Anda di halaman 1dari 53

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan teknologi di negara-negara berkembang

mengakibatkan transisi demografi dan epidemiologi yang

ditandai dengan perubahan gaya hidup dan tumbuhnya

prevalensi penyakit tidak menular (PTM).Saat masyarakat

telah mengadopsi gaya hidup tidak sehat, misalnya

merokok, kurang aktivitas fisik, makanan tinggi lemak

dan kalori, serta konsumsi alkohol yang diduga perupakan

faktor risiko PTM.WHO memperkirakan, pada tahun 2020 PTM

akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh kesakitan

di dunia. Diperkirakan negara yang paling merasakan

dampaknya adalah negara berkembang termasuk Indonesia.

Salah satu PTM yang menjadi masalah kesehatan yang

sangat serius saat ini adalah hipertensi yang disebut

sebagai the silent killer (Satria Putra & Yonata, 2016).

Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi

hipertensi pada umur ≥18 tahun di Indonesia yang didapat

melalui jawaban pernah didiagnosis tenaga kesehatan

sebesar 9,4 persen, sedangkan yang pernah didiagnosis

tenaga kesehatan atau sedang minum obat hipertensi

sendiri sebesar 9,5 persen. Jadi, terdapat 0,1 persen

penduduk yang minum obat sendiri, meskipun tidak pernah

didiagnosis hipertensi oleh nakes. Prevalensi hipertensi


2

di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran pada umur ≥18

tahun sebesar 25,8%, tertinggi Bangka Belitung 30,0%

diikuti Kalimantan Selatan 30,8%, Kalimantan Selatan

30,8%, Kalimantan Timur 29,6%, Jawa Barat 29,4% dan

daerah Aceh 21,8%. Jadi cakupan nakes hanya 36,8 persen,

sebagian besar (63,2%) kasus hipertensi di masyarakat

tidak terdiagnosis. Prevalensi DM, hipertiroid, dan

hipertensi pada perempuan cenderung lebih tinggi dari

pada laki-laki (Parlindungan, Lukitasari, & Mudatsir,

2016).

Gangguan kardio vaskuler yang sering di alami oleh

masyarakat salah satunya adalah hipertensi. Banyak

terapi komplamenter yang bisa menurunkan riwayat

hipertensi diantaranya adalahterapi herbal, rebusan daun

alvokat dan seduhan bawang putih.

Daun alpukat (Persea americana miller) rasanya

pahit berkhasiat sebagai diuretik dan menghambat

pertumbuhan beberapa bakteri seperti Staphylococcus sp,

Pseudomonas sp, Proteus sp, Escherichea sp,dan Bacillus

sp. Selain itu, berkhasiat untuk menyembuhkan kencing

batu, darah tinggi, dan sakit kepala(Ana Anggorowati, Priandini,

& Thufail, 2016).

Bawang putihdi kenal dengan nama latin “Allium

sativum” ini termasuk bumbu dapur yang sangat popular di

Asia. Ia memberikan rasa harum yang khas pada masakan,

sekaligus menurunkan kadar kolesterol yang terkandung


3

dalam bahan makanan yang mengandung lemak. Maka jangan

heran jika pada masakan Cina, Korea dan Jepang banyak

menggunakan bawang sebagai bumbu utamanya ( Untari,

2010).

Hipertensi di definisikan sebagai peningkatan

tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmhg dan tekanan

diastolik lebih dari 90 mmhg pada dua kali pengukuran

dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup

istirahat (kesehatanRI 2014).Hipertensi belum diketahui

faktor penyebabnya, namun ditemukan beberapa faktor

risiko.Banyak faktor yang dapat memperbesar risiko atau

kecenderungan seseorang menderita hipertensi,

diantaranya ciri-ciri individu seperti umur, jenis

kelamin dan suku, faktor genetik serta faktor lingkungan

yang meliputi obesitas, stres, konsumsi garam, merokok,

konsumsi alkohol, dan sebagainya. Beberapa faktor yang

mungkin berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi

biasanya tidak berdiri sendiri, tetapi secara bersama-

sama. Teori mozaik menjelaskan bahwa terjadinya

hipertensi disebabkan oleh beberapa faktor yang saling

mempengaruhi, dimana faktor utama yang berperan dalam

patofisiologi adalah faktor genetik dan paling sedikit

tiga faktor lingkungan yaitu asupan garam, stres, dan

obesitas(Satria Putra & Yonata, 2016).

Terapikomplementer adalah terapi yang digunakan

sebagai tambahan untuk terapi konvensional yang di


4

rekomendasikan oleh penyelenggaraan pelayanan kesehatan

individu (Sulistiawati, Prapti, & Lestari, 2015). Terapi

dengan tanaman herbal merupakan salah satu bagian dari

terapi komplementer yang telah dikembangkan dan

dipergunakan secara luas di seluruh dunia

(Sulistiawati, Prapti, & Lestari, 2015).

Beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan

baku obat tekanan darah tinggi salah satunya Daun

Alpukat (Persea americana Mill) (Alfaqih, 2016).Tanaman

alpukat tentu saja sudah dikenal baik oleh masyarakat,

hanya saja orang hanya mengenal buahnya.

Pemanfaatannyapun hanya sebatas untuk jus atau campuran,

minuman-minuman. Padahal selain buah daun alpukatpun

berguna bagi kesehatan. Daun alpukat mengandung

polifenol, quersetin, gulaalkohol persiit yang mana

kandungan tersebut dapatdigunakan untuk pengobatan

penyakit hipertensi (Tamsuri & Windarti, 2012). Bawang

putih (Allium sativum L.) mempunyai sejumlah khasiat

yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Salah satu khasiat

bawang putih adalah dapat menurunkan tekanan darah

tinggi. Bawang putih merupakan obat alami penurun

tekanan darah karena bawang putih memiliki senyawa aktif

yang diketahui berpengaruh terhadap ketersediaan ion

untuk kontraksi otot polos pembuluh darah yang berasal

dari kelompok ajoene (Mohanis, 2015).Sebagai pendamping

obat medis,konsumsi bawang putih bahkan telah disarankan


5

oleh para dokter di Australia untuk para pasien

hipertensi. Catherine Hood juga menemukan bukti bahwa

bawang putih dapat mengurangi aktivitas

angiotensincoverting enzyme(ACE). Ini merupakan

mekanisme di mana obat inhibitor ACE berperan dalam

menurunkan tekanan darah dengan meminum satu gelas air

seduhanbawang putih rutin setiap pagi selama 7

hari.Hasilnya menunjukkan pengurangansignifikan pada

tekanan darah sistolik dan diastolik sebesar 6-10 mmHg

dan tekanan diastol 6-9 mmHg (Mohanis, 2015). Di

Indonesia, jumlah penderita hipertensi mencapai 17-21%

dari jumlah itu 60% penderita hipertensi berakhir pada

stroke.

Diperkirakan hipertensi yang ada di Indonesia

mencapai 15 juta jiwa tetapi hanya 4% yang merupakan

hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada lanjut

usia, 50% tidak menyadari sebagai penderita hipertensi

sehingga cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena

tidak menghindari dan tidak mengetahui factor resiko,

dan 90% merupakan hipertensiesensia (Mohanis, 2015).

Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan

calon peneliti di Pustu Banyu Urip Desa Tempos Kecamatan

Gerung Kabupaten Lombok Barat, masyarakat yang menderita

hipertensi dari bulan januari sampai juni 2017 adalah

240 orang, upaya pengobatan yang di lakukan sebagian

besar masyarakat menggunakan pengobatan farmakologi.


6

Sedangkan pengobatan non farmakologi dengan terapi

tanaman herbal merupakan salah satu bagian dari terapi

komplementer yang telah dikembangkan dan dipergunakan

secara luas di seluruh dunia (Sulistiawati, Prapti, &

Lestari, 2015). Salah satu terapi yang di maksud adalah

pemberian rebusan daun alpukat dan seduhan bawang putih.

Berdasarkan uraian data dan fakta di atas peneliti

ingin membuktikan kebenaran khasiat Pengaruh rebusan

daun alpukat dan seduhan bawang putih terhadap

penatalaksanaan klien dengan riwayat hipertensi di

wilayah kerja Pustu Banyu Urip Desa Tempos Kecamatan

Gerung Kabupaten Lombok Barat.


7

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka

dapat dirumuskan rumusan masalah dalam Penelitian ini

sebagai berikut :

“Apakah ada Pengaruh rebusan daun alpukat dan seduhan

bawang putih terhadap penatalaksanaan klien dengan

riwayat hipertensi di wilayah kerja Pustu Banyu Urip

Desa Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah

peneliti ingin mengetahui Pengaruh rebusan daun

alpukat dan seduhan bawang putih terhadap

penatalaksanaan klien dengan riwayat hipertensi di

wilayah kerja Pustu Banyu Urip Desa Tempos Kecamatan

Gerung Kabupaten Lombok Barat.

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari Penelitian ini adalah :

a. Mengidentifikasi tekanan darah pada masyarakat

dengan riwayat hipertensi di wilayah kerja Pustu

Banyu Urip Desa Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten

Lombok Barat sebelum di lakukan Terapi Rebusan

Daun Alpukat dan Bawang putih.


8

b. Mengidentifikasi tekanan darah pada masyarakat

dengan riwayat hipertensi di wilayah kerjaPustu

Banyu Urip Desa Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten

Lombok Barat setelah di lakukan Terapi Rebusan

Daun Alvokad dan Bawang putih.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini

adalah :

1. Bagi Institusi Pendidikan Stikes Mataram

Hasil Penelitian ini dapat dijadikan sebagai

tambahan refrensi, dan dapat pula dijadikan sebagai

bahan pertimbangan materi yang akan diberikan.

2. Bagi Peneliti

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan peneliti dalam bidang keperawaan dan peneliti

dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan tersebut pada

masyarakat.

3. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat

memberikan gambaranatau informasi bagi pembaca atau

peneliti selanjutnya.

4. Bagi Desa

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan

sebagai salah satu terapi yang dapat di jadikan acuan

dan tambahan dalam menyelesaikan masalah hipertensi.


9

5. Bagi Masyarakat

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah

pengetahuanmasyarakatagartidak hanya mengandalkan

pengobatan secara medis tetapi non medis juga

perlu digunakan supaya tingkat kesejahteraan

menjadi lebih baik.

6. Bagi Responden

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah

kesadaran responden itu sendiri akan pentingnya

pengobatan secara non medis yaitu dengan terapi

herbal seperti rebusan daun alpukat dan bawang putih.

E. Keaslian Penelitian

NO Penelitian Penelitian Rencana


Sebelumnya sebelumnya Peneliti

1 Nama Dian Faridah Alfiana Nur Muhammad


peneliti (2011) S (2012) Iswahyudin
(2017)
2 Judul Pengaruh Perbedaan Pengaruh
penelitian pemberian efektifitas rebusan daun
bawang putih pemberian alpukat dan
(allium kombinasi seduhan
sativum) terapi bawang putih
terhadap farmakologi terhadap
penurunan dan penurunan
tekanan darah komplementer tekanan
pada lansia (jus tomat) darah pada
dengan di riwayat
hipertensi di bandingkan hipertensi
PSTW dengan diwilayah
“Puspakarma” terapi kerja
Mataram farmakologi puskesmas
saja gerung desa
terhadap banyu urip
perubahan tempos
10

tekanan
darah pada
lansia
penderita
hipertensi
3 Jumlah 22 orang 24 orang 30 orang
sampel
4 Tehnik Total sampling Purposive purposive
sampling sampling sampling
5 Desain Quasi Quasi Quasi
penelitian eksperimen eksperimen eksperimen
(group control (one the (two the
desing) group group
pretest-post pretest-
test desing) posttest
desing)
6 Tehnik Uji t-test Uji wilcoxom Paired t-
analisa signed rank test
data tes dan uji
mann-whitney
U
7 Variable Pemberian Kombinasi Pemberian
bebas bawang putih pemberian rebusan daun
(independen terapi alpukat dan
farmakologi seduhan
dan bawang putih
komplementer
jus tomat
8 Variable Penurunan Tekanan Penurunan
(dependen) tekanan darah darah pada tekanan
pada lansia lansia darah pada
dengan penderita riwayat
hipertensi hipertensi hipertensi
9 Hasil Ada pengaruh Ada pengaruh
penelitian pemberian perbedaan
bawang putih efektifitas
(allium pemberian
sativum) kombinasi
terhadap terapi
penurunan farmakologi
tekanan darah dan
pada lansia komplementer
dengan (jus tomat)
hipertensi di dibandingkan
11

PSTW dengan
“Puspakarma” terapi
Mataram farmakologi
saja
terhadap
perubahan
tekanan
darah pada
lansia
12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan diuraikan mengenai konsep teori

yang mendasari atau mendukung penelitian ini,

berdasarkan landasan teori yang meliputi : konsep

komunitas, konsep hipertensi, konsep daun alpukat,

konsep bawang putih.

A. Konsep Komunitas

1. Pengertian

Komunitas adalah sekelompok individu yang tinggal

pada wilayah tertentu, memiliki nilai – nilai keyakinan

dan minat yang relative sama, serta berinteraksi satu

sama lain untuk mencapai tujuan (Mubarak & Chayatin,

2009)

Komunitas sebagai kelompok social yang di tentukan

oleh batas batas wilayah, nilai nilai keyakinan dan

minat yang sama serta adanya saling mengenal dan

berintraksi antara anggota masyarakat yang satu dan

lainnya (Dermawan, 2012).

2. Sasaran keperawatan komunitas

saasasasa

3. Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas

a. Tujuan keperawatan komunitas


13

1) Pelayanan keperawatan secara langsung (direct

care) terhadap individu, keluarga, dan keluarga

dan kelompok dalam konteks komunitas.

2) Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh

masyarakat (health general community) dengan

mempertimbangkan permasalahan atau isu

kesehatan masyarakat yang dapat memengaruhi

keluarga, individu, dan kelompok.

