Anda di halaman 1dari 32

ANALISIS UNSUR – UNSUR INTRINSIK DALAM ‘READING LOLITA IN

TEHRAN’ KARYA AZAR NAFISI

BY
ERVIYANA JELITA

Abstrak

Penelitian ini mengangkat sebuah novel kontemporer bergenre memoir yang


berjudul Reading Lolita In Tehran karya Azar Nafisi yang diterbitkan pada tahun
2003. Analisis dilakukan terhadap unsur – unsur intrinsik yang meliputi tema,
alur, tokoh dan perwatakan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat yang
terkandung di dalam cerita serta kaitannya dengan sastra islam kontemporer.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan intrinsik.
Hasil akhir dari penelitian ini adalah menjelaskan unsur – unsur intirinsik dalam
cerita tersebut sehingga saling berkaitan satu sama lain untuk membangun cerita
tersebut secara utuh serta kaitannya dengan sastra Islam kontemporer.

Kata kunci: Intrinsik, tema, alur, tokoh, setting.

Abstract

This research raised a contemporary memoir novel titled Reading Lolita In


Tehran by Azar Nafisi which was published in 2003. The analysis is conducted
on the intrinsic elements included theme, plot, character and characterization,
setting, point of view, figurative language, and message which is contained in
the story and also its relation to the contemporary Islamic literature. This research
used a descriptive method of analysis and the intrinsic approach. The final result
of the research of this research is to explain the intrinsic elements in the story so
interrelated in one another to build the story and its relation to the contemporary
Islamic literature.

Keywords: Intrinsic, theme, plot, character, setting.


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra adalah suatu bentuk gagasan, imajinasi, dan argumentasi


seseorang yang di refleksikan sebagai tulisan dengan menggunakan Bahasa.
Rene Wellek dan Austin Warren dalam buku Susanto yeng berjudul Sastra,
Perempuan, Korupsi menyatakan bahwa sastra adalah institusi sosial yang
memakai medium bahasa (Susanto, 2013, p. 21). Aminuddin (Pengantar
Apresiasi Karya Sastra, 2013, p. 38) berpendapat bahwa sastra sebagai salah
satu cabang seni sebagai bacaan, tidak cukup dipahami lewat analisis
kebahasaannya, lewat studi yang disebut text grammar atau text linguistics,
tetapi juga harus melalui studi khusus yang berhubungan dengan literary text
karena teks sastra bagaimanapun memiliki ciri – ciri tersendiri yang berbeda
dengan ragam bacaan lainnya. Adanya ciri – ciri khusus teks sastra itu salah
satunya ditandai oleh adanya unsur – unsur intrinsik karya sastra yang berbeda
dengan unsur – unsur yang membangun bahan bacaan lainnya. Dari
keseluruhan uraian diatas akhirnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa cipta
sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks,
antara lain:

1. Unsur keindahan
2. Unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai – nilai atau
renungan tentang keagamaan, filsafat, politik, serta berbagai macam
kompleksitas permasalah kehidupan
3. Media pemaparan, baik berupa media kebahasaan maupun struktur
wacana, serta
4. Unsur – unsur intrinsik yang berhubungan dengan ciri karakteristik
cipta sastra itu sendiri sebagai suatu teks.
Unsur intrinsik memiliki peranan yang sangat penting dalam karya
sastra karena karya sastra tidak akan tercipta tanpa ada unsur intrinsik di
dalamnya. Unsur intrinsik meliputi peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema,
latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain – lain
(Nurgiyantoro, 2009, p. 23).

Karya sastra menurut jenis atau genrenya dibagi kedalam tiga bentuk
yaitu prosa, puisi dan drama. Salah satu bentuk prosa ialah prosa fiksi.
Aminuddin dalam buku Pengantar Apresiasi Karya Sastra berpendapat bahwa
istilah prosa fiksi atau disebut karya fiksi, biasa juga diistilahkan dengan prosa
cerita, prosa narasi, narasi, atau cerita berplot. Pengertian prosa fiksi tersebut
adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku – pelaku tertentu dengan
pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari
hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Sebagai salah satu
genre sastra, karya fiksi mengandung unsur – unsur meliputi (1) Pengarang
atau narrator, (2) Isi penciptaan, (3) Media penyampaian isi berupa bahasa, dan
(4) Elemen – elemen fiksional atau unsur – unsur intrinsik yang membangun
karya fiksi itu sendiri (Aminuddin, 2013, p. 38).

Dalam penelitian ini penulis memilih teks prosa Islam yang berbahasa
Inggris sebagai objek penelitian. Teks prosa tersebut adalah sebuah novel
berjudul Reading Lolita In Tehran yang dikarang oleh Azar Nafisi. Berdasarkan
hal tersebut penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang berhubungan
dengan unsur – unsur intrinsik atau pembangun dalam cerita seperti tema,
tokoh, alur, latar, karakter, amanat, sudut pandang dan gaya bahasa serta
kaitannya dengan sastra Islam kontemporer.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disampaikan, muncul


dua permasalahan dalam novel Reading Lolita In Tehran sebagai pokok
pembahasan, yaitu bagaimana unsur – unsur intrinsik dalam cerita – cerita
tersebut? Mengapa Reading Lolita In Tehran termasuk karya sastra Islam
kontemporer?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang dilakukan terhadap novel Reading Lolita In


Tehran adalah menguraikan unsur – unsur intrinsik dalam cerita tersebut
beserta kaitannya dengan sastra Islam kontemporer. Penelitian ini juga
diharapkan dapat menambah wawasan pembacanya serta mengembangkan
teori mengenai analisis unsur intrinsik dalam teori analisis sastra.

1.4 Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini hanya akan membahas mengenai unsur – unsur


intrinsik yang meliputi tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan
amanat dalam Reading Lolita In Tehran karya Azar Nafisi serta kaitannya
dengan sastra Islam kontemporer.

1.5 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif


analisis. Yang menurut Ratna (2004:53) merupakan metode yang dilakukan
dengan cara mendeskripsikan fakta – fakta yang ada kemudian
menganalisisnya. Penelitian ini akan menggambarkan data di dalam karya
sastra untuk kemudian dianalisis. Penulis juga melakukan studi pustaka yang
digunakan sebagai sumber data maupun rujukan.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan


intrinsik. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan terhadap karya sastra itu
sendiri untuk mencapai makna menyeluruh melalui unsur – unsur yang terdapat
dalam karya sastra itu sendiri.
II. TEORI DAN ANALISIS

2.1 Penjelasan Singkat Mengenai Reading Lolita In Tehran

Reading Lolita In Tehran adalah sebuah novel yang dikarang oleh Azar
Nafisi. Novel ini merupakan biografi singkat dari sang penulis karena ditulis
untuk menceritakan kisah penulis bersama 8 murid kelas khususnya dalam
mempelajari dan berdiskusi tentang karya sastra fiksi. Karya sastra fiksi
pertama yang mereka diskusikan adalah kisah Seribu Satu Malam, kemudian
novel Lolita karya seorang penulis Rusia bernama Nobokov, novel Madame
Bovary karya seorang penulis Prancis bernama Gustave Flaubert, Novel The
Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald, beberapa cerita pendek karya Maxim
Gorky dan Mike Gold, novel Pride and Prejudice karya Jane Austen, dan masih
banyak lagi. Novel Reading Lolita In Tehran bergenre memoir/memoar.
Memoir atau memoar adalah suatu bentuk karya sastra non-imajinatif yang
berisi cerita – cerita yang dialami oleh penulisnya pada saat/waktu tertentu dari
kehidupannya. Novel ini dipublikasikan pertama kali pada tahun 2003 dan
berada dalam tempat New York Times bestseller selama lebih dari ratusan
minggu. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa.

