Anda di halaman 1dari 35

ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR

Segera setelah lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang sangat
tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan
dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna (dalam
kandungan Ibu) yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan
nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala
kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya. Saat
dilahirkan,bayi baru lahir memiliki prilaku dan kesiapan interaksi sosial
(Bobak, 2005). Perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bayi dibagi
menurut karakteristik biologis, karakteristik perilaku antara lain: 1
1. Karakteristik Biologis
a. Sistem Kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler mengalami perubahan yang mencolok
setelah bayi lahir. Foramen ovale, duktus arteriosus (Duktus Botalli), dan
duktus venosus (Duktus Aranti) menutup. arteri umbilikalis, dan arteri
hepatika menjadi ligamen. Napas pertama yang dilakukan bayi baru lahir
membuat paru-paru mengalir. Tekanan arteri pulmonari menurun.
Rangkain peristiwa besar ini merupakan mekanisme besar yang
menyebabkan tekanan arteri kanan menurun. 1

Gambar: perbedaan alirah darah janin dan bayi baru lahir

Aliran darah pulmoner kembali meningkat ke jantung dan masuk ke


jantung bagian kiri, sehingga tekanan atrium kiri meningkat. Perubahan
tekanan ini menyebabkan foramen ovale menutup. Selama beberapa hari
pertama kehidupan, tangisan dapat mengembalikan aliran darah melalui
foramen ovale untuk sementara dan mengakibatkan sianosis ringan.
Frekuensi denyut jantung bayi rata-rata 140 kali/menit saat lahir, dengan
variasi berkisar antara 120 sampai 160 kali/menit. Frekuensi saat bayi
tidur berbeda dari frekuensi saat bayi bangun. 1
Pada usia satu minggu, frekuensi denyut jantung bayi rata-rata ialah
128 kali/menit saat tidur dan saat bangun 163 kali/menit. Pada usia satu
bulan frekuensi138 kali/menit saat tidur dan 167 kali/menit saat bangun.
Aritmia sinus (denyut jantung yang tidak teratur) pada usia ini dapat
dipersepsikan sebagai suatu fenomena fisiologis dan sebagai indikasi
fungsi jantung yang baik.Tekanan darah sistolik bayi baru lahir ialah 78
dan tekanan diastolik rata-rata ialah 42. tekanan darah berbeda dari hari
ke hari selama bulan pertama kehamilan. Tekanan darah sistolik bayi
sering menurun (sekitar 15 mmHg) selama satu jam pertama setelah
lahir. 2
Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan peningkatan
tekanan darah sistolik. Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80
sampai 110 ml/kg selama beberapa hari pertama dan meningkat dua kali
lipat pada akhir tahun pertama. Secara proporsional, bayi baru lahir
memilki volume darah sekitar 10 % lebih besar dan memilki jumlah sel
darah merah hampir 20 % lebih banyak daripada orang dewasa. Akan
tetapi, darah bayi baru lahir mengandung volume plasma sekitar 20 %
lebih kecil bila dibandingkan dengan kilogram berat badan orang
dewasa. Bayi premature memilki volume darah yang relative lebih besar
daripada bayi baru lahir cukup bulan. Hal ini disebabkan bayi prematur
memilki proporsi volume plasma yang lebih besar, bukan jumlah sel
darah merah yang lebih banyak.1
b. Sistem Hematopoesis
Sel Darah Lahir 2 Minggu 2 Bulan
Hemoglobin (g/dl) 14,9 - 23,7 13,4 - 19,8 9,4 - 11,0
Hematokrit 0,47 - 0,75 0,41 - 0,65 0,28 - 0,42
MCV (fl) 10 - 125 88 - 110 77 – 98
Retikulosit (x109/L) 110 - 450 10 – 85 35 - 200
Leukosit (x109/L) 10 - 26 6 - 21 5 – 15
Neutrofil (x109/L) 1,7 - 14,4 1,5 - 5,4 0,7 - 4,8
Monosit (x109/L) 0 - 1,9 0,1 -1,7 0,4 - 1,2
Limfosit (x109/L) 2,0 - 7,3 2,8 - 9,1 3,3 - 10,3
Eosinofil (x109/L) 0 - 0,85 0 - 0,85 0,05 - 0,9
Basofil (x109/L) 0 - 0,1 0-1 0,2 - 0,13
Trombosit (x109/L) 150 - 450 150 - 450 150 - 450
Eritrosit berinti
<5 < 0,1 < 0,1
(x109/L)
Keterangan : 109/L = 106 x 103/mm3
Tabel. 2.1 Nilai normal hematologi neonatus cukup bulan

Sumber : (Bobak,2005)
Sel Darah 24-25 Mgg 26-27 Mgg 28-29 Mgg 30-31 Mgg
Hemoglobin (g/dl) 19,4 ± 1,5 19,0 ± 2,5 19,3 ± 1,8 19,1 ± 2,1
Hematokrit 0,63 ± 0,04 0,62 ± 0,08 0,60 ± 0,07 0,60 ± 0,08
MCV ( fl ) 135 ± 0,02 132 ± 14,4 131 ± 13,5 127 ± 12,7
Retikulosit (x109/L) 297 ± 23 454 ± 15 347 ± 12 27 ± 10
Trombosit (x109/L) 150 - 450 150 - 450 150 – 450 150 - 450
Keterangan : 109/L = 106 x 103/mm3
Tabel.2.2 Nilai normal hematologi neonatus kurang bulan.

Sumber : (Bobak,2005)
Saat bayi lahir, nilai rata-rata hemoglobin (Hb), hematokrit dan Sel
darah merah (SDM) lebih tinggi dari nilai normal orang dewasa ini
karena Bayi baru lahir belum dapat memproduksi Hb sendiri sehingga
pada saat lahir Hb Bayi menjadi tinggi untuk mempertahankan satu tahun
awal kehidupannya dengan cara memproduksi Hb F (Hb Fetus).
Hb F adalah hemoglobin yang ditemukan pada pada bayi yang
menyusu. Hb F memiliki ikatan yang lebih kuat untuk mengikat
oksigen karena janin membutuhkan hemoglobin agar mampu
mengekstrak oksigen dari peredaran darah ibu. Hb F ditemukan
dalam darah pada minggu ke 20 usai kehamilan. Bayi yang baru
lahir masih dapat dijumpai 55-85% Hb F dan sebelum usia 2 tahun
jumlah Hb F tinggal sedikit digantikan oleh Hb A. Karena sifatnya
resisten terhadap alkali.8
Hemaglobin bayi baru lahir berkisar antara 14,5 sampai 22,5 g/dl.
Hematokrit bervariasi dari 44% sampai 72% dan hitung SDM berkisar
antara 5 sampai 7,5 juta/mm. Secara berturut-turut, hemoglobin dan sel
darah merah menurun sampai mencapai kadar rata-rata 11 sampai 17 g/dl
dan 4,2 sampai 5,2 /mm pada akhir bulan pertama. Darah bayi baru lahir
mengandung sekitar 80% hemoglobin janin. Persentasi hemoglobin janin
menurun sampai 55% pada minggu kelima dan sampai 5 % umur sel
yang mengandung hemoglobin janin lebih pendek. Leukosit janin
dengan nilai hitung sel darah putih sekitar 18.00/mm merupakan nilai
normal saat bayi lahir. Jumlah leukosit janin, yang sebagian besar terdiri
dari polimorf ini meningkat menjadi 23.000 sampai 24.000 mm pada hari
pertama setelah bayi lahir. Golongan darah bayi lahir ditentukan pada
awal kehidupan janin. Akan tetap, selama periode neonatal terjadi
peningkatan kemampuan aglutinogen membrane sel darah merah secara
bertahap.Hitung thrombosis dan agregasi thrombosis sama penting, baik
bayi baru lahir maupun bagi orang dewasa. Kecendrungan pendarahan
pada bayi baru lahir jarang terjadi pembekuan darah cukup untuk
mencegah pendarahan hanya terjadi difisiensi vitamin K.5
c. Sistem Pernapasan

