Anda di halaman 1dari 49
Tropical Diseas MALARIA DALAM KEHAMILAN OLEH: dr.Jefferson N.Munthe,SpOG,MKes Staf Dosen FAKULTAS KEDOKTERAN Universitas
Tropical Diseas MALARIA DALAM KEHAMILAN OLEH: dr.Jefferson N.Munthe,SpOG,MKes Staf Dosen FAKULTAS KEDOKTERAN Universitas

Tropical Diseas MALARIA DALAM KEHAMILAN OLEH: dr.Jefferson N.Munthe,SpOG,MKes Staf Dosen FAKULTAS KEDOKTERAN Universitas Cenderawasih 1

Tropical Diseas MALARIA DALAM KEHAMILAN OLEH: dr.Jefferson N.Munthe,SpOG,MKes Staf Dosen FAKULTAS KEDOKTERAN Universitas

MALARIA DALAM KEHAMILAN

OLEH:

Tropical Diseas MALARIA DALAM KEHAMILAN OLEH: dr.Jefferson N.Munthe,SpOG,MKes Staf Dosen FAKULTAS KEDOKTERAN Universitas
Tropical Diseas MALARIA DALAM KEHAMILAN OLEH: dr.Jefferson N.Munthe,SpOG,MKes Staf Dosen FAKULTAS KEDOKTERAN Universitas

dr.Jefferson N.Munthe,SpOG,MKes

Staf Dosen FAKULTAS KEDOKTERAN

Universitas Cenderawasih

1

PENDAHULUAN • Malaria : penyakit yang disebabkan protozoa dan disebar melalui gigitan nyamuk anopheles •

PENDAHULUAN • Malaria : penyakit yang disebabkan protozoa dan disebar melalui gigitan nyamuk anopheles • Protozoa

Malaria : penyakit yang disebabkan protozoa dan disebar melalui

gigitan nyamuk anopheles

Protozoa penyebab malaria:

Genus plasmodium dapat menginfeksi manusia dan seranggga

Diduga berasal :

•

Afrika ,menyebar mengikuti migrasi manusia melalui pantai Mediterania, India dan Asia Tenggara

Diduga berasal : •  Afrika ,menyebar mengikuti migrasi manusia melalui pantai Mediterania, India dan Asia
PENDAHULUAN • Malaria  penyakit parasit sangat penting di dunia ini    menyebab ratusan

PENDAHULUAN • Malaria  penyakit parasit sangat penting di dunia ini    menyebab ratusan juta

• Malaria  penyakit parasit sangat penting di dunia ini 

Malaria

penyakit parasit sangat penting di dunia ini

 

menyebab ratusan juta angka kesakitan dan 1 juta kematian tiap

tahun

 

Kematian terbanyak anak-anak

• Wanita hamil = kelompok usia dewasa yang paling tinggi risikonya

Wanita hamil = kelompok usia dewasa yang paling tinggi risikonya

hamil = kelompok usia dewasa yang paling tinggi risikonya • Transmisi • Morbiditas • M o

Transmisi

Morbiditas

Mortalitas

yang paling tinggi risikonya • Transmisi • Morbiditas • M o r t a l i
yang paling tinggi risikonya • Transmisi • Morbiditas • M o r t a l i

yang terbesar di Afrika

PETA ENDEMISITAS MALARIA

PETA ENDEMISITAS MALARIA

PETA ENDEMISITAS MALARIA
ETIOLOGI 1. Plasmodium Falciparum  malaria tropika kematian  2. Plasmodium vivax  malaria tertiana

ETIOLOGI 1. Plasmodium Falciparum  malaria tropika kematian  2. Plasmodium vivax  malaria tertiana 

1.

Plasmodium Falciparum malaria tropika kematian

2. Plasmodium vivax malaria tertianapaling ringan

3. Plasmodium malariae malaria kuartana

4. Plasmodium ovale malaria malariaebanyak

di Afrika & Pasifik Barat

malariae  malaria kuartana 4. Plasmodium ovale  malaria malariae  banyak di Afrika & Pasifik
ETIOLOGI • Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina • Ada banyak spesies anopheles: •

ETIOLOGI • Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina • Ada banyak spesies anopheles: • Anopheles

ETIOLOGI • Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina • Ada banyak spesies anopheles: •

Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina

Ada banyak spesies anopheles:

nyamuk anopheles betina • Ada banyak spesies anopheles: • Anopheles gambiae • Anopheles funestus •

Anopheles gambiae Anopheles funestus

Anopheles darlingi

betina • Ada banyak spesies anopheles: • Anopheles gambiae • Anopheles funestus • Anopheles darlingi
betina • Ada banyak spesies anopheles: • Anopheles gambiae • Anopheles funestus • Anopheles darlingi
MALARIA IN PREGNANCY : DOUBLE TROUBLE
MALARIA IN PREGNANCY : DOUBLE TROUBLE
SIKLUS HIDUP PLASMODIUM
SIKLUS HIDUP PLASMODIUM
MALARIA DALAM KEHAMILAN • Gejala dan komplikasi malaria selama kehamilan berbeda-beda tergantung: Intensitas

