Anda di halaman 1dari 9

Kontes foto Wiki Cinta Bumi: Unggah foto alam dan binatang terbaik Anda dari Indonesia

untuk membantu Wikipedia dan memenangkan hadiah!


[tutup]

Wikipedia bahasa Indonesia mengucapkan:


Selamat merayakan kenaikan Isa Almasih

Teori hierarki kebutuhan Maslow


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian

Teori hierarki kebutuhan Maslow adalah teori yang diungkapkan oleh Abraham Maslow. Ia
beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup
terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang
memotivasi.[1]

Daftar isi

 1Konsep Teori Hierarki Kebutuhan Maslow


 2Hierarki Kebutuhan Maslow
o 2.1Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
o 2.2Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety/Security Needs)
o 2.3Kebutuhan Akan Rasa Memiliki Dan Kasih Sayang (Social Needs)
o 2.4Kebutuhan Akan Penghargaan (Esteem Needs)
o 2.5Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri (Self-actualization Needs)
 3Referensi

Konsep Teori Hierarki Kebutuhan Maslow[sunting | sunting sumber]

Abraham Maslow

Konsep hierarki kebutuhan dasar ini bermula ketika Maslow melakukan observasi terhadap perilaku
monyet.[2] Berdasarkan pengamatannya, didapatkan kesimpulan bahwa beberapa kebutuhan lebih
diutamakan dibandingkan dengan kebutuhan yang lain.[2] Contohnya jika individu merasa haus,
maka individu akan cenderung untuk mencoba memuaskan dahaga.[2] Individu dapat hidup tanpa
makanan selama berminggu-minggu.[2] Tetapi tanpa air, individu hanya dapat hidup selama
beberapa hari saja karena kebutuhan akan air lebih kuat daripada kebutuhan akan makan.[2]
Kebutuhan-kebutuhan ini sering disebut Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan dasar yang
digambarkan sebagai sebuah hierarki atau tangga yang menggambarkan tingkat
kebutuhan.[1] Terdapat lima tingkat kebutuhan dasar, yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan
rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan
kebutuhan akan aktualisasi diri[2] Maslow memberi hipotesis bahwa setelah individu memuaskan
kebutuhan pada tingkat paling bawah, individu akan memuaskan kebutuhan pada tingkat yang
berikutnya.[3] Jika pada tingkat tertinggi tetapi kebutuhan dasar tidak terpuaskan, maka individu
dapat kembali pada tingkat kebutuhan yang sebelumnya.[3] Menurut Maslow, pemuasan berbagai
kebutuhan tersebut didorong oleh dua kekuatan yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation)
dan motivasi perkembangan (growth motivation).[4] Motivasi kekurangan bertujuan untuk mengatasi
masalah ketegangan manusia karena berbagai kekurangan yang ada.[4] Sedangkan motivasi
pertumbuhan didasarkan atas kapasitas setiap manusia untuk tumbuh dan berkembang.[4] Kapasitas
tersebut merupakan pembawaan dari setiap manusia.[4]

Hierarki Kebutuhan Maslow[sunting | sunting sumber]


Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)[sunting | sunting sumber]
Kebutuhan paling dasar pada setiap orang adalah kebutuhan fisiologis yakni kebutuhan untuk
mempertahankan hidupnya secara fisik.[1][5] Kebutuhan-kebutuhan itu seperti kebutuhan akan
makanan, minuman, tempat berteduh, tidur dan oksigen (sandang, pangan, papan).[5] Kebutuhan-
kebutuhan fisiologis adalah potensi paling dasar dan besar bagi semua pemenuhan kebutuhan di
atasnya.[1] Manusia yang lapar akan selalu termotivasi untuk makan, bukan untuk mencari teman
atau dihargai.[1] Manusia akan mengabaikan atau menekan dulu semua kebutuhan lain sampai
kebutuhan fisiologisnya itu terpuaskan.[1] Di masyarakat yang sudah mapan, kebutuhan untuk
memuaskan rasa lapar adalah sebuah gaya hidup.[1] Mereka biasanya sudah memiliki cukup
makanan, tetapi ketika mereka berkata lapar maka yang sebenarnya mereka pikirkan adalah
citarasa makanan yang hendak dipilih, bukan rasa lapar yang dirasakannya.[1] Seseorang yang
sungguh-sungguh lapar tidak akan terlalu peduli dengan rasa,
bau, temperatur ataupun tekstur makanan.
Kebutuhan fisiologis berbeda dari kebutuhan-kebutuhan lain dalam dua hal.[1] Pertama, kebutuhan
fisiologis adalah satu-satunya kebutuhan yang bisa terpuaskan sepenuhnya atau minimal bisa
diatasi.[1] Manusia dapat merasakan cukup dalam aktivitas makan sehingga pada titik ini, daya
penggerak untuk makan akan hilang.[1] Bagi seseorang yang baru saja menyelesaikan sebuah
santapan besar, dan kemudian membayangkan sebuah makanan lagi sudah cukup untuk
membuatnya mual.[1] Kedua, yang khas dalam kebutuhan fisiologis adalah hakikat
pengulangannya.[1] Setelah manusia makan, mereka akhirnya akan menjadi lapar lagi dan akan
terus menerus mencari makanan dan air lagi.[1] Sementara kebutuhan di tingkatan yang lebih tinggi
tidak terus menerus muncul.[1] Sebagai contoh, seseorang yang minimal terpenuhi sebagian
kebutuhan mereka untuk dicintai dan dihargai akan tetap merasa yakin bahwa mereka dapat
mempertahankan pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut tanpa harus mencari-carinya lagi.[1]
Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety/Security Needs)[sunting | sunting sumber]
Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya, muncullah apa yang disebut
Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman.[5] Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman ini
diantaranya adalah rasa aman fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari
daya-daya mengancam seperti kriminalitas, perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya,
kerusuhan dan bencana alam.[1] Serta kebutuhan secara psikis yang mengancam kondisi kejiwaan
seperti tidak diejek, tidak direndahkan, tidak stres, dan lain sebagainya. Kebutuhan akan rasa aman
berbeda dari kebutuhan fisiologis karena kebutuhan ini tidak bisa terpenuhi secara total.[1] Manusia
tidak pernah dapat dilindungi sepenuhnya dari ancaman-ancaman meteor, kebakaran, banjir atau
perilaku berbahaya orang lain.
Menurut Maslow, orang-orang yang tidak aman akan bertingkah laku sama seperti anak-anak yang
tidak aman.[5] Mereka akan bertingkah laku seakan-akan selalu dalam keadaan terancam
besar.[5] Seseorang yang tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas secara
berlebihan serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan yang tidak
diharapkannya.[5]
Kebutuhan Akan Rasa Memiliki Dan Kasih Sayang (Social
Needs)[sunting | sunting sumber]
Jika kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman telah terpenuhi, maka muncullah
kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan rasa memiliki-dimiliki.[5] Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi
dorongan untuk dibutuhkan oleh orang lain agar ia dianggap sebagai warga komunitas sosialnya.
Bentuk akan pemenuhan kebutuhan ini seperti bersahabat, keinginan memiliki pasangan dan
keturunan, kebutuhan untuk dekat pada keluarga dan kebutuhan antarpribadi seperti kebutuhan
untuk memberi dan menerima cinta.[5][1] Seseorang yang kebutuhan cintanya sudah relatif terpenuhi
sejak kanak-kanak tidak akan merasa panik saat menolak cinta.[1] Ia akan memiliki keyakinan besar
bahwa dirinya akan diterima orang-orang yang memang penting bagi dirinya.[1] Ketika ada orang lain
menolak dirinya, ia tidak akan merasa hancur.[1] Bagi Maslow, cinta menyangkut suatu hubungan
sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya.[5] Sering kali cinta
menjadi rusak jika salah satu pihak merasa takut jika kelemahan-kelemahan serta kesalahan-
kesalahannya.[5] Maslow juga mengatakan bahwa kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi
dan cinta yang menerima.[5] Kita harus memahami cinta, harus mampu mengajarkannya,
menciptakannya dan meramalkannya.[5] Jika tidak, dunia akan hanyut ke dalam gelombang
permusuhan dan kebencian.[5]
Kebutuhan Akan Penghargaan (Esteem Needs)[sunting | sunting sumber]
Setelah kebutuhan dicintai dan dimiliki tercukupi, selanjutnya manusia akan bebas untuk mengejar
kebutuhan egonya atas keinginan untuk berprestasi dan memiliki prestise.[1]Maslow menemukan
bahwa setiap orang yang memiliki dua kategori mengenai kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan
yang lebih rendah dan lebih tinggi.[2] Kebutuhan yang rendah adalah kebutuhan untuk menghormati
orang lain, kebutuhan akan status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan,
perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi.[2]Kebutuhan yang tinggi adalah
kebutuhan akan harga diri termasuk perasaan, keyakinan, kompetensi, prestasi, penguasaan,
kemandirian dan kebebasan.[2] Sekali manusia dapat memenuhi kebutuhan untuk dihargai, mereka
sudah siap untuk memasuki gerbang aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi yang ditemukan Maslow.[1]
Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri (Self-actualization Needs)[sunting | sunting
sumber]
Tingkatan terakhir dari kebutuhan dasar Maslow adalah aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk
membuktikan dan menunjukan dirinya kepada orang lain.[2] Pada tahap ini, seseorang
mengembangkan semaksimal mungkin segala potensi yang dimilikinya. Kebutuhan aktualisasi diri
adalah kebutuhan yang tidak melibatkan keseimbangan, tetapi melibatkan keinginan yang terus
menerus untuk memenuhi potensi.[2] Maslow melukiskan kebutuhan ini sebagai hasrat untuk
semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut
kemampuannya.[5] Awalnya Maslow berasumsi bahwa kebutuhan untuk aktualisasi diri langsung
muncul setelah kebutuhan untuk dihargai terpenuhi.[1] Akan tetapi selama tahun 1960-an, ia
menyadari bahwa banyak anak muda di [Brandeis]] memiliki pemenuhan yang cukup terhadap
kebutuhan-kebutuhan lebih rendah seperti reputasi dan harga diri, tetapi mereka belum juga bisa
mencapai aktualisasi diri.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]


