Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem saluran cerna, lambung, dan usus dapat dipahami bahwa sebagai
pintu gerbang masuk zat-zat gizi dari makanan, vitamin, mineral dan cairan yang
memasuki tubuh. Fungsinya adanya sistem ini adalah mencernakan makanan
dengan cara menggilingnya dan kemudian mengubah secara kimiawi ketiga
komponen penting (protein, lemak, dan karbohidrat) menjadi unit –unit yang
siap diresorpsi tubuh. Proses pencernaan ini dibantu oleh enzim-enzim
pencernaan yang terdapat pada ludah, getah lambung, dan getah pankreas.
Sedangkan produk-produk hasil pencernaan yang bermanfaat bagi tubuh, beserta
vitamin, mineral, dan cairan melintasi selaput lendir (mukosa) usus untuk ke
aliran darah dan getah-bening (limfe). Pada proses pencernaan makanan dalam
tubuh terkadang mengalami gangguan yang disebabkan oleh kondisi sistem
pencernaan itu sendiri.
Gastrointestinal ialah suatu kelainan atau penyakit pada jalan
makanan/pencernaan. Penyakit Gastrointestinal yang termasuk yaitu kelainan
penyakit kerongkongan (eshopagus), lambung (gaster), usus halus (intestinum),
usus besar (colon), hati (liver), saluran empedu (traktus biliaris) dan pancreas.
Pentingnya sistem saluran pencernaan dan gangguan yang bisa terjadi
maka diperlukan pembelajaran mengenai pengobatan yang dapat mengatasi
permasalahan tersebut.

1
B. Rumusan Masalah
Dari uraian sebelumnya, maka dapat di rumuskan permasalahan sebagai berikut
a) Apa yang dimaksud dengan gangguan saluran pencernaan ?
b) Patofisiologi penyakit yang disebabkan oleh gangguan saluran pencernaan
dan penyebabnya ?
c) Sediaan obat yang beredar di pasaran, penggolongan obat, indikasi obat,
dosis obat, efek samping dan kontraindikasinya ?

C. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah mahasiswa
diharapkan :
(a) Untuk memahami pengertian dari gangguan saluran pencernaan.
(b) Untuk mengetahui patofisiologi penyakit yang disebabkan oleh gangguan
saluran pencernaan dan penyebabnya.
(c) Untuk mengetahui sediaan obat yang beredar di pasaran, penggolongan obat,
indikasi obat, dosis obat, efek samping dan kontraindikasinya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Gangguan pada Saluran Pencernaan


Saluran pencernaan (digestive tract) adalah tabung pencernaan yang
terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, rektum dan
anus. Lambung merupakan organ tubuh yang sangat penting fungsinya, yaitu
untuk mencerna makanan yang biasa kita makan sehari-hari dan mencampurnya
dengan kandungan asam dan enzim yang terdapat di dalam lambung. Usus
adalah salah satu bagian dalam proses pencernaan yang berperan dalam
penyerapan air, natrium, dan vitamin yang larut lemak. Penyakit saluran cerna
yang paling sering terjadi adalah radang kerongkongan (reflux oesophagitis),
radang lambung (gastritis), tukak lambung-usus (ulcus pepticum), dan kanker
lambung.
Penyebab penyakit gangguan pencernaan yang paling utama ini adalah
pola makan yang mungkin tidak sehat. Pada manusia sangat banyak hal yang
menyangkut berbagai organ yang terkait dengan sistem pencernaan.
Penyebabnya bermacam-macam, dapat terjadi karena luka di bagian dalam yang
terinfeksi oleh virus atau bakteri, hingga kelainan kerja fisiologis tubuh.
Berbagai macam gejala dapat dialami, berupa perasaan terbakar (pyrosis)
dan perih di belakang tulang dada yang disebabkan karena luka-luka mukosa
bersentuhan dengan makanan atau minuman yang merangsang (alcohol, sari
buah, minuman bersoda), nyeri lambung, dan muntah-muntah akibat erosi kecil
di selaput lendir.

