Anda di halaman 1dari 5

TORCH

Infeksi TORCH (Toxoplasma, Other Disease, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpe Simplexs
Virus) merupakan beberapa jenis infeksi yang bisa dialami oleh wanita yang akan ataupun
sedang hamil. Infeksi ini dapat menyebabkan cacat bayi akibat adanya penularan dari ibu ke
bayi pada saat hamil.1 Infeksi TORCH pada wanita hamil seringkal tidak menimbulkan
gejala atau asimtomatik tetapi dapat memberikan dampak serius bagi janin yang
dikandungnya.2 Dampak klinis bisa berupa Measles, Varicella, Echovirus, Mumps, Vassinia,
Polio dan Coxsackie-B. Infeksi TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan beserta
keluhan yang dapat dirasakan oleh berbagai rentang usia mulai dari anak-anak sampai
dewasa. Ibu hamil yang terinfeksi pun dapat menyebabkan kelainan pada bayinya berupa
cacat fisik dan mental yang beragam serta keguguran.

1. Toxoplasma
Toxoplasma gondii merupakan parasit intraseluler obligat dari kelompok
protozoa yang dapat menginfeksi manusia dan seluruh hewan berdarah panas yang
ditemukan hampir di seluruh dunia. Pada umumnya infeksi tersebar secara oral
melalui konsumsi produk hewani terinfeksi ookista yang tidak dimasak sempurna,
makanan mengandung parasit dalam bentuk bradizoit, kontak secara langsung dengan
kotoran kucing mengandung ookista ataupun terjadi transmisi vertikal melalui
plasenta hematogen. Toksoplasma dapat terjadi secara akut maupun kronik.
Toksoplasma terbagi menjadi 5 kategori yaitu toksoplasmosis pada pasien
imunokompeten, toksoplasma pada masa kehamilan, toksoplasma kongenital,
toksoplasma pada pasien imunokompromais dan toksoplasma okuler. Pada setiap
kategori manifestasi klinik toksoplasma sering tidak spesifik.
2. Rubella
Definisi Congenital Rubella Syndrome Rubella atau campak Jerman adalah penyakit
yang disebabkan oleh infeksi virus rubella. Di anak-anak, infeksi biasanya hanya
menimbulkan sedikit keluhan atau tanpa gejala. Infeksi pada orang dewasa dapat
menimbulkan keluhan demam, sakit kepala, lemas dan konjungtivitis. Tujuh puluh
persen kasus infeksi rubella di orang dewasa menyebabkan terjadinya atralgi atau
artritis. Jika infeksi virus rubella terjadi pada kehamilan, khususnya trimester pertama
sering menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS). CRS mengakibatkan
terjadinya abortus, bayi lahir mati, prematur dan cacat apabila bayi tetap hidup. Per
definisi CRS merupakan gabungan beberapa keabnormalan fisik yang berkembang di
bayi sebagai akibat infeksi virus rubella maternal yang berlanjut dalam fetus. Nama
lain CRS ialah Fetal Rubella Syndrome. Cacat bawaan (Congenital defect) yang
paling sering dijumpai ialah tuli sensoneural, kerusakan mata seperti katarak,
gangguan kardiovaskular, dan retardasi mental.
1. Isolasi virus

