Anda di halaman 1dari 5

Nama : Haifa Zainatun Nafisah

NIM : 1154040019
Jur/Smt/Kls : PMI/5/A
Mata Kuliah : Esensi Al-Qur’an
Dosen Pengampu : Yuyun Yuningsih, S.Sos.I., M.Ag.

AYAT TENTANG PENGEMBANGAN KELOMPOK MASYARAKAT MUSLIM


DARI SEGI KUANTITAS DAN KUALITAS

A. Q.S. Al-Hasyr (59) Ayat 7


‫م‬ ‫ما أ ممفامء ٱلل ر ق م‬
‫ى‬ ‫ى ومٱللي مت ىم م‬
‫ممم ى‬ ‫قلرب م ى‬ ‫ذي ٱلل ق‬ ‫ل ومل ذ ذ‬ ‫سو ذ‬ ‫قمرىى فمل ذل رهذ ومذللرر ق‬ ‫ل ٱلل ق‬
‫ملن أله ذ‬ ‫سول ذهذۦ ذ‬ ‫ى مر ق‬ ‫ه ع مل ى‬ ‫ر‬
‫م‬ ‫ة‬
‫ل‬‫سممو ق‬
‫م ٱلرر ق‬ ‫ما مءات مى ىك ق ق‬‫منك ق ملم وم م‬ ‫ن ٱللألغن ذمياذء ذ‬ ‫دول مةة ب ل مي م‬
‫ن ق‬ ‫كو م‬ ‫ل ك ملي مل ي م ق‬ ‫سذبي ذ‬
‫ن ٱل ر‬ ‫ن ومٱلب ذ‬ ‫كي ذ‬
‫س ذ‬ ‫م ىم‬‫ومٱلل م‬
٧‫ب‬ ‫قا ذ‬ ‫ديد ق ٱللعذ م‬‫ش ذ‬‫ه م‬ ‫ن ٱلل ر م‬
‫قوا ا ٱلل رهةه إ ذ ر‬‫ه فمٱنت مقهوماا ومٱت ر ق‬
‫ما ن مهمى ىك ق لم ع ملن ق‬
‫ذوه ق وم م‬ ‫خ ق‬‫فم ق‬
“Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang
berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya janganlah harta fa’i itu
hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu,
maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.

B. Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukan bahwa surat al-Anfaal turun di waktu terjadi peperangan Badar
(Ramadhan 2H/624M), sementara surat al-Hasyr diturunkan pada waktu peperangan bani Nadhir
(4H/625M). Kaum yahudi bani Nadhir adalah penduduk yang dahulu di zaman Nabi Muhammad
bertempat tinggal dan berkebun kurma di luar kota Madinah.
Karena pengkhianatan mereka kepada Rasulullah, maka Rasul pun mengepung mereka dan
mengusirnya seraya Rasul membolehkan mereka membawa harta kekayaannya sejauh yang mereka
mampu mengangkutnya dengan binatang-binatang mereka, dengan catatan mereka tidak
diperbolehkan membawa senjata. Mereka pun kemudian pergi sampai ke Syam (Syria). Allah
menurunkan ayat 1 sampai 5 surat al-Hasyr yang pada intinya adalah membenarkan tindakan
Rasulullah itu termasuk tindakannya untuk mengambil alih sisa-sisa harta yang ditinggalkan mereka
(kaum bani Nadhir).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Rasulullah sampai di tempat kaum bani Nadhir,
mereka bersembunyi di dalam benteng. Lalu Rasulullah memerintahkan para sahabat supaya
menebang pohon-pohon kurma untuk kemudian membakarnya (sampai berasap tebal) yang
menyebabkan bani Nadhir tidak mampu lagi bertahan di dalam benteng. Mereka lalu berteriak-teriak
memanggil Nabi Muhammad sambil mengatakan: “Hai Muhammad! Kamu telah melarang orang
merusak bumi, dan mencela orang yang berbuat kerusakan (di muka bumi), namun mengapa kamu
sendiri justru menebangi pohon-pohon kurma dan lalu membakarnya?” Terkait teriakan mereka itu,
maka turunlah ayat 9 dari surat al-Hasyr.