Azar Nafisi adalah penulis dari Reading Lolita In Tehran yang juga
merupakan seorang dosen yang pernah mengajar di beberapa universitas di
Tehran dan pernah mengajar di Oxford University. Ia adalah seorag wanita
berdarah Iran yang kini menjadi warga negara Amerika sejak tahun 2008 dan
tinggal di Washington DC.

2.2 Analisis Tema/Pokok Pembicaraan

Agut Supriatna dalam bukunya yang berjudul Bahasa Indonesia untuk


kelas VIII SMP menyatakan bahwa tema adalah inti atau ide dasar sebuah cerita
(Supriatna, 2007, p. 37). Tema merupakan pangkal tolak pengarang dalam
menceritakan dunia rekaan yang diciptakannya. Scharbach (dalam Aminudin,
2013, p. 91) mengartikan tema sebagai tempat meletakkan suatu perangkat
karena tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan
juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan fiksi yang dibuatnya.

Di dalam novel Reading Lolita In Yehran, ada beberapa tema yang


mendasari cerita, yaitu:
1. Memoir.
Reading Lolita In Tehran berisi pengalaman hidup singkat Azar Nafisi saat
di Iran. Cerita yang disajikan oleh Nafisi merupakan berdasarkan
memorinya, seperti dalam kutipan:
“The fact in this story are true insofar as any memory is ever thruthful.”
(Nafisi, 2003, p. xi)
2. Sastra
Reading Lolita In Tehran banyak berisi tentang sastra dan karya sastra yang
Nafisi kaji, pelajari, dan ajarkan kepada murid – muridnya. Di dalam novel
ini, bukan hanya menjelaskan bahwa Nafisi belajar dan mengajar sastra tapi
juga berisi analisisnya tentang suatu karya sastra. Beberapa karya sastra
yang dikaji di dalam novel ini adalah kisah Seribu Satu Malam, novel Lolita
karya seorang penulis Rusia bernama Nobokov, novel Madame Bovary
karya seorang penulis Prancis bernama Gustave Flaubert, Novel The Great
Gatsby karya F. Scott Fitzgerald, beberapa cerita pendek karya Maxim
Gorky dan Mike Gold, novel Pride and Prejudice karya Jane Austen, dan
masih banyak lagi. Nafisi beranggapan bahwa seni dan sastra sangatlah
penting di kehidupan, hal tersebut terlihat dalam kutipan:
“…art and literature became so essential to our lives: they were not a
luxury but a necessity.” (Nafisi, 2003, p. 15)
Melalui sastra, melalui tulisan yang kita buat, kita bisa menjadi apapun dan
siapapun, hal tersebut terdapat dalam kutipan:
“It is only through literature that one can put oneself in someone else's
shoes and understand the other's different and contradictory sides and
refrain from becoming too ruthless. Outside the sphere of literature only
one aspect of individuals is revealed.” (Nafisi, 2003, p. 77)
3. Wanita
Tema tentang wanita banyak diangkat dalam novel ini. Dalam kutipannya,
Nafisi mengatakan bahwa hukum buta untuk wanita; “In our case, the law
really was blind, in its mistreatment of women, it knew no religion, race, or
creed” (Nafisi, 2003, p. 273). Dikisahkan bahwa sebelum revolusi Iran,
wanita terikat pada hukum hijab dan hukum yang melarang untuk bertemu
lelaki non muhrim di luar rumah, meskipun hanya teman atau untuk urusan
pekerjaan.
4. Politik
Tema politik juga terdapat di dalam novel ini. Di novel ini dikisahkan
beberapa pertemuan politik, hukum, dan demonstrasi. Azar Nafisi pun
menyatakan pandangannya sendiri tentang politik. Di novel ini dikisahkan
tentang revolusi Iran.

2.3 Analisis Plot/Alur Cerita

Tukan dalam buku Mahir Berbahasa Indonesia menjelaskan plot atau


alur dalam prosa fiksi adalah hal yang sangat penting karena menunjang dan
membangun cerita (Tukan, 2007, p. 39). Stanton mengemukakan bahwa plot
atau alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tetapi tiap kejadian itu hanya
dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau
menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Unsur dalam pengembangan plot
adalah peristiwa, konflik, dan klimaks. Sementara itu, Aristoteles (dalam
Nurrachman, 2014) dalam Poeticsnya menyatakan bahwa plot adalah elemen
yang paling penting dalam membangun sebuah cerita (tragedy). Aristoteles
menyebutkan tiga bagian dari plot yaitu awal, pertengahan, dan akhir, hal itu
bisa dilihat di kutipan:

“Now a whole is that which has beginning, middle, and end. A beginning is
that which is not itself necessarily after anything else, and which has naturally
something else after it; and end is that which is naturally after something
itself, either as its necessary or usual consequent, and with nothing else after
it; and a middle, that which is by nature after one thing and has also another
after it.” (Nurrachman, 2014, p. 50)
Alur dalam Reading Lolita In Tehran adalah:

Alur Alur Peristiwa


Pengenalan Tokoh dalam cerita. Dikenalkan tokoh
“Aku” yaitu Azar Nafisi sebagai tokoh utama, tujuh
Awal siswinya yaitu Nassrin; Manna; Mahshid; Yassi;
Azin; Mitra; dan Sanaz, dan seorang siswanya yang
bernama Nima. Di sini diceritakan kisah mengenai
Nafisi yang mengundurkan diri untuk mengajar
sebagai dosen di Univeritas Allameh Tabatabai,
karena Universitas tersebut memiliki banyak aturan
yang tidak disukai oleh Nafisi. Di sini pun
diceritakan kriteria murid seperti apa yang Nafisi
pilih untuk kelas khususnya.
Tengah Campuran Disinilah terjadi klimaks dimana terjadi perdebatan
sengit tentang tokoh Gatsby dalam novel The Great
Gatsby antara 3 mahasiswa di kelas Nafisi, yaitu
Nyazi, Farzan, dan Zarrin. Disini juga terjadi
demonstrasi para mahasiswa. Di tahap ini terjadi
penyerangan atas negara Iran oleh negara Iraq
tanggal 23 Septemner 1980. Perang dengan Iraq
pecah pada bulan September dan tidak berakhir
sampai Juli 1988. Tak sedikit yang meninggal dan
terluka. Musuh menyerang negara Iran dan juga
Islam. Ledakan bom terjadi dimana – mana. Perang
terus berlanjut dan bahkan Iraq menghantam kilang
minyak di Tehran, Iran.
Akhir Disini Nafisi dengan suaminya betengkar. Nafisi
dqn suaminya (Bijan) memutuskan untuk
meninggalkan negara Iran pada tanggal 24 Juni 1997
untuk pindah ke Amerika dan menetap disana
hingga saat ini.
Dengan demikian alur dalam Reading Lolita In Tehran adalah alur campuran,
karena banyak terdapat alur maju dan alur mundur di dalam cerita.

2.4 Analisis Karakter/Tokoh/Perwatakan

Aminuddin berpendapat bahwa pelaku yang mengemban peristiwa


dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut
dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu
disebut dengan penokohan.para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita
memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh inti atau
tokoh utama. Sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena
pemunculannya henya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama
disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu. Tokoh dalam cerita seperti
halnya manusia dalam kehidupan sehari – hari di sekitar kita, selalu memiliki
watak – watak tertentu. Sehubungan dengan watak ini terdapat tokoh
9ensitive9t, yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi
pembaca, dan tokoh antagonis, yaitu pelaku yang tidak disenangi pembaca
karena watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan pembaca
(Aminuddin, 2013, pp. 79 - 80).

