Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Teknologi farmasi berkembang dengan pesat seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam pemenuhan
kesehatan. Maka diperlukan lebih banyak lagi studi teknik pembuatan
sediaan obat. Diharapkan dengan studi ini akan didapatkan suatu produk
yang lebih baik dan lebih efisien.
Tablet merupakan suatu sediaan farmasetis yang sangat digemari
oleh masyarakat karena penggunaannya yang praktis. Keunggulan
tablet meliputi:
1. Tablet merupakan bentuk sediaan yang kompak dan mudah
digunakan,
2. Merupakan bentuk sediaan oral dengan ketepatan ukuran serta
variabilitas kandungan yang paling rendah,
3. Memberikan stabilitas obat dalam sediaan yang baik.
Pada umumnya dalam pembuatan tablet terdapat zat
tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai bahan
pengisi, bahan pengikat, bahan penghancur, dan bahan pelicin (Anonim,
1979).
Salah satu bahan tambahan yang memegang peranan penting dalam
tablet adalah bahan pengikat. Bahan pengikat adalah bahan yang
mempunyai sifat adhesive yang digunakan untuk mengikat serbuk-
serbuk menjadi granul yang memungkinkan untuk dikempa menjadi
tablet yang kompak. Zat pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk
kering tetapi lebih efektif ditambahkan dalam bentuklarutan (Anonim,
1995)
Amilum mempunyai berbagai macam fungsi dalam pembuatan
tablet yaitu sebagai bahan pengisi, bahan pengikat dan bahan
penghancur. Amilum mempunyai dua kandungan utama yaitu amilosa
dan amilopektin.

1|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


1.2. Tujuan Praktikum
1. Memahami cara pembuatan tablet dengan metode granulasi basah
2. Dapat melakukan evaluasi terhadap parameter granulometri yang
meliputi: homogenitas, kadar air, sifat alir granul dan kompresibilitas.
3. Dapat melakukan evaluasi terhadap parameter pencetakan tablet sesuai
dengan persyaratan farmakope.

2|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Tablet


Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam
bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat
tambahan yang digunakan dapa t berfungsi sebagai zat pengisi, zat
pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok.
(Farmakope Indonesia Edisi III).
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai
tablet cetak dan tablet kempa.Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang
paling banyak tantangannya didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya
kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuh dan dapat dipercaya dari
obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran
untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau
gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya,
melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain dan
memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak tujuan
bersaing dari bentuk sediaan ini. (Farmakope Indonesia Edisi IV).
Tablet adalah sediaan padat ,dibuat secara kempa cetak,berbentuk rata
atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. (Ilmu Meracik Obat).

2.2. Kriteria Tablet


Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan;
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;

3|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7. Bebas dari kerusakan fisik;
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

2.3. Keuntungan Sediaan Tablet


Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan,
yaitu:
1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih;
2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis;
3. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil
sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan,
dan penyimpanan;
4. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat
dicegah/diperkecil.
Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai
keuntungan,antara lain :
1. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk
sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan
pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan;
2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif
yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk
sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang
paling rendah;
3. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang
kecil;
4. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil;
5. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air;
6. Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet;

4|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


7. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah;
tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan
permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul;
8. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di
tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan
pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi;
9. Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda, lepas lambat, lepas
terkendali);
10. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi rasa dan bau
yang tidak enak, dan untuk terapi lokal (salut enterik);
11. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya
produksinya lebih rendah;
12. Pemakaian oleh penderita lebih mudah;
13. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran
kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.

2.3. Komponen Tablet


1) Zat aktif
Zat Aktif Obat adalah unsur dalam obat yang memiliki khasiat
menyembuhkan penyakit. Beberapa obat dapat mengandung beberapa zat
aktif obat.
2) Eksipien/bahan tambahan
a. Bahan pengisi (diluent)
Bahan pengisi adalah suatu zat inert secara farmakologis yang
ditambahkan ke dalam suatu formulasi sediaan tablet, bertujuan untuk
penyesuaian bobot dan ukuran tablet sesuai dengan yang
dipersyaratkan, untuk membantu kemudahan dalam pembuatan tablet,
dan meningkatkan mutu sediaan tablet. Berikut ini beberapa zat
pengisi yang sering digunakan: laktosa, laktosa anhidrat, laktosa
semprot kering, fast flo lactose (FFL), starch 1500, dan mikrokristalin
selulosa (Siregar, 2010).