1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z (Indonesia)Feist, Jess
(2010). Teori Kepribadian : Theories of Personality. Salemba
Humanika. hlm. 331. ISBN 978-602-8555-18-0.
2. ^ a b c d e f g h i j k Rahmat Hidayat, Deden (2011). Zaenudin A. Naufal,
ed. Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Ghalia
Indonesia. hlm. 165–166. ISBN 978-979-450-654-7.
3. ^ a b (Inggris)Plotnik, Rod (2014). Introduction to Psychology, 10th
Edition. Wadsworth. hlm. 332. ISBN 978-1-133-94349-5.
4. ^ a b c d Hartiah Haroen, ed. (2008). Teknik Prosedural Keperwatan:
Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Salemba Humanika.
hlm. 2. ISBN 978-979-3027-53-1.
5. ^ a b c d e f g h i j k l m n G. Goble, Frank (1987). A. Supratiknya,
ed. Mazhab Ketiga, Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Kanisius.
hlm. 71.

Deretan Mercusuar Contoh


Perusahaan Industri 4.0
Menteri Perindustrian terus memacu perkembangan Revolusi Industri 4.0. Dia menyebut sederet
perusahaan manufaktur yang menjadi mercusuar percontohan implementasi industri 4.0.
Fatkhul Maskur | 22 Februari 2019 16:15 WIB

Robot pekerja tengah menyelesaikan proses produksi kendaraan bermotor. - Reuters


A+ A-
Share

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian terus memacu perkembangan


Revolusi Industri 4.0. Dia menyebut sederet perusahaan manufaktur yang menjadi
mercusuar percontohan implementasi industri 4.0.

"Secara nasional, perusahaan semacam Schneider Electric, Pan Brothers, Panasonic,


Daihatsu, Toyota, Mayora dan Mattel sudah menjadi lighthouse dalam percontohan
implementasi industri 4.0," ujarnya Dalam Pidato Ilmiah Dies Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada ke-73 bertema Membangun Kedaulatan Teknologi di Era
Disrupsi, Jumat (22/2/2019).

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi
pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan,
dan komputasi kognitif. Industri 4.0 menghasilkan "pabrik cerdas".

Seperti disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the
World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution, revolusi
industri generasi keempat ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar,
kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang
memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Pada kesempatan itu, Menperin juga menyampaikan bahwa keberadaan dari industri
4.0 ini dapat berjalan dengan harmoni dengan industri-industri 1.0, industri 2.0. dan
industri 3.0.

"Implementasi konkritnya kita bisa melihat di Jogja," ujarnya.

Dia mengungkapkan bahwa Yogyakarta mempunyai kawasan industri 1.0 yang sangat
terkenal yaitu Kawasan Batik dan Kawasan Perajin Perak di Kota Gede, untuk
Industri 2.0 juga tidak kalah ada Kawasan Industri Makanan Ringan Bakpia dan
Kaleng Gudeg. Untuk 3.0 juga ada, kita bisa lihat industri susu Sari Husada, hingga
yang sudah terapkan 4.0 seperti PT YPTI (Yogya Presisi Teknikatama Industri).

"Jogja adalah miniatur dari harmoni ini. Harmoni dalam transformasi," kata
Airlangga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :


Revolusi Industri 4.0

Editor : Fatkhul Maskur


Industri 4.0
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian
Revolusi industri dan pandangan masa depan

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini
mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan,[1][2][3][4] dan komputasi kognitif.
Industri 4.0 menghasilkan "pabrik cerdas". Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-
fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan
yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja
sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan
internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai
nilai.[1]

Daftar isi

 1Nama
 2Prinsip rancangan
 3Dampak Industri 4.0
 4Kesiapan Indonesia
 5Lihat pula
 6Referensi
 7Pranala luar

Nama[sunting | sunting sumber]


