Anda di halaman 1dari 21

MODEL PEMBELAJARAN CONNECTED

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran tematik SD


Dosen Pembimbing : Dr. Suharno, M. Pd

Disusun oleh:
Yenni Harsari (S031908025)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Model
Pembelajaran Connected” dengan sebaik mungkin.

Dalam proses penyelesaian makalah ini, penyusun banyak mendapatkan


dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini
kami ingin mengucapkan terima kasih, kepada:
1. Allah SWT yang telah berkenan memberikan kekuatan baik lahir maupun
batin dan kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.
2. Dr. Suharno M. Pd, selaku dosen pembimbing mata kuliah pembelajaran
tematik di SD
3. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung ikut
berpartisipasi dalam penyusunan tugas ini.
Dan semoga makalah kami ini bermanfaat,tidak hanya bagi kami tapi juga bagi
para pembaca pada umumnya. Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan dan kelemahannya, oleh karena itu, kritik dan saran para pembaca
akan kami terima dengan senang hati demi penyempurnaan makalah ini.

Surakarta, September 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................................. iii

BAB I .............................................................................................................................. 5

PENDAHULUAN .......................................................................................................... 5

A. Latar Belakang ...................................................................................................... 5

B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 7

C. Tujuan ................................................................................................................... 7

BAB II ............................................................................................................................. 8

PEMBAHASAN ............................................................................................................. 8

A. Definisi Model Pembelajaran Shared.................................................................... 8

B. Karakteristik Model Pembelajaran Shared.......... Error! Bookmark not defined.

C. Langkah-langkah Pengembangan Model Pembelajaran Shared ......................... 10

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Shared ................................... 13

BAB III ......................................................................................................................... 17

PENUTUP ..................................................................................................................... 17

iii
A. Kesimpulan ......................................................................................................... 17

B. Saran .................................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 17

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah
lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang
didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di
kelas sering sekali diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal, otak anak
selalu dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut
untuk memahami informasi tersebut untuk dapat dihubungkan dengan kehidupan
nyata sehari-hari. Nyatanya? Akibatnya? Ketika peserta didik lulus dari sekolah,
mereka pintar secara teoritik, tetapi miskin akan aplikasinya. Kegiatan proses
pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengembangkan diri menjadi kemampuan yang semakin
lama semakin meningkat dalam segala aspek, baik dalam sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat,
berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh
karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi
peserta didik menjadi kompetensi yang diharapkan. (Hidayah Nurul, 2015:34).

Sanjaya (2008: 106) mengatakan bahwa proses pembelajaran harus diarahkan


supaya siswa mampu mengatasi masalah dan tantangan dalam kehidupan yang
cepat berubah. Maka dari itu diperlukan pembelajaran yang ideal dengan kurikulum
2013. Sundayana (2014: 21) memaparkan bahwa pendekatan dan landasan
kurikulum 2013 yang digunakan sebagai pijakan pengembangan kurikulum
tersebut secara eksplisit menganut pendekatan terintegrasi melalui pendekatan
tematik terpadu. Pembelajaran terpadu ideal untuk diimplementasikan di Sekolah
Dasar karena dengan mengaplikasikan 10 tipe yang mengacu kurikulum 2013.

Trianto (2011: 6) menjelaskan bahwa model pembelajaran terpadu


merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk
6

diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan terutama pada jenjang pendidikan


Sekolah Dasar (SD).

Pembelajaran terpadu sangat sederhana jika diterapkan dalam sekolah


dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), dalam materi yang dikembangkan atau mata
pelajaran yang dikembangkan memerlukan pendekatan yang terpadu sebagai
acuan dasar untuk membentuk sebuah tema, pada sekolah dasar/madrasah
ibtidaiyah memungkinkannya dengan pendekatan tematik tersebut. Bahkan,
kompetensi inti kelas I menyeimbangkan kompetensi sikap, keterampilan dan
pengetahuan (Murfiah Uum, 2017: 59). Salah satu yang model pembelajaran
terpadu yang menghubungkan sikap, ketrampilan dan pengetahuan adalah model
pembelajaran terpadu tipe connected. Di dalam makalah ini dibahas mengenai
pembelajaran terpadu model connected yang merupakan pembelajaran yang
menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu
keterampilan dengan keterampilan lain, tugas dilakukan pada satu hari dengan tugas
yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu
semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang
studi.
Terkait dengan hal ini, Penulis akan mengembangkan pembelajaran terpadu
model connected (keterhubungan). Pembelajaran terpadu model connected adalah
model pembelajaran yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu
topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas dilakukan
pada satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya. Model
Keterhubungan ini lahir dari adanya gagasan bahwa sebenarnya dalam setiap mata
pelajaran berisi konten yang berkaitan antara topik dengan topik, konsep dengan
konsep dapat dikaitkan secara eksplisit. Satu mata pelajaran dapat memfokuskan
sub-sub yang saling berkaitan.

