Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Oleh

KUSNIA ALVIONITA

D4 KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
D4 KEPERAWATAN MALANG
I. KONSEP DASAR

1. Definisi

Fraktur adalah rusaknya kontinuitas dari struktur tulang, tulang rawan dan
lempeng pertumbuhan yang disebabkan oleh trauma dan non trauma. Tidak
hanya keretakan atau terpisahnya korteks, kejadian fraktur lebih sering
mengakibatkan kerusakan yang komplit dan fragmen tulang terpisah.
Tulang relatif rapuh, namun memiliki kekuatan dan kelenturan untuk
menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh cedera, stres yang
berulang, kelemahan tulang yang abnormal atau disebut juga fraktur
patologis (Solomon et al., 2010).

Fraktur adalah terputusnya tulang dan ditentukan sesuai dengan jenis dan
luasnya (Brunner & Suddarth, 2001 dalam Wijaya & Putri, 2013 : 235).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 dalam
Jitowiyono & Kristiyanasari, 2012 : 15). Fraktur didefinisikan sebagai suatu
kerusakan morfologi pada kontinuitas tulang atau bagian tulang, seperti
lempeng epifisisatau kartilago (Chang, 2010 : 371).
2. Etiologi
a. Cedera Traumatik
Cedera traumatic pada tulang dapat disebabkan oleh :
- Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga
tulang patah seacara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan
fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
- Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.
- Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot
yang kuat.
b. Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana
dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, seperti :
- Tumor tulang (jinak atau ganas), yaitu pertumbuhan jaringan baru
yang tidak terkendali atau progresif.
- Infeksi seperti mosteomyelitis, dapat terjadi sebagai akibat infeksi
akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif,
lambat dan sakit nyeri.
- Rakhitis, suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi
Vitamin D.
- Stress tulang seperti pada penyakit polio dan orang yang bertugas di
kemiliteran (Sachdeva, 2000 dalam Kristiyanasari,2012 :16).

3. Klasifikasi Fraktur
Secara klinis, fraktur dibagi menurut ada tidaknya hubungan patahan tulang
dengan dunia luar, yaitu fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Fraktur tulang
terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya
luka dan fraktur yang terjadi, seperti yang dijelaskan pada tabel 1.
Derajat Luka Fraktur
I Laserasi <1 cm kerusakan Sederhana, dislokasi
jaringan tidak berarti relative fragen minimal
bersih
II Laserasi >1 cm tidak ada Dislokasi fragmen
kerusakan jaringan yang hebat jelas
atau avulsi, ada kontaminasi
III Luka lebar dan rusak hebat atau Kominutif, segmental,
hilangnya jaringan di sekitarnya. fragmen tulang ada
Kontaminasi hebat yang hilang
(Sumber : Sjamsuhidayat & Jong, 2010)
Fraktur sangat bervariasi dari segi klinis, namun untuk alasan praktis,
fraktur dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :
a. Complete fractures
Tulang terbagi menjadi dua atau lebih fragmen. Patahan fraktur yang
dilihat secara radiologi dapat membantu untuk memprediksi tindakan
yang harus dilakukan setelah melakukan reduksi. Pada fraktur
transversal (gambar 1a), fragmen tetap pada tempatnya setelah reduksi,
sedangkan pada oblik atau spiral (gambar 1c) lebih cenderung
memendek dan terjadi pergeseran meskipun tulang telah dibidai.
Fraktur segmental (gambar 1b) membagi tulang menjadi 3 bagian. Pada
fraktur impaksi fragmen menumpuk saling tumpang tindih dan garis
fraktur tidak jelas. Pada raktur kominutif terdapat lebih dari dua
fragmen, karena kurang menyatunya permukaan fraktur yang membuat
tidak stabil (Solomon et al., 2010).