5|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


b. Bahan pengikat (binder)
Bahan pengikat ditambahkan ke dalam formulasi tablet untuk
menambah kohesivitas serbuk sehingga memberi ikatan yang penting
untuk membentuk granul yang dibawah pengempaan akan
membentuk suatu massa kohesif atau kompak yang disebut tablet.
Beberapa jenis pengikat ya ng sering digunakan: pati5-10%, pati
pragelatinisasi 0,5%, starch 1500, gelatin 2-10%, sukrosa 50-75%,
akasia 10-25%, polivinilpirolidon 3-15% (Siregar, 2010).
c. Bahan penghancur/pengembang (disintegrant)
Bahan ini dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam
saluran cerna. Zat-zat yang digunakan seperti: amilum kering, gelatin,
agar-agar, natrium alginat, selulosa mikrokristal.
d. Glidan
Yaitu bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalir
serbuk. Umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses
granulasi. Contoh : silika pirogenik koloidal.
e. Bahan pelicin (lubrikan)
Bahan ini dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan.
Zat-zat yang digunakan seperti: talcum, magnesii stearat, asam stearat.
tablet, zat berkhasiat dan bahan tambahan, kecuali bahan pelicin
dibuat granul (butiran kasar), karena serbuk yang halus tidak mengisi
cetakan dengan baik. Dengan dibuat granul akan terjadi free flowing,
mengisi cetakan secara tetap dan dapat dihindari tablet
menjadicapping (retak) (Anief, 1987).
f. Bahan penyalut (coating agent)
3) Ajuvan
a. Bahan pewarna (coloring agent)
Berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk.
b. Bahan pengaroma (flavour)
Berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak.

6|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


2.4. Jenis Sediaan Tablet
Berdasarkan prinsip pembuatan, tablet terdiri atas :
1. Tablet Kempa
Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi
pada serbuk/granul menggunakan pons/cetakan baja.
2. Tablet Cetak
Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan
rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada
pembentukan kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung
pada kekuatan yang diberikan.

2.5. Metode Pembuatan Tablet


Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu
granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode
pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat
aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau
lembab, kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya. Berikut
merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut:
a. Granulasi Basah
Yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi
partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam
jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi.
Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab
dan panas.Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena
sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsipdari metode
granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat
teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian
masa basah tersebut digranulasi.
Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk
dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini
membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat
yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan

7|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


tersebut dimasukan kering ke dalam campuran serbuk dan cairan
dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang
cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan
kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan
meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting
pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan
pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua
bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau
lembab maka massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan
alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul
sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi
lebih cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan
tergantung pada alat penghancur yang dugunakan dan ukuran tablet yang
akan dibuat.
Keuntungan metode granulasi basah :
1) Memperoleh aliran yang baik
2) Meningkatkan kompresibilitas
3) Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
4) Mengontrol pelepasan
5) Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses
6) Distribusi keseragaman kandungan
7) Meningkatkan kecepatan disolusi
Kekurangan metode granulasi basah:
1) Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi
2) Biaya cukup tinggi
3) Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat
dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan
pelarut non air
b. Granulasi Kering
Disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan
eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat
yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang

8|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini
adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan
pelarut, ikatannya didapat melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik,
digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi
untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan
dan kelembaban.
Pada proses ini komponen–komponen tablet dikompakan dengan
mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan
punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut
slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk
mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari campuran
awal bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat
diulang. Dalam jumlah besar granulasi kering dapat juga dilakukan pada
mesin khusus yang disebut roller compactor yang memiliki kemampuan
memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor memakai dua penggiling
yang putarannya saling berlawanan satu dengan yang lainnya, dan dengan
bantuan tehnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin ini mampu
menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir dintara
penggiling.
Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
1) Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi
2) Zat aktif susah mengalir
3) Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab
Keuntungan cara granulasi kering adalah:
1) Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat,
mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu
2) Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab
3) Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat
Kekurangan cara granulasi kering adalah:
1) Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug
2) Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam

9|Laporan Praktikum Pembuatan Tablet


3) Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan
terjadinya kontaminasi silang
c. Metode Kempa Langsung
Yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat
aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu.
Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan
cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif
yang kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan
lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl
yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak
mudah untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung
dikempa untuk dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena
air (cairan tubuh). secara umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode
kempa langsung adalah; alirannya baik, kompresibilitasnya baik,
bentuknya kristal, dan mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas
dalam massa tablet. Sedangkan keuntungan metode kempa langsung
yaitu:
1) Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit
2) Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit,
maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih
singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit.
3) Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak
tahan lembab
4) Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses
granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa langsung berisi
partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari granul ke partikel
halus terlebih dahulu.
Kerugian metode kempa langsung :
1) Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan
pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang
selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat
aktif di dalam tablet.

10 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
2) Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa
langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar
memudahkan proses pengempaan sehingga pengisi yang
dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi
pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan
laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa
langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama
pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat aktif
dalam granul terganggu.
3) Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus
bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik; kohesifitas dan
adhesifitas yang baik