6
7

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud model pembelajaran connected?


2. Apakah karakteristik model pembelajaran connected?
3. Bagaimana langkah-langkah mengembangkan model pembelajaran connected?
4. Apakah kelebihan dan kekurangan model pembelajaran connected?
5. Bagaimana contoh penerapan model pembelajaran connected?

C. Tujuan

Setelah membaca makalah ini, pembaca diharapkan mampu:

1. Mengetahui definisi model pembelajaran connected.


2. Mengetahui karakteristik model pembelajaran connected.
3. Menjelaskan langkah-langkah mengembangkan model pembelajaran
connected.
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran connected.
5. Menjelaskan contoh penerapan model pembelajaran connected.

7
8

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Model Pembelajaran Connected

Model pembelajaran terpadu tipe connected merupakan pembelajaran yang


dilakukan dengan mengaitkan satu pokok bahasan dengan pokok bahasan
berikutnya, mengaitkan satu konsep dengan konsep lainnya, atau mengaitkan satu
keterampilan dengan keterampilan lain. Model pembelajaran terpadu tipe
connected mempunyai arti penting dalam kegiatan belajar mengajar (Putra,
Syahruddin, & Widiana, 2014).

Kunci dari pendekatan connected ini adalah upaya penuh pertimbangan


untuk menghubungkan materi pembelajaran dalam satu mata pelajaran yang sama,
dengan asumsi bahwa siswa tidak akan memahami adanya hubungan secara
otomatis dari materi yang dipelajari dengan materi lainnya (Ridyah & Siti, 2016).

Berbeda dengan yang diungkapkan oleh Hermawan & Novi (2014) Model
connected dilandasi oleh anggapan bahwa butir-butir pembelajaran dapat
dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Butir- butir pembelajaran
seperti: kosakata, struktur, membaca, dan mengarang misalnya, dapat
dipayungkan pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Penguasaan butir-
butir pembelajaran tersebut merupakan keutuhan dalam membentuk kemampuan
berbahasa dan bersastra. Hanya saja pembentukan pemahaman, keterampilan,
dan pengalaman secara utuh tersebut tidak berlangsung secara otomatis. Karena
itu, guru harus menata butir-butir pembelajaran dan proses pembelajarannya
secara terpadu.

8
9

Dijelaskan lebih mendalam oleh Rahmat (2017: 445) Dalam model


Pembelajaran connected, makna “terhubung” tidak diartikan menghubungkan
beberapa disiplin ilmu yang memiliki karakteristik yang mirip. Tiap-tiap disiplin
ilmu tetap berada pada posisinya masing-masing. Makna “terhubung”
dimaksudkan untuk menghubungkan materi-materi dalam satu disiplin ilmu.
Dengan menggunakan model connected, dimungkinkan materi- materi yang
memiliki keterkaitan dapat dipadukan menjadi satu aktivitas pembelajaran
sehingga materi dapat mudah dikuasai siswa dan tidak terpecah- pecah. Dengan
model connected, dimungkinkan siswa akan mampu menuangkan ide-ide,
gagasan, dan keterampilannya sehingga sangat dimungkinkan antar tema, materi,
bab, maupun keterampilan dapat saling terpadu menjadi satu kesatuan pemahaman
yang utuh.

Sedangkan menurut Murfiah (2017) model terhubung (connected)


merupakan alternatif jika dalam mengimplementasi-kan model jaring laba-laba,
guru mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan beberapa mata pelajaran pada
tema yang telah ditentukan. Model ini mengkoneksikan beberapa konsep,
beberapa keterampilan, beberapa sikap, atau bahkan gabungan seperti
keterampilan dengan sikap atau keterampilan dengan konsep yang terdapat pada
mata pelajaran tertentu.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran


terpadu model connected adalah model pembelajaran yang menghubungkan satu
konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan
dengan keterampilan lain, tugas dilakukan pada satu hari dengan tugas yang
dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester
dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang
studi.