3
Gambar saluran pencernaan pada manusia

Di saluran lambung-usus dapat timbul berbagai gangguan yang ada


kaitannya dengan proses pencernaan, resorpsi bahan gizi, perjalanan isi usus
yang terlampau cepat (diare) atau terlampau lambat (konstipasi), serta adanya
infeksi usus oleh mikroorganisme.
Adapun dibahas dalam makalah ini yakni pengobatan gangguan saluran
cerna, yakni antasida, dan obat anti-tukak lambung/ usus lainnya, obat penguat
cerna guna memperbaiki pencernaan, obat antimual, obat diare, dan obat
pencahar terhadap sembelit.

B. Patofisiologi penyakit yang disebabkan oleh gangguan saluran pencernaan


dan penyebabnya
Penyakit saluran cerna yang paling sering terjadi adalah radang
kerongkongan (reflux esofagus), radang mukosa lambung (gastritis), tukak
lambung usus (ulcus pepticum), dan kanker lambung usus.
1. Radang kerongkongan (reflux esofagus)
Adalah terjadinya aliran balik isi lambung ke kerongkongan, termasuk
reflux asam lambung yang akan merusak lapisan mukosa dan terjadi
peradangan. Gejala dari radang kerongkongan berupa perasaan terbakar dan
perih di belakang tulang dada karena luka mukosa bersentuhan dengan makanan
atau minuman yang merangsang (alkohol, minuman bersoda). Perasaan asam

4
atau pahit di mulut akibat mengalirnya kembali isi lambung. Tindakan pertama
untuk mengatasinya adalah dengan meninggikan kepala 10-15 cm sewaktu tidur.
Penyebab radang tenggorokan yakni, Virus, adalah sel organisme yang
dapat menginfeksi tubuh. Penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain: batuk
dan flu. Bakteri, adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan sariawan
serta bau mulut. Gejala ringan yang mengawali radang tenggorokan yakni,
Berdehem, merupakan indikasi awal virus menginfeksi tenggorokan. Rasa gatal
ringan, sudah menjadi ciri bahwa terjadi infeksi virus dan bakteri. Gejala radang
tenggorokan meliputi mulai terasa sakit di leher, sakit bila menelan. Penyakit
radang tenggorokan (infeksi) yakni, susah menelan, suara parau, semam, karena
reaksi infeksi yang disebabkan oleh virus, sehingga timbul peradangan
yang menyebabkan suhu tubuh naik, bengkak di leher. Pada taraf ini baru
dilakukan terapi pengobatan menggunakan antibiotik yang digunakan untuk
mematikan perkembangan infeksi virus.
2. Radang lambung (gastritis) dan Tukak Lambung
Selain karena refluk getah duodenum, radang lambung bias disebabkan
oleh beberapa obat seperti asetosal, indometasin, kortikosteroid, dan alcohol
dengan jalan menghambat produksi prostaglandin yang melindungi mukosa,
namun penyebab yang paling umum adalah :
 Produksi asam lambung yang berlebihan akibat jadwal makan yang tak teratur
 Makanan yang kurang lembut atau susah dicerna
 Mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein seperti kopi dan the,
makanan yang mengandung gas, asam, dan pedas.
 Stress yang dapat meningkatkan sekeresi asam lambung.

Penyebab tukak lambung hampir sama dengan radang lambung, terutama


disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori. Helicobacter pylori adalah
suatu bakteri yang menyebabkan peradangan lapisan lambung yang kronis pada
manusia. Kuman berbentuk spiral yang akan membentuk enzim dan protein
toksis yang merusak mukosa. Infeksi bakteri helicobacter kemungkinan besar

