Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN


PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR DI IGD RSUD
WANGAYA DENPASAR

OLEH :
LUH MADE SRI ARISTAWATI
NIM : 189012111

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
2019
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PADA PASIEN
DENGAN FRAKTUR

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. PENGERTIAN
Fraktur merupakan suatu patahan pada kontinuitas struktur jaringan tulang
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh trauma, baik trauma langsung
ataupun tidak langsung (Manurung, 2018). Fraktur terjadi apabila tulang terkena
stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan
oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan
kontraksi otot ekstrem (Smeltzer & Bare, 2013).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang
dapat menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya
benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan
dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang
menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah. Akibat trauma pada tulang
bergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Trauma tajam yang
langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan
luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di
dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi
sendi yang disebut fraktur dislokasi (Sjamsuhidajat & Wim de jong, 2011).
Jadi, fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang disebabkan trauma
atau tenaga fisik dan menimbulkan nyeri serta gangguan fungsi.

B. ETIOLOGI
Rasjad (2007) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun
mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur
dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:

1. Fraktur akibat peristiwa trauma


Sebagisan fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang
dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau
penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat
yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan
biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan
biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai
kerusakan jaringan lunak yang luas.
2. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain
akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada
tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang
berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
3. Fraktur petologik karena kelemahan pada tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak
(misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.

C. PATOFISIOLOGI
Fraktur terjadi bila ada interupsi dari kontinuitas tulang. Biasanya, fraktur
di sertai cedera jaringan di sekitar yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah
dan persarafan. Fraktur bisa juga di sebabkan karena trauma ataupun karena suatu
penyakit, misal osteoporosis. Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan
fraktur dan akan mengakibatkan seseorang memiliki keterbatasan gerak,
ketidakseimbangan dan nyeri pergerakan jaringan lunak yang terdapat di sekitar
fraktur, missal pembuluh darah, saraf, dan otot serta organ lainnya yang
berdekatan dapat di rusak. Pada waktu trauma ataupun karena mencuatnya tulang
yang patah, apabila kulit sampai robek akan mengakibatkan luka terbuka dan akan
mengakibatkan seseorang beresiko terkena infeksi. Luka dan keluarnya darah
dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.
Pada osteoporosis secara tidak langsung mengalami penurunan kadar
kalsium dalam tulang. Dengan berkurangnya kadar kalsium dalam tulang lama-
kelamaan tulang menjadi rapuh sehingga hanya trauma minimal saja atau tanpa
trauma sedikitpun akan mengakibatkan terputusnya kontinuitas tulang yang di
sebut fraktur.
Tingkatan pertumbuhan tulang :
1. Hematoma Formation (Pembentukan Hematoma)
Karena pembuluh darah cedera maka terjadi pada daerah fraktur dan
kedalam jaringan di sekitar tulang tersebut. Reaksi peradangan hebat timbul
setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mast terakumulasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Darah menumpuk dan
mengeratkna ujung-ujung tulang yang patah dan fagositosis dan
pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai.
2. Fibrin Mesk Work (Pembentukan Fibrin)
Hematom menjadi terorganisasi karena fibrablast masuk lokasi cedera,
membentuk mesk work (gumpalan fibrin) dan berfungsi sebagai jala untuk
melekatkan sel-sel baru.
3. Invasi Osteoblast
Osteoblast masuk ke daerah fibrosis untuk mempertahnkan penyambungan
tulang dan merangsang pembentukan tulang baru imatur (callus). Pembuluh
darah berkembang mengalirkan nutrisi untuk membentuk collagen. Untaian
collagen terus di satukan dengan kalsium.
4. Callus Formation (Pembentukan Callus)
a. Osteoblast terus membuat jalan untuk membangun tulang.
b. Osteoblast merusakkan tulang mati dan membantu mensintesa tulang
baru.
c. Collagen menjadi kuat dan terus menyatu dengan deposit kalsium.
5. Remodelling
Bekuan fibrin di reabsorpsi dan sel-sel tulang baru secara perlahan
mengalami tulang sejati. Tulang sejati menggantikan callus dan secara
perlahan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlikan waktu beberapa
minggu sampai beberapa bulan. Penyembuhan dapat terganggu atau
terlambat apabila hematom fraktur atau callua rusak sebelum tulng sejati
terbentuk atau apabila sel-sel tulang baru rusak selam proses kalsifikasi dan
pengerasan.
D. KLASIFIKASI
1. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar. Fraktur tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit
dan jaringan masih utuh.
2. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragemen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit, fraktur terbuka
dibagi menjadi tiga derajat, yaitu :
a. Derajat I
1) Luka kurang dari 1 cm.
2) Kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.
3) Fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.
4) Kontaminasi ringan.
b. Derajat II
1) Laserasi lebih dari 1 cm.
2) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse.
3) Fraktur komuniti sedang.
c. Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.
3. Fraktur complete
Patah pada seluruh garis tengah tulang, luas dan melintang, biasanya
mengalami pergerseran (bergeser dari posisi normal).
4. Fraktur incomplete
Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.
5. Jenis khusus fraktur
a. Bentuk garis patah
1) Garis patah melintang.
2) Garis patah obliq, dimana fraktur membentuk sudut dengan garis
tengah tulang.
3) Garis patah spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang.
b. Jumlah garis patah
1) Fraktur komunitif garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
2) Fraktur segmental garis patah lebih dari satu tetapi saling
berhubungan.
3) Fraktur multiple garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan.
6. Fraktur kompresi, fraktur akibat adanya kompresi, biasanya pada tulang
belakang
7. Fraktur avulse, tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendo pada
perlekatannya
8. Fraktur greenstick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patang sedang sisi
lainnya membengkok
9. Fraktur depresi, fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
(sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah)
10. Fraktur patologik, fraktu yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit
(kista tulang, paget, metastasis tulang, tumor)
11. Fraktur Epivisial, fraktur melalui epifisis
12. Fraktur impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen
tulang lainnya
13. Bergeser-tidak bergeser
Fraktur tidak bergeser garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak
bergeser.
Fraktur bergeser, terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga
disebut di lokasi fragmen (Smeltzer & Bare, 2013).

