Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH AGROKLIMATOLOGI

IKLIM DI INDONESIA

Dosen Pengampu :

Ir. ZURHALENA, M.P.

Disusun oleh :

Rizki Darmawi (D1A018159)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Swt yang mana berkat rahmat
dan karunia-Nya , penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “Iklim
Indonesia” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi
kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita jalan yang lurus berupa
ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi
seluruh alam semesta.

Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang


menjadi tugas Agroklimatologi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada segala pihak yang membantu dalam membuat makalah ini dari mulai
sampai dengan terealisasikannya makalah ini. Selain itu, penulis minta maaf jika
dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan dan kata yang tidak baik. Dan
berharap, semoga makalah ini dapat memberikan motivasi dan ilmu yang
bermanfaat bagi pembaca.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga makalah ini dapat


bermanfaat dan sekiranya pembaca dapat memberi kritik dan saran yang
membangun untuk perbaikan makalah berikutnya.

Jambi, 23 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 2

1.3 Tujuan Masalah ...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

2.1 Pengertian Iklim ..................................................................................... 3

2.2 Unsur iklim dan klisifikasi iklim ........................................................... 4

2.3 dampak perubahan iklim di Indonesia terhadap pertanian .............. 8

2.4 keuntungan dan kerugian iklim Indonesia ........................................ 10

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 11

3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA

ii
2

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Iklim mengandung pengertian kebiasaan cuaca yang terjadi di suatu


tempat atau daerah, dan juga memberi pengertian bahwa iklim adalah ciri
kecuacaan suatu tempat atau daerah, dan bukan cuaca rata-rata. Oleh karena
itu, tidak mungkin kita mengatakan iklim hari ini, iklim besok pagi, iklim
minggu depan, dst.; tetapi kita dapat mengatakan iklim zaman dahulu, iklim
selama ini, iklim di waktu mendatang. Jadi, iklim berkaitan dengan periode
waktu panjang tidak tentu. Ciri kecuacaan suatu tempat atau daerah
ditetapkan berdasarkan kriteria keseringan atau probabilitas nilai-nilai satu
atau lebih unsur iklim yang ditetapkan, misalnya: hujan, suhu, suhu dan
hujan, suhu dan angin, hujan dan penguapan. Setiap daerah mempunyai iklim
yang berbeda. Perbedaan tersebut karena bumi berbentuk bulat sehingga sinar
matahari tidak dapat diterima serbasama oleh setiap permukaan bumi. Selain
itu, permukaan bumi yang beraneka ragan jenisnya dan beraneka ragam
bentuk topografinya tidak sama caranya menanggapi sinaran matahari yang
diterimanya.
Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi
tentang iklim dipelajari dalam meteorologi. Iklim di bumi sangat dipengaruhi
oleh posisi matahari terhadap bumi. Terdapat beberapa klasifikasi iklim di
bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis. Secara umum kita dapat
menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah dan lintang tinggi. Ilmu
yang mempelajari tentang iklim adalah klimatologi.Perubahan iklim global
merupakan malapetaka yang akan datang. Kita telah mengetahui sebabnya –
yaitu manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal
dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi.
2

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan iklim?
2. Apa saja unsur-unsur iklim dan klisifikasi iklim?
3. Bagaimna dampak perubahan iklim di Indonesia terhadap pertanian?
4. Apa keuntungan dan kerugian iklim Indonesia?

1.3 Tujuan Masalah


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan iklim.
2. Untuk mengetahui Apa saja unsur-unsur iklim dan klisifikasi iklim?
3. Untuk mengetahui bagaimna dampak perubahan iklim di Indonesia
terhadap pertanian.
4. Untuk mengetahui apa keuntungan dan kerugian iklim Indonesia.
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Iklim