Peristiwa mekanisme Rekoi Stimulus sensori,


penekanan toraks pada l kimia, suhu, mekanis
kelahiran pervaginam dada

Tekanan Aktivasi napas


Cairan paru hilang pertama
intratoraks negatif

Masuknya
udara
Permulaan berkurangnya Peningkatan PO2
tegangan permukaan alveoli
alveoli

Pembukaan
pembuluh darah
paru
Penurunan tekanan
interstisial

Peningkatan Peningkatan aliran


volume pembuluh pembuluh darah
darah paru paru

Peningkatan
oksigenasi yang
adekuat
Penyesuaian paling kritis yang harus di alami bayi baru lahir
ialahpenyesuaian sistem pernafasan.Paru–paru bayi cukup bulan
mengandung sekitar 20 ml cairan/kg. Pola pernafasan tertentu menjadi
karakteristik bayi baru lahir normal yang cukup bulan. Setalah
pernafasan mulai berfungsi, nafas bayi menjadi dangkal dan tak teratur,
berfariasi dari 30sampai 60 x/menit. Disertai apnea singkat (kurang dari
15 detik). Periode apnea singkat ini paling sering terjadi selama siklus
tidur aktif (Rapid Eye Movement/REM). Durasi dan frekuensi apnea
menurun seiring peningkatan usia. Periode apnea lebih dari 15 detik
harus dievaluasi. 2
Aliran darah dari plasenta berhenti pada saat tali pusat di klem.
Tindakan ini meniadakan suplay oksigen plasenta dan menyebabkan
terjadinya reaksi-reaksi dalam paru sebagai respons terhadap tarikan
nafas pertama. Setelah lahir darah BBL harus melewati paru
untukmengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna
mengantarkan oksigen keseluruh jaringan. Untuk membuat sirkulasi
yang baik, kehidupan di luar rahim harus terjadi2 perubahan besar yaitu:
1

1) Penutupan foramen ovale pada atrium jantung.


2) Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan oarta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh
sistem pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah
tekanan dengan cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga
mengubah aliran darah. 1
Dua peristiwa yang merobah sistem pembuluh darah :
1) Pada saat tali pusat di potong resistensi pembuluh sistemik
meningkat dan tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium
menurun karenabekurangnya aliran darah ke atrium kanan
tersebut.hal ini menyebabkanpenurunan volumedan tekanan
atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah
dengan kandungan oksigen sedikit mengalirke paru-paru untuk
menjalani proses oksigenisasi ulang. 1
2) Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah
paru-paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kananoksiga
pada pernafasan ini menimbulkan relaksasidan terbukanya sestem
pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi keparu-paru
mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada
atrium kanan dengan peningkatantekanan atrium kanan ini dan
penurunan pada atrium kiri, foraman kanan ini dan penurunan pada
atrium kiri, foramen ovali secara fungsional akan menutup. 1
Dalam beberapa saat, perubahan yang luar biasa terjadi dalamjantung
dan sirkulasi darah bayi baru lahir. Walaupun perubahan ini tidak selesai
secara anatomis dalam beberapa minggu, penutupan fungsional foramen
ovale dan duktus arteriosus terjadi setelah bayi baru lahir. Sangat
pentingbagi bidan untuk memahami bahwa perubahan sirkulasi janin
kesirkulasi bayi baru lahir secara keseluruhan saling berhubungan
dengan fungsi pernafasan dan oksigen yang adekuat. 1
d. Sistem Ginjal
Bayi baru lahir memiliki rentang keseimbangan kimia dan rentang
keamanan yang kecil. Infeksi, diare, dan pola makan yang tidak teratur
secara cepat dapat menimbulkan asidosis dan ketidak seimbangan cairan
seperti dehidrasi atau edema. Ketidak maturan ginjal juga membatasi
kemampuan bayi baru lahir untuk mengekskresi obat. Biasanya sejumlah
kecil urine terdapat pada kandung kemih bayi saat lahir, tetapi bayi baru
lahir memungkinkan tidak mengeluarkan urine selama 12 sampai 24 jam.
Berkemih sering terjadi selama periode ini. Berkemih 6 sampai 10x
dengan warna urine pucat menunjukan masukan cairan yang cukup.
Umumnya, bayi cukup bulan mengeluarkan urine 15 sampai 60 ml per
kilogram per hari. 1
e. Sistem Gastrointestinal
Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan, mencerna,
memetabolisme dan mengabsorbsi protein dan karbihidrat sederhana,
serta mengemulsi lemak. Kecuali amylase pankreas, karakteristik enzim
dan cairan pencernaan bahkan sudah ditemukan pada bayi yang berat
badan lahirnya rendah.1
Fakta menunjukkan bahwa 70% sel imunitas bayi terdapat pada
sistem saluran cernanya. Kesehatan saluran cerna ditentukan oleh lapisan
mucus atau lapisan dinding usus, ini dibentuk oleh bakteri baik yang
hidup secara alami di saluran cerna si Kecil. Lapisan mucus akan
membantu mencegah kuman-kuman masuk ke dalam tubuh si Kecil.
Semakin baik lapisan ini, semakin baik pula daya tahan tubuh bayi
terhadap penyakit.
Bakteri sehat seperti bifid bacteria, menghasilkan asam lemak rantai
pendek (SCFA), yang digunakan sebagai sumber energi oleh sel yang
melapisi permukaan usus. Ini berarti sel-sel tersebut dapat memproduksi
lebih banyak mucus atau lendir dengan konsistensi yang lebih kental,
sehingga mampu menurunkan risiko infeksi. Efek ini penting untuk
pertahanan usus si Kecil yang baru lahir dan masih berada di tahap
perkembangan dini.9
Adapun beberapa perubahan fisiologis pada sistempencernaan antara
lain:
1) Pada Pencernaan Keasaman lambung bayi pada saat lahir pada
umumnya sama dengan keasaman lambung orang dewasa, tetapi akan
menurun dalam satu minggu dan tetap rendah selama dua sampai tiga
bulan. Penurunan keasaman lambung ini dapat menimbulkan “kolik”.
Bayi yang mengalami kolik tidak dapat tidur, menangis dan tampak
distress di antara waktu makan. gejala ini akan hilang setelah bayi
berusia 3 bulan. Bising usus bayi dapat didengar 1 jam setalah lahir.
Kapasitas lambung berfariasi dari 30 sampai 90 ml tergantung pada
ukuran bayi. Waktu pengosongan lambung sangat bervariasai.
Beberapa faktor seperti waktu pemberian makanan dan volume
makanan, jenis dan suhu makanan serta strees psikis dapat
mempengaruhi waktu pengosongan lambung.1
2) Tinja Bayi baru lahir dengan bagian bawah yang penuh mekonium.
Mekonium dibentuk selama janin dalam kandungan berasal dari
cairan amnion dan unsure-unsurnya, dari sekresi usus dan dari sel-sel
mukosa. Mekonium berwarna hijau kehitaman, konsistensinya kental,
dan mengandung darah samar. Mekonium pertama keluar steril, tetapi
mekonium setelah beberapa jam mengandung bakteri. Sekitar 69%
bayi normal yang cukup bulan mengeluarkan mekonium dalam 12
jam pertama kehidupannya, 94% dalam 24 jam dan 99,8% dalam 48
jam. 1
f. Sistem Hepatika
Hati dan kandung empedu dibentuk pada minggu keempat kehamilan.
Pada bayi baru lahir, hati dapat dipalpasi sekitar 1 cm dibawah batas
kanan iga karena hati besar dan menempati sekitar 40% rongga abdomen.
1