Selanjutnya, secara spesifik diharapkan

individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat mempunyai

kemampuan untuk:

1) Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami;

2) Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan

masalah tersebut;

3) Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan;

4) Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka

hadapi;

5) Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang

mereka hadapi, yang akhirnya dapat meningkatkan

kemampuan dalam memelihara kesehatan secara

mandiri (self care).

b. Fungsi keperawatan komunitas

1) Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis

dan ilmiah bagi kesehatan masyarakat dan


14

keperawatan dalam memecahkan masalah klien

melalui asuhan keperawatan.

2) Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang

optimal sesuai dengan kebutuhannya dibidang

kesehatan.

3) Memberikan asuhan keperawatan melalui

pendekatan pemecahan masalah, komunikasi yang

efektif dan efisien serta melibatkan peran serta

masyarakat.

4) Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat

berkaitan dengan permasalahan atau kebutuhannya

sehingga mendapatkan penanganan dan pelayanan

yang cepat dan pada akhirnya dapat mempercepat

proses penyembuhan (Mubarak & Chayatin, 2009).

4. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas

a. Proses kelompok (group process)

Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit,

tentunya setelah belajar dari pengalaman

sebelumnya, selain faktor pendidikan/pengetahuan

individu, media masa, Televisi, penyuluhan yang

dilakukan petugas kesehatan dan sebagainya. Begitu

juga dengan masalah kesehatan di lingkungan

sekitar masyarakat, tentunya gambaran penyakit

yang paling sering mereka temukan sebelumnya

sangat mempengaruhi upaya penangan atau pencegahan

penyakit yang mereka lakukan. Jika masyarakat


15

sadar bahwa penangan yang bersifat individual

tidak akan mampu mencegah, apalagi memberantas

penyakit tertentu, maka mereka telah melakukan

pemecahan-pemecahan masalah kesehatan melalui

proses kelompok.

b. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)

Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan

perilaku yang dinamis, dimana perubahan tersebut

bukan hanya sekedar proses transfer materi/teori

dari seseorang ke orang lain dan bukan pula

seperangkat prosedur. Akan tetapi, perubahan

tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam diri

individu, kelompok atau masyarakat sendiri.

Sedangkan tujuan dari pendidikan kesehatan menurut

Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 maupun

WHO yaitu ”meningkatkan kemampuan masyarakat untuk

memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan;

baik fisik, mental dan sosialnya; sehingga

produktif secara ekonomi maupun secara sosial.

c. Kerjasama (Partnership)

Berbagai persoalan kesehatan yang terjadi dalam

lingkungan masyarakat jika tidak ditangani dengan

baik akan menjadi ancaman bagi lingkungan

masyarakat luas. Oleh karena itu, kerja sama

sangat dibutuhkan dalam upaya mencapai tujuan

asuhan keperawatan komunitas melalui upaya ini


16

berbagai persoalan di dalam lingkungan masyarakat

akan dapat diatasi dengan lebih cepat.

5. Pusat Kesehatan Komunitas

a. Sekolah atau Kampus

Pelayanan keperawatan yang diselenggarakan

meliputi pendidikan pencegahan penyakit,

peningkatan derajat kesehatan dan pendidikan seks.

Selain itu perawat yang bekerja di sekolah dapat

memberikan perawatan untuk peserta didik pada

kasus penyakit akut yang bukan kasus kedaruratan

misalnya penyakit influensa, batu dll. Perawat

juga dapat memberikan rujukan pada peserta didik

dan keluarganya bila dibutuhkan perawatan

kesehatan yang lebih spesifik.

b. Lingkungan kesehatan kerja

Beberapa perusahaan besar memberikan pelayanan

kesehatan bagi pekerjanya yang berlokasi di gedung

perusahaan tersebut. Asuhan keperawatan di tempat

ini meliputi lima bidang. Perawata menjalankan

program yang bertujuan untuk:

1) Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja

dengan mengurangi jumlah kejadian kecelakaan

kerja.

2) Menurunkan resiko penyakit akibat kerja

3) Mengurangi transmisi penyakit menular anatar

pekerja.
17

4) Memberikan program peningkatan kesehatan,

pencegahan penyakit, dan pendidikan kesehatan.

5) Mengintervensi kasus-kasus lanjutan non

kedaruratan dan memberikan pertolongan pertama

pada kecelakaan (Mubarak, 2006).

c. Lembaga perawatan kesehatan di rumah

Klien sering kali membutuhkan asuhan keperawatan

khusus yang dapat diberikan secara efisien di

rumah. Perawat di bidang komunitas juga dapat

memberikan perawatan kesehatan di rumah misalnya:

perawata melakukan kunjungan rumah, hospice care,

home care dll. Perawat yang bekerja di rumah harus

memiliki kemampuan mendidik, fleksibel,

berkemampuan, kreatif dan percaya diri, sekaligus

memiliki kemampuan klinik yang kompeten.

d. Lingkungan kesehatan kerja lain

Terdapat sejumlah tempat lain dimana perawat juga

dapat bekerja dan memiliki peran serta

tanggungjawab yang bervariasi. Seorang perawat

dapat mendirikan praktek sendiri, bekerja sama

dengan perawata lain, bekerja di bidang

pendididkan, penelitian, di wilayah binaan,

puskesmas dan lain sebagainya. Selain itu,

dimanapun lingkungan tempat kerjanya, perawat

ditantang untuk memberikan perawatan yang

berkualitas (Mubarak, 2006).


18

6. Bentuk – Bentuk Pendekatan dan Partisipasi Masyarakat

a. Posyandu

Pos pelayanan terpadu atau yang lebih dikenal

dengan posyandu. Secara sederhana dapat diartikan

sebagai pusat kegiatan dimana masyarakat dapat sekaligus

memperoleh pelayanan KB dan Kesehatan. Selain itu

posyandu juga dapat diartikan sebagai wahana kegiatan

keterpaduan KB dan kesehatan ditingkat kelurahan atau

desa, yang melakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1)

kesehatan ibu dan anak, (2) KB, (3) imunisasi, (4)

peningkatan gizi, (5) penanggulangan diare, (6) sanitasi

dasar, (7) penyediaan obat esensial (Zulkifli, 2003).

B. Konsep Hipertensi

1. Pengertian

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah

kondisi medis yang terjadi akibat peningkatan tekanan

darah secara kronis (dalam jangka waktu lama).

Penderita mempunyai tekanan darah melebihi 140/90


19

mmhg, di perkirakan mempunyai riwayat tekanan darah

tinggi (Adib, 2011)

Hipertensi adalah suatu keadaan meningkatnya

tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140

mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg

(Satria Putra & Yonata, 2016)

Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan

darah sistolik dan/atau diastolik yang tidak normal.

Batas yang tepat dari kelainan ini tidak pasti. Nilai

yang dapat diterima berbeda sesuai dengan usia dan

jenis kelamin. Namun umumnya, sistolik yang berkisar

dari 140-160 mm Hg dan diastolik antara 90-95 mm Hg

dianggap merupakan garis batas hipertensi

(Parlindungan, Lukitasari, & Mudatsir, 2016).

2. Etiologi

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat di bedakan

menjadi dua jeni yaitu hipertensi primer (esensial)

yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi

sekunder yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal,

penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan

anak ginjal (adrenal). Hipertensi seringkali tidak

menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang

terus-menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat

menimbulkan komplikasi. Hipertensi belum diketahui

faktor penyebabnya, namun ditemukan beberapa faktor

risiko.Banyak faktor yang dapat memperbesar risiko


20

atau kecenderungan seseorang menderita hipertensi,

diantaranya ciri-ciri individu seperti umur, jenis

kelamin dan suku, faktor genetik serta faktor

lingkungan yang meliputi obesitas, stres, konsumsi

garam, merokok, konsumsi alkohol, dan sebagainya.

