Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

A. Pengertian
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis dimana terjadi peningkatan
tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai
sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat
diperkiraan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah
satu faktor resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan
merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. (Wikipedia, 2008)
Hipertensi dalam kehamilan adalah suatu penyakit yang sering dijumpai pada wanita
hamil, di situ ditemukan adanya kelainan berupa peningkatan tekanan darah pada
pemeriksaan ibu hamil. Pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolic berada di atas 140/90
mmHg, pengukuran sekurang-kurangnya dilakukan 2 kali dengan selang waktu pengukuran 4
jam.
Kejadian hipertensi dalan kehamilan cukup tinggi ialah 5-15%, merupakan satu di
antara tiga penyebab mortalitas (kematian) dan morbiditas (kejadian) ibu bersalin selain
infeksi dan pendarahan. Hal itu dikarenakan angka kejadian yang tinggi dan penyakit ini
mengenai semua lapisan masyarakat. Termasuk, beberapa waktu terakhir terjadi pada seorang
figur publik yang cukup familiar dan sayang sekali nyawanya tidak dapat tertolong.

B. Klasifikasi/Jenis

Jenis tekanan Keterangan dari jenis tekanan darah tinggi


darah tinggi

Hipertensi Wanita dengan hipertensi gestasional biasanya mengalami tekanan darah


gestasional tinggi setelah 20 minggu kehamilan. Hal ini ditunjukkan dengan tidak
ada protein yang berlebih dalam urin atau tanda-tanda lain dari kerusakan
organ. Beberapa wanita hamil dengan hipertensi gestasional akhirnya
darah tingginya berkembang menjadi preeklamsia.

Hipertensi Hipertensi kronis adalah tekanan darah tinggi yang ada sebelum
kronis kehamilan atau terjadi sebelum 20 minggu kehamilan. Tetapi karena
tekanan darah tinggi, biasanya tidak memiliki gejala, mungkin akan sulit
untuk menentukan kapan terjadinya tekanan darah tinggi ini.

Hipertensi Kondisi ini terjadi pada wanita dengan tekanan darah tinggi kronis
kronis dengan sebelum kehamilan yang kemudian berkembang bertambah buru.
preeklamsia Tekanan darah tinggi ini disertai dengan ditemukannya protein dalam
urin atau adanya komplikasi lain selama kehamilan.

Preeklamsia Kadang-kadang hipertensi kronis atau hipertensi gestasional


menyebabkan preeklamsia. Komplikasi kehamilan yang ditandai dengan
tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain
biasanya setelah 20 minggu kehamilan.
Jika tidak diobati, preeklampsia dapat menyebabkan hal yang serius
bahkan fatal seperti komplikasi bagi ibu dan bayi. Sebelumnya,
preeklamsia didiagnosis ketika seorang wanita hamil memiliki tekanan
darah tinggi dan ditemukan protein dalam urinnya. Namun, para ahli
sekarang tahu bahwa itu bisa terjadi preeklamsia, meski tidak memiliki
tanda-tanda protein dalam urin.

Preeklamsia kadang-kadang berkembang tanpa gejala. Tekanan darah


tinggi dapat berkembang secara perlahan, namun lebih sering terjadi
secara mendadak. Pemantauan tekanan darah adalah bagian penting dari
perawatan kehamilan, karena tanda pertama preeklampsia umumnya
peningkatan tekanan darah. Tekanan darah dari 140/90 (mm Hg) atau
lebih besar.

Merupakan tahap akhir hipertensi dalam kehamilan. Eklamsia terjadi saat


Eklamsia ibu hamil dengan kondisi preeklamsia mengalami kejang. Selain kejang,
ibu hamil juga bisa mengalami penurunan kesadaran sehingga
membahayakan nyawa bayi dan dirinya sendiri.

C. Faktor Resiko Hipertensi dalam Kehamilan


Jika hipertensi dalam kehamilan tidak ditangani dengan baik berisiko memberi dampak buruk
bagi kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi, seperti :

 Berkurangnya Aliran Darah ke Plasenta


Tekanan darah tinggi akan mempengaruhi jumlah aliran darah yang mengalir ke
plasenta. Kondisi ini tentu akan membuat janin dalam kandungan kesulitan mendapat
oksigen dan nutrisi.
 Pertumbuhan Janin Terhambat
Kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi pada janin bisa menyebabkan bayi lahir
prematur, kurang berat badan, dan bahkan pada beberapa kasus berujung pada
kematian, baik saat masih dalam kandungan maupun ketika lahir.

