Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA
JUDUL PERCOBAAN

ENZIM
DISUSUN OLEH :

NAMA : M. NAUFAL HIBATULLAH


NIM : 175090207111009
KELOMPOK : 05
TANGGAL PRAKTIKUM : 23 September 2019
ASISTEN : Yolanda Kresmonia

LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap hari tubuh kita terus menerus menerima asupan karbohidrat dari
makanan yang kita makan, khususnya nasi. Nasi yang merupakan polisakarida
merupakan makanan sumber karbohidrat, dalam hal ini adalah kelompok
amilum. Amilum, atau bahasa sehari-harinya adalah pati. Pada saat kita
mengunyah nasi (amilum), maka dalam mulut terjadi suatu reaksi kimia, yaitu
pemecahan ikatan-ikatan pada amilum dengan bantuan enzim, dalam hal ini
adalah enzim amilase yang terdapat dalam saliva (air liur).
Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam sel.
Sekarang, kira-kira lebih dari 2000 enzim telah teridentifikasi, yang masing-
masing berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam sistem hidup. Enzim
merupakan katalisator biologis yang bertanggung jawab untuk mendukung
semua reaksi kimia sel dalam mempertahan homeostatis. Katalisator dapat
berupa enzim maupun senyawa bukan enzim yaitu berupa ion logam. Kofaktor
dapat berupa senyawa organik dengan berat molekul cukup tinggi atau ion
logam (besi, magnesium, zinc, atau kalsium). Senyawa organik ini terkait pada
bagian protein enzim.
1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mempelajari sifat-sifat enzim serta
menentukan kinetika enzim.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Enzim adalah katalis biologis (juga dikenal sebagai biokatalis) yang
mempercepat reaksi biokimia pada organisme hidup. Mereka juga dapat
diekstraksi dari sel dan kemudian digunakan untuk mengkatalisasi berbagai
proses penting secara komersial. Sebagai contoh, mereka memiliki peran
penting dalam produksi zat pemanis dan modifikasi antibiotik, mereka
digunakan dalam mencuci bubuk dan berbagai produk pembersih, dan mereka
memainkan peran kunci dalam perangkat analitik dan pengujian yang memiliki
aplikasi klinis, forensik, dan lingkungan. Kata 'enzim' pertama kali digunakan
oleh ahli fisiologi Jerman Wilhelm Kühne pada tahun 1878, ketika ia
menggambarkan kemampuan ragi untuk menghasilkan alkohol dari gula, dan
itu berasal dari kata Yunani en (artinya 'di dalam') dan zume (artinya 'ragi').
(Peter K. Robinson, 2015)
Enzim memiliki sifat khas terhadap suatu substrat tertentu, kekhasan
inilah yang menjadi ciri suatu enzim. Adapun sifat-sifat khas yang dimiliki
suatu enzim tersebut antara lain sebagai katalisator, enzim bekerja secara
selektif dan spesifik, enzim bekerja secara bolak balik, enzim bersifat
termolabil, hanya diperlukan dalam jumlah sedikit, enzim merupakan koloid
dan enzim mampu menurunkan energi aktivasi. (milanowski,2016)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim antara lain adalah suhu,
Sifat Sifat Enzim seperti Enzim bersifat termolabil, artinya aktivitas enzim
dipengaruhi oleh suhu. Aktivitas enzim akan terus meningkat sampai batas
suhu tertentu. Batas suhu tersebut dinamakan suhu optimum. Jika enzim berada
di bawah suhu optimum maka kerja enzim akan terhambat. Enzim pada suhu
0oC atau di bawahnya brsifat nonaktif. Akan tetapi pada suhu tersebut enzim
tidak rusak. Kenaikan suhu dapat meninkatkan akivitas enzim. Namun, jika
suhu melebihi batas optimum enzim dapat mengalami denaturasi atau
kerusakan. Hal ini, akan mengakibatkan enzim tidak dapat berfungsi sebagai
katalis lagi. Contoh, enzim manusia memiliki suhu optimum 35oC – 40oC,
enzim pada bakteri yang hidup di air panas memiliki suhu optimum 70oC atau
lebih. Selain suhu, faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah derajat
keasaman, Sebagian besar enzim memiliki pH optimum antara 6 – 8.
Perubahan pH mengakibatkan sisi aktif enzim berubah keefektifannya dalam
membentuk kompleks enzim – substrat, sehingga dapat menghalangi
terikatnya substrat pada sisi aktif enzim. Selain itu, perubahan pH juga
mengakibatkan proses denaturasi (kerusakan) pada enzim. Setelah derajat
keasaman faktor lainnya adalah konsentrasi enzim dan substratnya Semakin
besar konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi. Peningkatan
kecepatan reaksi akan terus bertambah hingga tercapai kecepatan konstan
yakni jika semua substrat sudah terikat oleh enzim. Konsentrasi enzim
berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. Faktor terakhir adalah zat activator
dan zat penghambat Aktivator merupakan zat atau molekul yang berfungsi
untuk memacu atau mempercepat reaksi enzim. Contoh dari aktivator antara
lain garam – garam dari logam alkali dalam kondisi encer (2% – 5%), dan ion
logam seperti Ca, Mg, Ni, Mn, dan Cl. Dan ini juga merupakan Faktor yang
Mempengaruhi Kerja Enzim. Inhibitor merupakan sutau molekul yang dapat
menghambat aktivitas enzim. Terdapat dua macam inhibitor enzim, yaitu
inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. (Daniel,2017)
Penggolongan enzim dapat dibedakan berdasarkan reaksi mereka dalam
sebuah mengkatalisis yang menjadi 6 kelompok yaitu : Oksidoreduktase,
transferase, hidrolase, liases, isomearses, ligases. oksidoreduktase ialah suatu
enzim yang mengkatalisis suatu reaksi oksidasi-reduksi. Enzim ini penting
karena suatu reaksi ini bertanggung jawab untuk produksi panas dan energi.
Transferase ialah suatu enzim yang mengkatalisis sebuah reaksi di mana
transfer gugus fungsional antara dua substrat berlangsung. Hidrolase juga
dikenal sebagai enzim hidrolitik, mereka mengkatalisis sebuah reaksi hidrolisis
karbohidrat, protein, dan ester. Liases ialah suatu enzim-enzim yang
mengkatalis sebuah reaksi yang melibatkan penghapusan kelompok dari
substrat oleh proses selain hidrolisis oleh suatu pembentukan ikatan ganda.
Isomerase ialah suatu enzim-enzim yang mengkatalisis sebuah reaksi di mana
interkonversi isomer cis-trans yang terlibat. Ligase juga dikenal sebagai
Sintase, yaitu suatu enzim yang mengkatalisis sebuah reaksi di mana kopling
dua senyawa yang terlibat dengan memecah sebuah ikatan pirofosfat.(cuesta,
2015)
Dalam reaksi enzim dikenal kecepatan reaksi hidrolisis, penguraian, atau
reaksi katalis yang disebit Velocity (V). Harga V dari suatu reaksi enzimatik
pada umumnya sangat tergantung pada konsentrasi substrat. Semakin tinggi
konsentrasi substrat reaksi enzim semakin cepat, sampai mencapai kecepatan
tetap. Leoner Michaelis dan Maud Menten mengajukan suatu model, bahwa
dalam suatu reaksi enzim selalu terbentuk senyawa peralihan ES. Pembentukan
senyawa kompleks ES dari E dan S berlangsung dengan konstanta kecepatan
k1. Kompleks ES kemudian mengalami 2 kemungkinan penguraian yaitu,
pertama kembali terurai menjadi E dan S dengan konstanta kecepatan k2, atau
melanjutkan reaksi dengan menghasilkan produk (P) dan E dengan konstanta
k3, dengan asumsi tidak ada P yang dapat diubah lagi menjadi S. ( ani , 2008)
kinetika Michaelis–Menten adalah salah satu model kinetika enzim yang
diketahui paling baik. Model ini dinamai dari biokimiawan Jerman Leonor
Michaelis dan fisikawan Kanada Maud Menten. Model ini mengambil bentuk