C. Tafsir Q.S. Al-Hasyr (59) Ayat 7


1. Tafsir Jalalain
(Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang
berasal dari penduduk kota-kota) seperti tanah Shafra, lembah Al-Qura dan tanah Yanbu’ (maka
adalah untuk Allah) Dia memerintahkannya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya (untuk Rasul,
kaum kerabat) yaitu kaum kerabat Nabi dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muthalib (anak-anak
yatim) yaitu anak-anak kaum muslimun yang bapak-bapak mereka telah meninggal dunia
sedangkan mereka dalam keadaan fakir (orang-orang miskin) yaitu orang-orang muslim yang serba
kekurangan (dan orang-orang yang dalam perjalanan) yakni orang-orang muslim yang
mengadakan perjalanan lalu terhenti di tengah jalan karena kehabisan bekal. Yakni harta fa’i itu
adalah hak Nabi SAW. beserta empat golongan orang-orang tadi, sesuai dengan apa yang telah
ditentukan oleh Allah SWT. Dalam pembagiannya, yaitu bagi masing-masing golongan yang empat
tadi seperlimanya dan sisanya untuk Nabi SAW. (supaya janganlah) lafal kay di sini bermakna lam,
dan sesudah kay diperkirakan ada lafal an (harta fa’i itu) yakni harta rampasan itu, dengan adanya
pembagian ini (hanya beredar) atau berpindah-pindah (di antara orang-orang kaya saja di antara
kamu) yakni bagian yang telah diberikan kepada kalian (Apa yang diberikan Rasul kepadamu)
berupa bagian harta fa’i dan harta-harta lainnya (maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras
hukumannya).

2. Tafsir Ibnu Katsir


Firman Allah SWT. Ini menjelaskan tentang makna fa’i, sifat dan hikmahnya. Fa’i adalah segala
harta benda yang dirampas dari orang-orang kafir tanpa melalui peperangan dan tanpa mengerahkan
kuda maupun unta. Seperti harta benda Bani an-Nadhir ini, di mana kaum muslimin
memperolehnya tanpa menggunakan kuda maupun unta, artinya mereka dalam hal ini tidak
berperang terhadap musuh dengan menyerang atau menyerbu mereka, tetapi para musuh itu
dihinggapi rasa takut yang telah Allah timpakan ke dalam hati mereka karena wibawa Rasulullah
SAW. Kemudian Allah memberikan harta benda yang telah mereka tinggalkan untuk Rasul-Nya.
Oleh karena itu, beliau mengatur pembagian harta benda yang diperoleh dari Bani an-Nadhir
sekehendak hati beliau, dengan mengembalikannya kepada kaum muslimin untuk dibelanjakan
dalam segala sisi kebaikan dan kemaslahatan yang telah disebutkan oleh Allah SWT, dalam ayat-
ayat ini.
Kemudian Allah SWT. berfirman, (Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allah kepada
Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota). Yakni, semua kota yang telah
ditaklukkan secara demikian, maka hukumnya disamakan dengan hukum-hukum harta rampasan
perang Bani an-Nadhir. Oleh karena itu, Allah SWT. berfirman, (adalah untuk Allah, untuk Rasul,
kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan) dan
seterusnya dan ayat setelahnya. Demikianlah pihak-pihak yang berhak menerima fa’i.
Iman Ahmad meriwayatkan, Sufyan bin ‘Amr dan Ma’mar memberitahu kami dari az-Zuhri dari
Malik bin Aus bin al-Hadatsan, dari “umar ra., ia berkata: “Harta Bani an-Nadhir termasuk yang
telah Allah berikan kepada Rasul-Nya, dengan tidak ada usaha terlebih dahulu dari kaum muslimin
untuk mengerahkan kuda dan untanya. Oleh karena itu, harta rampasan itu hanya khusus untuk
Rasulullah, beliau nafkahkan untuk keluarganya sebagai nafkah untuk satu tahun. Dan sisanya
beliau manfaatkan untuk kuda-kuda perang dan persenjataan di jalan-Nya.”
Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad di sini secara ringkas. Diriwayatkan juga oleh
sekelompok ahli hadits dalam kitab-kitab mereka kecuali Ibnu Majah dari hadits Sufyan, dari ‘Amr
bin Dinar, dari az-Zuhri.
Dan pihak-pihak yang memperoleh bagian harta fa’i seperti yang disebutkan di dalam ayat di atas
merupakan pihak-pihak yang disebutkan pada seperlima ghanimah.
Firman-Nya, (supaya janganlah harta fa’i itu hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara kamu). Yakni, Kami jadikan pihak-pihak yang memperoleh bagian harta fa’i ini agar tidak
hanya dimonopoli oleh orang-orang kaya saja, lalu mereka pergunakan sesuai kehendak dan hawa
nafsu mereka, serta tidak mendermakan harta tersebut kepada fakir miskin sedikitpun.
Dan firman-Nya, (Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah). Yakni, apa pun yang beliau perintahkan kepada kalian
maka kerjakanlah, dana pa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Karena beliau hanyalah
memerintahkan kepada kebaikan dan melarang keburukan.
Dan firman-Nya, (Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya).
Maksudnya, bertakwalah kepad-Nya dalam menjalankan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan
seluruh larangan-Nya, karena sesungguhnya Dia mempunyai siksaan yang sangat pedih bagi orang
yang menentang-Nya, melanggar perintah-Nya, serta mengerjakan larangan-Nya.

