Anda di halaman 1dari 16

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/311843264

Magnesium dan Paduannya Sebagai Biomaterial: Sebuah Kajian Literatur

Conference Paper · November 2013

CITATIONS READS

0 1,899

3 authors, including:

Bondan Sofyan Myrna Ariati


University of Indonesia University of Indonesia
62 PUBLICATIONS   129 CITATIONS    17 PUBLICATIONS   10 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Bondan Sofyan on 23 December 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Please refer this paper as:
Bondan T. Sofyan, Oknovia Susanti, Myrna A. Mochtar, Magnesium dan Paduannya
Sebagai Biomaterial: Sebuah Kajian Literatur, Prosiding Seminar Material Metalurgi
2013, Serpong, 27 November 2013, pp. 27-33.
MAGNESIUM DAN PADUANNYA SEBAGAI BIOMATERIAL : SEBUAH
KAJIAN LITERATUR
Bondan T. Sofyan(1a) , Oknovia Susanti (1b) , Myrna A. Mochtar (1c)
(1)
Departemen Teknik Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik Universitas Indonesia,
Kampus UI Depok16424, Indonesia
(a)
bondan@eng.ui.ac.id, (b) oknovia_s@ui.ac.id dan (c) myrna(@metal.ui.ac.id

Abstrak
Perkembangan material sebagai pengganti jaringan tulang yang rusak perlu mendapat perhatian,
terutama untuk bagian-bagian tubuh yang sering mendapat beban dan gesekan, karena kondisi tersebut harus
mempunyai sifat mekanik dan biokompatibilitas yang baik. Magnesium sebagai logam yang ringan berpotensi
dipakai sebagai material implant. Hal ini karena magnesium mempunyai modulus elastis yang hampir sama dengan
tulang dan mempunyai laju degradasi tinggi dalam larutan sehingga menjanjikan untuk digunakan sebagai
biomaterial.
Peningkatan sifat mekanik pada paduan magnesium perlu dilakukan dengan pencampuran unsur-unsur
paduan. Proses ini bertujuan untuk memperbaiki kekuatan, ketangguhan dan meningkatkan keuletan. Unsur-unsur
tanah jarang menjadi perhatian sebagai unsur paduan dengan magnesium disamping dapat memperbaiki sifat
mekanik, unsur-unsur tersebut juga dapat mengontrol degradasi magnesium di dalam kondisi cair sehingga
memastikan tidak ada unsur-unsur berbahaya yang larut jika di pakai dalam tubuh. Dalam hal ini unsur yang
diunggulkan itu adalah cerium, yttrium, lanthanum, neodymium dan gadolinium. Perkembangan terkini bahwa
paduan magnesium-gadolinium adalah paduan istimewa, dimana dapat memperbaiki sifat mekanik secara
signifikan dan mempunyai zat anti racun jika digunakan dalam tubuh. Perlakuan termo-mekanik adalah cara untuk
mengubah sifat mekanik seperti kekuatan, keuletan dan memperkecil ukuran butir melalui proses ekstrusi. Paduan
magnesium-gadolinium sangat mempunyai syarat sebagai material implant karena mempunyai keuletan yang baik
sehingga mampu dirubah bentuk dan diharapkan mempunyai biokompatibilitas yang baik selama pemakaian. Studi
literatur ini akan menjelaskan sifat mekanik magnesium, kehadirannya dalam tubuh, masalah yang muncul dan
perancangan kerja ke depan untuk memenuhi syarat-syarat sebagai biomaterial.

