Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial yang kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari
kegiatan interaksi dan komunikasi. Komunikasi adalah hubungan antar manusia baik individu
maupun kelompok. Komunikasi juga merupakan bagian dari kehidupan manusia sejak dilahirkan.
70% kehidupan dipergunakan untuk berkomunikasi.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan komunikasi itu? Sederhananya komunikasi
merupakan proses penyampaian informasi yang diterima oleh panca indera ke otak. Informasi bisa
berasal dari lingkungan atau dari diri sendiri. Setiap manusia memiliki potensi untuk
berkomunikasi satu sama lain saat dia terdiam sekalipun.
Salah satu kontek komunikasi adalah komunikasi massa. Komunikasi massa merupakan
sebuah bentuk komunikasi yang memiliki jumlah komunikator yang paling banyak, derajat
kedekatan fisik yang paling rendah, saluran indrawi yang tersedia sangat minimal dan feedback
yang tertunda.
Abad ini disebut abad komunikasi massa. Komunikasi telah mencapai suatu tingkatan di
mana orang mampu berbicara dengan jutaan manusia secara serentak dan serempak. Teknologi
komunikasi mutakhir telah menciptakan apa yang disebut “publik dunia”. Bersamaan dengan
perkembangan teknologi komunikasi ini, meningkat pula kecemasan tentang efek media massa
terhadap khalayaknya.

Kita hidup di abad dimana komunikator hanya tinggal menyambungkan alat pemancar dan
jutaan orang hanya tinggal menyetel alat penerima. Sangat mudah dan instan, namun tetap saja
tidak lepas dari efek komunikasi massa pada perilaku penerima pesannya.

Di negara-negara maju, efek komunikasi massa telah beralih dari ruang kuliah ke ruang
pengadilan, dari polemik ilmiah di antara para profesor ke debat parlementer di antara anggota
badan legeslatif. Di negara berkembang efek komunikasi telah merebut perhatian berbagai
kalangan, sejak politisi, tokoh agama, penyair, sampai petani. Politisi, baik karena kerusakan atau
ketakukan mencoba “melakukan” pengaruh media massa atau mengendalikannya.

Walaupun hampir semua orang menyadari efek komunikasi massa, sedikit sekali orang
yang memahami gejala komunikasi massa. Akibatnya komunikasi massa telah dipandang secara
ambivalen. Psikologi telah lama menelaah efek komunikasi massa pada perilaku penerima
pesannya, annual review of psychology hampir selalu menyajikan berbagai hasil penelitian
psikologi tentang efek komunikasi massa. Untuk lebih jelasnya lagi akan dibahas dalam makalah
ini bagaimana karakteristik individu mempengaruhi pengguna media.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari komunikasi massa ?
2. Apa yang dimaksud dengan sistem komunikasi massa vs sistem komunikasi
interpersonal ?
3. Bagaimana penelitian efek komunikasi massa ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari komunikasi massa
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem komunikasi massa vs sistem
komunikasi interpersonal
3. Untuk mengetahui bagaimana penelitian efek komunikasi massa

2
BAB II
PEMABAHASAN

A. Pengertian Komunikasi Massa


Komunikasi massa merupakan sebuah bentuk komunikasi yang memiliki jumlah
komunikator yang paling banyak, derajat kedekatan fisik yang paling rendah, saluran indrawi
yang tersedia sangat minimal dan feedback yang tertunda. Beberapa definisi. komunikasi
massa disampaikan oleh para ahli yaitu antara lain disampaikan oleh:

Bittner (1980:10), komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media
massa pada sejumlah besar orang.
Gerbner (1967), Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan
teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinu serta paling luas dimiliki orang dalam
masyarakat industri.
Meletzke (1963), menghimpun banyak definisi; beberapa diantaranya dikutip disini :

1. Komunikasi massa kita artikan setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan


pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan
satu arah pada public yang tersebar.
2. Komunikasi massa dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan
bahwa komunikasi massa dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai
kelompok, dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi.
Komunikasi massa juga mempunyai anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus
untuk menyampaikan komunikasi agar komunikasi itu dapat mencapai pada saat yang
sama semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat.
3. Bentuk komunikasi yang baru dapat dibedakan dari corak-corak yang lama karena
memiliki karakteristik utama sebagai berikut : diarahkan pada khalayak yang relatif
besar, heterogen, dan anonym; pesan disampaikan secara terbuka, seringkali dapat
mencapai kebanyakan khalayak secara serentak, bersifat sekilas; komunikator
cenderung berada atau bergerak dalam organisasi yang kompleks yang melibatkan
biaya besar.

