Anda di halaman 1dari 2

Gangguan Alergi Umum (Diperantai lgE)

Reaksi-reaksi klinis hipersensitivitas cepat (diperantarai-antibodi) atau lambat (diperantai-


aktivitas limfosit) terjadi bila sebelumnya satu individu pernah kontak dengan agen khusus yang
mempunyai karakteristik kimia tertentu,yang menyebabkan individu tersebut sensitive terhadap partikel
tertentu. Terpanjangnya kembali dengan antigen tertentu dapat menyebabkan sel yang sudah
tersensitisasi,seperti halnya beberapa tipe imunoglobin (antibody), menghasilkan respon “pertahanan”
yang khusus.Reaksi klinis hipersensitivitas pada manusia seringkali menunjukan ada lebih dari satu
proses imunologis, masing masing dengan system amplifikasinya yang khusus. Kompleksitas seperti ini
mudah dimengerti jika ada keterlibatan dari kompleks antigenic “penyerang” (misalnya,
mikroorganisme), tetapi dapat juga ditimbulkan oleh protein tunggal tertentu.

Setelah pajanan dengan antigen tunggal, respons imun humoral (bergantung pada antibody)
atau respon imun yang diperantai sel dapat timbul secara bersamaan atau terpisah. Selain
ukuran,bentuk antigen dan cara pajanan,usia,kesehata responden dan pengalaman sebelumnya dengan
bahan yang membuat sensitive,juga akan mempengaruhi respon imunilogik (Ig). Misalnya, pemajanan
pertama dengan agen yang disuntikan (missal,vaksin) biasanya menimbulkan respon IgM, yang dalam
beberapa hari berubah menjadi produksi IgG. Pajanan ulang hanya menimbulkan produksi IgG yang
berkadar tinggi. Kadar antigen yang sangat rendah seringkali menimbulkan sintesis IgE,sedangkan
pajanan mukosa menimbulkan respon IgA, yang seringkali terokalisir pada organ yang terkena. Interaksi
antigen-antibodi tunggal dapat menimbulkan pengaruh yang berlainan,bergantung pada system
indicator yang mengobservasi interaksi tersebut. Molekul IgG manusia yang spesifik untuk suatu antigen
dapat memisahkan antigen dari larutan,mengendapkan partikel-partikel tidak larut yang dilapisi antigen,
atau mengaktifkan interaksi dengan antigen dalam bentuk lain. Pengaruh yang ditemukan sebagian
besar bergantung pada konsentrasi antigen-antibodi,proporsi relative reaktan, dan adanya komponen
tambahan yang berperan sebagai “indicator” dalam tes laboratorium. Jika interaksi seperti ini terjadi
invivo ,pengaruhnya menggambarkan faktor-faktor yang serupa serta respon jaringan local terhadap
reaksi primer antigen-antibodi dan aktivitas mekanisme amplifikasi pengikat antigen diatur oleh situs
pengombinasi berpasangan pada fragmen (antibody) Fab molekul immunoglobulin. Peristiwa-peristiea
sesudah terjadinya ikatan diarahkan oleh bagian fragmen yang dapat “dikristakan” (fragmen Fc) pada
antibody, yang dibagi oleh immunoglobulin dalam kelas (iso tipe) yaitu molekul IgG. Reseptor pada sel
fagositik dapat mengenali daerah ini, memudahkan perlekatan dan pemindahan komplek antigen-
antibody dan partikel partikel yang mempunyai immunoglobulin yang terikat pada permukaan.
Pengaktivan jalur komplemen “klasik” juga melibatkan daerah Fc. Sebagai akibatnya, terjadi lisis sel
target, neukosit tertarik,dan pelepasan faktor faktor yang meningkatkan permeabilitas. Selain itu, sifat
sifat immunoglobulin spesifik kelas yang menentukan lokalisasi jaringandan spesifitasnya sebagai
antigen (terhadap antibody “antiimunoglobulin”) diekspresika pada daerah Fc.

Walaupun kadar normal IgE paling rendah dari lima kelas anti bodi rendah,tetapi molekul
molekulnya memainkan peranan yang paling besar pada respon alergi* manusia. Molekul molekul IgE
mudah berikatan dengan reseptor reseptor permukaan jaringan sel mast dan basofil darah. Sebagai
akibatnya, IgE yang terikat itu terkumpul pada system pernafasan dan saluran cerna serta sirkulasi darah
dan kulit. Jika molekul molekul IgE yang terikat reseptor dan berdekatan bergabung antara sekelompok
antigen reaktif yang berbiak,dapat terjadi serangkaian peristiwa, dengan sel yang melepaskan supstansi
“mediator” reaktif jaringan seperti histamine, leukotrien dan kemoatraktan untuk eosinifil dan
neoutrofil,prekurson kirin dan interneukinin. Hasil hasil tambahan dapat berupa antikoagulansia
(heparin) enzim enzim proteolitik (triptase dan kimase), dan suatu radikal oksigen yang sangat reaktif
(superoksida) serta prostaglandin dan hasil hasil yang berkaitan dengan asam arakidnoat masing masing
sifat dari beberapa agen ini diringkas dalam pengaruh gabungan hasil hasil tersebut mencetuskan
dilatasi dan hiperpermeabilitas pembuluh darah kecil (terutama venula), spasme dinding visera yang
berongga,dan peningkatan sekresi oleh selaput lender. Permeabilitas venula yang meningkat seharusnya
menurunkan volume darah yang beredar dan tekanan arteri pengumpulan cairan diluar pembuluh
darah. Pada kenyataannya,efek efek tersebut diobservasi pada respon manusia yang secara klinis
signifikan yang melibatkan IgE.

Pelepasan zat zat mediator dari granula sel mast diatur oleh komponen selular, khususnya
nukleotida siklik, disertai penekanan siklik adenosine monofosfat (AMP) dan guanosin monofosfat
(GMP) yang mempermudah sekresi. Rangsangan kaligenik maupun alfa-adregenik meningkat GMP,
sedangkan agen beta-adregenik menaikan aktivitas siklase adenilat dan menambah AMP. Pengaktifan
tergantung IgE terjadi dalam beberapa detik, melepaskan mediator seperti histamine, yang dapat
digunakan dan disimpan. Beberapa saat kemudian, muncul agen baru disintesis seperti leukotrin. Secara
klinis, hasil reaksi “segera” mencapai puncak intensitasnya dalam 10 sampai 20 menit dan setelah itu
menurun. Disamping itu, reaksi reaksi yang bergantung pada IgE baru akan terjadi dalam waktu 4
sampai 8 jam setelah antigen diperkenalkan pada jaringan. Munculnya kembali mediator- mediator
menjadi cirri dari respons lambat, yang mungkin merefleksikan sekresi sel yang baru tertarik ke daerah
reaksi.