E. JENIS – JENIS KEGAWATDARURATAN FRAKTUR


1. Fraktur Femur
a. Pengertian Fraktur Femur
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang
bersifat total maupun sebagian. Fraktur Femur atau patah tulang paha adalah
rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang disaebabkan oleh trauma
langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau
osteoporosis. (Arif Muttaqin, 2008). Fraktur femur adalah terputusnya
kontiunitas batang femur yang bisa terjadi akibat truma langsung
(kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita
jatuh dalam kondisi syok (FKUI dalam Jitowiyono, 2010). Fraktur femur
juga didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas tulang paha, kondisi fraktur
femur secara klinis bisa berupa fraktur femur terbuka yang disertai adanya
kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf dan pembuluh darah)
dan fraktur femur tertutup yang dapat disebabkan oleh trauma langsung
pada paha (Helmi, 2012)
Dari beberapa penjelasan tentang fraktur femur di atas, dapat
disimpulkan bahwa fraktur femur merupakan suatu keadaan dimana terjadi
kehilangan kontinuitas tulang femur yang dapat disebabkan oleh trauma
langsung maupun trauma tidak langsung dengan adanya kerusakan jaringan
lunak.

b. Klasifikasi Fraktur Femur


Menurut Helmi (2012) faktur femur dapat dibagi lima jenis berdasarkan
letak garis fraktur seperti dibawah ini:
1) Fraktur Intertrokhanter Femur
Merupakan patah tulang yang bersifat ekstra kapsuler dari femur, sering
terjadi pada lansia dengan kondisi osteoporosis. Fraktur ini memiliki
risiko nekrotik avaskuler yang rendah sehingga prognosanya baik.
Penatalaksanaannya sebaiknya dengan reduksi terbuka dan pemasangan
fiksasi internal. Intervensi konservatif hanya dilakukan pada penderita
yang sangat tua dan tidak dapat dilakukan dengan anestesi general.
2) Fraktur Subtrokhanter Femur
Garis fraktur berada 5 cm distal dari trokhanter minor, diklasifikasikan
menurut Fielding & Magliato sebagai berikut: 1) Tipe 1 adalah garis
fraktur satu level dengan trokhanter minor; 2) Tipe 2 adalah garis patah
berada 1-2 inci di bawah dari batas atas trokhanter minor; 3) Tipe 3
adalah 2-3 inci dari batas atas trokhanter minor. Penatalaksanaannya
dengan cara reduksi terbuka dengan fiksasi internal dan tertutup dengan
pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu kemudian dilanjutkan
dengan hip gips selam tujuh minggu yang merupakan alternatif pada
pasien dengan usia muda.
3) Fraktur Batang Femur
Fraktur batang femur biasanya disebabkan oleh trauma langsung, secara
klinis dibagi menjadi: 1) fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan
jaringan lunak, risiko infeksi dan perdarahan dengan penatalaksanaan
berupa debridement, terapi antibiotika serta fiksasi internal maupun
ekternal; 2) Fraktur tertutup dengan penatalaksanaan konservatif berupa
pemasangan skin traksi serta operatif dengan pemasangan plate-screw.
4) Fraktur Suprakondiler Femur
Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi
sehingga terjadi gaya aksial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya
rotasi. Penatalaksanaan berupa pemasanga traksi berimbang dengan
menggunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson, cast-bracing dan
spika pinggul serta operatif pada kasus yang gagal konservatif dan
fraktur terbuka dengan pemasangan nail-phroc dare screw.
5) Fraktur Kondiler Femur
Mekanisme trauma fraktur ini biasanya merupakan kombinasi dari gaya
hiperabduksi dan adduksi disertai denga tekanan pada sumbu femur ke
atas. Penatalaksanaannya berupa pemasangan traksi tulang selama 4-6
minggu dan kemudian dilanjutkan dengan penggunaan gips minispika
sampai union sedangkan reduksi terbuka sebagai alternatif apabila
konservatif gagal.
c. Etiologi Fraktur Femur
Penyebab fraktur femur antara lain:
1) Fraktur femur terbuka
Disebabkan oleh trauma langsung pada paha

2) Fraktur femur tertutup


Disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi tertentu, seperti
degenerasi tulang (osteoporosis) dan tumor atau keganasan tulang
paha yang menyebabkan fraktur patologis. (Arif Muttaqin, 2011)
d. Penatalaksanaan Fraktur Femur
Prinsip penanganan fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke
posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa
penyembuhan patah tulang (imobilisasi) (Sjamsuhidajat dkk, 2011).
1) Reposisi
Tindakan reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan
imobilisasi dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti
seperti pada fraktur radius distal. Reposisi dengan traksi dilakukan terus-
menerus selama masa tertentu, misalnya beberapa minggu, kemudian
diikuti dengan imobilisasi. Tindakan ini dilakukan pada fraktur yang bila
direposisi secara manipulasi akan terdislokasi kembali dalam gips. Cara
ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat, misalnya fraktur femur
(Nayagam, 2010). Reposisi dilakukan secara non-operatif diikuti dengan
pemasangan fiksator tulang secara operatif, misalnya reposisi patah
tulang pada fraktur tereposisi, dilakukan pemasangan prosthesis secara
operatif pada kolum femur (Nayagam, 2010).
Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar (OREF)
dilakukan untuk fiksasi fragmen patahan tulang, dimana digunakan pin
baja yang ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian pin baja disatukan
secara kokoh dengan batangan logam di kulit luar. Beberapa indikasi
pemasangan fiksasi luar antara lain fraktur dengan rusaknya jaringan
lunak yang berat (termasuk fraktur terbuka), dimana pemasangan internal
fiksasi terlalu berisiko untuk terjadi infeksi, atau diperlukannya akses
berulang terhadap luka fraktur di sekitar sendi yang cocok untuk internal
fiksasi namun jaringan lunak terlalu bengkak untuk operasi yang aman,
pasien dengan cedera multiple yang berat, fraktur tulang panggul dengan
perdarahan hebat, atau yang terkait dengan cedera kepala, fraktur dengan
infeksi (Nayagam, 2010).
Reposisi secara operatif dikuti dengan fiksasi patahan tulang
dengan pemasangan fiksasi interna (ORIF), misalnya pada fraktur femur,
tibia, humerus, atau lengan bawah. Fiksasi interna yang dipakai bisa
berupa pen di dalam sumsum tulang panjang, bisa juga plat dengan skrup
di permukaan tulang. Keuntungan reposisi secara operatif adalah dapat
dicapai reposisi sempurna, dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh,
sesudah operasi tidak diperlukan pemasangan gips lagi dan segera bisa
dilakukan imobilisasi. Indikasi pemasangan fiksasi interna adalah fraktur
tidak bisa di reduksi kecuali dengan operasi, fraktur yang tidak stabil dan
cenderung terjadi displacement kembali setelah reduksi fraktur dengan
penyatuan yang buruk dan perlahan (fraktur femoral neck), fraktur
patologis, fraktur multiple dimana dengan reduksi dini bisa meminimkan
komplikasi, fraktur pada pasien dengan perawatan yang sulit (paraplegia,
pasien geriatri) (Nayagam, 2010; Sjamsuhidajat dkk, 2011; Bucholz;
Heckman; Court-Brown, 2006).
2) Imobilisasi
Pada imobilisasi dengan fiksasi dilakukan imobilisasi luar tanpa
reposisi, tetapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi
fragmen. Contoh cara ini adalah pengelolaan fraktur tungkai bawah tanpa
dislokasi yang penting. Imobilisasi yang lama akan menyebabkan
mengecilnya otot dan kakunya sendi. Oleh karena itu diperlukan upaya
mobilisasi secepat mungkin (Nayagam, 2010).
3) Rehabilitasi
Rehabilitasi berarti upaya mengembalikan kemampuan anggota
yang cedera atau alat gerak yang sakit agar dapat berfungsi kembali
seperti sebelum mengalami gangguan atau cedera (Widharso, 2010).
4) Penatalaksanaan keperawatan dapat dilakukan dengan RICE.
R (Rest) : Diistirahatkan adalah pertolongan pertama yang penting untuk
mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
I (Ice) : Terapi dingin, gunanya mengurangi pendarahan dan meredakan
rasa nyeri.
C (Compression) : Membalut gunanya membantu mengurangi
pembengkakan jaringan dan pendarahan lebih lanjut.
E (Elevasi) : Peninggian daerah cedera gunanya mengurangi oedema
(pembengkakan) dan rasa nyeri.

