Anda di halaman 1dari 24

51

Jawa Tengah dari tanggal 20/21 Februari 1984. Hasil seminar menjadi

acuan Pemerintah Provinsi.

Bali mengkaji dan mendalami kredit Pedesaan dan serta melalui

serangkaian diskusi, studi banding dan pembahasan maka diputuskan

Lembaga Kredit Pedesaan untuk Provinsi Bali diberi nama Lembaga

Perkreditan Desa (LPD), yang didirikan di desa Pakraman sekaligus

sebagai pengelola dan penanggungjawabnya.

Dipilih Desa Pakraman sebagai basis pendirian Lembaga Perkreditan

Desa (LPD) karena :

1) Desa Pakraman merupakan lembaga tradisonal yang telah mengakar

dan dihormati oleh masyarakat pedesaan terutama oleh kramanya.

2) Desa Pakraman telah mempunyai aturan baik secara tertulis maupun

tidak tertulis.

3) Desa Pakraman merupakan suatu lembaga tradisional dan bersifat

kelompok yang didasarkan pada geografis adat, dimana terdapat

interaksi social yang terjadi sehari-hari sehingga mengakibatkan

tumbuhnya rasa keesatuan dan kerjasama alamiah sebagai perwujudan

gotong-royong.

4) Desa Pakraman mempunyai kewajiban dan beban tanggungjawab yang

cukup besar dibandingkn dengan hak yang dimiliki.

Mengingat Desa Pakraman di Provinsi Bali saat itu jumlahnya

ribuan maka pemerintah membuat kebijakan sebagai uji coba pilot

(pilot proyek), dimana masing-masing Kabupaten didirikan satu

Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebagai pilot proyek. Gubenur Bali


52

menerbitkan Surat Keputusan Gubenur Nomor 972 Tahun 1984,

tanggal 1 november 1984 tentang Pendirian Lembaga Perkreditan Desa

(LPD) di Provinsi Daerah Tingkat 1 Bali. Sebagai pelaksanaan

operasional untuk membina Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di

tingkat Provinsi ditunjuk Biro Ekonomi menjadi Pemimpin Proyek

sedangkan Pembina Teknis ditunjuk Bank Pembangunan Daerah Baali

(BPD).

5.1.2 Struktur Organisasi Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

Organisasi merupakan wadah untuk menampung seluruh aktivitas

yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan sehingga

koordinasi kerja dapat dilaksanaan dengan baik. Struktur organisasi sebuah

organisasi atau lembaga memberikan gambaran secara sistematis

mengenai pemberian tugas dan tanggung jawab. Lembga Perkreditan Desa

(LPD) di Kota Denpasar sebagai suatu lembaga keuangan yang dibentuk

berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 Bali NO.

971 Tahun 1984 secara umum memiliki bagan fungsi terlihat pada gambar

5.1
53

Gambar 5.1
Struktur Organisasi Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

Desa Adat Badan Penawas


Pembina LPD Intern LPD

Kepala LPD

Tata Usaha Bendahara

Kabag Umum Kabag Dana Kabag Kredit

Satpam Cleaning Tabungan Deposito Administrasi Account


Service Kredit Officer

Sumber : LPLPD Kabupaten Gianyar 2019

1) Tugas dan Tanggungjawab dari Struktur Organisasi Lembaga

Perkreditan Desa (LPD)

a) Desa Adat

Desa Adat merupakan pemilik LPD yang memiliki kekuasaan

tertinggi sehingga kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akan

dilaksanakan oleh Badan Pengurus harus mendapat persetujuan

Desa Adat yang diwakili oleh Bendesa Adat. Desa Adat terdiri dari

Krama dan Prajuru Desa Adat, Badan Pengurus dan Badan

Pengawas LPD diangkat dan diberhentikan oleh Desa Adat melalui

mekanisme paruman atau pesamuan Desa Adat.