Tokoh – tokoh yang ada di dalam cerita Reading Lolita In Tehran


adalah:

1. Azar Nafisi
Azar Nafisi selaku penulis Reading Lolita In Tehran berperan sebagai tokoh
“Aku” dan tokoh utama dalam cerita tersebut. Di adalah orang yang sangat
baik, kritis, dan sangat peduli terhadap murid – muridnya, terlebih murid –
murid kelas khususnya, hal itu terlihat dari kekhawatirannya akan muridnya
dalam kutipan:
“I worried about Mahshid and the solitary path she had chosen for
herself. And about Yassi and her irrepressible fantasies about that never-
never land where her uncles lived. I worried about Sanaz and her broken
heart and about Nassrin and her memories and about Azin. I worried
about them all, but I worried most about Manna.” (Nafisi, 2003, p. 188)
2. Nassrin
Nassrin adalah salah satu murid Azar Nafisi yang mengikuti kelas spesial
bersama 6 murid wanita lainnya di rumah Nafisi pada kamis pagi untuk
mendiskusikan sastra. Ia adalah orang yang tidak fokus, sulit ditebak,
terkadang tidak ramah, dan suka menyembunyikan sesuatu. Hal tersebut
dibuktikan dalam kutipan:
“…she’s slightly out of focus, blurred, somehow distant…always hidden
behind something-a person…” (Nafisi, 2003, p. 3)

3. Manna
Manna sama halnya dengan Nassrin. Ia adalah salah satu murid Nafisi yang
mengikuti kelas spesial bersama 6 murid wanita lainnya di rumah Nafisi
pada kamis pagi untuk mendiskusikan sastra. Manna adalah seorang
penyair. Manna memiliki watak pemalu dan tertutup. Hal tesebut
dibuktikan dalam kutipan:
“a testament to her withdrawn and private nature.” (Nafisi, 2003, p. 2)
4. Nima.
Nima adalah satu – satunya murid laki – laki di kelas khusus Nafisi. Ia
merupakan suami dari Manna. Ia memiliki watak yang gigih karena
meskipun telah dilarang untuk mengikuti kelas yang diadakan oleh Nafisi
ia tetap memaksa dan menuntut haknya. Watak Nima tersebut dibuktikan
oleh kutipan:
“One persistent male student, although barred from our class, insisted on
his rights. So he, Nima, read the assigned material…” (Nafisi, 2003, p. 1)
Ia juga merupaka orang yang kritis dalam mengkritik, hal itu dibuktikan
karena Nafisi menyebutnya “my one true literary critic” (Nafisi, 2003, p.
3).
5. Mahshid
Mahshid pun merupakan murid kelas khusus milik Nafisi, sama seperti
Nassrin dan Manna. Dia pandai dalam segala hal dan ia disebut “my lady”
oleh teman – temannya dan Nafisi. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan:
“Mahshid was good at many things, but she had a certain daintiness about
her and we took to calling her “my lady.” (Nafisi, 2003, p. 2)
Mahshid memiliki watak 11ensitive, dia bagaikan porcelain yang rapuh,
dan ia adalah tipikal orang yang hati – hati terhadap orang baru atau yang
tidak dia kenal. Hal itu dibuktikan dalam kutipan:
“Mahshid is very sensitive. She’s like porcelain, Yassi once told me, easy
to crack. That’s why she appears fragile to those who don’t know her too
well…” (Nafisi, 2003, p. 2)
6. Yassi
Yassi juga adalah murid kelas khusus Nafisi dan ia berusia paling muda. Ia
berwatak pemalu dan suaranya terdengar seperti mengejek. Ia juga sulit
mengendalikan dirinya untuk tidak tertawa pada hal – hal yang lucu
baginya. Ia juga sering mempertanyakan orang lain juga dan dirinya sendiri.
Hal itu dibuktikan dalam kutipan:
“Yassi was shy by nature, but certain things excited her and made her lose
her inhibitions. She had a tone of voice that gently mocked and questioned
not just others but herself as well.” (Nafisi, 2003, p. 2)
7. Azin
Azin adalah murid kelas khusus Nafisi. Ia orang yang blak – blakan yang
tak jarang blak – blakannya itu berujung pada penghinaan. Ia sering
berselisish dengan Mahshid dan Manna. Dia dijuluki “Liar”. Hal tersebut
dibuktikan dalam kutipan:
“Always outrageous and outspoken, Azin relished the shock value of her
actions and comments, and often clashed with Mahshid and Manna. We
nicknamed her the wild one.” (Nafisi, 2003, p. 2)
8. Mitra
Mitra pun merupakan murid kelas khusus Nafisi. Ia adalah yang paling
tenang/kalem diantara semua teman – teman kelas khususnya. Hal tersebut
dibuktikan dalam kutipan:
“…who was perhaps the calmest among us. Like the pastel colors of her
paintings, she seemed to recede and fade into a paler register.” (Nafisi,
2003, p. 2)
9. Sanaz
Sanaz adalah murid kelas khusus Nafisi. Dia memiliki watak yang mudah
bimbang, terlebih bimbang antara keinginannya untuk bebas dan
persetujuan akan hal tersebut. Hal itu dibuktikan dalam kutipan:
“…pressured by family and society, vacillated between her desire for
independence and her need for approval…” (Nafisi, 2003, p. 2)
10. Ibu Azar Nafisi
Ia adalah ibu yang sangat peduli pada anaknya oleh karena itu ia sering
menasehati anaknya dan kegiatan menasehati tersebut sudah menjadi
kebiasaan. Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan yang menerangkan ibu
Nafisi yang selalu protes pada anaknya karena tidak sesuai dengan yang ia
harapkan, yaitu:
“Her tone was serious, but she had repeated the same complaint for so
many years that by now it was an almost tender ritual.” (Nafisi, 2003, p.
4)
11. Tahereh Khanoom
Ia adalah pembantu rumah tangga di apartemen Nafisi.
12. Negar
Ia adalah anak perempuan Nafisi. Ia masih anak – anak dan mudah
menangisi hal – hal sepele.
13. Tuan Kolonel. Ia adalah tetangga baru Nafisi. Dia memiliki watak yang
tidak baik dan arogan, hal tersebut dibuktikan dalam kutipan:
“Mr. Colonel was a new neighbor, whom my mother consistently ignored
because of his newly rich ways and manners. He had destroyed a beautiful
vacant garden next to our place and built an ugly, gray-stone three-story
apartment.” (Nafisi, 2003, p. 42)
14. Para penjaga yang disebut “Revolutionary Guard”
15. Bijan
Ia adalah suami Azar Nafisi, namun mereka bercerai.
16. Dr. A
Ia adalah teman Nafisi yang Nafisi ajak berdiskusi tentang sastra.
17. Tuan Bahri
Ia adalah seorang dosen. Ia memiliki watak pemalu dan pendiam, sifatnya
adalah gabungan dari sifat malu dan angkuh. Hal tersebut terlihat dalam
kutipan:
“…a naturally shy and reserved young man who had discovered an
absolutist refuge called Islam…It was this mixture of arrogance and
shyness that aroused my curiosity.” (Nafisi, 2003, p. 67)
18. Jeff
Ia adalah Seorang reporter Amerika dari New York yang menjelajahi
jalanan di Tehran selama beberapa bulan. Ia adalah orang yang mencintai
pekerjaannya. Hal itu terlihat dari kutipan:
“…his obsessive love for his job, for which he had been greatly
acknowledged…” (Nafisi, 2003, p. 69)
19. Tuan Nyazi
Ia adalah orang yang menemui Nafisi di perpustakaan. Ia adalah orang yang
kritis karena ia mengkritisi novel The Great Gatsby dan berdebat dengan
Nafisi. Ia pun adalah orang yang tidak bisa membedakan mana dunia fiksi
dan mana kenyataan. Ia adalah orang yang arogan dan sangat keras, hal itu
dibuktikan oleh kutipan:
“There was something so obstinately arrogant about Mr.
Nyazi, so inflexible…” (Nafisi, 2003, p. 79)
20. Tuan Farzan
Ia adalah murid Nafisi. Ia adalah orang yang membela Nyazi saat sedang
berdebat dengan Zarrin.
21. Zarrin
Ia juga adalah murid Nafisi. Ia berdebat dengan Nyazi di kelas tentang
tokoh Gatsby di novel The Great Gatsby.
22. Vida
Ia adalah murid Nafisi di kelas. Ia mencela di akhir perdebatan Nyazi,
Farzan, dan Zarrin karena merasa kesal dengan Nyazi dan Farzan yang tetap
gigih dengan teori mereka yang tidak bisa membedakan antara dunia fiksi
dengan kenyataan.
23. Farideh dan Laleh
Mereka adalah dua wanita yang menghadiri pertemuan di Universitas
Tehran, dimana mereka dan Nafisi adalah wanita yang tidak menggunakan
kerudung disana.
24. Ny. Rezvan
Ia adalah dosen di jurusan Bahasa Inggris di Allameh Tabatabai
University. Ia adalah orang yang ambisius, hal tersebut terlihat dalam
kutipan:
“…an ambitious teacher in the Department of English at the...” (Nafisi,
2003, p. 115)
25. Tuan Forsati
Ia adalah tipe orang yang suka berada di depan, dia adalah orang sangat
berkuasa karena merupakan ketua organisasi pelajar Islamic Jihad. Kutipan
yang menjelaskan tentang Tuan Forsati adalah:
“His interest, first and foremost, is in getting ahead. He doesn't seem close
to anyone in the class, yet he is probably the most powerful person there,
because he is the head of Islamic Jihad, one of the two lawful student
organizations in Iran.” (Nafisi, 2003, p. 126)
26. Tuan Nahvi
Ia adalah orang yang berbicara dengan tenang, dia adalah orang yang sangat
yakin sehingga tak nampak keraguan padanya. Bicaranya jelas dan
monoton. Hal tersebut terlihat pada kutipan:
“He spoke calmly, mainly because he was always very certain. There were
no doubts in him that might emerge in the form of an occasional outburst.
He spoke clearly and monotonously, as if he could see each word forming
in front of his eyes.” (Nafisi, 2003, p. 126)
27. Mina
Ia adalah teman Nafisi. Ia adalah orang lusuh, bahkan saat bertemu Mina,
Nafisi merasa sangat hormat dan sedih. Hal tersebut terlihat dalam kutipan:
“This is what I remember about her: a shabby gentility, an air of "better
days" clinging to all she wore. From that very first glance to our last
meeting many years later, I was always oppressed by two sets of emotions
when I met her: intense respect and sorrow.” (Nafisi, 2003, p. 132)
28. Ibu Mina
Ia diceritakan merupakan seorang wanita yang bermartabat, pandai
memasak, dan sopan. Hal itu terlihat dalam kutipan:
“Mina's mother, a dignified woman in her late sixties, served us tea on a
silver tray, with dainty glass teacups in silver filigree containers. Her
mother was a wonderful cook…” (Nafisi, 2003, p. 133)
29. Seseorang yang disebut Nafisi “My Magician”
Ia adalah teman Nafisi, dan menjadi tempat curhat Nafisi.

