Anda di halaman 1dari 15

PATOFISOLOGI

HIPOKALSEMIA & HIPERKALSEMIA

Dosen Pengampu : Tyas Putri Utami

Sesi : II
Anggota kelompok : 1. Galih Pangestu (201531011)
2. Siti Ayu Sarah (20180301034)
3. Arju Falah (20180301049)
4. Miinatul Mauliyati Zahroh (201080301109)
5. Adienda Farisya (20180301164)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat
serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad
SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulisan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Patafisiologi.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan
kritik dan sarandemi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.Akhir kata , kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telahmembantu hingga selesainya makalah ini
semoga segala upaya yang telah dicurahkan mendapatkan berkah Allah swt. Demikian, dan
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-
besarnya.Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Jakarta, 24 Juni 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................1
C. Tujuan .........................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum …….…………………………………………………………….3
B. Keseimbangan Kalsium ........................................................................................... 3
C. Peran dan Fungsi Kalsium…………........................................................................ 4
D. Fisiologi Normal Pembentukan Kalsium.................................................................. 4
E. Mekanisme penyakit Hipokalsemia dan Hiperkalsemia……………………….…...5
F. Patofosiologi ……………………………………………………………………….6
G. Sebab terjadinya penyakit Hipokalsemia dan Hiperkalsemia……………………….8

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN…………………………………………………………………..11
B. PENUTUP………………………………………………………………………..11
DAFTAR PUSTAKA ……….………………………………….………………………..12
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kalsium merupakan salah satu mineral penting yang berguna untuk pembentukan
tulang serta berbagai proses fisiologis, seperti transportasi antar membran sel, aktivasi
dan inhibisi beberapa enzim, regulasi metabolik intraseluler, sekresi dan aktivasi
hormon, proses pembekuan darah, kontraktilitas otot dan konduksi sistem syaraf.
90% kalsium tubuh berada di dalam tulang, sedikit diantaranya terdapat di ruangan
intra dan ekstra seluler. Homeostasis kalsium merupakan proses kompleks yang
membutuhkan berbagai hal, antara lain suplai adekuat, proses absorbsi yang
memadai di usus, serta bantuan beberapa hormon seperti paratiroid, vitamin D dan
kalsitonin. Kalsium serum merupakan satu persen dari kalsium tubuh total, terdapat di
dalam cairan ekstraseluler dan jaringan lunak. Kalsium serum terdiri dari komponen
ion (50%), terikat dengan protein (40%), terutama albumin, serta sebagian kecil (8-
10%) terikat dengan asam organik dan inorganik seperti sitrat, laktat, bikarbonat dan
sulfat.
Kalsium menstabilisasi membran sel dan memblok transpor natrium ke dalam sel.
Karenanya, penurunan kadar kalsium meningkatkan eksitabilitas sel, dan peningkatan
kadar kalsium menurunkan eksitabilitas sel.
Kadar kalsium harus tetap berada pada nilai 4,5 – 5,8 mEq/L untuk
mempertahankan iritabilitas neuromuskuler, pembekuan darah, serta pembentukan
tulang dan gigi. Bila kadar kalsium < 4,5 mEq/L disebut dengan hipokalsemia,
sedangkan bila kadarnya > 5,8 mEq/L disebut dengan hiperkalsemia.

B. Rumusan masalah
1. Gambaran Umum
2. Keseimbangan Kalsium
3. Apa Peran dan Fungsi Kalsium?
4. Bagaimana Fisiologi Normal Pembentukan Kalsium?
5. Bagaimana mekanisme penyakit Hipokalsemia dan Hiperkalsemia?
6. Patofosiologi
7. Sebab terjadinya penyakit Hipokalsemia dan Hiperkalsemia
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui gambaran umum pada kalsium
2. Untuk mengetahui Keseimbangan Kalsium
3. Untuk mengetahui peran dan fungsi kalsium
4. Untuk mengetahui fisiologi normal dalam pembentukan kalsium
5. Untuk mengetahui mekanisme penyakit hipokalsemia dan hiperkalsemia
6. Untuk mengetahui patofisiologi dari hipokalsemia dan hiperkalsemia
7. Untuk mengetahui Sebab terjadinya penyakit Hipokalsemia dan Hiperkalsemia
BAB II

PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM
Kalsium merupakan bahan penting dalam mineral tulang dan bentuk kation
divalennya penting untuk fungsi setiap sel. Homeostasis kalsium dijaga melalui proses
dinamik yang melibatkan absorbsi dan ekskresinya di usus, filtrasi dan reabsorbsinya di
ginjal, dan penyimpanan dan mobilisasinya di tulang. Hampir seluruh kalsium tubuh total
(98%) berada dalam bentuk kristal hidroksiapatit yang sifatnya lambat untuk diubah.
Bentuk kalsium yang lebih mudah diubah dapat ditemukan pada tulang yang baru
terbentuk (1%), dan di ruang ekstra, intaselular, dan vascular (1%). Bentuk inilah yang
lebih memegang peranan penting dalam hubungan intraselular, transmisi interneuronal,
kontraksi otot, pembekuan darah, proliferasi sel, sintesis factor endokrin dan eksokrin,
dan sebagai kofaktor enzim. Kalsium serum total dibagi atas 3 fraksi: 40% terikat pada
albumin dan globulin, 10% berikatan dengan anion, sedangkan 50% berada dalam bentuk
ion bebas. Bentuk ion inilah yang diperlukan dalam sebagian besar fungsi metabolik.

B. KESEIMBANGAN KALSIUM
Konsentrasi kalsium serum dijaga pada kadar normal oleh suatu sistem
terintegrasi dengan melibatkan Ca++ sensing receptor (CaSR), hormone paratiroid
(PTH), vitamin D, dan kalsitonin. CaSR merupakan protein membrane yang mengikat
Ca++ dan menentukan pengaturan sekresi PTH. PTH adalah hormon polipeptida dengan
84 asam amino yang meningkatkan kadar kalsium dengan merangsang reabsorbsi
kalsium di ginjal, meningkatkan kecepatan resorpsi kalsium di tulang, dan meningkatkan
absorbsi kalsium di usus dengan meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksi vitamin D
(1,25-diOH-D). Vitamin D3 (kolekalsiferol) disintesis di kulit dari 7- dehidrokolesterol
dengan bantuan pajanan sinar UV. Selanjutnya Vitamin D3 dihidroksilasi di hati menjadi
25-OH-D (kalsidiol), yang kemudian dihidroksilasi lagi di ginjal menjadi 1,25- 2128
diOH-D (kalsitriol). Fungsi utama vitamin D adalah menjaga keseimbangan kadar normal
kalsium dan fosfat (Fi) serum melalui kerja bentuk aktifnya pada organ target, yaitu usus,
tulang, ginjal, dan kelenjar paratiroid. Kalsitonin adalah peptida dengan 32 asam amino
yang disekresi oleh sel parafollikular kelenjar tiroid. Hormon ini disekresi bila terjadi
peningkatan kadar kalsium serum. Efek biologis utamanya adalah menurunkan resorpsi
tulang dengan menghambat aktivitas osteoklas.
C. PERAN DAN FUNGSI KALSIUM
1. Peran kalsium dalam cairan tubuh
a. Kontraksi dan relaksasi otot.
b. Transmisi influs saraf.
c. Pembekuan darah.
d. Mengatur reaksi otot.

2. Peran kalsium dalam tubuh manusia


a. Penguat struktur tulang.
b. Sebagai bank kalsium (jika kalsium dalam darah menurun, maka tubuh akan
mengambil cadangan dari tulang dengan bantuan beberapa hormone).
c. Pembentukkan tulang dan gigi.
d. Mengatur pembekuan darah.
e. Kontraksi otot dan relaksasi otot .

3. Manfaat kalsium dalam tubuh


a. Pembentukkan dan pemelihara tulang dan gigi.
b. Mencegah Osteoporosis.
c. Melancarkan fungsi otot, otak dan system saraf.

D. FISIOLOGI NORMAL PEMBENTUKAN KALSIUM


Konsentrasi kalsium serum total yang normal adalah 9,0-10,5 mg/dl (4,5-5,5 mEg/L).
kalsium plasma berada dalam 3 bentuk:
1. Berkaitan dengan protein (terutama albumin)
2. Kompleks dengan lingkaran berukuran kecil (Fosfat, Sitrat dan sulfat)
3. Ion Kalsium terionisasi.

Distribusi kalsium dalam plasma

Kalsium yang terkait protein (40%) Tidak terfiltrasi

Kalsium kompleks (13%)


Total

Terfiltrasi
Ion Kalsium terionisasi (47%)
Bentuk yang terionisasi dan kompleks dapat terdifusi secara berurutan berjumlah
sebanyak 47% dan 13 % dari kalsium total, sedangkan kalsium yang terkait protein tidak
dapat terdifusi.kalsium terionisasi dalam plasma bersifat aktif secara fisiologi dan
berperan penting dalam menentukan hipokalsemia dan hiperkalsemia. Terdapat 3 hormon
utama, yaitu:

1. PTH
2. Vitamin D
3. Kalsitonin

Berinteraksi untuk menjaga konsentrasi konstan kalsium, meskipun variasi asupan


ekresi hormone lain seperti kortikosteroid adrenal, estrogen, tiroksin, somato tropin dan
glukogan, dapat berkontribusi pada pemelihara homeastratis kalsium.

E. MEKANISME PENYAKIT HIPOKALSEMIA DAN HIPERKALSEMIA


 Mekanisme Hipokalsemia
Kalsium dalam tubuh dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
 Kalsium yang didapatkan dari makanan
 Kalsium dan vitamin D yang diserap usus
 Kadar fosfat dalam tubuh
 Beberapa hormon tertentu, seperti hormon paratiroid, kalsitonin, dan
estrogen

Vitamin D dan beberapa hormon membantu mengontrol kadar kalsium


dalam tubuh. Juga, mengontrol jumlah kalsium yang diserap dari makanan dan
jumlah kalsium yang dikeluarkan oleh tubuh melalui urine. Sedangkan, fosfat
memengaruhi kalsium dalam tubuh karena bekerja berlawanan. Jika kadar fosfat
dalam darah tinggi, maka kadar kalsium dalam darah menjadi rendah, dan
sebaliknya.

Ketika kalsium dalam darah rendah, hal ini disebut dengan hipokalsemia.
Akibatnya, tulang jadi harus melepaskan kalsium miliknya demi
mencoba menyeimbangkan kadar kalsium dalam darah. Sedangkan jika kalsium
dalam darah tinggi (hiperkalsemia), kelebihan kalsium akan disimpan dalam
tulang atau dikeluarkan dari tubuh melalui urine atau feses.
 Mekanisme Hiperkalsemia
Ada 2 mekanisme utama :
1. Deposit tumor pada tulang : sebagian besar hiperkalsemia pada keganasan
(>95%) berkaitan dengan metastasis neoplasma yang luas. Neoplasma yang
paling sering adalah paru, payudara dan mieloma. Pasien biasanya
menunjukkan gejala-gejala yang jelas, baik akibat kanker, maupun karena
kadar kalsiumnya tinggi dan telah meningkat dengan cepat akibat
hiperkalsemia.
2. Hiperkalsemia humoral pada keganasan (HHM) berhubungan dengan peptida
terkait PTH, yaitu sebuah peptida yang terdiri dari 144 asam amino, yang
memiliki kemiripan struktur dan aktivitas dengan PTH. Neoplasma yang
mengakibatkan ini kemungkinan besar adalah karsinoma selskuamosa pada
paru, terkadang juga keganasan urogenital dan ginekologis. Walaupun HHM
jarang ditemukan, kepentingan klinisnya adalah bahwa tidak semua pasien
dengan keganasan dan hiperkalsemia menderita penyakit metastatik.
Pernyataan ini penting untuk menentukan apakah keganasan primernya perlu
direseksi atau tidak.