5
didapat dengan memakan makanan dan air yang tercemar serta melalui kontak
orang ke orang, bakteri ini terdapat pada hamper separo orang sehat, terutama
lansia dan anak-anak.
Pengobatan tukak lambung yang disebabkan leh bakteri Helicobacter
Pylori harus diobati dengan antibiotika yang harus diperoleh dengan resep
dokter. Antibiotika yang sering dipakai adalah kombinasi klaritromisin dengan
amoksisilin atau metronidazol, yang harus digunakan sekitar 2 minggu.
3. Tukak Usus
Usus merupakan organ yang sangat peka terhadap asam. Tukak Usus
terjadi karena hipersekresi lambung, gangguan dalam mobilitas lambung maka
isi lambung yang asam akan diteruskan ke usus dan dalam jumlah yang berlebih
maka terjadilah tukak duodenum/usus.
4. Kanker Lambung
Kanker lambung adalah jenis kanker saluran cerna dimana Helicobacter
apyori memegang peranan penting dalam timbulnya penyakit ini. Pada awalnya
penderita tidak menyadari gejala, bila gejala itu semakin meningkat baru bisa
ditentukan lokasi tumbuhnya kanker itu Penderita mengalami penurunan berat
badan, kelelahan, kesulitan menyerap nutrisi dan mineral. Faktor yang diduga
meningkatnya resiko kanker lambung antara lain merokok, alkohol atau
makanan yang mengandung banyak garam dan nitratDengan mengenal
penyebab dan gejala penyakit saluran lambung dan usus, diharapkan kita bisa
mencegah dengan menjaga pola makan yang sehat, higiene atau kebersihan dan
membiasakan pola hidup yang sehat.
5. Diare
Diare adalah suatu kondisi ketika gerak peristaltik usus lebih cepat dari
biasanya sehingga pengeluaran buang air besar (BAB) lebih encer dan
frekuensinya lebih banyak. Terkadang, diare bukanlah suatu penyakit yang
berbahaya. Namun, diare merupakan kondisi yang menimbulkan dampak serius
jika mengakibatkan dehidrasi, karena menyebabkan syok hipovolemik (dropnya
tubuh karena kekurangan cairan).

6
Ketika seseorang mengalami penyakit diare, tinja menjadi encer karena
banyaknya cairan yang disekresikan ke dalam usus. Atau sebaliknya, cairan di
dalam usus tidak dapat diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh. Kondisi ini
dipengaruhi oleh banyak faktor yang juga bisa menjadikan penyakit diare
berlangsung singkat atau lama.

Untuk penyakit jangka pendek, penyebab diare pada orang dewasa dan anak-
anak biasanya adalah:

 Infeksi bakteri bisa menyebabkan keracunan makanan (campylobacter,


clostridum difficile, escherichia coli, salmonella, dan shigella).
 Radang usus buntu.
 Alergi makanan juga bisa menjadi penyebab diare.
 Kerusakan lapisan usus akibat radioterapi.
 Masalah psikologi (misalnya gangguan kecemasan).
 Makanan yang mengandung pemanis buatan.
 Infeksi virus (rotavirus dan norovirus) adalah penyebab diare lainnya.
 Parasit giardia intestinalis.
Sementara itu, penyebab diare yang berlangsung jangka panjang biasanya
adalah:
 Penyakit Crohn, yaitu radang pada lapisan sistem pencernaan.
 Kolitis ulseratif, yaitu suatu kondisi yang berdampak kepada usus besar.
 Sindrom iritasi usus atau terganggunya fungsi normal usus.
 Ada pula kasus diare disebabkan oleh kanker usus..
 Radang pankreas kronis.

Pada tiap penderita, gejala diare bisa berbeda-beda. Salah satu gejala
diare adalah mengeluarkan feses yang sangat encer. Namun, tidak semua
penderita diare menunjukkan gejala ini. Bisa saja penderita diare lainnya

7
mengeluarkan feses yang tak terlalu encer. Berikut ini adalah tanda-tanda atau
gejala diare yang Anda alami bertambah parah.
 Air kencing kental dan berwarna kuning, frekuensi berkemih kurang dari 4
kali per hari disertai demam, mata cekung, dan kulit kering.
 Diare tetap bertahan di atas 2 minggu.
 Kram.
 Sakit perut
 Kembung.
 Mual.
 Demam.
6. Konstipasi
Konstipasi atau sembelit adalah frekuensi buang air besar yang lebih
sedikit dari biasanya. Jarak waktu buang air besar pada setiap orang berbeda-
beda. Namun umumnya dalam satu minggu, manusia buang air besar setidaknya
lebih dari 3 kali. Jika frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali dalam
seminggu, maka seseorang disebut mengalami konstipasi. Akibatnya, tinja
menjadi kering dan keras sehingga lebih sulit dikeluarkan dari anus.
Penyebab konstipasi umumnya terjadi ketika tinja bergerak terlalu
lamban dalam sistem pencernaan dan tidak bisa dikeluarkan secara efektif dari
rektum, Akibatnya, tinja menjadi keras dan kering sehingga lebih sulit lagi
dikeluarkan dari rektum.
Beberapa gejala dan tanda sembelit adalah:
 Sulit buang air besar
 Feses kering atau buang air keras
 BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu;
 Perut terasa penuh
 Sakit perut
 BAB berdarah

