlaku sekiranya kandungan matapelajaran adalah sesuai dan dapat menarik minat
peribadi murid untuk mempelajarinya. Oleh itu, pembelajaran yang menarik minat
mereka akan lebih mudah diterima apabila ancaman luaran berada pada tahap minimum.
Maka pembelajaran yang berlaku adalah atas usaha murid itu sendiri adalah lebih kekal
dan bermakna. Selain itu, beliau telah mengkategorikan pembelajaran kepada dua jenis
iaitu:

a) Pembelajaran kognitif yang tidak berguna ilmu pengetahuan yang diperolehi oleh
individu tidak digunakan dan diaplikasikan dalam kehidupan seharian

b) Pembelajaran eksperiential ilmu pengetahuan yang diperolehi dan diaplikasikan dalam


kehidupan seharian.

Menurut Mok Soon Sang pula, Abraham Harold Maslow telah mengemukakan Hirarki
Keperluan Maslow. Beliau berpendapat bahawa seseorang individu akan memenuhi
keperluan asas terlebih dahulu sebelum memenuhi keperluan sekunder. Mengikut
Maslow, kehendak manusia terbahagi lima mengikut keutamaan iaitu keperluan asas
fisiologi, keselamatan, penghargaan dan kasih sayang, penghormatan kendiri seterusnya
keperluan sempurna kendiri.

Maslow berpendapat motivasi dalaman akan mendorong manusia berusaha mengejar


pencapaian cemerlang yang biasanya berlaku secara spontan tanpa kawalan atau
ransangan luar. Apabila individu telah mendapat kepuasan dalam sesuatu hirarki,
keprluan hirarki yang lebih tinggi akan berlaku secara semulajadi. Namun begitu, jika
hirarki yang lebih rendah masih belum mendapat kepuasan, keperluan dalam hirarki yang
lebih tinggi tidak dapt dikemdangkan dengan sewajarnya. Terdapat ramai individu
sehingga akhir hayat mereka pun tidak dapat berkembang sehingga hirarki tertinggi.
2.3 Pembelajaran Menurut Teori Humanisme

Pendidikan humanisme sangat mementingkan adanya rasa kebebasan dan tanggung


jawab. Teori ini mempunyai tujuan pendidikan iaitu memanusiakan manusia agar
manusia mampu mengaktualisasi diri sebaik-baiknya. Aliran humanistik tidak
mempunyai teori belajar khusus, tetapi hanya bersifat ekletik, yang bermaksud
menggunakan teori yang sesuai (kognitif) asalkan tujuan pembelajaran tercapai. Peranan
pendidik dalam pendekatan humanisme adalah sebagai fasilitator ataupun pembimbing,
yang berperanan:

a) Menciptakan iklim belajar.

b) Memenui kebutuhan belajar peserta didik.

c) Membantu mengungkapkan emosi peserta didik.

d) Membantu belajar peserta didik.

Bentuk pembelajaran melalui pendekatan humanisme adalah bahawa murid dituntut


untuk selalu memotivasi diri. Untuk mencapai ke arah itu kegiatan belajar hendaknya
mendorong murid-murid untuk belajar cara-cara belajar dan menilai belajarnya sendiri.
Program pembelajaran yang diterapkan dalam pendekatan humanisme umumnya
menggunakan kegiatan terbuka di mana murid-murid harus mendapatkan informasi,
membuat keputusan, menyelesaikan masalah dan menghasilkan kejayaan sendiri. Dalam
pendidikan humanisme, murid-murid tidak memiliki tempat duduk yang tetap seperti
pendidikan konvensional. Murid-murid dapat belajar secara kendiri atau belajar secara
berkumpulan.

2.4 Tokoh-Tokoh Pendekatan Humanisme

Terdapat beberapa tokoh terkenal yang mempelolpori teori humanisme ini.Antara tokoh-
tokon humanistik termasuklah Carl Rogers, Abraham Maslow, John Holt, Malcolm
Knowles dan lain-lain. Tetapi di antara tokoh-tokoh tersebut, dua orang tokoh utama bagi
pendekatan humanisme iaitu Carl Rogers dan Abraham Maslow. Di sini akan
dibincangkan dengan lebih lanjut berkaitan dua tokoh utama ini.