Kata kunci: Mg-Gd, biomaterial, unsur tanah jarang, ekstrusi temperatur tinggi, biokompatibilitas, implant

Pendahuluan
Material logam mempunyai peranan yang penting sebagai biomaterial untuk mengganti
jaringan tulang yang rusak akibat penyakit atau kecelakaan [1]. Hal ini disebabkan karena logam
mampu menahan beban atau gesekan yang biasanya ditempatkan pada lutut, punggung, siku dan
lain-lain dibanding material keramik atau polimer. Untuk implant diperlukan material yang
mempunyai sifat mekanik yang tinggi seperti kuat, tangguh dan ulet. Paduan logam yang umum
digunakan sebagai biomaterial meliputi baja tahan karat, titanium dan paduan kobalt-kromium.
Namun, paduan tersebut mempunyai banyak kelemahan, terutama kobalt-kromium yang
memiliki kecenderungan untuk melepas racun akibat proses korosi atau keausan [2]. Hal ini
dapat mengurangi biokompatibilitas dan menghambat pertumbuhan jaringan tulang. Selain itu
modulus elastis biomaterial selama ini tidak sesuai dengan jaringan tulang alami sehingga dapat
menyebabkan berkurangnya stimulasi pertumbuhan tulang baru dan menurunkan stabilitas
implant [3]. Lebih jauh korosi yang ditimbulkan dari material implant dapat mengubah bentuk,
ukuran dan komposisi kimia yang bisa saja sangat berbahaya untuk tubuh. Pada saat ini,
biomaterial logam digunakan sebagai pengganti tulang-tulang yang patah, namun setelah
pemakaian yang cukup lama harus dikeluarkan melalui pembedahan. Pembedahan yang
berulang-ulang dapat meningkatkan biaya kesehatan dan penyakit lain yang muncul setelah

1
pembedahan dan lebih lanjut mungkin akan menyebabkan pasien mengalami komplikasi
sehingga menyulitkan penyembuhan.
Magnesium adalah logam yang ringan (1,74 g/cm3), 1,6 kali lebih ringan dari Al dan 4,5
kali lebih ringan dari baja. Ketangguhan patahnya lebih besar dari biomaterial keramik dan
modulus elastisnya adalah 45 GPa yang mendekati modulus elastis tulang manusia (10-40 GPa)
[4]. Magnesium sangat bermanfaat untuk tubuh manusia, dimana ion Mg2+ adalah elemen yang
dibutuhkan dalam jumlah yang besar untuk digunakan sebagai reaksi metabolisme dan
mekanisme biologis. Kebutuhan Mg setiap hari untuk orang dewasa adalah sekitar 300-400 mg
dan jika berlebih semestinya dikeluarkan melalui urin atau kotoran [5]. Magnesium juga
tersimpan secara alami dalam tulang manusia. Seperti yang diterangkan oleh Harwig [6] bahwa
di dalam 70 kg tubuh manusia tersimpan 1 ml magnesium, dengan perkiraan setengah jumlah
magnesium tersebut terdapat dalam jaringan tulang. Sebagai tambahan, magnesium merupakan
faktor ke dua memperbanyak enzim dan dapat menstabilkan struktur DNA dan RNA.
Untuk aplikasi teknik, magnesium memiliki ketahanan korosi yang rendah, khususnya
dalam larutan elektrolit dan lingkungan cair sehingga sesuai untuk aplikasi biomaterial. Bila
magnesium berada dalam kondisi cair, maka oksida beracun yang membahayakan akibat larutan
korosi dapat diekskresikan dalam urin. Namun sifat kelarutan yang tinggi juga menjadi
kelemahan untuk magnesium murni, dimana dapat menimbulkan korosi yang cepat dalam pH
fisiologis (7,4-7,6) dan di lingkungan fisiologis klorida tinggi, sehingga sifat mekanik menurun
sebelum penyembuhan dan pertumbuhan jaringan baru. Inilah menjadi pendorong untuk
memadukan magnesium dengan unsur-unsur lain, diharapkan nantinya menjadi material implant
yang tidak beracun dan biokompatibilatas yang baik, mampu digunakan pada bagian-bagian
yang sering kena beban dan mampu bertahan sampai 12-18 minggu sampai jaringan tulang
sembuh dan tumbuh [7, 8].
Tinjauan literatur ini bertujuan mengetahui perkembangan magnesium dan paduannya
yang digunakan sebagai biomaterial ortopedik, mengkaji keselamatannya dalam tubuh dengan
memperbaiki sifat mekaniknya dan faktor apa yang harus dilakukan untuk mengontrol degradasi
dan selanjutnya mengkaji kebutuhan untuk penelitian selanjutnya.