persamaan yang menggambarkan laju reaksi enzimatik, dengan


menghubungkan laju reaksi enzimatik (laju pembentukan produk, [P])
terhadap [S], konsentrasi substrat S. Rumus kinetika ini dituliskan sebagai
(ani,2008)
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri
yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat
memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase diduga penting untuk
pertumbuhan aerobik karena H2O2 yang dibentuk dengan pertolongan berbagai
enzim pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Beberapa bakteri yang
termasuk katalase negatif adalah Streptococcus, Leuconostoc, Lactobacillus,
dan Clostridium. Peroksidase adalah salah satu dari sejumlah enzim yang
bertindak sebagai katalis untuk memungkinkan berbagai proses biologis
berlangsung. Secara khusus, mereka mendorong oksidasi berbagai senyawa
menggunakan secara alami peroksida, terutama hidrogen peroksida (H2O2),
yang direduksi, membentuk air. Peroksida diciptakan sebagai produk
sampingan dari berbagai reaksi biokimia dalam organisme, tetapi dapat
menyebabkan kerusakan karena mereka oksidator. Peroksidase memecah
senyawa zat berbahaya dengan menambahkan hidrogen, yang diperoleh dari
molekul lain – yang dikenal sebagai molekul donor – reaksi reduksi-oksidasi
(redoks) di mana peroksida direduksi untuk membentuk air, dan molekul
teroksidasi lainnya. Ada sejumlah besar enzim ini, dan mereka ditemukan pada
tumbuhan dan hewan, termasuk manusia. (robinson,2015)

Rumus kimia dari paraphenildiamin adalah C6H8N2. Paraphenildiamin ini


umumnya digunakan pada bidang industry seperti bulu pewarna, proses fotokimia dan
vulkanisasi ban. Struktur dari paraphenildiamin yaitu (Raman, 2019) :
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini diantaranya adalah
erlenmeyer, pipet ukur, labu, tabung reaksi, penangas air, buret, tabung katalase,
bola hisap.
3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini diantaranya adalah kasein,
NaOH 1 N, HCl 1 N, tripsin 40 g/L, formaldehid 400 g/L, phenolphthalein 0,25%,
NaOH 0,2 M, Na2CO3 0,1 M, larutan fenol merah 0,04%, minyak olive, etanol, air
susu, larutan H2O2 0,5% dan 1%, larutan paraphenildiamin 2%.
3.3 Metode Percobaan
3.3.1 Penentuan Konstanta Michaelis Pada Hidrolisa Kasein Oleh Tripsin
Dimasukkan 5 mL formaldehida ke dalam 6 buah erlenmeyer 100 mL.
Ditambahkan pada masing-masing erlenmeyer 1 tetes indikator pp dan larutan
NaOH sampai larutan berwarna merah muda. Dipipet 10 mL larutan tripsin yang
telah dipanaskan 37oC. Dimasukkan ke dalam labu yang berisi 100 mL larutan
kasein pada 37oC lalu dicampur dan dicatat waktu pencampuran. Dipipet 10 mL
campuran pada menit ke 0, 2, 4, 6, 8, 10. Dimasukkan masing-masing larutan
campuran tersebut ke dalam erlenmeyer yang telah berisi larutan formaldehid
netral. Digunakan larutan kasein dengan konsentrasi 5, 10, 15, 20 dan 30 g/L.
3.3.2 Penentuan Aktivitas Lipase
Disediakan 4 buah tabung reaksi dan masing-masing diberi nomor 1 s/d 4
lalu diisi 2 mL suspensi ekstrak pancreas. Dimatikan larutan enzim pada tabung
no.1 dengan cara memanaskan pada suhu 100o C selama 1 menit. Ditambahkan 5
mL emulsi minyak dan air 1 mL pada tiap tabung reaksi sehingga volume akhir 8
mL. Diinkubasi campuran pada 37oC dengan variasi waktu masing-masing 15, 30
dan 45 menit untuk tabung 2 – 4 sedangkan tabung 1 dianggap 1 menit karena enzim
dimatikan. Dituangkan tiap-tiap campuran ke dalam 4 labu erlenmeyer 100 mL dan
ditambahkan 20 mL alkohol 95% serta 3 tetes pp. Dititrasi dengan 0,05 M NaOH
sampai warna merah muda.
3.3.3 Uji Katalase
Diisikan 10 mL air susu pada tabung katalase. Ditambahkan 5 mL larutan
H2O2 lalu diaduk dan dibolak balikan. Diperhatikan pada tabung yang berskala
tidak ada gelembung udara (pada ujungnya). Ditetapkan volume gas O2 yang
terkumpul pada ujung tabung berskala setelah 3 jam. Dijumlah mili oksigen sama
dengan katalase.
3.3.4 Uji Peroksidase
Ditambahkan 5 mL air susu ke dalam 3 buah tabung reaksi. Dipanaskan
tabung no.2 pada 70o C dan tabung no.3 dipanaskan sampai 90oC. Ditambahkan
6 tetes larutan paraphenildiamin pada semua tabung reaksi dan 8 tetes larutan
H2O2. Diamati perubahan warna yang terjadi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel Hasil Pengamatan (Uji PEROKSIDASE)
No Perlakuan Pengamatan
1. Dimasukan masing-masing 5 5 air susu dalam 3 tabung reaksi
mL air susu kedalam 3 tabung yang berbeda
reaksi yang berbeda
2. Dipanaskan tabung no.2 pada Air susu pada tabung no.2 dan
70oC dan tabung no.3 pada tabung no.3 terjadi kenaikan suhu
90oC selama 5 menit
3. Ditambahkan 6 tetes parafenil Campuran air susu dan
diamin kedalam ketiga tabung parafenildiamin tidak terjadi
reaksi perubahan warna apapun
4. Ditambahkan 8 tetes larutan Campuran air susu,
H2O2 pada ketiga tabung, dan parafenildiamin, dan larutan
digoyangkan H2O2 , terjadi perubahan warna
pada larutan susu
5. Diamati perubahan warna yang Tabung no.1 : putih keruh
terjadi Tabung no.2 : putih keruh
Tabung no.3 : putih keruh

4.2 Perhitungan
4.2.1 Penentuan Aktivitas Lipase
a. Tabung Reaksi 1
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉
𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) = 𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
0,2 𝑁 𝑥 0,05 𝑚𝐿
= 2 𝑚𝐿 𝑥 0 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = ∞ N/menit
b. Tabung Reaksi 2
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) = 𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
0,2 𝑁 𝑥 0,1 𝑚𝐿 -4
= 2 𝑚𝐿 𝑥 15 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 6,67 x 10 N/menit
c. Tabung Reaksi 3
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉
𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) = 𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

0,2𝑁 𝑥 0,15 𝑚𝐿
= 2 𝑚𝐿 𝑥 30 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 5 x 10-4 N/menit

d. Tabung Reaksi 4
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉
𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) = 𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

0,2 𝑁 𝑥 0,2 𝑚𝐿
= 2 𝑚𝐿 𝑥 45 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 4,44 x 10-4 N/menit
4.2.2. Kurva Hubungan Waktu Inkubasi terhadap Volume Titrasi

Kurva Hubungan Waktu Inkubasi


terhadap Volume Titrasi
0.25
0.2
Vol. titrasi 0.15
0.1
0.05
0
0 10 20 30 40 50
t Inkubasi

4.2.3. Penentuan Konstanta Michaelis pada Hidrolisa Kasein oleh Tripsin


a. Kasein 5 g/L
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 0 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,40 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = ∞ µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
0 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 5 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,45 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 18 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
5 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 10 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 7 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
10 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

b. Kasein 10 g/L
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 0 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,40 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = ∞ µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
0 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 5 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 14 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
5 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 10 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 7 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
10 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

c. Kasein 15 g/L
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 0 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = ∞ µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
0 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 5 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 0,30 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 12 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
5 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 10 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,2 𝑁 𝑥 1,4 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 28 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
10 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

