Anda di halaman 1dari 22

Tugas Terstruktur Keterampilan Ibadah

Dosen Pengampu M.Syahriza Rezkianoor,S.Ag.,M.H.

KETERAMPILAN ADZAN DAN SHOLAT

Rezkianoor,S.Ag.,M.H. KETERAMPILAN ADZAN DAN SHOLAT DISUSUN OLEH Kelompok 2 1. Muhammad Amrullah

DISUSUN OLEH

Kelompok 2

1. Muhammad Amrullah

:170101060567

2. Fitriana

:170101060330

3. Linda

:170101060295

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH

BANJARMASIN

2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Keterampilan adzan dan sholat dengan baik meskipun banyak kekurangan

di dalamnya. Kami juga berterima kasih pada Dosen mata kuliah yang telah

memberikan tugas ini kepada kami.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan

dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah. Untuk itu tak lupa kami juga menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah sederhana ini dapat dipahami

dan dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

i

Daftar

ii

BAB I PENDAHULUAN

1

a) Latar Belakang Masalah

1

b) Rumusan Masalah

2

c) Tujuan

2

BAB II PEMBAHASAN

3

a) Adzan

3

b) Sholat

6

c) Sholat

Fardhu

13

d) Sholat

Berjamaah

14

e) Sholat Jamak Dan Qasar

15

f) Sholat

Rawatib

17

BAB III KESIMPULAN

18

a) Kesimpulan

18

b) Saran

18

ii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam ajaran islam, shalat menempati kedudukan tertinggi dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain, bahkan kedudukan shalat dalam islam sangat besar sekali hingga tak ada ibadah lain yang mampu menandinginya, dimana hukum melaksanakannya adalah wajib bagi setiap muslim. Shalat merupakan instrumen dalam berkomunikasi antara Manusia dan Allah.

Disamping itu rukun Islam yang kedua ini juga merupakan amaliah ibadah seorang hamba kepada khaliknya sebagai alat untuk mendekatkan diri. Shalat juga merupakan tiang agama, sehingga seseorang yang mendirikan shalat berarti telah membangun pondasi agama. Sebaliknya, seseorang yang meninggalkan shalat berarti meruntuhkan dasar-dasar bangunan agama, agama tidak akan tegak melainkan dengan shalat.

Untuk mengetahui waktu shalat, Allah telah mensyariatkan adzan sebagai tanda masuk waktu shalat. Adzan dan Iqamah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam. Rasulullah shallallahu „alaihi wa salam bersabda :“Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan adzan?

2. Apa yang dimaksud dengan sholat?

3. Apa saja rukun-rukun sholat,syarat-syarat sholat,sunnah dalam sholat dan hikmah sholat?

4. Apa yang dimaksud dengan sholat fardhu?

5. Apa yang dimaksud dengan sholat berjamaah?

6. Apa yang dimaksud dengan sholat jamak dan qasar?

1

7.

Apa yang dimaksud dengan sholat rawatib?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui tentang adzan

2. Untuk mengetahui tentang sholat

3. Untuk mengetahui tentang rukun-rukun sholat,syarat-syarat sholat,sunnah dalam sholat dan hikmah sholat

4. Untuk mengetahui tentang sholat fardhu

5. Untuk mengetahui tentang sholat berjamaah

6. Untuk mengetahui tentang sholat jamak dan qasar

7. Untuk mengetahui tentang sholat rawatib.

2

A. ADZAN

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertiaan ADZAN Adzan ialah pemeberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan lafazh-lafazh tertentu. Dengan azan tercapailah seruan untuk

berjema‟ah dan mengumandangkan syi‟ar islam. Hukumnya wajib atau sunat.

