Anda di halaman 1dari 21

MANAJEMEN KEUANGAN MULTIFINANCE

SYARIAH
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah Manajemen Keuangan Non
Bank Syariah Jurusan Hukum Ekonomi Syariah/VI/HPS-B

Dosen Pengampu: Hj. Diah Siti Sa’diah, M.Ag

Disusun Oleh:

Ilman Muhamad Asodiq 1143020089

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan ridha-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas proposal penelitian guna untuk
memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan Non Bank Syariah. Shalawat serta
salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang
penulis hadapi teratasi.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Manajemen
Keuangan Multifinance Syariah” yang kami sajikan dari berbagai sumber. Dalam
penyusunan makalah ini penulis memiliki banyak kekurangan Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya Makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak
kekurangan, baik dalam isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu,
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan
bagi pembaca. Amin.

Bandung, April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... i

DAFTAR ISI ............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................ 1


B. Rumusan Masalah ........................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ............................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... 3

A. Pengertian Manajemen Keuangan................................................... 3


B. Pengertian Multifinance Syariah ..................................................... 3
C. Kegiatan Usaha Multifinance Syariah ........................................... 4
D. Pembinaan dan Pengawasan Multifinance Syariah......................... 12
E. Strategi Pengelolaan dan Pembangunan Perusahaan
Pembiayaan Syariah di Indonesia ................................................... 16

BAB III PENUTUP ................................................................................... 17

A. Simpulan ......................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 18

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemahaman masyarakat Muslim Indonesia mengenai konsep Syariah
masih terbatas, hanya pada kegiatan ibadah-ibadah rutin, padahal konsep syariah
meliputi semua aspek kehidupan. Ekonomi Syariah juga tidak hanya sebatas pada
Peebanksan Syariah namun mencakup berbagai ruang lingkup perekonomian yang
mendasarkan pada ilmu pengetahuan dan nilai-nilai syariah Islam.

Keunggulan sistem ekonomi syariah, termasuk bank Syariah tidak hanya


diakui oleh para tokoh dinegara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim.
Ketahanan sistem ekonomi Syariah terhadap krisis keuangan global telah
membuka mata para ahli ekonomi didunia. Banyak diantara mereka yang lalu
melalakukan kajian yang mendalam terhadap perekonomian berdasarkan prinsip-
prinsip Syariah.

Pasalnya keuangan syariah tidak menggunakan instrumen derivatif seperti


halnya keuangan konvensional, meski keuangan syariah juga memiliki resiko
namun Syariah jauh dari ketidakpastian atau gharar. Jika terkena resiko maka
Kelantan Syariah akan berbagi resiko tersebut. Manajemen merupakan hal penting
yang dapat berpengaruh bagi masyarakat karena dengan produk-produk syariah
masyarakat merasa lebih aman dan nyaman karena manajemen keuangan Syariah
lebih menyentuh dari sektor riil.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen keuangan?
2. Apa yang dimaksud dengan multifinance Syariah?
3. Apa saja kegiatan multifinance Syariah?
4. Bagaimana pembinaan dan pengawasan multi finance Syariah?
5. Bagaimana Strategi Pengelolaan dan Pembangunan Perusahaan
Pembiayaan Syariah di Indonesia ?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui penjelasan dari manajemen keuangan
2. Untuk mengetahui penjelasan multifinance Syariah
3. Untuk mengetahui kegiatan multifinance Syariah
4. Untuk mengetahui pembinaan dan pengawasan multi finance Syariah
5. Untuk mengetahui Strategi Pengelolaan dan Pembangunan Perusahaan
Pembiayaan Syariah di Indonesia

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Manajemen Keuangan

Manajemen Keuangan adalah penggabungan dari ilmu dan seni yang


membahas, mengkaji dan menganalisis tentang bagaimana seorang manajer
keuangan dengan mempergunakan seluruh sumberdaya perusahaan untuk
mencari dana, mengelola dana, dan membagi dana dengan tujuan mampu
memberikan profit atau kemakmuran bagi para pemegang saham dan
sustainability (keberlanjutan) usaha bagi perusahaan.1
Manajemen Keuangan adalah semua aktivitas organisasi didalam
upaya mendapatkan,mengalokasikan,menggunakan dana organisasi secara
efektif dan efisien.
Adapula yang mengartikan manajemen keuangan adalah sebuah
proses didalam kegiatan yang berhubungan dengan keuangan perusahaan yang
dimulai dengan cara mendapatkan dan menggunakan.