2.6. Uji Mutu Obat


Tablet yang dibuat kualitasnya telah ditentukan pada saat formulasi
dibuat untuk mengendalikan kualitas tablet yang dihasilkan, maka perlu
dilakukan evaluasi terhadap tablet yang dibuat. Evaluasi tablet, meliputi
1. Kekerasan Tablet
Kekerasan tablet, adalah suatu parameter yang menggambarkan
ketahan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan,
tekanan dan kemungkinan terjadinya keretakan tablet pada saat
pembungkusan/pengepakan, pengangk utan dan penyimpanan. Faktor
yang dapat mempengaruhi kekerasan tablet antara lain metoda granulasi,
tekanan kompresi, kekrasan granul, serta macam, dan jumlah bahan
pengikat yang akan digunakan. Tablet yang baik mempunyai kekerasan
antara 4-8 kg (Parrott, 1971). Sedangkan menurut Fonner at al. (1981)
kekerasan minimum untuk tablet yang tidak bersalut adalah 5 kg. Tablet
yang pembuatannya melalui tahap granulasi kekarasan dipengaruhi oleh
ikatan yang terjadi antara partikel setelah tablet mengalami pengempaan
(Rawlins, 1977). Kekuatan peregangan tablet, menurut Rudnic dan Kottke
(1996) dapat dihitung lewat kekuatan tablet, yaitu jika beban yang
diperlukan untuk menghancurkan tablet telah dapat ditentukan.

11 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
Tujuan dilakukan uji kekerasan tablet adalah untuk memperoleh
gambaran tetang ketahanan tablet melawan tekanan mekanik (goncangan)
dan tekanan pada saat pembungkuran, pengangkutan, dan penyimpanan.
Alat yang digunakan untuk uji kekerasan tablet adalah Stokes
Monsanto Hardness Tester. Sebuah tablet diletakkan pada ujung alat
dengan posisi vertikal, kemudian spiral pada bagian bawah skala diputar
perlahan-lahan sampai tablet pecah. Dibaca skala yang dicapai pada tablet
tepat hancur (Gauhar, 2006).
2. Keseragaman Bobot
Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua
metode, yaitu keseragaman bobot atau keseragaman kandungan.
Persyaratan ini digunakan untuk sediaan mengandung satu zat aktif dan
sediaan mengandung dua atau lebih zat aktif (Depkes RI, 1995).
Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot
yang ditetapkan sebagai berikut: Timbang 20 tablet, hitung bobot rata –
rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet
yang masing – masing bobotnya menyimpang dari bobot rata – ratanya
lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tablet pun
yang bobotnya menyimpang dari bobot rata – ratanya lebih dari harga
yang ditetapkan kolom B. Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan
10 tablet; tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari
bobot rata – rata yang ditetapkan kolom A dan tidak satu tabletpun yang
bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata – rata yang ditetapkan
kolom B.
Penyimpanan bobot rata – rata dalam %
Bobot rata – rata A B
25 mg atau kurang 15% 30%
26 mg sampai dengan 10% 20%
150 mg
151 mg sampai dengan 7,5% 15%
300 mg
Lebih dari 300 mg 5% 10%

12 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
Menurut Depkes RI (1995), untuk penetapan keseragaman sediaan
dengan cara keseragaman bobot, pilih tidak kurang dari 30 satuan, dan
lakukan sebagai berikut untuk sediaan yang dimaksud. Untuk tablet tidak
bersalut, timbang saksama 10 tablet, satu per satu, dan hitung bobot rata-
rata. Dari hasil penetapan kadar, yang diperoleh seperti yang tertera dalam
masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari masing-masing
dari 10 tablet dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen.
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi,
persyaratan keseragaman dosis dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam
masing-masing dari 10 satuan sediaan seperti yang ditetapkan dari cara
keseragaman bobot atau dalam keseragaman kandungan terletak antara
85,0% hingga 115,0% dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku
relatif kurang dari atau sama dengan 6,0% (Depkes RI, 1995).
Jika 1 satuan terletak di luar rentang 85,0% hingga 115,0% seperti
yang tertera pada etiket dan tidak ada satuan terletak antara rentang 75,0%
hingga 125,0% dari yang tertera pada etiket, atau jika simpangan baku
relatif lebih besar dari 6,0% atau jika kedua kondisi tidak dipenuhi,
lakukan uji 20 satuan tambahan. Persyaratan dipenuhi jika tidak lebih dari
1 satuan dari 30 terletak diluar rentang 85,0% hingga 115,0% dari yang
tertera pada etiket dan tidak ada satuan yang terletak di luar rentang 75,0%
hingga 125,0% dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku relatif
dari 30 satuan sediaan tidak lebih dari 7,8% (Depkes RI, 1995).
3. Keseragaman Ukuran
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV dan sumber-sumber
lainnya, tablet harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: Kecuali
dinyatakan lain diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak kurang
dari 11/3 tebal tablet. Uji diameter dan ketebalan tablet ini dilakukan
terhadap 20 tablet.
4. Kerapuhan Tablet (Friability Test)
Friability test adalah sebuah metode untuk menentukan /
mengukur kekuatan fisik tablet non salut terhadap tekanan mekanik atau
gesekan. Uji kerapuhan tablet menggunakan alat friability atau abrasive

