Anda di halaman 1dari 15

TATA KELOLA ETIKA DAN BISNIS

KASUS DILEMA AUDITOR

Disusun oleh:

Rikza Ghulami 120110160007


Rekki Ilahi 120110160009
Yusuf Alfayet B 120110160010
Yudhistira Mahendra 120110160024
Iham Akbar 120110160087

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
SUMEDANG
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat-Nya
makalah tentang “Kasus Dilema Auditor” ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Adapun makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Tata Kelola dan Etika sehingga
tidak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Roebiandini Somatri selaku dosen mata
kuliah Tata Kelola dan Etika yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan pembaca. Adapun makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi makalah kami selanjutnya di masa mendatang.

Sumedang, 1 Oktober 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................... 3
BAB 1 ............................................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN ............................................................................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 6
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 6
BAB 2 ............................................................................................................................................................. 7
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................................................................... 7
2.1 Pengertian Etika .................................................................................................................................. 7
2.2 Prinsip – Prinsip Etika .......................................................................................................................... 7
2.3 Basis Teori Etika .................................................................................................................................. 7
a. Teori teleology .............................................................................................................................. 7
b. Deontologi..................................................................................................................................... 8
c. Teori hak ....................................................................................................................................... 9
d. Teori Keutamaan (Virtue) ........................................................................................................... 10
e. Egoisme ....................................................................................................................................... 11
2.4 Dilema Etika ...................................................................................................................................... 11
BAB 3 ........................................................................................................................................................... 12
PEMBAHASAN ............................................................................................................................................. 12
a. Masalah yang timbul ....................................................................................................................... 12
b. Apa yang harus dilakukan oleh Arthur? .......................................................................................... 13
BAB 4 ........................................................................................................................................................... 15
KESIMPULAN ............................................................................................................................................... 15

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Arthur merupakan lulusan di Bidang Akuntansi dan memperoleh gelar sarjana kemudian
ia direkrut oleh Castor Gotlieb (CG) LLP yaitu perusahaan akuntansi menengah terbesar.
Alasannya memilih perusahaan tersebut dibanding perusahaan lain karena selama wawancara,
Arthur dan perekrut telah berbicara panjang lebar tentang kejujuran dan integritas pribadi. Ini
adalah nilai-nilai yang paling berharga bagi Arthur, dan ia yakin bahwa kejujuran dan integritas
konsisten dengan nilai-nilai dan misi pernyataan CG.

Pada penugasan terhadap klien pertama, Arthur melakukan aspek-aspek dasar dari audit.
Ia menunjukkan kompetensi dan wawasan masalah audit yang potensial, dan pada pekerjaan
berikutnya ia diberi aspek yang lebih kompleks mengenai audit. Dia menyelesaikan tugasnya
tepat waktu, dan diberi evaluasi yang sangat positif oleh senior auditnya, Jonathan Lee.

Arthur menikmati pekerjaannya, namun ia merasa kesulitan harus bekerja 8 jam atau
lebih setiap harinya dan hanya memiliki satu hari libur setiap minggu. Menurut manajernya
Stella Resse itu merupakan hal yang wajar karena waktu istirahat akan dilakukan pada musim
panas.

Pada minggu kedua bulan Maret, Arthur ditugaskan untuk melakukan audit pada
perusahaan furnitur Pine Crest. Pine Crest memproduksi dan menjual furnitur kontemporer untuk
ruang tamu dan ruang makan melalui dua toko yang terletak di pinggir kota. Arthur bertanggung
jawab untuk bagian persediaan. Ia memiliki anggaran 40 jam untuk menyelesaikan bagian dari
audit, karena auditor sebelumnya telah menghabiskan 40 jam pada bagian persediaan tahun lalu.
Arthur yakin bahwa ia akan mampu menyelesaikan bahwa bagian dari file di bawah waktu yang
dianggarkan.