2.4.1 Carl Rogers

Nama sebenarnya ialah Carl Ransom Rogers, telah dilahirkan pada 8 Januari 1902 di Oak
Park, Illinois. Carl Rogers dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kuat disiplin,
berpegang kuat pada agama dan bermoral tinggi. Carl Rogers adalah satu – satunya pakar
yang amat mementingkan manusia sebagai manusia, dan menyangkal keras pandangan
yang melihat manusia sebagai objek yang boleh dimanipulasi sama ada dari dalam atau
luar. Beliau juga mementingkan perkembangan manusia yang positif dan melihat semua
manusia sebagai entiti – entiti yang baik dan mulia. Semua tingkah laku mereka didorong
oleh pencapaian kesempurnaan kendiri.

Carl R. Rogers adalah seorang ahli psikologi humanistik yang gagasan-gagasannya


berpengaruh terhadap pemikiran dan amalan psikologi di semua bidang, Rogers
mengutarakan pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik, yang meliputi
hasrat untuk belajar, pembelajaran yang bermakna, belajar tanpa ancaman, belajar atas
inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan (Rumini,dkk. 1993).

Menurut Rogers, manusia mempunyai naluri untuk belajar.Hal ini terbukti dengan
tingginya rasa ingin tahu anak apabila diberi kesempatan untuk mengeksplorasi
persekitarannya. Dorongan ingin tahu untuk belajar ini merupakan persepsi dasar
pendidikan humanistik. Di antara ciri-ciri Teori Pembelajaran Carl Rogers ialah:

• Pengalaman individu adalah fenomena-logikal yg dialami oleh individu sendiri.

• Setiap individu mempunyai kecenderungan dan hasrat sendiri untuk mencapai


kesempurnaan kendiri.

• Setiap individu membentuk konsep kendiri yg unik melalui sistem nilai dan
kepercayaan yg berbeza dgn org lain.

• Tingkah laku yg ditunjukkan adalah selaras dengan konsep kendiri dan keupayaannya.

• Kefahaman tingkah laku individu hanya diperoleh melalui proses komunikasi,

Prinsip-prinsip pendekatan Teori Pembelajaran Carl Rogers antara lainnya ialah


mengutamakan pendidikan berpusatkan pelajar dan prinsip pembelajaran berasaskan
kebebasan (freedon to learn). Di dalam kelas berasaskan teori pembelajaran Carl Rogers,
murid-murid diberi kesempatan dan kebebasan untuk memenuhi perasaan ingin tahunya,
untuk memenuhi minatnya dan untuk mencari apa yang penting dan bererti tentang dunia
di sekitarnya. Antara prinsip-prinsp pembelajarannya yang lain ialah :

i. Pembelajaran merupakan sesuatu jenis naluri ingin tahu

ii. Pembelajaran hanya boleh berlaku jika bahan pelajaran adalah bermakna serta seiras
dengan objektif pelajaran pelajar

iii. Keberkesanan pembelajaran hanya dapat dicapai dibawah situasi pendidikan yang
kurang berancam

iv. Keberkesanan pembelajaran hanya dapat dihasilkan apabila pelajar mengambil


inisiatif sendiri dan melibatkan diri sepenuhnya dalam aktiviti pembelajaran

v. Membimbing pelajar supaya menilai hasil pembelajaran dirinya, demi


mempertingkatkan pemikiran reflektif dan kemahiran kreatifnya.
vi. Aktiviti P&P hendaklah dikaitkan dengan hidup nyata untuk memupuk kemahiran
hidup pelajar.

2.4.2 Abraham Maslow

Abraham Maslow dilahirkan di Rusia dan kemudiannya menetap di Amerika Syarikat.