8
Penyakit ini bisa dipicu oleh berbagai faktor yang meliputi:
 Pola makan yang buruk, misalnya kurang mengonsumsi serat atau kurang
minum.
 Kurang aktif bergerak, termasuk juga jarang olahraga.
 Penyakit pada usus atau rektum, contohnya fisura ani, penyumbatan usus,
kanker usus besar, dan kanker rektum.
 Ganguan saraf. Gangguan ini menghambat pergerakan tinja melalui usus,
dan biasanya terjadi pada penderita penyakit Parkinson, cedera saraf tulang
belakang, stroke, danmultiple sclerosis.
 Gangguan pada otot yang mengerakkan usus. Kondisi ini dapat ditemui
pada kondisi otot panggul yang melemah atau dyssynergia.
 Gangguan hormon. Beberapa jenis hormon berfungsi menyeimbangkan
cairan dalam tubuh. Gangguan pada hormon ini dapat membuat cairan dalam
tubuh tidak stabil sehingga memicu terjadinya konstipasi. Beberapa kondisi
yang dapat menimbulkan gangguan ini, antara lain adalah
diabetes, hiperparatiroidisme, kehamilan, atau hipotiroidisme.
 Efek samping konsumsi obat, contohnya obat antasida, antikonvulsan,
antagonis kalsium,diuretik, suplemen besi, obat untuk penyakit Parkinson,
dan antidepresan.
 Mengabaikan keinginan untuk buang air besar.
 Gangguan mental, seperti kecemasan atau depresi.

Sementara pada bayi dan anak-anak, konstipasi biasanya dipicu oleh


kurangnya konsumsi makanan berserat dan kurang minum, pertama kali
minum susu formula, serta merasa cemas atau tertekan saat menjalani latihan
buang air besar di kamar mandi.

9
C. Sediaan obat, penggolongan obat, indikasi obat, dosis obat, efek samping
dan kontraindikasinya
a. Antasida
Antasida adalah obat yang menetralkan asam lambung dengan cara
meningkatkan pH untuk menurunkan aktivitas pepsin.
1. Aluminium Hidroksida (Al(OH)3)
− Indikasi
Ulkus peptikum, hiperasiditas gastrointestinal, gastritis, mengatasi
gejala dyspepsia (ulkus dan don ulkus), gastro-esophageal reflux
disease, hiperfosfatemia.
− Kontra-indikasi
Hipersensitif terhadap garam aluminium, hipofosfatemia, pendarahan
saluran cerna yang belum terdiagnosis, appendicitis. Tidak aman unruk
bayi dan neonatus.
− Dosis
Dewasa: 1-2 tablet dikunyah, 4 kali sehari dan sebelum tidur atau 5-10
ml suspensi 4 kali sehari diantara waktu makan dan sebelum tidur.
Anak usia 6-12 tahun: 5 ml maksimal 3 kali sehari
− Efek samping
Konstipasi, mual, muntah, deplesi posfat, penggunaan dalam dosis
besar dapat menyebabkan penyumbatan usus, hipofosfatemia,
hipercalciuria, peningkatan resiko osteomalasia, demensia, anemia
mikrositik pada penderita gagal ginjal.
2. Magnesium Hidroksida
− Indikasi
Ulkus peptikum, hiperasiditas gastrointestinal, gastritis
− Kontra-indikasi
Kerusakan ginjal berat
− Dosis dewasa: 5-10 ml, diulang menurut kebutuhan pasien