B. Pengertian Multifinance Syariah

Multifinance syariah atau lembaga pembiayaan adalah badan usaha


yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau
barang modal dengan tidak menarik dana langsung dari masyarakat. Bidang
usaha lembaga pembiayaan mencakup beberapa alternatif kegiatan
pembiayaan seperti sewa guna usaha (leasing), anjak piutang (factoring),
2
kartu kredit (credit card), dan pembiayaan konsumen (consumer finance).
multifinance syariah adalah badan usaha diluar bank dan lembaga keuangan
bukan bank untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha
lembaga pembiayaan. Menurut Peraturan OJK No.29/POJK.05/2014 tentang
penyelenggaraan usaha perusahaan pembiayaan, Multifinance adalah badan

1
Irham Fahmi, Pengantar manajemen keuangan teori dan soal jawab, (Bandung: CV
Alfabeta, 2013) hlm. 2
2
Perpres No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan

3
usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang dan atau
jasa.

Selain itu, pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah pembiayaan


berdasarkan persetujuan dan kesepakatan antara perusahaan pembiayaan
dengan pihak lain yang diwajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan
pembiayaan tersebut dalam jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi
hasil. Pengelolaan dan pengembangan perusahaan pembiayaan harus
memerhatikan bidang pemasaran, produksi, keuangan, permodalan, sumber
daya insani. Disamping itu harus ditetapkan program kerja yang jelas,
komperhensip, serta dilakukan pemantauan secara terus-menerus.

Dalam aturan pembiayaan selain menggunakan sistem konvensional


juga dilakukan berdasarkan prinsip syariah dengan akad-akad yang telah
diatur berdasarkan putusan ketua Bapepam LK No. PER-04/BL/2007. Secara
teori ada tiga ciri dari pembiayaan syariah yaitu bebas bunga, berprinsip bagi
hasil, dan perhitungan bagi hasil tidak dilakukan dimuka.

C. Kegiatan Usaha Multifinance Syariah

Kegiatan multifinance (perusahaan pembiayaan) dilakukan dalam


bentuk penyediaan dana dan atau barang modal serta barang kebutuhan
konsumen dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat
melalui tabungan, giro, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan
itu.Aktivitas inilah yang membedakan multifinance dengan perbankan,
walaupun sama sama lembaga keuangan. Perbankan dapat melakukan
penarikan dana langsung dari masyarakat sedangkan multifinance tidak dapat
melakukan penarikan dana langsung dari masyarakat.Kegiatan usaha
multifinance syariah, diantaranya yaitu:3

3
Soemitra, Andri. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana, 2010. Hlm. 23

4
1. Sewa Guna Usaha (Leasing) Syariah

Menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.012/2006 tentang


Perusahaan Pembiayaan yang dimaksud dengan sewa guna usaha adalah
kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara guna
usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi
(operating lease) untuk digunakan oleh penyewa (lease) selama jangka waktu
tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Dengan demikian, sewa guna
usaha merupakan suatu kontrak atau persetujuan sewa menyewa. Objek sewa
guna usaha adalah barang modal dan pihak lessee memiliki hak opsi dengan
harga berdasarkan nilai sisa. Sedangkan yang dimaksud sewa guna usaha
syariah adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal
baik dengan hak opsi maupun tanpa hak opsi untuk digunakan oleh penyewa
guna usaha selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara
angsuran sesuai dengan prinsip syariah. Dalam setiap transaksi leasing terdapat
paling tidak 5 pihak yang berkepentingan, yaitu:
a. Lessor, yaitu pihak yang menyewakan barang dan dapat terdiri dari
beberapa perusahaan.
b. Lessee, yaitu perusahaan atau pihak yang memperoleh pembiayaan dalam
bentuk barang modal dari Lessor.
c. Supplier, adalah perusahaan atau pihak yang mengadakan atau
menyediakan barang untuk dijual kepada Lessee dengan pembayaran
secara tunai oleh Lessor.
d. Bank terlibat secara tidak langsung dalam kontraktersebut, namun pihak
bank memegang peranan dalam hal penyediaan dana kepada lessor
terutama dalam mekanisme leverage lease di mana sumber dana
pembiayaan lessor diperoleh melalui kredit bank.
e. Asuransi, merupakan perusahaan yang akan menanggung resiko terhadap
perjanjian antara lessor dengan lessee. Usaha leasing syariah dilakukan
berdasarkan akad ijarah dan ijarah muntahiya bi al- tamlik. 1) Ijrah Akad