1) Penyimpanan Besi
Hati janin (berfungsi memproduksi Hb setelah lahir) mulai
menyimpan besi sejak dalam kandungan. Apabila ibu mendapat
cukup asupan besi selama hamil, bayi akan memiliki simpanan besi
yang dapat bertahan sampai bulan kelima di luar rahim. 1
2) Konyugasi Bilirubin
Hati mengatur jumlah bilirubin tidak terikat dalam peredaran darah.
Bilirubin ialah pigmen yang berasal dari hemoglobin yang terlepas
saat pemecahan sel darah merah dan mioglobin di dalam sel otot. 1
Diagram: konyugasi bilirubin
3). Hiperbilirubinuminemia Fisiologis
Hiperbilirubinemia fisiologis/ikterik neonatal merupakan kondisi
yang normal pada 50% bayi cukup bulan dan pada 805 bayi
premature. 1

Gambar: Diagram Hiperbilirubinuminemia Fisiologis

g. Sistem Imun
Sel-sel yang menyupali imunitas bayi berkembang pada awal
kehidupan janin. Namun sel ini tidak aktif beberapa bulan. Selama tiga
bulan pertama kehidupannya, bayi dilindungi oleh kekebalan pasif yang
diterima dari ibu melalui pembuluh darah dan plasenta. Barier alami
seperti keasaman lambung atau produksi pepsin dan tripsin yang
mempertahankan kesterilan usus halus. IgA sebagai pelindung membran
lenyap dari traktus naps dan traktus urinarius dan traktus gastrointestinal
kecuali jika bayi diberi ASI. Bayi mulai menyintesa IgG dan mencapai
sekitar 40% kadar IgG orang dewasa pada usia1 tahun, sedangkan kadar
orang dewasa dicapai pada usia 9 bulan. IgA, IgD dan IgE diproduksi
secara lebih bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai sampai pada
masa kanak-kanak dini. 1
h. Sistem Integumen
Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saat lahir tetapi masih
belum matang. Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan
sangat tipis. Verniks kaseosa juga berfusi dengan epidermis dan
berfungsi sebagai lapisan pelindung. Kulit bayi sangat sensitive dan
dapat rusak dengan mudah. Bayi baru lahir yang sehat dan cukup bulan
tampak gemuk. Lanugo halus terlihat di wajah, bahu dan punggung.
Edema dan ekimosis (memar) dapat timbul akibat presentasi muka atau
kelahiran dengan forsep. Petekie juga dapat timbul jika daerah tersebut
ditekan. Beberapa permasalahan yang dialami oleh bayi baru lahir terkait
sistem integument antara lain:1
1) Kaput Suksedaneum
Kaput Suksedaneum ialah edema pada kulit kepala yang ditemukan
dini akibat tekanan verteks yang lama pada serviks sehingga
pembuluh darah tertekan dan memperlambat aliran balik vena yang
memperlambat membuat cairan di kulit daerah kepala meningkat
sehingga akibatnya menyebabkan edema/ bengkak. Pada umumnya
Kaput Suksedaneum dalam waktu 1-2 hari akan menghilang.
pembengkakan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang
melampaui sutura yang berisi getah bening, Jika ekimosis luas, dapat
diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.
Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau
penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang
setelah satu minggu. 1
Gambar:bayi yang terkena kaput suksedaneum

2) Sefalhematoma
Sefalhematoma yaitu pendarahan diantara periosteum dan
tulang tengkorak dan periosteumnya. Dengan demikian, sefalotoma
tidak pernah melewati garis sutura kepala. Perdarahan dapat terjadi
pada kelahiran spontan akibat penekanan pada panggul ibu. 1
Sefalhematoma biasanya akan mengalami perbaikan sendiri
dalam 2-8 minggu tergantung dari besar kecilnya benjolan.10

Gambar: bayi yang terkena sefalhematoma

3) Deskuamasi
Deskuamasi ialah pengelupasan kulit, pada kulit bayi tidak terjadi
sampai beberapa hari setelah lahir. Ini merupakan indikasi
pascamaturitas. 1

Gambar: bayi yang terkena deskuamasi

4) Kelenjar Lemak dan Kelenjar Keringat


Kelenjar keringat sudah ada saat bayi baru lahir tidak, tetapi kelenjar
ini tidak berespon terhadap peningkatan suhu tubuh. Terjadi sedikit
hiperplasia klenjar sebasea dan sekresi sebum akibat pengaruh
hormon saat hamil. 1
5) Bintik Mogolia
Bintik Mongolia yaitu merupaka dareahpigmentasi biru kehitaman
pada semua permukaan tubuh termasuk ekstremitas. 1

Gambar: Bayi yang terkena bintik mogolia

6) Nevi
Nevi atau dikenal dengan gigitan burung bangau yaitu nevi telangi
ektasis berwarna merah muda dan mudah memutih, terlihat pada
kelopak mata bagian atas, daerah hidung, bagian atas bibir, tulang
oksipital bawah dan tengkuk. 1

Gambar: Bayi yang terkena nevi

7) Eritema Toksikum
Suatu ruam sementara, eritema toksikum, juga disebut eritema
neonatorum atau dermalis gigitan kutu. eritema toksikum memiliki
lesi dalam berbagai tahap, yakni makula eritematosa, papula, dan
vesikel kecil. 1
Gambar: bayi yang terkena eritema toksikum

i. Sistem Reproduksi
1) Wanita
Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal primitif.
Jumlah ovum berkurang sekitar 90% sejak bayi lahir sampai
dewasa. Peningkatan kadar estrogen selama masa hamil, yang
diikuti dengan penurunan setelah bayi lahir,mengakibatkan
pengeluran suatu cairan mukoid atau, kadang-kadang pengeluaran
bercak darah melalui vagina (pseudomenstruasi). Genitalia eksterna
biasanya edematosa disertai pigmentasi yang lebih banyak. Pada
bayi lahir cukup bulan, labia mayora menutupi labia minora . 1
2) Pria
Testis turun ke dalam skrotum pada 90% bayi baru lahir laki-
laki. Walupun menurun pada kelahiran bayi prematur. Prepusium
yang ketat seringkali dijumpai pada bayi baru lahir, Muara uretra
dapat tertutup prepusium dan tidak dapat ditarik ke belakang selama
tiga sampai empat tahun. Terdapat rugae yang melapisi kantong
skrotum, dan hidrokel (penimbunan cairandi sekitar testis) sering
terjadi dan biasanya akan mengecil tanpa pengobatan.1
j. Sistem Skelet
Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang tubuh.
Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. Wajah relatif kecil
terhadap ukuran tengkorak yang jika dibandingkan, lebih besar dan berat.
Ukuran dan bentuk kranium dapat mengalami distorsi akibat molase
(pembukaan kepala janin akibat tumpang tindih tulang-tulang kepala).
Ada dua kurvatura pada kolumna vertebralis: toraks dan sakrum. Ketika
bayi mulai dapat mengendalikan kepalanya, kurvatura lain terbentuk di
daerah servikal. Pada bayi baru lahir, lutut saling berjauhan saat kaki
diluruskan dan tumit disatukan, sehingga tungkai bawah terlihat agak
melengkung. Saat baru lahir, tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki.
1

k. Sistem Neuromuskuler
Pengkajian prilaku saraf (neurobehavioral) neonatus terutama
merupakan evaluasi refleks primitif dan tonus otot. Saat ini, bayi baru
lahir cukup bulan dikenal sebagai mahluk yang reaktif, responsif dan
hidup. Perkembangan sensori bayi baru lahir dan kapasitas untuk
melakukan interaksi sosial dan organisasi diri sangat jelas terlihat. 1
l. Sistem Termogenik
Termogenesis berarti produksi panas (termo = panas, genesis = asal-
usul). Termoregulasi adalah Suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia
mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga
suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan. Keseimbangan suhu
tubuh diregulasi oleh mekanisme fisiologis dan perilaku. Suhu tubuh
dipertahankan supaya berada pada batas sempit suhu tubuh normal
dengan memproduksi panas sebagai respon terhadap pengeluaran panas.
Beberapa hal yang menyangkut system termogenik bayi baru lahir
meliputi: 1
1) Produksi Panas
Mekanisme produksi panas bayi baru lahir dengan cara menggigil
sangat jarang terjadi. Termogenesis tanpa menggigil dapat dicapai
akibat adanya lemak coklat pada bayi baru lahir, yang kemudian
dibentuk akibat peningkatan aktivitas metabolisme di otak, jantung
dan hati. Lemak coklat terdapat dalam cadangan permukaan
(interskapula, aksila, sekitar kolumnavertebralis dan sekitar ginjal). 2
2) Pengaturan Suhu
a. Insulasi
Suhu bayi baru lahir kurang akibat pembuluh darah yang lebih
dekat ke permukaan kulit akibatnya perubahan temperature
lingkungan akan mengubah temperature darah sehingga
mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hypothalamus. 2
b. Rasio permukaan tubuh bayi lebih besar terhadap berat badan.
Posisi fleksi bayi diduga berfungsi sebagai system
pengamanan untuk mencegah pelepasan panas karena
mengurangi pemajanan permukaan tubuh pada suhu lingkungan. 2
c. Kontrol vasomotor
Bayi baru lahir belum berkembang dengan baik, kemampuan
untuk mengonstriksi pembuluh darah subkutan dan kulit sama
baik pada bayi prematur dan orang dewasa. 2
d. Bayi baru lahir memproduksi panas terutama dengan upaya
termogenesis tanpa menggigil. 2
e. Kelenjar keringat bayi baru lahir hampir tidak berfungsi sampai
minggu keempat setelah bayi lahir. 2
3) Stres Dingin
Stres dingin menimbulkan masalah fisiologis dan metabolisme.
upaya yang dilakukan bayi adalah dengan mengkonsumsi oksigen dan
energi pada bayi baru lahir yang mengalami stres dingin dialihkan dari
fungsi untuk mempertahankan pertumbuhan, fungsi sel otak dan fungsi
jantung normal menjadi fungsi termogenesis agar bayi tetap hidup.
Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir antara lain: 2