Perkembangan Penggunaan Magnesium


Paduan magnesium adalah material yang mampu luruh (degradable) sehingga
perkembangannnya sebagai biomaterial sangat pesat. Magnesium merupakan material yang
secara alami dibutuhkan dalam tubuh manusia dan digunakan untuk pertumbuhan tulang darah.
Namun kelemahan magnesium adalah laju degradasinya sangat tinggi sehingga perlu
pengontrolannya agar sesuai dengan pertumbuhan jaringan baru.
Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan magnesium, sebagai biomaterial adalah [4]:
1. Larutan produk korosi magnesium yang terjadi dalam tubuh tidak memberikan efek yang
berbahaya bahkan diperlukan untuk metabolisme tubuh dan mekanisme biologis.
2. Salah satu karakteristik korosi paduan magnesium adalah bahwa paduan ini terkorosi hanya
dibagian yang terkena cairan.
3. Pengaruh temperatur tubuh sekitar 37 0C adalah temperatur yang cocok untuk paduan
magnesium sehingga degradasi magnesium mudah untuk dikontrol
4. Pengaruh protein dalam larutan tubuh dapat juga mengontrol degradasi paduan Mg.
Magnesium pertama sekali diperkenalkan sebagai biomaterial ortopedik pada tahun 1907.
Lambotte melaporkan bahwa logam magnesium digunakan pada tulangf kaki bagian bawah [9].
Namun penggunaan logam magnesium tersebut terkorosi dengan cepat dalam in vivo, dimana
hanya dalam waktu 8 hari setelah pembedahan ditemukan sejumlah gas dibawah kulit. Salah satu
2
usaha memperbaiki ketahanan korosi magnesium adalah penambahan unsur paduan. Beberapa
paduan magnesium yang banyak digunakan sebagai biomaterial diuraikan dibawah ini.

Magnesium-Aluminium (Mg-Al)
Aluminium (Al) sebagai unsur paduan dalam magnesium dapat memberikan penguatan
larutan padat dan pengerasan pengendapan. Namun fasa Mg17Al12 dalam system Mg-Al
mempunyai titik lebur yang rendah sehingga tidak dapat digunakan untuk memperbaiki kekuatan
temperatur tinggi. Paduan magnesium-aluminium telah banyak digunakan sebagai biomaterial,
antara lain AZ91(Mg-9Al-1Zn) dan AZ31(Mg-3Al-1Zn), yang mengandung Zn sebagai unsur
tambahan [10]. Paduan ini memiliki kekuatan sebagai material implant, namun dapat
menghasilkan ion Al3+ yang menurunkan biokompatibilitas. Ion Al3+ dapat berkombinasi dengan
fosfat inorganik yang menyebabkan kekurangan fosfat dalam tubuh yang mengakibatkan
kerusakan otot.
Hal yang sama juga dilaporkan oleh Znamenski dan Bride [11] bahwa paduan
magnesium dan aluminium adalah paduan yang dapat menginisiasi pertumbuhan tulang, namun
paduan ini terkorosi sangat cepat sehingga tidak memberi kesempatan jaringan baru untuk
tumbuh sebagai pengganti tulang yang patah.

Magnesium-Mangan (Mg-Mn)
Unsur mangan (Mn) dalam magnesium terutama digunakan untuk meningkatkan keuletan
dan sebagai pembentukan fasa intermetalik Al-Mn dalam paduan magnesium berisi Al. Fasa ini
dapat mengikat besi (Fe) dan dapat digunakan untuk mengontrol korosi pada paduan magnesium.
Paduan Mg-Mn telah banyak digunakan sebagai material implant, unsur mangan dalam
magnesium bukan untuk meningkatkan sifat mekanik, namun lebih kepada peningkatan
ketahanan korosi dengan mengubah Fe atau unsur lainnya menjadi intermetalik yang tidak
berbahaya. Namun, keberadaan Mn di dalam darah perlu dikontrol karena dengan konsentrasi
tinggi unsur tersebut menyebabkan keracunan [10]. Komposisi paduan yang tepat dapat juga
memperbaiki ketahanan korosi, sifat mekanik dan mempermudah proses manufaktur. Hal ini
ditunjukkan oleh Shaw BA [23] bahwa penambahan unsur seng dan mangan dalam paduan Mg-
Al dapat meningkatkan ketahanan korosi dan memperbaiki sifa-sifat mekanik.

Magnesium- Zirkonium (Mg-Zr)


Zirconium (Zr) efektif untuk menghaluskan butir dalam paduan magnesium yang bebas Al.
Sesuai teori Hall-Petch, penghalusan butir akan meningkatkan kekuatan. Penambahan sedikit
zirkonium dalam paduan magnesium memberikan dampak yang sangat baik terhadap sifat
mekanik, sifat ketahanan korosi untuk penggunaan medis dan mempunyai biokompatibilitas
yang baik sebagai biomaterial [12).

Magnesium- Cadmium (Mg-Cd)


Pada tahun 1944, Troitskii dan Tsitrin [13] melaporkan bahwa magnesium dengan sedikit
kadmiun dibuat sebagai sekrup untuk digunakan pada bagian-bagian tulang yang patah.
Percobaan tersebut tidak menunjukkan keberhasilan yang sempurna karena adanya infeksi dan
korosi yang timbul disekitar penyambungan patahan.