54

(1) Tugas dari Desa Adat :

(a) Mengesahkan pertanggungjawaban kegiatan LPD

(b) Mengesahkan recana kerja tahunan LPD

(c) Mengesahkan pembagian laba

(d) Mengesahkan penggunaan dana social

(2) Tanggungjawab dari Desa Adat :

(a) Bertanggungjawab terhadap kelancaran operasional LPD

b) Badan Pengawas Intern

Badan Pengawas Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dipilih

dari Krama Desa Adat melalui meknisme paruman Desa Adat.

(1) Tugas badan pengawas Intern :

(a) Mensosialisasikan keberadaan Lembaga Perkreditan Desa

(LPD)

(b) Memotivasi dan meningkatkan kinerja pengurus Lembaga

Perkreditan Desa (LPD)

(c) Mengawasi proses penyaluran kredit

(d) Menangani dan menyelesaikan kredit macet atau

bermasalah

(e) Melaksanakan pembinaan dan pengawasan secara periodic

atau terjadwal serta incidental atau sewaktu-waktu sesuai

program kerja badan Pengawa.

(2) Tanggungjawab Badan Pengawas Intern :

(a) Bertanggungjawab langsung kepada Bendesa Adat


55

c) Kepala Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

(1) Tugas Kepala Lembaga Perkredtan Desa (LPD) :

(a) Melaksanakan manajemen Lembaga Perkreditan Desa

(LPD) berdasarkan pedoman yang telah digariskan oleh

badan Pembina LPD Kota Gianyar dengan memperhatikan

undang-undang yang berlaku.

(b) Setiap bulan agar menyapaikan laporan tentang kegiatan

Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dan Laporan neraca serta

laporan laporan laba rugi.

(c) Mengesahkan laporan neraca dan laporan laba rugi

Lembaga Perkreditan Desa (LPD).

(d) Melegalisir setiap surat termasuk perjanjian kredit yang

telah disetujui oleh bagian kredit.

(2) Tanggungjawab Kepala Lembaga Perkreditan Desa (LPD) :

(a) Kepala Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

bertanggungjawab kepada Desa Adat

d) Tata Usaha

(1) Tugas Tata Usaha :

(a) Menerima bukti-bukti dari petugas keliling, maupu di

kantor LPD lalu disortir menurut jenis transaki,

dijumlahkan selanjutnya dibukukan pada neraca percobaan.

(b) Memutakhirkan prima nota kredit, prima nota tabungan dan

surat simpanan berjangka berdasarkan transaksi pada hari

itu.
56

(c)Mencatat setoran tunai, nota debet/kredit yang diterima dari

bank dan pada akhir bulan membuat rekonsiliasi bank.

(d) Pada akhir tahun memindahkan saldo neraca percobaan

akhir tahun ke awal tahun berikutnya.

(e)Membuat recana anggaran pendapatan dan belanja untuk

tahun berikutnya.

(f) Membuat slip jurnal untuk transaksi non kas

(2) Tanggungjawab Tata Usaha :

(a) Tata usaha bertanggungjawab kepada Kepala Lembaga

Perkreditan Desa sesuai dengan tugas yang didapatkannya.

e) Bendahara

(1) Tugas Bendahara:

(a) Melaksanakan pencatatan ddan pengesahan transaksi

berkas yang keluar dan masuk setiap harinya.

(b) Melaksanakan penyetoran dan penarikan kas ke BPD.

(c) Menerima kas untuk simpanan dan mengeluarkan kas

untuk keperluan pinjaman nasabah.

(d) Merekam transaksi, menjurnal dan memposting ke buku

besar setiap transaksi kas.

(2) Tanggungjawab Bendahara :

(a)Kasir bertanggungjawab kepada Kepala LPD terhadap

segala tugas yang dibebankan kepadanya.


57

f) Kabag Umum

(1) Tugas Kabag Umum :

(a) Melaksanakan kegiatan-kegiatan umum pada LPD untuk

membantu kelancaran operasional LPD.

(b) Melaksanakan tugas administrasi umum LPD

mengumpulkan dan mendata arsip-arsip/dokumen LPD

yang sifatnya umum seperti data nasabah dan pegawai.

