Anda di halaman 1dari 15

ASKEP JANTUNG KORONER

KEOMPOK 1

A. Definisi

Definisi Penyakit jantung koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung akibat otot
jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Pada waktu
jantung harus bekerja lebih keras terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan
oksigen, hal inilah yang menyebabkan nyeri dada. Kalau pembuluh darah tersumbat sama
sekali, pemasokan darah ke jantung akan terhenti dan kejadian inilah yang disebut dengan
serangan jantung.

Adanya ketidakseimbangan antara ketersedian oksigen dan kebutuhan jantung memicu


timbulnya PJK (Huon, 2002). Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, secara klinis
PJK ditandai dengan nyeri dada atau terasa tidak nyaman di dada atau dada terasa tertekan
berat ketika sedang mendaki, kerja berat ataupun berjalan terburu-buru pada saat berjalan di
jalan datar atau berjalan jauh. Pemeriksaan Angiografi dan Elektrokardiogram (EKG) digunakan
untuk memastikan terjadinya PJK. Hasil pemeriksaan EKG yang menunjukkan terjadinya
iskemik merupakan salah satu tanda terjadinya PJK secara klinis (Soeharto dalam Haslindah,
2015).

B. Etiologi

Etiologi penyakit jantung koroner adalah adanya penyempitan, penyumbatan, atau


kelainan pembuluh arteri koroner. Penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah tersebut
dapat menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan nyeri. Dalam
kondisi yang parah, kemampuan jantung memompa darah dapat hilang. Hal ini dapat merusak
sistem pengontrol irama jantung dan berakhir dan berakhir dengan kematian (Hermawatirisa,
2014).

Faktor risiko dapat berupa semua faktor penyebab (etiologi) ditambah dengan faktor
epidemiologis yang berhubungan secara independen dengan penyakit. Faktor – faktor utama
penyebab serangan jantung yaitu perokok berat, hipertensi dan kolesterol. Faktor pendukung
lainnya meliputi obesitas, diabetes, kurang olahraga, genetik, stres, pil kontrasepsi oral dan
gout (Huon, 2002). Faktor risiko seperti umur, keturunan, jenis kelamin, anatomi pembuluh
koroner dan faktor metabolisme adalah faktor-faktor alamiah yang sudah tidak dapat diubah.
Namun ada berbagai faktor risiko yang justru dapat diubah atau diperbaiki. Sangat jarang orang
menyadari bahwa faktor risiko PJK bisa lahir dari kebiasaaan hidup sehari-hari yang buruk
misalnya pola komsumsi lemak yang berlebih, perilaku merokok, kurang olaraga atau
pengelolaan stress yang buruk (Anies,2005). Dari faktor risiko tersebut ada yang dikenal
dengan faktor risiko mayor dan minor. Faktor risiko mayor meliputi hipertensi, 11 hiperlipidemia,
merokok, dan obesitas sedangkan faktor risiko minor meliputi DM, stress, kurang olaraga,
riwayat keluarga, usia dan seks. Menurut D.Wang (2005) faktor risiko PJK pada wanita meliputi
a. Obesitas

b. Riwayat Keluarga

c. Penggunaan kontrasepsi oral yang disertai dengan riwayat merokok

d. Diabetes Melitus

e. Kolesterol

f. Merokok

Menurut penelitian yang dilakukan Rosjidi dan Isro’in (2014) Perempuan lebih rentan
terserang penyakit kardiovaskular dibanding lakilaki. Beban faktor resiko penyakit
kardiovaskular perempuan lebih besar dari laki-laki adalah tingginya LDL, tingginya TG, dan
kurangnya aktivitas fisik. Tiga faktor resiko dominan penyakit kardiovaskular pada perempuan
adalah umur, hiperetnsi dan kolesterol tinggi.