5
ijarah adalah akad penyaluran dana untuk pemindahan hak guna (manfaat)
atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah),
antara perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa (mu’ajjir) dengan
penyewa (musta’jir) tanpa diikuti pengalihan barang kepemilikan barang
itu sendiri. Landasan syariah akad ini adalah Fatwa DSN-MUI No.
09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah. Transaksi ijarah
dilandasi adanya perpindahan manfaat (hak guna), bukan perpindahan
kepemilikan (hak milik). Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan
prinsip jual beli, tapi perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Bila
pada jual beli objek transaksinya barang, pada ijarah objek transaksinya
adalah barang maupun jasa. 2) Ijarah Muntahiya bi al- Tamlik Adalah
akad penyaluran dana untuk pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu
barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah), antara
perusahaan pembiayaan sebagai pemberi sewa (muajjir) dengan penyewa
(musta’jir) disertai opsi pemindahan hak milik atas barang tersebut kepada
penyewa setelah selesai masa sewa. Landasan syariah akad ini adalah
Fatwa DSN-MUI No. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang al- Ijarah al-
Muntahiya bi al- Tamlik atau al- Ijarah wa al- Iqtina’.

2. Anjak Piutang Syariah

Anjak piutang (factoring) adalah transaksi pembelian dan/atau


penagihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek klien (penjual)
kepada perusahan anjak piutang, kemudian akan ditagih oleh perusahaan anjak
piutang kepada pembeli karena adanya pembayaran kepada klien oleh
perusahaan anjak piutang. Sedangkan yang dimaksud dengan anjak piutang
syariah adalah kegiatan pengalihan piutang dagang jangka pendek suatu
perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut sesuai dengan prinsip
syariah. Anjak piutang dilakukan berdasarkan akad Wakalah bil Ujrah.
Wakalah bil Ujrah adalah pelimpahan kuasa oleh satu pihak (muakkil) kepada
pihak lain (wakil) dalam hal yang boleh diwakilkan dengan pemberian
keuntungan (ujrah). Perlu ditekankan di sini bahwa secara umum pengurusan

6
piutang tersebut haruslah tidak dilakukan dengan cara-cara yang dilarang oleh
syariah. Beberapa istilah dalam transaksi anjak piutang yang dapat diketahui
secara umum adalah:

a. Factor (perusahaan anjak piutang), yaitu badan usaha yang mealkukan


kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan, serta
pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari
transaksi perdagangan dalam atau luar negeri.
b. Client (penjual piutang/supplier), yaitu perusahaan yang menjual dan/atau
mengalijkan piutang atau tagihannya yang timbul dari transaksi
perdagangannya kepada perusahaan anjak piutang atau perusahaan yang
mendapatkan fasilitas anjak piutang dari perusahaan anjak piutang, baik
financing maupun non financing.
c. Piutang, adalah kewajiban pembayaran customer kepada klien atas barang
yang telah dibeli dan/atau jasa yang telah diberikan oleh klient kepa
customer.
d. Customer (nasabah) adalah perusahaan atau pihak ketiga yang membeli
barang dan/atau jasa dari klient yang pembayarannya secara kredit atau
dapat dikatakan pula perusahaan yang mempunyai kewajiban kepada
klient.
e. Kontrak, adalah perjanjian anjak piutang yang dilakukan oleh dan antara
factor dengan klient.
f. Nilai pembiayaan, adalah besarnya nilai pembiayaan yang dilakukan oleh
factor atas tagihan yang ditawarkan oleh klient.
g. Retention, adalah bagian dana dari anjak piutang yang ditahan oleh factor
untuk menutup kemungkinan terjadinya penyesuaian jumlah piutang
sebelum jatuh tempo atau dapat pula dikatakan bagian dana dari tagihan
yang ditawarkan oleh klient kepada factor. Retention akan dikembalikan
kepada klient setelah tagihan kepada customer sudah diterima efektif oleh
factor.