(2) Tanggungjawab Kabag Umum :

(a) Bagian Umum bertanggungjawab secara tidak langsung

kepada Kepala LPD melalui tata usaha.

g) Satpam

(1) Tugas Satpam adalah memelihara keamanan LPD setiap hari.

(2) Tanggungjawab satpam adalah bertanggungjawab langsung

kepada Kepala LPD melalui administrasi umum.

h) Cleaning Service

(1) Tugas Cleaning Service :

(a) Membuka dan menutup kantor

(b) Menjaga kebersihan kantor

(c) Mengantar surat-surat

(2) Cleaning service bertanggung jawab langsung kepada

administrasi umum.
58

i) Kabag Dana

(1) Tugas Kabag Dana :

(a) Meregister permohonan kredit dan membantu nasabah

pengisian formulir permohonan kredit.

(b) Menganalisa kelayakan dari fasilitas kredit yang diberikan

(c) Melaksanakan cek fisik terhadap jaminan

(d) Merekapitulasi kredit yang kurang lancar

(2) Tanggung jawab Kabag Dana :

(a) Kepala bagian kredit bertanggungjawab kepada bagian kasir

j) Bagian Tabungan dan Deposito

(1) Tugas bagian tabungan dan deposito :

(a) Menulis buku tabungan dengan identitas penabung

(b) Meminta penabung untuk menanda tangani buku tabungan

dan kartu prima nota tabungan

(c) Menulis kartu deposito dengan identitas deposan

(d) Meminta deposan untuk menanda tangani kartu deposito

(2) Tanggungjawab bagian tabungan dan deposito :

(a) Bagian Tabungan bertanggungjawab kepada Kepala LPD

melalui Tata Usaha

k) Kabag Kredit

(1) Tugas Kabag Kredit :

(a) Menerima permohonan kredit yang diajukan dan sudah

dipenuhi oleh debitur


59

(b) Menganalisis surat-surat kredit yang diajukan dan sudah

dipenuhi oleh debitur

(c) Menganalisis kemampuan debitur untuk menganalisis

pengambilan kredit yang diberikan dan cek fisik atas

jaminan

(d) Memberikan atas rekomendasi (perjanjian kredit) atas

permohonan kredit nasabah yag telah dianalisis sebelumnya

untuk mendapatkan otorisasi dari Kepala LPD

(e) Melaksanakan tugas pengumpulan kembali kredit yang telah

diberikan kepada deitur pada saat telah jatuh tempo

(2) Tanggung jawab Kabag kredit :

(a) Bagian Kredit bertanggung jawab kepada Kepala LPD

l) Account Officer

(1) Tugas account Officer adalah membantu bagian kredit

meliputi penagihan kredit dan pembinaan seerta survey lapangan

(2) Account Officer bertanggungjawab kepada bagian kredit

m) Administrasi Kredit

(1) Tugas administrasi kredit adalah membantu tugas bagian

kredit meliputi dari permohonan kredit sampai realisasi kredit

dan memasukkan data debitor serta memasukkan transaksi

pembayaran ke computer

(2) Petugas administrasi kredit bertanggungjawab kepada

bagian kredit
60

5.1.3 Kegiatan Secara Umum Usaha Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di

Kota Gianyar

1) Menyimpan kelebihan likuiditasnya pada Bank Pembangunan Desa

(BPD) dengan imbalan bunga bersaing dan pelayanan yang

memadai

2) Memberikan dana kredit yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan

yang bersifat positif

3) Menerima atau menghimpun dana dari Krama Desa dalam bentuk

tabungan dan deposito

4) Memberikan pinjaman kepada Krama Desa

5) Bagi usaha-usaha yang dijalankan Lembaga Perkreditan Desa

dapat membebankan suku bunga pinjaman yang besarnya tidak

boleh lebih dari 3% setiap bulan

6) Menerima pinjaman dari lembaga –lembaga keuangan maksimum

sebesar 100% dari jumlah modal, termasuk cadangan dan laba

ditahan, kecuali batasan lain dalam jumlah pinjaman, dukungan

atau dukungan dana.