Indonesia berada di daerah katulistiwa yang dikenal sebagai benua


maritim. Karakteristik dari unsur-unsur meteorologi khususnya curah hujan di
atas wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim monsun yakni
adanya perbedaan musim basah dan musim kering yang jelas. Tingginya
variabilitas iklim, pergeseran awal musim dan adanya fenomena iklim
ekstrim merupakan indikator terjadinya perubahan iklim akibat pemanasan
global. IPCC mendifinisikan perubahan iklim sebagai perubahan rata-rata dan
atau variabilitas faktor-faktor yang berkaitan dengan iklim dan berlaku untuk
satu periode yang panjang, umumnya puluhan tahun atau lebih. Perubahan
iklim secara statistik didefinisikan sebagai perubahan kecenderungan baik
naik atau turun dari unsur – unsur iklim yang disertai keragaman harian,
musiman maupun siklus yang tetap berlaku untuk satu periode yang panjang.
Perubahan iklim diukur berdasarkan perubahan komponen utama iklim, yaitu
suhu atau temperatur, musim (hujan dan kemarau), kelembaban dan angin.
Dari variabel-variabel tersebut variabel yang paling banyak dikemukakan
adalah suhu dan curah hujan (BMKG,2011).

Wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim monsun yang


mempunyai perbedaan yang jelas antara musim basah dan musim
kering.Variabilitas iklim dan adanya fenomena iklim ekstrim yang sering
terjadi akhir akhir ini menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Perubahan
iklim ditandai adanya perubahan pola curah hujan yang menyebabkan
terjadinya pergeseran awal musim tanam sehingga sulit membuat
perencanaan budidaya tanaman (Susilokarti, et al. 2015). Iklim merupakan
gabungan berbagai kondisi cuaca sehari-hari atau dikatakan iklim merupakan
rerata cuaca. Iklim yang terdapat di suatu daerah atau wilayah tidak dapat
dibatasi hanya oleh satu analisir iklim tetapi merupakan kombinasi berbagai
anasir iklim ataupun cuaca. Untuk mencari harga rerata tergantung pada

3
4

kebutuhan dan keadaan. Hal yang penting adalah; untuk mengetahui


penyimpangan-penyimpangan iklim harus berdasarkan pada harga normal,
yaitu harga rerata cuaca selama 30 tahun. Angka 30 tahun merupakan
persetujuan internasional.

Iklim suatu daerah disusun oleh unsur-unsur yang variasinya besar,


sehingga hampir tidak mungkin dua tempat yang berbeda mempunyai iklim
yang identik. Sebetulnya tidak terbatas jumlah iklim di permukaan bumi ini
yang memerlukan penggolongan dalam suatu kelas atau tipe. Perlu diketahui
bahwa semua klasifikasi yang ada merupakan buatan manusia sehingga
masing-masing ada kebaikannya dan keburukannya. Satu hal yang penting
adalah persamaan tujuan yaitu berusaha untuk menyederhanakan jumlah
iklim lokal yang tidak terbatas jumlahnya, menjadi golongan yang jumlahnya
relatif sedikit yaitu kelas-kelas yang mempunyai sifat yang penting dan
bersamaan.

2.2 Unsur iklim dan klisifikasi iklim


a. Unsur iklim

1. Penyinaran Matahari

Matahari yaitu sebuah pengatur iklim di bumi yang sangat penting dan
menjadi sumber energi yang paling utama di bumi. Energi matahari ini
dipancarkan ke semua arah dalam bentuk sebuah gelombang elektromagnetik.
Penyinaran Matahari ke Bumi ini dipengaruhi oleh sebuah kondisi awan dan
perbedaan sudut datangnya sinar matahari.

2. Suhu Udara

Suhu udara yaitu sebuah keadaan panas atau dinginnya udara yang
memiliki sifat menyebar dan berbeda-beda pada sebuah daerah tertentu.
Persebarannya yang secara horizontal menunjukkan suhu udara tertinggi
terdapat di sebuah daerah tropis garis ekuator (garis khayal ini yang membagi
bumi menjadi sebuah bagian utara dan selatan) dan semakin ke arah kutub
suhu udaranya akan semakin dingin. Sedangkan pada persebaran secara
vertikal menunjukkan, semakin tinggi tempatnya, maka suhu udara akan
semakin dingin. Alat untuk mengukur suatu suhu yaitu dengan termometer.

3. Kelembaban Udara (humidity)


5

Dalam sebuah udara terdapat air karena terjadinya penguapan. Makin tinggi
suhu udara, maka makin akan banyak uap air yang dikandungnya. Hal ini
yang menyebabkan makin lembablah udara tersebut. Jadi, Humidity
yaitu banyaknya uap air yang dikandung oleh udara. Alat pengukurnya yaitu
dengan higrometer.

