Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN

Tentang

Faktor-Faktor Pendidikan

Disusun Oleh :
Kelompok II

Ali Wardani (112170281)


Singgih Haryono (112170237)
Yudhi Rahmanto (112170247)
Sugeng Ginanjar (112170238)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2015/2016
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah puji syukur kami ucapkan kepada Alloh SWT atas segala rahmat taufik dan

hidayahNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang brjudul “Faktor-faktor Pendidikan” .

Berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, tidak lupa penyusun makalah mengucapkan

terimakasih kepada :

1. Ibu Nurhidayati. M.Pd. selaku pembimbing makalah yang penuh ketelitian dan

kecermatan.

2. Kedua orang tua kami yang selalu memberikan bimbingan dan doa restu.

3. Rekan-rakan seperjuangan yang telah memberikan masukan dan saran dalam

menyelesaikan makalah ini.

4. Staf perpustakaan Universitas Muhamadiyah Purworejo yang telah memberika fasilitas

yang berwujud pinjaman buku-buku.

Namun demikian makalah ini tidak lepas dari segala kekurangan karena penyusun

menyadari bahwa keterbatasan pemikiran penyusun dan materi makalah ini dapat disusun.

Untuk itu kami memerlukan kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah ini bersifat

baik.

Semoga makalah ini bermanfaat pada khususnya penyusun dan pemerkati pendidikan pada

umumnya serta diharapkan sebagai salah satu bentuk pengabdian pada Alloh SWT.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Pamekasan, oktober 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................................................

KATA PENGANTAR ........................................................................................................

DAFTAR ISI.......................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................

A. Latar Belakang ........................................................................................................

B. Rumusan Masalah ...................................................................................................

C. Batasan Masalah .....................................................................................................

D. Tujuan Dan Manfaat Pembahasan ..........................................................................

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................

A. Pengertian Faktor-faktor Pendidikan ......................................................................

B. Macam-macam Faktor Pendidikan .........................................................................

1. Pendidik ...........................................................................................................

2. Peserta Didik ....................................................................................................

3. Tujuan ..............................................................................................................

4. Materi ...............................................................................................................

5. Alat ...................................................................................................................

C. Hubungan Timbal Balik antar Faktor Pendidikan ..................................................

BAB III PENUTUP ...........................................................................................................

A. Kesimpulan .............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh

pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan

menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya ,

pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan

utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman

belajar yang optimal.

B. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang dapat kita ungkapkan dalam pembahasan ini adalah sebagai

berikut :

1. Apa pengertian pendidikan ?

2. Apa saja factor-faktor utama pendidikan ?

C. Batasan Masalah

Dalam masalah yang kami tulis ini hanya membahas tentang Komponen Faktor-faktor

Pendidikan dari pengertiannya, macam-macam factor pendidikan dan hubungan timbal

balik antar faktor pendidikan

D. Tujuan dan Manfaat Pembahasan

1. Untuk memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan

2. Mengenal dan memahami pengertian pendidikan,

3. Memahami apa saja yang menjadi faktor-faktor utama pendidikan yang secara

langsung terlibat dalam proses pendidikan


BAB II

PEMBAHASAN

Pendidikan Berdasar 4 Pilar Proses Pembelajaran yaitu :

1. Learning to know ( menguasai pengetahuan)

2. Learning to do (menguasai keterampilan)

3. Learning to be (mengembangkan diri)

4. Learning to live together (hidup bermasyarakat)

Learning to do bisa berjalan jika lembaga pendidikan memfasilitasi peserta didik untuk

mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat

dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan, namun tumbuh berkembangnya tergantung

pada lingkungannya. Dewasa ini keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang,

bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung

keberhasilan kehidupan seseorang. Learning to be Penguasaan pengetahuan dan keterampilan

merupakan bagian dari proses belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri sendiri

diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai

dengan norma & kaidah yang berlaku di masyarakat, serta belajar menjadi orang yang berhasil,

sesungguhnya adalah proses pencapaian aktualisasi diri. Pengembangan diri secara maksimal

(learning to be) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan,

tipologi pribadi anak & kondisi lingkungan nya. Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah

secara maksimal memungkinkan anak untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih

tinggi. Learning to live together Dengan kemampuan yang dimiliki, sebagai hasil dari proses

pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu berperan dalam lingkungan di mana

individu tersebut berada, sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya.

Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam

bersosialisasi di masyarakat (learning to live together). Salah satu fungsi sekolah adalah tempat

bersosialisasi, artinya mempersiapkan siswa untuk dapat hidup bermasyarakat. Situasi


bermasyarakat hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah. Kebiasaan hidup bersama, saling

menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini

memungkinkan terjadinya "learning to live together".

Proses pembelajaran yang ideal adalah proses pembelajaran yang dikemas dengan

memperhatikan adanya berbagai aspek baik itu kognitif, afektif, maupun psikomotor. Apabila

proses pendidikan dapat dilaksanakan dengan memperhatikan adanya keseimbangan ketiga

aspek tersebut maka output pendidikan akan mampu mengantisipasi perubahan dan kemajuan

masyarakat. Sebaliknya, apabila proses pembelajaran mengabaikan aspek-aspek tersebut dan

hanya menitikberatkan pada aspek kognitif saja, jadinya akan lain. Jangan diharap output

pendidikan mampu menterjemahkan serta merta mengantisipasi kemajuan dan perkembangan

masyarakat yang telah berjalan demikian cepat. Oleh sebab itu, pendidikan kita harus mampu

mengemas proses pendidikan dengan baik. Dengan kata lain, proses belajar mengajar kita harus

memperhatikan aspek kreativitas. Pengembangan kreativitas para peserta didik yang dimulai

sejak awal akan mampu membentuk kebiasaan cara berpikir peserta didik yang sangat

bermanfaat bagi peserta didik itu sendiri di kemudian hari. Kenyataan yang ada saat ini, hampir

semua sistem sekolah yang ada di negeri ini kurang menyentuh dan mengembangkan aspek

kreativitas. Ini terjadi akibat tuntutan kurikulum 1975 yang sangat berorientasi pada hasil

belajar. Kurikulum tersebut akhirnya diperbaiki, kemudian muncul kurikulum 1984 yang sedikit

bergeser orientasinya kearah proses. Namun, praksis pendidikan telanjurt memihak pada

orientasi produk. Oleh karena itu, pergeseran orientasi itu tidak semudah yang dibayangkan para

pengambil kebijakan dalam sistem persekolahan kita.Kurikulum 1994 secara filosofis sangat

menaruh perhatian terhadap proses pembelajaran yang dinamis sehingga system target dan

produk harus diterjemahkan secara kreatif dan kontekstual. Namun, pada kenyataannya sebagian

besar guru telah merasa mapan dengan semangat kerja model kurikulum 1984, guru telanjur

mekanistis dalam proses pembelajaran di sekolah, akhirnya persoalan kreativitas masih saja

terabaikan tidak tersentuh. Hal ini terjadi karena terlalu saratnya muatan yang diemban oleh

kurikulum 1994. Dengan demikian hal pokok yang dikembangkan tetap aspek kognitif,

sementara afektif dan psikomotor tetap terabaikan


Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap

pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian.

Pengertian pendidikan secara umum yang dihubungkan dengan Islam—sebagai suatu system

keagamaan—menimbulkan pengertian-pengertian baru, yang secara implicit menjelaskan

karakteristik-karakteristik yang dimilikinya.

Dalam tujuan khusus tahap-tahap penguasaan anak didik terhadap bimbingan yang

diberikan dalam berbagai aspeknya; pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, ketrampilan atau

dengan istilah lain kognitif, afektif dan psikomotor. Dari tahapan ini kemudian dapat dicapai

tujuan-tujuan yang lebih terperinci lengkap dengan materi, metode dan system evaluasi. Inilah

yang kemudian disebut kurikulum, yang selanjtnya diperinci lagi kedalam silabus dari berbagai

materi bimbingan.

A. Pengertian Faktor-Faktor Pendidikan

Meskipun barangkali sebagian di antara kita mengetahui tentang apa itu pendidikan,

tetapi ketika pendidikan tersebut diartikan dalam satu batasan tertentu, maka terdapatlah

bermacam-macam pengertian yang diberikan.

Dalam arti sederhan pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk

membina keperibadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan.

Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau

pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi orang

dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang

atau lkelomp[ok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau

penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental

Jadi dapat disimpulkan bahwa factor-faktor Pendidikan adalah sesuatu yang ikut

menentuksn keberhasilan Pendidikan yang memiliki beberapa bagian yang saling

mendukung satu sama lainnya. Faktor-faktor Pendidikan selanjutnya juga disebut dengan

komponen-komponen pendidikan.
Menurut Toto Suharto dalam bukunya filsafat pendidikan dengan memodifikasi

konsepsi noeng muhadjir,… mengungkapkan secara filosofis komponen-komponen pokok

pendidikan kedalam lima komponen, yaitu tujuan pendidikan, pendidik dan peserta didik,

kurikulum pendidikan, metode pendidikan, dan konteks pendidikan. Kelima komponen ini

adalah merupakan sebuah system, artinya kelima komponen itu merupakan satu kesatuan

pendidikan yang masing-masing berdiri sendiri, tetapi berkaitan satu sama lainnya, sehingga

terbentuk satu kebulatan yang utuh dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

B. Macam-Macam Faktor Pendidikan

Dalam melaksanakan pendidikan, perlu diperhatikan adanya faktor-faktor

pendidikan yang ikut menentukan keberhasilan pendidikan tersebut.

Faktor-Faktor Pendidikan itu ada 5 macam, dimana faktor-faktor yang satu dengan

yang lainnya mempunya hubungan yang erat. Kelima faktor tersebut adalah :

1. Pendidik

Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan

dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga

lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua , guru,

pemimpin, program pembelajaran, latihan dan masyarakat/organisasi.

Pendidik merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan,

dipundaknya terletak tanggung jawab yang besar dalam upaya mengantarkan peserta

didik kearah tujuan pendidikan yang dicitakan. Secara umum, pendidik adalah mereka

yang memiliki tanggung jawab mendidik. Mereka adalah manusia dewasa yang karena

hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan.

Selain mendidik pendidik/guru mempunyai 4 empat tugas, yaitu ;

1. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama isalm.

2. Menanamkan Keilmuan dalam jiwa anak.


3. Mendidik anak agar taat menjalankan agama.

4. mendidik anak agar berbudi pekerti baik.

Toto Suharto Mengutip dari pendapat Muraini dan Abdul Majid dalam bukunya

mengemukakan tiga fungsi pendidik. Yaitu ;

1. Fungsi Instruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran .

2. Fungsi Edukasional yang bertugas mendidik peserta didik agar mencapai tujuan

pendidikan.

3. Fungsi Managerial yang bertugas memimpin dan mengelola pendidikan.

Untuk Menjalankan Itu semua seorang guru atau pendidik harus memenuhi syarat-

syarat. Dalam hal ini kami contohkan dalam peraturan persyaratan yang tertuang dalam

UU pendidikan dan pengajaran no.04 tahun 1950 bab X pasal 5 yang berbunyi :

“ Syarat utama menjadi seorang guru, selain ijazah dan syarat-syarat lain yang

mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat

memberikan pendidikan dan pengajaran (seperti yang dimaksud dalam pasal 3,4 dan 5

UU ini).Selain itu, Indonesia pada tahun 2005 telah memiliki Undang-Undang Guru

dan Dosen, yang merupakan kebijakan untuk intervensi langsung meningkatkan

kualitas kompetensi guru lewat kebijakan keharusan guru memiliki kualifikasi Strata 1

atau D4, dan memiliki sertifikat profesi.

2. Peserta Didik

Faktor anak didik adalah merupakan salah satu factor pendidikan yang paling

penting karena tanpa adanya factor tersebut, maka pendidikan tidak akan berlangsung.

Oleh karena itu factor anak didik tidak dapat digantikan oleh factor yang lain.

Cirri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah

a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga

merupakan insane yang unik

b.Individu yang sedang berkembang


c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi

d.Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri

Dalam paradigma pendidikan islam, peserta didik merupakan sesuatu yang belum

dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar (fitrah) yang perlu dikembangkan. Di sini

peserta didik adalah makhluk Allah yang terdiri dari aspek jasmani dan ruhani yang

belum mencapai kematangan, baik fisik, mental, intelektual, maupun psikologisnya.

Oleh karena itu, ia senantiasa memerlukan bimbingan arahan pendidik agar dapat

mengembangkan potensinya secara optimal dan membimbingnya menuju kedewasaan.

Peserta didik sebagai subjek pendidikan, menurut Sayyidina Ali Bin Abi Thalib

Jika menginginkan keberhasilan meraih ilmu harus memenuhi enam syarat yaitu :

1) Cerdas 4) mempunyai Bekal

2) Bersungguh-sungguh 5) Mengikuti Petunjuk Guru (Ustadz)

3) Sabar 6) Lama Waktunya

3. Tujuan Pendidikan

Menurut Dr.Zakiah Daradjat,dkk. Tujuan pendidikan ialah sesuatu yang hendak

dicapai dengan kegiatan atau usaha pendidikan. Bila Pendidikan itu berbentuk

pendidikan formal, tujuan pendidikan itu harus tergambar dalam suatu kurikulum.

Adapun rumusan Formal dari tujuan pendidikan secara Hierarchies adalah ;

 Tujuan Pendidikan Nasional. Adalah merupakan tujuan umum yang hendak

dicapai oleh seluruh bangsa indonesia, dan merupakan rumusan daripada

kwalifikasi terbentuknya suatu warga negara yang dicita-citakan bersama.

 Tujuan Institusional. Ialah tujuan pendidikan secara formal dirumuskan oleh

lembaga-lembaga pendidikan.

 Tujuan Kurikuler. Ialah tujuanyang dirumuskan secara formal pada kegiatan

kurikuler yang ada pada lembaga-lembag pendidikan.


 Tujuan Instruksional. Adalah merupakan tujun yang hendak dicapai setelah

selesai program pengajaran.

Lebih spesifik tentang tujuan pendidikan. Adalah tujuan pendidikan agama islam

yang terbagi dalam Tujuan Akhir dan Tujuan Antara (umum dan Khusus). Tujuan akhir

pendidikan agama islam adalah penyerahan dan penghambaan diri secara total kepada

Allah. Tujuanini bersifat tetap dan berlaku umum tanpa memperhatikan tempat, waktu

dan keadaan. Tujuan Antara pendidikan islam merupakan penjabaran tujuan akhir, yang

diperoleh melalui usah ijtihad para pemikir pendidikan islam, yang karenanya terikat

oleh kondisi locus dan Tempus. Tujian Antara harus mengandung perubahan-perubahan

yang diharapkan subjek pendidik, setelah melakukan proses pendidikan baik yang

Setaip kegiatan apapun bentuk dan jenisnya, sadar atau tidak sadar, selalu

diharapkan kepada tujuan yang ingin dicapai. Bagaimanapun segala sesuatu atau usaha

yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa-apa. Dengan demikian,

tujuan merupakan faktor yang sangat menetukan.

Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga

menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hgendak dicapai, baik tujuan yang

dirumuskan itu bersifat abstrak sampai rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus

untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Begitu juga dikarenakan

pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju ke arah

cita-cita tertentu, maka yang merupakan masalah pokok bagi pendidikan ialah memilih

arah atau tujuan yang ingin dicapai.

Cita-cita atau tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas, sehingga

semua pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses

kegiatan seperti pendidikan, bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai,

maka prosesnya akan mengabur. Oleh karena tujuan tersebut tidak mungkin dapat

dicapai secara sekaligus, maka perlu dibuat secara bertaha, misalnya tujuan umum,

tujuan institusional, tujuan kulikuler dan tujuan instruktusionalnya ditetapkan secara


jelas dan terarah. Tentang tujuan ini, di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, secara jelas

disebutkan Tujuan pendidikan nasional, yaitu

“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia

seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa

dan berbudi perkerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan

jasamani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab

kemasyarakatan dan kebangsaan.

4. Materi

Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang

akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun

muatan lokal. Materi ini bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan

persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya adalah mengembangkan

kebhinnekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian

jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika dapat ditumbuhkembangkan.

5. Alat

Adapun yang dimaksud dengan alat pendidikan ialah segala sesuatu yang

dipergunaan dalam usah untuk mencapai tujuan dari pendidikan.

Dengan demikian yang dimaksud dengan alat pendidikan agama ialah; Segala

sesuatu yang dipakai dalam mencapai tujuan pendidikan agama.

Dalam memilih alat / media pendidikan ada beberapa faktor yang harus

diperhatikan. Seperti yang diajukan oleh Heinick,dkk (1982) yang berupa model

perencanaan penggunaan media yang efektif yang dikenal dengan istilah (ASSURE)

adalah singkatan dari : Analyze Learner Characteristik, State Objektive, Select, or

Modify Media, Utilize, Require Learner Response and Evaluate. Model ini

menyarankan kegiatan utama dalam perencanaan pengajaran sebagai berikut :


 Menganalisis Karakteristik umum kelompok sasaran, apakah mereka siswa

SD/SMP/SLTA/PT/ organisasi pemuda, perusahaan, usia, Jenis kelamin, latar

belakang sosial budaya, sosial, Ekonomi.