2.5 Analisis Setting Tempat (Setting Fisikal) & Suasana Cerita (Setting
Psikologis)

Aminudddin dalam buku Pengantar Apresiasi Karya Sastra (2013, p.


38) menjelaskan setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa
tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi
psikologis. Leo Hamalian dan Frederick R. Karel menjelaskan bahwa setting
dalam karya fiksi bukan hanya berupa tempat, waktu, peristiwa, suasana serta
benda – benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana
yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup
suatu masyarakat dalam menanggapi suatu problema tertentu. Setting dalam
bentuk yang terakhir itu dapat dimasukan ke dalam setting yang bersifat
psikologis. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa perbedaan setting yang
bersifat fisikal dengan setting bersifat psikologis ialah:

1. Setting yang bersifat fisikal berhubungan dengan waktu dan tempat misalnya
kota Jakarta, daerah pedesaan, pasar, sekolah, dan lain – lain, serta benda –
benda dalam lingkungan yang tidak menuansakan makna apa – apa,
sedangkan setting psikologis adalah setting berupa lingkungan atau benda –
benda dalam lingkungan tertentu yang mampu menuansakan suatu makna
serta mampu mengajak emosi pembaca,
2. Setting fisikal hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik, sedangkan
setting psikologis dapat berupa suasana maupun sikap serta jalan pikiran
suatu lingkungan masyarakat tertentu,
3. Untuk memahami setting yang bersifat fisikal, pembaca cukup melihat dari
apa yang tersurat, sedangkan pemahaman terhadap setting yang bersikap
psikologis membutuhkan adanya penghayatan dan penafsiran,
4. Terdapat saling pengaruh dan ketumpangtindihan antara setting fisikal
dengan setting psikologis.