4.2.4. Kurva Hubungan Vo dengan t


a. Kasein 5 g/L

Kurva Hubungan Vo dengan t pada


Kasein 5 g/L
5 y = 0.175x + 1.2083
4
3
Vo

2
1
0
0 2 4 6 8 10 12
t inkubasi (menit)

y = 0,175x + 1,2083
y = ax + b
1 1
Vmaks = 𝑏 = 1,2083 = 0,8276
Km = a x Vmaks = 0,175 x 0,8276 = 0,1448

b. Kasein 10 g/L

Kurva Hubungan Vo dengan t pada


Kasein 10 g/L
4 y = 0.175x + 0.875
3
Vo

2
1
0
0 2 4 6 8 10 12
t inkubasi (menit)

y = 0,175x + 0,875
y = ax + b
1 1
Vmaks = 𝑏 = 0,875 = 1,1429
Km = a x Vmaks = 0,175 x 1,1429 = 0,2

c. Kasein 15 g/L

Kurva Hubungan Vo dengan t pada


Kasein 15 g/L
8
6
4
Vo

2
0 y = 0.7x - 0.1667
0 2 4 6 8 10 12
-2
t inkubasi (menit)

y = 0,7x + 0,1667
y = ax + b
1 1
Vmaks = 𝑏 = 0,1667 = 5,998
Km = a x Vmaks = 0,7 x 5,998 = 4,199

4.2.5. Kurva Hubungan 1/C denan 1/Vo maks

Kurva Hubungan 1/C denan 1/Vo


maks
8
6
1/Vo maks

4
2
0 y = -11.871x + 6.464
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
1/C

y= ax + b
y = -11,871x + 6,464
1 1
Vmaks = 𝑏 = 6,464 = 0,1547
Km = a x Vmaks = 0,7 x 5,998 = -1,836

4.2.6. Uji Katalase


a. Tabung Pertama (0,5% H2O2)
 30 menit pertama
V = π x r2 x t
= 3,14 x (0,5)2 x 0
=0

 30 menit kedua
V = π x r2 x t
= 3,14 x (0,5)2 x 0,5 cm
= 0,3925 cm3

 30 menit ketiga
V = π x r2 x t
= 3,14 x (0,5)2 x 0,6
= 0,471 cm3

b. Tabung Kedua (1% H2O2)


 30 menit pertama
V = π x r2 x t
= 3,14 x (0,5)2 x 0
=0

 30 menit kedua
V = π x r2 x t
= 3,14 x (0,5)2 x 0,5 cm
= 0,3925 cm3

 30 menit ketiga
V = π x r2 x t
= 3,14 x (0,5)2 x 0,7 cm
= 0,5495 cm3

4.3 Pembahasan
4.3.1 Penentuan Konstanta Michaelis Menten
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini diantaranya yaitu
erlenmeyer yang befungsi untuk menampung larutan yang akan dititrasi,
pipet berfungsi untuk mengambil larutan. Sedangkan bahan-bahan yang
digunakan pada percobaan ini diantaranya yaitu formaldehida yang
berfungsi sebagai pereaksi, indikator pp (phenolphthalein) berfungsi
untuk menentukan titik akhir pada proses titrasi, larutan NaOH untuk
membuat suasana basa, larutan kasein berfungsi sebagai sampel, tripsin
berfungsi sebagai katalis hidrolisa larutan kasein.
Langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan ini yang pertama
yaitu semua alat yang akan digunakan dicuci dan dibilas dengan aquades
agar bebas dari zat kontaminan dan bahan yang akan digunakan juga
disiapkan. Larutan kasein diencerkan secara bertingkat dengan
kosentrasi 5, 10 dan 15 g/L. Kemudian diambil larutan kasein yang telah
diencerkan tersebut masing-masing 5 mL lalu dimasukkan ke dalam
erlenmeyer. Kasein tersebut berfungsi sebagai sampel. Kemudian
ditambahkan 1 mL tripsin sebagai katalis hidrolisa larutan kasein pada
masing-masing erlenmeyer. Dilakukan inkubasi pada suhu 37oC selama
0, 5 dan 10 menit. Variasi waktu dilakukan untuk mengetahui waktu
maksimal inkubasi pada proses hidrolisis kasein yang dapat
mempengaruhi aktivitas kerja tripsin terhadap kasein. setelah inkubasi
selesai, kemudian ditambahkan dengan formaldehida sebanyak 5mL
agar bereaksi dengan gugus asam amino bebas dari kasein dan
menghasilkan metilol. Lalu ditambahkan dengan indikator PP sebanyak
2 tetes untuk mengetahui titik akhir dari titrasi. Selanjutnya di titrasi
dengan NaOH yang berfungsi peniter dan dititrasi sampai terjadi
perubahan warna.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan, warna
kasein dengan konsentrasi 5, 10 dan 15 g/L sebelum dilakukan inkubasi
adalah kuning. Pada kasein konsentrasi 5, 10 dan 15 g/L dengan waktu
inkubasi 0 menit larutan menjadi tidak bewarna kemudian dititrasi
dengan NaOH dengan volume NaOH untuk titrasi masing-masing yaitu
0,4; 0,4; dan 0,35 mL. Setelah diinkubasi selama 5 menit, masing-
masing kasein dengan konsentrasi 5, 10 dan 15 g/L menjadi tidak
berwarna yang kemudian dititrasi dengan NaOH dan volume NaOH
berturut-turut yaitu 0,45; 0,35 dan 0,30 mL. Sedangkan setelah
diinkubasi selama 10 menit, masing-masing kasein dengan konsentrasi
5, 10 dan 15 g/L menjadi tidak berwarna yang kemudian dititrasi dengan
NaOH dan volume NaOH berturut-turut yaitu 0,35; 0,35 dan 1,4 mL.
Persamaan Michaelis Menten merupakan konstanta (Km) yang bersifat khas
dan digunakan untuk memperkirakan jumlah suatu substrat. Nilai Km
berhubungan dengan nilai V maks. V maks merupakan suatu aktivitas enzim
maksimum yang diperlukan oleh enzim. Nilai Vmaks akan dipengaruhi oleh
konsentrasi suatu substrat dan enzim, pH serta suhu. Reaksi yang terjadi
(Ratyani, 2015):