7
h. Recourse, adalah hak factor untuk menerima pembayaran dari klien
apabila piutang yang dialihkan tidak dapat dibayar oleh nasabah pada saat
piutang jatuh tempo.
Anjak piutang (factoring) dilakukan berdasarkan akad Wakalah bil
Ujrah. Wakalah bil Ujrah adalah pelimpahan kuasa oleh satu pihak (al
Muwakkil) kepada pihak lain (al Wakil) dalam hal-hal yang boleh diwakilkan
dengan pemberian keuntungan (Ujrah). Landasan hukum akad ini adalah
Fatwa DSN-MUI No. 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah. Proses anjak
piutang syariah secara prosedural dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Supplier (klien) menjual barang atau jasa kepada pembeli (customer).
Penyerahan barang dengan D/O (delivery order/surat jalan) yang
ditandatangani pembeli. Asli D/O kembali kepada supplier.
b. Karena alas an cash flow (arus kas), supplier atau klien me-wakalah-kan
tagihannya kepada perusahaan anjak piutang atas persetujuan pembeli.
c. Klien menyerahkan data tagihan, termasuk faktur-faktur atau D/O kepada
perusahaan anjak piutang.
d. Kontrak persetujuan Wakalah bil Ujrah tagihan antara klien dengan
perusahaan anjak piutang.
e. Klien memperoleh pelunasan piutang dari perusahaan anjak piutang.
f. Pada saat jatuh tempo perusahaan anjak piutang melakukan penagihan
kepada pembeli.
g. Pelunasan utang oleh pembeli.

3. Pembiayaan Konsumen Syariah

Adiwarman A. Karim dalam bukunya “Bank Islam, Analisis Fiqih dan


Keuangan” menyebutkan, bahwa konsumsi adalah kebutuhan individual
meliputi kebutuhan barang maupun jasa yang tidak dipergunakan untuk tujuan
usaha. Dengan demikian yang dimaksud dengan pembiayaan konsumtif adalah
jenis pembiayaan yang diberikan untuk tujuan di luar usaha dan umumny
bersifat perorangan. Pembiayaan konsumen (consumer finance) adalah

8
kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan
konsumen dengan pembayaran secara angsuran.4

Pembiayaan konsumen termasuk ke dalam jasa keuangan dalam bentuk


perusahaan pembiayaan yang dapat dilakukan oleh bank ataupun lembaga
keuangan non bank dalam bentuk pembiayaan. Sedangkan pembiayaan
konsumen syariah adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang
berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran sesuai
dengan prinsip syariah. Perusahaan pembiayaan syariah dapat melakukan
pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara
angsuran dengan menggunakan akad yang ditetapkan oleh syariah. paada
Prinsipnya pembiayaan konsumen dilakukan berdaarkan akad murabahah,
salam, dan istishna’.
Secara umum prosedur pembiayaan konsumen syariah dapat dilakukan
sebagai berikut:
a. Pihak konsumen menghubungi perusahaan pembiayaan untuk mengajukan
permohonan pembiayaan yang bersifat konsumtif.
b. Perusahaan pembiayaan dan konsumen menyepakati kontrak sesuai
dengan akad yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam dokumen
tertulis secara jelas menerangkan syarat dan ketentuan yang disepakati.
c. Penyerahan barang kepada konsumen sesuai dengan permohonan
konsumen.
d. Konsumen membayar kepada perusahaan pembiayaan sesuai dengan
kesepakatan kontrak.