13 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
test. Cara penggunaan alat: 20 tablet yang telah dibebasdebukan dan
ditimbang dimasukkan ke dalam alat dan diputar selama 4 menit, 25 rpm.
Tablet dikeluarkan dari alat dan ditimbang bobot masing-masing tablet
Hitung prosentasi kehilangan bobot yang dialami tablet oleh alat tersebut.
Tablet yang baik mempunyai kerapuhan kurang dari 0,8% atau 1%.
5. Waktu Hancur
Waktu hancur merupakan waktu yang dibutuhkan untuk
hancurnya tablet menjadi partikel - partikel penyusunnya bila kontak
dengan cairan. Waktu hancur tablet juga menggambarkan cepat
lambatnya tablet hancur dalam cairan pencernaan (Gauhar, 2006).
Uji Waktu Hancur Tablet Suatu komponen obat sepenuhnya
tersedia untuk diabsorpsi dalam saluran pencernaan, maka tablet harus
hancur dan melepaskan obatnya ke dalam cairan tubuh untuk dilarutkan.
Daya hancur juga penting untuk tablet yang mengandung bahan obat yang
tidak dimaksudkan untuk diabsorpsi tetapi lebih banyak bekerja dalam
saluran cerna. Dalam hal ini daya hancur tablet memungkinkan partikel
obat menjadi lebih luas untuk bekerja secara lokal dalam tubuh. Waktu
hancur dapat dipengaruhi oleh bahan penghancur/desintegran (jenis dan
jumlahnya) dan banyaknya pengikat yang digunakan dalam formulasi
tablet, karena desintegran merupakan bahan yang akan menyebabkan
tablet pecah dan hancur dalam air atau cairan lambung. Tablet yang
memiliki waktu hancur yang sesuai dengan persyaratan yang telah
ditetapkan dapat memberikan efek terapi yang cepat. Waktu yang
diperbolehkan untuk menghancurkan tablet tidak bersalut salut enterik
adalah tidak lebih dari 15 menit (Depkes RI, 1979).
Kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk
menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak
bersalut, tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan bersalut
selaput dan tidak lebih dari 4 jam waktu yang diperlukan untuk
menghancurkan tablet bukal.
Alat untuk menguji waktu hancur adalah Desintegration Tester.
Cara kerjanya: memasukkan 5 tablet (menurut FI ed. III) atau 6 tablet

14 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
(menurut FI ed. IV) ke dalam keranjang, turun-naikkan keranjang secara
teratur 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian
tablet yang tertinggal diatas kasa, kecuali fragmen berasal dari zat
penyalut.

2.7. Permasalahan Dalam Pencetakan Tablet


Masalah-masalah yang dapat muncul selama proses pencetakan tablet
secara umum, seperti :
1. Capping yaitu pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas/bawah
tablet dari badan tablet
2. Laminasi yaitu pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih
3. Chipping yaitu keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong
4. Cracking yaitu keadaan dimana tablet pecah, lebih sering di bagian atas-
tengah
5. Picking yaitu perpidahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada
permukaan punch
6. Sticking yaitu keadaan dimana granul menempel pada dinding die (ada
adhesi)
7. Mottling yaitu keadaan dimana distribusi zat warna pada permukaan
tablet tidak merata

15 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
BAB III
METODE KERJA

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1. Alat
1) Beaker glass
2) Loyang
3) Erlenmeyer
4) Kaki 3
5) Spirtus
6) Aluminium foil
7) Hardnes tester
8) Friability Tester
9) Neraca Analitik
10) Jangka Sorong
3.1.2. Bahan
1) CTM
2) Bahan penghancur 5%
3) Lubrican 1%
4) Glidan 2%
5) Corn starch + avicel 1:1
6) Mucilago gelatin 10%
7) Aqua dest

3.2. Cara Kerja


3.2.1. Pembuatan Granul Basah
1. Timbang semua bahan sesuai dengan formula yang telah dibuat
2. Buat larutan bahan pengikat sesuai formula
3. Tambahkan bahan pewarna kedalam larutan bahan pengikat
4. Masukkan kedalam mortar bahan aktif dan bahan pengisi, aduk
hingga homogen.

16 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
5. Tambahkan sedikit demi sedikit larutan bahan pengikat sambil di
kepal-kepal hingga diperoleh massa yang kalis. Catat jumlah
larutan bahan pengikat yang dipakai dan waktu pengadukannya.
6. Buat menjadi masa granul diatas Loyang
3.2.2. Pencampuran Akhir Dan Uji Sifat Alir Granul
1. Masukkan fase luar (sisa pengisi + penghancur + lubrikan +
glidan) campur/aduk sampai homogen.
2. Uji sifat alir granul dengan metode sudut baring.
3.2.3. Pencetakan Tablet
1. Timbang granul kering sebanyak 300 mg
2. Masukan granul tersebut ke dalam alat pembuat tablet
3. Kemudian cetak
3.2.4. Evaluasi Dan Kontrol Kualitas Tablet
1. Uji Keseragaman Bobot
a. Ambil sebayak 20 tablet
b. Timbang masing-masing massa tablet
c. Catat hasil
2. Uji Kekerasan Tablet
a. Diatur tempat sample sesuai dengan diameter tablet
b. Diatur sekrup penekan sample sampai tepat diatas tablet
c. Dipastikan jarum penunjuk pada posisi nol, dengan menekan
tombol reset
d. Tuas ditarik dan dilepaskan tepat disaat tablet pecah
e. Angka kekerasan yang ditunjukan oleh jarum dibaca, angka
kekerasan tablet dalam satuan kg/cm2
f. Diulangi percobaan sebanyak 10 kali
g. Dihitung harga puratanya
h. Dibersihkan tempat sample dari kotoran yang ada
3. Uji Ketebalan Tablet
a. Ambil 10 sample tablet
b. Ukur diameter dan tablet masing-masing tablet dengan
menggunakan jangka sorong

17 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
c. Catat hasil masing-masing tablet
4. Uji Keregasan Tablet
a. Ambil sebanyak 10 tablet, lalu dibersihkan , kemudian di
timbang (W1 Gram).
b. Masukan ke dalam alat Friability Tester untuk di uji.
c. Tablet Diuji dengan kecepatan 100 putaran, dilakukan selama
2 kali.
d. Tablet dikeluarkan, lalu dibersihkan, kemudian ditimbang
kembali (W2 Gram).
e. Hitung % Kerapuhan tablet.
5. Uji Waktu Hancur Tablet
a. Ambil 6 tablet
b. Masukkan kedalam tabung
c. Naik-turunkan tabung ke dalam cairan
d. Amati tablet pada saat hancur
e. Catat waktu hancur

18 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Praktikum


4.1.1. Pembuatan Tablet

BATCHSIZE HASIL
CTM = 2 mg x 300 600 mg
Amylum = 15 mg x 300 4500 mg
Mg Stearat = 3 mg x 300 900 mg
Talk = 6 mg x 300 1800 mg

 CTM per tablet = 300 mg – ( 2mg + 15 mg + 3mg + 6mg )


= 274 mg
 Corn starch + avicel 1 : 1 = 274 mg x 300
= 82.200 mg 82,2 g
82,2 gram
 Pembagian Corn starch + avicel 1 : 1 yaitu = = = 41,1 gram
2

Corn starch = 41,1 gram Avicel = 41,1 gram


 Mucilago gelatin 10% = 10 gram mucilago dalam 100 ml air
 Bobot Erlenmeyer kosong = 116,27 gram
 Sisa Mucilago yang tidak digunakan = 20 ml
 Berat Granul + Erlenmeyer = 213,43 gram
 Jadi Berat granul (pertama) = 213,43 gram – 116,27 gram
= 97,16 gram
 Bobot Teoritisnya = bobot ctm + (cornstarch + avicel)
= 0,6 gram + 82,2 gram = 82,8 gram (tidak melebihi)
 Pada berat granul (pertama) melebihi berat teoritisnya

4.1.2. Uji Waktu Alir


 Berat granul pertama ditimbang kembali dan didapatkan hasil :
Berat granul = (Berat granul + Erlenmeyer) – (Bobot Erlenmeyer
kosong)

19 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
= 189,86 gram – 116,27 gram
= 73,59 gram
 Grafik Waktu Alir

3,4 cm

10,5 cm
o Tinggi uji alir = 3,4 cm
o Diameter = 10,5 cm
o Sudut yang di dapatkan = 34⁰
 Volume sebelum mampat = 84 ml
 Volume sesudah mampat = 73 ml
 Bobot setelah penambahan penghancur + lubricant + glidan = 80,29
gram
Bobot
 Rendemen = Bobot teritis 𝑥 100%
80,29 gram
 = 𝑥 100%
90 gram

 = 89,21%

M 50 gram
 BJ = = = 0,59 𝑔/𝑚𝑙
V 84 ml
50 gram
 BJ Mampat = = 0,68 𝑔/𝑚𝑙
73 ml

4.1.3. Uji Keseragaman Bobot


Bobot tablet Pemenuhan
Tablet
(gram) persyaratan
1 0,33 X
2 0,30 √
3 0,32 X

20 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
4 0,32 X
5 0,32 X
6 0,28 √
7 0,30 √
8 0,29 √
9 0,30 √
10 0,28 √
11 0,31 √
12 0,28 √
13 0,29 √
14 0,28 √
15 0,27 √
16 0,30 √
17 0,27 √
18 0,30 √
19 0,28 √
20 0,30 √
 Bobot keseluruhan
20 tablet = 5.92 gram = 5920 mg
 Rata-rata
5.92 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 0.296 gram = 296 mg
20 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡

KOLOM A KOLOM B
7.5% 15%
7.5
x̄ ± A 7.5% → 100 × 296 𝑚𝑔 = 22.2 𝑚𝑔

15
x̄ ± B 15% → 100 × 296 𝑚𝑔 = 44.4 𝑚𝑔

 Berdasarkan ketentuan kolom A hanya diperbolehkan 2 tablet yang


menyimpang

21 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
Berdasarkan ketentuan kolom B tidak boleh ada tablet yang
menyimpang
KOLOM A KOLOM B
296 mg ± 22.2 mg 296 mg ± 44.4
mg
Range kolom A = 273.8 mg → 318.2 mg
Range kolom B = 251.6 mg → 340.4 mg