b. Incomplete fractures
Pada fraktur ini, tulang tidak terbagi seutuhnya dan terdapat kontinuitas
periosteum. Pada fraktur buckle, bagian yang mengalami fraktur hampir
tidak terlihat (gambar 1d). Pada fraktur greenstick (gambar 1e dan 1f),
tulang melengkung atau bengkok seperti ranting yang retak. Hal ini
dapat terlihat pada anak‒anak, yang tulangnya lebih elastis daripada
orang dewasa. Pada fraktur kompresi terlihat tulang spongiosa tertekan
kedalam (Solomon et al., 2010).
4. Anatomi Fisiologi
Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major
dan minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga berbentuk
seperti bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari tulang coxae
membentuk articulation coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang
disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput.
Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen
ini dan memasuki tulang pada fovea.17 Bagian collum, yang
menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, belakang,
lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat, pada wanita sedikit
lebih kecil dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu
diingat karena dapat berubah karena penyakit. Trochanter major dan minor
merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang
menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan
dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan
padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya
berbentuk cembung ke arah depan. Berbentuk licin dan bulat pada
permukaan anteriornya, pada bagian belakangnya terdapat linea aspera,
tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. Tepian medial berlanjut
ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum
adductorum pada condylus medialis. Tepian lateral menyatu ke bawah
dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan postertior batang
femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke
bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar kearah
ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permnukaan
posteriornya, disebut fascia poplitea.
Ujung bawah femur memilki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian
posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior
condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus
ikut membentuk articulation genu. Di atas condylus terdapat epicondylus
lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung
dengan epicondylus medialis.
Vaskularisasi femur berasal dari arteri iliaka komunis kanan dan
kiri. Saat arteri ini memasuki daerah femur maka disebut sebagai arteri
femoralis. Tiap-tiap arteri femoralis kanan dan kiri akan bercabang menjadi
arteri profunda femoris, ramiarteria sirkumfleksia femoris lateralis asenden,
rami arteria sirkumfleksia femoris lateralis desenden, arteri sirkumfleksia
femoris medialis dan arteria perforantes. Perpanjangan dari arteri femoralis
akan membentuk arteri yang memperdarahi daerah genu dan ekstremitas
inferior yang lebih distal. Aliran balik darah menuju jantung dari bagian
femur dibawa oleh vena femoralis kanan dan kiri.
5. Pathway

Trauma Langsung

Fraktur

Diskontinuitas tulang

Perubahan Jaringan Sekitar

Pergeseran fragmen tulang

Nyeri

Deformitas

Gangguan Mobilitas Fisik

6. Tanda dan Gejala

Menurut Mansjoer, Arif (2014) tanda dan gejala fraktur sebagai berikut :

- Deformitas (perubahan struktur dan bentuk) disebabkan oleh


ketergantungan fungsional otot pada kestabilan otot.
- Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh darah,
berasal dari proses vasodilatasi, eksudasi plasma dan adanya peningkatan
leukosit pada jaringan di sekitar tulang.
- Spasme otot karena tingkat kecacatan, kekuatan otot yang sering disebabkan
karena tulang menekan otot.
- Nyeri karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang meningkat
karena penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur.
- Kurangnya sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan syaraf,
dimana saraf ini dapat terjepit atau terputus oleh fragmen tulang.
- Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidajstabilan tulang,
nyeri, atau spasme otot.
- Pergerakan abnormal
- Krepitasi sering terjadi karena pergerakan bagian fraktur sehingga
menyebabkan kerusakan jaringan sekitarnya.

7. Pemeriksaan Penunjang
1. X-ray : untuk menentukan luas/lokasi fraktur.
2. Scan tulang untuk memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram, dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan
vaskuler.
4. Hitung darah lengkap, homokonsentrasi mungkin meningkat, menurun
pada perdarahan : peningkatan leukosit sebagai respon terhadap
peradangan.
5. Kretinin : trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal.
6. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
tranfusi atau cedera hati (Doengoes, 2000 dalam Wijaya & Putri,2013 :
241).