3
Magnesium – Unsur-unsur Tanah Jarang (Mg-RE)
Unsur-unsur tanah jarang (Rare earth) yang dipadukan ke dalam magnesium antara lain
cerium (Ce), lanthanum (La), Neodymium (Nd), praseodymium (Pr) dan yttrium (Y).
Penambahan unsur tanah jarang ke dalam Al atau Mg dapat membentuk fasa intermetallik
komplek yang dapat menghambat pergerakan dislokasi di temperatur tinggi dan dapat
menyebabkan pengerasan pengendapan. Kelarutan unsur tanah jarang dibatasi oleh pembentukan
fasa intermetallik selama pembekuan sehingga unsur tanah jarang dapat terperangkap dibatas
butir pada temperatur tinggi dan menghasilkan pengerasan pengendapan [14].
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa paduan magnesium dengan unsur tanah
jarang lebih menarik digunakan dalam aplikasi biomedikal. Beberapa unsur tanah jarang tersebut
sangat memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai material implant, misalnya paduan Mg-Nd
diketahui tidak mengeluarkan toksin dalam tubuh manusia [7]. Yttrium (Y) dilaporkan sebagai
unsur paduan efektif di dalam magnesium karena dapat meningkatkan ketahanan korosi, dan
senyawa Y telah digunakan dalam penyembuhan kanker. Namun demikian, kekuatan dan proses
dekomposisi Mg-Y di dalam tubuh belum dipahami [15]. Mishra et al [16] juga melaporkan
bahwa penambahan 0,2 % cerium meningkatkan keuletan dan ketangguhan melalui pengurangan
ukuran butir yang bertujuan untuk meningkatkan pengerasan kerja.
Stroganov et al [17] melaporkan bahwa magnesium dengan unsur-unsur tanah jarang
telah memperlambat faktor korosi yang memberikan efek yang menguntungkan jika digunakan
dalam tubuh selama pemakaian. Unsur-unsur paduan terdiri dari 0,4- 4 % unsur tanah jarang,
0,05-1,2 % kadmium, 0,05-1,0% kalsium atau aluminium dan 0,8 % material sisa (mangan,
perak, zirconium dan silicon).
Witte et al [7, 18] menyarankan bahwa beberapa unsur-unsur tanah jarang dapat
meningkatkan ketahanan korosi dan juga menghasilkan zat anti racun. Witte mengkaji paduan
magnesium, dengan membandingkan empat paduan. Dua paduan yang pertama berisi aluminium
dan seng dan dua paduan yang lain berisi unsur-unsur tanah jarang. Paduan 3% Al dan 1 % Zn
dikenal sebagai AZ31 dan 9% Al dan 1 % Zn dikenal sebagai AZ91 adalah dua paduan pertama.
Paduan berikutnya mengandung unsur-unsur tanah jarang yang terdiri dari 4%Y dan 3%
campuran unsur-unsur Nd, Ce dan Dy yang dikenal sebagai WE43. Paduan terakhir terdiri dari 4
% Li, 4% Al dan 2 % campuran tanah jarang seperti Ce, La, Nd dan Pr yang dikenal sebagai
LAE442. Material implants dari keempat paduan di atas dibuat berbentuk batang berdiameter 1,5
mm dan panjang 20 mm dan dimasukan ke dalam tulang paha marmot. Sebuah tongkat dari
polylactide dengan dimensi yang sama digunakan sebagai pengontrol. Pengamatan dilakukan
pada minggu ke 6 dan ke 18. Kesimpulan yang didapat bahwa paduan LAE442 terkorosi lebih
lambat dibandingkan dengan AZ31, AZ91 dan WE43. Unsur-unsur tanah jarang terlokalisasi
dalam lapisan korosi dan tidak terdeteksi disekitar tulang. Lapisan korosi berisi sejumlah kalsium
dan fosfor. Hal ini menjelaskan bahwa penambahan unsur tanah jarang dapat memperbaiki
ketahanan korosi secara signifikan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Muller et al, untuk
menguji ketahanan korosi antara AZ31 dan LAE442 melalui proses polarisasi. Perbandingan
antara paduan AZ31 dan paduan LAE442 menunjukkan bahwa LAE442 lebih tahan terhadap
serangan korosi [19].
4
Lebih jauh, paduan magnesium memiliki keuletan yang rendah pada temperatur kamar,
karena strukturnya yang hexagonal close-packed (hcp) memiliki sistem slip terbatas dan
anisotropi yang kuat. Keuletan yang rendah sangat membatasi aplikasi magnesium sebagai
implant, khususnya dalam proses pembentukan. Untuk mengatasi keuletan paduan magnesium
yang rendah, salah satunya adalah dengan modifikasi unsur paduan karena unsur tunggal tidak
mampu memenuhi sifat-sifat mekanik yang akan digunakan sebagai material implant. Stanford et
al [14] menerangkan bahwa penambahan unsur-unsur tanah jarang pada magnesium seperti
cerium, lanthanum dan gadolinium setelah di ekstrusi menghasilkan perubahan ukuran butir dan
meningkatkan kekuatan pada paduan. Stanford juga menjelaskan bahwa melalui unsur-unsur di
atas dapat meningkatkan keuletan pada paduan tersebut.