 Abrupsio Plasenta
Merupakan kondisi kesehatan yang ditandai dengan terpisahnya plasenta dari dinding
rahim bagian dalam sebelum persalinan terjadi. Selain bisa merusak plasenta yang
membahayakan kelangsungan hidup janin, ibu hamil juga akan mengalami perdarahan
hebat.

 Persalinan prematur
Terkadang dokter menyarankan persalinan dini untuk mencegah komplikasi yang
mengancam jiwa saat ibu mengalami hipertensi dalam kehamilan.

 Peningkatan Risiko Penyakit Kardiovaskular


Wanita yang menderita preeklamsia selama kehamilan lebih berisiko terkena penyakit
kardiovaskular setelah persalinan, terlebih jika bayi lahir sebelum waktunya.

 Kemungkinan efek samping dari obat pengontrol tekanan darah


Jika ibu hamil menggunakan obat-obatan untuk mengontrol tekanan darahnya, obat-
obat ini berpotensi memberikan efek samping yang merugikan bagi janin.

D. Patofisiologi
Vasospasme adalah dasar patofisiologi hipertensi. Konsep ini yang pertama kali
dianjurkan oleh volhard (1918), didasarkan pada pengamatan langsung pembulh-pembuluh
darah halus dibawah kuku, fundus okuli dan konjungtiva bulbar, serta dapat diperkirakan dari
perubahan-perubahan histologis yang tampak di berbagai organ yang terkena. Konstriksi
vaskular menyebabkan resistensi terhadap aliran darah dan menjadi penyebab hipertensi
arterial. Besar kemungkinan bahwa vasospasme itu sendiri menimbulkan kerusakan pada
pembuluh darah.
Selain itu, angiotensin II menyebabkan sel endotel berkonstraksi. Perubahan-
perubahan ini mungkin menyebabkan kerusakan sel endotel dan kebocoran di celah antara
sel-sel endotel. Kebocoran ini menyebabkan konstituen darah, termasuk trombosit dan
fibrinogen, mengendap di subendotel. Perubahan-perubahan vaskular ini, bersama dengan
hipoksia jaringan di sekitarnya, diperkirakan menyebabkan perdarahan, nekrosis, dan
kerusakan organ lain yang kadang-kadang dijumpai dalam hipertensi yang berat.
Pada ibu hamil normal plasenta menghasilkan progesteron yang bertambah hal ini
menyebabkan ekresi natrium lebih banyak karena progesteron berfungsi sebagai diuretik
ringan.Kehilangan natrium menyebabakan penyempitan dari volume darah kompartemen
vaskuler, pada kehamilan dengan preeklamsi menunjukan adanya peningkatan resistensi
perifer dan vasokontriksi pada ruang vaskuler, bertanbahnya protein serum (albumin dan
globulin ) yang lolos dalam urine disebabkan oleh adanya lesi dalam glomerolus ginjal,
sehimgga terjadi oliguri karena menurunya aliran darah ke ginjal dan menurunya GFR
(glomerulus filtrat rate ) kenaikan berat badan dan oedema yang disebabkan penambahan
cairan yang berlebiha dalam ruang intrestisial mungkin berhubungan dengan adanya retensi
air dan garam, terjadinya pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke intertisialdiikuti oleh
adanya kenaikan hematokrit, peningkatan protei serum menambah oedem dan menyebabkan
volume darah berkurang, visikositas darah meningkat dan waktu peredaran darah teri menjadi
lama.

E. Tanda dan Gejala


Waspadai tanda dan gejala hipertensi kehamilan seperti berikut :

 Ditemukannya kelebihan protein dalam urin (proteinuria) atau tanda-tanda tambahan


masalah ginjal.
 Sakit kepala yang parah.
 Perubahan penglihatan, penglihatan menjadi kabur atau sensitivitas cahaya.
 Nyeri pada perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk Anda di sisi kanan.
 Mual atau muntah.
 Urin dari buang air kecil menurun.
 Penurunan kadar trombosit dalam darah.
 Gangguan pada fungsi hati.
 Sesak napas, hal ini disebabkan oleh cairan di paru-paru.
 Kenaikan tiba-tiba pada berat badan dan pembengkakan (edema), khususnya di wajah
dan tangan, sering menyertai preeklampsia. Tapi hal-hal ini juga terjadi di banyak
kehamilan normal, sehingga kadang tidak dianggap sebagai tanda-tanda preeklampsia.
F. Penatalaksanaan
Adapun penatalaksanaannya antara lain :

1. Deteksi Prenatal Dini

Waktu pemeriksaan pranatal dijadwalkan setiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu,
kemudian setiap 2 minggu hingga usia kehamilan 36 minggu, setelah itu setiap minggu.

2. Penatalaksanaan Di Rumah Sakit

Evaluasi sistematik yang dilakukan mencakup :

 Pemeriksaan terinci diikuti oleh pemantauan setiap hari untuk mencari temuan-temuan
klinis seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, dan pertambahan
berat yang pesat.
 Berat badan saat masuk
 Analisis untuk proteinuria saat masuk dan kemudian paling tidak setiap 2 hari
 Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk setiap 4 jam kecuali antara tengah malam
dan pagi hari
 Pengukuran kreatinin plasma atau serum, gematokrit, trombosit, dan enzim hati dalam
serum, dan frekuensi yang ditentukan oleh keparahan hipertensi
 Evaluasi terhadap ukuran janin dan volume cairan amnion baik secara klinis maupun
USG
 Terminasi kehamilan

Pada hipertensi sedang atau berat yang tidak membaik setelah rawat inap biasanya dianjurkan
pelahiran janin demi kesejahteraan ibu dan janin. Persalinan sebaiknya diinduksi dengan
oksitosin intravena. Apabila tampaknya induksi persalinan hampir pasti gagal atau upaya
induksi gagal, diindikasikan seksio sesaria untuk kasus-kasus yang lebih parah.

3. Terapi Obat Antihipertens

Pemakaian obat antihipertensi sebagai upaya memperlama kehamilan atau memodifikasi


prognosis perinatal pada kehamilan dengan penyulit hipertensi dalam berbagai tipe dan
keparahan telah lama menjadi perhatian.