C. Patofisiologi

Perkembangan PJK dimulai dari penyumbatan pembuluh jantung oleh plak pada
pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah pada awalnya disebabkan peningkatan kadar
kolesterol LDL (low-density lipoprotein) darah berlebihan dan menumpuk pada dinding arteri
sehingga aliran darah terganggu dan juga dapat merusak pembuluh darah (Al fajar, 2015)

Penyumbatan pada pembuluh darah juga dapat disebabkan oleh penumpukan lemak
disertai klot trombosit yang diakibatkan kerusakan dalam pembuluh darah. Kerusakan pada
awalnya berupa plak fibrosa pembuluh darah, namun selanjutnya dapat menyebabkan ulserasi
dan pendaeahan di bagian dalam pembuluh darah yang menyebabkan klot darah. Pada
akhirnya, dampak akut sekaligus fatal dari PJK berupa serangan jantung (Naga, 2012).
Pada umumnya PJK juga merupakan ketidakseimbangan antara penyedian dan
kebutuhan oksigen miokardium. Penyedian oksigen miokardium bisa menurun atau kebutuhan
oksigen miokardium bisa meningkat melebihi batas cadangan perfusi koroner peningkatan
kebutuhan oksigen miokardium harus dipenuhi dengan peningkatan aliran darah. gangguan
suplai darah arteri koroner dianggap berbahaya bila terjadi penyumbatan sebesar 70% atau
lebih pada pangkal atau cabang utama arteri koroner. Penyempitan <50% kemungkinan belum
menampakkan gangguan yang berarti. Keadaan ini tergantung pada beratnya arteriosklerosis
dan luasnya gangguan jantung (Saparina, 2010). Menurut Saparina (2010) gambaran klinik
adanya penyakit jantung koroner dapat berupa :

a. Angina pectoris

Angina Pectoris merupakan gejala yang disertai kelainan morfologik yang permanen
pada miokardium. Gejala yang khas pada angina pectoris adalah nyeri dada seperti tertekan
benda berat atau terasa panas ataupun seperti diremas. Rasa nyeri sering menjalar kelengan
kiri atas atau bawah bagian medial, keleher, daerah maksila hingga kedagu atau ke punggung,
tetapi jarang menjalar ketangan kanan. Nyeri biasanya berlangsung 1-5 menit dan rasa nyeri
hilang bila penderita istirahat. Angina pectoris juga dapat muncul akibat stres dan udara dingin.
Angina pectoris terjadi berulang-ulang. Setiap kali keseimbangan antara ketersedia oksigen
dengan kebutuhan oksigen terganggu.

b. Infark Miokardium Akut

Merupakan PJK yang sudah masuk dalam kondisi gawat. Pada kasus ini disertai
dengan nekrosis miokardium (kematian otot jantung) akibat gangguan suplai darah yang
kurang. Penderita infark miokardium akut sering didahului oleh keluhan dada terasa tidak enak
(chest discomfort) selain itu penderita sering mengeluh rasa lemah dan kelelahan.

c. Payah jantung

Payah jantung disebakan oleh adanya beban volume atau tekanan darah yang
berlebihan atau adanya abnormalitas dari sebagian struktur jantung. Payah jantung kebanyakan
didahului oleh kondisi penyakit lain dan akibat yang ditimbulkan termasuk PJK. Pada kondisi
payah jantung fungsi ventrikel kiri mundur secara drastis sehingga mengakibatkan gagalnya
sistem sirkulasi darah.

d. Kematian Mendadak
Kematian mendadak terjadi pada 50% PJK yang sebelumnya tanpa diawali dengan
keluhan. Tetapi 20% diantaranya adalah berdasarkan iskemia miokardium akut yang biasanya
didahului dengan keluhan beberapa minggu atau beberapa hari sebelumnya

D. Pathway
E. Manifestasi Klinis

Manfestasi Klinis Manifestasi klinik PJK yang klasik adalah angina pektoris ialah suatu
sindroma klinis dimana didapatkan nyeri dada yang timbul pada waktu melakukan aktifitas
karena adanya iskemik miorkard. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi >70% penyempitan
pembuluh darah koronaria. Keadaan ini bisa bertambah menjadi lebih berat dan menimbulkan
sindroma koroner akut (SKA) atau yang dikenal sebagai serangan jantung mendadak (Anies,
2006). Sindrom koroner akut ini biasanya berupa nyeri seperti tertekan benda berat, rasa
tercekik, ditinju, ditikam, diremas, atau rasa seperti terbakar pada dada. Umumnya rasa nyeri
dirasakan dibelakang tulang dada (sternum) disebelah kiri yang menyebar ke seluruh dada.
Rasa nyeri dapat menjalar ke tengkuk, rahang, bahu, punggung dan lengan kiri. Keluhan lain
dapat berupa rasa nyeri atau tidak nyaman di ulu hati yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan.
Sebagian kasus disertai mual dan muntah, disertai sesak nafas, banyak berkeringat, bahkan
kesadaran menurun (Huon, 2005).