4. Usaha Kartu Plastik Syariah

Pada dasarnya, kartu plastic adalah kartu yang diterbitkan oleh bank
atau perusahaan tertentu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran
sebagai transaksi atau jasa atau menjamin keabsahan cek yang dikeluarkan di
samping untuk melakukan penarikan uang tunai. Kartu plastik dalam

4
Adiwarman A Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan. (Jakarta: Rajawali Pers,
2009) hlm.122

9
perkembangannya juga telah diakomodasi oleh lembaga keuangan syariah
khususnya dalam Fatwa DSN-MUI No. 42/DSN-MUI/V/2004 tentang Syariah
Charge Card dan Fatwa DSN-MUI No. 54/DSN-MUI/X/2006 tentang Syariah
Card. Menurut Fatwa DSN-MUI No. 54, yang dimaksud dengan Syariah Card
adalah kartu yang berfungsi seperti kartu kredit yang hubungan hukum
(berdasarkan sistem yang sudah ada) antara para pihak berdasarkan prinsip
syariah. Kartu plastic dapat berupa kartu kredit, kartu debit, ATM, dan Charge
Card.

a. Pihak-pihak yang terlibat dalam kartu plastic


Pihak-pihak yang terkait dengan penerbitan dan penggunaan kartu plastic
adalah sebagai berikut:
1) Bank atau perusahaan pembiayaan baik sebagai penerbit dan pengelola
kartu (mushdir al-bithaqah/ issuer). Perusahaan yang khusus akan
menerbitkan kartu harus terlebih dahulu memperoleh izin dari
Departemen Keuangan, dan pada bank, maka harus mengikuti
ketentuan BI.
2) Penjual (tajir atau qabil al-bithaqah/ merchant), yaitu pihak penjual
barang dan jasa yang dibeli oleh pemilik kartu dengan menggunakan
kartu tersebut. Sebagai tempat belanja, seperti: hotel, super market,
restoran, dan tempat-tempat lain di mana bank mengikat perjanjian.
3) Pemegang kartu (hamil al-bithaqah/ card holder), yaitu nasabah yang
namanya tertera dalam kartu tersebut dan yang berhak
menggunakannya untuk berbagai keperluan transaksi.
4) Pengelola (acquirer), yaitu pihak yang mewakili kepentingan penerbit
kartu untuk menyalurkan kartu kredit, melakukan penagihan kepada
pemilik kartu, mealkukan pembayaran kepada pihak merchant.
b. Karakteristik kartu plastic syariah
Usaha kartu syariah yang dilakukan sesuai dengan prinsip syariah
adalah fasilitas jaminan pembayaran untuk pembelian barang dan/atau jasa
dengan menggunakan kartu sesuai dengan prinsip syariah. Adapun akad yang

10
digunakan dalam penggunaan kartu tersebut adalah akad kafalah, qardh, dan
ijarah.
1) Kafalah, dalam hal ini penerbit kartu adalah penjamin (kafil) bagi
pemegang kartu terhadap merchant atas semua kewajiban bayar yang
timbul dari transaksi antara pemegang kartu dengan merchant, dan/atau
penarikan tunai dari selain bank atau ATM bank penerbit kartu. Atas
pemberian kafalah penerbit kartu dapat menerima fee kafalah (ujrah
kafalah).
2) Qardh, dalam hal ini penerbit kartu adalah pemberi pinjaman kepada
pemegang kartu melalui penarikan tunai dari bank atau ATM bank
penertbit kartu.
3) Ijarah, dalam hal ini penerbit kartu adalah penyedia jasa sistem
pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu. Atas dasar ijarah ini,
pemegang kartu dikenakan membership fee)
Di samping itu, kartu plastik syariah memiliki batasan-batasan, yaitu:
a) Tidak menimbulkan riba.
b) Tidak digunakan untuk transaksi yang tidak sesuai dengan syariah.
c) Tidak mendorong pengeluaran yang berlebihan (isfaf), dengan cara
antara lain menetapkan pagu maksimal pembelanjaan.
d) Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk
melunasi pada waktunya.
e) Tidak memberikan fasilitas yang bertentangan dengan syariah.
Sejauh ini, penerbitan kartu plastic syariah, seperti kartu kredit di
Indonesia telah diluncurkan oleh Bank Danamon, yang menggandeng
MasterCard menerbitkan DirhamCard dan BII yang memiliki dua produk
kartu kredit syariah yakni tipe BII Syariah Card Gold dan Platinum.
Sedangkan kartu debit syariah telah banyak dikeluarkan bank-bank atau
lembaga yang menggunakan jasa tersebut dan menjadi konsumsi
masyarakat yang membutuhkannya, seperti kartu ATM Syariah Plus yang
diterbitkan BNI Syariah, Shar-E diterbitkan BMI, sedangkan kartu charge
diterbitkan oleh BII Syariah (BII Syariah Card).