2. Fraktur/cidera MaksiloFacial
a. Pengertian fraktur maksilofacial
Cedera atau fraktur pada daerah wajah memiliki signifikansi yang
tinggi karena berbagai alasan. Daerah wajah memberikan perlindungan
terhadap kepala dan memiliki peran penting dalam penampilan. Daerah
maksilofasial berhubungan dengan sejumlah fungsi penting seperti
penglihatan, penciuman, pernafasan, berbicara, dan juga memakan. Fungsi-
fungsi ini sangat terpengaruh pada cedera dan berakibat kepada kualitas
hidup yang buruk (Singh, 2012).
Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang
wajah yaitu tulang nasoorbitoethmoid, temporal, zygomatikomaksila, nasal,
maksila, dan juga mandibula (Muchlis, 2011).
b. Etiologi
Dalam empat dekade terakhir, kejadian fraktur maksilofasial terus
meningkat disebabkan terutama akibat peningkatan kecelakaan lalu lintas
dan kekerasan. Hubungan alkohol, obat-obatan, mengemudi mobil, dan
peningkatan kekerasan merupakan penyebab utama terjadinya fraktur
maksilofasial (Ykeda, 2012). Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab
tertinggi dari fraktur maksilofasial. Di India, 97,1% fraktur maksilofasial
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dengan penyebab lain yaitu terjatuh
dari ketinggian, kekerasan, dan akibat senjata api (Singh, 2012). Penelitian
lain di India menunjukkan bahwa 74,3% fraktur maksilofasial disebabkan
oleh kecelakaan lalu lintas (Guruprasad, 2011).
c. Klasifikasi
1) Fraktur Komplek Nasal
Tulang hidung sendiri kemungkinan dapat mengalami fraktur , tetapi
yang lebih umum adalah bahwa fraktur – fraktur itu meluas dan
melibatkan proses frontal maksila serta bagian bawah dinding medial
orbital. Fraktur daerah hidung biasanya menyangkut septum hidung.
Kadang – kadang tulang rawan septum hampir tertarik ke luar dari
alurnya pada vomer dan plat tegak lurus serta plat kribriform etmoid
mungkin juga terkena fraktur.
Gambar 1. Fraktur Kompleks Nasal terdiri dari sebuah pertemuan beberapa
tulang: (1) tulang frontal, (2) tulang hidung, (3) tulang rahang atas, (4)
tulang lakrimal, (5) tulang ethmoid, dan (6) tulang sphenoid
( www.emedicine.com )
2) Fraktur Komplek Zigoma
Zygomaticomaxillary complex (ZMC) memainkan peran penting pada
struktur fungsi, dan estetika penampilan dari wajah. ZMC memberikan
kontur pipi normal dan memisahkan isi orbita dari fossa temporal dan
sinus maksilaris. Zygoma merupakan letak dari otot maseter, dan oleh
karena itu berpengaruh terhadap proses mengunyah (Tollefson, 2013).
Fraktur ZMC menunjukkan kerusakan tulang pada empat dinding
penopang yaitu zygomaticomaxillary, frontozygomatic (FZ),
zygomaticosphenoid, dan zygomaticotemporal. Fraktur ZMC merupakan
fraktur kedua tersering pada fraktur fasial setelah fraktur nasal
(Meslemani, 2012).
3) Fraktur Maksila
Maksila mewakili jembatan antara basal kranial di superior dan lempeng
oklusal gigi di inferior. Hubungan yang erat dengan rongga mulut,
rongga hidung, dan orbita dan sejumlah struktur yang terkandung di
dalamnya dan melekat dengan maksila merupakan struktur yang penting
baik secara fungsional maupun kosmetik. Fraktur pada tulang-tulang ini
memiliki potensi yang mengancam nyawa (Moe, 2013).
4) Fraktur Mandibula
Mandibula mengelilingi lidah dan merupakan satu-satunya tulang kranial
yang bergerak. Pada mandibula, terdapat gigi-geligi bagian bawah dan
pembuluh darah, otot, serta persarafan. Mandibula merupakan dua buah
tulang yang menyatu menjadi satu pada simfisis (Stewart, 2008).
Mandibula terhubung dengan kranium pada persendian
temporomandibular (TMJ). Fungsi yang baik dari mandibula
menentukan gerakan menutup dari gigi. Fraktur mandibula dapat
mengakibatkan berbagai variasi dari gangguan jangka pendek maupun
panjang yaitu nyeri TMJ, gangguan mengatupkan gigi, ketidakmampuan
mengunyah, gangguan salivasi, dan nyeri kronis. Fraktur mandibula
diklasifikasikan sesuai dengan lokasinya dan terdiri dari simfisis, badan,
angle, ramus, kondilar, dan subkondilar (Stewart, 2008).

Gambar 2. Lokasi Fraktur Mandibula


Sumber: C. Stewart dalam Emergency Medicine Practice volume 10 (2008)

d. Penatalaksaan Fraktur Maksilofacial


1) Fraktur Komplek Nasal
Pada fraktur komplek nasal, ada 2 cara perawatan yang dilakukan
yakni reduksi dan fiksasi. Fraktur kompleks hidung dapat direduksi
dibawah analgesia lokal, tetapi anestesia umum dengan pipa endotrakeal
lewat mulut yang memadai lebih diminati karena mungkin terjadi
perdarahan banyak. Kadang – kadang bila fraktur tidak begitu parah
maka pemasangan splin setelah reduksi tidak perlu.
2) Fraktur Komplek Zigomatikum
Perbaikan fraktur komplek zigoma sering dilakukan secara elektif.
Fraktur arkus yang terisolasi bisa diangkat melalui pendekatan Gillies
klasik. Adapun langkah-langkah teknik Gillies yang meliputi :
a) Membuat sayatan dibelakang garis rambut temporal,
b) Mengidentifikasi fasia temporalis,
c) Menempatkan elevator di bawah fasia mendekati lengkungan dari
aspek dalam yakni dengan menggeser elevator di bidang dalam untuk
fasia, cedera pada cabang frontal dari syaraf wajah harus dihindari.
Sehingga arkus dapat kembali ke posisi anatomis yang lebih normal.