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif dalam penelitian ini disajikan untuk

memberikan informasi mengenai karakteristik variabel-variabel

penelitian, antara lain minimum, maksimum, mean, dan standar deviasi.

Pengukuran rata-rata (mean) merupakan cara yang paling umum


61

digunakan untuk mengukur nilai sentral dari suatu distribusi data.

Sedangkan, standar deviasi merupakan perbedaan nilai data yang diteliti

dengan nilai rata-ratanya. Hasil statistik deskriptif dapat dilihat pada

Tabel 5.1 yaitu sebagai berikut.

Tabel 5.1
Hasil Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std.


Deviation
ROA 200 ,02 19,32 2,4144 2,17374
CAR 200 ,00 10,44 ,8486 ,63699
NPL 200 ,00 95,05 33,0824 38,71763
BOPO 200 ,00 514487,00 10638,29 5640,88173
LDR 200 ,00 376832,00 99569,24 20901,36675
Valid N (listwise) 200

Sumber : Lampiran 2

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dilihat nilai minimum untuk ROA

adalah 0,02 dan nilai maksimumnya adalah 19,32. Mean untuk ROA

adalah 2,41, hal ini berarti rata-rata nilai ROA sebesar 2,17. Standar

deviasinya 2,17

Untuk CAR nilai minimumnya adalah 0,00 dan nilai

maksimumnya adalah 10,44. Mean CAR adalah 0,84, hal ini berarti

bahwa rata-rata nilai CAR sebesar 0,84. Standar deviasinya sebesar 0,63.

Untuk NPL nilai minimumnya adalah 0,00 dan nilai maksimumnya

adalah 95,05. Mean NPL adalah 33,08, hal ini berarti rata-rata nilai NPL

sebesar 33,08. Standar deviasinya sebesar 38,71.

Untuk BOPO nilai minimumnya adalah 0,00 dan nilai

maksimumnya adalah 514487. Mean BOPO adalah 10638,29, hal ini


62

berarti rata-rata nilai BOPO sebesar 10.638,29. Standar deviasinya

sebesar 5.640,88.

Untuk LDR nilai minimumnya adalah 0,00 dan nilai maksimumnya

adalah 876.832. Mean LDR adalah 99.569,24, hal ini berarti rata-rata

nilai LDR sebesar 99.569,24. Standar deviasinya sebesar 20.901.

5.2.2 Uji Asumsi Klasik

1) Uji Normalitas

Untuk melihat apakah data yang digunakan dalam

penelitian telah terdistribusi normal dapat digunakan uji non

parametrik satu sampel Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji

Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat pada Tabel 5.2 yaitu sebagai

berikut

Tabel 5.2
Hasil Uji Kolmogorov – Smirnov

Unstandardiz ed
Residual
N 200
Normal Parameters a,b Mean ,0000000
Std. Deviation 2,25811507
Most Extreme Absolute ,192
Differences Positive ,192
Negative -,125
Kolmogorov-Smirnov Z ,716
Asymp.Sig. (2-tailed) ,784

Sumber : Lampiran 3

Berdasarkan Tabel 5.2, dapat dilihat bahwa nilai sig sebesar

0,784 hal ini berarti unstandar residu memiliki nilai.Sig diatas 0,05.

Hal ini berarti seluruh data berdistribusi normal.


63

2) Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas menunjukkan bahwa variasi variabel

tidak sama untuk semua pengamatan. Uji ini dapat dianalisis

melalui uji Glejser dengan meregresikan nilai absolut residual

sebagai variabel terikat dengan variabel bebas. Menurut Sugiyono

(2010), Jika variabel bebas signifikan secara statistik

mempengaruhi variabel terikat maka ada indikasi terjadi

heterokedastisitas. Hasil uji heterokedastisitas dapat dilihat pada

Tabel 5.3

Tabel 5.3
Hasil Uji Heterokedastisitas

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
B Std. Beta
Model Error t Sig.
1 (Constant) 2,777 ,337 8,249 ,000
CAR -,075 ,063 -,084 -1,187 ,237
NPL -,772 ,541 -,429 -1,428 ,281
BOPO -,013 ,152 -,006 -,084 ,933
LDR -,244 ,269 -,267 -,910 ,471