Beliau merupakan seorang ahli psikologi yang terkenal dengan Hirarki Keperluan yang
diperkenalkan pada tahun 1947 hingga 1954, dan telah diterbitkan dalam Motivation and
Personality pada tahun 1954. Beliau juga digelar sebagai Bapa Psikologi Humanistik.
Abraham H. Maslow merupakan tokoh yang menonjol dalam psikologi humanistik.
Teorinya iaitu Teori Keperluan Maslow dapat diterima pakai dan sebahagian dari teorinya
yang penting dijadikan asas persepsi bahawa dalam diri manusia terdapat dorongan
positif yang berkembang dan terdapat kekuatan-kekuatan yang melawan atau
menghalangi pertumbuhan (Rumini, dkk. 1993).

Maslow melihat individu sebagai sesuatu yang berintergrasi dan penyusuan keseluruhan.
Contohnya, seorang insan yang lapar, ianya bukan sebahagian daripada diri individu
tersebut, sebaliknya keseluruhan diri individu menunjukkan rasa lapar. Teori Maslow ini
ada berkaitan dengan personaliti, dan menitikberatkan beberapa andaian yang berkaitan
dengan motivasi. Beliau menekankan keseluruhan diri individu bergerak, bukan hanya
sebahagian daripada individu.

Maslow menganggap motivasi sebagai sesuatu yang kompleks, dimana tingkah laku
luaran yan diperlihatkan oleh manusia. Beliau juga menganggap, individu akan terus
bermotivasi oleh kerana sesuatu matlamat. Matlamat ini dianggap sebagai keperluan yang
perlu dipenuhi oleh semua manusia tanpa mengambil kira budaya, persekitaran dan
perbezaan generasi.

Personaliti yang dibincangkan oleh Maslow lebih kepada keperluan individu. Maslow
sering mengaitkan perkembangan personaliti dengan motivasi. Motivasi lahir dari
keperluan yang diperolehi oleh setiap individu. Maslow berpendapat sebilangan
keperluan dalaman yang menggerak serta mengarahkan perlakuan yang dipamerkan oleh
individu. Keperluan yang ditunjukkan oleh Maslow boleh dilihat dalam bentuk hieraki.
Menurut beliau keperluan di tahap yang paling bawah/keperluan fisiologi harus dipenuhi
terlebih dahulu sebelum seseorang individu memikirkan tahap kedua. Dengan kata lain
keperluan di peringkat kedua tidak akan wujud jika keperluan diperingkat pertama tidak
mencapai tahap kesempurnaan.

Maslow memecahkan tahap keperluan manusia kepada 5 tahap iaitu keperlian fisiologi,
keselamatan, kasih sayang, penghargaan kendiri, dan kesempuurnaan kendiri. Keperluan
manusia yang paling asas adalah untuk hidup. Manusia perlukan udara, air, makanan dan
tempat tinggal bagi memenuhkan kehendak pertama dan utama ini. Pada masa ini,
keperluan lain tidak sama sekali menjadi tumpuan selagi kehendak asas ini dipenuhi.

Setelah keperluan ini dicapai, manusia akan mencari keselamatan hidup, kestabilan kerja,
jagaan masyarakat, undang – undang serta membebaskan diri daripada ancaman luaran
mahupun dalaman. Tahap keselamatan ini amat diperlukan bagi menjamin kesejahteraan
hidup.

Dalam memenuhkan keperluan kasih sayang pula, manusia perlukan hubungan dengan
insan lain. Kita semua pada asasnya ialah haiwan yang bersosial, iaitu kita perlukan kasih
sayang daripada orang lain. Oleh itu manusia ini sememangnya tidak boleh wujud
bersendirian.

Tahap seterusnya adalah kehendak untuk penghargaan kendiri. Kita mahu berkuasa,
sekurang – kurangnya ke atas diri kita sendiri. Pada masa yang sama, kita juga perlukan
kekuatan, kebolehan, kepakaran serta kebebasan. Seterusnya manusia ingin dihormati,
disanjungi dan kehendak status dalam hidup. Akhir sekali usaha manusia yang teragung
adalah untuk mencapai kesempurnaan kendiri. Semua tahap kehendak sebelum ini perlu
dipenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang itu inginkan kesempurnaan kendiri.