Beberapa faktor yang mungkin berpengaruh terhadap

timbulnya hipertensi biasanya tidak berdiri sendiri,

tetapi secara bersama-sama.2,6 Sesuai dengan teori

mozaik pada hipertensi esensial. Teori tersebut

menjelaskan bahwa terjadinya hipertensi disebabkan

oleh beberapa faktor yang saling mempengaruhi, dimana

faktor utama yang berperan dalam patofisiologi adalah

faktor genetik dan paling sedikit tiga faktor

lingkungan yaitu asupan garam, stres, dan obesitas.

(Satria Putra & Yonata, 2016)

3. Gejala hipertensi

Pada sebagian besar penderita, hipertensi

tidak menimbulkan gejala, meskipun secara tidak

sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan

dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi

(padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud

adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing,

wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi

baik pada penderita hipertensi maupun pada seseorang

dengan tekanan darah yang normal.


21

Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi

masalah kesehatan yang lebih serius dan bahkan dapat

menyebabkan kematian. Sering kali hipertensi disebut

sebagai silent killer karena dua hal yaitu:

a. Hipertensi sulit disadari seseorang karena

hipertensi tidak memiliki gejala khusus, gejala

ringan seperti pusing, gelisah, mimisan dan sakit

kepala biasanya jarang berhubungan langsung dengan

hipertensi,hipertensi dapat diketahui dengan

mengukur secara teratur.

b. Hipertensi apabila tidak ditangani dengan baik,

akan mempunyai risiko besar untuk meninggal karena

komplikasi kardiovaskular seperti stroke, Serangan

jantung, gagal jantung dan gagal ginjal.

4. Faktor-faktor resiko

a. Faktor Keturunan atau Gen

Kasus hipertensi esensial 70%-80% diturunkan

dari orang tuanya. Apabila riwayat hipertensi di

dapat pada kedua orang tua maka dugaan hipertensi

esensial lebih besar bagi seseorang yang kedua

orang tuanya menderita hipertensi ataupun pada

kembar monozygot (sel telur) dan salah satunya

menderita hipertensi maka orang tersebut

kemungkinan besar menderita hipertensi.

b. Faktor Berat (Obesitas atau Kegemukan)


22

Pada orang yang terlalu gemuk, tekanan

darahnya cenderung tinggi karena seluruh organ

tubuh dipacu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan

energi yang

lebih besar jantungpun bekerja ekstra karena

banyaknya timbunan lemak yang menyebabkan kadar

lemak darah juga tinggi, sehingga tekanan

darah menjadi tinggi (Suparto, 2000).

c. Stres Pekerjaan

Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan,

murung, rasa marah, dendam rasa takut) dapat

merangsang belajar anak ginjal melepaskan hormone

adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat

serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan

meningkat, jika stress berlangsung cukup lama,

tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga

timbul kelainan organis atau perubahan patologis

(Arora, 2008).

d. Faktor Jenis Kelamin (Gender).

Wanita penderita hipertensi diakui lebih

banyak dari pada laki-laki. Tetapi wanita lebih

tahan dari pada laki-laki tanpa kerusakan jantung

dan pembuluh darah. Pria lebih banyak mengalami

kemungkinanmenderita hipertensi dari pada wanita.

Pada pria hipertensi lebih banyak disebabkan oleh

pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap


23

pekerjaan. Sampai usia 55 tahun pria beresiko lebih

tinggi terkena hipertensi dibandingkan wanita.

Menurut Edward D. Frohlich seorang pria dewasa

akan mempunyai peluang lebih besar yakni satu di

antara 5 untuk mengidap hipertensi (Sustrani,

2004).

5. Faktor usia.

Insiden Hipertensi meningkat dengan

meningkatnya usia, perubahan akibat proses menua

menyebabkan disfungsi endotel yang berlanjut pada

pembentukan berbagai sitokinin dan subtansi kimiawi

yang lain kemudian menyebabkan rebsorbsi natrium,

proses sklerosis yang berakibat pada kenaikan tekanan

darah (Martono, 1999).

6. Faktor Asupan Garam

Terdapat bukti bahwa mereka yang memiliki

kecenderungan menderita hipertensi secara keturunan

memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk

mengeluarkan garam dari tubuhnya. Namun mereka

mengkonsumsi garam tidak lebih banyak dari orang

lain, meskipun tubuh mereka cenderung menimbun

apa yangmereka makan (Beevers, 2002).

7. Kebiasaan Merokok

Kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan

kurang olahraga serta bersantai dapat mempengaruhi

peningkatan tekanan darah. Rokok mempunyai beberapa


24

pengaruh langsung yang membahayakan jantung. Apabila

pembuluh darah yang ada pada jantung dalam keadaan

tegang karena tekanan darah tinggi, maka rokok dapat

memperburuk keadaan tersebut (Tom, 1986).

C. Konsep Daun Alpukat

Klasifikasi tanaman Alpukat menurut ITIS (2015) adalah

sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Division : Tracheophyta

Class : Magnoliopsida

Order : Laurales

Family : Lauracea

Genus : Persea Mill.

Species : Persea americana Mill.

1. Pengertian

Tanaman Alpukat (Persea americana Mili) rasanya

pahit berpungsi sebagai diuretik dan menghambat

pertumbuhan beberapa bakteri seperti Staphylococcus


25

sp, Pseudomonas sp, Proteus sp, Escherichea sp, dan

Bacillus sp. Selain itu, berkhasiat untuk

menyembuhkan kencing batu, darah tinggi, dan sakit

kepala. Daun yang dibuat teh dapat menyembuhkan nyeri

saraf, nyeri lambung, bengkak saluran pernapasan dan

haid tidak teratur. Kandungan zat aktif yang terdapat

di daun alpukat (Persea americana miller) adalah

flavonoid dan quersetin (Ana Anggorowati, Priandini,

& Thufail, 2016)

2. HabitatAlpukat

Alpukat tumbuh di daerah tropis dan subtropis

dengan curah hujan antara 1.800-4.500 mm/th. Pada

umumnya tumbuhan ini cocok dengan iklim sejuk dan

Digital Repository Universitas JemberDigita

Repository Universitas Jember basah. Tumbuhan ini

tidak tahan terhadap suhu rendah maupun tinggi,

kelembaban rendah pada saat berbunga dan angin yang

keras pada saat pembentukan buah. Di Indonesia,

tanamanalpukat tumbuh pada ketinggian antara 1-1.000m

di atas permukaan laut (jannah, 2016)

3. Morfologi Alpukat

Pohon alpukat memiliki ketinggian 3-10 m,

berakar tunggang, batang berkayu, bulat, warnanya

coklat, bercabang banyak, serta ranting berambut


26

halus. Daun tunggal, dengan tangkai yang panjangnya

1-5,5 cm, letaknya berdesakan di ujung ranting,

bentuknya jorong sampai bundar telur memanjang,

tebal seperti kulit, ujung dan pangkal ranting,

bentuknya jorong sampai bundar telur memanjang,

tebal seperti kulit, ujung dan pangkal runcing,

serta bertulang menyirip. Ukuran daun panjang 10-20

cm, lebar 3-10 cm, daun muda berwarna kemerahan dan

berambut rapat, daun tua berwarna hijau gundul, serta

memiliki rasa pahit (Jannah, 2016).