Sumber : Lampiran 3

Dari Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa variabel bebas tidak

berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat dari model regresi

yang digunakan karena signifikansi setiap variabel bebas lebih dari

taraf nyata (α) yaitu 5%. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak

terjadi heterokedastisitas.
64

3) Uji Multikolinieritas

Collinearity (multicollinearity) digunakan untuk

menunjukkan adanya hubungan linear antara variabel-variabel

bebas dalam model regresi. Biasanya korelasi mendekati sempurna

atau mendekati satu antar variabel bebas. Uji multikolinieritas

dilakukan dengan cara melihat Varians Inflation Factor (VIF).

Adanya multikolinieritas sempurna akan berakibat koefisien

regresi tidak dapat ditentukan serta standar deviasi akan menjadi

tidak terhingga. Nilai VIF masing-masing variabel secara berturut-

turut yaitu sebagai berikut:

Tabel 5.4
Hasil Uji Multikolinieritas
Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF
1 CAR ,836 1,196
NPL ,681 1,469
BOPO ,849 1,178
LDR ,738 1,354

Sumber: Lampiran 3

Pada Tabel 5.4 terlihat bahwa hasil perhitungan nilai

tolerance menunjukkan semua variabel bebas memiliki nilai

tolerance lebih dari 10% (0,100). Demikian juga dengan nilai VIF

yang semuanya di bawah 10. Hal ini berarti dalam model regresi

tidak terjadi multikolinieritas.


65

4) Uji Autokolerasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk mendeteksi adanya

korelasi antara data pada masa sebelumnya (t1) dengan data

sesudahnya (t1). Model uji yang baik adalah terbebas autokorelasi.

Uji autokorelasi dapat dilakukan uji Durbin-Watson terhadap

variabel pengganggu (disturbance error term). Dengan tingkat

kepercayaan 5%, untuk n = 200, dan k’ = 4, maka nilai Durbin

Watson: dl = 1,7 dan du = 1,8 , 4 – 1,8 = 2,2 dan 4 – 1,7 = 2,3

Tabel 5.5
Hasil Uji Autokorelasi

Std.Error
R Adjusted of the Durbin-
Model R Square R Square Estimate Waston
1 ,581a ,337 ,324 2,28116 1,815

Sumber : lampiran 3

Berdasarkan tabel 5.5, nampak nilai Durbin-Watson sebesar

1,815 berada daerah tidak ada autokorelasi, maka dapat dikatakan

bahwa semua instrumen variabel tidak terjadi autokorelasi

5.2.3 Analisis Regresi Linier Berganda

Dalam penelitian ini model yang digunakan dalam menganalisis

pengaruh CAR, NPL, BOPO dan LDR terhadap ROA adalah analisis

regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS. Dalam model

regresi linier berganda variabel terikat yaitu ROA sedangkan variabel

bebas yaitu CAR, NPL BOPO dan LDR.


66

Tabel 5.6
Rekapitulasi Hasil Regresi Linier Berganda
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
B Std. Beta
Model Error t Sig.
1 (Constant) 4,577 ,481 9,514 ,000
CAR ,082 .020 ,058 4,073 ,000
NPL -1,680 ,201 -,590 -8,349 ,000
BOPO -,104 ,018 -,030 -5,821 ,000
LDR -,194 ,068 -,134 -2,840 ,002
R ,581a
R Square .337
F 24,805
Signifikan F ,000a
Sumber : Lampiran 4