2.5 Implikasi Teori Humanistik Ke Atas Proses Pengajaran dan Pembelajaran

Imlplikasi Teori Pembelajaran Humanistik ialah dapat membentuk suasana bilik darjah
yang kondusif dengan menjalankan aktiviti-aktiviti pengajaran dan pembelajaran agar
mereka merasa seronok, gembira dan harmonis dan selamat untuk melibatkan diri dalam
aktiviti tersebut. Selain daripada itu, guru dapat memupuk nilai penghargaan kendiri di
kalangan pelajar serta memberi motivasi dan peneguhan yang sesuai supaya mereka
sentiasa bersungguh-sungguh dalam aktiviti pengajaran dan pembelajaran.

Guru perlu merancang aktiviti pengajaran mengikut kebolehan pelajar dengan tujuan
meningkatkan keyakinan mereka, dan seterusnya meningkatkan peluang memenuhi
keperluan penyuburan mereka iaitu kesempurnaan kendiri, memperoleh ilmu
pengetahuan, menikmati dan menghasilkan karya atau ciptaan estetik yang bermutu
tinggi. Nilai motivasi diri murid juga perlu dipupuk melalui bimbingan supaya pelajar
memahami diri, menerima diri, melibatkan diri secara aktif dalam aktiviti sosial, dan
seterusnya menentukan aktualisasi kendiri, iaitu arah hidup dan masa depan sendiri
mengikut perkembangan potensinya yang tertinggi.

Sebagai pembimbing ataupun fasilitator, guru hendaklah membantu pelajar mengambil


bahagian dalam kerja kumpulan terutama pembelajaran koperatif dengan tujuan membina
kemahiran sisial dan afektif. Mengimbangkan komponen intelek dan emosi dalam aktiviti
pengajaran dan pembelajaran. Guru hendaklah menjadi role model dan menunjukkan
contoh yang baik bagi sikap, kepercayaan dan kebiasaan yang ingin ditanamkan oleh
guru dalam diri pelajar. Guru hendaklah bersifat penyayang untuk memenuhi keprluan
kasih sayang. Guru hendaklah berkongsi perasaan, idea dan fikiran dengan pelajar

2.6 Implikasi Teori Humanisme Ke Atas Proses Pengajaran dan Pembelajaran Murid
Berkeperluan Khas
Bagi murid bermasalah pengihatan, berikan gambaran yang jelas tentang bilik darjah dan
sekolah. Guru hendaklah membawa kanak-kanak tersebut berjalan di persekitaran
sekolah dan terangkan kepadanya apa yang dilihat. Semasa memandu arah, benarkan
pelajar tersebut memegang anda. Gunakan tulisan yang kasar-kasar apabila menulis di
papan tulis dan menggalakkan juga supaya kanak-kanak lain melakukan perkara yang
sama. Kanak-kanak yang menghadapi masalah penglihatan banyak belajar melalui deria
sentuh, dengar dan hidu. Malah ada di antara mereka menjilat objek / benda yang baru
baginya. Biarkanlah kanak-kanak itu menggunakan caranya untuk belajar tetapi guru
perlulah mengawasinya.

Untuk kanak-kanak bermasalah pembelajaran, bahan-bahan, teknik, kaedah, teknologi


pengajaran dan pembelajaran perlu disedia dan diubahsuai mengikut keprluan individu.
Gerak kerja serta aktiviti-aktiviti latihan dan pengukuhan perlu digred berpadanan dengan
keupayaan individu dengan merujuk kepada Rancangan Pengajaran Individu (R.P.I).
Kerjasama dan interaksi yang baik dengan murid-murid serta guru-guru kelas boleh
meningkatkan usaha dan kerja-kerja pemulihan.Kanak-kanak yang menghadapi masalah
pembelajaran biasanya memerlukan aktiviti berstruktur. Aktiviti ini perlulah dirancang
dengan teliti mengikut langkah-langkah kecil untuk membolehkan murud menguasai
konsep atau kemahiran langkah demi langkah