Pohon ini berbunga majemuk, berkelamin dua, dan

tersusun dalam malai yang keluar dekat ujung

ranting. Bunga tersembunyi dengan warna hijau

kekuningan dan memiliki ukuran 5-10 mm. Buah alpukat

bertipe buni, bentuk bola atau bulat telur panjangnya

5-50mm, memiliki kulit lembut tak rata berwarna

hijau tua hingga ungu kecoklatan berbiji satu. Buah

tumbuh tergantung pada varietasnya. Daging buah

alpukat berwarna hijau dekat kulit dan kuningdekat

biji yang memiliki tekstur lunak dan lembut. Biji

bulat seperti bola, diameter 2,5-5 cm, keeping biji

putih kemerahan. Perbanyakan tanaman alpukat dengan

biji dan okulasi pada tanah gembur dan subur (Jannah,

2016).

4. Kandungan Daun Alpukat


27

Kandungan zat aktif yang terdapat di daun

alpukat (Persea america miller) adalah flavonoid,

quersetin dan polifenol.

a. Flavonoid

Flavonoid Flavonoid merupakan senyawa metabolit

sekunder yang terdapat pada tanaman hijau, kecuali

alga. Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi

sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk

pencegahan kanker. Flavonoid adalah suatu kelompok

senyawa fenol terbesar yang ditemukan di alam.

Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah,

ungu dan biru, dan sebagainya zat warna kuning

yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Senyawa-

senyawa flavonoid terdiri atas beberapa jenis,

bergantung pada tingkat oksidasi dari rantai

propan dan system 1,3 diarilpropan. Dalam hal ini,

flavan mempunyai tingkat oksidasi yang terendah

sehingga senyawa ini dianggap sebagai senyawa

induk dalam tatanama senyawa-senyawa turunan

flavon. Salah satu cincin benzene (cincin A) dari

flavonoid mempunyai pola oksigenasi yang

berselang-selling, seperti fologlusinol,sedangkan

cincin benzene yang lain (cincin B) mempunyai pola

oksigenasi dari fenol, katekol, atau pirogalol

(satu para plus dua meta). Senyawa-senyawa

flavonoid terdapat dalam semua bagian tumbuhan


28

tinggi, seperti bunga, daun, ranting, buah, kayu,

kulit kayu dan akar. Akan tetapi, senyawa

flavonoid tertentu seringkali terkonsentrasi dalam

suatu jaringan tertentu, misalnya antoisianidin

adalah zat warna dari bunga, buah dan daun.

Sebagian besar flavonoid alam ditemukan dalam

bentuk glikosida, dimana unit flavonoid terikat

pada suatu gula. Flavonoid dapat ditemukan sebagai

mono-, di-, atau triglikosida, dimana satu, dua

atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid

terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air

dan hanya sedikit larut dalam pelarutpelarut

organik seperti eter, benzene, kloroform dan

aseton.

b. Quersetin

Gambar . Struktur Quersetin

Quersetin adalah senyawa kelompok flavonol

terbesar, quersetin dan glikosidanya berada dalam

jumlah sekitar 60-75% dari flavonoid. Quersetin


29

adalah salah satu zat aktif kelas flavonoid yang

secara biologis amat kuat. Bila vitamin C

mempunyai aktivitas antioksidan 1,maka quersetin

memiliki altivitas antioksidan 4,7. Flavonoid

merupakan sekelompok besar antioksidan bernama

polifenol yang terdiri atas antosianidin,

bifflavon, katekin, flavanon, flavon, dan

flavonol. Quersetin termasuk kedalam kelompok

flavonol. Ketika flavonoid quersetin bereaksi

dengan radikal bebas, quersetin mendonorkan

protonnya dan menjadi senyawa radikal, tapi

elektron tidak berpasangan yang dihasilkan

didelokaslisasi oleh resonansi, hal ini membuat

senyawa quersetin radikal memiliki energi yang

sangat rendah untuk menjadi radikal yang reaktif.

Tiga gugus dari struktur quersetin yang membantu

dalam menjaga kestabilan dan bertindak sebagai

antioksidan ketika bereaksi :

1) Gugus O-dihidroksil pada cincin B

2) Gugus 4-oxo dalam konjugasi dengan alkena 2,3

3) Gugus 3- dan 5-hidroksil

Gugus fungsi tersebut dapat mendonorkan elektron

kepada cincin yang akan meningkatkan jumlah

resonansi dari struktur benzene senyawa quersetin.

Kebanyakan flavonoid terikat pada gula dalam


30

bentuk alamiahnya yaitu dalam bentuk O-glikosida,

dimana proses glikosida dapat terjadi pada gugus

hidroksil mana saja untuk menghasilakn gula.

Bentuk glikosida quersetin yang paling umum

ditemukan adalah quersetin yang memiliki gugus

glikosida pada posisi 3 seperti quersetin -3-O- -

glukosida.

Gambar . Quersetin-3-O- -glukosida

c. Antioksidan

Antioksidan adalah substansi yang diperlukan tubuh

untuk menetralisir radikal bebas dan mencegah

kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas

terhadap sel normal, protein, dan lemak.

Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan

melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki

radikal bebas, dan menghambat terjadinya rekasi

berantai dari pembentukan radikal bebas yang dapat

menimbulkan stres oksidatif. Ada beberapa bentuk

antioksidan, diantaranya vitamin, mineral dan


31

fitokimia. Berbagai tipe antioksidan bekerja

bersama dalam melindungi sel normal dan

menetralisir radikal bebas. Antioksidan adalah

suatu inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi

dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif

membentuk radikal bebas tak reaktif yang relative

lebih stabil. Radikal bebas adalah atom atau

molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif

karena memiliki satu atau lebih elektron tak

berpasangan pada orbitalterluarnya. Untuk mencapai

kestabilan atom atau molekul, radikal bebas akan

bereaksi dengan molekul disekitarnya untuk

memperoleh pasangan elektron. Rekasi ini akan

berlangsung terusmenerus dalam tubuh dan bila

tidak dihentikan akan menimbulkan berbagai

penyakit seperti kanker, jantung, katarak,

penuaandini,serta penyakit degenerative lainnya.