Berkata Qurthubi dan lain-lain:”Walau kalimat-kalimatnya tidak banyak, tapi azan mengandung soal-soal aqidah, karena ia dimulai dengan takbir dan memeuat tentang wujud Allah dan kesempurnaannya. Kemudian di iringgi dengan tauhid dan menyingkirkan sarikat, lalu menetapkan kerasullan Muhammad saw, serta seruan untuk patuh dan taat sebagai akibat pengakuan risalah karena ia tak mungkin dikenal kecuali dengan tuntutan Rasul. Dan setelah itu diserukannya kemenangan, yakni kebahagian yang kekal lagi abadi, dimana terdapat isyarat mengenai kampung akhirat, kemudian beberapa kalimat diulang sebagai penegasan dan untuk menguatkan.

2. Keutamaan azan Mengenai keutamaan azan dan para muadzdzin banyak sekali diterima hadist, di antaranya sebagai berikut yang artinya:” Bahwa Rasullulah saw. Telah bersabda: Andainya tahulah manusia apa yang terdapat pada azan dan shsaf pertama, kemudia tak ada jalan lagi bagi mereka untuk mendapatkan kecuali dengan memasang undian, tentulah akan mereka pasang undian. Dan jika mereka tahu apa artinya menyegerakan dzuhur, tentulah mereka akan berlomba-lomba buat itu, begitu pun jika mereka mengerti kepentingan shalat-shalat Isya dan subuh, pastilah akan mereka datangi, walau akan merangkak sekalipun.”(H.R.bukhari dan lain-lain).

3. Sebab di syari‟atkannya azan

3

Azan mulai disyaratkan mulai pada tahun pertama dari hijrah.

4. Tata cara azan a.Diterima tiga cara dari azan, kita cantumkan sebagai berikut:Pertama: takbir pertama empat kali, sedangkalimat kalimat-kalimat yang lain dua-dua kali tanpa di ulang, kecuali kalimat : tauhid yang hanya satu kali. b.Maka bilangan kalimatnya sebanyak lima belas, berdasarkan hadist Adbdullah bin Zaid yang lalu. c.Kedua : empat kali takbir serta mengulanggi kembali masing-masing dua kalimat syahadat, artinya hendaklah muazdzin mengucapkannya. d.Ketiga : dua kali takbir dengan mengulanggi dua kalimat syahadat, sehingga kalimatnya berjumlah tujuh belas.

5. Tatswib Disyari‟atkan bagi muadzdzin tatswib “haiya‟alal-falah” “Ash shalatukairum minan naum.”

6. Tata cara Qamat

a. Pertama : takbir pertama sebanyak empat kali, serta kalimat- kalimat yang lain dua-dua kali, kecuali kalimat yang akhir.

b. Kedua : dua kali takbir pertama dan yang akhir, bagitu pun “Qad

qamatis shalah”, sedang lainnya satu kali, hingga berjumlah 11 kalimat.

c. Ketiga: cara ketiga ini sama dengan cara yang kedua, kecuali kalimat “Qad qamatis shalah”, di sini tidak dua kali hanya sekali saja, hingga kalimatnya bejumlah 11.

7. Dzikir ketika azan

8. Mengucapkan seperti apayang diucapkan oleh muadzdzin kecuali waktu “ hayya alash shalah” dan Hayya alal falah” hendaklah di ucapkannya setelah masing-masing kalimat itu: La haula wala quwwata illa billah.

4

9. Mengucapkan shalawatt bagi Nabi saw, sesudah azdan dengan salah satu rangkain kalimat yang diakui sah, kemudia memohonkan wasillah baginya kepada Allah.

10. Berdo‟a selesai azan Waktu di antara azan dan qamat, merupakan suatu waktu yang besar harapan akan dikabulkannya doa ketika itu, maka disunatkanlah banyak berdo‟a.

11. Dzikir ketika Qamat Disunatkan bagi orang yang mendengar qamat, menhucapkan seperti apa yang di ucapkan orang yang qamat itu, kecuali sewaktu “Qad qamatish shalah” maka hendaklah disebutnya “Aqamaha allahu wa adamaha”.

12. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh muadzin

13. Hendaklah ia dengan adzan itu mengharap kerindhaan Allah hingga tiada menerima upah.

14. Hendaklah suci dari hadast kecil maupun besar,

15. Hendaklah ia bediri menghadap kiblat,

16. Supaya ia menoleh ke sebalah kanan dengan kepala,leher serta dadanya ketika menggucapkan “Hayya‟allas-shalah, dan ke kiri ketika menggucapkan “Hayya‟allas falah,

17. Memasukkan kedua anakjarinya ke dua telingganya,

18. Mengeraskan suara panggilannya, waktu ia berada serang diri di padang sahara,

19. Melambatkan bacaan adzan dan memisah di antara tiap-tiap dua kalimat dengan berhenti sebentar, sebaliknya menyegerakan bacaan qamat,

20. Supaya tidak berbicara sementara adzan

21. Adzan pada awal waktu dan sebelumnya Adzan itu hendaklah pada awal waktu, tanpa memajukan atau mengundurkannya, kecuali adzan waktu fazar, maka disyari‟atkan memajukannya dari awal waktu, jika dapat dibedakan di antara adzan pertama dan yang kedua hingga tidak terjadi kekeliruan,

5

22. Memisahkan diantara adzan dan qamat Diperlukan tersedianya jangka waktu di antara adzan dan qamat hingga dapat bersedia untuk shalat dan menghadirinya, karena maksud disyaratkannya adzan ialah buat keperluan ini dan kalau tidak demikian akan percumalah adanya.

23. Siapa yang adzan, maka dialah yang qamat Baik muadzdzin maupun lainnya dibolehkan qamat. Demikian kesepakatan para ulama. Tetapi lebih utama bila mudzdzin itu sendiri yang mengucapkan qamat. 1

B. SHOLAT

A. Pengertian shalat Shalat menurut bahasa arab adalah do‟a kemudian menurut istilah (syara‟)

adalah ibadah yang disusun dari beberapa perkataan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, menurut syara‟ dan rukun tertentu. Firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 103 Artinya : dan doakanlah mereka, karena doa‟ mu merupakan ketentraman bagi mereka dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Adapun pendapat para ahli fiqih, shalat adalah ucapanucapan dan gerakan tubuh yang dimulai dengan takbir, ditutup dengan salam, yang di maksudkan sebagai peribadatan kepada Allah SWT, berdasarkan syarat- syarat yang ditetapapkan.

B. Dasar Hukum Sholat Firman Allah SWT dalam surat Al-Bayyinah ayat 56 Artinya dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku Firman Allah SWT surat Al-Baqarah ayat 43

1 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 1,Bandung, PT Alma‟arif,1973

6

Artinya : dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku‟

Hadits Nabi Muhammad SAW :

Artinya: yang pertama hamba hisab tentangnya hari qiamat adalah shalat, maka kalau ia baik baiklah baginya amal selebihnya dan kalau rusak rusaklah amal selebihnya. (H.R Thabrani)

C. Syarat-Syarat dan Rukun Sholat

1. Syarat-syarat shalat Syarat-syarat shalat adalah sesuatu hal yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan shalat. Syarat shalat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:

a. Syarat wajib shalat adalah syarat yang wajib dipenuhi dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seperti Islam, berakal dam tamziz atau baligh, suci dari haid dan nifas serta telah mendengar ajakan dakwah islam.

b. Syarat sah shalat itu ada 8 yaitu:

1)

Suci dari dua hadas

2)

Suci dari najis yang berada pada pakaian, tubuh, dan tempat

3)

shalat Menutup aurat

4) Aurat laki-laki yaitu baina surroh wa rukbah (antara pusar

5)

sampai lutut), sedangkan aurat perempuan adalah jami’i badaniha illa wajha wa kaffaien (semua anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan). Menghadap kiblat

6)

Mengerti kefarduan shalat

7)

Tidak menyakini salah satu fardu dari beberapa fardu shalat

8)

sebagai mana suatu sunnah. Menjauhi hal-hal yang membatalkan shalat

D. Tata Cara Pelaksanaan Shalat Menurut golongan Malikiyah cara-cara/ rukun-rukun mengerjakan shalat adalah sebagai berikut:

7

1. Niat

2. Takbiratul Ihram

3. Berdiri waktu takbiratul ihram

4. Membaca al-fatihah dalam shalat berjamaah dan shalat sendirian

5. Berdiri waktu membaca al-fatihah

6. Ruku‟

7. Bangkit dari ruku‟

8. Sujud

9. Duduk antara dua sujud

10. Mengucapkan salam

11. Duduk di waktu mengucapkan salam

12. Tu‟maninah pada seluruh rukun

13. I‟tidal sesudah ruku‟ dan sujud

Menurut golongan syafi‟iyah rukun shalat ada tiga belas yaitu:

a. Niat

b. Takbiratul ihram

c. Berdiri pada shalat fardu bagi yang sanggup

d. Membaca al-fatihah bagi setiap orang yang shalat kecuali, ada uzur seperti terlambat mengikuti imam (masbuq)

e. Ruku‟

f. Sujud dua kali setiap rakaat

g. Duduk antara dua sujud

h. Membaca tasyahud akhir

i. Duduk pada tasyahud akhir

j. Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW setelah tasyahud akhir

k. Duduk di waktu membaca shalawat

l. Mengucapkan salam

m. Tertib 2

E. Sunat-sunat Shalat

2 Masnunah Hanafi,Fiqh Praktis,Yogyakarta,PT Lkis Printing Cemerlang,2015,hlm 19-22

8

Ada beberapa sunat shalat, yang di utamakn bagi yang mengerjakan shalat untuk memelihara agar tercapai pahalanya yaitu:

1. Mengangkat kedua belah tangan di sunatkan mengangkat kedua belah tangan ketika takbiratul irham, ketika rukuk dan waktu bangkit, dan ketika bangkit hendak melakukan raka‟at selanjudnya.

2. Menaruh tangan kanan di atas tangan kiri Disunatkan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri sewaktu shalat. Mengenai hal ini telah di terima dua puluh buah hadis dari Nabi saw, delapan belas buah dari riwayat sahabat dan dua dari tabi‟in.

3. Tawajjuh atau do‟a Iftitah Disunatkan bagi orang yang shalat mengucapkan salah satu diantara do‟a yang pernah diucapkan oleh nabi saw. Dan dibaca sebagai pembukaan bagi shalat, yakni setelah takbirratul ihram dan sebelum membaca Al-fatihah.

4. Isti‟adzah Disunatkan bagi orang yang shalat isti‟azah yakni membaca audzu billah setelah do‟a iftitah dan sebelum membaca Al-fatihah, karena Allah Ta‟ala berfirman:“ jika kamu membaca Al-Qur‟an, maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

5. Membaca Amin Disunatkan bagi setiap orang yang shalat, baik ia sebagai imam atau makmum atau shalat seorang diri, mengucapkan amin setelah bacaan Al-fatihah.

6. Membaca Al-Qur‟an setelah Al-Fatihah Disunatkan bagi orang yang shalat mmbaca sebuah surat atau beberapa ayat al-Qur‟an setelah membaca Al-Fatihah, yakni pada kedua rakaat shalat subuh dan Jum‟at, dan pada kedua rakaat pertama dari shalat Dhuhur, Ashar, Mangrib dan Isya. Serta pada setiap rakaat shalat sunah.

7. Membaca takbir sewaktu berpindah

9

Sunat mmbaca takbir setiap kali bangkit dan turun, berdiri, dan duduk, kecuali sewaktu bangkit dari rukuk, maka membaca “sam‟allahu ilman hamidah”( mendengar Allah akan pujian orang yang memujinya).

8. Tata cara rukuk Yang diwajibkan padarukuk ialah semata membuangkukkan tulang pinggul, hingga tangan memcapai kedua lutut. Tetapi dalam hal ini disunatkan menyamaratakan kepada dengan tulang pinggul, berletekan dengan kedua tangan di atas kedua lutut dengan merenggangkannya dari pinggang, mengembangkan jari-jari atas lutut dan pangkal betis, serta mendatarkan punggung.