Manakala bagi kanak-kanak bermasalah pendengaran, guru perlulah mengajar mereka


cara-cara untuk menyampaikan buah fikiran, menyatakan keperluan, dan melepaskan
perasaan. Mereka boleh berkomunikasi dengan cara lain juga iaitu bahasa isyarat. Kanak-
kanak ini biasanya mudah meradang. Mereka sukar menumpukan perhatian pada sesuatu
perkara dengan agak lama. Maka, guru pelulah kreatif untuk mewujudkan suasana
pembelajaran yang menyeronokkan. Antaranya guru boleh menggunakan tangan, mimik
muka, gerak badan, menulis dan bercakap. Guru perlu mengajar murid bacaan bibir
supaya mereka mudah membaca pertuturan bibir
Posted by Ummu Iman at 06:11

Teori Pembelajaran Humanisme


1. 1. TEORI PEMBELAJARAN HUMANISME Disediakan oleh: Asyraf Ridzuan
Taufik Ismail Siti Maizon Syaza Mahadhir
2. 2. Gagne dan Berliner (1991) Objektif Humanisme Prinsip Pendekatan
Humanisme
3. 3. OBJEKTIF HUMANISME Memupuk pembelajaran arah kendiri dan tidak
bergantung pada orang lain Mengembangkan keupayaan bertanggungjawab ke
atas pembelajaran dan perkara yang dipelajari Mengembangkan kreativiti dan
pemikiran bercapah Mencungkil dan mengembangkan daya ingin tahu serta
penerokaan Mengembangkan kecenderungan aspek seni dan emosi
4. 4. PRINSIP PENDEKATAN HUMANISME Mengetahui cara belajar daripada
memiliki banyak pengetahuan Penilaian bermakna-penilaian kendiri hasil kerja
pelajar Perasaan adalah sama penting dengan fakta Fizikal, emosi, psikologikal
serta nyaman aspek yang penting dalam pembelajaran Mudah belajar perkara
yang diingini dan diketahui
5. 5. Carl Rogers Abraham Maslow Teori Humanisme
6. 6. Anggapan Carl Rogers Manusia pada dasarnya baik Berkembang secara positif
jika dijuruskan ke arah yang betul Bermotivasi tinggi untuk mencapai potensi diri
7. 7. Teori Pembelajaran Carl Rogers Pembelajaran Pengalaman Pembelajaran
Kognitif
8. 8. HIERARKI KEPERLUAN MASLOW Keperluan kekurangan (deficiency
needs) Perlu dipenuhi peringkat demi peringkat sebelum manusia berusaha untuk
memenuhi keperluan perkembangan Apabila kekurangan keperluan telah
dipenuhi, individu tidak akan lagi bermotivasi untuk memenuhinya Keperluan
perkembangan (being/ growth needs) Individu tidak akan jemu dan akan terus
berusaha untuk mengembangkan lagi minat dan kecenderungannya
9. 9. Hierarki keperluan Maslow Penyempurnaan Kendiri Keperluan estetika
Keperluan penghargaan (penghargaan, pengiktirafan) Keperluan Kasih Sayang
(penerimaan dan kasih sayang daripada keluarga dan rakan-rakan) Keperluan
Keselamatan (bebas daripada ancaman fizikal dan emosional) Keperluan fisiologi
(makan, minum, udara, tempat tinggal, berkumuh)
10. 10. IMPLIKASI KEPERLUAN MANUSIA DALAM PROSES
PEMBELAJARAN Memastikan keperluan fisiologi pelajar dipenuhi
Menyediakan keadaan fizikal bilik darjah selamat Menerima individu (pelajar)
sebagai insan yang ada potensi Berikan tugasan yang sesuai dengan keupayaan
pelajar supaya pelajar dapat membuatnya
11. 11. APLIKASI TEORI HUMANISME DALAM MATEMATIK Fokus kpd
pelajar bukan subjek Layan sbg insan sebelum sbg pelajar Terima tanpa syarat
Libatkan pelajar dalam aktiviti kumpulan Beri pujian dan gerak balas perasaan
Sesuaikan dengan aras pemikiran murid Aktiviti mengikut perbezaan individu
Perasaan dan amalan saling menghormati Guru sebagai rol model