Gambar 3. Pendekatan Gillies untuk mengurangi fraktur arkus zigomatikus,


A. Insisi temporal melalui fasia subkutan dan fasia superfisial dibawah
fasia temporal bagian dalam, B. Reduksi fraktur dengan elevator
2) Fraktur Maksila
Pada fraktur Le Fort I dirawat dengan menggunakan arch bar,
fiksasi maksilomandibular, dan suspensi kraniomandibular yang
didapatkan dari pengawatan sirkumzigomatik. Apabila segmen fraktur
mengalami impaksi, maka dilakukan pengungkitan dengan menggunakan
tang pengungkit, atau secara tidak langsung dengan menggunakan
tekanan pada splint/arch bar. Sedangkan perawatan pada fraktur Le Fort
II serupa dengan fraktur Le Fort I. Hanya perbedaannya adalah perlu
dilakukan perawatan fraktur nasal dan dasar orbita juga. Fraktur nasal
biasanya direduksi dengan menggunakan molding digital dan splinting.
Selanjutnya, pada fraktur Le Fort III dirawat dengan menggunakan arch
bar, fiksasi maksilomandibular, pengawatan langsung bilateral, atau
pemasangan pelat pada sutura zigomatikofrontalis dan suspensi
kraniomandibular pada prosessus zigomatikus ossis frontalis.
3) Fraktur Mandibula
Ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula, yakni cara
tertutup / konservatif dan terbuka / pembedahan. Pada teknik tertutup,
reduksi fraktur dan imobilisasi mandibula dicapai dengan jalan
menempatkan peralatan fiksasi maksilomandibular. Pada prosedur
terbuka , bagian yang fraktur dibuka dengan pembedahan dan segmen
direduksi dan difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat atau
plat. Terkadang teknik terbuka dan tertutup ini tidaklah selalu dilakukan
tersendiri, tetapi juga dapat dikombinasikan.

3. Fraktur Servikal
a. Pengertian Fraktur Servikal
Ada tujuh tulang servikal vertebrae (tulang belakang) yang mendukung
kepala dan menghubungkannya ke bahu dan tubuh. Sebuah fraktur (patah
atau retak) di salah satu tulang leher disebut fraktur servikal atau kadang-
kadang juga disebut patah tulang leher.
Cedera tulang belakang adalah cedera mengenai cervicalis, vertebralis
dan lumbalis akibat trauma jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas,
kecelakakan olah raga dan sebagainya.
b. Jenis Fraktur Servikal
Jenis fraktur daerah servikal, sebagai berikut:

1) Fraktur atlas C1
Fraktur ini terjadi pada kecelakaan jatuh dari ketinggian dan posisi
kepala menopang badan dan daerah servical mendapat tekanan hebat.
Condylus occipitalis pada basis crani dapat menghancurlan cincin tulang
atlas. Jika tidak ada cedera angulasi dan rotasi maka pergeseran tidak berat
dan medulla spinalis tidak ikut cedera. Pemeriksaan radiologi yang
dilakukan adalah posisi anteroposterior dengan mulut pasien dalam keadaan
terbuka. Terapi untuk fraktur tipe stabil seperti fraktur atlas ini adalah
immobilisasi servical dengan collar plaster selama 3 bulan.
2) Pergeseran C1 C2 (Sendi Atlantoaxial)
Atlas dan axis dihubungkan dengan ligamentum tranversalis dari atlas
yang menyilang di belakang prosesus odontoid pada axis. Dislokasi sendi
atlantoaxial dapat mengakibatkan arthritis rheumatoid karena adanya
perlunakan kemudian aka nada penekanan ligamentum tranversalis.
Fraktur dislokasi termasuk fraktur basis prosesus odontoid. Umunya
ligamentum tranversalis masih utuh dan prosesus odontoid pindah dengan
atlas dan dapat menekan medulla spinalis. Terapi utnuk fraktur tidak
bergeser yaitu imobilisasi vertebra cervical. Terapi utnuk fraktur geser
atlantoaxial adalah reduksi dengan traksi continues.
3) Fraktur kompresi corpus vertebral
Tipe kompresu lebih sering tanpa kerusakan ligamentum spinal namun
dapt mengakibatkan kompresi corpus vertebralis. Sifat rafktur ini adalah
tipe tidak stabil. Terapi untuk fraktur tipe ini adalah reduksi dengan plastic
collar selama 3 minggu (masa penyembuhan tulang).
4) Flexi subluksasi vertebral cervical
Fraktur ini terjadi saat pergerakan kepala kearah depan yang tiba-tiba
sehingga terjadi deselerasi kepala karena tubrukan atau dorongan pada
kepala bagian belakang, terjadi vertebra yang miring ke depan diatas
vertebra yang ada dibawahnya, ligament posterior dapat rusak dan fraktur
ini singkat disebut subluksasi, medulla spinalis mengalami kontusio dalam
waktu singkat.
Tindakan yang diberikan untuk fraktur tipe ini adalah ekstensi cervical
dilanjutkan dengan imobilisasi leher terkekstensi dengan collar selama 2
bulan.
5) Flexi dislokasi dan fraktur dislokasi cervical
Cedera ini lebih berat disbanding fleksi subluksasi. Mekanisme
terjadinya fraktur hamper sama dengan fleksi subluksasi, posterior ligament
robek dan posterior facet pada satu atau kedua sisi kehilangan kestabilannya
dengan bangunan sekitar. Jikla dislokasi atau fraktur dislokasi pada C7 –
Th1 maka posisi ini sulit dilihat dari posisi foto lateral maka posisi yang
terbaik untuk radiografi adalah “swimmer projection”. Tindakan yang
dilakukan adalah reduksi fleksi dislokasi ataupun fraktur dislokasi dari
fraktur cervical termasuk sulit namun traksi skull continu dapat dipakai
sementara.
6) Ekstensi sprain (kesleo) cervical (Whiplash injury)
Mekanisme cedera pada jaringan lunak yang terjadu bila leher tiba-tiba
tersentakl ke dalam hiperekstensi. Biasanya cedera ini terjadi setelah
tertabrak dari belakang; badan terlempar ke depan dan kepala tersebtak ke
belakang. Terdapat ketidaksesuaian mengenai patologi yang tepat tetapi
kemungkinan ligament longitudinal anterior meregang atau robek dan
diskus mungkin juga rusak.
Pasien mengeluh nyeri dan kekakuan pada leher, yang refrakter dan
bertahan selam asetahun atau lebih lama. Keadaan ini sering disertai dengan
gejala lain yang lebih tidak jelas, misalnya nyeri kepala, pusing, depresi,
penglihatan kabur dan rasa baal atau parestesia pada lengan. Biasanya tidak
terdapat tanda-tanda fisik, dan pemeriksaan dengan sinar-X hanya
memperlihatkan perubahan kecil pada postur. Tidak ada bentuk terapi yang
telah terbukti bermanfaat, pasien diberikan analgetik dan fisioterapi.
7) Fraktur pada cervical ke-7 (Processus Spinosus)
Prosesus spinosus C7 lebih panjang dan prosesus ini melekat pada otot.
Adanya kontraksi otot akibat kekerasan yang sifatnya tiba-tiba akan
menyebabkan avulse prosesus spinosus yang disebut “clay shoveler’s
fracture”.
c. Penatalaksanaan
1) Pertolongan Pertama untuk Fraktur Servikal
Setiap cedera kepala atau leher harus dievaluasi adanya fraktur
servikalis. Sebuah fraktur servikal merupakan suatu keadaan darurat medis
yang membutuhkan perawatan segera. Spine trauma mungkin terkait cedera
saraf tulang belakang dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, sehingga
sangat penting untuk menjaga leher. Jika ada kemungkinan patah tulang
leher, leher pasien tidak boleh digerakkan sampai tindakan medis diberikan
dan X-ray dapat diambil. Itu jalan terbaik untuk mengasumsikan adanya
cedera leher bagi siapa saja yang terkena benturan, jatuh atau tabrakan.
Gejala fraktur servikal termasuk parah dengan rasa sakit pada kepala,
nyeri yang menjalar ke bahu atau lengan,memar dan bengkak di bagian
belakang leher.
2) Pembatasan aktivitas
Studi spesifik yang membandingkan keluaran dengan atau tanpa
pembatasan aktivitas belum ada. Jadi toleransi terhadap respon pengobatan
yang bersifat individual sebaiknya menjadi panduan bagi praktisi. Pada
tahap akut sebaiknya hindari pekerjaan yang mengharuskan gerak leher
berlebihan. Pemberian edukasi mengenai posisi leher yang benar sangatlah
membantu untuk menghindari iritasi radiks saraf lebih jauh. Seperti
contohnya : penggunaan telepon dengan posisi leher menekuk dapat
dikurangi dengan menggunakan headset, menghindari penggunaan
kacamata bifokal dengan ekstensi leher yang berlebihan, posisi tidur yang
salah. Saat menonton pertandingan pada lapangan terbuka , maupun layar
lebar sebaiknya menghindari tempat duduk yang menyebabkan kepala
menoleh/berotasi ke sisi lesi.
3) Penggunaan collar brace
Ada banyak jenis kolar yang telah dipelajari untuk membatasi gerak
leher. Kolar kaku/ keras memberikan pembatasan gerak yang lebih banyak
dibandingkan kolar lunak (soft collars ), kecuali pada gerak fleksi dan
ekstensi. Kelebihan kolar lunak : memberikan kenyamanan yang lebih pada
pasien. Pada salah satu studi menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pasien
untuk menggunakan kolar berkisar 68-72%. Penggunaan kolar sebaiknya
selama mungkin sepanjang hari. Setelah gejala membaik, kolar dapat
digunakan hanya pada keadaan khusus , seperti saat menyetir kendaraan dan
dapat tidak digunakan lagi bila gejala sudah menghilang. Sangatlah sulit
untuk menyatakan waktu yang tepat kolar tidak perlu digunakan lagi, namun
dengan berpatokan : hilangnya rasa nyeri, hilangnya tanda spurling dan
perbaikan defisit motorik dapat dijadikan sebagai petunjuk.