Pada malam kedua audit, Arthur menyadari bahwa mungkin ada masalah transfer pricing
antar internal Pine Crest sehubungan dengan satu model furnitur ruang makan yang telah
dipindahkan dari satu toko ke toko lainnya. Selama dua hari berikutnya, Arthur menghabiskan
sejumlah tambahan waktu untuk memeriksa skema harga transfer internal perusahaan serta

4
mendokumentasikan seluruh pemeriksaannya dengan hati-hati. Setelah menghabiskan hampir 50
jam pada bagian persediaan, Arthur menyimpulkan bahwa tidak ada masalah dengan persediaan
tersebut. Arthur telah keliru dan malu bahwa ia telah menghabiskan begitu banyak waktu pada
persediaan. Dia merasa bahwa jika ia mengikuti standar prosedur audit, ia bisa menyelesaikan
pekerjaannya sesuai anggaran. Akibatnya, ia melaporkan bahwa ia hanya menghabiskan 40 jam
dari 50 jam yang ia benar-benar habiskan. Arthur enggan untuk memalsukan laporan waktunya,
tapi ia membenarkan tindakannya atas dasar bahwa ia baru dan berpengalaman. Dia juga
mengatakan bahwa ekstra 10 jam tersebut adalah pengalaman belajar. Serta ia merasa tidak akan
ada yang akan tahu bahwa ia telah menyelesaikan laporan dalam waktu yang tidak benar, karena
Arthur memiliki reputasi integritas yang tinggi.

Pada akhir audit Pine Crest, Arthur menerima penilaian yang sangat baik dari Senior
Audit Jonathan Lee serta Manager Stella Reese. Kinerja Arthur pada dua pekerjaan berikutnya
juga sangat baik dan ia dipromosikan menjadi staf akuntan menegah di akhir tahun.

Februari berikutnya, Arthur dipanggil untuk membahas mengenai Audit Pine Crest
Furniture yang akan dilakukan bulan depan. Pertemuan itu beranggotakan Jonathan Lee, Stella
Reese, serta tiga staf akuntan lain yang telah mengaudit Pine Crest tahun lalu. Stella mengatakan
bahwa akibat dari krisis ekonomi penjualan di Pine Crest menurun. Controller mereka
mengatakan mereka tidak mampu membayar jumlah yang sama tahun ini untuk audit. Auditor
berada di bawah banyak tekanan untuk menjaga biaya serendah mungkin, dan Ms. Johnson
selaku mitra dari CG telah setuju untuk menurunkan biaya, tetapi tetap meminta untuk
menyelesaikan audit dalam waktu singkat.

Hasil dari keputusan tersebut menetapkan bahwa anggaran waktu audit dipotong 10%
tahun ini. Apapun anggaran untuk bagian tersebut tahun lalu dipotong 10% lebih sedikit tahun
ini. Stella berpendapat bahwa mereka mempunyai tim audit serupa bekerja pada klien tersebut di
tahun lalu sehingga audit dapat dilakukan dengan lancar tanpa adanya kurva pembelajaran. Stella
terkesan dengan kinerja Arthur tahun lalu. Ia tidak menyadari bahwa mungkin ada masalah harga
transfer persediaan. Tidak sampai ia membaca apa yang Arthur tulis secara baik dan mendalam
tahun lalu. Stella berkesimpulan bahwa jika audit persediaan pada audit ini dilakukan lagi oleh
Arthur maka ia akan dengan cepat menyelesaikan audit tersebut.

5
Konsekuensi dari apa yang dilakukan Arthur menimbulkan dilema yang harus ia hadapi.
Ia mencoba membuat pilihan dari 4 hal yang mungkin dilakukannnya yaitu:

1. Memberitahu Stella kebenaran bahwa ia berbohong pada laporan tahun lalu. Apakah ia
dipecat karena ia tidak menunjukkan kejujuran dan integritas?
2. Menyelesaikan audit persediaan dan melaporkannya dengan waktu 36 jam, terlepas dari
berapa lama waktu yang dibutuhkan.
3. Mengeluh pada Ms Johnson dan mengatakan bahwa pengurangan sepuluh persen dalam
anggaran waktu audit adalah tidak adil.
4. Mencari pekerjaan di perusahaan akuntansi lain.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang kasus diatas, maka permasalahan yang muncul adalah sebagai
berikut:
1. Dilema apa yang sedang dialami Arthur?
2. Apa saja resiko dari kesalahan yang dilakukan Arthur?
3. Apa langkah yang sebaiknya dilakukan Arthur?