Gambar: kehilangan panas pada bayi


a) Konveksi: aliran panas dari permukaan tubuh ke udara yang lebih
dingin. Contohnya : membiarkan bayi terlentang di ruang yang
relatif dingin.
b) Radiasi: kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan
padat lain yang lebih dingin tanpa kontak langung. Contohnya:
bayi baru lahir dibiarkan dalam keadaan telanjang
c) Evaporasi : kehilangan panas yang terjadi ketika cairan berubah
menjadi gas (menguap). Contohnya : bayi baru lahir yang tidak
dikeringkan dari cairan amonium.
d) Konduksi: kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan
yang lebih dingin melalui kontak langsung satu sama lain. 1
Bidan harus mengetahui kebutuhan transisional bayi dalam
beradaptasi dengan kehidupan diluar uteri sehingga ia dapat membuat
persiapan yang tepat untuk kedatangan bayi baru lahir. Adapun
asuhannya sebagai berikut : 1
1) Pencegahan kehilangan panas seperti mengeringkan bayi baru
lahir, melepaskan handuk yang basah, mendorong kontak kulit
dari ibu ke bayi, membedong bayi dengan handuk yang kering.
2) Membersihkan jalan nafas.
3) Memotong tali pusat.
4) Identifikasi dengan cara bayi diberikan identitas baik berupa
gelang nama maupun kartu identitas.
5) Pengkajian kondisi bayi seperti pada menit pertama dan kelima
setelah lahir, pengkajian tentang kondisi umum bayi dilakukan
dengan menggunakan nilai Apgar 3. 1
Asuhan bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
1) Pertahankan suhu tubuh bayi 36,5 C.
2) Pemeriksaaan fisik bayi.
3) Pemberian vitamin K pada bayi baru lahir dengan dosis 0,5– 1
mg I.M.
4) Mengidentifikasi bayi dengan alat pengenal seperti gelang.
5) Lakukan perawatan tali pusat.
6) Dalam waktu 24 jam sebelum ibu dan bayi dipulangkan
kerumah diberikan imunisasi.
7) mengajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada ibu seperti
pernafasan bayi tidak teratur, bayi berwarna kuning, bayi
berwarna pucat, suhu meningkat, dll.
8) mengajarkan orang tua cara merawat bayi. 4
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam asuhan pada bayi baru
lahir menurut APN (2008):
a. Persiapan kebutuhan resusitasi untuk setiap bayi dan siapkan
rencana untuk meminta bantuan, khususnya bila ibu tersebut
memiliki riwayat eklamsia, perdarahan, persalinan lama atau
macet, persalinan dini atau infeksi.
b. Jangan mengoleskan salep apapun atau zat lain ke tali pusat.
Hindari pembungkusan tali pusat. tali pusat yang tidak tertutup
akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang
lebih sedikit.
c. Bila memungkinkan jangan pisahkan ibu dengan bayi dan
biarkan bayi bersama ibunya paling sedikit 1 jam setelah
persalinan.
d. Jangan tinggalkan ibu dan bayi seorang diri dan kapanpun. 4
2. Karakteristik prilaku
Bayi baru lahir yang sehat harus mampu menjalani fungsi biologis dan
fungsi prilaku/ psikologis supaya dapt bertumbuh kembang dengan baik.
Respon perilaku bayi baru lahir mengindikasikan adanya kontrol pada
korteks, kemampuan memberi respon, dan akhirnya penatalaksanaan
lingkungan bayi tersebut. Melalui responnya, bayi bertindak untuk
mengonsolidasi hubungan datau menjauhkan diri dari orang-orang dalam
lingkungan dekatnya. Melaui tindakannya, ia memperkuat atau
melemahkan ikatan dan aktivitas pemberian perawatan.Skala Perilaku
Neonatus dari Brazelton (The Brazelton Neonatal Behavioral assement
Scale/ NBASI) digunakan untuk menilai karakteristik unik bayi baru lahir,
yakni sebagian tergantung pada keadaan tidur-terjag, ia juga menyatakan
reaksi orang tua terhadap bayi baru lahir sebagian ditentukan oleh
perbeadaan oleh perbedaan ini. Berikut periode transisi dari bayi baru lahir
antara lain: 1
a. Periode pertama reaktivasi dimana mata terbuka,awas, bayi
memfokuskan perhatian pada wajah dan suara orang tuanya terutama
ibunya(Fase ini berlangsung 15 menit). 1
b. Periode kesadaran aktif, dimana bayi sering melakukan gerakan
mendadak aktif dan juga menangis, refleks menghisap kuat yang
menandakan bayi lapar. 1
c. Periode tidak aktif/istirahat, merupakan periode dimana bayi terlihat
rileks dan tidak berespon/sulit dibangunkan. Periode ini selama 2
sampai 4 jam. 1
d. Periode reaktivitas kedua, dimana bayi waspada dan terjagadan
menunjukkan keadaan sadar dan tenang, aktif dan menangis.periode ini
selama 4 sampai 6 jam.Sejak lahir, bayi meiliki respon sensorik yang
mengindikasikan suatu tahap kesiapan untuk melakukan interaksi social
antara lain mencakup: 1
a) Penglihatan
Saat lahir pupil bayi bereaksi terhadap rangsangan cahaya dan
penglihatan reflek mengedip dengan mudah. Sejak lahir, bayi telah
mampu memusatkan pandangan dan memperhatikan secara intensif
suatu objek. Mereka memandang wajah orang tuanya dan berespon
terhadap perubahan yang dilakukan. Kemampuan ini membuat
orang tua dan anak dapat saling kontak mata dan akibatnya terbentuk
komunikasi yang tidak kentara. Kontak mata sangat penting dalam
interaksi orang tua bayi. 1
b) Pendengaran
Bayi akan berespon terhadap suara ibunya, hal ini merupakan
respon akibat mendengar dan merasakan gelombang bunyi suara
ibunya selagi ia berada di dalam rahim Hal ini menunjukkan suatu
pendengaran selektif terhadap bunyi dan irama suara ibu selama
bayi hidup di dalam rahim, dimana bayi baru lahir mempersiapkan
diri untuk mengenali dan berinteraksi dengan pemberi perawatan
primer-ibu mereka. Janin di rahim telah terbiasa mendengar denyut
jantung ibu, akibatnya bayi baru lahir akan berespon dengan
melakukan relaksasi dan berhenti menangis bila simulator denyut
jantung diletakkan di tempat tidurnya. 1
c) Sentuhan
Semua bagian tubuh bayi berespon terhadap sentuhan. Wajah
terutama mulut, tangan, dan telapak kaki merupakan daerah yang
paling sensitive. Hal penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan normal,dan setiap bayi menunjukkan
keanekaragaman respon terhadap sentuhan. Ibu yang baru memiliki
bayi menggunakan sentuhan sebagai perilaku pertama
dalamberinteraksi seperti sentuhan ujung jari, mengusap-usap wajah
dengan lembut san memijat bagian punggung. 1
d) Pengecap
Bayi baru lahir memiliki system kecap yang berkembang baik
dan larutan yang berbeda menyebabkan bayi memperlihatkan
ekspresi wajah yang berbeda.secra umum bayi berorientasi pada
pengguanaan mulutnya, baik untuk memenuhi kebuthuhan nutrisi,
maupun untuk tumbuh dengan cepat dan untuk melepaskan
ketegangannya melaui kegiatan menghisap. Perkembangan dini
yang mencakup sensasi di sekitar mulutnya, aktivitas otot dan
pengecapan tampaknya merupakan persiapan bayi agar tetap hidup
di luar rahim. 1
e) Penciuman
Indera penciuman bayi baru lahir sudah berkembang baik saat
bayi lahir. Bayi baru lahir tampaknya memberi reaksi yang sama
denga reaksi orang dewasa, bila diberi bau yang menyenangkan.
Bayi yang disusui mampu membaui ASI dan dapat membedakan
ibunya dari ibu lain yang menyusui. Bayi wanita yang diberi susu
botol lebih menyukai bau wanita yang menyusui daripada wanita
lain yang tidak menyusui. Bau ibu ini dipercaya mempengaruhi
pemberian makan. 1
A. Adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan diluar uterus
1. Reactivitas 1 (the first periode of reactivity)
Dimulai pada masa persalinan dan berakhir setelah 30 menit. Selama
periode ini detak jantung cepat dan palpasi tali pusar jelas. Warna kulit
terlihat sementara sianosis dan akrosianosis. Selama periode ini mata bayi
terbuka dan bayi memperlihatkan perilaku siaga. Bayi mungkin menangis,
terkejut atau terpaku. Selama periode ini setiap usaha harus dibuat untuk
memudahkan kontak bayi dengan ibu. Biarkan ibu memegang bayi untuk
mendukung proses pengenalan. Beberapa bayi akan disusui selama periode
ini. Bayi sering mengeluarkan kotoran dengan seketika setelah persalinandan
suara usus pada umumnya terdengar setelah usia 30 menit. Bunyi usus
menandakan system perncernaan berfungsi dengan baik. Keluarnya kotoran
sendiri, tidak menunjukan kehadiran gerak peristaltic hanya menunjukan
bahwa anus dalam keadaan baik. 2
Lebih jelas dapat dilihat karakteristiknya :
a. Tanda tanda vital bayi baru lahir sebagai berikut :frekuensi nadi yang
cepat dengan tidak teratur, frekuensi pernapasan mencapai 80 kali
permenit, irama tidak teratur dan beberapa bayi mungkin dilahirkan
dengan keadaan pernapasan cuping hidung, ekspirasi mendengkur serta
adanya retraksi.
b. Fluktuasi warna dari merah jambu pucat ke sianosis.
c. Bising usus biasanya tidak ada, bayi biasanya tidak berkemih ataupun
tidak mempunyai pergerakan usus selama periode ini.
d. Bayi baru lahir mempunyai sedikit jumlah mucus, menangis kuat, reflex
isap yang kuat. Tips khusus, selama periode ini mata bayi terbuka lebih
lama daripada hari hari selanjutnya, saat ini adalah waktu yang paling baik
untuk memulai proses periode perlekatan karena bayi baru lahir dapat
mempertahankan kontak mata untuk waktu yang lama. 2