Istilah "Industrie 4.0" berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah
Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.[5]
Istilah "Industrie 4.0" diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011.[6] Pada Oktober 2012, Working
Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah
federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis
Industri 4.0.
Laporan akhir Working Group Industry 4.0 dipaparkan di Hannover Fair tanggal 8 April 2013.[7]

Prinsip rancangan[sunting | sunting sumber]


Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan
mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0.[1]

 Interoperabilitas (kesesuaian): Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk


berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet untuk segala (IoT) atau
Internet untuk khalayak (IoP).
o IoT akan mengotomatisasikan proses ini secara besar-besaran[8]
 Transparansi informasi: Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik
secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini
membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai
tinggi.
 Bantuan teknis: Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan
mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat
keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan
sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas
yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.
 Keputusan mandiri: Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan
melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang
berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

Dampak Industri 4.0[sunting | sunting sumber]


Pengusul mengklaim Industri 4.0 akan mempengaruhi banyak bidang, terutama:

1. Model layanan dan bisnis


2. Keandalan dan produktivitas berkelanjutan
3. Keamanan TI: Perusahaan seperti Symantec, Cisco, dan Penta Security sudah mulai
membahas masalah keamanan IoT
4. Keamanana mesin
5. Penjualan pabrik
6. Siklus hidup produk
7. Industri Manufaktur: Perubahan masal pabrik menggunakan IoT, Pencetakan
3D dan Pembelajaran Mesin
8. Rantai nilai industri
9. Pendidikan dan skill pekerja
10. Faktor sosio-ekonomi
11. Peragaan Industri: Untuk membantu industri memahami dampak Perindustrian
4.0, Cincinnati Walikota John Cranley, menandatangani proklamasi untuk menyatakan
"Cincinnati menjadi Kota Peragaan Industri 4.0".[9]
12. Sebuah artikel yang diterbitkan pada bulan Februari 2016 menunjukkan bahwa Industri 4.0
mungkin memiliki efek menguntungkan bagi negara berkembang seperti India.[10]
Industri kedirgantaraan kadang dikatogorikan "terdampak rendah untuk otomasi masal" namun
prinsip-prinsip Industri 4.0 telah diselidiki oleh beberapa perusahaan kedirgantaraan, teknologi yang
dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas di mana biaya awal otomatisasi tidak dijelaskan,
salah satu contohnya adalah proyek M4 oleh pabrik komponen penerbangan Meggitt
PLC.[11] Diskusi tentang bagaimana pergeseran ke Industri 4.0, khususnya digitalisasi, akan
mempengaruhi pasar tenaga kerja sedang dibahas di Jermandengan topik Pekerjaan 4.0.[12]

Kesiapan Indonesia[sunting | sunting sumber]


Masalah kesiapan perpindahan ke industri 4.0 Indonesia terletak pada SDM dan pemerataan,
beberapa sektor industri di Indonesia masih belum mendekati Industri 4.0, contoh saja pada industri
agraris, masih ada petani menggunakan cangkul, walaupun beberapa daerah petaninya sudah
memasuki Industri 4.0, tidak semua petani menguasai komputer.[13]
Masalah lainnya terletak pada banyaknya penduduk Indonesia yang tidak memiliki SDM memadai,
karena diperkirakan dengan masuknya industri ini akan memangkas tenaga manusia dengan
kemampuan SDM rendah dan kemungkinan meningkatkan angka pengangguran.[14]
Cara pemerintah mengadapi hal tersebut dimulai dari pembangunan infrastruktur untuk pemerataan
distribusi di berbagai sektor dan perombakan kurikulum pendidikan guna menghadapi
perkembangan industri ini.[15] [16]

Revolusi Industri Keempat


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian
Revolusi Industri Keempat adalah keadaan industri abad ke-21 saat perubahan besar-besaran di
berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital,
dan biologi.[1] Revolusi ini ditandai dengan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang,
khususnya kecerdasan buatan, robot, blockchain, teknologi nano, komputer
kuantum, bioteknologi, Internet of Things, percetakan 3D, dan kendaraan tanpa awak.
Sebagaimana revolusi terdahulu, revolusi industri keempat berpotensi meningkatkan kualitas hidup
masyarakat di seluruh dunia. Namun, kemajuan di bidang otomatisasi dan kecerdasan buatan telah
menimbulkan kekhawatiran bahwa mesin-mesin suatu hari akan mengambil alih pekerjaan manusia.
Selain itu, revolusi-revolusi sebelumnya masih dapat menghasilkan lapangan kerja baru untuk
menggantikan pekerjaan yang diambil alih oleh mesin, sementara kali ini kemajuan kecerdasan
buatan dan otomatisasi dapat menggantikan tenaga kerja manusia secara keseluruhan yang
digantikan oleh teknologi dan robotik.