Oleh karena itu tubuh memerlukan suatu

substansipenting, yaitu antioksidan yang mampu

menangkap radikal bebas tersebut sehingga tidah

dapat menginduksi suatu penyakit. Dari sejumlah

penelitian pada tanaman obat dilaporkan bahwa

banyak tanaman obat yang mengandung antioksidan

dalam jumlah besar. Efek antioksidan terutama

disebabkan karena adanya senyawa fenol seperti

flavonoid, asam fenolat. Biasanya senyawa- senyawa


32

yang memiliki aktivitas antioksidan adalah senyawa

fenol yang mempunyai gugus hidroksi yang

tersubstitusi pada posisi orto dan para terhadap

gugus -OH dan -OR. (Ana Anggorowati, Priandini, &

Thufail, 2016)

D. Konsep Bawang Putih

1. Pengertian

Bawang putih (Allium sativum) adalah Bawang

putih merupakan tanaman herba parenial yang membentuk

umbi lapis. Tanaman ini tumbuh secara berumpun dan

berdiri tegak sampai setinggi 30-75 cm. Batang yang

nampak di atas permukaan tanah adalah batang semu

yang terdiri dari pelepah–pelepah daun. Sedangkan

batang yang sebenarnya berada di dalam tanah. Dari

pangkal batang tumbuh akar berbentuk serabut kecil

yang banyak dengan panjang kurang dari 10 cm. Akar

yang tumbuh pada batang pokok bersifat rudimenter,

berfungsi sebagai alat penghisap makanan (Hernawan &

Setyawan, 2003).

Bawang putih (Allium sativum Linn.) yang semula

hanya dikenal sebagai bumbu dapur, kini telah

diketahui memiliki beragam kegunaan dalam menunjang

kehidupan manusia. Selain manfaat utamanya untuk

bahan baku keperluan dapur, umbi bawang putih juga

dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku untuk

pembuatan obat-obatan (Sulistyoningsih, 2009).


33

2. Komposisi Bawang Putih

kandungan kimia dari umbi bawang putih per 100

gram adalah: Alisin 1,5% merupakan komponen penting

dengan efek antibiotik, Protein sebesar 4,5 gram,

Lemak 0,20 gram, Hidrat arang 23,10 gram, Vitamin B 1

0,22 miligram, Vitamin C 15 miligram, Kalori 95

kalori, Posfor 134 miligram, Kalsium 42 miligram, Zat

besi 1 miligram, Air 71 gram. Di samping itu dari

beberapa penelitian umbi bawang putih mengandung zat

aktif alicin, awn, enzim alinase, germanium,

sativine, sinistrine, selenium, scordinin, nicotinic

acid ( Untari, 2010)

3. Klasifikasi Bawang Putih

Bawang putih (Allium sativum) termasuk genus

afflum dan family Liliaceae. Bawang putih termasuk

klasifikasi tumbuhan terna berumbi lapis atau suing

yang bersusun. Bawang putih tumbuh secara berumpun

dan berdiri tegak sampai setinggi 30-75 cm, mempunyai

batang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun.

Helaian daunnya mirip pita, berbentuk pipih dan

memanjang. Akar bawang putih terdiri dari serabut-

serabut kecil yang berjumlah banyak dan setiap umbi

bawang putih terdiri dari sejumlah anak bawang

(siung) yang setiap siungnya terbungkus kulit tipis

berwarna putih. Bawang putih yang semula merupakan

tumbuhan daerah dataran tinggi, sekarang di


34

Indonesia, jenis tertentu dibudidayakan di dataran

rendah (Anonima, 2005). Berdasarkan SNI nomor 01-

3190-1992 tentang bawang putih, bawang putih adalah

umbi tanaman bawang putih (Allium sativum L.) yang

terdiri dari siung-siung bernas, kompak dan masih

terbungkus oleh kulit luar, bersih dan tidak

berjamur. Bawang putih tersusun atas beberapa senyawa

kimia dimana air adalah komponen dengan jumlah

terbesar. Komposisi kimia bawang putih selengkapnya

dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Komposisi bawang putih per 100 gram umbi

Protein 4,5 g

Lemak 0,20 g

Karbohidrat 23,10 g

Vitamin B1 0,22 mg
35

Vitamin C 15 mg

Kalori 95 kal

Fosfor 134 mg

Kalsium 42 mg

Besi 1 mg

Air 71 g

* Anonim a (2005)

Di Indonesia, bawang putih yang umum ditanam

oleh para petani dikelompokkan dalam dua kelompok,

yaitu bawang putih dataran rendah dan bawang putih

dataran tinggi. Bawang putih dataran rendah termasuk

varietas lumbu putih, Bagor, Nganjuk, Sanur,

Jatibarang dan Sumbawa (Anonim b, 2006). Bawang

putih ternyata juga dapat mengobati berbagai jenis

penyakit, seperti hipertensi, asma, batuk, masuk

angin, sakit kepala, sakit kuning, sesak nafas,

busung air, ambeien, sembelit, luka memar, abses,

luka benda tajam, gigitan serangga, cacingan,

insomnia (Anonim a, 2005).

3. Kandungan Bawang putih

Menurut Reynold (1982), dari bawang putih

terdapat diekstrak senyawa antara lain :


36

1.Air, protein, lemak, dan karbohidrat ;

2.Vitamin B1 dan Vitamin C ;

3.Mineral kalsium, fosfor, magnesium dan kalium ;

4.Zat-zat aktif :

a) Allicin(Thiopropen sulfinic acid allyl ester)

Senyawa yang diduga dapat menurunkan kadar

kolesterol darah serta bersifat anti bakteri.

b) Skordinin

Memberi bau yang tidak sedap pada bawang putih,

tetapi senyawa ini berkhasiat sebagai antiseptik.

c) Alliil(Propenyl alanina)

Memberi bau khas pada bawang putih dan juga

berfungsi sebagai antiseptik dan antioksidan.

d) Saponin

Kandungan saponin dalam bubuk bawang putih

dapat menyebabkan sel-sel cacing menjadi

terhidrolisis

e) Diallyl sulfida & Prophyl allyl sulfida

Kedua senyawa ini bersifat trombolik dan

penghancur gumpalan darah. Senyawa ini juga

didugabersifat antelmintika.

f) Methilalil trisulfida

Zat yang dapat mencegah terjadinyaperlengketan sel

darah merah. Kandungan alami dari Bawang putih


37

yang mengandung senyawa kimia yang sangat penting,

salah satunya termasuk volatile oil (0,1-0,36%)

yang mengandung sulfur, termasuk didalamnya adalah

alliin, ajoene dan viny ldithiines yang dihasilkan

secara non enzimatik dari allicin yang dapat

mengencerkan darah dan berperan dalam mengatur

tekanan darah sehingga dapat memperlancar

peredaran darah. Bawang putih tunggal juga

mengadung enzim allinase, peroxidase dan

myrosinase, berfungsi memperlebar pembuluh darah

sahingga aliran darah menjadi lancar, bawang putih

juga mengandung tinggi kalium sehingga dapat

menghambat vasokontriksi otot polos dan bersifat

diuretik sehinggadapat menurukan tekanan darah

(JohnBriffa, 2008).

Di Indonesia, bawang putih yang umum ditanam

oleh para petani dikelompokkan dalam dua kelompok,

yaitu bawang putih dataran rendah dan bawang putih

dataran tinggi. Bawang putih dataran rendah termasuk

varietas lumbu putih, Bagor, Nganjuk, Sanur,

Jatibarang dan Sumbawa (Anonim b, 2006). Bawang

putih ternyata juga dapat mengobati berbagai jenis

penyakit, seperti hipertensi, asma, batuk, masuk

angin, sakit kepala, sakit kuning, sesak nafas,

busung air, ambeien, sembelit, luka memar, abses,


38

luka benda tajam, gigitan serangga, cacingan,

insomnia (Anonim a, 2005).