11
D. Pembinaan dan Pengawasan Multifinance Syariah
Pada perusahaan pembiayaan syariah pengawasan dan pembinaan yang
dilakukan meliputi:
1. Sumber Pendanaan
Sumber pendanaan perusahaan pembiayaan syariah wajib diperhitungkan
sebagai komponen dalam menghitung gearing ratio perusahaan pembiayaan.
Sumber pendanaan tersebut dapat diperoleh melalui bank atau badan usaha
lainnya baik dari dalam maupun luar negeri dengan menggunakan akad
yang sesuai dengan prinsip syariah.
Adapun akad yang diterapkan pada sumber pendanaan ini meliputi:
a. Pendanaan mudharabah mutlaqah (unrestricted investment) yaitu
diperoleh perusahaan pembiayaan melalui akad kerja sama dengan pihak
lain yang bertindak sebagai penyandang dana (shahibul mal), dimana
shahibul mal tersebut membiayai 100% modal kegiatan pembiayaan
untuk proyek yang tidak ditentukan oleh perusahaan pembiayaan, dan
keuntungan usaha dibagi sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam
akad.
b. Pendanaan mudharabah muqayyadah (restricted investment) yaitu
diperoleh perusahaan pembiayaan melalui akad kerjasama dengan pihak
lain yang bertindak sebagai penyandang dana (shahibul mal), dimana
shahibul mal tersebut membiayai 100% modal kegiatan pembiayaan
untuk proyek yang tidak ditentukan oleh perusahaan pembiayaan, dan
keuntungan usaha dibagi sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam
akad.
c. Pendanaan mudharabah musytarakah yaitu diperoleh perusahaan
pembiayaan melalui akad kerjasama dengan pihak lain yang bertindak
sebagai penyandang dana (shahibul mal), dimana shahibul mal dan
perusahaan pembiayaan selaku pengelola (mudharib) turut menyertakan
modalnya dalam kerjasama investasi dan keuntungan usaha dibagi sesuai
kesepakatan yang dituangkan dalam akad.

12
d. Pendanaan musyarakah (equity participation) yaitu diperoleh perusahaan
pembiayaan melalui akad kerjasama dengan pihak lain yang bertindak
sebagai penyandang dana (shahibul mal), dimana shahibul mal dan
perusahaan pembiayaan selaku pengelola (mudharib) turut menyertakan
modalnya dalam kerjasama investasi dan keuntungan usaha dibagi sesuai
kesepakatan yang dituangkan dalam akad.
e. Pendanaan lainnya yang sesuai dengan prinsip syari’ah.

