Anda di halaman 1dari 10

PENENTUAN TITIK DIDIH

A. Tujuan Percobaan
Tujuan yang hendak dicapai oleh mahasiswa dalam percobaan ini yaitu
mahasiswa mampu menentukan titik didih zat cair dengan menentukan titik
pengembunnya dalam tabung yang terbuka.

B. Landasan Teori
Titik didih suatu zat adalah suhu yang tekanan uap jenuhnya sama dengan
tekanan di atas permukaan zat cair. Bila tekanan uap sama dengan tekanan luar atau
tekanan diatas permukaan zat cair, mulai terbentuk gelembung-gelembung uap dalam
cairan. Karena tekanan uap dalam gelembung sama dengan tekanan udara, maka
gelembung itu dapat mendorong diri lewat permukaan dan bergerak ke fasa gas diatas
cairan, sehingga cairan tersebut mendidih. Titik didih suatu zat cair dipengaruhi oleh
tekanan udara, artinya makin besar tekanan udara makin besar pula titik didih zat cair
tersebut, begitu juga sebaliknya semakin rendah tekanan udara, maka semakin rendah
titik didih. Pada tekanan dan temperatur udara standar (76 cmHg, 25ºC) titik didih air
sebesar 100ºC (Pratiwi, 2010).
Titik didih dapat digunakan untuk memperkirakan secara tak langsung kekuatan
daya tarik antar molekul cairan. Cairan yang memiliki gaya tarik antar molekul kuat,
akan memiliki titik didih yang tinggi, begitu juga sebaliknya.
Ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa. Semakin besar ikatan
hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. Adanya ikatan hidrogen antar molekul
menyebabkan titik senyawa relatif lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa lain
yang memilki berat molekul sebanding (Helda, 2011). Titik didih senyawa golongan
alkohol lebih tinggi daripada senyawa golongan alkana, demikian juga titik didih air
lebih tinggi daripada aseton. Contohnya Titik didih H2O lebih tinggi daripada HF, hal
itu disebabkan ikatan hidrogen H2O lebih kuat dari pada HF. Padahal sama-sama
membentuk ikatan hidrogen dan HF lebih polar, hal ini disebabkan karena setiap

1
molekul HF hanya mampu mengikat 2 molekul lainnya, sedangkan H2O mampu
mengikat 4 molekul lainnya, sehingga jumlah kekuatan 4 ikatan Hidrogen H2O lebih
besar daripada 2 ikatan Hidrogen HF, walaupun kekuatan tiap ikatan HF lebih tinggi
dari H2O.
Dalam menentukan titik didih suatu zat, adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi cepat atau lambatnya zat tersebut mendidih adalah:
1. Pemanasan
Pemanasan harus dilakukan secara bertahap agar diperoleh interval yang
tidak terlalu panjang.
2. Tekanan Udara
Tekanan udara mempengaruhi titik didih suatu zat. Makin besar tekanan
udara suatu zat maka makin besar pula titik didih yang dimiliki oleh zat
tersebut.
3. Banyaknya zat yang digunakan
Zat yang digunakan juga mempengaruhi titik didih suatu zat, dimana
semakin banyak zat yang digunakan semakin lambat proses pendidihan
sehingga titik didihnya meningkat (Pratiwi, 2010).

2
C. Alat dan Bahan
- Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
 Gelas Kimia 250 ml : 2 buah
 Termometer : 1 buah
 Tabung reaksi : 1 buah
 Hotplate : 1 buah
 Statif dan Klem : 2 buah
 Botol semprot : 1 buah
- Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
 Etanol (C2H5OH)
 Air (H2O)
 Garam
 Minyak goreng

3
D. Prosedur Kerja

Minyak goreng

- Dimasukkan ke dalam gelas kimia 250 ml

Minyak goreng dalam


gelas kimia 250 ml

- Ditempatkan di atas Hotplate


- Direndam tabung reaksi berisi etanol ke
dalam gelas kimia 250 ml berisi minyak
goreng hingga permukaan etanol dalam
tabung reaksi sejajar dengan permukaan
minyak goreng.
- Dipasang termometer
- Dipanaskan
- Diamati dan dicatat titik didihnya
- Diulang prosedur diatas dengan mengganti
etanol dengan air dan air garam.

Titik didih Etanol = 67oC


Titik didih air = 100oC
Titik didih air garam = 101oC

4
E. Hasil Pengamatan
1. Gambar Rangkaian Alat
6

4
5

2 6

Keterangan gambar:
1. Hotplate 4. Termometer
2. Gelas kimia 250 ml dan 5. Statif
Minyak goreng 6. Klem
3. Tabung reaksi dan
Etanol

2. Data Hasil Pengamatan

Cairan Suhu (oC)