4.1.4. Uji Kekerasan Tablet


No Hasil (kg/cm2)
1 10
2 8
3 9
4 9
5 9
6 8
7 8
8 9
9 8
10 10

4.1.5. Uji Ketebalan Tablet


No Sample Ukuran
1 0.49
2 0.485
3 0.475
4 0.50
Tablet ctm
5 0.49
6 0.485
7 0.48
8 0.485

22 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
9 0.49
10 0.48

4.1.6. Uji Keregasan Tablet


Nama W1 (Berat W2 (Berat
Keregasan Keterangan
Sample awal) akhir)
Memenuhi
Tablet CTM 291 mg 290 mg 0,34 %
Syarat <1%
% Kerapuhan = W1 – W2 x 100 %
W1
= 291 mg – 290 mg x 100 %
291 mg

= 0,34%

4.1.7. Uji Waktu Hancur


Tablet hancur di suhu 40 derajat celcius pada waktu 14 menit 21 detik

4.2. Pembahasan
4.2.1. Pembuatan Tablet
Pada praktikum yang bertujuan untuk memberikan
pengetahuan dan keterampilan tentang tentang formulasi sediaan
tablet dan kontrol kualitasnya ini, kami melakukan pembuatan tablet
yang terdiri dari pencampuran granulasi dan pengempaan tablet.
Tablet adalah sediaan padat kompak yang dibuat secara kempa cetak
dalam tabung pipih atau serkuler, kedua permukaannya rata atau
cembung, mengandung satu jenis bahan obat atau lebih dengan tanpa
bahan tambahan.
Dalam pembuatan tablet, faktor-faktor dalam
pembuatannya seperti pencampuran, granulasi dan pengempaan dapat
mempengaruhi keseragaman kandungan, ketersediaan hayati dan
stabilitas sediaannya, oleh karena itu akan dilakukan uji terhadap

23 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
parameter-parameter tersebut untuk mengontrol kualitas akhir tablet.
Selain itu juga dilakukan control kualitas bahan baku, pemeriksaan
homogenitas dan pengamatan kualitas granul seperti sifat air ,
kandungan air dan kompresibilitas.
Beberapa problem yang sering muncul pada pembuatan
tablet yaitu capping (lapisan bagian bawah/atas tablet terbelah),
binding (melekatnya granul pada matrik saat dikempa), sticking
(melekatnya granul pada stempel saat dikempa) dan mottling (warna
tablet tidak merata). Maka diperklukan bahan tambahan (Adjuvan)
untuk mencegah atau meminimalisir problem tersebut, bahan
tambahan yang diperlukan diantaranya zat pengisi, zat pengikat, zat
penghancur, dan zat pelican. Zat pengisi dimaksudkan untuk
memperbesar volume tablet, zat pengikat dimaksudkan agar tablet
tidak pecah atau retak dan dapat merekat, zat penghancur agar tablet
dapat hancur dalam perut dan zat pelican agar tablet tidak lekat pada
cetakan. Semua zat tersebut serta zat berkhasiat dibuat granul (butiran
kasar) kecuali zat pelican, karena serbuk yang halus tidak dapat
mengisi cetakan tablet dengan baik dan mudah mengalir mengisi
cetakan serta menjaga agar tablet tidak retak.
Dalam praktikum ini sebanyak 300 tablet dengan bobot
rata-rata tiap tabletnya 300 mg/tablet dibuat dengan metode granulasi
basah. Zat aktif yang terkandung dalam tablet adalah CTM. Bahan
tambahan yang digunakan Amilum, Mg stearate, Talk, Corn starch,
avicel dan mucilago.
Bahan penghancur yang digunakan adalah amylum ,
lubricant yang digunakan adalah Mg stearate, glidan yang digunakan
adalah Talk dan bahan pengisinya corn starch + avicel.
Metode granulasi basah dilakukan dengan membasahi
serbuk hingga menjadi massa lembab lalu dikerikan dan diayak
menjadi granul. Sebagai bahan pengikat digunakan mucilago gelatin,
bahan pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak dan
dapat melekat. Mucilage yang baik adalah berbentuk kental ,jernih,

24 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
semua partikel larut/terdistribusi homogen dalam mucilago seperti
massa lem. Dalam pembuatan tablet, bahan pengikat ditambahkan
sedikit demi sedikit agar massa granul yang terbentuktidak terlalu
keras atau terlalu lembek. Massa granul yang terlalu keras
menyebabkan waktu hancur tablet menjadi semakin lama, sedangkan
apabila terlalu lembek akan menempel pada cetakan ketika dicetak.
Volume penambahan pengikat yang digunakan adalah 20 ml, volume
ini digunakan untuk menentukan bobot bahan pengisi yang akan
ditambahkan agar dapat tercapai bobot tablet yang di kehendaki.