1.3 Tujuan
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tujuan atas permasalahan diatas yaitu:
1. Mengetahui dan menjelaskan dilema yang sedang dialami Arthur.
2. Mengetahui dan memahami resiko dari kesalahan yang Arthur lakukan.
3. Mengetahui dan menjelaskan langkah yang sebaiknya dilakukan Arthur.

6
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Etika


Etika berasal dari kata ethos sebuah kata dari Yunani, yang diartikan identik dengan
moral atau moralitas. Kedua istilah ini dijadikan sebagai pedoman atau ukuran bagi tindakan
manusia dengan penilaian baik atau buruk dan bener atau salah. Etika melibatkan analisis
kritis mengenai tindakan manusia untuk menentukan suatu nilai benar dan salah dari segi
kebenaran dan keadilan. Jadi ukuran yang dipergunakan adalah norma, agama, nilai positif
dan unversalitas. Oleh karena itu, istilah etika sering dikonotasikan dengan istilah-
istilah: tata krama, sopan santun, pedoman moral, norma susila, dan lain-lain yang berpijak
pada norma-norma tata hubungan antar unsur atau antar elemen didalam masyarakat dan
lingkungannya.

2.2 Prinsip – Prinsip Etika


a. Tanggung jawab
Bertanggung jawab dalam pelaksanaan pekerjaan dan terhadap hasilnya serta profesi itu
untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
b. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
c. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam
menjalankan profesinya.

2.3 Basis Teori Etika


a. Teori teleology
Etika Teleologi, dari kata Yunani, telos = tujuan, yaitu mengukur baik buruknya
suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau
berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Misalnya, mencuri bagi teleologi tidak dinilai baik atau buruk berdasarkan
tindakan, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu. Kalau tujuannya baik, maka
tindakan itu dinilai baik. Seperti, seorang anak kecil yang mencuri demi biaya

7
pengobatan ibunya yang sedang sakit. Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa etika
teleologi lebih situasional, karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa sangat tergantung
pada situasi khusus tertentu.
Dua aliran etika teleologi:
 Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya
bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Satu-satunya tujuan
tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan
dirinya. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi
hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-
mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
 Utilitarianisme
Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu
perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut
bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik
buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest happiness of the greatest number”,
kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar. Utilitarianisme, teori ini cocok
sekali dengan pemikiran ekonomis, karena cukup dekat dengan Cost-Benefit Analysis.
Manfaat yang dimaksudkan utilitarianisme bisa dihitung sama seperti kita menghitung
untung dan rugi atau kredit dan debet dalam konteks bisnis.
Utilitarianisme, dibedakan menjadi dua macam:
1. Utilitarianisme Perbuatan (Act Utilitarianism)
2. Utilitarianisme Aturan (Rule Utilitarianism)

b. Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon, yang berarti kewajiban. Etika
deontologi memberikan pedoman moral agar manusia melakukan apa yang menjadi
kewajiban sesuai dengan nilainilai atau norma-norma yang ada. Suatu perilaku akan
dinilai baik atau buruk berdasarkan kewajiban yang mengacu pada nilai-nilai atau norma-
norma moral. Tindakan sedekah kepada orang miskin adalah tindakan yang baik karena

8
perbuatan tersebut merupakan kewajiban manusia untuk melakukannya. Sebaliknya,
tindakan mencuri, penggelapan dan korupsi adalah perbuatan buruk dan kewajiban
manusia untuk menghindarinya. Etika deontologi tidak membahas apa akibat atau
konsekuensi dari suatu perilaku. Suatu perilaku dibenarkan bukan karena perilaku itu
berakibat baik, tetapi perilaku itu memang baik dan perilaku itu didasarkan kewajiban
yang memang harus dilaksanakan.