D. Hubungan Q.S. Al-Hasyr (59) Ayat 7 dengan Tema dan Kehidupan Sekarang
Menurut Ibnu Abi Najih yang dikutip oleh Al-Qurtubi bahwa harta itu ada tiga macam:
1. Ghanimah, yaitu harta yang didapatkan oleh kaum muslimin dari orang-orang kafir melalui
peperangan, pemaksaan dan penaklukan.
2. Fai’, yaitu harta orang kafir yang diberikan kepada kaum muslimin secara sukarela tanpa
ada peperangan dan pengerahan (kuda dan unta), seperti: kompensasi perdamaian, pajak, kharaj
dan usyur yang diambil dari pedagang-pedagang kafir. Demikian pula dengan harta yang
ditinggalkan orang kafir, atau harta warisan salah seorang dari mereka yang meninggal di negeri
Islam, sementara dia tidak mempunyai ahli waris.
3. Sedakah, yaitu harta yang diambil dari kaum muslimin untuk menyucikan harta mereka,
misalnya sedekah dan zakat.
Pokok pembicaraan surat al-Hasyr ayat 7 di atas adalah seputar hukum fa’i, yaitu harta rampasan
perang yang diperoleh dari musuh. muslimin. Sedangkan harta rampasan itu untuk Allah, untuk Rasul,
kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Cara
pembagian tersebut merupakan wujud keadilan distribusi harta, dengan tujuan supaya harta tersebut
tidak beredar di antara orang-orang kaya saja.
Asas pemerataan ekonomi dan keuangan ini sangat dijunjung tinggi oleh Nabi yang di dalam Al-Quran
dianjurkan supaya diikuti pula oleh manusia-manusia yang mengimani Al-Quran. Pada saat yang
bersamaan, ayat ini juga sekaligus mengingatkan umat dan masyarakat supaya menjauhi aktivitas
ekonomi dan keuangan yang dilarang oleh Rasulullah.
Jika dikaitkan dengan tema, ayat ini menjelaskan bagaimana cara agar harta tidak beredar di kalangan
orang-orang kaya saja. Karena seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Abi Najih yang dikutip oleh Al-
Qurtubi bahwa salah satu macam harta itu adalah fa’i seperti yang dijelaskan dalam ayat ini. Allah
menetapkan fa’i untuk kelima asnaf (gololngan) ini adalah agar harta tidak hanya beredar di antara
orang-orang kaya saja. Karena jika Allah tidak menetapkan demikian, maka harta itu hanya beredar di
antara orang-orang kaya saja, sedangkan orang-orang lemah tidak memperolehnya dan tentu hal itu
akan menimbulkan kerusakan yang besar, seperti halnya sekarang yang terjadi di Indonesia yaitu
banyaknya kemiskinan.
Kemiskinan bukanlah sebuah azab maupun kutukan dari Tuhan. Namun disebabkan pemahaman
manusia yang salah terhadap distribusi pendapatan (rezeki) yang diberikan. Ayat ini menunjukkan
bahwa kemiskinan lebih banyak diakibatkan sikap dan perilaku umat yang salah dalam memahami
ayat-ayat Allah SWT., khususnya pemahaman terhadap kepemilikan harta kekayaan. Sebenarnya
kemiskinan lebih banyak dilihat dari kacamata non-ekonomi seperti kemalasan, lemahnya daya juang,
dan minimnya semangat kemandirian.
Oleh karena itu, dalam konsepsi pengembangan masyarakat muslim, titik berat pengembangan atau
pemberdayaannya bukan hanya pada sektor ekonomi juga pada faktor non-ekonomi. Rasulullah SAW.
telah memberikan suatu contoh/cara dalam menangani persoalan kemiskinan. Konsep pengembangan
pemberdayaan yang dicontohkan Rasulullah SAW. mengandung pokok-pokok pikiran sangat maju,
yang dititikberatkan pada “menghapuskan penyebab kemiskinan” bukan pada “penghapusan
kemiskinan” semata seperti halnya dengan memberikan bantuan-bantuan yang sifatnya sementara.