Terdapat dua setting dalam cerita Reading Lolita In Tehran, yaitu


setting fisikal dan setting psikologis.
A. Setting Fisikal Waktu
a. Setting fisikal waktu pertama ialah di musim gugur pada tahun 1995,
hal tersebut dibuktikan dalam kutipan:
“In the fall of 1995, after resigning from my last academic post…”
(Nafisi, 2003, p. 1)
b. Setting fisikal waktu kedua ialah di hari kamis di awal bulan September
saat diskusi pertama. Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan:
“And so it happened that one Thursday in early September we
gathered in my living room for our first meeting.” (Nafisi, 2003, p. 4)
c. Setting fisikal waktu ketiga adalah di musim semi tahun 1994 saat Nafisi
sedang mengajar di kelas tentang novel di abad ke-20. Ini merupakan
alur mundur yang terdapat dalam cerita ini karena akibat mendengar
kata “Upsilamba!” mengingatkannya akan beberapa tahun silam saat ia
masih mengajar di kampus. Hal itu dibuktikan oleh kutipan:
“…the word carries me back to the spring of 1994, when four of my
girls and Nima were auditing a class I was teaching on the twentieth-
century novel. The class's favorite book was Nabokov's Invitation to a
Beheading.” (Nafisi, 2003, p. 13)
d. Setting fisikal waktu keempat adalah sebulan setelah Nafisi
mengundurkan diri dari Universitas Allameh Tabatabai, hal tersebut
dibuktikan oleh kutipan:
“About a month after I had decided privately to leave Allameh
Tabatabai, Yassi and…” (Nafisi, 2003, p. 19)
e. Setting fisikal waktu kelima adalah di minggu – minggu pertama kelas
khusus Nafisi, hal tersebut dibuktikan oleh kutipan:
“In the first few weeks of class, we read and discussed the books I had
assigned in…” (Nafisi, 2003, p. 25)
f. Setting fisikal waktu keenam adalah di bulan November, hal tersebut
dibuktikan oleh kutipan:
“We are sitting around the iron-and-glass table on a cloudy November
day.” (Nafisi, 2003, p. 26)
g. Setting fisikal waktu ketujuh adalah pada musim panas tahun 1996
sebagai kilas balik/flashback. Hal tersebut terdapat dalam kutipan:
“It happened in the summer of 1996, when my two children were home
from school. It was a lazy morning.” (Nafisi, 2003, p. 41)
h. Setting fisikal waktu kedelapan adalah di sekitar tahun 1940. Ini adalah
kilas balik/flashback Nafisi saat mengingat Nabokov, hal itu terlihat dari
kutipan:
“…the "first little throb of Lolita" went through him in 1939 or early
1940, when he was ill with a severe attack of intercostal neuralgia…”
(Nafisi, 2003, p. 50)
i. Setting fisikal waktu kesembilan adalah di pertengahan bulan Oktober
saat kelas khusus sudah diadakan 3 minggu. Hal itu dibuktikan oleh
kutipan:
“By mid-October, we were almost three weeks into classes and I was
getting…” (Nafisi, 2003, p. 63)
j. Setting fisikal waktu kesepuluh adalah di rentang waktu antara musim
gugur tahun 1979 dengan musim panas tahun 1980. Di tahun tersebut
terjadi revolusi, banyak yang gugur dan terluka, dan salah satu yang
diperjuangkan adalah hak wanita. Hal tersebut dibuktikan dalam
kutipan:
“…between the fall of 1979 and the summer of 1980, many events
happened that changed the course of the revolution and of our
lives…One of the most significant of these was over women's rights…”
(Nafisi, 2003, p. 72)
k. Setting fisikal waktu kesebelas adalah di bulan Januari saat pembasan
terakhir mengenai Gatsby. Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan:
“The last day we gave to Gatsby was in January; heavy snow had
covered the streets.” (Nafisi, 2003, p. 92)
l. Setting fisikal waktu kedua belas adalah di musim semi tahun 1981,
seperti dalam kutipan:
“The last day we gave to Gatsby was in January; heavy snow had
covered the streets.” (Nafisi, 2003, p. 98)
m. Setting fisikal waktu ketiga belas adalah 23 September 1980 saat Nafisi
sedang dalam perjalanan dari Laut Caspian ke Tehran. Di hari itu negara
Iraq menyerang Iran. Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan:
“The war came one morning, suddenly and unexpectedly. It was
announced on September 23, 1980, the day before the opening of
schools and universities: we were in the car returning to Tehran from
a trip to the Caspian Sea when we heard about the Iraqi attack on the
radio.” (Nafisi, 2003, p. 102)
n. Setting fisikal waktu keempat belas adalah di musim dingin tahun 1987,
terlihat dalam kutipan:
“It was mid-morning in the winter of 1987.” (Nafisi, 2003, p. 115)
o. Setting fisikal waktu kelima belas adalah di suatu hari sabtu saat Iraq
menghantam kilang minyak di Tehran. Hal tersebut berada dalam
kutipan:
“It was a Saturday when Iraq hit the Tehran oil refinery.” (Nafisi,
2003, p. 133)
p. Setting fisikal waktu keenam belas adalah dua hari sebelum
pengumuman gencatan senjata. Hal itu terdapat dalam kutipan:
“Two nights before the announcement of the first cease-fire in the war
of cities, a few friends came over to watch…” (Nafisi, 2003, p. 152)
q. Setting fisikal waktu ketujuh belas adalah saat Ayatollah Ruhollah
wafat. pada 3 Juni 1989, kurang dari setahun setelah perjanjian
perdamaian antara Iran dan Iraq. Hal itu terlihat dalam kutipan:
“Less than a year after the peace agreement, on Saturday, June 3,
1989, Ayatollah Ruhollah Khomeini died.” (Nafisi, 2003, p. 158)
r. Setting fisikal waktu ke delapan belas adalah di suatu pagi di bulan
Desember, seperti terlihat dalam kutipan:
“It was one of those cold, gray early-December mornings when the
overcast sky and the chill in the air seem to promise snow.” (Nafisi,
2003, p. 167)
s. Setting fisikal waktu kesembilan belas adalah di musim panas tahun
1990, saat Nafisi dan keluarganya berlibur ke Cyprus dan juga untuk
bertemu saudari iparnya, hal tersebut terlihat dalam kutipan:
“In the late summer of 1990, for the first time in eleven years, my
family and I left for Cyprus for a vacation and to meet up with my
sisters-in-law…” (Nafisi, 2003, p. 192)
t. Setting fisikal waktu keduapuluh adalah di awal bulan Maret di musim
semi tahun 1992, seperti dalam kutipan:
“It was around the spring of 1996, early March in fact…” (Nafisi,
2003, p. 193)
u. Setting fisikal waktu keduapuluh satu adalah di suatu hari yang hanta di
musim panas, yaitu sekitar dua minggu dari hari Nafisi berbincang
dengan suaminya, hal itu dibuktikan dalam kutipan:
“It was a warm summer day, about a fortnight after my conversation
with Bijan.” (Nafisi, 2003, p. 217)
B. Setting Fisikal Tempat
a. Setting fisikal tempat pertama adalah di rumah tokoh ‘Aku” yaitu saat
sedang diskusi dengan para muridnya, hal itu terlihat pada halaman 1
buku, yaitu:
“invited them to come to my home every Thursday morning to discuss
literature…” (Nafisi, 2003, p. 1)
Saat mereka tengah mendiskusikan:
“I often teasingly reminded my students of Muriel Spark's The Prime
of Miss Jean Brodie and asked, which one of you will finally…”
(Nafisi, 2003, p. 1)
Setting tempat rumah Nafisi banyak digunakan karena merupakan
tempat kelas khusus Nafisi diadakan.
b. Setting fisikal tempat kedua adalah Tehran saat para muridnya
mengucapkan salam perpisahan pada Nafisi. Hal tersebut dibuktikan
dalam kutipan:
“on the last night I was in Tehran, a few friends and students came to
say good-bye and to help me pack.” (Nafisi, 2003, p. 2)
c. Setting fisikal tempat ketiga adalah di ruang makan setelah para murid
membantu mempacking barang – barang milik Nafisi. Hal tersebut
dibuktikan dalam kutipan:
“my students and I stood against the bare white wall of the dining
room and took two photographs.” (Nafisi, 2003, p. 2)
d. Setting fisikal tempat keempat adalah di sebuah taman kecil yang
menghadap gedung fakultas saat Nafisi sedang berdiri dengan
kedelapan muridnya. Hal itu dibuktikan oleh kutipan:
“I am standing with eight of my students in the small garden facing our
faculty building…” (Nafisi, 2003, p. 3)
e. Setting fisikal tempat kelima adalah di ruang tamu Nafisi tempat ia dan
para muridnya belajar dan berdiskusi. Hal tersebut dibuktikan dalam
kutipan:
“Our world in that living room with its window framing my beloved
Elburz Mountains became our sanctuary.” (Nafisi, 2003, p. 3)
f. Setting fisikal tempat keenam adalah di apartemen. Apartemen lantai
kedua dihuni oleh Nafisi, lantai pertama dihuni oleh ibu Nafisi, dan
lantai ketiga dihuni oleh saudara laki – laki Nafisi. Hal itu dibuktikan
oleh kutipan:
“From our second-story apartment-my mother occupied the first floor,
and my brother's apartment, on the third floor, was often empty, since
he had left for England-we could see the upper branches of a generous
tree and, in the distance, over the buildings, the Elburz Mountains.”
(Nafisi, 2003, p. 4)
g. Setting fisikal tempat ketujuh adalah di Univeritas Allameh Tabatabai
tempat Nafisi mengajar. Di universitas tersebut terdapat banyak sekali
aturan terlebih untuk para kaum wanita. Setting tersebut dibuktikan
dalam kutipan:
“The University of Allameh Tabatabai, where I had been teaching
since 1987, had been singled out as the most liberal university in
Iran.” (Nafisi, 2003, p. 5)
h. Setting fisikal tempat kedelapan adalah di depan gerbang hijau
Universitas Allameh Tabatabai, hal tersebut dibuktikan oleh kutipan:
“Yassi and I were standing in front of the green gate at the entrance of
the university.” (Nafisi, 2003, p. 19)
i. Setting fisikal tempat kesembilan adalah di sebuah toko kecil saat Yassi
dan Nafisi membeli es krim. Hal tersebut ada dalam kutipan:
“We went to a small shop, where, sitting opposite each other with two
tall cafés glacés in between us…” (Nafisi, 2003, p. 20)
j. Setting fisikal tempat kesepuluh adalah di negara Switzerland/Swiss. Ini
adalah kilas balik/flash back saat Nafisi menuntut ilmu di Swiss. Hal
tersebut dibuktikan dalam kutipan:
“…in my sophomore year, while studying at a horrible school in
Switzerland, I was summoned in the middle of a history lesson with a
stern American teacher to the principal's office. There I was told
that…” (Nafisi, 2003, p. 30)
k. Setting fisikal tempat kesebelas adalah dijalan menuju George
Washington Memorial Parkway, hal itu terdapat dalam kutipan:
“A few weeks ago, while driving down the George Washington
Memorial Parkway…” (Nafisi, 2003, p. 40)
l. Setting fisikal tempat kedua belas adalah di tepi laut Caspian, hal itu
terlihat pada kutipan:
“Sanaz and five of her girlfriends had gone for a two day vacation by
the Caspian Sea. On their first day, they had…” (Nafisi, 2003, p. 49)
m. Setting fisikal tempat ketiga belas adalah di bandara Tehran, hal itu
terlihat dari kutipan:
“A young woman stands alone in the midst of a crowd at the Tehran
airport.” (Nafisi, 2003, p. 52)
n. Setting fisikal tempat keempat belas adalah di Amerika, tepatnya di New
Mexico, hal itu terlihat dari kutipan:
“…when I lived in America, I attempted to shape other places
according to my concept of Iran…and even transferred for a term to a
small college in New Mexico…” (Nafisi, 2003, p. 53)
o. Setting fisikal tempat kelima belas adalah di Norman, Oklahoma saat
Nafisi pindah kesana untuk menemani suaminya menempuh pendidikan
S2 di Universitas Oklahoma. Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan:
“I moved with him to Norman, Oklahoma, where he was getting his
master's in engineering at the University of Oklahoma.” (Nafisi, 2003,
p. 54)
p. Setting fisikal tempat keenam belas adalah di perpustakaan saat Nafisi
sedang mencari buku. Hal itu dibuktikan oleh kutipan:
“It was late; I had been at the library. I was spending a great deal of
time there now.” (Nafisi, 2003, p. 78)
q. Setting fisikal tempat ketujuh belas adalah di Universitas Tehran dimana
Nafisi akan bertemu dengan Tuan Bahri. Hal tersebut dibuktikan dalam
kutipan:
“I went to the University of Tehran for one more meeting with Mr.
Bahri.” (Nafisi, 2003, p. 106)
r. Setting fisikal tempat kedelapan belas adalah di auditorium saat
menonton konser, hal tersebut terlihat dalam kutipan:
“When we finally entered the auditorium, we found…” (Nafisi, 2003,
p. 196)
s. Setting fisikal tempat kesembilan belas adalah disebuah kedai kopi saat
Nafisi dengan Magician berjanji untk bertemu. Hal tersebut terdapat
dalam kutipan:
“We arranged to meet at a popular coffee shop that opened…” (Nafisi,
2003, p. 203)
t. Setting fisikal tempat kedua puluh adalah di dapur apartemen Nafisi.
Hal itu terlihat dalam kutipan:
“We made a stop in the kitchen.” (Nafisi, 2003, p. 210)
u. Setting fisikal tempat kedua puluh satu adalah di sebuah kedai kopi, hal
tersebut terlihat dalam kutipan:
“I had taken refuge in a coffee shop. It was really a pastry shop, one of
the…” (Nafisi, 2003, p. 217)