4. Penundaan Pelahiran Pada Hipertensi Berat

Wanita dengan hiperetensi berat biasanya harus segera menjalani pelahiran. Pada tahun-tahun
terakhir, berbagai penelitian diseluruh dunia menganjurkan pendekatan yang berbeda dalam
penatalaksanaan wanita dengan hiperetensi berat yang jauh dari aterm. Pendekatan ini
menganjurkan penatalaksanaan konservatif atau “menunggu” terhadap kelompok tertentu
wanita dengan tujuan memperbaiki prognosis janin tanpa mengurangi keselamatan ibu.
G. Konsep Keperawatan
1. PENGKAJIAN
 Pengumpulan Data
 Data-data yang perlu dikaji adalah berupa:
 Identitas klien
 Keluhan Utama
 Pasien dengan hipertensi pada kehamilan didapatkan keluhan berupa seperti sakit
kepala terutama area kuduk bahkan mata dapat berkunang-kunang, pandangan mata
kabur, proteinuria (protein dalam urin), peka terhadap cahaya, nyeri ulu hati.
 Riwayat Penyakit Sekarang
 Pada pasien jantung hipertensi dalam kehamilan, biasanya akan diawali dengan tanda-
tanda mudah letih, nyeri kepala (tidak hilang dengan analgesik biasa ), diplopia, nyeri
abdomen atas (epigastrium), oliguria (<400 ml/ 24 jam)serta nokturia dan sebagainya.
Perlu juga ditanyakan apakah klien menderita diabetes, penyakit ginjal, rheumatoid
arthritis, lupus atau skleroderma, perlu ditanyakan juga mulai kapan keluhan itu
muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan
keluhan-keluhan tersebut
 Riwayat Penyakit Dahulu
 Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti kronis hipertensi
(tekanan darah tinggi sebelum hamil), Obesitas, ansietas, angina, dispnea, ortopnea,
hematuria, nokturia dan sebagainya. Ibu beresiko dua kali lebih besar bila hamil dari
pasangan yang sebelumnya menjadi bapak dari satu kehamilan yang menderita
penyakit ini. Pasangan suami baru mengembalikan resiko ibu sama seperti
primigravida. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor
predisposisi
 Riwayat Penyakit Keluarga
 Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit
yang disinyalir sebagai penyebab jantung hipertensi dalam kehamilannya. Ada
hubungan genetik yang telah diteliti. Riwayat keluarga ibu atau saudara perempuan
meningkatkan resiko empat sampai delapan kali
 Riwayat Psikososial
 Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya
 Pengkajian Sistem Tubuh
B1 (Breathing)
Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk dengan atau tanpa sputum,
riwayat merokok, penggunaan obat bantu pernafasan, bunyi nafas tambahan, sianosis
B2 (Blood)
Gangguan fungsi kardiovaskular pada dasarnya berkaitan dengan meningkatnya afterload
jantung akibat hipertensi. Selain itu terdapat perubahan hemodinamik, perubahan volume
darah berupa hemokonsentrasi. Pembekuan darah terganggu waktu trombin menjadi
memanjang. Yang paling khas adalah trombositopenia dan gangguan faktor pembekuan lain
seperti menurunnya kadar antitrombin III. Sirkulasi meliputi adanya riwayat hipertensi,
penyakit jantung coroner, episodepalpitasi, kenaikan tekanan darah, takhicardi, kadang bunyi
jantung terdengar S2 pada dasar , S3 dan S4, kenaikan TD, nadi denyutan jelas dari karotis,
jugularis, radialis, takikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat,
sianosis, suhu dingin.
B3 (Brain)
Lesi ini sering karena pecahnya pembuluh darah otak akibat hipertensi. Kelainan
radiologis otak dapat diperlihatkan dengan CT-Scan atau MRI. Otak dapat mengalami edema
vasogenik dan hipoperfusi. Pemeriksaan EEG juga memperlihatkan adanya kelainan EEG
terutama setelah kejang yang dapat bertahan dalam jangka waktu seminggu.Integritas ego
meliputi cemas, depresi, euphoria, mudah marah, otot muka tegang, gelisah, pernafasan
menghela, peningkatan pola bicara. Neurosensori meliputi keluhan kepala pusing, berdenyut ,
sakit kepala sub oksipital, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, gangguan penglihatan
(diplopia, pandangan kabur), epitaksis, kenaikan terkanan pada pembuluh darah cerebral
B4 (Bladder)
Riwayat penyakit ginjal dan diabetes mellitus, riwayat penggunaan obat diuretic juga
perlu dikaji. Seperti pada glomerulopati lainnya terdapat peningkatan permeabilitas terhadap
sebagian besar protein dengan berat molekul tinggi. Sebagian besar penelitian biopsy ginjal
menunjukkan pembengkakan endotel kapiler glomerulus yang disebut endoteliosis kapiler
glomerulus. Nekrosis hemoragik periporta dibagian perifer lobulus hepar kemungkinan besar
merupakan penyebab meningkatnya kadar enzim hati dalam serum
B5 (Bowel)
Makanan/cairan meliputi makanan yang disukai terutama yang mengandung tinggi
garam, protein, tinggi lemak, dan kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan, adanya
edema.
B6 (Bone)
Nyeri/ketidaknyamanan meliputi nyeri hilang timbul pada tungkai,sakit kepala sub
oksipital berat, nyeri abdomen, nyeri dada, nyeri ulu hati. Keamanan meliputi gangguan cara
berjalan, parestesia, hipotensi postural

2. DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan ditegakkan melalui analisis cermat terhadap hasil pengkajian.
Diagnosa keperawatan yang umum untuk orang tua dengan gangguan hipertensi pada
kehamilan meliputi hal-hal berikut.
1. Perubahan perfusi jaringan/organ menurun b.d
 Hipertensi
 Vasospasme siklik
 Edema serebral
 Perdarahan
2. Risiko tinggi cedera ibu b.d
 Iritabilitas SSP akibat edema otak, vasospasme, penurunan perfusi ginjal
3. Risiko tinggi cedera pada janin b.d
 Insufisiensi uteroplasenta
 Kelahiran premature
 Solusio plasenta
4. Risiko tinggi gangguan pertukaran gas b.d
 Terapi magnesium sulfat
 Edema paru
5. Risiko tinggi mengalami solusio plasenta b.d
 Vasospasme sistemik
 Hipertensi
 Penurunan perfusi uteroplasenta
6. Ansietas b.d efeknya pada ibu dan janin
3. INTERVENSI
1. Perubahan perfusi jaringan b.d. Hipertensi, Vasospasme siklik, Edema serebral, Perdarahan
o Tujuan : tidak terjadi vasospasme dan perfusi jaringan tidak terjadi
o Kriteria hasil : klien akan mengalami vasodilatasi ditandai dengan diuresis,
penurunan tekanan darah, edema