F. Penatalaksanaan Medis / Keperawatan

1. Penyakit Jantung Koroner

a. Terapi Farmakologi

 Analgetik morfin
 Antikoagulan
 Antilipemik: Cholestyramin, lovastatin, simvastatin, asam nikotinik,
gemfibrozil, colestipol
 Betha bloker adrenergik
 Calcium channel blocker
 Therapi aspirin dosis rendah
 Nitrates

b.Non Farmakologi

 Perubahan aktivitas: penurunan BB jika perlu


 Atherectomy
 Pembedahan bypass arteri koroner
 Coronary artery stent placement
 Perubahan diet: rendah garam, kolesterol, lemak, peningkatan diet
serat rendah kalori
 Mengganti estrogen pd wanita post menopause
 Pola hidup: berhenti merokok
 Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTSA)

2. Angina Pectoris

a.Terapi Farmakologi

 Antikoagulan: heparin, aspirin


 Betha Blocker adrenergic: propranolol, nadolol, atenolol, metoprolol
 Calcium channel Blocker: verapamil, diltiazem, nifedipin, nicardipin
 Terapi Aspirin dosis rendah
 Nitare: nitrogliserin, isosorbid dinitrat, topical nitrogliserin, transdermal
nitrogliserin

b. Non Farmakologi

 DIET : rendah lemak, rendah garam, rendah kolesterol, rendah kalori


 Coronary artery bypass grafting
 Terapi oksigen 2-4 liter
 Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTSA), Stent
placement
 Posisi semi fowler

3. Akut Miocard Infark

a.Terapi Farmakologi

 Analgetik morfin IV
 ACE inhibitor: Captopril, enalapril
 Antiaritmia: Amiodaron, lidocain, procainamid
 Antikoagulan: aspirin, dalteparin, enoxaparin, hepain IV setelah terapi
trombolitik
 Anti hipertensi: hidralazin
 Betha bloker adrenergik
 Calcium channel bloker
 Atropin IV atau Pacemaker jika ada gejala bradikardi atan block jantung.
 Nitrat: Nitrogliserin IV
 Trombolitik therapi: alteplase, streptokinase, anistreplase, reteplase,
biasa diberikan dlm 6 jam pertama tetapi lebih efektif pd 3 jam awal
serangan

b. Non Farmakologi

 Bed rest di “Bedside commode”


 Coronary artery bypass graft.
 IABP (Intraaortic Ballon Pump)
 Left Ventricular assist device
 Diet rendah kalori, rendah lemak, & rendah kolesterol v Monitoring
TTV, output urine, EKG, & status hemodinamik
 Pemeriksaan laboratorium lanjut : Analisa gas darah (AGD), CK dgn
isoenzim, kadar elektrolit, troponin jantung.
 Therapi oksigen
 PTCA atau coronary stent placement
 Kateterisasi arteri pulmonal (untuk deteksi kegagalan jantung)

G. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

BIODATA

Nama : Ny. S

No. Reg : 65-53-48

Umur : 50 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan


Agama : Islam

Alamat : GP. Rejo – Kediri

Pendidikan : Tamat SD

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Diagnosa Medis : PJK

Tanggal MRS : 4 Maret 2010

Tanggal Pengkajian : 5 Maret 2010

Keluhan Utama : Pasien mengeluh dada nyeri sebelah kiri tembus punggung sejak
± 3 hari yang lalu. Nyeri bertambah bila dibuat aktivitas dan berkurang bila dibuat istirahat.
Skala nyeri 5.

Riwayat Penyakit Sekarang : Tanggal 4 Maret 2010 pasien dibawa ke RS. Baptis Kediri. ± 3
hari yang lalu pasian mengeluh dada nyeri sebelah kiri tembus punggung, mual, pusing keringat
dingin. Setelah periksa oleh dokter pasien di diagnosa dengan PJK. Oleh dokter disuruh
opname.