F. PATOFISIOLOGI
 Patofisiologi Hipokalsemia
Kalsium yang terionisasi adalah fraksi plasma yang diperlukan untuk
proses fisiologis yang normal. Dalam sistem neuromuscular, kalsium yang
terionisasi, digunakan untuk konduksi saraf, kontaksi otot, dan relaksasi saraf.
Kalsium juga penting untuk proses mineralisasi tulang dan merupakan kofaktor
penting untuk sekresi hormon dalam endokrin. Pada sel, kalsium merupakan
regulator penting untuk transport ion dan integritas membran.
Onset kalsium diperkirakan 10-20 mEg/hari. Sekitar 500 mg kalsium
dikeluarkan dari tulang setiap hari dan digantikan dengan jumlah yang sama.
Normalnya, jumlah kalsium yang diabsorbsi usus sama dengan yang dieksresi
urin. Meskipun kadar kalsium ada dalam jumlah yang besar, kadar kalsium yang
terionisasi dapat stabil karena dapat dikontrol oleh Hormon Paratiroid (PTH),
Vitamin D, dan kalsitonin. Semua senyawa ini bertindak terutama pada tulang,
ginjal, dan GI track. Kadar kalsium juga dipengaruhi oleh magnesium dan fosfor.
PTH merangsang reabsorbsi tulang osteoklastik dan reabsorbsi kalsium
pada tubulus distal juga memediasi 1,25-dihydroxyvitamin D pada penyerapan
kalsium di usus. Vitamin D merangsang penyerapan kalsium di usus, mengatur
pelepasan PTH oleh sel-sel di kepala, dan membatasi reabsorbsi rangsangan PTH
di tulang. Kalsitonin menurunkan kalsium di 3 tempat yaitu tulang, ginjal, dan GI
track.
Kelenjar paratiroid sensitif terhadap perubahan serum kalsium yang
terionisasi. Perubahan ini dikenali oleh calcium sensing reseptor(CaSR), reseptor
7-transmembran yang terikat oleh G-protein. Kalsium yang terikat dengan CaSR
akan menginduksi aktivasi fosfolipase C dan menghambat sekresi PTH. Di sisi
lain, penurunan kalsium dapat merangsang sel didalam kelenjar paratiroid untuk
mengeluarkan PTH.
CaSR sangat penting peranannya dalam sekresi PTH. Tidak berfungsinya
CaSR mengarah ke penyakit terkait Hyperparatiroidisme seperti hipokalsiurik,
dan hiperkalsemia. Pada gagal ginjal, agonis CaSR menekan perkembangan
hiperparatiroidisme dan pertumbuhan kelenjar paratiroid.
Homeostasis dipertahankan oleh gradien ekstraseluler ke gradien
intraseluler, yang sebagian besar disebabkan oleh banyaknya fosfat di intraseluler.
Kalsium di intraseluler mengatur proses siklik adenosine monofosfat (cAMP).
Kalsium di ekstraseluler dipertahankan sekitar 8,7-10,4 mg/dL. Adanya variasi
tergantung pada pH serum, protein, dan anion, serta pengaturan dari hormon yang
terkait.
Seseorang yang mengalami penurununan serum kalsium, tidak selalu
dikatakan Hipokalsemia, karena, penurunan serum kalsium dapat disebabkan oleh
gangguan hati sindrom nefrotik, atau malnutrisi.
Hipokalsemia menyebabkan iritabilitas pada neuromuskular dan tetani.
Alkalemia (Ph darah diatas normal) memicu tetani karena terjadi penurunan
kalsium yang terionisasi, sedangkan asidemia adalah pelindung. Patofisiologi ini
penting bagi pasien dengan gagal ginjal disertai hipokalsemia, karena koreksi
yang cepat terkait perkembangan alkalemia dan asidemia.
 Patofisiologi Hiperkalsemia
Fluks kalsium di tulang, usus dan ginjal memainkan peran utama dalam
mempertahankan homeostasis kalsium. Ketika cairan ekstrasel (ECF) kalsium
dinaikkan di atas batas normal, ion kalsium per se, dengan merangsang Calcium
Sensing Receptor (CaSR), dapat menghambat hormon paratiroid (PTH) rilis.
Penurunan PTH dan stimulasi CaSR akan memfasilitasi pengurangan reabsorpsi
kalsium ginjal, dan penurunan PTH akan menghasilkan pengurangan resorpsi
tulang dan berkurangnya pelepasan kalsium dari tulang.
Penurunan PTH dan hiperkalsemia juga akan mengurangi produksi ginjal
dari bentuk aktif dari vitamin D, 1,25-dihidroksivitamin D [1,25 (OH) 2 D], dan
mengurangi penyerapan kalsium usus. Efek bersih dari berkurangnya reabsorpsi
kalsium ginjal, penyerapan kalsium usus, dan resorpsi kalsium tulang akan
mengurangi kalsium ECF yang tinggi menjadi normal. Oleh karena itu penurunan
kadar PTH dan penurunan kadar 1,25(OH)2D seharusnya dapat mengurangi
hiperkalsemia kecuali bila PTH atau 1,25(OH)2D adalah penyebab hiperkalsemia
tersebut.
Rangkaian peristiwa sebaliknya terjadi bila kalsium ECF berkurang di
bawah kisaran normal. Genetik relative PTH, PTH-related peptide (PTHrP), juga
dapat menyerap tulang, ketika dibebaskan dari tumor tertentu. Kedua PTH dan
PTHrP bertindak pada sel osteoblastik untuk meningkatkan produksi sitokin,
terutama aktivator reseptor faktor nuklear kappa B ligan (RANKL) yang
meningkatkan produksi dan aktivasi osteoklas berinti yang kemudian menyerap
mineral tulang