4.3.2 Penentuan Aktivitas Lipase


Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini diantaranya yaitu
tabung reaksi yang befungsi sebagai tempat dari sampel untuk
mereaksikan atau mencampurkan, penangas air berfungi untuk
memanaskan sampel supaya reaksi cepat bereaksi, erlenmeyer yang
befungsi untuk menampung larutan yang akan dititrasi. Sedangkan
bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini diantaranya yaitu
ektrak pankreas yang berfungi sebagai sampel, emulsi minyak dan air
berfungsi untuk mengaktifkan enzim lipase,
Langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan ini pertama yaitu
dicuci alat yang akan digunakan dan dibilas dengan aquades supaya
terbebas dari zat kontaminan. Disiapkan 4 buah tabung reaksi dan
masing-masing diberi nomor 1 s/d 4. Kemudian masing-masing tabung
reaksi diisi dengan 2 mL suspensi ekstrak pankreas. Lalu ditambahkan
dengan 5 mL emulsi minyak dan 1 mL air ke dalam setiap tabung agar
dapat mengaktifkan enzim lipase. Enzim lipase ini digunakan untuk
mengkatalisis trigliserol. Pada tabung 2-4 diinkubasi untuk mengetahui
aktivitas enzim yang terjadi dan mengetahui kinerja fungsi katalitik.
Setelah itu ditambahkan dengan 20 mL etanol sebagai pelarut dan
dimasukkan ke dalam 4 erlenmeyer yang berbeda. Dimasukkan masing-
masing larutan campuran yang telah diinkubasi ke dalam masing-
masing Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes pp sebagai indikator untuk
mengetahui titik akhir dari titrasi yang ditandai dengan terjadinya
perubahan warna.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data
volume NaOH yang yang digunakan saat titrasi pada Erlenmeyer 1, 2, 3
dan 4 berturut-turut yaitu 0,05; 0,1; 0,15; dan 0,2 mL. Larutan dititrasi
hingga warna berubah menjadi merah muda. Setelah itu dilakukan
perhitungan untuk mengetahui aktivitas dari lipase. Pada tabung 1
dengan waktu inkubasi 0 menit didapatkan aktivitas lipase ∞ N/menit,
pada tabung 2 dengan waktu inkubasi 15 menit didapatkan aktivasi
lipase sebesar 6,67 x 10-4 N/menit, pada tabung 3 dengan waktu inkubasi
30 menit didapatkan aktivitas lipase sebesar 5 x 10-4 N/menit, sedangkan
pada tabung 4 dengan waktu inkubasi 45 menit didapatkan aktivitas
lipase sebesar 4,44 x 10-4 N/menit. Hasil yang didapatkan sesuai dengan
literatur yaitu bahwa volume titrasi NaOH akan meningkat apabila
waktu yang dibutuhkan untuk inkubasi juga semakin lama karena enzim
semakin terdenaturasi (Wardoyo, 2017). Selain itu, konsentrasi dari
substrat dan enzim mempengaruhi proses reaksi. Jika suatu substrat atau enzim
memiliki konsentrasi tinggi maka kerja enzim akan cepat (Sulistyowati, 2016).
Hal ini sesuai dengan percobaan yang dilakukan dimana semakin tinggi suhu
maka nilai suatu aktivitas akan turun ketika suhu mencapai 100 0C.