4. Awan

Adalah kumpulan titik air atau kristal es yang terjadi karena adanya
kondensasi uap air yang terdapat pada atmosfer, awan terjadi karena udara
yang mengandung uap air naik sehingga suhunya turun sampai di bawah titik
embun, awan ini dapat berupa benda padat atau gas.

5.Curah Hujan

Curah hujan yaitu suatu jumlah hujan yang jatuh di sebuah daerah pada kurun
waktu tertentu. Untuk mengetahui besarnya curah hujan digunakan sebuah
alat pengukur curah hujan yaitu dengan penakar hujan (Rain Gauge).
Terjadinya perubahan iklim dikarenakan ada nya sebuah unsur unsur yaitu
penyinaran Matahari, kelembaban udara, suhu udara, per awanan, dan curah
hujan.

6. Tekanan udara

Adalah udara yang mempunyai massa sehingga dapat menekan permukaan


bumi. Alat untuk mengukur tekanan udara disebut barometer. Barometer
ditemukan oleh Torricelli pada tahun 1644, hasil penemuan alat pengukur
tekanan udara yang lain adalah barometer anaroid. Barometer ini mudah
dibawa ke lain tempat dan dapat juga digunakan untuk mengukur tinggi
tempat di atas permukaan air laut. Garis-garis pada peta yang
menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tekanan udara yang sama
disebut Isobar.

b. Klasifikasi Iklim
1. Iklim Matahari

Klasifikasi iklim Matahari didasarkan pada faktor garis lintang.


Perbedaan garis-garis lintang di permukaan Bumi berpengaruh terhadap
jumlah energi sinar matahari yang ditemuinya. Keadaan ini menyebabkan
suhu udara di wilayah lintang rendah (khatulistiwa) lebih panas dibanding
wilayah lintang tinggi (kutub).

2. Iklim Tipe A (Iklim Hujan Tropis)


6

Wilayah beriklim tipe A memiliki curah hujan tinggi, penguapan tinggi


(rata-rata 70 cm3/tahun), dan suhu udara bulanan rata-rata di atas 18° C.
Curah hujan tahunan lebih dari penguapan tahunan, tidak ada musim dingin.
Wilayah beriklim tipe A dikelompokkan menjadi tiga sebagai berikut.

 Iklim tipe Af memiliki suhu udara panas dan curah hujan tinggi sepanjang
tahun. Di wilayah beriklim tipe A terdapat banyak hutan hujan tropik.
Contoh: wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Wilayah beriklim tipe Af
memiliki ciri:

a) hutan sangat lebat dan heterogen (bermacam-macam tanaman);

b) terdapat banyak tumbuhan panjat; serta

c) terdapat jenis tumbuhan seperti pakis, palem, dan anggrek.

 Iklim tipe Am, memiliki suhu udara panas, musim hujan, dan musim kemarau
yang kering. Batas antara musim hujan dan kemarau tegas. Wilayah beriklim
tipe Am antara lain terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan,
dan Papua bagian selatan. Wilayah beriklim tipe Am memiliki ciri:

a) curah hujan tergantung musim;

b) jenis tanaman pendek dan homogen; serta

c) hutan homogen yang menggugurkan daunnya ketika kemarau.

 Iklim tipe Aw, memiliki suhu udara panas, musim hujan, dan musim kemarau
yang lebih panjang dibandingkan dengan musim hujan. Wilayah beriklim tipe
Aw terdapat di wilayah Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Kepulauan Aru, dan Papua bagian selatan.
Wilayah beriklim tipe Aw memiliki ciri:

a) hutan berbentuk sabana (savana);

b) jenis tumbuhan padang rumput dan semak belukar; dan

c) pohonnya berjenis rendah.


7

3. Iklim Tipe B (Iklim Kering)

Ciri Iklim tipe B adalah penguapan tinggi dengan curah hujan rendah
(rata-rata 25,5 mm/tahun) sehingga sepanjang tahun penguapan lebih besar
daripada curah hujan. Tidak terdapat surplus air. Di wilayah beriklim tipe B
tidak terdapat sungai yang permanen. Wilayah beriklim tipe B dibedakan
menjadi tipe Bs (iklim stepa) dan tipe Bw (iklim gurun).