Paduan Magnesium-Gadolinium
Gadolinium adalah salah satu unsur tanah jarang yang signifikan mampu memperbaiki
sifat-sifat mekanik dan ketahanan mulur magnesium melalui proses di temperatur tinggi dan
juga meningkatkan penguatan larutan padat dan pengerasan pengendapan. Unsur ini mampu
memberikan kontribusi pada rekristalisasi. Sebagai material untuk implant diperlukan material
ulet yang mudah dibentuk untuk menghasilkan variasi komponen sesuai dengan jaringan tulang
yg rusak. Penambahan gadolinium dalam magnesium sangat mempengaruhi ukuran butir dan
tekstur, yang telah dibuktikan oleh sejumlah periset seperti Nie et al [24] yang menjelaskan
bahwa paduan Mg-6Gd-0,6 Zr dapat memperbaiki kekuatan dan ketahanan mulur. Paduan Mg-
6Gd-0,6Zr yang berisi Zn menghasilkan kekerasan 49 VHN dengan butir ukuran kecil ~50-120
µm, sementara paduan tanpa penambahan Zn memiliki kekerasan 43 HVN dengan ukuran butir
diatas 200 µm. Penurunan ukuran butir diharapkan dapat meningkatkan kekuatan berdasarkan
hukum Hall-Petch. Lebih lanjut Nie menjelaskan bahwa peningkatan kekuatan lebih tinggi pada
Mg-Gd-Zn dibanding dengan paduan Mg-Ce-Zn.
Proses mekanik sangat diperlukan untuk memperbaiki sifat mekanik paduan ini, terutama
dilakukan pada temperatur tinggi (thermo-mechanical treatment). Pilihan proses deformasi yang
dapat digunakan adalah ekstrusi, penempaan atau pengerolan. Pencanaian temperatur tinggi
lebih sering dilakukan karena proses tersebut mampu mengubah struktur mikro, tekstur dan
kekuatan paduan. Sementara ekstrusi di temperatur tinggi mampu menghasilkan butir
berukuran sub-mikro, lebih kecil dibandingkan dengan pencanaian yang hanya mampu mencapai
ukuran butir sekitar 8-25 μm, serta mampu menghasilkan regangan lebih dari 40 %. Secara garis
besar bahwa paduan magnesium dengan tanah jarang yang di proses dengan ekstrusi, pencanaian
dan penempaan di temperatur tinggi mampu mengubah sifat mekanik seperti kekuatan tarik,
kekuatan luluh dan keuletan.
Xu,C et al [20] melaporkan bahwa Mg - 8Gd - 3,8Y-1,0Zn - 0,4 dicanai pada temperature
250 dan 400 oC dengan pengurangan ketebalan 20%-60% dapat memperkecil butir. Sifat
mekanik di masing-masing temperatur menunjukan perbedaan dimana keuletan lebih tinggi pada
temperatur 250 oC (19,4%) dibanding temperatur 400 oC (14,6%). Namun kekuatan tarik dan
kekuatan luluh lebih tinggi pada temperatur 400 oC.
Sementara Hou et al [21] juga melaporkan bahwa Mg-6,5Gd-1,3Nd-0,7Y-0,3Zn yang
diekstrusi pada temperatur tinggi menghasilkan rekristalisasi dengan ukuran butir sampai 10
µm, dan ukuran butir dalam kondisi as-cast sebesar 100 µm. Perubahan ukuran butir sangat
signifikan terjadi pada ekstrusi dibanding dengan pencanaian.

5
Anyanwu et al [22] melaporkan bahwa ketahanan mulur (creep) tergantung pada
komposisi kimia paduan. Ketahanan mulur paduan yang mengandung gadolinium lebih tinggi
dibanding dengan ketahana mulur paduan WE54 (Mg-Nd-Y-Zr). Percobaan mulur dilakukan
ditegangan 50-100 MPa pada temperatur 250-300 oC dengan menggunakan kondisi batas mulur.
Energi aktivasi untuk paduan mulur adalah 160-240 kJ/mol dan eksponen tegangan bervariasi
dari 3,7-5,2.
Secara keseluruhan, paduan magnesium dan gadolinium dapat menjawab kebutuhan
material yang sesuai untuk ditanam ke dalam tubuh manusia, karena unsur tersebut mampu
meningkatkan kekuatan melalui pengecilan ukuran butir. Unsur gadolinium yang memiliki
kelarutan besar hingga 23.49 wt. % dapat membentuk intermetalik Mg5Gd sehingga
berkontribusi melalui penguatan pengendapan. Selain itu, tingkat toksisitas Gd dalam sel
osteoblas sangat aman sehingga paduan Mg-Gd sesuai untuk aplikasi implant [12]. Diperlukan
penyelidikan lebih lanjut untuk memeriksa biokompatibilitasnya sebagai material implant.