MALARIA DALAM KEHAMILAN

Gejala dan komplikasi malaria selama kehamilan • berbeda-beda tergantung: Intensitas transmisi, imunitas berbeda-beda tergantung: Intensitas transmisi, imunitas

ibu hamil.berbeda-beda tergantung: Intensitas transmisi, imunitas 2 Macam transmisi: 1. Stabel transmission/ endemik/rendah

tergantung: Intensitas transmisi, imunitas ibu hamil. 2 Macam transmisi: 1. Stabel transmission/ endemik/rendah

2 Macam transmisi:

1. Stabel transmission/endemik/rendah (Afrika)

orang yang terus terpapar malaria gigitan nyamuk infektif

setiap bulan(Afrika) orang yang terus terpapar malaria  gigitan nyamuk infektif kekebalan terhadap malaria terbentuk

(Afrika) orang yang terus terpapar malaria  gigitan nyamuk infektif setiap bulan kekebalan terhadap malaria terbentuk

kekebalan terhadap malaria terbentuk

(Afrika) orang yang terus terpapar malaria  gigitan nyamuk infektif setiap bulan kekebalan terhadap malaria terbentuk
MALARIA DALAM KEHAMILAN • Stable transmission Wanita hamil di daerah transmisi stabil/endemik : - Peningkatan

MALARIA DALAM KEHAMILAN

MALARIA DALAM KEHAMILAN • Stable transmission Wanita hamil di daerah transmisi stabil/endemik : - Peningkatan parasite
MALARIA DALAM KEHAMILAN • Stable transmission Wanita hamil di daerah transmisi stabil/endemik : - Peningkatan parasite

Stable transmission •

Wanita hamil di daerah transmisi stabil/endemik :

- Peningkatan parasite rate (Afrika parasite rate meningkat 30-40% dibandingkan wanita tidak hamil)

- Peningkatan kepadatan (densitas) parasitemia perifer

- Efek klinis lebih sedikit, kecuali efek anemia maternal sebagai komplikasi utama yang sering terjadi pada primigravida

- Efek klinis lebih sedikit, kecuali efek anemia maternal sebagai komplikasi utama yang sering terjadi pada
MALARIA DALAM KEHAMILAN 2. Unstabel transmission / sedang-tinggi (Amerika selatan, Asia Tenggara) Orang daerah ini

MALARIA DALAM KEHAMILAN 2. Unstabel transmission / sedang-tinggi (Amerika selatan, Asia Tenggara) Orang daerah ini jarang terpapar malaria,

2. Unstabel transmission / sedang-tinggi (Amerika

selatan, Asia Tenggara)

Orang daerah ini jarang terpapar malaria, +

< 1 gigitan nyamuk infektif pertahun

(Amerika selatan, Asia Tenggara) Orang daerah ini jarang terpapar malaria, + < 1 gigitan nyamuk infektif
TABLE: COMPARISON OF OCCURRENCE OF COMPLICATIONS IN AREAS OF HIGH AND LOW TRANSMISSION
TABLE: COMPARISON OF OCCURRENCE OF COMPLICATIONS IN AREAS OF HIGH AND LOW TRANSMISSION

TABLE: COMPARISON OF OCCURRENCE OF COMPLICATIONS IN AREAS OF

HIGH AND LOW TRANSMISSION
HIGH AND LOW TRANSMISSION
GEJALA KLINIS gejala 1. Demam periodik, 2. Anemia 3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia,

GEJALA KLINIS gejala 1. Demam periodik, 2. Anemia 3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia, diare

gejala

GEJALA KLINIS gejala 1. Demam periodik, 2. Anemia 3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia,
GEJALA KLINIS gejala 1. Demam periodik, 2. Anemia 3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia,

1. Demam periodik,

2. Anemia

3. Asplenomegali

prodromal

Malaise, nyeri otot/tulang,

anoreksia, diare

3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia, diare Kekebalan  tingkat transmisi  2 gol
3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia, diare Kekebalan  tingkat transmisi  2 gol
3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia, diare Kekebalan  tingkat transmisi  2 gol
3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia, diare Kekebalan  tingkat transmisi  2 gol
3. Asplenomegali prodromal Malaise, nyeri otot/tulang, anoreksia, diare Kekebalan  tingkat transmisi  2 gol

Kekebalantingkat

transmisi 2 gol

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Anemia • Infeksi malaria akan menyebabkan lisis sel darah merah

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Anemia • Infeksi malaria akan menyebabkan lisis sel darah merah yang mengandung parasit 

Anemia

Infeksi malaria akan menyebabkan lisis sel darah merah yang

Infeksi malaria akan menyebabkan lisis sel darah merah yang mengandung parasit  anemi • infeksi P.

mengandung parasit anemi

infeksi P. falciparum anemi berat menyerang semua umur

eritrosit

fragilitas osmotik meningkat,

peningkatan autohemolisismasa hidup eritrosit lebih singkat anemi lebih cepat terjadi

Eritrosit

hemolisis

karena

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Anemia • Infeksi P. vivax tidak terjadi destruksi darah yang
PENGARUH MALARIA PADA IBU
• Anemia
• Infeksi P. vivax tidak terjadi destruksi darah yang berat
karena hanya retikulosit yang diserang
• Sirkulasi
• Blokade
kapiler
oleh
eritrosit
berparasit
anoksia
jaringan otak.
PENGARUH MALARIA PADA IBU • Edema pulmonum • infeksi P. Falciparum  pneumonia  komplikasi

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Edema pulmonum • infeksi P. Falciparum  pneumonia  komplikasi sering akibat aspirasi atau

Edema pulmonum

infeksi P. Falciparum pneumonia komplikasi sering

akibat aspirasi atau bakteremia

Gangguan perfusi organ meningkatan permeabilitas

mikrosirkulasi

kapiler edema interstitial disfungsi paru

Gambaran makroskopik paru : reaksi edematik, berwarna

merah tua dan konsistensi keras dengan bercak perdarahan

paru • Gambaran makroskopik paru : reaksi edematik, berwarna merah tua dan konsistensi keras dengan bercak
PENGARUH MALARIA PADA IBU • Hipoglikemia • wanita hamil  perubahan metabolisme karbohidrat  kecenderungan

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Hipoglikemia • wanita hamil  perubahan metabolisme karbohidrat  kecenderungan hipoglikemi terutama saat

Hipoglikemia

wanita hamil perubahan metabolisme karbohidrat

kecenderungan hipoglikemi terutama saat trimester terakhir Hipoglikemi karena kebutuhan metabolik parasit yang

meningkat menyebabkan habisnya cadangan glikogen hati

hipoglikemi dapat juga terjadi pada penderita malaria

habisnya cadangan glikogen hati • hipoglikemi dapat juga terjadi pada penderita malaria yang diberi kina intravena
habisnya cadangan glikogen hati • hipoglikemi dapat juga terjadi pada penderita malaria yang diberi kina intravena

yang diberi kina intravena

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Infeksi plasenta • infeksi berat P. falciparum  timbunan eritrosit

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Infeksi plasenta • infeksi berat P. falciparum  timbunan eritrosit yang terinfeksi parasit dan

Infeksi plasenta

infeksi berat P. falciparum timbunan eritrosit yang terinfeksi

parasit dan monosit yang berisi pigmen di daerah intervilli

nekrosis sinsisial dan proliferasi sel-sel sitotrofoblas

Adanya kelainan plasenta dengan penimbunan pigmen tetapi tidak ditemukan parasit infeksi yang sudah sembuh (inaktif)

kelainan plasenta dengan penimbunan pigmen tetapi tidak ditemukan parasit  infeksi yang sudah sembuh (inaktif)
PENGARUH MALARIA PADA IBU • Gangguan elektrolit • Rasio natrium/kalium di eritrosit dan otot meningkat

PENGARUH MALARIA PADA IBU • Gangguan elektrolit • Rasio natrium/kalium di eritrosit dan otot meningkat • peningkatan kalium plasma

Gangguan elektrolit

Rasio natrium/kalium di eritrosit dan otot meningkat

peningkatan kalium plasma pada saat lisis berat

Rasio natrium/kalium urin sering terbalik

dan otot meningkat • peningkatan kalium plasma pada saat lisis berat • Rasio natrium/kalium urin sering
PENGARUH MALARIA PADA IBU     • Malaria serebral     • infeksi P. falciparum
PENGARUH MALARIA PADA IBU  

PENGARUH MALARIA PADA IBU

 
 
 

Malaria serebral

 
  • infeksi P. falciparum  malaria serebral 
 

infeksi

P.

falciparum

malaria

serebral

 

mortalitas 20-50%

 

Serangan

mendadak,

dapat

didahului

episode

 
  demam malaria  
 

demam malaria

 
• Kematian dapat terjadi dalam beberapa jam  

Kematian dapat terjadi dalam beberapa jam

 
   
   
 
 
 
 
 
 
demam malaria   • Kematian dapat terjadi dalam beberapa jam            
demam malaria   • Kematian dapat terjadi dalam beberapa jam            
 
 
PENGARUH MALARIA PADA IBU • Malaria serebral • mekanisme patofisiologi : obstruksi mekanis pembuluh darah

PENGARUH MALARIA PADA IBU

Malaria serebral

mekanisme patofisiologi : obstruksi mekanis pembuluh darah serebral kurangnya kemampuan deformabilitas eritrosit berparasit atau akibat adhesi eritrosit berparasit menyebabkan permeabilitas

vaskular meningkat, sawar darah otak rusak, edema

serebral

adhesi eritrosit berparasit  menyebabkan permeabilitas vaskular meningkat, sawar darah otak rusak, edema serebral
PENGARUH MALARIA PADA JANIN • IUFD • Akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan parasit di dalam

PENGARUH MALARIA PADA JANIN • IUFD • Akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta  gangguan sirkulasi

IUFD

Akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan parasit di dalam plasenta

gangguan sirkulasi (infeksi transplasental)

Abortus

Trimester I demam tinggi

Trimester II anemia berat

Prematur Prematur

tinggi • Trimester II  anemia berat • Prematur • terjadi sewaktu atau tidak lama setelah

terjadi sewaktu atau tidak lama setelah serangan malaria

Penyebab : febris, dehidrasi, asidosis atau infeksi plasenta.

PENGARUH MALARIA PADA JANIN • BBLR • anemi  gangguan sirkulasi nutrisi janin  terhambatnya

PENGARUH MALARIA PADA JANIN • BBLR • anemi  gangguan sirkulasi nutrisi janin  terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin

BBLR

anemi

gangguan

sirkulasi

nutrisi

janin

terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin

Malaria plasenta

fungsi plasenta sebagai barier protektif dari berbagai kelainan dalam darah ibu parasit

malaria ditemukan di plasenta maternal

 sebagai barier protektif dari berbagai kelainan dalam darah ibu  parasit malaria ditemukan di plasenta
PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria plasenta • hanya dapat masuk ke sirkulasi janin bila

PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria plasenta • hanya dapat masuk ke sirkulasi janin bila terdapat kerusakan plasenta 

Malaria plasenta

hanya dapat masuk ke sirkulasi janin bila terdapat kerusakan plasenta pada persalinan sehingga terjadi malaria kongenital Diagnosis malaria plasenta ditegakkan

menemukan parasit malaria dalam sel darah merah

atau pigmen malaria dalam monosit pada sediaan

darah yang diambil dari plasenta bagian maternal atau darah tali pusat

atau pigmen malaria dalam monosit pada sediaan darah yang diambil dari plasenta bagian maternal atau darah
PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria Kongenital • Gejala tidak hepatosplenomegali dan anemia tanpa retikulositosis

PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria Kongenital • Gejala tidak hepatosplenomegali dan anemia tanpa retikulositosis dan tanpa ikterus

Malaria Kongenital

Gejala

tidak

hepatosplenomegali dan anemia tanpa retikulositosis dan tanpa ikterus

iritabilitas,

mau

menyusu,

demam,

:

dibagi menjadi 2 kelompok

1.True Congenital Malaria (acquired during pregnancy)

Pada malaria kongenital ini sudah terjadi

kerusakan plasenta sebelum bayi dilahirkan

acquired during pregnancy ) • Pada malaria kongenital ini sudah terjadi • kerusakan plasenta sebelum bayi
PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria Kongenital • Parasit malaria ditemukan pada darah perifer bayi

PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria Kongenital • Parasit malaria ditemukan pada darah perifer bayi dalam 48 jam setelah

Malaria Kongenital

Parasit malaria ditemukan pada darah perifer bayi dalam 48 jam setelah

lahir

gejalanya ditemukan saat lahir atau

1-2 hari setelah lahir.

pada darah perifer bayi dalam 48 jam setelah lahir • gejalanya ditemukan saat lahir atau 1-2
PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria Kongenital • 2. False Congenital Malaria (acquired during labor)

PENGARUH MALARIA PADA JANIN • Malaria Kongenital • 2. False Congenital Malaria (acquired during labor) • paling banyak dilaporkan

Malaria Kongenital

2. False Congenital Malaria (acquired during labor)

paling banyak dilaporkan

terjadi pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit malaria ke janin

Gejala muncul 3-5 minggu setelah bayi lahir

terjadi pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit malaria ke janin • Gejala muncul 3-5 minggu setelah bayi
terjadi pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit malaria ke janin • Gejala muncul 3-5 minggu setelah bayi
terjadi pelepasan plasenta diikuti transmisi parasit malaria ke janin • Gejala muncul 3-5 minggu setelah bayi
KOMPLIKASI • Komplikasi penyakit malaria cenderung akan lebih sering dan lebih berat dalam kehamilan •

KOMPLIKASI • Komplikasi penyakit malaria cenderung akan lebih sering dan lebih berat dalam kehamilan • sering

KOMPLIKASI • Komplikasi penyakit malaria cenderung akan lebih sering dan lebih berat dalam kehamilan • sering

Komplikasi penyakit malaria cenderung akan lebih sering dan lebih berat dalam kehamilan

sering timbul : edema paru, hipoglikemi ,anemia

jarang : kejang, penurunan kesadaran, koma,

muntah-muntah ,diaredalam kehamilan • sering timbul : edema paru, hipoglikemi ,anemia • jarang : kejang, penurunan kesadaran,

• sering timbul : edema paru, hipoglikemi ,anemia • jarang : kejang, penurunan kesadaran, koma, muntah-muntah
KOMPLIKASI • Anemia disebabkan : 1. Hemolisis eritrosit yang diserang oleh parasit 2. Peningkatan kebutuhan

KOMPLIKASI • Anemia disebabkan : 1. Hemolisis eritrosit yang diserang oleh parasit 2. Peningkatan kebutuhan Fe

Anemia

disebabkan :

1. Hemolisis eritrosit yang diserang oleh parasit

2. Peningkatan kebutuhan Fe selama hamil

3. Hemolisis berat dapat menyebabkan defisiensi asam folat.

diserang oleh parasit 2. Peningkatan kebutuhan Fe selama hamil 3. Hemolisis berat dapat menyebabkan defisiensi asam
KOMPLIKASI • Anemia terjadi lebih sering dan lebih berat pada usia kehamilan 16 - 29
KOMPLIKASI
• Anemia
terjadi
lebih
sering
dan
lebih
berat
pada
usia
kehamilan 16 - 29 minggu
• defisiensi asam folat memperberat anemia
• Anemia meningkatkan kematian perinatal serta kesakitan dan
kematian maternal
• Anemia : Hb < 7 - 8 gr%  tansfusi darah packed red cells
KOMPLIKASI Edema paru akut • adalah komplikasi lebih sering terjadi pada wanita hamil daripada wanita

KOMPLIKASI Edema paru akut • adalah komplikasi lebih sering terjadi pada wanita hamil daripada wanita tidak

Edema paru akut

adalah komplikasi lebih sering terjadi pada wanita hamil daripada wanita tidak hamil

lebih sering pada trimester 2 dan 3

Edema paru akut akan bertambah berat karena ada

anemia sebelumnya, adanya perubahan hemodinamik dalam kehamilan, kelainan ini sangat meningkatkan risiko

kematian.

ada anemia sebelumnya, adanya perubahan hemodinamik dalam kehamilan, kelainan ini sangat meningkatkan risiko kematian.
KOMPLIKASI Hipoglikemia  Penyebab: Meningkatnya kebutuhan glukosa karena keadaan hiperkatabolik dan infeksi parasit

KOMPLIKASI Hipoglikemia  Penyebab: Meningkatnya kebutuhan glukosa karena keadaan hiperkatabolik dan infeksi parasit 2. Sebagai

KOMPLIKASI Hipoglikemia  Penyebab: Meningkatnya kebutuhan glukosa karena keadaan hiperkatabolik dan infeksi parasit

Hipoglikemia Penyebab:

Meningkatnya kebutuhan glukosa karena keadaan hiperkatabolik dan infeksi parasit

2. Sebagai respon terhadap starvasi/kelaparan

3. Peningkatkan respon pulau-pulau pankreas terhadap

stimulus sekresi (misalnya guinine) menyebabkan terjadinya hiperinsulinemia dan hipoglikemia.

1.

pankreas terhadap stimulus sekresi (misalnya guinine) menyebabkan terjadinya hiperinsulinemia dan hipoglikemia. 1.
KOMPLIKASI • gejala hipoglikemia • takikardia • berkeringat • menggigil • Pada sebagian pasien 

KOMPLIKASI • gejala hipoglikemia • takikardia • berkeringat • menggigil • Pada sebagian pasien  gejala

KOMPLIKASI • gejala hipoglikemia • takikardia • berkeringat • menggigil • Pada sebagian pasien 
KOMPLIKASI • gejala hipoglikemia • takikardia • berkeringat • menggigil • Pada sebagian pasien 

gejala hipoglikemia

takikardia berkeringat

menggigil

Pada sebagian pasien gejala tingkah laku yang

abnormal seperti kejang, penurunan kesadaran, pingsan yang hampir menyerupai gejala malaria serebral

tingkah laku yang abnormal seperti kejang, penurunan kesadaran, pingsan yang hampir menyerupai gejala malaria serebral
KOMPLIKASI     • wanita hamil terinfeksi malaria falciparum  yang mendapat terapi
KOMPLIKASI  

KOMPLIKASI

 
KOMPLIKASI  
 
 

wanita

hamil

terinfeksi

malaria

falciparum

yang

mendapat

terapi

quinine

dimonitor

kadar

gula

darahnya setiap 4-6 jam

 

Hipoglikemia dapat rekuren

 
 
gula darahnya setiap 4-6 jam   • Hipoglikemia dapat rekuren            
 
   
   
   
 
   
 
 
 
 
gula darahnya setiap 4-6 jam   • Hipoglikemia dapat rekuren            
 
 
DIAGNOSIS Diagnosis Klinis:
DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis:

1. M. Ringan/tanpa komplikasi (klasik: mengigil

15-60’; demam 2-6jam: berkeringat 2-4 jam)

2. M. Berat/ dengan komplikasi

2 -6jam: berkeringat 2-4 jam) 2. M. Berat/ dengan komplikasi Diagnosis Laboratorium 1. Mikroskopis 2. Dipstic
2 -6jam: berkeringat 2-4 jam) 2. M. Berat/ dengan komplikasi Diagnosis Laboratorium 1. Mikroskopis 2. Dipstic

Diagnosis Laboratorium

1. Mikroskopis

2. Dipstic test

3. PCR

2 -6jam: berkeringat 2-4 jam) 2. M. Berat/ dengan komplikasi Diagnosis Laboratorium 1. Mikroskopis 2. Dipstic
2 -6jam: berkeringat 2-4 jam) 2. M. Berat/ dengan komplikasi Diagnosis Laboratorium 1. Mikroskopis 2. Dipstic
PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN   Ada 4 aspek   1. Pencegahan transmisi 2. Pengobatan

PENATALAKSANAAN MALARIA DALAMKEHAMILAN   Ada 4 aspek   1. Pencegahan transmisi 2. Pengobatan malaria 3. Penanganan

PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN   Ada 4 aspek   1. Pencegahan transmisi 2. Pengobatan
KEHAMILAN

KEHAMILAN

KEHAMILAN
KEHAMILAN   Ada 4 aspek   1. Pencegahan transmisi 2. Pengobatan malaria 3. Penanganan komplikasi
 

Ada 4 aspek

 

1.

Pencegahan transmisi

2.

Pengobatan malaria

3. Penanganan komplikasi Penanganan proses persalinan  

3.

Penanganan komplikasi Penanganan proses persalinan

 
malaria 3. Penanganan komplikasi Penanganan proses persalinan     4.        
 
  4.
  4.
  4.

4.

  4.
 
 
 
 
malaria 3. Penanganan komplikasi Penanganan proses persalinan     4.        
 
 
PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN Pencegahan Transmisi • Pemberian obat malaria profilaksis • klorokuin basa 5
PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN Pencegahan Transmisi • Pemberian obat malaria profilaksis • klorokuin basa 5

PENATALAKSANAAN MALARIA DALAMKEHAMILAN Pencegahan Transmisi • Pemberian obat malaria profilaksis • klorokuin basa 5 mg/kgBB (2 tablet)

KEHAMILANPENATALAKSANAAN MALARIA DALAM Pencegahan Transmisi • Pemberian obat malaria profilaksis • klorokuin basa 5 mg/kgBB

Pencegahan Transmisi

Pemberian obat malaria profilaksis

klorokuin basa 5 mg/kgBB (2 tablet) sekali

tidak dianjurkan pada kehamilan dini

seminggu

diganti

minggu
minggu

20

dengan meflokuin

profilaksis ibu hamil

Pemakaian kelambu

diatas

dini seminggu   diganti minggu 20 dengan meflokuin • profilaksis ibu hamil • Pemakaian kelambu
PENETALAKSAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN Terapi Malaria • Semua trimester • Quinine, Artesunate/artemether/arteether
PENETALAKSAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN Terapi Malaria • Semua trimester • Quinine, Artesunate/artemether/arteether

PENETALAKSAAN MALARIA DALAMKEHAMILAN Terapi Malaria • Semua trimester • Quinine, Artesunate/artemether/arteether • Trimester dua •

KEHAMILANPENETALAKSAAN MALARIA DALAM Terapi Malaria • Semua trimester • Quinine, Artesunate/artemether/arteether •

Terapi Malaria

Semua trimester

Quinine, Artesunate/artemether/arteether

Trimester dua

Trimester tiga

Kontraindikasi

:

mefloquine, pyrimethamine/sulfadoxine

sama dengan trimester 2

:

primaquine;

tetracycline;

doxycycline;

halofantrine

mefloquine, pyrimethamine/sulfadoxine  sama dengan trimester 2 : primaquine; tetracycline; doxycycline; halofantrine
PENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA Edema paru akut • pemberian cairan dimonitor ketat • tidur posisi setengah

PENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA Edema paru akut • pemberian cairan dimonitor ketat • tidur posisi setengah duduk • O2

Edema paru akutPENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA • pemberian cairan dimonitor ketat • tidur posisi setengah duduk • O2 •

pemberian cairan dimonitor ketat

tidur posisi setengah duduk

O2

diuretik

ventilator bila perlu

Hipoglikemiaduduk • O2 • diuretik • ventilator bila perlu • dekstrosa 25-50%, 50-100 cc i.v 

O2 • diuretik • ventilator bila perlu Hipoglikemia • dekstrosa 25-50%, 50-100 cc i.v  infus
O2 • diuretik • ventilator bila perlu Hipoglikemia • dekstrosa 25-50%, 50-100 cc i.v  infus

dekstrosa 25-50%, 50-100 cc i.vinfus D 10%.

Glukosa darah dimonitor setiap 4-6 jam mencegah rekurensi

Anemia

transfusi bila kadar Hb < 8,0 g%.

• Glukosa darah dimonitor setiap 4-6 jam  mencegah rekurensi Anemia • transfusi bila kadar Hb
PENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA Gagal Ginjal • pre prenal karena dehidrasi • renal karena parasitemia berat

PENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA Gagal Ginjal • pre prenal karena dehidrasi • renal karena parasitemia berat • pemberian cairan

Gagal GinjalPENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA • pre prenal karena dehidrasi • renal karena parasitemia berat • pemberian cairan

pre prenal karena dehidrasi

renal karena parasitemia berat

pemberian cairan yang seksama, diuretik dan dialisa bila diperlukan

Syok septikemia, hipotensi, algid malaria cairan yang seksama, diuretik dan dialisa bila diperlukan • Infeksi bakterial sekunder sering menyertai kehamilan

bila diperlukan Syok septikemia, hipotensi, algid malaria • Infeksi bakterial sekunder sering menyertai kehamilan
bila diperlukan Syok septikemia, hipotensi, algid malaria • Infeksi bakterial sekunder sering menyertai kehamilan

Infeksi bakterial sekunder sering menyertai kehamilan dengan malaria

beri cephalosporin generasi ketiga, pemberian cairan, monitoring tanda- tanda vital dan keluar masuk cairan

malaria • beri cephalosporin generasi ketiga, pemberian cairan, monitoring tanda- tanda vital dan keluar masuk cairan
PENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA Koagulopati • jarang di daerah endemis • terjadi akibat trombositopenia berat 

PENANGANAN KOMPLIKASI MALARIA Koagulopati • jarang di daerah endemis • terjadi akibat trombositopenia berat  manifestasi perdarahan pada

Koagulopati

jarang di daerah endemis

terjadi akibat trombositopenia berat manifestasi perdarahan pada kulit : petekie, purpura, hematoma, perdarahan gusi dan hidung serta saluran pencernaan.

vitamin K 10 mg intravena bila waktu protrombin atau waktu tromboplastin parsial memanjang.

serta saluran pencernaan. • vitamin K 10 mg intravena bila waktu protrombin atau waktu tromboplastin parsial
PENENGANAN KOMPLIKASI MALARIA . Ikterus • Tidak ada terapi spesifik  transfusi darah Transfusi ganti

PENENGANAN KOMPLIKASI MALARIA . Ikterus • Tidak ada terapi spesifik  transfusi darah Transfusi ganti • Pada kasus

PENENGANAN KOMPLIKASI MALARIA . Ikterus • Tidak ada terapi spesifik  transfusi darah Transfusi ganti •
PENENGANAN KOMPLIKASI MALARIA . Ikterus • Tidak ada terapi spesifik  transfusi darah Transfusi ganti •

.

Ikterus

Tidak ada terapi spesifik transfusi darah

Transfusi ganti

Pada kasus malaria falsiparum berat untuk menurunkan jumlah parasit Darah

pasien dikeluarkan dan diganti dengan packed sel.

kasus parasitemia berat dan impending oedema paru (membantu menurunkan

jumlah cairan)

diganti dengan packed sel . • kasus parasitemia berat dan impending oedema paru (membantu menurunkan jumlah
PENANGANAN SAAT PERSALINAN • Malaria falciparum berat  risiko mortalitas tinggi • Distres maternal dan

PENANGANAN SAAT PERSALINAN • Malaria falciparum berat  risiko mortalitas tinggi • Distres maternal dan fetal dapat terjadi

Malaria falciparum berat risiko mortalitas tinggi

Distres maternal dan fetal dapat terjadi monitoring baik

Malaria falciparum merangsang kontraksi uterus alinan prematur

Frekuensi dan intensitas kontraksi berhubungan dengan tingginya demam

Gawat janin sering terjadi

alinan prematur • Frekuensi dan intensitas kontraksi berhubungan dengan tingginya demam • Gawat janin sering terjadi
PENANGANAN SAAT PERSALINAN upayakan segala cara untuk menurunkan suhu tubuh dengan cepat  • •

PENANGANAN SAAT PERSALINAN upayakan segala cara untuk menurunkan suhu tubuh dengan cepat  • • res dingin, pemberian

upayakan segala cara untuk menurunkan suhu tubuh dengan cepat

res dingin, pemberian antipiretika seperti parasetamol

Pemberian cairan deng seksama

kasus parasitemia beratdipertimbangkan tindakan transfusi ganti

Kala II harus dipercepat• kasus parasitemia berat  dipertimbangkan tindakan transfusi ganti • • Seksio sesarea atas indikasi obstetrik.

•

Seksio sesarea atas indikasi obstetrik.

 dipertimbangkan tindakan transfusi ganti Kala II harus dipercepat • • Seksio sesarea atas indikasi obstetrik.
Obat Anti malaria Klorokuin Dosis oral 25 mg base/Kg selama 3 hari (10 mg/Kg hari

Obat Anti malariaKlorokuin Dosis oral 25 mg base/Kg selama 3 hari (10 mg/Kg hari I-II, 5 mg/Kg

Obat Anti malaria Klorokuin Dosis oral 25 mg base/Kg selama 3 hari (10 mg/Kg hari I-II,

Klorokuin

Obat Anti malaria Klorokuin Dosis oral 25 mg base/Kg selama 3 hari (10 mg/Kg hari I-II,
Obat Anti malaria Klorokuin Dosis oral 25 mg base/Kg selama 3 hari (10 mg/Kg hari I-II,

Dosis oral

25 mg base/Kg selama 3 hari

(10 mg/Kg hari I-II, 5 mg/Kg hari III)

25 mg base/Kg selama 3 hari

hari I-II, 5 mg/Kg hari III) 25 mg base/Kg selama 3 hari Sulfadoksin : 25 mg/Kg

Sulfadoksin : 25 mg/Kg

Pirimetamin : 1 mg/Kg

dosis

tunggal

15-20 mg base/Kg (dosis tunggal)

10 mg garam/Kg tiap 8 jam selama

5 - 7 hari

10-12 mg/Kg per hari selama 2-3 hari

Keamanan

Aman untuk semua trimester

Amodiakuin

Tidak direkomendasi untuk trimester I

Tidak direkomendasi untuk

Sulfadoksin-

pirimetaminuntuk trimester I Tidak direkomendasi untuk Sulfadoksin- Meflokuin Kinin Artesunat Atau: Artemether trimester I

Meflokuin Kinin Artesunat Atau: Artemether
Meflokuin
Kinin
Artesunat
Atau: Artemether

trimester I

Tidak direkomendasi untuk trimester I

Aman untuk semua trimester

trimester I Tidak direkomendasi untuk trimester I Aman untuk semua trimester Tidak direkomendasi untuk trimester I
trimester I Tidak direkomendasi untuk trimester I Aman untuk semua trimester Tidak direkomendasi untuk trimester I

Tidak direkomendasi untuk trimester I

PENCEGAHAN 1. Obat profilaksis  kloroquin 2 tablet/mg 2. Memutuskan rantai penularan  pada host,

PENCEGAHAN 1. Obat profilaksis  kloroquin 2 tablet/mg 2. Memutuskan rantai penularan  pada host, agen

1. Obat profilaksiskloroquin 2 tablet/mg

2. Memutuskan rantai penularan pada host, agen ataupun lingkungan

mengurangi kontak/gigitan nyamuk Anopheles dengan

menggunakan kelambu, obat nyamuk

membunuh nyamuk dewasa

membunuh jentik nyamuk

meningkatkan daya tahan tubuh melalui vaksinasi

obat nyamuk • membunuh nyamuk dewasa • membunuh jentik nyamuk • meningkatkan daya tahan tubuh melalui
48
48
48
48
PEMBERIAN KINA   ( Loading dose Mulai maintenance dose I Mulai maintenance dose II  
PEMBERIAN KINA

PEMBERIAN KINA

 
PEMBERIAN KINA  
( Loading dose Mulai maintenance dose I Mulai maintenance dose II  

( Loading dose

Mulai maintenance dose I

Mulai maintenance dose II

 
 

4 Jam I )

8 jam setelah loading dose

16 jam setelah loading dose

 
 

selama 4 jam

selama 4 jam, dst

dose     selama 4 jam selama 4 jam, dst Jam ke 0 4 8 12
dose     selama 4 jam selama 4 jam, dst Jam ke 0 4 8 12
dose     selama 4 jam selama 4 jam, dst Jam ke 0 4 8 12
dose     selama 4 jam selama 4 jam, dst Jam ke 0 4 8 12
Jam ke 0 4 8 12 16 20 24

Jam ke 0

4

8

12

16

20

24

   
   
 
 
 
 
 
 
  selama 4 jam selama 4 jam, dst Jam ke 0 4 8 12 16 20
  selama 4 jam selama 4 jam, dst Jam ke 0 4 8 12 16 20
  selama 4 jam selama 4 jam, dst Jam ke 0 4 8 12 16 20