4. Iklim Tipe C (Iklim Sedang Hangat)

Iklim tipe C mengalami empat musim, yaitu musim dingin, semi, gugur,
dan panas. Suhu udara rata-rata bulan terdingin adalah (–3)°C – (–8)°C.
Terdapat paling sedikit satu bulan yang bersuhu udara rata-rata 10° C. Iklim
tipe C dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut.

 Iklim tipe Cw, yaitu iklim sedang basah (humid mesothermal) dengan
musim dingin yang kering.
 Iklim tipe Cs, yaitu iklim sedang basah dengan musim panas yang kering.
 Iklim tipe Cf, yaitu iklim sedang basah dengan hujan dalam semua bulan.
5. Iklim Tipe D (Iklim Salju Dingin)

Iklim tipe D merupakan iklim hutan salju dengan suhu udara rata-rata
bulan terdingin < –3° C dan suhu udara rata-rata bulan terpanas > 10° C.
Iklim tipe D dibedakan menjadi dua:

 Iklim tipe Df, yaitu iklim hutan salju dingin dengan semua bulan lembap.
 Wilayah beriklim tipe Dw, yaitu iklim hutan salju dingin dengan musim
dingin yang kering.
6. Iklim Tipe E (Iklim Kutub)

Wilayah beriklim tipe E mempunyai ciri tidak mengenal musim panas,


terdapat salju abadi dan padang lumut. Suhu udara tidak pernah melebihi 10°
C. Wilayah beriklim tipe E dibedakan atas tipe Et (iklim tundra) dan tipe Ef
(iklim kutub dengan salju abadi). Iklim tipe E terdapat di daerah Arktik dan
Antartika.
8

2.3 dampak perubahan iklim di Indonesia terhadap pertanian

Dampak perubahan iklim terhadap sistem pertanian jelas terlihat


sekarang ini. Laporan ADB Tahun 2009 bahwa negara-negara di kawasan
Asia Tenggara telah menderita kerugian parah akibat perubahan iklim dengan
biaya rata-rata perubahan iklim yang setara dengan 6,7 persen dari PDB
setiap tahunnya terutama di Negara Filipina, Indonesia, Thailand dan
Vietnam, jika dilakukan skenario penanganan biasa. Negara Filipina,
Indonesia, Vietnam dan Thailand diperkirakan akan mengalami penurunan
hasil padi sekitar 50% pada 2100 dibandingkan dengan tahun 1990 rata-rata
dengan asumsi tidak ada perbaikan sarana teknis akan menurunkan produksi
34% di Indonesia dan 75% di Filipina, dan mulai tahun 2020 akan terjadi
hampir di semua Negara. Indonesia sebagai Negara dengan perekonomian
terbesar di Asia Tenggara akan paling menderita akibat perubahan iklim
terutama kekeringan dan banjir, karena fenomena ini akan menurunkan
produksi pangan dan kapasitas produksi. Produk Domestik Bruto, PDB,
Indonesia, 15% merupakan sumbangan dari sektor pertanian dimana 41% dari
angkatan kerja tergantung dari sektor pertanian. Indonesia akan memiliki
masalah serius akibat perubahan iklim jika tidak segera dilakukan
penanganan teknis maupun non teknis melalui kebijakan yang dilakukan.
Hasil kajian FAO (2005) menunjukkan variabilitas dan perubahan iklim
mempengaruhi 11% lahan pertanian di negara-negara berkembang yang dapat
mengurangi produksi bahan pangan dan menurunkan Produk Domesik Bruto
(PDB) sampai 16%.