10
− Efek samping
Diare, hipermagnesenia sehingga mengurangi reflek tendon dan depresi
nafas, mual, muntah, kemerahan pada kulit, haus, hipotensi, mengantuk,
lemah otot, nadi melemah dan henti jantung (pada kelainan ginjal yang
berat).
3. Magnesium Trisiklat
− Indikasi
Ulkus peptikum, gastritis, hiperasiditas gastrointestinal
− Kontra-indikasi
− Dosis
Dewasa 1-2 tablet.
Anak ½-1 tablet. diminum 3-4 kali sehari.
− Efek samping
Diare, hipermagnesenia sehingga mengurangi reflek tendon dan depresi
nafas, mual, muntah, kemerahan pada kulit, haus, hipotensi, mengantuk,
lemah otot, nadi melemah dan henti jantung (pada kelainan ginjal yang
berat).
4. Kalsium Karbonat
− Indikasi
Ulkus peptikum, gastritis, heartburn, hiperasiditas GI, Menghilangkan
gangguan lambung yang disebabkan oleh hiperasiditas, tukak lambung,
ulkus duodenum, gastritis
− Kontra-indikasi
Glukoma sudut tertutup, obstruksi saluran kemih atau GI, ileus
paralitik, penyakit jantung berat, Hipersensitif terhadap salah satu bahan
tablet, Hiperkalsemia, Hiperkalsiuria berat, gagal ginjal berat.
− Efek samping
Dapat terjadi konstipasi, kembung (flatulen) karena pelepasan karbon
dioksida (CO2), dosis tinggi atau pemakaian jangka waktu panjang

11
menyebabkan hipersekresi asam lambung dan acid rebound, muntah
dan nyeri abdomen (perut), hiperkalsemia (pada gangguan ginjal atau
setelah pemberian dosis tinggi), alkalosis

b. Antagonis Reseptor H2 ( H2 Bloker )


1. Ranitidin
− Indikasi
Menghambat sekresi asam lambungnya lebih kuat dari Cimetidin
− Kontra-indikasi
Porfiria akut atau hipersensitivitas terhadap ranitidin
− Dosis
Pengobatan : Sehari 2 kali @ 150 mg
− Efek samping
Nyeri kepala, mual. muntah, reaksi-reaksi kulit.
2. Famatidin
− Indikasi : Tukak usus duodenun
− Dosis : Pengobatan : Sehari 2 kali @ 20 mg
− Efek samping : nyeri kepala, mual. muntah, reaksi-reaksi kulit.

c. Penghambat Pompa Proton


1. Omeprazol
− Indikasi : tukak lambung
− Kontra indikasi: hipersensitif terhadap omeprazol
− Efek samping
Sakit kepala, diare, sakit perut, mual, pusing, masalah kebangkitan dan
kurang tidur, meskipun dalam uji klinis efek ini dengan omeprazol
sebanding dengan yang ditemukan dengan plasebo
− Dosis

12
Dosis yang dianjurkan 20 mg atau 40 mg, sekali sehari, kapsul harus
ditelan utuh dengan air (kapsul tidak dibuka, dikunyah, atau
dihancurkan). Sebaiknya diminum sebelum makan.
2. Lansoprazol
− Indikasi: pengobatan ulkus lambung dan duodenum.
− Kontra indikasi: hipersensitif terhadap lansoprazol
− Efek samping: mulut kering, sulit tidur, mengantuk, kabur penglihatan
ruam
3. Esomeprazol
− Indikasi
Pengobatan duodenum yang disebabkan oleh H. Pylori , mencegah dari
ulkus lambung kronis pada orang yang di NSAID terapi dan
pengobatan ulkus gastrointestinal berhubungan dengan penyakit crohn
− Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap substansi aktif esomeprazol atau benzimidasol
atau komponen lain dari ini
− Efek samping
Sakit kepala, diare, mual, penurunan nafsu makan, konstipasi, mulut
kering, dan sakit perut
4. Pantoprazol
− Indikasi
Patoprazole digunakan untuk pengobatan jangka pendek dari erosi dan
ulserasi dari esophagus yang disebabkan oleh penyakit refluks
gastroeshopageal
− Kontraindikasi: hipersensitif terhadap pantoprazoal
− Efek samping
Mual, muntah, gas, sakit perut, diare atau sakit kepala

13
A. Anti Spasmodika
Anti Spasmodika adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
melawan kejang - kejang otot.
1. Obat Anti Spasmodika :
- Atropin Sulfat
- Alkaloida belladona
- Hiosin Butil Bromida
- Papaverin HCl
- Mebeverin HCl
- Propantelin Bromida
- Pramiverin HCl
2. Indikasi
Untuk mengatasi kejang pada saluran cerna yang mungkin disebabkan diare,
gastritis, tukak peptik dan sebagainya
3. Efek samping : menyebakan kantuk dan gangguan yang lain