C. Setting Psikologis
1. Setting psikologis suasana pertama yang dapat membawa emosi
pembaca pertama adalah saat ibu Azar Nafisi memarahi Nafisi karena
ia tidak berprilaku seperti para wanita Iran kebanyakan. Hal tersebut
dibuktikan dalam kutipan:
“I don't know if you really belong to me, she would lament. Didn't I
raise you to be orderly and organized? Her tone was serious, but she
had repeated the same complaint for so many years that by now it was
an almost tender ritual. Azi-that was my nickname-Azi, she would say,
you are a grown-up lady now; act like one.” (Nafisi, 2003, p. 4)
2. Setting psikologis suasana kedua yang dapat membawa emosi pembaca
adalah saat Azar Nafisi merasa sangat gembira karena hari itu adalah
hari pertama kelas khusunya, hal itu dibuktikan dalam kutipan:
“Too excited to eat breakfast, I put the coffee…For the first time in
many years, I felt a sense of anticipation that was not marred by
tension: I would not need to go through the torturous rituals that had
marked my days when I taught at the university-rituals governing what
I was forced to wear, how I was expected to act, the gestures I had to
remember to control. For this class, I would prepare differently.”
(Nafisi, 2003, p. 5)
3. Setting psikologis suasana ketiga yang dapat membawa emosi pembaca
adalah saat Yassi dan Nafisi membicarakan tentang keluarga Yassi.
Suasana keduanya berubah menjadi serius. Hal tersebut dibuktikan
dalam kutipan:
“…our mood changed. We became, if not somber, quite serious. Yassi
came from an enlightened religious family that…” (Nafisi, 2003, p.
20)
4. Setting psikologis suasana keempat yang dapat membawa emosi
pembaca adalah saat para murid Nafisi berdebat. Hal tersebut membuat
suasana tegang. Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan yang menjelaskan
suasana setelah mereka berdebat, yaitu:
“They disapproved of her, and Azin sensed that. Her efforts at
friendship were rejected as hypocritical. Mahshid's response, as usual,
was silence. She drew into herself and refused to fill the void that
Azin's question had left behind. Her silence extended to the others, and
was broken finally by a short giggle from Yassi.” (Nafisi, 2003, p. 35)
5. Setting psikologis suasana kelima yang dapat membawa emosi pembaca
adalah saat mood para muridnya berubah. Mereka mulai bergosip
tentang hal – hal di kampus, dan hal itu mencairkan suasana yang
semula menegangkan. Hal tersebut terlihat dalam kutipan:
“Nassrin's story, and the confrontation between Azin and Mahshid,
had changed our mood too much for us to return to our class
discussion. We ended up making desultory conversation, mainly
gossiping about our experiences at the university…” (Nafisi, 2003, p.
36)
6. Setting psikologis suasana keenam yang dapat membawa emosi
pembaca adalah saat petemuan awal Manna dengan suaminya. Suasana
begitu hangat dan menyenagkan, hal tersebut terlihat dari mood Manna
yang bahagia, yaitu:
“Manna used to get excited in a very quiet way; her happiness seemed
to come from some
unknown depth inside of her.” (Nafisi, 2003, p. 46)
7. Setting psikologis suasana ketujuh yang dapat membawa emosi
pembaca adalah suasana tidak menyenangkan, suram, dan sedikit
mencekam saat Nafisi berada di Bandara Tehran, hal tersebut terdapat
dalam kutipan:
“…but the mood in the airport was not welcoming. It was somber and
slightly menacing.” (Nafisi, 2003, p. 53)
8. Setting psikologis suasana kedelapan yang dapat membawa emosi
pembaca adalah suasana ketegangan di kelas saat Zarrin, Nyazi, dan
Farzan sedang berdebat tentang tokoh Gatsby. Hal tersebut dapat
terlihat dari kutipan di bawah ini:
“"You tell them!" a voice said from the back row. I turned around.
There were giggles and murmurs. Zarrin paused, smiling. The judge,
rather startled, cried out, "Silence! Who said that?" Not even he
expected an answer.” (Nafisi, 2003, p. 85)
9. Setting psikologis suasana kesembilan yang dapat membawa emosi
pembaca adalah suasana mencekam saat perang antara Iran dengan Iraq.
Perang tersebut banyak memakan korban jiwa. Hal tersebut terlihat
dalam kutipan:
“Everything that happened to us during those eight years of war, and
the direction our lives took afterward, was in some way shaped by this
conflict. It was not the worst war in the world, although it left over a
million dead and injured.” (Nafisi, 2003, p. 102)
10. Setting psikologis suasana kesepuluh yang dapat membawa emosi
pembaca adalah suasana mencekam setiap terdengar sirine peringatan
bahaya, hal itu terlihat dari kutipan:
“"Attention, attention! The siren you hear is the danger signal. Red
alert! Leave at once and repair to your shelters!" I wonder at what
point in my life, and after how many years, the echo of the red siren-
like a screeching violin that plays mercilessly all over one's body-
would cease in my mind.” (Nafisi, 2003, p. 120)
11. Setting psikologis suasana kesebelas yang dapat membawa emosi
pembaca adalah suasana menakutkan, kegelisahan dan mencekam saat
Iraq menghantam kilang minyak di Iran, dan mulai kembali menyerang
Iran secara bertubi – tubi. Hal itu berada dalam kutipan:
“The news triggered the old fears and anxieties that had been lurking
for over a year, since the last bombs had hit the city.” (Nafisi, 2003, p.
133)