9. Bacaan sewaktu rukuk Disunatkan dalam rukuk itu dzikir dengan lafadz “subhana rabbiya i‟adhim.”(Mahasuci Tuhanku yang mahabesar).

10. Bacaan sewaktu bangkit dari rukuk dan ketika itidal Disunatkan bagi orang yang shalat, baik ia sebagai imam, makmum atau shalat seorang diri agar membaca ketika bangkit dari rukuk”sami‟allahu iman hamidah” (Allah mendengar akan orang yang memuji-nya). Kemudian bila ia telah berdiri lurus hendaklah membaca “Rabbana walaka‟alhamdu”,(ya tuhan kami, dan bagi-mulah puji-pujian).

11. Cara turun ke bawah buat bersujud dan cara bangkit Jumhur berpendapat disunatkannya meletakkan kedua lutut ke lantai sebelum kedua tangan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Mudndzir dari Umar, Nakh‟i, Muslim bin Yasir, Sufyan Tsauri, Ahmad, Ishak dan ahli- ahli pikir lainnya, Hal ini diceritakan oleh Abu Thaiyah sebagaimana pendapat fukaha umumnya, dan berkata Ibnu Qaiyim:” Nabi saw. Menuruh kedua lututnya sebelum kedua tangan ke lantai, kemudian baru kedua tangan, lalu kening dan hidung. Ini merupakan keterangan yang sah yang diriwayatkan oleh Syarik, dari Ashim bin Kalib, yang diterimanya dari WailbinHajar.

10

12. Tata cara sujud Disunatkan bagi orang yang melakukan sujud, suapaya dalam sujudnya itu memperhatikanhal-hal berikut:

a. Merapatkan hidung, kening dan kdua tangan ke lantai, dengan meranggangkannya dari pinggang.

b. Meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua teliga

atau kedua bahu. Kedua-keduanya sama mempunyai keterangan, dan sebagai ulama menghimpum kedua riwayat dengan menjadikan ujung kedua telunjuk telapaknya dengan kedua bahu.

c. Agar melepaskan jari-jarinya dengan rapat

d. Menghadapkan ujung-ujung jari ke arah kiblat

13. Jangka waktu sujud dan bacaan-bacaannya Disunatkan bagi orang yang sujud, membaca di waktu sujudnya “subhana rabbiyal a‟ala”, ( mahasuci tuhanku yang mahatinggi). Dan selaknya bacaan tasbih di waktu rukuk dan sujud tidak kurang dari tiga kali tasbih.

14. Tata cara duduk di antara dua sujud Menurut sunnah, duduk di antara dua sujud itu ialah secara iftirasy, yakni dengan melipat kaki kiri, lalu mengembangkan dan duduk di atasnya, dengan menengakkan telapak kaki kanan sambil menghadapkan ujung-ujung jarinya ke arah kiblat.

15. Duduk beristirahat Yaitu duduk sebentar waktu yang dilakukan oleh orang yang shalat setelah selesai dari sujud kedua pada rakaat pertama, menjelang berbangkit ke rakaat kedua, dan setelah selesai dari sujud kedua pada rakaat ketiga, menjelang berbangkit menuju rakaat keempat.

16. Tata tertib duduk waktu tasyahud Hendaklah disaat duduk waktu tasyahud itu dijaga sunat-sunat berikut:

11

a. Hendaklah kedua tangan diletakkan menurut ketentuan hadits- hadist

b. Agar memberi isyarat dengan telunjuk kanan dengan

membungkukkannya sedikit sampai memberi salam

c. Agar duduk iftirasy pada tasyahud pertama, dan duduk tawarruk pada tasyahud akhir. Dalam hadist Abu Humeid melukiskan shalat Rasullulah saw tersebut:

Yang artinya:“ Maka bila ia duduk pada rakaat kedua, didudukinya kakinya yang kiri dan ditegakkannya kakinya yang kanan. Kemudian bila ia duduk pada rakaat yang akhir, dimajukannya kakinyayang kiri dan ditegakkanya yang kanan serta ia duduk di atas panggulnya.”(H.R. bukhari)