2. Kegiatan Pendanaan
Kegiatan usaha perusahaan pembiayaan syariah terdiri dari:
a. Sewa guna usaha (leasing) syariah adalah kegiatan pembiayaan dalam
bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan
hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi
(operating lease) untuk digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee)
selang jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran
sesuai dengan prinsip syariah. Usaha leasing dilakukan berdasarkan
akad ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik.
b. Anjak piutang adalah pengalihan hutang dari pihak yang berhutang
kepada pihak lain yang wajib menanggung (membayarnya). Anjak
piutang (factoring) dilakukan berdasarkan akad wakalah bil ujrah.
c. Pembiayaan konsumen adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan
barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara
angsuran sesuai dengan prinsip syariah. Pembiayaan konsumen
dilakukan berdasarkan akad murabahah, salam, dan istisna.
d. Usaha kartu kredit yang dilakukan sesuai dengan prinsip syariah
adalah fasilitas jaminan pembayaran untuk pembelian barang dan jasa
dengan menggunakan kartu kredit sesuai dengan prinsip syariah.
3. Dewan Pengawas Syariah
Perusahaan pembiayaan yang melakukan kegiatan berdasarkan
prinsip syariah wajib memiliki dewan pengawas syariah yang terdiri dari
paling kurang 2 orang anggota dan satu orang ketua. Anggota dewan syariah

13
diangkat dalam rapat umum pemegang saham rekomendasi Majelis Ulama
Indonesia.Dewan ini bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi,
mengenai aspek syariah kegiatan operasional perusahaan pembiayaan dan
sebagai mediator antara perusahaan pembiayaan dengan DSN-MUI.
4. Pelaporan Perusahaan
Pembiayaan syariah wajib menyampaikan laporan kegiatan setiap
tanggal 10 setiap bulan dan mendapatkan pernyataan kesesuaian syariah
oleh dewan pengawas syariah yang dengan tembusan kepada DSN-MUI.
Pelaporan perusahaan pembiayaan umumnya meliputi laporan keuangan
bulanan, laporan kegiatan semesteran, dan laporan keuangan tahunan yang
telah di audit oleh akuntan publik.
5. Prinsip Transaksi Perusahaan Pembiayaan Syariah
Setiap transaksi kegiatan operasional perusahaan pembiayaan syariah harus
memenuhi prinsip syariah. Aturan mengenai transaksi perusahaan
pembiayaan syariah antara lain:
a. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan syariah wajib tidak
bertentangan dengan prinsip syariah.
b. Akad-akad syariah yang telah ditandatangani oleh keduabelah pihak
tidak dapat dibatalkan secara sepihak, kecuali memenuhi kondisi:
1. Keduabelah pihak setuju untuk menghentikannya;
2. Akad bertentangan dengan prinsip syariah, atau
3. Akad batal demi hukum, karena timbul kondisihukum yang dapat
menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad.
c. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan berdasarkan prinsip syariah,
setiap pihak yang bertransaksi wajib memiliki kecakapan dan
kewenangan untuk melaksanakan perbuatan hukum menurut syariah
maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan berdasarkan prinsip syariah
sebagaimana diaturdalma peraturan ini, wajib dilaksanakan tanpa
unsur paksaan diantara para pihak yang berakadatau bertransaksi

14
e. Untuk setiap jenis transaksi pembiayaan berdasarkan prinsip syariah
sebagaimana diaturdalam peraturan ini, yang diikuti dengan kewajiban
melaksanakan asuransi atas objek pembiayaan berdasarkan prinsip
syariah, maka objek yang diasuransikan wajib diasuransikan pada
perusahaan asuransi dengan prinsip syariah juga.
f. Pencatatan akuntansi untuk setiap jenis transaksi pembiayaan
berdasarkan prinsip syariah sebagaimana diatur dalam peraturan ini
wajib disusun berdasarkan pernyataan standar akuntansi keuangan
yang berlaku.
6. Pembatasan Perusahaan Pembiayaan
Agar lembaga pembiayaan tidak menyerupai perbankan dalam melakukan
aktivitas disisi pasivanya, maka lembaga pembiayaan menurut ketentuan
dilarang:
a. Menghimpun dana dari masyarakat secara langsung dalam bentuk giro,
deposito dan tabungan.
b. Menerbitkan surat sanggup bayar (promissorynotes) kecuali sebagai
jaminan atas utang kepada bank yang menjadi pemberi dananya. Surat
sanggup tersebut tidak dapat dialihkan dan dikuasakan pada pihak
manapun.
c. Memberikan jaminan dalam segala bentuknya kepada pihak lain.
7. Kualitas Aktiva Produktif
Adanya penilaian mengenai kolektibilitas aktiva produktif,
mengharuskan perusahaan pembiayaan harus benar-benar melakukan
analisis yang baik dan hati-hati atas setiap jenis kegiatan pembiayaan yang
dilakukannya, termasuk aktiva produktif lainnya yang dimiliki misalnya
surat berharga dan penyertaan. Hasil penilaian aktiva produktif akan
mempengaruhi kinerja perusahaan pembiayaan. Metode penilaian aktiva
produktif perusahaan pembiayaan dinilai berdasarkan kolektibilitas aktiva
produktif sesuai jenis usaha pembiayaan. Kemudian berdasarkan penilaian
yang dilakukantersebut, maka kolektibilitas aktiva produktif digolongkan
sebagai lancar, diragukan dan macet.