 Merumuskan tujuan pengajaran.

 Memilih, memodifikasi / merancang dan mengembangkan materi dan media yang

tepat.

 Menggunakan mteri dan media (Bagaimana dan berapa waktu yang dibutuhkan

untuk menggunakannya) ruang dan fasilitas lain.

 Meminta tanggapan dari siswa.

 Mengevaluasi proses belajar mengajar.

Alat-alat pendidikan dapat dikelompokkan menjadi 3 dengan uraian atau

klasifikasi sebagai berikut :

1. Alat Pengajaran : Yang dibedakan menjadi tiga ;

 Alat pengajaran Klasikal, Seperti Papan Tulis, kapur dan lain-lain.

 Alat Pengajaran Individual. Seperti alat tulis, buku pelajaran dan lain-lain.

 Alat Peraga.

2. Alat-alat Pendidikan Langsung : termasuk alat pendidikan yang langsung juga ialah

dengan menggunakan emosi dan dramatisasi dalam menerangkan masalah agama.

Karena agama lebih menyangkut perasaan.

3. Alat-alat Pendidikan tidak Langsung : Alat yang bersifat kuratif. Agar dengan

demikian anak-anak menyadari perbuatannya yang salah dan berusaha untuk

memperbaikinya.

C. Hubungan Timbal Balik antar Faktor Pendidikan

Mengelola interaksi belajar mengajar melalui interaksi hubungan timbal balik antar

siswa dan guru, profil pendidikan tahun pelajaran 2007/2008. bab i. pendahuluan .

dapat:
1. memahami pengaruh timbal balik antara faktor lingkungan dan pendidikan,

rohaniah: kenaikan pangkat, pendidikan dan pengembangan karir, pemberian

cuti, faktor-faktor produksi (sumber-sumber) yang diperlukan: hubungan

timbal balik antara manajemen, organisasi dan tata kerja (metode)

2. ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang

lainnya,

3. ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka kos-

kosan merupakan pihak yang terkait dengan bidang pendidikan.

Pendidikan sebagai sebuah sistem sendiri dari sejumlah komponen. Untuk melihat

komponen sistem pendidikan. Toffler (1970) menganalogikan sekolah dengan sebuah

sebuah pabrik. Misalnya, sebuah pabrik gula yang tujuan didirikannya adalah untuk

memproduksi gula. Pabrik tersebut membutuhkan bahan mentah (raw input) berupa

tebu atau bahan lainnya.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Proses pendidikan yang berlangsung selalu melibatkan beberapa unsur pendidikan

antara lain ; subjek yang dibimbing (peserta didik), orang yang membimbing (pendidik),

interaksi edukatif antara keduanya, tujuan pendidikan, kurikulim/materi pendidikan, alat

dan bahan pendidikan serta lingkungan pendidikan.

Proses tersebut akan semakin ideal pelaksanaanya apabila proses tersebut selalu

memperhatikan beberapa unsur antara lain; kognitif, afektif dan psikomotorik. Tanpa

ketiganya proses pendidikan mustahil akan berjalan dengan sempurna.

Dari berbagai unsur diatas, ada unsur yang berjalan langsung dengan pengalaman

inderawi anak didik yang disebut dengan unsur empirik. Seperti adanya pengembangan diri,

kreatifitas dan aplikasi ilmu. Yang sering kita kelompokkan dalam penilaian afektif dan

psikomotorik anak, setelah mereka diberi ilmu secara kognitif (teori) saja.
DAFTAR PUSTAKA

1. Suharto Toto, Filsafat Pendidikan Islam,Ar Ruzz, Jogjakarta,2006.

2. Z.AG.S, Methodik Khusus Pendidkan agama, Cetakan Ke VIII, Malang, 1983.

3. Zuhri Syaifuddin, M.PdI. Media Pendidikan, Materi Kuliah Semester V, STAI Al-

Qolam, 2007.

4. Daradjat Zakiah.Dr.dkk,Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bumi Angkasa, Jakarta,

2001.

5. Methodik Khusus Pendidkan agama, Cetakan Ke VIII,Malang, 1983.Hal. 28

6. Anglin G.J..1991. Instructional technology past, presen and fature. USA : Libraries

Unlimited Inc.