E. Kerangka Konsep

Faktor penyebab
hipertensi Masyarakat
a. F.Faktor yang
tidak dapat Hipertensi  Terapi daun
G.
dikontrol alpukat
H.
1. Ras 1. Ringan
I.  Terapi
2. Usia 2. Sedang
J.3. Riwayat bawang putih
3. Berat
keluarga Terapi Herbal
4. Jenis
kelamin 1. Wortel
b. Faktor yang Hipertensi 2. Belimbing
dapat diubah manis
1. Obesitas 4. Ringan 3. Mentimun
2. Garam 5. Sedang 4. Tomat
3. Rokok 6. Berat 5. Daun seledri
4. Alkohol
Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

Bagan 2.1 Kerangka konsep Pengaruh Rebusan Daun

Alpukat dan Seduhan Bawang Putih Terhadap Penurunan

Tekanan Darah Pada Riwayat Hipertensi di Wilayah

Kerja Puskesmas Gerung Desa Banyu Urip Tempos

K. Hipotesis Penelitian
39

Hipotesis (Notoatmodjo, 2012) dalam suatu

penelitian berarti jawaban sementara penelitian,

patokan, dugaan, atau dalil sementara, yang

kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian

tersebut.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ha : “Ada pengaruh rebusan daun alpukat dan seduhan

bawang putih terhadap penurunan tekanan darah pada

riwayat hipertensi diwilayah kerja Pustu Banyu Urip

Desa Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat”.

Ho : “Tidak ada pengaruh rebusan daun alpukat dan

seduhan bawang putih terhadap penurunan tekanan darah

pada riwayat hipertensi diwilayah kerja Pustu Banyu

Urip Desa Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok

Barat”.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metodelogi penelitian merupakan suatu cara memperoleh

kebenaran ilmu pengetahuan atau cara upaya peroses pemecahan


40

suatu masalah, yang pada dasarnya menggunakan metode ilmiah

(Notoatmodjo, 2012:19).

A. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah orang yang dapat dimintai

informasi atau yang menjadi responden dalam penelitian

(Suprayitno, 2010). Penelitian ini akan dilaksanakan

diwilayah kerja puskesmas gerung desa banyu urip tempos,

yang menjadi subjek penelitian adalah masyarakat yang

memiliki riwayat hipertensi.

B. Objek Penelitian

Pengertian objek penelitian secara umum merupakan

permasalahan yang dijadikan topik penulisan dalam rangka

menyusun suatu laporan penelitian (Suprayitno, 2010).

Objek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang

memiliki riwayat hipertensi.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian

atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2010).

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang

memiliki riwayat hipertensi sebanyak 52 orang di

wilayah kerja Pustu Banyu Urip Desa Tempos Kecamatan


41

Gerung Kabupaten Lombok Barat, berdasarkan data yang

diambil pada bulan juli 2017.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut

(Sugiyono, 2014). Dalam penelitian ini yang menjadi

sampelnya adalah 42 masyarakat yang memiliki riwayat

hipertensi di wilayah kerja Pustu Banyu Urip Desa

Tempos Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat.

Jumlah sampel tersebut akan dibagi menjadi 2 kelompok

yaitu masing-masing kelompok berjumlah 22 responden

yang akan diberikan dua perlakuan.

3. Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan

sampel (Sugiyono, 2014). Teknik sampling pada

penelitian ini menggunakan nonprobability sampling

dengan purposive sampling. purposive sampling disini

artinya teknik penentuan sampel dengan pertimbangan

tertentu, artinya setiap subjek yang di ambil di

pilih dengan sengaja berdasarkan tujuan dan

pertimbangan tertentu. Tujuan dan pertimbangan

pengambilan subjek/sample penelitian ini adalah

sample tersebut memiliki riwayat hipertensi.

Berdasarkan penjelasan tersebut jumlah sample yang

digunakan peneliti sebanyak 44 responden yang di

bagi 2 kelompok perlakuan masing-masing 22 responden.


42

D. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah suatu rancangan yang bisa

digunaka sebagai petunjuk dalam merencanakan dan

melaksanakan penelitian untuk mencapai tujuan atau

menjawab pertanyaan penelitian (Nursalam, 2013).

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian

ini adalah penelitian Quasy-Eksperimen (two group pre-

tes post test design) rencana ini berusaha mengugkapkan

sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok dua

kelompok subjek. Kelompok subjek di observasi sebelum

dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah

intervensi.

Dalam rancangan ini, kelompok Quasy-eksperimental

diberi dua perlakuan yang berbeda. Pada kedua kelompok

diawali dengan pra-test, dan setelah diberikan diadakan

kembali (pasca-tes) (Nursalam, 2013).

Untuk kelompok Quasi_eksperimental, dengan cara

melakukan pengukuran tekanan darah sebelum diberikan

terapi daun alpukat dan bawang putih, melakukan tekanan

darah sesudah diberikan terapi daun alpukat dan bawang

putih dan membandingkan hasil pengukuran darah sebelum

dan sesudah diberikan kedua terapi tersebut.

E. Tehnik Pengumpulan Data dan Pengolahan Data

Teknik pengumpulan data merupakan suatu langakah

yang paling stategis dalam penelitian, karena tujuan

utama dari penelitian adalah mendapatkan data, maka


43

penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi

standar yang ditetapkan (Sugiyono, 2010).

1. Instrumen Penelitian

Intrumen penelitian merupakan alat-alat yang

akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo,

2012). Instrument pengumpulan data adalah alat yang

digunakan untuk mengumpulkan data atau mengukur

variable yang diteliti. Adapun instrument yang

digunakan dalam peneliti ini adalah lembar

observasi.

Dalam pengukuran tekanan darah alat yang

digunakan adalah sphygmomanometer (tensimeter)

digital merek omron. Menurut sustrani, dkk (2008)

digital merek omron untuk menghindari bias dari

akibat kesalahan pendengaran oleh peneliti.

2. Tehnik Pengumpulan Data

a. Persiapan

Saat melakukan pengumpulan data, peneliti

mengajukan permohonan untuk mendapatka ijin

meneliti didesa banyu urip tempos gerung setelah

terlebih dahulu menjelaskan tujuan penelitian

yang akan dilakukan. Setelah mendapatkan ijin,

peneliti mulai melakukan pengumpulan data terkait

warga yang mengalami hipertensi sehingga

didapatkan sampel yang dibutuhkan dalam

penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti.


44

Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian adalah melakukan observasi dengan

menggunakan pedoman observasi.

Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti

membuat Informed Consent atau lembar persetujuan

menjadi responden, agar responden mengetahui

maksud dan tujuan penelitian. Informed Consent

kemudian ditanda tangani oleh responden sebagai

bukti bahwa responden bersedia untuk diteliti.

b. Pelaksanaan

Saat dilakukan penelitian, peneliti terlebih

dahulu memberikan surat persetujuan menjadi

responden dengan tujuan agar responden mengerti

maksud dan tujuan dari penelitian, sehinnga

proses pengumpulan data dapat dilakukan.