2. Tidur tidak berespon (periode of unresponsive sleep)


Berlangsung selama 30 menit sampai 2 jam persalinan. Tingkat
pernapasan menjadi lebih lambat. Bayi dalam keadaan tidur, suara usus
muncul tapi berkurang. Jika mungkin, bayi tidak diganggu untuk pengujian
utama dan jangan memandikannya. Selama masa tidur memberikan
kesempatan pada bayi untuk memulihkan diri dari proses persalinan dan
periode transisi kekehidupan diluar uterin. 2
3. Reactivitas 2 (the second periode of reactivity)
Berlangsung selama 2-6 jam setelah persalinan. Jantung bayi labil dan
terjadi perubahan warna kulit yang berhubungan dengan stimulus
lingkungan. Tingkat pernapasan bervariasi tergantung pada aktifitas.
Neonates mungkin membutuhkan makanan dan harus menyusu. Pemberian
makan awal penting dalam pencegahan hipoglikemia dan stimulasi
pengeluaran kotoran dan pencegahan penyakit kuning. Pemberian makan
awal juga menyediakan kolonisasi bakteri isi perut yang mengarahkan
pembentukan vitamin k oleh trakus intestinal. Neonates mungkin bereaksi
terhadap makanan pertama dnegan cara memuntahkan susu bersama mucus.
Ibu harus diajari cara menyendawakan bayinya. Setiap mucus yang terdapat
selama pemberian makan awal dapat berpengaruh terhadap kecukupan
pemberian makanan, terutama jika mucus berlebih. Kehadiran mucus yang
banyak mungkin mengindikasikan masalah seperti esofagial atresia, mucus
bernoda ampedu menunjukan aanya penyakit pada bayi dan pemberian
makan perlu ditunda sehingga penyebabnya diselidiki secara menyeluruh. 2
Periode transisi kehidupan ekstrauterin berakhir setelah periode kedua
rectifitas. Hal ini terjadi sekitar 2-6 jam setelah persalinan. Kulit dan saluran
pencernaan neonatal belum terkolonisasi oleh beberapa tipe bakteria. Oleh
karna itu, neonatal jangan diproteksi dari bakteria menguntungkan. Semua
bidan harus mencuci tangan dan lengan bawah selama 3 menit dengan sabun
anti bakteria sebelum menyentuh bayi. aktivitas ini merupakan proteksi yang
berguna terhadap infeksi neonatal. APGAR SCOR harus dinilai selama
periode ini. 2
4. Penilaian Awal Bayi Baru Lahir
Pengkajian pertama pada seorang bayi dilakukan pada saat lahir dengan
cara menilai:
1. Tangisannya kuat atau tidak
2. Tonus otot bergerak aktif atau tidak
3. Warna kulit menjadi merah
Pemeriksaan tiga komponen di atas dilakukan pada 1-5 menit saat bayi
baru lahir sedangkan pemeriksaan mengunakan nilai APGAR dilakukan
setelah 10-20 menit saat bayi baru lahir. Perawat atau penolong persalinan
menetapkan nilai Apgar. Pengkajian usia gestasi dapat dilakukan dua jam
pertama setelah lahir. Pengkajian fisik yang lebih lebih lengkap diselesaikan
dalam 24 jam. 1
Nilai Apgar memungkinkan pengkajian untuk mengetahui perlu tidaknya
resusitasi dilakukan dengan cepat. Pengkajian ini didasarkan pada lima aspek
yang menunjukkan kondisi fisiologis neonates tersebut, yakni denyut jantung,
dilakukan dengan sukultasi menggunakan stetoskop; pernapasan, dilakukan
berdasarkan pengamatan gerakan dinding dada; tonus otot, dilakukan
berdasarkan derajat fleksi dan pergerakan ekstremitas; iritabilitas refleks,
dilakukan berdasarkan respons terhadap tepukan halus pada telapak kaki; dan
warna, dideskripsikan sebagai pucat, sianotik, atau merah muda. 1
Setiap hal itu diberi nilai 0,1, atau 2. Evaluasi dilakukan pada menit
pertama dan menit kelima setelah bayi lahir. Nilai nol sampai tiga
mengindikasikan distress, nilai empat sampai enam mengindikasikan,
kesulitan moderat, dan nilai tujuh sampai 10 mengindikasikan bayi tidak akan
mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar
Rahim. Nilai Apgar tidak dapat dipakai untuk memperkirakan gangguan
neurolgis pada masa yang akan datang. 1

Kriteria Apgar

Nilai 0 1 2
Appearance (warna Badan merah,
Biru, pucat Semuanya merah muda
kulit) ekstremitas biru
Tidak
Pulse (denyut jantung) < 100 >100
teraba
Grimace (refleks
Tidak ada Lambat Menangis kuat
terhadap rangsangan)
Lemas / Gerakan sedikit / Aktif fleksi tungkai
Activity (tonus otot)
lumpuh Fleksi tungkai baik / reaksi melawan
Respiratory (usaha Lambat, tidak
Tidak ada Baik, menangis kuat
napas) teratur
Sumber : American Academy of Pedatrics, 2006 dalam Kosim (2010)

Keterangan :

 Nilai APGAR antara 7-10 menandakan kondisi bayi baik


 Nilai APGAR antara 4-6 menandakan bahwa bayi mengalami asfiksia sedang
 Nilai APGAR antara 0-3 menandakan bahwa bayi mengalami asfiksia berat

Rentang Normal TTV untuk Bayi Baru Lahir


Denyut Jantung Pernafasan Tekanan Darah
Bangun Tidur Sistolik Diastolik
30-35
100-165 90-160 60-85 45-55
Sumber : American Academy of Pedatrics, 2006 dalam Kosim (2010)

B. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Fisik
1) Pengertian Pengkajian Fisik Bayi Baru Lahir
Pengkajian fisik adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi tentang
anak dan keluarganyadengan menggunakan semua pancaindra baik subjektif
maupun objektif. Pengakajian fisik bayi baru lahir dan perkembangannya
dilakukan bersamaan pada waktu melakukan pemeriksaan secara inspeksi
maupun observasi. 5
Pemeriksaan atau pengkajian fisik pada bayi baru lahir dilakukan untuk
mengetahui apakah terdapat kelainan yang perlu mendapat tindakan segera
serta kelainan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan
kelahiran.
Pemeriksaan fisik BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin jika
terdapat kelainan pada bayi. Pengkajian fisik pada bayi dilakukan dengan dua
tahap. Tahap pertama adalah pengkajian setelah bayi lahir. Tujuan pengkajian
ini adalah mengkaji adaptasi bayi baru lahir dari kehidupan didalam uterus ke
kehidupan luar uterus, yaitu dengan melakukan penilaian APGAR. Penilaian
ini meliputi appearance (warna kulit), pulse (denyut jantung), grimace
(refleks atau respon terhadap rangsang), activity ( tonus otot), dan
respiratory effort
(usaha bernapas). Tahap kedua adalah pengkajian keadaan fisik bayi baru
lahir. Pengkajian ini dilakukan untuk memastikan bayi dalam keadaan normal
atau tidak mengalami penyimpangan. 5
2) Tujuan pengkajian adalah:
1) Mendapatkan hasil yang valid
2) Mengetahui keadaan fisik secara umum
3) Mengetahui kondisi normal/abnormal 5
3) Prosedur pemeriksaan fisik bayi baru lahir
1) Menginformasikan prosedur dan meminta persetujuan orang tua
2) Mencuci tangan dan mengeringkannya, jika perlu, gunakan sarung tangan.
3) Memastikan penerangan cukup dan hangat untuk bayi
4) Memeriksa secara sistematis head to toe (dari kepala hingga jari kaki).
5) Mengidentifikasi warna kulit dan aktivitas bayi
6) Mencatat miksi dan mekonium bayi
7) Mengukur lingkar kepala (LK), lingkar dada (LD), lingkar perut (LP),
lingkar lengan atas (LILA) dan panjang badan (PB); serta menimbang
berat badan bayi (BB).
8) Mendiskusikan hasil pemeriksaan kepada orang tua.
9) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan. 5
4) Aspek yang perlu dikaji:
1. Riwayat, meliputi:
1) Persalinan (Lamanya? Spontan?)
2) Neonatal (Mekonium? Trauma saat lahir?) 5
2. Keadaan umum:
1) Secara keseluruhan (perbandingan tubuh bayi secara
proporsional/tidak)
2) Bagian kepala, badan dan ekstremitas (pemeriksaan ada/tidaknya
kelainan)
3) Tonus otot dan tingkat aktivitas (gerakan bayi aktif/tidak)
4) Warna kulit dan bibir (kemerahan/kebiruan)
5) Tangis bayi (melengkung, merintih, normal) 5
3. Tanda-tanda vital
1) Periksa frekuensi napas dihitung selama satu menit penuh dengan
mengamati naik/turun perut bayi. Bayi dalam keadaan tenag, laju napas
normalnya 40-60 kali permenit.
2) Periksa frekuensi jantung dengan menggunakan stetoskop dan dihitung
selama satu menit. Laju jantung normal 120-160 denyut per menit.
3) Suhu tubuh bayi baru lahir normalnya 36,5-37,2˚C diukur
menggunakan termometer. 5
4. Berat badan dan pengukuran panjang badan
1) Berat badan.
Berat badan bayi baru lahir yang normal, yaitu berkisar antara 2500-
4000 gram. Diukur dengan keadaan tidak terbungkus, tetapi dalam
melakukan pemeriksaan berat badan bayi baru lahir tetap harus
dibungkus dan hasilnya dikurangkan dari berat bungkus bayi. Contoh:
Berat bayi dengan bungkus : 3,50 kg
Berat bungkus : 0,25 kg
Berat bayi : 3,25 kg