15
E. Strategi Pengelolaan dan Pembangunan Perusahaan Pembiayaan
Syariah di Indonesia
Pengelolaan dan pengembangan perusahaan pembiayaan dapat
dilakukan melalui beberapa bidang, yaitu:
1. Pemasaran antara lain dengan membangun kerjasama dengan dealer,
sinergi bisnis dengan group/induk perusahaan, untuk membangun
captive market pemilihan konsumen sangat menentukan terhadap
keberhasilan pembayarankembali produk yang dijual.
2. Produk antara lain menciptakan yang sederhana di mata konsumen, dan
dari sisi mitigrasi risiko masih tetap aman, produk yang dijual adalah
produk yang kualitasnya bagus, serta mudah dijual bila terjadi
penarikan kembalidari konsumen.
3. Keuangan antara lainbila tak memungkinkan funding mayoritas dari
bank, ada keterbatasan untuk menambah jumlah funding yang
diperoleh.
4. Permodalan antara lain secara bertahap perusahaan perlu melakukan
pemupukan modal,atau berusaha mendapatkan penambahan modal
disetor para pemegang saham.
5. Sumber daya insani antara lian diperlukan sumber daya manusia yang
berkualitas agar dapat melakukan marketing, menganalisis risiko,dan
melakukan perbaikan jika terjadi risiko gagal bayar dari konsumen.
Perusahaan Pembiayaan Syariah di Indonesia Harus diakui struktur
sistem keuangan di Indonesia hingga saat ini masih didominasi
olehperbankan, perlahan pasar keuangan dibidang pasar modal secara
perlahan juga ikut meningkat. Belakangan perusahaan pembiayaanjuga ikut
meningkat seiring dengan meningkatnya pasar keuangan.

16
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Multifinance syariah merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan


pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak
menarik dana langsung dari masyarakat. Bidang usaha lembaga pembiayaan
mencakup beberapa alternatif kegiatan pembiayaan seperti sewa guna usaha
(leasing), Anjak piutang (factoring), kartu kredit (credit card), dan pembiayaan
konsumen (consumer finance), bidang usaha lembaga pembiayaannya juga
mencakup bidang usaha pembiayaan syariah, yaitu berupa sewa guna usaha
syariah, Anjak piutang syariah, kartu kredit syariah dan pembiayaan konsumen
syariah. Kemudian Pembinaan dan Pengawasan Multifinance Syariah meliputi
Sumber Pendanaan dengan menggunakan akad mudharabah mutlaqah,
mudharabah muqayyadah, mudharabah musytarakah, musyarakah dan akad-akad
lainnya. Kegiatan Pendanaan, Dewan Pengawas Syariah, Pelaporan Perusahaan,
Prinsip Transaksi Perusahaan Pembiayaan Syariah, Pembatasan Perusahaan
Pembiayaan dan Kualitas Aktiva Produktif.

17
DAFTAR PUSTAKA

Fahmi, Irham, Pengantar manajemen keuangan teori dan soal jawab, 2013,
Bandung: CV Alfabeta.

Karim, Adiwarman Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, 2009, Jakarta:
Rajawali Pers.

Perpres No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan.

Soemitra, Andri. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, 2010, Jakarta: Kencana.

18