Berdasarkan Tabel 5.6 dapat disimpulkan persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 4,4577 + 0,082 CAR - 1,680 NPL -0,104 BOPO -0,194 LDR

a. Koefisien konstanta adalah sebesar 4,577, artinya bila CAR, NPL,

BOPO dan LDR konstan maka ROA adalah sebesar 4,4577

b. Nilai koefisien regresi ROA = 0,082, secara statistik menunjukkan

bahwa ada pengaruh positif CAR terhadap ROA. Nilai koefisien

sebesar 0,082 memiliki arti jika CAR naik sebesar 1 satuan, maka

nilai ROA meningkat sebesar 0,082 dengan asumsi variabel lain

konstan.

c. Nilai koefisien regresi NPL = -1,680, secara statistik menunjukkan

bahwa ada pengaruh negatif NPL terhadap ROA. Nilai koefisien

sebesar -1,680 memiliki arti jika NPL naik sebesar 1 satuan, maka
67

nilai ROA menurun sebesar 1,680 dengan asumsi variabel lain

konstan.

d. Nilai koefisien regresi BOPO = -0,104, secara statistik menunjukkan

bahwa ada pengaruh negatif BOPO terhadap ROA. Nilai koefisien

sebesar -0,104 memiliki arti jika BOPO naik sebesar 1 satuan, maka

nilai ROA menurun sebesar 0,104 dengan asumsi variabel lain

konstan.

e. Nilai koefisien regresi LDR = -0,194, secara statistik menunjukkan

bahwa ada pengaruh negatif LDR terhadap ROA. Nilai koefisien

sebesar -0,194 memiliki arti jika LDR naik sebesar 1 satuan, maka

nilai ROA menurun sebesar 0,194 dengan asumsi variabel lain

konstan.

5.2.4 Uji Kelayakan Model

1) Koefisien Determinasi

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui variasi/perubahan

profitabilitas yang dijelaskan oleh CAR, NPL, BOPO, dan LDR

secara bersama-sama yang dinyatakan dalam bentuk persentase.

Dengan menggunakan program SPSS diperoleh nilai adjusted R

Square dapat dilihat pada table 5.6.

Berdasarkan perhitungan pada tabel 5.6 diperoleh nilai

koefisien determinasi sebesar 32,4% berarti besarnya

variasi/perubahan ROA yang dijelaskan oleh variabel CAR, NPL,

BOPO, dan LDR secara bersama-sama adalah 32,4% sedangkan


68

sisanya 67,6% ditentukan oleh variabel lain di luar CAR, NPL,

BOPO dan LDR yang tidak dilibatkan didalam penelitian ini.

2) Uji Kolerasi Berganda

Pengujian dilakukan untuk mengetahui seberapa kuat

hubungan antar variabel, pada penelitian ini adalah untuk

mengetahui pengaruh CAR,NPL,BOPO, dan LDR terhadap ROA

pada LPD Kabupaten Gianyar oleh karena itu, untuk

mengetahuinya dilakukan perhitungan menggunakan SPSS VS

19.0. Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa ketiga variabel

bebas memiliki hubungan yang sedang terhadap ROA, karena nilai

koefisien korelasi berganda sebesar 0,581 menunjukan hubungan

yang sedang karena nilainya > 0,41.

3) Uji F

Uji kesesuaian model dimaksudkan dalam rangka

mengetahui apakah dalam penelitian ini model yang digunakan

layak untuk digunakan atau tidak sebagai alat analisis untuk

menguji pengaruh variabel independen pada variabel dependennya.

Berdasarkan Tabel 5.6 dapat dilihat bahwa pada model

memiliki nilai sig value sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai

=0,05 menunjukkan model penelitian ini layak untuk digunakan

sebagai alat analisis untuk menguji pengaruh variabel independen

pada variabel dependen. Ini berarti bahwa pada tingkat kesalahan 5

persen CAR, NPL, BOPO dan LDR secara bersama-sama

berpengaruh signifikan terhadap ROA


69

5.2.5 Penguji Hipotesis

1) Uji t

Uji t adalah gunanya untuk mengetahui signifikasi

pengaruh CAR, NPL, BOPO dan LDR secara parsial terhadap

ROA. Hasil pengujian hipotesis (uji t) dapat dilihat pada tabel 5.6

bahwa :

a) Pengaruh CAR terhadap ROA

Berdasarkan tabel 5.6, terlihat bahwa besar taraf signifikansi

sebesar 0,000 dan nilai t sebesar 4,073. Hasil signifikansi

tersebut menunjukan bahwa taraf siginifikansi CAR lebih kecil

dari taraf 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa CAR

berpengaruh positif terhadap ROA sehingga hipotesis 1

diterima.

b) Pengaruhh NPL terhadap ROA

Berdasarkan tabel 5.6, terlihat bahwa besar taraf signifikansi

sebesar 0,000 dan nilai t sebesar -8,349. Hasil signifikansi

tersebut menunjukan bahwa taraf siginifikansi NPL lebih kecil

dari taraf 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa NPL

berpengaruh negatif terhadap ROA sehingga hipotesis 2

diterima.

c) Pengaruh BOPO terhadap ROA

Berdasarkan tabel 5.6, terlihat bahwa besar taraf signifikansi


70

sebesar 0,000 dan nilai t sebesar -5,821. Hasil signifikansi

tersebut menunjukan bahwa taraf siginifikansi BOPO lebih kecil

dari taraf 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa BOPO

berpengaruh negatif terhadap ROA sehingga hipotesis 3

diterima.

d) Pengaruh LDR terhadap ROA

Berdasarkan tabel 5.6, terlihat bahwa besar taraf signifikansi

sebesar 0,002 dan nilai t sebesar -2,840. Hasil signifikansi

tersebut menunjukan bahwa taraf siginifikansi LDR lebih kecil

dari taraf 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa LDR

berpengaruh negatif terhadap ROA sehingga hipotesis 4

diterima.

5.3 Pembahasan Penelitian

5.3.1 Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap Retun On Assets

Untuk menguji hipotesis pertama yaitu CAR berpengaruh terhadap

ROA digunakan uji t. Hasil pengolahan data menunjukan nilai sig = 0,00

ini berarti pada taraf signifikansi 5% Pengujian secara empiris

membuktikan H1 diterima atau CAR berpengaruh positif dan signifikan

terhadap ROA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi

CAR maka semakin tinggi nilai ROA.

Capital Adequacy Ratio (CAR) juga biasa disebut sebagai rasio

kecukupan modal, yang berarti jumlah modal sendiri yang diperlukan

untuk menutup risiko kerugian yang timbul dari penanaman aktiva-aktiva


71

yang mengandung risiko serta membiayai seluruh benda tetap dan

investaris LPD. Seluruh LPD yang ada diwajibkan untuk menyediakan

modal minimum sebesar 12% dari ATMR. Menurut Defri (2012) CAR

menunjukkan bagaimana kemampuan bank dalam mempertahankan

modal yang mencukupi untuk mengontrok risiko yang dapat berpengaruh

terhadap kinerja suatu bank dalam usahanya menghasilkan laba. Semakin

besar CAR maka keuntungan LPD juga semakin besar, dengan kata lain

semakin kecil resiko suatu LPD maka semakin besar keuntungan yang

diperoleh LPD. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Ulandari,

dkk. (2016), dan Martini dan Suardana (2018) menemukan bahwa

Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap Return On

Assets (ROA).

5.3.2 Pengaruh Non Performing Loan terhadap Return On Assets

Untuk menguji hipotesis kedua yaitu NPL berpengaruh terhadap

ROA digunakan uji t. Hasil pengolahan data menunjukan nilai sig = 0,00

ini berarti pada taraf signifikansi 5% Pengujian secara empiris

membuktikan H2 diterima.

Hasil pengujian secara empiris dapat membuktikan bahwa NPL

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hal ini NPL dapat

menurunkan ROA.