G. SEBAB TERJADINYA PENYAKIT HIPOKALSEMIA DAN HIPERKALSEMIA


 Hipokalsemia
 Hipoparatiroidisme. Merupakan kondisi di mana kadar hormon
paratiroid dalam tubuh rendah. Hal ini bisa terjadi ketika kelenjar
paratiroid mengalami kerusakan selama operasi kelenjar tiroid.
Hipoparatiroidisme menyebabkan Anda tidak bisa mengontrol kadar
kalsium dalam darah karena hormon paratiroid tidak cukup dihasilkan
tubuh. Kondisi lain yang juga berhubungan dengan hormon paratiroid
sehingga menyebabkan kadar kalsium darah rendah adalah
pseudohipoparatiroid dan DiGeorge syndrome.
 Hipomagnesemia, di mana kadar magnesium dalam darah rendah. Hal ini
menyebabkan aktivitas hormon paratiroid menjadi berkurang. Akibatnya,
mengganggu kadar kalsium dalam darah.
 Malnutrisi. Merupakan kondisi di mana tubuh tidak bisa menyerap
vitamin dan mineral dari makanan yang Anda makan. Hal ini bisa
disebabkan oleh penyakit, seperti penyakit celiac dan pankreatitis.
Akibatnya, walaupun Anda sudah banyak mengonsumsi makanan sumber
kalsium, tapi tubuh tidak bisa menyerap kalsium dari makanan.
 Kadar vitamin D rendah. Hal ini bisa disebabkan karena kurang
konsumsi makanan yang mengandung vitamin D atau kurang cukup
mendapatkan vitamin D dari sinar matahari.
 Kadar fosfat dalam darah tinggi. Hal ini bisa disebabkan oleh gagal
ginjal, penggunaan obat pencahar, dan lainnya. Kerusakan pada fungsi
ginjal juga dapat menyebabkan lebih banyak kalsium yang dikeluarkan
dari tubuh melalui urine dan membuat ginjal kurang mampu mengaktifkan
vitamin D.
 Masalah tulang, seperti osteomalasia dan riketsia, di mana tulang
menjadi lemah dan lunak karena asupan kalsium dan vitamin D tidak
cukup. Hal ini membuat tubuh tidak bisa mengambil kalsium dari tulang
untuk meningkatkan kadar kalsium dalam darah.
 Obat-obatan tertentu, seperti obat pengganti tiroid, rifampisin,
antikonvulsan, bifosfonat, kalsitonin, dan kortikosteroid.

Gejala hipokalsemia antara lain:


 Neuromuskoler
1. Sensasi seperti tertusuk jarum di tangan serta kaki
2. Kram otot
3. Kelelahan
4. Kejang
5. Kontraksi otot wajah dengan mengetuk saraf wajah pada
daerah tertentu pada wajah
6. Sensitif, depresi

 Respirator
1. Nafas pendek
2. Wheezing (suara pernapasan frekuensi tinggi nyaring yang
terdengar di akhir ekspirasi)

 Kardiovaskular
1. Gangguan irama jantung
2. Hipotensi
3. Denyut nadi lemah
4. Lemahnya kontraksi otot jantung, yang ditandai dengan
memanjangnya fase isoelektrik berupa
5. Perpanjangan interval QT dan ST
 Gastrointestinal
1. Kontraksi usus meningkat
2. Diare