Air 100
Etanol 67
Air garam 101

5
F. Pembahasan

Dalam percobaan penentuan titik didih ini digunakan alat berupa hotplate yang
berfungsi untuk memanaskan zat yang akan dicari titik didihnya. Hotplate memiliki
permukaan yang rata di atasnya yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan
bahan yang akan diamati titik didihnya. Selain itu, hal ini juga bertujuan agar panas
yang dihasilkan hotplate sama di setiap daerah permukaannya sehingga pemanasan
zat dapat tersebar merata. Alat lain yang digunakan yaitu gelas kimia 250 ml, tabung
reaksi, statif dan klem yang berfungsi sebagai alat yang menjadi tempat peletakkan
zat, baik zat yang akan ditentukan titik didihnya maupun zat yang menjadi media
pemanas, dan menunjang berlangsungnya penentuan titik didih dari suatu zat. Selain
itu, alat yang juga sangat perlu digunakan yaitu termometer yang berfungsi untuk
mengamati suhu zat dan juga menentukan titik didih dari zat yang dipercobakan.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu etanol, air, air garam, dan
minyak goreng. Etanol, air dan air garam merupakan zat cair yang akan dicari titik
didihnya. Sedangkan minyak goreng merupakan media atau bahan yang menunjang
terjadinya pemanasan pada ketiga zat cair tersebut. Manurut teori, minyak goreng
memiliki titik didih yang tinggi dibandingkan air maupun etanol yaitu 180oC. Hal ini
berarti minyak goreng mengalami pemanasan yang lebih lama untuk mencapai titik
didihnya. Sehingga bahan ini sangat cocok digunakan sebagai media untuk
memanaskan zat cair lain yang memiliki titik didih rendah dari 180oC atau cepat
mengalami pemanasan ke titik didihnya dibandingkan minyak goreng.
Langkah awal percobaan yaitu alat-alat yang digunakan dirangkai seperti
gambar pada hasil pengamatan. Bahan pertama yang dicari titik didihnya adalah
etanol. Etanol merupakan zat cair yang sangat sensitif terhadap pemanasan sehingga
dalam mengukur titik didih etanol seorang praktikan harus berhati-hati agar tidak
terjadi kecelakaan kerja. Pemilihan bahan etanol sebagai bahan pertama percobaan
yaitu agar etanol tidak dipanaskan dalam minyak goreng yang telah lama mendidih.
Bila minyak goreng telah lama mendidih maka kemungkinan minyak goreng akan

6
memiliki titik didih yang lebih tinggi dari etanol. Sehingga etanol akan menyerap
panas dari minyak goreng dan berisiko menimbulkan ‘jumping’ atau lompatan panas
bersuhu tinggi yang berbahaya bila terkena praktikan.
Dari percobaan ini diperoleh bahwa etanol medidih pada suhu 67oC dan tidak
mengalami penambahan suhu lagi di termometer. Sehingga suhu ini adalah suhu pada
saat maksimum dan merupakan titik didih dari etanol. Sedangkan titik didih air dan
air garam diperoleh, air memiliki titik didih 100oC dan air garam memiliki titik didih
101oC. Dapat disimpulkan bahwa etanol memiliki titik didih yang paling rendah dan
air garam memiliki titik didih yang paling tinggi sehingga diperoleh perbandingan
titik didih air garam > titik didih air > titik didih etanol.
Berdasarkan teori yang ada titik didih etanol adalah 78,3oC. Dalam percobaan
ini hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang ada yakni titik didih etanol
67oC. Hal ini disebabkan karena pengaruh tekanan yang bekerja terhadap titik didih
etanol dimana tekanan yang rendah menyebabkan rendahnya titik didih yang
diperoleh. Perbedaan titik didih juga dapat dilihat dari zat-zat cair yang digunakan
yaitu pada etanol, air dan air garam. Perbedaan ini disebabkan karena pengaruh berat
massa, ikatan hidrogen dan ada tidaknya zat terlarut pada zat-zat cair tersebut.
Titik didih yang diperoleh etanol cenderung dipengaruhi oleh berat massa
etanol yang lebih besar dari zat cair lain. Namun, meskipun berat massa etanol lebih
besar tetapi etanol memiliki ikatan hidrogen yang lemah. Hal ini disebabkan etanol
dengan rumus senyawa C2H5OH memiliki oksigen yang telah banyak mengikat unsur
lain sehingga unsur-unsur tersebut akan mudah terlepas saat dipanaskan dan etanol
mudah mencapai titik didihnya. Sebaliknya, air dengan rumus senyawa H2O memiliki
oksigen yang hanya mengikat 2 unsur hidrogen dan juga memiliki 2 pasang elektron
bebas. Sehingga bila dipanaskan oksigen akan lebih susah untuk melepas hidrogen
karena hidrogen akan terikat kembali dengan elektron bebas oksigen. Hal ini
menyebabkan air membutuhkan suhu yang lebih besar untuk melepaskan unsur
hidrogen tersebut dan air memiliki titik didih yang lebih tinggi dibandingkan dengan
etanol.

7
Titik didih air garam dipengaruhi oleh adanya zat terlarut pada larutan.
Penambahan solute pada suatu zat cair menyebabkan perbedaan titik didih pada
larutan satu dan yang lain. Bila solute yang ditambahkan memiliki titik didih yang
rendah dari air maka titik didih yang diperoleh larutan akan rendah pula. Begitu juga
sebaliknya, solute dengan titik didih tinggi dari air akan membuat larutan memiliki
titik didih yang tinggi pula. Garam adalah solute atau zat terlarut yang memiliki titik
didih yang lebih tinggi dari air. Sehingga air murni yang semula memiliki titik didih
100oC ketika ditambahkan garam maka titik didih larutan naik menjadi 101oC lebih
tinggi 1oC dari air murni.

8
G. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu titik didih etanol adalah
67oC, titik didih air murni adalah 100oC dan titik didih air garam adalah 101oC.

9
DAFTAR PUSTAKA

Moch, Samhoedi R. 1976. Kuliah dan Praktikum Kimia Preparatif. Gunung Agung;
Yogyakarta.
Vogel, A.I. 1978. Textbook of Practical Organic Chenistry, 4th Ed. The English
Language Book Society and Longman; Bungay.

(Helda. Ikatan Hidrogen. 14 Desember 2011) http://heldaluvchemeng.blogspot.com/


2011/02/kenaikan-titik-didih.html. Diakses pada: 29 Oktober 2011.
(Pratiwi. Laporan Praktikum Kimia Dasar II. Januari 2010)
http://www.scribd.com/doc/57423273/Laporan-Praktikum-Kimdas-II. Diakses
pada: 27 Oktober 2011.

10