9
10

B. Langkah-langkah Pengembangan Model Pembelajaran Connected

Model connected pada dasarnya menghubungkan topik-topik dalam satu


disiplin ilmu. Konsep-konsep yang saling terhubung tersebut mengarah pada
pengulangan (review), rekonseptualisasi, dan asimilasi gagasan-gagasan dalam
suatu disiplin ilmu. Dalam model connected, hubungan antar disiplin ilmu tidak
berkaitan, konten tetap fokus pada satu disiplin ilmu.

Dalam proses belajar mengajar, model connected digunakan untuk


menghubungkan beberapa materi atau kompetensi tertentu yang memiliki
karakteristik yang saling terkait dengan tetap berpedoman pada standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Adapun cara menghubungkan materi-materi
yang saling terkait tersebut ialah dengan membuat “jembatan pengetahuan”.
Jembatan pengetahuan dapat berupa wacana, berita, diskusi, alat peraga dan lain-
lain yang dianggap mampu mengantarkan pemahaman siswa dari materi satu ke
materi berikutnya. Materi-materi yang tidak memiliki keterkaitan tidak bisa
dipaksakan untuk dihubungkan. Jika dipaksakan, dimungkinkan siswa akan
semakin bingung dalam merekonstruksi pengetahuan.

Sintaks (pola urutan) dari model pembelajaran terpadu tipe connected

(terhubung) menurut Prabowo (2000) sebagai berikut :

1. Tahap Perencanaan :
a.menentukan tujuan pembelajaran umum
b. menentukan tujuan pembelajaran khusus
2. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :
a. menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa (materi
prasyarat).

10
11

b. menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai oleh siswa


c.menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan
d.menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan
e.menyampaikan pertanyaan kunci
3. Tahap Pelaksanaan, meliputi :
a.pengelolaan kelas; dengan membagi kelas kedalam beberapa kelompok
b. kegiatan proses
c.kegiatan pencatatan data d. diskusi secara klasikal
4. Evaluasi, meliputi :
a. Evaluasi proses, berupa :
1) ketepatan hasil pengamatan
2) ketepatan dalam penyusunan alat dan bahan
3) ketepatan siswa saat menganalisis data
b. Evaluasi produk :
Penguasaan siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan
pembelajaran khusus yang telah ditetapkan.
c. Evaluasi psikomotor : kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan
alat ukur.
Guru sengaja menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain, satu
topik dengan topik yang lain, satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, atau
tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari
berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester berikutnya dalam satu
bidang studi, serta menyeimbangkan sikap, keterampilan dan pengetahuan.Gambaran
model keterhubungan ini dapat dilihat pada gambar/diagram di bawah ini di mana
koneksi dilakukan hanya dalam satu mata pelajaran saja yaitu pada mata pelajaran
matematika.

11
12

Gambar 3: Model Keterhubungan (connected)

Langkah-langkah pembelajaran dengan Model Terhubung menurut Murfiah (2017)


adalah
1. Menentukan tema atau topik yang akan dibahas dalam satu mata pelajaran,
misalnya bilangan dalam mata pelajaran matematika.
2. Menentukan pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang akan
dikoneksikan.Pemilihan kompetensi yang akan dikoneksikan yang benar-benar
dapat dalam mata pelajaran tersebut.

12
13

C. Kelebihan Model Pembelajaran Connected

Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah peserta didik memperoleh


gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep sehingga transfer pengetahuan
akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus-menerus.
Secara umum proses pembelajaran sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh tiga
faktor masukan, yaitu raw input, instrumental input, dan environmental input.
Demikian halnya dengan pembelajaran terpadu connected, maka sistem itu dapat
digunakan. Raw input terdiri dari guru dan peserta didik, maksudnya kegiatan
pembelajaran yang akan dilaksanakan sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan
pengetahuan guru tentang pembelajaran terpadu model connected maupun
pengalaman mengajar guru. Selanjutnya kemampuan, sikap, minat dan motivasi
merupakan faktor peserta didik yang akan berpengaruh pada kegiatan
pembelajaran. Instrumental input merupakan acuan dalam pengembangan
pembelajaran terpadu model connected, berdasarkan pada undang-undang,
peraturan pemerintah, peraturan menteri (Kurikulum, SKL, dan SKKD) maka guru
mengembangkan model pembelajaran Rahmat (2017: 447).

Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut


(Trianto, 2014: 40):

1. Dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa
memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang
terfokus pada suatu aspek tertentu.

2. Siswa memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep


sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep
pokok dikembangkan terus-menerus; sehingga terjadilah proses internalisasi

13
14

3. Menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi


siswa untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta
mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk
terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.

4. Siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang
dijelaskan dan juga siswa diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman,
tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.

5. Guru akan dapat melihat gambaran yang menyeluruh dan


kemampuan/indikator yang digabungkan.

6. Kegiatan siswa lebih terarah untuk mencapai kemampuan yang tertera pada
indikator.

Menurut Trianto (2010), ada beberapa kelebihan dari model pembelajaran


terpadu tipe connected adalah sebagai berikut.

a. Guru dapat lebih menghemat waktu dalam menyusun persiapan mengajar.

Tidak hanya siswa, guru pun dapat belajar lebih bermakna terhadap

konsep-konsep sulit yang akan diajarkan.

b. Tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dengan tahap berfikir


nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak melihat mata pelajaran
berdiri sendiri. Mereka melhat objek atau peristiwa yang didalamnya memuat
konsep/materi beberapa mata pelajaran.

c. Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/objek


lebih terorganisir.

d. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

14
15

e. Memberi peluang siswa dalam mengembangkan kemampuan diri

f. Memperkuat kemampuan yang diperoleh

D. Kelemahan Model Pembelajaran Connected

Di samping mempunyai kelebihan, model terhubung ini juga mempunyai


kekurangan sebagai berikut (Trianto, 2014: 40):

1. Masih kelihatan terpisahnya bidang studi, belum memberikan gambaran yang


menyeluruh karena belum menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata
pelajaran yang lain,

2. Tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap
saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang
studi,

3. Dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk
mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan.

4. Bagi guru bidang studi mungkin kurang terdorong untuk menghubungkan


konsep yang terkait karena sukarnya mengatur waktu untuk merundingkannya
atau karena terfokus pada keterkaitan konsep, maka pembelajaran secara global
jadi terabaikan.

Dari uraian di atas, diketahui bahwa salah satu kelemahan dari model ini
adalah berbagai bidang studi masih tetap terpisah dan Nampak tidak ada hubungan
meskipun hubungan-hubungan itu telah disusun secara eksplisit di dalam satu
bidang studi pembelajaran.

E. Contoh Aplikasi Model Pembelajaran Terpadu tipe Connected


Implementasi pembelajaran terpadu model Connected dikembangkan dalam
bahasa dan sastra Indonesia secara terpadu di Sekolah Dasar. Di dalam
pembelajaran bahasa dan sastra secara terpadu, yaitu pembelajaran kemampuan

15
16

berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, aspek berbicara, aspek membaca dan
aspek menulis dipayungkan kepada pembelajaran apresiasi sastra.
1. aspek mendengarkan: mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengarnya
2. aspek berbicara: memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi
yang tepat
3. aspek membaca: menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat
4. aspek menulis: menulis dialog sederhana dua atau tiga tokoh dengan
memperhatikan isi serta perannya.

Adapun langkah-langkah pembelajaran yang dapat ditempuh (1) siswa


mendengarkan cerita dan mengidentifikasi unsur-unsur ceritanya, (2) siswa
membaca cerita dan menyimpulkan isi ceritanya, (3) siswa menulis dialog dua atau
tiga tokoh cerita sesuai dengan isi ceritanya, kemudian (4) siswa berlatih berbicara
dengan memerankan tokoh ceritanya.