2) Panjang badan.
Rentangkan bayi dengan lembut, dengan pita pengukur, ukurlah dari
ujung kepala sampai ujung tumitnya, normal panjang bayi baru lahir
berkisar antara 45-53 cm. 5
5. Kepala
1) Ubun-ubun. Ukuran bervariasi dan tidak ada standar. Ubun-ubun
merupakan titik lembut pada bagian atas kepala bayi ditempat tulang
tengkorak yang belum sepenuhnya bertemu.
2) Sutura, molase. Perubahan bentuk kepala janin (molding/molase)
0 : sutura terpisah
1 : Sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) yang tepat/ bersesuaian.
2 : Sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki
3 : Sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki.
3) Penonjolan atau daerah cekung. Periksa adanya kelainan baik karena
trauma persalinan (kaput suksadaneum, sefalo hematom) atau adanya
cacat kongenital (hidrosefalus).
4) Ukur lingkar kepala untuk mengukur ukuran frontal oksipitalis kepala
bayi. 5
6. Telinga.
Untuk memeriksa telinga bayi, tatap wajah bayi. Bayangkan sebuah
garis melintasi kedua matanya, normalnya beberapa bagian telinga harus
berada diatas garis ini. 5
7. Mata.
Lihat kedua mata bayi, perhatikan apakah kedua matanya tampak
normal dan apakah bergerak bersama, lakukan pemeriksaan dengan
melakukan penyinaran pada pupil bayi. Normlanya, jika disinari pupil
akan mengecil. 5
8. Hidung dan mulut.
Yang pertama kita lihat apakah bayi dapat bernapas dengan mudah
melalui hidung atau ada hambatan, kemudian lakukan pemeriksaan pada
bibir dan langit-langit, refleks isap, dinilai dengan mengamati pada saat
bayi menyusu atau dengan cara menekan sedikit pipi bayi untuk membuka
mulut bayi kemudian masukkan jari tangan Anda untuk merasakan isapan
bayi. Perhatikan adanya kelainan kongenital seperti labiopalatoskizis. 5
9. Leher.
Periksa lehernya apakah pembengkakan dan benjolan. Pastikan untuk
melihat tiroid (gumpalan didepan tenggorok bengkak). Hal ini merupakan
masalah pada bayi baru lahir. 5
10. Dada.
Pada daerah yang dipeiksa adalah bentuk dari dada, puting, bunyi
napas, bunyi jantung (dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan
stetoskop). 5
11. Bahu, lengan dan tangan.
Yang dilakukan adalah melihat gerakan bayi apakah aktif atau tidak
kemudian menghitung jumlah jari bayi. 5
12. Perut.
Pada perut yang perlu dilakukan pemeriksaan, yaitu bentuk perut
bayi, lingkar perut, penonjolan sekitar tali pusat, kenudian saat bayi
menangis, perdarahan pada tali pusat, dinding perut lembek (pada saat
bayi tidak menangis) dan benjolan yang terdapat pada perut bayi. 5
13. Alat kelamin.
Hal yang perlu diperhatikan:
1. Bayi laki-laki, normalnya ada dua testis dalam skrotum. Kemudian
pada ujung penis terdapat lubang.
2. Bayi perempuan, normalnya labia mayora menutupi labia minora,
pada vagina terdapat lubang, pada uretra terdapat lubang dan
mempunyai klitoris. 5
14. Pinggul, tungkai dan kaki.
Untuk memeriksa pinggul, pegang tungkai kaki bayi. Tekan pangkal
paha dengan lembut ke sisi luar, dengarkan atau rasakan adakah bunyi
“Klik” ketika anda menggerakkan kakinya. Jika mendengan bunyi “klik”
segera laporkan ke dokter anak untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Selanjutnya, lakukan gerakan dengan lembut setiap kaki naik dan turun,
kembali dengarkan dan rasakan suara “klik” ketika anda
menggerakkannya. Pada pemeriksaan pinggul dan kaki yang perlu
diperiksa adalah gerakan, bentuk simetris, dan panjang kedua kaki harus
sama, serta jumlah jari. 5
15. Punggung dan anus.
Pada bagian ini yang diperiksa adalah pembengkkan ataupun ada
cekungan pada punggung bayi dengan cara membalikkan badan bayi dan
melihat punggungnya, kemudian jari anda menuruni punggung bayi
untuk merasakan benjolan pada tulang punggungnya. Pada anus
diperiksa lubangnya apakah telah mengeluarkan mekonium/cairan. 5
16. Kulit.
Pada kulit yang perlu diperhatikan verniks (cairan keputih-putihan,
keabu-abuan, kekuning-kuningan, berminyak, dan berlendir yang
berfungsi melindungi kulit bayi agar tidak tenggelam oleh air ketuban
selama ia berada di dalam rahim), warna, pembengkakan atau bercak
hitam, dan tanda lahir. 5
2. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir Normal
1) Lahir aterm antara 37-42 minggu.
2) Berat badan 2.500-4000 gram.
3) Panjang badan 48-52 cm.
4) Lingkar dada 30-38 cm.
5) Lingkar kepala 33-35 cm.
6) Lingkar lengan 11-12 cm.
7) Frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit.
8) Pernafasan 40-60 x/menit.
9) Suhu 36,6ºC hingga 37ºC
10) Kulit kemerah-kemerahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup.
11) Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna.
12) Kuku agak panjang dan lemas.
13) Menangis kuat, gerakan aktif, kulit kemerahan.
14) Gerak aktif.
15) Bayi lahir langsung menangis kuat.
16) Refleks rooting (mencari puting susu dengan rangsangan taktil pada pipi
dan daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik
17) Refleks sucking dan swallowing (isap dan menelan) sudah terbentuk
dengan baik.
18) Refleks morro (gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah terbentuk dengan
baik.
19) Refleks grapsing (menggenggam) sudah baik.
20) Genetalia Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada
pada skrotum dan penis yang berlubang. Pada perempuan kematangan
ditandai dengan vagina dan uretra yang berlubang, serta adanya labia
minora dan mayora.
21) Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya mekonium dalam 24 jam
pertama dan berwarna hitam kecoklatan.7
17. Bounding Attachment
1. Pengertian Bounding Attachment
Bounding attachment terjadi pada kala IV dimana diadakan kontak antara
ibu-ayah-anak dan berada dalam ikatan kasih. Bounding adalah proses
pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan), jadi bounding
attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan
keterikatan batin antara orangtua dan bayi. dimulai pada kala III sampai
dengan postpartum. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu
interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling
mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling
membutuhkan. 5
2. Kondisi Yang Mempengaruhi Ikatan/Bounding Attachment
Menurut Mercer tahun 1996 yaitu :