Indonesia memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau
yang bagi satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama baik dalam
saat terjadinya maupun lama kejadiannya. Hal ini antara lain tergantung pada
letak geografis daerah yang bersangkutan. Daerah Indonesia bagian barat
lebih banyak mendapat pengaruh dari Asia pada musim hujan, sedang daerah
Indonesia bagian timur lebih banyak mendapat pengaruh dari Australia pada
musim kemarau. Hal ini termasuk daerah atau wilayah Sulawesi Utara.
Dalam dasawarsa terakhir ini wilayah Sulawesi Utara mengalami perubahan
9

iklim yang cukup signifikan dari keadaan sebelumnya. Hal ini


mengakibatkan berbagai masalah dan kerugian usaha tani. Contohnya musim
tanam sudah tiba tetapi hujan tidak turun mengakibatkan bibit rusak,
pengolahan lahan berulang atau bibit yang sudah ditanam mengalami
kekeringan yang menimbulkan kerugian cukup besar, ataupun hujan yang
berlangsung di atas normal yang mengakibatkan penggenangan lahan
pertanian. Gangguan terhadap sistem pertanian terkait dengan tiga faktor
utama, yaitu: faktor biofisik, genetik, dan manajemen. Kejadian iklim ekstrim
antara lain menyebabkan: (a) kegagalan panen dan tanaman, penurunan
indeks pertanaman yang berujung pada penurunan produktivitas dan
produksi; (b) kerusakan sumber daya lahan pertanian; (c) peningkatan
frekuensi, luas, dan intensitas kekeringan; (d) peningkatan kelembaban; dan
(e) peningkatan intensitas gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
(Las et al., 2008a). Dalam sistem pertanian dampak perubahan iklim
merupakan resultante antara perubahan luas tanam dan panen dengan
produktivitas. Kekeringan dan banjir berdampak terhadap produksi melalui
luas areal panen, serangan OPT, pertumbuhan dan produktivitas tanaman. El-
Nino dan kekeringan berdampak lebih dominan terhadap penurunan luas areal
panen seluruh komoditas dibanding terhadap penurunan produtivitas. Rata-
rata untuk tingkat nasional penurunan luas areal panen seluruh komoditas
pangan 0,25-11.25%, sedangkan produktivitas mengalami penurunan 0,08-
2,27%. Sedangkan La-Nina dan kebanjiran menyebabkan penurunan
produktivitas hampir seluruh komoditas, tetapi tidak terhadap luas areal
panen. Kalau dibandingkan secara nasional Sulawesi Utara tidak mengalami
dampak El-Nino (menurunnya produksi pangan), sedangkan dampak El-Nino
tertinggi terjadi di Provinsi Lampung (7,5%) disusul Kalimantan Timur
(7,3%), Sumatera Selatan(5,4%), dan Jawa Tengah (4,9%). Dampak La-Nina
terhadap produksi pangan masing-masing wilayah jauh lebih beragam, untuk
Sulawesi Utara belum ada data mengenai dampak dari terjadinya La-Nina.
Data nasional menunjukkan bahwa pada tahun El Niño, luas tanaman padi
yang terkena kekeringan berkisar antara 300-850 ribu ha. Pada tahun La Niña,
luas tanaman padi yang terkena banjir berkisar antara 200-350 ribu Ha.
10

Kerusakan tanaman padi akibat kekeringan lebih parah karena


berlangsung pada daerah yang lebih luas dan waktu yang lebih lama.
Sebaliknya, banjir mempunyai karakterisik kejadian yang lebih lokal dengan
waktu kejadian yang lebih pendek.

2.4 keuntungan dan kerugian iklim Indonesia


 Keuntungan

Indonesia sangat diuntungkan dengan iklim tropisnya. Bagai permata dunia,


banyak negara yangiri dengan apa yang kita miliki. Matahari menyinari selama
kurang lebih 12 jam per harinya.Ribuan jenis flora dan fauna dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik di negara tercinta ini.Berbagai macam jenis kayu yang
dapat kita manfaatkan dengan bijak, salah satunya untuk material bangun rumah.
Selain itu jenis material lain juga sangat beragam, sehinggamemudahkan kita untuk
menciptakan hunian yang nyaman, sesuai keinginan, dan tentunyamenarik dari segi
fasanya. Dengan adanya sinar matahari yang cukup banyak dapat kita
terima,sebenarnya dapat kita manfaatkan secara maksimal untuk sumber
pencahayaan alami dalam bangunan sehingga kita dapat menghemat pemakaian
listrik. Tetapi apabila tidak di rencanakandengan baik, bukan tidak mungkin sumber
pencahayaan alami yang paling utama ini dapatmerepotkan anda. Salah satu yang
merepotkan dalam rumah adalah silau. Silau ini dapatdiakibatkan oleh pantulan sinar
matahari yang menimpa material bangunan yang memilikitingkat reflektifitas cukup
tinggi, misalnya keramik, marmer, air.