B. Obat Diare (Obat Sakit Perut)


Anti diare adalah obat yg digunakan untuk mengobati penyakit yang
disebabkan oleh bakteri, kuman, virus, cacing, atau keracunan makanan. Gejala
diare adalah BAB berulang kali disertai banyaknya cairanyg keluar kadang-
kadang dengan mulas dan berlendir atau berdarah.
1. Golongan Obat Diare
a. Kemoterapeutika untuk terapi kausal yaitu memberantas bakteri penyebab
diare seperti antibiotika, sulfonamide, kinolon dan furazolidon.
1. Racecordil
Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak menyebabkan
konstipasi, mempunyai indeks terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai
efek buruk terhadap sistem saraf pusat, dan yang tak kalah penting,
tidak menyebabkan ketergantungan. Racecordil yang pertama kali

14
dipasarkan di Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal
tersebut.
2. Loperamide
Loperamide merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara
memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot
sirkuler dan longitudinal usus. Obat diare ini berikatan dengan reseptor
opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan
loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang sering dijumpai
adalah kolik abdomen (luka di bagian perut), sedangkan toleransi
terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi.
3. Nifuroxazide
Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran memiliki efek bakterisidal
terhadap Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Streptococcus,
Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja
lokal pada saluran pencernaan.
Obat diare ini diindikasikan untuk diare akut, diare yang disebabkan
oleh E. coli & Staphylococcus, kolopatis spesifik dan non spesifik, baik
digunakan untuk anak-anak maupun dewasa.
4. Dioctahedral smectite
Dioctahedral smectite (DS), suatu aluminosilikat nonsistemik
berstruktur filitik, secara in vitro telah terbukti dapat melindungi barrier
mukosa usus dan menyerap toksin, bakteri, serta rotavirus. Smectite
mengubah sifat fisik mukus lambung dan melawan mukolisis yang
diakibatkan oleh bakteri. Zat ini juga dapat memulihkan integritas
mukosa usus seperti yang terlihat dari normalisasi rasio laktulose-
manitol urin pada anak dengan diare akut.
b. Obstipansia untuk terapi simtomatis (menghilangkan gejala) yang dapat
menghentikan diare dengan beberapa cara:
1. Loperamid
− Indikasi : untuk pengobatan diare akut dan diare kronik

15
− Kontraindikasi : hipersensitivitas dengan loperamid, hambatan
peristaltik, bayi
dan anak < 2 tahun, hindari penggunaan sebagai terapi utama
untuk disentri akut, ulseratif kolitis akut, bacterial enterocolitis
dan kolitis pseudomembran.
− Bentuk sediaan : kaplet dan tablet salut selaput 2 mg.
− Dosis dan aturan pakai : anak-anak : – diare akut maksimal 16 mg per
hari
2-5 tahun (13-20 kg) : 1 mg 3 kali per hari
6-8 tahun (20-30 kg) : 2 mg 2 kali per hari
8-12 tahun (> 30 kg) : 2 mg 3 kali per hari
− Efek samping : nyeri abdominal (perut), mual, muntah, mulut kering,
mengantuk, pusing, ruam kulit, dan megakolon toksik.

2. Obat diare
a. Akita
- Attapulgit 600 mg, pectin 50 mg.
- Indikasi : Pengobatan simptomatik pada diare yang tidak diketahui
penyebabnya.
- Dosis : Dewasa dan anak > 12 th = 2 tablet setelah diare pertama, 2
tablet tiap kali diare berikutnya; maksimum 12 tablet sehari; anak 6-12
tahun = setengah dosis dewasa; maksimum 6 tablet sehari. Kemasan :
Dos 10×10 tablet.
b. Andikap
- Attapulgit aktif koloidal 650 mg, pectin 65 mg.
- Indikasi : Simptomatik pada diare non spesifik.
- Dosis : Dewasa dan anak 12 tahun ke atas = 2 kaplet setiap setelah
BAB, maksimal 12 kaplet sehari. Anak 6-12 tahun = 1 kaplet setiap
setelah BAB, maksimal 6 kaplet sehari. Kemasan : Blister 6 kaplet Rp
1.600