F. MANIFESTASI KLINIS
Adapun tanda dan gejala dari fraktur, sebagai berikut :
1. Nyeri
Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan kompensasi
tubuh untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Hilangnya fungsi dan deformitas
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alamiah. Cruris tak dapat berfungsi dengan baik
karena fungsi normal otot berrgantung pada integritas tulang tempat
melengketnya otot.
3. Pemendekan ekstremitas
Terjadinya pemendekan tulang yang sebenarnya karena konstraksi otot
yang melengket di atas dan bawah tempat fraktur.
4. Krepitus
Saat bagian tibia dan fibula diperiksa, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainya.
5. Pembengkakan lokal dan Perubahan warna
Terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan rongent: Menentukan lokasi atau luasnya fraktur atau trauma.
2. Scan tulang, tomogram, scan CT/MRI: Memperlihatkan fraktur dan juga
dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Hitung Darah Lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal
setelah trauma.
4. Arteriogram: dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
5. Kreatinin: Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
H. PENATALAKSANAAN
Menurut (Smeltzer & Bare, 2013) ada empat prinsip dasar yang harus
dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur ( disebut empat R ) yaitu :
a) Rekognisi/Pengenalan
Pengenalan riwayat kecelakaan : patah/ tidak. Meenentukan perkiraan
tulang yang patah. Kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan
bentuk tulang dan ketidakstabilan. Tindakan apa yang harus cepat
dilaksanakan misalnya pemasangan bidai.
b) Reduksi /Reposisi (setting tulang)
Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang patah
sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.Cara pengobatan fraktur
secara reduksi :
(1) Pemasangan gips
Untuk mempertimbangkan posisi fragmen fraktur.
(2) Pemasangan traksi
Menanggulangi efek dari kejang otot serta meluruskan atau
mensejajarkan ujung tulang yang fraktur.
(3) Reduksi tertutup
Digunakan traksi dan memanipulasi tulang itu sendiri dan bila
keadaan membaik maka tidak perlu diadakan pembedahan.

(4) Reduksi terbuka


Beberapa fraktur perlu pengobatan dengan pembedahan secara
reduksi terbuka, ini dilakukan dengan cara pembedahan. Reduksi
terbuka dilakukan dengan pendekatan bedah, fragmen tulang
direduksi alat fiksasi interna (ORIF) dalam bentuk pin, kawat,
sekrup, plat, paku, atau batangan logam untuk mempertahankan
fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang
solid terjadi.
c) Retensi/Immobilitas
Mempertahankan reduksi seperti melalui pemasangan gips atau traksi.
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimun.. Setelah fraktur direduksi, fragmen
tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran
yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan
dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi
pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator
eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang
berperan bidai interna untuk mengimmobilisasi fraktur.
d) Rehabilitasi (Mempertahankan dan mengembalikan fungsi)
Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak.
Latihan isometric dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi
disuse dan meningkatkan aliran darah. Partisipasi dalam aktivitas hidup
sehari-hari diusahakan untuk memperbaiki kemandirian fungsi dan harga
diri.