Virus rubella dapat diasingkan (isolasi) dari sekret Hidung, darah, hapusan tenggorok,
air kemih, dan Cairan serebrospinalis penderita rubella dan CRS. Virus juga dapat
diasingkan dari tekak (faring) 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu setelah
Munculnya ruam. Meskipun metode pengasingan Ini merupakan diagnosis pasti untuk
menentukan Infeksi rubella, metode ini jarang dilakukan karena Tatalangkah
(prosedur) pemeriksaan yang rumit. Hal Ini menyebabkan metode pengasingan virus
bukan Sebagai metode diagnostik rutin.1 Untuk pengasingan Secara pratama (primer)
spesimen klinis, sering Menggunakan perbenihan (kultur) sel yaitu Vero; African
green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13. Virus rubella dapat ditemui
dengan adanya Cytophatic effects (CPE).
1. Pemeriksaan serologi
Pemeriksaan serologis digunakan untuk Mendiagnosis infeksi virus rubella bawaan
dan Pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan Orang dewasa muda) dan untuk
menentukan keadaan (status) imunologik terhadap rubella. Metode yang Tersedia
antara lain:
a) Hemaglutinasi pasif,
b) Uji hemolisis radial,
c) Uji aglutinasi lateks,
d) Uji inhibisi hemaglutinasi,
e) Imunoasai fluoresens,
f) Imunoasai enzim.
Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah Bersentuhan dengan penderita
rubella, memerlukan Upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti (akurat). Jika
penderita memperlihatkan gejala Klinis yang semakin memberat, maka harus segera
Dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim terhadap Serum penderita untuk menetukan
adanya IgM Spesifik-rubella, yang dapat dipastikan (konfirmasi) Dengan memeriksa
dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita tanpa gejala klinis tetapi
Terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah Masalah khusus. Mereka mungkin
sedang mengalami Infeksi pratama (primer) atau re-infeksi karena telah Mendapatkan
vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG rubella dengan imunoasai
Enzim juga dapat membantu membedakan infeksi Pratama (primer) dan re-infeksi.
Pemeriksaan serologis pada kasus yang dicurigai Menderita CRS memerlukan tiga
pendekatan. Pendekatan pertama untuk mengetahui adanya Antibodi IgM spesifik-
rubella pada serum bayi. Pendekatan kedua dengan melakukan titrasi Serial antibodi
serum selama 6 bulan pertama Kehidupannya. Kadar titer yang tetap atau meningkat
Selama pemeriksaan ini menunjukkan bahwa telah Terjadi infeksi rubella bawaan.
Pendekatan ketiga Adalah dengan melakukan immunoblotting dan Imunoasai enzim
peptide serum yang dikumpulkan Selama masa neonatus untuk mencari adanya
Penurunan pita protein E1 dan E2.
Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis Rubella, yaitu:5,6
a) membantu menetapkan diagnosis Rubella bawaan. Dalam hal ini dilakukan
imunoasai IgM terhadap rubella,
b) membantu menetapkan Diagnosis rubella akut pada penderita yang dicurigai.
Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap Penderita,
c) memeriksa ibu dengan anamnesis ruam “rubellaform” di masa lalu, sebelum dan
pada awal Kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini, dapat Disebabkan oleh berbagai
macam virus yang lain,
d) memantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama kehamilan sebab
seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya terpajan virus rubella (misalnya di
BKIA dan Puskesmas), e) mengetahui Derajat imunitas seseorang
pascavaksinasi.Adanya antibodi IgG rubella dalam serum Penderita menunjukkan
bahwa penderita tersebut Pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki Kekebalan
terhadap virus rubella. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji
saring Untuk kehamilan adalah sebagai berikut:5 sebelum Kehamilan, bila positif ada
perlindungan (proteksi) Dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilan Muda
(trimester pertama).
Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk
3. Cytomegalovirus
Citomegalovirus (CMV) merupakan kelompok agen dalam Keluarga herpes virus
yang dikenali karena penyebarannya yang luas Pada manusia dan binatang-binatang
lain.
Kebanyakan infeksi CMV tidak tampak, tetapi virus dapat menyebabkan berbagai
sakit klinis yang berkisar pada keparahan dari ringan sampai mematikan. CMV adalah
infeksi virus yang paling sering pada kongenital, yang kadang-kadang menyebabkan
sindrom inklusi sitomegali (Hepatosplenomegali, ikterus,petekie,purpura dan
mikrosefali) . Pada orang dewasa normal, berkemampuan imun, infeksi kadang-
kadang ditandai oleh sindrom seperti mononucleosis. Pada individu terganggu imun,
termasuk resipen transplant dan penderita dengan sindrom imunodefisiensi didapat
(AIDS), pneumonitis CMV, renitis dan nenyakit saluran cerna adalah lazim dan dapat
mematikan. Infeksi yang terjadi pada hospen rentan,seronegatif disebut sebagai
infeksi primer, sedang infeksi berulang merupakan reaktif infeksi laten atau terinfeksi
pada hospen imun seropopsitif. Penyakit dapat merupakan akibat infeksi CMV primer
atau berulang,, tetapi yang pertama lebih umum menyebabkan penyakit beratInfeksi
CMV dapat ditularkan melalui cairan tubuh seperti saliva, darah, air susu ibu,
semen,dan urin. Pada kasus infeksi CMV kongenital, virus CMV dapat menyebar
secara vertikal melalui ibu ke janin.
Untuk menegakkan diagnosis infeksi CMV dibutuhkan Pemeriksaan laboratorium,
antara lain pemeriksaan serologi (metoda ELISA) untuk menentukan peningkatan titer
antiboti IgG-IgM anti CMV. Pada serangan infeksi tahap akut (infeksi akut) biasanya
akan Dihasilkan IgM anti CMV yang positif. Sedangkan pada infeksi tahap
Konvalesen (kesembuhan) maupun infeksi laten (kronik) akan Dihasilkan IgG anti
CMV. Penegakan diagnosis infeksi CMV akan lebih baik lagi bila Dilakukan
pemeriksaan isolasi virus CMV. Pemeriksaan ini ternyata Merupakan cara terbaik
untuk mendiagnosis CMV. Isolasi virus dapat Dilakukan dari darah, urin, maupun
cairan serviks (mulut Rahim). Untuk pasien CMV balita (kongenital), maka
pemeriksaan yang Dilakukan adalah pemeriksaan serologi darah. Biasanya didapatkan
IgM anti CMV yang positif. Untuk konformasi lebih lanjut bisa dilakukan
Pemeriksaan isolasi dan pembiakan (kultur) CMV pada kultur sel, Teknik hibridisasi
dan adanya badan inklusi intra nucleus yang khas (cytomegalinic cell) dalam jaringan.
Sekedar info: bayi dengan infeksi CMV kongenital dapat mengeluarkan virus CMV
yang infektif (mudah Menular) dari orofaring (mulut dan tenggorokan) serta saluran
kencing.
4. HSV
Herpes simpleks virus (HSV) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Bayi yang
dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kulit, tetapi
hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Pemeriksaan laboratorium
yang dapat dilakukan, yaitu dengan memeriksa adanyaAnti-HSV II IgG dan IgM sangat
penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II
dan mencegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.