4.2.2. Uji Keseragaman Bobot


Uji keseragaman bobot, pengujian ini dilakukan untuk melihat
keseragaman suatu tablet dengan menimbang satu persatu dari tablet
yang telah kita kempa kemudian kita rata – rata. Kemudian kita
bandingkan dengan persyaratan oleh farmakope indonesia. Uji
keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang 20 tablet. Dihitung
bobot rata-rata tiap tablet.
Berdasarkan farmakope Indonesia keseragaman bobot pada
tablet yang dibuat terdapat 3 tablet yang tidak memenuhi persyaratan
sesuai kolom A dan tidak ada satu tabletpun yang tidak memenuhi
kolom B.
4.2.3. Uji Kekerasan Tablet
Dalam pengujian mutu fisik suatu tablet digunakan beberapa
alat untuk menguji kerapuhan, keseragaman bobot, kekerasan, dan
waktu hancur. Alat yang dipakai untuk menguji kekerasan tablet
adalah Hardnes tester, untuk menguji kerapuhan tablet adalah
Friabilator, untuk menguji waktu hancur adalah Desintegration tester,
dan untuk menguji keseragaman bobot digunakan Neraca analitik.
Uji kekerasan dengan menggunakan hardnestester, dalam
pengujian digunakan 10 tablet untuk menguji kekerasan tablet,
pertama – tama untuk menguji tablet, tablet di tegak berdirikan secara
vertikal di bawah penghimpit dari hardnestester. Kemudian pastikan

25 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
jarum dalam posisi di angka 0 kg, apabila belum berada di psisi 0 kg,
masukan jarum ke lubang untuk membuat 0, setelah itu tarik tuasnya
dan baca tingkat kekerasan dari tablet tersebut. Dalam praktikum
kekerasan dari ke 10 tablet yang diuji berbeda – beda, faktor tenaga
dalam menarik tuas mempengaruhi kekerasan dari tablet itu sendiri,
serta kerapatan dan tekanan pada saat pengempaan juga
mengakibatkan suatu tablet menjadi keras. Suatu tablet dinyatakan
baik apabila kekerasan tablet yang baik berkisar 4-8 kg dan 7-12 kg
untuk tablet kunyah. Syarat untuk kekerasan tablet tidak bersalut
adalah 4-8 kg. Tablet yang memiliki kekerasan < 4 kg akan mudah
hancur dalam proses distribusinya, sedangkan tablet yang memiliki
kekerasan > 8 kg akan sulit untuk hancur di dalam tubuh. Kekerasan
tablet dipengaruhi oleh metode granluasi, tekanan kompresi yang
digunakan, kekerasan granul, dan macam dan jumlah bahan pengikat.
Tujuannya untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan bahan
pengikat terhadap tablet. Uji ini untuk mengukur kekuatan tablet
dalam menghadapi benturan pada saat distribusi ataupun
penyimpanan. Tablet yang baik adalah tablet yang memiliki kekuatan
yang optimum, sehingga tidak mudah hancur dan tahan dalam segala
kondisi.
Pengujian dilakukan dengan cara meletakkan tablet pada ujung
alat dengan posisi vertical kemudian tablet ditekan hingga tablet
hancur dan dilakukan sebanyak 10 kali. Dari hasil pengujian
didapatkan kekerasan tablet 8-10 kg/cm2. Nilai kekerasan cukup
tinggi (menandakan tablet keras), perlu dilihat nilai / hasil uji
kerapuhan dan waktu hancur apakah masih memenuhi syarat atau
tidak. karena tidak dijelaskan dalam Farmakope Indonesia tentang
syarat kekerasan tablet.

4.2.4. Uji Ketebalan Tablet


Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV dan sumber-sumber
lainnya, tablet harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: Kecuali

26 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
dinyatakan lain diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak
kurang dari 11/3 tebal tablet. Uji diameter dan ketebalan tablet ini
dilakukan terhadap 10 tablet.
Pada data hasil praktikum ukuran tablet termasuk ke dalam
kategori baik karena memenuhi standar diameter tablet yang telah di
tentukan farmakope indonesia edisi IV.

4.2.5. Uji Keregasan Tablet


Uji keregasan tablet (Friabiltas) merupakan uji ketahanan
permukan tablet terhadap gesekan yang dialami selama pengemasan,
pengiriman dan penyimpanan. Keregasan dapat dievaluasi dengan
mengunakan alat uji kerapuhan (friabilty tester). Keregasan tablet
harus serendah mungkin karena jika terlalu tinggi akan menyebabkan
terbentukya partikel halus dan kasar yang akan menempel pada
permukaan tablet selama proses penyalutan sehingga menghasilkan
lapisan tipis yang kasar dan tidak rata. Uji keregasan tablet ini
berkaitan dengan uji kekerasan tablet, umumnya tablet dengan
kekerasan yang tinggi akan memiliki keregasan yang rendah.
Menurut Farmakope indonesia edisi III, Tablet dikatakan baik
apabila kerapuhanya tidak lebih dari 0,8% untuk tablet salut, dan tidak
lebih dari 1% untuk tablet inti. Uji keregasan berhubungan dengan
kehilangan bobot akibat abrasi (pengikisan) yang terjadi pada
permukan tablet. Keregasan yang tingi akan mempengaruhi
konsentrasi/kadar zat aktif yang masih terdapat pada tablet. Pada
pengujian keregasan pada beberapa tablet CTM , diperoleh hasil
keregasan pada sample tablet CTM, yaitu : 0,34 % . Dari data ini
bahwa sample tablet CTM memiliki presentase keregasan <1%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sample tablet CTM yang
diuji memenuhi persyaratan uji keregasan tablet.