8. Penatalaksanaan

Whiteing (2008) menjelaskan penatalaksanaan fraktur yang pertama adalah


reduksi untuk mengembalikan posisi fragmen tulang pada kesejajarannya
dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup menggunakan traksi, dan reduksi
terbuka menggunakan tindakan operatif. Langkah kedua adalah imobilisasi
untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisi dan kesejajaran yang
benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan cara
fiksasi interna (plate, screw, nails) dan eksternal. Metode fiksasi eksterna
meliputi pembalutan, gips, bidai, atau fiksator eksterna. Langkah ketiga
adalah rehabilitasi untuk mempertahankan dan mengembalikan fungsi
tulang. Hal ini dilakukan melalui upaya latihan fisioterapi.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian
Data Subjektif Data objektif
- Klien mengatakan nyeri Hasil pemeriksaan tanda-tanda
pada tangan sebelah kiri vital :
tepatnya radius ulna 1/3 a. TD :
proksimal b. RR :
- Ekspresi wajah pasien c. HR :
merintih kesakitan d. Suhu :
- Klien merasakan cemas - Pemeriksaan fisik :
bila nyeri timbul peristaltic usus 3x/menit,
- Ibu pasien mengatakan teraba adanya distensi
bahwa anakanya tidak abdomen
BAB sejak di rujuk ke - Pasien tampak gelisah
Rs.anwar tepatnya - Mobilisasi selalu dibantu
selama satu minggu orang lain
- Ibu klien mengatakan
bahwa klien kesulitan
untuk mobilitas
- Ibu klien mengatakan
bahwa hamper semua
ADL klien di bantu oleh
ibu klien
b. Diagnose Keperawatan
Aktual Resiko
1. 00132 nyeri akut b.d agen 1. 00155 risiko jatuh
cedera fisik (Trauma b.d sakit akut
langsung) d.d ekspresi (fraktur)
wajah tampak merintih
kesakitan, skala nyeri (+)
2. 00011 konstipasi b.d
kurangnya aktivitas harian
d.d peristaltic usus 3x/hari,
distensi abdomen
3. 00085 hambatan mobilitas
fisik b.d gangguan
musculoskeletal d.d selalu
dibantu untuk mobilisasi
c. Rencana Keperawatan
No. Diagnose Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
1. 00132 nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan tindakan - Lakukan - Untuk mengetahi
cedera fisik (Trauma keperawatan selama 3x24 jam pengkajian lokasi nyeri, dan
langsung) d.d ekspresi diharapkan : komprehensif yang menilai tingkat -
wajah tampak merintih 2102 Tingkat nyeri meliputi lokasi, keparahan nyeri
kesakitan, skala nyeri (+) - 210201 nyeri yang karakteristik,
dilaporkan dari skala 2 frekuensi, kualitas,
(cukup berat) intensitas atau
ditingkatkan menjadi 4 beratnya nyeri - Untuk mengetahui
(ringan) - Observasi adanya tanda nyeri bila
- 21024 panjangnya petunjuk nonverbal klien tidak dapat
episode nyeri dari skala mengungkapkannya
2 (cukup berat) - Pastikan pemberian - Untuk mengurangi
ditingkatkan menjadi analgesic rasa sakit akibat
skala 4 (ringan) denganpemantauan nyeri
- 21026 ekspresi wajah yang sangat ketat - Agar pasien dapat
dari skala 1 (berat) mengetahui dampak
nyeri dan mengerti
ditingkatkan menjadi - Berikan informasi dampak dari
skala 3 (sedang) nyeri seperti prosedur yang
penyebabnyeri, diberikan
berapa lama, dan
antisipasi
ketidaknyamanan
akibat prosedur.
2. 00011 konstipasi b.d Setelah dilakukan tindakan - Beri pasien pakaian - Agar klien dapat
kurangnya aktivitas harian keperawatan selama 3x24 jam yang tidak bergerak secara
d.d peristaltic usus 3x/hari, diharapkan : mengekang leluasa
distensi abdomen 0500 kontinensi usus - Dorong untuk - Untuk melatih
- 050008 mengenali duduk di tempat mobilisasi klien
keinginan untuk tidur, di samping - Untuk
defekasi dari skala 1 tempat tidur, atau di mempermudah
(tidak pernah kursi sebagaimana klien dalam
menunjukkan) yang dapat di mobilisasi
ditingkatkan menjadi toleransi oleh klien
skala 3 (kadang - Instruksikan
menunjukan) kesediaan
- 05003 mengeluarkan perangkat untuk
feses paling tidak mendukung
3x/sehari dari skala 1
(tidak pernah
menunjukkan)
ditingkatkan menjadi
skala 3 (kadang
menunjukkan)
- 050009 mereapon
keinginan untuk BAB
secara tepat waktu dari
skala 1 (tidakpernah
menunjukkan)
ditingkatkan menjadi
skala 3 (kadang
menunjukkan)
3 00085 hambatan mobilitas Setelah dilakukan tindakan - Bantu pasien untuk - Untuk
fisik b.d gangguan keperawatan selama 3x24 jam duduk di sisi tempat mempermudah
musculoskeletal d.d selalu di harapkan : tidur untu ambulasi klien di
dibantu untuk mobilisasi 0208 pergerakan memfasilitasi temapt tidur
- Cara berjalan dari skala penyesuaian sikap
1 (sangat terganggu) tubuh
ditingkatkan ke skala 3 - Bantu pasien untuk - Membantu paien
(cukup terganggu) perpindahan, sesuai untuk melakukan
- Gerakan otot dari skala kebutuhan perpindahan
1 (sangat terganggu di - Sediakan alat bantu - Untuk
tingkatkan ke skala 3 (tongkat, walker, mempermudah
(cukup tergangu) atau kursi roda) klien dalam melatih
- Gerakan sendi dari skal untuk ambulasi, jika ambulasi
1 (sangat terganggu) klien tidak stabil
ditingkatkan ke skala 3
(cukup terganggu)
- Bergerak dengan
mudah dari skala 1
(sangat terganggu
ditingkatkan menjadi
skala 3 (cukup
terganggu)
DAFTAR RUJUKAN

Appley, A.G & Solomon. 2010. OrthopedidanFrakturSistemAppley.


Jakarta: WidyaMedika.

Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume II.
Edisi 8. Jakarta: EGC; 2001

Chang, E., Daly, J., dan Elliott, D., 2010, Patofisiologi Aplikasi Pada
Praktik Keperawatan, 112-113, Jakarta, EGC

Mansjoer, A (2000)Kapita Selekta Kedokteran jilid I. Jakarta: Media


Aesculapius.

Sjamsuhidajat & de jong.2010.Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta:EGC