17. Tasyahud pertama Jumhur ulama berpendapat bahwa tasyahud pertama hukumnyasunat berdasarkan hadist Abdulllah bin Buhairah: “ Bahwa Nabi saw. Berdiri pada waktu shalat Dhuhur, pada hal sebetulnya ia harus duduk. Maka tatkala itu selesai ia pun sujud dua kali dengan membaca takbir pada tiap kali sujud sementara duduk, sebelum memberi salam, dan orang-orang pun ikut sujud bersamanya. Maka sujud ini adalah sebagai imblan duduk yang terlupa.”

18. Shalawat Nabi saw Disunatkan bagi orang yang shalat, membaca sshalawat bagi Nabi

saw.

19. Do‟a setelah tasyahud akhir dan sebelum salam Disunatkan membaca doa setelah tasyahud dan selebum salam mengenai dunia dan akhirat.

20. Dzikir dan doa setelah memberi salam

12

Telah diterima dari nabi. Sejumlah dzikir dan doa sesudah memberi salam, yang disunatkan bagi orang yang shalat untuk membacanya. 3

F. Hikmah Sholat Adapun hikmah sholat, yaitu:

1. Shalat merupakan hubungan langsung antara hamba dengan khaliq- nya yang didalamnya terkandung kenikmatan munajat, pernyataan ubudiyah, penyerahan segala urusan kepada Allah, keamanan dan ketentraman serta perolehan keuntungan. Disamping itu dia merupakan suatu cara untuk memperoleh kemenangan serta menahan seseorang dari berbuat kejahatan dan kesalahan.

2. Shalat merupakan pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT, menguatkan jiwa dan keinginan, semata-mata mengagungkan Allah SWT, bukan berlomba-lomba untuk memperturutkan hawa nafsu dalam memcapai kemegahan dan mengumpulkan harta. Disamping itu shalat merupakan peristirahatan diri dan ketenangan jiwa sesudah melakukan kesibukan dalam menghadapi aktivitas dunia.

3. Shalat mengajarkan seseorang untuk berdisiplin dan menta‟ati berbagai peraturan dan etika dalam kehidupan dunia. Hal ini terlihat dari penetapan waktu shalat yang mesti dipelihara oleh setiap muslim dan tata tertib yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian orang yang melakukan shalat akan memahami peraturan, nilai dan sopan santun, ketentraman dan mengkonsentrasikan pikiran kepada hal-hal yang bermanfaat, karena shalat penuh dengan pengertian ayat-ayat Al-Quran yang mengandung nilai- nilai tersebut

4. Shalat merupakan pengakuan aqidah setiap anggota masyarakat dan kekuatan jiwa mereka yang berimplikasi terhadap persatuan dan kesatuan umat. Persatuan dan kesatuan ini menimbulkan

3 Sayyid Sabiq, 0p.cit,

13

hubungan sosial yang harmonis dan kesamaan pemikiran dalam menghadapi segala problema kehidupan sosial kemasyarakatan. 4

C. SHOLAT FARDHU

Shalat yang diwajibkan bagi tiap-tiap orang yang dewasa dan berakal ialah lima kali sehari semalam. Mula-mula turunnya perintah wajib shalat itu ialah pada malam Isra‟, setahun sebelum tahun Hijriah. Waktu shalat fardhu:

1. Salat lohor. Awal waktunya adalah setelah tergelincir matahari dari pertengahan langit. Akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya, selain dari bayang-bayang yang kerika matahari menonggak (tepat di atas ubun-ubun).

2. Shalat asar. Waktunya mulai dari habisnya waktu lohor; bayang-bayang sesuatu lebih daripada panjangnya selain dari bayang-bayang yang ketika matahari sedang menonggak, sampai terbenam matahari.