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan


bahwa pembelajaran terpadu tipe connected (terhubung) adalah metode terpadu
yang menghubungkan bagian-bagian topik, tema, materi-materi maupun
pengalaman- pengalaman antar semester, tetapi masih tetap berada pada satu
disiplin ilmu. Metode connected digunakan untuk mengkaitkan beberapa bagian
materi menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling terkait sehingga siswa mampu
menyerap informasi secara utuh dan dapat meningkatkan kreatifitas siswa untuk
melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru sesuai dengan kemampuannya.
Dalam metode connected, fokus pembelajaran berpusat pada siswa sebagai pelaku
utama pembelajaran. Dalam hal ini, guru bersama-sama siswa merencanakan,
membuat, dan melaksanakan pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan
dengan tetap mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan
pembelajaran terpadu menggunakan metode connected, diharapkan pemikiran
siswa akan berkembang tanpa dibatasi oleh materi-materi dan tuntutan
pembelajaran yang justru akan membingungkan siswa. Salah satu model
pembelajaran terpadu yang dapat diterapkan pada kelas tinggi adalah model
connected. Proses pembelajaran terpadu model connected dapat dijadikan salah satu
alterntif pada pembelajaran di kelas tiggi. pembelajaran terpadu yang paling
sederhana adalah model keterhubungan. kaitan dalam mdel connected dapat
diadakan secara spontan atau direncanakan terlebih dahulu.
18

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Didit., & Bibin Rubini. 2016. Literasi Sains dan Aktivitas Siswa Pada
Pembelajaran IPA Terpadu Tipe Shared. Unnes Science Education Journal:
Vol 5 No 1.

Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta:


Gava Media.

Daryanto. 2014. Pembelajaran Tematik, Terpadu, Terintegrasi (Kurikulum 2013).


Yogyakarta: Gava Media.

Fogarty, Robin. 2009. How To Integrate The Curricula. USA: Library of Crown.

Kurniawan, Deni. 2014. Pembelajaran Terpadu Tematik (Teori, Praktik, dan


Penelitian). Bandung: Alfabeta.

Marfuah, Uum. 2017. Implementasi Pembelajaran Terpadu Tipe Shared Untuk


Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa. Jurnal Pesona Dasar: Vol. 1 No.
5, hal 57-69.

Mukhadis. 2014. Prototipe Pembelajaran Terintegrasi Model Shared Berbasis


Galery Project. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran: Vol. 21 No. 2.

Novi Rusmini. 2015. Model Pembelajaran Terpadu. Jurnal Pendidikan.

Nurul Hidayah. 2015. Pembelajaran Tematik Integratif di Sekolah Dasar. Jurnal


Pendidikan dan Pembelajaran Dasar: hlm 42.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Media Grup.

18
19

Sundayana, W. 2014. Pembelajaran Berbasis Tema: Panduan Guru


Mengembangkan Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Erlangga.

Suryaningsih, Yeni. 2016. Implementasi Pembelajaran Terpadu Tipe Shared


Untuk Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa. The Journal Science and
Biology Education: Vol 1 No 1. Hlm. 64-71.

Trianto. 2010. Model pembelajaran terpadu: konsep, strategi, dan


implementasinyaa dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Jakarta: PT Bumi Aksara.

Trianto. 2011. Desain pengembangan pembelajaran tematik bagi anak usia dini
TK/RA & anak usia kelas awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenadamedial
Group.

Salinan Lampiran III. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 57

Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

Kerangka Dasar Kurikulum dan Struktur Kurikulum SD/MI.

DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, A. H., & N. R. (2014). Konsep Dasar dan Model-model Pembelajaran


Terpadu .

Murfiah, U. (2017). Model Pembelajaran Terpadu Disekolah Dasar. Jurnal Pesona


Dasar, Vol 1 No 5.

19
20

Prabowo. (2000). Pembelajaran Fisika Dengan Pendekatan Terpadu Dalam


Menghadapi Perkembangan IPTEK Milenium III. Makalah disampaikan pada
seminar dan lokakarya Jurusan Fisika FMIPA Unesa bekerja sama dengan
Himpunan Fisika Indonesia menghadapi IPTEK.

Putra, W. D., Syahruddin, & Widiana, I. W. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran


Terapdu Tipe Connected Terhadap Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas V SD.
Journal MIMBAR PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, Vol: 2 No: 1.

Rahmat, A. (2017). Model Pembelajaran Terpadu Tipe Connected. Journal


iainbengkulu.

Ridyah, S. W., & S. S. (2016). Pembelajaran IPA Terpadu Tipe Connected Model
Experimental Learning Untuk Meningkatkan Ketrampilan Proses Sains Siswa.
Journal EDUSAINS, Volume 8; no 2.

Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori dan Prakter . Surabaya:
Prestasi Belajar.

Trianto. (2014). Model Pembelajaran Terpadu, konsep, Strategi, dan Implementasinya


dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara ,
hl. 40.

20
21

21