Implementasi Rasional
Memantau asupan oral dan ifus IV MGSO4 adalah obat anti kejang yang
MGSO4 bekerja pada sambungan mioneural dan
Memantau urin yang kluar merelaksasi vasospasme sehingga
Memantau edema yang terlihat menyebabkan peningkatan perfusi
Mempertahankan tirah baring total ginjal, mobilisasi cairan ekstra seluler
dengan posisi miring (edema dan diuresis
Tirah baring menyebabkan aliran darah
urtero plasenta, yang sering kali
menurunkan tekanan darah dan
meningkatkan dieresis

2. Resiko cedera tinggi pada ibu b.d. iritabilitas SSP


· Tujuan : gangguan SSP akan menurun mencapai tingkat normal
· Kriteria hasil : klien tidak mengalami kejang

Implementasi Rasional
Mendapatkan data-data dasar (misal data-data dasar dugunakan untuk
DTRs,klonus) memantau hasil terapi
Memantau pemberian IV MgSO4 dan MGSO4 adalah obat anti kejang
kadar serum MgSO4 yang bekerja pada sambungan
mengkaji adanya kemungkinankeracunan mioneural dan merelaksasi
MgSO4 vasospasme
mempertahankan lingkungan yang tenang, Dosis yang berlebih akan membuat
gelap dan nyaman kerja otot menurun sehingga
dapat menyebabkan depresi
pernapasan berat
Rangsangan kuat, misalnya cahaya
terang dan suara keras dapat
menimbulkan kejang
3. Resiko tinggi cedera pada janin b.d fetal distress
· Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi fetal distress pada janin
· Kriteria hasil : – DJJ ( + ) : 12-12-12

Implementasi Rasional
1. Monitor DJJ sesuai indikasi Peningkatan DJJ sebagai indikasi
2. Kaji tentang pertumbuhan janin terjadinya hipoxia, prematur dan solusio
3. Jelaskan adanya tanda-tanda solutio plasenta
plasenta ( nyeri perut, perdarahan, rahim Penurunan fungsi plasenta mungkin
tegang, aktifitas janin turun ) diakibatkan karena hipertensi sehingga
4. Kaji respon janin pada ibu yang diberi timbul IUGR
SM Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala
5. Kolaborasi dengan medis dalam solutio plasenta dan tahu akibat hipoxia
pemeriksaan USG dan NST bagi janin
Reaksi terapi dapat menurunkan
pernafasan janin dan fungsi jantung serta
aktifitas janin
USG dan NST untuk mengetahui
keadaan/kesejahteraan janin

4. Kecemasan berhubungan dengan ancaman cedera pada bayi sebelum lahir


· Tujuan: ansietas dapat teratasi
· Kriteria hasil:
1. Tampak rileks, dapat istirahat dengan tepat
2. Menuujukkan ketrampilan pemecahan masalah

Intervensi Rasional
Mandiri Mandiri
Kaji tingkat ansietas pasien. Perhatikan Membantu menentukan jenis intervensi
tanda depresi dan pengingkaran yang diperlukan
Dorong dan berikan kesempatan untuk Membuat perasaan terbuka dan bekerja
pasien atau orang terdekat mengajukan sama untuk memberikan informasi yang
pertanyaan dan menyatakan masalah akan membantu mengatasi masalah
Dorong orang terdekat berpartisipasi Keterlibatan meningkatka perasaan
dalam asuhan, sesuai indikasi berbagi, manguatkan perasaan berguna,
memberikan kesempatan untuk mengakui
kamampuan individu dan memperkecil
rasa takut karena ketidaktahuan
DAFTAR PUSTAKA

Bibilung. 2007. Hipertensi, Waspadai Kemunculannya pada Kehamilan.Retrived Februari


28, 2008 from http://www.bibilung.wordpress.com/2007/10/06/hipertensi-waspadai-
kemunculan-pada-kehamilan/
Ichtiarti,Puji. 2007. Hamil Sehat Walau Mengidap Penyakit.Retrived Februari 28, 2008 from
http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06277&rubrik=kecil
Prodia. 2006. Peran Adiponektin dalam Hipertensi(Tekanan Sarah Tinggi). Retrived Februari
28,2008 from http://www.prodia.co.id/m_informasi_kesehatan.html.
Senarai. 2007. Gangguan Hipertensi Semasa Hamil. Retrived Februari 28, 2008 from
http:/www.infosihat.gov, my/Penyakit_H_hipertensi_kehamilan.html

http://herman-mamank.blogspot.com/2013/10/askep-ibu-hamil-dengan-hipertensi.html