Anda di halaman 1dari 3

Harold D.

Laswell (1984 : 9) berpendapat bahwa kekuasaan secara umum berarti ‘’kemampuan pelaku
untuk memengaruhi tingkah laku pelaku lain sedemikian rupa, sehingga tingkah laku pelaku terakhir
menjadi sesuai dengan keinginan dari pelaku yang mempunyai kekuasaan’’. Sejalan dengan itu,
dinyatakan Robert A. Dahl (1978 : 29) bahwa ‘’kekuasaan merujuk pada adanya kemampuan untuk
memengaruhi dari seseorang kepada orang lain, atau dari satu pihak kepada pihak lain’’. “Kekuasaan
merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk memengaruhi pikiran atau tingkah
laku orang atau kelompok orang lain, sehingga orang yang dipengaruhi itu mau melakukan sesuatu yang
sebetulnya orang itu enggan melakukannya. Bagian penting dari pengertian kekuasaan adalah syarat
adanya keterpaksaan, yakni keterpaksaan pihak yang dipengaruhi untuk mengikuti pemikiran ataupun
tingkah laku pihak yang memengaruhi “(Mochtar Mas’oed dan Nasikun, 1987 : 22). “Kekuasaan
merupakan suatu kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki untuk
memengaruhi perilaku pihak lain, sehingga pihak lain berperilaku sesuai dengan kehendak pihak yang
memengaruhi. Dalam pengertian yang lebih sempit, kekuasaan dapat dirumuskan sebagai kemampuan
menggunakan sumber-sumber pengaruh untuk memengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan
keputusan, sehingga keputusan itu menguntungkan dirinya, kelompoknya dan masyarakat pada
umumnya” (Ramlan Surbakti, 1992 : 58) ‘’Kekuasaan merupakan penggunaan sejumlah besar sumber
daya (aset, kemampuan) untuk mendapat kepatuhan dan tingkah laku menyesuaikan dari orang lain’’
(Charles F. Andrain, 1992 : 130). Kekuasaan pada dasarnya dianggap sebagai suatu hubungan, karena
pemegang kekuasaan menjalankan kontrol atas sejumlah orang lain. Pemegang kekuasaan bisa jadi
seseorang individu atau sekelompok orang, demikian juga obyek kekuasaan bisa satu atau lebih dari
satu. Menurut Walter S. Jones (1993 : 3) kekuasaan dapat didefinisikan sebagai berikut : 1) Kekuasaan
adalah alat aktor-aktor internasional untuk berhubungan satu dengan lainnya. Itu berarti kepemilikan,
atau lebih tepat koleksi kepemilikan untuk menciptakan suatu kepemimpinan; 2) Kekuasaan bukanlah
atribut politik alamiah melainkan produk sumber daya material (berwujud) dan tingkah laku (yang tidak
berwujud) yang masing-masing menduduki posisi khusus dalam keseluruhan kekuasaan seluruh aktor; 3)
Kekuasaan adalah salah satu sarana untuk menancapkan pengaruh atas aktor-aktor lainnya yang
bersaing menggapai hasil yang paling sesuai dengan tujuan masing-masing; dan 4) Penggunaan
kekuasaan secara rasional merupakan upaya untuk membentuk hasil dari peristiwa internasional untuk
dapat mempertahankan atau menyempurnakan kepuasan aktor dalam lingkungan politik internasional.
Menurut Benedict Anderson (1972 : 48) kekuasaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konsep
pemikiran barat dan konsep pemikiran Jawa. Menurutnya kekuasaan dalam konsep pemikiran Barat
adalah abstrak, bersifat homogen, tidak ada batasnya, dan dapat dipersoalkan keabsahannya.
Sedangkan kekuasaan menurut konsep Jawa adalah konkrit, bersifat homogen, jumlahnya terbatas atau
tetap dan tidak mempersoalkan keabsahan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kekuasaan
sangat penting kedudukannya dalam masyarakat, dengan kekuasaan suatu kelompok dapat melakukan
apa saja yang diinginkan dan dapat memengaruhi perbuatan-perbuatan kelompok lain agar taat dan
patuh terhadap pemegang kekuasaan.

b. Cara memperoleh kekuasaan


Menurut Haryanto (2005 : 22) kekuasaan dapat diperoleh dengan beberapa cara, yaitu : 1) Dari
kedudukan. Kedudukan dapat memberikan kekuasaan kepada seseorang atau sekelompok orang karena
yang bersangkutan menduduki posisi tadi. Semakin tinggi kedudukan maka akan semakin besar pula
kekuasaan yang berada pada genggaman orang yang menduduki posisi tersebut. 2) Dari kepercayaan.
Seseorang atau sekelompok orang dapat memiliki kekuasaan karena yang bersangkutan memang
dipercaya untuk memilikinya atas dasar kepercayaan yang dianut masyarakat. Kekuasaan yang
bersumber dari kepercayaan hanya muncul di masyarakat di mana anggota-anggotanya mempunyai
kepercayaan yang dimiliki pemegang kekuasaan. “Kekuasaan bisa diperoleh dari kekerasan fisik
(misalnya, seorang Polisi dapat memaksa penjahat untuk mengakui kejahatannya karena dari segi
persenjataan polisi lebih kuat); pada kedudukan (misalnya, seorang komandan terhadap bawahannya,
seorang atasan dapat memecat pegawainya); pada kekayaan (misalnya seorang pengusaha kaya dapat
memengaruhi seorang politikus melalui kekayaannya); atau pada kepercayaan (misalnya, seorang
pendeta terhadap umatnya)” (Miriam Budiardjo, 1982 : 36).