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien pernag menderita / mempunyai riwayat HT dan DM 1 tahun
yang lalu dan pasien belum pernah opname

Riwayat Kesehatan Keluarga : Keluarga pasien tidak mempunyai penyakit PJK

Riwayat Psikososial Dan Spiritual

- Psikososial : pasien dapat berhubungan baik denagn pasien, perawat maupun


anggota keluarga.

- Spiritual : Pasien beragama islam dan rutin menjalankan sholat 5 waktu. Di


rumah sakit tidak pernah menjalankan sholat karena sedang sakit.
Pola Aktivitas Sehari – Hari

Pola Aktivitas Dirumah Di Rumah Sakit

Nutrisi Makan biasa 3 x/hari dengan nasi, Lunak jantung 3x/hari.


lauk dan sayur. Pasien hanya
Minum air putih ± 6-7 gelas/hari. menghabiskan 2-3 sendok
makan karena passion
mengeluh mual Minum air
putih ± 5-6 gelas/hari.

Eliminasi BAK : 4-5 x/hari BAK : 4-5 x/hari

BAB : 3 x/hari konsistensi keras BAB : 1-3 x/ hari


konsistensi lembek

Istirahat Tidur Siang ± 1 jan/hari Siang ± 2 jam/hari

Malam ± 7 jam/hari Malam ± 6 jam/hari

Hygiene Mandi 2 x/hari, ganti baju dan Mandi 2 x/hari ditempat


gosok gigi dilakukan sendiri tidur, ganti baju dan gosok
gigi dibantu perawat /
keluarga.
Aktivias Menjadi ibu rumah tangga Lebih banyak di tempat
tidur karena pasien
bedrest.

Keadaan/Penampilan/Kesan Umum Pasien


Keadaan umum pasien kelihatan pucat, menyeringai kesakitan tapi sadr baik.
Tanda – Tanda Vital
Suhu tubuh : 37 º C

Denyut nadi : 92 x/menit

Tensi / TD : 160 / 100 mmHg

Respirasi : 22 x/menit

Pemeriksaan Fisik
Kepala

Inspeksi : kulit kepala bersih, rambut warna hitam

Palpasi : tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan tapi pasien mengeluh pusing

Mata

Inspeksi : Conjungtiva merah muda, sclera putih

Telinga

Inspeksi : Telinga luar bersih, tidak ada lesi, kedua telinga simetris

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan atau massa

Hidung

Inspeksi : Lubang hidung simetris, tidak ada secret di lubang hidung, pasien dapat
mengidentifikasi bau dengan benar

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada sinus maksilaris, frontalis dan etmoidalis

Mulut

Inspeksi : Membran mukosa bibir kering, pucat, gusi tidak ada lesi
Leher

Inspeksi : Tidak ada pembengkakan

Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjaran tiroid, tidak ada nyeri tekan

Pemeriksaan Thorax / Dada

Inspeksi thorax : Pergerakan thoraks saat ekspirasi dan inspirasi kanan dan kiri bersamaan,
ada nyeri tekan karena pasien mengeluh nyeri dada

Paru : Perkusi : Bunyi sonor / timpani pada lapang kanan dan kiri

Pemeriksaan Jantung

Palpasi : tidak ada bunyi tambahan ronchi, wheezing, rales

Auskultasi : bunyi S1 dan S2 tunggal

Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : Tidak terlihat adanya luka

Palpasi : Tidak teraba massa, turgor kulit kenyal, tidak terdapat nyeri tekan

Perkusi : bunyi abdomen timpani

Auskultasi : Terdengar bising usus 8 x/menit.