16
c. Anstrep
- Attapulgit 600 mg, pectin 50 mg.
- Indikasi : Pengobatan simptomatik pada diare yang tidak diketahui
penyebabnya.
- Kontraindikasi : Gangguan usus dan konstipasi; hipersensitif.
- Dosis : Dewasa dan anak > 12 th = 2 kaplet setelah defekasi,
maksimum 12 kaplet per hari; Anak 6-12 tahun = 1 kaplet setelah
defekasi, maksimum 6 kaplet per hari. Kemasan : Dos 10×10 kaplet Rp
23.500.
d. Bekarbon
- Activated charcoal.
- Indikasi : Diare, kembung.
- Interaksi obat : Anti dotum oral spesifik. Menurunkan kerja obat ipeka
kuanha dan emetic lain. Dengan beberapa obat oral menimbulkan efek
stimulant.
- Efek samping : Muntah, konstipasi, feses hitam.
- Dosis : Dewasa 3-4 tablet 3x sehari, anak 1-2 tablet 3x sehari.
Kemasan : tablet 250 mg x 750. Harga : Rp 14.300
e. Diaryn
- Bismuth subsalisilat 262 mg.
- Indikasi : Pengobatan diare tidak spesifik yaitu yang tidak berdarah dan
tidak diketahui penyebabnya. Kemasan : Strip 4 tablet. Harga : Rp
1.540.
f. Antrexol
- Isinya : Psidii folium extractum siccum 150 mg, Curcuma domestica
axstactum siccum 50 mg, Piper bettle folium extractum siccum 50 mg,
Cimcifuga racemosa rhizome extractum siccum 25 mg, Areca catechu
extractum siccum 15 mg.
- indikasi : Mengurangi seringnya BAB dan memadatkan tinja pada
penderita diare atau mencret.

17
- Kontraindikasi : Ibu hamil dan menyusui, penderita yang memiliki
kelainan atau kecenderungan pendarahan, kerusakan saluran empedu
atau tukak lambung kronis, hipersensitif.
- Dosis : Sehari 2x @ 2 kapsul, diare akut : 2x @ 2 kapsul dengan jarak 1
jam. Kemasan : Dos 10×10 kapsul. Harga : Rp 31.000.
g. Oralit
- Indikasi: Mencegah dan menggobati ‘kurang cairan’ ( dehidrasi) akibat
diare/muntaber.
- Kontra Indikasi: Pengemudi kendaraan bermotor dan operator mesin
berat jangan minum obat ini sewaktu menjalan kan tugas.
h. Activated charcoal
- Indikasi: Antidiare, antidotum (adsorben untuk berbagai keracunan obat
dan toksin), antiflatulen.
- Dosis: Dewasa: 3xsehari 3-4 tablet; anak: 3xsehari 1-2 tablet.
- Interaksi: Antidotum oral spesifik. Mengabsorbsi obat yang diberikan
bersamaan sehingga menurunkan efek obat tersebut (kerja obat
ipekakuanha dan emetik lain). Dengan beberapa obat oral dapat
menimbulakn efek simultan.
i. Nifudiar
- Nifuroksazid 250 mg
- Indikasi: Diare yang disebabkan E. Coli, Staphylococcus, kolopatis
- Kontraindikasi: Hipersensitif
j. Neo Prodial
- Furazolidon 50 mg
- Indikasi: diare spesifik, enteritis yang disebabkan Salmonela, Shigela,
Staphylococcus aureus, Staphylococcus faecalis, E. Coli,
- Kontra indikasi: bayi dibawah 3 bulan, hipersensitif