3. Shalat magrib. Waktunya dari terbenam matahari sampai terbenam syafaq (teja) merah.

4. Shalat isya. Waktunya mulai dari terbenam syafaq merah (sehabis waktu magrib) sampai terbit fajar kedua.

5. Shalat subuh. Waktunya mulai dari terbit fajar kedua sampai terbit

matahari.

D. SHOLAT BERJAMAAH Apabila dua orang salat bersama-sama dan salah seorang diantara mereka mengikuti yang lain, keduanya dinamakan salat berjamaah. Orang yang diikuti (yang di hadapan) dinamakan imam, sedangkan yang mengikuti di belakang dinamakan makmum. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat berjamaah itu adalah fardu ‘ain (wajib „ain), sebagian berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu kifayah, dan sebagian lagi berpendapat sunat muakkad (sunat istimewa). Yang akhir inilah hukum yang lebih layak, kecuali bagi shalat jumat. Menurut kaidah persesuaian beberapa dalil dalam masalah ini,

4 Masnunah Hanafi, 0p.cit, hlm., 22

14

seperti yang telah disebutkan di atas, pengarang Nailul Autar berkata, “pendapat yang seadil-adilnya dan lebih dekat kepada yang betul ialah salat berjamaah itu sunat muakkad”. Syarat-syarat sah mengikuti imam

1. Makmum hendaklah berniat mengikuti imam

2. Makmum hendaklah mengikuti imam dalam segala pekerjaannya

3. Mengetahui gerak-gerik perbuatan imam

4. Keduanya (imam dan makmum) berada dalam satu tempat, umpamanya dalam satu rumah

5. Tempat berdirinya makmum tidak boleh lebih depan daripada imam

6. Imam hendaknya jangan mengikuti yang lain

7. Aturan salat makmum dengan shalat imam hendaknya sama

8. Laki-laki tidak sah mengikuti perempuan

Boleh meninggalkan shalat berjamaah karena beberapa halangan berikut:

1. Karena hujan yang menyusahkan perjalanan ketempat berjamaah

2. Karena angin kencang

3. Sakit yang menyusahkan berjalan ke tempat berjamaah

4. Karena lapar dan haus, sedangkan makanan sudah tersedia. Begitu juga ketika sangat ingin buang air besar atau buang air kecil.

5. Karena baru memakan makanan yang berbau busuk, dan baunya sukar dihilangkan, seperti bawang, petai, jengkol, dan sebagainya

6. Ada sesuatu yang membawa masyaqat (kesulitan) umtuk

menjalankan shalat berjamaah.

E. SHOLAT JAMAK DAN QASAR Shalat qasar artinya salat yang diringkaskan bilangan rakaatnya, yaitu di antara salat fardu yang lima; yang mestinya empat rakaat dijadikan dua rakaat saja. Salat lima waktu yang boleh diqasar hanya Lohor, Asar, dan Isya. Adapun Magrib dan Subuh tetap sebagaimana biasa, tidak boleh

15

diqasar. Hukum salat qasar dalam mazhab Syafii harus (boleh), bahkan lebih baik bagi orang yang dalam perjalanan serta cukup syarat-syaratnya. Syarat sah salat qasar

1. Perjalanan yang dilakukan itu bukan perjalanan maksiat (terlarang), seperti pergi haji, silaturahmi, atau berniaga, dan sebagainya.

2. Perjalanan itu berjarak jauh, sekurang-kurangnya 80,640 km atau lebih (perjalanan sehari semalam)

3. Salat yang diqasar itu ialah salat adaan (tunai), bukan salat qada.

4. Berniat qasar ketika takbiratul ihram.

Salat yang boleh dijamakkan hanya antara Lohor dengan Asar, dan antara, Magrib dengan Isya, sedangkan Subuh tetap wajib dikerjakan pada waktunya sendiri. Shalat jamak artinya salat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan ialah dua salat fardu yang lima itu, dikerjakan dalam satu waktu. Umpamanya salat Lohor dan Asar dikerjakan di waktu Lohor atau di waktu Asar. Hukum salat jamak ini “boleh” bagi orang yang dalam perjalanan, dengan syarat-syarat seperti yang telah disebutkan pada salat qasar.

