Anda di halaman 1dari 9

BAB II

ISI

1) Konsep Dasar Penyakit


1. Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
penungkatan tekanan darah diatas normal atau kronis dalam waktu yang
lama (Saraswati,2009)

Hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah meningkat melebihi


batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai
faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab
hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat
adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari
pembuluh darah dari tepi dan peningkatan volume aliran darah.

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu :


a. Hipertensi primer/esensial adalah hipertensi yang tidak atau belum di
ketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Tedapat 95%
kasus. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan,
hiperativitas susunan simpatis, sistem renin-angiotensis, defek dalam
ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraselular, dan faktor-faktor yang
meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok serta polisitemia.
b. Hipertensi sekunder. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya
diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi
vascular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing,
feokromositomo, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubung dengan
kehamilan, dan lain-lain.
Patofisiologi hipertensi yaitu Aldosteron merupakan hormonesteroid
yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume
cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya
konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan
volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan
volume dan tekanan darah (Anggraini, 2008).

A. Patofisologi Hipertensi
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting
pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan
mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari
tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan
cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan
meningkatkan volume dan tekanan darah (Anggraini, 2009).

2. Diabetes Melitus
Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolic
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Purnamasari,2009).
Penyebab Diabetes Melitus menurut Price (1995) dibagi menjadi 2
yaitu:
a. IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus)
Penyebab dari jenis IDDM yaitu karena faktor genetik, penyakit ini
timbul karena adanya proses perusakan imunologi sel-sel yang
memproduksi insulin.
b. NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus)
DM jenis ini disebabkan karena kurangnya jumlah tempat reseptor
yang responsip insulin pada membran sel, hal ini dapat terjadi karena
obesitas. NIDDM ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin dan
kerja insulin.

Patofisiologi diabetes mellitus yaitu Insulin adalah hormon yang


dibentuk sel beta langerhans yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
karbohidrat bagi sel dalam bentuk insulin yang berfungsi terhadap
transparan glukosa, asam amino, asam lemak, di samping itu insulin juga
berperan mengaktifkan enzim sehingga meningkatkan metabolisme intra
sel. Bermacam-macam penyebab Diabetes Melitus yang berbeda akhirnya
akan mengarah ke insufisiensi insulin. Metabolisme karbohidrat yang
terganggu akan menyebabkan kelaparan dalam sel hormone counter
regulator seperti flukagon, epineprin, non epineprin growth hormon dan
kortisel akan dikeluarkan oleh tubuh. Menurunnya proses glikogenesis
menyebabkan produksi glukosa dari glikogen meningkat dan glikogenesis
akan menurun yaitu pembentukan glukosa dari non karbohidrat seperti
asam amino, hal ini akan menyebabkan penurunan pemecahan lemak
menjadi keton untuk memberi alternatif sumber energi. Kekurangan insulin
akan menyebabkan glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel. Menyebabkan
sel mengalami kelaparan. Sel sebagai keadaan krisis dengan mengeluarkan
hormon counter regulator untuk tetap memenuhi kebutuhan energi dengan
menggunakan sumber energi lain seperti lemak. Akibat tingginya kadar
glukosa darah menimbulkan tiga gejala utama poliuria, polidipsi, polifagia.
Karena glukosa yang masuk ke tubulus tinggi maka glukosa melampaui
ambang ginjal dan glukosa akan dibuang bersama urin dan menyebabkan
dehidrasi ruang ekstra sel dan cairan intra sel akan keluar dan menimbulkan
mekanisme haus. Polifagia terjadi karena glikogen tidak sampai sel akan
mengalami starvasi atau kelaparan dan muncul tanda lapar (Brunner and
Suddart).
2) Fenomena di Indonesia
Menurut data Riskesdas tahun 2018, sebanyak 34,1 % masyarakat
Indonesia umur dewasa umur 18 tahun ke atas terkena hipertensi. Angka ini
mengalami peningkatan sebesar 7,6 % disbanding dengan hasil Riskesdas 2013
yaitu 26,5 %.
Menurut dr. Paskariatne Probo Dewi Yamin, SpJP, seorang pakar
hipertensi, salah satu faktor risiko hipertensi adalah gaya hidup yang tidak tepat
yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum milenial.
Gaya hidup yang dimaksud tersebut adalah gaya hidup instan yang
mengakibatkan kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh kaum milenial,
selain itu juga kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dan mengandung
vetsin (monosodiun glutamat/ MSG). Merokok juga menjadi salah satu
penyebab hipertensi.
Faktor psikososial seperti stres akibat pekerjaan, sikap tidak sabar, dan
konflik dengan orang lain juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.
Selain faktor-faktor tersebut, obat-obatan juga dapat menimbulkan
peningkatan tekanan darah, yaitu seperti obat penghilang rasa nyeri, seperti
ibuprofen, obat hormon, seperti pil kontrasepsi, obat penurun berat badan yang
biasa dikonsumsi oleh kaum milenial, hingga agen stimulan seperti nikotin.
InaSH mengimbau kepada kaum milenial untuk rutin memeriksakan
tekanan darah ke dokter dikarenakan hipertensi dianggap sebagai S silent killer
karena tidak menunjukkan suatu tanda-tanda khusus yang menandakan bahwa
seseorang terkena hipertensi.
Dr. Paskariatne Probo Dewi Yamin, SpJP menyatakan bahwa keyakinan
yang dimiliki masyarakat tentang sakit kepala merupakan gejala hipertensi
adalah tidak benar, karena hipertensi adalah silent killer yang tidak mempunyai
gejala khusus yang menandakan bahwa pasien tersebut terkena hipertensi.
Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita diabetes
mellitus (DM) di Indonesia menempati peringkat ke tujuh dunia pada 2015. Jika
dibandingkan dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 dan 2013,
jumlah penderita diabetes meningkat. Dari 5,7 % menjadi 6,9%. Bahkan
menurut data kemenkes, pada tahun 2030, diperkirakan bahwa prevalensi
diabetes mellitus di Indonesia mancapai 21,3 juta orang.
Untuk itulah him
3) Kebijakan Penanggulangan Pada Penyakit Tidak Menular
Untuk mengendalikan Hipertensi dan Diabetes, Kemenkes sendiri telah
membentuk 13.500 Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk memudahkan
akses warga melakukaan deteksi dini penyakit. Selain itu, Menkes menghimbau
masyarakat untuk melakukan aksi CERDIK, yaitu dengan melakukan :
1. Cek kesehatan secara teratur
2. Enyahkan asap rokok dan jangan merokok
3. Rajin melakukan aktifitas fisik
4. Diet yang seimbang
5. Istirahat yang cukup
6. Kelola stress.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2015


Tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:


1. Penyakit Tidak Menular yang selanjutnya disingkat PTM adalah penyakit
yang tidak bisa ditularkan dari orang ke orang, yang perkembangannya berjalan
perlahan dalam jangka waktu yang panjang (kronis).
2. Penanggulangan PTM adalah upaya kesehatan yang mengutamakan aspek
promotif dan preventif tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif serta
paliatif yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan
kematian yang dilaksanakan secara komprehensif, efektif, efisien, dan
berkelanjutan.
Pasal 2
Pengaturan Penanggulangan PTM dalam Peraturan Menteri ini
bertujuan untuk:
a. melindungi masyarakat dari risiko PTM;
b. meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi dampak sosial, budaya, serta
ekonomi akibat PTM pada individu, keluarga, dan masyarakat; dan
c. memberikan kepastian hukum dalam penyelenggaraan Penanggulangan
PTM yang komprehensif, efisien, efektif, dan berkelanjutan.

Pasal 3

Kelompok PTM berdasarkan sistem dan organ tubuh meliputi:


a. penyakit keganasan;
b. penyakit endokrin, nutrisi, dan metabolik;
c. penyakit sistem saraf;
d. penyakit sistem pernapasan;
e. penyakit sistem sirkulasi;
f. penyakit mata dan adnexa;
g. penyakit telinga dan mastoid;
h. penyakit kulit dan jaringan subkutanius;
i. penyakit sistem musculoskeletal dan jaringan penyambung; penyakit
sistem genitourinaria;
j. penyakit gangguan mental dan perilaku; dan
k. penyakit kelainan darah dan gangguan pembentukan organ darah.
Bagian Kedua
Kegiatan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
Paragraf 1
Umum
Pasal 8
(1) Penyelenggaraan Penanggulangan PTM melalui Upaya
Kesehatan Masyarakat (UKM) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2) dilaksanakan dengan upaya
pencegahan dan pengendalian.
(2) Pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dititikberatkan pada pengendalian faktor risiko PTM yang
dapat diubah.
(3) Faktor risiko perilaku yang dapat diubah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. merokok;
b. kurang aktifitas fisik;
c. diet yang tidak sehat;
d. konsumsi minuman beralkohol; dan
e. lingkungan yang tidak sehat.
(4) Pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilaksanakan melalui kegiatan promosi kesehatan,
deteksi dini faktor risiko, dan perlindungan khusus.
(5) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan melalui kegiatan penemuan dini kasus dan
tata laksana dini.
Pasal 9
Penyelenggaraan Penanggulangan PTM melalui Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2) dilaksanakan dengan penanganan kasus.
Pasal 4

a. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat bertanggung jawab


menyelenggarakan Penanggulangan PTM serta akibat yang ditimbulkannya.
b. Penyelenggaraan Penanggulangan PTM sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan melalui Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP).