Anda di halaman 1dari 3

BAB V

PEMBAHASAN

A. ANSIETAS BERHUBUNGAN DENGAN KRISIS SITUASIONAL


MENGHADAPI OPERASI

1. Pengertian ansietas

Ansietas merupakan kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu


terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang
memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman.

2. Batasan Karakteristik

a) Tampak gelisah
b) Tampak tegang
c) Sulit tidur
d) Frekuensi nafas meningkat
e) Frekuensi nadi menurun
f) Tekanan darah meningkat
g) Diaforesis
h) Tremor
i) Muka tampak pucat
j) Suara bergetar
k) Kontak mata buruk
l) Sering berkemih
m) Berorientasi pada masa lalu

3. Alasan ditegakkannya diagnosa keperawatan

Keluhan utama yang harus segera diatasi

4. Intervensi / tindakan yang dilakukan pada klien


Intervensi yang dilakukan pada diagnosa keperawatan ansietas diantaranya
adalah teknik relaksasi nafas dalam.

5. Hasil evaluasi dan rencana tindak lanjut

Setelah dilakukan tindakan teknik diaphragmatic breathing relaxation


terjadi perubahan yang positif dimana pasien dapat mengontrol rasa cemasnya.
Pasien tampak tidak gelisah dan lebih rileks.

B. PEMBAHASAN APLIKASI EVIDENCED BASED NURSING

1. Pemilihan tindakan berdasarkan EBN

Latihan pursed lip breathing dengan tujuan memperbanyak ekspirasi


mempermudah pasien untuk mengeluarkan jumlah karbon dioksida yang terjebak
di dalam paru dan dengan mengatur inspirasi secara beraturan akan membantu
pasien mengurangi penggunaan otot-otot pernafasan. Maka dalam kondisi ini,
akan terjadi penurunan frekuensi pernafasan. Hal ini dikarenakan pursed lip
breathing meningkatkan tekanan parsial oksigen dalam arteri yang menyebabkan
penurunan tekanan terhadap kebutuhan oksigen dalam proses metabolisme tubuh,
sehingga menyebabkan penurunan sesak nafas dan frekuensi pernafasan
(Kowalski & Rosdahl, 2014, hlm.661)..

2. Mekanisme penerapan EBN pada kasus

Berdasarkan penelitian Pamungkas, dkk (2016) mengenai efektifitas


penggunaan teknik pursed lip breathing dan deep breathing yang menunjukkan
hasil adanya rata-rata penurunan frekuensi nafas pada pasien maka penulis
berinisiatif mengaplikasikan pada pasien Tn. A. Untuk teknik deep breathing
pasien diajarkan melakukan nafas dalam dengen melibatkan otot diafragma
diharapkan udara dalam alveolar akan meningkat serta meningkatkan ekspansi
paru yang nantinya dapat membantu mengeluarkan udara sebanyak mungkin,
setelah itu pasien diajarkan teknik pursed lip breathing dengan menghembuskan
nafas melalui mulut dengan posisi ujung mulut seperti bersiul dan
menghembuskan secara perlahan.

3. Hasil yang dicapai

Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan mengajarkan teknik


pursed lip breathing dan deep breathing, respon pasien Tn K frekuensi nafas 18x /
menit. Nafas pendek dan cepat sudah tidak terlihat lagi, raut muka pasien terlihat
lebih tenang (tidak tampak gelisah). Hal tersebut signifikan dengan hasil penelitian
dari Pamungkas, dkk (2016), dimana penggunaan teknik tersebut efektif
menurunkan frekuensi nafas pasien PPOK di RSUD Ambarawa.

4. Kelebihan dan kekurangan atau hambatan yang ditemui selama aplikasi EPBN

Kelebihan dalam mengaplikasikan teknik pursed lip breathing dan deep


breathing sangat efisien dan efektif. Kekurangan dari EBN ini harus melibatkan
dukungan keluarga serta hanya dapat diterapkan pada kondisi pasien yang
komposmentis.