1) Kesehatan Emosional Orangtua


Orang tua yang mengharapkan kehadiran si anak dalam
kehidupannya tentu akan memberikan respon emosi yang berbeda dengan
orang tua yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi
yang positif dapat membantu tercapainya proses bounding attachment ini.
2) Suatu Tingkat Ketrampilan Dalam Berkomunikasi Dan Dalam Memberi
Asuhan Yang Kompeten
Dalam berkomunikasi dan ketrampilan dalam merawat anak, orang
tua satu dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan
yang dimiliki masing-masing. Semakin cakap orang tua dalam merawat
bayinya maka akan semakin mudah pula bounding attachment terwujud.
3) Dukungan Sosial Seperti Keluarga, Teman Dan Pasangan
Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan
faktor yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya
dukungan dari orang-orang terdekat akan memberikan suatu semangat /
dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang
penuh kepada bayinya.
4) Kedekatan Orangtua Dengan Bayi
Dengan metode rooming in kedekatan antara orang tua dan anak
dapat terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin
terwujud diantara keduanya.
5) Kecocokan Orangtua Dengan Bayi (Termasuk Keadaan, Temperamen
Dan Jenis Kelamin)
Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain
ketika keadaan anak sehat/normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang
diharapkan. Pada awal kehidupan, hubungan ibu dan bayi lebih dekat
dibanding dengan anggota keluarga yang lain karena setelah melewati
sembilan bulan bersama, dan melewati saat-saat kritis dalam proses
kelahiran membuat keduanya memiliki hubungan yang unik. 6

3. Tahap-Tahap Bounding Attachment


1) Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh,
berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
2) Bounding (keterikatan)
3) Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu
lain. 6
4. Elemen-Elemen Bounding Attachment
1) Sentuhan – Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh
orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi
baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.
2) Kontak mata – Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional
mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan
lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan,
dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan
bayinya (Klaus, Kennell, 1982).
3) Suara – Saling mendengar dan merespon suara antara orang tua dan
bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya
dengan tegang.
4) Aroma – Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik
(Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat
untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).
5) Entrainment – Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur
pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat
kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti
nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara.
Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan
menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
6) Bioritme – Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada
dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir
ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu
proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan
memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif.
Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk
belajar.
7) Kontak dini – Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan
bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk
hubungan orang tua–anak. 6
5. Prinsip-prinsip dan upaya meningkatkan Bounding Attachment
1) Menit pertama jam pertama
2) Sentuhan orangtua pertama kali
3) Adanya ikatan yang baik dan sistematis
4) Terlibat proses persalinan
5) Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi
kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu serta memberi rasa
nyaman.
6) Fasilitas untuk kontak lebih lama
7) Perawat maternitas khusus (bidan)
8) Libatkan anggota keluarga lainnya
9) Informasi bertahap mengenai bonding attachment6
6. Dampak positif bounding attachment
1) Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap
social
2) Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi
3) Hambatan bounding attachment
4) Kurang support sistem
5) Ibu dengan risiko
6) Bayi dengan risiko
7) Kehadiaran bayi yang tidak diinginkan6

7. Hambatan Bounding Attachment


1) Kurangnya support sistem.
2) Ibu dengan resiko (ibu sakit).
3) Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
4) Kehadiran bayi yang tidak diinginkan. 6
8. Cara untuk melakukan Bounding Attachment
1. Pemberian ASI ekslusif
Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah
lahir atau yang biasa disebut dengan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), secara
langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang
menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan
oleh semua manusia. 6
1) Manfaat IMD (Inisiasi Menyusu Dini)
a. Untuk bayi
a) Kehangatan
Christensson et al, (1992) melaporkan bahwa dibandingkan bayi-
bayi yang diletakan dalam boks ternyata bayi-bayi yang kontak
kulit dengan kulit ibunya mempunyai suhu tubuh yang lebih hangat
dan stabil.
b) Kenyamanan
Ternyata bayi-bayi yang dilakukan inisiasi dini lebih jarang
menangis dibandingkan dengan bayi-bayi yang dipisahkan dari
ibunya.
c) Kualitas perlekatan
Di banding bayi yang dipiosahkan dari ibunya, bayi-bayi yang di
lakukan inisiasi dini mempunyai kemampuan perlekatan mulut
yang lebih baik pada waktu menyusu.
b. Untuk ibu
Pelepasan plasenta yang lebih cepat akan mengurangi resiko
terjadinya pendarahan. 6
2) Manfaat Kontak Kulit Bayi ke Kulit Ibu
a. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat. Kulit ibu akan
menyesuaikan suhunya dengan kebutuhan bayi. Kehangatan saat
menyusu menurunkan risiko kematian karena hypothermia
(kedinginan)
b. Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan
dan detak jantung bayi lebih stabil. Dengan demikian, bayi akan
lebih jarang rewel sehingga mengurangi pemakaian energi.
c. Bayi memperoleh bakteri tak berbahaya (bakteri baik) yang ada
antinya di ASI ibu. Bakteri baik ini akan membuat koloni di usus
dan kulit bayi untuk menyaingi bakteri yang lebih ganas dari
lingkungan.
d. Bayi mendapatkan kolostrum (ASI pertama), cairan berharga
yang kaya akan antibodi (zat kekebalan tubuh) dan zat penting
lainnya yang penting untuk pertumbuhan usus. Usus bayi ketika
dilahirkan masih sangat muda, tidak siap untuk mengolah asupan
makanan.
e. Asi yang pertama (colostrum) mengandung beberapa Antibodi
yang dapat mencegah infeks pada bayi, sehingga menjamin
kelangsungan hidup sang bayi.
f. memperoleh ASI (makanan awal) yang tidak mengganggu
pertumbuhan, fungsi usus, dan alergi. Makanan lain selain ASI
mengandung protein yang bukan protein manusia (misalnya susu
hewan), yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh usus bayi.
g. Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil
menyusu ASI eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah 6
bulan.
h. Sentuhan, kuluman/emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu
akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting karena :
a) Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan
plasenta dan mengurangi perdarahan ibu.
b) Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang,
rileks, dan mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri
(karena hormon meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa
sukacita/bahagia.
c) Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI
matang (yang berwarna putih) dapat lebih cepat keluar. 6
2. Rawat gabung
Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar
antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding)
akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat
mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena
kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak
dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung,
merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari.6
Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat
memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh
orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks
let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat
menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung
akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga. 6

A. Kesimpulan
Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai dengan usia 4 minggu,
biasanya lahir pada usia kehamilan 38 minggu sampai 42 minggu (Wong, 2003).
Perubahan fisiologis dan psikososial yang besar yang terjadi pada saat bayi lahir
memungkinkan transisi dari lingkungan intrauterin ke lingkungan ekstrauterin,
Perubahan ini menjadi dasar petumbuhan dan perkembangan kemudian hari
(Bobak, 2005).
Segera setelah lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang sangat
tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan
dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna (dalam
kandungan Ibu) yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi)
ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala
kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya.
Perubahan nya yaitu diantaranya pada adaptasi biologisnya diantaranya
pada Sistem Kardiovaskuler, Sistem Hematopoesis, Sistem Pernapasan, Sistem
Perkemihan, Sistem Gastrointestinal, Sistem Hepatika, Sistem Imun, Sistem
Integumen, Sistem Reproduksi, Sistem Muskuloskeletal, dan Sistem
Neuromuskuler. Juga pada perubahan karakteristik prilaku dan adaptasi bayi
baru lahir terhadap kehidupan diluar uterus.