I. KOMPLIKASI
Komplikasi fraktur menurut Suratun (2008) antara lain:
1. Komplikasi awal fraktur antara lain: syok, sindrom emboli lemak, sindrom
kompartement, kerusakan arteri, infeksi, avaskuler nekrosis.
a. Syok
Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (banyak
kehilangan darah eksternal maupun yang tidak kelihatan yang biasa
menyebabkan penurunan oksigenasi) dan kehilangan cairan ekstra sel
ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas, thoraks,
pelvis dan vertebra.
b. Sindrom emboli lemak
Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam
pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari
tekanan kapiler atau karena katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi
stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan
terjadinya globula lemak pada aliran darah.
c. Sindroma kompartemen
Sindrom kompartemen ditandai oleh kerusakan atau destruksi dan
pembuluh darah yang disebabkan oleh pembengkakan dan edema di
daerah fraktur. Dengan pembengkakan interstisial yang intens, tekanan
pada pembuluh darah yang menyuplai daerah tersebut dapat
menyebabkan pembuluh darah tersebut kolaps. Hal ini menimbulkan
hipoksia jaringan dan dapat menyebabkan kematian syaraf yang
mempersyarafi daerah tersebut. Biasanya timbul nyeri hebat. Individu
mungkin tidak dapat menggerakkan jari tangan atau kakinya. Sindrom
kompartemen biasanya terjadi pada ekstremitas yang memiliki restriksi
volume yang ketat, seperti lengan.resiko terjadinya sinrome
kompartemen paling besar apabila terjadi trauma otot dengan patah
tulang karena pembengkakan yang terjadi akan hebat. Pemasangan
gips pada ekstremitas yang fraktur yang terlalu dini atau terlalu ketat
dapat menyebabkan peningkatan di kompartemen ekstremitas, dan
hilangnya fungsi secara permanen atau hilangnya ekstremitas dapat
terjadi (Corwin, 2009).
d. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma biasanya ditandai dengan tidak ada
nadi, CRT menurun, syanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan
dingin pada ekstrimitas yang disbabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
e. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic, infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk
ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
f. Avaskuler nekrosis
Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali
dengan adanya Volkman’s Ischemia.
g. Komplikasi dalam waktu lama atau lanjut fraktur antara lain: mal
union, delayed union, dan non union.
1) Mal union
Mal union adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah
sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya, membentuk sudut,
atau miring. Contoh yang khas adalah patah tulang paha yang
dirawat dengan traksi, dan kemudian diberi gips untuk imobilisasi
dimana kemungkinan gerakan rotasi dari fragmen-fragmen tulang
yang patah kurang diperhatikan. Akibatnya sesudah gips dibung
ternyata anggota tubuh bagian distal memutar ke dalam atau ke
luar, dan penderita tidak dapat mempertahankan tubuhnya untuk
berada dalam posisi netral. Komplikasi seperti ini dapat dicegah
dengan melakukan analisis yang cermat sewaktu melakukan
reduksi, dan mempertahankan reduksi itu sebaik mungkin terutama
pada masa awal periode penyembuhan.
Gips yang menjadi longgar harus diganti seperlunya. Fragmen-
fragmen tulang yang patah dan bergeser sesudah direduksi harus
diketahui sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan
radiografi serial. Keadaan ini harus dipulihkan kembali dengan
reduksi berulang dan imobilisasi, atau mungkin juga dengan
tindakan operasi.

