Anda di halaman 1dari 3

Babak Lanjut Konflik Papua,

Negara Gagal Urus Dan Beri


Keamanan Untuk Rakyat
Bumi Cendrawasih, Papua kembali berdarah. Peristiwa tersebut seakan mewakili kondisi
sosial politik negeri yang carut marut di negeri ini.

Hanya karena kesalahpahaman, berujung kontraksi sosial. Perilaku dan tindakan anarkis
menyasar masyarakat pendatang di Papua. Sumber resmi menyatakan ada 33 orang
meninggal sementara 9000 orang mengungsi.

Ribuan pertanyaan muncul apakah konflik Papua disengaja atau ada dalang di balik
semuanya. Keterlambatan pemerintah dala mengambil kebijakan membuat kegagalan
mengusir penjajah asing dari Papua. Sedangkan dari pihak Internasional PBB mendesak
Australia agar turun tangan mengatasi konflik di Papua.

Seperti dilansir dari CNN Indonesia, Menteri Luar Negeri Vanuatu Ralph Ragenvanu
mengatakan, sejarah akan menilai kita jika tak berbuat apa-apa menanggapi situasi krisis
di Papua.

“Sejumlah ahli hukum internasional telah menyerukan (krisis di Papua) genosida,


maksud saya memang telah masuk kriteria genosida. Sejarah akan mencatat kita dan kita
harus berada di sisi yang benar dalam sejarah,” kata Ragenvanu di New York.

Dikutip dari SBS, Vanuatu menegaskan, Australia menurutnya harus meningkatkan


kontribusinya secara substansial dalam masalah Papua Barat, terutama karena (Australia)
berada di Dewan HAM PBB, (Australia) adalah anggota Forum Kepulauan Pasifik.
Konflik bersenjata di Papua mulai memanas sejak penandatanganan perjanjian New York
15 Agustus 1962 yang menetapkan Irian Barat dari Belanda ke Indonesia.

Pertempuran sporadis antara pro Indonesia dan pro Belanda terus terjadi hingga 1969.

Setelah itu hampir setiap tahun terus terjadi kisruh hingga memakan korban jiwa. Bahkan
kisruh pada tahun 1981 diduga menewaskan 13.000 jiwa. terakhir sebelum di Wamena.
Protes tindakan rasialisme di Surabaya dan Malang 29 Agustus 2019 berakhir ricuh.

Rentetan konflik tersebut semakin meyakinkan bahwa ada pihak asing yang bermain di
dalam dan mengambil keuntungan atas segala kisruh di Papua termasuk ketika Papua
meminta Referendum. Asing jelas mengincar Papua karena kekayaan SDA yang ada
diwilayahnya.

Doed Joesoef dalam bukunya “Studi Strategi Logika pertahananan dan pembangunan
Nasional,” pernah mengungkapkan bahwa siapa yang menguasai Papua dan Maluku
maka ia menguasai jantung Arsipel Indonesia.

Maka jelas AS menjadi salah satu negara yang menguasai Indonesia karena jasanya
memberikan Papua.

Lalu bagaimana dengan hegemoni negara lainnya seperti China, Australia dll apakah
diam saja ? Tentu tidak negara lain mempunyai caranya sendiri untuk menikmati kue
kekayaan SDA Indonesia.

Maka sungguh malang Papua hanya menjadi bancakan para penjajah.

Pemerintah sendiri sebenarnya sudah berupaya untuk menyelesaikan masalah konflik di


Papua namun sayang solusi yang diberikan seakan tidak serius dan tidak bermartabat.
Rezim telah mengucurkan dana 98,395 triliun dari dana APBN untuk Papua yang
digunakan untuk infrakstruktur dan kesejahteraan warga Papua namun faktanya dana
tersebut tak pernah tepat sasaran alhasil masih banyak warga Papua yang hidup di bawah
garis kemiskinan. Mereka sengsara di tanahnya yang kaya.

Maka solusi satu-satunya untuk Papua hanya dengan aturan Islam yang diterapkan dalam
daulah dan Khilafah. Karena Khilafah akan mengurusi urusan ummat (segala kebutuhan
dan kesejahteraan ) dengan aturan Islam yang mampu melekatkan perbedaan secara
bermartabat dan juga menunjukkan kewibawaan negara yg berdaulat.

Ini telah dicontohkan oleh para khalifah sebelumnya sehingga bisa menguasai 2/3 dunia
dan banyak para kafir dzimmi masuk Islam secara suka rela karena melihat keadilan dan
kewibaawan aturan Allah swt yang diterapkan melalui daulah. Wallahualam Bi
Shawwab.