18
C. Obat Pencahar
Obat Pencahar adalah obat yang dapat mempercepat gerakan peristaltic
usus, sehingga terjadi defekasi dan digunakan pada konstipasi yaitu keadaan
susah buang air besar.
1. Pencahar Rangsang
Merangsang mukosa, saraf intramural atau otot usus sehingga meningkatkan
peristaltic dan sekresi mukosa lambung.
a. Difenilmetan, Fenolftalein
- Indikasi: Konstipasi
- Dosis: 60-100 mg (tablet)
- Efek samping: Elektrolit banyak keluar, urin dan tinja warna merah dan
reksi alergi
b. Antrakinon, Kaskara Sagrada
- Dosis: 2-5 ml (sirup), 100-300 (tablet)
- Efek samping: pigmentasi mukosa kolon
c. Sena
- Dosis: 2-4 ml (sirup), 280 mg (tablet)
- Efek samping: penggunaan lama menyebabkakn kerusakan neuron
mesenteric.
2. Minyak Jarak
Minyak jarak berasal dari biji ricinus cimmunis, suatu trigliserida asam
risinoleat dan asam lemak tidak jenuh. Sebagai pencahar obat ini tidak
banyak digunakan lagi.
- Dosis:
Dewasa: 15-50 ml
Anak: 5-15 ml
- Efek samping: Confusin, denyut nadi tidak teratur, kram otot, lelah.

19
3. Pencahar Garam
Peristaltik usus meningkat disebabkan pengaruh tudak langsung karena daya
osmotiknya.
a. Magnesium Sulfat
- Dosis: 15-30 g (bubuk)
- Efek samping: mual, dehidrasi, dekompesasi ginjal, hipotensi, paralisis
pernapasan.
b. Susu Magnesium
- Dosis: 15-30 ml
c. Magnesium Oksida
- Dosis; 2-4 g
4. Pencahar Pembenuik Masa
Obat golongan ini berasal dari alam atau dibuat secara semisintetik.
Golongan ini bekerja dengan mengikat air dan ion dalam lumen kolon.
a. Metilselulosa
- Dosis:
Dewasa: 2-4 kali 1,5 g/hari
Anak: 3-4 kali 500 mg/hari
- Efek samping: obstruksi usus dan esopagus
b. Natriumkarboksi Metilsulosa
- Dosis: 5-6 g (tablet)
c. Agar
- Dosis: 4-16 g
5. Pencahar Emolin
Memudahkan defekasi dengan cara melunakan tinja tanpa merangsang
peristaltic usus, baik langsung maupun tidak langsung.
a. Dioktilkalsiumsulfosuksinat
- Dosis: 50-450 mg/hari (kapsul)
- Efek samping: kolik usus

20
b. Parafin cair
- Dosis: 15-30 ml/hari
- Efek samping: mengganggu absorpsi zat-zat larut lemak, lipid
pneumonia, pruritis ani.
c. Minyak Zaitun
- Dosis: 30 mg

D. Spasmolitika
adalah zat yang dapat melemaskan kejang kejang otot perut(nyeri perut)
pada diare misalnya Atropin sulfat
1. Atropin sulfat
− Indikasi: tukak peptic ,gastritis,heartburn,hiperasiditas
− Kontra indikasi : glaucoma sudut tertutup,asma,hernia hiatal,penyakit
hati atau gunjal yang serius.
− Dosis: 160-320 mg diantara waktu makan dan menjelang tidur.
− Efek samping : Sakit kepala, Mual, Konstipasi, Mulut dan tenggorokan
kering.

21
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Obat-obatan yang masuk pada sistem pencernaan manusia tentunya
memiliki reaksi yang bermacam-macam tergantung dari jenis obat dan bahan
kimia yang terkandung dalam setiap obat tersebut.
Agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat terhadap pasien, kita
harus benar-benat tahu jenis-jenis obat, indikasi dan kegunaan obat adalah
hal-hal penting yang harus diketahui oleh paramedis dalam sistem
pencernaan.

B. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, semoga bermanfaat bagi pembaca maupun
penulis dan bisa menambah wawasan dalam mengetahui pembahasan
farmakologi obat gangguan saluran pencernaan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Katzung, Bertram G. (2002). Farmakologi: Dasar dan Klinik Edisi 8.


Jakarta: Salemba Medika

Gan gunawan, Sulistia (2012). Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta:


FKUI

Sirait, Midian (2006). Informasi Spesialit Obat (ISO) Indonesia. Jakarta:


ISFI

http://www.slideshare.net/MutiaLatif/gastritis-14011856#

http://yosefw.wordpress.com/2008/01/04/penggunaan-obat-golongan-
proton-pump-inhibitor-omeprazol-pada-terapi-tukak-lambung/

23