4.3.3 Uji Katalase


Pada percobaan ini digunakan beberapa alat di antaranya tabung
katalase steril yang digunakan sebagai tempat mereaksikan larutan, pipet
volume 10 mL yang digunakan untuk mengambil larutan secara kuantitatif,
pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan dalam skala kecil, gelas
kimia 100 mL digunakan sebagai wadah tabung katalase agar bisa berdiri
tegak dan oven 37˚C digunakan untuk menginkubasi enzim katalase. Bahan-
bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain air susu yang
digunakan sebagai sampel enzim katalase; larutan H2O2 0,5% dan 1%
digunakan sebagai pereaksi yang membebaskan oksigen dalam campuran,
dan alumunium foil digunakan sebagai penutup tabung katalase.
Pada percobaan ini, hal yang pertama dilakukan adalah mencuci
semua alat yang akan digunakan dan dikeringkan dengan tisu. Hal ini
dilakukan agar alat yang akan digunakan bebas dari kontaminan. Kemudian
dipipet 8 mL susu sebanyak 2 kali dan dimasukkan ke dalam dua gelas kimia
100 ml. Setelah itu ditambahkan 8 ml H2O2 0,5% pada gelas kimia 1 dan 8
mL H2O2 1% pada gelas kimia 2. Hal ini dilakukan untuk memperoleh
variasi data. Diaduk hingga homogen dan kemudian dipindahkan ke tabung
katalase. Penambahan larutan H2O2 berfungsi untuk melihat aktivitas enzim
katalase yang ditandai dengan pembebasan oksigen dari larutan H2O2.
Kemudian tabung katalase ditutup dengan alumunium foil dan dimasukkan
ke dalam gelas kimia 100 ml agar tidak tumpah, diinkubasi pada suhu 37˚C
selama 90 menit dan diamati banyaknya gas oksigen setiap 30 menit.
Inkubasi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat reaksi antara enzim
katalase dengan H2O2 sehingga dihasilkan gas oksigen. Inkubasi dilakukan
pada suhu 37˚C karena enzim katalase bekerja optimum pada suhu tersebut.
Pengamatan setiap 30 menit ini dilakukan untuk mengetahui terbentuknya
atau terbebas gelembung gas oksigen setiap 30 menit sekali, sehingga dapat
diketahui penambahan oksigen.
Prinsip uji katalase adalah menguji enzim katalase yang berada pada
susu atau untuk menguji aktivitas enzim katalase dalam susu dengan cara
mereaksikan dengan H2O2. Di mana interaksi antara enzim katalase dengan
H2O2 ini dipercepat dengan inkubasi. Sehingga akan diketahui seberapa
besar gas oksigen yang dihasilkan.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data
banyaknya gelembung oksigen pada penambahan H2O2 0,5% pada waktu 30
menit pertama adalah tidak ada, 30 menit ke-2 adalah 0,5 cm dan 30 menit
ke-3 adalah 0,6 cm. Sedangkan untuk penambahan H2O2 1% pada waktu 30
menit pertama adalah tidak ada, 30 menit ke-2 adalah 0,5 cm dan 30 menit
ke-3 adalah 0,7 cm. Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa
penambahan gelembung oksigen konstan. Hal ini menandakan bahwa
aktivitas enzim katalase adalah konstan. Dari perhitungan diperoleh volume
oksigen yang terbentuk pada penambahan H2O2 0,5% dalam waktuk 30
meniit ke 1-3 secara berturut-turut adalah 0 cm3; 0,3926 cm3 dan 0,471 cm3.
untuk penambahan penambahan H2O2 1% dalam waktuk 30 meniit ke 1-3
secara berturut-turut adalah 0 cm3; 0,3925 cm3 dan 0,549 cm3.
Berdasarkan literatur (Polandh, 2014), gas oksigen yang terbentuk lebih
banyak pada penambahan H2O2 1%. Hal tersebut dikarenakan semakin
tinggi konsentrasi substrat (H2O2), maka semakin banyak pula gas oksigen
yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yang telah dilakukan.
Enzim katalase termasuk enzim hidroperoksidase yang melindungi tubuh
dari senyawa peroksida yang berbahaya. Semakin banyak oksigen yang
yang terbentuk dalam tabung katalase, menunjukkan semakin banyak enzim
katalase yang berada dalam susu dan semakin aktif enzim tersebut. Sehingga
kualitas susu yang banyak mengandung oksigen adalah rendah karena
banyak kandungan kuman-kuman penyusun enzim katalase.
4.3.4 Uji Peroksidase
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini diantaranya yaitu
tabung reaksi yang befungsi sebagai tempat dari sampel untuk
mereaksikan atau mencampurkan, penangas air berfungsi untuk
memanaskan sampel supaya cepat bereaksi, pipet tetes berfungsi untuk
mengambil larutan. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan
diantaranya yaitu susu yang berfungsi sebagai sampel, parafenildiamin
berfungsi sebagai indikator agar mudah menentukan sampel yang telah
bereaksi dengan H2O2 dan membentuk O2, H2O2 berfungsi untuk
menghilangkan kadar O2 pada sampel sehingga enzim peroksidase akan
mereduksi H2O2.
Langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan ini pertama yaitu
dimasukkan masing-masing 5 mL air susu sebagai sampel ke dalam 3
tabung reaksi yang berbeda. Dipanaskan tabung no.2 pada suhu 70oC
dan tabung no.3 pada suhu 90oC selama 5 menit. Pemanasan tersebut
dilakukan untuk mempercepat reaksi dan supaya terebentuk endapan.
Setelah itu ditambahkan 6 tetes parafenildiamin ke dalam ketiga tabung
reaksi sebagai indikator. Setelah itu ditambahkan dengan 8 tetes larutan
H2O2 pada ketiga tabung reaksi dan dikocok agar dapat menghilangkan
kadar O2 pada sampel sehingga enzim peroksidase akan mereduksi
H2O2.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan data
perubahan pada larutan yaitu menjadi keruh. Susu tersebut dipanaskan
agar dapat diamati kinerja enzim dan terjadinya proses denaturasi. Susu
pada tabung no.2 dipanaskan pada 70oC untuk mengetahui kenaikan laju
reaksi yang paling cepat. Selain itu tabung no.3 dipanaskan pada suhu
90oC karena telah mencapa suhu optimum sehingga laju reaksi akan
turun. Semakin tinggi suhu maka laju reaksi enzim akan meningkat
sampai suhu maksimum (Sutrisno, 2017). Setelah dipanaskan terjadi
perubahan yaitu pada ketiga tabung reaksi tersebut larutan menjadi putih
keruh dengan urutan kekeruhan yaitu tabung no.3 > no.2 > no.1. Larutan
menjadi keruh karena enzim peroksidase yang juga merupaka protein
mengalami proses denaturasi sehingga enzim tersebut rusak dan
menyebabkan larutan menjadi keruh.
Denaturasi adalah proses terpecahnya ikatan hydrogen, interaksi
hidrofilik dan terbukanya suatu lipatan atau win molekul. Denaturasi
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu pH, gula, ion logam
dan sifat dari protein itu sendiri (Wahyuni, 2018).
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam sel.
Sekarang, kira-kira lebih dari 2000 enzim telah teridentifikasi, yang masing-
masing berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam sistem hidup. Enzim
merupakan katalisator biologis yang bertanggung jawab untuk mendukung
semua reaksi kimia sel dalam mempertahan homeostatis.
warna kasein dengan konsentrasi 5, 10 dan 15 g/L sebelum dilakukan
inkubasi adalah kuning. Pada kasein konsentrasi 5, 10 dan 15 g/L dengan waktu
inkubasi 0 menit larutan menjadi tidak bewarna kemudian dititrasi dengan
NaOH dengan volume NaOH untuk titrasi masing-masing yaitu 0,4; 0,4; dan
0,35 mL. Setelah diinkubasi selama 5 menit, masing-masing kasein dengan
konsentrasi 5, 10 dan 15 g/L menjadi tidak berwarna yang kemudian dititrasi
dengan NaOH dan volume NaOH berturut-turut yaitu 0,45; 0,35 dan 0,30 mL.
Sedangkan setelah diinkubasi selama 10 menit, masing-masing kasein dengan
konsentrasi 5, 10 dan 15 g/L menjadi tidak berwarna yang kemudian dititrasi
dengan NaOH dan volume NaOH berturut-turut yaitu 0,35; 0,35 dan 1,4 mL.
Persamaan Michaelis Menten merupakan konstanta (Km) yang bersifat khas
dan digunakan untuk memperkirakan jumlah suatu substrat. Nilai Km
berhubungan dengan nilai V maks. V maks merupakan suatu aktivitas enzim
maksimum yang diperlukan oleh enzim. Nilai Vmaks akan dipengaruhi oleh
konsentrasi suatu substrat dan enzim, pH serta suhu.
Pada tabung 1 dengan waktu inkubasi 0 menit didapatkan aktivitas lipase
∞ N/menit, pada tabung 2 dengan waktu inkubasi 15 menit didapatkan aktivasi
lipase sebesar 6,67 x 10-4 N/menit, pada tabung 3 dengan waktu inkubasi 30
menit didapatkan aktivitas lipase sebesar 5 x 10-4 N/menit, sedangkan pada
tabung 4 dengan waktu inkubasi 45 menit didapatkan aktivitas lipase sebesar
4,44 x 10-4 N/menit. Hasil yang didapatkan sesuai dengan literatur yaitu bahwa
volume titrasi NaOH akan meningkat apabila waktu yang dibutuhkan untuk
inkubasi juga semakin lama karena enzim semakin terdenaturasi.
gelembung oksigen pada penambahan H2O2 0,5% pada waktu 30 menit
pertama adalah tidak ada, 30 menit ke-2 adalah 0,5 cm dan 30 menit ke-3
adalah 0,6 cm. Sedangkan untuk penambahan H2O2 1% pada waktu 30 menit
pertama adalah tidak ada, 30 menit ke-2 adalah 0,5 cm dan 30 menit ke-3
adalah 0,7 cm. Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa penambahan
gelembung oksigen konstan. Hal ini menandakan bahwa aktivitas enzim
katalase adalah konstan. Dari perhitungan diperoleh volume oksigen yang
terbentuk pada penambahan H2O2 0,5% dalam waktuk 30 meniit ke 1-3 secara
berturut-turut adalah 0 cm3; 0,3926 cm3 dan 0,471 cm3. untuk penambahan
penambahan H2O2 1% dalam waktuk 30 meniit ke 1-3 secara berturut-turut
adalah 0 cm3; 0,3925 cm3 dan 0,549 cm3.
Pengaruh suhu pada uji peroksidase memungkinkan enzim bekerja pada
suhu optimum tetapi yang didapatkan tidak terlalu optimum, enzim
peroksidase sendiri bekerja optimum pada rentang suhu 70oC, ketika
ditambahkan parafenil diamin dan H2O2 terjadi perubahan warna dari putih
menjadi sedikit keruh karena H2O2 melepas O2 yang menimbulkan perubahan
warna dengan tingkat kekeruhan warna tabung 3 > tabung 2 > tabung 1,
menunjukan bahwa suhu berpengaruh terhadap kerja enzim.
5.2 Saran
Sebelum praktikum dimulai diharapkan praktikan memahami dan
mempelajari prosedur kerja yang akan dilakukan agar tidak terjadi kesalahan
dalam pengambilan data dan perlakuan uji praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Robinson, P. K. (2015). Enzymes: principles and biotechnological applications.