2) Delayed Union
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan
dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Delayed
union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan
waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan
karena penurunan suplai darah ke tulang.
3) Non union
Non union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-
9 bulan. Non union di tandai dengan adanya pergerakan yang
berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseuardoarthrosis. Banyak keadaan yang merupakan faktor
predisposisi dari nonunion, diantaranya adalah reduksi yang tidak
benar akan menyebabkan bagian-bagian tulang yang patah tetap
tidak menyatu, imobilisasi yang kurang tepat baik dengan cara
terbuka maupun tertutup, adanya interposisi jaringan lunak
(biasanya otot) diantara kedua fragmen tulang yang patah, cedera
jaringan lunak yang sangat berat, infeksi, pola spesifik peredaran
darah dimana tulang yang patah tersebut dapat merusak suplai
darah ke satu atau lebih fragmen tulang.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Pengkajian Primer
a. Airway
Penilaian kelancaran airway pada klien yang mengalami fraktur,
meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan
benda asing, fraktur wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring
atau trachea. Usaha untuk membebaskan jalan nafas harus melindungi
vertebra servikal karena kemungkinan patahnya tulang servikal harus
selalu diperhitungkan. Dalam hal ini dapat dilakukan chin lift, tetapi tidak
boleh mengakibatkan hiperekstensi leher. Cara melakukan chinlift dengan
menggunakan jari-jari satu tangan yang diletakan dibawah mandibula,
kemudian mendorong dagu ke anterior. Ibu jari tangan yang sama sedikit
menekan bibir bawah untuk membuka mulut dan jika diperlukan ibu jari
dapat diletakkan didalam mulut dibelakang gigi seri untuk mengangkat
dagu. Jaw trust juga merupakan tekhnik untuk membebaskan jalan nafas.
Tindakan ini dilakukan oleh dua tangan masing-masing satu tangan
dibelakang angulus mandibula dan menarik rahang ke depan. Bila
tindakan ini dilakukan memakai face-mask akan dicapai penutupan
sempurna dari mulut sehingga dapat dilakukan ventilasi yang baik. Jika
kesadaran klien menurun pembebasan jalan nafas dapat dipasang guedel
(oro-pharyngeal airway) dimasukkan kedalam mulut dan diletakkan
dibelakang lidah. Cara terbaik adalah dengan menekan lidah dengan
tongue spatol dan mendorong lidah kebelakang, karena dapat menyumbat
fariks. Pada klien sadar tidak boleh dipakai alat ini, karena dapat
menyebabkan muntah dan terjadi aspirasi. Cara lain dapat dilakukan
dengan memasukkan guedel secara terbalik sampai menyentuh palatum
molle, lalu alat diputar 180o dan diletakkan dibelakang lidah. Naso-
Pharyngeal airway juga merupakan salah satu alat untuk membebaskan
jalan nafas. Alat ini dimasukkan pada salah satu lubang hidung yang tidak
tersumbat secara perlahan dimasukkan sehingga ujungnya terletak di
fariks. Jika pada saat pemasangan mengalami hambatan berhenti dan
pindah kelubang hidung yang satunya.Selama memeriksa dan
memperbaiki jalan nafas, harus diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan
ekstensi, fleksi atau rotasi leher.
b. Breathing
Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang
baik.Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk
pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh. Ventilasi
yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan
diafragma. Dada klien harus dibuka untuk melihat pernafasan yang baik.
Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru.
Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga
pleura.Inspeksi dan palpasi dapat mengetahui kelainan dinding dada yang
mungkin mengganggu ventilasi. Evaluasi kesulitan pernafasan karena
edema pada klien cedera wajah dan leher. Perlukaan yang mengakibatkan
gangguan ventilasi yang berat adalah tension pneumothoraks, flail chest
dengan kontusio paru, open pneumothoraks dan hemathotoraks massif.
Jika terjadi hal yang demikian siapkan klien untuk intubasi trakea atau
trakeostomi sesuai indikasi.
c. Circulation
Control pendarahan vena dengan menekan langsung sisi area
perdarahan bersamaan dengan tekanan jari pada arteri paling dekat dengan
area perdarahan. Kaji tanda-tanda syok yaitu penurunan tekanan darah,
kulit dingin, lembab dan nadi halus.Darah yang keluar berkaitan dengan
fraktur femur dan pelvis. Pertahankan tekanan darah dengan infuse IV,
plasma. Berikan transfuse untuk terapi komponen darah sesuai ketentuan
setelah tersedia darah. Berikan oksigen karena obstruksi jantung paru
menyebabkan penurunan suplai oksigen pada jaringan menyebabkan
kolaps sirkulsi. Pembebatan ekstremitas dan pengendalian nyeri penting
dalam mengatasi syok yang menyertai fraktur.
d. Disability/evaluasi neurologis
Dievalusai keadaan neurologisnya secara cepat, yaitu tingkat
kesadaran ukuran dan reaksi pupil.Penurunan kesadaran dapat disebabkan
penurunan oksigen atau penurunan perfusi ke otak atau perlukaan pada
otak. Perubahan kesadaran menuntutu dilakukannya pemeriksaan terhadap
keadaan ventilasi, perfusi dan oksigenasi.
e. Exporsure/ control lingkungan
Pada saat tiba di RS, seluruh pakaian yang dikenakan klien harus
dibuka, untuk mengevaluasi klien. Setelah pakaian dibuka, penting untuk
menjaga klien agar tidak kedinginan, harus diberikan selimut hangat dan
diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. Pemeriksaan
tambahan pada pasien dengan trauma muskuloskeletal seperti fraktur
adalah imobilisasi patah tulang dan pemeriksaan radiologi
f. Imobilisasi Fraktur
Tujuan Imobilisasi fraktur adalah meluruskan ekstrimitas yang
cedera dalam posisi anatomis mungkin dan mencegah gerakan yang
berlebihan pada daerah fraktur.hal ini akan tercapai dengan melakukan
traksi untuk meluruskan ekstrimitas dan dipertahankan dengan alat
imobilisasi. pemakaian bidai yang benar akan membantumenghentikan
pendarahan, mengurangi nyeri, dan mencegah kerusakan jaringan lunak
lebih lanjut. Imobilisasi harus mencakup sendi diatas dan di bawah fraktur.
Fraktur femur dilakukan imobilisasi sementara dengan traction splint.
Tractionsplint menarik bagian distal dari pergelangan kaki atau melalui
kulit. Di proksimaltraction splint didorong ke pangkal paha melalui ring
yang menekan bokong, perineum dan pangkal paha. Cara paling sederhana
dalam membidai tungkai yang trauma adalah dengan tungkai sebelahnya.
Pada cedera lutut pemakaian long leg splint atau gips dapat membantu
kenyamanan dan stabilitas. Tungkai tidak boleh dilakukan imobilisasi
dalam ekstensi penuh. Fraktur tibia sebaiknya dilakukan imobilisasi
dengan cardboard atau metal gutter, long leg splint.jika tersedia dapat
dipasang gips dengan imobilisasi meliputitungkai bawah, lutut, dan
pergelangan kaki.
h. Pemeriksaan Radiologi
Umumnya pemeriksaan radiologis pada trauma skeletal merupakan
bagian dari survey sekunder.jenis dan saat pemeriksaan radiologis yang
akan dilakukan ditentukan oleh hasil pemeriksaan, tanda klinis, keadaan
hemodinamik, sertamekanisme trauma. foto pelvis AP perlu dilakukan
sedini mungkin pada pasienmultitrauma tanpa kelainan hemodinamik dan
pada pasien dengan sumberpendarahan yang belum dapat ditentukan.

2. Pengkajian Sekunder
a. Kaji riwayat trauma, mengetahui riwayat trauma, karena penampilan
luka kadang tidak sesuai dengan parahnya cidera, jika ada saksi
seseorang dapat menceritakan kejadiannya sementara petugas
melakukan pemeriksaan klien.
b. Kaji seluruh tubuh dengan pemeriksaan fisik dari kepala sampai kaku
secara sistematis, inspeksi adanya laserasi bengkak dan deformitas.
c. Kaji kemungkinan adanya fraktur multiple:
1) Trauma pada tungkai akibat jatuh dari ketinggian sering disertai
dengan trauma pada lumbal
2) Trauma pada lutut saat pasien jatuh dengan posisi duduk dapat
disertai dengan trauma panggul
3) Trauma lengan sering menyebabkan trauma pada siku sehingga
lengan dan siku harus dievakuasi bersamaan.
4) Trauma proksimal fibula dan lutut sering menyebabkan trauma
pada tungkai bawah.
d. Kaji adanya nyeri pada area fraktur dan dislokasi
e. Kaji adanya krepitasi pada area fraktur
f. Kaji adanya perdarahan dan syok terutama pada fraktur pelvis dan
femur.
g. Kaji adanya sindrom kompartemen, fraktur terbuka, tertutup dapat
menyebabkan perdarahan atau hematoma pada daerah yang tertutup
sehingga menyebabkan penekanan saraf.
h. Kaji TTV secara continue.