Jamak taqdim ialah salat Lohor dan Asar yang dikerjakan di waktu Lohor; salat Magrib dan Isya dikerjakan di waktu Magrib. Jamak ta‟khir ialah salat Lohor dan Asar yang dikerjakan di waktu Asar; salat Magrib dan Isya dikerjakan di waktu Isya.

Syarat jamak taqdim menurut pendapat sebagian ulama ada tiga:

1. Hendaklah dimulai dengan salat yang pertama (Lohor sebelum Asar, atau Magrib sebelum Isya) kerena waktunya adalah waktu yang pertama.

2. Berniat jamak agar berbeda dari salat yang terdahulu karena lupa

3. Berturut-turut, sebab keduanya seolah-olah satu salat.

Syarat jamak ta‟khir

16

Pada waktu pertama hendaklah berniat akan melakukan shalat pertama itu di waktu yang kedua, supaya ada maksud bersungguh- sungguh akan mengerjakan salat pertama itu dan tidak ditinggalkan begitu saja. 5

F. SHOLAT RAWATIB

Shalat rawatib adalah shalat yang mengikuti shalat fardhu. Faedah shalat ini adalah menambal kekurangan dan cacat yang terjadi pada shalat fardhu. Jumlah shalat rawatib adalah sepuluh rakaat, ia berdasarkan dalam hadits Ibnu Umar, dia berkata,

Artinya: “Aku menghafal dari Rasulullah SAW dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sesudah zhuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum shubuh, ini adalah waktu dimana aku tidak masuk menemui Rasulullah SAW padanya, lalu Hafshah menceritakan kepadaku bahwa bila fajar terbit, dan muadzin telah mengumandangkan adzan, maka beliau shalat dua rakaat. 6

5 Sulaiman Rasjid,fiqh Islam,Bandung,Sinar Baru Algensindo,2018,hlm,53-121

6 Tim Ulama Fikih,Fikih Muyassar,(Izzudin Karimi, Penerjemah),Jakarta:Darul Haq,2017,hlm 104

17

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan Azan ialah pemeberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan lafazh- lafazh tertentu. Dengan azan tercapailah seruan untuk berjema‟ah dan mengumandangkan syi‟ar islam.

Asal makna shalat menurut bahasa Arab ialah “do‟a”, tetapi yang dimaksud di sini adalah “ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan”.

Shalat fardhu ialah Shalat yang diwajibkan bagi tiap-tiap orang yang dewasa dan berakal ialah lima kali sehari semalam. Apabila dua orang salat bersama-sama dan salah seorang diantara mereka mengikuti yang lain, keduanya dinamakan salat berjamaah. Shalat qasar artinya salat yang diringkaskan bilangan rakaatnya, yaitu di antara salat fardu yang lima; yang mestinya empat rakaat dijadikan dua rakaat saja. Shalat jamak artinya salat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan ialah dua salat fardu yang lima itu, dikerjakan dalam satu waktu. Shalat rawatib adalah shalat yang mengikuti shalat fardhu. Faedah shalat ini adalah menambal kekurangan dan cacat yang terjadi pada shalat fardhu.

B. Saran

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih terdapat banyak kekurangan dan tentunya masih sangat jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu penyusun berharap kepada para pembaca untuk bersedia memberikan kritik ataupun saran agar bisa lebih baik lagi dalam meyusun makalah yang serupa di masa yang akan datang.

18

Daftar Pustaka

Hanafi,Masnunah,.(2015). Fiqh Praktis.Yogyakarta:PT Lkis Printing Cemerlang.

Sabiq,Sayyid,.(1973).Fikih Sunnah 1.Bandung: PT Alma‟arif.

Rasjid,Sulaiman,.(2018).fiqh Islam.Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Tim

Penerjemah).Jakarta:Darul Haq.

Ulama

Fikih.(2017).Fikih

19

Muyassar

(Izzudin

Karimi,