Pelaksanaan pengumpulan data pengaruh

rebusan daun alpukat dan bawang putih terhadap

tingkat hipertensi pada warga yang mengalami

hipertensi, peneliti mengobservasi dengan

menggunakan alat sphygmomanometer (tensi digital)

untuk mengetahui tekanan darah warga kemudian

hasilnya dimasukan dalam lembar observasi.

Membagi responden menjadi dua kelompok perlakuan

eksperimen masing-masing 15 responden.

Data yang sudah terkumpul kemudian

dikelompokkan dan dibuat dalam bentuk tabel


45

sehingga mempermudah melihat hubungan dari

variable yang diteliti dan dapat melihat

perbedaan dari dua kelompok tersebut. Jika

hasilnya sudah terkumpul kemudian dilakukan uji

statistik dengan uji statistik paired t-test

dengan bantuan SPSS V16.

F. Identifikasi Variabel dan Definisi Oprasional

1. Identifikasi Variabel

Variable adalah sesuatu yang digunakan sebagai

ciri sifat, atau ukuran yang dimiliki atau yang

didapatkan oleh sesuatu penelitian tentang konsep

pengertian tertentu (Notoatmojo, 2012).

Adapun variable dalam penelitian ini yaitu

sebagai berikut:

a. Variabel independen (bebas)

Variabel bebas adalah variable yang

menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variable

dependen,jadi variable independen adalah variable

yang mempengaruhi (Sugiyono, 2006). Variable

bebas dalam penelitian ini adalah pemberian daun

alpukat dan dan bawang putih.

b. Variable dependen (terikat)

Variable terikat merupakan variable yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena

adanya variable bebas (Sugiyono, 2006). Variable


46

terikat dalam penelitian ini adalah tingkat

hipertensi pada warga yang mengalami hipertensi.

2. Definisi Oprasional

Definisi oprasional adalah proses perumusan

atau pemberian makna pada masing-masing variabel

untuk kepentingan akurasi komunikasi dan replikasi

agar memberikan pemahaman yang sama kepada setiap

orang mengenai variabel-variabel yang diangkat dalam

suatu penelitian (Nursalam, 2013).

a. Memberikan daun alpukat dan bawang putih untuk

menurunkan hipertensi pada warga dengan cara

bawang putih ditimbang 10gr, kemudian dibelender

halus, kemudian peras air bawang putih dengan

menggunakan sarigan berserat, campur dengan air

putih 10ml, sedangkan daun alpukat sebanyak 9

lembar direbus dengan air mendidih sebanyak 3

gelas air menjadi 1 gelas air daun alpukat yang

sudah direbus.

b. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang

memiliki tekanan darah yang berada pada rentan

normal sesuai dengan usianya

Definisi Operasional

Tabel 3.1 identifikasi variabel dan Definisi Oprasional

variabel Definisi Parameter Instrument Skala Skor


oprasional ing
47

Variabel Pemberian Prosedur - - -

Independen: bawang putih dan aturan

pemberian adalah salah pemberian

bawang satu terapi bawang

putih pelengkap putih:

yang 1. Memilih

digunakan bawang

untuk putih

menurunkan yang

tekanan bagus dan

darah pada tidak

seseorang rusak

yang 2. Kupas

mengalami kulit

hipertensi. bawang

putih

3. Kemudian

bawang

putih

ditimbang

sebanyak

10 gram

4. Cuci

bersih

5. Kemudian
48

belender

halus

bawang

putih

6. Peras air

bawang

putih

dengan

menggunak

an

saringan

kain

berserat

7. Campur

dengan

air putih

10 ml

8. Perlakuan

diberikan

sebanyak

1 kali

sehari

pada jam

16.00
49

Pemberian Daun alpukat Pemberian

daun adalah salah daun

alpukat satu terapi alpukat

juga untuk yang

menurunkan diberikan

tekanan oleh calon

darah pada peneliti

seseorang dilakukan

yang dengan cara

mengalami sediakan da

hipertensi. un alpukat

9 lembar

kemudian

direbus air

3 gelas air

menjadi 1

gelas.

Perlakuan

diberikan

sebanyak 1

kali sehari

pada jam

16.00
50

Variabel Hipertensi Tekanan 1. Naik

dependent: atau darah awal 2. Tetap

tingkat penyakit pada kedua 3. Turun

hipertensi darah tinggi kelompok,

pada warga merupakan untuk

yang kondisi tekanan

mengalami ketika darah

hipertensi seseorang systole

mengalami 140-≥160

kenaikan mmHg dan

tekanan diastole

darah secara 90-≥100

lambat mmHg.

ataupun Pengukuran

mendadak tekanan

(akut). darah

dilakukan

selama

perlakuan.
51

H. Kerangka Kerja Penelitian

Populasi:

Warga yang memiliki riwayat


hipertensi diwilayah kerja
puskesmas gerung desa banyu urip
tempos
Purposive sampling

44 sampel penelitian

Inform concent

Observasi

Pre test

Kelompok Eksperimen Kelompok Eksperimen

Menjalankan terapi daun Menjalankan terapi


alpukat bawang putih

Post Test

Observasi

Uji paired t-test

Laporan Hasil
52

Bagan 3.1 Kerangka kerja penelitian Pengaruh Rebusan


Daun Alpukat dan Seduhan Bawang Putih
Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada
Riwayat Hipertensi di Wilayah Kerja
Pustu Banyu Urip Desa Tempos Kecamatan
Gerung Kabupaten Lombok Barat.

I. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini menggunakan Uji-
t dengan derajat kemaknaan 5% (0,05). Hasil dari
perhitungan tersebut, dibandingkan dengan besar nilai t
untuk mengetahui tingkat signifikan pengaruh terapi yang
telah diberikan. Jika nilai t lebih besar dari t maka Ho
ditolak. Rumus menggunakan Uji- Paired t-test adalah
sebagai berikut:
Dimana:
T : T hitung
Md : Mean dari perbedaan Pre-intervention dengan
post intervension (post-intervention-pre-
intervension)
Xd : Deviasi masing-masing subyek (d-Md)
∑x2d : Jumlah kuadrat deviasi
J. Etika Penelitian

Bebas dari penderitaan, artinya dalam penelitian


ini tidak menggunakan tindakan yang dapat menyakiti atau
membuat esponden menderita. Bebas dari eksploitasi,
artinya data yang diperoleh tidak digunakan untuk hal-
hal yang dapat merugikan responden.

1. Lembar persetujuan menjadi responden (informed


conset)
Sebelum dilakukan pengambilan data penelitian,
peneliti memberikan penjelasan kepada responden
mengenai proses, tujuan, manfaat yang digunakan untuk
pengumpulan data saat penelitian. Apabila calon
53

responden bersedia untuk diteliti maka calon


responden harus menandatangani lembar persetujuan
tersebut, dan jika calon responden menolak untuk
diteliti maka peneliti tidak boleh memaksa dan tetap
menghormatinya.
2. Anonymity (tanpa nama)
Untuk menjaga identitas responden, peneliti
tidak mencantumkan nama responden dalam lembar
pengumpulan data, hanya memberikan inisial dan nomor
kode pada masing-masing lembar tersebut.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Informasi yang diberikan oleh responden serta
semua data yang terkumpul dijamin kerahasiaannya oleh
peneliti.