Essays In Biochemistry, 59(0), 1–41. doi:10.1042/bse0590001
Cuesta, Sergio Martinez, et al. 2015 , the classification and evolution of enzyme
function , biophysical journal
Suryani, ani. 2008, kinetika enzim , fakultas teknologi pertania institute pertanian
bogor, bogor.
Milanowski, Piotr. 2016, Enzyme Catalysis and the Outcome of Biochemical
Reactions , Journal of Proteomics & Bioinformatics
Daniel, R. M., Danson, M. J., Eisenthal, R., Lee, C. K., & Peterson, M. E. (2017).
The effect of temperature on enzyme activity: new insights and their implications.
Extremophiles, 12(1), 51–59. doi:10.1007/s00792-007-0089-7
Susianti, R dan Fidia Fibriana. 2017. Teknologi Enzim. Yogyakarta : Penerbit
ANDI.
Sutrisno, Aji. 2017. Teknologi Enzim. Malang : UB Press.
Wahyuni, Fitri dan Osfar Sjofjan. 2018. Pengaruh Pengukusan Terhadap
Kandungan Nutrisi Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L) Sebagai Bahan
Pakan Ternak Unggas. Jurnal Ternak Tropika Vol 19, No. 2 pp. 139-148
Wardoyo, Fandhi Adi dan Aprilia Indra Kartika. 2017. Imobilisasi Enzim Lipase
pada Padatan Pendukung Zeolit Alam. Prosiding Seminar Nasional
Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas
Muhammadiyah Semarang
LAMPIRAN
A. Penentuan Konstanta Michaelis pada Hidrolisa Kasein oleh Tripsin
1. Tentukan aktivitas enzim pada berbagai konsentrasi substrat!
a. Kasein 5 g/L
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 0 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 0,40 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = ∞ µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
0 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 5 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 0,45 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 4,5 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
5 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 10 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 1,75 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
10 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