KESIMPULAN
Penggunaan magnesium dan paduan sebagai material implant menjadi perhatian karena
mempunyai sifat degradasi yang tinggi, sehingga tidak diperlukan lagi pembedahan setelah
pemakaian yang cukup lama. Namun proses degradasinya perlu di kontrol agar dalam waktu
tertentu tidak merusak jaringan tulang yang baru tumbuh dan juga aman dalam lingkungan
fisiologis.
Penambahan unsur-unsur paduan adalah sebuah cara yang terbaik untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Variasi unsur-unsur dipadukan dengan magnesium ( antara lain : Al, Zn,
Mn, Zr dan Cd) telah dilakukan untuk dapat digunakan sebagai material seperti AZ31, AZ91 dan
AZ61. Perkembangan terkini bahwa paduan magnesium menggunakan unsur-unsur tanah jarang
(antara lain : Ce, La, Pr, Y dan Nd) menghasilkan biokompatibilitas yang baik. Namun masih
ditemukan unsur-unsur yang berbahaya akibat material implant yang terlarut. Paduan
magnesium-gadolinium menjadi menarik perhatian sebagai material implant karena penambahan
sedikit gadolinium mampu mengubah sifat mekanik dan ketahanan korosi.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penelitian ini didanai melalui Hibah Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) 2013
dari alokasi BOPTN Universitas Indonesia.

Daftar Referensi
[1] Niinomi, M. Recent Metallic Material for Biomedical Applications. Metallurgical and
Material Transactions A 2002;33, pp. 477-486.
[2] Edwards, B.J., Louthan, M. R., Jr., and Sisson, R. D. Hydrogen Embrittlement of Zimalogy:
A Cobalt-Chromium-Molybdenum Orthopedic Implant Alloy. In Corrosion and Degradation
of Implant Materials; Second Symposium, ASTM STP 859., AC, Froker and C. D, Griffin,
Eds. American Society for Testing and Materials Philadelphia, 1985, pp, 11-29.
[3] Nagel, J., Stokdijk, M., Rozing, PM. Stress shielding and bone resorption in shoulder
arthroplasty. Journal Shoulder Elbow Surgery, 2003;12, pp. 35-39.
[4] Witte F, Hort N, Vogt C, Cohen S, Kainer KU, Willumeit R,l. Degradable Biomaterials
Based on Magnesium Corrosion. Current Opinion Solid State Materials Science 2008;12,
pp. 63-72.