 Hiperkalsemia
Penyebab utama Hiperkalsemia adalah gerakan berlebihan dalam satu atau
lebih dari kelenjar paratiroid yang berfungsi mengatur kadar kalsium darah.
Penyebab lain dari Hiperkalsemia adalah kanker, gangguan medis lainnya,
beberapa obat dan penggunaan kalsium berlebihan dan suplemen vitamin D.
Makanan atau minuman yang terlalu banyak kalsium atau suplemen vitamin D
dari waktu ke waktu dapat meningkatkan kadar kalsium dalam darah hingga di
atas normal.Penyebab hiperkalsemia lainnya adalah dehidrasi, saat cairan dalam
darah berkurang maka konsentrasi kalsium akan meningkat.
Saat kalsium di dalam darah menurun, tubuh akan memproduksi hormon
paratiroid lebih banyak. Sebaliknya, saat kadar kalsium dalam darah meningkat,
tubuh akan menghasilkan hormon lebih sedikit.
Bila tingkat kalsium dalam darah meningkat terlalu tinggi, kelenjar tiroid
akan menghasilkan kalsitonin, yakni hormon yang memperlambat pelepasan
kalsium dari tulang. Hal ini dapat menyebabkan hiperkalsemia , dan tubuh tidak
dapat mengatasi pengaruh dari terlalu banyaknya kalsium.

Gejala hiperkalsemia antara lain:


 Mual dan muntah
 Kehilangan nafsu makan
 Haus berlebihan
 Sering buang air kecil
 Sembelit
 Nyeri perut
 Kelemahan otot
 Otot dan nyeri sendi
 Kebingungan
 Lesu dan kelelahan
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kalsium merupakan salah satu mineral penting yang berguna untuk pembentukan tulang
serta berbagai proses fisiologis, seperti transportasi antar membran sel, aktivasi dan inhibisi
beberapa enzim, regulasi metabolik intraseluler, sekresi dan aktivasi hormon, proses
pembekuan darah, kontraktilitas otot dan konduksi sistem syaraf. 90% kalsium tubuh berada
di dalam tulang, sedikit diantaranya terdapat di ruangan intra dan ekstra seluler. Homeostasis
kalsium merupakan proses kompleks yang membutuhkan berbagai hal, antara lain suplai
adekuat, proses absorbsi yang memadai di usus, serta bantuan beberapa hormon seperti
paratiroid, vitamin D dan kalsitonin. Kalsium serum merupakan satu persen dari kalsium
tubuh total, terdapat di dalam cairan ekstraseluler dan jaringan lunak.
Konsentrasi kalsium serum dijaga pada kadar normal oleh suatu sistem terintegrasi
dengan melibatkan Ca++ sensing receptor (CaSR), hormone paratiroid (PTH), vitamin D,
dan kalsitonin. CaSR merupakan protein membrane yang mengikat Ca++ dan menentukan
pengaturan sekresi PTH. PTH adalah hormon polipeptida dengan 84 asam amino yang
meningkatkan kadar kalsium dengan merangsang reabsorbsi kalsium di ginjal, meningkatkan
kecepatan resorpsi kalsium di tulang, dan meningkatkan absorbsi kalsium di usus dengan
meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksi vitamin D (1,25-diOH-D). Vitamin D3
(kolekalsiferol) disintesis di kulit dari 7- dehidrokolesterol dengan bantuan pajanan sinar UV.
Selanjutnya Vitamin D3 dihidroksilasi di hati menjadi 25-OH-D (kalsidiol), yang kemudian
dihidroksilasi lagi di ginjal menjadi 1,25- 2128 diOH-D (kalsitriol).

B. PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya
dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah
di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Amandia Dewi Pernama.Pengaruh Kalsium Terhadap Tumbuh Kembang Gigi Geligi


Anak.Bagian Pedadonsial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas, Jember.

Caplin N. Calcium regulation and hypocalcemic disorders. Dalam: Moshang T Jr, penyunting. Pediatric
Endocrinology: The Requisites in pediatrics. Edisi ke-1, Missouri, Elsevier Mosby,2005.h.217-25. 2. Xu W.

Goltzman, David, M.D. July 21, 2012.Hypercalcemia. South Dartmouth (MA): MDText.com, Inc.;
2000-.

Hypercalcemic disorders. Dalam: Moshang T Jr, penyunting. Pediatric Endocrinology: The Requisites in
pediatrics. Edisi ke-1, Missouri, Elsevier Mosby,2005.h.227-239.

Lorraine M. Wilson.2002.Patofisiologi Edisi:6.Buku Kedokteran EGC.

Mir’atul Ginayah dan Harsinen Sanusi.Hiperkalsemia. Continuing Medical Education IDI.

Sylvia A. Price.2002.Patofisiologi Edisi:6.Buku Kedokteran EGC.