c. Teori hak
Teori Hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan dengan
kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan
atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat
cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang
paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku.
Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan
dengan kewajiban. Malah bisa dikatakan, hak dan kewajiban bagaikan dua sisi dari uang
logam yang sama. Dalam teori etika dulu diberi tekanan terbesar pada kewajiban, tapi
sekarang kita mengalami keadaan sebaliknya, karena sekarang segi hak paling banyak
ditonjolkan. Biarpun teori hak ini sebetulnya berakar dalam deontologi, namun sekarang
ia mendapat suatu identitas tersendiri dan karena itu pantas dibahas tersendiri pula. Hak
didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu teori
hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Teori hak sekarang begitu
populer, karena dinilai cocok dengan penghargaan terhadap individu yang memiliki
harkat tersendiri. Karena itu manusia individual siapapun tidak pernah boleh dikorbankan
demi tercapainya suatu tujuan yang lain.
Menurut perumusan termasyur dari Immanuel Kant : yang sudah kita kenal sebagai
orang yang meletakkan dasar filosofis untuk deontologi, manusia merupakan suatu tujuan
pada dirinya (an end in itself). Karena itu manusia selalu harus dihormati sebagai suatu
tujuan sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana demi
tercapainya suatu tujuan lain.

9
d. Teori Keutamaan (Virtue)
Teori keutamaan adalah memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak
ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan
sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah
diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral.
Contoh keutamaan : kebijaksanaan, keadilan, suka bekerja keras, dan hidup yang baik.
Dalam teori-teori yang dibahas sebelumnya, baik buruknya perilaku manusia
dipastikan berdasarkan suatu prinsip atau norma. Dalam konteks utilitarisme, suatu
perbuatan adalah baik, jika membawa kesenangan sebesar-besarnya bagi jumlah orang
terbanyak. Dalam rangka deontologi, suatu perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan
prinsip “jangan mencuri”, misalnya. Menurut teori hak, perbuatan adalah baik, jika sesuai
dengan hak manusia. Teori-teori ini semua didasarkan atas prinsip (rule-based).
Disamping teori-teori ini, mungkin lagi suatu pendekatan lain yang tidak
menyoroti perbuatan, tetapi memfokuskan pada seluruh manusia sebagai pelaku moral.
Teori tipe terakhir ini adalah teori keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau akhlak
seseorang. Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori keutamaan sebagai
reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat sebelah dalam mengukur
perbuatan dengan prinsip atau norma. Namun demikian, dalam sejarah etika teori
keutamaan tidak merupakan sesuatu yang baru. Sebaliknya, teori ini mempunyai suatu
tradisi lama yang sudah dimulai pada waktu filsafat Yunani kuno.
Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah
diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral.
Kebijaksanaan, misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang
mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah keutamaan lain yang
membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya.
Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri,
sekalipun situasi mengizinkan. Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat
seseorang mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak
keutamaan semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan.
Hidup yang baik adalah hidup menurut keutamaan (virtuous life).

10
e. Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme,
yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang
menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri.
Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang
membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk
kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan
berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain,
sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

2.4 Dilema Etika

Dilema etika merupakan situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia harus
membuat keputusan mengenai perilaku yang patut. Contoh sederhananya adalah jika
seseorang menemukan cincin berlian, ia harus memutuskan untuk mencari pemilik cincin
atau mengambil cincin tersebut. Para auditor, akuntan, dan pebisnis lainnya, menghadapi
banyak dilema etika dalam karier bisnis mereka. Terlibat dengan klien yang mengancam
akan mencari auditor baru jika tidak diberikan opini unqualified akan menimbulkan
dilema etika jika opini unqualified tersebut ternyata tidak tepat untuk diberikan.