Merangkum definisi-definisi di atas, di sini komunikasi massa diartikan sebagai jenis


komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim
melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak
dan sesaat. Perkataan “dapat” dalam definisi ini menekankan pengertian bahwa jumlah
sebenarnya menerima komunikasi pada saat tertentu tidaklah esensial. Yang penting, seperti
dikatakan Alexis S. Tan (1981:73), “ komunikator adalah organisasi social yang mampu

3
mereproduksi pesan dan pengamplasan secara bersamaan untuk sejumlah besar orang yang
terpisah secara spasial.

B. Sistem Komunikasi Massa VS Sistem Komunikasi Interpersonal


Secara sederhana, komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa, yakni surat
kabar, majalah, radio, televisi, dan film. Bila sistem komunikasi massa dapat diperbandingkan
dengan sistem komuniasi interpersonal, secara teknis kita dapat menunjukkan empat tanda pokok
dari komunikasi massa (Menurut Elizabeth-Noelle Neuman 1973), komunikasi massa secara
teknis menunjukkan empat tanda pokok :

1. Bersifat tidak langsung, harus melewati media teknis.


2. Bersifat satu arah, tidak ada interaksi antara para komunikan.
3. Bersifat terbuka, ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim.
4. Mempunyai publik yang secara geografis tersebar.
Karena perbedaan teknis, sistem komunikasi massa juga mempunyai karakteristik psikologis
yang khas dibandingkan komunikasi interpersonal. Ini tampak dalam pengendalian arus informasi,
umpan balik, stimuli alat indera, dan proporsi unsur isi dengan hubungan.
1. Pengendalian Arus Informasi

Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan
yang diterima. Perbandingan antara pengendalian arus informasi dalam komunikasi massa dan
komunikasi interpersonal:

KOMUNIKASI MASSA KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Kita tidak dapat mengendalikan arus Kita bersama-sama dapat mengendalikan arus
informasi seperti yang dikehendaki informasi seperti yang dikehendaki.
(dikendalikan komunikator)
Situasi komunikasi dapat menunjang persuasi Situasi komunikasi akan mendorong belajar
yang efektif yang efektif
Komunikator sukar menyesuaikan pesannya Komunikator mudah menyesuaikan pesannya
dengan reaksi komunikan, reaksi khalayak dengan reaksi komunikan
dijadikan proses untuk komunikasi
berikutnya (feedback)

4
2. Umpan Balik

Umpan balik berasal dari teori sibernetika (Norbet Wiener). Dalam sibernetika, umpan
balik adalah keluaran (output) system yang dibalikkan kembali kepada system masukan (input)
tambahan dan berfungsi mengatur keluaran berikutnya.

Dalam komunikasi umpan balik diartikan sebagai respon, peneguhan, dan servomekanisme
internal. Sebagai Respon, umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke
sumber, memberi tahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan kepada sumber
untuk menentukan perilaku selanjutnya. Dalam pengertian ini umpan balik bermacam-macam
jumlah dan salurannya. Umpan balik sebagai peneguhan, respon yang diperteguh akan mendorong
orang untuk mengulangi respon tersebut. sebaliknya, respon yang tidak diperteguh akan
dihilangkan. Umpan balik sebagai servomekanisme. Dalam setiap sistem, selalu ada aparat yang
memberikan respon pada jalannya sistem. Belajar menimbulkan servomekanisme dalam diri
individu. Sikap yang diperoleh melalui belajar, diinternalisasikan dalam diri individu sebagai
mekanisme yang menstabilkan perilaku individu. Perbedaan umpan balik sistem komunikasi
massa dan sistem komunikasi interpersonal:

PEMBEDA KOMUNIKASI MASSA KOMUNIKASI INTERPERSONAL


Sebagai respon Hanyalah zero feedback, Volume tidak terbatas dan lewat
berlangsung satu arah berbagai saluran komunikasi
Sebagai peneguhan Delayed feedback Umpan balik cepat
(terlambat)
Sebagai Kendala ekonomi, nilai, Sikap berfungsi sebagai
servomekanisme teknologi, dan organisasi servomekanisme
berfungsi sebagai
servomekanisme

3. Stimuli Alat Indera

Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada jenis media massa.
Sedangkan dalam komunikasi interpersonal, stimuli lewat seluruh alat inderanya. Menurut
McLuhan, perkembangan sejarah berdasarkan media massa dibedakan menjadi 3 babak:

1. Babak tribal: lewat semua alat indera.


2. Babak Gutenberg: hanya indera mata yang mendapat stimuli.
3. Babak neotribal: alat-alat elektronik memungkinkan manusia menggunakan beberapa
macam alat indera.

5
4. Proporsi Unsur Isi dengan Hubungan

Perbandingan proporsi unsur isi dengan hubungan antara komunikasi massa dan komunikasi
interpersonal.

KOMUNIKASI MASSA KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Unsur isi lebih penting Unsur hubungan lebih penting

Pesan berstruktur, dapat disimpan, Pesan tidak berstruktur, tidak sistematis, dan
diklasifikasi, dan didokumentasikan sukar disimpan atau dilihat kembali.

C. Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa


Menurut Noelle-Neumann, penelitian efek media massa selama empat puluh tahun
mengungakapkan kenyataan bahwa efek media massa tidak perlu dikhawatirkan, efeknya tidak
begitu berarti. Ini diperkokoh oleh psikolog sosial William McGuire yang menulis, “dampak
media massa hasil pengukuran dalam hubungannya dengan daya persuasif tampak kecil saja.
Sejumlah besar penelitian telah dilaksanakan untuk menguji efektivitas media massa. hasilnya
sangat memalukan bagi pendukung media massa, karena ternyata sedikit sekali adanya bukti
perubahan sikap, apalagi perubahan perilaku nyata”.

Penelitian efek komunikasi massa mengungkapkan pasang surut kekuatan media massa - dari
media massa perkasa, kepada media massa yang berpengaruh terbatas, dan kembali lagi pada
media massa perkasa.

McQuail merangkum semua penemuan penelitian sebagai berikut. Ada kesepakatan bahwa
bila efek terjadi, efek itu sering kali berbentuk peneguhan, sikap dan pendapat yang ada. Efek
berbeda beda tergantung pada prerstis atau penilaian terhadap sumber komunikasi. Makin
sempurna monopoli komunikasi massa kemungkinan besar perubahan pendapat dapat ditimbulkan
pada arah yang dikehendaki. Sejauh mana persoalan dianggap penting oleh khalayak akan
mempengaruhi, kemungkinan pengaruh media massa. Pemilihan dan penafsiran isi oleh khalayak
dipengaruhi oleh pendapat dan kepentingan yang ada dan oleh norma-norma kelompok. Struktur
hubungan interpersonal pada khalayak mengantarai arus isi komunikasi, membatasi dan
menentukan efek yang terjadi.
Setelah para peneliti menyadari betapa sukarnya melihat efek media massa pada orang,
para peneliti sekarang memperhatikan apa yang dilakukan orang terhadap media. Fokus penelitian
sekarang bergeser dari komunikator ke komunkate, dari sumber ke penerima. Khalayak dianggap
aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Pendekatan ini kemudian dikenal

6
dengan pendekatan “uses and gratification”, yang pertama kali dikemukakan oleh Elihu Katz
(1959).

Elisabeth Noelle-Neumman berpendapat bahwa penemuan-penemuan terdahulu tidak


memperhatikan factor penting dalam media massa. Ketiga factor tersebut adalah: Ubuquiti (serba
ada), Kumulasi pesan, dan keseragaman wartawan.

Menurut Noelle-Neumman, adanya berita atau penyiaran yang seragam akan menyebabkan
orang menduga bahwa berita itu merupakan opini mayoritas. Bersamaan dengan timbulnya kesan
opini mayoritas, orang-orang yang mempunyai pendapat berbeda akan diam. Karena diam suara
mayoritas makin diperkuat. Terjadilah yang disebut Noelle-Neumman “die Schweigespirale” –
lingakaran kebisuan. Di sini jelas media massa menimbulkan efek yang kuat dalam membentuk
persepsi khalayak, dan akhirnya bahkan menimbulkan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang
baru.

Pada abad ini terjadi revolusi komunikasi. Ada yang menyebutnya ledakan komunikasi.
Sekarang makin disadari Teknologi komunikasi yang baru tengah membentuk dan mengubah cara
hidup kita.

Secara singkat kita telah melacak perkembangan penelitian efek komunikasi dari periode
Perang Dunia I sampai sekarang. Pada 50 tahun terakhir, dalam dunia komunikasi terjadi kemajuan
komunikasi jauh lebih cepat daripada apa yang terjadi selama puluhan ribu tahun sebelumnya.
Manusia bukanlah robot yang pasif yang dikontrol lingkungan. Setiap manusia mempunyai cara
yang unik untuk mengalami lingkungan secara fenomenologis.

7
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Komunikasi Massa adalah (ringkasan dari) komunikasi melalui media massa
(communicating with media), atau komunikasi kepada banyak orang (massa) dengan
menggunakan sarana media. Media massa sendiri ringkasan dari media atau sarana komunikasi
massa. Massa sendiri artinya “orang banyak” atau “sekumpulan orang” – kelompok, kerumunan,
publik.

Secara teknis komunikasi massa memiliki emapat tanda pokok, bersifat tidak langsung,
bersifat satu arah, bersifat terbuka, mempunyai publik yang secara geografis tersebar.

Pada awalnya penelitian komunikasi lebih berfokus kepada efek dari komunikasi massa
dan seberapa besar media massa memberi pengaruh kepada khalayak, namun belakangan para
peneliti memperhatikan apa yang dilakukan orang terhadap media. Fokus penelitian sekarang
bergeser dari komunikator ke komunkate, dari sumber ke penerima.

8
DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi Bandung; Remaja Rosda Karya, 2013, cetak. Ke-29.