c. Cara mempertahankan kekuasaan

Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang, sekelompok orang atau suatu negara terhadap pihak lain, dapat
membuat penguasa tersebut berupaya untuk mencapai apa yang menjadi keinginan dan tujuannya. Cara
untuk mempertahankan kekuasaan dapat dilakukan dengan cara damai, antara lain dengan demokrasi
dan mencari dukungan pihak lain, atau dengan kekerasan, antara lain dengan penindasan dan
memerangi pihak yang menentang kekuasaannya. “Dalam masyarakat yang tidak demokratis atau
masyarakat yang dipimpin oleh seorang yang diktator, penguasa mempertahankan kekuasaannya
dengan paksaan. Di dalam masyarakat yang tidak demokratis, ada kecenderungan penguasa untuk
masuk terlalu jauh dalam mengatur kehidupan dan kepercayaan serta pribadi warganya sesuai dengan
keinginan penguasa. Dengan paksaan, warga ditujukan untuk patuh pada penguasa” (Haryanto, 2005 :
57). “Diantara banyak bentuk kekuasaan, kekuasaan politik merupakan hal yang paling penting untuk
dipertahankan, karena dengan kekuasaan politik, penguasa dapat memengaruhi kebijakan umum
(pemerintah) baik terbentuknya maupun akibat-akibatnya sesuai dengan tujuan-tujuan pemegang
kekuasaan. Kekuasaan politik tidak hanya mencakup kekuasaan untuk mendapat ketaatan warga
masyarakat, tetapi juga menyangkut pengendalian orang lain dengan tujuan untuk memengaruhi
tindakan dan aktivitas penguasa di bidang administratif, legislatif dan yudikatif “(Miriam Budiardjo, 1982
: 37). Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan, meskipun dalam mempertahankan kekuasaan ada
berbagai macam cara, namun terdapat beberapa persamaan yaitu pihak satu ingin selalu memerintah
pihak lain, ingin lebih tinggi dari pihak lain dan menginginkan ketaatan pihak lain. d. Otoritas penguasa
“Penguasa adalah aktor yang memiliki, menguasai aktor lain dan memiliki sumber daya yang berwujud
maupun tidak berwujud beserta asetnya untuk memengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi agar
sesuai kehendaknya” (Walter S. Jones, 1993 : 3) .‘’Penguasa adalah seseorang yang mempunyai
kemampuan untuk menjalin hubungan dan proses yang menghasilkan ketaatan dari pihak lain untuk
tujuan-tujuan yang ditetapkannya’’ (Ossip K. Flechtheim dalam Miriam Budiarjo, 1982 : 35). Dari
pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa otoritas penguasa adalah hak, kekuasaan dan wewenang
yang sah diberikan padanya untuk membuat peraturan yang harus ditaati atau diikuti pihak lain atau
kekuasaan dan wewenang yang sah untuk membuat orang atau pihak lain bertindak sesuai dengan yang
diinginkan penguasa.

e. Hancurnya Kekuasaan

Dalam pemikiran Ibnu Khaldun yang dikutip A. Rahman Zainuddin (1992 : 233) ada beberapa tahapan
proses jatuhnya kekuasaan, yaitu : 1) Kekuasaan yang sentralistik, yaitu pemusatan kekuasaan dan
kemegahan berada pada seorang atau sekelompok penguasa, 2) Kekuasaan yang mempunyai tata cara
dan kebiasaan hidup dalam kemegahan, 3) Kekuasaan yang memiliki pertahanan lemah, tidak
mempunyai kekuatan legitimasi. Sehingga tinggal menantikan kehancurannya. Ibnu Khaldun
menambahkan ciri sebuah kekuasaan yang mendekati kehancuran yaitu krisis ekonomi dan krisis moral.
“Hancurnya kekuasaan tidak hanya disebabkan oleh faktor internal dalam kekuasaan itu sendiri, akan
tetapi bisa dari faktor eksternal, antara lain karena peperangan yang melibatkan dua negara atau lebih,
konflik dan perang saudara, kudeta (penggulingan kekuasaan) baik oleh militer maupun sipil dan aksi-
aksi demonstrasi yang memungkinkan pergantian kekuasaan” (Mukhammad Najib, 2001 : 318).