11
BAB 3
PEMBAHASAN

a. Masalah yang timbul


Masalah – masalah yang timbul akibat apa yang telah dilakukan oleh Arthur pada
saat mengaudit Pine Crest adalah :
1. Arthur memalsukan laporan waktu audit pada saat mengaudit Pine Crest, yang
seharusnya Arthur mengerjakan Laporan Audit 50 jam, namun ia melaporkannya 40
jam, karena menurut dia, hal tersebut tidaklah salah karena dia masih dalam tahap
belajar dan baru 1 tahun bekerja di Castor Gottlieb LLP.
Pelanggaran yang dilakukan : Pelanggaran yang dilakukan di dalam kasus ini adalah
pelanggaran terhadap etika profesi yang berkaitan dengan integritas Arthur sebagai
auditor. Dia memalsukan laporan waktu audit dia yang seharusnya 50 jam, menjadi
40 jam, sehingga integritas ia sebagai Auditor patut dipertanyakan. Karena apabila ia
melanjutkan apa yang ia perbuat, akan berdampak pada penilaian terhadap
performance dia ke depan dan kompetensi dia dalam melakukan audit untuk
kedepannya menjadi diragukan, sehingga berdampak pada standar penilaian yang
dilakukan oleh KAP tersebut menjadi tidak kredibel.
2. Arthur terlalu terpaku pada prinsip yang disebut Professsional Skepticsm, oleh karena
itu, dia menjadi terlalu focus terhadap persediaan Pine Crest, sehingga membuang –
buang waktu audit tambahan yang ia punya.
Pelanggaran yang dilakukan : Pelanggaran yang dilakukan oleh Arthur dalam kasus
ini adalah bahwa ia telah melanggar apa yang disebut Profesisional Skepticism, yang
dimana pada awalnya memang Arthur ingin menerapkan Skepticsm tersebut dengan
ia benar benar mengecek bagian transfer pricing yang menurut ia memiliki kesalahan,
namun pada kenyataannya, ia salah dalam menerapkan skepticsm tersebut, karena
Arthur mencurigai Transfer Pricing tidak berlandaskan dengan sebuah bukti yang
kuat bahwa memang transfer pricing tersebut harus di periksa sedemikian rupa dan
harus dicurigai, sehingga apa yang dilakukan Arthur menjadi sebuah kekeliruan yang
membuat ia menjadi lama dalam mengaudit Pine Crest.

12
3. Arthur tidak mengikuti prosedur audit standar yang seharusnya, karena pada saat dia
mengaudit persediaan Pine Crest yang dimana ditargetkan dapat selesai dalam waktu
40 jam, karena dia terlalu terpaku pada bagian transfer pricing yang dimana
menjadikan dia melakukan apa yang melebihi prosedur audit standar, sehingga
menjadikan dia melakukan audit tersebut melebihi apa yang seharusnya ditargetkan,
yaitu 50 jam.
Pelanggaran yang dilakukan : Pelanggaran yang terjadi dalam kasus ini adalah
Standar Teknis, karena dalam masalah ini, Arthur mengabaikan prosedur audit
standar yang telah dirancang pada saat awal sebelum melakukan audit, yang dimana
dalam kasus ini, Arthur melakukan pengecekan yang terlalu dalam pada bagian
Transfer Pricing, padahal dalam audit standar yang ada, Arthur tidak seharusnya
melakukan hal itu, sehingga membuatnya melanggar standar teknis yang ada, dan
menyebabkan dia membutuhkan 50 jam untuk mengaudit persediaan yang dimiliki
Pine Crest.

b. Apa yang harus dilakukan oleh Arthur?


Dilema etika merupakan situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia harus
membuat keputusan mengenai perilaku yang patut. Setiap profesi pasti pernah
mengalami dilema etika. Dilema etika dalam profesi audit muncul sebagai
konsekuensi konflik audit karena auditor berada dalam situasi pengambilan keputusan
yang terkait dengan keputusannya yang etis atau tidak etis.
Dalam hal ini dilema yang dihadapi Arthur timbul ketika ia tidak jujur dalam
mengambil keputusan untuk melaporkan bahwa ia menyelesaikan laporan persediaan
selama 40 jam yang sesuai anggaran padahal Arthur melakukannya dalam waktu 50
jam karena ia merasa ada permasalahan transfer pricing dalam laporannya.
Menurut kami skeptisme auditor sangat diperlukan mengingat Arthur merupakan
auditor baru sehingga jika auditor merasa ada hal yang dirasa akan menimbulkan
masalah maka auditor perlu melakukan pendalam audit agar dapat memperoleh
pemahaman yang memadai, namun, dibalik perlunya penerpapan skepticism tersebut,
kita sebagai Auditor khususnya untuk Auditor yang baru memulai karirnya harus tahu
dengan pasti, batasan – batasan apa saja yang ada dalam Professional Skepticism,