6
[5] Zhang, X., Yuan , G., Mao, L., Niu, J., Fu, P., Ding, W. Effect of extrusion and Heat
Treatment on the Mechanical Properties and Biocorrosion Behaviour of a Mg-Nd-Zn-Zr
Alloy. Journal of The mechanical Behaviour of Biomedical Materials 2012;7, pp. 77- 86
[6] Harwig, A. Role of magnesium in genomic stability. Mutation Research /Fundamental and
Molecular Mechanisms of Mutagenesis 2001;475, pp. 113-121.
[7] Witte, F., Kaese, V., Haferkamp, H., Switzer, E., Meyer-Linderberg, A., Wirth, C. J.,
Windhagen, H. In vivo corrosion of four Magnesium alloys and the associated bone
response. Biomaterials 26, 2005;26, pp. 3557-3563.
[8] Wen, CE., Mabuchi, M., Yamada, Y., Shimojima, K., Chino, Y. Processing of biocompatible
porous Ti and Mg. Scripta Material 2001;45, pp.1147-53.
[9] Lambotte, A. L’utilisation du magnesium comme material perdu dans I’osteosynthese. Bull
Mem Soe Nat Cgir 1932;28, pp. 1325-34.
[10] Kirkland, N.T., Lespagnol, J., Birbilis, N., Staiger, M. P. A Survey of Bio-Corrosion Rates
of Magnesium Alloys. Corrosion Science 2010;52, pp. 287-291.
[11] Znamenskii, MS. Metallic osteosynthesis by means of an apparatus made of resorbing
metal. Khirurgiia 1945;12, pp. 60-63.
[12] Hort, N., Huang, Y., Fechner, D., Stormer, M., Blawert, C, Witte, F., Vogt, C., Drucker, H.
Magnesium Alloys as Implants Materials- Principles of Property Design For Mg-RE Alooys.
Acta Biomaterialia 2010;6, pp. 1714-1725.
[13] Staiger, MP., Pietak, AM., Huadmai, J., Dias, G. Magnesium and its alloys as orthopedic
biomaterials: a review, Biometarials 2006;27, pp.1728-1734
[14] Stanford, N and Barnett, M. R. The Origin of Rare Earth Texture Development in Extruded
mg-Based alooys and Its effect on Tensile Ductility. Materials Science and Engineering
A2008; 496, pp.399-408.
[15] Hanzi, A. C., Gunde, P., Schinhammer, M., Uggowitzer, P. J. On The Biodegradation
Performance of an Mg-Y-Re alloy with Various Surface Conditions in Simulated Body Fluid.
Acta Biomaterial 2009;5, pp. 162-171.
[16] Mishra, R. K., Gupta, A. K., Rao, P. R., Sachdev, A. K., Kumar, A. M and Luo, A. A. “
Influence of Cerium on Texture and Ductility of Magnesium Extrusions. ScriptaMaterialia
2008;59, pp. 562-565.
[17] Straganov, GB., Savitsky E., Mikhailovch, T., Nina, M., Terekhova, V., Fedorovna V, et al.
Magnesium-Base alloy for use in bone surgery. US Patent no. 3,687, 135, 1972
[18] Witte, F., Crostack, HA., Nellesen, J., Beckmann, F. Characterization of degrable
magnesium alloys as orthopedic implant material by synchrotron-radiation-based
microtomography 2001. http://wwww-
hasylab.desy.de/science/annual_reports/2001_report/partI/contrib/47/5461.pdf.
[19] Muller, WD., Nascimento, ML., Zeddies, M., Corsico, M., Gassa, LM., Magnesium and its
alloys as degradable biomaterials: corrosion using potentiodynamic and EIS electrochemical
techniques. Materials Research 2007;10, pp. 5-10.
[20] Xu C, Zheng MY, Wua K, Wanga ED, Fan GH, .Xu SW, Kamado S, Liu XD, Wang GJ, Lv
XY, Li MJ,.Liu Y.T. Effect of final rolling reduction on the microstructure and mechanical
properties of Mg–Gd–Y–Zn–Zr alloy sheets. Materials Science & Engineering A 2013;559,
pp. 232–240
[21] Hou, X., Cao, Z., Xu, S., Kamado, S., Wang, L., Wu, Y. Microstructure and Mechanical
Properties of Extruded Mg-6,5Gd-1.3 Nd-0.7 Y- 0.3 Zn Alloy. Transactions of Nonferrous
Metal Society of China 2010;20, pp.508-512.

7
[22] Anyanwu, IA., Kamado, S., Kojima, Y. Creep properties of Mg-Gd-Y-Zr alloys. Materials
Transactions 2001;42, pp. 1212-1218.
[23] Shaw, BA. Corrosion resistance of magnesium alloys. In: Stephen D, editor. ASM
handbook volume 13a: corrosion: fundamentals, testing and protection. UK:ASM Int;2003.
[24] Nie, J. F., Gao, X., Zhu, S. M. Enhanced Age Hardening Response and Creep Resistance of
Mg-Gd Alloys Containing Zn. Scripta Materialia 2005;23, pp. 1049-1053

View publication stats