B. DIAGNOSA
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik dan psikologi (spasme
otot, gerakan fragmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat
traksi/imobilisasi, stress)
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neurovaskuler dan
muskuloskeletal, nyeri.
3. Gangguan integritas jaringan kulit/jaringan berhubungan dengan perubahan
sensasi, perubahan sirkulasi, faktor mekanik (penekanan pada tonjolan
tulang, gesekan)
4. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya port the entry kuman (luka
terbuka), prosedur invasif.
5. Risiko jatuh berhubungan dengan kekuatan otot menurun, kerusakan
mobilitas fisik
6. Risiko syok berhubungan dengan kekurangan volume cairan
7. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri
dan/atau vena
C. RENCANA KEPERAWATAN (SLKI & SIKI)
No Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
1 Nyeri akut berhubungan Setelah diberikan asuhan Manajemen nyeri
dengan agen pencedera keperawatan selama ....jam 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
fisik dan psikologi diharapkan tingkat nyeri menurun nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
(spasme otot, gerakan dengan kriteria hasil
3. Identifikasi respons nyeri non verbal
fragmen tulang, edema, a. Keluhan nyeri menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
5. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri
dan cedera pada jaringan b. Gelisah menurun
6. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
lunak, alat c. Meringis menurun 7. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
8. Jelaskan strategi meredakan nyeri
traksi/imobilisasi, stress) d. Frekuensi nadi membaik
Pemberian analgesik
e. Tekanan darah membaik
1. Identifikasi karakteristik nyeri
2. Identifikasi riwayat alergi obat
3. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik
4. Monitor efektifitas analgesik
5. Tetapkan target analgesik untuk mengoptimalkan respons pasien
6. Jelaskan efekterapi dan efek samping obat
2 Gangguan mobilitas fisik Setelah diberikan asuhan Dukungan Mobilisasi
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
berhubungan dengan keperawatan selama ....jam
2. Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
gangguan neurovaskuler diharapkan mobilitas fisik 3. Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi
4. Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. pagar tempat
dan muskuloskeletal, meningkat dengan kriteria hasil
tidur)
nyeri. a. Pergerakan ekstremitas
meningkat 5. Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
6. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
b. Kekuatan otot meningkat
7. Anjurkan melakukan mobilisasi dini
c. Rentang gerak (ROM) Pembidaian
1. Identifikasi kebutuhan dilakukan pembidaian
meningkat
2. Monitor adanya perdarahan pada area cedera
d. Nyeri menurun 3. Minimalkan pergerakan, terutama pada bagian yang cedera
4. Berikan bantalan (padding) pada bidai
e. Kelemahan fisik menurun
5. Imobilisasi sendi di atas dan di bawah area cedera
3 Gangguan integritas Setelah diberikan asuhan Perawatan Luka
1. Monitor karakteristik luka (mis. drainase, warna, ukuran, bau)
jaringan kulit/jaringan keperawatan selama ....jam
2. Monitor tanda-tanda infeksi
berhubungan dengan diharapkan integritas kulit dan 3. Kolaborasi prosedur debridement (mis. enzimatik, biologis, mekanis,
perubahan sensasi, jaringan meningkat dengan kriteria autolitik) jika perlu
4. Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu
perubahan sirkulasi, faktor hasil
mekanik (penekanan pada a. Kerusakan jaringan menurun
tonjolan tulang, gesekan) b. Kerusakan lapisa kulit menurun
c. Sensasi membaik tekstur
membaik
4 Risiko infeksi Setelah diberikan asuhan Pencegahan infeksi
1. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
berhubungan dengan keperawatan selama ....jam
2. Batasi jumlah pengunjung
adanya port the entry diharapkan tingkat infeksi menurun 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
kuman (luka terbuka), dengan kriteria hasil lingkungan pasien
4. Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi
prosedur invasif. a. Demam tidak ada 5. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
6. Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
b. Kemeraha tidak ada
c. Bengkak tidak ada
d. Kadar sel darah putih membaik
5 Risiko jatuh berhubungan Setelah diberikan asuhan Pencegahan jatuh
dengan kekuatan otot keperawatan selama ....jam 1. Identifikasi faktor risiko jatuh
2. Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan faktor jatuh
menurun, kerusakan diharapkan tingkat jatuh menurun
3. Monitor kemampuan berpindah dari tempat tidur ke kursi roda dan
mobilitas fisik dengan kriteria hasil
sebaliknya
a. Jatuh dari tempat tidur menurun 4. Pastikan roda tempat tidur da kursi roda selalu dalam kondisi
b. Jatuh saat berjalan menurun terkunci
5. Pasang handrail tempat tidur
c. Jatuh saat berdiri menurun
6. Atur tempat tidur mekanis pada posisi terendah
7. Tempatkan pasien dekat dengan pamantauan perawat
6 Risiko syok berhubungan Setelah diberikan asuhan Pemantauan Cairan
1. Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
denga kekurangan volume keperawatan selama ....jam
2. Monitor frekuensi napas
cairan diharapkan tingkat syok menurun 3. Monitor tekanan darah
4. Monitor elastisitas atau turgor kulit
dengan kriteria hasil
5. Identifikasi tanda-tanda hipovolemia
a. Kekuatan nadi meningkat 6. Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan cairan
Pencegahan syok
b. Tingkat kesadaran meningkat
1. Monitor status oksigenasi (oksimetri, AGD)
c. Akral dingin menurun 2. Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil
3. Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%
d. Pucat menurun
e. Tekanan darah membaik 4. Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu
5. Jelaskan tanda dan gejala syok
f. Tekanan nadi membaik
6. Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda dan gejala awal
g. Pengisian kaliper membaik
syok
h. Frekuensi nadi membaik 7. Kolaborasi pemberian IV, jika perlu
i. Frekuensi nadi membaik
j. Frekuensi napas membaik
7 Perfusi perifer tidak efektif Setelah diberikan asuhan Manajemen Sensasi Perifer
1. Identifikasi penyebab perubahan sensasi
berhubungan dengan keperawatan selama ....jam
2. Monitor perubahan kulit
penurunan aliran arteri diharapkan perfusi perifer 3. Monitor adanya tromboflebitis dan tromboemboli vena
4. Kolaborasi pemberian analgesik, jika perlu
dan/atau vena meningkat dengan kriteria hasil
Perawatan Emboli Perifer
a. Denyut nadi perifer meningkat 1. Periksa sirkulasi perifer secara menyeluruh (mis. pulsasi perifer,
b. Sensasi meningkat edema, pengisian kapiler, warna dan suhu ekstremitas)
2. Monitor nyeri pada area yang tertekan
c. Warna kulit pucat menurun
3. Monitor tanda-tanda penurunan sirkulasi vena (mis. peningkatan
d. Pengisian kapiler membaik
lingkar ekstremitas, bengkak dan nyeri tekan, peningkatan nyeri pada
e. Akral membaik
posisi tergantung, perubahan warna kulit, demam)
f. Turgor kulit membaik 4. Lakukan rentang gerak aktif atau pasif
5. Ubah posisi setiap 2 jam
6. Jelaskan mekanisme terjadinya emboli perifer
7. Ajarkan cara mencegah emobi perifer (mis. minum banyak cairan)
DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham. 2012. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta :
Widya Medika.

Dudley, Hugh AF. 2011. Ilmu Bedah Gawat Darurat. Edisi II, FKUGM.

Henderson, M.A. 2012. Ilmu Bedah untuk Perawat. Yogyakarta : Yayasan


Essentia Medika,

Hudak and Gallo. 2014. Keperawatan Kritis, Volume I. Jakarta : EGC

Price A S, Wilson. 2006. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses penyakit


Edisi Vol. 2. Jakarta: EGC.

Rasjad Chaeruddin. (2007). Ilmu Bedah Ortopedi.: Makassar: bintang


Lamumpatue

Sjamsuhidajat, R., & Wim de jong. (2011). Buku Ajar Ilmu Bedah (3rd ed.).
Jakarta: EGC

Suratun. (2008). Klien Gangguan sistem Muuskuloskeletal. Seri Asuhan


Keperawatan. Jakarta: EGC.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah


Brunner & Suddarth (12th ed.). Jakarta: EGC