13
poin – poin penting apa saja yang harus diketahui untuk melakukan Professional
Skepticism, agar saat kita ingin menerapkan Skepticsm tersebut, kita tidak melakukan
sesuatu yang salah dan keliru, seperti apa yang dilakukan oleh Arthur pada kasus ini,
yang menyebabkan ia menjadi membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam
mengaudit, sehingga tidak sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh perusahaan.
Walaupun Arthur telah mengungkapkan laporannya secara mendalam dan sangat
baik, namun ia tidak jujur dalam melaporkan waktu auditnya sehingga membuat
Manajernya merasa bahwa pengurangan waktu audit akibat krisis tidak akan
mempersulit Arthur karena ia telah berpengalaman mengaudit persediaan tersebut.
Menurut kelompok kami, yang harus dilakukan Arthur adalah memberitahu dan
mengungkapkan bahwa ia telah tidak jujur dalam melaporkan waktu audit persediaan
tahun lalu.
Alasannya adalah agar manajer tahu berapa waktu sesungguhnya yang dilakukan
Arthur dalam membuat sebuah laporan yang menurut manajernya merupakan laporan
yang lengkap dan mendalam terlepas dari konsekuensi yang harus Arthur terima
apakah ditegur, diturunkan jabatan atau dipecat. Tetapi menurut kami ketidakjujuran
Arthur hanya menimbulkan bias pemahaman dari manajer. Keputusan untuk berani
mengungkapkan ketidakjujuran harus diapresiasi oleh para pemimpin agar tidak
menimbulkan keputusan yang salah.

14
BAB 4
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah kami buat, maka kami menyimpulkan bahwa
Dilema etika dalam profesi auditor yang dihadapi Arthur timbul ketika ia tidak jujur dalam
mengambil keputusan untuk melaporkan bahwa ia menyelesaikan laporan persediaan selama 40
jam yang sesuai anggaran padahal Arthur melakukannya dalam waktu 50 jam karena ia merasa
ada permasalahan transfer pricing dalam laporannya.
Menurut kami Profesional skeptisme auditor sangat diperlukan mengingat Arthur
merupakan auditor baru sehingga jika auditor merasa ada hal yang dirasa akan menimbulkan
masalah maka auditor perlu melakukan pendalam audit agar dapat memperoleh pemahaman
yang memadai. Namun sikap Profesional skeptisme Arthur tidak harus berlandaskan alasan yang
tepat dan relevan dengan bukti yang kuat sehingga proses audit tambahan tersebut harus
dilakukan, Karena itu Arthur melanggar Standar Teknis Proses audit yang sudah di anggarkan
dan di setujui selama proses Audit Planning sebelumnya.
Walaupun Arthur telah mengungkapkan laporannya secara mendalam dan sangat baik
namun Arthur melanggar Integritas sebagai kode etik yang seharusnya ia lakukan sebagai auditor
ia tidak jujur dalam melaporkan waktu auditnya dan tidak terbuka kepada Senior dan
Managernya sehingga membuat Manajernya merasa bahwa pengurangan waktu audit akibat
krisis tidak akan mempersulit Arthur karena ia telah berpengalaman mengaudit persediaan
tersebut.
Menurut kelompok kami, yang harus dilakukan Arthur adalah memberitahu dan
mengungkapkan bahwa ia telah tidak jujur dan melanggar kode etik Integritas dan Standar
Teknis dalam melaporkan waktu audit persediaan tahun lalu serta menjelaskan alasannya. Agar
manajer tahu berapa waktu sesungguhnya yang dilakukan Arthur dalam membuat sebuah laporan
yang menurut manajernya merupakan laporan yang lengkap dan mendalam terlepas dari
konsekuensi yang harus Arthur. dan menurut kami ketidakjujuran Arthur hanya menimbulkan
bias pemahaman dari manajer. Keputusan untuk berani mengungkapkan ketidakjujuran harus
diapresiasi oleh para pemimpin agar tidak menimbulkan keputusan yang salah.

15