b. Kasein 10 g/L
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 0 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 0,40 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = ∞ µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
0 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 5 menit) =
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 3,5 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
5 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 10 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 1,75 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
10 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

c. Kasein 15 g/L
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 0 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

(0,05 𝑀 𝑥 0,35 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿


= = ∞ µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
0 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 5 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 0,30 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 3 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
5 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻 ) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
Vo (pada 10 menit) = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
(0,05 𝑀 𝑥 1,4 𝑚𝐿) 𝑥 103 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
= = 7 µ 𝑚𝑜𝑙/𝐿
10 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
2. Buat kurva V terhadap S, 1/V terhadap 1/S, S/V terhadap S!
Kurva Hubungan Vo dengan t pada
Kasein 5 g/L
5 y = 0.175x + 1.2083
4
3
Vo

2
1
0
0 2 4 6 8 10 12
t inkubasi (menit)

Kurva Hubungan Vo dengan t pada


Kasein 10 g/L
4 y = 0.175x + 0.875
3
Vo

2
1
0
0 2 4 6 8 10 12
t inkubasi (menit)

Kurva Hubungan Vo dengan t pada


Kasein 15 g/L
8
6
4
Vo

2
0 y = 0.7x - 0.1667
0 2 4 6 8 10 12
-2
t inkubasi (menit)
Kurva Hubungan 1/C denan 1/Vo
maks
8
6
1/Vo maks

4
2
0 y = -11.871x + 6.464
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
1/C

3. Tentukan nilai V dan Km!


a. Kasein 5 g/L
y = 0,175x + 1,2083
y = ax + b
1 1
Vmaks = 𝑏 = 1,2083 = 0,8276
Km = a x Vmaks = 0,175 x 0,8276 = 0,1448

b. Kasein 10 g/L
y = 0,175x + 0,875
y = ax + b
1 1
Vmaks = = = 1,1429
𝑏 0,875
Km = a x Vmaks = 0,175 x 1,1429 = 0,2

c. Kasein 15 g/L
y = 0,7x + 0,1667
y = ax + b
1 1
Vmaks = 𝑏 = 0,1667 = 5,998
Km = a x Vmaks = 0,7 x 5,998 = 4,199
4.3.3 B. Penentuan Aktivitas Lipase
e. Tabung Reaksi 1
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) =
𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
0,2 𝑁 𝑥 0,05 𝑚𝐿
= 2 𝑚𝐿 𝑥 0 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = ∞ N/menit
f. Tabung Reaksi 2
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) = 𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
0,2 𝑁 𝑥 0,1 𝑚𝐿 -4
= 2 𝑚𝐿 𝑥 15 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 6,67 x 10 N/menit
g. Tabung Reaksi 3
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉
𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) = 𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
0,2𝑁 𝑥 0,15 𝑚𝐿
= 2 𝑚𝐿 𝑥 30 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 5 x 10-4 N/menit

h. Tabung Reaksi 4
𝑁𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉
𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
Aktivitas Lipase (A) = 𝑉𝑜𝑙.𝐸𝑛𝑧𝑖𝑚 𝑥 𝑡.𝐼𝑛𝑘𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

0,2 𝑁 𝑥 0,2 𝑚𝐿
= 2 𝑚𝐿 𝑥 45 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 4,44 x 10-4 N/menit

4.2.2. Kurva Hubungan Waktu Inkubasi terhadap Volume Titrasi

Kurva Hubungan Waktu Inkubasi


terhadap Volume Titrasi
0.25
0.2
Vol. titrasi

0.15
0.1
0.05
0
0 10 20 30 40 50
t Inkubasi

C. Uji Katalase

1. Bagaimana dengan kualitas susu yang saudara periksa, apabila angka


katalasenya diatas normal (>2)
Tidak, data yang didapat kurang dari 2 yaitu pada 30 menit pertama didapatkan V= ∞, V=
0.3925 cm3 pada 30 menit ke 2, dan V = 0.471 cm3 pada 30 menit ke 3 serta didapatkan
tinggi rata-rata H2O2 0.5 % ialah 0,367. Sedangkan untuk H2O2 1 % didapatkan V= ∞, V=
0.3925 cm3 pada 30 menit ke 2, dan V = 0.5495 cm3 pada 30 menit ke 3 serta didapatkan
tinggi rata-rata H2O2 0.5 % ialah 0,4 cm.