2.6 Analisis Sudut Pandang Cerita


Aminuddin dalam Pengantar Apresiasi Karya Sastra menjelaskan
bahwa sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam
cerita yang dipaparkannya (Aminuddin, 2013, p. 90). Sementara itu,
Kusmayadi, Dini dan Eva (Be Smart Bahasa Indonesia, 2008, p. 62)
berpendapat bahwa sudut pandang adalah visi pengarang atau cara pengarang
mengambil posisi dalam cerita lazimnya sudut pandang yang umum digunakan
dibagi menjadi empat jenis, yakni:
a) Sudut pandang First Person-Central atau Akuan-Sertaan.
Di dalam sudut pandang ini, tokoh sentral cerita adalah pengarang yang
secara langsung terlibat di dalam cerita. Biasanya pengarang menggunakan
tokoh “aku” atau “saya” orang pertama.
b) Sudut pandang First Person-Peripheral atau Akuan-Taksertaan.
Dalam sudut pandang ini, tokoh “aku” biasanya menjadi pembantu atau
pengantar tokoh lain yang lebih penting. Pencerita pada umumnya hanya
muncul di awal atau di akhir cerita.
c) Sudut pandang Third Person-Omniscient atau Diaan-Maha Tahu.
Di dalam sudut pandang ini pengarang berada di luar cerita, dan biasanya
pengarang hanya menjadi pengamat yang maha tahu. Pengarang
mengetahui segala hal yang terjadi maupun yang dirasakan oleh seluruh
tokoh dalam cerita.
d) Sudut pandang Third Person-Limited atau Diaan-Terbatas.
Dalam sudut pandang ini, pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi
pada tokoh utama cerita.
Dalam novel Reading Lolita In Tehran sudut pandang yang digunakan
adalah sudut pandang First Person-Central atau Akuan-Sertaan karena
pengarang terlibat langsung dalam cerita. Pengarang menjadi tokoh “Aku” yang
merupakan tokoh utama dalam cerita. Hal tersebut dibuktikan oleh beberapa
kutipan di bawah ini yang menggunakan pronoun “I”, yaitu:
“I told him they had no proof that the gentleman in question was a CIA
agent…” (Nafisi, 2003, p. 77)
“I repeated the last two lines, feeling tears, to my dismay, running
down my cheeks.” (Nafisi, 2003, p. 150)
“I was trying to delay what she had come to tell me.” (Nafisi, 2003, p.
210)

2.7 Analisis Gaya Bahasa


Wicaksono berpendapat bahwa gaya bahasa adalah cara menggunakan
bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu.
Secara tradisional, gaya bahasa selalu dikaitkan dengan teks sastra, khususnya
teks sastra tertulis. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata, struktur
kalimat, majas dan citra, polarima, makna yang digunakan seorang sastrawan
atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra (Wicaksono, 2014, p. 12).
Majas adalah salah satu gaya bahasa dalam sastra. Darmayanti dan
Hidayati berpendapat bahwa majas adalah bahasa kias, bahasa indah yang
dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan cara serta
memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain
yang lebih umum (Nani Darmayanti, 2008, p. 57). Majas yang terdapat dalam
Reading Lolita In Tehran adalah:
a) Simile

Prihantini mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Master Bahasa


Indonesia bahwa majas simile adalah majas yang berupa perbandingan dua hal
yang pada hakikatnya berbeda tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini biasanya
menggunakan konjungsi: seperti, bagai, bagaikan, bak, laksana, dan
sebagainya (Prihantini, 2015, p. 279). Majas simile yang terdapat pada Reading
Lolita In Tehran adalah:

1. “When the objects had vanished and the colors had faded into eight gray
suitcases, like errant genies evaporating into their bottles” (Nafisi, 2003, p.
1)
2. “Like the pastel colors of her paintings, she seemed to recede and fade into
a paler register.” (Nafisi, 2003, p. 2)
3. “Their absences persist, like an acute pain that seems to have no physical
source.” (Nafisi, 2003, p. 3)
4. “Nassrin peers out, like an imp intruding roguishly on a scene it was not
invited to.” (Nafisi, 2003, p. 3)
5. “…she is frowning, as if unaware that she is being photographed.” (Nafisi,
2003, p. 3)
6. “I have to use it, she said, like someone who buys an evening gown and is
so eager that she wears it to the movies, or to lunch.” (Nafisi, 2003, p. 11)
7. “It was as if the sheer act of recounting these stories gave us some control
over them.” (Nafisi, 2003, p. 20)
8. “There was no light, yet the trees were illuminated, as if reflecting a
luminosity that came not from the sun but from within.” (Nafisi, 2003, p.
22)
9. “…we read them apart from our own history and expectations, like Alice
running after the White Rabbit and jumping into the hole.” (Nafisi, 2003,
pp. 25-26)
10. “It was somber and slightly menacing, like the unsmiling portraits of
Ayatollah Khomeini and his anointed su ccessor, Ayatollah Montazeri, that
covered the walls.” (Nafisi, 2003, p. 53)
11. “She was like an intermediary pleading on behalf of an unfaithful and
unforgotten lover, pledging complete loyalty in return for my affections.”
(Nafisi, 2003, p. 117)
12. “A woman in a veil is protected like a pearl in an oyster shell” (Nafisi, 2003,
p. 130)
13. “Living in the Islamic Republic is like having sex with a man you loathe…”
(Nafisi, 2003, p. 215)
14. “Certain memories, like the imaginary balloons Yassi made with her
delicate hands when she was happy.” (Nafisi, 2003, p. 219)
15. “Like balloons, these memories are light and bright and irretrievable.”
(Nafisi, 2003, p. 219)

b) Personifikasi
Kiftiawati dan Sulistyo dalam buku berjudul Buku Pintar Peribahasa
Indonesia berpendapat bahwa majas personifikasi adalah majas yang
melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda
– benda mati sehingga seolah – olah memiliki sifat seperti benda hidup
(Kiftiawati, 2007, p. 361). . Majas personifikasi yang terdapat pada Reading
Lolita In Tehran adalah:

1. “The water caressed (membelai) my neck, my back, my legs…” (Nafisi,


2003, p. 5)
2. “It also became the code word that opened (membuka) the secret cave of
remembrance.” (Nafisi, 2003, p. 14)
3. “Our world under the mullahs' rule was shaped (dibentuk) by the colorless
lenses of the blind censor.” (Nafisi, 2003, p. 16)
4. “…an aura that promised (menjanjikan) spring was on its way.” (Nafisi,
2003, p. 26)
5. “Art is no longer snobbish or cowardly. It teaches (mengajarkan) peasants
to use tractors, gives (memberikan) lyrics to young soldiers, designs textiles
for factory women's dresses, writes (menulis) burlesque for factory theatres,
does (melakukan) a hundred other useful tasks.” (Nafisi, 2003, p. 69)
6. “That first day colored (mewarnai) our relationship-in my mind at least-
until the day I left Iran.” (Nafisi, 2003, p. 114)
7. “…the law really was blind (buta)…” (Nafisi, 2003, p. 177)

c) Metafora
Handiyani, Wildan dan Ramdani dalam buku Persipan UN Bahasa
Indonesia mengemukakan bahwa majas metafora adalah majas perbandingan
yang menggunakan kata – kata kiasan yang tidak menggunakan kata seperti
(Seni Handiyani, 2008, p. 25). . Majas metafora yang terdapat pada Reading
Lolita In Tehran adalah:

1. “Her skin is the color of moonlight.” (Nafisi, 2003, p. 8)


The color of moonlight berarti warnanya sangat putih/terang.
2. “There was always the shadow of another world.” (Nafisi, 2003, p. 22)
The shadow berarti masalah dan another world berarti dunia fiksi yang ada
dalam buku.
3. “The women were the backbone of the family.” (Nafisi, 2003, p. 41)
The backbone of the family artinya wanita menjadi orang yang menghidupi
atau mencari nafkah untuk keluarganya

d) Anafora
Prihantini dalam Master Bahasa Indonesia berpedapat bahwa majas
Anafora adalah majas yang berupa pengulangan kata pada awal kalimat yang
berturut – turut (Prihantini, 2015, p. 2). Majas anafora yang terdapat pada
Reading Lolita In Tehran adalah:

1. “The falsely important, the falsely beautiful, the falsely clever, the falsely
attractive.” (Nafisi, 2003, p. 15)
Terdapat pengulangan kata the falsely diatas.

e) Paradox
Prihantini berpendapat bahwa majas paradox adalah majas yang berupa
pertentangan dua objek yang berbeda tapi mengandung fakta atau kebenaran
(Prihantini, 2015, p. 278). Majas paradox yang terdapat pada Reading Lolita In
Tehran adalah:

1. “The chief film censor in Iran, up until 1994, was blind. Well, nearly blind.”
(Nafisi, 2003, p. 16)
Kutipan ini berarti sensor film di Iran tidka berjalan dengan baik, hal itu
karena pimpinan teratasnya pun tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
2. “Life in death” (Nafisi, 2003, p. 137)
Kutipan ini berarti orang – orang yang hidup diatas orang – orang yang mati
(mayat) saking banyaknya mayat saat perang Iraq dengan Iran.

f) Oxymoron
Kamdhi dalam Terampil berekspresi berpendapat bahwa majas oksimoron
adalah majas pertentangan dari setiap – setiap bagiannya (Kamdhi, p. 130).
1. “She felt secure only in her terrible sense of insecurity.” (Nafisi, 2003, p.
19)

2.8 Analisis Amanat


Utami dan Sukardi dalam Bahasa Indonesia 3 berpendapat bahwa amanat
adalah pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Penyampaian pesan
selalu didasarkan tema dan tujuan yang telah ditetapkan penulis pada saat
menyusun rancangan cerita (Sri Sutami, 2008, p. 60). Amanat atau pesan yang
disampaikan Nafisi dalam Reading Lolita In Tehran diantaranya:

1. Wujudkanlah mimpi yang kita inginkan, seperti Nafisi yang mewujudkan


mimpinya untuk mengajar kelas khusus yang berisi murid – murid
pilihannya yang memang mahir dalam ilmu sastra.
2. Janganlah berhenti untuk membaca dan belajar, karena itu adalah jalan
untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan.
3. Kita harus mampu memisahkan antara dunia fiksi dengan kenyataan.
4. Sesama umat Muslim janganlah saling berperang dan menumpahkan darah.
5. Keadilan haruslah ditegakkan. Keadilan tidaklah memandang agama, ras,
suku, dan golongan. Semua manusia dan semua makhluk di dunia ini
mempunyai hak untuk mendatkan keadilan.
6. Pakaian yang kita kenakan tidaklah menentukan dan mencirikan
kepribadian kita.
7. Wanita Muslim diwajibkan untuk memakai kerudung untuk menutupi
auratnya. Di novel ini terdapat slogan “A woman in a veil is protected like
a pearl in an oyster shell” (Nafisi, 2003, p. 130) yang artinya “Wanita yang
berkerudung terlindungi bagaikan permata yang ada di dalam kerang”.
8. Kemerdekaan bukanlah semata – mata hanya tentang negara yang terbebas
dari penjajahan negara lain, akan tetapi juga adalah kebebasan dalam
berpendapat, berpikit, dan berimajinasi.

2.9 Kaitan Reading Lolita In Tehran dengan Sastra Islam Kontemporer


Novel Reading Lolita In Tehran adalah karya sastra pengarang Islam
yang ada pada masa Islam kontemporer, tepatnya tahun 2003. Arti kontemporer
sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online adalah pada
waktu yang sama, semasa, sewaktu, pada masa kini, dewasa kini. Novel ini
banyak bersetting di negara Republik Islam Iran tepatnya di kota Tehran. Novel
ini banyak menceritakan salah satunya tentang revolusi Islam di Iran. Novel ini
pun menceritakan saat – saat mencekam peran Iran melawan Iraq. Di dalam
novel ini banyak dijelaskna kondisi Republik Islam Iran pada saat perang. Oleh
sebab itulah novel ini termasuk kedalam sastra Islam kontemporer.

III. KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan dan analisis di atas maka dalam novel Reading


Lolita In Tehran mengandung unsur – unsur intrinsik diantaranya tema, tokoh
dan perwatakan, plot/alur, setting/latar, sudut pandang, amanat, dan gaya
bahasa. Unsur – unsur tersebut membangun cerita menjadi satu kesatuan yang
utuh. Tanpa adanya unsur – unsur intrinsik mustahil suatu karya sastra akan
tercipta. Novel Reading Lolita In Tehran yang dikarang oleh Azar Nafisi
merupakan karya sastra Islam kontemporer yang diterbitkan tahun 2003. Novel
ini berada dalam tempat New York Times bestseller selama lebih dari ratusan
minggu dan telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa.

References
Aminuddin. (2013). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Penerbit Sinar
Baru Algesindo Bandung.
Ismail Kusmayadi, D. A. (2008). Be Smart Bahasa Indonesia. Bandung: Grafindo
Media Pratama.
Jakob Sumardjo, S. K. (1998). Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Kamdhi, J. (n.d.). Terampil Berekspresi. Bandung: Grasindo.
Kiftiawati, E. S. (2007). Buku Pintar Peribahasa Indonesia. Jakarta: Puspa Swara.
Nafisi, A. (2003). Reading Lolita In Tehran. New York: Random House Publishing
Group.
Nani Darmayanti, N. H. (2008). Bahasa Indonesia Untuk Sekolah Menengah
Kejuruan Tingkat Unggul (Kelas XII). Bandung: Grafindo Media Pratama.
Nurgiyantoro, B. (2009). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Nurrachman, D. (2014). Classical Critical Theory: From Ancient Greek to Victorian
England. Bandung: Pustaka Aura Semesta.
Prihantini, A. (2015). Master Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit B First.
Ratna, N. K. (2004). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Seni Handiyani, W. S. (2008). Persiapan Ujian Nasional Bahasa Indonesia Untuk
SMP/MTS. Bandung: Grafindo Media Pratama.
Sri Sutami, S. (2008). Bahasa Indonesia 3 SMA Kelas XII. Bogor: Quadra.
Supriatna, A. (2007). Bahasa Indonesia Untuk Kelas VIII SMP. Bandung: Grafindo
Media Pratama.
Susanto. (2013). Sastra, Perempuan, Korupsi. Bojonegoro: Gus Ris Foundation.
Tukan, P. (2007). Mahir Berbahasa Indonesia SMA Kelas X. Yudhistira.
Wicaksono, A. (2014). Catatan Ringkas Stilistika. Garudhawacana.
Wicaksono, A. (2014). Pengkajian Prosa Fiksi. Garudhawaca.