 Kerugian

Terjadinya bencana yang sering terjadi di Indonesia akibat perubahan iklim.


Contohnya sepertimusim hujan tanpa henti mengakibatkan banjir pada perkotaan dan
tanah lonsor pada lerengyang gundul. Bila terjadi musim kemarau berkepanjangan
maka terjadi kekeringan pada suatudaerah. Yang lebih penting tentang perubahan
iklim yang mengakibatkan pemanasan global danmencairnya es di kutub yang
mengakibatkan pulau-pulau kecil tenggelam.
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Iklim merupakan gabungan berbagai kondisi cuaca sehari-hari atau


dikatakan iklim merupakan rerata cuaca. Iklim yang terdapat di suatu daerah
atau wilayah tidak dapat dibatasi hanya oleh satu analisir iklim tetapi
merupakan kombinasi berbagai anasir iklim ataupun cuaca. Untuk mencari
harga rerata tergantung pada kebutuhan dan keadaan. Hal yang penting
adalah; untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan iklim harus
berdasarkan pada harga normal, yaitu harga rerata cuaca selama 30 tahun.
Angka 30 tahun merupakan persetujuan internasional.

Indonesia merupakan negara agraris, tentu ada keterkaitannya dengan


bidang pertanian diIndonesia. Selain itu, sekitar 70% penduduk Indonesia
bekerja di sektor pertanian. Begitu halnyaiklim sangat berpengaruh pada
pertanian. Pertanian sangat penting mengingat setiap jenistanaman pada
berbagai tingkat pertumbuhan yang memerlukan kondisi iklim yang berbeda-
beda.Dengan memperhatikan unsur-unsur iklim kita dapat memperkirakan
tanaman yang cocok dengan keadaan iklim ditempat tersebut karena tanaman
sebagai makhluk hidup tentunya adainteraksi dengan iklim. Oleh sebab itu,
iklim sangat berpengaruh khususnya bagi pertanian diIndonesia. Untuk itu
perhatian dan kerjasama antara para ahli klimatologi atau ahli
meterologidengan ahli pertanian semakin meningkat terutaman dalam rangka
menunjang produksi tanaman pangan di Indonesia.

11
DAFTAR PUSTAKA

BMKG (Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika). (2011). Evaluasi


cuaca dan sifat hujan Bulan Agustus 2011 serta prakiraan cuaca dan sifat hujan
Bulan September 2011. BulletinMetereologi. Badan Metereologi Klimatologi dan
Geofisika Stasiun Metereologi Otorita Batam 1:39 .

http://blog.umy.ac.id/rezaagrisukses/2016/01/03/makalah-iklim/. Di akses
pada 23 september 2019, pukul 20. 30 WIB.

http://klikgeografi.blogspot.com/2015/07/klasifikasi-iklim-lengkap-
koppen.html. Di akses pada 23 september 2019, pukul 21. 40 WIB.

https://manadopostonline.com/read/2017/08/03/Dampak-Perubahan-Iklim-
Terhadap-Sistem-Pertanian/25377. Di akses pada 23 september 2019, pukul 22.
00 WIB.

https://www.gurupendidikan.co.id/iklim-adalah/. Di akses pada 23 september


2019, pukul 21. 00 WIB

Susilokarti ,Dyah, S S Arif, S Susanto dan L Sutiarso. 2015. Identifikasi


Perubahan Iklim Berdasarkan Data Curah Hujan di Wilayah Selatan Jatiluhur
Kabupaten Subang, Jawa Barat. AGRITECH, Vol. 35, No. 1 : 98-105.

Wirjohamidjojo, Soerjadi dan Y Swarinoto. 2010. Iklim kawasan Indonesia


(dari Aspek Dinamik-Sinopatik). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Jakarta.

11