H. Rasionalisasi

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL TTD

KEPERAWATAN

1. Gangguan nyaman Setelah 1. Monitor 1. Variasi


nyeri berhubungan dilakukan dan kaji penampilan dan
dengan iskemia tindakan karakteristik perilaku passien
jaringan atau keperawtan dan lokasi karena nyeri
sumBAtan pada dalam waktu 2 x nyeri terjadi sebagai
arteri koronaria 24 jam pasien 2. Monitor temuan
yang ditandai mampu tanda-tanda pengkajian
dengan pasien menunjukkan vital 2.Peningkatan
mengatakan nyeri rasa nyeri dada 3.Ciptakan tekanan darah dan
dada sebelah kiri, dengan Kriteria suasana nadi meningklat
pasien kelihatan hasil : lingkungan sebagai akibat
menyeringai yang tenang nyeri dan
kesakitan, pasien 1. Pasien dan nyaman berhubungan
tampak pucat, TD : tampak rileks 4. Ajarkan dengan cemas
160/100 mmHg, 2. Skala nyeri 0 dan anjurkan 3.Menurunkan
RR: 96x/mnt, skala 3. TD : 120/80 pada pasien rangsang
nyeri 5 mmHg untuk eksternal dimana
4.RR : 80 x/mnt melakukan ansietas dan
tehnik regangan jantung
relaksasi serta keterbatasan
5.Kolaborasi kemampuan
dengan koping dan
deokter dalam keputusan
pemberian terhadap situasi
analgesik saat ini
4.Membantu
dalam penurunan
persepsi/respon
nyeri
5.Pilihan untuk
menurunkan nyeri
hebat,
memberikan
sadari dan
mnegurangi kerja
miokard

2. Penurunan cardiac Setelah 1.Lakukan 1. Perubahan


output dilakukan pengukuran terjadi pada TD
berhubungan tindakan tekanan darah karena respon
dengan keperawtan 2. Kaji jantung
menutunnya dalam waktu kualitas nadI 2. Sirkulasi perifer
kontraksi otot yang 2×24 jam tidak 3. auskultasi menurun bila
ditandai dengan terjadi bunyi nafas curah jantung
pasien mengeluh penurunan dan bunyi menurun membuat
lemah, sesak cardiac output jantung kekuatan nadi
napas, sulit dengan Kriteria 4.Kolaborasi menungkat
melakukan hasil : dengan dokter 3.S3 dan S4 atau
aktivitas yang 1. Pasien dalam krekels terjadi
berlebih, sering tampak pemeriksaan dengan
terbangun pada semangat serial EGC, dekompensasi
malam hari karena 2.tidak sesak foto thorax, jantung atau
sesak dan nyeri napas pemberian beberapa obat
dada, TD : 160/100 3.TD : 120/80 obat-obatan 4.Pemeriksaan
mmHg, RR : mmHg anti disritmia dilakukan untuk
96x/mnt, kulit 4.RR: 80 x/mnt mengidentifikasi
dingin, N : 22 x/mnt 5. kulit normal area iobstruksi
tidak dingin atau kerusakan
6.N : 20 x/mnt arteri koroner yang
memerlukan
intervensi bedah
3. Intoleransi aktivitas Setelah 1. Catat irama 1. Kecenderungan
berhubungan dialkukan jantung, melakukan respon
dengan tindakan tekanan darah pasien terhadap
ketidakseimbangan keperawatan dan nadi aktivitas dan dapat
antara suplai dan dalam waktu sebelum dan mengindikasikan
kebutuhan oksigen 2×24 jam, sesudah penurunan
yang ditandai pasien melalukan oksigen miokardia
dengan pasien menunjukkan aktivitas yang memerlukan
mengeluh sesak peningkatan 2.Anjurkan penurunan tingkat
bila angun dari kemampuan pasien agar aktivitas
posisi tidur, dalam lebih banyak 2. Menurunkan
berkeringat dingin melakukan beristirahat kerja miokardia /
bila merubah posisi aktivitas dengan terlebih konsumsi oksigen,
dari tidur langsung kriteria hasil ; dahulu menurunkan
duduk, Tanda vital 1.TD : 120/80 3.Anjurkan resiko komplikasi
setelah bangun mmHg pasien 3. Aktifitas yang
tidur TD : 170/100 2.RR : 80 x/mnt menghindari memerlukan
mmHg, RR : 3.N: 20 x/mnt4. peningkatan menahan napas
100x/mnt. N : Pasien nyaman tekanan dan dapat
28x/mnt dalam tidur abdomen mengakibatkan
contoh bradikardi, juga
mengejan menurunkan curah
saat defekasi jantung dan
4. Jelaskan takikardi dengan
pada pasien peningkatan TD
tentang taha- 4. Aktivitas yang
tahap aktivitas maju memberikan
yang boleh kontrol jantung,
dilakukan oleh meningkatkan
pasien regangan dan
mencegah
aktivitasberlebihan