Salah satu risiko yang dihadapi oleh bank adalah risiko tidak

terbayarnya kredit yang telah diberikan kepada debitur atau disebut

dengan risiko kredit. Risiko kredit merupakan suatu risiko akibat


72

kegagalan atau ketidak mampuan nasabah mengembalikan jumlah

pinjaman yang telah diterima dari bank beserta bunganya sesuai dengan

jangka waktu yang telah ditetapkan atau dijadwalkan. Kredit bermasalah

atau Non Performing Loan (NPL) menggambarkan suatu situasi dimana

persetujuan pengembalian kredit mengalami risiko kegagalan, bahakn

cenderung menuju atau mengalami kegagalan potensial. NPL dapat

diartikan sebagai kredit yang tidak menepati jadwal angsuran sehingga

terjadi tunggakan. Maka dalam hal ini semakin tinggi NPL maka semakin

rendah profitabilitas suatu LPD, semakin besar NPL akan mengakibatkan

menurunnya ROA yang juga berarti kinerja keuangan LPD yang

menurun. Begitupula sebaliknya, jika NPLturun, ROA akan semakin

meningkat dan kinerja keuangan LPD dapat dilakukan semakin baik.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ariani dan Ardiana (2015), dan

Prasetyo dan Darmayanti (2015) menemukan bahwa Non Performing

Loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap Return On Assets (ROA).

5.3.3 Pengaruh Biaya Operasional pada Pendapatan Operasional

terhadap Return On Assets

Untuk menguji hipotesis ketiga yaitu Efisiensi Operasional

(BOPO) berpengaruh negatif terhadap ROA digunakan uji t. Hasil

pengolahan data menunjukan nilai sig = 0,000 ini berarti pada taraf

signifikansi 5% Pengujian secara empiris membuktikan H3 diterima.


73

Hasil pengujian secara empiris dapat membuktikan bahwa BOPO

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hal ini berarti BOPO

dapat menurunkan ROA.

Biaya Operasional pada Pendapatan Operasional (BOPO) adalah

rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi atau

biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang di peroloh bank.

Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah

dibawah 79,75%, karena jika rasio BOPO melebihi 79,75% hingga

mendekati 100% maka LPD tersebut dapat dikatagorikan tidak efisien

dalam menjalankan operasinya. LPD yang efisien dalam menekan biaya

operasionalnya dapat mengurangi kerugian akibat ketidak efisenan LPD

dalam mengelola usahanya sehingga laba yang diperoleh juga akan

meningkat. Semakin kecil angka rasio BOPO, maka semakin baik

kondisi bank tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ariani,

Ardiana (2015), Ulandari, dkk. (2016), Martini dan Suardana (2018),

Wijaya, dkk. (2017) , dan Wiguna, dkk. (2017) menemukan bahwa Biaya

Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh

negatif terhadap Return On Assets (ROA).

5.3.4 Pengaruh Loan to Deposit Ratio terhadap Return On Assets

Untuk menguji hipotesis keempat yaitu LDR berpengaruh negatif

terhadap ROA digunakan uji t. Hasil pengolahan data menunjukan nilai

sig = 0,002 ini berarti pada taraf signifikansi 5% Pengujian secara

empiris membuktikan H4 diterima.


74

Hasil pengujian secara empiris dapat membuktikan bahwa LDR

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Hal ini berarti BOPO

dapat menurunkan ROA.

Likuiditas LPD dapat diukur dengan Loan To Deposit Ratio

(LDR). LDR adalah rasio untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang

diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal

sendiri yang digunakan (Kamsir, 2013:225). LDR mencerminkan

kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang

dilakukan deposan dengan mengadalkan kredit yang diberikan sebagai

sumber likuiditasnya, dengan kata lain seberapa jauh pemberian kredit

kepada nasabah kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera

memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya

yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit yang diberikan

dengan total dana pihak ketiga. Semakin tinggi nilai rasio LDR

menunjukkan semakin rendahnya kemampuan likuiditas LPD yang

bersangkutan sehingga kemungkinan suatu LPD dalam kondisi

bermasalah akan semakin besar. Dalam penelitian yang dilakukan oleh

Wijaya, dkk. (2017), dan Trisna dan Wisadha (2015) menemukan bahwa

Loan To Deposit Ratio (LDR) berpengaruh negatif terhadap Return On

Assets (ROA).