27 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
4.2.6. Uji Waktu Hancur Tablet
Waktu hancur penting dilakukan jika tablet diberikan melalui
mulut, kecuali tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan dan
beberapa jenis tablet lepas-lambat dan lepas-tunda.
Kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk
menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet
tidak bersalut, tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan
bersalut selaput dan tidak lebih dari 4 jam waktu yang diperlukan
untuk menghancurkan tablet bukal.
Jika tablet tidak memenuhi syarat ini, ulangi pengujian
menggunakan tablet satu persatu, kemudian ulangi menggunakan 5
tablet dengan cakram penuntun. Dengan pengujian ini tablet harus
memenuhi syarat diatas.
Namun, pengujian pada praktikum teknologi tablet, kami
mendapatkan hasil yang memenuhi syarat yaitu tablet hancur dalam
waktu kurang dari 15 menit.

28 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang kami lakukan didapatkan kesimpulan yaitu :
1. Pembuatan tablet menggunakan metode granulasi basah.
2. Zat aktif yang digunakan adalah CTM
3. Zat tambahan yang digunakan yaitu : Amylum, Mg stearate, Talk, Corn
starch, Avicel, dan mucilage gelatin
4. Untuk mengetahui karakteristik dari tablet diperlukan beberapa evaluasi
meliputi uji keseragaman bobot, uji kekerasan tablet, uji keregasan tablet,
dan uji waktu hancur.
5. Berdasarkan uji keseragaman Bobot terhadap 20 tablet dapat disimpulkan
bahwa ada 3 tablet yang menyimpang dari syarat kolom A yaitu 273.8 mg
→ 318.2 mg.
6. Berdasarkan uji keseragaman Bobot terhadap 20 tablet dapat disimpulkan
bahwa ada tidak ada tablet yang menyimpang dari syarat kolom B yaitu
251.6 mg → 340.4 mg.
7. Hasil evaluasi tablet terhadap 10 tablet yang kami buat adalah sebagai
berikut : 10, 8, 9,9,9,8,8,9,8,10 kg/cm2.
8. Pengujian tablet dilakukan dengan berbagai pengujian salah satunya
dengan uji ketebalan tablet atau uji keseragaman ukuran dengan syarat
ketebalan tablet yaitu tidak kurang dari 11/3 tebal tablet. Pengujian di
lakukan untuk mengetahui tablet sesuai atau tidak dengan persyaratan.
9. Dari hasil percobaan didapatkan hasil peresentase keregasan tablet yaitu :
0,34 % dimana hasil ini memenuhi persyaratan uji kerapuhan tablet yaitu
<1%.
10. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa, tablet ctm dengan bobot 300 mg sebanyak 4 tablet selama kurang
dari 15 menit (14,21) yang digunakan dalam pengujian ini telah
memenuhi persyaratan uji waktu hancur seperti yang tertera pada
Farmakope Indonesia Edisi III

29 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
5.2. Saran
1) Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan
digunakan di persiapkan terlebih dahulu, agar praktikum dapat berjalan
dengan baik, juga ditambah fasilitas untuk menunjang proses praktikan
belajar. Dan untuk para praktikan agar mempersiapkan diri materi-materi
yang akan dipraktekkan, agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.
2) Sebaiknya praktikan melaksanakan praktikum dengan teliti dan hati-hati
agar hasil yang didapatkan benar-benar akurat.
3) Disarankan agar dapat memformula sediaan tablet dengan bahan dan
konsentrasi yang lebih baik.
4) Melakukan evaluasi yang baik terhadap hasil percobaan, karena hal ini
sangat diperlukan untuk mengetahui apakah tablet yang telah kita buat
memenuhi syarat atau tidak.

30 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t
DAFTAR PUSTAKA

Anief.Moh 2012.Farmasetik.Yogyakarta.UGM Press


Ansel,2013. Bentuk sediaan Farmasetis dan system Penghantaran Obat.
Jakarta.EGC
Anas. 2008. Obat-obatan Tablet Yang Perlu Dikritisi. Tersedia
dihttp://jalurgaza.wordpress.com/ (diakses tanggal 6 April 2013)
Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerjemah : F.
Ibrahim. Edisi ke-4. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Aulton, M. E., 1988, Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design,
Churchill Livingstone Inc, New York.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi ketiga.
Departemen Kesehatan. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi keempat.
Departemen Kesehatan. Jakarta.
Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas Indonesis Press. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI.1974. Farmakope Indonesia edisi III.Jakarta
DepartemenKesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta
http://ilmureseptablet.blogspot.com/2015/09/syarat-tablet-menurut-fi-edisi-
iii-fi.html
http://anakfarmasisukses.blogspot.com/2017/09/pengujian-tablet.html

31 | L a p o r a n P r a k t i k u m P e m b u a t a n T a b l e t